Presentasi Java2: Jakarta Struts

Hari/tgl: 7 maret 2009

Dosen : Windu Gata, M.Kom.

Karena hanya diberi batas waktu satu minggu untuk merevisi presentasi framework Java Struts, tentu saja hasilnya tidak akan  baik. Seperti biasa setelah rekan saya ibu Nita Merlina membuka presentasi, sy langsung masuk ke pokok bahasan sample contoh penggunaan Java Struts hingga core sistemnya.

Pertama-tama sy menjelaskan struts-config.xml yang berperan sebagai backbone framework Struts. Di controller ini tersimpan form-bean (letak kelas yang akan diakses) dengan action-mappingnya (aksi saat submit di click). Sy menjelaskan teknik validasi yang digunakan struts (lihat gambar di bawah ini).

presentasi-ii

Seperti biasa, pa Windulah yang bertanya. Pertanyaannya kebetulan pertanyaan yang seminggu ini jadi pertanyaan saya: Mengapa actionnya submit.do (dengan *.do)? Walaupun sy sudah menjelaskan dalam deklarasi web.xml bahwa action yang dieksekusi *.do? tetap saja kurang memuaskannya. Akhirnya kami menyelidiki bersama bahwa submit.do berasal dari script extend pada kelas actionnya.

Alhasil, sepertinya Pa Windu tidak merasa puas. Dan hanya naik 15 poin dr yang lalu (jadi 75). Terus terang waktu yang diberikan tidak banyak untuk materi sekelas framework ini. Seharusnya kami diberi tugas meneliti ini dari awal kuliah agar punya cukup waktu mempelajarinya (kami punya kerjaan masing-masing selain kuliah pasca sarjana). Karena saat mempelajari Struts, berarti kita mempelajari terlebih dahulu: Server Apache Tomcat, Basic Java, Java Server Page, Servlet baru masuk ke framework Struts. Kelompok kami mungkin yang tersial selain karena jumlah yang paling sedikit (3 orang, sedangkan yg lain 5 – 6 orang), kami mendapat materi paling sulit (diakui oleh dosennya sendiri) dari materi yang lain (J2ME, Rational Rose, Desktop, Applet dan UML).

Memang kami sadari kami mengecewakan Pa Windu dan sudah selayaknya dipandang sebelah mata olehnya. Nilai A yang diberikannya pun mungkin hanya nilai “kasihan”. Belia hanya mengakui yang memperoleh A+ (score 90-an). Tetapi guru tetaplah guru, bukan sekedar penyampai ilmu/pelajaran melainkan wakil Tuhan yang berperan pembangun manusia. Sebagai seorang yang mempercayai karma-wibangga semoga amal baiknya dibalas dan amal buruknya (kesalahan) tidak dibalas dan dialihkan ke kebaikan para murid. Sampai jumpa Pa Windu.

Proposal Penelitian Dosen Muda (PDM) Kopertis Wilayah III

Setelah di UNISMA (Kopertis Wilayah IV), di NURI (Kopertis Wilayah III), pengumumannya agak terlambat. Dari sekitar 60-an, STMIK Nuri lolos 5 orang, antara lain: Hj. Eni Heni Hermaliani, S.Kom, MM., Fransiska Hendra, S.T., M.Kom., Herlawati S.Si., MM. dan Kusumahati, S.Kom., MM.

Dan untuk pertama kalinya studi kajian wanita lolos atas nama Hj. Dwiza Riana, S.Si., MM. Sedangkan saya sendiri, tidak lolos (mungkin karena sy sudah dapat di kopertis wilayah IV kali ya?). Variasi dana ternyata lebih besar dibanding Kopertis wilayah IV, yaitu antara 8 jt – 10 jt.

MIO, SPIN, BEAT, VARIO atau SKYWAVE ?

Setelah keluar dari IT Service Delivery Bank Danamon, mobilitas saya naik motor mulai berkurang. Bekasi – Jakarta pun seminggu tidak lebih dari 2x, jadi ada niat untuk membeli motor yang tidak capek. Tadi rencananya sih, beli motor yang isteri juga bisa make, tapi sepertinya bahaya juga sih, soalnya naik motor di jalan raya bukan cuma sekedar menjalankan motor.

MIO
MIO

Pilihan pertama adalah yamaha mio seperti yang digunakan mertua saya, terutama yang warnanya putih, ada gambar bunganya. Selain tarikan dan responnya ok, mio juga bisa untuk berdiri anak saya di depan. Setelah saya pikir-pikir, kebetulan saat jalan bareng mertua yang pake mio, saya naik motor di belakangnya dan tiap ada polisi tidur dan mio ditarik, seperti ada suara tikusnya, ciit … ciit. Ada apa sebenarnya ya? Masalah lainnya adalah, mio sering banget ngisi bensin, mungkin karena tangki bensinnya kecil atau boros? Banyak yang bilang sih boros. Selain itu, karakter saya adalah tipe orang yang lain dari yang lain. Sedangkan mio sudah banyak yang punya, katanya sih kalo banyak yang memiliki, spare part, modifikasi, lebih murah karena banyak tersedia di pasaran. Tetapi saya tetap ingin beda, toh waktu saya beli thunder keluaran pertama (non-kick starter) akhirnya banyak juga yang beli sekarang.

SPIN
SPIN

Saat parkir di kampus, saya melihat motor suzuki spin-125. Saya perhatikan sejenak, modelnya bagus juga kaya mio. Terutama bagian depannya lega, bisa naro karung di depan. Saat adu balap di jalan baru bekasi (o iya, hati-hati lewat jalan itu di atas jam 1 malam) ternyata tarikan awal spin kalah dengan mio, tetapi lama-lama kesusul (mungkin karena cc spin lebih besar kali). Setelah nyoba, ternyata spin posisi duduknya kurang nyaman, apalagi kalo dipakai jauh, bisa sakit pinggang nanti. Walaupun mobilitas saya sekarang jarang jalan jauh, tetap saja ada ngajar dan kuliah di Jakarta.

BEAT
BEAT

Teman isteri saya kebetulan suaminya kerja di oto finance bagian persetujuan kredit. Dia menawarkan honda beat. Ditanggung beres ga ada acara survey-surveyan, kalo mau sore langsung di antar (busyet). Hampir aja setuju. Kebetulan di carrefour ada stand honda. Saya amati sebentar honda beat yang dipajang. Sempit banget ya. Kalo naik sendirian sih ok. Tapi kalo boncengan, kasian banget. Saat di jalan pas pulang, saya ada di belakang honda beat yang lagi boncengan, kasian si ibu yang bawa anak di belakang sampe duduk di atas besi belakang jok. Udah gitu cc-nya kecil, kalo dibawa ke Jakarta kasian juga.

VARIO
VARIO

Lama-lama habis juga nih pilihan. Tinggal dua, vario dan skywave. Satu-satunya pemilik vario yang saya kenal adalah bibi saya. Pada dasarnya sih Ok banget, cuma ada komplain masalah radiator sama bodinya yang bongsor (tidak bagus untuk cewek, soalnya saat naik dipaksa “ngangkang” terus). Harga jual honda pun di atas rata-rata, cuma harganya yang menurut saya kurang imbang. Kenapa ga pasang sok breaker dua? Kenapa cc-nya cuma 110-an? Kalo alasannya supaya lebih irit kayaknya kurang pas ama bodinya yang bongsor. So, menurut saya sih kemahalan. Saya kenal skywave saat ngobrol dengan rekan thunder di UNISMA, katanya dia mau jual motor thundernya lalu beli skywave-125.

SKYWAVE-BURGMAN
SKYWAVE-BURGMAN

Akhirnya saya teliti di internet, pertama-tama sih yang saya liat skywave-600 dan skywave burgman. Wiih .. bagus banget, terutama disain bagian depannya. Setelah sy searching dengan benar, muncullah skywave-125. Ternyata bagian depannya, agak mirip sama versi mahalnya. Saya teliti lagi milis-milisnya, ternyata keluhannya cuma suara ngorok katanya. Yang membuat saya tertarik adalah cc-nya yang imbang dengan bodinya. Terus, joknya panjang, cocok untuk boncengan ditambah lagi doble shock di belakang. Tidak salah lagi, saya langsung memilih motor ini. Tinggal masalah warna aja yang agak bingung. Karena saya penggemar warna hitam, nah .. Ternyata suzuki menyediakan seri: night rider. Langsung saja saya pilih night rider SR terbaru.

SKYWAVE-125
SKYWAVE-125

Saat, inreyen, busyet, enak banget. Biasa pake thunder, pake matic, tinggal gas rem. Begitu di tarik langsung ngebut, ga ada jeda untuk pindah gigi. Saat dibandingkan dengan mio dan spin, masalah tarikan urutannya adalah: mio – spin – skywave. Tapi di kecepatan tinggi, urutannya berubah: skywave – spin – mio. Kl masalah “ngorok” kayaknya skywave tidak cocok untuk dipaksa narik awal. Jadi anjuran saya, tarik pelan – pelan, saat speed di atas 30 baru tarik.. dijamin bisa ngalahin bebek bergigi. Nouvo? Sorry, ga pernah nyoba, setahu saya sih itu merek sabun.

Oiya, untuk yang ingin melihat jenis matic suzuki yang baru, sky drive, klik di sini.

SKYWAVE-125
SKYWAVE-125

Presentasi Java: Jakarta Struts

Hari/Tgl      : Sabtu, 28 Februari 2009

Mt Kuliah   : Pemrograman Berorientasi Objek

Dosen           : Windu Gata, M.Kom.

Setelah persiapan yang seadanya, kami kelompok V melakukan presentasi Java Struts. Slide dibuat oleh Sulis dan Nita sedangkan saya mendapat tugas membuat sampel program dan menjelaskan cara kerjanya. Sayangnya, Sulis memberikan slide yang agak “high” sehingga saya sendiri tidak sanggup menjelaskan saat Pak Windu bertanya tentang apa yang ditulis oleh Sulis.

Setelah presentasi yang agak panjang, giliran saya yang menjelaskan alur kerja Struts. Pertama-tama saya menjelaskan aktivasi Server Tomcat. Karena Struts membutuhkan server dengan J2EE-nya. Setelah di running, si “kucing” Tomcat berhasil muncul, artinya server berhasil dibangkitkan. Saya jelaskan pula cara deploy WAR-file java supaya dapat langsung jalan di server Apache Tomcat tersebut. Alhamdulillah satu contoh sederhana berhasil dijalankan.

struts_sample

Namun, saat sesi tanya jawab, justru yang bertanya hanya Pak Windu yang meminta saya menunjukkan apakah contoh program yang saya buat telah menggunakan framework Struts (dengan model, view dan control-nya). Terus terang walaupun saya menggunakan fasilitas Struts, contoh program yang saya buat hanya menggunakan dua class dan satu view JSP sebagai interface-nya. Hasilnya kami belum bisa dikatakan telah menggunakan framework Jakarta Struts dan harus diulang lagi presentasinya minggu depan kalau tidak ingin mendapat nilai 60.