Arsip Kategori: Automotive

Lika-liku dan Suka Duka Studi Lanjut

Baik untuk yang mencari maupun yang sedang menjalankan studi lanjut pasti dijumpai suka duka dan lika-likunya. Beragam, tetapi antara satu karyasiswa (mahasiswa penerima beasiswa) dengan karyasiswa lainnya terkadang memiliki banyak kesamaan, terutama karyasiswa dari unsur pengajar (dosen). Siapa tahu postingan ini bermanfaat dan dapat dijadikan sedikit rujukan. Minimal sekedar hiburan/bacaan ringan bagi yang mirip dan senasib dengan saya.

A. Mengurus Ijin dan Tugas Belajar

Sepertinya saat ini tidak begitu sulit untuk mengurus ijin atau tugas belajar. Kampus tertentu mungkin menyamakan keduanya tetapi di kampus saya berbeda. Ijin belajar berarti masih tetap bekerja dan mengajar sementara tugas belajar dibebaskan dari bekerja dan mengajar (tri-darma perguruan tinggi). Saat ini lebih mudah karena Ristek-dikti sedikit memaksa kampus-kampus untuk meng-upgrade tenaga pengajarnya ke doktoral (S3). Jika ada kampus yang terkesan menghalangi, siap-siap kena “pentung”.

Tetapi beda dengan dulu. Untungnya saya masuk dalam kategori transisi. Teman sekampus saya bahkan berjuang lebih “sengit” pakai tak-tik untuk sekedar diijinkan berangkat studi lanjut. Dari istilah “urut kancing” hingga “mengabdi dulu baru studi lanjut” merupakan senjata andalan penghalang dosen senior terhadap juniornya. Menurut saya ada benarnya, tetapi banyak juga salahnya. Memang dosen junior sebaiknya menghormati senior, tetapi kan harus ada balasannya, yakni senior harus menyayangi juniornya. Kalau senior tidak berangkat-berangkat studi lanjut, tentu saja sebaiknya tidak menghalangi junior untuk berangkat. Apalagi hukum karma juga berlaku, di tempat saya kerja bahkan para dosen senior yang sudah berumur 50-an tahun toh akhirnya bisa studi lanjut. Hmm.. bisa jadi balasan ijin yang diberikan ke para juniornya. Tapi kasus seperti itu jarang terjadi, apalagi saat ini dimana stok dosen melimpah di tanah air. Saya sendiri berprinsip “jadi profesor dulu lalu mengabdi” daripada “mengabdi dulu baru jadi profesor”.

B. Mencari Kampus Tujuan (Dalam atau Luar Negeri)

Biaya kuliah S3 yang tinggi membuat kita mencari kampus tujuan yang ada beasiswanya, baik dari kampus tujuan maupun dari Ristek-dikti (dikenal dengan nama BUDI saat ini). Yang sedikit mengejutkan untuk luar negeri sepertinya maksimal 50 penerima beasiswa, padahal dulu tidak ada batasnya. Menurut saya, seperti kasus-kasus sebelumnya, Ristek-dikti belajar dari pengalaman yang sudah-sudah. Dalam negeri malah lebih banyak kuotanya. Kalau saya jadi orang yang megang duit, tentu saja dengan jumlah uang yang sama akan diperoleh jumlah lulusan yang lebih banyak jika untuk beasiswa kuliah di dalam negeri. Ditambah lagi, masih jarang yang ingin kuliah ke luar negeri dengan meninggalkan keluarga (biasanya karena sekolah anak atau istri/suami yang bekerja). Timbang-timbanglah dulu, pilih dalam negeri atau luar negeri. Timbang-timbang pula ke depan, jangan-jangan ada “perang doktor”, bukan sekedar doktor tetapi lulusan doktor dari kampus mana. Di Thailand sudah mulai muncul Ph.D (UC Barkeley) misalnya yang menyatakan doktoral dari kampus tertentu. Tentu saja biaya hidup dan resiko-resiko lain harap dihitung-hitung, jangan terlalu “gambling”. Mencari kampus tujuan terkadang sama dengan mencari promotor atau calon advisor/supervisor. Jangan lupa belajar menulis email dengan baik dan benar, dan belajar sabar kalau ditolak.

C. Mencari Beasiswa (Dalam Negeri atau Luar Negeri)

Banyak tawaran beasiswa dari luar negeri. Rekan saya bahkan meng-cancel beasiswa Ristek-dikti dan memilih beasiswa dari kampus tujuan S3. Ciri khas beasiswa dari luar biasanya sedikit memaksa penerima beasiswa untuk bekerja atau aktif di kampus (jadi asisten dosen, lab, dll). Ada untungnya juga, biasanya cepat lulus, tidak seperti saya yang kabur-kaburan (ehh .. karena kadaluarsa). Biasanya mencari kampus dulu baru beasiswa karena pemberi beasiswa selalu meminta bukti diterima di kampus tertentu (yang diakui oleh penerima beasiswa). Jangan lupa lihat periode atau jadwal antara penerimaan beasiswa dengan penerimaan kuliah S3 di kampus yang dituju. Sebab resikonya fatal, seperti saya yang masuk kuliah tertinggal 3 bulan dan akibatnya nilai hancur di semester I. Untungnya saat ini (berlaku pas saya berangkat thn 2013) ketika lolos penerimaan beasiswa, jika keberangkatan diundur tahun depan (anggaran tahun berikutnya) karyasiswa tidak perlu wawancara atau disaring lagi karena dinyatakan lolos mengikuti hasil sebelumnya.

D. Menyiapkan Amunisi

Amunisi di sini maksudnya bekal untuk bertarung. Untuk mahasiswa pascasarnaja (S2), saran saya jangan seluruh materi kuliah dibuang atau diloakin karena pengalaman saya dulu membutuhkan buku-buku tersebut (ketika tahap Course work/kuliah wajib), setidaknya lebih familiar dan berbahasa Indonesia pula (maklum masih berantakan English-nya). Software-software andalan (misalnya Matlab, pemrograman, dlll) tetap pertahankan. Saya dan rekan-rekan kebanyakan tidak seluruh hal-hal yang dipersiapkan berjalan mulus 100%. Ada saja yang memaksa untuk switch mengikuti kehendak pembimbing. Sebaiknya ikuti saja, dan terkadang yang kita ingin kerjakan, ya kerjakan saja, iseng-iseng mengisi waktu luang. Siapa tahu seperti teman saya, ketika mentok mengikuti keinginan pembimbing, dan karena menjalankan metode sendiri, ketika disampaikan ke pembimbing akhirnya diterima juga (pembimbing juga manusia lho, ada unsur kasihannya juga).

E. Mempersiapkan Kondisi Tak Terduga

Tapi jangan khawatir, kebanyakan terduga kok. Saya menduga dapat nilai C .. Eh bener dapat C. Sorry, maksudnya bukan itu. Ada tahapan-tahapan yang harus dilalui, terkadang ada tahapan tertentu yang mentok, misalnya memenuhi syarat minimal IPK. Kebanyakan sih masalah publikasi jurnal internasional yang tidak jelas lama waktunya. Baik lama diterimanya atau lama menjawabnya (dari editor). Bahkan rekan saya sudah diterima pun masih butuh waktu satu tahun (tahun masehi ya, bukan tahun cahaya). Oiya, planning A, B, dst .. boleh saja, kalau perlu seperti Excel .. setelah Z lanjut lagi AA, AB, .. (hiks).

Oiya tetap semangat, sebenarnya enggan juga menulis berita buruknya, takut pembaca malah jadi tidak bersemangat untuk studi lanjut. Yang jelas banyak sukanya dibanding dukanya, terutama yang ke luar negeri, banyak hal-hal yang tidak bisa dijelaskan (bahkan oleh foto selfi model apapun – yg kadang malah bikin keki atau mupeng yg lihat) tapi hanya diri sendiri yang bisa merasakan, ya, itu namanya suka duka dan lika-liku. Selamat berjuang.

Iklan

Tablet Mode VS Desktop Mode di Windows 10

Setelah era Windows XP dan Windows Vista yang gagal, Windows 7 termasuk berhasil. Serangan sistem operasi Android dan membanjirnya telepon genggam membuat Microsoft berusaha merebut hati konsumen lewat sistem operasinya yang mendukung gadget dengan memunculkan Windows 8. Waktu itu saya sempat membeli Microsoft surface dengan Windows 8 yang cukup cepat.

Namun demikian versi mobile sangat tidak nyaman untuk laptop. Sebenarnya bukan tidak nyaman melainkan belum terbiasa saja. Butuh waktu beberapa bulan bagi saya untuk terbiasa dengan Windows 8. Dari letak program file yang tidak ada (walaupun bisa dengan search tetapi terasa kurang nyaman, masak terus-terusan searching. Akhirnya muncul sistem operasi baru bernama Windows 10.

Untuk memikat pengguna sepertinya Microsoft menggunakan taktik menggratiskannya asal memiliki lisensi di Windows sebelumnya (Windows 7, 8, dan seterusnya). Setelah mencoba ternyata lumayan cepat juga, terutama di laptop mini dengan prosesor seadanya yang baru saya beli. Ternyata Versi Pro lebih cepat dibanding versi Home. Selain itu penggunan memori juga lebih minimal, cocok untuk laptop 2 Gigaan.

Dan yang terpenting adalah adanya pilihan tablet mode dan Desktop mode yang memberi kebabasan pengguna mengikuti Windows 8 atau Windows 7 formatnya. Silahkan masuk ke menu setting dan cari2 sendiri cara memilihnya. Hmm .. ternyata saya lebih menyukai Tablet mode yang menyerupai Windows 8. Sepertinya wakeup lebih cepat dari versi desktop (mungkin perasaan saya saja). Tetapi semua terserah pengguna, mana yang lebih familiar. Berikut ini tampilan versi tablet dari Windows 10 pro.

Update: 19 Juli 2017

Ternyata ketika menjalankan ArcGIS di tablet mode ada sedikit kelambatan, bahkan sempat hang ketika mengoperasikan analisa spasial. Sepertinya tablet mode tidak cocok dengan karakter multi-tasking Windows. Akhirnya balik lagi ke Desktop mode.

Screencast-O-Matic Untuk Video Tutorial

Pembelajaran jarak jauh (e-learning) membutuhkan tool untuk memudahkan peserta didik mengikuti perkuliahan. Salah satunya adalah video tutorial untuk menjelaskan prosedur-prosedur tertentu, biasanya tutorial pemrograman dan sejenisnya. Banyak tersedia aplikasi-aplikasi yang dapat dimanfaatkan secara gratis untuk meng-capture apa yang terjadi di layar monitor. Salah satunya adalah Screencast-o-matic yang memiliki versi gratis (free) maupun berbayar. Sebelumnya saya menggunakan bawaan Microsoft, yakni Microsoft Expression (lihat post terdahulu), tetapi memiliki sedikit kelemahan yang mengganggu yakni tidak bisa menampilkan web-cam ketika presentasi.

Silahkan masuk ke situs resmi Screencast di sini. Jika Anda enggan menginstal aplikasi baru, Screencast menawarkan capture secara instan lewat web tersebut, tekan saja “start recording” untuk langsung merekam tanpa instal aplikasi tersebut.

Sebenarnya tidak murni tanpa instal, tetapi tetap saja unduh sedikit file untuk me-running Screencast sementara. Setelah selesai download, Screencast langsung bisa digunakan. Pilihan lain adalah menginstall aplikasi itu di laptop sehingga dapat dipakai kapanpun tanpa harus mengunduh terlebih dahulu.

Entah mengapa saya tidak bisa menemukan kembali link source code Screencast O Matic di link resminya, padahal dulu sempet ada. Silahkan gunakan situs penyedia screencast yang lain (tentu saja yang aman dan bebas virus/spyware), misalnya berikut ini atau cari dari tempat yang lain (untung dulu sempet download untuk yang versi bisa diinstall di laptop).

Untuk file-nya sepertinya harus cari lagi yang pernah diunduh dahulu. Oiya, untuk tampilannya dapat dilihat di sample berikut ini, waktu itu sedang “duel” game sepak bola (winning eleven) dengan anak saya. Lihat juga contoh terapannya dengan Ms Power point berikut ini. Selamat mencoba, semoga bermanfaat.

Yang Perlu Dipersiapkan Ketika Akan Studi Lanjut

Di antara sekian banyak alasan sesorang melanjutkan kuliah (jenjang pascasarjana atau doktoral) salah satunya adalah tuntutan profesi sebagai peneliti atau dosen. Untuk itu perlu dipersiapkan baik mental maupun sarana pendukung seperti pembiayaan, masalah keluarga, dan lain-lain.

Untuk pembiayaan, sepertinya tidak ada masalah bagi dosen yang memiliki Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN) asalkan usia tidak melewati aturan yang ditetapkan. Untuk amannya jangan sampai melewati usia 40 tahunan. Ristek-Dikti menyediakan banyak sekali beasiswa dan bahkan kampus tujuan pun terkadang memberi beasiswa di luar skema Ristek-dikti.

Jika hal-hal lain seperti ijin belajar dari kampus asal, sertifikat bahasa Inggris (toefl atau IELTS), dan masalah administrasi lainnya sudah beres, ada baiknya hal-hal berikut ikut diperhatikan. Postingan ini hanya sekedar sharing saja dari pengalaman pribadi dan mungkin akan berbeda dengan pengalaman-pengalaman orang yang pernah studi lanjut.

A. Pemilihan Jurusan

Ada sedikit perbedaan mendasar antara jurusan di dalam negeri yang sedikit “rigid” dengan jurusan-jurusan di luar negeri yang mulai berspesialisasi. Di negara kita mengenal jurusan yang itu-itu saja seperti teknik mesin, teknik elektro, sastra inggris, dan lain-lain. Sementara itu di luar negeri sudah mulai terjadi akulturasi antar jurusan (multidisiplin ilmu). Hal utama yang harus diperhatikan adalah : 1) linearitas, 2) rumpun politeknik atau universitas. Banyak beasiswa Dikti ditolak karena seorang calon penerima beasiswa homebase-nya di politeknik tetapi kampus tujuannya universitas. Repotnya adalah sulit untuk mencari kampus-kampus politeknik di luar negeri, biasanya di Jepang dan Jerman.

Saya sendiri termasuk yang salah jurusan, padahal tidak terlalu jauh yakni harusnya information management tetapi saya masuk ke computer science. Hal ini terjadi karena beda kurikulum waktu S2 dulu. Memang tercantum ilmu komputer tetapi ternyata isinya cenderung ke information management (atau di kita sistem informasi). Repotnya adalah kesulitan dalam mencapai IPK 3.5 sebelum lanjut ke riset/penelitian disertasi.

Perhatikan betapa sulitnya mendapatkan B+. Untungnya saya segera sadar dan segera pindah jurusan dari computer science ke information management dan segera IP melonjak naik karena memang sesuai dengan bidangnya. Seumur hidup baru kali ini ngerasain nilai F alias “fail” .. he he.

B. Memilih Kampus Tujuan (Luar atau Dalam Negeri)

Kalau saya lihat sepertinya ada kategori-kategori kampus tujuan. Dikti sendiri untuk doktoral mengkategorikan kampus tujuan menjadi tiga: 1) full riset, 2) kuliah sambil riset, dan 3) kuliah dulu baru riset (setelah ujian kandidasi). Hal ini terkait dengan pendanaan, biasanya yang full riset tahun keempat tidak disupport lagi uang tuition (bayar SKS), sementara yang ketiga dibiayai (semester VII saja).

Saya sendiri mengkategorisasi menjadi: 1) kampus dalam negeri, 2) kampus luar negeri sulit dan 3) kampus luar negeri mudah. Ini menurut saya saja lho. Untuk yang otaknya tidak cerdas-cerdas banget seperti saya ada baiknya mempertimbangkan yang ketiga karena lebih berpeluang. Saya sendiri untuk masuk ke kampus dalam negeri seperti UI, UGM, ITB, dan lain-lain agak kesulitan karena banyaknya saingan. Sementara luar negeri tidak terlalu banyak, tetapi tentu saja syarat bahasa harus dipenuhi.

Beberapa kampus memiliki aturan sendiri yang berbeda dengan kampus-kampus lainnya. Ada aturan tertentu di Eropa dimana seorang mahasiswa yang gagal kandidasi untuk lanjut ke doktoral memperoleh gelar Master of Philosophy (M.Phil). Ini yang perlu diperhatikan karena jika mahasiswa yang bersangkutan menerima beasiswa untuk doktoral tetapi tidak lanjut dan hanya memperoleh gelar M.Phil maka Dikti menganggap tidak menjalankan studi lanjut semestinya.

C. Mengetahui Tahapan-tahapan Hingga Lulus

Yang perlu diingat adalah ketika memperoleh beasiswa, sesungguhnya bukan akhir dari sukses studi lanjut. Justru itu adalah awal perjuangan karena beban di pundak penerima beasiswa dimana uangnya yang digunakan berasal dari rakyat (APBN). Memahami tahapan-tahapan yang berlaku di kampus tempat kuliahnya sangat membantu, minimal mempersiapkan amunisi-amunisi selama berjalannya perkuliahan.

Tiap kampus berbeda, sebagai contoh di tempat saya kuliah tahapan-tahapan yang harus dilalui antara lain: 1) perkuliahan 18 sks dengan IPK >= 3.50 2) Ujian kandidasi (proposal disertasi), 3) Menyelesaikan tiap objektif (biasanya dua atau tiga objektif per judul), 4) publikasi di jurnal internasional yang diakui kampus, 5) pengecekan naskah disertasi oleh profesor eksternal (kampus lain), dan 6) ujian akhir (final defense). Perlu diperhatikan bahwa no. 4 merupakan tahap yang tidak bisa diprediksi, bisa beberapa bulan bahkan bisa pula beberapa tahun (oh tuhan).

Banyak sekali manfaat yang diperoleh dengan menggali informasi dari senior-senior baik yang sedang kuliah atau sudah lulus. Walaupun tiap mahasiswa memiliki kasus-kasus khas tertentu tetapi isu-isu umum biasanya tidak jauh berbeda. Tidak harus senegara dengan kita, ada baiknya juga berteman dengan satu atau beberapa rekan kuliah dari negara dimana kita kuliah. Minimal untuk survive (maklum beasiswa terkadang turunnya tidak bisa diprediksi).

D. Ikuti Aturan-aturan Yang Ada

Ristekdikti biasanya membuat aturan-aturan berdasarkan pengalaman-pengalamannya dalam mengelola beasiswa. Misalnya mahasiswa doktoral usianya dibatasi maksimal 50 tahun. Ketika kampus mengundang dirjen SDM ristek dikti (pak Gufron) ke kampus banyak yang mempertanyakan hal itu, dan minta ada dispensasi untuk dosen senior. Sepertinya logis tetapi ada pengalaman pahit yang saya alami ketika kuliah.

Di tahun kedua, ada rekan baru masuk (mahasiswa doktoral) dari kampus negeri di timur Indonesia. Usianya masih 50 tahun tetapi sudah jalan ke 51. “Ternyata ada yang lebih tua dari saya”, pikir saya dalam hati. Selang beberapa bulan, ketika MID semester dan sedang menuju toilet, beliau terjatuh karena stroke. Terpaksa jenazahnya dipulangkan kembali ke tanah air, semoga termasuk jihad di jalan Allah, amiin. Untuk yang mendekati 50 (atau masuk 40-an) saran saya sebaiknya ambil kuliah di Indonesia saja, lebih aman.

Tapi jangan berkecil hati dan tetap semangat. Oiya, untuk yang ambil S2, Anda bisa ambil jurusan apapun dan dimanapun (syarat dan ketentuan berlaku, he he), tetapi tidak untuk S3, perlu perencanaan yang tepat (biasanya saat wawancara beasiswa, diminta proposal risetnya). Ada pengalaman baik dari rekan saya yang lulus 2 tahun 9 bulan di kampus saya. Kebetulan dia ambil S2 di kampus yang sama, ketika mau ambil S3 dia sudah berkomunikasi dengan dosen pembimbing mengenai riset jika nanti S3 di tempat yang sama. Selama setahun dia mempersiapkan semuanya, dan setelah siap dan masuk kuliah, maka kuliah dapat berjalan dengan cepat dan lancar tanpa perlu meraba-raba lagi. Oiya, untuk S3 jika Letter of Acceptance (LoA) yang merupakan tanda diterimanya menjadi mahasiswa di suatu univ di tangan, kita tinggal mencara pemberi beasiswa. Selamat mencoba.

Ganti User ID di Windows 10

Lucu juga kalau dipikir-pikir, seorang eks IT di bank swasta berskala nasional, ketika ingin mengganti account windows 10 milik sendiri kebingungan. Maklum waktu itu windows yang digunakan masih xp untuk desktop dan windows 2000 untuk server. Itulah dunia IT, kalau tidak update informasi nanti jadi “kudet”, alias kurang update.

Windows 10 ditawarkan oleh microsoft secara gratis. Tadinya saya kira berita hoax, ternyata berita tersebut benar, asalkan dalam kondisi upgrade dari sistem operasi (OS) windows lama ke windows 10 yang baru. Ujung-ujungnya tetap saja beli lisensi windows yang lama. Ketika menggunakan windows 7 di laptop yang disubsidi dari kampus saya kuliah, waktu itu sering ada informasi update OS cuma-cuma yang muncul secara pop-up di laptop ketika digunakan. Karena banyak program-program penting dan khawatir tidak kompatibel akhirnya saya abaikan. Terakhir, ternyata kebanyakan jalan juga di windows 10 yang jauh lebih nyaman digunakan dibanding windows 8 yang agak berbau “touchscreen”.

Setelah browsing di internet, akhirnya ditemukan situs yang mengajari cara mengganti user ID windows 10 di link ini. Sederhana ternyata, hanya saja lokasinya agak sulit ditemukan. Di bagian menu Setting sendiri hanya mengganti foto login saja yang ada, sementara ganti nama user ID tidak ada. Oiya, klik kanan “my computer” atau “this pc” dan dilanjutkan dengan mengklik manage yang sering saya lakukan di windows yang lalu tidak ada juga menu users.

Langkah yang harus dilakukan untuk mengganti user ID di windows 10 adalah dengan menekan Windows + R untuk memanggil menu RUN dilanjutkan dengan mengetik “netplwiz” untuk memanggil setingan user account.

Tampak user yang ada masih bernama “lenovo”, laptop murah yang baru saja saya beli. Namanya tidak asing bagi orang jawa yang mirip kata “legowo” .. he he. Lanjut dengan dobel klik di user yang ingin diganti namanya, dilanjutkan dengan ganti nama dan tekan OK untuk mengakhirinya. Oiya, sebaiknya user tidak menggunakan permission level Administrators.

 

Lanjutkan dengan sekali lagi tekan OK untuk keluar dari menu netplwiz (entah singkatan apa itu?). Restart laptop Anda. Sekian, semoga bermanfaat.

 

H-index Scopus yang Merangkak Naik

Ramadhan kali ini memberi sedikit makna kepada saya. Setelah view blog yang menyentuh angka sejuta, ada pemberitahuan dari researchgate bahwa ada yang mensitasi tulisan ketiga saya yang terindeks scopus. Hasilnya ternyata h-indeks naik satu point menjadi dua, lumayan bagi periset pemula seperti saya. Periset yang berasal dari kampus yang belum begitu fokus ke riset, padahal kementerian yang menaunginya telah menggabungkan departemen riset dan teknologi dengan pendidikan tinggi. Gambar berikut memperlihatkan posisi h-indeks yang menyentuh sisi miring pada skala sitasi 2, alhasil h-indeks=2. Lihat postingan sebelumnya yang membahas apa itu h-indeks dan juga apa manfaat dari h-indeks itu sendiri.

Berikutnya untuk menggapai h-indeks=3 agak berat karena harus minimal tiga tulisan disitasi tiga kali. Walaupun dua, sebenarnya jika tanpa “self citation”, h-indeks saya masih satu (disitasi oleh dua orang selain saya). Tetapi dari sisi publikasi, self citation sepertinya masih diperbolehkan karena self plagiarism pun masih diterapkan. Justru kalau tidak merujuk tulisan yang kita tulis sebelumnya (hanya copas) malah masuk kategori self plagiarism ini.

Ada sedikit pertanyaan yang harus dijawab terkait indeks yang dimiliki kemristek-dikti (sinta), mengapa tidak langsung update dengan scopus (artikel sudah benar=4 tetapi sitasi masih 3). Seharusnya ketika scopus berubah naik h-indeksnya, Sinta secara otomatis naik. Mungkin masih dalam perbaikan dan saya yakin setelah fix nanti akan terkoneksi secara otomatis baik ke Scopus, Google Scholar, atau indeks lainnya.

Iseng saya menelusuri siapa yang mensitasi terakhir tulisan saya. Ternyata adalah Gomez, dari USA. Tulisannya merupakan conference internasional. Seneng juga tulisan kita muncul di list “reference” orang lain, apalagi terindeks scopus.

Sekian, semoga bermanfaat dan karena baru saja Idul Fitri saya mengucapkan Minal aidin walfa idzin, mohon maaf lahir dan batin.

Beli Laptop Ringan atau Kerjaan Ga Selesai-selesai

Untuk bekerja memang diperlukan sarana penunjang yang oke. Salah satunya adalah notebook atau dikenal dengan istilah laptop yang dipopulerkan oleh si “tukul arwana” dengan slogannya “kembali ke laptop”. Barang yang satu ini menjadi keharusan pekerja modern untuk menyelesaikan tugas-tugas keseharian seperti membuat laporan, mencari informasi, mengolah data, atau sekedar untuk hiburan dan entertainment. Untuk mendukungnya diperlukan spek laptop yang mendukung.

Untungnya teknologi terus berkembang sehingga tiap hari bermunculan produk baru yang memiliki kualitas yang baik tetapi dengan harga yang jauh lebih murah dari sebelumnya. Ketika kuliah dan tinggal di kampus, dengan satu laptop dengan spek tinggi semua masalah dapat diatasi karena memang kegiatannya hanya di kamar dan kampus saja. Masalah muncul ketika menulis laporan di luar kampus, alias di rumah, di Indonesia dimana kegiatan lain sangat menyita waktu bekerja. Ada ungkapan yang sering saya dengar dari rekan sesama dosen, saking sibuknya jangankan menulis, membuka laptop saja tidak sempat. Begitu juga yang saya rasakan, maka butuh tip dan trik untuk mengatasi masalah ini. Salah satunya adalah dengan bantuan laptop ringan pendukung laptop utama.

Sebelumnya tablet jadi andalan saya untuk alat bantu ketika “outside” dengan fasilitas-fasilitas produktivitas yang ada. Tapi sayangnya fasilitas tersebut tidak bisa menggantikan kerja laptop sebelumnya. Tidak mungkin menulis banyak dengan tablet, walaupun bisa dengan memanfaatkan doc keyboard yang banyak beredar di pasaran. Tetap saja ketika mengelola attachment tambahan seperti image, bagan, dan sejenisnya agak kerepotan. Kalaupun bisa, tetap saja untuk meng-capture hasil running tetap saja membutuhkan laptop utama yang berisi program utama (matlab, arcGIS, Visio, dll).

Kaget juga melihat harga laptop yang murah-murah ketika jalan-jalan menemani istri membeli laptop yang ringan karena laptop sony vaio yang lama terasa berat untuk dibawa-bawa. Dengan dana tidak jauh-jauh dari 3 jutaan ternyata berhasil membeli laptop ringan 11 inch. Untuk aplikasi perkantoran biasa, ngetik dan sejenisnya, mungkin bisa tetapi saya masih sanksi jika digunakan untuk software utama. Tetapi ketika coba diinstall ternyata bisa diinstall semua dan berjalan normal (Matlab, ArcGIS, IDRISI, Visio, dan lainnya). Sementara untuk baterai pun cukup tahan lama karena prosesor yang digunakan jenis mobile, tanpa kipas dan panas yang berlebihan. Tentu saja jauh lebih lambat dibanding laptop utama yang berprosesor i5 untuk running dan data processing, tetapi dengan slogan “lebih baik lambat tapi tetap jalan daripada cepat tapi banyak berhentinya” akhirnya dengan laptop ringan pekerjaan rutin dapat diselesaikan disela-sela kegiatan remeh temeh yang dapat menghambat. Sulit memang mencari waktu satu dua jam fokus di depan meja dengan laptop menyala, tetapi dengan laptop ringan, pekerjaan dapat dilakukan kapanpun dengan laptop nangkring di mana aja. Tentu saja saran di postingan ini hanya cocok untuk saya yang selalu “low budget” karena laptop berprosesor tinggi pun tersedia dalam bentuk ringan seperti Macbook Air, zenbook, dan kawan-kawannya yang dikenal dengan sebutan ultra-book yang berharga sama dengan harga motor bebek. Tetapi dengan laptop ringan yang murah, rasanya lebih aman dan tidak khawatir dari maling dan begal yang saat ini banyak beritanya, dan lagi, fasilitas Cloud tempat menyimpan data yang banyak teredia gratis saat ini membuat kita tidak khawatir data ikut hilang ketika laptop hilang/rusak. Semoga bisa menginspirasi.

 

Toko Online vs Konvensional

Dunia IT, komputer, hingga gadget (tablet, handphone, dan sejenisnya) merupakan dunia yang perkembangannya sangat cepat. Teknologi ini berkembang dalam hitungan detik dengan persaingan yang sangat ketat. Salah satu teknologi yang sangat menonjol perkembangannya akhir-akhir ini adalah internet, dengan fasilitas online-nya. Maju-nya facebook, google, dan hancurnya yahoo menghiasi berita-berita di media saat ini. Lesunya angkutan konvensional (ojek, taksi, dll) dan boomingnya angkutan online (grab, gojek, uber, dll) pun tak lepas dari dukungan teknologi informasi.

Fasilitas online yang disuguhkan oleh internet ternyata sanggup membunuh industri-industri yang tidak siap. Beberapa toko konvensional di Amerika Serikat banyak banyak yang gulung tikar karena sepi pembeli karena lebih suka belanja via aplikasi online yang banyak bertebaran di dunia maya. Bukan hanya tokonya, bahkan mall-nya pun terkena dampaknya, yaitu sepi pengunjung. Kecuali beberapa toko yang menawarkan ide-ide kreatif dan hal-hal khas lainnya.

Postingan ini berawal dari keisengan saya membeli barang via toko konvensional kemarin. Saya belanja laptop ringan karena laptop yang dahulu terasa berat untuk dibawa-bawa (sony vaio) padahal hanya digunakan untuk mengetik dan program perkantoran lainnya. Karena membutuhkan tes (kecepatan program, berat, tekstur, dan lain-lain) yang harus dilakukan langsung maka terpaksa mendatangi toko yang bersangkutan. Setelah menemukan barang yang dituju, akhirnya transaksi dilakukan secara cepat, berbeda dengan belanja online yang butuh waktu berhari-hari untuk membandingkan spek dan aspek lainnya antara satu merek dengan merek lainnya atau antara satu toko dengan toko lainnya. Jika sedang sial, kepala malah jadi pusing dan ujung-ujungnya tidak jadi membeli barang yang dimaksud. Dari sini saya menarik kesimpulan ternyata ada hal-hal tertentu yang tidak dapat dilakukan secara online. Entah setuju atau tidak, berikut ini hal-hal yang saya rasakan sebagai konsumen memandang toko konvensional memiliki keunggulan dibanding toko online yang kian hari kian menjamur.

A. Mengecek Kecocokan Barang Sesuai Selera

Mengecek di sini bisa berupa test drive untuk kendaraan, atau untuk barang-barang tertentu yang membutuhkan selera (makanan/minuman, mainan, barang pribadi, dan sejenisnya). Tentu saja toko online tidak bisa menyediakan fasilitas ini. Jika dipaksakan secara online, banyak konsumen yang kecewa, atau setidaknya tidak sesuai dengan harapan. Karena saya membutuhkan laptop ringan yang mendukung kerja sehari-hari dengan cita rasa tertentu, maka dengan mendatangi toko secara langsung, melihat barangnya, mengangkat untuk memperkirakan berat dan apakah enak dipegang, dapat menemukan barang yang sesuai dengan keinginan.

B. Asesoris-asesoris tambahan

Mungkin toko online dapat memenuhi permintaan secara utuh barang yang dibeli. Tetapi tentu saja barang yang dibeli membutuhkan alat-alat tambahan, baik keinginan sendiri atau saran dari penjual. Screen protektor, pelindung tambahan, hingga install software-software secara gratis oleh toko penjual terkadang menjadi daya tarik tersendiri dari pembelian secara langsung. Tetapi jika hanya ingin membeli asesoris itu sendiri seperti harddisk eksternal, mouse, dan sejenisnya toko online lebih fleksibel karena tidak banyak waktu yang terbuang untuk berbelanja.

C. Informasi Tersedia dengan Jelas

Berbeda dengan puluhan tahun yang lalu, saat ini dimana informasi mudah diakses, informasi terhadap suatu produk dapat diketahui dengan jelas. Walaupun terkadang butuh usaha ekstra untuk mengetahui kebenaran dari informasi tentang produk tersebut. Dengan kata kunci “plus-minus” atau “perbandingan” suatu produk, dapat diketahui informasi dengan cukup jelas. Forum juga sangat membantu membandingkan dan mempertimbangkan untuk membeli suatu produk. Berbelanja sambil membuka situs penjualan online juga sangat membantu untuk terhindar dari harga yang menjebak. Logika sederhana adalah jangan sampai membeli barang secara langsung dengan harga lebih mahal dari harga barang yang dijual secara online karena pembelian online menyertakan biaya pengiriman (akibatnya harga lebih mahal sedikit).

D. Kualitas Toko Konvensional Mulai Meningkat

Membeli laptop membutuhkan waktu cukup lama jika dilakukan langsung karena instalasi software-software yang biasanya disertakan secara gratis oleh toko tersebut. Hal ini cukup membantu budget kita yang terbatas. Banyaknya waktu dapat dimanfaatkan untuk mencari tahu dunia penjualan konvensional saat ini. Untuk menghindari bangkrutnya mall-mall di Jakarta, pemda mengajukan ide moratorium pendirian mall baru (pembekuan ijin pendirian). Ternyata cukup efektif karena mall-mall yang sudah ada diberdayakan kembali (peremajaan) dan terhindar dari kebangkrutan.

Jauh berbeda dengan ketika membeli laptop terakhir kira-kira lima tahun yang lalu, saat ini membeli laptop jauh lebih mudah. Ketika ditanya omset penjualan yang diperoleh ketika membeli laptop kemarin, mereka menjawab sangat memprihatinkan. Dari empat toko yang dimiliki, beberapa toko terpaksa di-merger untuk efisiensi. Dampaknya kualitas layanan ditingkatkan, jika berani macam-macam dengan menipu/berbohong resiko tanggung sendiri. Konsumen akan kabur. Persaingan antar mereka ternyata berubah menjadi saling mendukung. Jika tidak ada barang, suatu toko akan memperoleh barang dari toko tetangganya.

Satu hal yang cukup menyenangkan adalah layanan servis. Dulu saya pernah meminta jasa servis dan kebanyakan tidak memuaskan. Mereka lebih suka menjual barang baru dari pada memperbaiki barang yang rusak. Tetapi saat ini ketika banyak konsumen yang membeli barang secara online, jasa servis menjadi andalan utama yang kebetulan belum dimasuki oleh jasa online. Laptop jadul yang tidak menyala waktu itu iseng-iseng saya bawa dan serahkan ke servis untuk dibuat “menyala” kembali. Hal yang jarang saya lakukan sejak dulu karena sering kecewa terhadap penyedia jasa servis komputer.

Pasti banyak yang tidak sependapat dengan postingan ini tetapi saya hanya menulis berdasarkan pengalaman pribadi saja. Mungkin pembaca memiliki pengalaman yang berbeda dan alangkah baiknya mengisi komentar di bawah. Suka atau tidak suka, sepertinya dunia online tidak dapat dihindari. Fakta di lapangan untuk beberapa tahun ke depan menarik untuk dipantau. Ngomong-ngomong, buku yang saya buat pun diuntungkan dengan adanya penjualan online oleh gramedia (di link berikut ini). Semoga toko buku ini tidak bernasib sama dengan toko buku legendaris mas agung yang sudah tutup beberapa tahun yang lalu.

Tetap Menulis

Walaupun bergerak perlahan-lahan, ternyata sampai juga viewer blog saya di angka satu juta. Angka yang tentu saja jauh di atas vlog yang dibuat orang-orang di youtube. Alhamdulillah, berarti tulisan saya dibaca dan mudah-mudahan bermanfaat. Terlepas dari jumlah viewer, tujuan utama tulisan di blog ini adalah untuk sharing informasi berkaitan dengan teknologi informasi dan dunia akademik. Tidak ada sama sekali yang isinya menyinggung masalah politik, apalagi konflik keagamaan. Kalau pun ada sedikit, itu pun karena ketidaksengajaan atau karena bersentuhan dengan hal-hal real yang terjadi, dan tetap dalam koridor IPTEK.

Beragam komentar berusaha saya balas, walaupun terkadang pertanyaannya sangat menguras otak karena beberapa hal, salah satunya adalah sifat manusia: lupa. Postingan beberapa tahun silam terkadang sudah lupa, butuh beberapa saat untuk me-refresh kembali. Ada juga komentar bernada “nyinyir” bahkan menghina. Tetapi saya tetap bersyukur karena walau bagaimanapun, dia telah membaca karya tulis saya. Sumber-sumber saya usahakan untuk disertakan dalam tulisan, mengingat beberapa tulisan di jurnal ada yang mensitasi tulisan di blog ini dan ternyata oleh Google scholar dihitung juga sebagai nilai sitasi saya di google.

Apapun profesi kita, selama berada di negara ini sepertinya memiliki beban berat. Beban yang terjadi karena budaya kita yang mulai bergeser dari “tepo-seliro”, gotong-royong, saling menghargai menjadi budaya yang gemar mengkritik pedas, ingin sesuatu yang sempurna, dan sejenisnya. Tetapi toh, kita semua tetap setia dengan profesi kita masing-masing. Walaupun banyak saya lihat rekan-rekan yang masih tinggal di negara lain untuk bekerja karena selain upah yang lebih besar dari negara asalnya juga lebih dihargai. Begitu juga dengan menulis, suatu kegiatan yang menjadi bagian penting dari seorang dosen, tidak lepas dari kritik-kritik baik yang membangun maupun yang agak menghina.

Terlepas dari itu semua, karena tujuan utamanya untuk berbagi ilmu, apapun yang terjadi kita sebaiknya tetap menulis. Terkadang hal-hal sederhana yang kita miliki, terasa berharga bagi orang lain yang membutuhkan. Mungkin bagi Anda suatu pengetahuan tidak terlalu berharga, tetapi bagi orang lain yang kebelet buang air, informasi Anda mengenai toilet terdekat sangat membantu .. (kok jadi ngomongin itu ya).

Demikian tulisan untuk memperingati ke-sejuta-an viewer blog saya, semoga bisa terus berbagi. Memang ada hal-hal tertentu yang tidak dapat saya “ceplos”kan, mengingat hal-hal tersebut masih dalam suatu proses riset yang jika belum dipublikasikan belum bisa jadi “hak milik” saya. Salam ramadhan.

Melihat Kinerja Riset Kampus dengan SINTA

Salah satu pengindeks lokal negara kita adalah SINTA. Ternyata selain untuk melihat kinerja seorang peneliti juga bisa digunakan untuk melihat kinerja kampus. Caranya adalah dengan mencari berdasarkan Afiliasi institusi tertentu (kampus atau lembaga penelitian). Di sini akan saya coba buka kampus saya ngajar dan kuliah dahulu.

Pertama-tama buka situs SINTA. Kemudian masukan nama afiliasinya, misalnya “universitas islam 45” dilanjutkan dengan menekan simbol “search”. Dari hasil pencarian, tekan link yang ditampilkan untuk melihat secara umum (overview) institusi yang akan dilihat.

Tampak total sitasi berdasarkan “google” dan “scopus”. Untuk melihat pengarang-pengarang yang ber-“homebase” di institusi itu tekan “Authors” yang simbolnya kepala-kepala orang. Hingga saat ini proses registrasi sedang berjalan dan ada kemungkinan “score” bertambah dengan bertambahnya author yang terverifikasi.

Ada beberapa author yang belum memiliki ID Scopus yang diperoleh jika author pernah submit jurnal atau conference yang terindeks scopus. SINTA sendiri memiliki score yang dapat dilihat dengan menekan tombol “Score”.

Score yang lumayan untuk kampus kategori binaan. Saat ini sitasi “google” masih dipimpin oleh UGM sementara “scopus” dikuasai ITB, jika dilihat di menu utama SINTA.

SINTA selain menarik data dari google scholar dan scopus, juga data dari IPI atau yang dikenal dengan portal garuda. Karena menarik data dari portal garuda yang berisi jurnal-jurnal lokal baik terakreditasi atau tidak bisa juga digunakan untuk melihat kinerja suatu jurnal. Misalnya jurnal yang sempat saya buat tahun 2013 kenerjanya dapat dilihat dengan men-search di SINTA.

Tampak sitasi dan index yang masih nol. Semoga postingan ini bermanfaat. Kinerja di atas hanya sekedar ilustrasi dan masih sementara karena proses verifikasi masih berjalan. Jadi masih ada kemungkinan untuk bertambah, sekian.

Virtual Machine dengan VMWARE

Postingan ringan kali ini membahas tentang mesin virtual (virtual machine). Mesin virtual di sini yang dimaksud adalah mesin virtual pengganti personal computer (PC). Mesin ini berjalan di dalam sistem operasi dengan memanfaatkan sumber daya yang ada pada suatu PC (prosesor, ram, vga, dan sebagainya). Beberapa pengalaman unik dengan mesin virtual akan saya share, siapa tahu bermanfaat bagi pembaca sekalian.

Berfungsi Sebagai Server Sementara

Ada pengalaman unik ketika saya masih bekerja di IT suatu bank swasta nasional. Jadi ceritanya ada pergantian PC Server cabang di tempat kerja saya dahulu, tetapi sistemnya sendiri belum dijalankan (tetapi sudah dipasang, server berbasis windows terbaru). Karena sistem saat ini masih menggunakan versi yang lama sementara seluruh PC server diganti yang baru, maka untuk sementara dipasang server virtual dengan versi yang lama karena proyek penggantian sistem yang baru belum dieksekusi.

Tadinya saya terkejut karena menggunakan server virtual untuk transaksi real. Tetapi setelah dijalankan ternyata tidak ada masalah karena walaupun virtual, data tetap real. Butuh tulisan yang panjang untuk membahas IT di perbankan, tetapi intinya mesin virtual layak dijalankan. Bahkan saat ini layanan cloud computing sudah biasa menggunakan mesin-mesin virtual, misalnya Amazon. Suatu server induk menyediakan layanan berupa server-server virtual untuk nasabah yang membutuhkan server untuk operasionalnya. Waktu itu yang digunakan adalah VMWARE yang ternyata gratis untuk playernya.

Multi-platfom

Untuk menginstal dua sistem operasi dalam satu mesin memang bisa dengan menggunakan dual operating system. Tetapi karena diinstal secara real, maka konsekwensi yang dihadapi juga real. Maksudnya adalah hardisk terpartisi, dan masalah-masalah sumber daya lainnya. Dengan mesin virtual, saya bisa menggunakan beragam sistem operasi dalam mesin virtual tanpa mengganggu sistem utama ketika tidak digunakan. Beberapa sistem operasi telah saya coba dari redhat, ubuntu, hingga yg berlogo kadal (saya lupa namanya, maklum banyak fikiran).

Masalah Driver

Saya memiliki scanner UMAX dengan driver berbasis windows xp. Ketika PC saya berganti windows 7 ternyata tidak bisa digunakan drivernya. Cari di internet ternyata tidak ketemu (walaupun ada yang berbayar tapi malas juga keluar duit lagi untuk barang lama). Akhirnya dari pada scanner tidak terpakai, saya gunakan saja mesin virtual ketika menjalankan scanner tersebut.

Masalah Kompatibilitas Program

Program jadul ternyata tidak bisa berjalan dengan sistem terbaru, walaupun biasanya ada fasilitas backward compatibility. Di menu windows ada pilihan kompatibilitas dengan sistem operasi yang lama, tetapi tidak semua berjalan. Kadang walaupun berjalan ada fasilitas-fasilitas tertentu yang tidak bisa beroperasi. Nah, dengan virtual machine masalah itu dapat terselesaikan.

Untuk yang seumuran saya mungkin ada yang kangen dengan games jadul, untuk sekedar mengenang waktu kuliah dulu. Banyak situs-situs yang masih menyediakan source game tersebut, tetapi harus dijalankan dengan versi OS yang cocok dengan saat itu, misalnya windows XP. Mesin virtual dapat mengatasi masalah itu.

Salah satu yang menjengkelkan adalah kewajiban menggunakan program access untuk laporan serdos yang hanya bisa dijalankan dengan OS 32 bit windows. Repot juga jika laptop/pc kita menggunakan OS 64 bit, seperti saya. Salah satu jawabannya adalah dengan menggunakan mesin virtual, beres sudah, duit cair, he he. Terakhir saya menggunakan mesin virtual untuk bikin seneng anak yang mulai gemar game sepakbola. Repot juga kalo harus keluar uang beli PS, mending instal game jaman dulu saya di mesin virtual, colok ke flat TV, pakai keyboard dan mouse wireless, beres dah. Asal mainnya dari jauh dan jam-nya dibatasi sepertinya aman dibanding main tablet, laptop atau gadget lainnya.

Land Use dan Land Cover dalam Riset

Banyak riset saat ini yang melibatkan Land Use/Cover (LULC). Riset tersebut termasuk kategori riset yang melibatkan banyak disiplin ilmu (inter/multi-discipline). Entah itu bidang pertanian, lingkungan, perencanaan kota, dan lain-lain, jika melibatkan LULC maka wajib mengetahui dasar-dasar Sistem Informasi Geografi (GIS). Termasuk saya yang meneliti optimasi data spasial terpaksa membutuhkan pembimbing dari jurusan remote sensing dan GIS (RS-GIS).

Persamaan dan Perbedaan Land Use dengan Land Cover

Ada persamaan dan perbedaan antara land cover (LC) dengan land use (LU). Persamaanya adalah keduanya membagi suatu wilayah dalam kelas-kelas tertentu, misalnya vegetasi, pertanian, sungai, dan lain-lain. Perbedaan mendasar adalah dari sisi pembagian kelas-kelas tersebut. LC membagi kelas-kelas berdasarkan sifat biofisika yang dapat diketahui langsung dengan image processing dari citra/foto satelit. Sementara LU membagi kelas-kelas berdasarkan bagaimana manusia memanfaatkan suatu lahan, misalnya untuk komersial, perumahan, industri, dan lain-lain. Jadi LC lebih umum dalam membagi dibanding LU. Built-up yang artinya wilayah tempat dibangunnya suatu gedung, merupakan pembagian berdasarkan LC, karena biofisika yang berbeda dengan vegetasi. Sementara built-up itu sendiri jika berdasarkan LU, yakni bagaimana manusia menggunakan lahan, bisa dirinci lagi menjadi perumahan, kesehatan, industri dan fungsi built-up lainya.

Riset yang Melibatkan LULC

Jika berbicara mengenai riset, biasanya kita berbicara mengenai publikasi dan sumber pendanaan. Terkadang keduanya tidak singkron, maksudnya dari sisi tujuan. Dari pengalaman yang saya alami sebagai pemula, perbedaan antara publikasi dan pendanaan hibah sangat signifikan dilihat dari keberhasilannya (accepted jurnal dan accepted pendanaan hibah).

Terkadang tema yang layak di jurnal (terutama jurnal internasional) sulit diterima jika diajukan untuk pendaan suatu hibah. Jurnal internasional membutuhkan kebaruan (novelty) sementara jika tidak ada kontribusinya langsung (terhadap masyarakat, pemerintah, dan pihak tertentu) biasanya ditolak. Sementara yang berkontribusi langsung walaupun tidak ada unsur kebaruan di dalamnya diterima. Oleh karena itu harus ada kompromi antara keduanya jika ingin diterima baik publikasinya ataupun pendanaan hibahnya. Apalagi saat ini pemerintah mewajibkan luaran hibah penilitian berupa jurnal internasional, tidak hanya laporan hasil dan purwa rupa-nya.

Untuk saat ini sebagai patokan riset yang melibatkan LULC agar diterima di jurnal internasional adalah cakupan study area. Rekan saya yang meneliti penyebaran hotspot/wifi beberapa kali ditolak naskahnya di jurnal internasional karena cakupan yang sempit. Untuk amannya, gunakan scope minimal suatu kota/district jika ingin mempublikasikan di jurnal geografi. Jika scope terlalu sempit, editor cenderung lebih santai dan tanpa usaha menolak naskah Anda. Langkah alternatif adalah mempublish di jurnal lain yang bukan geografi, misal untuk kasus di atas di jurnal Information and Communication Technology (ICT). Akhirnya rekan saya berhasil dipubliksh di jurnal itu, walaupun menghabiskan hampir dua tahun selalu gagal di jurnal geografi, sebelum beralih ke ICT.

Bagaimana dengan hibah? Tentu saja hibah harus memperhatikan kebutuhan dan keinginan pemberi dana. Namun, jangan melupakan kebaruan/novelty yang berpeluang ditemukan ketika melaksanakan proyek hibah tersebut. Jangan khawatir, walaupun perkembangan riset sangat pesat, masih banyak hal-hal tertentu yang masih buram dan harus diriset. Misalnya kita mengajukan hibah untuk mengelola sistem informasi geografis suatu daerah. Ketika melakukan klasifikasi dan penamaan, masih banyak kendala yang dihadapi para peneliti di dunia. Citra satelit yang dihasilkan mungkin tidak bisa langsung mengklasifikasi suatu built-up menjadi perumahan dan sejenisnya, nah itulah tugas Anda membuat kode/metode untuk membedakannya. Bukankah mata Anda langsung bisa membedakan antara daerah industri, sekolah dan perumahan? Jika mata kita bisa membedakannya kita tinggal membuat prosedur yang digunakan oleh model/sistem untuk secara otomatis “menebak” suatu bangunan itu perumahan ata bukan. Atau hal-hal lain dari hibah yang sudah diterima untuk dibuatkan jurnal internasional berdasarkan kebaruan yang ditemukan selama mengerjakan proyek hibah tersebut. Selamat meneliti, semoga tulisan singkat ini bisa menginspirasi.

 

Mindfulness

Hari ini ternyata hari “visacha bucha” yang merupakan hari libur di Thailand. Hari libur itu katanya merupakan peringatan terhadap kelahiran, pencerahan, dan wafatnya sang Budha. Facebook sendiri menginformasikan hari peringatan tersebut, khusus pengguna yang berada di negara-negara dengan mayoritas Budha sepertinya.

Saya sendiri yang muslim sangat menghormati bukan hanya ulama-ulama melainkan juga pemerhati-pemerhati spiritual agama lain seperti pendeta, biksu, dan lain-lain. Apapun ajarannya mereka berusaha menuju ke arah kebenaran. Postingan ringan kali ini tidak bermaksud membahas hari raya visacha bucha atau ajaran agama Budha, melainkan satu konsep unik dan menarik dari ajarannya yaitu mindfulness.

Mindfulness adalah keterampilan yang harus digunakan ketika bermeditasi atau dapat juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, walaupun agak sulit. Sepertinya penganut apapun boleh menerapkan mindfulness karena memang suatu keterampilan dalam mengisi kehidupan sehari-hari.

Apa itu Mindfulness ?

Waktu itu ada seminar penulisan artikel ilmiah di kampus saya kuliah. Pembicaranya saya tidak begitu mengetahui apa agamanya, mungkin Hindu karena berperawakan asia selatan. Gaya bicaranya tidak meledak-ledak tetapi enak didengar. Salah satu tip dan triknya untuk bisa berfikir dengan baik agar dihasilkan karya ilmiah yang bermutu adalah dengan mengelola cara berfikir kita. Dia menganjurkan untuk bermeditasi dengan konsepnya mindfulness. Mindfulness adalah suatu cara berfikir yang tetap menyadari apa yang terjadi saat ini. Yang disadari bukan hanya kondisi fisik di badan melainkan juga fikiran dan suasana hati. Prinsip dasarnya adalah berada pada saat ini, tidak terlalu hanyut dengan masa lalu dan atau mengkhawatirkan masa depan.

Tidak ada salahnya prinsip mindfulness dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari. Hasilnya tentu bukan hanya prestasi, tetapi hubungan sosial juga baik. Bandingkan saja, bagaimana perasaan kita ketika berdialog dengan seseorang yang fokus fikirannya saat ini dibanding dengan orang yang fikirannya ke tempat lain. Tentu kita akan nyaman dengan orang yang fikirannya ada pada saat ini, detik ini juga. Dosen yang sedang membimbing siswa pun akan optimal dan siswa merasa nyaman. Waktu yang ada menjadi efektif.

Menghindari Cari fikir Auto-pilot

Hampir kebanyakan kita menerapkan secara tidak sadar konsep auto-pilot ini. Maksudnya adalah ketika ketika melakukan suatu aktivitas baik mental maupun fisik, tidak menyadari apa yang sedang dilakukan atau difikirkan. Sebaiknya segera beralih dari prinsip auto-pilot ini karena selain tidak sadar (unconscious) juga melelahkan, terutama bagi Anda yang sedang sekolah atau kuliah (apalagi doktoral .. he he).

Tidak semua auto-pilot itu baik. Misalnya terhadap suatu kejadian di luar, kebanyakan kita cenderung menggunakan prinsip auto-pilot, yaitu bereaksi dengan cepat yang terkadang reaksi tersebut adalah negatif (marah, kecewa, dan sejenisnya). Teorinya mudah, tetapi ketika dipraktekan akan sulit sekali karena mudah sekali batin kita dipicu oleh rangsangan dari luar (biasanya dari panca indera).

Menyadari Batin

Mindfulness yang lebih sulit adalah menyadari batin. Untuk mengetahui lebih jauh, search aja “cittanupassana” dalam istilah pali-nya. Kalau saya sepertinya menyadari fikiran dulu saja sebagai dasar, sudah lumayan kalau bisa tetap dipertahankan setiap saat. Ketika prinsip ini dijalankan biasanya kekuatan mental bertambah, ngantuk dan lelah biasanya jadi jarang. Pengalaman tiap orang ketika mempraktekan mindfulness dalam kehidupan sehari-hari mungkin berbeda-beda, entahlah. Yang saya alami terkadang bukan hanya fikiran atau perasaan yang disadari melainkan juga rentetan peristiwa yang menyebabkan satu fikiran muncul bisa diketahui dan disadari. Misalnya ketika muncul kebencian yang tiba-tiba. Jika terbiasa mindfulness, terkadang bisa diketahui asal mulanya dari rentetan pemicu yang sepele dan tidak seharusnya jadi kebencian. Setelah disadari biasanya kebencian itu hilang, kecuali kalau masih auto-pilot yang dipakai. Kemunculan hal-hal tertentu datang dan pergi untuk selama-lamanya tetap harus bisa disadari. Jika fikiran yang meloncat-loncat seperti monyet sudah jarang terjadi, berarti keterampilan dalam mengelola batin sudah maju.

Demikian tulisan singkat, silahkan ambil yang baik dan buang yang tidak bermanfaat. Bahkan di barat sudah mulai diterapkan self awareness, silahkan liat video berikut (English).

Atau lihat animasi ini, singkat tapi jelas:

 Update: 19/5/2017

Ternyata visacha bucha itu hari raya waisak di Indonesia, hanya saja waktunya selisih sehari setelah visacha bucha.

Membaca (Lebih) Cepat

Postingan yang lalu sedikit disinggung alasan mengapa harus bisa memba cepat. Kali ini ternyata nemu referensi tentang bagaimana tip dan trik agar membaca lebih cepat dari sebelumnya. Waktu itu iseng-iseng ke perpustakaan kampus karena jenuh mengetik di kamar kos. Oiya, perpustakaan saat ini sepertinya sudah mulai berubah paradigmanya, dari tempat mencari sumber referensi menjadi tempat yang nyaman untuk membaca, berselancar, video conference, belajar kelompok dan sejenisnya. Karena untuk sumber referensi saat ini internet sudah mulai menggeser peran perpustakaan sendiri. Gambar berikut contoh salah satu bentuk perpustakaan di salah satu perguruan tinggi di eropa yang tanpa terlihat adanya rak buku (bookless).

Dan sasaran saya ke perpustakaan selain tempat “ngadem” dan berjam-jam ngutak-atik internet dan mengerjakan laporan adalah mencari buku-buku unik dan langka. Salah satu yang saya temukan adalah teknik membaca karya Harry Bayley yang berjudul “Quicker Reading” dan terbit tahun 1971, jaman periode pertama kampus AIT yang dipimpin oleh Milton E. Bender, Jr waktu itu.

Sudah cukup tua, sampulnya pun sudah terkelupas, tapi setelah saya baca lumayan juga banyak tip dan trik yang diperoleh dari buku tersebut. Isinya berupa tip dan trik singkat lalu dilanjutkan dengan contoh bacaan beserta pertanyaan bacaan. Kita diminta untuk mengukur waktu dengan stopwatch, tersedia di HP atau laptop. Kemudian kecepatan membaca sudah tersedia di tabel dengan satuan kata per menit (jumlah kata dibagu detik waktu dan dikali 60). Untuk pertanyaan, jangan sampai nilai kurang dari 60% benar. Tidak ada paksaan agar membaca cepat, karena targetnya adalah kecepatan bertambah dari sebelumnya.

Ada sekitar 12 trik yang dibahas dibuku tersebut (saya rangkum jadi 5 saja). Tiap bab berisi satu tip dan trik dengan dua latihan yang sepertinya bekerja dengan baik. Buktinya adalah kecepatan membaca yang terus bertambah, walaupun kecepatan saya tetap berada di “tarif bawah”, he he. Tapi ya wajar saja karena bacaannya bahasa Inggris mirip IELTS yg ada saat ini. Berikut ini satu persatu tip dan trik yang diajarkan buku tersebut (setelah bab membahas alasan meningkatkan kecepatan bacaan, proses yang terjadi ketika membaca, dan intro-intro lainnya).

1. Jangan Bersuara

Walaupun Anda seorang Rapper handal yang mahir berbicara cepat, tetap saja tidak akan melebih 200 per menit. Oleh karena itu mulai saat ini jangan mencoba untuk bersuara seperti anak SD membaca di depan kelas.

2. Jangan Berbicara dengan Diri Sendiri (Vocalization)

Berbicara dengan diri sendiri di sini maksudnya adalah mirip dengan no.1 di atas tetapi tidak bersuara melainkan bersuara di kepala. Ternyata walaupun tidak bersuara tetap saja bersuara dalam hati ternyata mengurangi kecepatan membaca kita. Berbicara dengan diri sendiri juga mengomentari yang sedang kita baca saat ini. Misal ketika membaca suatu nama, kita berpaling ke nama yang mirip dengan nama itu dan kehilangan fokus, dan ketika sadar kehilangan fokus, kita kembali lagi mengulangi membaca kalimat itu yang berakibat kehilangan speed. Sekali lagi, jangan terlalu terlibat dulu dengan menyimpulkan, anggap kita seperti spon yang mudah menyerap cairan informasi.

3. Jangan Melihat Kembali

Kalau kita berdialog dengan seseorang, tentu saja lawan bicara tidak nyaman jika kita sering meminta mengulangi apa yang baru saja dikatakan. Kalau sekali dua kali sih tidak apa-apa, kalau sering tentu saja mengganggu kenyamanan dialog. Begitu juga dengan ketika membaca, usahakan yang kita baca tidak kita ulangi karena akan memperlambat bacaan kita. Anggaplah buku itu orang lain yang kita ajak dialog.

4. Kamu dan Matamu

Agak kasar juga judulnya bagi orang jawa, “matamu”. Ternyata otak menerima informasi kata ketika mata berhenti bergerak. Makan banyak mata bergerak, speed akan turun. Bayangkan gambar di bawah ini, jika satu kalimat itu berhenti hanya dua kali (tapi mata bisa menjangkau di sekitar batas berhenti), maka lebih cepat dibanding tiap kata (seperti siswa SD) atau empat berhenti, mungkin karena kata yg sulit.

Ada tip dan trik yang diberikan dari buku tersebut yaitu kalau bisa tiga kata awal harus terjangkau di satu titik pemberhentian jika ingin memiliki sedikit stopping. Ada satu latihan jangkauan mata di salah satu bab (bab 11) yang mencoba mengukur jangkauan mata kita terhadap penggalan kalimat.

Jika ada lima rekan anda berdiri berjejer, Anda tentu dapat mengenal mereka tanpa meneliti secara detil satu persatu. Begitu juga ketika membaca, sebanyak mungkin jangkauan mata terhadap kata dalam satu titik berhenti (maksudnya bola mata diam). Coba latih membaca surat kabar yang berbentuk kolom-kolom dengan bola mata hanya bergerak turun, tanpa kanan kiri. Artinya satu perhentian bola mata menjangkau kiri dan kanan kolom bacaan.

5. Ritme dan Tingkat Kesulitan

Ciri-ciri membaca yang baik selain cepat adalah ritme yang pas, tidak lambat di awal, cepat di akhir atau sebaliknya. Membaca menjadi santai tidak melelahkan karena mengikuti kecepatan alamiah kita. Mungkin kalau ujian READING harus dipaksa cepat kali ya. Selain itu disarankan juga ketika membaca mirip ketika mengendarai kendaraan manual. Terkadang memindahkan gigi dari cepat ke lambat jika dijumpai kasus tertentu, apalagi ketika membaca “white paper” yang berisi tabel, grafik, dan sejenisnya selain kata/kalimat.

Demikian ringkasan dari tip dan trik membaca cepat. Dimulai dari mengurangi pergerakan kepala, vocalization, hingga meningkatkan jangkauan mata diharapkan mampu mempercepat membaca. Dan tentu saja harus sering-sering berlatih dengan membaca sebanyak-banyaknya sumber informasi. Semoga bermanfaat.

Outdoor Library with Acoustic Concert in AIT

Memaknai Beasiswa

Kemarin hari pendidikan nasional (HARDIKNAS), jadi teringat perjalanan beasiswa saya. Apa makna beasiswa bagi saya? Mungkin cerita singkat ini bisa menjawabnya.

Waktu itu tahun 2008, saya memutuskan untuk berhenti bekerja di konsultan IT suatu bank swasta. Suatu karir yang saya kerjakan bersamaan dengan mengajar di suatu kampus IT dekat tempat saya bekerja. Hal ini saya lakukan karena tidak kuat menjadi buruh “IT” yang bekerja lebih keras dari kuda, mengapa lebih keras? Karena bekerja sampai malam hari (kuda pun sudah bobok). Akhirnya saya fokus ke dunia kampus, menjadi seorang dosen dan mengharuskan studi lanjut ke jenjang strata dua, walaupun waktu itu masih diperbolehkan menjadi dosen dengan jenjang S1.

Studi Lanjut S2

Setelah mencari kampus-kampus tujuan, ketemulah yang terdekat yaitu kampus negeri terkenal di Indonesia yang ada di Jakarta. Daftarlah saya bersama dan bertemu dengan rekan-rekan dari seluruh Indonesia. Banyak juga ternyata, dan kebanyakan adalah praktisi-praktisi yang ingin upgrade ilmu. Selain itu banyak juga dosen-dosen seperti saya. Soal TPA dapat dilalui dengan baik, hanya saja test bahasa Inggris yang amat sulit, terutama di bagian pertanyaan bacaan yang saya sendiri heran, apa benar ada orang yang bisa mengerjakan soal tersebut dengan waktu yang cukup. Dua lembar halaman harus dibaca untuk menjawab soal yang diberikan dan karena bentuknya, tidak bisa dilakukan dengan skimming, metode baca cepat yang sering saya pelajari. Ada waktu jeda antar tes, dan saya lihat wajah pucat pasi para peserta test, banyak juga yang jadi kereta api, alias merokok untuk menghilangkan ketegangan.

Terakhir adalah wawancara yang dilakukan oleh dosen kampus tersebut. Di awal langsung mengatakan bahwa kampus tersebut tidak menerima beasiswa. Waktu itu saya dengar sambil lalu saja karena saya sendiri tidak berminat untuk memperoleh beasiswa. “Coba dengan biaya sendiri aja lah”, kataku dalam hati. Alhasil wawancara berhasil dan saya dinyatakan lulus. Banyak juga yang ditolak karena ketika wawancara sudah menyatakan bahwa mahasiswa tersebut tidak bisa mengikuti kuliah full, kata dia memberitahu saya ketika selesai wawancara. Maklum saja, dia bekerja di suatu perusahaan swasta yang terkadang ada job ke luar kota beberapa waktu lamanya. Dan sudah bisa ditebak, masalah muncul ketika menganggarkan untuk biaya kuliah, maklum kaki sekarang hanya satu pijakan, hanya mengajar di kampus. Berbeda dengan ketika bekerja sambil mengajar. Ditambah lagi harus memikirkan anak yang siap lahir, akhirnya saya melepas, alias mengundurkan diri. Mungkin untuk uang masuk dan biaya awal lainnya bisa tetapi jika untuk beberapa tahun agak berat juga. Rekan saya di kampus negeri lain yang menerima beasiswa biasanya dilakukan dengan cara “on-going” yaitu kuliah dulu baru mengajukan beasiswa, yang biasanya disetujui. Untunglah saat ini kampus negeri ternama itu bersedia menerima beasiswa, jadi bagi para anak-anak muda yang ingin kuliah di sana ada peluang kuliah tanpa bayar.

Kuliah Biaya Sendiri

Untungnya di kampus tempat saya mengajar buka prodi S2 baru dan dosen boleh mengikuti kuliah tanpa biaya dengan ikatan dinas, atau 50% tanpa ikatan. Untungnya saya memilih yang tanpa ikatan dinas. Jadi intinya bukan biaya sendiri sebenarnya melainkan hanya membayar setengahnya. Pilihan saya tepat karena ketika lulus di tahun 2010 saya pindah mengajar di kampus lain dekat rumah di Bekasi karena lelah bermacet ria di Jakarta, mengingat hampir tidak ada jalanan yang tidak macet dari Bekasi ke Jakarta. Salah satu keuntungan lain yang diperoleh dari S2 adalah menerima tunjangan sertifikasi dosen, lumayan, uang yang dikeluarkan sendiri untuk kuliah sepertinya terbayar sudah. Tentu saja berbeda kualitasnya antara lulusan swasta dengan kampus negeri, setidaknya “harga” ijasahnya. Namun toh belum tentu juga sih, saat ini kampus swasta tempat saya kuliah sudah melahirkan seorang Ph.D yang baru lulus dari Taiwan, dan semoga tidak lama lagi Ph.D yang lulus dari Thailand (he he). Mengapa kampus luar? Berikut ini alasannya.

Studi Lanjut S3

Ketika saya mengajar pertama kali, saya lihat rekan yang bergelar master, entah itu MT, M.Kom, MMSi, dan lain-lain masih jarang dan kalaupun ada sudah bisa dibilang “wah”. Akhirnya saya coba ambil master, dan setelah lulus banyak sekali master-master yang muncul, sehingga tidak “wah” lagi. Apalagi DIKTI mewajibkan dosen untuk memiliki ijazah S2. Saya yakin jika saya ambil doktor, yang saat berangkat (2013) masih jarang dan masih “wah” ketika lulus nanti sudah banyak dan tidak “wah” lagi. Dan kemungkinan Profesor menjadi sasaran berikutnya, atau setidaknya “perang doktor”, maksudnya bukan sekedar doktor, harus ada plus-nya, misalnya jumlah dan kualitas publikasi, lulusan mana (dalam/luar negeri), bidangnya (banyak doktornya atau yang langka), dan lain-lain.

Kampus Dalam or Luar Negeri?

Untungnya kondisi 2010-an jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Banyak beasiswa yang ditawarkan, bahkan DIKTI sampai mengembalikan anggaran karena hanya terserah 50 persen saja, khususnya beasiswa yang ke luar negeri (dulu namanya BPPLN). Mungkin dosen yang kebanyakan sudah berkeluarga seperti saya enggan untuk studi lanjut ke luar negeri dan meninggalkan keluarga karena istri yang bekerja juga. Bukan hanya beasiswa, DIKTI juga memberikan pelatihan dan IELTS cuma-cuma disertai biaya hidup untuk dosen, yang saya ikuti di Jogja dua bulan waktu itu. Hasilnya IELTS itu saya gunakan untuk mendaftar S3 di kampus tujuan.

Melihat dari pengalaman-pengalaman rekan yang memiliki ijazah s2 dari kampus lokal ternama agak kesulitan mendaftar S3 di kampus dalam negeri, membuat saya berfikir untuk terpaksa kuliah di luar negeri. Alasannya sederhana, ijazah yang dari kampus ternama, yang terakreditasi A saja sulit diterima apalagi saya. Lalu jika ijazahnya dari kampus ternama baiknya S2 dalam negeri? Ya tentu saja itu khusus orang-orang seperti saya yang bahasa Inggrisnya kurang lancar dan ada keluarga yang tidak bisa dibawa. Kebetulan waktu saya berangkat, keluarga yang ikut tidak ditanggung, walaupun di tahun berikutnya ditanggung 50%. Oiya, ada aturan waktu saya berangkat, usia maksimal untuk S3 ke luar negeri 47 tahun, sementara dalam negeri masih 50 tahun diperbolehkan. Adilkah? Mulanya saya fikir tidak adil tetapi ketika melihat langsung rekan saya dari mataram yang meninggal karena stroke di kampus ketika ujian MID semester di usia 50 membuat saya memahami mengapa usia 50 sebaiknya tidak kuliah di luar negeri.

Beasiswa itu Hutang atau Tidak?

Pertanyaan yang mudah dijawab. Beasiswa ya tentu saja hutang karena pemberi beasiswa mengeluarkan dana untuk membiayai kuliah. Setidaknya hutang budi. Tetapi biasanya pemberi beasiswa bukan seperti pemberi kredit bank, atau pembiayaan yang lain. Aspek yang diutamakan adalah bantuan sosial yang tidak melihat untung rugi atau balik modal. Akhir-akhir ini saya lihat banyak wacana bahwa karena beasiswa berasal dari APBN yang merupakan uang rakyat, maka penerima beasiswa harus memperhatikan itu. Bahkan disarankan untuk penerima beasiswa yang tidak kembali ke Indonesia untuk ditagih lewat debt collector, bahkan diancam untuk dibekukan paspornya. Saya melihatnya kok agak aneh. Sebagai ilustrasi, rekan saya yang diterima di kampus taiwan mengundurkan diri dari menerima beasiswa DIKTI karena ada tawaran beasiswa dari pemerintah Taiwan, lewat kampusnya, yang nota bene adalah dari negara lain dan tanpa ikatan. Saat ini yang bersangkutan sedang mengabdi mencerdaskan bangsa di kampusnya di daerah Purwokerto.

Tapi jika Anda berpendapat bahwa penting untuk bertindak tegas terhadap penerima beasiswa yang tidak balik ya silahkan saja. Untuk mengganggapnya sebagai kriminal juga tidak apa, itu urusan dan pendapat masing-masing. “Kan beasiswa berasal dari pajak rakyat”. “Iya, memang benar, saya juga bayar pajak”. Sama dengan jalan raya yang berasal dari pajak, tentu saya yang bayar pajak boleh dong memanfaatkannya. Tinggal kewajiban kita merawat jalan, menjaga kebersihannya dengan tidak buang sampah di jalan, sopan santun di jalan, dan lain-lain. Kewajiban penerima beasiswa juga begitu, kembali mencerdaskan bangsa atau ikut terlibat dalam pembangunan bangsa, dan tentu saja tidak korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang justru menurut saya jauh lebih nakal selaku ex. penerima beasiswa.