Mining the Web – Bidang Yang Kian Penting Saat ini

Menurut Prof. Rhenald Kasali, beberapa perusahaan ternama akhir-akhir ini jatuh secara tiba-tiba karena fenomena “disruptive”. Fenomena ini merupakan bagian dari konsep “the invisible hand” dari Adam Smith kira-kira se-abad yang lalu. Tapi fenome disruptive muncul karena kejatuhannya yang tiba-tiba tanpa adanya gejala-gejala, ibarat serangan jantung, perusahaan-perusahaan raksasa tumbang mengenaskan. Laporan keuangan yang ok, tidak ada indikasi penetrasi atau serangan dari pesaing, tapi entah mengapa tiba-tiba ditinggalkan konsumen dan hancur. Di sisi lain, digrebeknya grup saracen yang berbasis online, dipenjaranya seorang gubernur karena rekamannya yg beredar online, tokoh aliran tertentu yang masih menunggu diperiksa, dan hal-hal lainnya mewarnai dunia digital di tanah air.

Dulu sempat mengajar e-commerce dan data mining tetapi tidak begitu membahas masalah dampaknya di masyarakat. Ternyata sangat besar. Konsumen mulai bergeser dari offline menjadi online (elektronik). Demo besar-besaran perusahaan taksi ternama di tanah air merupakan suatu sinyal akan adanya perubahaan perilaku konsumen dari offline transaction menjadi online. Dari sisi data mining, yang saya ajarkan (maupun buku yang diterbitkan) hanya berfokus ke database konvensional saja (bukan berbasis web). Oleh karena itu, upgrade ke versi web untuk mendukung terapannya dalam e-commerce sepertinya harus dimulai.

Ketika main ke perpustakaan, saya menjumpai buku lama terbitan 2001 yang membahas data mining pada web. Tahun-tahun itu merupakan tahun mulai berkembangnya riset-riset berbasis web yang hasilnya adalah aplikasi-aplikasi yang banyak dijumpai oleh orang-orang seperti sosial media, entertainment, dan sejenisnya. Berikut intro yang sari sarikan dari buku tersebut.

E-Commerce

Sesuai dengan namanya, e-commerce menjembatani antara produsen dengan konsumen lewat kanal/saluran baru yaitu transaksi elektronik, itu saja. Tetapi ternyata dengan pemanfaat media online dampaknya sangat besar walaupun tidak ada yang berubah dari sistem produksi, penentuan harga, laproan penjualan, dan sebagainya. Hal-hal yang membedakannya adalah kemampuan media online untuk menyediakan layanan yang cepat dalam menawarkan barang lewa “search engine”nya dalam bentuk rekomendasi, mampu mengingat history seorang pelanggan di waktu yang lampau, dan mampu secara cepat mengontrol persediaan barang mengikuti tren pemesanan barang oleh konsumen. Itu saja sudah cukup menghajar pemain-pemain lama yang tidak sadar akan bahayanya lengah terhadap media elektronik online.

E-Media

Selain perdagangan barang real, ternyata media terkena imbas dari media online. Mungkin mereka bisa bertahan karena karakter media yang tajam dalam melihat gejala-gejala adanya suatu fenomena, sehingga beberapa surat kabar bisa dengan “smooth” beralih dari media cetak ke online. Tetapi tentu saja media online memiliki keunggulan dibanding versi cetak karena media cetak tidak bisa mengetahui siapa saja yang telah membaca berita di dalamnya. Media online bisa mengetahui berita-berita yang menarik minat konsumen sehingga di masa yang akan bisa menulis berita-berita yang disukainya itu. Selain itu, media online memiliki karakteristik khusus yang “custom” dimana konsumen bisa memilih berita mana yang ingin diakses, khususnya yang berupa video. Inilah sepertinya yang dikhawatirkan oleh televisi-televisi lokal yang berbasis gelombang frekuensi yang dalam satu waktu tertentu hanya menyiarkan satu acara tertentu. Tinggal menunggu iklan yang lewat, jika tidak ada yang beriklan sepertinya siap-siap mengucapkan kata “selamat tinggal” (mungkin masih bisa bertahan untuk kampanye pemilu).

E-Markets

Saya, atau mungkin kita, pernah kecewa ketika telah membeli sesuatu ternyata ada tempat lain yang menjual dengan harga lebih murah, sakitnya tuh di sini. Dengan e-markets beberapa situs telah menyediakan fasilitas yang membandingkan harga-harga produk, seperti tike pesawat, hotel, dan lain sebagainya. Konsumen tinggal menilai sendiri, cari yang murah atau yang mahal tapi lebih nyaman. Selain itu, situs e-markets bisa menawarkan sesuatu selain yang dibeli, sehingga lebih banyak kemungkinan barang yang berhasil dijual. Sebenarnya ini menguntungkan konsumen juga karena tidak perlu jalan atau naik ekskalator mencari produk tertentu, kecuali memang ingin jalan-jalan.

Brands/Merk

Ini merupakan hal penting yang menunjukan kualitas suatu produk terhadap konsumen. Dari jaman dulu, konsep tentang “branding” tidak berubah. Konsumen cenderung membeli produk yang telah dikenalnya lama. Kematian suatu merk terkadang mengindikasikan kematian suatu perusahaan. Namun saat ini kualitas merk sangat-sangat tergantung dengan media online. Dua kali kecelakaan pada maskapai MAS sudah cukup menurunkan brand maskapai itu. Dan sialnya lagi, maraknya media sosial terkadang menyediakan hoax-hoax yang mengganggu brand suatu produk. Oleh karena itu tiap perusahaan sepertinya menyediakan tim yang memantau pergerakan brand di media online.

Sungguh pembahasan yang menarik. Masih banyak aspek-aspek lain yang bisa dipelajari dari aplikasi web, seperti periklanan, target marketing, customer value, real time considerations, understanding customers and business processes, experimental design for marketing, dll. Semoga tulisan ini bisa berlanjut.

Ref

Linoff, G. S., & Berry, M. J. A. (2001). Mining the Web. United States of America.

 

Iklan

Bagi Dosen, Menulis Buku itu Mudah

Buku Teks/Ajar

Perlu diketahui bahwa ilmu itu dinamis dan terus berkembang. Jurnal yang terbit saat ini, setelah lewat mekanisme peer-review yang memakan waktu beberapa bulan hingga beberapa tahun, ditambah dengan proses publikasi yang terkadang antri, sesungguhnya sudah tertinggal beberapa tahun. Bagi mahasiswa S3 yang riset sebelum dijurnalkan berarti dua atau tiga tahun yang lalu. Jadi kemungkinan jurnal yang terbit saat ini adalah hasil riset lima tahun ke belakang (kira-kira). Jurnal itu sendiri masih belum pasti kebenarannya karena adanya perdebatan di antara satu penulis dengan penulis lainnya mengenai suatu problem tertentu. Sementara itu buku (buku teks dan buku ajar) adalah kumpulan ilmu yang diyakini sudah tidak diperdebatkan lagi ilmu-nya. Itulah sedikit perbedaannya walaupun sama-sama membahas ilmu pengetahun. Sebelum menjadi buku teks, biasanya kumpulan jurnal dengan tema tertentu dirangkum menjadi satu buku yang diisitilahkan dengan book section. Buku yang ditulis saat ini ada dua jenis yaitu buku terjemahan atau buku teks/ajar, yang biasanya berupa kompilasi dari beberapa buku rujukan lainnya.

Saya sendiri, mungkin pembaca juga, merasakan sulitnya membaca jurnal dibanding membaca buku teks. Begitu juga logikanya, lebih mudah membuat buku dibanding menulis jurnal hasil penelitian. Masalah terbesar bagi dosen adalah kurangnya waktu untuk menulis sebuah buku. Maklum dosen di Indonesia berbeda dengan dosen luar negeri dari sisi pendapatan. Mau tidak mau harus mengajar banyak jika ingin mencukupi kebutuhannya sehari-hari, terutama bagi dosen swasta seperti saya.

Mengajar Sambil Menulis Buku

Teman-teman kita sebenarnya adalah guru kita, sumber inspirasi kita, walaupun ada kelemahan dan kejelekannya menurut kita. Ketika belajar menjadi pengajar, saya melihat ada ibu-ibu dosen yang aktif menulis buku, saya tanya kenapa bisa? Maklum dia sendiri tidak memiliki laptop. Ternyata dia menjawab sederhana, setelah mengajar, biasanya ada waktu luang sekitar setengah jam, terutama untuk SKS yang besar. Waktu luang itu dia gunakan untuk mengetik buku di komputer kelas.

Kasus lain adalah rekan saya yang seorang instruktur lab. Karena seringnya mengajar suatu bahasa pemrograman, dia bisa mencicil menulis beberapa buku yang berhasil diterbitkan oleh penerbit terkenal. Satu hal keuntungan bagi pengajar yang menulis adalah bisa memahami langsung pembacanya, apakah mengerti atau harus ditambah lagi penjelasannya. Ibaratnya, umpan balik langsung diterima sebelum buku itu tercetak.

Satu Semester Satu Buku

Ketika mengajar data mining di satu kampus yang dimiliki oleh yayasan alumni jepang di daerah Jakarta timur, saya mencoba untuk mempraktekan apakah bisa membuat buku dalam waktu 6 bulan. Tidak ada salahnya mencoba. Saya siapkan peralatannya yaitu laptop dan bahasa pemrograman.

Kebetulan kuliah di dalam laboratorium sehingga siswa bisa langsung mempraktekan programnya. Tiap pertemuan langsung satu buat langkah-langkahnya. Awalnya saya membuat lengkap dengan kalimat penjelasan selain “capture” dari langkah-langkahnya. Tetapi ketika selesai kuliah, siswa langsung menyodorkan flashdisk. Ya ampun, di satu sisi saya ingin menulis buku, di satu sisi saya tidak tega menolak ketika diminta filenya. Oke lah, minggu besoknya saya hanya meng-“capture” tidak menulis penjelasan yang rencananya akan saya tulis nanti saja setelah kuliah selesai. Aneh juga, tidak ada yang minta filenya, mungkin mereka merasa percuma kalau hanya gambar. Ketika pertemuan ke-empat belas, ternyata lengkap jadi empat belas bab yang siap dicetak. Bagaimana dengan penerbit? Sebenarnya penerbit dan penulis itu saling membutuhkan, hanya saja terkadang sulit bertemu. Ada baiknya menjalin komunikasi dengan penerbit-penerbit.

Setelah proses editing, biasanya buku terbit kira-kira enam bulanan. Ternyata bisa juga satu tahun satu buku. Tetapi bila ingin bagus hasilnya (lebih detil, jelas, dan kompilasi dengan sumber buku lain), sebaiknya setelah pertemuan terakhir kuliah, diperbaiki lagi semester berikutnya dengan lebih detail sambil mengajar mahasiswa berikutnya. Sehingga cukuplah menghasilkan satu buku yang baik dalam waktu 2 tahun. Itu kalau satu mata kuliah, jika ada 3 mata kuliah maka ada kemungkinan menerbitkan 3 buku dalam kurun waktu tersebut. Oiya, salah satu keuntungan mengajar kampus swasta adalah kualitas siswanya yang kalau di kurva normal itu di “average” alias rata-rata. Jadi jika mereka jelas dan memahami materi buku yang kita tulis, sudah dipastikan akan dipahami juga oleh siswa lainnya.

Kewajiban Menulis Buku

Memang tidak ada kewajiban menulis buku bagi dosen muda. Tetapi untuk para profesor atau minimal lektor kepala, selain jurnal, buku juga bisa dijadikan syarat agar tunjangan (serdos/khormatan) diberikan. Jadi ternyata bermanfaat juga. Ketika saya mempublish jurnal, ada tawaran dari luar negeri untuk memasukan jurnal saya ke book chapter suatu buku. Tentu saja tidak langsung bisa dipublikasikan karena berbeda antara jurnal dengan buku. Buku harus bisa menjelaskan hal-hal kepada pembaca tanpa pembaca harus membuka referensi-referensi lainnya. Dengan kata lain, satu buku cukup untuk memahami satu topik tertentu, pembaca harus dijelaskan dengan perlahan-lahan dan detil karena tidak semua pembaca memiliki level pengetahuan yang setara dengan penulis.

Semoga kita sama-sama bisa menulis buku, baik ilmiah maupun buku populer. Oiya, masalah pajak, itu urusan pemerintah, kita ikuti saja karena manusia tidak luput dari dua hal: maut dan bayar pajak. Semoga sedikit bermanfaat.

Menjadi Pribadi yang Dinamis

Pemandangan asyik dipertontonkan oleh anak-anak timnas ketika berhadapan dengan Thailand di piala AFF U19 kemarin. Ditambah dengan komentator lucu bung Valen “Jebret” menambah riuh suasana pertandingan. Walaupun hasilnya sangat menyakitkan yaitu kalah 2-3 lewat adu pinalti, tetapi melihat dinamisnya serangan yang dibangun, ada sedikit harapan untuk masa depan timnas Indonesia. Gagal lewat serangan kelok 9, coba dengan lari tarutung sibolga, tapi tetap saja tidak bisa membuat prahara rumah tangga Thailand, olala. Oke, di sini dinamis menjadi kata kunci postingan saya ini.

DInamis dalam Kehidupan

Sesungguhnya sifat dinamis adalah sifat alamiah. Kumpulan dari serangkaian sifat statis. Manusia tidak luput dari sifat dinamis ini. Mulai dari bayi, anak-anak, dewasa, tua dan mati, membuktikan bahwa manusia adalah makhluk yang dinamis. Walaupun secara jasmaniah, kita dinamis, secara lahiriah tidak sedinamis lingkunan fisik. Terkadang mental lebih suka kenyamanan statis dibanding bertarung, berproses, dan karakteristik dinamis lainnya. Mulailah upgrade lahiriah kita, jangan sampai fisik dewasa tetapi cara fikir masih kanak-kanak. Tidak ada cara lain untuk mengupgrade mental, selain dengan terus belajar.

Membaca

Banyak cara belajar, lewat demonstrasi, diskusi, menonton, dan membaca. Satu hal yang membedakan dengan hewan adalah membaca. Apa bacaan yang dibaca? Tentu saja hal-hal yang ingin diketahui dan informasi penting. Bagaimana dengan sosial media? Bukankah itu membaca juga? Sebagai informasi negara kita masuk dalam kategori pengguna terbanyak sosial media (facebook, twitter, G+, whatsupp, dll) seperti dirilis oleh situs ini. Bolehlah kita menggunakannya untuk berinteraksi dengan teman, untuk diskusi, dan pertukaran informasi lainnya. Tetapi, sosmed yang biasanya ramai menjelang pemilihan umum itu, terkadang tidak berfungsi untuk mencari informasi melainkan untuk pembenaran apa yang telah kita pegang selama ini. Pengguna cenderung membaca sesuatu yang sudah menurutnya benar, tidak ada keseimbangan dengan membaca informasi dari lawannya, itu pun kalau dibaca. Kebanyakan bahkan hanya membaca judul yang terkadang dibuat dramatis dan jauh dengan isinya.

Membaca informasi lewat rujukan yang benar mutlak harus dilakukan oleh anak-anak kita. Mengapa anak-anak ditekankan? Karena mereka generasi yang menjadi sasaran era digital. Mereka memiliki sifat kritis yang harus kita arahkan dengan benar. Anak saya terkadang menanyakan hal-hal tertentu yang menurut fikirannya agak aneh. Orang tua pun harus memberi penjelasan yang masuk akal, bila perlu menunjukan rujukannya. Jangan sampai terjadi seperti yang diberitakan bahwa seorang anak dari Indonesia tewas ketika ikut membela ISIS. Selain itu, variasi bacaan juga sangat penting. Tidak ada satu buku yang sempurna, harus disertai juga dengan buku-buku lainnya. Bahkan kitab suci pun didukung oleh sumber-sumber lainnya untuk membantu memahami kitab induk/utama-nya. Untuk melahap bacaan yang tebal-tebal tidak ada salahnya mencoba membaca cepat tanpa melewatkan informasi berharga dari bacaan itu (lihat diskusi tentang membaca cepat di post yang lalu).

Ketika memegang buku setebal ratusan bahkan hampir seribu halaman (yang biasanya saya gunakan supaya bisa tidur nyenak). Terkadang dalam fikiran bertanya, mengapa penulis bisa menulis sebanyak itu. Ketika membuka dan membacanya saya kagum juga bagaimana bisa menyusun kalimat dan memberikan informasi dengan rinci dan detil kepada pembaca. Berikutnya adalah tidak hanya membaca, sebaiknya kita bisa menulis pula. Pasti ada infomasi yang bisa dibagikan kepada orang lain. Bahkan, tulisan kita di blog pun bisa menginspirasi orang lain dalam tulisan ilmiahnya karena Google scholar mengakui sitasi jurnal terhadap referensi online.

Dinamisnya Dunia Akademis

Ketika melihat jumlah publikasi ilmiah negara kita kalah dengan negara-negara tetangga, Ristek-Dikti sangat geram dan menerbitkan Permenristek Dikti no. 20 tahun 2017 tentang pemberian tunjangan profesi dosen dan tunjangan kehormatan guru besar. Jika tidak mampu menerbitkan tulisan ilmiah dalam kurun waktu tertentu, tunjangan akan dicabut. Memang agak mengherankan, dengan jumlah personil yang besar tetapi memiliki jumlah publikasi yang tidak sebanding. Mengapa demikian? Menurut saya penyebabnya adalah tidak dinamis.

Ketika sedang S3, ada syarat untuk lulus harus mempublikasikan ide disertasi kita dalam satu jurnal internasional bereputasi (minimal diakui oleh kampus tempat kuliah). Namun ketika selesai dan kembali beraktifitas di kampus atau departement dimana si mahasiswa itu berada, tidak ada lagi keinginan meneliti dan menulis hasil penelitiannya itu. Dengan kata lain, tidak lagi se-dinamis ketika mengambil S3. Mental yang cenderung statis, harus dilawan, terutama para mahasiswa S3 yang sudah lulus agar terus meneliti. Saya sendiri, mempublikasikan tulisan ilmiah ketika S3 karena terpaksa dan semoga tulisan ini bisa mengingatkan saya nanti ketika selesai kuliah tidak mengikuti mental yang lebih suka masuk ke wilayah zona nyaman dan statis, melainkan terus dinamis mengikuti perkembangan IPTEK yang sangat pesat. Semoga postingan ini bermanfaat.

Membangun Lingkungan yang Mendukung IPTEK di Tanah Air

Peraturan Ristek-Dikti agar lektor kepala dan profesor menghasilkan publikasi pada jurnal internasional sedikit banyak membuat para dosen berfikir keras. Salut juga dengan para sesepuh yang masih bersemangat untuk berkarya lewat tulisan ilmiah. Walaupun di grup-grup WA yang saya ikuti banyak juga virus-virus negatif yang mengendorkan semangat, yang entah apa niatnya saya sendiri tidak tahu. Mulai dari mempertanyakan apa sumbangsih tulisan yang dibuat terhadap kemaslahatan masyarakat? Hingga tudingan kapitalisasme penelitian. Tidak perlu dijawab, ibarat pemain bola kita ikuti saja arahan manajer tim, toh tidak melanggar susila, larangan Allah, sang hyang widhi, jalan mulia berunsur delapan, dan lain-lain sesuai keyakinan kita.

Tulisan Ilmiah Sebagai Media Komunikasi Antar Peneliti untuk Perkembangan IPTEK

Bagi saya, tulisan ilmiah tidak lain dan tidak bukan adalah wujud keikutsertaan kita pada komunias keilmuan di dunia, apapun bidangnya. Bagi yang memprotes atau mempertanyakan manfaatnya, silahkan menyendiri dan tidak ikut komunitas dunia, tidak ikut mengembangkan ilmu. Sungguh tidak dapat dibayangkan jika ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia tidak berkembang. Jika tidak berkembang mungkin di masa yang akan datang ketika SMP seorang anak akan selesai sekolahnya karena ilmu sudah dikuasai semua, tidak ada hal-hal baru. Karena perkembangannya, suatu ilmu mungkin dulu level S3 sekarang turun jadi level S2, mungkin turun lagi ke level S1 atau bahkan SMA dan seterusnya. Jadi kalau ilmu tidak berkembang bisa jadi SMP sudah khatam. Beberapa postingan di facebook, atau di group (tidak semua postingan di grup abal-abal/hoax lho) menyebutkan peneliti-peneliti yang usianya makin muda, bahkan ada yang baru belasan tahun sudah jadi peneliti tingkat dunia akibat semakin mudahnya memperoleh akses IPTEK.

Menciptakan Lingkungan yang Baik untuk Perkembangan IPTEK

Negara kita harusnya terus melangkah, jangan perduli dengan omongan negatif rakyatnya yang tidak ingin maju. Memang penghasilan seorang dosen atau peneliti belum begitu menjanjikan jika dibanding profesi-profesi lainnya. Tapi satu hal yang terpenting adalah dinamikanya yang luar biasa. Ada kepuasan batin yang melebihi harta. Walaupun ada juga mereka yang statis, ditunjang dengan sikap sinis terhadap profesinya sendiri. Di sini saya sedikit mengeluarkan pendapat yang mungkin pembaca baru mendengarnya, dan mungkin juga tidak setuju.

Kita tahu bahwa negara kita adalah negara berkembang, dan sadar tertinggal dengan negara-negara maju lainnya. Dalam hal ini kita ambil satu sisi saja yaitu iptek dan dunia akademik. Pernahkah kita sadar bahwa banyak juga ilmuwan yang berasal dari negara kita? Muncul baru kemudian tenggelam, muncul lagi yang baru, dan seterusnya. Tetapi mengapa perkembangan IPTEK kita seperti jalan di tempat? Sangat sulit menjawab mengapa kita sedikit tertinggal (kalau malu mengatakan jauh tertinggal). Tapi harus tetap yakin pasti akan maju dan ilmuwan-ilmuwan baru akan bermunculan mengingat anak-anak muda yang saat ini mulai bersemangat terhadap IPTEK.

Kebetulan saya dapat kuliah gratis di Thailand, jadi sedikit bisa melihat perbedaan dengan negara kita. Di sana raja sangat memperhatikan pendidikan. Sarana dan prasarana sangat didukung, rakyatnya pun ikut mendukung, kecuali yang ingin di-cyduk karena protes melulu dan mengganggu. Walaupun dari segi otak, menurut saya masih kalah dengan rakyat kita tetapi mereka bisa menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan IPTEK. Apalagi jika dibandingkan dengan Inggris, Jepang, Jerma, Amerika Serikat, dan negara-negara maju lainnya yang dari pemerintah, LSM, industri, swasta, dan donor-donor lainnya sangat mendukung IPTEK dan juga dunia akademik. Dari sisi probabilitas, peluang munculnya ilmuwan di lingkungan yang cocok dengan IPTEK dan akademik jauh lebih besar dibanding lingkungan yang tidak mendukung. Dari sisi ‘gaib’, maaf bingung memberi istilahnya, jika tuhan ingin menghadirkan seorang ilmuwan, penemu besar, atau apa sebutannya, di manakah Dia akan menurunkannya? Tentu saja di negara yang mendukung IPTEK. Kalaupun ada yang “nyasar”, biasanya akan diarahkan ke negara yang mendukung baik bekerja di sana, pindah kewarganegaraan, dan sejenisnya.

Tidak ada cara lain, ciptakan saja wadah yang mendukung IPTEK dan akademik di negara kita. Cari orang-orang yang setia untuk mengembangkan lingkungan akademik yang baik, suatu saat jika sudah tumbuh maka Allah akan melahirkan para ilmuwan dan penemu-penemu besar tidak perlu jauh-jauh ke negara maju, cukup di Indonesia saja karena “perangkatnya” sudah ada (kampus yang baik, didukung oleh industri/swasta dan pemerintah). Jangan sampai kejadian yg belakangan muncul di facebook, seorang anak yang diterima di UGM, tidak jadi masuk karena ayahnya menyuruh si anak bantu kerja orang tua saja di rumah. Sebenarnya kita sudah pernah merasakah manfaat “mencipatakan suatu lingkungan” lho. Mengapa kita sampai saat ini selalu memunculkan bibit-bibit bulu tangkis? Selalu ada wakilnya juara di All England. Menurut saya karena kita sudah memiliki lingkungan dan perangkat untuk menciptakan atlet bulu tangkis kelas dunia, dimana tuhan akan menurunkan bibit pemain bulu tangkis di negara kita akibat sudah tersedia “perangkat” untuk menunjangnya. Seperti halnya sepak bola di eropa dan amerika latin, atau catur di Eropa timur. Jika pun satu waktu tertentu kalah oleh negara lain, tidak lama kemudian pasti muncul bibit baru lagi.

Semoga tulisan iseng ini sedikit bermanfaat dan memperkuat langkah di jalan terjal yang harus ditempuh oleh peneliti tanah air. Kita ciptakan lingkungan yang membuat tuhan menurunkan bibit-bibit ilmuwan di negara kita. (Bukan menciptakan lingkungan korup yang membuat tuhan menurunkan para koruptor di negara ini). Semoga pula Indonesia – “insulinde, putri cantik yang tidur sudah terbangun”, kata Van Deventer – tidak bobo lagi.

Jangan Terganggu dengan Banyaknya Alternatif

Siapapun pasti pernah memilih. Memilih teman, pasangan, jurusan kuliah, warna pakaian, hingga agama yang kita anut (walaupun jarang yang dari hasil memilih). Tentu saja pilihan pasti lebih dari satu, karena kalau hanya satu bukan pilihan namanya, walaupun sering diucapkan, “ga ada pilihan lain, apa boleh buat”.

Alternatif dalam Kehidupan

Pentingkah memilih? Tentu saja penting. Memilih itu sendiri merupakan suatu keterampilan yang harus dipelajari. Waktu pelajaran “engineering ethic”, yaitu kuliah terakhir sebelum wisuda dan wajib diikuti oleh para wisudawan fak teknik UGM, disinggung masalah “Skill” memilih ini. Disebutkan bahwa memilih harus diajarkan kepada seorang anak semenjak kecil. Walau nasehat itu terlambat, karena pendengarnya sudah pada gede, tetapi bisa diterapkan ke anak-anak kita. Dari memilih yang tidak terlalu penting, seperti warna, hobi, ekstra kulikuler, dan lain-lain, alangkah baiknya si anak diberi pilihan dan disuruh memilih. Kita hanya menjelaskan plus minus dan untung ruginya saja. Sehingga si anak nanti diharapkan ketika memilih hal-hal yang penting sudah terbiasa, termasuk menanggung resiko yang mungkin terjadi. Dan yang terpenting, jika sudah mahir memilih, si anak akan terhindar dari kondisi yang seperti saat ini terjadi, ketika pilihannya kalah (lurah, bupati, gubernur, atau presiden) berdampak ke emosinya, tak perduli dia sarjana, master, doktor atau bahkan profesor.

Alternatif dalam Science

Hampir lima tahun saya berkutat pada riset tentang optimasi, dengan algoritma-algoritma terkenal yang biasanya bersifat “heuristic” atau dikenal dengan istilah “evolutionary algorithms”. Algoritma yang bersifat mencari (searching) yang terbaik dari kandidat-kandidat yang mungkin. Di sini si algoritma harus bisa menyiapkan para kandidat-kandidat yang tidak lain adalah pilihan/alternatif. Bayangkan jika tidak ada pilihan, pasti algoritma ini tidak akan berjalan sebagaimana mestinya. Ngomong-ngomong tentang kandidat, kita sering mendengar istilah “kandidat doktor”. Sesuai dengan maknanya, maka seorang kandidat doktor adalah calon yang jika memenuhi semua syarat kuliah S3 maka berhak menjadi seorang doktor. Tentu saja jika tidak memenuhi maka tidak jadi doktor. Kampus memiliki pilihan-pilihan yang akan dijadikan alumni doktornya.

Perbanyak Alternatif

Banyak orang yang karena tidak terlatih memilih, lebih suka menjalani kehidupan yang lurus tanpa ada persimpangan jalan yang memaksa untuk memilih belok ke arah mana. Sesungguhnya banyaknya pilihan jauh lebih menguntungkan. Ketika hanya ada satu toko, kita terpaksa membeli di toko tersebut, dan selalu “nerimo” saja kualitas, harga, dan aspek-aspek ekonomi lainnya. Berbeda jika ada pilihan toko lain, maka kita bisa menentukan toko mana yang lebih menguntungkan dan lebih baik pelayanannya misalnya. Bagaimana jika hanya dua pilihan, yang kebetulan sama-sama tidak enaknya? Berdusta atau jujur tapi ada yang mati, misalnya. Mirip buah simalakama, dimakan mati ibu, tidak dimakan mati bapak. Hikayat berikut bisa menjadi contoh.

Di jaman dahulu kala, karena musim kemarau panjang, para petani tidak bisa menghasilkan panen. Salah satunya keluarga petani miskin yang tidak sanggup membayar hutang tuan tanah. Tuan tanah itu seorang duda tua. Petani itu memiliki seorang anak gadis yang masih muda dan cantik, yang sudah saatnya menikah. Karena bingung, akhirnya mereka bertiga mendatangi si tuan tanah. Ketika tiba di tempat si tuan tanah, mata duda tua itu takjub melihat si anak gadis petani, terlihat dari hidungnya yang kembang kempis (kayak ti pat kay, temennya sun go kong). Setelah si petani menjelaskan maksud kedatangannya yang belum bisa membayar hutangnya, si tuan tanah mengajak keluarga petani tersebut berkeliling rumahnya yang besar dan mewah. Hari menjelang sore waktu itu. “Tidak usah khawatir”, kata si tuan tanah, “semua masalah bisa diselesaikan”, lanjutnya. Tentu saja berbeda perlakuannya jika si petani miskin hanya datang berdua tanpa si gadis cantik itu. “Begini saja, kita main undian untuk hiburan. Saya akan ambil dua batu di taman yang berisi batu-batu hitam dan putih. Lalu anak kalian diminta mengambil batu itu”, jelasnya. “Jika anakmu mengambil batu berwarna putih, maka kalian pulang ke rumah dan saya anggap hutangnya lunas”, katanya. Si petani tampak bernafas lega. “Tetapi jika batu hitam yang diambil, maka anakmu harus menjadi istri saya tetapi jangan khawatir, hutangnya lunas, bagaimana?”. Si petani karena tidak punya uang terpaksa mengangguk menerima dua pilihan itu. Si tuan tanah dengan girang kemudian mengambil dua batu dan memasukkannya ke kantungnya. Banyak sekali batu berserakan di tempat tersebut. Si tuan tanah ternyata curang, dia memilih dua batu hitam. Si petani tidak sadar dibohongi, tetapi si anak gadis, karena matanya masih awas, melihat ketidakadilan itu. Namun dalam posisi yang lemah, dia tidak berani protes, dan hanya mengikuti saja permainan si tuan tanah. Ketika mengambil batu, gadis itu tersandung dan batu yang dia pegang dari dalam kantung terpental jauh, dan tidak kelihatan warnanya karena memang hari mulai gelap. “Maaf tuan, saya ceroboh dan tidak hati-hati”, katanya ketakutan. Si tuan tanah termenung berfikir. Sebelum si tuan tanah mengulangi lagi mengambil batu, si gadis berkata, “begini saja tuan tanah yang adil dan bijaksana, karena kita tidak sempat melihat warna batu yang saya ambil tadi, bagaimana jika kita lihat batu yang tersisa, karena pasti berlawanan warnanya dengan batu saya ambil barusan”. Si tuan tanah kecewa ketika memperlihatkan batu dalam kantung, yang tentu saja berwarna hitam. Artinya gadis itu mengambil batu berwarna putih. Itulah hasil kreativitas si anak petani yang berhasil menciptakan pilihan baru. Akhirnya mereka pulang dan hutangnya lunas.

Ciptakan Alternatif

Cerita di atas mengandung arti kita diminta untuk menciptakan alternatif-alternatif lain yang berpotensi bagus untuk dipilih. Ketika nabi diminta memilih antara berbohong atau seseorang akan dibunuh, dia menciptakan pilihan baru yaitu tidak berbohong dan sesorang tidak terbunuh. Hal itu dapat dilakukan dengan berbagai cara sesuai dengan kapasitas otak dan kreatifitas kita. Dalam riwayat disebutkan nabi ketika sedang duduk melihat orang yg akan dibunuh, dan ketika si pembunuh akan tiba, nabi berdiri. Ketika ditanya apakah melihat orang yang lewat, nabi menjawab selama dia berdiri di situ tidak melihat ada yang lewat (karena waktu itu beliau duduk).

Ketika semester satu, saya karena berbagai hal (tiba di negara tujuan terlambat, kurang adaptasi, dll) mendapat nilai yang buruk sekali. Ingin pulang tidak mungkin karena beasiswa sudah disetujui, jika lanjut terus maka kemungkinan besar drop out. Munculah alternatif ketiga, pindah jurusan ke yang lebih mudah, tapi tetap dalam rumpun yang sama (informatika). Pilihan tersebut ternyata tepat, kandidasi bisa lolos (IPK minimal dan proposal riset). Namun demikian, saya melihat nilai buruk yang saya peroleh di jurusan sebelumnya merupakan berkah tersendiri, karena lebih lancar dibandingkan jurusan “sangar” yang sampai saat ini barengan saya belum pada beres syarat beratnya, yaitu publikasi jurnal berimpak faktor di atas satu, sementara saya yang terhitung tertinggal satu semester sudah beres. Milioner China, Jack Ma, mengatakan di antara tantangan-tantangan, ada peluang yang bisa dipilih. Sekian semoga menginspirasi.

My Library

Ref: Abbidhamma

Do It Yourself

Manusia adalah makhluk pembelajar. Bahkan kitab suci umat islam, Al-Quran, pertama kali menurunkan ayat tentang membaca (iqra). Sementara hadits-nya menyebutkan agar belajar dari lahir hingga liang kubur. Sangat sederhana pesannya: “jangan bodoh!”.

Ketika TK dan SD kita diajarkan untuk melakukan hal-hal yang orang dewasa lakukan seperti disiplin, memakai sepatu, baju, menulis, membaca, memasak, dan lain-lain. Ketika sekolah menengah, kita diajarkan dasar-dasar keahlian yang minimal untuk bekerja, seperti pekerjaan kantor, mereparasi piranti elektronik, dan sejenisnya. Dengan kata lain dari TK hingga proses wajib belajar, SMA, dilatih untuk melakukan hal-hal penting secara mandiri. Istilah yang saya lihat di page yang banyak dishare di facebook, “do it yourself”. Berikutnya saya singkat menjadi DIY.

Mengamati riwayat pendidikan saya dahulu dan pendidikan anak-anak saya kini, sepertinya ada pergeseran prinsip DIY. Era 80-an dan 90-an sepertinya era dimana anak-anak waktu itu dipaksa untuk melakukan segala hal secara mandiri. Berbeda dengan saat ini dimana information technology (IT) sudah berkembang dengan pesat, membuat siswa terlampau manja karena banyaknya fasilitas bantuan (help). Bahkan ketika kuliah terakhir saya, laptop dan handphone merupakan barang terlarang ketika ujian. Karena dengan google, seluruh pertanyaan dapat dijawab. Bukan hanya bantuan IT, terkadang orang tua pun ikut serta memanjakan anak. Bahkan ada anekdot dan meme, jika dulu siswa nilainya buruk, orang tua akan memarahi si anak, tetapi sekarang malah si guru yang dimarahi. Ada kejadian ketika anak saya mendapat nilai buruk di mata pelajaran komputer. Tentu saja ibunya sewot, bagaimana mungkin si anak tidak bisa komputer padahal orang tuanya dosen komputer. Akhirnya iseng saya tes, ternyata ya ampun. Saya ingat ketika ikut pengabdian masyarakat yaitu mengajar pemilik yayasan panti anak cacat, mereka yang manula kesulitan memegang mouse dan keyboard. Begitulah anak saya yang kagok ketika menggunakan mouse dan keyboard. Wajar saja mendapat nilai jelek. Kalo menggunakan tablet atau joystick sih jago banget.

Bagaimana dengan pendidikan pasca SMA? Untuk D3, S1, dan S2 sepertinya tidak ada masalah. Mengapa? Karena semua materi ada rujukannya (buku, jurnal, website, dll). Tinggal tingkat ke-“kepo”-an kita saja yang menentukan, “bagaimana membuat ini?”,”bagaimana membuat itu?”. Semua ada jawabannya. Jika malas baca, tinggal liat video tutorial di youtube. Untuk S2 agak sedikit ribet karena harus membandingkan antara satu metode dengan metode lainnya. Nah, untuk yang S3 agak sulit. Karena selain harus membandingkan, harus pula menekuni satu metode untuk menemukan hal baru yang menambah kemampuan metode itu (parameter, hibrid dengan metode lain, and much more). Atau menggunakan satu metode dengan skala yang lebih luas atau di wilayah/domain baru (syukur-syukur bisa menemukan metode baru). Rujukan pun tidak ada karena hal yang baru (mungkin di belahan dunia lain sedang dikerjakan juga pada saat yang sama oleh siswa S3/peneliti lain).

Nah, untuk yang saat ini sedang ingin lanjut ke S3, ingat pesan ini, “do it yourself”, alias bekerja/riset mandiri. Dosen pembimbing pun tidak memiliki jawaban, dia hanya bisa mengarahkan dan memperkenalkan senjata-senjata apa yang dibutuhkan untuk mengupas nanas agar menjadi rujak .. lho kok?

Sustainable Development – Part 2

Dalam bahasa Indonesia, sustainable development (SD) diartikan sebagai pembangunan berkelanjutan (post ini sebagai kelanjutan dari postingan terdahulu). Sesuai dengan namanya, yaitu pembangunan yang bukan hanya memenuhi kebutuhan generasi sekarang, melainkan juga generasi yang akan datang, istilah resmi yang dirumuskan oleh World Commission on Environment and Development (WCED) pada tahun 1987: “Development that meets the needs of the present without compromising the ability of future generations to meet their own needs”.

Banyak definisi-definisi lainnya antara lain oleh Turner (1988): ” In principle, such an optimal (sustainable growth) policy would seek to maintain an “acceptable” rate of growth in per-capita real incomes without depleting the national capital asset stock or the natural environmental asset stock”. Istilah yang cenderung ke arah ekonomi dan lebih menjelaskan istilah “needs” pada rumusan WCED. Sementara itu Conway (1987) menjelaskan sustainable development: “The net productivity of biomass (positive mass balance per unit area per unit time) maintained over decades to centuries”. Istilah ini cenderung ke arah carryng capacity, ukuran kecukupan kebutuhan berdasarkan jumlah populasi dengan suplai/produksi untuk kebutuhan populasi tersebut. Terakhir disertakan pada postingan ini yaitu istilah dari Sen (1999): “A sustainable society is one in wich peoples’ ability to do what they have good resason to value is continually enhanced” yang lebih mengarah ke aktualisasi sosial. Namun semua memiliki kesamaan yaitu melihat aspek keberlanjutan pada masa yang akan datang. Istilah-istilah di atas diambil dari buku “An introduction to sustainable development” karangan (Elliott, 2013).

Mengapa SD penting? Biasanya sesuatu yang penting itu jika diabaikan akan menimbulkan malapetaka. Begitu juga dengan SD, jika tidak diperhatikan, generasi yang akan datang akan menanggung akibatnya. Ada baiknya menilik sejarah. Rostow pada tahun 1960 memperkenalkan konsep perkembangan suatu negara yang dimulai dari tradisional, berlanjut ke agraris dan industri berbasis agraris, manufaktur, industri skala besar, dan terakhir berbasis layanan-layanan yang bersifat mendukung kemakmuran. Tentu saja idenya berasal dari perkembangan negara-negara eropa yang ternyata ketika beralih dari agraris ke industri cenderung merusak lingkungan.

Untuk itulah pada tahun 70-an sudah ada diskusi-diskusi yang membahas SD guna menanggulangi dampak lingkungan dari industrialisasi. Biasanya jika suatu negara mengabaikan aspek lingkungan, negara-negara lain akan mengucilkan negara tersebut. Tetapi perkembangan berikutnya ternyata bukan hanya satu negara yang merusak lingkungan, melainkan gabungan beberapa negara (nuklir, efek rumah kaca, dll). Akhirnya mau tidak mau perlu diadakan pertemuan khusus pada tahun 1987 oleh WCED dengan tema “Our common Future” yang dilenjutkan pada tahun 1992 di Rio, Brazil (Eart summit) dengan hasil berupa dokumen dengan nama Agenda 21.

Repotnya istilah SD sendiri berkembang mengikuti perkembangan jaman. Bahkan kebutuhan generasi yang akan datang pun tidak bisa kita paksakan sesuai dengan generasi saat ini. Krisis ekonomi 98 dan 2008 sendiri membuktikan kegagalan neo-liberal, dimana kebebasan berusaha bisa berbahaya jika negara tidak ikut campur. Beberapa perusahaan diambil alih negara, bahkan oleh negara pencetus liberal itu sendiri, Amerika Serikat. Bagaimana dengan Indonesia? Hmm sepertinya sebagai orang IT, sulit juga saya menjawab. Tetapi mengingat krisis-krisis kemarin, alangkah baiknya negara mulai memperhatikan bisnis dan perdagangan, jangan dibiarkan bebas (liberal), berbahaya. Pengusaha kalau rugi, paling kabur, nah kalau negara gimana? Kabur juga? Kabar terakhir beberapa BUMN, seperti Garuda Indonesia, Krakatau Steel, mengalami kerugian (tidak ada untung), dan tugas Ibu Sri Mulyani tambah berat sepertinya. Apalagi saham Freeport 51% akan segera dikuasai yang tentu saja harus untung (masak baru diambil alih dilepas lagi).

Kalo gitu kita ganti bacaan aja, pusing soalnya membahas bidang sosial. Baca buku-buku kuno optimasi dan fuzzy dulu ah, mumpung masih berstatus mahasiswa dan banyak buku-buku offline. Baca buku online (ebook), lama-lama mata perih.

Ref:

Elliott, J. A. (2013). An Introduction to Sustainable Development (4th ed.). London: Routledge.