Mengimpor Driver LU Change dari ArcGIS

Bagi yang sudah berkecimpung dengan penelitian dengan topik perubahan penggunaan lahan (Land use – LU) sepertinya tidak asing dengan istilah driver. Driver adalah suatu peta tematik yang menggambarkan pengaruh suatu kondisi geografis (jarak dengan jalan, pusat kota, dan lain-lain) terhadap pertumbuhan LU. Ada bermacam-macam kategori: biofisika, infrastruktur, dan sosial-ekonomis, dan lainnya yang bisa dibaca di buku text tentang tata kota atau environment. Bisanya software yang digunakan adalah IDRISI yang memiliki modul Land Change Modeler (LCM). Akan tetapi untuk membuat driver, mau tidak mau mengandalkan ArcGIS yang sangat fleksible dan memang ditujukan untuk spatial analysis yang lebih lanjut.

Salah satu masalah yang dijumpai oleh para pengguna ArcGIS adalah ketika mengekspor driver tersebut ke IDRISI. Ketika dihubungkan dengan image lain driver tersebut tidak sinkron. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan mengandalkan fungsi PROJECT yang bertugas merubah/mengkonversi proyeksi dan juga menyamakan bidang kerja suatu image dengan lainnya.

Pertama-tama yang wajib diketahui oleh pengguna citra satelit yang diunduh dari USGS (lihat cara donwloadnya) adalah proyeksi yang digunakan oleh citra satelit tersebut. Setelah mengimpor TIFF menjadi RST buka PROJECT dan coba letakkan image yang diimpor tersebut, maka muncul proyeksinya.

Perhatikan referensi citra satelit yang saya miliki ternyata LATLONG. Biasanya untuk citra satelit, misalnya jabotabek, menggunakan UTM. Tapi ternyata untuk citra DEM dari SRTM (lihat post sebelumnya) ternyata proyeksinya LATLONG (saya juga kurang begitu paham dengan proyeksi ini, mungkin lintang dan bujur seperti biasa). Di sini proyeksi tersebut akan dikonversi menjadi standar UTM 48S yang saya gunakan. Oiya, walaupun di ArcGIS sudah diutak-atik menjadi UTM, ternyata tetap harus diset ke defaultnya (LATLONG), entah mengapa. Jangan lupa menekan Output Reference Information untuk menyamakan bidang kerja (dari existing file).

Jadi ciri-ciri driver yang sudah siap digunakan adalah selain bentuk visualnya yang sama dengan ketika diolah di ArcGIS, juga sinkron dengan image lainnya. Caranya buka display dua buah image, yaitu satu yang sudah terstandar dan satu lagi driver yang baru saja kita impor dari ArcGIS. Jika keduanya dapat dibuka, dalam satu Composer maka dapat dipastikan dua image itu sudah klop (lihat dengan cara men-checklist salah satu image).

Jika sudah dirasa klop, maka siap dimasukan ke dalam LCM bersama dengan driver-driver lainnya. Contoh di atas adalah Digital Elevation Model (DEM) sebagai salah satu driver perubahan lahan (LU).

Membuat Peta DEM dari Data SRTM

Selain foto permukaan bumi, USGS ternyata menyediakan foto tentang ketinggian (elevation) yang diambil lewat Shuttle Radar Topography Mission (SRTM). Lihat postingan terdahulu, untuk mengunduhnya. Salah satu manfaat dari foto SRTM ini adalah untuk membuat peta tematik Digital Elevation Model (DEM) atau juga peta kontur.

Hasil download dapat dibuka dengan aplikasi-aplikasi GIS, misalnya ArcGIS. Bahkan karena tipe file-nya TIFF maka tiap pembuka gambar biasanya dapat melihatnya. Ukuran file lumayan besar untuk satu gambar, sekitar 25 megabyte. Untuk wilayah sekitar jabotabek, sepertinya harus mengunduh dua gambar. Tampak kota Bekasi hanya menempati sebagian saja jika satu file download yang digunakan.

Oleh karena itu harus dua file yang di-download. Untungnya USGS menyediakan seluruh tile, istilah untuk satu segmen download, untuk wilayah republik Indonesia.

Dengan menggunakan fungsi raster clip (lihat postingan tentang clip) diperoleh SRTM untuk wilayah tertentu yang menjadi study area kita (misal kota Bekasi). Lumayan ribet juga kota Bekasi, karena pas transisi antara dua “tile” SRTM. Untuk menggabungkan dua data raster dapat menggunakan fungsi mosaic to new raster yang tersedia di Arc Toolbox. Untungnya link youtube ini bisa jadi rujukan untuk menggabungkan dua data raster SRTM tersebut. Dan untungnya lagi, video itu membahas penggabungan SRTM yang beda “Tile” juga.

Jangan sampai salah mengisi parameter pada mosaic to new raster. Jika data ketika digabung berubah, berarti ada yang salah mengisi isian fungsi itu. Klik kanan dan pilih properties pada SRTM asal untuk mengetahui parameter yang sesuai. Lihat isian untuk SRTM kota Bekasi berikut. Pixel type dan number of band dapat dilihat di properti pada peta SRTM.

Untuk yang ingin membuat peta kontur, silahkan mengikuti langkah-langkah yang sudah dijelaskan di youtube berikut ini.

Gambar di bawah ini menunjukan peta DEM (kiri) dan peta kontur (kanan). Semoga sedikit bermanfaat.

Menulis Kalimat yang Efektif, Bag 3 – Revisi Kalimat

Lanjutan dari postingan sebelumnya tentang jenis-jenis kalimat, postingan kali ini membahas bagaimana merevisi tulisan yang telah kita buat. Masih membahas buku “writing with a purpose” karya McCrimmon, disebutkan bahwa sesungguhnya kalimat yang efektif sebenarnya bukan berasal dari tulisan (writing) melainkan dari penulisan ulang (rewriting). Mengapa? Tulisan awal, diisitilahkan dengan draft, cenderung fokus ke bagaimana penulis mengekspresikan suatu ide. Sementara apakah penyampaiannya efektif atau belum dilaksanakan setelah penulisan selesai. Terkadang tidak perlu menunggu seluruh tulisan selesai dibuat, jika ada waktu luang penulis bisa memanfaatkannya untuk merevisi.

Ada empat jenis revisi yang perlu dilakukan untuk menghasilkan kalimat yang efektif: clarity, emphasis, economy, dan variety. Jika diartikan dalam bahasa Indonesia berturut-turut kejelasan, penekanan, penghematan, dan variasi. Berikut akan dibahas satu persatu.

a. Revisi untuk Memperjelas

Salah satu syarat kalimat yang baik adalah jelas. Ketidakjelasan kebanyakan karena kesalahan-kesalahan mendasar antara lain: 1) salah dalam penggunaan kata, kata ganti, kata-kata penting, dan tanda baca, 2) artikulasi (diction) yang tidak jelas, 3) struktur kalimat yang berlebihan (over-involved). Biasanya kesalahan (1) dapat diatasi dengan proofreading seperti biasa, bahkan MS Word sudah menyediakan sarana untuk mengecek apakah kalimat dan tanda baca yang digunakan sudah tepat. Kesalahan (2) akan dibahas pada postingan berikutnya. Kesalahan (3) akan dibahas disini. Kesalahan ini biasanya terjadi karena memaksakan terlalu banyak ide dalam suatu kalimat yang mengakibatkan pembaca sulit memahaminya. Berikut ini adalah contoh kalimat yang berlebihan:

  • His mother, who had been living in Ohio, where she had been keeping house for her nephew who lost his wife in a car accident and needed help in bringing up his three small children, having been in poor health since her husband died, because she suffered from chronic asthma, had to move to Colorado.

Sebenarnya klausa utama kalima tersebut adalah “his mother had to move to Colorado”. Dengan diinterupsi oleh lima anak kalimat, baik penulisnya apalagi pembaca kesulitan memahaminya. Ada banyak variasi untuk memperbaikinya. Di sini akan dianalisa dua revisi, revisi pertama yang mengasumsikan bahwa seluruh informasi sangat penting sehingga harus disampaikan. Revisi kedua diasumsikan bahwa beberapa informasi tidak terlalu penting. Berikut revisi pertama:

  • His mother had been suffering from chronic asthma since her husband died and finally had to move to Colorado to relieve it. Before going to Colorado, she had been keeping house in Ohio for a nephew who was left with three small children when his wife was killed in an automobile accident.

Jika diperhatikan, revisi pertama ini mereduksi 55 kata menjadi 52 kata. Revisi kedua ini mereduksi lagi menjadi 30 kata saja.

  • Because of her chronic asthma, his mother had to move from Ohio to Colorado. In Ohio she had been keeping house for a widowed nephew and his three small children.

b. Revisi untuk Penekanan (Emphasis)

Penekanan merefleksikan bagian penting pada kalimat. Banyak pilihan, dan penulis harus memilih satu yang sesuai dengan penekanan yang diinginkan. Penekanan menurut McCrimmon ada tiga yaitu penekanan pada urutan kata, repetisi, dan penekanan bunyi.

Penekanan pada urutan kata maksudnya adalah penulis pertama-tama mencari kata mana dan pada posisi mana (subyek, predikat, atau obyek) yang menjadi penekanan. Misal kita memiliki kalimat “Abraham Lincoln was shot /by John Wilkes Booth/in Ford’s Theater/on the evening of April 14, 1865”. Jika tulisan tentang biografi Abraham Lincoln, maka penekanan pada “John Wilkes Booth shot Lincoln”. Akan tetapi jika tulisan tentang sejarah Ford’s Theater, maka penekanan pada “It was in Ford’s Theater that Booth shot Lincoln on the evening of April 14, 1865”.

Pengulangan kata terkadang bermanfaat untuk memberi penekanan. Lihat jenis kalimat paralel dan seimbang di postingan sebelumnya yang sebenarnya juga bermanfaat untuk memberikan penekanan. Selain itu pengulangan kata bermanfaat untuk menyambung dua paragraf. Sebagai satu contoh, kata “brutal” diulang untuk memberikan penekanan pada “brutal“.

  • It was an act of senseless brutallity, brutally planned and brutally executed, seving no purpose except to indulge a brute passion.

Penekanan nada berhubungan dengan struktur kalimat, apakah aktif atau pasif. Sangat dianjurkan menggunakan kalimat aktif karena lebih natural dan kelemahan-kelemahan dari kalimat pasif yang sulit dalam strukturisasi antar kalimat. Tetapi tentu saja kembali melihat mana yang menjadi penekanan, misalnya jika university pada kalimat berikut menjadi bagian yang perlu penekanan, maka kalimat pasif lebih baik.

  • The legislature founded the university ninety years ago. (aktif)
  • The university was founded nintety years ago. (pasif)

Terkadang ada jurnal-jurnal yang lebih suka dengan kalimat pasif. Oleh karena itu jika ingin mengirimkan naskah ke suatu jurnal sebaiknya melihat apakah cenderung ke kalimat aktif atau pasif, walaupun saat ini kalimat aktif sudah banyak diterapkan oleh jurnal-jurnal di dunia.

c. Revisi untuk Penghematan

Suatu kalimat dikatakan hemat jika jumlah kata yang digunakan sedikit tetapi maknanya banyak. Sebaliknya dikatakan boros jika banyak kata yang terlibat tetapi maknanya sedikit. Perhatikan kalimat berikut ini:

  • Although I cannot truthfully say that I was acclaimed during my high school career as a prodigy, being what is generally known as an average student, yet I was able to survive the rigors of academic pursuits and to achieve graduation without ever having received a failing grade in any subject.

Sebaiknya kita memperhatikan sudut pandang pembaca juga. Apa yang perlu diketahui oleh pembaca. Kalimat berikut merupakan revisi dari kalimat di atas.

  • Although I was only an average student in high school, I never failed a course.

d. Revisi untuk Menambah Variasi

Revisi ini bisa dikatakan revisi yang tersulit karena melibatkan bukan hanya satu kalimat, melainkan beberapa kalimat. Sebelumnya penulis harus memahami terlebih dahulu struktur kalimat periodik dan paralel untuk mahir dalam memberikan variasi dalam satu tulisan. Perhatikan lima kalimat dalam satu paragraf berikut ini.

  • 1. John Stuart Mill wos born in 1806 and died in 1873.
  • 2. He was famous as a child prodigy.
  • 3. His fame continued through his life.
  • 4. He was a logician and a political economist and a man of letters.
  • 5. He was one of the most influential thinkers of the nineteenth century.

Berikut adalah revisi dari kalimat-kalimat di atas (sengaja dipisahkan dengan nomor untuk memudahkan penjelasan).

  • John Stuart Mill (1806-1873) was a child prodigy whose fame did not cease at maturity. As a logician, political economist, and man of letters, he was one of the most influential thinkers of the nineteenth century.

Revisi tersebut hasil dari operasi berikut. Pertama-tama 1) dan 2) digabung (dengan tanda kurung). Kalimat 3) dijadikan anak kalimat dan digabung dengan 1) dan 2). Kalimat 4) dijadakan frasa dan digabung di awal kalimat 5).

Sebagai informasi tambahan, perhatikan gambar berikut ini tentang contoh bagaimana cara melakukan revisi (diambil dari buku McCrimmon). Selamat merangkai kata.

Ekspor Shapefile ke KMZ Google Earth

Terkadang untuk melihat suatu peta pada ArcGIS apakah sudah sesuai dengan kenyataan perlu dibandingkan dengan Google Earth Pro yang saat ini sudah gratis. Misalnya saya memiliki hasil klasifikasi peta dari citra satelit USGS kemudian akan saya bandingkan hasil klasifikasi, misalnya builtup area, dengan kondisi real. Walaupun bisa dengan metode “composit” tetapi karena resolusi yang rendah dari citra satelit, membandingkan dengan Google Earth yang sampai 30 meter sepertinya layak dicoba.

Gambar di bawah ini saya memiliki peta builtup dari ArcGIS yang akan diekspor ke Google Earth. Langkah pertama adalah mengkonversinya menjadi KMZ atau KML yang dikenali oleh software Google Earth (lihat postingan ini jika ingin tahu apa itu Google earth).

Seperti biasa, cara termudah mencari fungsi pada ArcGIS adalah dengan men-“searching”nya. Ketik “to KML” untuk menemukan fungsi tersebut di ArcGIS toolbox. Pilih Layer to KMZ dan isi form dengan layer yang sudah ada di ArcGIS sebelumnya. Oiya, baik data vektor maupun raster dapat dikonversi dan diekspor ke Google Earth.

Pastikan konversi berjalan dengan sempurna. Setelah itu buka file-nya dengan folder explorer seperti biasa. Untuk memindahkan file KMZ hasil konversi tersebut cara termudah adalah dengan mendrag dari folder explorer ke Google Earth. Otomatis nanti file KMZ yang merupakan peta Built-up area (raster) akan overlay dengan Google Earth. Oiya, jangan lupa proyeksi harus standar terlebih dahulu. Gambar di bawah ini menunjukan hasilnya (yang berwarna hijau tua atau biru ya?), kebetulan saya menggunakan “historical imagery”, yaitu servis dari google earth untuk melihat peta wilayah pada tahun-tahun yang lampau. Kebetulan Bekasi hanya tersedia sampai tahun 2003 sebagian besar wilayahnya.

Untuk sebaliknya, dari KMZ/KML ke shapefile, dapat lihat postingan yang lalu berikut ini. Selamat mencoba.