Arsip Kategori: Automotive

If – then – Else dalam Kehidupan

Ternyata banyak hal-hal menarik dari dunia ilmu komputer yang bisa dijadikan solusi terhadap masalah dalam kehidupan kita. Salah satunya adalah konsep if-then-else. Bagi yang sudah belajar pemrograman pasti memahami fungsi logika itu yang membuat komputer berbeda dengan alat hitung lainnya seperti kalkulator, sempoa, dan sejenisnya. Sedikit banyak postingan ini bermaksud menganalogikan fungsi dalam komputer tersebut dengan kehidupan manusia.

Sehebat apapun suatu aplikasi jika tidak memiliki if-then-else akan berhenti (hang) ketika tidak sanggup menghitung atau memproses suatu kondisi di luar kriteria. Tentu saja tidak akan ada yang tertarik dengan aplikasi tersebut. Dengan if-then-else, suatu alur proses akan diarahkan ke kondisi lain jika dijumpai kondisi yang tidak sanggup atau diluar spesifikasi yang ada. Dalam kehidupan juga sering kita jumpai orang-orang hebat yang gagal menghadapi if-then-else karena memaksakan diri dan enggan mengambil jalur lain. Berapa banyak perusahaan-perusahaan yang dahulu besar, kini hanya tinggal nama karena ketidaksanggupan menghadapi kondisi kritis yang membutuhkan if-then-else.

Kita mungkin bukan orang besar, atau bekerja di perusahaan besar tetapi jika sanggup menghadapi kondisi yang membutuhkan if-then-else, maka bisa jadi kita tidak hanya sekedar survive, malah bisa meningkatkan kinerja tempat kita bekerja, atau membantu pihak-pihak lain. Karena kita semua tidak mungkin hidup tanpa kondisi yang memerlukan peralihan, keluar dari jalur, mencari alternatif, dan ide-ide kreatif lainnya. Entah profesi kita sebagai pelajar, pegawai, dokter, dosen, atau yang lainnya pasti menghadapi kondisi yang membutuhkan if-then-else ini. Mungkin dengan kadar yang tidak terlalu beresiko, atau bisa saja tetap bertahan tetapi dengan kondisi yang agak dipaksakan. Jangan-jangan memang kita diminta menjawab if-then-else: harus beralih profesi, pindah ke tempat kerja yang baru yang bisa mengembangkan dan mengaktualisasi diri kita, atau hal-hal lain yang mengharuskan kita “berbelok”.

Kita sering menghadapi kondisi yang meminta kita memilih jalur lain di luar jalur yang semestinya. Jika merasa tidak pernah menjumpai hal itu, justru malah sangat berbahaya menurut saya. Mungkin Anda bisa sukses dan berhasil dengan mulus, tetapi belum teruji untuk kondisi tertentu. Dalam dunia teknik dikenal dengan istilah robust yang artinya tangguh. Tangguh dalam artian tetap berfungsi normal ketika menghadapi kondisi extreem yang diluar kondisi normal.

Terkadang sistem yang sederhana tetapi tangguh lebih bisa diandalkan karena dilengkapi dengan if-then-else yang dengan lentur menghadapi kondisi apapun: jika tidak bisa dengan ini, lakukan itu, jika tidak bisa juga, lakukan yang lainnya (else). Lebih baik kita jadi orang sederhana yang tangguh, daripada orang hebat yang menghadapi kasus tertentu langsung jatuh. Sebenarnya orang-orang besar yang kita kenal saat ini adalah orang-orang sederhana yang tangguh dan teruji (silahkan baca kembali kitab suci masing-masing). Boleh saja setuju dengan slogan Om Mario Teguh .. Super .. tetapi super yang tangguh (robust).

Iklan

Set Alarm Laptop Ketika 100% Pengecasan dengan Battery Limiter

Setelah tiga tahun lebih akhirnya baterai laptop saya minta diganti. Sebenarnya belum harus diganti tetapi karena kapasitas tinggal beberapa menit dan cenderung harus dicharge terus akhirnya saya mengambil keputusan untuk menggantinya. Sebenarnya baterai laptop saat ini mampu bertahan ketika kondisi pengecasan 100% walaupun kabel power terhubung. Tetapi tetap saja panas yang tercipta mengurangi umur baterai. Oleh karena itu perlu dicabut ketika indikator charging sudah 100%. Dulu saya pernah memposting cara membunyikan alarm ketika baterai mau habis. Sekarang bagaimana membuat alarm berbunyi ketika pengecasan sudah mendekati 100%?

Setelah browsing, akhirnya saya menemukan informasi dari situs ini yang menggiring saya ke software Battery Limiter. Silahkan download software ini di situs freeware ini. Setelah diekstrak, instal software itu. Jika Anda punya antivirus sebaiknya aktifkan. Trend Micro di laptop saya kebetulan tidak mendeteksi adanya virus yang menempel di software itu.

Berikut ini adalah tampilan software tersebut. Anda bisa mengganti warna background agar terlihat jelas. Saya lebih suka warna kuning. Untuk mengeset alarm, geser simbul “sasaran” yang terletak di garis di atas indikator kapasitas baterai.

Sudah saya cek dan berjalan dengan baik, silahkan lihat bagaimana perangkat lunak ini bekerja di youtube yang saya posting ini.

Atau jika Anda khawatir dengan virus, atau laptop anda tidak bisa menginstal program tersebut karena win 10 misalnya, gunakan kode berikut yang Anda ketik dengan notepad dan disimpan dengan nama Battery.vbs. NOTE: jangan lupa mengetik “.vbs” di belakang Battery saat menyimpan agar tidak berekstensi defaultnya (“.txt”).

set oLocator = CreateObject("WbemScripting.SWbemLocator")
 set oServices = oLocator.ConnectServer(".","root\wmi")
 set oResults = oServices.ExecQuery("select * from batteryfullchargedcapacity")
 for each oResult in oResults
 iFull = oResult.FullChargedCapacity
 next

while (1)
 set oResults = oServices.ExecQuery("select * from batterystatus")
 for each oResult in oResults
 iRemaining = oResult.RemainingCapacity
 bCharging = oResult.Charging
 next
 iPercent = ((iRemaining / iFull) * 100) mod 100
 if bCharging and (iPercent > 95) Then msgbox "Battery is at " & iPercent & "%",vbInformation, "Battery monitor"
 wscript.sleep 30000 ' 5 minutes
 wend

Simpan di desktop supaya mudah dijalankan (tinggal dobel klik). Atau diletakan di folder start-up agar setiap laptop direstart, kode tersebut dijalankan. Sudah saya coba dan ketika lebih besar dari 95 persen muncul pesan peringatan di layar dan di taskbar seperti berikut ini:

alarm.JPG

Menyisipkan Video dari Youtube pada Blog

Saat ini peran Youtube sebagai situs penyedia video gratis belum tertandingi. Peran situs tersebut ditunjang oleh kian murahnya bandwidth yang tersedia di negara-negara besar seperti di Indonesia. Walaupun banyak dampak negatif seperti pornografi dan konten tidak mendidik lainnya, ada baiknya para blogger memanfaatkan Youtube untuk sesuatu yang bermanfaat. Situs ini ternyata dapat dimanfaatkan untuk memperjelas postingan kita. Tulisan singkat ini bermaksud menginformasikan cara yang sangat sederhana untuk memasukan video dari Youtube pada postingan blog. Di sini contoh blog yang digunakan adalah WordPress. Untuk mempraktekannya buka sembarang postingan yang telah dibuat, lalu masuk ke mode sunting atau edit.

Masuk ke mode HTML karena kita akan menyisipkan link Youtube di postingan yang telah dibuat. Link akan diletakan rencananya di tengah-tengah tulisan. Untuk mengetahui link video yang akan kita sisipkan, buka Youtube. Setelah video dijalankan (play) tekan Share di bagian bawah jendela video yang sedang diputar.

Setelah menekan Embed maka akan muncul script yang siap di-copy dan paste di lokasi yang akan disisipkan video pada postingan. Jangan sampai salah meletakan lokasi video karena akan membuat tulisan sebelumnya berantakan.

Hasilnya dapat dilihat seperti video dari Youtube yang disisipkan di bawah ini. Sangat mudah dan praktis, semoga bermanfaat.

Selamat mencoba.

Wafatnya Raja Thailand di Usia 88 Tahun

Sepertinya saya harus rehat sejenak dari tulisan yang serius-serius, kali ini dengan postingan ringan mengenai wafatnya raja Thailand pada hari kamis kemarin, tanggal 13 Oktober 2016. Saat ini prosesi pemakaman baru saja selesai. Rakyat berbondong-bondong ikut menghadiri acara itu dengan pakaian serba hitam. Hal ini menunjukkan kecintaan mereka terhadap rajanya yang dinilai telah memajukan Thailand. Dengan media online acara tersebut dapat dilihat lewat fasilitas streaming.

Walaupun baru tiga tahun berada di Thailand dalam rangka studi lanjut, saya sudah merasakan kenyamanan dalam naungan raja kharismatik itu. Hanya saja, pasca kudeta militer tahun 2014 yang lalu kebebasan sedikit terganggu karena alasan keamanan, tetapi selama tidak ikut terlibat dalam konflik politik, sepertinya aman-aman saja. Bahkan tindakan proteksi tersebut mampu menstabilkan kehidupan politik dalam negeri Thailand. Rakyat tetap bisa bekerja dan melakukan aktivitas lain dengan normal.

Raja terlama di dunia ini mudah dikenali karena sejak saya SD di era 80-an, SMP, SMA, S1, S2, dan S-S lainnya, buku IPS di sekolah tetap mencantumkan Raja Bhumibol sebagai raja Thailand. Kini penggantinya harus siap menaiki tahta kerajaan dan menghadapi permasalahan-permasalahan yang sama dengan yang di hadapi oleh negara lain saat ini, yaitu pertumbuhan ekonomi yang melambat. Dan mudah-mudahan kejadian ini bisa mengingatkan saya untuk segera lulus, waduh.

Teknik Mengetik Sepuluh Jari dengan Keyboard Virtual

 

Ketika sedang semangat-semangatnya mengetik dengan tablet surface yang dilengkapi dengan keyboard yang dikenal dengan nama type cover, ada masalah dengan konektor akibat seringkali melakukan flip ketika sedang membaca sehingga tidak dapat digunakan. Untuk memperbaiki sepertinya sangat sulit dan beberapa tukang servis spesialis keyboard menolak. Akhirnya terpaksa saya menggunakan keyboard virtual bawaan surface dengan segala problematika tentunya.

Mengetik Sepuluh Jari

Ada baiknya diulas terlebih dahulu teknik dasar mengetik yang dikenal dengan nama teknik sepuluh jari. Teknik ini mengharuskan mengetik suatu huruf/angka di keyboard dengan jari tertentu, misalnya huruf a dengan jari kelingking, spasi dengan ibu jari, dan sebagainya dengan harapan proses mengetik menjadi jauh lebih celat dibanding mengetik dengan dua atau beberapa jari saja (sering disebut juga teknik sebelas jari). Bagaimana supaya posisi jari tidak melenceng dan tepat di sekitar lokasi huruf yang akan siap diketik? Jawabannya adalah dengan meletakan jari telunjuk di rumah jari yaitu huruf a,s,d,f,j,k,l, dan ; (di keyboard virtual saya ‘). Untuk memudahkan penempatannya, tiap keyboard biasanya memberikan titik atau garis di buruf ‘f’ dan ‘j’ yang dapat diraba dengan telunjuk kita.

Mengetik Buta

Mengetik buta adalah mengetik tingkat lanjut yang tidak lagi melihat tuts di keyboard karena jari sudah mengetahui posisinya tanpa melihat. Mengetahui posisi dilakukan dengan meletakan jari di rumah jari yang dipandu oleh tanda titik atau garis di huruf ‘f’ dan ‘j’. Dulu mengetik dengan teknik buta sangat dibutuhkan terutama di jasa pengetikan yang hanya bertugas menyalin dari tulisan tangan ke tulisan cetak lewat ketikan apa adanya. Ketika mengetik, mata hanya terfokus ke tulisan tangan atau sumber lain seperti text book sementara jari mengetik tanpa melihat kecuali saat tertentu misalnya ganti baris (di mesin tik manual jaman dulu ada bel yang menginformasikan pengetik bahwa ketikan sudah hampir di bagian akhir baris dan harus dipindah ke baris berikutnya dengan menarik tuas ke sebelah kiri).

Mengetik dengan Keyboard Virtual

Bagaimana dengan keyboard virtual? Apa saja kesulitan yang dijumpai ketika menggunakan keyboard jenis baru ini (muncul ketika smartphone merajalela penggunaannya)? Sebagian orang yang sudah menggunakannya pasti sudah mengetahuinya. Salah satu pemicu munculnya keyboard virtual adalah kepraktisan dimana gadget (waktu itu keyboard qwerty secara fisik dikuasai oleh blackberry) tidak perlu menyediakan hardware tambahan untuk keyboard. Ketika akan mengetik secara otomatis gadget akan memunculkan keyboard virtual yang disediakan oleh android, ios, atau windows mobile.

Untuk orang yang mengetik non sepuluh jari sepertinya tidak memiliki perbedaan yang berarti baik mengetik dengan keyboard virtal maupun keyboard sesungguhnya. Bahkan mereka merasa lebih nyaman karena jari tidak perlu menekan lebih keras (ketika menggunakan keyboard fisik ala blackberry awal mereka bilang jarinya bentol-bentol). Tetapi bagi pengetik sepuluh jari seperti saya, muncul masalah baik dari sisi kecepatan maupun akurasi. Karena kebetulan keyboard rusak maka mau tidak mau berusaha memikirkan cara bagaimana nyaman dengan keyboard virtual.

Pertama-tama kita perlu mengetahui bagaimana prinsip kerja teknik mengetik sepuluh jari bekerja. Seperti sudah dibahas di muka, pada teknik ini jari diletakan dalam kondisi istirahat dengan menempel di rumah jari dengan panduan tanda khusus di huruf ‘f’ dan ‘j’. Tentu saja hal ini tidak dapat dilakukan dengan keyboard virtual mengingat keyboard akan dianggap ditekan ketika jari menyentuh huruf atau angka. Pertama-tama saya mencoba dengan meletakan jari di atas rumah jari tanpa menempel, tetapi sering terjadi kesalahan terutama di posisi kelingking. Akhirnya saya menemukan cara yang cukup akurat yaitu merubah tanda rumah jari dari ‘f’dan ‘j’ menjadi ‘a’ dan ‘;’ dengan seluruh jari membentu formasi lengkungan agar mata dapat melihat seluruh keyboard tanpa meninggalkan rumah jari. Setelah saya cek, untuk kecepatan tidak terlalu signifikan pengurangannya, hanya butuh latihan beberapa saat. Justru tangan sedikit lebih santai karena tidak perlu menekan keras untuk mengetiknya (ada jenis cidera tertentu bagi pengetik akibat tekanan kecil tapi berulang di jari). Untungnya vendor smartphone atau tablet menyediakan getaran atau bunyi ketika keyboard virtual ditekan agar pengetik dapat memastikan bahwa tuts sudah tercetak ketika terdengar bunyi yang biasanya mirip suara ketikan.

Bagaimana dengan mengetik teknik buta? Inilah salab satu kendala tidak mungkin menggunakan keyboard virtual dengan teknik buta (kecuali Anda punya indera keenam). Salah satu caranya adalah vendor menyediakan keyboard virtual yang membutuhkan tekanan ketika mengetik (tidak hanya menyentuh) agar jari bisa diletakan di rumahnya dan harus menekan ketika berniat mengetik. Untuk sementara tidak apalah tidak bisa mengetik dengan teknik buta di keyboard virtual, toh saat ini mengetik dengan menyalin buku sudah jarang saya lakukan, karena kebanyakan mengarang langsung ketika mengetik. Mohon saran, siapa tahu ada rumus yang lebih oke dari teknik yang saya tulis di atas. Mengetik di keyboard virtual itu keren juga, apalagi langsung mengetik di layar tablet dengan sepuluh jari, dijamin orang pada ngelihat karena tentu saja kesannya lebih futuritis.

Problem Touch Windows di Surface RT yang tidak Merespon

Setelah mencari cara menyelesaikan problem touch windows surface di internet beberapa lama saya tidak berhasil menemukan jawaban, baik jawaban praktis maupun jawaban inti permasalahan mengapa ketika logo windows di surface ditekan, hanya muncul getaran saja, tidak ada respon untuk ‘‘wakeup” atau berubah ke menu utama windows 8.1.

Berbeda dengan surface pro yang memang benar-benar laptop, surface rt merupakan windows versi tablet yang berprosesor ARM yaitu prosesor khusus tablet dan HP dengan penggunaan daya yang rendah sehingga mampu menghemat baterai tablet/hp. Salah satu keunggulan RT dibanding pro menurut informasi dari youtube adalah kecepatannya wakeup dari kondisi sleep. Jadi jika saya mengetik dan melakukan aktivitas lainnya sekaligus, saya tidak perlu menunggu waktu lama jika ingin melanjutkan mengetik lagi, tinggal menyalakan tablet saja. Nah di sinilah repotnya, setelah beberapa kali update, ternyata logo windows surface tidak merespon (hanya bergetar) ketika ditekan untuk ‘membangunkannya’. Sebenarnya bisa dilakukan dengan menekan tombol power, tetapi muncul kekhawatiran kalau tombol terlalu sering ditekan lama-lama bisa error walaupun saya yakin windows merancang tombol power yang tahan lama. Tapi tentu saja lebih oke jika membangunkan surface dengan tombol touch screen – nya karena sentuhan tidak terlalu melelahkan secara fisik.

Ada beberapa saran yang berhasil ditemukan dari internet, namun hanya satu saran yang berhasil yaitu mereset windows ke kondisi awal (factory setting). Ternyata berjalan normal kembali touch screen windowsnya walaupun terkadang harus menekan beberapa kali. Kuat dugaan bahwa ketika tombol touchscreen windows ditekan, sepertinya windows membutuhkan cukup banyak proses sehingga membutuhkan waktu, kecuali jika kondisi sleepnya hanya sesaat (ketika baca ebook tiba2 sleep). Bahkan pernah ketika ditekan saya tunggu hampir 1 menit baru lock screennya muncul. Jadi ketika update windows, tablet sepertinya berat dan agak kesulitan ketika wakeup lewat touch screen, atau karena windows surface versi anyar letak logonya di kanan bukan di bawah seperti versi pertamaya?

Memang banyak yang kecewa dengan surface rt karena tidak ada GSM dan tidak bisa diinstal aplikasi-aplikasi layaknya laptop (program exe seperti spss, matlab, dll). Tapi jika anda penulis atau penggemar internetan, surface rt memiliki keunggulan dibanding laptop atau surface pro karena wakeupnya yang cepat secepat anda menghidupkan hp ketika ingin menelpon dan tentu saja, baterainya yang tahan lama (kaget juga surface yang masih menyala dengan baterai masih ada ketika tiga hari tidak digunakan). Yang sedikit mengagumkan adalah kecepatan men-charge nya yang tidak sampai lima belas menit). Akhirnya saya males untuk mengupdate surface khawatir ada masalah. Sebelumnya juga ada masalah ketika update dimana windows memberikan sekuriti tambahan ke browser yang mengakibatkan saya tidak bisa akses ke internet kampus yang menggunakan proxy yang tidak tersertifikasi windows. Waktu itu saya melakukan reset windows dgn pilihan yg bukan reset factory setting (hanya update saja yang dibatalkan). Mohon saran di komentar bagi yang berpengalaman dengan windows surface.

Menulis Artikel Ilmiah … Edisi Galau

Setelah beberapa bulan melakukan riset kini saatnya menulis laporan dalam bentuk artikel ilmiah (research paper). Mungkin pembaca bertanya dalam hati “lalu?”. Ya itu, masalahnya, “Bagaimana?”. Masalah-masalah baru kemudian muncul yang sepertinya sama rumitnya dengan mengerjakan riset itu sendiri. Jika ada yang beranggapan artikel ilmiah itu hanya melaporkan hasil riset yang telah kita jalani, sepertinya kurang tepat karena pada saat riset kita berkomunikasi antara diri kita dengan problem, sementara pada penulisan artikel ilmiah, kita harus berkomunikasi dengan komunitas ilmiah. Video dari Cambridge di akhir postingan ini dapat jadi acuan bagaimana membuat artikel ilmiah yang tepat di era modern ini, era di mana pembaca menjadi perhatian utama mengingat ribuan artikel muncul setiap hari sehingga kebutuhan akan tulisan yang mudah dimengerti, singkat, dan sesuai kebutuhan pembaca sangat besar.

Tadinya karena kejar tayang saya membuat artikel ilmiah hanya berisi laporan apa saja yang saya lakukan di riset disertai dengan hasil dan kesimpulannya. Ternyata hasilnya kurang memuaskan dan banyak yang harus direvisi. Beberapa rekan menyarankan untuk menggunakan jasa proof reading guna pengecekan dari sisi bahasa (Inggris atau yang lain). Sayang, harganya lumayan selangit. Akhirnya saya coba sendiri dahulu, datang ke perpustakaan dan mencari buku-buku panduan penulisan karya ilmiah. Lumayan juga sedikit membantu, terutama dalam membuat komposisi paragraf yang berisi thesis statement, detail terhadap thesis statement, menyimpulkan, dan sebagainya. Tapi tentu saja itu hanya membantu dalam komposisi tulisan secara general. Untuk artikel ilmiah sepertinya perlu sumber lain.

Youtube sepertinya sarana yang baik, tetapi tentu saja sumber yang benar, karena banyak yang setelah saya lihat cuma bercanda saja. Kalau ingin sumber yang tepat, cari yang berasal dari perkuliahan di kampus-kampus ternama. Video di bawah ini sangat menarik karena disajikan oleh peneliti microsoft yang berpengalaman, dan tentu saja cocok dengan bidang saya yang IT. Penyampaiannya yang interaktif dengan para mahasiswa dan ide-ide nya yang masuk akal sepertinya sayang untuk dilewatkan. Hal-hal menarik dalam video ini adalah pertama penekanan pada introduction dengan statement yang menjelaskan menariknya problem yang akan kita selesaikan lewat contoh (example). Tujuannya adalah agar pembaca mudah mengerti dibandingkan dengan model lama ala texbook mata pelajaran matematika. Jika D adalah ini, X adalah ini, dan aksioma2 njlimet lainnya sepertinya akan membuat pembaca tidur, atau tampak o’on. Kedua, jangan melupakan etika, contohnya agar ide kita bagus dengan menjelek-jelekan ide orang lain. Jangan khawatir, penghargaan kita ke ide orang tidak akan mengurangi penghargaan orang terhadap ide kita. Ketiga, hargai pembaca jangan “ngerjain”. Ada penulis yang pembaca ke sini dan ke situ, trus dibilang, “terbukti ternyata jalan itu kurang tepat”. Tentu saja pembaca akan jengkel karena merasa diajak ngalor-ngidul. Langsung saja apa langkah tepat yang kita temukan sehingga diperoleh hasil yang memuaskan. Keempat, masalah bagian-bagian tertentu yang tidak perlu seperti “the rest of this paper …” yang berisi isi dari paper ini karena hampir pasti tidak akan dibaca (langsung dilewati). Juga ada yang unik dimana “related works” tidak disarankan di awal. Sepertinya ini masih kontroversi, coba lihat aja sendiri di video itu. Terakhir adalah jangan marah ketika dikritik pembaca karena kritik oleh pembaca itu adalah hadiah terindah dari orang yang telah meluangkan waktu membaca karya kita. Selamat menikmati … oiya, sayangnya bahasa Inggris.

how to write

Progress Meeting …

Bagi pembaca yang pernah mengenyam pendidikan doctoral pasti mengenal istilah progress meeting. Atau mungkin dengan istilah yang berbeda dengan aturan yang berbeda pula. Untuk level sarjana atau master biasanya karena jangka waktu riset yang hanya setahun terkadang tidak dilakukan progress meeting. Kalaupun ada tergantung kebijaksanaan dari dosen pembimbing yang bersangkutan. Sementara jenjang doktoral karena fokus utamanya adalah riset maka perlu adanya progress meeting yang fungsinya memantau perkembangan risetnya. Terkadang menjadi penentu apakah mahasiswa yang bersangkutan boleh meneruskan risetnya, ganti judul, ganti objektive atau sialnya dikeluarkan alias drop out. Biasanya pertemuan ini dilakukan menjelang akhir-akhir semester, bahkan jika supervisor, chair, atau advisor mau, ada yang dijadwalkan pertemuan tidak resmi tiap minggu atau tiap bulan sekali untuk memantau perkembangan riset mahasiswa yang bersangkutan.

Berbeda dengan level di bawahnya, program doktoral sangat tergantung dari advisor. Sulit sekali ganti advisor kecuali dalam keadaan darurat dimana si advisor secara keilmuan tidak bisa membimbing lagi. Jika hanya karena si advisor pindah kampus, maka mahasiswa doktoral yang bersangkutan tetap menjadi siswa didiknya. Cara komunikasinya bisa dengan email, chatting, atau video conference jika lokasi kerjanya jauh dari tempat mahasiswa tersebut. Bagi Anda yang mendapat jadwal pertemuan rutin, mungkin agak kewalahan karena selalu dipaksa ada kemajuan tiap pertemuan tetapi biasanya lulus dengan lancar. Sementara saya yang hanya satu kali pertemuan progress jika terlena akibatnya fatal, minimal kalang kabut menjelang progress meeting yang jadwalnya sekehendak hati supervisor/advisor. Pemerintah melalui direktorat pendidikan tinggi (DIKTI) yang sekarang pisah dengan pendidikan dasar dan menengah dan gabung dengan riset dan teknologi (RISTEK) menjadi kementrian RISTEK DIKTI menyadari hal ini, maka ketika menyeleksi calon penerima beasiswa akan memantau hubungan calon penerima beasiswa dengan calon supervisor/advisor. Email baik dari calon sepervisor ke calon mahasiswanya atau sebaliknya diminta untuk dilampirkan sebagai berkas syarat penerimaan beasiswa. Walaupun topik disertasi bisa berubah dalam perjalanannya, topik saat akan mengajukan beasiswa menjadi bahan pertimbangan. Ada baiknya topik memang menguntungkan pemberi beasiswa, jika DIKTI ya topiknya atau study area-nya di Indonesia.

Anda akan tersiksa ketika mengambil topik yang tidak disukai mengingat riset level doktoral sangat panjang dan beragam jenisnya. Ada yang tipenya objektif 1, objektif 2, dan seterusnya dengan antara objektif satu dengan lainnya bisa menghasilkan satu tulisan di jurnal, tetapi ada juga yang tidak bisa dibuat satu jurnal langsung karena antara satu objektif dengan objektif lainnya saling berkait, dan ini yang menjadi masalah ketika ada syarat kelulusan publikasi jurnal. Akan kewalahan jika selesai objektif terakhir tetapi jurnal selalu gagal diterima. Kalaupun diterima terkadang proses hingga publish cukup panjang. Untungnya terkadang kampus sudah meluluskan asalkan paper sudah diterima walaupun belum diterbitkan. Tetapi jika Anda suka dengan riset Anda, walaupun sulit dan cenat-cenut, Anda akan berusaha dengan segala daya dan upaya untuk menemukan jawabannya. Saya sendiri banyak memperoleh jawaban dari permasalahan yang muncul tidak di meja belajar. Terkadang ketika nongkrong di warung kopi, bangun tidur, ketika beribadah (ini yang menjengkelkan), atau ketika sedang bertapa di WC.

Apa sajakah biang keladi lamanya lulus seorang mahasiswa doktoral? Sebelum saya berangkat studi lanjut saya dikaruniai ngobrol dengan tokoh-tokoh di bidangnya (oiya bidang saya IT “pindahan”). Seorang doktor dari UI mengatakan kepada saya bahwa, dia berusaha membuat mahasiswa doktoralnya lulus, tetapi karena jarang bimbingan dan sibuk kerja, banyak juga yang putus ditengah jalan, alias “muntaber”, mundur tanpa berita. Sementara pa Onno Purbo, ketika makan bareng di kampus unisma selepas seminar mengatakan jika ingin lancar sidang doktoral (defense), buat saja publikasi sebanyak-banyaknya, nanti di presentasinya sebutkan saja “sudah dipublikasi di jurnal .. ini” ketika membahas topik tertentu. Tetapi kenyataannya karena mungkin itu levelnya dia, syarat satu publikasi saja susah apalagi sampai lima begitu.

Setelah progress ? ya santai temporer .. alias liburan semester

Update: 6 Des 2015

Ternyata harus utak-atik paper dulu sebelum balik. Siapa tahu bisa publish.

Update: 23 Maret 2016

Alhamdulillah baru saja submit ke jurnal internasional, semoga diterima/accepted, amiin…

Update: 10 Februari 2017

Setelah sekali ditolak (lihat update sebelumnya), akhirnya naskah tulisan saya diterima dan sudah dipublish di Jurnal internasiona. Tinggal lanjut menyelesaikan laporan disertasi, semoga lancar.

Melanjutkan Riset yang Tertunda

Setelah hampir tiga bulan hilang dari peredaran karena libur kuliah, akhirnya sekarang mulai lagi bertarung mengerjakan disertasi yang sempat terhenti. Tadinya ingin masuk bulan berikutnya tetapi karena ada email bahwa pemesanan kamar kos kategori 2 sudah disetujui dan harus diambil maksimal minggu depan, mau tidak mau segera berangkat karena tipe kos ini merupakan idola semua mahasiswa AIT terutama yang sedang tesis atau disertasi mengingat bentuknya yang sangat private dan egois (karakter mahasiswa yang sedang nulis).

Banyak hal terjadi baik di Indonesia maupun di Thailand ketika mau berangkat. Beberapa hal yang mungkin bisa dijadikan masukan untuk pembaca yang mau berangkat ke Thailand:

  • Kartu Sim Card harus teregister. Berbeda dengan di Indonesia yang registrasi hanya dengan mengisi nama, no KTP dan alamat, si sini harus datang ke Simcard center dengan membawa kartu Identitas (id card/paspor). Agak ribet juga, walau bisa juga dengan online chat dgn webcam. Kita difoto dengan paspor.

  • Pesawat Air Asia mulai memberlakukan dengan ketat berat barang yang masuk ke Cabin. Jika di atas 7 kg, bakal kena charge .. waspadalah. Sepertinya petugas hanya mengincar yang membawa tas beroda, buktinya saya lolos dengan tas sanggul, walau lebih dari 7 kg.

  • Rupiah melemah terus terhadap dollar, walau mata uang tetangga2 juga ikut melemah. Berdampak terhadap harga-harga, terutama tiket pesawat.

Uang kiriman dikti belum turun .. kalo ini masalah khusus .. he he he.

Bersahabat dengan Sigma

Bagi orang-orang ilmu komputer simbol sigma (∑) sudah menjadi santapan sehari-hari. Mau dihindari, tapi selalu ketemu. Apa boleh buat, terpaksa ditelan bulat-bulat. Simbol ini sebenarnya mempersingkat bahasa kita yang artinya “jumlah”. Tetapi kebiasaan pengajar di Indonesia yang suka melihat mahasiswanya pusing, malah menakut-nakuti. Perhatikan fungsi objektif yang harus diselesaikan oleh Fuzzy-CMeans clustering, dibikin gampang ya gampang, dibikin susah ya susah aja:

(1)

Misalnya tukang ojek kerja dari hari senin sampai kamis (i=[1;4];), dengan penghasilan pada hari senin, selasa, rabu, kamis, berturut-turut 50, 70, 80, 100 ribu. Kalau dibuat tabelnya di matlab:

Misalnya ada rumusan seperti ini:

(2)

Dimana Y= total setoran, i= hari ke-i, dan xi = setoran hari ke-i. Kan sama saja dengan pernyataan “setoran lue dari hari senin sampai hari kemis berape?”. Tukang ojek-nya terus buka Matlab:

Ketemu hasilnya 300 ribu. Tentu saja bukan hanya untuk tukang ojek, bisa juga untuk dosen yang nyambi sana nyambi sini. Dari SD kita memang sudah dikenalkan dengan tabel dan saat kuliah sudah terbiasa dengan yang namanya Excel (spreed sheet) untuk mengolah data. Tetapi untuk ilmu komputer yang terkadang excelnya aja tidak bisa mengimport data yang saking besarnya, pemahaman tentang penyakit sigma menjadi wajib. Coba saja download dan import ke excel yg ukurannya di atas 1 Gb data di www.kaggle.com.

(3)

Apalagi nih? Misalnya, karena motornya ditarik akibat beberapa bulan jadi buronan dealer, si tukang ojek jualan di kampung oncom tiga jenis gorengan, oncom, misro, combro. Supaya gampang nulisnya j1, j2, j3. Seperti biasa dia dagang empat hari, senin sampai kamis dan lagi-lagi supaya gampang i1,..,i4. Tiap hari dicatet keuntungan tiap gorengan per hari (dalam ribuan):

Mungkin karena nama kampungnya kampung “oncom”, makanya oncom lebih laris. Kemudian di hari kamis pas mau tutup, satpol pp menghampiri dan minta 10% untuk pajak. Jadi harus dihitung dulu penghasilannya dari hari senin, kembali dia buka Matlab:

Ketemu hasilnya, total = 99 ribu. Kasih dah ke satpol PP pajak 10% = 5 ribu …. karena ngakunya cuma dapet 50 ribu. Sekian dulu tulisan hiburan akibat baca2 jurnal yg ada rumusan kayak begini:

Objective Function

Engkau Masih Tetap Guruku ..

Ketika SMP dulu guru saya sering bercanda kalau profesi pengajar itu pasti doanya baik. Semua guru katanya pasti bedoa agar anak didiknya pandai. Apakah semua profesi seperti itu? Ternyata katanya bisa saja tidak. Dokter misalnya, bisa saja doanya semoga banyak orang yang sakit. Saya cuma bisa senyum-senyum saja, toh kami sekelas hanya menganggapnya lelucon dan selingan ketika dia mengajar. Ada lagi yang mengatakan bahwa pengajar itu jika yang diajarkan tepat, mendapat dua pahala, tetapi jika kurang tepat akan mendapat satu pahala, jadi jangan takut mengajar, walaupun saya sempat dibilang “sotoy” di komentar, yang saya tanya temen2 artinya itu sok tahu. Yah .. ga papa lah.

Pahala yang mengalir terus

Saya sering mendengar hadits yang mengatakan bahwa ketika seorang wafat, putuslah amal perbuatannya kecuali tiga hal: ilmu yang bermanfaat, amal jariyah dan anak yang sholeh/sholehah. Jadi status pahala pengajar itu akan mengalir terus walaupun yang mengajarkan sudah wafat, tentu saja ada kata “bermanfaat”, walaupun terkadang kita menganggap sepele dan tidak bermanfaat oleh kelompok lain ternyata sangat bermanfaat.

Tidak selalu kita belajar dari guru tentang ilmunya

Dari pengalaman saya sekolah dan kuliah, hingga saat ini sebagian ilmu yang diajarkannya tidak secara langsung saya manfaatkan. Bahkan sampai oleh rekan saya yang “keluar” dari profesi mengajar mengatakan ilmu itu tidak ada gunanya. Saya sedih sekali mendengarnya, apalagi keluar dari mulut teman yang pernah sama-sama mengajar. Tetapi benarkah demikian? Di salah satu grup facebook bahkan diupload gambar lucu yang berisi tulisan rumus-rumus integral kalkulus yang rumit-rumit, kemudia di bawahnya muncul tulisan: “jujur saja .. apakah yang kita pelajari kita gunakan saat ini?”. (source gbr 1).

Repotnya adalah negara kita menyukai segala sesuatu yang instan. Kurang menghargai proses, apalagi prosesnya panjang tak terlihat ujungnya. Kita gemar sekali protes dan mempertanyakan segala sesuatunya. Ada bagusnya menurut saya, tapi lebih baik lagi cari jawabannya sendiri, searching di internet, baca sejarah negara-negara yang maju, dan sebagainya. Guru itu paling capek dan sebel  menjawab pertanyaan mengapa materi ini diajarkannya. Dengarkanlah keindahannya sampai selesai, jangan kau intrupsi orkestra indah yang sedang berjalan ini.

Namun kalau saya renungkan, hampir selalu saya meniru apa yang diajarkan guru kita terlepas dari materi/bahan ajar. Ketika guru matematika SMP saya mengecek jawaban secara bersama-sama, saya kagum ketika dia menghitung jawabnnya tanpa coret-coretan, alias di luar kepala. Bagaimana guru bahasa Indonesia SMA saya melakukan komposisi kalimat yang singkat, padat, dan mengena di satu kasus, dan melakukan komposisi yang indah penuh warna-warni di kasus yang lain. Atau ketika guru Fisika saya menjelaskan rumus reaksi nuklir yang rumit menjadi sangat sederhana. Bahkan di bangku kuliah, ada satu mata kuliah yang selalu mendapat nilai buruk, tetapi saya mengagumi cerita dia, bagaimana ketika dia bepergian dengan kereta dia melihat struktur sasis kereta, suspensi, sambungan, dan sebagainya dan ini mengajarkan kepada saya untuk selalu terus berfikir di mana saja.

Ikatan guru murid tak pernah putus

Di jaman internet dengan dibanjiri fasilitas social media membuat informasi sangat cepat bahkan tetap terjaga walau orang yang pernah bersama kita sudah jarang bertemu lagi. Tentu saja ada buruknya, tetapi kita ambil saja sisi positifnya. Terkadang ada rasa puas ketika melihat anak didik kita setelah lulus sukses menjalani karirnya. Dan sedih pula jika terjadi hal sebaliknya. Ketika saya mengajar menggambar dengan komputer, saya sempet bertanya dalam hati mengapa ada seorang siswa yang ikut belajar walaupun tidak terdaftar di absensi. Walaupun bisa saja saya mengusirnya, tetapi saya biarkan (hanya beberapa sesi ikutnya). Saya termasuk pengajar yang terlihat dari luar “cuek”, “masa bodoh”, apakah siswa itu mengerti atau tidak, tentu saja itu luarnya saja, he he. Tidak lama kemudian, rekan dosen yang lain ketika senggang mengatakan bahwa ada seorang siswa bimbingan tugas akhirnya yang ikut mata kuliah gambar saya, waktu itu memang saya mengajarkan menggambar meja dan bangku tiga dimensi ketika ada siswa tersebut. Ternyata siswa tersebut baru saja diterima bekerja sebagai drafter. Ketika ditest, kebetulan soalnya menggambar meja tiga dimensi, tentu saja dia bisa mengerjakan dan langsung bekerja di sana.

Jadi jangan liat dari luarnya saja, terkadang ada guru yang “sengaja” memperlihatkan kalau dia tidak menyukai/tidak puas dengan kita, padahal di dalam hatinya berbeda. Ketika SMA dulu, selepas pengumuman UMPTN pasti anak kelas III akan datang ke sekolah sekedar bersalam-salaman dengan guru-guru. Ada seorang guru yang ingin saya temui, ternyata sangat sulit dan sepertinya “ngumpet”. Akhirnya saya menduga dia tidak ingin pahalanya berkurang dengan munculnya ego bahwa saya bisa sukses karena didikannya.

Waktu kuliah, saya sempat bersungut-sungut ketika ditegur oleh dosen saya. Oiya, adakah dari pembaca yang “biasa-biasa” saja ketika diusir? Saya merasa dosen tersebut sama sekali tidak memperhatikan mahasiswanya dan terkesan cuek. Dan sialnya lagi .. eitt, saya harus stop di sini. Hingga lulus tidak ada kesan apapun terhadapnya. Waktu itu memang sedang krisis moneter, jadi saya kesulitan mencari pekerjaan. Karena kehabisan stok legalisir ijazah, berangkatlah saya ke Yogya dan numpang di kos-kosan sahabat baik saya yang belum lulus. Ketika ngopi sambil memandangi gunung merapi, dia mengatakan “eh .. tau nggak Pa “X” menanyakan ke saya, gimana? Si rahmadya udah kerja apa belum?”, teman saya mengatakan “katanya belum pa”, sambil menjelaskan ekspresi sedih dosen tersebut sambil mengusap kepalanya. Saya langsung terdiam ketika mendengarnya, mungkin teman saya melihat saya terdiam karena sedih belum bekerja, padahal saya terdiam karena kaget, dosen yang selama ini saya anggap “tidak perduli” ternyata diam-diam memperhatikan siswanya walaupun sudah lulus. Seandainya teman saya tidak menceritakan hal itu mungkin sampai sekarang saya masih menganggap dosen saya itu dosen yang “tidak perduli”.

Figure 2 Fakultas Teknik UGM (Source: klik di sini)

Update: 15 Oktober 2015

Tahun 2013 saya kedatangan temen satu angkatan t.mesin, waktu itu ngobrol sampai malam di AIT Thailand, termasuk ngobrolin dosen pembimbing saya dulu. Tahun 2014 ternyata beliau dipanggil Allah, Innalillahi wainailaihi roojiun, saya baru tahu ketika teman saya satu angkatan tersebut main lagi ke kampus tempat saya belajar (2015) .. Semoga diterima di sisi-Nya, spiritmu tetap hidup di jiwa muridmu ini

Kesan Pertama All New Kia Rio 2014

tigerHari ini muncul wajah baru, sebuah sedan hatchback (orang sering nyebut sedan tepos) berwarna merah di tempat kami. Sayang saya sendiri tidak bisa langsung melihat karena sedang berada di negeri gajah. Mesin 4 silinder 1.4 Liter (1400 Cc) dengan transmisi otomatis pesanan istri sudah tiba. Wajahnya yang tampan sepertinya membuat istri saya jatuh hati.

Mungkin ada yang bertanya ini mobil apa? Silahkan googling sendiri di internet. Yang jelas mobil ini mendapat penghargaan disain terbaik. Terbaik di mana? Bekasi? Tentu saja dunia dong … Yang menjadi trade mark nya adalah Tiger Nose karya disainer Peter Schreyer pada grill pendingin udaranya.

Mengapa beli jenis kendaraan ini? Selera aja sih. Dari dulu kami memang lebih suka membeli kendaraan yang unik yang jarang dijumpai di jalan (bukan kendaraan sejuta umat). Bagaimana harga jualnya? Kalau ga ada yang mau beli nanti, ya dikasihkan saja, beres. Yang jelas niatnya sih untuk menunjang pekerjaan sehingga menambah pemasukan karena produktivitas dalam bekerja (anti hujan, aman dengan airbag dan ABS, irit biaya transportasi). Macet ? ya pastilah .. untungnya sudah jarang bertugas di Jakarta (sekitar planet bekasi saja).

dimas

Walaupun tidak seperti layaknya versi yang dijual di eropa dimana kontrol audio yang terletak di stir, atap yang bisa terbuka (sun roof), tetapi lumayanlah dengan harga segitu dapat hatchback kelas menengah. Yang terpenting tidak perlu keluar duit lagi untuk jok kulit, solar guard / kaca film, sensor parkir, talang air, mantel mobil, velg yg sudah 16″, fog lamp, dan tetek bengek lainnya, alias tinggal pakai.

my-rio2

Yang jelas, transmisi manumatic-nya (bisa manual, bisa matic) sangat membantu ibu-ibu yang maunya tinggal gas rem, dan bisa menurunkan gigi secara manual jika mau menyalip, terutama di tanjakan.

Update: 13 Januari 2015 (service 1000 km).

Ketika liburan saya pulang ke Bekasi dan mencoba si Rio. Kesan pertama tampilannya seperti ford fiesta, dan lebih besar dikit dari jazz milik adik ipar. Terasa gas dan rem sangat sensitif. Tidak ada ngelitik seperti keluhan Rio keluaran 2012.

Interior walaupun masih di bawah Jazz tetapi space duduk dan bagasi serta kursi yang ergonomic (pas di badan) cukuplah. Entah kenapa mesin agak berubah-ubah responnya, apa karena saya sering gantian nyetirnya (beda karakter).

Sepertinya cocok untuk pengguna dalam kota, apalagi ibu-ibu yang ingin nyaman. Dibandingkan dengan jazz saat menikung rio agak limbung. Sepertinya butuh tambahan batang stabilizer karena per yang sangat lembut.

rio1000km

Update 12 Juli 2015 (service 5000 km)

Berhubung belum ganti oli semenjak mobil datang, sekalian saja servis gratis kedua di bengkel resmi kia. Muncul masalah standar mobil dengan kompresi tinggi yaitu mesin yang mengelitik. Ketika tiba di bengkel, langsung saja “curhat” bahwa dengan bensin pertamax 92, mesin terkadang mengelitik ketika berakselerasi awal (rpm rendah). Memang sih jika tombol ECO mode dimatikan, ngelitik sedikit berkurang, tapi sayang jika fasilitas ECO mode tidak dipakai.

Update Engine Control Unit (ECU) mutlak harus dilakukan, mengingat untuk kompresi 10:1 mengharuskan octane tinggi, yaitu pertamax plus. Namun saya meminta untuk cocok dengan pertamax 92 saja, karena khawatir jika dicocokan timing pengapian dengan premium berefek pada borosnya bahan bakar, toh saya tidak menggunakan premium.

Setelah ganti oli dan update ECU, ngelitik bisa dihilangkan (dalam batas riding style normal). Terasa gas sedikit dalam, berbeda dengan setelah awal yang tersentuh sedikit saja gas, mesin bereaksi. Untuk konsumsi BBM yang menurut spesifikasi 14-18 km/liter di tol, ketika dicek menyentuh 100/7=14.3 km/liter. Masih dalam range-nya, walau di batas bawah (jauh di bawah 18 km/l). Lihat brosur yang baru, kaget juga harga rio yang dulunya 197 juta kini menjadi 223 juta untuk yg matic.

bensin_rio

Update 15 November 2015

Entah karena kebanyakan make AC dan radio dalam keadaan mesin mati, baru setahun aki (accu) sudah diganti karena pagi-pagi aki ga ngangkat. Terpaksa habis 900-an untuk aki baru (pesan di shop n drive).

Info terbaru, mungkin dampak dari kenaikan dollar, hampir kebanyakan pabrikan menaikan harga jual kendaraannya, KIA Rio pun dibandrol hingga 238 jutaan, gile. Oiya, jika ingin liat perbandingan dapat dibuka situs perbandingan hatchback ini, secara total dimenangkan Rio tapi tentu saja berbeda versi eropa dengan versi yang dijual di Indonesia.

Submit Paper

Paper ilmiah merupakan sarana bertukar fikiran antara satu peneliti dengan peneliti lainnya di seluruh dunia. Peneliti yang handal akan memiliki paper yang dari sisi kualitas dan kuantitas akan baik pula. Jika ada peneliti yang tidak memiliki publikasi ilmiah dalam bentuk paper dapat dipastikan bahwa peneliti itu tidak melakukan penelitian atau menyembunyikan hasil penelitiannya. Peneliti yang baik tentu saja selain memiliki kemampuan akademik terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi terkini juga memiliki jiwa berbagi (sharing) yang tinggi.

Di Indonesia, paper kebanyakan hanya menjadi sarana pendidikan di perguruan tinggi ataupun syarat kenaikan pangkat bagi dosen. Dikti sudah mensyaratkan terhadap mahasiswa yang akan lulus dari perguruan tinggi untuk mempublikasikan hasil penelitiannya. Sungguh berat tetapi apa boleh buat, kita sudah tertinggal dari sahabat kita Malaysia dari sisi jumlah tulisan yang dipublikasikan.

Melihat grafik di atas pantas saja dirjen DIKTI Djoko Santoso mensyaratkan kelulusan perguruan tinggi yaitu publikasi ilmiah. Jumlah penduduk indonesia yang besar sudah selayaknya memiliki jumlah publikasi yang tinggi juga. Jangankan dengan Malaysia, dengan Vietnam saja kita masih kejar-kejaran. Belum lagi dengan negara-negara lain seperti Jepang atau negara-negara maju lainnya, Untuk melihat kinerja negara-negara terhadap publikasi ilmiahnya dapat diakses di sini.

Bagaimana Mempublikasikan Paper?

Jika kita sudah sadar dengan posisi negera kita yang lemah dari sisi publikasi ilmiah, muncul pertanyaan bagaimana cara mudah mempublikasikan paper kita? Cara paling sederhana adalah mensubmit paper, tentu saja jika kita punya paper. Jangankan menulis paper, membaca paper saja sudah pusing. Padahal kalau kita perhatikan satu naskah paper (perhatikan saja jangan dibaca, takut tambah pusing) ada referensi yang jumlahnya belasan hingga puluhan yang pasti telah dibaca oleh penulis paper tersebut. Sebanyak itukah paper referensi yang harus dibaca? Tentu saja tidak, pasti lebih banyak dari itu mengingat yang dicantumkan di dalam referensi adalah yang “beruntung” karena sesuai dan mendukung paper yang kita tulis, sementara yang “sial” lainnya tidak mendukung paper kita. Kata “sial” di sini adalah karena kita sudah capek-capek membaca, tapi tidak ada hubungannya dengan riset kita.

Publikasi ilmiah bisa berupa jurnal dan seminar (conference). Alangkah baiknya kita menoleh ke jurnal internasional atau seminar internasional mengingat ketertinggalan negara kita adalah di level internasional. Sangat disayangkan bila tulisan-tulisan kita yang cukup banyak hanya diterbitkan di jurnal lokal yang tidak terindeks di level internasional. Apakah indeks itu? Indeks itu seperti google, bedanya google akan mencari seluruh data di dunia yang berhasil dia tangkap, sementara indeks ini hanya data yang dia akui keberadaannya, misalnya google scholar, scopus, dll. Tentu saja kita memilih indeks yang diakui dunia seperti scopus, thomson, dan minimal diakui oleh DIKTI.

Beberapa rekan saya menanyakan bagaimana cara mudah mempublish paper kita? Saya sempat kaget juga karena yang bertanya adalah rekan dosen senior yang pangkatnya jauh di atas saya. Sebenarnya mereka sanggup membuat paper dan mempublishnya hanya saja ada beberapa kendala yang menghadang, terutama dari sisi bahasa dimana bahasa Inggris menjadi satu keharusan. Kendala lainnya adalah waktu dan mental. Untuk masalah waktu, sepertinya sudah tidak begitu menghambat mengingat pemerintah sudah menyadari hal itu dengan memberikan tunjangan profesi lewat sertifikasi dosen sehingga mengurangi dosen yang “ngajar sana ngajar sini” atau “proyek sana proyek sini” sehingga dapat fokus ke riset dan penulisan. Tinggal masalah mental yang menurut saya harus dibenarhi.

Saya sudah setahun lebih jadi gelandangan di negeri orang, mengais-ngais ilmu yang berceceran, dan cukup kaget dengan adanya perbedaan kultur antara negara kita dengan negara lain. Entah mengapa sesuatu yang sulit di negara kita menjadi mudah di negara lain. Mungkin bukan sulit, melainkan dipersulit. Ego para dosen di Indonesia sangat tinggi dengan tingkat subjektivitas yang kebangetan. Cerita dari rekan-rekan saya jika dua dosen (bahkan ada yang ditambah kata “kubu” di depannya) muncul persaingan atau perselisihan, yang jadi korban adalah mahasiswa bimbingan. Karena terjadi bertahun-tahun ada sedikit trauma barangkali sehingga jika ada sedikit “senggolan” langsung terasa “sakitnya itu di sini”. Oke, jangan ambil pusing .. itu obatnya.

Submit Paper itu Gratis !

Kata-kata penolakan bagi dosen/mahasiswa di negara lain merupakan kata yang biasa, tetapi bagi dosen dan mahasiswa di Indonesia adalah kata yang “luar biasa” menyakitkannya. Akibatnya adalah kekecewaan yang mendalam dan menghalangi untuk mencoba kembali. Yang paling parah adalah melampiaskan kekecewaannya kepada yang lain (rekan dosen/mahasiswa), istilah yang terkenal “balas dendam”. Tapi jika diperhatikan dengan kepala dingin, apakah ketika submit paper kita keluar uang? Tentu saja tidak. Apakah penolakannya begitu saja? Tentu juga tidak, ada keterangan dan hal-hal yang harus diperhatikan. Ini kan ilmiah, bukan hal-hal lain di negara kita dimana kritik berupa hinaan dan cacian tanpa ada saran perbaikan.

We have now completed the review of your submission “A Web-GIS Based
Integrated Optimum Location Assessment Tool for Gas Station Using Genetic
Algorithms .” . We regret to inform you that your paper was not selected
for publications in …..

Kata-kata di atas merupakan kata standar untuk penolakan terhadap paper yang kita submit. Memang ketika membaca “sakitnya itu di sini”.. he he (makanya tulisan di atas saya buat format ‘center’ agar seperti puisi). Tapi jangan berhenti di situ, terus perhatikan di mana letak kesalahannya.

Too many grammatical mistakes. For example:
“Database is important to GIS because it store,
manage, process, and organize both raster data
(images) and vector data (points and lines). We use
postgresql with its relational characteristic and open
source.”

Tulisan di atas adalah hanya salah satu contoh dari reviewer kedua. Banyak lainnya yang kemudian saya perbaiki satu persatu. Kesalahan grammer yang menjadi kendala karena bukan bahasa asli kita sebenarnya dapat kita atasi dengan bertanya ke rekan kita yang lebih mahir. Jika semua telah diperbaiki coba submit lagi ke penerbit lainnya.

Based on the recommendations of the reviewers and the Program Committee, I am very pleased to inform you that your paper #1570036001 (‘A Web-GIS Based integrated Optimum Location Assessment Tool for Gas Station Using Genetic Algorithms’) for **** has been accepted

Jangan lupa untuk mengecek jurnal/conference yang dituju apakah terindeks di indexer terkenal agar memudahkan paper kita dicuplik (sitasi/cited) oleh penulis lain dan akhirnya meningkatkan kualitas paper kita (cited per document). Selamat mencoba !

Maraknya Grup Kenangan Lama

Munculnya grup-grup yang beranggotakan orang-orang dengan kenangan masa lampau membuat saya jadi ingin menulis pengalaman ketika waktu kuliah dulu. Era 60, 70, dan 80-an menurut saya merupakan era yang unik karena pada era itu di negara saya sudah tidak ada perang, baik perang kemerdekaan maupun efek dari perang dingin yang diakhiri dengan peristiwa G-30 S. Kondisi negara yang mulai stabil dan membangun menghasilkan individu-individu yang punya kenangan manis, berbeda dengan era sebelumnya yang cenderung lebih banyak kenangan pahitnya.

Peminat group-group jadul saat ini kian marak dengan munculnya social media seperti facebook, twitter, dan sejenisnya. Dulu di televisi sempat bermunculan acara-acara lagu khusus lagu lama yang cukup banyak diminati oleh pemirsa. Bahkan salah satu group facebook tentang era 80 dan 90 an memiliki banyak member yang bernama Hits From The 80s & 90s.

Pakaian Jadul

Cerita menarik sempat saya alami ketika saya mau ujian sidang sarjana di jurusan mesin UGM. Sempet panik ketika mendadak syarat sidang harus memakai jas dan dasi, tetapi reda ketika sahabat saya memberitahukan bahwa ia bersedia meminjamkan jas yang menurut dia cukup bagus dan ukurannya pas dengan saya, karena memang ukuran baju saya dengan dia sama. Jika dia pas, tentu saja saya pas. Salahnya saya adalah saya tidak melihat terlebih dahulu jasnya tersebut.

Alhasil di hari “H” saya mengambil jas yang ia pinjamkan di kos-kos annya di daerah blimbing sari, pinggiran UGM. Waktu itu saya belum tahu model-model jas, setahu saya semua jas itu sama. Ternyata jas teman saya itu adalah warisan dari bapaknya, tahun 70-an. Ya ampun, apa boleh buat, toh bagus juga menurut saya. Saya datang ke kampus, karena stress dengan persiapan sidang, saya tidak terlalu memperhatikan pakaian, teman-teman saya pun tidak mengusik jas yang saya kenakan. Jas tersebut “terlalu pas” menurut saya, karena jika di bilang sempit, tidak juga tetapi jika dibilang kebesaran tidak juga karena di bagian tertentu serasa sempit (paha atas dan perut) tetapi di bagian lain kebesaran seperti di bagian bawah celana panjang.

Tak apalah, toh rapi menurut saya. Bagi rekan-rekan saya tidak jadi masalah tetapi bagi dosen-dosen penguji saya yang hidup di era 60 dan 70-an tentu saja tidak asing. Walaupun mereka tidak mempertanyakan, tetapi tampak senyuman di wajah-wajah mereka. Untungnya, dengan jas seperti itu sepertinya mereka sedikit sungkan untuk “membantai”, mungkin hanya dosen pembimbing saya saja yang “membantai”, walau menurut saya itu hanya taktik dia untuk mencari perhatian dosen penguji yang lain. Dan, Alhamdulillah .. sidang berjalan dengan lancar. “Selamat untuk sahabat baik saya .. Anda telah sukses “ngerjain” saya”, pikir saya dalam hati.

Selang beberapa bulan kemudian, giliran rekan saya yang sidang. Ternyata saya baru tahu kalau dia juga tidak mengenal jenis-jenis jas yang ada, dan tidak bermaksud “ngerjain” saya. Saat mampir ke kos-kosannya ketika saya mau melegalisir ijasah, dia bercerita lucu. Ternyata kebetulan sekali, yang menjadi dosen pembimbing dia adalah dosen yang menjadi panitia sidang saya dulu. Sebelum sidang dimulai, dia berkata “Tunggu dulu .. kayaknya saya pernah lihat Jas seperti ini dah waktu sidang”. Dia bercerita bahwa wajahnya sempat pucat karena malu. Akhirnya sidang dimulai dengan membahas masalah jas jadul. “Pak .. teman saya yang minjem jas, ini punya saya, warisan dari bapak”, protes temanku ketika diduga jas tersebut meminjam dari saya .. ha ha.

with herwan

Karir Sebagai Dosen

Jika terdengar di telinga kata “dosen” ketika saya masih sekolah dulu, yang ada di benak saya adalah seseorang yang kerjaannya berfikir keras dan mengajarkan sesuatu yang sangat sulit bagi anak didiknya. Saya yakin tidak ada yang punya keinginan untuk jadi dosen. Walaupun dulu saya bercita-cita ingin jadi profesor, tetapi profersor yang saya maksud adalah orang yang bisa menciptakan robot atau alat canggih yang sering muncul di film kartun dulu.

Ketika saya memilih jurusan mesin di Universitas Gadjah Mada dulu, tujuan utama saya sebenarnya sederhana, setelah lulus kerja, berumah tangga, punya anak, dan seterusnya. Bahkan tawaran dari departemen ketika saya kuliah untuk menjadi dosen di sana (walau masih berstatus mahasiswa), walaupun dengan syarat IPK yang tidak perlu tinggi-tinggi serta adanya ikatan dinas ketika sedang kuliah (waktu itu sekitar 300-an ribu untuk uang tunjangan bulanan) tidak ada yang berminat. Karena di samping pengumuman itu, ada juga pengumuman dari Astra International bahwa alumni yang memiliki IPK di atas 3.00 bisa langsung masuk tanpa tes. Tentu saja banyak mahasiswa yang memilih bekerja dari pada menjadi dosen (walaupun berstatus Pegawai Negeri Sipil).

Tahun Kelam

Terjadinya krisis moneter di tahun 1998 mengakibatkan banyak PHK masal di Indonesia. Beberapa alumni yang sudah bekerja di perusahaan di Indonesia banyak yang datang ke kampus untuk bekerja sebagai dosen. Tentu saja pihak kampus menerima walaupun akhirnya distop karena jumlahnya yang terlampau banyak. Waktu itu saya di akhir-akhir kuliah, dan sempat diajar oleh korban PHK, waktu itu dari PT Astra. Tiap ada bursa selalu diserbu oleh para lulusan kampus yang di ranking baik versi luar negeri maupun versi akreditasi masuk nomor satu di Indonesia selalu dibanjiri oleh pelamar. Waktu itu saya sendiri termasuk dalam kategori tersebut.

Kondisi lebih parah lagi ketika di Jakarta dimana persaingan bukan hanya dari kampus saya, melainkan dari seluruh kampus terkenal di Indonesia, waktu itu saingan terberat adalah UI dan ITB. Beberapa lulusan banyak yang banting stir, bekerja di luar bidangnya. Waktu itu saya berfikir betapa borosnya uang negara yang habis dipakai untuk subsidi mahasiswa kampus negeri tidak terpakai ilmunya. Ada satu penyelamat waktu itu, yaitu karir sebagai dosen. Waktu itu dosen saya pernah bilang tiap mahasiswa teknik disubsidi pemerintah 6 juta pertahun (sebagai perbandingan uang kuliah waktu itu 500 ribu pertahun).

Kebangkitan Perekonomian

Ketika krisis tentu saja menjadi dosen pun tetap sulit walaupun tidak terjadi PHK besar-besaran seperti di industri atau perkantoran. Walaupun penghasilannya menurun drastis tetapi tetap bisa bertahan. Untungnya perekonomian Indonesia mulai bangkit dan banyak berdiri institusi-institusi pendidikan yang membaca peluang karena melihat banyaknya sarjana-sarjana yang menganggur. Dengan mudahnya mereka merekrut dosen baru walau tanpa diberi status yang jelas, asalkan diberi honor yang sesuai dengan jam mereka mengajar mereka pasti menerima. Saya sendiri termasuk dalam kategori tersebut. Jujur saja status dosen saya waktu itu tidak bisa disamakan dengan dosen-dosen universitas negeri, atau minimal universitas swasta terkenal.

Munculnya kampus-kampus seperti ruko mungkin efek dari melimpahnya sarjana-sarjana yang belum terserap di dunia kerja. Anda mau buka jurusan apapun, tenaga pengajar selalu tersedia, jika tidak ada, boleh menggunakan praktisi ataupun PNS dan bahkan pensiunan. Untuk lebih jelasnya dapat dibaca pandangan Prof Rhenald kasil yang diposting di kompas dengan judul “Naiknya Harga Dosen“.

Namun sepertinya pemerintah membaca gelagat yang tidak beres dari kondisi seperti ini. Diawali dari rendahnya publikasi ilmiah dari dosen dan peneliti di Indonesia (seperti biasa, Malaysia jadi patokan) serta banyaknya penyimpangan-penyimpangan di institusi pendidikan memunculkan kebijakan keras dari pemerintah yang cukup menghancurkan kampus-kampus dadakan dengan munculnya aturan (sekitar 2010 mulai diberlakukan kalo nggak salah):

  1. Dosen Minimal S2
  2. Rasio Dosen 1: 30 atau 40
  3. Dosen tidak boleh sekaligus sebagai guru

Program Percepatan Doktor

Pemicu kebijakan ini menurut saya diawali dari kebijakan dari DPR untuk menaikan anggaran pendidikan sebanyak 20% yang jika tidak ada program yang tepat, tidak akan terpakai semua. DIKTI yang merupakan bagian dari KEMDIKBUD segera mencari cara untuk meningkatkan pendidikan yaitu dengan beasiswa dan tunjangan profesi. Beberapa dosen diberangkatkan ke luar negeri untuk studi lanjut (kebanyakan S3 dan beberapa S2 untuk yang masih berusia muda / calon dosen). Saya sendiri termasuk dalam kategori tersebut.

Gelombang demi gelombang keberangkatan dijalankan dan karena beasiswa berasal dari pemerintah dengan ikatan dinas tertentu, yang telah lulus kembali ke tanah air dan mengabdi. Ternyata diperoleh kualitas yang cukup baik jika dosen menempuh studi lanjut di luar negeri. Sementara itu di dalam negeri, DIKTI kian ketat menjalankan aturan yang ada, baik dari sisi usia dosen, bahkan hingga pengajar yang akan membuat NIDN harus disertai slip gaji bukti bahwa yang bersangkutan bukan dosen “cabutan” serta adanya tes potensi akademik (TPA) dan Toefl (bahasa Inggris). Pegawai-pegawai (biasanya swasta) yang namanya dipinjam sebagai dosen terpaksa harus studi lanjut atau tidak menjadi dosen lagi dengan aturan tersebut. Atau pegawai-pegawai yang menolak untuk berbohong bahwa ia bekerja full time sebagai dosen di suatu institusi menolak meneruskan menjadi dosen, atau memilih meninggalkan pekerjaannya dan memilih menjadi dosen. Saya sendiri termasuk dalam kategori tersebut, memilih menjadi dosen dan meninggalkan jabatan koordinator lapangan IT Bank Danamon wilayah Utara.

Penghargaan Pemerintah Kepada Dosen

Bayangkan dengan keluarga yang sudah memilki anak, tetapi dengan gaji dosen sepertiga dari gaji ketika menjadi pegawai waktu itu merupakan pertaruhan yang sulit, bahkan saya sempat mengalami sesak nafas karena beban fikiran. Untungnya karena adanya hibah-hibah penelitian, serta dihargainya kepangkatan, waktu itu sedikit membantu dan banyak waktu untuk melakukan riset kecil-kecilan karena jumlah waktu untuk nyambi mengajar di tempat lain bisa dikurangi tanpa khawatir kekurangan. Bahkan beberapa buku telah saya terbitkan dengan royalti yang cukup karena sebenarnya saya hanya memindahkan apa yang saya ajarkan ke dalam wujud buku (tanpa terlalu bekerja keras).

Beberapa kasus korupsi terjadi di institusi-institusi pemerintahan, bahkan kementerian hukum dan HAM hingga Kementerian Agama pun ditemui kasus korupsi. Namun kementerian pendidikan walaupun ada sedikit kasus pengadaan alat praktikum yang terjadi korupsi, namun karena sistem yang mulai tertata dan aturan-aturan yang ada mulai ketat, dunia pendidikan di Indonesia mulai bergerak maju. Beberapa hal yang membantu antara lain:

  1. Adanya Tunjangan Profesi (SERDOS)
  2. Hibah-Hibah Penelitian dan Pengabdian
  3. Diperluas kesempatan untuk Studi Lanjut (dalam dan luar negeri)

Naiknya Harga Dosen

Jadi memang benar apa yang dikatakan oleh Prof. Rhenald Kasali, bahwa harga dosen mulai naik. Beberapa rekan saya yang mengajar di tempat saya nyambi sebagai dosen honorer satu persatu pindah ke kampus-kampus yang memberikan penghargaan yang layak terhadapnya. Sebenarnya bukan hanya uang yang mereka cari, penghargaan dan diakui sebagai dosen merupakan salah satu faktor juga yang menyebabkan transfer dosen dari satu kampus ke kampus yang lain. Saya sendiri termasuk dalam kategori tersebut

Kampus jika tidak dipimpin oleh pimpinan yang mampu membaca peta atau arah pendidikan nasional akan kesulitan, terutama meramu seluruh kekuatan yang ada baik dari sisi dana, kurikulum dan sumber dayanya. Para dosen pun mulai berani dan sadar akan kekuatan yang selama ini masih berupa potensi.

Aturan baru tentang jumlah SKS untuk S2 dan S3 sedikit banyak juga bisa mencegat aksi kampus yang memaksakan untuk menambah rasio dosen dengan melulus cepatkan mahasiswa S2- nya, apalagi yang swasta. Dengan jumlah SKS sebanyak itu mengakibatkan masa tunggu untuk memperoleh calon dosen dengan syarat minimal (S2) jadi sedikit bertambah, belum lagi jika kampus itu memiliki program pasca sarjana yang mutlak harus berpendidikan S3.

Kisruh Dana Beasiswa

Harga dosen yang sudah naik menurut Profesor dari UI seperti diutarakan di atas mungkin menjadi “lebih naik lagi” manakala dosen-dosen yang sedang menempuh pendidikan S3 di luar negeri mengalami kesulitan dana beasiswa (terlambat), seperti curahan hati dosen-dosen penerima beasiswa seperti dapat anda baca dari blog-blog mereka, misalnya rekan saya Ahmad-hamid yang mengambil studi di Jepang. Bahkan yang lebih parah lagi adalah curahan hati dari benua di selatan kita, Australia, yang kesulitan karena lewatnya masa batas beasiswa S3 yaitu tiga tahun yang dia tumpahkan di kompasiana. Ketika menulis ini, lagi-lagi Saya sendiri termasuk dalam kategori tersebut (cuma telat dikit sih).

Pergantian pemerintahan yang kebetulan terjadinya kisruh ini semoga lebih baik lagi tertata di pemerintahan yang akan datang, amiin.

Yuukk … siapa yang mau jadi dosen 😀