Peer-to-Peer System vs Mediator

Generasi seusia saya pasti pernah mengalami dengar musik lewat kaset, CD, hingga DVD. Namun masih kah dengan cara yang sama saat ini? Masih, mungkin hanya hadiah album dari KFC atau siswa yang mengumpulkan laporan skripsi ke kampus. Mengapa hal ini terjadi? Jawabannya adalah ditemukannya konsep Peer-to-Peer di tahun 90-an.

Nasib Para Mediator

Mediator di sini adalah penghubung antara satu pihak dengan pihak lainnya, produsen dengan konsumen, penjual dengan pembeli, baik barang maupun jasa. Seperti contoh di atas, mediatornya adalah produsen musik waktu itu. Penyanyi kontrak dengan produser, kaset/CD dijual dan hasil dibagi antara produsen dengan penyanyi. Ketika era digital melanda, seorang pemilik bisa membagi file dengan orang lain dan ini dengan mudah dilakukan di era 2000-an ketika network kian murah dan kian cepat. Bahkan seorang penyanyi bisa langsung mengirimkan hasil karyanya ke pendengar langsung, tentu bukan dengan mediator produser melainkan sebuah teknologi peer-to-peer, sebagai contoh adalah NAPSTAR. Mungkin di musik agak kurang “smooth” karena ada unsur pembajakannya, walaupun sekedar berbagi pakai. Contoh lain adalah konsumen, misalnya ingin membeli komponen kendaraan, maka dengan mudah dapat dilakukan tanpa ke bengkel/toko sparepart melainkan langsung ke pabriknya dengan mediator yang baru yaitu sistem online.

Peer-to-Peer System

Sistem ini merupakan sistem terdistribusi dengan tiap node bisa berupa PC, laptop, HP dan lain-lain yang terhubung ke jaringan dengan menerima aturan-aturan yang ditetapkan bersama. Prinsip ini bisa menghubungkan produsen dengan konsumen langsung. Jadi banyak mediator yang tadinya sebagai penghubung mereka tidak digunakan lagi (bidang transportasi, keuangan, dan lain-lain). Juga dengan lembaga pendidikan?

Ketika putri saya kelas 6, saya memasukan ke bimbingan belajar ternama di Indonesia. Entah kenapa sebagian rekannya keluar karena orang tuanya tidak melihat adanya kemajuan. Anak teman saya juga ketika dikursuskan di bimbingan belajar yang lainnya malah keluar dengan sendirinya dan minta daftar ke situs yang menyediakan bimbingan belajar online, dan hasilnya pun oke. Jika tujuannya pemahaman atau transfer pengetahuan, hubungan langsung peserta didik dengan tutor bisa dilaksanakan tanpa mediator fisik (bimbingan belajar) yang terbatas ruang dan waktu.

Break sebentar nulisnya … abang driver online sudah tiba membawa jus pesanan. Lagi-lagi contoh aplikasi online yang menghubungkan produsen jus dengan konsumen.

Seberapa Mediator kah Anda?

Karena pertanyaan aneh, jadinya sulit dijawab. Ambil saja contoh toko-toko komputer di kawasan glodok yang menjadi perantara produsen laptop/hp sudah merasakannya (termasuk juga department store kabarnya). Beberapa bisa bertahan karena level mediatornya rendah, alias menyediakan juga servis, tukar tambah, dan lain-lain yang memang tidak terlalu melibatkan pihak produsen. Di sini toko itu sendiri yang menjadi produsen yang berjenis jasa (perbaikan). Bagaimana dengan kampus/sekolah dan Dosen/guru? Silahkan jawab sendiri dengan cara analisa seperti contoh di atas. Mahasiswa sudah jelas jadi konsumen (semoga industri jadi konsumen juga), siapakah produsennya, kampus/sekolah atau dosen/guru? Ataukah keduanya mediator dengan pihak lain (unknown) sebagai produsen? Wah. Ada baiknya lihat video Youtube siswa 12 tahun sebagai app developer tentang guru-guru di sekolahnya. (https://www.youtube.com/watch?v=Fkd9TWUtFm0). Sekian semoga menginspirasi.

Iklan

Mengejar Impian

Tiap orang memiliki impian sejak kecil. Impian di sini maksudnya sesuatu yang diinginkan, bukan mimpi ketika tidur, walaupun kadang keinginan itu dibawa mimpi juga sih. Berbeda dengan anak-anak yang ketika bermimpi tidak memperhitungkan mungkin atau tidaknya, orang dewasa terkadang membatasi diri dengan faktor-faktor luar yang membuat mimpi tersebut tidak mungkin tercapai.

Mimpi yang Sempurna

Jika dalam syair lagu “mimpi yang sempurna” Ariel bertanya kepada bintang-bintang tentang mempinya yang sempurna, ada baiknya mengikuti pendapat Arnold Schwarzenegger ketika dia bermimpi menjadi bintang Hollywood. Orang lain mengatakan tidak mungkin mengingat aspek-aspek di dirinya yang tidak cocok seperti logat khas Jerman yang pasti akan membuat produser tertawa-tawa. Justru ternyata logat tersebut menjadi kalimat sederhana yang terkenal: “I’ll be back” dalam film terminator dalam logat Jerman yang kental, mirip mesin. Vision atau dalam bahasa Indonesia Visi, harus dimiliki oleh siapapun karena akan mengarahkan ke tujuan. Tentu saja visi yang baik dan jelas.

Mimpi berbeda dengan keinginan, seperti ingin rujak yang tidak lama kemudian terkabul. Ada proses panjang untuk mengarah ke impian. Terkadang memang seharusnya kita yang mengikuti impian, bukan sebaliknya impian yang fleksibel mengikuti keadaan.

No Pain No Gain

Terkadang memang banyak penderitaan yang menyertai perjalanan menggapai impian. Selama ada hasrat dan keinginan tentu saja penderitaan sebesar apapun tidak berarti. Banyak rekan-rekan saya yang sakit, masalah rumah tangga bahkan meninggal dunia dalam menggapai jenjang pendidikan tertentu. Di tempat saya bekerja pun hanya separuh yang menyelesaikan studi doktoralnya, tapi tetap saja tidak dianggap penderitaan karena memang itu harus dijalani. Kemarin ada rekan yang sedang berusaha memperoleh beasiswa menceritakan perjalanannya yang berliku. Ketika memperoleh beasiswa ternyata lokasi kampusnya di Jogja bukan yang diinginkan (Jakarta). Padahal perjalanan mencapainya cukup panjang, pemberkasan, wawancara di daereah Jawa Timur, ketika sudah beres ternyata hamil dan nunggu melahirkan. Namun toh tetap saja dia mencoba lagi.

Santai dan Tetap Pertahankan Minat

Seperti biasa ketika ada rekan yang berhasil mendapatkan beasiswa dan mulai studi lanjut atau ada rekan yang telah menyelesaikan kuliahnya banyak yang bersemangat untuk mengikuti jejaknya. Tapi yah … seperti itu, semangat di awal dan kemudian redup lagi dan kemudian muncul lagi ketika ada yang lolos atau lulus dan begitu berulang kali. Makanya doctoral bootcamp yang diadakan Kemenristek DIKTI kurang begitu berhasil.

Impian itu mirip dengan lari jarak jauh atau lari marathon, bukan sprint 100 meter. Ketika berlari, memperoleh momentum dan energi baru. Kalau impian cepat sekali memperolehnya, jangan-jangan itu bukan impiannya, tapi “ada kesempatan dalam kesempitan”. Ada konsep dalam traditisi Tibet yaitu keinginan merupakan “loba” alias keserakahan, kesedihan/menderita adalah “dosa”, dan ketidaktahuan adalah “moha”, kalau dalam Islam diistilahkan nafsu. Jika impian kita jalankan seperti itu, sudah dipastikan akan sulit mencapainya. Anggap saja impian misalnya doktor, guru besar, atau apapun itu sekadar objek yang dituju tanpa ada keinginan ataupun nafsu yang mengebu-gebu, seperti dalam konsep meditasi yaitu santai dan tetap pertahankan minat. Dalam Islam diistilahkan nafsu mutma’inah. Mungkin film yang dibintangi Will Smith di bawah bisa menginspirasi. Yuk, tetap melangkah tanpa gejolak di hati.

Menguasai Keterampilan dengan Cepat

Untuk mengetahui informasi dengan cepat dapat dilakukan dengan mencoba melatih membaca cepat. Makin banyak yang dibaca makin banyak pula informasi yang diperoleh, sehingga dengan waktu yang sama jika membaca dengan cepat akan diperoleh informasi/pengetahuan yang lebih banyak. Untuk informasi memang hanya bisa dilakukan dengan membaca, tapi bagaimana dengan keterampilan? Apakah bisa dengan membaca? Tentu saja tidak. Video di youtube ini cukup baik bagaimana meningkatkan keterampilan (bahkan menguasai keterampilan baru) hanya dalam waktu 20 jam, yang jika dirinci per hari berlatih selama 40 menit maka hanya dibutuhkan waktu 30 hari saja.

Ada lima langkah untuk menguasai dalam waktu 20 jam atau 40 menit sehari.

Beberapa ahli mengatakan istilah 10 ribu jam berlatih agar menjadi ahli dalam satu keterampilan, tetapi postingan ini sedikit memberi kabar baik bahwa tidak harus selama itu. Namun dibutuhkan hal-hal berikut ini jika ingin menerapkan prinsip 20 jam ini, antara lain:

1. Menentukan apa yang diinginkan terhadap keterampilan tersebut

Ini sangat penting karena tidak ada gunanya menguasai keterampilan tetapi tidak mengerti manfaatnya, minimal untuk dirinya sendiri. Dengan mengerti dan sadar manfaat yang diperoleh, tekad untuk menguasainya jadi lebih besar. Misalnya menguasai bahasa Inggris. Dengan menyadari keterampilan ini bermanfaat bagi karirnya sebagai seorang dosen (studi lanjut atau publikasi jurnal internasional) maka usaha untuk menguasainya lebih intens dibanding sekedar iseng.

2. Mencari keterampilan utama yang dibutuhkan hasil dari break down

Tiap keterampilan terdiri dari sekumpulan keterampilan-keterampilan kecil yang terhubung satu sama lain menghasilkan keterampilan tertentu. Seorang pemain bole selain harus memiliki kemampuan dribbling juga memiliki keterampilan-keterampilan kecil dari stamina berlari, passing, hingga sekedar menahan emosi ketika tanding. Jadi harus mampu memecah keterampilan utama menjadi beberapa keterampilan bagian (sub-skill) agar lebih mudah dilatih. Biasanya pelatih memiliki program yang membagi keterampilan menjadi beberapa keterampilan kecil. Mirip perkuliahan yang membagi menjadi beberapa sistem kredit semester (SKS).

3. Riset terhadap kemampuan diri (evaluasi diri) yang perlu dilatih sehubungan dengan sasaran skill

Tiap orang memiliki bakat tertentu yang membuat mudah dalam menguasai keterampilan tertentu. Tapi pasti ada kelemahan-kelemahan tertentu juga. Agar proses latihan lebih efektif adakalanya kita harus memahami apa keterampilan bagian tertentu yang menjadi titik lemah kita dan diperkirakan membutuhkan waktu lama dalam menguasainya. Jika lemah di babak akhir dalam permainan catur, perlu melatih lebih banyak dalam menerapkan teori-teori babak akhir. Jujur terhadap diri sendiri sangat diperlukan dalam tahap ini.

4. Menghilangkan hambatan-hambatan ketika berlatih

Karena per hari hanya dibutuhkan waktu 40 menit saja, maka perlu menjaga dari gangguan-gangguan yang mungkin terjadi ketika proses pelatihan. Televisi, radio, ponsel, dan sejenisnya perlu disingkirkan terlebih dahulu. Sedapat mungkin dalam melakukan latihan tidak perlu persiapan yang njlimet sehingga membuat kita malas sendiri untuk memulai latihan. Misalnya ketika berlatih gitar, maka sedapat mungkin gitar tersebut diletakan di kamar, dan ketika mulai latihan langsung di tempat itu juga, tidak perlu pergi ke studia, ke kebun .. apalagi sampai mandi kembang dulu, hehe.

5. Menguatkan tekad di awal proses latihan

Ini ibarat kunci starter kendaraan, apakah kita putar on atau tidak, tergantung tekad kita sudah bulat atau masih angin-anginan. Jika masih tidak jelas, sudah tentu tidak efektif untuk dieksekusi. Akan membuang waktu 20 jam yang percuma karena tidak sesuai dengan hasil yang diinginkan pastinya walaupun mengerti manfaat, mampu memecah menjadi sub-skill, mampu mengevaluasi diri dan menghilangkan gangguan-gangguan. Yuk dicoba.

 

Mencari Pertanyaan itu Sulit Juga

Saat ini era milenial sudah masuk ke segala bidang kehidupan mengikuti bertambahnya usia generasi Y yang lahir antara tahun 1981 hingga 1995. Generasi yang muncul akibat derasnya arus informasi menuntut generasi-generasi sebelumnya ikut gaya mereka yang mencintai segala informasi. Entah ada hubungannya atau tidak, saat generasi ini mulai beranjak dewasa istilah “KEPO” muncul, yang artinya sifat ingin tahu yang tinggi (KEPO=knowing Every Particular Object). Sifat yang membuat para guru kewalahan ini ada baiknya dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif. Minimal keingintahuannya diakomodir dengan alat-alat bantu pembelajaran.

Untuk bisa klop dengan generasi ini tidak ada cara lain mengikuti gayanya yang kepo itu. Tidak ada yang salah dari sifat keingintahuan yang tinggi. Hanya saja tinggal diarahkan ke hal-hal yang bermanfaat/berguna. Kemampuan mencari pertanyaan di genenerasi ini ada baiknya ditiru oleh generasi-generasi sebelumnya yang telah lama diajarkan sesuatu yang setelah tahu, digunakan seterusnya. Padahal saat ini sesuatu yang diketahui saat ini, tidak lama kemudian akan digantikan oleh sesuatu yang baru lagi dan harus diketahui agar tidak tertinggal.

Pentingnya Bertanya

Saya sempat beberapa menit menyusun sebuah komposisi pertanyaan ketika tiba di negeri orang. Maklum banyak masalah ketika terpaksa studi lanjut di luar negeri, padahal komunikas satu-satunya hanya bahasa Inggris. Aneh juga, selama ini saya belajar bahasa Inggris menjawab pertanyaan-pertanyaan. Hampir tidak pernah diajarkan membuat pertanyaan, padahal di lapangan sering sekali pertanyaan harus dibuat. Einstein dikabarkan oleh ibunya ketika pulang sekolah selalu ditanya apa yang dia tanyakan ke gurunya ketika sekolah, bukan nilai atau materi pelajaran. Jika Anda telah mampu membuat pertanyaan yang tidak ada seorangpun yang menjawab, level Anda sudah masuk kategori calon doktor. Biasanya ujian kandidasi adalah mempresentasikan sebuah pertanyaan yang merupakan gap antara temuan terkini dengan yang saat ini dibutuhkan (teknik, metode, dan lain-lain).

Arah Pemikiran

Untuk menyelesaikan pekerjaan mental berupa penyelesaian masalah, diperlukan kombinasi kemampuan berfikir runtun dan acak. Namun tetap saja harus ada arahnya, dalam hal ini pertanyaan yang tepat. Semakin detil pertanyaan, semakin baik arah pemikiran seseorang. Hal ini yang perlu dibentuk ke generasi-generasi milenial yang jika tidak diarahkan hanya akan memiliki pemikiran yang banyak tetapi dangkal. Kita membutuhkan anak-anak muda yang memiliki pemikiran yang mendalam, bukan hanya luarnya saja. Memang lebih mudah mencari informasi dangkal karena tersedia secara instan di internet. Untuk hal-hal yang mendalam, kemungkinan perlu digali dari sumber-sumber lain yang baik dari sisi variasi, juga akurasinya (misalnya jurnal).

Pasangan Setia: Tanya dan Jawab

Sebagai contoh mudah adalah permainan catur. Pertama kali saya bingung, apa yang dilakukan orang bermain catur. Ternyata sederhana, menemukan pertanyaan kemudian merespon dalam bentuk jawaban. Yang repot adalah posisi yang sepertinya tidak ada solusi yang harus dijawab. Prof. Max Euwe, mantan juara dunia catur dari Belanda memberikan arahan yaitu memunculkan pertanyaan awal berupa apa saja “Ciri” bangunan saat ini, dilanjutkan dengan pertanyaan apakah bisa ber-“inisiatif”. Jadi dari awal hingga akhir isinya hanya pertanyaan dan menjawabnya, hingga ditemukan siapa yang paling mampu menjawab pertanyaan yang di level master (bukan catur jalanan) biasanya pertanyaannya sama. Sebagai ilustrasi, perhatikan partai di bawah ini, antara Grandmaster Milenial dengan Gen X yang seru. Sekian, semoga bisa menginspirasi.

Bumi Dipijak Langit Dijunjung

Pepatah yang mengatakan “dimana bumi dipijak di sana langit dijunjung” mengandung arti agar mengikuti adat istiadat dimana kita berada. Tapi pada postingan ini pepatah itu dapat diterapkan dalam keadaan apapun terlepas dari sebuah lokasi geografis.

Bumi Dipijak

Sadar posisi saat ini merupakan syarat utama mengorganisasi sebuah institusi. Sadar akan posisi yang mirip dengan perumpamaan “bumi dipijak”, membuat kita memahami diri (evaluasi diri) untuk kemudian merancang visi dan misi ke depan. Beberapa tahun riset data spasial yang melibatkan posisi geografi membuat saya paham betul prinsip utama geografi “banyak faktor yang berpengaruh, tetapi faktor geografilah yang utama”. Walau yang mengatakan memang orang geografi, tapi rasanya benar juga (dulu saya dengar lebih parah “semua yang ada dimuka bumi itu, adalah geografi” .. waduh). Ketika mengetik tulisan ini saya berada di dalam rumah di kawasan Bekasi, beda kan jika posisi di Palu saat gempa atau di dalam pesawat JT610 .. (semoga Allah memberikan tempat yang layak kepada korban-korban).

Bumi Dipijak – Alhamdulillah

Di awal semester kuliah doktoral, saya mengalami hal yang rumit dan berat. Diawali keberangkatan yang tidak di-ridhoi beberapa senior hingga kewajiban mengikuti pembekalan DIKTI yang membuat saya telat dua bulan mengikuti kuliah. Padahal kuliah tetap berjalan dan wajib ambil 12 sks dengan IPK min 3,5. Beberapa rekan dari kampus teknik terbaik di Surabaya pun mengalami nasib yang sama. Kesulitan mendapat IPK yang baik. Di situlah prinsip “bumi dipijak” bekerja. Evaluasi diri adalah teknik yang logis. Tapi sebelumnya dalam kondisi yang kalut, kata Alhamdulillah merupakan kata mujarab di segala kondisi. Ketika merasa di titik terendah, dengan kata yang wajib di baca ketika shalat itu, selalu teringat pemberian-pemberian Allah yang kita terima, dari istri, anak yang sehat, pekerjaan yang masih ada, dan lain-lain. Padahal yang tidak ada itu hanyalah secuil, walaupun “drop out” di mata. Dengan prinsip Alhamdulillah ditambah menyadari “bumi dipijak”, langkah tepat saya ambil, berganti jurusan ke information management. Yup, langkah yang tepat, karena saya lulusan pertama Computer Science & Information Management (CSIM) walaupun semester pertama (sebagai mahasiswa Computer Science) tidak dihitung yang logikanya saya harusnya lulus belakangan. Arti kata Alhamdulillah adalah segala puji bagi Allah, berarti berfungsi juga sebagai benteng kokoh dari sikap ingin dipuji. Cari muka, show up, dan hal-hal lain yang ingin agar kita dianggap orang hebat tidak akan dilakukan oleh orang yang memahami makna Alhamdulillah. Cuma kadang suka lupa juga sih ..

Langit Dijunjung

Kita bukanlah kerbau yang main seruduk ketika merasa prinsip kita benar. Memperhatikan orang lain saat ini sangat penting. Banyak organisasi yang berguguran karena kurang memperhatikan orang lain, yang dalam teori IT Strategic disebut “key performance indicator”. Ketika perusahaan taksi tidak bisa memahami kesulitan-kesulitan dan kedongkolan-kedongkolan yang dialami oleh konsumen, hadirnya aplikasi online menghantam organisasi itu. Contoh lain, saat ini institusi kampus sedang “kebingungan” dengan kondisi saat ini, merger di mana-mana, bahkan di tempat saya sesaat lagi beralih ke pemilik lain. Membuat konsumen dan pihak-pihak terkait puas akan pelayanan dan servis yang diberikan sepertinya wajib diketahui bukan hanya oleh bagian pemasaran, melainkan seluruh karyawan. Yang utama tentu saja pemilik/yayasan harus menyadari hal itu. Jika di perusahaan Gojek ada istilah “North Star” yaitu visi utama yang harus dipahami oleh seluruh pegawai (jika ada satu saja cancel – seluruh analis segera mengolah big data apa sebab-sebabnya), di kampus pun harus ada juga, katanya. Jika hanya mahasiswa yang dimanja, tetapi nasib dosen tetap merana, ya udah kabur saja. Sekian, semoga bisa menghibur.

Instant Quiz dengan KAHOOT – Part 1

Ketika presentasi Revolusi Industri 4.0 di Munas APTIKOM 2018 Palembang, Prof. Eko Indrajit meluncurkan quiz dengan menggunakan aplikasi Kahoot. Dengan memasukan Game PIN seperti gambar di bawah maka akan ditampilkan empat pilihan jawaban, masing-masing dengan warna atau bentuk. Soal ditayangkan di layar LCD, biasanya di kelas. Siswa ketika menjawab tinggal menakan jawaban di handphone masing-masing setelah memasuki quiz via PIN tersebut. Bagaimana cara membuatnya? Postingan ini sekadar berbagi bagaimana membuat kuis instan ini.

Mendaftar/Signup Kahoot

Klik di sini untuk daftar (di bagian bawah kahoot). Untuk gratis, tekan saja Sign up for Free.

Ada empat pilihan, untuk guru, siswa, sosialita atau pekerjaan. Di sini saya ambil contoh sebagai teacher sesuai dengan profesi saya, dosen.

Berikutnya diminta cara sign up (ada tiga pilihan). Gunakan saja login with Google agar lebih cepat. Pilihan lainnya adalah Sign up with Microsoft, jika ingin.

Hanya butuh tiga isian dan satu checklist konfirmasi sebelum lanjut (joint Kahoot). Checklist terakhir ditekan jika ingin menerima informasi baru dari Kahoot.

Setelah itu schroll hingga ke bawah, pilih saja Basic Version for Teachers.

Selesai sudah daftar Kahoot. Pilih saja Personalize dengan beberapa isian baru agar sesuai dengan tema quiz. Atau jika tidak ingin, bisa pilih No Thanks.

Lanjut: Membuat Quiz

Tak Selamanya Efektif dengan Online

Saat ini sedang digalakan dilaksanakannya Massive Open Online Course (MOOCs) khususnya dari universitas-universitas favorit di tanah air seperti ITB, UGM, UI dan kawan-kawan. Sasaran utamanya adalah ilmu yang tersebar secara merata, gratis, dapat diakses siapapun dan kapanpun. Istilahnya sekali merengkuh dayung, satu dua pulau terlampaui.

Dari sisi skalabilitas, MOOCs unggul dalam menyebarkan IPTEKS. Terutama bidang-bidang yang memang cocok untuk dilaksanakan dalam format MOOCs, didukung dengan teknologi e-learning yang saat ini kian fleksibel dan user friendly. Bagaimana dengan kualitas? Nah masalah ini agak sulit untuk mengetahui/mengujinya. Diperlukan riset khusus agar mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat menyerupai bahkan melebihi kualitas dari perkuliahan offline alias tatap muka.

Sosialisasi

Sebenarnya baik itu pendidikan, kursus, dan hal-hal lain di luar pendidikan bisa juga menggunakan online. Misalnya seminar/pertemuan ilmiah yang semula pertemuan tatap muka, saat ini bisa juga dilaksanakan dalam bentuk webinar, alias seminar via web. Yah, walaupun sempat tertidur karena tidak ada cofee break.

Di situlah letak perbedaannya, sosialisasi. Memang kita mengenal “medsos: media sosial” tetapi, tentu saja tidak sama dengan sosialisasi. Medsos hanya merupakan jembatan informasi untuk sosialisasi, mirip dengan percakapan via chat, email, dan komunikasi elektronik lainnya. Di sinilah mengapa piknik, tur wisata, dan hal-hal lain masih laku dan tidak tergantikan dengan online, walaupun saat ini virtual reality (VR) kian canggih yang memberi sensasi semirip mungkin dengan yang real.

Saat ikut klinik kurikulum di munas APTIKOM, tutor memberi gambaran mengapa walaupun disiarkan online, tetap saja mahasiswa yang hadir di kuliah online di negara maju membludak. Ketika ditanya ke mahasiswa mengapa hadir padahal bisa saja mengikuti videonya di rumah. Mereka menjawab sederhana: “sosialisasi”, maksudnya bisa mengukur dengan rekan-rekannya. Jika rekan-rekannya dengan santai dan terlihat tanpa usaha ketika mengikuti kuliah sementara kita masih “mangap” (maksudnya berfikir keras memahami maksud si pembicara), berarti harus ekstra keras lagi belajarnya .. hehe, mirip yang pernah saya alami.

The Secret

Banyak hal-hal lain yang tidak bisa dituangkan dalam bentuk online. Khususnya hal-hal rahasia yang memang bersifat pribadi, atau tidak sesuai dengan alur/prosedur baku. Saya pernah ketika di Indonesia menanyakan via email apakah bisa regitrasi KRS semester pendek (tempat kuliah di LN) tetapi kuliah dari Indonesia karena SKS yang diambil hanya riset. Jawabannya tidak, tetapi ketika kongkow di warung kopi kampus bersama rekan yang sama pembimbingnya mengatakan jangan lewat email. Dan memang ketika meminta langsung/bicara dia setuju di semester pendek tahun berikutnya tanpa datang ke kampus. Email dan bentuk lain online bisa jadi barang bukti, terkadang beberapa advisor berhati-hati dalam menjawab via email, chat, dll. Memang seharusnya mahasiswa yang mengambil semester pendek berada di kampus. Lagi-lagi kongkow/nongkrong di warung kopi dan ngobrol langsung bisa lebih berkualitas dibanding chatting.

Satu hal yang sulit dilakukan online adalah bimbingan. Ketika revisi atau mendiskusikan suatu hal, sangat sulit dilakukan secara online. Bisa saja dilaksanakan via Skype, tetapi ketika ada hal-hal yang harus ditunjukkan, berkas-berkas, hitungan-hitungan dan sejenisnya sangat sulit. Beda dengan ketemu langsung, tinggal buka berkas, tunjukkan. Terkadang dicoret-coret sambil dibahas bersama di berkas tersebut. Itulah mengapa revisi jurnal oleh review bisa beronde-ronde, karena jawaban yang kita berikan dalam bentuk tulisan. Mungkin jika reviewer ketemu langsung bisa beres cepat, tapi tentu saja karena blind review tidak bisa dilakukan langsung.

Mungkin banyak contoh-contoh lain yang menggambarkan pentingnya ketemu langsung. Juga hal-hal lain terkait privasi yang memang tidak membolehkan adanya catatan dalam suatu pertemuan. Bayangkan pertemuan rahasia yang tidak dilakukan secara langsung (via online), sifatnya jadi tidak rahasia lagi karena online, walaupun ada jaminan keamanan dari sistem network, perlu ada jaminan tidak terekam.

Dosen saya yang terbuka dan apapun diberi jika diminta, ketika seorang mahasiswa kedapatan merekam perkuliahannya beliau marah (baru kali itu melihat dia marah). Ternyata marah karena rekannya yang di USA memberitahu kalau kuliahnya ada di Youtube. Ya, aspek kecepatan, variasi, dan jumlah memang ditawarkan oleh sistem online, tetapi jika ada hal-hal yang tidak butuh cepat, tidak butuh jumlah, dan tidak butuh variasi tetapi memerlukan hal-hal lain seperti negosiasi, motivasi, dan sejenisnya, tentu saja efektivitasnya harus disertai dengan offline, yang saat ini dikenal dengan istilah blendded learning, atau turunannya Flipped Learning. Selamat ber-kopi darat.