To New Students .. Teach Your Self

Tahun ajaran baru akan memunculkan wajah-wajah baru di tiap jenjang pendidikan. Untuk sekolah sepertinya tidak ada masalah berarti, kecuali kondisi yang masih setengah online. Namun untuk kampus atau sekolah tinggi, masalah klasik adalah berbedanya metode pembelajaran dibanding ketika sekolah dahulu.

Dari pengalaman, kerap terjadi seorang siswa yang hebat di sekolah, ketika masuk dunia kampus kesulitan dalam mengikuti perkuliahan. Tidak jarang yang drop out atau pindah ke jurusan lain. Mungkin alasan utamanya tidak cocok atau salah jurusan. Mungkin benar, tetapi ketika pindah tetap saja ‘bermasalah’, berarti ada faktor lain. Postingan ini sedikit mengurai masalah tersebut, semoga mahasiswa baru dapat mengatasi hambatan tersebut sebelum terlambat.

Saya termasuk mahasiswa yang kesulitan mengikuti perkuliahan di awal-awal semester. Walaupun sadar bahwa ada perbedaan pendidikan di sekolah dengan perkuliahan di kampus, ternyata ada faktor-faktor lain yang berpengaruh.

2021

Zona

Berbeda dengan sekolah yang mempelajari ilmu secara garis besar, pendidikan tinggi lebih spesifik, baik dari sisi kurikulum maupun target lulusannya. Ketika sekolah, saya ikut dengan kakak yang ambil jurusan informatika. Terkadang ikut masuk ke lab sebagai ‘penunggang gelap’ karena memang kampus tidak terlalu ketat (tanpa seragam, tanpa id card, dan sejenisnya, yang penting ada kenalan).

Terbiasa dengan situasi tersebut akhirnya terbawa hingga kuliah di jurusan yang bukan IT. Sesuai dengan judul di atas ada perbedaan zona antara mahasiswa IT dengan mahasiswa lain, dimana seorang mahasiswa IT yang saat ini diwajibkan coding/programming harus tahan duduk berjam-jam di depan komputer terpaksa harus ke lab atau ke lapangan pindah sana pindah sini.

Begitu pula jika Anda mahasiswa psikologi, komunikasi, dan sejenisnya, silahkan sesuaikan dengan karakteristiknya, jangan sampai salah. Nah, repotnya terkadang tiap jenjang berbeda, misalnya D3, D4, S1, S2 dan S3 sangat berbeda. Saya sempat diajar oleh dosen yang baru “sembuh” karena sebagai mahasiswa terbaik di angkatannya, ketika ambil S3 di Jerman gagal (drop out).

Teach your self ..

Namun dari semua itu, ada obat yang ampuh, yaitu belajar mandiri. Berbeda dengan siswa di sekolah yang di-cekoki dan benar-benar dibimbing harus belajar sendiri ketika kuliah. Hal ini terjadi karena perkembangan ilmu yang sudah ‘established’ di sekolah berbeda dengan kampus yang terus berkembang.

Sebagai contoh, perkembangan hardware, software, dan metode saat ini sangat cepat. Mungkin jurusan lain juga sama, misalnya otomotif yang sudah terkomputerisasi atau mesin yang akan digantikan dengan motor listrik. Sementara mungkin dosen masih dengan ilmu yang lama. Jadi, mahasiswa harus PD kalau ilmunya tidak jauh berbeda dengan dosen. Tentu saja jika cepat belajar sendiri lewat media yang saat ini berkembang pesat, yaitu internet.

Awas Jebakan Batman

Saat ini berbeda dengan dahulu dimana tingkat pendidikan tidak berkolerasi dengan pendapatan. Banyak yang bilang orang sukses malah ketika kuliah drop out, atau tidak menonjol. Atau bahkan kalah oleh Youtuber.

Google pun heboh dengan membuat lowongan kerja tanpa membutuhkan gelar/pendidikan akademis. Ditambah lagi iklan lowongan sebagai ‘janitor’ alias OB yang puluhan ribu dolar. Tidak serta merta Anda langsung tidak kuliah atau menganggap enteng kuliah.

Orang IT memang berbeda dengan dokter atau pengacara. Dokter/lawyer berusia 50 tahun tentu lebih berpengalaman dibanding dokter/lawyer 40 atau 30 tahun. Sementara untuk bidang tertentu, misalnya software engineer, yang berusia 50 tahun belum tentu lebih hebat dari yang 40 tahun. Silahkan lihat atau baca pengalaman pekerja-pekerja di perusahaan seperti Google, FB, dan sejenisnya. Sederhananya jika Anda memiliki 2 asisten rumah tangga, sama-sama berkualitas, tetapi yang satu memiliki sertifikat menjahit level expert misalnya. Anda tentu akan cemas dengan yang kedua kan?

Mungkin Anda bisa beralih menjadi konsultan, dosen, kontraktor, dan sejenisnya, kombinasi pengalaman dan gelar dan sertifikat-sertifikat lain, jika sudah bosan bekerja di industri. Banyak mahasiswa yang berhenti kuliah dan lebih fokus menjadi Youtuber. Memang itu pilihan, seperti pilihan Duta Sella on 7 yang berhenti kuliah di UGM karena ingin fokus menyanyi. Namun ada baiknya anda lihat nasehat Youtuber ini.

Di kampus Anda belajar matematika, aljabar, algoritma, struktur data, teknik kompilasi, network dan sejenisnya. Terkadang tidak dibutuhkan secara langsung di lapangan. Tetapi usaha sedikit, sebenarnya, lewat baca buku, bertanya, nonton video tutorial, dan lain-lain bisa juga Anda lalui, walau dengan susah payah. Salah satu hasil yang jelas Anda memiliki level di atas rekan-rekan yg tidak kuliah atau yang dropout.

Dalam dunia yang uncertaint tidak ada salahnya tetap memastikan dan memantaskan diri. Jika Akhirnya semua terserah Anda, jika yakin dengan algoritma Youtube, no problem. Tetap jaga-jaga tidak ada salahnya. Oiya, kabarnya ketika tulisan ini dibuat, akun Youtube Onno W. Purbo ditutup Youtube, karena kerja algoritmanya, padahal sangat bermanfaat konten2nya. Semoga postingan ini bermanfaat.

Mitra

Saat ini terjadi pergeseran dalam bisnis, khususnya sejak menjamurnya aplikasi-aplikasi online. Aplikasi ini bercirikan sharing sumber daya, misalnya pemilik kendaraan, pemilik vila/penginapan, kepada vendor aplikasi. Penyedia aplikasi, misalnya aplikasi ojek/taksi online, tidak perlu memiliki kendaraan/armada, cukup bermintra dengan pemilik kendaraan. Nah, di sini kata mitra memiliki makna khusus dimana ketika dahulu ada istilah pegawai dan pemilik, kini semuanya mitra, saling membutuhkan.

Misalnya dalam aplikasi pesan makanan online, maka mitra yang terlibat antara lain pembeli, pedagang makanan/minuman, dan driver/kurir. Posisi setara menyebabkan mereka berperan sebagai mitra, tidak ada satu posisi yang melibihi posisi lain. Tentu saja, masing-masing memiliki alat ukur untuk kinerja dan sesuai dengan visi misi pembuat aplikasi, biasanya ada aspek lain yang perlu diperhatikan misalnya kepuasan konsumen terhadap layanan yang dipesan (makanan, transportasi, dan jasa lain).

Masih belum jelas apakah kondisi tersebut masuk ke bidang lain, seperti pendidikan, kesehatan, dan lain-lain. Jika masuk maka profesional akan memiliki ikatan berupa mitra dengan pemilik organisasi, misalnya dosen dengan yayasan.

Sebenarnya gejala-gejala mulai nampak, yang dipercepat dengan pandemi covid yang mengharuskan bekerja secara online. Beberapa mahasiswa mulai menjalankan kebijakan mendikbud MBKM. Terjadi sharing sumber daya antar kampus. Mulai terjadi seorang mahasiswa satu kampus mengikuti kuliah di kampus-kampus lainnya, bahkan hingga kampus luar negeri (program IISMA).

Kerap terjadi konfilik di suatu institusi pendidikan ketika pemilik/owner masih memiliki paradigma yang lama: bos dan pegawai. Untungnya pemerintah sanggup menengahi kasus-kasus yang terjadi ketika ada konflik antara pemilik dengan pekerja. Jika dahulu depnaker fokus ke buruh, saat ini mulai masuk ke bidang lain, salah satunya pendidikan. Terutama semenjak BPJS baik kesehatan dan ketenagakerjaan wajib diterapkan di tiap-tiap organsisasi/perusahaan.

Bagaimana antara dosen/guru dengan mahasiswa/siswa? Ada kemungkinan terjadi perubahaan paradigma menjadi mitra. Tetapi ada aspek lain yang tidak dapat berubah yakni psikologis maupun adat istiadat. Hormat siswa terhadap guru tentu saja tidak bisa sama dengan terhadap mitra, walaupun dari sisi bisnis berlaku prinsip tersebut. Untuk kursus atau pelatihan mungkin bisa diterapkan, namun untuk guru dan murid atau dengan ustad di lembaga pendidikan agama, ada aspek lain yang tidak mungkin hilang.

Bagaimana kalau dipaksakan? Memang sesuatu yang dipaksakan dapat saja berjalan. Namun, ada prinsip dalam pendidikan yang tidak dapat dilupakan yaitu kesediaan ‘mengajari’ atau ‘berbagi ilmu’ dengan orang lain.

Membayar untuk membeli makanan, misalnya, mungkin selesai setelah makanan habis dimakan atau kendaraan yang dibeli telah dipakai sehari-hari. Tetapi membayar untuk memperoleh ilmu di suatu institusi akan berbeda karena mahasiswa akan memiliki ikatan dengan institusi tersebut walaupun sudah lulus. Dari pengalaman sebagai ketua program studi, banyak orang tua yang datang untuk menitipkan anaknya dididik dengan alasan si orang tua tersebut (ayah atau engkongnya) pernah kuliah di kampus yang sama. Termasuk ketika memohon agar anaknya tidak di drop out (karena masa studi yang habis), yang untungnya berhasil lulus dengan susah payah. Saya hampir menitikan air mata ketika mem-paraf ijazah dan transkrip nilainya krn ingat kedua orang tuanya yang datang menghadap. Agak sulit dibayangkan kondisi ini jika menganggap pendidikan selayaknya jual beli biasa.

Tidak ada yang abadi

Terus terang saya salut dengan seorang profesor yang selalu menyapa dan berinteraksi dengan siapapun, entah itu mahasiswa atau pun rekan sejawat di level apapun. Tidak ada pilih kasih dan tidak memandang gelar, jabatan, dan kekayaan dalam berhubungan. Usut punya usut ternyata prinsipnya adalah tidak ada yang abadi. Ya, sangat sederhana. Ketika melihat seorang siswa yang biasa saja, kita tidak bisa yakin bahwa nanti dia jadi orang biasa saja. Bisa saja dia menjadi pemimpin, pemilik perusahaan, bahkan seorang presiden. Bawahann kita, serendah apapun, mungkin itu saat ini, bisa saja nanti menjadi orang sukses. Terdengar, ada satu kampus yang dalam setahun berantakan, padahal kampus papan atas. Atau seorang pemimpin, orang kaya, terpandang, bisa saja dalam sekejap menjadi orang yang biasa-biasa saja.

Ada satu prinsip yang dapat menenangkan jiwa, yaitu tidak ada yang abadi, apapun itu, kecuali yang maha abadi. Diibaratkan sebagai rintik air hujan yang mengenai air, bergelombang redup dan lenyap, datang lagi rintik air hujan mengenai air, bergelombang kemudian hilang. Kita pasti pernah merasa disakiti oleh seseorang, jika kita menggap orang yang menyakiti tersebut ‘abadi’, dalam artian pasti selalu menyakiti kita maka kebencian tidak akan hilang dalam diri kita. Sebaliknya jika kita menganggap tidak ada yang abadi, ketika dulu disakiti belum tentu sekarang dia menyakiti.

Kondisi pandemi dimana siswa belajar online terkadang membuat orang tua panik dan terkadang emosi karena kaget selama ini hanya menitipkan anak ke sekolah dan sekarang harus berperan sebagai guru. Terkadang ada frustasi akan masa depan anak, nanti jadi apa kalau kelakuannya seperti ini. Kembali ke cerita di atas, jangankan terhadap orang lain, terhadap anak sendiri pun tentu saja harus sama, bisa saja anak yang saat ini ‘alay’, malas, main game melulu, nonton kpop terus, dan lain-lain, suatu saat nanti bisa menjadi pengusaha, dokter, profesor, dan lain-lain. Termasuk kondisi pandemi pun kalau kita menganggap ‘abadi’ repot juga, bisa stres. Tapi kalo suatu saat pasti berhenti atau setidaknya bisa diatasi, pasti akan berlalu dengan baik-baik saja.

Banyak hal-hal terjadi dengan cepat saat ini. Rekan-rekan yang kemarin masih bersama, banyak yang sudah tiada. Kadang di atas, kadang di bawah itu adalah keniscayaan. Imam Ali r.a. memiliki prinsip jalani saja perannya, entah jadi pemimpin atau bawahan, miskin atau kaya, tidak mempengaruhi kondisi batin. Yup, ketika merasakan ketidakabadian, apapun dilalui dengan santai. Banyak yang bilang Butan merupakan negara yang rakyatnya bahagia, hal ini karena rakyatnya setiap hari selalu mengingat kematian dan menjaga kelestarian alam. jadi selalu ‘easy going’.

Orang akan selalu senang dengan orang yang tidak sombong dan selalu berterima kasih. Naik turun jabatan itu biasa, namun jika memaksakan diri dengan intrik-intrik yang ada kedzaliman di dalamnya, siap-siap akan menuai balasan yang terkadang Tuhan tunjukan ke orang yang dizalimi itu. Respect to all of you.

Teka-Teki Based Education

Kita mengenal teka-teki silang (TTS), entah yang benar atau versi Cak Lontong yang menjengkelkan, tetap menarik. Berbeda dengan menonton film atau mendengarkan musik, bermain teka-teki melibatkan otak yang aktif. Hampir mustahil ketika menjawab teka-teki kita tertidur, bandingkan dengan kegiatan pasif lainnya. Bahkan ketika sedang di kelas tidak jarang mahasiswa/siswa yang tertidur.

Pertanyaan

Prinsip utama belajar adalah menjawab pertanyaan. Bapaknya para nabi pun, Ibrahim, mempertanyakan Tuhan. Sempat menganggap matahari dan bulan sebagai tuhan. Walau akhirnya ditunjukan, tetap saja prinsip berfikirlah yang dijadikan makna peristiwa tersebut.

Tidak hanya konsep, pertanyaan pun dalam segala bidang termasuk skill/keterampilan. Bagaimana menulis yang baik, memrogram komputer dengan cepat, dan lain-lain adalah pertanyaan yang harus dijawab oleh peserta didik.

Kita memang biasa diberi pertanyaan, namun terkadang tidak jarang kita dihadapi situasi harus bertanya. Ketika pertama kali belajar di negeri rantau, salah satu skill penting adalah bertanya. Anehnya, waktu itu saya sulit sekali meramu pertanyaan yang efisien, di mana letak grocery, library, dan lain-lain.

Luaran

Sebagai informasi, istilah ini adalah istilah hasil dari suatu riset yang didanai, misalnya oleh pemerintah. Uang yang dibelanjakan harus menghasilkan satu karya yang disebut luaran, bisa berupa prototipe, paten, atau artikel ilmiah. Berbeda dengan proyek yang pelaporan dananya sesuai dengan belanja, tentu saja riset berbeda. Bayangkan saja misalnya Einstein yang menemukan rumus E=MC2 jika misal didanai, agak sulit mempertanggungjawabkan lewat struk belanja. Paling-paling habis untuk beli kertas, tinta, atau obat encok. Jadi jika dulu peneliti kita menghabiskan waktu risetnya untuk berfikir bukti belanja, saat ini paradigmanya dirubah menjadi luaran yang dihasilkan.

Misalnya R. Oppenheimer, selain mengajar dia juga meneliti reaksi nuklir. Luarannya? Selain artikel ilmiah lurannya juga fenomenal: bom atom Hiroshima dan Nagasaki. Serem juga ya. (hmm .. Jangan sembarangan nanya luaran ke dosen teknik ya).

Jadi salah satu cara agar tidak tertidur ketika belajar, membaca, webinar, dan aktivitas pembelajaran lainnya ya carilah pertanyaan yang harus kita jawab, minimal dari acara yang sedang diikuti. Kalau tidak, dijamin webinar selesai, semua left, tinggal Anda sendiri karena ketiduran, upsss. Hahaha .. pengalaman pribadi.

Teknik Membagi Waktu: POMODORO

Ada sebuah alat yang mendeteksi gelombang EEG otak untuk mengukur tingkat konsentrasi seorang anak ketika belajar. Alat tersebut dikembangkan di Massachusetts (lihat ref ini). Alat yang sudah diterapkan di Malaysia ini juga dapat mengetahui karakteristik siswa, kapan waktu optimal seorang siswa dalam belajar. Ternyata tiap orang memiliki karakteristik bekerja yang berbeda, apakah pada pagi, siang, sore, atau malam.

Bekerja Optimal

Mungkin kita pernah duduk bekerja atau belajar berjam-jam tetapi ternyata hasil yang diperoleh tidak signifikan. Alat deteksi biasanya mengetahui adanya penurunan fokus dan segera alat tersebut memberikan musik untuk menyegarkan otak dan bisa fokus kembali. Ternyata otak butuh istirahat untuk kembali fokus. Masalahnya adalah, kapan waktu yang tepat untuk istirahat?

Pomodoro Technique

Dalam manajemen dikenal Pomodoro teknik, yaitu teknik membagi waktu kerja menjadi 25 menit dengan diselingi 5 sampai 10 menit istirahat (break). Ketika sampai empat kali, ada istirahat panjang sekitar 30 menit. Saat mencoba sepertinya ada rasa tanggung ketika 25 menit harus break, tapi ternyata manfaat istirahat 5 menit sangat efektif karena ketika kembali bekerja otak seperti fresh lagi.

Teknik ini sangat bermanfaat juga untuk yang bekerja di depan layar komputer karena mata juga butuh istirahat, bukan hanya otak saja. Disebutkan tiap empat kali “pomodoro” harus istirahat panjang, nah terkadang agak ribet juga untuk mengetahui saat ini sudah yang kedua, ketiga, atau keempat. Oleh karena itu kita butuh alat bantu, selain timer.

Alat Bantu

Alat bantu dapat diperolah baik dari website maupun aplikasi yang tersedia: play store, apple store maupun microsoft store. Jika malas menginstal bisa menggunakan situs ini sebagai timer. Selain memberi alarm tiap 25 menit dan break 5 menit, aplikasi ini dapat juga mengetahui kapan long break 30 menit harus dilakukan. Selamat mencoba.

Bekerja dengan Nyaman

Mungkin pembaca pernah merasakan bekerja di tempat di mana ketika Anda menyelesaikan dengan cepat sebuah pekerjaan, kemudian ditambak lagi pekerjaan baru yang seolah tidak ada habisnya. Atau dalam suasana kerja di mana seluruh pegawai harus terlihat sibuk mengerjakan sesuatu, walau tidak penting, karena kalau santai sedikit dianggap “kurang kerjaan”.

Valentino Rossi dalam buku biografinya menyebutkan alasan pindah dari honda selain karena ingin menunjukan bahwa pembalap tidak kalah penting dibanding motor balap adalah suasana kerja yang tidak nyaman. Tidak ada senyum, canda, atau obrolan lain selain balapan dan yang paling menjengkelkan adalah ketika kemenangan dianggap “biasa saja”.

Walau dengan partner sudah nyaman, ada chemistry, tetapi jika dengan top manajemen tidak nyaman, kita pasti tidak betah, apalagi jika kondisi partner yang juga tidak klop lagi, ada unsur intrik politik, dan sebagainya. Kontrak atau gaji tidak lagi prioritas utama. Dalam kasus Valentino Rossi katanya sampai pihak honda terbengong sesaat ketika kontrak yang dikembalikan tanpa tanda tangannya.

Ketika partner kerja nyaman, begitu juga pimpinan mendukung dan menghargai, prestasi tinggal menunggu waktu karena fokus tertuju ke target/sasaran. Tidak ada lagi kekhawatiran dijegal oleh rekan kerja atau konflik internal yang merugikan, karena harusnya bertarung dengan pesaing luar malah sibuk berkelahi di dalam. Terbukti, sang legenda motogp itu sanggup mendominasi dengan motor barunya.

Kondisi saat ini yang mengharuskan segala hal dilakukan online memperparah kondisi jika partner tidak klop. Salah komunikasi terkadang lebih banyak terjadi. Salah satu yang kurang menyenangkan adalah ketika koordinasi internal di grup WA tiba-tiba “dicapture/screenshoot” dan dibocorkan ke pihak lain. Terkadang hanya potongan yang tidak utuh yang mengakibatkan salah pengertian pihak yang menerima potongan info tersebut. Kondisi tersebut membuat “sepi” nya grup, padahal mungkin banyak ide-ide yang muncul di situ. Repotnya jika ada anggota grup yang kreatif jadi melakukan aksi diam, yang berbahaya karena tim jadi mandek akibat tidak ada inovasi.

Kabar baiknya adalah saat ini perkembangan sangat cepat. Yang saat ini mungkin sedang terpuruk dan merasa di bawah, untuk kembali ke atas terkadang tidak butuh waktu lama. Namun sebaliknya waspadalah, ada institusi yang hancur dalam waktu singkat, bahkan kurang setahun. Memang tidak sepatutnya manusia sombong, lihat saja, dunia porak-poranda karena makhluk kecil, virus COVID-19, yang pindah dari satu orang ke orang lain sambil mengganggu kesehatan bahkan banyak yang kehilangan nyawa.

Tradisi Hindu kabarnya menyebut saat ini tahun Syiwa, yakni tahun di mana banyak godaan berbuat dzalim tapi waspadalah, balasannya tiga masa kehidupan. Toh, agama manapun melarang berbuat dzalim, namun jika dibandingkan dengan kondisi normal, ejeken, hinaan, penindasan saat kondisi sekarang yang dirasakan jauh lebih menyakitkan dibanding kondisi normal sebelum pandemi. Namun, sebaliknya bantuan kecil, atau bahkan senyuman saja, sudah membuat orang senang melebihi saat kondisi normal. Yuk, saling menghargai.

Computer Vision

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) saat ini sangat cepat baik dalam metode dasar maupun penerapan di lapangan. Banyak instansi yang membutuhkan AI, dari kedokteran, pertanian, hingga pertahanan dan keamanan. Salah satu penerapannya adalah dalam Computer Vision.

Image Processing

Terkadang banyak yang bingung apa perbedaan image processing dengan computer vision. Keduanya sama-sama mengelola gambar/citra, hanya saja computer vision lebih dalam lagi, dimana sebuah model dibuat untuk mampu mengenali sebuah gambar. Sementara itu, image processing memiliki tugas pokok hanya mengolah gambar. Biasanya bekerja sebagai pre-processing sebelum masuk ke modul computer vision, misalnya merubah citra berwarna menjadi hitam putih, merubah ukuran/dimensi gambar, merotasi dan hal-hal yang mengkonversi gambar agar bermanfaat.

Walaupun terlihat sederhana tetapi penerapannya sangat penting, misalnya konvolusi yang merubah gambar besar menjadi gambar yang berukuran lebih kecil tetapi tidak merubah “ciri” dari gambar aslinya. Metode ini digunakan dalam Convolution Neural Network (CNN) bersama dengan Pooling (memperkecil ukuran/dimensi gambar) yang ternyata meningkatkan performa Neural Networks.

Pengenalan Gambar

Sebenarnya untuk mengenali gambar merupakan kemampuan yang sudah dimiliki oleh manusia. Namun jika yang harus dikenali sangat banyak, atau harus selalu “on” 24 jam, tentu saja manusia tidak sanggup. Oleh karena itu riset yang mengembangkan model seperti manusia yang mampu mengenali gambar sangat bermanfaat. Akurasinya pun saat ini kian mendekati 100%.

Selain aspek kuantitatif dalam mengenali gambar, terkadang model pengenalan gambar harus mampu mengenali gambar jauh melebihi mata manusia, misalnya dalam mendeteksi foto rontgen, sel-sel mikroskopis, dan mineral di dalam bumi. Bahkan dalam mengenali tutupan lahan, model melebihi kemampuan mata manusia mengenali foto satelit, mengingat sensor satelit, misalnya Operational Land Imager (OLI) memiliki 9 band frekuensi, dimana mata manusia hanya mampu melihat beberapa band frekuensi saja.

Surveillance System

Selain gambar statis, computer vision juga berkembang untuk mendeteksi video. Biasanya diterapkan pada CCTV keamanan. Jika ada objek mencurigakan, sistem akan memberikan warning sehingga dapat bekerja 24 jam dan selalu waspada, hal yang tidak mungkin dilakukan oleh seorang staf keamanan. Sekian semoga tertarik riset di bidang ini.

Pendidikan Berbasis Outcome

Tidak bisa dipungkiri, pendidikan cenderung berorientasi pensuplai tenaga kerja. Walaupun pada kenyataannya tidak selalu demikian, bahkan siswa yang di masa depan sukses ternyata berwirausaha, alias punya perusahaan sendiri. Tetapi jumlahnya sangat sedikit, maka mau tidak mau prinsip pemenuhan kebutuhan akan tenaga kerja jadi fokus utama, apalagi di negara kita yang menjadi pusat produksi perusahaan-perusahaan multinasional. Postingan ini sekedar menyampaikan seminar tadi pagi oleh Asosiasi PT Infokom (APTIKOM) tentang OBE, MBKM, dan ACM 2020.

SKKNI

Kementerian tenaga kerja, di tahun 2000, memperkenalkan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) agar tenaga kerja Indonesia memiliki standar. Nah, oleh karena itu perguruan-perguruan tinggi di tanah air waktu itu diharuskan memiliki kurikulum berbasis SKKNI.

Seiring perjalanan waktu, berbagai standar kompetensi nasional bermunculan lewat LSP-LSP yang menerbitkan sertifikat kompetensi standar Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Kemudian dilanjutkan dengan lulusan yang diwajibkan memiliki pendamping ijasah, salah satunya sertifikat BNSP, dengan harapan lulusannya memiliki kompetensi tertentu. Hal ini untuk menghindari lulusan perguruan tinggi di Indonesia yang tidak kompeten, alias tidak bisa langsung kerja. Sangat memberatkan perusahaan-perusahaan yang merekrut karena harus memberikan pelatihan khusus terlebih dahulu.

Outcome Based Education (OBE)

OBE melandaskan prinsip pendidikan dengan melihat sasarannya. Metode ini sudah diperkenalkan pada tahun 1994 tetapi baru masif diterapkan pertama kali tahun 2005 di Hongkong. Negara-negara Asia Tenggara sendiri baru mulai menerapkannya pada tahun 2017. Hal ini karena akreditasi internasional berbasis OBE, jadi mau tidak mau kampus-kampus jika ingin berstandar internasional menerapkan OBE.

Prinsipnya sangat sederhana, misal seseorang ingin menjadi jaksa, maka lembaga pendidikan akan menarik mundur dengan mempersiapkan materi pendidikan apa saja yang dibutuhkan untuk mencapai kompetensi jaksa tersebut. Tentu saja di sini dalam dunia pendidikan bukan jaksa yang dituju tetapi kompetensi yang dibutuhkan untuk jaksa, karena jurusan hukum tidak selalu memilih jaksa sebagai profesi, begitu juga jurusan lainnya, seperti ilmu komputer yang menghasilkan lulusan dengan bidang pekerjaan yang luas. Namun tetap saja harus memiliki kompetensi minimal agar lulus.

Kurikulum Berbasis OBE

Antara SKKNI dan OBE saling terkait, karena SKKNI menjadi rujukan kompetensi-kompetensi yang sudah terstandar di Indonesia. Lembaga pendidikan hanya meramu kompetensi apa saja yang dibutuhkan lulusan suatu program studi. Jadi diawali dengan menentukan profil lulusan dalam bentuk Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) maka prodi mempersiapkan Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK). CPL aslinya berjumlah puluhan kalau mengikuti SKKNI, dan masalah muncul karena lembaga pendidikan harus melakukan evaluasi untuk menilai apakah siswa mencapai kompetensi-kompetensi tersebut. Jadi prodi biasanya menurunkan dari puluhan menjadi beberapa saja, tidak jauh-jauh dari 10 CPL, yang harus memasukan juga softskill. Misal ada 12 CPL maka prodi harus merinci menjadi CPMK dalam bentuk mata kuliah yang tiap mata kuliah memiliki beberapa CPMK.

CPMK yang merupakan capaian terkecil harus memasukan beberapa kompetensi dari SKKNI, dengan harapan lulusan memiliki kompetensi tertentu. Nah, CPMK tiap mata kuliah itu harus dijabarkan dalam 16 pertemuan. Misal satu mata kuliah ada 8 CPMK, maka ke-16 pertemuan tersebut harus mengadopsi 8 CPMK tersebut. Satu CPL bisa terdiri dari CPMK dalam beberapa mata kuliah tergantung jurusannya. Nah, repotnya, nanti program studi harus memetakan CPMK-CPMK tersbut disertai dengan evaluasinya (komponen penilaian akhir setelah ujian akhir semester). Jadi tiap semester seorang mahasiswa dapat dihitung berapa ketercapaian CPMK dan berhak lulus jika seluruh capaian terpenuhi.

CC 2020

Khusus untuk dunia informatika dan komputer, tahun lalu sudah dikeluarkan Computing Curriculla 2020. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang membagi tegas menjadi TI, SI, SK, SE, dan lain-lain jurusan komputer, CC 2020 agak sedikit melonggar.

Jadi ketika suatu jurusan, misal teknik komputer (CE), maka boleh saja memasukan materi-materi bidang lainnya, namun khusus yang berwarna kuning harus ada. Kalau bisa yang abu-abu juga, mungkin dunia saat ini sedikit berubah karena adanya keterkaitan antara satu jurusan dengan jurusan lainnya. Ditambah lagi fenomena Gap Skill dimana ada beberapa skill yang tidak bisa disediakan oleh satu bidang komputer tertentu.

Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM)

Mendikbud, Nadiem Makarim, mencetuskan MBKM yang dapat diintegrasikan dengan OBE. Hal ini juga dalam rangka efisiensi di mana tiap mahasiswa bisa belajar tidak hanya dari kampus sendiri, melainkan dari kampus lain dan industri. Dengan kata lain, kompetensi-kompetensi tertentu dapat dicapai tidak hanya lewat tatap muka di kampus/kelas, melainkan juga industri/dunia kerja. Silahkan simak link Youtube lengkapnya di bawah ini, sekian semoga bisa membantu.

Peer Review

Jika searching di internet, peer review masih memiliki problem yang harus diselesaikan. Terlepas dari polemik itu, ada jenis jawaban yang dikenal dengan istilah trivial, yaitu jawaban sementara yang ada dan lebih baik jika tanpa ada jawaban sama sekali. Saya teringat kuliah dosen matematika saya ketika menjelaskan jawaban trivial dengan ilustrasi perang dunia di mana Jerman akan menyerang Inggris dengan rudal-rudal dan pesawat tempurnya. Inggris berhasil menemukan alat seperti radar saat ini (waktu itu masih jadul) yang mampu mendeteksi objek bergerak yang menuju Inggris. Hal ini memudahkan pertahanan mereka dan alat tersebut bisa dikatakan ‘penyelesaian masalah’. Namun suatu waktu alat tersebut mendeteksi objek yang jumlahnya banyak sekali, walaupun hal tersebut dirahasiakan namun bocor juga. Rakyat Inggris sudah pasrah waktu itu, hanya bisa berdoa karena serangan dengan jumlah sebanyak itu sangat sulit dilawan. Namun ternyata, objek yang dideteksi itu hanya sekelompok burung yang bermigrasi. Jawaban dengan alat tersebut dikatakan jawaban trivial.

Dalam dunia akademis kita mengenal artikel ilmiah yang terindeks, misalnya Scopus. Dengan perorganisasian dan kontrol kualitas yang katanya ketat, Scopus banyak dijadikan patokan artikel yang berkualitas oleh universitas-universitas di seluruh dunia. Banyak yang dijadikan syarat kelulusan, khususnya mahasiswa doktoral yang memang tugas utamanya melakukan riset. Banyak komentar-komentar yang tidak menyukai Scopus, dari istilah kapitalis yang mengambil untung dari ‘penderitaan’ periset di seluruh dunia hingga kualitas artikel-artikelnya yang diragukan. Tetapi dengan banyaknya kelemahan dan problem-problem yang ada, jika tidak menggunakan indeksasi yang bagus (misalnya Google Scholar yang bisa dimodif oleh author)s, akibatnya kualitas riset jadi diragukan. Sebenarnya ada alat kontrol lain, misalnya paten, tetapi tentu saja sangat sulit karena hanya segelintir orang saja yang bisa. Jadi banyak kampus-kampus yang terpaksa mengandalkan Scopus, WoS, dan indeks berkualitas lainnya karena lebih praktis dalam kontrol kualitas walau membutuhkan biaya tambahan yang kebanyakan ujung-ujungnya ditarik dari mahasiswa.

Problem utama dari riset ilmiah ujung-ujungnya adalah peer review, yang menjadi andalan Scopus karena menentukan kualitas artikel yang dipublikasikan. Tanpa ada peer review jangan harap jurnalnya terindeks di Scopus. Dari Youtube atau media sosial lainnya mulai bermunculan postingan yang anti peer review. Salah satu poin utama dari penolakan peer review adalah adanya ketergantungan yang amat besar dengan peer review. Jika ada ilmu-ilmu baru yang belum pernah dijumpai oleh reviewer, dengan hak-haknya menilai terkadang di-reject. Misalnya Anda ahli matematika, ketika mereview artikel Albert Einstein mengenai E=mc^2 sangat sulit menerimanya, apalagi biasanya artikel dibatasi dengan panjang naskah, padahal butuh penjelasan yang tidak mudah. Banyak definisi-definisi yang harus dipresentasikan karena ilmu yang baru. Yang mereview terkadang tidak mengetahui siapa yang menulis (blind review), ada keraguan karena ilmu baru yang si reviewer pun butuh ‘kuliah’ oleh sang penemu.

Kondisi memang sedikit rumit. Namun tanpa menggunakan peer review kontrol kualitas hanya mengandalkan ‘orang dalam’. Kalau kampus sekelas Harvard, MIT, Stanford, dan sejenisnya yang banyak riset yang didanai oleh industri mungkin tidak masalah. Kampus-kampus biasa, apalagi di Indonesia yang saat tulisan ini ditulis peringkatnya sudah mulai tertinggal jauh dari kampus-kampus Malaysia, tentu saja dipertanyakan kualitasnya. Memang ada pilihan lain, yakni external examiner, namun walau ‘eksternal’, tetap saja dipilih oleh kampus yang ujung-ujungnya dicari yang ‘mempermudah’.

Untunglah saya bukan menteri yang harus mengambil keputusan yang sangat menentukan masa depan dunia riset dan pendidikan tinggi. Agak sedikit membingungkan ketika dimerger antara riset dengan pendidikan. Mudah-mudahan riset kian berkualitas dan bukan sebaliknya hanya pendidikan yang maju tetapi riset terbengkalai. Apalagi kondisi dunia yang sedang mengalami pandemi, serta beberapa bidang sedang mengalami disrupsi. Saya yakin pemerhati di seluruh dunia sedang memikirkan hal ini, tetapi di negara kita yang masih dibilang ‘belum maju’ mau tidak mau harus mengikuti standar yang ada. Solusi trivial mungkin lebih baik dari pada tidak ada solusi.

Inspirasi

Inspirasi merupakan hal-hal yang memicu sesuatu. Terkadang inspirasi membutuhkan sumber, sehingga sering disebut sumber inspirasi. Bisa dari terciptanya sebuah karya, jawaban terhadap suatu permasalahan, atau sekedar penyaluran hobi. Sumber inspirasi bisa berasal dari mana saja, tidak harus dari hal-hal besar dan ‘wah’, bahkan bisa dari orang biasa bahkan yang dianggap biasa saja, bagi orang tertentu bisa jadi sumber inspirasi.

Upgrade Diri

Ketika pindah ke kampus di daerah Bekasi, saya cukup kaget juga karena dari list, sebagian besar dosen tidak memiliki jafung, yang dalam istilah kemdikbud ‘tenaga pengajar’. Dosen-dosen pun masih S1 waktu itu, karena memang belum ada kewajiban S2.

Seiring berjalannya waktu, pangkat naik yang waktu itu lektor merupakan tertinggi di fakultas tempat saya bernaung. Alhasil, karena pangkat tertinggi dan sudah S2, LLDIKTI (waktu itu namanya kopertis) meminta kampus yang memiliki dosen berpangkat Lektor dan S2 untuk mengikuti sertifikasi dosen (serdos), dan ternyata waktu itu saya lulus. Dan setelah itu, dosen-dosen lain pun berbondong-bondong menyelesaikan syarat-syarat serdos, yang tunjangannya lumayan.

Begitu juga waktu itu ketika ada tawaran dari DIKTI untuk pelatihan bahasa Inggris di UGM, iseng-iseng daftar dan ternyata terpilih ikut pelatihan IELTS di UGM 3 bulan. Hasilnya lumayan, skor 6.0 memenuhi syarat masuk kampus LN khusus teknik. Kalau humaniora sepertinya minimal 6.5 bahkan 7. Waktu itu sebenarnya tidak ada fikiran untuk kuliah di LN namun karena terinspirasi oleh rekan-rekan yang sudah berangkat duluan setelah pelatihan bahasa, akhirnya setelah sekali gagal/ditolak beasiswanya, lulus juga. Waktu itu lagi-lagi jadi yang pertama studi lanjut S3, dan entah mengapa tidak sampai satu tahun (semester berikutnya) rekan saya sudah ada yang studi lanjut juga, dengan biaya dari kampus.

Sharing

Berbagi pengalaman terkadang bisa menularkan ke orang lain. Sharing memang sederhana, tidak usah mikir, karena hanya menceritakan apa yang dialami saja. Tidak ada maksud tertentu, dan kebanyakan tidak dibayar, alias gratis. Namun ternyata hasilnya lebih efektif dari diklat, kursus, dan sejenisnya. Sharing/berbagi pengalaman ternyata bisa menginspirasi rekan-rekan kita, khususnya yang menghargai dan menghormati. Memang di mana saja pasti ada usaha-usaha untuk menjegal/menggagalkan tapi jumlahnya sedikit. Yang mensuport justru yang lebih cepat mengikuti jejak yang disuport nantinya, bahkan beberapa melampaui pencapaian saya, ada yang ke Inggris, Amerika, dan ada yang siap-siap ke Jepang.

Kondisi COVID pun sepertinya tidak menghalangi mereka-mereka yang sudah terinspirasi. Bahkan usia pun tidak menghalangi. Sekian postingan singkat mengisi weekend, semoga menginspirasi.

Beraktivitas Tanpa ‘Baper’

Bawa Perasaan (BaPer) terkadang sangat dibutuhkan, khususnya dalam memahami dan berempati terhadap suatu hal. Namun bila berlebihan bisa mengganggu fisik dan mental. Maklum kondisi saat ini yang tidak menentu. Banyak cara yang bisa dilakukan, misalnya cuek, jangan mudah menyimpulkan, menyadari kita tidak bisa mengatur fikiran orang lain, dan lain-lain (link). Postingan ini sedikit membahas kondisi dimana fikiran tidak terbawa hanyut, baik dengan suasana maupun perasaan.

Flow

Konsep flow ditemukan oleh psikolog-psikolog di barat ketika perang dunia berakhir (link). Jika diingat-ingat pasti seseorang pernah merasakan kondisi flow dimana ketika beraktivitias ada rasa bahagia, tenang, dan waktu seperti berhenti, denyut jantung rendah tapi fokus dan konsentrasi tinggi. Seorang atlit ketika bertanding dan masuk dalam kondisi flow akan menunjukan kualitas terbaiknya. Ketika bermain pun tidak ada rasa khawatir kalah atau menang. Oiya, untuk mencapai flow terlebih dahulu Anda menguasai aktivitasnya, tidak mungkin mencapai flow ketika misalnya bertanding catur tetapi Anda sendiri tidak mengerti cara bermainnya, bukannya flow malah stres.

Mindfulness

Flow memang sulit untuk diulangi, tetapi beberapa peneliti menyelidiki hubungan flow dengan konsep meditasi yang dikembangkan di timur. Daripada fokus bagaimana mencapai flow ada baiknya mengkondisikan tubuh dan fikiran kepada kondisi-kondisi pendukung flow. Ciri kondisi flow yang tenang, denyut jantung rendah, dan sejenisnya ternyata bisa dibalik prinsipnya. Dengan mencapai gelombang otak tertentu yang tenang (gelombang alpha), merasa bahagia, dan sejenisnya maka secara perlahan memasuki kondisi flow (terkadang disebut juga dengan istilah zone). Banyak yang meyakini Einstein ketika bekerja selalu dalam keadaan flow, ketika diuji darah antara bangun tidur dan sebelum tidur dalam kualitas yang sama baiknya.

Vipassana

Sangat sulit mencapai gelombang alpha yang tenang secara sengaja. Cara paling gampang adalah vipassana. Dengan memperhatikan nafas (masuk dan keluar) secara perlahan jumlah fikiran di kepala akan berkurang (konon jumlahnya dalam saat yang sama ratusan). Oiya, makin banyak fikiran di kepala bukan makin baik, malah kita terjebak seperti monyet yang gelisah loncata ke sana ke mari.

Jangan khawatir, bagi kita yang aktif, teknik ini dapat dilaksanakan tanpa harus menyediakan waktu dan tempat tertentu. Lakukan saja dalam aktivitas sehari-hari. Tentu saja dalam sehari sebisa mungkin menyediakan waktu dan tempat. Untuk yang beragama bisa dilaksanakan ketika beribadah.

Berlatih

Terkadang saya sering mencoba mempraktikan bagaimana beraktivitas tanpa baper agar menghasilkan kondisi flow yang optimal. Atau jika tidak mencapainya, ada usaha mengarah ke sana. Apapun tekniknya, misalnya vipassana, lakukan saja aktivitas sederhana, misalnya yang sering saya lakukan adalah bermain catur online. Ketika bermain jangan lupa nafas, dari awal bermain sampai akhir (menang/kalah). Jika lupa dengan nafas berarti gagal karena artinya terbawa perasaan (entah gembira karena menang atau kecewa karena kalah). Flow tidak memperdulikan kita menang atau kalah, melainkan hanya bahagia, tenang, dan khusyuk ketika beraktivitas.

Untuk dosen/pengajar bisa dengan mencoba ketika mengajar. Jangan sampai terbawa suasana, dan pastikan dari awal sampai akhir tetap tenang, bisa memperhatikan nafas atau untuk yang level lebih lanjut memperhatikan fikiran.

Beberapa hari yang lalu kita lihat motogp berlangsung dalam keadaan dimana ada pembalap yang meninggal karena kecelakaan. Jika tidak bisa masuk ke kondisi flow dapat dipastikan mereka membalap dalam kondisi ‘baper’ dan terbukti beberapa terjatuh dan tidak optimal. Oiya, jika ingin melihat kebiasaan-kebiasaan aneh orang ternama silahkan baca link ini. Sekian, semoga bisa mengisi libur lahirnya Pancasila hari ini.

Kompetisi Deep Learning

Tidak hanya American atau Indonesian’s Idol, ternyata ada juga kompetisi model Deep Learning dengan nama ImageNet Large Scale Visual Recognition (ILSVR) Challenge (lihat link resminya). Kompetisi berlangsung dari tahun 2010 hingga tahun 2017. Entah mengapa berhenti di tahun itu, mungkin karena akurasinya yang sudah sangat tinggi mirip kecerdasan manusia.

LeNet

Model ini digagas oleh pakar Deep Learning ternama, Yann LeCun di tahun 98. Mungkin nama “Le” diambil dari “LeCun”. Dengan keterbatasan hardware jaman itu tetapi model ini bekerja sangat baik dengan konsep konvolusi, sehingga sering disebut Convolusion Neural Network (CNN atau ConvNet).

Yann LeCun

AlexNet

Model ini sesuai namanya digagas oleh Alex dan kawan-kawan tahun 2012. Tahun sebelumnya dimenangkan oleh organisasi ternama, yakni Xerox. Model AlexNet banyak dikembangkan oleh organisasi-organisasi lain yang juga memenangkan kontes ILSVRC.

Alex Krizhevsky

GoogLeNet

Google dengan peneliti-penelitinya mampu menang di kontes tahun 2014. Dengan modul insepsi-nya yang mengurangi jumlah parameter AlexNet yang sebesar 60 juta menjadi 4 juta saja.

VGG Net

Model ini memang kalah oleh GoogLeNet, tetapi karena sifatnya yang terbuka, sangat disukai oleh komunitas visi komputer. Akurasinya pun hanya selisah 1 % saja dari GoogLeNet. Berbeda dengan GoogLeNet yang berbasis LeNet dari Yann LeCun, VGG Net berbasis AlexNet.

ResNet

Model ini singkatan dari Residual Neural Network yang menggunakan konsep residual. Gate yang ada di ResNet diterapkan dengan baik oleh Recurrent Neural Network (RNN) untuk data yang berbasis waktu (temporal).

Tokoh DL: Yann Lecun (Fb), Geoffrey Hinton (Google), Yoshua Bengio (Univ Montreal), Source: Link

Untuk menyaingi model-model di atas, walaupun tidak mustahil, sepertinya bagi mahasiswa-mahasiswa kita agak sulit. Hal ini karena model-model di atas dibuat oleh tim dari organisasi-organisasi besar seperti Xerox, Google, Facebook, dan puluhan lainnya. Mungkin kita bisa mengambil metode-metode itu untuk diterapkan di piranti-piranti kecil dan sederhana agar lebih bermanfaat, terutama pada aplikasi-aplikasi online untuk mendukung UMKM. Semoga bisa menginspirasi.

Runtuhnya Para Raksasa

Baru saja terdengar kabar bahwa sebuah perusahaan retail besar di tanah air akan menutup gerainya pada bulan Juli 2021 ini. Mungkin pembaca sudah tidak asing lagi mengingat beberapa perusahaan memang mengalami disrupsi. Bahkan maskapai kebanggaan kita pun terancam. Mereka kalah bukan karena pesaing melainkan karena alur bisnis yang sudah berubah, ditambah dengan kondisi pandemi. Mungkin bukan hanya saya yang paling “bete” antri di kasir ketika berbelanja, pembaca pasti juga. Antri yang menyedihkan adalah antri ketika bayar, karena sudah antre, duit keluar pula.

Distance is Matter

Ada prinsip geografi bahwa lokasi sangat menentukan. Kalau tidak percaya, tinggal saja dekat jalur Gaza sana. Walau tidak ikut ribut, terkadang ada saja rudal yang nyasar ke arah kita. Nah, dalam kasus retail banyak yang lebih suka ke mini market-mini market kecil yang letaknya dekat rumah. Toh, sama saja dengan retail besar yang kadang juga menawarkan diskon atau promo, idola para ibu-ibu.

Nah, sepertinya prinsip ini akan bergeser juga ke bisnis lain. Gawatnya ke pendidikan nih. Pemerintah saja sudah menerapkan zonasi untuk pendidikan, yang mengindikasikan sekolah tidak perlu jauh-jauh. Kampus-kampus swasta yang bakal terkena dampaknya, seperti informasi dari rekan saya di Jogja. Jika dahulu ada prinsip kuliah merantau, kos, dan sejenisnya tetapi banyak yang mencari lokasi terdekat, apalagi kalau swasta. Untuk kampus negeri mungkin masih bersedia kuliah jauh.

Kampus merdeka sudah ada gejala-gejala sharing resource dimana mahasiswa bisa lintas kampus untuk belajar. Yang kekurangan mahasiswa akan dikompensasi oleh yang kelebihan mahasiswa. Nah, pengajar pun bisa berbagi ilmu dengan kampus-kampus lain.

Kesombongan Tidak Laku

Di Indonesia, dengan Nitizen +62 nya memang terkenal ganas. Tidak boleh sedikit pun kesombongan, karena efeknya bakal dibully. Dengan basis pelayanan, sebuah organisasi harus memperhatikan tingkat kepuasan konsumen jika tidak ingin ditinggal.

Kesombongan hanya akan mengurangi jumlah teman. Kabarnya Israel pun mulai menggunakan prinsip mencari teman dalam menghadapi Palestina. Kemajuan teknologinya digunakan untuk mencari partner sebanyak mungkin demi memuluskan cita-citanya. Kabarnya ada sekitar 6 negara arab yang mulai bermitra. Di asia tenggara saja tinggal beberapa negara yang masih enggan bermitra, termasuk negara kita dan Malaysia (karena persemakmuran Inggris sepertinya otomatis bermitra, minimal bersikap dua kaki).

Sebenarnya saat ini tidak etis kalau ada sombong sedikit pun di hati, karena kondisi pandemi. Termasuk sombong dengan cara menganggap remeh COVID, tidak pakai masker, atau terang-terangan menghina vaksinasi seperti di salah satu grup yang saya ikuti, upss ..

Fikiran dan Imunitas

Baru saja saya mengunjungi rekan kerja yang hampir dua bulan masuk ICU karena COVID-19. Alhamdulillah sudah sehat kembali. Banyak hal-hal yang saya ketahui berkaitan dengan penyakit aneh ini. Dimulai dari proses terkenanya hingga efek yang ditinggalkan dari virus baru ini.

Berfikir Yang “Iya Iya”

Banyak yang mengatakan dalam pandemi ini jangan terlalu berfikir keras, menjaga asupan nutrisi dan istirahat yang cukup. Sehingga jika ada yang sakit karena sedang kuliah, mengerjakan laporan, proyek, dan lain-lain maka yang disalahkan adalah terlalu banyak berfikir.

Ketika saya tanya seminggu sebelum positif COVID-19 apa yang dikerjakan, ternyata sedang mengerjakan deadline seminar hasil. Sudah dapat ditebak, kambing hitamnya adalah deadline tersebut, tentu saja selain si virus itu.

Di sini berfikir yang “iya-iya” istilah saya sebagai lawan dari berfikir yang “tidak-tidak” alias, berfikir yang tidak ditujukan untuk menyelesaikan problem utama. Misalnya seorang mahasiswa ketika mengerjakan tugas, laporan, dan sejenisnya tidak fokus ke problem utamanya melainkan ke hal-hal lain seperti deadline yang jika terlewati harus mundur satu semester, harus bayar SPP lagi, kena penalti, dan sejenisnya. Sepertinya hal itu yang membuat imunitas turun, bukan karena memikirkan hal-hal utama, yang bisa jadi hal-hal utama itu sudah selesai, tinggal membuat laporannya saja.

Nah, berfikir yang “tidak-tidak” itulah yang kadang membuat seseorang tidak bisa istirahat dengan baik, kurang asupan nutrisi sehat, dan prilaku-prilaku negatif lainnya. Sementara proses berfikir dan bekerja tentu harus dijalankan. Kondisi pandemi yang diperkirakan masih berjalan lama memaksa kita tetap harus bekerja agar roda perekonomian tetap berjalan. Tidak mungkin “ngumpet” saja di rumah. Kondisi Indonesia yang lebih baik dari Malaysia, konon karena berhasil menyeimbangkan antara protokol kesehatan dengan tetap beraktifitas. Walaupun tentu saja ada yang “ngeyel” dengan melanggar protokol kesehatan. Ada juga yang termakan hoax, tidak mendukung program pemerintah seperti vaksinasi, tidak mudik, dan lain-lain.

Menjaga Hati

Selain fikiran kita dianugerahi dengan hati, berupa naluri untuk melakukan tindakan yang baik. Informasi dari rekan saya ketika dia ikhlas dan menerima kondisi yang diberikan tuhan, tiba-tiba kondisi membaik. Menerima sakit yang mungkin karena dosa-dosa kita di masa lalu bisa saja menjadi obat mujarab. Toh, manusia tidak mungkin lepas dari kesalahan. Ada informasi beberapa rekan yang katanya sudah ikhlas kalau meninggal justru malah sehat kembali dibandingkan dengan konon katanya orang yang tidak terima kalau dirinya ditimpa musibah COVID-19.

Bicara santai, guyon, dan hal-hal lain yang tidak terlampau serius mungkin sangat membantu kesembuhan rekan saya. Ada pula yang menganjurkan nonton film-film lucu ketika dirawat. Banyak hal-hal lain yang tentu saja masih perlu riset yang mendalam oleh orang-orang di bidangnya. Yang jelas berfikir yang negatif, ribut, dan sejenisnya menurut saya bisa menurunkan imun dan meningkatkan resiko terinfeksi. Semoga pembaca sekalian selalu dilimpahi kesehatan dan pandemi ini segera berakhir, Amiin.

Deep Learning dalam Kehidupan

Bagi mahasiswa IT, bahkan orang-orang non-IT pun, mengenal konsep Deep Learning (DL). Walau aslinya adalah Neural Networks (NN) dengan banyak layer yang terlibat, orang awam menganggap metode tersebut merupakan metode ampuh, terkini, dan menyerupai kecerdasan manusia. Postingan ini tidak membahas konsep DL yang kompleks, yang membuat akhir pekan tambah pusing, melainkan prinsip dasarnya, yaitu “mendalam”.

Multitasking vs Deep Thinking

Pesatnya informasi, khususnya dari media sosial membuat kita menerima gempuran informasi, yang dalam istilah Big Data, velocity dan variety. Akibatnya fikiran kita akan berusaha mengolah informasi yang diterima tersebut. Karena banyaknya maka sudah pasti tidak bisa mendalam terhadap satu bagian karena akan kehabisan waktu. Akibatnya fikiran terlatih untuk berfikir dangkal (shallow – mirip judul lagunya Lady Gaga). Fikiran dangkal yang beralih cepat ke fikiran lainnya dalam dunia meditasi merupakan sumber kegelisahan, dan dalam dunia modern dikenal dengan gelombang beta.

Ketika pekerja sibuk membaca WA, Fb, Youtube, dan sejenisnya, akibatnya tugas utama untuk menyelesaikan problem akan terganggu. Hal ini sering dialami oleh pelajar dan mahasiswa. Jangan bangga dulu kalau Anda dikenal orang yang multitasking, karena semua hal-hal mendasar, berbobot, dan penemuan-penemuan penting bukan berasal dari multitasking, melainkan Deep Thinking.

Kejelasan Arah

Sayangnya pendidikan kita sejak dulu tidak mengarahkan dari awal. Kalau seorang anak berbakat misalnya pilot, maka konsep pendidikan yang benar adalah dari seorang pilot ditarik mundur kompetensi-kompetensi apa saja yang perlu dipelajari dan harus disediakan oleh lembaga pendidikan. Termasuk juga dokter, teknisi, dan sejenisnya. Jika si anak hobi dan suka bisnis, tentu saja langsung diarahkan ke pendidikan bisnis dan ekonomi. Sehingga pelajar menjadi efisien dalam belajar serta lebih mendalam. Saat ini yang terjadi pelajar kita diminta mempelajari segala hal, yang akibatnya dangkal.

Konsep multidisiplin pun tetap memerlukan pemikiran mendalam. Hanya saja seorang peneliti harus memahami bidang lain yang berkolaborasi saja. Silahkan menjadi seorang generalis, tetapi jangan lupakan berfikir mendalam. Seorang Bill Gates yang sudah menjadi generalis pun menyempatkan menghabiskan 50 buku dalam setahun.

Membaca merupakan salah satu berfikir mendalam. Tentu saja bukan hanya membaca judul berita yang sering dijumpai dalam share berita di medsos yang terkadang yang men-share pun belum membaca seluruh tulisan tersebut.

Memulai Deep Thinking

Untuk berfikir mendalam perlu mengurangi multitasking di kepala kita. Sebagai bahan renungan, di jaman offline sebelum pandemi, ketika ada seminar, kita masuk ke ruangan, menyimak pemateri dan memperoleh insight dari seminar. Tetapi di jaman online, banyak webinar-webinar yang di awal-awal pandemi penuh antusias, tetapi lama kelamaan mulai kendor karena ketika webinar berlangsung, pendengar karena mengakses di rumah, di jalan, dan di manapun, tidak sanggup mengurangi jumlah multitasking di kepala. Akibatnya tidak sanggup berfikir mendalam, hanya ingin mendapat e-sertifikat, dan penyakit multitasking muncul yaitu gelisah, bosan, dan jenuh.

Untuk mengurangi jumlah fikiran yang ada di kepala banyak caranya. Salah satunya meditasi, sembahyang, merenung, dan sejenisnya, tergantung agama dan keyakinan masing-masing. Jika sulit menghadapi gangguan ponsel, ada baiknya dimatikan terlebih dahulu gadget kita, terutama yang mulai menulis skripsi/tesis/disertasi. Saya sempat mengalami kondisi dimana ketika di luar negeri mengerjakan naskah paper dalam 2 minggu, ketika di tanah air ternyata membutuhkan 2 bulan dengan kualitas yang tidak sebaik yang pertama. Hal ini terjadi karena ketika di tanah air banyak yang harus difikirkan, alias multitasking.

Prioritas

Tentu saja hal-hal yang kita jumpai tidak bisa dikerjakan secara mendalam seluruhnya. Oleh karena itu menentukan skala prioritas juga penting. Yuk mulai berfikir mendalam, dimulai dengan menghabiskan bacaan, dan jika Anda sudah sampai kalimat terakhir ini, Alhamdulillah, berarti sudah bisa sedikit berfikir mendalam.