Satu hal yang pasti ada di bulan Agustus adalah umbul-umbul yang didominasi warna warni dan bendera merah putih, pertanda mulai dimeriahkannya tujuh belasan. Acara yang menjadi ritual di Indonesia, dari perlombaan, makan-makan, konser rakyat, hingga pembagian hadiah, khususnya panjat pinang.
Terlepas dari itu semua, ada baiknya kita membaca buku tentang perjuangan kemerdekaan bangsa kita, khususnya dari tokoh-tokoh pendiri bangsa. Karena orde baru yang sangat anti orde lama yang kebetulan bung Karno saat itu pemimpinnya, mau tidak mau peran bung Karno agak diredam. Buku-buku nya sangat jarang beredar. Membacanya pun sedikit hati-hati dan diam-diam.
Namun di Era Gus Dur dan Megawati, mulailah bacaan-bacaan karya bung Karno bebas beredar. Ternyata tulisan-tulisannya membuat kita bisa merasakan suasana era ketika beliau menulis itu. Biasanya berupa tulisan singkat, famplet yang diedarkan, berita di surat kabar, surat ke rekan sesama pejuang, hingga memang tulisan khusus tertentu yang akan dibuat menjadi buku. Selain di era sebelum merdeka yang kebanyakan di jilid 1 buku dibawah bendera revolusi (waktu itu memang dibawah ditulis ‘di’ menyambung dengan ‘bawah’), jilid 2 didominasi ketika Sukarno menjadi presiden dan dalam perang kemerdekaan. Saya memiliki buku asli jilid 1 warisan dari bapak saya yang ‘marhaen’, dan sudah saya baca hingga tuntas. Jilid 2 baru saya baca dan lebih ‘mengerikan’ lagi sikap Belanda. Maklum, negara pimpinan ratu Wilhelmina itu sedang ‘lapar-laparnya’ akibat penderitaan perang dunia 2, ditambah statusnya yang sebagai pemenang perang, membuat sedikit arogan.
Jika pada jilid 1 sebagian besar berisi pujian kepada pejuang-pejuang yang sama-sama bahu membahu seperti bung Hatta, Rasuna Said (yang ternyata seorang perempuan), dan lain-lain, pada jilid 2, bung Karno harus melawan serangan dari bangsa sendiri selain Belanda yang mencoba menjajah kembali, yang beliau sebut pemakan bangkai saudara, penjual bangsa, dan sebagainya. Maklum, kondisi sedikit berbeda dengan era sebelum perang dunia 2, penjajahan Jepang sangat membuat rakyat tidak berkutik, apalagi embargo Belanda yang bahkan sempat mem-bom kapal bantuan ke Indonesia, yang disebutnya ‘tidak sengaja’. Bahkan saking marahnya beliau mewanti-wanti jangan jadi bangsa kambing yang hanya mengembik saja.
Beberapa perjanjian yang pernah kita pelajari di buku sejarah ternyata hanya kulitnya saja, misalnya bagaimana perjanjian Linggar Jati ternyata ketika ditanda-tangani oleh kita, ternyata hanya ‘diparaf’ oleh wakil Belanda sehingga perlu tanda tangan resmi lagi di negeri kincir angin tersebut, setelah rapat di dewan sana. Uniknya, Indonesia sempat mengirim bantuan pangan ke India yang di tahun ’46 mengalami kelaparan.
Dulu saya pernah berfikir, bangsa kita adalah bangsa yang pemaaf. Dijajah portugis, spanyol, inggris dan belanda tapi tetap bersahabat baik saat ini seolah-olah tidak pernah ada pertikaian sebelumnya. Tapi sepertinya karena kita mungkin melupakan pesan bung Karno: “jangan sekali-kali melupakan sejarah”. Ya, sejarah yang ditutup-tutupi plus mungkin budaya membaca dan critical thinking kita yang perlu diasah menjadi penyebab hal itu. Oke, jika kita memaafkan mereka, tetapi dengan membaca sejarah, kita jadi lebih menghargai generasi lampau yang dengan susah payah, luka dan bisa, hingga nyawa taruhannya, kepada pahlawan bangsa. Semoga di tujuh belas agustus ini, ditambah menjelang tahun politik, kian merapatkan persaudaraan dan persatuan Bangsa kita.