Kepemimpinan dalam Pendidikan/Pengajaran

Gara-gara tulisan yang lalu menyebutkan bahwa mahasiswa PhD harus belajar juga kepemimpin terpaksa cari-cari buku tentang hal itu di perpustakaan kampus. Baru naik tangga sudah menemukan buku yang judulnya “The Art of Leadership” karya Manning dan Curtis dari universitas Kentacky.

Lumayan banyak isinya, dan saya langsung ke bagian-bagian akhir yang bercerita tentang kependidikan, yang cocok dengan background saya. Di paragraf awal bab itu diilustrasikan suasana kelas sekolah dasar yang menggambarkan seorang anak yang bingung dan serba salah. Repotnya lagi bukan teman sebangkunya saja yang menyalahkan, guru-nya pun bukan seorang pemimpin yang baik karena selalu menyalahkan. “Bukan disuruh menulis itu!”, “Tulis dengan pensil (karena anak itu menggunakan crayon)!”, “jangan berisik (karena ketika menulis sambil bersuara)!”, dan seterusnya. Di akhir cerita anak itu tidak mau masuk kelas lagi. Padahal anak tersebut hanya bingung, kenapa salah terus, dan sama sekali tidak ada tindakannya yang benar. Intinya adalah seorang pemimpin harus menghormati (respect) orang lain. Pasti ada sesuatu yang benar, tidak mungkin salah semua, seperti kisah berikut.

Bankir dan Pengemis

Seorang bankir ternama melewati seorang pengemis yang sedang duduk di pinggir jalan dekat bank. Pengemis itu duduk sambil iseng merakit pensil. Sambil memberi uang receh, bankir itu berkata ke pengemis itu bahwa uang itu untuk membeli pensil yang baru saja dibuatnya. Pengemis itu pun terlihat gembira dan memberikan pensil rakitannya. Tidak lama kemudian bankir itu tidak pernah menjumpai pengemis itu hingga suatu saat dia sedang membeli alat tulis dan berjumpa dengan pemilik toko alat tulis itu yang ternyata adalah pengemis yang di beri uang untuk jasa pensil-nya. Pengemis yang kini adalah pemilik toko itu menyampaikan bahwa ketika ia membeli pensil itu, sikap penghargaan atas jerih payah dan keahlianyalah yang memantik semangat di dadanya untuk tidak mengemis dan berdagang pensil. Bankir tersebut tidak menyalahkan pekerjaan mengemis, tetapi menghargai kreativitas membuat pensilnya. Selain menghargai, sifat pemimpin yang lain (hubungannya dengan pendidikan) adalah ikut berusaha meningkatkan kualitas orang lain seperti kisah pemain basket ini.

Michael Jordan dan Sang Pelatih

Kita mengenal Jordan adalah seorang pebasket ternama dari AS. Dengan keahliannya dalam mencuri bola dan memasukan ke keranjang, dia sejak awal disebut pemain berbakat. Seperti biasa, anak muda terkesan ingin dilihat dan menjadi pusat perhatian. Tetapi sang pelatih mengajarkan untuk ikut melatih rekan-rekannya dalam hal teknik bermain basket. Sepertinya Jordan sadar dan mengikuti arahan sang pelatih. Tidak lama kemudian hampir semua rekan-rekannya mengalami kemajuan dalam skill bermain basket. Tidak hanya Jordan yang kian terkenal, klubnya pun (Bulls) menjadi klub teratas yg pernah menjuarai NBA. Selain mengajarkan orang lain, belajar langsung dari master merupakan hal yang sering dijumpai, misalnya the Beatles yang belajar dari Chuck Berry, dan bintang-bintang lain yang tumbuh karena bimbingan bintang sebelumnya. Jadi terbayang bintang sepakbola Lionel Messi, yang timnya, Argentina, saat tulisan ini dibuat jangankan lolos, zona playoff pun tergusur oleh Peru (semoga tim favoritku ini lolos). Selain mengajari, seorang pemimpin pun harus terus belajar.

Thomas Watson dan IBM

Watson yang merupakan putra dari pendiri industri komputer IBM jadi serba salah dan merasa dibayang-bayangi oleh kehebatan, kecerdasan, dan kepemimpinan ayahnya. Ketika frustrasi meniru ayahnya, dia sadar bahwa tiap orang unik dan berbeda. Kemudian dia mulai menilai dirinya, dan sadar bahwa dia memiliki kecintaan dan keahlian dalah hal kedirgantaraan. Akhirnya dia menekuni hal itu, hingga menjadi pejabat di kantor pertahanan udara AS ketika perang dunia kedua. Setelah masa damai, dia menggantikan ayahnya memimpin IBM, dengan prinsip seperti dirinya bebas untuk terus belajar, terbukti perusahaan yang dipimpinnya bisa mengalahkan pesaing-pesaingnya di era itu dan tercatat dalam sejarah sebagai perusahaan yang paling banyak memberi keuntungan kepada pemegang sahamnya waktu itu.

Terus apalagi ya, maaf soalnya buku rujukannya sudah saya kembalikan. Mungkin itu saja yang berkaitan dengan pendidikan/pengajaran, yang lainnya berhubungan dengan permasalahan-permasalahan bisnis dan teknis seperti problem upah yang tidak seimbang dengan kinerja (kelebihan/kekurangan), juga apa pelatihan yang perlu dibuat untuk mencapai target tertentu …. ups itu pendidikan juga ya, tapi lupa-lupa ingat saya. Misalnya untuk meningkatkan penjualan (marketing), meningkatkan hasil (teknis), meningkatkan SDM (manajer SDM), dll, apa bentuk pelatihan yang tepat. Mungkin dilanjutkan di kesempatan lain. Semoga bermanfaat.

Update: 12 Okt 2017

Syukurlah kemarin ada kabar, Argentina lolos berkat hatrick messi ke gawang ekuador.

Iklan

Section and Multilevel List in Microsoft Word

Multilevel list in word is used to continue numbering from one heading to the next heading. It makes writers easy to type and manage the sequence of subchapter. For example, if we have written subchapter 2.1, and come to new subchapter, the Microsoft word will automatically write 2.2 and the writer just write the name of the subchapter, for example “basic theory”, “recommendation”, end so on.

What is heading? In word, heading means the header of a writing that use a style. The writer can use some styles in styles menu. There are many headings provided: heading 1, heading 2, and so on. Why we use that style and do not just type manually? The heading has a purpose. It used in navigation and for automatic table of contents as well.

We can also modify the heading regarding the font, tab, paragraph, etc. And what the section used for? In the writing, we always have many chapters. Every chapter has their own number for subchapter. With the section in Microsoft word, we can separate the multilevel list of a chapter with the other chapters.

How to separate the section? First, we have to know whether the two pages have the same section or not. It’s easy, just click your mouse on the header and footer location. Word will show you the number of section.

To separate the section, we just open the page-layout menu and chose break tool. Choose “next page” on section break option. This break only separate the multilevel list section but not the page number. Use page break if we want to separate numbering from previous pages, for example if do not want to continue alphabet-numbering style from acknowledgements, table of contents, and so on.

See the video below.

Latihan Modifikasi Table of Contents (Daftar Isi) di Microsoft Word

Membuat laporan penelitian terkadang menambah kerjaan utama seorang peneliti yaitu riset. Belum lagi masalah standar penulisan. Untungnya kampus menyediakan sebuah template yang siap pakai di link resminya (klik di sini untuk bahan latihan postingan ini). Jadi masalah margin, jenis font, cover dan sejenisnya tidak masalah lagi dan riset dapat dilaksanakan dengan cepat tanpa corat-coret terhadap hal-hal yang kurang penting oleh dosen pembimbing. Diharapkan sebelum membaca tulisan ini melihat dulu postingan sebelumnya bagaimana membuat daftar isi, gambar, dan tabel secara otomatis di Ms Word.

Tetapi template sendiri tidak menyertakan fasilitas-fasilitas yang dimiliki oleh MS Word, salah satunya adalah automatic table of contents, yaitu fasilitas membuat daftar isi secara otomatis tanpa diketik. Masalah muncul ketika akan memformat otomatis table of contents hasilnya berantakan (coba unduh dan edit link yang saya berikan di muka, dan set nomor halaman terlebih dahulu untuk mengikuti panduan di postingan ini).

Untuk menyelesaikan masalah itu, cukup lama mengutak-atik. Kadang ada masalah—masalah yang dijumpai ketika kita studi lanjut. Masalah yang memperlama lulus, he he. Mudah-mudahan postingan ini bermanfaat bagi yang menjumpai masalah serupa. Pertama-tama sorot TOC yang baru saja dibentuk (tekan di bagian pojok kiri atas). Pastikan TOC sudah berubah warna.

Kemudian pada bagian pembuatan TOC yaitu di menu referensi pada Word dipilih “Custom TOC”.

Setelah masuk ke jendela custom, untuk memperbaiki ke TOC normal cukup dengan memilih format “Classic”, dilanjutkan dengan memilih “…..” sebagai penghubung antara Sub-bab dengan halaman yang ditujunya.

Setelah menekan “OK” kita diminta konfirmasi apakah akan menimpa TOC sebelumnya? Tekan saja OK dan format TOC standar akan ditampilkan. Mudah saja ternyata.

Hanya saja ada masalah di halaman bernomor huruf (I, ii, iii, dst) yang seharusnya huruf kecil malah tercetak huruf besa

ri. Masuk ke “Modify” setelah muncul jendela Style masuk lagi ke “Modify” dan jangan centang “All Caps”.

Setelah ditekan “OK” maka pastikan halaman bernomor jenis “huruf” menjadi huruf kecil sesuai dengan nomor halaman yang memang kita set ke huruf kecil. Tapi sepertinya template-nya tidak menggunakan titik-titik untuk nomor halamannya, dan bab dengan angka 1, 2, dst.

Instalasi Tool Pembuat Grafik Dinamis di ArcGIS

Selain sebagai pembuat peta (map creation) ArcGIS juga dapat digunakan sebagai media presentasi. Salah satu pendukung presentasi adalah menampilkan fakta dan informasi dari peta yang sudah dibuat sebelumnya dengan cara yang menarik. Salah satunya adalah dengan menampilkan grafik atau diagram, misalnya pie chart, histogram, dan lain-lain.

Salah satu cara yang mudah adalah dengan menginstal Add-in untuk diterapkan di ArcGIS. Selain itu komponen pendukung seperti misalnya Microsoft .NET bawaan microsoft harus sudah terinstal terlebih dahulu, biasanya jika sudah ada Matlab di laptop, Microsoft .NET sudah terinstal juga. Silahkan terlebih dahulu unduh file untuk membuat grafik dinamis di sini. Ikuti langkah berikut untuk instalasinya.

1. Pertama-tama ekstrak terlebih dahulu file Rar yang baru saja diunduh (Oiya, pasword-nya: 1) dan dilanjutkan dengan dobel klik ESRI.PrototypeLab.Geodesign10.

Muncul jendela peringatan bahwa Add-in bisa saja berisi virus jika tidak berasal dari sumber yang dipercaya. Aktifkan anti virus untuk jaga-jaga. Tetapi karena selama menggunakan tidak ada masalah sepertinya tidak mengandung virus. Tekan Install Add-In untuk melanjutkan proses instalasi yang cukup singkat.

2. Setelah menekan tombol OK buka ArcGIS dan perhatikan apakah Add-in sudah muncul di menu ArcGIS. Jika belum muncul, jangan khawatir, masuk ke menu Customize – Toolbars, lalu ceklis Dynamic Charting.

Selanjutnya akan muncul icon dynamic charting berukuran kecil berupa simbol pie chart. Jika tidak ada coba lihat langkah pertama, atau mungkin Microsoft .NET belum terinstal di windows Anda. Biasanya windows akan mengarahkan kita ke situs download microsoft .net untuk menginstalnya.

Semoga tidak ada masalah ketika menginstal Add-in tersebut. Sampai jumpa pada postingan berikutnya untuk mengetahui penggunaan Add-in ini. Atau lihat blog berikut ini.

Proyeksi beberapa Time-series Secara Bersamaan

Postingan terdahulu membahas proyeksi data time-series yang berjumlah hanya satu. Jika data time-series tersebut banyak, apakah satu narxnet mampu menangani data yang lebih dari satu? Berikut ini akan kita coba. Buka Matlab dan tambahkan dua data serial yang mudah saja (minimal sepuluh buah). Data eksogennya adalah variable X, dari 11 sampai 20.

  • T=[1:10];
  • t=T*3; %contoh time-series kedua (kelipatan 3 dari T)
  • T=[T;t];
  • T=con2seq(T);
  • X=[11:20]; %variabel eksogen
  • X=con2seq(X); %variabel eksogen

Ada dua time-series satu hingga 10 sedangkan yang kedua kelipatan tiganya. Kita coba buat JST untuk dua data tersebut. T adalah gabungan dua time-series. Gunakan script berikut untuk merakit narxnet.

  • net = narxnet(1:2,1:2,10);
  • [x,xi,ai,t] = preparets(net,X,{},T);
  • net = train(net,x,t,xi,ai);

Tunggu sesaat hingga narxnet selesai melakukan pelatihan (training). Lanjutkan dengan kode berikut jika sudah selesai.

  • nets = removedelay(net);
  • [xs,xis,ais,ts] = preparets(nets,X,{},T);
  • ys = nets(xs,xis,ais);
  • cell2mat(ys)

ans =

  • 3.0000 4.0000 5.0977 6.0064 7.0000 8.0000 9.0000 10.0000 11.1804
  • 9.0000 12.0000 15.7688 18.9107 21.0000 24.0000 27.0000 30.0000 32.6386

Jika dilihat hasilnya yang berwarna merah, tampak mendekati seharusnya yaitu 11 dan 33. Tigapuluh tiga di sini dari perkalian 3×11. Untuk multistep beberapa data ke depan sudah dibahas pada postingan sebelumnya. Apakah dengan GUI juga bisa? Kita coba, masuk ke ntstool.

Teruskan hingga selesai, dan jangan lupa menyimpan network yang dihasilkan, misalnya net1 (karena net sudah dibuat ketika mentraining non-GUI sebelumnya. Pastikan training berjalan dengan baik dan akurat.

Masukan kode berikut, seperti kode sebelumnya hanya saja “net” diganti dengan “net1” yang baru saja dibuat dengan GUI.

  • nets = removedelay(net1);
  • [xs,xis,ais,ts] = preparets(nets,X,{},T);
  • ys = nets(xs,xis,ais);
  • cell2mat(ys)

ans =

  • 3.0000 4.0000 5.0000 6.0000 7.0000 8.0000 9.0002 10.0000 10.9972
  • 9.0000 12.0000 15.0000 18.0002 21.0000 24.0000 27.0008 30.0000 32.9884

Hasilnya adalah yang berwarna merah dan sepertinya tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. selamat mencoba.

Konversi Format Desimal Titik ke Koma di Excel

Mudah-mudahan pembaca postingan ini memahami maksud dari judul di atas dan sesuai dengan kata kunci yang disearching di google hingga mampir ke blog ini. Maksud dari judul di atas adalah bagaimana mengkonversi format bilangan bertitik standar Indonesia menjadi koma agar bisa dimanipulasi di Excel. Masalah ini kadang menjengkelkan ketika mengkopi-paste data dari internet atau sumber lain, ketika dipindahkan ke Excel tidak bisa dimanipulasi (kali, bagi, tambah, dll) karena dianggap bukan bilangan. Gambar dibawah mengilustrasikan bagaimana angka hasil copas tidak bisa dimanipulasi (hasilnya dalam excel #VALUE!). Hal ini karena Indonesia memisahkan jutaan, ribuan, dan ratusan dengan titik, sementara desimal dengan koma. Agar bisa di manipulasi di Excel saya, jutaan, ribuan dan ratusa harus dipisah dengan koma, dan desimal dipisah dengan titik.

Cara penyelesaiannya mirip ketika kita memindahkan suatu tabel dari internet (agar terpisah menjadi kolom-kolom) yaitu dengan fungsi Text to Column yang berada di menu Data. Sorot terlebih dahulu cell yang akan dimanipulasi (2.127.902), lalu tekan

Pilih Fixed Width (jarang saya menggunakan ini, biasanya Delimited) dilanjutkan dengan menekan Next. Kemudian pada step 2 of 3 tekan Next sekali lagi.

Tekan Advanced.. pada step 3 of 3 untuk mengeset standar bilangan menjadi standar internasional.

Indonesia memecah antara jutaan, ribuan dan ratusan dengan titik sementara standar internasional dengan koma. Untuk mengikuti Excel yang sebelumnya berstandar internasional tukar titik dan koma.

Tekan OK lalu Finish dan jika dilihat pada worksheet, cell sudah bisa dimanipuasi (saya coba kalikan dua), tanda “#VALUE!” Sudah menjadi angka lagi. Sedikit banyak semoga bermanfaat.

Membuat Fungsi Alih Motor Listrik

Perkenalan saya dengan Matlab pertama kali adalah lewat bidang sistem kontrol/kendali. Waktu itu saya diminta dosen pembimbing untuk mensimulasikan sistem suspensi ketika ada beberapa respon masukan (impulse, step, dan sinusoidal) mengenainya. Kembali saya membuka buku catatan mata kuliah getaran dan teknik pengaturan. Untuk mensimulasikan sesuatu kita harus mampu membuat model matematis dari sistem yang akan kita simulasikan. Model matematis itu kemudian disimulasikan di Matlab untuk melihat respon dan kinerja dari model tersebut. Asalkan sudah dalam bentuk model matematis, Matlab mampu mensimulasikan tanpa memandang domain ilmu dari model tersebut, apakah kimia, elektro, ekonomi, biologi, dan lain-lain. Misalnya kasus motor listrik (atau bisa juga generator).

Gambar di atas adalah motor DC yang saya ambil dari situs kampus UPI ini semoga masih ada. Fungsi alih sendiri (dalam istilah Inggris transfer function) dari arti katanya fungsi yang mengalihkan dari satu masukan ke keluaran tertentu. Jika masukannya tegangan dan keluarannya tegangan yang lebih besar, bisasanya disebut penguat, tetapi ada juga masukannya putaran, misal potensiometer, keluarannya arus/tegangan dan sering diistilahkan dengan transducer. Ada juga istilah lainnya yakni sensor, yang merubah masukan tertentu seperti suhu, level ketinggian air, dan lain-lain menjadi tegangan atau arus yang masuk ke dalam perangkat elektronika.

Untuk kasus motor DC di atas jika dilihat, masukannya adalah tegangan dari baterai arus searah dan keluaranya adalah puntiran di motor em. Variabel s adalah variabel Laplace. Apa itu? Yah .. mau nggak mau belajar dulu dasar-dasar sistem kontrol. Karena nanti setelah ada variabel laplace ada lagi variabel z kalau sudah masuk ke sistem digital yang melibatkan metode cuplik/sampling. Untuk orang elektro tidak ada masalah dengan besaran-besaran di atas beserta satuannya yang pasti. Situs dari malang ini lebih lengkap dengan besaran dan satuan juga teknik simulasinya.

Jika J= 10, D=5, km=2, dan Rα=0.5 maka diperoleh fungsi alih sebesar, pembilang=2/(0.5*5)=0.8 dan penyebut=s(s*(10/5)+1)=s(2s+1). Buka Matlab dan masuk ke command window. Masukan instruksi ini:

Lalu muncul plot setelah instruksi masukan impulse diterima fungsi alih, demikian pula setelah masukan tangga (step) diberikan.

Ntah bener atau salah, mohon koreksinya. Tapi setahu saya, motor DC itu harus diberi beban karena tanpa beban dia akan bertambah kencang bahkan bisa merusak motor itu sendiri.