Siaga I Menghadapi: Sidang Terbuka

Setelah menunggu hampir setahun, akhirnya sidang terbuka dijadwalkan, kemarin tanggal 15 Januari 2018. Itu pun dijadwalkan mendadak, sehingga persiapannya keteteran dan tergopoh-gopoh, walaupun diumumkan empat hari sebelumnya tetapi ada dua hari libur yaitu sabtu dan minggu, praktis hanya hari jumat menyiapkan berkas ke jurusan. Saya termasuk yang selalu tidak siap jika diminta presentasi, apalagi kalau mendadak. Siapa tahu di antara pembaca ada yang akan sidang juga, mungkin bisa jadi bahan pertimbangan postingan ini.

Keep Calm

Di sini maksudnya bukan tidak berbicara. Malah harus berlatih berbicara agar besoknya bisa “ngomong”, apalagi pakai bahasa Inggris. Calm di sini adalah fikiran kita yang “liar” sehingga membuat lelah batin kita dan yang berbahaya tidak bisa tidur semalaman. Saya termasuk konsumen meditasi. Banyak teknik meditasi seperti vipassana, cittanupassana, dan lain-lain. Untuk kondisi super darurat, ada baiknya vipassana. Teknik ini untuk menjaga fikiran tidak liar dengan selalu fokus ke nafas keluar dan masuk. Tidak perlu mengatur nafas, hanya memperhatikan saja. Jika fikiran liar muncul sadari saja dan perlahan kembalikan ke pernafasan. Terus terang saya tetap sulit tidur .. hehe. Untungnya ada obat-obatan yang bisa membuat lelap tidur, sebaiknya yang herbal dan sudah teruji alias cocok dengan tubuh kita, dan bukan coba-coba. Kalau besoknya malah mencret kan tambah repot.

Kelihatannya teknik tersebut tidak berguna dan sulit diterapkan. Uniknya saya terapkan hingga saat presentasi berlangsung. Mungkin terlihat aneh, bagaimana mungkin kita presentasi, menjawab pertanyaan, dan lain-lain tapi dengan fokus ke pernafasan. Bahaya dong. Ternyata tidak, jangankan memperhatikan nafas, ketika berkendara saat memperhatikan hutang-hutang saja bisa kok, apalagi Cuma memperhatikan nafas.

Pelajari Video Presentasi yang Baik

Banyak video tutorial presentasi bertebaran di internet, terutama di youtube. Semua menganjurkan awal presentasi sangat menentukan keberhasilan. Jika di awal sudah malas didengarkan oleh audiens maka dipastikan sampai akhir akan membosankan bagi mereka. Posisi tubuh, intonasi dan lain-lain banyak juga dijelaskan di youtube, silahkan searching sendiri.

Berikutnya adalah power point. Kalau bisa isi power point didiskusikan terlebih dahulu ke dosen pembimbing. Hal ini penting untuk mengetahui batas waktu yang pas. Terkadang beberapa bagian dipotong dan beberapa bagian perlu ditekankan, misalnya novelty, kontribusi keilmuan, dan sebagainya. Jangan lupa akhir dari presentasi itu penting juga. Berikan kata pujian ke dosen pembimbing dan asistennya. “My gratitute to my doctoral thessis superviser … for guidance and motivation”. Jangan lupa kesimpulan itu kunci keberhasilan, apalagi sidang akhir karena setelah itu kita tidak langsung pulang. Ada sesi tanya jawab yang bikin keringat dingin. Penguji cenderung mengingat yang terakhir dan jika kesimpulan kurang sreg dia akan bertanya langsung ke sana, bahkan mereka berebut untuk bertanya.

Buat Audiens Ingin Tahu

Jika dalam disertasi kita ada hipotesa yang akan diuji, atau masalah yang akan diselesaikan, ada baiknya format harus dirubah karena jika ditampilkan apa adanya terasa “garing”. Kesalahan yang sering dilakukan adalah dengan copas dari tulisan di disertasi. Alangkah baiknya dibuat format baru yang memancing minat pendengar. “How can we …?”, atau “How we optimize … based on ..” dan seterusnya setelah sebelumnya memperkenalkan kasus atau masalah yang akan dibahas dalam presentasi. Tentu saja setelah itu slide berikutnya tidak menjawabnya, melainkan dengan memperkenalkan agenda presentasi, atau sering diberi judul “outline” atau road map presentasi kita. Singkat saja dan langsung masuk ke konten. Jika pendengar berhasil ditarik keingintahuannya, dipastikan presentasi kita berhasil.

Dalam tulisan (skripsi, tesis, disertasi) terkadang mengalir seperti cerita. Untuk presentasi ada baiknya dibalik. Sebanyak mungkin di akhir slide ada sesuatu yang akan dijawab pada slide berikutnya agar pendengar menanti-nanti dan menerka apa kiranya jawaban dari sesuatu yang saat ini ditayangkan di slide. Sebagai contoh, dalam disertasi saya menjelaskan analisa urban growth untuk menemukan dua driver baru yang akan diusulkan. Dalam presentasi saya balik, saya langsung tampilkan dua driver itu, kemudian saya munculkan pertanyaan ke audiens apa dasar dan bagaimana saya menemukan dua driver tambahan tersebut. Teknik ini banyak disarankan oleh video tutorial presentasi di youtube.

Buat Audiens Nyaman dan Memperoleh Manfaat

Agak sulit memang menemukan apa yang kira-kira bermanfaat bagi pendengar. Sebenarnya banyak hal-hal di sekitar kita yang tidak bermanfaat kok, tetapi bisa dibuat bermanfaat jika dikemas dengan baik. Video game, instagram, fesbukan seharian, mungkin kalau difikir-fikir ga ada gunanya tapi ternyata banyak yang tertarik. Mungkin tidak bermanfaat, tetapi jika audiens terhibur, dengan lelucon-lelucon yang membuat mereka nyaman, toh mereka akan merasa bermanfaat mendengarkan presentasinya. Mereka akan lupa pusingnya rumus-rumus yang kita presentasikan.

Lihat Tradisi

Tradisi di sini maksudnya hal-hal yang menjadi kebiasaan di suatu kampus. Terus terang saya berusaha mencari tahu. Caranya adalah dengan sering mengikuti sidang terbuka doktoral di kampus saya. Walaupun saya terkadang tidak mengerti kontennya, tetap saya lihat hal-hal lainnya. Ada jurusan yang keras, ada juga yang ketawa ketiwi hanya formalitas saja. Bagaimana dengan jurusan Anda? Silahkan jawab sendiri. Di hari sabtu, padahal libur, supervisor saya meminta datang. Di sana kami membahas power point untuk presentasi besok. Aneh juga di akhir pertemuan dia menjulurkan tangan dan mengucapkan selamat kepada saya. Saya baru “ngeh” ternyata saat itulah de facto saya berhasil menghilangkan huruf “c” dari Dr(c) saya, singkatan dari “calon”, artinya bukan calon doktor lagi, walaupun secara tertulis dan resmi setelah sidang presentasi besoknya. Jurus ampuh terakhir dan terhebat adalah DOA .. apalagi doa keluarga dan rekan-rekan kita. Sekian semoga menginspirasi.

Iklan

Menghapus dan Memasukan Artikel di Daftar Google Scholar

Oiya, sudah daftar Sinta kan? (Untuk yang belum). Banyak yang protes karena Sinta menggunakan Google scholar sebagai salah satu faktor perhitungan Sinta selain Scopus. Salah satunya adalah karena Google scholar serampangan memasukan suatu tulisan/artikel ke akun Google scholar kita. Namun karena Google scholar metodenya self assesment, ada baiknya kita menghapus dan mendaftarkan tulisan-tulisan kita secara mandiri. Postingan ini terinspirasi dari tulisan rekan saya waktu mengajar di satu kampus di jalan Fatmawati dulu (lihat di sini).

Setelah login di google scholar, masuk ke profile kita. Di bagian atas kiri ada simbol “wisuda” yang artinya profile kita. Klik untuk masuk ke dalam dan melakukan manajemen artikel milik kita.

Pilihlah tulisan-tulisan yang bukan tulisan kita. Kemudian tekan “DELETE” agar dibuang dari daftar tulisan kita. Misalnya “klasifikasi lovebird ..” (hmm sejak kapan saya nulis klasifikasi burung bercinta).

Kemudian akan muncul informasi jurnal tersebut. Berikutnya tinggal menekan simbol “tempat sampah”. Artinya kita membuang tulisan tersebut dari daftar tulisan kita.

Oiya, jangan sedih. Kan bukan tulisan kita. Tapi lama-lama repot juga kalo google “nyepam” terus suatu tulisan ke akun Google scholar kita, capek juga sih menghapusnya. Untungnya bobot Google scholar jauh di bawah Scopus yang memang “screening”nya bagus. Hanya saja masih jarang dosen-dosen di tanah air yang sudah punya ID scopus.

Berikut kalau ingin menambahkan artikel, tinggal tekan simbol “+”. Ada dua pilihan tambah artikel (manual atau otomatis). Untuk yang otomatis searching nama kita di kolom “searching” lalu tekan simbol kaca pembesar. Sementara kalau yang manual tinggal isi informasi tulisannya.

Oiya, jangan asal masukin tulisan orang. Semoga postingan ini bermanfaat.

Paradigma Baru Universitas di Era Disrupsi

Tulisan ini kelanjutan dari masalah linearitas dan interdisiplin ilmu pada postingan yang lalu. Sumbernya adalah dari situs ini, yang dishare oleh kawan di facebook. Ternyata facebook bermanfaat juga, tergantung bagaimana kita menggunakannya.

Paradigma Baru Pendidikan di Era Disrupsi

Masalah yang dialami dunia saat ini adalah buta secara vertical (vertical
literacy). Walaupun kesenjangan ilmu sudah hampir tidak ada (kecuali beberapa wilayah konflik dan yang masih primitif), ada kesenjangan jenis lainnya yang diberi istilah “knowing-doing gap”, yang artinya kesenjangan antara kesadaran kolektif kita tentang suatu hal dengan tindakan/aksi yang dilaksanakan. Vertikal di sini bermakna naik ke atas, jadi vertical development maknanya adalah perkembangan yang melepas masa lalu dan siap menyambut masa depan. Suatu institusi yang gagal melaksanakan vertical development akan dihajar oleh pesaing-pesaing di era disrupsi ini (banyak contoh kasus nyata yang sering kita lihat).

Jika diibaratkan seperti komputer, saat ini kita tidak hanya menginstal aplikasi-aplikasi baru melainkan mengupgrade sistem operasi kita, dalam rangka menyambut masa yang akan datang. Pendidikan harus di “reinvent” lagi. Perkataan seorang filsuf bernama Plutarch (2000 tahun yang lalu) bahwa pendidikan adalah aktivitas “menyalakan api” bukan “mengisi kapal” terhadap anak didik kita. Pendidikan di tahun ini sebaiknya mirip dengan tahun 1917 dimana terjadi vertical development.

Saat ini masalah-masalah yang harus diselesaikan dunia (radikalisme, terorisme, fundamentalisme, xenophobia, dan lain-lain) tidak bisa diselesaikan dengan “sistem operasi” yang lalu, harus dengan yang baru, ibaratnya harus diupgrade. Saat ini kita dihadapkan pada: “VUCA: volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity”. Kampus dituntut menyediakan tenaga-tenaga kerja yang siap menghadapi itu.

Kemampuan Vertical Literacy

Dulu mungkin buta huruf menjadi masalah di Indonesia, tetapi saat ini ketika rakyat sudah tidak buta huruf muncul masalah-masalah yang bisa menghancurkan suatu bangsa. Oleh karena itu vertical literacy menjadi penting. Dengan vertical literacy, seseorang memiliki kemampuan sebagai berikut:

  • Mahir dalam mendengar dan fikirannya terbuka
  • Merubah debat menjadi dialog yang menghasilkan
  • Merubah kompetisi menjadi ekosistem yang saling mendukung, dan
  • Menemukan hal-hal baru yang beroperasi secara sharing

Otto menlanjutkan dengan mengusulkan delapan prinsip yang harus dipegang oleh universitas “baru”, antara lain:

  1. Siswa sebagai inisiator perubahan
  2. Belajar bukan hanya di kampus, tetapi kehidupan nyata
  3. Menjadi orang yang berubah (be the change), dari kepala ke hati dan dari hati ke tangan (terapan)
  4. “Science 2.0”, banyak hal-hal yang harus diobservasi ulang
  5. “System Thinking”, siswa membuat sistem yang bisa menyelesaikan suatu hal
  6. “System Sensing”, mirip no.5 tetapi bisa men-sensor suatu hal
  7. Mudah mentransformasikan suatu sistem mengikuti society
  8. Memahami diri sendiri. Bukan hanya keingintahuan (sisi kognitif), melainkan juga hati yang terbuka (compassion) dan keinginan yang tulus (open will).

Silahkan lanjutkan baca di situs aslinya, yang ditulis oleh Otto Scharmer, Senior Lecturer, MIT; Co-founder u.lab, Presencing Institute. Semoga bermanfaat.

Ref

https://www.huffingtonpost.com/entry/education-is-the-kindling-of-a-flame-how-to-reinvent_us_5a4ffec5e4b0ee59d41c0a9f?ncid=engmodushpmg00000003

Klasifikasi, Pengklusteran dan Optimasi

Bahasa merupakan pelajaran pertama tiap manusia. Untuk mempelajari komputasi pun pertama-tama membutuhkan bahasa. Sebagai contoh adalah judul di atas yang terdiri dari tiga kata: klasifikasi (classification), pengklusteran (clustering) dan optimasi (optimization). Postingan ringan ini membahas secara gampang tiga kata di atas.

Klasifikasi

Sesuai dengan arti katanya, klasifikasi berarti memilah obyek tertentu ke dalam kelas-kelas yang sesuai. Komponen utama dari klasifikasi adalah classifier yang artinya pengklasifikasi. Jika tertarik dengan bidang ini maka akan bermain pada bagian pengklasifikasi ini. Jika menggunakan jaringan syaraf tiruan (JST) maka akan meramu bobot, bias, dan layer pada JST agar mampu mengklasifikasi suatu obyek. Jika menggunakan Support Vector Machine (SVM) meramu persamaan pemisah antara dua kelas atau banyak kelas (multi-class).
Sepertinya tidak ada masalah untuk konsep ini. Masalah muncul ketika ada konsep baru, misalnya pengklusteran.

Pengklusteran

Manusia itu makin belajar makin bertambah merasa bodoh, karena makin banyak pertanyaan yang muncul. Ketika klasifikasi tidak ada masalah dalam memahami maksudnya, munculnya konsep pengklusteran membuat pertanyaan baru di kepala, apa itu? Paling gampang memahami arti dari kluster, yaitu satu kelompok dalam area tertutup, zona, atau istilah lain yang menggambarkan kelompok yang biasanya memiliki kesamaan. Pengklusteran berarti mengelompokan beberapa obyek berdasarkan kesamaannya. Jadi harus ada obyeknya dulu, karena kalau tidak ada apa yang mau dikelompokan?

Lalu bedanya dengan klasifikasi? Penjelasan gampangnya adalah klasifikasi memisahkan berdasarkan kelas-kelas yang sudah didefinisikan dengan jelas sementara pengklusteran kelompok yang akan dipisahkan tidak didefinisikan lebih dahulu. Bisa juga dengan melatih berdasarkan data yang sudah ada kelasnya (target/label nya). Misal untuk kasus penjurusan, kita bisa saja mengklasifikasikan siswa masuk IPA jika nilai IPA nya lebih baik dari IPS dan sebaliknya untuk jurusan IPS. Sementara pengklusteran kita biarkan sistem memisahkan sekelompok siswa menjadi dua kelompok yaitu kelompok IPA dan IPS. Masalah muncul ketika mengklasifikasikan berdasarkan nilai IPA dan IPS-nya, jika guru IPAnya “Killer” sementara yg guru IPS “baik hati”, maka dengan classifier itu tidak akan ada yang masuk jurusan IPA. Sementara pengklusteran akan memisahkan siswa-siswa itu menjadi dua kelompok. Bisa saja yang nilai IPA nya misalnya 6 masuk ke kelas IPA karena nilai 6 itu udah top di sekolah itu.

Optimasi

Nah, apalagi ini? Kembali lagi sesuai dengan arti katanya optimasi berarti mencari nilai optimal. Optimal tentu saja tidak harus maksimal/minimal, apalagi ketika faktor-faktor yang ingin dicari nilai optimalnya banyak, atau dikenal dengan istilah multiobjective. Apakah bisa untuk klasifikasi? Ya paling hanya mengklasifikasikan optimal dan tidak optimal saja. Biasanya optimasi digunakan untuk mengoptimalkan classifier dalam mengklasifikasi, misal untuk JST adalah komposisi neuron, layer, dan paramter-parameter lainnya. Atau gampangnya, kalau klasifikasi mengklasifikasikan siswa-siswi ganteng dan cantik, optimasi mencari yang ter-ganteng dan ter-cantik. Sederhana bukan? Ternyata tidak juga. Banyak orang baik di negara kita, tetapi mencari beberapa yang terbaik saja ternyata malah “hang” sistemnya.

Linearitas vs Multi/Inter-disiplin Ilmu

Ketika mengajukan beasiswa S3 ke kopertis IV, bagian staf penerimaan beasiswa langsung menanyakan ijasah S2, jika tidak serumpun maka tidak akan diproses pengajuannya. Kebetulan waktu itu sama-sama ilmu komputer (computer science), jadi lolos. Namun ketika pelaksanaan kuliah, ternyata konsep kampus-kampus saat ini (biasanya luar negeri) kebanyakan multidisiplin/interdisiplin ilmu. Maksudnya adalah suatu riset yang melibatkan beberapa cabang ilmu yang berbeda. Misalnya ilmu komputer, penginderaan jarak jauh (PJJ) dan sistem informasi geografis (SIG) dan ilmu lingkungan untuk optimisasi penggunaan lahan suatu wilayah.

Beberapa pemerhati masalah pendidikan tidak setuju dengan konsep kaku linearitas karena fenomena disrupsi yang terjadi saat ini. Suatu institusi yang tidak menggabungkan berbagai bidang ilmu dalam inovasinya akan hancur dan dikalahkan oleh institusi yang melibatkan bermacam cabang ilmu. Silahkan dapatkan informasinya dari link ini. Oiya, sepertinya buku itu memiliki hak cipta (bukan open access). Tetapi untuk baca-baca sepertinya ada manfaatnya.

Transdisiplin Ilmu

Ternyata ada konsep lain yaitu transdisiplin yang melibatkan bukan hanya berbagai macam bidang ilmu tetapi melibatkan praktisi-praktisi yang berkontribusi terhadap penerapan suatu inovasi. Ada aspek kewirausahaan dalam penelitian yang bertipe trandisiplin ilmu. Dalam referensi pada link tersebut disebutkan bahwa terciptanya facebook, instagram, dan aplikasi-aplikasi startup lainnya melibatkan trandisiplin ilmu, misalnya bukan hanya IT tetapi juga aspek psikologi. Pencetus facebook sendiri dulunya mengambil S1 bidang psikologi.

Nasib Monodisiplin Ilmu

Tentu saja monodisiplin masih dibutuhkan untuk tetap memperkuat dasar keilmuannya. Jujur saja untuk S3 yang monodisiplin sangat sulit mengingat metode-metode saat ini yang sudah “established”. Hanya tambahan-tambahan kecil dalam bentuk parameter-parameter atau penggabungan-penggabungan yang mungkin ditemukan dalam suatu penelitian. Tentu saja untuk jenjang S1 dan S2 sepertinya masih diperlukan.

Ketika saya mengikuti seminar tentang standar kompetensi, waktu itu geomatika, saya sempat bertanya kepada pengelola sertifikasi tersebut yang mengharuskan sertifikat untuk yang mengambil sertifikat geomatika harus jurusan S2 dan S3 yang sama (PJJ dan SIG) untuk level Madya ke atas. Saya mengatakan bahwa rekan-rekan kuliah S3 saya yang bukan PJJ dan SIG banyak yang penelitiannya tentang geomatika dan mereka sangat mahir melakukan manipulasi-manipulasi dasar dan lanjut bidang PJJ dan SIG. Misalnya bidang Agriculture, Water Management, dan IT yang ber-interdisiplin dengan PJJ dan SIG. Pengelola sertifikasi itu menerima masukan dan akan mengkaji lagi syarat harus mengambil kuliah jurusan tersebut untuk sertifikasi keahlian geomatika. Terus terang sangat jarang mahasiswa SIG sendiri yang murni meneliti tentang SIG (proyeksi, web-gis, satellite, dll) tanpa adanya interaksi jurusan lain.

Referensi:

Update: 7 Jan 2018

Ternyata sejak 2014 Dikti sudah menganut konsep linearitas yang interdisiplin, yaitu mengajar di kampus yg sebidang ilmunya, tidak harus si pengajar s1 linear dengan S2 atau S3:

Tip n Trik Publikasi Jurnal

Tip n Trik bisa berarti taktik dan strategi. Mirip dengan permainan catur. Jika strategi adalah rencana garis besar, taktik adalah rencana yang detil. Biasanya strategi dijalankan ketika lawan yang sedang “jalan”, sementara taktik ketika kita yang sedang “jalan” dan harus melangkah. Di saat liburan ini dapat diibaratkan kita tidak dipaksa melangkah, jadi sebaiknya berfikir strategi. Ketika piknik, jalan-jalan, tidak ada salahnya membiarkan fikiran bebas mengatur strategi. Begitu juga tugas-tugas penelitian dan publikasinya, baik yang didanai (hibah) maupun yang mandiri.

Strategi

Terkadang strategi yang tepat hasilnya optimal. Pemilihan jurnal tujuan, penggunaan alat-alat bantu penulisan artikel (mendeley, grammarly, google, dan lain-lain). Tidak jarang tulisan yang baik tidak lulus tetapi tulisan yang biasa-biasa saja diterima (accepted) karena memilih jurnal sasaran yang tepat. Tulisan mungkin sudah berbobot, tetapi jurnal sasaran permintaannya lebih berbobot lagi, alhasil tidak/belum diterima. Mengevaluasi bobot tulisan terkadang penting juga, dan di sini pengalaman dalam publikasi menentukan kemampuan tersebut.

Taktik

Taktik di sini berupa langkah-langkah detil, prosedural dan biasanya linear. Pemahaman terhadap proses publikasi (submit, editorial, review process, dan decision) sangat perlu. Terutama proses berapa lama antara submit dengan publish karena ada jurnal yang sampai 2 tahun (bahkan ada yang 9 tahun) proses hingga publish. Di sini letak proses pembuatan manuskrip artikel yang akan dikirim. Ada baiknya artikel ditulis bersamaan dengan proses penelitian, jangan ditunda sampai penelitian selesai.

Research Camp

Terkadang ikut grup Whatsapp bermanfaat juga. Banyak ilmu yang dishare di sana, walaupun terkadang ada juga hal-hal yang tidak penting, bahkan cenderung memprovokasi tema-tema tertentu yang berkaitan dengan politik. Tetapi asal kita ambil yang baiknya saja, sepertinya tidak masalah dan bermanfaat. Salah satunya adalah research camp tentang publikasi ilmiah. Berikut ini adalah tip n trik yang dishare. Sayang tidak ada nama pembuatnya, semoga yang bersangkutan mendapat pahala karena pengalaman yang diberikan lewat slide ini:

Khusus mengenai SCIHUB, yang menyediakan jurnal-jurnal gratis, sepertinya agak ilegal. Banyak cara lain, yaitu dengan meminta share dengan pengarang aslinya lewat “researchgate”, atau memesan ke teman yang studi lanjut, yang biasanya kampusnya berlangganan. Sekian semoga berfaedah.

Tak Ada Lagi Ilmuwan “Superman”

Ketika kecil dulu saya sering membaca buku biografi ilmuwan-ilmuwan ternama seperti Isaac Newton, Einstein, dan kawan-kawan. Temuannya sangat fenomenal karena menginspirasi temuan-temuan lainnya. Dilanjutkan era Lutfi Zadeh dengan fuzzy-nya, atau Barners Lee dengan temuan teknologi untuk website, dan lain-lain. Di negara kita ada Prof. habibie, mantan menristek dan juga presiden ketiga kita. Setelah era Habibie, sepertinya negara kita rindu dengan sosok seperti dia ditandai beberapa informasi hoax tentang ilmuwan fenomenal yang sangat direspon baik oleh rakyat, walau akhirnya kecewa.

Superman – Superman Kecil

Untuk menghasilkan temuan-temuan baru saat ini sudah sangat sulit karena ilmu yang sudah “established”. Hanya beberapa parameter-parameter kecil suatu metode tertentu (dalam fuzzy, algoritma genetika, PSO, dan lainnya) dan terkadang untuk kebutuhan khusus tertentu. Dosen saya pun pernah mengatakan bahwa dulu, suatu disertasi seorang mahasiswa doktoral menciptakan satu jenis bahasa pemrograman, berbeda dengan saat ini yang baginya “biasa-biasa saja”.

Saat ini era interdisiplin dimana satu bidang ilmu bertemu dengan bidang lainnya untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada. Tidak perlu ilmuwan-ilmuwan seperti penemu-penemu hebat seperti zaman dulu melainkan cukup pakar dengan keahlian khusus yang sanggup bekerja sama secara tim dengan pakar lainnya. Dengan demikian “superman-superman” kecil dibutuhkan, bukan hanya seorang “superman” yang super segalanya (walaupun patut disyukuri jika memang ada).

Aplikasi-aplikasi sederhana seperti Youtube, facebook, google dan aplikasi bisnis online lainnya, serta alat-alat komunikasi yang banyak beredar yang membantu kehidupan orang banyak, adalah hasil karya superman-superman kecil itu yang bekerja sama dalam satu timnya Zukenberg, Steve Job, Bill Gates, dan di Indonesia misalnya anak-anak muda seperti Nadiem Makarim dan lainnya.

Sharing

Saat ini adalah era-nya sharing, misalnya penggunaan kendaraan pribadi yang “nganggur” sebagai alat transportasi publik (gojek, grab, uber, dan lain-lain), rumah pribadi menjadi hotel (AirBnB), dan lein-lain. Suatu saat dalam dunia pendidikan dan penelitian pun demikian. Publikasi ilmiah, misalnya, merupakan salah satu sharing ilmu pengetahuan yang efektif. Selain itu aktivitas bersama oleh beberapa peneliti otomatis sudah menciptakan iklim berbagi. Pertemuan ilmiah merupakan ajang pertemuan para peneliti dalam mendiskusikan beberapa masalah yang diangkat. Syukurlah, aturan Ristek-Dikti yang menyamakan bobot penilaian seminar internasional dengan jurnal internasional, asalkan terindeks di pengindeks ternama (Scopus dan ISI Thomson).

Vitamin itu Bernama Hibah Penelitian

Industri dan bisnis membutuhkan peneliti-peneliti untuk meningkatkan profit mereka. Banyak permasalahan muncul dalam kolaborasi antara peneliti dengan industri/bisnis. Buku yang berjudul “university.inc” mengkritik kebijakan tertutup yang tidak mempublikasikan peneliti-peneliti yang berkolaborasi dengan dunia industri, terutama yang berkaitan dengan kemaslahatan bersama (pengobatan, kesehatan, dan sejenisnya). Walaupun dari sisi finansial si peneliti cukup untuk memperbaiki taraf hidupnya.

Untungnya Ristek-Dikti masih memberikan suntikan dana untuk hibah penelitian, dengan salah satu luaran (hasil) wajib adalah publikasi ilmiah (nasional terakreditasi atau internasional). Pemerintah pun bisa memilih dari sekian banyak proposal yang diajukan yang sekiranya bermanfaat untuk rakyat banyak, walaupun dalam prakteknya perlu dilakukan evaluasi terkait aturan yang memberatkan peneliti. Sebagai contoh, komputer yang kita gunakan saat ini menggunakan turing machine hasil riset yang didanai pemerintah Inggris untuk menghadapi kode-kode rahasia Jerman, yang hampir saja tidak jadi ketika dana yang dikeluarkan tak kunjung memberikan hasil. Setelah mengucurkan dana lagi akhirnya proyek itu berhasil dan sandi-sandi rahasia Jerman berhasil di-decode yang mengakhiri perang dunia kedua. Memang masalah pendanaan dalam suatu riset sangat sulit diprediksi besarnya, terkadang kurang terkadang lebih. Demikian kurang lebihnya postingan singkat ini. Yuk, jadi “superman” kecil.