Samurai Tak Bertuan

Ternyata istilah Ronin, alias samurai tak bertuan, berlaku juga untuk bidang lain di luar dunia persilatan Jepang. Bidang-bidang yang mengharuskan seseorang bekerja untuk orang lain dengan mengandalkan keahlian yang dimilikinya masuk juga kategori samurai. Termasuk staf pengajar (dosen dan guru).

Samurai terkenal sangat setia dengan tuannya, tetapi terkadang bisa saja berganti tuan. Begitu juga dosen, ada istilah lolos butuh ketika ada pergantian pemakai dosen dari satu institusi ke institusi lainnya (pindah homebase). Pindah homebase sudah biasa terjadi, tetapi untuk kasus-kasus tertentu sedikit rumit seperti dosen yang beralih dari swasta (PTS) ke negeri (PTN) dan kejadian yang terjadi di institusi saya, yaitu alih kelola dari pemilik lama ke yang baru.

Setengah Ronin

Ada satu masa transisi dimana pemilik lama telah memberi uang kompensasi (pesangon) dan pemilik baru belum memiliki akses karena dari sisi legal belum terpenuhi. Munculah para ronin yang bekerja berdasarkan tugas dan misi tertentu yang harus diselesaikan, tanpa memperdulikan siapa tuannya. Karena itulah dikatakan full ronin tidak juga, karena institusi masih eksis. Dikatakan seratus persen samurai, tidak juga karena belum tentu daimyo (tuan) baru mengangkatnya menjadi samurai, disamping banyak juga yang tidak bersedia karena masa kerja yang direset menjadi nol tahun.

Samurai Tak Bertuan yang Marhaen

Marhaen adalah istilah yang diperkenalkan oleh Soekarno yang ditujukan ke golongan kecil yang memiliki sumber daya ekonomi (misal sepetak sawah) mengolah lahan tersebut sendiri tanpa bos/juragan, tapi hanya mampu untuk menghidupi diri sendiri. Kalau yang sekarang terjadi adalah para ojek online, khususnya driver yang memiliki motor/mobil sendiri dengan hasil untuk mencukupi kehidupan sendiri, walaupun sebagian hasil usaha digunakan untuk sewa aplikasi (wajar layaknya ongkos yg lain seperti: bensin/solar, pajak kendaraan, dll). Dosen selama ini membutuhkan wadah berupa institusi pendidikan untuk memanfaatkan skill-nya layaknya sopir taksi yang membutuhkan perusahaan taksi. Nah kalau kejadiannya mirip-mirip banget, tidak tertutup kemungkinan di masa depan seorang dosen menjadi samurai tak bertuan yang marhaen. Sekian tulisan iseng ini, siapa tahu ada yang senasib.

Iklan

Dosen Itu Peneliti

Salah satu aspek yang membedakan seorang dosen dengan guru atau tutor adalah keharusan seorang dosen untuk melakukan penelitian. Jika tidak maka tunjangan serdos tidak turun karena tidak mungkin mempublikasikan artikel ilmiah tanpa melakukan penelitian lebih dahulu. Lho, bukannya bisa saja menulis artikel ilmiah tanpa melakukan riset? Postingan ini bermaksud menjawabnya, disertai sedikit membahas penggalan hidup peneliti di Indonesia, maaf, maksudnya di Bekasi.

Jenis Artikel Ilmiah

Untuk menjawab pertanyaan di atas ada baiknya membedakan jenis-jenis artikel ilmiah. Walaupun sulit mengklasifikasikan jenis artikel, tetapi saat ini hanya ada dua jenis artikel ilmiah yaitu yang berasal dari riset (research article) dan yang berasal dari review artikel-artikel dengan topik tertentu (review article). Lihat pembahansannya di pos yang terdahulu. Review artikel biasanya dilakukan oleh expert atau minimal reviewer. Tidak mungkin melakukan review suatu topik tetapi belum pernah melakukan riset dengan topik tersebut.

Saya sempat diminta rekan dosen untuk mempublikasikan artikelnya tetapi isinya materi kuliah. Tentu saja bukan itu yang dimaksud dengan artikel ilmiah. Mungkin itu yang membedakan seorang pengajar dengan peneliti. Artikel ilmiah di jurnal seharusnya memang hasil penelitian yang merupakan sebuah pengembangan perbaikan atau temuan yang memperbaiki suatu sistem yang ada dan diterapkan saat ini. Mungkin agak sulit untuk mahasiswa S1 jika skripsi-nya akan dimasukan dalam suatu jurnal karena kebanyakan merupakan terapan suatu teknik/metode. Beberapa mahasiswa menambahkan aspek lain seperti penelitian tambahan yang menguji tingkat penerimaan sistem yang dibuat terhadap lokasi penelitian atau membandingkan dengan metode-metode lainnya, agar bisa dipublikasikan sebagai artikel ilmiah.

Transisi Pengajar ke Dosen

Dalam perkuliahan, dosen memang mengajarkan metode-metode yang saat ini telah digunakan (untuk materi terapan) dan ilmu-ilmu dasar pendukung metode (untuk materi dasar umum). Selama proses pengajaran terkadang dosen pengampu melakukan modifikasi-modifikasi untuk meningkatkan kinerja suatu metode. Terkadang modifikasi-modifikasi tersebut tidak diajarkan dalam silabus karena memang belum teruji dan khawatir jika langsung diajarkan ke mahasiswa akan berbahaya. Mungkin setelah dipublikasikan dalam suatu jurnal dan telah menempuh proses review dan kritik dalam bentuk sitasi oleh artikel lain dan masuk ke lecture note barulah bisa diajarkan dan sudah masuk dalam buku teks/ajar.

Sedikit sharing informasi, dosen S2 saya dulu programmer Java di perusahaan (saat ini seprtinya serius mengajar). Ada kebingungan darinya mengenai tema S3 yang akan ditempuh, khususnya programmer. Waktu itu saya sendiri bingung. Memang kebanyakan tema riset banyak mengandalkan alat statistik seperti AMOS, SPSS, Lisrel, dan lain-lain. Membuat alat atau menerapkan metode yang ada (bahkan sekedar membandingkan) sulit tembus ke jurnal internasional. Waktu berjalan dan ketika kuliah lanjut, banyak informasi beberapa programmer yang S3 membuat bahasa pemrograman sendiri (misalnya ruby) atau jenis no-SQL seperti MonggoDB yang diutak-atik dari MySQL. Saat ini saya mengajar teknik kompilasi, dengan membuat parser sendiri sepertinya layak dipertimbangkan membuat interpreter sendiri agar meningkatkan performa bahasa yang ada (PHP dkk), atau bahkan mengganti dengan bahasa sendiri.

Sinta

Kalau diikuti terus perkembangannya, Sinta cukup berkembang pesat dibanding ketika pertama kali dibuat. Namun kritik pedas pun sering bermunculan baik di grup-grup WA atau di situs internat, bahkan dari luar negeri (walau penulisnya orang Indonesia). Termasuk salah satu kritikannya adalah terhadap komunitas KO2PI dengan artikelnya yang disitasi 42 kali walau beberapa tidak ada kaitannya, kata si penulis. Tiap kritikan terhadap indeks buatannya, pemerintah malah memakai SINTA sebagai penentu penerimaan proposal hibah yang merupakan sumber tenaga dosen dalam melakukan darma penelitian. Tanpa ada ID Sinta maka seorang dosen tidak bisa mengajukan proposal di link SIMLITABMAS. Kabar terakhir dari penelitian, pencairan luaran tambahan jurnal nasional terakreditasi cukup melampirkan link hasil publikasi di jurnal-jurnal yang terindeks Sinta. Jadi, makin didemo, makin Sinta digunakan sebagai penentu yang mengeliminir dosen-dosen tidak ber-Sinta (jangan-jangan yang Demo anti Sinta & Scopus memiliki indeks Sinta bahkan Scopus yang baik .. wah, mengurangi saingan). Ada baiknya Sinta juga mengakomodir saran-saran dari peneliti sehingga tercipata alat indeks yang demokratis.

Esensi Riset

DIKTI mengharuskan dosen penerima hibah penelitian untuk mempublikasikan hasil penelitiannya ke jurnal, baik lokal, nasional, mapun internasional. Jadi, penelitian harus dipublikasikan? Tentu saja tidak dipaksa (kecuali ada kontrak-nya), apalagi memang yang mendanai pihak tertentu yang hasilnya dirahasiakan. Tetapi jika dananya dari rakyat, sudah tentu harus dipublikasikan agar manfaatnya terasa oleh rakyat. Repotnya, publikasi yang open access berbayar, sementara yang gratis tidak bisa dibaca oleh orang yang tidak berlangganan jurnal tempat penelitian itu dipublikasikan. Di sinilah polemiknya, ada yg bilang jurnal sebaiknya tidak bayar (tetapi yang membaca harus bayar atau membajak) atau bisa diakses orang banyak tetapi berbayar karena publisher butuh biaya untuk mempublishnya.

Riset seyogyanya merupakan perbaikan sistem/metode yang ada saat ini. Biasanya karena ada akibat/dampak negatif dari sistem/metode tersebut. Sebagai contoh menarik adalah riset tentang e-commerce yang saat ini menjamur. Ada jeda waktu antara metode/produk yang saat ini eksis, misalnya GRAB, GOJEK, UBER dan sejenisnya, dengan riset ke depan, misalnya metode yang ramah lingkungan (sustainable) karena meningkatnya e-commerce meningkatkan pula penjualan yang pada akhirnya membutuhkan transportasi yang lebih banyak dari sebelumnya. Jika dengan bahan bakar fosil, maka akan mempengaruhi polusi udara. Selain itu sampah kemasan, misalnya plastik, tentu akan lebih banyak karena jumlah pemesanan yang meningkat (silahkan buka paket online, pasti sulit karena dibalut plastik yang banyak). Ke depan, sepertinya ada teknik-teknik untuk mengurangi polusi (dengan kendaraan listrik atau kemasan yang bio-degradable). Mengajar mungkin bisa digantikan dengan aplikasi e-learning, youtube, dan learning management system (LMS) lainnya, sementara riset hanya manusia yang bisa melakukan. Sekian, semoga bisa menjadi bahan diskusi bersama.

Pengurangan Jumlah SKS

Kabar gembira untuk mahasiswa yang tidak suka ber banyak-banyak SKS. Oiya, di sini SKS maksudnya Satuan Kredit Semester bukan “Sistem Kebut Semalam”. Info-nya (semoga bukan hoax) total SKS S1 dan D3 akan dikurangi. Silahkan penjelasannya baca di situs republika. Seperti biasa, setiap kebijakan ada pro dan kontranya. Rektor IPB misalnya setuju dengan kebijakan menteri dalam memangkas SKS dengan harapan mahasiswa bisa mengembangkan hal-hal lain di luar perkuliahan. Tetapi rektor ITS tidak setuju jika kebutuhan lulusan belum sesuai dengan industri dan malah seharusnya ditambah jumlah SKS-nya.

SKS di Indonesia

Sebagai dosen biasa yang mengelola jurusan, itu pun D3, saya tentu sudah seharusnya mengikuti aturan pemerintah. Ada sedikit pengalaman yang bisa dishare. SKS di negara kita sedikit berbeda dengan di luar negeri yang hanya berfokus ke kompetensi lulusan. Tidak ada mata kuliah yang tidak berhubungan langsung dengan kompetensi, seperti agama, kewarganegaraan, dan sejenisnya di tingkat universitas. Mungkin di level SMA ke bawah ada. Dan anehnya ketika saya mengambil mata kuliah 12 SKS (empat mata kuliah) entah mengapa saya kewalahan kalau tidak dibilang babak belur. Dan ketika semester berikutnya ambil 9 SKS (tiga mata kuliah) ternyata tidak ada masalah. Jika dilihat aturan main yang diberikan pemerintah tentang SKS (teori dan praktek) di luar negeri sama dengan kita, bedanya pada pelaksanaannya di luar negeri memang benar-benar dilaksanakan jumlah jam-nya. Misal 3 SKS dengan 2 teori dan 1 praktek, jumlah jam praktek-nya cukup menguras waktu. Silahkan baca perbandingan dengan Thailand, Jepang dan Eropa di slide ke-7 link ini. Oiya, di Indonesia 1 SKS berarti per minggu 50 menit tatap muka, 50 menit kegiatan terstruktur dan 60 menit kegiatan mandiri, jika dihitung-hitung normalnya minimal seorang mahasiswa ambil 16 SKS, maksimal 20 SKS yang berbeda dengan negara-negara lain tentunya.

SKS di Mata Dosen

Salah satu maksud menristek-dikti mengurangi SKS adalah agar dosen bisa lebih fokus ke aspek lain dari tri-darma selain dari pengajaran, yaitu penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Terus terang saya dan banyak rekan saya dulu merupakan dosen yang di awal berstatus dosen honorer (bahkan tanpa homebase). Beberapa saat ini sudah mulai melakukan tri-darma, terutama yang kerja utamanya mengajar, bukan praktisi. Namun masih banyak yang hanya mengandalkan mengajar sebagai aktivitas utama. Alasannya banyak dari yang memang kesulitan dalam melaksanakan riset (butuh kompetensi dan dana), atau alasan lainnya misal tidak ingin menelantarkan para mahasiswa karena dosennya sibuk riset … cieee. Ya, silahkan jalankan yang menurut kita benar. Jadilah dosen ideal yang murni dan tulus mengajar misalnya. Namun kondisi di era disrupsi cukup cepat berubah. Dosen butuh kepastian penghasilan, bahkan guru honorer pun saat ini mulai resah, untungnya ada tunjangan sertifikasi dosen. Dengan jumlah SKS yang kian menipis, sementara status yang walaupun ber-homebase tapi mengandalkan gaji dari jam mengajar. Tentu saja penghasilan akan berkurang signifikan karena para dosen lain yang berstatus tetap (bukan sekedar homebase) membutuhkan sekali jam mengajar karena tuntutan serdos.

SKS di Mata Institusi Pendidikan

Jangan lupa, era disrupsi yang telah banyak meminta korban saat ini mulai bergerak secara perlahan tapi pasti ke dunia pendidikan. Mahasiswa dapat mengakses media pembelajaran dari bermacam media, tidak harus dari dosen, walaupun untuk keterampilan tertentu tidak bisa hanya lewat aplikasi/media pembelajaran. Walau beberapa perusahaan raksasa dunia merekrut karyawan tidak lagi dengan kualifikasi akademik, melainkan skill, toh standar tetap diperlukan, alias institusi pendidikan tetap dibutuhkan. Bayangkan mengobati orang sakit, membangun gedung, jembatan, mengemudikan pesawat, dan keterampilan penting lainnya tidak ada standarisasi, tentu akan banyak mudharatnya. Untungnya selain pembelajaran, dua aspek lain tri-darma (penelitian dan pengabdian) sepertinya sulit ter-disrupsi. Tanpa ada penelitian, materi pembalajaran tidak akan berubah sejak jaman kuda gigit besi sampai sekarang, dan karena aktor yang meneliti hanyalah manusia maka tidak akan tergantikan dengan mesin artificial intelligent, bahkan mesin tersebut akan mensuport dan mempermudah peneliti baik dari sisi komputasi maupun pertukaran informasi (sepertinya untuk pengabdian juga). Belum lagi adanya Massive Open Online Course (MOOC) serta blended learning dan flipped learning yang maju mundur dan masih malu-malu, namun siap bergerak cepat ketika infrastruktur siap. Untungnya kunci menghadapi era disrupsi dan industri 4.0 sudah diketahui yaitu ada pada otomatisasi, efisiensi, dan pelayanan yang baik terhadap konsumen dengan literasi digital dan data (Big Data). Jadi nggak perlu khawatir … walau deg-degan juga sih.

Persamaan Persepsi Dosen

Selain mendengar dari orang lain, saya mengalami sendiri konflik yang terjadi antara satu dosen (bahkan satu grup dosen) dengan yang lain. Korbannya sudah dipastikan mahasiswa, khususnya ketika menyelesaikan tahap akhir penyelesaian skripsi/tugas akhir mereka. Biasanya terjadi karena ego antar dosen selain tentu saja beda pemahaman terhadap suatu konsep dan aturan-aturan yang memang ada hak independen dari sisi pengajar dalam berfikir ilmiah. Untuk masalah ego memang sedikit rumit, apalagi ada unsur-unsur konflik pribadi antar dosen. Postingan ini sedikit menggambarkan kondisi ini dari pengalaman pribadi.

Persamaan Persepsi

Untuk bidang tertentu yang skripsinya mirip-mirip antara satu sama lain dengan metode-metode yang sudah baku, sebuah pertemuan yang mengundang para dosen sangat penting. Manfaatnya untuk membuat standar yang baku dan adil terhadap mahasiswa. Misalnya topik-topik apa saja yang masuk wilayah domain jurusan dengan bentuk laporan skripsinya. Hal ini agar tidak membuat siswa bingung karena oleh satu dosen di suruh begitu, oleh dosen pembimbing yg lain disalahkan, kan kasihan. Juga dengan pertemuan itu, diharapkan kemampuan pembimbing bisa bertambah, minimal tidak jomplang satu dengan lainnya, apalagi jika disertakan dengan pelatihan/seminar oleh dosen yang dianggap pakar di bidangnya. Atau bisa mengundang pakar dari institusi lain.

Standar Tingkat Kesulitan

Sudah pasti tingkat kesulitan antara mahasiswa D3, S1, S2 dan Doktoral berbeda. Repotnya beberapa dosen guna mengejar publikasi menyamakan level D3, S1 dan S2 terhadap mahasiswanya. Melihat mahasiswa D3 yang diminta menganalisa antara satu metode dengan metode lainnya oleh dosen pembimbing kasihan juga. Walaupun ada baiknya tetapi tidak sesuai dengan tujuan D3 yang memang ketika bekerja hanya diminta menyelesaikan pekerjaan dengan metode tertentu yang diperintahkan oleh atasannya, harus selesai dengan baik dan cepat. Jika ngotot dan protes kalau metodenya kalah dengan yang lain bakal dipecat nanti. Jadi fokus ke skill pada level vokasi diutamakan. Level S1 pun berbeda dengan S2 yang mencoba ada aspek analisa satu metode dengan lainnya. Bukan hanya apa yang harus dilakukan tetapi juga mengapa suatu konsep diperlukan dan lebih baik dari konsep dan metode lainnya. Untuk mahasiswa doktoral terlepas dari pertanyaan apa, mengapa dan bagaimana, aspek kebaruan sangat mutlak, walau pun sederhana/kecil. Silahkan membimbing mahasiswa doktoral jika ingin publikasinya banyak dan jangan memaksa mahasiswa S1 apalagi D3 untuk bisa mempublikasi di jurnal internasional yang memang dituntut state of the art.

Standar Internasional

Terkadang walaupun sudah ada persamaan persepsi antara satu dosen dengan lainnya, ketika implementasi di lapangan, ada hal-hal tertentu berbeda pemahamannya karena memang topik yang luas yang tidak bisa selalu disamakan. Jika terjadai ada baiknya menggunakan dasar dan rujukan yang baik dan benar. Untungnya saat ini sebagian besar sudah ada standarnya, misal UML, ERD, dan lainnya. Jadi tidak elok jika memaksakan metode sendiri (tidak standar). Salah satu contoh kasus di bawah ini, tentang ERD.

ERD di atas merupakan standar dari Chen (1976) dan karena sekedar contoh, tidak semua atribut ditulis. Tetapi yang jelas ERD merupakan diagram konsep. Ada polemik mahasiswa yang menggambar diagram di atas disalahkan oleh pembimbing (biasanya praktisi/programmer) karena diagram di atas tidak bisa dijalankan di aplikasi. Tentu saja, karena itu masih konsep dan perlu konversi menjadi tabel, dan ada teorinya (weak entity, many to many, dan lainnya untuk dikonversi menjadi tabel). Silahkan menggunakan beragam standar/jenis model ERD lain (crow foot) atau dengan class diagram UML berstandar internasional. Baik perancang sistem maupun programmer harus bisa bekerja sama bukan malah mengagung2kan bidangnya apalagi menjelek-jelekan bidang lain. Mungkin itu sekadar contoh, semoga bisa menjadi bahan evaluasi bersama.

Sumber Belajar Pemrosesan Teks dan Perolehan Informasi

Saat ini informasi sangat mudah didapat karena era Big Data dengan konsep 5V-nya (Velocity, Veracity, Volume, Value, dan Variability). Walaupun bagi praktisi Big Data ada konsep “data yang buruk lebih baik daripada tidak ada data” tetapi bagi pelajar dan mahasiswa, dibutuhkan sumber-sumber yang memang dibutuhkannya. Banyak ebook-ebook berkualitas baik banyak dijumpai di internet baik lewat situs sharing ataupun via media sosial seperti Whatsapp. Namun toh, para mahasiswa kurang begitu berminat membacanya (bahkan saya pun agak malas ..). Tapi ya, kalo bisa sih dibaca sampai habis.

Untuk pemrosesan teks, text mining, atau perolehan informasi salah satu buku andalannya adalah terbitan MIT press (C. Manning) dengan teori-teori dasarnya. Ada juga buku karangan Banch tentang Text Mining dengan praktek aplikasinya dengan Matlab. Kebanyakan karena saking “dasanya” jadi sulit untuk diterapkan langsung seperti bagaimana implementasinya di search engine seperti Google atau Bing.

Berbicara mengenai search engine, bagi mahasiswa atau saya juga, yang ingin belajar cepat sekelebat karena limit waktu yang terbatas, Google dkk menjadi andalan utama setelah situs-situs diskusi di internet. Modal dasar yang harus dimiliki tentu saja kemampuan berbahasa Inggris. Walaupun ada translate google, tetap harus bisa bahasa Inggris jika tidak ingin repot bolak-balik buka kamus.

Ada proyek-proyek online yang beredar di internet, salah satunya adalah situs ini yang menyediakan contoh sample data yang akan diolah.

Bagaimana cara mengolahnya? Silahkan download buku Text Mining with Matlab karya Banch, atau datang ke situs-situs diskusi, misalnya tentang pembuatan model bahkan membuat mesin yang bisa membuat sebuah kalimat dengan beberapa kata kunci.

Saya sempat mencobanya. Pertama-tama dengan Matlab 2008. Ternyata dengan versi tersebut banyak masalah yang dijumpai karena sudah tertinggal jauh. Silahkan gunakan yang terkini. Beberapa fungsi m-file perlu diunduh agar bisa berfungsi, dan lumayan bisa dipakai untuk mengutak-atik teks. Mungkin pembaca punya alternatif lain yang lebih baik, silahkan ber-komentar. Yuk, belajar text mining.

Membaca Cepat .. dan Rampung

Entah mengapa akhir-akhir ini di Facebook bermunculan iklan-iklan seminar membaca cepat. Dulu sempat mengulas masalah membaca cepat ini, bahkan membaca satu buku yang dipinjam di perpustakaan untuk belajar dan menguji kecepatan membaca. Tetapi terlepas dari cepat atau lambatnya membaca tentu saja jangan lupa tujuan membaca yaitu menyerap ilmu dan yang pasti harus selesai.

Sedikit berbagi pengalaman, buku di atas adalah buku wajib mata kuliah Information System Development and Management (ISDM). Waktu itu sebelum perkuliahan dimulai (beberapa minggu), saya membacanya sampai habis. Terus terang jarang saya membaca buku sampai habis, bahkan sampai soal-soalnya. Waktu itu berlalu dan saya anggap biasa saja. Tetapi belakangaan baru sadar mengapa waktu itu bisa membaca dengan cepat buku tersebut sementara belakangan tidak pernah selesai satu buku seperti waktu itu. Postingan ini bermaksud mereviewnya.

Pemenggalan Kalimat

Membaca cepat tentu saja mata tidak melihat kata perkata (apalagi sambal komat-kamit). Mengapa buku tersebut bisa dibaca cepat? Ternyata format tulisannya dua kolom dan ukuran huruf mudah dilihat. Karena dari ujung kiri kalimat ke kanan masih dalam jangkauan mata maka mata saya hampir tidak bergerak dari kiri ke kanan menyusuri kalimat, melainkan hanya naik turun ganti baris. Sepertinya jika ingin diterapkan ke buku dengan single column mau tidak mau harus memenggal kalimat menjadi beberapa “rombongan” kata. Kuat dugaan saya waktu itu cepat selesai membacanya karena secara tidak sengaja memenggal kalimat dengan bantuan dua kolom buku tersebut.

Rileks

Waktu libur, tidak ada tugas atau tuntutan tertentu membuat ketika membaca menjadi rileks. Dengan rileks ternyata bisa cepat memahami, bukan sekedar cepat membaca. Percuma mata cepat mengikuti tulisan tetapi karena gugup, tidak ada yang masuk ke otak, seperti angin lalu saja. Jadi rilekslah ketika membaca dan tentu saja tidak belajar kebut semalam ketika mau ujian saja. Membaca bisa di mana saja, tidak harus di atas meja belajar, bisa diiringi musik dengan secangkir kopi.

Menggambarkan (Picturing)

Selain dua hal di atas, ketika membaca buku tersebut saya berimajinasi terhadap kata-kata kunci suatu kalimat. Kalimat sebelum ini jika dengan menggambarkan saya akan menggambarkan “membaca buku” dalam artian seperti melihat orang membaca buku di depan mata (bukan sekedar dua kata membaca dan buku). Ketika membaca judul buku “Modern System Analysis and Design” pun sudah ada di kepala bayangan analisa dan disain modern dengan teknik-tekniknya pada buku itu. Cepatkah? Ternyata jika terbiasa, bisa juga menggambarkan dengan cepat, apalagi jika bahasa Indonesia. Tetapi untuk bahasa Inggris cukup membantu juga karena ketika menguji membaca cepat dari buku tips-trik karangan asing dengan contoh tulisan asing juga terkadang mata cepat bergerak tetapi lupa memaknai beberapa kata penting, akibatnya cepat tapi ketika diuji (biasanya min skor 80) gagal, jadi terlalu cepat tapi kurang memahami.

Alhasil nilai A mata kuliah tersebut di tangan, nilai yang penting karena syarat GPA 3.5 untuk kandidasi doktoral tercapai apalagi jika ada nilai B mata kuliah lain. Ditambah lagi rekan kuliah mengupdate status facebook di grup yg jika diterjemahkan: dapat “A” .. yes yes yes, dapat “B+” .. cukuplah, dapat “B” .. sialan, dapat “C” .. bye bye PhD. Status yang bikin stress mahasiswa doctoral lainnya yang dapat nilai di bawah B+. Semoga menghibur.

Demonstrasi vs Ketetapan Tuhan

Beberapa hari yang lalu ada demonstrasi yang ditujukan kepada kementerian keuangan dan RISTEK-DIKTI. Isinya tentang beasiswa bagi mahasiswa yang sedang dan akan studi lanjut, khususnya para dosen di perguruan tinggi. Interpretasi mengenai tindakan mereka terserah Anda, postingan ini hanya mencoba berbagi pengalaman saja.

Ada satu ketentuan yang tidak dapat disangkal, yaitu ketetapan Allah. Kita boleh berencana, mengeksekusinya, tetapi ketetapan tuhanlah yang berlaku. Tidak ada orang yang ingin sakit, bencana, dan kesusahan-kesusahan lainnya, tetapi jika Allah berkehendak, siapa pula yang bisa membatalkannya. Bahkan yang sudah pastipun, misalnya mati, tidak ada orang yang menginginkannya. Apalagi hal-hal lain yang tidak ganas-ganas banget, misalnya studi lanjut.

Sebenarnya beasiswa sendiri itu bagian dari studi lanjut. Masalah beasiswa ya berarti masalah studi lanjut. Karena dalam menyelesaikan kuliah S3, sepertinya hanya 20% fokus yang diberikan untuk murni perkuliahan, dan sisanya yang 80% untuk hal-hal lain yang salah satunya adalah beasiswa. Kenapa harus 80% dan 20%? Tidak ada hitungannya sih, hanya angka statistik dari Pareto saja. Jadi jika calon mahasiswa melihat bahwa studi lanjut itu fokus hanya ke 20% saja, alias 100% murni untuk kuliah, sudah dipastikan jika ada masalah-masalah non teknis maka mereka menganggap itulah penyebab dari lama atau bahkan tidak lulus-nya perkuliahan. Padahal itu sejatinya bagian dari proses penyelesaian studinya yang bahkan besarnya jauh melebihi proporsi kuliah.

Apakah kita bisa membantu para karyasiswa (sebutan untuk mahasiswa yang menerima beasiswa)? Tentu saja bisa, khususnya pemerintah yang untuk dosen dipegang oleh kementerian RISTEK-DIKTI dan departemen agama serta untuk non dosen oleh kementerian keuangan dan lain-lain (di tempat saya ada dari departemen pertanian). Mungkin di sini hanya pendapat saya mengenai bagaimana melancarkan proses studi lanjut:

Pantauan Perkuliahan oleh Institusi Asal

Tentu saja para karyasiswa harus melaporkan kemajuan studinya baik ke pemberi beasiswa (misalnya RISTEK-DIKTI) maupun institusi asal (misalnya departemen atau kampus). Namun selama ini kebanyakan institusi asal tidak ambil pusing, mungkin karena tidak tahu menahu apa yang terjadi terhadap karyasiswanya, atau menyerahkan semua kepada pemberi beasiswa. Jika beasiswa mengalir lancar, pasti kemajuannya oke, alias baik-baik saja. Padahal yang terjadi tidak demikian, karena banyaknya penerima beasiswa maka pemberi beasiswa pun tidak cukup mampu mengawasi, padahal laporan-laporan kemajuan belum tentu akurat, bahkan kebanyakan sedikit ada manipulasi. Bahkan untuk laporan kemajuan yang dibuat oleh supervisor pun bisa saja dibuat sebisa mungkin baik, karena supervisor agak meringankan beban si mahasiswa itu agar beasiswa cair.

Hubungan dengan supervisor terkadang sangat menentukan si mahasiswa cepat atau lambat lulusnya. Teringat rekan saya yang walaupun sudah beres semua syarat-syarat tetapi diperlambat dalam proses pengecekan naskah oleh dosen kampus lain (external review). Tapi ternyata masalah beres. Bagaimana caranya? Ternyata sederhana, pimpinan di kampusnya (dekan) beserta rombongan datang main ke universitas tempat siswa tersebut kuliah, bincang-bincang sebentar tentang apa kendala yang membuat mahasiswa tersebut tidak lulus-lulus. Setelah rombongan dekannya pulang, tidak lama kemudian lulus. Itulah salah satu bantuan terhadap aspek 80% terhadap si mahasiswa itu. Tentu saja hanya itu yang bisa dibantu, masalah aspek teknis yg 20% tentu saja karyasiswa harus mikir sendiri mengingat biasanya research question untuk level S3 jarang yang sudah ada jawabannya. Contoh lainnya adalah salah satu kampus IT terkenal di Jakarta, ketua jurusannya selalu berkomunikasi dengan tempat kuliah dosennya di kampus negeri di Jakarta juga. Bahkan di Facebook sering terlihat dia mengikuti sidang-sidang si mahasiswa tersebut (sidang proposal, sidang terbuka, dan acara-acara lainnya). Mungkin cara tersebut, dengan menjaga komunikasi ke dosen pembimbing (atau ke departemen) rekannya yang sedang kuliah, bisa di terapkan untuk dosen yang kuliah di kampus dalam negeri. Mengingat tingkat kegagalannya (lama lulusnya bahkan drop out) yang mengambil S3 di dalam negeri cukup tinggi. Tentu saja untuk yang luar negeri agak sulit karena jarak dan biaya. Untuk yang di dalam negeri toh tidak ada salahnya dicoba.

Support dan Penghargaan

Tidak ada salahnya karyasiswa diberi penghargaan walau belum selesai. Banyak caranya, misalnya tetap memberikan gaji ke dosen tersebut, bisa tetap menerima tunjangan serdos (khusus yang biaya sendiri), atau sekedar menjadi pembicara di institusinya. Ini mirip dengan cara sebelumnya, jika yang sebelumnya melibatkan aspek fisik, support dan penghargaan melibatkan aspek mental dan spritual. Si mahasiswa merasa diperhatikan sehingga berusaha sekuat tenaga menjawab tantangan-tantangannya.

Support dan penghargaan pun saya terima, misalnya ketika acara wisuda di luar dugaan ternyata dubes dan atase kebudayaan ikut hadir. Suatu hal sederhana tetapi merupakan wujud penghargaan yang tak bisa dihargai dengan apapun. Pantas saja ada seseorang yang memperhatikan saya yang duduk di depan (wisudawan doktoral selalu di depan), ternyata dia p dubes yang baru (sampai tidak kenal karena lamanya waktu kuliah hingga dubes dan bahkan raja pun sudah ganti yang baru).

Ketika pertemuan asosiasi APTIKOM, seorang rektor dari kampus besar di semarang mengatakan bahwa jika ada dosennya yang lulus doktor dalam negeri, maka akan diberikan umroh gratis. Jika dari luar negeri akan diberi satu unit kendaraan (xenia/avanza). Di kampus saya lebih keren lagi, ketika lulus kuliah (luar atau dalam) ternyata diberi uang tunai yang besarnya bisa melebihi xenia/avanza … (pesangon). Sekian semoga bermanfaat, atau minimal bisa menghibur di waktu libur.

Ternyata mereka datang ..