Arsip Kategori: Automotive

Melihat Kinerja Riset Kampus dengan SINTA

Salah satu pengindeks lokal negara kita adalah SINTA. Ternyata selain untuk melihat kinerja seorang peneliti juga bisa digunakan untuk melihat kinerja kampus. Caranya adalah dengan mencari berdasarkan Afiliasi institusi tertentu (kampus atau lembaga penelitian). Di sini akan saya coba buka kampus saya ngajar dan kuliah dahulu.

Pertama-tama buka situs SINTA. Kemudian masukan nama afiliasinya, misalnya “universitas islam 45” dilanjutkan dengan menekan simbol “search”. Dari hasil pencarian, tekan link yang ditampilkan untuk melihat secara umum (overview) institusi yang akan dilihat.

Tampak total sitasi berdasarkan “google” dan “scopus”. Untuk melihat pengarang-pengarang yang ber-“homebase” di institusi itu tekan “Authors” yang simbolnya kepala-kepala orang. Hingga saat ini proses registrasi sedang berjalan dan ada kemungkinan “score” bertambah dengan bertambahnya author yang terverifikasi.

Ada beberapa author yang belum memiliki ID Scopus yang diperoleh jika author pernah submit jurnal atau conference yang terindeks scopus. SINTA sendiri memiliki score yang dapat dilihat dengan menekan tombol “Score”.

Score yang lumayan untuk kampus kategori binaan. Saat ini sitasi “google” masih dipimpin oleh UGM sementara “scopus” dikuasai ITB, jika dilihat di menu utama SINTA.

SINTA selain menarik data dari google scholar dan scopus, juga data dari IPI atau yang dikenal dengan portal garuda. Karena menarik data dari portal garuda yang berisi jurnal-jurnal lokal baik terakreditasi atau tidak bisa juga digunakan untuk melihat kinerja suatu jurnal. Misalnya jurnal yang sempat saya buat tahun 2013 kenerjanya dapat dilihat dengan men-search di SINTA.

Tampak sitasi dan index yang masih nol. Semoga postingan ini bermanfaat. Kinerja di atas hanya sekedar ilustrasi dan masih sementara karena proses verifikasi masih berjalan. Jadi masih ada kemungkinan untuk bertambah, sekian.

Iklan

Virtual Machine dengan VMWARE

Postingan ringan kali ini membahas tentang mesin virtual (virtual machine). Mesin virtual di sini yang dimaksud adalah mesin virtual pengganti personal computer (PC). Mesin ini berjalan di dalam sistem operasi dengan memanfaatkan sumber daya yang ada pada suatu PC (prosesor, ram, vga, dan sebagainya). Beberapa pengalaman unik dengan mesin virtual akan saya share, siapa tahu bermanfaat bagi pembaca sekalian.

Berfungsi Sebagai Server Sementara

Ada pengalaman unik ketika saya masih bekerja di IT suatu bank swasta nasional. Jadi ceritanya ada pergantian PC Server cabang di tempat kerja saya dahulu, tetapi sistemnya sendiri belum dijalankan (tetapi sudah dipasang, server berbasis windows terbaru). Karena sistem saat ini masih menggunakan versi yang lama sementara seluruh PC server diganti yang baru, maka untuk sementara dipasang server virtual dengan versi yang lama karena proyek penggantian sistem yang baru belum dieksekusi.

Tadinya saya terkejut karena menggunakan server virtual untuk transaksi real. Tetapi setelah dijalankan ternyata tidak ada masalah karena walaupun virtual, data tetap real. Butuh tulisan yang panjang untuk membahas IT di perbankan, tetapi intinya mesin virtual layak dijalankan. Bahkan saat ini layanan cloud computing sudah biasa menggunakan mesin-mesin virtual, misalnya Amazon. Suatu server induk menyediakan layanan berupa server-server virtual untuk nasabah yang membutuhkan server untuk operasionalnya. Waktu itu yang digunakan adalah VMWARE yang ternyata gratis untuk playernya.

Multi-platfom

Untuk menginstal dua sistem operasi dalam satu mesin memang bisa dengan menggunakan dual operating system. Tetapi karena diinstal secara real, maka konsekwensi yang dihadapi juga real. Maksudnya adalah hardisk terpartisi, dan masalah-masalah sumber daya lainnya. Dengan mesin virtual, saya bisa menggunakan beragam sistem operasi dalam mesin virtual tanpa mengganggu sistem utama ketika tidak digunakan. Beberapa sistem operasi telah saya coba dari redhat, ubuntu, hingga yg berlogo kadal (saya lupa namanya, maklum banyak fikiran).

Masalah Driver

Saya memiliki scanner UMAX dengan driver berbasis windows xp. Ketika PC saya berganti windows 7 ternyata tidak bisa digunakan drivernya. Cari di internet ternyata tidak ketemu (walaupun ada yang berbayar tapi malas juga keluar duit lagi untuk barang lama). Akhirnya dari pada scanner tidak terpakai, saya gunakan saja mesin virtual ketika menjalankan scanner tersebut.

Masalah Kompatibilitas Program

Program jadul ternyata tidak bisa berjalan dengan sistem terbaru, walaupun biasanya ada fasilitas backward compatibility. Di menu windows ada pilihan kompatibilitas dengan sistem operasi yang lama, tetapi tidak semua berjalan. Kadang walaupun berjalan ada fasilitas-fasilitas tertentu yang tidak bisa beroperasi. Nah, dengan virtual machine masalah itu dapat terselesaikan.

Untuk yang seumuran saya mungkin ada yang kangen dengan games jadul, untuk sekedar mengenang waktu kuliah dulu. Banyak situs-situs yang masih menyediakan source game tersebut, tetapi harus dijalankan dengan versi OS yang cocok dengan saat itu, misalnya windows XP. Mesin virtual dapat mengatasi masalah itu.

Salah satu yang menjengkelkan adalah kewajiban menggunakan program access untuk laporan serdos yang hanya bisa dijalankan dengan OS 32 bit windows. Repot juga jika laptop/pc kita menggunakan OS 64 bit, seperti saya. Salah satu jawabannya adalah dengan menggunakan mesin virtual, beres sudah, duit cair, he he. Terakhir saya menggunakan mesin virtual untuk bikin seneng anak yang mulai gemar game sepakbola. Repot juga kalo harus keluar uang beli PS, mending instal game jaman dulu saya di mesin virtual, colok ke flat TV, pakai keyboard dan mouse wireless, beres dah. Asal mainnya dari jauh dan jam-nya dibatasi sepertinya aman dibanding main tablet, laptop atau gadget lainnya.

Land Use dan Land Cover dalam Riset

Banyak riset saat ini yang melibatkan Land Use/Cover (LULC). Riset tersebut termasuk kategori riset yang melibatkan banyak disiplin ilmu (inter/multi-discipline). Entah itu bidang pertanian, lingkungan, perencanaan kota, dan lain-lain, jika melibatkan LULC maka wajib mengetahui dasar-dasar Sistem Informasi Geografi (GIS). Termasuk saya yang meneliti optimasi data spasial terpaksa membutuhkan pembimbing dari jurusan remote sensing dan GIS (RS-GIS).

Persamaan dan Perbedaan Land Use dengan Land Cover

Ada persamaan dan perbedaan antara land cover (LC) dengan land use (LU). Persamaanya adalah keduanya membagi suatu wilayah dalam kelas-kelas tertentu, misalnya vegetasi, pertanian, sungai, dan lain-lain. Perbedaan mendasar adalah dari sisi pembagian kelas-kelas tersebut. LC membagi kelas-kelas berdasarkan sifat biofisika yang dapat diketahui langsung dengan image processing dari citra/foto satelit. Sementara LU membagi kelas-kelas berdasarkan bagaimana manusia memanfaatkan suatu lahan, misalnya untuk komersial, perumahan, industri, dan lain-lain. Jadi LC lebih umum dalam membagi dibanding LU. Built-up yang artinya wilayah tempat dibangunnya suatu gedung, merupakan pembagian berdasarkan LC, karena biofisika yang berbeda dengan vegetasi. Sementara built-up itu sendiri jika berdasarkan LU, yakni bagaimana manusia menggunakan lahan, bisa dirinci lagi menjadi perumahan, kesehatan, industri dan fungsi built-up lainya.

Riset yang Melibatkan LULC

Jika berbicara mengenai riset, biasanya kita berbicara mengenai publikasi dan sumber pendanaan. Terkadang keduanya tidak singkron, maksudnya dari sisi tujuan. Dari pengalaman yang saya alami sebagai pemula, perbedaan antara publikasi dan pendanaan hibah sangat signifikan dilihat dari keberhasilannya (accepted jurnal dan accepted pendanaan hibah).

Terkadang tema yang layak di jurnal (terutama jurnal internasional) sulit diterima jika diajukan untuk pendaan suatu hibah. Jurnal internasional membutuhkan kebaruan (novelty) sementara jika tidak ada kontribusinya langsung (terhadap masyarakat, pemerintah, dan pihak tertentu) biasanya ditolak. Sementara yang berkontribusi langsung walaupun tidak ada unsur kebaruan di dalamnya diterima. Oleh karena itu harus ada kompromi antara keduanya jika ingin diterima baik publikasinya ataupun pendanaan hibahnya. Apalagi saat ini pemerintah mewajibkan luaran hibah penilitian berupa jurnal internasional, tidak hanya laporan hasil dan purwa rupa-nya.

Untuk saat ini sebagai patokan riset yang melibatkan LULC agar diterima di jurnal internasional adalah cakupan study area. Rekan saya yang meneliti penyebaran hotspot/wifi beberapa kali ditolak naskahnya di jurnal internasional karena cakupan yang sempit. Untuk amannya, gunakan scope minimal suatu kota/district jika ingin mempublikasikan di jurnal geografi. Jika scope terlalu sempit, editor cenderung lebih santai dan tanpa usaha menolak naskah Anda. Langkah alternatif adalah mempublish di jurnal lain yang bukan geografi, misal untuk kasus di atas di jurnal Information and Communication Technology (ICT). Akhirnya rekan saya berhasil dipubliksh di jurnal itu, walaupun menghabiskan hampir dua tahun selalu gagal di jurnal geografi, sebelum beralih ke ICT.

Bagaimana dengan hibah? Tentu saja hibah harus memperhatikan kebutuhan dan keinginan pemberi dana. Namun, jangan melupakan kebaruan/novelty yang berpeluang ditemukan ketika melaksanakan proyek hibah tersebut. Jangan khawatir, walaupun perkembangan riset sangat pesat, masih banyak hal-hal tertentu yang masih buram dan harus diriset. Misalnya kita mengajukan hibah untuk mengelola sistem informasi geografis suatu daerah. Ketika melakukan klasifikasi dan penamaan, masih banyak kendala yang dihadapi para peneliti di dunia. Citra satelit yang dihasilkan mungkin tidak bisa langsung mengklasifikasi suatu built-up menjadi perumahan dan sejenisnya, nah itulah tugas Anda membuat kode/metode untuk membedakannya. Bukankah mata Anda langsung bisa membedakan antara daerah industri, sekolah dan perumahan? Jika mata kita bisa membedakannya kita tinggal membuat prosedur yang digunakan oleh model/sistem untuk secara otomatis “menebak” suatu bangunan itu perumahan ata bukan. Atau hal-hal lain dari hibah yang sudah diterima untuk dibuatkan jurnal internasional berdasarkan kebaruan yang ditemukan selama mengerjakan proyek hibah tersebut. Selamat meneliti, semoga tulisan singkat ini bisa menginspirasi.

 

Mindfulness

Hari ini ternyata hari “visacha bucha” yang merupakan hari libur di Thailand. Hari libur itu katanya merupakan peringatan terhadap kelahiran, pencerahan, dan wafatnya sang Budha. Facebook sendiri menginformasikan hari peringatan tersebut, khusus pengguna yang berada di negara-negara dengan mayoritas Budha sepertinya.

Saya sendiri yang muslim sangat menghormati bukan hanya ulama-ulama melainkan juga pemerhati-pemerhati spiritual agama lain seperti pendeta, biksu, dan lain-lain. Apapun ajarannya mereka berusaha menuju ke arah kebenaran. Postingan ringan kali ini tidak bermaksud membahas hari raya visacha bucha atau ajaran agama Budha, melainkan satu konsep unik dan menarik dari ajarannya yaitu mindfulness.

Mindfulness adalah keterampilan yang harus digunakan ketika bermeditasi atau dapat juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, walaupun agak sulit. Sepertinya penganut apapun boleh menerapkan mindfulness karena memang suatu keterampilan dalam mengisi kehidupan sehari-hari.

Apa itu Mindfulness ?

Waktu itu ada seminar penulisan artikel ilmiah di kampus saya kuliah. Pembicaranya saya tidak begitu mengetahui apa agamanya, mungkin Hindu karena berperawakan asia selatan. Gaya bicaranya tidak meledak-ledak tetapi enak didengar. Salah satu tip dan triknya untuk bisa berfikir dengan baik agar dihasilkan karya ilmiah yang bermutu adalah dengan mengelola cara berfikir kita. Dia menganjurkan untuk bermeditasi dengan konsepnya mindfulness. Mindfulness adalah suatu cara berfikir yang tetap menyadari apa yang terjadi saat ini. Yang disadari bukan hanya kondisi fisik di badan melainkan juga fikiran dan suasana hati. Prinsip dasarnya adalah berada pada saat ini, tidak terlalu hanyut dengan masa lalu dan atau mengkhawatirkan masa depan.

Tidak ada salahnya prinsip mindfulness dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari. Hasilnya tentu bukan hanya prestasi, tetapi hubungan sosial juga baik. Bandingkan saja, bagaimana perasaan kita ketika berdialog dengan seseorang yang fokus fikirannya saat ini dibanding dengan orang yang fikirannya ke tempat lain. Tentu kita akan nyaman dengan orang yang fikirannya ada pada saat ini, detik ini juga. Dosen yang sedang membimbing siswa pun akan optimal dan siswa merasa nyaman. Waktu yang ada menjadi efektif.

Menghindari Cari fikir Auto-pilot

Hampir kebanyakan kita menerapkan secara tidak sadar konsep auto-pilot ini. Maksudnya adalah ketika ketika melakukan suatu aktivitas baik mental maupun fisik, tidak menyadari apa yang sedang dilakukan atau difikirkan. Sebaiknya segera beralih dari prinsip auto-pilot ini karena selain tidak sadar (unconscious) juga melelahkan, terutama bagi Anda yang sedang sekolah atau kuliah (apalagi doktoral .. he he).

Tidak semua auto-pilot itu baik. Misalnya terhadap suatu kejadian di luar, kebanyakan kita cenderung menggunakan prinsip auto-pilot, yaitu bereaksi dengan cepat yang terkadang reaksi tersebut adalah negatif (marah, kecewa, dan sejenisnya). Teorinya mudah, tetapi ketika dipraktekan akan sulit sekali karena mudah sekali batin kita dipicu oleh rangsangan dari luar (biasanya dari panca indera).

Menyadari Batin

Mindfulness yang lebih sulit adalah menyadari batin. Untuk mengetahui lebih jauh, search aja “cittanupassana” dalam istilah pali-nya. Kalau saya sepertinya menyadari fikiran dulu saja sebagai dasar, sudah lumayan kalau bisa tetap dipertahankan setiap saat. Ketika prinsip ini dijalankan biasanya kekuatan mental bertambah, ngantuk dan lelah biasanya jadi jarang. Pengalaman tiap orang ketika mempraktekan mindfulness dalam kehidupan sehari-hari mungkin berbeda-beda, entahlah. Yang saya alami terkadang bukan hanya fikiran atau perasaan yang disadari melainkan juga rentetan peristiwa yang menyebabkan satu fikiran muncul bisa diketahui dan disadari. Misalnya ketika muncul kebencian yang tiba-tiba. Jika terbiasa mindfulness, terkadang bisa diketahui asal mulanya dari rentetan pemicu yang sepele dan tidak seharusnya jadi kebencian. Setelah disadari biasanya kebencian itu hilang, kecuali kalau masih auto-pilot yang dipakai. Kemunculan hal-hal tertentu datang dan pergi untuk selama-lamanya tetap harus bisa disadari. Jika fikiran yang meloncat-loncat seperti monyet sudah jarang terjadi, berarti keterampilan dalam mengelola batin sudah maju.

Demikian tulisan singkat, silahkan ambil yang baik dan buang yang tidak bermanfaat. Bahkan di barat sudah mulai diterapkan self awareness, silahkan liat video berikut (English).

Atau lihat animasi ini, singkat tapi jelas:

 Update: 19/5/2017

Ternyata visacha bucha itu hari raya waisak di Indonesia, hanya saja waktunya selisih sehari setelah visacha bucha.

Membaca (Lebih) Cepat

Postingan yang lalu sedikit disinggung alasan mengapa harus bisa memba cepat. Kali ini ternyata nemu referensi tentang bagaimana tip dan trik agar membaca lebih cepat dari sebelumnya. Waktu itu iseng-iseng ke perpustakaan kampus karena jenuh mengetik di kamar kos. Oiya, perpustakaan saat ini sepertinya sudah mulai berubah paradigmanya, dari tempat mencari sumber referensi menjadi tempat yang nyaman untuk membaca, berselancar, video conference, belajar kelompok dan sejenisnya. Karena untuk sumber referensi saat ini internet sudah mulai menggeser peran perpustakaan sendiri. Gambar berikut contoh salah satu bentuk perpustakaan di salah satu perguruan tinggi di eropa yang tanpa terlihat adanya rak buku (bookless).

Dan sasaran saya ke perpustakaan selain tempat “ngadem” dan berjam-jam ngutak-atik internet dan mengerjakan laporan adalah mencari buku-buku unik dan langka. Salah satu yang saya temukan adalah teknik membaca karya Harry Bayley yang berjudul “Quicker Reading” dan terbit tahun 1971, jaman periode pertama kampus AIT yang dipimpin oleh Milton E. Bender, Jr waktu itu.

Sudah cukup tua, sampulnya pun sudah terkelupas, tapi setelah saya baca lumayan juga banyak tip dan trik yang diperoleh dari buku tersebut. Isinya berupa tip dan trik singkat lalu dilanjutkan dengan contoh bacaan beserta pertanyaan bacaan. Kita diminta untuk mengukur waktu dengan stopwatch, tersedia di HP atau laptop. Kemudian kecepatan membaca sudah tersedia di tabel dengan satuan kata per menit (jumlah kata dibagu detik waktu dan dikali 60). Untuk pertanyaan, jangan sampai nilai kurang dari 60% benar. Tidak ada paksaan agar membaca cepat, karena targetnya adalah kecepatan bertambah dari sebelumnya.

Ada sekitar 12 trik yang dibahas dibuku tersebut (saya rangkum jadi 5 saja). Tiap bab berisi satu tip dan trik dengan dua latihan yang sepertinya bekerja dengan baik. Buktinya adalah kecepatan membaca yang terus bertambah, walaupun kecepatan saya tetap berada di “tarif bawah”, he he. Tapi ya wajar saja karena bacaannya bahasa Inggris mirip IELTS yg ada saat ini. Berikut ini satu persatu tip dan trik yang diajarkan buku tersebut (setelah bab membahas alasan meningkatkan kecepatan bacaan, proses yang terjadi ketika membaca, dan intro-intro lainnya).

1. Jangan Bersuara

Walaupun Anda seorang Rapper handal yang mahir berbicara cepat, tetap saja tidak akan melebih 200 per menit. Oleh karena itu mulai saat ini jangan mencoba untuk bersuara seperti anak SD membaca di depan kelas.

2. Jangan Berbicara dengan Diri Sendiri (Vocalization)

Berbicara dengan diri sendiri di sini maksudnya adalah mirip dengan no.1 di atas tetapi tidak bersuara melainkan bersuara di kepala. Ternyata walaupun tidak bersuara tetap saja bersuara dalam hati ternyata mengurangi kecepatan membaca kita. Berbicara dengan diri sendiri juga mengomentari yang sedang kita baca saat ini. Misal ketika membaca suatu nama, kita berpaling ke nama yang mirip dengan nama itu dan kehilangan fokus, dan ketika sadar kehilangan fokus, kita kembali lagi mengulangi membaca kalimat itu yang berakibat kehilangan speed. Sekali lagi, jangan terlalu terlibat dulu dengan menyimpulkan, anggap kita seperti spon yang mudah menyerap cairan informasi.

3. Jangan Melihat Kembali

Kalau kita berdialog dengan seseorang, tentu saja lawan bicara tidak nyaman jika kita sering meminta mengulangi apa yang baru saja dikatakan. Kalau sekali dua kali sih tidak apa-apa, kalau sering tentu saja mengganggu kenyamanan dialog. Begitu juga dengan ketika membaca, usahakan yang kita baca tidak kita ulangi karena akan memperlambat bacaan kita. Anggaplah buku itu orang lain yang kita ajak dialog.

4. Kamu dan Matamu

Agak kasar juga judulnya bagi orang jawa, “matamu”. Ternyata otak menerima informasi kata ketika mata berhenti bergerak. Makan banyak mata bergerak, speed akan turun. Bayangkan gambar di bawah ini, jika satu kalimat itu berhenti hanya dua kali (tapi mata bisa menjangkau di sekitar batas berhenti), maka lebih cepat dibanding tiap kata (seperti siswa SD) atau empat berhenti, mungkin karena kata yg sulit.

Ada tip dan trik yang diberikan dari buku tersebut yaitu kalau bisa tiga kata awal harus terjangkau di satu titik pemberhentian jika ingin memiliki sedikit stopping. Ada satu latihan jangkauan mata di salah satu bab (bab 11) yang mencoba mengukur jangkauan mata kita terhadap penggalan kalimat.

Jika ada lima rekan anda berdiri berjejer, Anda tentu dapat mengenal mereka tanpa meneliti secara detil satu persatu. Begitu juga ketika membaca, sebanyak mungkin jangkauan mata terhadap kata dalam satu titik berhenti (maksudnya bola mata diam). Coba latih membaca surat kabar yang berbentuk kolom-kolom dengan bola mata hanya bergerak turun, tanpa kanan kiri. Artinya satu perhentian bola mata menjangkau kiri dan kanan kolom bacaan.

5. Ritme dan Tingkat Kesulitan

Ciri-ciri membaca yang baik selain cepat adalah ritme yang pas, tidak lambat di awal, cepat di akhir atau sebaliknya. Membaca menjadi santai tidak melelahkan karena mengikuti kecepatan alamiah kita. Mungkin kalau ujian READING harus dipaksa cepat kali ya. Selain itu disarankan juga ketika membaca mirip ketika mengendarai kendaraan manual. Terkadang memindahkan gigi dari cepat ke lambat jika dijumpai kasus tertentu, apalagi ketika membaca “white paper” yang berisi tabel, grafik, dan sejenisnya selain kata/kalimat.

Demikian ringkasan dari tip dan trik membaca cepat. Dimulai dari mengurangi pergerakan kepala, vocalization, hingga meningkatkan jangkauan mata diharapkan mampu mempercepat membaca. Dan tentu saja harus sering-sering berlatih dengan membaca sebanyak-banyaknya sumber informasi. Semoga bermanfaat.

Outdoor Library with Acoustic Concert in AIT

Memaknai Beasiswa

Kemarin hari pendidikan nasional (HARDIKNAS), jadi teringat perjalanan beasiswa saya. Apa makna beasiswa bagi saya? Mungkin cerita singkat ini bisa menjawabnya.

Waktu itu tahun 2008, saya memutuskan untuk berhenti bekerja di konsultan IT suatu bank swasta. Suatu karir yang saya kerjakan bersamaan dengan mengajar di suatu kampus IT dekat tempat saya bekerja. Hal ini saya lakukan karena tidak kuat menjadi buruh “IT” yang bekerja lebih keras dari kuda, mengapa lebih keras? Karena bekerja sampai malam hari (kuda pun sudah bobok). Akhirnya saya fokus ke dunia kampus, menjadi seorang dosen dan mengharuskan studi lanjut ke jenjang strata dua, walaupun waktu itu masih diperbolehkan menjadi dosen dengan jenjang S1.

Studi Lanjut S2

Setelah mencari kampus-kampus tujuan, ketemulah yang terdekat yaitu kampus negeri terkenal di Indonesia yang ada di Jakarta. Daftarlah saya bersama dan bertemu dengan rekan-rekan dari seluruh Indonesia. Banyak juga ternyata, dan kebanyakan adalah praktisi-praktisi yang ingin upgrade ilmu. Selain itu banyak juga dosen-dosen seperti saya. Soal TPA dapat dilalui dengan baik, hanya saja test bahasa Inggris yang amat sulit, terutama di bagian pertanyaan bacaan yang saya sendiri heran, apa benar ada orang yang bisa mengerjakan soal tersebut dengan waktu yang cukup. Dua lembar halaman harus dibaca untuk menjawab soal yang diberikan dan karena bentuknya, tidak bisa dilakukan dengan skimming, metode baca cepat yang sering saya pelajari. Ada waktu jeda antar tes, dan saya lihat wajah pucat pasi para peserta test, banyak juga yang jadi kereta api, alias merokok untuk menghilangkan ketegangan.

Terakhir adalah wawancara yang dilakukan oleh dosen kampus tersebut. Di awal langsung mengatakan bahwa kampus tersebut tidak menerima beasiswa. Waktu itu saya dengar sambil lalu saja karena saya sendiri tidak berminat untuk memperoleh beasiswa. “Coba dengan biaya sendiri aja lah”, kataku dalam hati. Alhasil wawancara berhasil dan saya dinyatakan lulus. Banyak juga yang ditolak karena ketika wawancara sudah menyatakan bahwa mahasiswa tersebut tidak bisa mengikuti kuliah full, kata dia memberitahu saya ketika selesai wawancara. Maklum saja, dia bekerja di suatu perusahaan swasta yang terkadang ada job ke luar kota beberapa waktu lamanya. Dan sudah bisa ditebak, masalah muncul ketika menganggarkan untuk biaya kuliah, maklum kaki sekarang hanya satu pijakan, hanya mengajar di kampus. Berbeda dengan ketika bekerja sambil mengajar. Ditambah lagi harus memikirkan anak yang siap lahir, akhirnya saya melepas, alias mengundurkan diri. Mungkin untuk uang masuk dan biaya awal lainnya bisa tetapi jika untuk beberapa tahun agak berat juga. Rekan saya di kampus negeri lain yang menerima beasiswa biasanya dilakukan dengan cara “on-going” yaitu kuliah dulu baru mengajukan beasiswa, yang biasanya disetujui. Untunglah saat ini kampus negeri ternama itu bersedia menerima beasiswa, jadi bagi para anak-anak muda yang ingin kuliah di sana ada peluang kuliah tanpa bayar.

Kuliah Biaya Sendiri

Untungnya di kampus tempat saya mengajar buka prodi S2 baru dan dosen boleh mengikuti kuliah tanpa biaya dengan ikatan dinas, atau 50% tanpa ikatan. Untungnya saya memilih yang tanpa ikatan dinas. Jadi intinya bukan biaya sendiri sebenarnya melainkan hanya membayar setengahnya. Pilihan saya tepat karena ketika lulus di tahun 2010 saya pindah mengajar di kampus lain dekat rumah di Bekasi karena lelah bermacet ria di Jakarta, mengingat hampir tidak ada jalanan yang tidak macet dari Bekasi ke Jakarta. Salah satu keuntungan lain yang diperoleh dari S2 adalah menerima tunjangan sertifikasi dosen, lumayan, uang yang dikeluarkan sendiri untuk kuliah sepertinya terbayar sudah. Tentu saja berbeda kualitasnya antara lulusan swasta dengan kampus negeri, setidaknya “harga” ijasahnya. Namun toh belum tentu juga sih, saat ini kampus swasta tempat saya kuliah sudah melahirkan seorang Ph.D yang baru lulus dari Taiwan, dan semoga tidak lama lagi Ph.D yang lulus dari Thailand (he he). Mengapa kampus luar? Berikut ini alasannya.

Studi Lanjut S3

Ketika saya mengajar pertama kali, saya lihat rekan yang bergelar master, entah itu MT, M.Kom, MMSi, dan lain-lain masih jarang dan kalaupun ada sudah bisa dibilang “wah”. Akhirnya saya coba ambil master, dan setelah lulus banyak sekali master-master yang muncul, sehingga tidak “wah” lagi. Apalagi DIKTI mewajibkan dosen untuk memiliki ijazah S2. Saya yakin jika saya ambil doktor, yang saat berangkat (2013) masih jarang dan masih “wah” ketika lulus nanti sudah banyak dan tidak “wah” lagi. Dan kemungkinan Profesor menjadi sasaran berikutnya, atau setidaknya “perang doktor”, maksudnya bukan sekedar doktor, harus ada plus-nya, misalnya jumlah dan kualitas publikasi, lulusan mana (dalam/luar negeri), bidangnya (banyak doktornya atau yang langka), dan lain-lain.

Kampus Dalam or Luar Negeri?

Untungnya kondisi 2010-an jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Banyak beasiswa yang ditawarkan, bahkan DIKTI sampai mengembalikan anggaran karena hanya terserah 50 persen saja, khususnya beasiswa yang ke luar negeri (dulu namanya BPPLN). Mungkin dosen yang kebanyakan sudah berkeluarga seperti saya enggan untuk studi lanjut ke luar negeri dan meninggalkan keluarga karena istri yang bekerja juga. Bukan hanya beasiswa, DIKTI juga memberikan pelatihan dan IELTS cuma-cuma disertai biaya hidup untuk dosen, yang saya ikuti di Jogja dua bulan waktu itu. Hasilnya IELTS itu saya gunakan untuk mendaftar S3 di kampus tujuan.

Melihat dari pengalaman-pengalaman rekan yang memiliki ijazah s2 dari kampus lokal ternama agak kesulitan mendaftar S3 di kampus dalam negeri, membuat saya berfikir untuk terpaksa kuliah di luar negeri. Alasannya sederhana, ijazah yang dari kampus ternama, yang terakreditasi A saja sulit diterima apalagi saya. Lalu jika ijazahnya dari kampus ternama baiknya S2 dalam negeri? Ya tentu saja itu khusus orang-orang seperti saya yang bahasa Inggrisnya kurang lancar dan ada keluarga yang tidak bisa dibawa. Kebetulan waktu saya berangkat, keluarga yang ikut tidak ditanggung, walaupun di tahun berikutnya ditanggung 50%. Oiya, ada aturan waktu saya berangkat, usia maksimal untuk S3 ke luar negeri 47 tahun, sementara dalam negeri masih 50 tahun diperbolehkan. Adilkah? Mulanya saya fikir tidak adil tetapi ketika melihat langsung rekan saya dari mataram yang meninggal karena stroke di kampus ketika ujian MID semester di usia 50 membuat saya memahami mengapa usia 50 sebaiknya tidak kuliah di luar negeri.

Beasiswa itu Hutang atau Tidak?

Pertanyaan yang mudah dijawab. Beasiswa ya tentu saja hutang karena pemberi beasiswa mengeluarkan dana untuk membiayai kuliah. Setidaknya hutang budi. Tetapi biasanya pemberi beasiswa bukan seperti pemberi kredit bank, atau pembiayaan yang lain. Aspek yang diutamakan adalah bantuan sosial yang tidak melihat untung rugi atau balik modal. Akhir-akhir ini saya lihat banyak wacana bahwa karena beasiswa berasal dari APBN yang merupakan uang rakyat, maka penerima beasiswa harus memperhatikan itu. Bahkan disarankan untuk penerima beasiswa yang tidak kembali ke Indonesia untuk ditagih lewat debt collector, bahkan diancam untuk dibekukan paspornya. Saya melihatnya kok agak aneh. Sebagai ilustrasi, rekan saya yang diterima di kampus taiwan mengundurkan diri dari menerima beasiswa DIKTI karena ada tawaran beasiswa dari pemerintah Taiwan, lewat kampusnya, yang nota bene adalah dari negara lain dan tanpa ikatan. Saat ini yang bersangkutan sedang mengabdi mencerdaskan bangsa di kampusnya di daerah Purwokerto.

Tapi jika Anda berpendapat bahwa penting untuk bertindak tegas terhadap penerima beasiswa yang tidak balik ya silahkan saja. Untuk mengganggapnya sebagai kriminal juga tidak apa, itu urusan dan pendapat masing-masing. “Kan beasiswa berasal dari pajak rakyat”. “Iya, memang benar, saya juga bayar pajak”. Sama dengan jalan raya yang berasal dari pajak, tentu saya yang bayar pajak boleh dong memanfaatkannya. Tinggal kewajiban kita merawat jalan, menjaga kebersihannya dengan tidak buang sampah di jalan, sopan santun di jalan, dan lain-lain. Kewajiban penerima beasiswa juga begitu, kembali mencerdaskan bangsa atau ikut terlibat dalam pembangunan bangsa, dan tentu saja tidak korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang justru menurut saya jauh lebih nakal selaku ex. penerima beasiswa.

 

 

Menampilkan PDF di WordPress

Ketika kemunculan istilah multimedia di tahun 90-an, beberapa aplikasi yang tidak berdasarkan teknologi multimedia mulai tersingkir, salah satunya adalah media yang berbasis teks. Teknologi multimedia berbasiskan kombinasi dari beragam media selain tulisan antara lain: suara, gambar, dan video. Akibatnya aplikasi yang hanya berdasarkan tulisan mulai tertinggal. Akan tetapi ternyata teks masih menjadi andalan kebanyakan orang karena sifatnya yang mudah, ringan, dan masih digunakan search engine untuk mencari informasi.

Blog yang sempat booming, dengan istilah blogger yang dipelopori oleh blogspot, mulai ditinggal peminatnya yang beralih ke sosial media (facebook, twitter, instagram, dan sejenisnya). Ditambah lagi beberapa penyedia aplikasi robot yang agak curang, hanya berorientasi jumlah yang akses, menyontek, dan banyak juga yang berkonten pornografi. Namun demikian banyak juga blogger yang setia mengupdate blog-nya karena memang bertujuan sharing berbagai macam hal. Seperti halnya film dan musik yang rawan dibajak, tetap saja eksis karena parasit pun akan mati jika inang-nya mati. Ujung-ujungnya karya jalan terus pembajak pun jalan terus, tetapi jangan khawatir, karma tetap bekerja (bagi yang percaya). Yang penting niatnya tulus, untuk berbagi ilmu dan informasi penting.

Saat ini vlog sedang mengalami pertumbuhan dan tren yang meningkat akibat berkembangnya teknologi penyimpanan data sehingga kelemahan video yang membutuhkan storage yang besar dapat diatasi. Vlog memang mudah, jelas, dan tidak perlu mengetik panjang lebar. Dengan modal kamera, teknik penyampaian yang bagus, disertai dengan editing, dapat menghasilkan video yang menarik. Namun sifatnya yang serial mengharuskan pemirsa runut mengikuti alurnya, berbeda dengan tulisan yang bisa serial bisa juga random akses yang hanya mengakses info khusus yang dibutuhkan saja. Dengan mengintegrasikan tulisan dan video diharapkan mampu meningkatkan efektivitas blog. Silahkan kunjungi postingan terdahulu bagaimana meng-insert video dari youtube di blog.

Insert PDF dan SLIDE

Tidak semua yang mencari informasi gemar membaca. Terkadang mereka hanya membutuhkan informasi tertentu saja. Salah satu jenis presentasi yang cocok adalah slide, yang dimotori oleh Microsoft Power point. Untuk itulah maka sangat baik jika konten slide yang sudah diformat dalam bentuk PDF diintegrasikan dalam tulisan kita di blog. Beberapa informasi legal tertentu (undang-undang, pengumuman, daftar/list, dan lain-lain) mungkin perlu ditampilkan dalam bentuk PDF disertai viewer yang terintegrasi di blog. Beberapa metode berikut ini dapat dicoba.

1. Dengan Plugin WordPress

Terus terang saya belum mencoba metode ini. Beberapa tutorial di Youtube sudah banyak beredar. Kebanyakan plugin yang tersedia berbayar.

2. Dengan Slideshare

Slideshare merupakan aplikasi web yang menyediakan fasilitas untuk sharing slide. Bukan hanya slide, ternyata PDF juga dapat digunakan. Slideshare merupakan aplikasi pendukung situs pertemanan linkedin. Masuk ke situs resmi slide share, dan Anda upload PDF atau slide yang akan diinsert pada blog. Atau lihat video tutorial ini.

Berikut adalah tampilan Pdf viewer dari Slideshare. Cocok untuk Slide karena ada tombol “next” untuk pindah slide.

3. Dengan aplikasi penyimpan (onedrive)

Aplikasi penyimpan, misalnya one drive, selain memiliki fasilitas penyimpanan, sharing file, juga memiliki fasilitas sharing file PDF dengan fasilitas embeded viewer. Pembaca akan membaca file PDF seolah-olah membuka pdf viewer dalam blog.

Berikut tampilan Pdf viewer bawaan One Drive. Bentuknya kontinyu, cocok untuk file bacaan karena tersambung terus. Tetapi untuk slide sepertinya Slideshare masih lebih baik.

4. Dengan Google docs dan lain-lain

Google docs juga memiliki fasilitas ini dan juga aplikasi-aplikasi lain yang banyak tutorialnya di internet.

Mempelajari Hal-hal Baru

Dunia selalu berubah, dan hanya satu yang tidak berubah yaitu perubahan itu sendiri. Jika tidak mengikuti perubahan maka pasti akan tertinggal. Beberapa perusahaan papan atas banyak yang mengalami kemunduran bahkan kehancuran karena kurang mengantisipasi perubahan-perubahan yang terjadi di era teknologi informasi yang cepat saat ini. Padahal beberapa tahun yang lalu perusahaan itu menguasai dunia. Dalam bukunya disruption, Prof. Renald Kasali membahas hal tersebut dan ada hubungannya dengan teknologi informasi yang berkembang pesat saat ini (lihat ulasannya di kompas). Sebenarnya bukan kita yang tidak maju, melainkan orang lain/pesaing jauh lebih pesat majunya. Henry David Thoreau berkata: Things do not change; we change.

Ketika lulus kuliah dan gagal melamar kerja di perusahaan-perusahaan besar, saya terpaksa banting stir menjadi dosen. Memang tidak dapat dipungkiri, karir dosen di jaman saya merupakan pilihan kedua (kalau bukan yang terakhir) dibanding bekerja di perusahaan-perusahaan swasta besar atau menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Tetapi saat ini sudah banyak mahasiswa yang berkeinginan menjadi dosen karena memang kesejahteraannya mulai diperhatikan negara (tunjangan serdos, riset, beasiswa, dan sebagainya) dan tentu saja harus berniat mencerdaskan bangsa.

Waktu itu di sekitar tahun 2002 teknologi masih belum terlalu berkembang seperti saat ini. Google pun masih meraba-raba arah perkembangannya. Salah satu MEDSOS yang saya ikuti baru “friendster”, itu pun pasif mengingat akses internet yang masih sulit saat itu. Dan menjadi dosen hanya butuh membaca buku pelajaran yang pernah dipelajari waktu kuliah dulu. Siswa pun sangat mengandalkan ilmu dan informasi yang kita miliki.

Begitu perkembangan teknologi informasi mulai terlihat, google yang waktu itu hanya berupa pencarian kata kini sudah menjadi andalan dalam menggali informasi yang dibutuhkan. Bagi dosen hal ini bisa menguntungkan tetapi bisa menjadi bumerang, terutama dosen-dosen yang kurang update (KUDET). Sialnya lagi saya mengajar di bidang informatika yang mengharuskan update terus, terutama teknologi-teknologi terkini.

Siswa SD pun bisa melakukan searching di google jika ingin mengetahui informasi tertentu yang bahkan guru-nya pun bisa jadi belum mengetahuinya. Seringkali saya diminta anak saya mencari informasi di google untuk PR dari guru di sekolahnya. Bagus-bagus saja menurut saya, karena bukan dari hasil pencarian/jawaban yang terpenting melainkan “keingintahuan” sebagai modal untuk mempelajari sesuatu.

Salah satu tokoh yang merupakan ikon dari kejeniusan adalah Prof. Albert Einstein. Einstein ketika sekolah kerap menjengkelkan guru/dosen karena keingintahuannya yang tinggi. Bahkan beberapa profesor menolak membimbing/menjadikan asisten karena sifatnya itu. Tetapi saat ini jangan khawatir, karena literatur-literatur banyak beredar di internet, dari buku, jurnal, blog, dan lain sebagainya sehingga tidak perlu banyak bertanya, tinggal searching saja. Mungkin hal-hal berikut ini yang sering saya lakukan bisa menjadi pertimbangan pembaca sekalian. Oiya, silahkan komentar di bawah jika kurang setuju atau ada hal-hal lain yang bisa ditiru.

Menguasai bahasa Inggris. Bahasa ini merupakan salah satu bahasa yang paling banyak digunakan di internet saat ini. Dengan menguasai bahasa ini maka sudah dipastikan kita dengan mudah mencari informasi-informasi yang ada. Jika Anda betah membaca translate aneh (dengan google atau sejenisnya) ya tidak apa-apa sih.

Membaca Cepat. Seberapa cepat kah kita membaca? Sulit juga mengukurnya. Tetapi bagi Anda yang pernah ikut ujian saringan masuk di kampus-kampus terkenal di Indonesia, misalnya universitas Indonesia, maka Anda pasti tahu seberapa cepat kita dituntut memahami suatu bacaan. Saya sendiri sempat berfikir waktu mengikuti test TPA, terutama bagian reading, apa benar ada yang bisa menjawab dengan cepat tulisan beberapa halaman itu (dalam bahasa Inggris). Mungkin memang itu tuntutannya, sepertinya UI tidak mungkin asal bikin soal tanpa mengukur kecepatan membaca calon siswa yang dites.

Menulis dengan Cepat. Mungkin ada yang tidak setuju, tetapi saya sudah menerapkannya dan cocok. Dengan menulis cepat, Anda otomatis membaca dengan cepat pula. Berbeda dengan membaca menulis membutuhkan manajemen yang rapi. Anda mungkin membaca cepat, tetapi jika bukan penulis yang cepat, saya yakin Anda kurang bisa melakukan manajemen terhadap informasi yang masuk. Saya ingat ketika sidang tesis, penguji saya (pa romi), mengkritik saya karena tidak bisa menunjukan tulisan yang saya yakin pernah baca. Jadi tulislah dengan cepat informasi-informasi yang masuk ke Anda saat itu juga, karena otak/ingatan ada batasnya. Selain itu dengan kebiasaan menulis, Anda sudah terbiasa memahami pola-pola suatu tulisan dan mencari dimana letak-letak poin penting dari sesuatu yang Anda baca. Tentu saja jadi bisa mengetahui “amburadul”-nya tulisan siswa-siswa bimbingan yang tidak terbiasa menulis tetapi biasa copy-paste.

Multi-disiplin. Ini merupakan obat mujarab untuk saya yang kurang “brilian” dibanding rekan-rekan saya. Mula-mula saya masuk ke dunia Computer Science murni, dan sempat satu semester masuk doktoral ilmu komputer. Tetapi karena kurang kuat bersaing dengan anak-anak muda dari negara lain akhirnya saya memutuskan untuk pindah haluan ke Information Management yang lebih lebar karena bisa memasuki wilayah-wilayah (disiplin) ilmu yang lain. Ketika tidak sanggup berkontribusi terhadap bidang kita, kita bisa berkontribusi menggunakan bidang kita terhadap bidang lainnya, yang terkadang lebih membutuhkan. Di sini fikiran terbuka (open minded) sangat diperlukan, dan tentu saja seperti di saran kedua di atas, membaca cepat sangat dibutuhkan karena kita harus memahami bidang-bidang baru lainnya karena sifat multi-disiplin. Tentu saja jangan terlalu jauh dari core ilmu kita dan road map riset yang kita tekuni.

Rendah Hati. Ada pepatah yang mengatakan di atas langit ada langit. Artinya kita tidak boleh sombong karena mau tidak mau saat ini kolaborasi/kerja sama sangat penting. Lihatlah tulisan-tulisan ilmiah, pasti ada bagian reference yang berisi sumber-sumber referensi yang mendukung tulisan tersebut, selain tentu saja acknowledgement terhadap pihak-pihak tertentu. Pertukaran informasi saat ini mungkin bisa melalui hubungan orang per orang. Tidak semua bisa diakses lewat google. Bagaimana kita berhubungan dengan periset-periset lain sangat menentukan informasi yang kita terima. Beda dengan google apa yang kita minta selalu diberikan, dengan manusia sedikit berbeda karena ada faktor lain yang menentukan diterimanya suatu informasi penting, yaitu kerendahan hati. Bagaimana menggunakan bahasa yang baik sangat menentukan diterimanya kita di suatu komunitas/forum/millist bidang tertentu. Kerendahan hati juga mengandung arti bahwa kita merasa selalu sebagai pemula. Dan salah satu karakter pemula/beginner adalah mudah bertanya dan selalu ingin tahu.

Menikmati Kehidupan. Yang terakhir ini hanya tambahan dan iseng-iseng saja. Tetapi ini saya praktekan karena bermanfaat dalam implementasi prinsip keingintahuan di atas. Prinsip keingintahuan pada dasarnya membuat pertanyaan yang tidak diketahui kemudian mencoba mencari jawabannya baik lewat analisa, sintesa, uji coba, maupun men-searching dari sumber lain. Kalau Einstein yang ber-IQ 200-an sih tidak masalah, selalu bisa menjawab. Lha bagaimana dengan saya yang pas-pasan, makin banyak saya belajar, makin banyak pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa saya jawab (solved). Jika diambil hati bisa stres sendiri. Oleh karena itu, sebagai saran ya nikmati saja ketidaktahuan yang dialami, nikmati kehidupan yang ada, sebelum akhirnya, karena mungkin Allah kasihan, doa orang tua, doa keluarga, doa pihak kampus tempat saya bekerja yang kasihan ga lulus-lulus, entah mengapa muncul sendiri jawabannya .. waks.

Source foto: https://id.wikipedia.org/wiki/Albert_Einstein. Ternyata bukan photoshop ya.

Mencoba Lagi Publikasi Tulisan ke Jurnal

Buat tulisan santai dulua ah. Syarat publikasi jurnal internasional bagi mahasiswa doktoral adalah momok yang menakutkan. Syarat tersebut merupakan syarat yang “fuzzy” alias kabur. Bagaimana tidak, dengan jurnal berimpact di atas satu, dan juga harus disetujui oleh kampus (bukan jurnal abal-abal), mahasiswa harus dipaksa menemukan satu research gap agar diterima di jurnal yang dituju. Yang paling menjengkelkan adalah proses dari submit dan accepted yang tidak jelas, dari dua bulan hingga dua tahun (ini beneran lho). Padahal argo (biaya registrasi kuliah, uang makan, kos, dan tetek bengek lainnya) jalan terus. Saya menyaksikan sendiri rekan saya yang dua tahun hanya menunggu publikasi jurnal internasional, sungguh betapa meraih gelar Ph.D itu sangat sulit dan “menyakitkan”. Ups.. sorry, seharusnya tulisan blog menyemangati, bukan menakut-nakuti. Tapi tidak ada salahnya kan mengetahui pahitnya dahulu karena menurut yang sudah lulus, manisnya mengambil Ph.D mengalahkan pahitnya, sukanya mengalahkan duka-nya.

Tip dan Trik

Mempublikasikan tulisan di jurnal internasional (atau jurnal nasional terakreditasi), seperti orang melamar kerja, diterima syukur, ga juga ga apa-apa, yang penting sudah mencoba. Trik untuk melamar kerja juga bisa diterapkan untuk melamar jurnal. Pengelola jurnal sangat membutuhkan tulisan yang meningkatkan kinerja suatu jurnal, yaitu impact factor. Apa itu? Yaitu jumlah sitasi terhadap suatu publikasi tulisan. Jika suatu tulisan berpotensi disitasi oleh banyak orang, maka biasanya editor merespon positif. Sebaliknya, jika tidak maka ada dua kemungkinan, lama revisinya (beronde-ronde) atau yang paling sering terjadi adalah ditolak (rejected). Sebelum berangkat studi lanjut saya pernah diterima naskah tulisannya, tetapi kebanyakan ditolak. Akan tetapi sakitnya tuh … berbeda dengan ketika studi lanjut, karena seperti telah saya sebutkan di awal, argo tetap jalan (waktu terbuang menunggu jawaban). O iya, berbeda dengan melamar kerja lho, tinggal nyebar surat lamaran ke beberapa perusahaan sekaligus, untuk jurnal kita tidak diperbolehkan menyebar satu tulisan ke beberapa jurnal sekaligus.

Biasanya dosen pembimbing menyarankan mensubmit tulisan ke jurnal berimpact tinggi terlebih dahulu baru kemudian jika ditolak dikirim kembali (resubmit) ke jurnal dengan impact factor di bawahnya. Tapi saran saya, sebaiknya ke yang rendah terlebih dahulu karena targetnya kan segera lulus. Kecuali kalo pengen lama lulusnya ya silahkan. Sialnya, dosen pembimbing akan menolak ke jurnal dengan impact factor yang rendah, maklum para dosen pembimbing memiliki target untuk menaikan ratingnya (h-index, lihat tulisan tentang h-index) sehingga ingin siswanya publish di jurnal yang ber-impact tinggi dan karena namanya juga tercantum sebagai co-author maka otomatis naik juga jumlah sitasi tulisannya. Saran saya sebaiknya tidak serta merta menerima usulan advisor, tetapi tidak nurut akibatnya lebih parah lagi, karena ribut dengan advisor merupakan salah satu penyebab mahasiswa ga kelar-kelar, bahkan bisa drop out. Lalu bagaimana?

Tidak ada cara yang lebih baik selain teknik kampanye-nya caleg, cagub, dan cabup, yaitu janji-janji yang bombastis (lho kok?). Ketika mengetahui advisor mengincar jurnal berimpact tinggi, tentu saja saya segera mencari yang tinggi, tetapi tidak tinggi-tinggi amat, misalnya dua. Lalu langsung diajukan? Tentu saja konyol kalau cara itu saya lakukan, maklum otak pas-pasan. Cari jurnal berimpact rendah lainnya, misalnya satu. Jika sudah punya tulisan yang siap submit, buat lagi yang kedua sebagai cadangan secepatnya (tidak perlu sempurna) dan setelah selesai langsung mengajukan keduanya ke advisor. Masukan tulisan utama ke jurnal ber-impact rendah dan cadangan ke impact tinggi. Dan segera, sebelum dia menolak, katakan bahwa dengan mengirim ke impact rendah maka kemungkinan akan cepat publish dan tulisan kedua segera bisa men-sitasi jurnal pertama yang sudah publish tersebut, dan perhatikan apakah wajahnya menunjukan setuju atau tidak (biasanya retina membesar jika setuju/senang). Pada umumnya, mendengar “di-sitasi”, setiap peneliti yang sering menulis jurnal akan bahagia. Syukurlah, cara itu berhasil. Saya menulis teknik ini dengan enak, tetapi pada praktiknya sulit sekali, bahasa inggris (speaking) harus benar dan sopan, ditambah lagi mencari waktu yang tepat. Saya sering “kabur”, tidak jadi bertemu ketika melihat wajah advisor yang lagi tidak mood (tentu saja dari jauh, sebelum bertemu), walaupun sudah menunggu lama. Tidak apa-apa, lebih baik besok bertemu lagi dari pada hari ini bertemu tapi gagal total. Lalu?

Cari section atau special issue tertentu yang cocok dengan tulisan. Mengapa? Biasanya pengelola jurnal meng-hire academic editor beberapa bulan untuk mereview. Oleh karena itu dapat dipastikan proses accepted akan cepat, tentu saja rejected nya juga cepat (hi hi). Tapi tidak apa-apa kan, dari pada sudah lama, ditolak pula. Yang unik dari pengalaman saya adalah adanya ego keilmuwan. Yaitu ego suatu disiplin ilmu terhadap disiplin ilmu lainnya. Saya termasuk kategori multidisiplin, yaitu informatika yang meriset bidang environment dan GIS. Mengapa unik? Di sini saya mengajukan dua tulisan yang sama tetapi dengan dua judul yang berbeda tetapi tidak jauh berbeda isinya di jurnal yang sama, yang pertama ditolak tetapi ketika mengubah judul dan sudut pandang dari sisi keilmuwan jurnal yang dituju (environment dan GIS) akhirnya diterima. Tentu saja dengan susah payah melawan pertanyaan reviewer.

Dengan judul bernada IT ditolak tetapi dengan nada Urban environment lolos di jurnal yang memang tentang urban. Tapi mungkin faktor lain, bisa saja, doa orang tua, amal ibadah, dan lain-lain. Akhir kata, janji kampanye saya waktu minta persetujuan publikasi waktu itu pun ditagih, advisor meminta publikasi kedua. Alhamdulillah, karena syarat lulus minimal satu publikasi, jadi publikasi kedua tidak wajib dan boleh setelah lulus. Tidak apa-apa kan, yang penting janji kampanye tetap dipenuhi lho.

Belajar Mengetik dengan Typing Master

Awal tahun 90-an merupakan perkenalan pertama saya dengan mesin ketik manual. Untuk mempelajarinya perlu satu mata pelajaran khusus, ketika itu masih SMP, yaitu keterampilan mengetik. Pelajaran yang cenderung membosankan itu, dimana kita mengetik huruf-huruf aneh dengan posisi jari tertentu, ternyata sangat bermanfaat. Bahkan saat ini dimana internet menjadi kebutuhan pokok, kecepatan dalam mengetik masih jadi andalan, walaupun saat ini tulisan, suara, dan gambar sudah menjadi satu dalam bentuk multimedia.

Berbeda dengan jaman mesin ketik manual yang sangat mengandalkan fisik, seperti kertas dan tinta pita, saat ini dengan kehadiran komputer, belajar mengetik lebih efisien dan sangat menyenangkan. Salah satu perangkat lunak untuk mengetik yang terkenal dan gratis adalah typing master yang dapat diakses di link berikut ini. Selain modul belajar disertai test mengetik (dengan statistik performa), aplikasi tersebut berisi game yang mempercepat proses belajar mengetik, khususnya untuk anak-anak. Mengapa anak-anak? Karena anak-anak belum “tercemari”. Maksud dari tercemari di sini adalah mengetik “sebelas jari”, istilah dari mengetik hanya dengan telunjuk kanan dan kiri.

Sangat disayangkan jika mahasiswa ilmu komputer/sistem informasi kurang terampil mengetik. Bahkan di jepang sendiri, mahasiswa S1 di tahun-tahun pertama ada mata kuliah pelajaran mengetik. Silahkan mencoba aplikasi tersebut, atau mungkin pembaca mengetahui aplikasi-aplikasi lainnya yang lebih oke, mohon dikabari. Mungkin di awal-awal, ketika mengikuti teori yang benar terasa lamban, kalah dibanding dengan rumus “sebelas jari”, tetapi percayalah, ketika terbiasa maka Anda akan mengetik cepat tanpa melihat keyboard, sering diistilahkan dengan mengetik buta.

If – then – Else dalam Kehidupan

Ternyata banyak hal-hal menarik dari dunia ilmu komputer yang bisa dijadikan solusi terhadap masalah dalam kehidupan kita. Salah satunya adalah konsep if-then-else. Bagi yang sudah belajar pemrograman pasti memahami fungsi logika itu yang membuat komputer berbeda dengan alat hitung lainnya seperti kalkulator, sempoa, dan sejenisnya. Sedikit banyak postingan ini bermaksud menganalogikan fungsi dalam komputer tersebut dengan kehidupan manusia.

Sehebat apapun suatu aplikasi jika tidak memiliki if-then-else akan berhenti (hang) ketika tidak sanggup menghitung atau memproses suatu kondisi di luar kriteria. Tentu saja tidak akan ada yang tertarik dengan aplikasi tersebut. Dengan if-then-else, suatu alur proses akan diarahkan ke kondisi lain jika dijumpai kondisi yang tidak sanggup atau diluar spesifikasi yang ada. Dalam kehidupan juga sering kita jumpai orang-orang hebat yang gagal menghadapi if-then-else karena memaksakan diri dan enggan mengambil jalur lain. Berapa banyak perusahaan-perusahaan yang dahulu besar, kini hanya tinggal nama karena ketidaksanggupan menghadapi kondisi kritis yang membutuhkan if-then-else.

Kita mungkin bukan orang besar, atau bekerja di perusahaan besar tetapi jika sanggup menghadapi kondisi yang membutuhkan if-then-else, maka bisa jadi kita tidak hanya sekedar survive, malah bisa meningkatkan kinerja tempat kita bekerja, atau membantu pihak-pihak lain. Karena kita semua tidak mungkin hidup tanpa kondisi yang memerlukan peralihan, keluar dari jalur, mencari alternatif, dan ide-ide kreatif lainnya. Entah profesi kita sebagai pelajar, pegawai, dokter, dosen, atau yang lainnya pasti menghadapi kondisi yang membutuhkan if-then-else ini. Mungkin dengan kadar yang tidak terlalu beresiko, atau bisa saja tetap bertahan tetapi dengan kondisi yang agak dipaksakan. Jangan-jangan memang kita diminta menjawab if-then-else: harus beralih profesi, pindah ke tempat kerja yang baru yang bisa mengembangkan dan mengaktualisasi diri kita, atau hal-hal lain yang mengharuskan kita “berbelok”.

Kita sering menghadapi kondisi yang meminta kita memilih jalur lain di luar jalur yang semestinya. Jika merasa tidak pernah menjumpai hal itu, justru malah sangat berbahaya menurut saya. Mungkin Anda bisa sukses dan berhasil dengan mulus, tetapi belum teruji untuk kondisi tertentu. Dalam dunia teknik dikenal dengan istilah robust yang artinya tangguh. Tangguh dalam artian tetap berfungsi normal ketika menghadapi kondisi extreem yang diluar kondisi normal.

Terkadang sistem yang sederhana tetapi tangguh lebih bisa diandalkan karena dilengkapi dengan if-then-else yang dengan lentur menghadapi kondisi apapun: jika tidak bisa dengan ini, lakukan itu, jika tidak bisa juga, lakukan yang lainnya (else). Lebih baik kita jadi orang sederhana yang tangguh, daripada orang hebat yang menghadapi kasus tertentu langsung jatuh. Sebenarnya orang-orang besar yang kita kenal saat ini adalah orang-orang sederhana yang tangguh dan teruji (silahkan baca kembali kitab suci masing-masing). Boleh saja setuju dengan slogan Om Mario Teguh .. Super .. tetapi super yang tangguh (robust).

Set Alarm Laptop Ketika 100% Pengecasan dengan Battery Limiter

Setelah tiga tahun lebih akhirnya baterai laptop saya minta diganti. Sebenarnya belum harus diganti tetapi karena kapasitas tinggal beberapa menit dan cenderung harus dicharge terus akhirnya saya mengambil keputusan untuk menggantinya. Sebenarnya baterai laptop saat ini mampu bertahan ketika kondisi pengecasan 100% walaupun kabel power terhubung. Tetapi tetap saja panas yang tercipta mengurangi umur baterai. Oleh karena itu perlu dicabut ketika indikator charging sudah 100%. Dulu saya pernah memposting cara membunyikan alarm ketika baterai mau habis. Sekarang bagaimana membuat alarm berbunyi ketika pengecasan sudah mendekati 100%?

Setelah browsing, akhirnya saya menemukan informasi dari situs ini yang menggiring saya ke software Battery Limiter. Silahkan download software ini di situs freeware ini. Setelah diekstrak, instal software itu. Jika Anda punya antivirus sebaiknya aktifkan. Trend Micro di laptop saya kebetulan tidak mendeteksi adanya virus yang menempel di software itu.

Berikut ini adalah tampilan software tersebut. Anda bisa mengganti warna background agar terlihat jelas. Saya lebih suka warna kuning. Untuk mengeset alarm, geser simbul “sasaran” yang terletak di garis di atas indikator kapasitas baterai.

Sudah saya cek dan berjalan dengan baik, silahkan lihat bagaimana perangkat lunak ini bekerja di youtube yang saya posting ini.

Atau jika Anda khawatir dengan virus, atau laptop anda tidak bisa menginstal program tersebut karena win 10 misalnya, gunakan kode berikut yang Anda ketik dengan notepad dan disimpan dengan nama Battery.vbs. NOTE: jangan lupa mengetik “.vbs” di belakang Battery saat menyimpan agar tidak berekstensi defaultnya (“.txt”).

set oLocator = CreateObject("WbemScripting.SWbemLocator")
 set oServices = oLocator.ConnectServer(".","root\wmi")
 set oResults = oServices.ExecQuery("select * from batteryfullchargedcapacity")
 for each oResult in oResults
 iFull = oResult.FullChargedCapacity
 next

while (1)
 set oResults = oServices.ExecQuery("select * from batterystatus")
 for each oResult in oResults
 iRemaining = oResult.RemainingCapacity
 bCharging = oResult.Charging
 next
 iPercent = ((iRemaining / iFull) * 100) mod 100
 if bCharging and (iPercent > 95) Then msgbox "Battery is at " & iPercent & "%",vbInformation, "Battery monitor"
 wscript.sleep 30000 ' 5 minutes
 wend

Simpan di desktop supaya mudah dijalankan (tinggal dobel klik). Atau diletakan di folder start-up agar setiap laptop direstart, kode tersebut dijalankan. Sudah saya coba dan ketika lebih besar dari 95 persen muncul pesan peringatan di layar dan di taskbar seperti berikut ini:

alarm.JPG

Menyisipkan Video dari Youtube pada Blog

Saat ini peran Youtube sebagai situs penyedia video gratis belum tertandingi. Peran situs tersebut ditunjang oleh kian murahnya bandwidth yang tersedia di negara-negara besar seperti di Indonesia. Walaupun banyak dampak negatif seperti pornografi dan konten tidak mendidik lainnya, ada baiknya para blogger memanfaatkan Youtube untuk sesuatu yang bermanfaat. Situs ini ternyata dapat dimanfaatkan untuk memperjelas postingan kita. Tulisan singkat ini bermaksud menginformasikan cara yang sangat sederhana untuk memasukan video dari Youtube pada postingan blog. Di sini contoh blog yang digunakan adalah WordPress. Untuk mempraktekannya buka sembarang postingan yang telah dibuat, lalu masuk ke mode sunting atau edit.

Masuk ke mode HTML karena kita akan menyisipkan link Youtube di postingan yang telah dibuat. Link akan diletakan rencananya di tengah-tengah tulisan. Untuk mengetahui link video yang akan kita sisipkan, buka Youtube. Setelah video dijalankan (play) tekan Share di bagian bawah jendela video yang sedang diputar.

Setelah menekan Embed maka akan muncul script yang siap di-copy dan paste di lokasi yang akan disisipkan video pada postingan. Jangan sampai salah meletakan lokasi video karena akan membuat tulisan sebelumnya berantakan.

Hasilnya dapat dilihat seperti video dari Youtube yang disisipkan di bawah ini. Sangat mudah dan praktis, semoga bermanfaat.

Selamat mencoba.

Wafatnya Raja Thailand di Usia 88 Tahun

Sepertinya saya harus rehat sejenak dari tulisan yang serius-serius, kali ini dengan postingan ringan mengenai wafatnya raja Thailand pada hari kamis kemarin, tanggal 13 Oktober 2016. Saat ini prosesi pemakaman baru saja selesai. Rakyat berbondong-bondong ikut menghadiri acara itu dengan pakaian serba hitam. Hal ini menunjukkan kecintaan mereka terhadap rajanya yang dinilai telah memajukan Thailand. Dengan media online acara tersebut dapat dilihat lewat fasilitas streaming.

Walaupun baru tiga tahun berada di Thailand dalam rangka studi lanjut, saya sudah merasakan kenyamanan dalam naungan raja kharismatik itu. Hanya saja, pasca kudeta militer tahun 2014 yang lalu kebebasan sedikit terganggu karena alasan keamanan, tetapi selama tidak ikut terlibat dalam konflik politik, sepertinya aman-aman saja. Bahkan tindakan proteksi tersebut mampu menstabilkan kehidupan politik dalam negeri Thailand. Rakyat tetap bisa bekerja dan melakukan aktivitas lain dengan normal.

Raja terlama di dunia ini mudah dikenali karena sejak saya SD di era 80-an, SMP, SMA, S1, S2, dan S-S lainnya, buku IPS di sekolah tetap mencantumkan Raja Bhumibol sebagai raja Thailand. Kini penggantinya harus siap menaiki tahta kerajaan dan menghadapi permasalahan-permasalahan yang sama dengan yang di hadapi oleh negara lain saat ini, yaitu pertumbuhan ekonomi yang melambat. Dan mudah-mudahan kejadian ini bisa mengingatkan saya untuk segera lulus, waduh.

Teknik Mengetik Sepuluh Jari dengan Keyboard Virtual

 

Ketika sedang semangat-semangatnya mengetik dengan tablet surface yang dilengkapi dengan keyboard yang dikenal dengan nama type cover, ada masalah dengan konektor akibat seringkali melakukan flip ketika sedang membaca sehingga tidak dapat digunakan. Untuk memperbaiki sepertinya sangat sulit dan beberapa tukang servis spesialis keyboard menolak. Akhirnya terpaksa saya menggunakan keyboard virtual bawaan surface dengan segala problematika tentunya.

Mengetik Sepuluh Jari

Ada baiknya diulas terlebih dahulu teknik dasar mengetik yang dikenal dengan nama teknik sepuluh jari. Teknik ini mengharuskan mengetik suatu huruf/angka di keyboard dengan jari tertentu, misalnya huruf a dengan jari kelingking, spasi dengan ibu jari, dan sebagainya dengan harapan proses mengetik menjadi jauh lebih celat dibanding mengetik dengan dua atau beberapa jari saja (sering disebut juga teknik sebelas jari). Bagaimana supaya posisi jari tidak melenceng dan tepat di sekitar lokasi huruf yang akan siap diketik? Jawabannya adalah dengan meletakan jari telunjuk di rumah jari yaitu huruf a,s,d,f,j,k,l, dan ; (di keyboard virtual saya ‘). Untuk memudahkan penempatannya, tiap keyboard biasanya memberikan titik atau garis di buruf ‘f’ dan ‘j’ yang dapat diraba dengan telunjuk kita.

Mengetik Buta

Mengetik buta adalah mengetik tingkat lanjut yang tidak lagi melihat tuts di keyboard karena jari sudah mengetahui posisinya tanpa melihat. Mengetahui posisi dilakukan dengan meletakan jari di rumah jari yang dipandu oleh tanda titik atau garis di huruf ‘f’ dan ‘j’. Dulu mengetik dengan teknik buta sangat dibutuhkan terutama di jasa pengetikan yang hanya bertugas menyalin dari tulisan tangan ke tulisan cetak lewat ketikan apa adanya. Ketika mengetik, mata hanya terfokus ke tulisan tangan atau sumber lain seperti text book sementara jari mengetik tanpa melihat kecuali saat tertentu misalnya ganti baris (di mesin tik manual jaman dulu ada bel yang menginformasikan pengetik bahwa ketikan sudah hampir di bagian akhir baris dan harus dipindah ke baris berikutnya dengan menarik tuas ke sebelah kiri).

Mengetik dengan Keyboard Virtual

Bagaimana dengan keyboard virtual? Apa saja kesulitan yang dijumpai ketika menggunakan keyboard jenis baru ini (muncul ketika smartphone merajalela penggunaannya)? Sebagian orang yang sudah menggunakannya pasti sudah mengetahuinya. Salah satu pemicu munculnya keyboard virtual adalah kepraktisan dimana gadget (waktu itu keyboard qwerty secara fisik dikuasai oleh blackberry) tidak perlu menyediakan hardware tambahan untuk keyboard. Ketika akan mengetik secara otomatis gadget akan memunculkan keyboard virtual yang disediakan oleh android, ios, atau windows mobile.

Untuk orang yang mengetik non sepuluh jari sepertinya tidak memiliki perbedaan yang berarti baik mengetik dengan keyboard virtal maupun keyboard sesungguhnya. Bahkan mereka merasa lebih nyaman karena jari tidak perlu menekan lebih keras (ketika menggunakan keyboard fisik ala blackberry awal mereka bilang jarinya bentol-bentol). Tetapi bagi pengetik sepuluh jari seperti saya, muncul masalah baik dari sisi kecepatan maupun akurasi. Karena kebetulan keyboard rusak maka mau tidak mau berusaha memikirkan cara bagaimana nyaman dengan keyboard virtual.

Pertama-tama kita perlu mengetahui bagaimana prinsip kerja teknik mengetik sepuluh jari bekerja. Seperti sudah dibahas di muka, pada teknik ini jari diletakan dalam kondisi istirahat dengan menempel di rumah jari dengan panduan tanda khusus di huruf ‘f’ dan ‘j’. Tentu saja hal ini tidak dapat dilakukan dengan keyboard virtual mengingat keyboard akan dianggap ditekan ketika jari menyentuh huruf atau angka. Pertama-tama saya mencoba dengan meletakan jari di atas rumah jari tanpa menempel, tetapi sering terjadi kesalahan terutama di posisi kelingking. Akhirnya saya menemukan cara yang cukup akurat yaitu merubah tanda rumah jari dari ‘f’dan ‘j’ menjadi ‘a’ dan ‘;’ dengan seluruh jari membentu formasi lengkungan agar mata dapat melihat seluruh keyboard tanpa meninggalkan rumah jari. Setelah saya cek, untuk kecepatan tidak terlalu signifikan pengurangannya, hanya butuh latihan beberapa saat. Justru tangan sedikit lebih santai karena tidak perlu menekan keras untuk mengetiknya (ada jenis cidera tertentu bagi pengetik akibat tekanan kecil tapi berulang di jari). Untungnya vendor smartphone atau tablet menyediakan getaran atau bunyi ketika keyboard virtual ditekan agar pengetik dapat memastikan bahwa tuts sudah tercetak ketika terdengar bunyi yang biasanya mirip suara ketikan.

Bagaimana dengan mengetik teknik buta? Inilah salab satu kendala tidak mungkin menggunakan keyboard virtual dengan teknik buta (kecuali Anda punya indera keenam). Salah satu caranya adalah vendor menyediakan keyboard virtual yang membutuhkan tekanan ketika mengetik (tidak hanya menyentuh) agar jari bisa diletakan di rumahnya dan harus menekan ketika berniat mengetik. Untuk sementara tidak apalah tidak bisa mengetik dengan teknik buta di keyboard virtual, toh saat ini mengetik dengan menyalin buku sudah jarang saya lakukan, karena kebanyakan mengarang langsung ketika mengetik. Mohon saran, siapa tahu ada rumus yang lebih oke dari teknik yang saya tulis di atas. Mengetik di keyboard virtual itu keren juga, apalagi langsung mengetik di layar tablet dengan sepuluh jari, dijamin orang pada ngelihat karena tentu saja kesannya lebih futuritis.