Arsip Kategori: Automotive

Mempelajari Hal-hal Baru

Dunia selalu berubah, dan hanya satu yang tidak berubah yaitu perubahan itu sendiri. Jika tidak mengikuti perubahan maka pasti akan tertinggal. Beberapa perusahaan papan atas banyak yang mengalami kemunduran bahkan kehancuran karena kurang mengantisipasi perubahan-perubahan yang terjadi di era teknologi informasi yang cepat saat ini. Padahal beberapa tahun yang lalu perusahaan itu menguasai dunia. Dalam bukunya disruption, Prof. Renald Kasali membahas hal tersebut dan ada hubungannya dengan teknologi informasi yang berkembang pesat saat ini (lihat ulasannya di kompas). Sebenarnya bukan kita yang tidak maju, melainkan orang lain/pesaing jauh lebih pesat majunya. Henry David Thoreau berkata: Things do not change; we change.

Ketika lulus kuliah dan gagal melamar kerja di perusahaan-perusahaan besar, saya terpaksa banting stir menjadi dosen. Memang tidak dapat dipungkiri, karir dosen di jaman saya merupakan pilihan kedua (kalau bukan yang terakhir) dibanding bekerja di perusahaan-perusahaan swasta besar atau menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Tetapi saat ini sudah banyak mahasiswa yang berkeinginan menjadi dosen karena memang kesejahteraannya mulai diperhatikan negara (tunjangan serdos, riset, beasiswa, dan sebagainya) dan tentu saja harus berniat mencerdaskan bangsa.

Waktu itu di sekitar tahun 2002 teknologi masih belum terlalu berkembang seperti saat ini. Google pun masih meraba-raba arah perkembangannya. Salah satu MEDSOS yang saya ikuti baru “friendster”, itu pun pasif mengingat akses internet yang masih sulit saat itu. Dan menjadi dosen hanya butuh membaca buku pelajaran yang pernah dipelajari waktu kuliah dulu. Siswa pun sangat mengandalkan ilmu dan informasi yang kita miliki.

Begitu perkembangan teknologi informasi mulai terlihat, google yang waktu itu hanya berupa pencarian kata kini sudah menjadi andalan dalam menggali informasi yang dibutuhkan. Bagi dosen hal ini bisa menguntungkan tetapi bisa menjadi bumerang, terutama dosen-dosen yang kurang update (KUDET). Sialnya lagi saya mengajar di bidang informatika yang mengharuskan update terus, terutama teknologi-teknologi terkini.

Siswa SD pun bisa melakukan searching di google jika ingin mengetahui informasi tertentu yang bahkan guru-nya pun bisa jadi belum mengetahuinya. Seringkali saya diminta anak saya mencari informasi di google untuk PR dari guru di sekolahnya. Bagus-bagus saja menurut saya, karena bukan dari hasil pencarian/jawaban yang terpenting melainkan “keingintahuan” sebagai modal untuk mempelajari sesuatu.

Salah satu tokoh yang merupakan ikon dari kejeniusan adalah Prof. Albert Einstein. Einstein ketika sekolah kerap menjengkelkan guru/dosen karena keingintahuannya yang tinggi. Bahkan beberapa profesor menolak membimbing/menjadikan asisten karena sifatnya itu. Tetapi saat ini jangan khawatir, karena literatur-literatur banyak beredar di internet, dari buku, jurnal, blog, dan lain sebagainya sehingga tidak perlu banyak bertanya, tinggal searching saja. Mungkin hal-hal berikut ini yang sering saya lakukan bisa menjadi pertimbangan pembaca sekalian. Oiya, silahkan komentar di bawah jika kurang setuju atau ada hal-hal lain yang bisa ditiru.

Menguasai bahasa Inggris. Bahasa ini merupakan salah satu bahasa yang paling banyak digunakan di internet saat ini. Dengan menguasai bahasa ini maka sudah dipastikan kita dengan mudah mencari informasi-informasi yang ada. Jika Anda betah membaca translate aneh (dengan google atau sejenisnya) ya tidak apa-apa sih.

Membaca Cepat. Seberapa cepat kah kita membaca? Sulit juga mengukurnya. Tetapi bagi Anda yang pernah ikut ujian saringan masuk di kampus-kampus terkenal di Indonesia, misalnya universitas Indonesia, maka Anda pasti tahu seberapa cepat kita dituntut memahami suatu bacaan. Saya sendiri sempat berfikir waktu mengikuti test TPA, terutama bagian reading, apa benar ada yang bisa menjawab dengan cepat tulisan beberapa halaman itu (dalam bahasa Inggris). Mungkin memang itu tuntutannya, sepertinya UI tidak mungkin asal bikin soal tanpa mengukur kecepatan membaca calon siswa yang dites.

Menulis dengan Cepat. Mungkin ada yang tidak setuju, tetapi saya sudah menerapkannya dan cocok. Dengan menulis cepat, Anda otomatis membaca dengan cepat pula. Berbeda dengan membaca menulis membutuhkan manajemen yang rapi. Anda mungkin membaca cepat, tetapi jika bukan penulis yang cepat, saya yakin Anda kurang bisa melakukan manajemen terhadap informasi yang masuk. Saya ingat ketika sidang tesis, penguji saya (pa romi), mengkritik saya karena tidak bisa menunjukan tulisan yang saya yakin pernah baca. Jadi tulislah dengan cepat informasi-informasi yang masuk ke Anda saat itu juga, karena otak/ingatan ada batasnya. Selain itu dengan kebiasaan menulis, Anda sudah terbiasa memahami pola-pola suatu tulisan dan mencari dimana letak-letak poin penting dari sesuatu yang Anda baca. Tentu saja jadi bisa mengetahui “amburadul”-nya tulisan siswa-siswa bimbingan yang tidak terbiasa menulis tetapi biasa copy-paste.

Multi-disiplin. Ini merupakan obat mujarab untuk saya yang kurang “brilian” dibanding rekan-rekan saya. Mula-mula saya masuk ke dunia Computer Science murni, dan sempat satu semester masuk doktoral ilmu komputer. Tetapi karena kurang kuat bersaing dengan anak-anak muda dari negara lain akhirnya saya memutuskan untuk pindah haluan ke Information Management yang lebih lebar karena bisa memasuki wilayah-wilayah (disiplin) ilmu yang lain. Ketika tidak sanggup berkontribusi terhadap bidang kita, kita bisa berkontribusi menggunakan bidang kita terhadap bidang lainnya, yang terkadang lebih membutuhkan. Di sini fikiran terbuka (open minded) sangat diperlukan, dan tentu saja seperti di saran kedua di atas, membaca cepat sangat dibutuhkan karena kita harus memahami bidang-bidang baru lainnya karena sifat multi-disiplin. Tentu saja jangan terlalu jauh dari core ilmu kita dan road map riset yang kita tekuni.

Rendah Hati. Ada pepatah yang mengatakan di atas langit ada langit. Artinya kita tidak boleh sombong karena mau tidak mau saat ini kolaborasi/kerja sama sangat penting. Lihatlah tulisan-tulisan ilmiah, pasti ada bagian reference yang berisi sumber-sumber referensi yang mendukung tulisan tersebut, selain tentu saja acknowledgement terhadap pihak-pihak tertentu. Pertukaran informasi saat ini mungkin bisa melalui hubungan orang per orang. Tidak semua bisa diakses lewat google. Bagaimana kita berhubungan dengan periset-periset lain sangat menentukan informasi yang kita terima. Beda dengan google apa yang kita minta selalu diberikan, dengan manusia sedikit berbeda karena ada faktor lain yang menentukan diterimanya suatu informasi penting, yaitu kerendahan hati. Bagaimana menggunakan bahasa yang baik sangat menentukan diterimanya kita di suatu komunitas/forum/millist bidang tertentu. Kerendahan hati juga mengandung arti bahwa kita merasa selalu sebagai pemula. Dan salah satu karakter pemula/beginner adalah mudah bertanya dan selalu ingin tahu.

Menikmati Kehidupan. Yang terakhir ini hanya tambahan dan iseng-iseng saja. Tetapi ini saya praktekan karena bermanfaat dalam implementasi prinsip keingintahuan di atas. Prinsip keingintahuan pada dasarnya membuat pertanyaan yang tidak diketahui kemudian mencoba mencari jawabannya baik lewat analisa, sintesa, uji coba, maupun men-searching dari sumber lain. Kalau Einstein yang ber-IQ 200-an sih tidak masalah, selalu bisa menjawab. Lha bagaimana dengan saya yang pas-pasan, makin banyak saya belajar, makin banyak pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa saya jawab (solved). Jika diambil hati bisa stres sendiri. Oleh karena itu, sebagai saran ya nikmati saja ketidaktahuan yang dialami, nikmati kehidupan yang ada, sebelum akhirnya, karena mungkin Allah kasihan, doa orang tua, doa keluarga, doa pihak kampus tempat saya bekerja yang kasihan ga lulus-lulus, entah mengapa muncul sendiri jawabannya .. waks.

Source foto: https://id.wikipedia.org/wiki/Albert_Einstein. Ternyata bukan photoshop ya.

Iklan

Mencoba Lagi Publikasi Tulisan ke Jurnal

Buat tulisan santai dulua ah. Syarat publikasi jurnal internasional bagi mahasiswa doktoral adalah momok yang menakutkan. Syarat tersebut merupakan syarat yang “fuzzy” alias kabur. Bagaimana tidak, dengan jurnal berimpact di atas satu, dan juga harus disetujui oleh kampus (bukan jurnal abal-abal), mahasiswa harus dipaksa menemukan satu research gap agar diterima di jurnal yang dituju. Yang paling menjengkelkan adalah proses dari submit dan accepted yang tidak jelas, dari dua bulan hingga dua tahun (ini beneran lho). Padahal argo (biaya registrasi kuliah, uang makan, kos, dan tetek bengek lainnya) jalan terus. Saya menyaksikan sendiri rekan saya yang dua tahun hanya menunggu publikasi jurnal internasional, sungguh betapa meraih gelar Ph.D itu sangat sulit dan “menyakitkan”. Ups.. sorry, seharusnya tulisan blog menyemangati, bukan menakut-nakuti. Tapi tidak ada salahnya kan mengetahui pahitnya dahulu karena menurut yang sudah lulus, manisnya mengambil Ph.D mengalahkan pahitnya, sukanya mengalahkan duka-nya.

Tip dan Trik

Mempublikasikan tulisan di jurnal internasional (atau jurnal nasional terakreditasi), seperti orang melamar kerja, diterima syukur, ga juga ga apa-apa, yang penting sudah mencoba. Trik untuk melamar kerja juga bisa diterapkan untuk melamar jurnal. Pengelola jurnal sangat membutuhkan tulisan yang meningkatkan kinerja suatu jurnal, yaitu impact factor. Apa itu? Yaitu jumlah sitasi terhadap suatu publikasi tulisan. Jika suatu tulisan berpotensi disitasi oleh banyak orang, maka biasanya editor merespon positif. Sebaliknya, jika tidak maka ada dua kemungkinan, lama revisinya (beronde-ronde) atau yang paling sering terjadi adalah ditolak (rejected). Sebelum berangkat studi lanjut saya pernah diterima naskah tulisannya, tetapi kebanyakan ditolak. Akan tetapi sakitnya tuh … berbeda dengan ketika studi lanjut, karena seperti telah saya sebutkan di awal, argo tetap jalan (waktu terbuang menunggu jawaban). O iya, berbeda dengan melamar kerja lho, tinggal nyebar surat lamaran ke beberapa perusahaan sekaligus, untuk jurnal kita tidak diperbolehkan menyebar satu tulisan ke beberapa jurnal sekaligus.

Biasanya dosen pembimbing menyarankan mensubmit tulisan ke jurnal berimpact tinggi terlebih dahulu baru kemudian jika ditolak dikirim kembali (resubmit) ke jurnal dengan impact factor di bawahnya. Tapi saran saya, sebaiknya ke yang rendah terlebih dahulu karena targetnya kan segera lulus. Kecuali kalo pengen lama lulusnya ya silahkan. Sialnya, dosen pembimbing akan menolak ke jurnal dengan impact factor yang rendah, maklum para dosen pembimbing memiliki target untuk menaikan ratingnya (h-index, lihat tulisan tentang h-index) sehingga ingin siswanya publish di jurnal yang ber-impact tinggi dan karena namanya juga tercantum sebagai co-author maka otomatis naik juga jumlah sitasi tulisannya. Saran saya sebaiknya tidak serta merta menerima usulan advisor, tetapi tidak nurut akibatnya lebih parah lagi, karena ribut dengan advisor merupakan salah satu penyebab mahasiswa ga kelar-kelar, bahkan bisa drop out. Lalu bagaimana?

Tidak ada cara yang lebih baik selain teknik kampanye-nya caleg, cagub, dan cabup, yaitu janji-janji yang bombastis (lho kok?). Ketika mengetahui advisor mengincar jurnal berimpact tinggi, tentu saja saya segera mencari yang tinggi, tetapi tidak tinggi-tinggi amat, misalnya dua. Lalu langsung diajukan? Tentu saja konyol kalau cara itu saya lakukan, maklum otak pas-pasan. Cari jurnal berimpact rendah lainnya, misalnya satu. Jika sudah punya tulisan yang siap submit, buat lagi yang kedua sebagai cadangan secepatnya (tidak perlu sempurna) dan setelah selesai langsung mengajukan keduanya ke advisor. Masukan tulisan utama ke jurnal ber-impact rendah dan cadangan ke impact tinggi. Dan segera, sebelum dia menolak, katakan bahwa dengan mengirim ke impact rendah maka kemungkinan akan cepat publish dan tulisan kedua segera bisa men-sitasi jurnal pertama yang sudah publish tersebut, dan perhatikan apakah wajahnya menunjukan setuju atau tidak (biasanya retina membesar jika setuju/senang). Pada umumnya, mendengar “di-sitasi”, setiap peneliti yang sering menulis jurnal akan bahagia. Syukurlah, cara itu berhasil. Saya menulis teknik ini dengan enak, tetapi pada praktiknya sulit sekali, bahasa inggris (speaking) harus benar dan sopan, ditambah lagi mencari waktu yang tepat. Saya sering “kabur”, tidak jadi bertemu ketika melihat wajah advisor yang lagi tidak mood (tentu saja dari jauh, sebelum bertemu), walaupun sudah menunggu lama. Tidak apa-apa, lebih baik besok bertemu lagi dari pada hari ini bertemu tapi gagal total. Lalu?

Cari section atau special issue tertentu yang cocok dengan tulisan. Mengapa? Biasanya pengelola jurnal meng-hire academic editor beberapa bulan untuk mereview. Oleh karena itu dapat dipastikan proses accepted akan cepat, tentu saja rejected nya juga cepat (hi hi). Tapi tidak apa-apa kan, dari pada sudah lama, ditolak pula. Yang unik dari pengalaman saya adalah adanya ego keilmuwan. Yaitu ego suatu disiplin ilmu terhadap disiplin ilmu lainnya. Saya termasuk kategori multidisiplin, yaitu informatika yang meriset bidang environment dan GIS. Mengapa unik? Di sini saya mengajukan dua tulisan yang sama tetapi dengan dua judul yang berbeda tetapi tidak jauh berbeda isinya di jurnal yang sama, yang pertama ditolak tetapi ketika mengubah judul dan sudut pandang dari sisi keilmuwan jurnal yang dituju (environment dan GIS) akhirnya diterima. Tentu saja dengan susah payah melawan pertanyaan reviewer.

Dengan judul bernada IT ditolak tetapi dengan nada Urban environment lolos di jurnal yang memang tentang urban. Tapi mungkin faktor lain, bisa saja, doa orang tua, amal ibadah, dan lain-lain. Akhir kata, janji kampanye saya waktu minta persetujuan publikasi waktu itu pun ditagih, advisor meminta publikasi kedua. Alhamdulillah, karena syarat lulus minimal satu publikasi, jadi publikasi kedua tidak wajib dan boleh setelah lulus. Tidak apa-apa kan, yang penting janji kampanye tetap dipenuhi lho.

Belajar Mengetik dengan Typing Master

Awal tahun 90-an merupakan perkenalan pertama saya dengan mesin ketik manual. Untuk mempelajarinya perlu satu mata pelajaran khusus, ketika itu masih SMP, yaitu keterampilan mengetik. Pelajaran yang cenderung membosankan itu, dimana kita mengetik huruf-huruf aneh dengan posisi jari tertentu, ternyata sangat bermanfaat. Bahkan saat ini dimana internet menjadi kebutuhan pokok, kecepatan dalam mengetik masih jadi andalan, walaupun saat ini tulisan, suara, dan gambar sudah menjadi satu dalam bentuk multimedia.

Berbeda dengan jaman mesin ketik manual yang sangat mengandalkan fisik, seperti kertas dan tinta pita, saat ini dengan kehadiran komputer, belajar mengetik lebih efisien dan sangat menyenangkan. Salah satu perangkat lunak untuk mengetik yang terkenal dan gratis adalah typing master yang dapat diakses di link berikut ini. Selain modul belajar disertai test mengetik (dengan statistik performa), aplikasi tersebut berisi game yang mempercepat proses belajar mengetik, khususnya untuk anak-anak. Mengapa anak-anak? Karena anak-anak belum “tercemari”. Maksud dari tercemari di sini adalah mengetik “sebelas jari”, istilah dari mengetik hanya dengan telunjuk kanan dan kiri.

Sangat disayangkan jika mahasiswa ilmu komputer/sistem informasi kurang terampil mengetik. Bahkan di jepang sendiri, mahasiswa S1 di tahun-tahun pertama ada mata kuliah pelajaran mengetik. Silahkan mencoba aplikasi tersebut, atau mungkin pembaca mengetahui aplikasi-aplikasi lainnya yang lebih oke, mohon dikabari. Mungkin di awal-awal, ketika mengikuti teori yang benar terasa lamban, kalah dibanding dengan rumus “sebelas jari”, tetapi percayalah, ketika terbiasa maka Anda akan mengetik cepat tanpa melihat keyboard, sering diistilahkan dengan mengetik buta.

If – then – Else dalam Kehidupan

Ternyata banyak hal-hal menarik dari dunia ilmu komputer yang bisa dijadikan solusi terhadap masalah dalam kehidupan kita. Salah satunya adalah konsep if-then-else. Bagi yang sudah belajar pemrograman pasti memahami fungsi logika itu yang membuat komputer berbeda dengan alat hitung lainnya seperti kalkulator, sempoa, dan sejenisnya. Sedikit banyak postingan ini bermaksud menganalogikan fungsi dalam komputer tersebut dengan kehidupan manusia.

Sehebat apapun suatu aplikasi jika tidak memiliki if-then-else akan berhenti (hang) ketika tidak sanggup menghitung atau memproses suatu kondisi di luar kriteria. Tentu saja tidak akan ada yang tertarik dengan aplikasi tersebut. Dengan if-then-else, suatu alur proses akan diarahkan ke kondisi lain jika dijumpai kondisi yang tidak sanggup atau diluar spesifikasi yang ada. Dalam kehidupan juga sering kita jumpai orang-orang hebat yang gagal menghadapi if-then-else karena memaksakan diri dan enggan mengambil jalur lain. Berapa banyak perusahaan-perusahaan yang dahulu besar, kini hanya tinggal nama karena ketidaksanggupan menghadapi kondisi kritis yang membutuhkan if-then-else.

Kita mungkin bukan orang besar, atau bekerja di perusahaan besar tetapi jika sanggup menghadapi kondisi yang membutuhkan if-then-else, maka bisa jadi kita tidak hanya sekedar survive, malah bisa meningkatkan kinerja tempat kita bekerja, atau membantu pihak-pihak lain. Karena kita semua tidak mungkin hidup tanpa kondisi yang memerlukan peralihan, keluar dari jalur, mencari alternatif, dan ide-ide kreatif lainnya. Entah profesi kita sebagai pelajar, pegawai, dokter, dosen, atau yang lainnya pasti menghadapi kondisi yang membutuhkan if-then-else ini. Mungkin dengan kadar yang tidak terlalu beresiko, atau bisa saja tetap bertahan tetapi dengan kondisi yang agak dipaksakan. Jangan-jangan memang kita diminta menjawab if-then-else: harus beralih profesi, pindah ke tempat kerja yang baru yang bisa mengembangkan dan mengaktualisasi diri kita, atau hal-hal lain yang mengharuskan kita “berbelok”.

Kita sering menghadapi kondisi yang meminta kita memilih jalur lain di luar jalur yang semestinya. Jika merasa tidak pernah menjumpai hal itu, justru malah sangat berbahaya menurut saya. Mungkin Anda bisa sukses dan berhasil dengan mulus, tetapi belum teruji untuk kondisi tertentu. Dalam dunia teknik dikenal dengan istilah robust yang artinya tangguh. Tangguh dalam artian tetap berfungsi normal ketika menghadapi kondisi extreem yang diluar kondisi normal.

Terkadang sistem yang sederhana tetapi tangguh lebih bisa diandalkan karena dilengkapi dengan if-then-else yang dengan lentur menghadapi kondisi apapun: jika tidak bisa dengan ini, lakukan itu, jika tidak bisa juga, lakukan yang lainnya (else). Lebih baik kita jadi orang sederhana yang tangguh, daripada orang hebat yang menghadapi kasus tertentu langsung jatuh. Sebenarnya orang-orang besar yang kita kenal saat ini adalah orang-orang sederhana yang tangguh dan teruji (silahkan baca kembali kitab suci masing-masing). Boleh saja setuju dengan slogan Om Mario Teguh .. Super .. tetapi super yang tangguh (robust).

Set Alarm Laptop Ketika 100% Pengecasan dengan Battery Limiter

Setelah tiga tahun lebih akhirnya baterai laptop saya minta diganti. Sebenarnya belum harus diganti tetapi karena kapasitas tinggal beberapa menit dan cenderung harus dicharge terus akhirnya saya mengambil keputusan untuk menggantinya. Sebenarnya baterai laptop saat ini mampu bertahan ketika kondisi pengecasan 100% walaupun kabel power terhubung. Tetapi tetap saja panas yang tercipta mengurangi umur baterai. Oleh karena itu perlu dicabut ketika indikator charging sudah 100%. Dulu saya pernah memposting cara membunyikan alarm ketika baterai mau habis. Sekarang bagaimana membuat alarm berbunyi ketika pengecasan sudah mendekati 100%?

Setelah browsing, akhirnya saya menemukan informasi dari situs ini yang menggiring saya ke software Battery Limiter. Silahkan download software ini di situs freeware ini. Setelah diekstrak, instal software itu. Jika Anda punya antivirus sebaiknya aktifkan. Trend Micro di laptop saya kebetulan tidak mendeteksi adanya virus yang menempel di software itu.

Berikut ini adalah tampilan software tersebut. Anda bisa mengganti warna background agar terlihat jelas. Saya lebih suka warna kuning. Untuk mengeset alarm, geser simbul “sasaran” yang terletak di garis di atas indikator kapasitas baterai.

Sudah saya cek dan berjalan dengan baik, silahkan lihat bagaimana perangkat lunak ini bekerja di youtube yang saya posting ini.

Atau jika Anda khawatir dengan virus, atau laptop anda tidak bisa menginstal program tersebut karena win 10 misalnya, gunakan kode berikut yang Anda ketik dengan notepad dan disimpan dengan nama Battery.vbs. NOTE: jangan lupa mengetik “.vbs” di belakang Battery saat menyimpan agar tidak berekstensi defaultnya (“.txt”).

set oLocator = CreateObject("WbemScripting.SWbemLocator")
 set oServices = oLocator.ConnectServer(".","root\wmi")
 set oResults = oServices.ExecQuery("select * from batteryfullchargedcapacity")
 for each oResult in oResults
 iFull = oResult.FullChargedCapacity
 next

while (1)
 set oResults = oServices.ExecQuery("select * from batterystatus")
 for each oResult in oResults
 iRemaining = oResult.RemainingCapacity
 bCharging = oResult.Charging
 next
 iPercent = ((iRemaining / iFull) * 100) mod 100
 if bCharging and (iPercent > 95) Then msgbox "Battery is at " & iPercent & "%",vbInformation, "Battery monitor"
 wscript.sleep 30000 ' 5 minutes
 wend

Simpan di desktop supaya mudah dijalankan (tinggal dobel klik). Atau diletakan di folder start-up agar setiap laptop direstart, kode tersebut dijalankan. Sudah saya coba dan ketika lebih besar dari 95 persen muncul pesan peringatan di layar dan di taskbar seperti berikut ini:

alarm.JPG

Menyisipkan Video dari Youtube pada Blog

Saat ini peran Youtube sebagai situs penyedia video gratis belum tertandingi. Peran situs tersebut ditunjang oleh kian murahnya bandwidth yang tersedia di negara-negara besar seperti di Indonesia. Walaupun banyak dampak negatif seperti pornografi dan konten tidak mendidik lainnya, ada baiknya para blogger memanfaatkan Youtube untuk sesuatu yang bermanfaat. Situs ini ternyata dapat dimanfaatkan untuk memperjelas postingan kita. Tulisan singkat ini bermaksud menginformasikan cara yang sangat sederhana untuk memasukan video dari Youtube pada postingan blog. Di sini contoh blog yang digunakan adalah WordPress. Untuk mempraktekannya buka sembarang postingan yang telah dibuat, lalu masuk ke mode sunting atau edit.

Masuk ke mode HTML karena kita akan menyisipkan link Youtube di postingan yang telah dibuat. Link akan diletakan rencananya di tengah-tengah tulisan. Untuk mengetahui link video yang akan kita sisipkan, buka Youtube. Setelah video dijalankan (play) tekan Share di bagian bawah jendela video yang sedang diputar.

Setelah menekan Embed maka akan muncul script yang siap di-copy dan paste di lokasi yang akan disisipkan video pada postingan. Jangan sampai salah meletakan lokasi video karena akan membuat tulisan sebelumnya berantakan.

Hasilnya dapat dilihat seperti video dari Youtube yang disisipkan di bawah ini. Sangat mudah dan praktis, semoga bermanfaat.

Selamat mencoba.

Wafatnya Raja Thailand di Usia 88 Tahun

Sepertinya saya harus rehat sejenak dari tulisan yang serius-serius, kali ini dengan postingan ringan mengenai wafatnya raja Thailand pada hari kamis kemarin, tanggal 13 Oktober 2016. Saat ini prosesi pemakaman baru saja selesai. Rakyat berbondong-bondong ikut menghadiri acara itu dengan pakaian serba hitam. Hal ini menunjukkan kecintaan mereka terhadap rajanya yang dinilai telah memajukan Thailand. Dengan media online acara tersebut dapat dilihat lewat fasilitas streaming.

Walaupun baru tiga tahun berada di Thailand dalam rangka studi lanjut, saya sudah merasakan kenyamanan dalam naungan raja kharismatik itu. Hanya saja, pasca kudeta militer tahun 2014 yang lalu kebebasan sedikit terganggu karena alasan keamanan, tetapi selama tidak ikut terlibat dalam konflik politik, sepertinya aman-aman saja. Bahkan tindakan proteksi tersebut mampu menstabilkan kehidupan politik dalam negeri Thailand. Rakyat tetap bisa bekerja dan melakukan aktivitas lain dengan normal.

Raja terlama di dunia ini mudah dikenali karena sejak saya SD di era 80-an, SMP, SMA, S1, S2, dan S-S lainnya, buku IPS di sekolah tetap mencantumkan Raja Bhumibol sebagai raja Thailand. Kini penggantinya harus siap menaiki tahta kerajaan dan menghadapi permasalahan-permasalahan yang sama dengan yang di hadapi oleh negara lain saat ini, yaitu pertumbuhan ekonomi yang melambat. Dan mudah-mudahan kejadian ini bisa mengingatkan saya untuk segera lulus, waduh.

Teknik Mengetik Sepuluh Jari dengan Keyboard Virtual

 

Ketika sedang semangat-semangatnya mengetik dengan tablet surface yang dilengkapi dengan keyboard yang dikenal dengan nama type cover, ada masalah dengan konektor akibat seringkali melakukan flip ketika sedang membaca sehingga tidak dapat digunakan. Untuk memperbaiki sepertinya sangat sulit dan beberapa tukang servis spesialis keyboard menolak. Akhirnya terpaksa saya menggunakan keyboard virtual bawaan surface dengan segala problematika tentunya.

Mengetik Sepuluh Jari

Ada baiknya diulas terlebih dahulu teknik dasar mengetik yang dikenal dengan nama teknik sepuluh jari. Teknik ini mengharuskan mengetik suatu huruf/angka di keyboard dengan jari tertentu, misalnya huruf a dengan jari kelingking, spasi dengan ibu jari, dan sebagainya dengan harapan proses mengetik menjadi jauh lebih celat dibanding mengetik dengan dua atau beberapa jari saja (sering disebut juga teknik sebelas jari). Bagaimana supaya posisi jari tidak melenceng dan tepat di sekitar lokasi huruf yang akan siap diketik? Jawabannya adalah dengan meletakan jari telunjuk di rumah jari yaitu huruf a,s,d,f,j,k,l, dan ; (di keyboard virtual saya ‘). Untuk memudahkan penempatannya, tiap keyboard biasanya memberikan titik atau garis di buruf ‘f’ dan ‘j’ yang dapat diraba dengan telunjuk kita.

Mengetik Buta

Mengetik buta adalah mengetik tingkat lanjut yang tidak lagi melihat tuts di keyboard karena jari sudah mengetahui posisinya tanpa melihat. Mengetahui posisi dilakukan dengan meletakan jari di rumah jari yang dipandu oleh tanda titik atau garis di huruf ‘f’ dan ‘j’. Dulu mengetik dengan teknik buta sangat dibutuhkan terutama di jasa pengetikan yang hanya bertugas menyalin dari tulisan tangan ke tulisan cetak lewat ketikan apa adanya. Ketika mengetik, mata hanya terfokus ke tulisan tangan atau sumber lain seperti text book sementara jari mengetik tanpa melihat kecuali saat tertentu misalnya ganti baris (di mesin tik manual jaman dulu ada bel yang menginformasikan pengetik bahwa ketikan sudah hampir di bagian akhir baris dan harus dipindah ke baris berikutnya dengan menarik tuas ke sebelah kiri).

Mengetik dengan Keyboard Virtual

Bagaimana dengan keyboard virtual? Apa saja kesulitan yang dijumpai ketika menggunakan keyboard jenis baru ini (muncul ketika smartphone merajalela penggunaannya)? Sebagian orang yang sudah menggunakannya pasti sudah mengetahuinya. Salah satu pemicu munculnya keyboard virtual adalah kepraktisan dimana gadget (waktu itu keyboard qwerty secara fisik dikuasai oleh blackberry) tidak perlu menyediakan hardware tambahan untuk keyboard. Ketika akan mengetik secara otomatis gadget akan memunculkan keyboard virtual yang disediakan oleh android, ios, atau windows mobile.

Untuk orang yang mengetik non sepuluh jari sepertinya tidak memiliki perbedaan yang berarti baik mengetik dengan keyboard virtal maupun keyboard sesungguhnya. Bahkan mereka merasa lebih nyaman karena jari tidak perlu menekan lebih keras (ketika menggunakan keyboard fisik ala blackberry awal mereka bilang jarinya bentol-bentol). Tetapi bagi pengetik sepuluh jari seperti saya, muncul masalah baik dari sisi kecepatan maupun akurasi. Karena kebetulan keyboard rusak maka mau tidak mau berusaha memikirkan cara bagaimana nyaman dengan keyboard virtual.

Pertama-tama kita perlu mengetahui bagaimana prinsip kerja teknik mengetik sepuluh jari bekerja. Seperti sudah dibahas di muka, pada teknik ini jari diletakan dalam kondisi istirahat dengan menempel di rumah jari dengan panduan tanda khusus di huruf ‘f’ dan ‘j’. Tentu saja hal ini tidak dapat dilakukan dengan keyboard virtual mengingat keyboard akan dianggap ditekan ketika jari menyentuh huruf atau angka. Pertama-tama saya mencoba dengan meletakan jari di atas rumah jari tanpa menempel, tetapi sering terjadi kesalahan terutama di posisi kelingking. Akhirnya saya menemukan cara yang cukup akurat yaitu merubah tanda rumah jari dari ‘f’dan ‘j’ menjadi ‘a’ dan ‘;’ dengan seluruh jari membentu formasi lengkungan agar mata dapat melihat seluruh keyboard tanpa meninggalkan rumah jari. Setelah saya cek, untuk kecepatan tidak terlalu signifikan pengurangannya, hanya butuh latihan beberapa saat. Justru tangan sedikit lebih santai karena tidak perlu menekan keras untuk mengetiknya (ada jenis cidera tertentu bagi pengetik akibat tekanan kecil tapi berulang di jari). Untungnya vendor smartphone atau tablet menyediakan getaran atau bunyi ketika keyboard virtual ditekan agar pengetik dapat memastikan bahwa tuts sudah tercetak ketika terdengar bunyi yang biasanya mirip suara ketikan.

Bagaimana dengan mengetik teknik buta? Inilah salab satu kendala tidak mungkin menggunakan keyboard virtual dengan teknik buta (kecuali Anda punya indera keenam). Salah satu caranya adalah vendor menyediakan keyboard virtual yang membutuhkan tekanan ketika mengetik (tidak hanya menyentuh) agar jari bisa diletakan di rumahnya dan harus menekan ketika berniat mengetik. Untuk sementara tidak apalah tidak bisa mengetik dengan teknik buta di keyboard virtual, toh saat ini mengetik dengan menyalin buku sudah jarang saya lakukan, karena kebanyakan mengarang langsung ketika mengetik. Mohon saran, siapa tahu ada rumus yang lebih oke dari teknik yang saya tulis di atas. Mengetik di keyboard virtual itu keren juga, apalagi langsung mengetik di layar tablet dengan sepuluh jari, dijamin orang pada ngelihat karena tentu saja kesannya lebih futuritis.

Problem Touch Windows di Surface RT yang tidak Merespon

Setelah mencari cara menyelesaikan problem touch windows surface di internet beberapa lama saya tidak berhasil menemukan jawaban, baik jawaban praktis maupun jawaban inti permasalahan mengapa ketika logo windows di surface ditekan, hanya muncul getaran saja, tidak ada respon untuk ‘‘wakeup” atau berubah ke menu utama windows 8.1.

Berbeda dengan surface pro yang memang benar-benar laptop, surface rt merupakan windows versi tablet yang berprosesor ARM yaitu prosesor khusus tablet dan HP dengan penggunaan daya yang rendah sehingga mampu menghemat baterai tablet/hp. Salah satu keunggulan RT dibanding pro menurut informasi dari youtube adalah kecepatannya wakeup dari kondisi sleep. Jadi jika saya mengetik dan melakukan aktivitas lainnya sekaligus, saya tidak perlu menunggu waktu lama jika ingin melanjutkan mengetik lagi, tinggal menyalakan tablet saja. Nah di sinilah repotnya, setelah beberapa kali update, ternyata logo windows surface tidak merespon (hanya bergetar) ketika ditekan untuk ‘membangunkannya’. Sebenarnya bisa dilakukan dengan menekan tombol power, tetapi muncul kekhawatiran kalau tombol terlalu sering ditekan lama-lama bisa error walaupun saya yakin windows merancang tombol power yang tahan lama. Tapi tentu saja lebih oke jika membangunkan surface dengan tombol touch screen – nya karena sentuhan tidak terlalu melelahkan secara fisik.

Ada beberapa saran yang berhasil ditemukan dari internet, namun hanya satu saran yang berhasil yaitu mereset windows ke kondisi awal (factory setting). Ternyata berjalan normal kembali touch screen windowsnya walaupun terkadang harus menekan beberapa kali. Kuat dugaan bahwa ketika tombol touchscreen windows ditekan, sepertinya windows membutuhkan cukup banyak proses sehingga membutuhkan waktu, kecuali jika kondisi sleepnya hanya sesaat (ketika baca ebook tiba2 sleep). Bahkan pernah ketika ditekan saya tunggu hampir 1 menit baru lock screennya muncul. Jadi ketika update windows, tablet sepertinya berat dan agak kesulitan ketika wakeup lewat touch screen, atau karena windows surface versi anyar letak logonya di kanan bukan di bawah seperti versi pertamaya?

Memang banyak yang kecewa dengan surface rt karena tidak ada GSM dan tidak bisa diinstal aplikasi-aplikasi layaknya laptop (program exe seperti spss, matlab, dll). Tapi jika anda penulis atau penggemar internetan, surface rt memiliki keunggulan dibanding laptop atau surface pro karena wakeupnya yang cepat secepat anda menghidupkan hp ketika ingin menelpon dan tentu saja, baterainya yang tahan lama (kaget juga surface yang masih menyala dengan baterai masih ada ketika tiga hari tidak digunakan). Yang sedikit mengagumkan adalah kecepatan men-charge nya yang tidak sampai lima belas menit). Akhirnya saya males untuk mengupdate surface khawatir ada masalah. Sebelumnya juga ada masalah ketika update dimana windows memberikan sekuriti tambahan ke browser yang mengakibatkan saya tidak bisa akses ke internet kampus yang menggunakan proxy yang tidak tersertifikasi windows. Waktu itu saya melakukan reset windows dgn pilihan yg bukan reset factory setting (hanya update saja yang dibatalkan). Mohon saran di komentar bagi yang berpengalaman dengan windows surface.

Menulis Artikel Ilmiah … Edisi Galau

Setelah beberapa bulan melakukan riset kini saatnya menulis laporan dalam bentuk artikel ilmiah (research paper). Mungkin pembaca bertanya dalam hati “lalu?”. Ya itu, masalahnya, “Bagaimana?”. Masalah-masalah baru kemudian muncul yang sepertinya sama rumitnya dengan mengerjakan riset itu sendiri. Jika ada yang beranggapan artikel ilmiah itu hanya melaporkan hasil riset yang telah kita jalani, sepertinya kurang tepat karena pada saat riset kita berkomunikasi antara diri kita dengan problem, sementara pada penulisan artikel ilmiah, kita harus berkomunikasi dengan komunitas ilmiah. Video dari Cambridge di akhir postingan ini dapat jadi acuan bagaimana membuat artikel ilmiah yang tepat di era modern ini, era di mana pembaca menjadi perhatian utama mengingat ribuan artikel muncul setiap hari sehingga kebutuhan akan tulisan yang mudah dimengerti, singkat, dan sesuai kebutuhan pembaca sangat besar.

Tadinya karena kejar tayang saya membuat artikel ilmiah hanya berisi laporan apa saja yang saya lakukan di riset disertai dengan hasil dan kesimpulannya. Ternyata hasilnya kurang memuaskan dan banyak yang harus direvisi. Beberapa rekan menyarankan untuk menggunakan jasa proof reading guna pengecekan dari sisi bahasa (Inggris atau yang lain). Sayang, harganya lumayan selangit. Akhirnya saya coba sendiri dahulu, datang ke perpustakaan dan mencari buku-buku panduan penulisan karya ilmiah. Lumayan juga sedikit membantu, terutama dalam membuat komposisi paragraf yang berisi thesis statement, detail terhadap thesis statement, menyimpulkan, dan sebagainya. Tapi tentu saja itu hanya membantu dalam komposisi tulisan secara general. Untuk artikel ilmiah sepertinya perlu sumber lain.

Youtube sepertinya sarana yang baik, tetapi tentu saja sumber yang benar, karena banyak yang setelah saya lihat cuma bercanda saja. Kalau ingin sumber yang tepat, cari yang berasal dari perkuliahan di kampus-kampus ternama. Video di bawah ini sangat menarik karena disajikan oleh peneliti microsoft yang berpengalaman, dan tentu saja cocok dengan bidang saya yang IT. Penyampaiannya yang interaktif dengan para mahasiswa dan ide-ide nya yang masuk akal sepertinya sayang untuk dilewatkan. Hal-hal menarik dalam video ini adalah pertama penekanan pada introduction dengan statement yang menjelaskan menariknya problem yang akan kita selesaikan lewat contoh (example). Tujuannya adalah agar pembaca mudah mengerti dibandingkan dengan model lama ala texbook mata pelajaran matematika. Jika D adalah ini, X adalah ini, dan aksioma2 njlimet lainnya sepertinya akan membuat pembaca tidur, atau tampak o’on. Kedua, jangan melupakan etika, contohnya agar ide kita bagus dengan menjelek-jelekan ide orang lain. Jangan khawatir, penghargaan kita ke ide orang tidak akan mengurangi penghargaan orang terhadap ide kita. Ketiga, hargai pembaca jangan “ngerjain”. Ada penulis yang pembaca ke sini dan ke situ, trus dibilang, “terbukti ternyata jalan itu kurang tepat”. Tentu saja pembaca akan jengkel karena merasa diajak ngalor-ngidul. Langsung saja apa langkah tepat yang kita temukan sehingga diperoleh hasil yang memuaskan. Keempat, masalah bagian-bagian tertentu yang tidak perlu seperti “the rest of this paper …” yang berisi isi dari paper ini karena hampir pasti tidak akan dibaca (langsung dilewati). Juga ada yang unik dimana “related works” tidak disarankan di awal. Sepertinya ini masih kontroversi, coba lihat aja sendiri di video itu. Terakhir adalah jangan marah ketika dikritik pembaca karena kritik oleh pembaca itu adalah hadiah terindah dari orang yang telah meluangkan waktu membaca karya kita. Selamat menikmati … oiya, sayangnya bahasa Inggris.

how to write

Progress Meeting …

Bagi pembaca yang pernah mengenyam pendidikan doctoral pasti mengenal istilah progress meeting. Atau mungkin dengan istilah yang berbeda dengan aturan yang berbeda pula. Untuk level sarjana atau master biasanya karena jangka waktu riset yang hanya setahun terkadang tidak dilakukan progress meeting. Kalaupun ada tergantung kebijaksanaan dari dosen pembimbing yang bersangkutan. Sementara jenjang doktoral karena fokus utamanya adalah riset maka perlu adanya progress meeting yang fungsinya memantau perkembangan risetnya. Terkadang menjadi penentu apakah mahasiswa yang bersangkutan boleh meneruskan risetnya, ganti judul, ganti objektive atau sialnya dikeluarkan alias drop out. Biasanya pertemuan ini dilakukan menjelang akhir-akhir semester, bahkan jika supervisor, chair, atau advisor mau, ada yang dijadwalkan pertemuan tidak resmi tiap minggu atau tiap bulan sekali untuk memantau perkembangan riset mahasiswa yang bersangkutan.

Berbeda dengan level di bawahnya, program doktoral sangat tergantung dari advisor. Sulit sekali ganti advisor kecuali dalam keadaan darurat dimana si advisor secara keilmuan tidak bisa membimbing lagi. Jika hanya karena si advisor pindah kampus, maka mahasiswa doktoral yang bersangkutan tetap menjadi siswa didiknya. Cara komunikasinya bisa dengan email, chatting, atau video conference jika lokasi kerjanya jauh dari tempat mahasiswa tersebut. Bagi Anda yang mendapat jadwal pertemuan rutin, mungkin agak kewalahan karena selalu dipaksa ada kemajuan tiap pertemuan tetapi biasanya lulus dengan lancar. Sementara saya yang hanya satu kali pertemuan progress jika terlena akibatnya fatal, minimal kalang kabut menjelang progress meeting yang jadwalnya sekehendak hati supervisor/advisor. Pemerintah melalui direktorat pendidikan tinggi (DIKTI) yang sekarang pisah dengan pendidikan dasar dan menengah dan gabung dengan riset dan teknologi (RISTEK) menjadi kementrian RISTEK DIKTI menyadari hal ini, maka ketika menyeleksi calon penerima beasiswa akan memantau hubungan calon penerima beasiswa dengan calon supervisor/advisor. Email baik dari calon sepervisor ke calon mahasiswanya atau sebaliknya diminta untuk dilampirkan sebagai berkas syarat penerimaan beasiswa. Walaupun topik disertasi bisa berubah dalam perjalanannya, topik saat akan mengajukan beasiswa menjadi bahan pertimbangan. Ada baiknya topik memang menguntungkan pemberi beasiswa, jika DIKTI ya topiknya atau study area-nya di Indonesia.

Anda akan tersiksa ketika mengambil topik yang tidak disukai mengingat riset level doktoral sangat panjang dan beragam jenisnya. Ada yang tipenya objektif 1, objektif 2, dan seterusnya dengan antara objektif satu dengan lainnya bisa menghasilkan satu tulisan di jurnal, tetapi ada juga yang tidak bisa dibuat satu jurnal langsung karena antara satu objektif dengan objektif lainnya saling berkait, dan ini yang menjadi masalah ketika ada syarat kelulusan publikasi jurnal. Akan kewalahan jika selesai objektif terakhir tetapi jurnal selalu gagal diterima. Kalaupun diterima terkadang proses hingga publish cukup panjang. Untungnya terkadang kampus sudah meluluskan asalkan paper sudah diterima walaupun belum diterbitkan. Tetapi jika Anda suka dengan riset Anda, walaupun sulit dan cenat-cenut, Anda akan berusaha dengan segala daya dan upaya untuk menemukan jawabannya. Saya sendiri banyak memperoleh jawaban dari permasalahan yang muncul tidak di meja belajar. Terkadang ketika nongkrong di warung kopi, bangun tidur, ketika beribadah (ini yang menjengkelkan), atau ketika sedang bertapa di WC.

Apa sajakah biang keladi lamanya lulus seorang mahasiswa doktoral? Sebelum saya berangkat studi lanjut saya dikaruniai ngobrol dengan tokoh-tokoh di bidangnya (oiya bidang saya IT “pindahan”). Seorang doktor dari UI mengatakan kepada saya bahwa, dia berusaha membuat mahasiswa doktoralnya lulus, tetapi karena jarang bimbingan dan sibuk kerja, banyak juga yang putus ditengah jalan, alias “muntaber”, mundur tanpa berita. Sementara pa Onno Purbo, ketika makan bareng di kampus unisma selepas seminar mengatakan jika ingin lancar sidang doktoral (defense), buat saja publikasi sebanyak-banyaknya, nanti di presentasinya sebutkan saja “sudah dipublikasi di jurnal .. ini” ketika membahas topik tertentu. Tetapi kenyataannya karena mungkin itu levelnya dia, syarat satu publikasi saja susah apalagi sampai lima begitu.

Setelah progress ? ya santai temporer .. alias liburan semester

Update: 6 Des 2015

Ternyata harus utak-atik paper dulu sebelum balik. Siapa tahu bisa publish.

Update: 23 Maret 2016

Alhamdulillah baru saja submit ke jurnal internasional, semoga diterima/accepted, amiin…

Update: 10 Februari 2017

Setelah sekali ditolak (lihat update sebelumnya), akhirnya naskah tulisan saya diterima dan sudah dipublish di Jurnal internasiona. Tinggal lanjut menyelesaikan laporan disertasi, semoga lancar.

Melanjutkan Riset yang Tertunda

Setelah hampir tiga bulan hilang dari peredaran karena libur kuliah, akhirnya sekarang mulai lagi bertarung mengerjakan disertasi yang sempat terhenti. Tadinya ingin masuk bulan berikutnya tetapi karena ada email bahwa pemesanan kamar kos kategori 2 sudah disetujui dan harus diambil maksimal minggu depan, mau tidak mau segera berangkat karena tipe kos ini merupakan idola semua mahasiswa AIT terutama yang sedang tesis atau disertasi mengingat bentuknya yang sangat private dan egois (karakter mahasiswa yang sedang nulis).

Banyak hal terjadi baik di Indonesia maupun di Thailand ketika mau berangkat. Beberapa hal yang mungkin bisa dijadikan masukan untuk pembaca yang mau berangkat ke Thailand:

  • Kartu Sim Card harus teregister. Berbeda dengan di Indonesia yang registrasi hanya dengan mengisi nama, no KTP dan alamat, si sini harus datang ke Simcard center dengan membawa kartu Identitas (id card/paspor). Agak ribet juga, walau bisa juga dengan online chat dgn webcam. Kita difoto dengan paspor.

  • Pesawat Air Asia mulai memberlakukan dengan ketat berat barang yang masuk ke Cabin. Jika di atas 7 kg, bakal kena charge .. waspadalah. Sepertinya petugas hanya mengincar yang membawa tas beroda, buktinya saya lolos dengan tas sanggul, walau lebih dari 7 kg.

  • Rupiah melemah terus terhadap dollar, walau mata uang tetangga2 juga ikut melemah. Berdampak terhadap harga-harga, terutama tiket pesawat.

Uang kiriman dikti belum turun .. kalo ini masalah khusus .. he he he.

Bersahabat dengan Sigma

Bagi orang-orang ilmu komputer simbol sigma (∑) sudah menjadi santapan sehari-hari. Mau dihindari, tapi selalu ketemu. Apa boleh buat, terpaksa ditelan bulat-bulat. Simbol ini sebenarnya mempersingkat bahasa kita yang artinya “jumlah”. Tetapi kebiasaan pengajar di Indonesia yang suka melihat mahasiswanya pusing, malah menakut-nakuti. Perhatikan fungsi objektif yang harus diselesaikan oleh Fuzzy-CMeans clustering, dibikin gampang ya gampang, dibikin susah ya susah aja:

(1)

Misalnya tukang ojek kerja dari hari senin sampai kamis (i=[1;4];), dengan penghasilan pada hari senin, selasa, rabu, kamis, berturut-turut 50, 70, 80, 100 ribu. Kalau dibuat tabelnya di matlab:

Misalnya ada rumusan seperti ini:

(2)

Dimana Y= total setoran, i= hari ke-i, dan xi = setoran hari ke-i. Kan sama saja dengan pernyataan “setoran lue dari hari senin sampai hari kemis berape?”. Tukang ojek-nya terus buka Matlab:

Ketemu hasilnya 300 ribu. Tentu saja bukan hanya untuk tukang ojek, bisa juga untuk dosen yang nyambi sana nyambi sini. Dari SD kita memang sudah dikenalkan dengan tabel dan saat kuliah sudah terbiasa dengan yang namanya Excel (spreed sheet) untuk mengolah data. Tetapi untuk ilmu komputer yang terkadang excelnya aja tidak bisa mengimport data yang saking besarnya, pemahaman tentang penyakit sigma menjadi wajib. Coba saja download dan import ke excel yg ukurannya di atas 1 Gb data di www.kaggle.com.

(3)

Apalagi nih? Misalnya, karena motornya ditarik akibat beberapa bulan jadi buronan dealer, si tukang ojek jualan di kampung oncom tiga jenis gorengan, oncom, misro, combro. Supaya gampang nulisnya j1, j2, j3. Seperti biasa dia dagang empat hari, senin sampai kamis dan lagi-lagi supaya gampang i1,..,i4. Tiap hari dicatet keuntungan tiap gorengan per hari (dalam ribuan):

Mungkin karena nama kampungnya kampung “oncom”, makanya oncom lebih laris. Kemudian di hari kamis pas mau tutup, satpol pp menghampiri dan minta 10% untuk pajak. Jadi harus dihitung dulu penghasilannya dari hari senin, kembali dia buka Matlab:

Ketemu hasilnya, total = 99 ribu. Kasih dah ke satpol PP pajak 10% = 5 ribu …. karena ngakunya cuma dapet 50 ribu. Sekian dulu tulisan hiburan akibat baca2 jurnal yg ada rumusan kayak begini:

Objective Function

Engkau Masih Tetap Guruku ..

Ketika SMP dulu guru saya sering bercanda kalau profesi pengajar itu pasti doanya baik. Semua guru katanya pasti bedoa agar anak didiknya pandai. Apakah semua profesi seperti itu? Ternyata katanya bisa saja tidak. Dokter misalnya, bisa saja doanya semoga banyak orang yang sakit. Saya cuma bisa senyum-senyum saja, toh kami sekelas hanya menganggapnya lelucon dan selingan ketika dia mengajar. Ada lagi yang mengatakan bahwa pengajar itu jika yang diajarkan tepat, mendapat dua pahala, tetapi jika kurang tepat akan mendapat satu pahala, jadi jangan takut mengajar, walaupun saya sempat dibilang “sotoy” di komentar, yang saya tanya temen2 artinya itu sok tahu. Yah .. ga papa lah.

Pahala yang mengalir terus

Saya sering mendengar hadits yang mengatakan bahwa ketika seorang wafat, putuslah amal perbuatannya kecuali tiga hal: ilmu yang bermanfaat, amal jariyah dan anak yang sholeh/sholehah. Jadi status pahala pengajar itu akan mengalir terus walaupun yang mengajarkan sudah wafat, tentu saja ada kata “bermanfaat”, walaupun terkadang kita menganggap sepele dan tidak bermanfaat oleh kelompok lain ternyata sangat bermanfaat.

Tidak selalu kita belajar dari guru tentang ilmunya

Dari pengalaman saya sekolah dan kuliah, hingga saat ini sebagian ilmu yang diajarkannya tidak secara langsung saya manfaatkan. Bahkan sampai oleh rekan saya yang “keluar” dari profesi mengajar mengatakan ilmu itu tidak ada gunanya. Saya sedih sekali mendengarnya, apalagi keluar dari mulut teman yang pernah sama-sama mengajar. Tetapi benarkah demikian? Di salah satu grup facebook bahkan diupload gambar lucu yang berisi tulisan rumus-rumus integral kalkulus yang rumit-rumit, kemudia di bawahnya muncul tulisan: “jujur saja .. apakah yang kita pelajari kita gunakan saat ini?”. (source gbr 1).

Repotnya adalah negara kita menyukai segala sesuatu yang instan. Kurang menghargai proses, apalagi prosesnya panjang tak terlihat ujungnya. Kita gemar sekali protes dan mempertanyakan segala sesuatunya. Ada bagusnya menurut saya, tapi lebih baik lagi cari jawabannya sendiri, searching di internet, baca sejarah negara-negara yang maju, dan sebagainya. Guru itu paling capek dan sebel  menjawab pertanyaan mengapa materi ini diajarkannya. Dengarkanlah keindahannya sampai selesai, jangan kau intrupsi orkestra indah yang sedang berjalan ini.

Namun kalau saya renungkan, hampir selalu saya meniru apa yang diajarkan guru kita terlepas dari materi/bahan ajar. Ketika guru matematika SMP saya mengecek jawaban secara bersama-sama, saya kagum ketika dia menghitung jawabnnya tanpa coret-coretan, alias di luar kepala. Bagaimana guru bahasa Indonesia SMA saya melakukan komposisi kalimat yang singkat, padat, dan mengena di satu kasus, dan melakukan komposisi yang indah penuh warna-warni di kasus yang lain. Atau ketika guru Fisika saya menjelaskan rumus reaksi nuklir yang rumit menjadi sangat sederhana. Bahkan di bangku kuliah, ada satu mata kuliah yang selalu mendapat nilai buruk, tetapi saya mengagumi cerita dia, bagaimana ketika dia bepergian dengan kereta dia melihat struktur sasis kereta, suspensi, sambungan, dan sebagainya dan ini mengajarkan kepada saya untuk selalu terus berfikir di mana saja.

Ikatan guru murid tak pernah putus

Di jaman internet dengan dibanjiri fasilitas social media membuat informasi sangat cepat bahkan tetap terjaga walau orang yang pernah bersama kita sudah jarang bertemu lagi. Tentu saja ada buruknya, tetapi kita ambil saja sisi positifnya. Terkadang ada rasa puas ketika melihat anak didik kita setelah lulus sukses menjalani karirnya. Dan sedih pula jika terjadi hal sebaliknya. Ketika saya mengajar menggambar dengan komputer, saya sempet bertanya dalam hati mengapa ada seorang siswa yang ikut belajar walaupun tidak terdaftar di absensi. Walaupun bisa saja saya mengusirnya, tetapi saya biarkan (hanya beberapa sesi ikutnya). Saya termasuk pengajar yang terlihat dari luar “cuek”, “masa bodoh”, apakah siswa itu mengerti atau tidak, tentu saja itu luarnya saja, he he. Tidak lama kemudian, rekan dosen yang lain ketika senggang mengatakan bahwa ada seorang siswa bimbingan tugas akhirnya yang ikut mata kuliah gambar saya, waktu itu memang saya mengajarkan menggambar meja dan bangku tiga dimensi ketika ada siswa tersebut. Ternyata siswa tersebut baru saja diterima bekerja sebagai drafter. Ketika ditest, kebetulan soalnya menggambar meja tiga dimensi, tentu saja dia bisa mengerjakan dan langsung bekerja di sana.

Jadi jangan liat dari luarnya saja, terkadang ada guru yang “sengaja” memperlihatkan kalau dia tidak menyukai/tidak puas dengan kita, padahal di dalam hatinya berbeda. Ketika SMA dulu, selepas pengumuman UMPTN pasti anak kelas III akan datang ke sekolah sekedar bersalam-salaman dengan guru-guru. Ada seorang guru yang ingin saya temui, ternyata sangat sulit dan sepertinya “ngumpet”. Akhirnya saya menduga dia tidak ingin pahalanya berkurang dengan munculnya ego bahwa saya bisa sukses karena didikannya.

Waktu kuliah, saya sempat bersungut-sungut ketika ditegur oleh dosen saya. Oiya, adakah dari pembaca yang “biasa-biasa” saja ketika diusir? Saya merasa dosen tersebut sama sekali tidak memperhatikan mahasiswanya dan terkesan cuek. Dan sialnya lagi .. eitt, saya harus stop di sini. Hingga lulus tidak ada kesan apapun terhadapnya. Waktu itu memang sedang krisis moneter, jadi saya kesulitan mencari pekerjaan. Karena kehabisan stok legalisir ijazah, berangkatlah saya ke Yogya dan numpang di kos-kosan sahabat baik saya yang belum lulus. Ketika ngopi sambil memandangi gunung merapi, dia mengatakan “eh .. tau nggak Pa “X” menanyakan ke saya, gimana? Si rahmadya udah kerja apa belum?”, teman saya mengatakan “katanya belum pa”, sambil menjelaskan ekspresi sedih dosen tersebut sambil mengusap kepalanya. Saya langsung terdiam ketika mendengarnya, mungkin teman saya melihat saya terdiam karena sedih belum bekerja, padahal saya terdiam karena kaget, dosen yang selama ini saya anggap “tidak perduli” ternyata diam-diam memperhatikan siswanya walaupun sudah lulus. Seandainya teman saya tidak menceritakan hal itu mungkin sampai sekarang saya masih menganggap dosen saya itu dosen yang “tidak perduli”.

Figure 2 Fakultas Teknik UGM (Source: klik di sini)

Update: 15 Oktober 2015

Tahun 2013 saya kedatangan temen satu angkatan t.mesin, waktu itu ngobrol sampai malam di AIT Thailand, termasuk ngobrolin dosen pembimbing saya dulu. Tahun 2014 ternyata beliau dipanggil Allah, Innalillahi wainailaihi roojiun, saya baru tahu ketika teman saya satu angkatan tersebut main lagi ke kampus tempat saya belajar (2015) .. Semoga diterima di sisi-Nya, spiritmu tetap hidup di jiwa muridmu ini

Kesan Pertama All New Kia Rio 2014

tigerHari ini muncul wajah baru, sebuah sedan hatchback (orang sering nyebut sedan tepos) berwarna merah di tempat kami. Sayang saya sendiri tidak bisa langsung melihat karena sedang berada di negeri gajah. Mesin 4 silinder 1.4 Liter (1400 Cc) dengan transmisi otomatis pesanan istri sudah tiba. Wajahnya yang tampan sepertinya membuat istri saya jatuh hati.

Mungkin ada yang bertanya ini mobil apa? Silahkan googling sendiri di internet. Yang jelas mobil ini mendapat penghargaan disain terbaik. Terbaik di mana? Bekasi? Tentu saja dunia dong … Yang menjadi trade mark nya adalah Tiger Nose karya disainer Peter Schreyer pada grill pendingin udaranya.

Mengapa beli jenis kendaraan ini? Selera aja sih. Dari dulu kami memang lebih suka membeli kendaraan yang unik yang jarang dijumpai di jalan (bukan kendaraan sejuta umat). Bagaimana harga jualnya? Kalau ga ada yang mau beli nanti, ya dikasihkan saja, beres. Yang jelas niatnya sih untuk menunjang pekerjaan sehingga menambah pemasukan karena produktivitas dalam bekerja (anti hujan, aman dengan airbag dan ABS, irit biaya transportasi). Macet ? ya pastilah .. untungnya sudah jarang bertugas di Jakarta (sekitar planet bekasi saja).

dimas

Walaupun tidak seperti layaknya versi yang dijual di eropa dimana kontrol audio yang terletak di stir, atap yang bisa terbuka (sun roof), tetapi lumayanlah dengan harga segitu dapat hatchback kelas menengah. Yang terpenting tidak perlu keluar duit lagi untuk jok kulit, solar guard / kaca film, sensor parkir, talang air, mantel mobil, velg yg sudah 16″, fog lamp, dan tetek bengek lainnya, alias tinggal pakai.

my-rio2

Yang jelas, transmisi manumatic-nya (bisa manual, bisa matic) sangat membantu ibu-ibu yang maunya tinggal gas rem, dan bisa menurunkan gigi secara manual jika mau menyalip, terutama di tanjakan.

Update: 13 Januari 2015 (service 1000 km).

Ketika liburan saya pulang ke Bekasi dan mencoba si Rio. Kesan pertama tampilannya seperti ford fiesta, dan lebih besar dikit dari jazz milik adik ipar. Terasa gas dan rem sangat sensitif. Tidak ada ngelitik seperti keluhan Rio keluaran 2012.

Interior walaupun masih di bawah Jazz tetapi space duduk dan bagasi serta kursi yang ergonomic (pas di badan) cukuplah. Entah kenapa mesin agak berubah-ubah responnya, apa karena saya sering gantian nyetirnya (beda karakter).

Sepertinya cocok untuk pengguna dalam kota, apalagi ibu-ibu yang ingin nyaman. Dibandingkan dengan jazz saat menikung rio agak limbung. Sepertinya butuh tambahan batang stabilizer karena per yang sangat lembut.

rio1000km

Update 12 Juli 2015 (service 5000 km)

Berhubung belum ganti oli semenjak mobil datang, sekalian saja servis gratis kedua di bengkel resmi kia. Muncul masalah standar mobil dengan kompresi tinggi yaitu mesin yang mengelitik. Ketika tiba di bengkel, langsung saja “curhat” bahwa dengan bensin pertamax 92, mesin terkadang mengelitik ketika berakselerasi awal (rpm rendah). Memang sih jika tombol ECO mode dimatikan, ngelitik sedikit berkurang, tapi sayang jika fasilitas ECO mode tidak dipakai.

Update Engine Control Unit (ECU) mutlak harus dilakukan, mengingat untuk kompresi 10:1 mengharuskan octane tinggi, yaitu pertamax plus. Namun saya meminta untuk cocok dengan pertamax 92 saja, karena khawatir jika dicocokan timing pengapian dengan premium berefek pada borosnya bahan bakar, toh saya tidak menggunakan premium.

Setelah ganti oli dan update ECU, ngelitik bisa dihilangkan (dalam batas riding style normal). Terasa gas sedikit dalam, berbeda dengan setelah awal yang tersentuh sedikit saja gas, mesin bereaksi. Untuk konsumsi BBM yang menurut spesifikasi 14-18 km/liter di tol, ketika dicek menyentuh 100/7=14.3 km/liter. Masih dalam range-nya, walau di batas bawah (jauh di bawah 18 km/l). Lihat brosur yang baru, kaget juga harga rio yang dulunya 197 juta kini menjadi 223 juta untuk yg matic.

bensin_rio

Update 15 November 2015

Entah karena kebanyakan make AC dan radio dalam keadaan mesin mati, baru setahun aki (accu) sudah diganti karena pagi-pagi aki ga ngangkat. Terpaksa habis 900-an untuk aki baru (pesan di shop n drive).

Info terbaru, mungkin dampak dari kenaikan dollar, hampir kebanyakan pabrikan menaikan harga jual kendaraannya, KIA Rio pun dibandrol hingga 238 jutaan, gile. Oiya, jika ingin liat perbandingan dapat dibuka situs perbandingan hatchback ini, secara total dimenangkan Rio tapi tentu saja berbeda versi eropa dengan versi yang dijual di Indonesia.