Belajar Aplikasi Vertikal (Vertical Application)

Aplikasi (application) banyak macamnya; dari sistem operasi/middleware, hingga software. Salah satu apllikasi yang sering digunakan oleh mahasiswa adalah vertical application. Berbeda dengan horizontal application yang ditujukan untuk pengguna umum dengan tingkat keahlian yang beragam, vertical application ditujukan untuk pengguna khusus yang terbatas dengan proses bisnis tertentu. Bagi pengguna yang tidak memiliki pemahaman tertentu terhadap ruang lingkup keilmuan aplikasi vertikal, aplikasi tersebut sepertinya tidak bermakna. Pengguna, oleh karena itu, perlu belajar terlebih dahulu ilmu yang mendasarinya.

Untuk mempelajari satu bidang ilmu terkadang butuh beberapa bulan, bahkan tahunan. Padahal, seorang insinyur informatika perlu secepatnya memahami ilmu yang menyertai aplikasi vertikal untuk membantu atau bekerjasama dalam suatu tim dengan stakeholder lain. Untungnya, kebanyakan aplikasi menyediakan dokumentasi yang disediakan dalam konten help-nya yang sangat bermanfaat bagi pengguna yang kurang begitu memahami domain dari aplikasi vertikal yang akan digunakan. Fasilitas inilah yang menjadi andalan untuk mempelajari ilmu dasar aplikasi vertikal. Contoh di bawah ini adalah help pada aplikasi vertikal tentang ecology landscape yang membantu menganalisa data spasial dari aspek statistik yang berhubungan dengan ekologi dan lansekap.

Contoh aplikasi vertikal di atas adalah Fragstats (lihat postingan sebelumnya) yang bekerja dengan mode raster (grid/image/ascii). Ketika dibuka dan membuat model analisa baru, akan muncul pilihan patch metrics, class metrics, dan lanscape metrics. Istilah-istilah tersebut dapat dipelajari lewat help pada gambar di atas. Aplikasi ini gratis, hanya saja untuk melihat hasilnya butuh aplikasi lain yang belum tentu gratis, misalnya ArcGis.

Mempelajari ilmu dasar lewat help dapat mempercepat kemampuan dalam penggunaan suatu aplikasi vertikal walaupun tentu saja, perlu juga membaca literatur-literatur tentang ilmu yang mendukung aplikasi tersebut. Selamat mencoba aplikasi vertikal yang banyak tersedia saat ini.

Tip dan Trik Penulisan Artikel Ilmiah

Selesai sudah Pilkada dan Pilgub yang bikin heboh medsos (Fb, IG, Yotube, dan Twitter). Mending share yang bermanfaat. Postingan kali ini saya ingin berbagi bagaimana menyiapkan, mengerjakan, dan mempublikasikan suatu artikel ilmiah. Sumbernya adalah workshop yang diadakan di kampus saya kuliah, Asian Institute of Technology. Saya lupa tanggalnya, yang jelas tahun 2016 sekitar bulan oktober. Pembicaranya adalah Dr. Piyus Soni dari Agriculture and System Engineering. Sebenarnya seminar ini ditujukan untuk mahasiswa doktoral, tetapi tidak tertutup kemungkinan mahasiswa S1 dan S2 mengambil manfaat yang ada. Apalagi ada kemungkinan nanti juga mengambil jenjang S3, terutama yang berstatus dosen. Berikut video pembukaan/pengantar tentang materi yang akan disampaikan.

Selanjutnya adalah materi yang lengkap. Dimulai dari merumuskan masalah, studi literatur, pemilihan judul. Kemudian dilanjutkan dengan menulis introduction, methods, hingga kesimpulan. Banyak juga saran-saran yang jarang ditemui di panduan-panduan resmi dalam menulis. Maaf kalau suara dan gambar kurang jelas. Semoga bermanfaat.

Memulai Fragstats untuk Analisa Sprawl

Seperti telah dibahas pada postingan sebelumnya, Fragstats sangat baik digunakan untuk analisa sprawl (entah apa padanan kata bahasa Indonesia untuk istilah “sprawl”). Ada baiknya unduh tutorial Fragstats yang disediakan oleh vendornya di link berikut ini. Setelah dicoba ternyata Fragstats membutuhkan GIS tool, misalnya ArcGIS untuk melihat hasil olah statistik. Gambar di bawah ketika tutorial1 dibuka dengan ArcMap 10.

Kalau dilihat sekilas sepertinya menggunakan format data Grid dengan ekstensi TIF. Tutorial yang didownload dalam bentuk zip tersebut ternyata disediakan pula file-file pendukung untuk praktek berupa file *.mxd standar ArcGIS. Masih sedikit video yang dishare di youtube tentang penggunaan Fragstats. Sempat menemukan, tapi bahasanya Perancis.

Ada juga beberapa yang bagus dan menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantarnya. Link video di bawah ini cukup baik untuk mengolah data di ArcGIS sebelum diekspor ke Fragstats untuk dianalisa. Semoga dapat digunakan untuk menghitung Patch Density (PD), Landscape Shape Index (LSI), Euclidean Nearest-Neighbor Distance (ENN), dan Mean Patch Size (MPS).

Analisa Sprawl dengan FRAGSTATS

Sprawl yang artinya pembukaan lahan baru perkotaan, berdampak negatif terhadap lingkungan. Jika tidak diawasi maka akibatnya dapat dirasakan hingga generasi yang akan datang. Sprawl berkaitan dengan perkembangan lahan (land use growth) dimana suatu kota yang tidak sanggup lagi menampung penambahan kebutuhan lahan dan bergeser ke wilayah sekitarnya (vicinity). Untuk itu perlu menganalisa Sprawl agar pengambil kebijakan dapat memprediksi laju Sprawl ini. Salah satu perangkat lunak yang baik dan sering digunakan oleh peneliti adalah Fragstats. Software ini gratis dan dapat diunduh di situs ini. Ukurannya lumayan kecil, hanya 5 Mb.

Software ini kompatible dengan ArcGis versi 10 dengan format Grid. Selain software, vendor juga menyediakan tutorial lengkap dengan data sample yang akan diolah. Di bawah ini tampilan awal setelah menginstall perangkat lunak tersebut dan siap digunakan untuk menganalisa Sprawl. Rencananya akan digunakan di Jabotabek (JMRR), khusus ke arah barat (Bekasi kota, Bekasi kabupaten, dan Bogor utara).

Semoga informasi ini bermanfaat dan dapat digunakan untuk menganalisa Sprawl suatu wilayah. Terlebih dahulu unduh citra satelit USGS yang sudah dijelaskan pada post sebelumnya.

Proofreading Jurnal Internasional

Banyaknya naskah jurnal yang dikirim oleh penulis setiap hari menyebabkan editor menggunakan siasat untuk menyeleksinya. Selain tema harus sesuai dengan tema jurnal, cara tercepat untuk mengetahui kualitas suatu tulisan adalah mengecek tata bahasa (grammar) atau sering diistilahkan dengan English Style. Jika dari awal banyak kesalahan dan sulit dimengerti biasanya reviewer segera menolaknya. Editor tidak ingin membuang-buang waktu untuk mengoreksi tata bahasa karena banyak tulisan lain yang “antri”. Sangat disayangkan jika sebenarnya tulisan yang ditolak itu cukup berbobot.

Salah satu cara praktis untuk mengecek bahasa adalah dengan memanfaatkan jasa proofread yang banyak dijumpai di internet. Salah satu pembimbing saya menyarankan untuk memilih “native speaker” yang memiliki naluri kuat terhadap kesalahan bahasa karena memang merupakan bahasa asli-nya. Namun tentu saja lumayan mahal. Saya sempat mencoba ke salah satu proofreader yang disarankan oleh rekan kuliah saya. Biaya tidak berdasarkan jumlah kata tetapi kualitas bahasa Inggris yang dikirim untuk dicek.

Hasilnya lumayan bagus dan terbukti publish di jurnal ber-impact factor 1.343. Dari judul pun sudah dicoret-coret. Tetapi membutuhkan dana yang besar, padahal dosen mulai dipaksa untuk mempublikasikan riset-nya ke jurnal internasional. Biaya yang saya keluarkan waktu itu hampir 4000 baht atau setara dengan Rp. 1,5 juta. Bahkan jika tulisannya agak “berantakan” seorang teman saya dikenakan harga 6000 baht (Rp. 2jt-an).

Masalah lain jika mengandalkan jasa proofread adalah ketika naskah diminta revisi. Mau tidak mau memerlukan jasa proofread lagi. Waktu itu saya mencoba minta bantuan proofread ke rekan dosen (jurusan sastra Inggris) dan sialnya dia sibuk renovasi rumah. Padahal deadline revisi hanya kurang dari seminggu. Untungnya rekan saya menyarankan situs check grammar yang tersedia di internet. Dengan sign-up sebentar, kita siap menggunakannya.

Bentuknya adalah kita meng-copy paste tulisan ke kolom check seperti pada google translate. Secara otomatis situs itu akan mengecek jika ada kesalahan. Bahkan mozilla bisa menginstall plugin sehingga ketika mengetik email, grammarly ikut mengecek tata bahasa.

Lihat jika ada kata yang salah, langsung memberi komentar dan saran perbaikannya (pada contoh di atas diminta menghapus huruf “s”). Situs di atas ada yang gratis dan ada pula yang berbayar (sekitar satu jutaan pertahun). Yang gratis hanya menyarankan kalau ada kata (word)yang salah. Sementara jika ada tata bahasa yang kurang tepat hanya memberi “warning” saja. Walau demikian, bagi saya sudah cukup, karena tinggal “trial-error” agar “warning” tidak muncul lagi.

Setelah menambah “a” dan mengganti “using” dengan “through” warning di atas hilang (perhatikan gambar di bawah). Lumayan memakan waktu, tetapi tidak apalah sekalian belajar grammar. Selamat mencoba.

Merespon Pertanyaan Reviewer Jurnal

Tulisan yang kita kirimkan ke publisher akan menerima beberapa kemungkinan jawaban. Lihat lika-likunya dari postingan sebelumnya. Biasanya ada dua kemungkinan yaitu diterima atau ditolak. Yang ditolak tentu saja sudah jelas, yaitu proses tidak diteruskan sementara yang langsung diterima sangat jarang. Biasanya ada dua kemungkinan yaitu “minor revision” dan “major revision”. Apakah itu otomatis diterima? Tentu saja tergantung dari respon kita terhadap pertanyaan/saran-saran dari para reviewer.

Postingan ini hanya bermaksud sharing bagaimana merespon permintaan reviewer. Ada beragam cara yang dapat Anda cari informasinya, baik dari lembaga bahasa, situs bhs Inggris, atau sekedar bertanya kepada rekan kita yang sudah diterima dan dipublikasi jurnalnya. Berikut ini contoh jawaban dari editor terhadap jurnal yang ditolak:

“It is with regret that we must inform you that your manuscript has been
declined for publication in … ”

Sementara yang harus revisi:

“It has been reviewed by experts in the field and we request that you make
minor revisions before it is processed further. Please find your manuscript
and the academic editor’s comments at the following link:”

Jangan berkecil hati jika tidak diterima (declined). Tetap bersyukur karena tulisan yang kita buat telah sempat dibaca oleh reviewer yang telah bersedia meluangkan waktu untuk membacanya. Untuk yang harus direvisi jangan terlalu gembira karena harus merespon pertanyaan-pertanyaan reviewer yang sangat menentukan lolos atau tidaknya tulisan yang kita kirim.

Pegalaman tiap penulis mungkin berbeda-beda terhadap tulisan yang harus direvisi. Saya sendiri sangat kaget dengan komentar reviewer yang kebanyakan di luar dugaan. Mereka kebanyakan sudah berpengalaman me-reviewer jurnal sehingga mampu mendeteksi kesalahan-kesalahan yang ada dalam naskah yang mereka cek. Berikut ini contoh bagaimana membalas/merespon pertanyaan reviewer. Kata pembuka jangan lupa ditulis:

We thank the editor and reviewers for their thorough reading of our manuscript and their comments and suggestions that helped us to improve the manuscript. As indicated below, we have tried to do our best to respond to all the points raised. Please contact me if you need any further information.

Sangat sederhana, tetapi cukup sopan dan mudah-mudahan bisa mengurangi ‘kegarangan’ para reviewer. Selanjutnya adalah menjawab dengan memberitahu bagian yang direvisi. Lokasi bisa diberikan lewat section dan paragraf ke berapa dari tulisan kita. Untuk naskah yang menggunakan penomoran, nomor yang menunjukan baris tulisan sedikit memudahkan proses revisi.

C1. Your dataset is based on 30m spatial resolution basemaps provided by Bing, Google, other sources (require detail explanation). I fully understand why you used this manual method. But you should validate accuracy of your dataset with using an alternative available data. As I understood from your paper, remote sensing data is not available or not in good quality. However, you may find another dataset which covers a part of your site, then you can validate accuracy of your dataset. This is important, because errors in your dataset may mislead you about results.

A1.
Thank you for the suggestion. The remote sensing data from USGS (August 2015) were used to validate, especially for built-up class. Figure below (blue region) shows the built-up class shown in Google earth Pro after classification using IDRISI selva 17. We have added the following text. Line 130:”

However, remote sensing data from USGS (August 2015) was used to validate current LU data in regard to built-up class”.

Perhatikan, di sini komentar reviewer tidak menyebutkan nomor dan sebaiknya kita isi nomor misalnya C1 yang artinya comment-1, sedangkan A1 bisa berarti answer-1. Jika kita mengikuti saranya, bisa diawali dengan “thank you for the suggestion” dan jika reviewer hanya memberikan komentar, bisa diawali dengan “thank you for the comment”. Terkadang permintaan maaf perlu A8: We apologize for the confusion.

Terkadang kita tidak setuju dan memberikan argumen ke reviewer. Tetapi tentu saja ini beresiko dan sebaiknya cari kompromi (win-win solution). Jika tidak memungkinkan kompromi, beri argumen yang logis dan biarkan Editor menilai. Terkadang mereka mengundang reviewer juri apabila tidak ditemui kompromi antara penulis dengan reviewer. Berikut kata yang baik untuk menolak argumen reviewer: A12: Thank you for the comment. We decided to keep …

Jangan lupa Cover Letter yang berisi surat untuk editor. Formatnya seperti surat biasa, berikut contoh nya, semoga bermanfaat:

(Nama Editor)

Editor in Chief

(Nama Jurnal)

(Tanggal, bulan, tahun)

SUBJECT:     Re-submission of manuscript to …. (nama jurnal)

==================================================================

Dear (nama editor),

Thank you for the opportunity to re-submit our manuscript entitled “Letakan judul tulisan yang dikirim”, for your consideration.

We appreciate the time and efforts by the editor and reviewers in reviewing this manuscript.

In revising the paper, we have carefully considered your comments and suggestions, as well as those of the reviewers. After addressing the issues raised, we feel the quality of the paper is much improved and hope you agree.

I look forward to receiving your further communications.

Yours sincerely,

(Nama Penulis)

(Afiliasi)

Publikasi Jurnal Internasional

Lama tidak ngeblog, maklum sibuk membuat tulisan yang akan dipublish. Menulis di Jurnal internasional merupakan salah satu syarat lulus jenjang Doktoral di hampir kebanyakan kampus di dunia. Jurnal internasional berisi ilmu-ilmu baru yang berasal dari riset dimana tidak atau belum pernah dilakukan riset sejenis sebelumnya. Hal-hal baru itu sering diistilahkan dengan “research gap”. Research Gap walaupun hanya sebagian kecil dari ilmu yang berkembang hingga saat ini tetapi sangat sulit untuk diselesaikan. Bahkan mencari research gap itu sendiri membutuhkan studi literatur yang cukup banyak.

Dulu saya pernah posting lika-liku penulisan jurnal ketika studi lanjut tingkat S3. Termasuk apa itu progress meeting (tidak semua kampus menerapkan ini). Lihat bagian “update”, ternyata saya menulis hingga publish, hampir butuh waktu dua tahun. Bukan waktu yang singkat.

Berikut ini adalah link tulisan saya yang dipublish di jurnal “Sustainability”. Ketika disubmit saya merasa kurang sempurna. Tetapi ternyata aspek “kebaruan” dan adanya “research gap” sangat menentukan diterima atau tidaknya naskah, selain tren saat ini. Kebetulan tulisan saya sangat berkaitan dengan tren saat ini yaitu sustainability, atau yang dalam bahasa kita diistilahkan dengan “berkelanjutan”.

Impact: SCImago Journal & Country Rank

Tentu saja sebaiknya sebelum submit pastikan tidak ada kesalahan-kesalahan yang sifatnya “elementer”. Sayang sekali kan kalau tulisan yang bagus ditolak karena masalah-masalah kecil. Tetapi jangan takut, reviewer dan editor manusia biasa dan memiliki pertimbangan lain untuk tulisan yang akan dipublishnya. Research gap tulisan saya adalah menerapkan algoritma optimasi untuk mencapai “sustainable urban form”.