Magang Yuk

Salah satu kebijakan Nadiem adalah bukan hanya sekedar “link and match”, tetapi antara kampus dan industri/pengguna berhubungan erat, bahkan kalau perlu menjadikan tempat kerja sebagai ruang kuliah. Bukan saja sasaran perkuliahan mengantarkan lulusan langsung 100% bekerja, tetapi ketika kuliah pun, para mahasiswa diharapkan sudah dikasih kerjaan oleh pengguna.

Kebijakan para pendahulu terkadang tidak didukung secara sukarela oleh dunia kerja. Dukungan pun terkadang terpaksa yang akibatnya tidak efektif berjalan. Nah, bagaimana konsep magang yang diperkenalkan oleh mendikbud yang baru ini? Apakah dapat berjalan? Sementara kita pantau dan dukung terus. Semoga didukung oleh dunia kerja mengingat menteri kita yang satu ini sejatinya adalah berasal dari dunia kerja, bahkan salah satu pengusaha dari generasi “milenial” yang sukses.

Saya sendiri sempat bekerja di perusahaan IT yang bergerak di perbankan berskala nasional. Antara yang dipelajari di kampus, terkadang “jauh panggang dari api”. Kurikulum didasarkan pada siapa yang ngajar bukan kebutuhan kerja. Bahkan belajar IT sesungguhnya malah dari dunia kerja. Sebenarnya sudah ada masukan dari para pencari kerja, tetapi untuk “menekan” kampus menyesuaikan kurikulum tidak semudah membalik telapak tangan. Alhasil, dunia kerja pasrah saja menerima karyawan baru dengan tambahan biaya pelatihan dan training yang cukup berat.

Ketika ke dunia kampus, ternyata berat juga menyesuaikan kurikulum dengan yang dibutuhkan saat ini. Ketika mengganti satu mata kuliah saja, siap-siap diprotes oleh dosen-dosen yang “kehilangan” mata kuliahnya. Ditambah lagi kerepotan-kerepotan lain terkait dengan kualifikasi pengajar. Jika mengandalkan expert, kesulitan utama adalah waktu yang tidak bisa diatur semaunya oleh kampus. Mungkin dengan online learning, hal ini dapat diatasi, dengan syarat-syarat yang ketat tentunya.

Siang itu, sepi seperti biasa jika perkuliahan libur semester. Para dosen biasanya sibuk mengerjakan riset, menulis paper (untuk yang mau saja), membuat laporan LKD/BKD serdos, dan sebagainya. Tiba-tiba salah satu staf TU memanggil saya katanya ada perusahaan yang meminta mahasiswanya magang. Unik juga, selama menjabat ketua program studi baru kali ini permintaan magang secara langsung. Biasanya harus mencari dahulu, itu pun ujung-ujungnya formalitas belaka dalam rangka pemenuhan kerja praktek/PKL. Yang diminta pun tidak banyak, tetapi di sini skill yang diminta jelas, yaitu pandai mendisain. Bisa diprediksi nanti skill lainnya bakal diminta pula, seperti mobila app, web developer, dan lain-lain. Tapi oke lah, dicoba dulu. Setelah memilih salah satu siswa yang kira-kira sesuai dengan permintaan, proses magang pun berjalan otomatis. Tidak perlu mengajari siswa membuat CV, berlatih wawancara, dan tetek-bengek proses penerimaan kerja lainnya karena secara otomatis mereka dipaksa melakukan itu.

Ternyata ada informasi lain dari mahasiswa bahwa beberapa mahasiswa sudah aktif magang tanpa sepengetahuan saya di salah satu web developer. Sepertinya saya harus mendata lagi, ternyata hal unik terjadi dimana dunia kerja secara gesit menerobos tembok kampus, mencari talenta-talenta yang bahkan oleh kampusnya sendiri tidak disadari. Untuk para akademisi, yuk buka mata, sepertinya era baru pendidikan sudah dimulai.

Beasiswa adalah Hak Kita

Beruntunglah rekan-rekan yang sudah mengambil beasiswa karena saat ini persaingan memperoleh beasiswa cukup berat. Apalagi andalan rekan-rekan dosen non-millenial seperti saya, yaitu BPPDN/BPPLN, sudah mulai kritis kondisinya dan terancam disuntik mati.

Tinggal kini beasiswa unggulan dosen Indonesia (BUDI) yang menjadi sasaran para dosen yang ingin menebus hutang “kuliah”, alias yang belum S3. BUDI, yang merupakan skema LPDP dari departemen keuangan sulit ditembus oleh dosen-dosen rata-rata di Indonesia, apalagi untuk Indonesia timur. Logika sederhananya adalah ketika BPPDN/LN saja tidak lulus, apalagi BUDIDN/LN. Namun jangan berkecil hati, seperti nasehat pewawancara saya dahulu, harus optimis dan jalankan prinsip “coba lagi saja”. Sederhana, tapi manjur, apalagi sambil berdoa. Apalagi jika usia masih di bawah 47 tahun (batas maksimal usia pelamar BUDI).

Apa salahnya melakukan beberapa aktivitas berikut jika Anda seorang dosen yang wajib melaksanakan Tri Darma perguruan tinggi.

1. Riset. Oiya, beberapa skema riset jika ditekuni memiliki anggaran yang melebihi biaya kuliah lho. Jadi selain Facebook, pantau terus situs penelitian ini. Nah, jika kita beruntung menerima hibah, baik besar atau kecil, di Sinta akan tercatat dan bisa “dilirik” oleh calon-calon advisor kita, khususnya yang ingin ambil S3 dalam negeri. Terlebih lagi bisa diakses oleh umum, misalnya riset saya.

2. Kecakapan berbahasa Inggris. Lihat situs resmi BUDI. Di sana mensyaratkan IELTS 6.5 yang merupakan skor yang cukup sulit bagi orang teknik seperti saya. Utk BPPLN, dulu 6.0 masih diperbolehkan. Oiya, saya ikut pelatihan gratis IELST + tes dari DIKTI di Jogja dulu, dapat Skor 6.0 dan dipakai untuk studi lanjut S3 (lihat post saya dahulu), alhamdulillah lancar.

3. Indeks Scopus. Untuk yang ini, kemampuan menulis mutlak diperlukan. Terkait dengan riset, banyak syarat-syarat h-index dan sebagai penulis pertama di paper yang terindeks scopus. Menjadi anggota peneliti tidak dilarang kok. Oiya, jangan sampai belum punya ID Scopus.

4. Sosialisasi. Aktif di forum-forum atau asosiasi profesi tidak ada salahnya. Banyak kenalan di forum yang akhirnya menjadi supervisor S3.

Mungkin itu sedikit gambaran kondisi beasiswa Ristekdikti/BRIN dan bagaimana dosen mengkondisikan dengan aturan-aturan yang ada agar “menarik” di mata pemberi beasiswa. Jangan khawatir, banyak juga lho yang bukan dari pemerintah. Bisa dari kampus tujuan, lembaga internasional, kedutaan negara asing, dan lain-lain. Sekian, semoga menginspirasi.

Merdeka Belajar

Pulang sekolah bagi pelajar kelas 3 sekolah dasar seperti saya waktu itu merupakan saat yang paling menggembirakan. Setelah seharian digembleng ilmu yang tidak kami mengerti maksud & manfaat real-nya, kini bisa bermain dengan teman-teman sepermainan yang berbeda-beda “spesialisasinya”. Ada yang jago main gundu, main layangan, hingga jago ngadu ayam. Kami selalu membagikan temuan masing-masing, bahwa jika angin sangat kencang maka teknik “uluran” lebih baik dibanding “tarikan” ketika mengadu layang-layang. Rekan yang lain membagikan informasi membedakan ayam bangkok dengan ayam kampung biasa dan bagaimana caranya supaya kondisi ayam tetap fit untuk diadu. Atau berilah cabai ke jangkrik agar lebih liar dan ganas ketika duel. Walau ada teman yang ngaco juga, kalau mau kuat lari coba minum air garam, kata rekan saya yang ikut klub lari. Ketika diminum, rasanya tidak enak banget hingga mau muntah, dan akhirnya saya maki-maki dia keesokan harinya.

Nah, salah satu teman saya adalah “bisnis-child”, alias dagang apa saja. Tentu saja hal-hal yang baru akan menarik minat anak kecil yang haus hal-hal yang baru. Apalagi kabarnya bisa menghasilkan uang kertas, jenis uang yang jarang dipegang pelajar sekolah dasar di era 80-an, era dimana tatap muka masih merajai.

Udara cerah, dengan angin kencang yang mendinginkan udara siang yang panas membawa kami ke tempat teman yang sedang mengantri majalah, teka-teki silang, dan bacaan sejenisnya. Ternyata dia tidak membeli, melainkan membawa cukup banyak bacaan itu untuk dijual. Kami saling berpandangan, ketika rekan saya itu menawarkan ke si bos-nya agar kami ikut menjual. Tentu saja senang dengan tawaran tersebut. Salah satu hal yang membuat senang adalah kepercayaan yang diberikan. Berarti untuk menggerakan sesuatu butuh kepercayaan. Dengan modal kepercayaan tersebut, saya dan teman-teman yang memiliki spesialisasi masing-masing mulai menjalankan visi dan misi yang tidak perlu dirumuskan. Tawarkan bacaan tersebut ke sebanyak mungkin orang agar diharapkan beberapa yang tertarik membeli dengan harga minimal tertentu.

Masalah muncul ketika ada yang melaporkan kegiatan saya. Begitu tahu setelah sekolah ikut dagang majalah, dan sejenisnya, orang tua saya langsung melabrak. Mungkin ada rasa malu dan khawatir dibilang tidak mampu membiayai hidup keluarga, atau mungkin juga khawatir saya keluyuran lama dan tidak langsung belajar selepas sekolah, yang katanya agar pintar maka pelajaran yang baru dipelajari sebaiknya langsung diulang. Tentu saja membosankan sesuatu yang harus diulang-ulang bagi anak yang normal, apalagi mengingat hadiah “pentungan” dari guru yang baru saja kami terima ketika salah hitung, lupa, dan tidak mengerjakan PR. Padahal dengan mencoba berdagang, di situlah saya sadar betapa sulitnya mencari uang, menyimpan, menghitung, dan segala aspek bisnis lainnya.

Tetapi hebatnya pelajar-pelajar di jaman itu, tidak ada satu pun yang berani dan melawan guru, walaupun dilampiaskannya dengan melawan siswa-siswa lain dalam the real “MMA” battle, alias tawuran. Hanya saja sayangnya tidak ada kemerdekaan dalam belajar. Kemerdekaan yang saat ini menjadi jurus andalan mendikbud, Nadiem Makarim, untuk menyiapkan SDM yang bisa berbicara di kancah dunia. Kita lihat saja, semoga berhasil.

Evaluasi Diri Sebelum Lanjut Kuliah

Istilah evaluasi diri (kadang disingkat evaldi) ini terlihat keren, sering ditemui di akreditasi, padahal arti sederhananya adalah berkaca (kadang diucapkan oleh wanita yg sebal dgn jomblo yang mendekat tanpa babibu). Maksudnya melihat diri sendiri apa adanya, ga kurang ga lebih. Melakukan evaluasi diri walau terlihat sederhana tapi dapat menyelamatkan Anda.

Ambilah contoh rekan-rekan yang akan dan baru mulai S3. Terkadang diperlukan evaluasi diri untuk mengukur kesiapan kita menyelesaikan studi. Plan A, B, C dan seterusnya terkadang wajib dijalankan. Proposal yang terkadang mudah dilalui, ketika tidak melakukan evaluasi diri berakibat fatal, alias tidak rampung-rampung. Bagaimana cara mengevaluasi diri? Mudah-mudahan postingan ini bisa menggambarkannya.

Parkour

Parkour merupakan seni melompati rintangan yang berkembang di Perancis. Prinsip utamanya adalah melawan rasa takut tetapi tetap mengetahui kemampuan diri. Jika mampu melompati suatu rintangan A maka dia melompat, tetapi jika belum pernah dan dirasa tidak sanggup melompati rintangan B maka tidak boleh melompatinya, perlu latihan bertahap dulu. Nah, analogi dengan teknik ini, maka kita harus mampu mengukur kekuatan kita. Parkour bukanlah olah raga ekstrim, jadi begitu pula dengan kuliah S3 bukanlah kuliah ekstrim. Asalkan hasil evaluasi diri Anda menyatakan sanggup, maka jalanilah. Jika tidak/belum, persiapkanlah (bahasa, riset, proposal, keuangan, keluarga, dan lain-lain).

Hiena

Ada satu jenis binatang yang bukan merupakan hewan favorit, yaitu Hiena. Hewan pemakan daging ini hidup berkelompok di Afrika. Salah satu karakternya adalah kemampuannya mengevaluasi diri. Jika mereka perkirakan tidak sanggup menang, maka hewan ini akan lari, tetapi jika mereka yakin menang maka mereka siap bertarung. Bahkan singa pun mereka lawan jika sekelompok tersebut telah berhitung dan akan memenangi pertarungan. Untuk yang mengajukan proposal, ukurlah waktu, sumber daya, pembimbing, fasilitas lab dan hal-hal lain yang mampu mendukung penyelesaian disertasi. Jika tidak sebaiknya ganti proposal karena dikhawatirkan tidak selesai tepat waktu. Memang banyak yang membenci Hiena karena licik dan pengecut, tapi sikap cerdik dalam mengevaluasi diri perlu dicontoh. Bahkan para pakar menyimpulkan hewan ini sangat cerdas karena memiliki kemampuan berhitung.

 

Menghadapi Era Milenial Bagi Pengajar

Banyak rekan-rekan seumuran saya yang terkaget-kaget dan tergopoh-gopoh di era milenial ini. Era yang sering disebut industri 4.0. Jangankan guru yang kaget melihat siswanya banyak yang lebih tahu dari dia, dosen pun mengalami hal yang sama. Tinggal searching di google, siswa sudah tahu apapun yang diinginkannya. Postingan ini sedikit memberi pertahanan agar para pengajar tidak dilibas oleh era ini.

Melatih Ingatan

Tidak dapat dipungkiri, dengan adanya google kita jadi malas untuk mengingat-ingat. Toh, ada di google jawabannya. Tapi secepat-cepatnya Anda searching, tetap jauh lebih cepat jika Anda mengetahui dari ingatan Anda. Sebenarnya era generasi X dan sebelumnya memiliki keunggulan dalam hal ingatan (maklum belum ada google, jadi harus buka buku atau nanya-nanya). Tidak ada salahnya mengingat-ingat informasi yang pernah kita miliki. Oiya, era industri 4.0 bercirikan bahwa pengajar bukan seperti pemberi informasi melainkan fasilitator, motivator, dan model bagi siswa. Kita tentu lebih mengagumi seseorang yang ketika ditanya langsung menjawab dibandingkan buka contekan dulu, atau searching di Google. Jika kita langsung menjawab kemungkinan besar siswa kagum, dan jika siswa mengagumi gurunya makan mereka akan lebih mudah diajari dan dimotivasi.

Gunakan Metode Iterasi

Bagi orang IT, dikenal metode pengembangan sistem (SDLC) waterfall. Metode ini mengalir terus dari analisa, disain, coding, testing, dan implementasi. Dikatakan waterfall karena mengalir turun ke bawah bak air terjun. Ketika membaca atau mempelajari ilmu baru jangan gunakan metode jadul tersebut, melainkan pilih metode yang terjamin keberhasilannya, yaitu iterasi.

Metode yang biasanya digunakan oleh pengembang program berorientasi objek ini memastikan ketika melaksanakan atau mengerjakan sesuatu, seluruh tahapan (analisa, disain, coding, testing dan implementasi) dilakukan. Bagaimana praktisnya? Sederhana sebenarnya, ketika kita membaca satu tulisan, misalnya postingan ini. Dimulai dari paragraf pertama Anda wajib menjalankan seluruh metode belajar yang dikuasai (biasanya mencari topik utama, menguji apa yg diserap, dan mengulang jika kurang paham). Ketika Anda membaca sampai sini, jika Anda lupa mencari topik bacaan tiap paragraf, dan tidak mengetes apa informasi yang baru diterima, jangan-jangan setelah selesai membaca postingan ini tidak ada yang masuk di otak. Di jaman yang cepat ini membaca ulang sangat memboroskan waktu Anda, jadi pastikan sekali gebuk (maksudnya baca) langsung mengerti. Sebenarnya sifat alami otak itu iterasi. Pernahkan Anda menonton film di bioskop berkali-kali? Tentu saja tidak. Hal ini karena ketika menonton, di kepala kita tidak hanya mengikuti cerita melainkan muncul seluruh metode belajar dari memahami, menyimpulkan, menguji hasil pengamatan, dan seterusnya. Ada dua kemungkinan Anda menonton kembali: menyukai film tersebut, atau ketiduran ketika menonton yang pertama atau melakukan aktivitas-aktivitas lain yang ga jelas. Jika ada tambahan bisa ditambahkan di komentar. Sekian, semoga bisa membantu.

Memberilah atau Otomatis Anda Berhutang

Dalam kehidupan, kita melihat ada orang-orang yang sukses, ada yang biasa-biasa saja, dan ada yang bisa dikatakan belum berhasil. Memang terkadang orang melihat yang sukses itu adalah yang kaya dengan harta berlimpah, kedudukan tinggi dan sejenisnya. Tetapi pada dasarnya jika kita perhatikan mereka memiliki sesuatu yang “diberikan” kepada umat manusia, atau minimal di lingkungan sekitarnya.

Memberi

Tulisan di blog yang Anda baca ini bisa dibaca dengan memanfaatkan teknologi web yang dikembangkan oleh Tim Barners-Lee. Oiya, website pertama silahkan lihat di link ini: http://info.cern.ch/hypertext/WWW/TheProject.html. Banyak yang sudah memanfaatkan hasil “pemberian” dari Lee tersebut. Apakah dia sukses? Tuhan maha adil, siapa yang banyak memberi tentu saja dia yang banyak menerima. Ada lagi, misalnya penemu sosmed, www.facebook.com yang merupakan situs terbanyak digunakan setelah www.google.com. Banyak orang yang bisa bertemu dengan teman-teman lama yang menghilang lewat aplikasi tersebut. Banyak orang yang menerima manfaat secara otomatis akan kembali ke orang yang memberikan manfaat. Atau yang sederhana di tanah air, pencetus Gojek, Mas Nadiem. Banyak yang terbantu dengan aplikasi buatannya. Akhirnya manfaat akan kembali ke menteri pendidikan yang baru tersebut.

Memberi tidak selalu dengan uang atau harta lainnya. Bisa juga dengan ilmu yang kita miliki. Dibayar atau tidak, alam akan mengembalikan apa yang telah kita berikan. Bahkan ketika kita mengajari orang dengan ikhlas, biasanya ilmu malah akan bertambah, tidak berkurang. Ada yang membagikannya lewat Youtube. Bahkan hiburan yang sederhana saja tetapi banyak dinikmati orang, profit akan mengalir ke chanel Youtube tersebut. Artinya makin banyak yang menikmati pemberian kita, makin banyak yang dikembalikan kepada si pemberi.

Memberi atau Berhutang

Ada pepatah di Tibet yang penuh aroma Budha, yaitu jika anda menerima melebihi yang Anda berikan ke orang lain, maka Anda dapat dikatakan maling. Tentu saja tidak maling dalam arti sebenarnya. Kita bekerja menghasilkan barang/jasa, dinikmati orang, kemudian hasil kita terima baik lewat gaji maupun keuntungan. Nah, maling, rampok, koruptor, dan sejenisnya itu bermaksud menerima tanpa secuilpun memberi. Dan banyak kita secara tidak sadar melakukan praktik tersebut. Kita banyak menerima hal-hal yang free tetapi tidak mau memberikan secara free kepada orang lain. Adilkah? Tentu saja tidak ada yang free secara hukum alam/sunatullah terlepas dari adil atau tidak. Jika banyak menerima tapi sedikit memberi maka jika tidak mau dikatakan maling, berarti kita berhutang. Bayarlah hutang dengan memberikan manfaat ke orang lain. Dari yang sederhana, memberi info penting ke teman-teman, bekerja melebihi upah yang diberikan, membatu sesama dan aktivitas-aktivitas non-bisnis lainnya.

Kadang banyak rekan-rekan sesama dosen yang mengeluh, gaji yang kecil, tidak dihargai, tuntutan yang berat seperti jurnal terindeks Scopus, dan lain-lain. Jika Anda merasa yang diterima kurang dari yang diberikan, bersyukurlah kita tidak berhutang kepada alam semesta (walaupun masih ngutang uang di sana sini sih ke orang), dan hukum alam itu pasti, tunggu saja balasan baik akan tiba, jika tidak ke kita ya mudah-mudahan ke anak cucu kita. So, jangan khawatir jika udah gaji dosen seadanya, dimaki-maki pula oleh pemilik kampus, cobalah berfikir luas sedikit, ke lingkungan sekitar hingga alam semesta. Mudah-mudahan postingan berbau filsafat ini bisa menenangkan yang sedang gundah gulana.

Bagimu Iseng-Iseng, Bagi Kami adalah Etika

Bagi editor mengelola jurnal merupakan pekerjaan yang melelahkan. Dimulai dari mencari naskah tulisan lewat promosi ke medsos, grup WA, email, hingga ke editing sesuai gaya selingkung jurnal. Jika kekurangan naskah, terpaksa tulisan yang ada diterima dengan konsekuensi kualitas jurnal akan jatuh dari sisi konten. Jika naskah berlebih, maka butuh waktu untuk mereviewnya, dan repot jika hampir semua naskah tersebut tidak layak terbit, ujung-ujungnya memaksa beberapa tulisan untuk diterbitkan.

Jurnal ber-ISSN yang dulu hanya untuk naik pangkat sekarang memiliki banyak manfaat lainnya, dari syarat laporan serdos, syarat hibah, syarat lulus kuliah hingga sekedar memperoleh insentif dari kampus tempat mengajar. Sehingga lama-kelamaan filosofi meneliti mulai bergeser. Dari pengalaman mengelola jurnal, mereview dan meneliti berikut ini mungkin harus dihindari.

1. Multiple Submission

Untuk mempublikasikan satu naskah membutuhkan waktu yang cukup lama, dari submit, review hingga publikasi. Terkadang satu tulisan perlu direvisi berkali-kali sebelum re-submit. Nah, banyak penulis yang mengirim tulisan yang sama ke berbagai jurnal dengan harapan siapa yang duluan accept itulah yang dipilih. Boleh saja kan? Bagi yang menjawab boleh perlu sedikit mengetahui hal-hal berikut.

Sebuah naskah paper hanya boleh publish di satu jurnal. Jika dipublikasikan lebih dari satu jurnal maka walaupun ditulis oleh penulis yang sama tetap dianggap plagiarisme. Di sini konflik muncul ketika dua atau lebih penerbit mempublikasikan tulisan yang sama tersebut. Silahkan menjawab dengan kalimat “bodo amat”, tetapi resiko Anda tanggung sendiri. Oiya, bukan hanya Anda tapi kampus tempat Anda bernaung juga ikut menanggung malu. Mengapa? Hal ini terjadi karena Ristek Dikti sudah membuat satu alat pengecekan naskah Anda di link ini: http://anjani.ristekdikti.go.id/pelaporan/retraksi.

Situs yang bernama Anjani itu membahas penyimpangan-penyimpanan yang terjadi. Bagi pengelola jurnal sih gampang saja, tinggal cabut saja tulisan bermasalah itu dan beres. Tetapi data “kenakalan” Anda akan terekam hingga anak cucu Anda.

2. Review Gratis

Terkadang review dibutuhkan untuk perbaikan naskah kita. Ketika disubmit, editor akan mengirim naskah itu ke reviewer untuk dinilai. Entah diterima atau tidak, hasil review sangat bermanfaat untuk kesempurnaan tulisan tersebut. Nah, masalah muncul jika penulis sengaja hanya ingin dicek saja, dan ketika naskah dinyatakan diterima (baik lewat mayor atau revisi minor) si penulis menarik (withdraw) tulisan tersebut. Pernah sekali jurnal saya mengalami hal yang sama. Silahkan jika Anda ingin seperti itu, tapi perasaan seorang editor yang sakit akan dibalas oleh Tuhan. Memang tidak ada hukuman real dari pengelola jurnal dan pemerintah, tetapi saat ini dimana medsos, komunikasi komunitas yang transparan, “blacklist” terkadang berlaku secara tidak langsung. Nama Anda akan masuk daftar penulis nakal yang perlu diwaspadai ketika submit tulisan di jurnal tetangga.

3. Tidak Mau Merevisi

Tentu saja jika tidak mau merevisi, tinggal reject saja. Ya, itu berlaku untuk jurnal yang sudah level mengengah ke atas. Tetapi untuk jurnal yang pas-pasan, hidup segan mati tak mau, sebuah tulisan sangat penting. Terkadang memang si penulis hanya untuk “gugur tugas saja”, seperti laporan BKD serdos, dan sejenisnya (kinerja pegawai). Dengan kekuasaannya terkadang “memaksa” editor untuk mempublikasikan tulisannya. Perlu disadari pekerjaan editor sangat melelahkan, dari menyiapkan OJS, merawat jurnal, mengedit tulisan, dan lain-lain. Jika berhasil, kualitas jurnal naik, dan si penulis pun terbantu ketika akreditasi jurnal tersebut baik. Terkadang editor meminta kualitas gambar yang jelas, seting layout yang harus mengikuti template jurnal dan lain-lain. Oiya, editor bukan menekan Anda untuk memperbaiki naskah tetapi justru memperbaiki kualitas karya Anda. Baik buruknya jurnal tergantung dari bukan saja pengelolaan jurnal, tetapi reviewer dan juga Anda sebagai penulis. Bantulah jurnal tempat Anda mempublikasikan karya Anda agar kualitasnya meningkat dengan memperbaiki kualitas tulisan Anda ketika diminta revisi.

4. Permainan Author dan Co-Author

Yang paling sering terjadi adalah seorang dosen yang mengambil karya mahasiswa tanpa menyertakan si mahasiswa. Editor juga seorang dosen, pasti tahu tulisan itu karya siswa atau tidak. Bahkan saking “kasar”nya, masih ada kata-kata skripsi dalam naskah yang dikirim ke editor dan tertulis hanya nama dosennya. Sungguh tidak etis dan pernah terjadi hal demikian hingga oleh si mahasiswa dibawa ke ranah hukum. Akibatnya si dosen menjadi malu.

Bagaimana dengan urutannya? Sebagian besar menempatkan si mahasiswa sebagai penulis utama dan dosen pembimbing sebagai co-author. Tetapi diperbolehkan ketika si dosen menggabungkan beberapa karya bimbingannya menjadi satu naskah atau menambahkan metode yang meng-improve atau meningkatkan akurasi hasil risetnya. Untuk rekan-rekan yang kuliah di Jepang sedikit berbeda, si profesor pembimbing memaksa dia menjadi penulis utama. Hal ini menurut saya sangat dimaklumi. Berbeda dengan di Indonesia dimana riset mahasiswa tidak terkait dengan industri dan proyek pembimbing. Di sana terkadang pihak industri memesan riset tertentu, seperti misalnya mencari kualitas komposisi bahan yang baik untuk rem. Si dosen membagi tugas-tugas proyek itu ke mahasiswa-mahasiswa. Ketika menguji, mencari data, si dosen terkadang sangat ketat memantau, memberi panduan, dan harus mengikuti standar yang ada. Si Dosen harus mempertanggungjawabkan hasil riset ke industri sehingga seolah-olah mahasiswa hanya kepanjangan tangan dari dosennya. Memang terkadang inovasi, ide, dan temuan bisa muncul dari mahasiswa. Tetapi karena ide penelitian berasal dari dosen maka mereka merasa si pembimbinglah yang layak menjadi penulis utama. Ristekdikti sepertinya melihat hal ini sehingga membolehkan Co-author memperoleh hak setara dengan Author (penulis satu), dengan syarat co-author tersebut sebagai corresponding author, yaitu yang mengurus submit, review, dan hal-hal administratif lainnya.

Mungkin banyak hal-hal rumit lainnya dalam perjurnalan yang bisa ditulis di kolom komentar untuk dibahas bersama, sekian semoga menginspirasi.

 

Pengindeks Bereputasi

Walaupun “doctor of philosophy” tidak berarti doktor filsafat, tidak ada salahnya saya menulis yang sedikit berbau filsafat. Sebagai cabang ilmu yang mempertanyakan segala sesuatu baik yang biasa hingga yang sensitif sudah tentu filsafat bisa digunakan untuk menjawab hal-hal yang saat ini menjadi polemik, salah satunya adalah Scopus, suatu pengindeks yang menjadi patokan utama penilaian kinerja peneliti-peneliti di tanah air.

Sebenarnya lama menanti pro-kontra masalah scopus yang ditulis oleh rekan-rekan yang memiliki background filsafat, tetapi hingga saat ini belum juga ada yang share. Paling banter dari ketidaksetujuan peneliti yang memiliki h-index Scopus tinggi terhadap Scopus itu sendiri, sehingga terkesan tidak memihak, berbeda dengan protes Scopus oleh yang tidak memiliki kinerja Scopus yang baik. Dan seperti dugaan saya, seperti berbalas pantun, tiap pantun dibalas pantun pula. Tiap penentuan Scopus oleh pemerintah dianggap salah, dibalas oleh pemerintah dengan menambah bobot faktor Scopus, baik di penilaian angka kredit, hingga ke dapur peneliti, yaitu syarat hibah. Makin banyak peneliti yang defisit Scopus tidak eligible mengajukan proposal skema tertentu, sehingga peneliti yang memiliki Scopus yang baik memiliki peluang besar untuk lolos proposalnya karena minim saingan (ups .. pengkritik yang ber-Scopus tinggi tersebut tambah berpeluang lolos dong).

Jawaban Trivial

Ketika belajar matematika waktu kuliah dulu, ketika membahas persamaan orde tinggi si dosen memperkenalkan istilah jawaban trivial. Masih berkesan bagi saya ketika beliau menjelaskan bahwa ketika melawan rudal Jerman, Inggris menggunakan jawaban trivial berupa radar. Tentu saja radar yang seadanya karena teknologi yang masih belum berkembang. Rudal yang ditembakan Jerman dapat diketahui arahnya, bahkan sebuah kolam dibuat untuk menampung rudal-rudal kiriman tersebut agar tidak meledak (kayak petasan yang melepes). Radar cukup efektif, tetapi pada suatu saat, si pembaca radar melihat begitu banyak rudal akan melintasi Inggris yang tentu saja tidak akan sanggup dihalau, apalagi hanya dengan kolam. Kabar tersebut membuat ciut, dan bahkan sudah banyak yang berdoa, semoga setelah mati bisa masuk surga. Ternyata, tuhan hanya iseng saja. Ratusan rudal yang tertangkap radar hanyalah sekawanan burung yang sedang migrasi, hehe. Nah, hubungannya dengan pemilihan Scopus menurut saya adalah jawaban trivial. Jika negara kita sudah memiliki indeksasi yang mendekati kualitas Scopus tentu saja tidak perlu membayar Scopus. Jika tidak menggunakan indek apapun, bagaimana mengukur kinerja penelitiannya? Lewat penilaian rekan sejawat yang setia bersama dalam suka dan duka? Atau lewat penilai PAK Dikti yang baik hatinya?

Publish atau Jadi Sampah?

Halley merupakan ahli astronomi ternama. Kemampuan mengamati langit lewat teropong ajaibnya di jamannya tidak ada tandingannya. Dia terkejut ketika ramalannya lewat alat eksperimennya ternyata tepat sama dengan perhitungan Isac Newton. (Kalau saya mas Halley mungkin dalam hati udah ngomong “kampret!!”). Datanglah dia bertemu Newton di Inggris. Setelah dialog dan diskusi dengan Newton, Halley terkejut dengan rumus-rumus Isac Newton yang belum diketahui saintis di kala itu. Lihat infonya.

“Mengapa tidak kau publish? Bukankah banyak pelajar dan peneliti yang membutuhkan teori-teori mu?”, kira-kira begitu kata Halley. “Bagaimana caranya? Tidak ada yg bersedia?”, Jawabnya. “Begini, saya punya modal, kamu punya ilmu. Bagaimana jika kerja sama? Saya yang bantu mempublikasikan, kamu yang menulis teori-teorinya?”, kata Halley. Bisa dibayangkan jika teori-teori Newton tidak ada yang menyebarkan, perkembangan ilmu akan lambat, padahal riset membutuhkan kerjasama antar peneliti baik sebidang maupun yang berbeda bidang ilmunya. Jika Halley kita ibaratkan penerbit/publisher, maka Newton adalah peneliti-peneliti di seluruh dunia. Scopus, WoS, dan sejenisnya adalah yang membantu mengelola tulisan-tulisan ilmiah. Memang, ada yang berbayar, gratis, dengan karakteristik lain yang khas. Memang “jer basuki mowo beo”, sesuatu butuh biaya. Membantu menyimpan/mengarsipkan dijital, mereview, dan pengecekan lainnya oleh editor jurnal membutuhkan biaya, berbeda dengan Youtube, Facebook, atau Instgram yang gratis menyimpan gambar atau file karena banyak iklan dan endorse-endorsan lainnya, sebagai sumber profit. Jurnal tentu saja minim pembaca/pengguna, paling pelajar, peneliti, dan industri. Kalau ada iklan malah mencurigakan. Yang open access menadapat profit dari yang “menitip” tulisan, yang non-open access mendapat profit dari perpustakaan yang berlangganan jurnalnya.

Sitasi, H-index ?

Memang dunia terus berkembang dan berusaha menjadi sempurna. Ketika belum ada mesin, kereta ditarik oleh kuda, bahkan di Cina oleh orang. Ketika kendaraan menimbulkan polusi, mesin listrik dibuat, atau dengan ganjil-genap kayak di Jakarta, hehe. Ketika orang mengusulkan sitasi sebagai penilai performa, yang lain menunjukan kelemahannya, begitu pula H-index. Tidak perlu lah kita mengikuti Karl Marx yang ingin menghapus negara karena dianggap brengsek mengingat banyak teori-teori lain yang bisa membenahi negara yang brengsek tersebut. Ambil contoh saja kita saat ini yang tidak ingin mengganti Go-jek yang diawal kontroversial dan banyak kelemahan tetapi karena mereka kita biarkan membenahi, akhirnya jadi lebih baik, muncul Go-send, Go-food, dan mungkin nanti Go-paper (upss.. sorry bercanda). Sekian mudah-mudahan terhibur.

Biarkan Saja

Ada satu buku unik berjudul “The Subtle Art of Not Giving a F*ck”. Walaupun judulnya agak kasar tetapi ada juga manfaat yang bisa dipetik dari buku karangan Mark Manson tersebut, khususnya di era milenial, era keterbukaan informasi.

Kita pasti pernah melihat rekan-rekan kita yang posting hal-hal yang “wah” di sosmed. Jika kita merasa panas, kecewa, iri, dan lain-lain, maka disarankan untuk membaca buku “slebor” tersebut. Mungkin penceramah yang mengharamkan posting perlu juga membaca, hehe.

Singkat saja, buku itu membahas sifat dasar manusia yang serakah menurut saya. Pernahkah melihat anak kecil yang nangis karena dibelikan topi indah berwarna biru, padahal yang diinginkan merah? Memang sudah sifat alami manusia yang memiliki segudang keinginan dan kecewa jika keinginannya tidak tercapai. Cuma masalahnya adalah tidak bisa menentukan apakah keinginan itu memang penting?

Banyak bacaan yang isinya bagaimana mencapai ini, itu, tetapi jarang yang membahas jika sesuatu tidak tercapai, tidak apa-apa dan biarkan saja. Untuk rekan-rekan yang masih muda yang belum memiliki sesuatu yang menggambarkan Anda, sepertinya hal-hal remeh temeh terkadang menjadi fokus utama. Perhatikan saja yang gantung diri karena putus cinta sudah dipastikan anak muda. Namun seiring perjalanan waktu, usia bertambah, biasanya kita sudah tahu kapasitas kita. Hal-hal remeh temeh jika tidak tercapai, kita akan maklum sendiri dan tidak kecewa.

Jadi jika ada teman yang posting sesuatu yang “wah”, bayangkan saja Anda melihat sebuah lukisan indah yang menghibur, sebuah informasi baru yang mungkin berharga, produk baru yang bermanfaat, dan hal lain. Jika Anda merasa sedih karena Anda tidak bisa, iri, hati tidak tenang, menurut buku tersebut Anda terlalu “nge-f*ck” ke hal-hal tidak penting dan buku tersebut cocok dibaca, siapa tahu bisa mem-“biarkan saja” terhadap hal-hal yang tidak penting dan tidak harus dikejar-kejar. Jadi inget alm. Gus Dur, “gitu aja kok repot”.

Waktumu Terbatas

Salah satu anak saya sangat menyukai permainan di sebuah mall di bekasi. Isi permainan yang diperuntukan balita dan awal SD berisi jalan, kendaraan, peraga profesi seperti dokter, polisi, tentara, dan lain-lain. Walaupun orang tua boleh masuk untuk mengawasi, tetapi karena bayar maka lebih baik menunggu saja di luar.

Ada hal menarik yang dapat dipetik dari arena permainan itu. Tiap anak diberi waktu sekali bayar satu atau dua jam. Setelah memasuki arena saya lihat anak-anak bermain dengan gembira. Ada yang memilih mobil-mobilan, ada yang memilih berkejar-kejaran dengan temannya, ada yang juga asyik menggambar. Semuanya bergembira, hingga tidak lama kemudian suara speaker berbunyi yang isinya berita panggilan kepada anak tertentu, “anak xxx waktu bermain sudah habis”. Ada anak yang dengan santai keluar, ada pula yang masih lari-larian sehingga harus dijemput oleh petugas. Ada juga yang nangis tidak ingin pulang.

Begitu pula kehidupan dunia. Ada yang didaftarkan berusia 50, 60, bahkan 100 tahun untuk bermain di permainan dunia ini. Ada juga yang masih muda sudah ingin selesai. Ketika selesai, seperti permainan anak-anak, petugas berwenang akan mendatangi dan mengajaknya keluar arena permainan dunia ini. Walaupun permainan tetap saja Anda diminta untuk bermain dengan cantik. Terlihat petugas yang gemas dengan anak-anak yang bermain nakal, mengganggu anak-anak lainnya, saya hanya tersenyum, jangan-jangan saya juga seperti itu. Yuk, bermain dengan cantik.

Fikiran .. Pedang Bermata Dua

Untuk Anda yang mengagung-agungkan fikiran, waspadalah karena fikiran sepertinya membantu Anda dalam keseharian tetapi bisa juga seperti pedang bermata dua yang melukai si pemilik. Hal ini terjadi karena yang seharusnya fikiran berfungsi sebagai alat tetapi beralih fungsi menjadi si majikan. Bagi tradisi kuno Hindu dan Budha fikiran sangat berbahaya karena bisa membuat seseorang hanyut dalam fikirannya. Fikiran yang tak terkendali, diibaratkan sebagai “monyet” yang bergerak loncat ke sana ke mari.

Kisah Imam Malik dan Imam Syafii

Tradisi Islam dahulu kala sering terjadi silang pendapat, karena fikiran. Imam Malik, sang guru, pernah berbeda pendapat dengan Imam Syafii, imam yang paling banyak pengikutnya di Indonesia. Imam Syafii tidak sependapat dengan Imam Malik yang mengatakan cukup dengan tawakal, rejeki akan tiba. Imam syafii berpendapat tidak mungkin tanpa usaha, rejeki akan tiba, seperti burung yang tidak keluar sarang mencari makan tidak akan memperoleh makanan. Begitulah sifat fikiran yang masih mengenal dualitas (atas bawah kiri kanan, suka duka, beanar salah, dan lain-lain). Perbedaan pendapat sejatinya tidak melepas/memutus ikatan pertemanan, apalagi murid dan guru, apalagi hanya dalam hal tetek bengek yang tidak penting, misalnya pileg, pilgub, pilpres, dan pil-pil lainnya.

Pulang dari berguru, Imam Syafii melihat orang-orang yang ramai memanen anggur. Terbesit ide untuk membantu memanen, dan benar dugaannya, selesai memanen Imam Syafii mendapat upah anggur yang banyak. Setelah memperoleh upah, beliau mendatangi lagi gurunya guna membuktikan kebenaran pendapatnya. Sang guru membenarkan pendapatnya, tetapi dengan santai ia mengambil anggur pemberian Imam Syafii, sambil mengatakan beberapa waktu yang lalu, dia kepingin sekali makan buah anggur, dan dengan doa dan tawakal, anggur yang banyak tiba di hadapannya. Mereka akhirnya tertawa.

Mindfulness/Kesadaran

Kesadaran yang berarti menyadari apa yang terjadi dalam fikiran dan perasaan merupakan inti dari meditasi, yang dalam istilah bahasa pali-nya, “sati”. Silahkan coba, tapi tidak berhenti sampai sati saja, melainkan mempelajari. Jika sudah terlatih sadar, seseorang akan memahami mengapa sebuah fikiran muncul, dari mana asalnya dan merembet ke mana. Akibatnya akan muncul kebijaksanaan dengan ciri khas, ego yang tidak mendominasi. Ego yang berada di fikiran akan membuat fikiran menjadi raja sementara diri kita budaknya. Akibatnya banyak orang-orang terpelajar yang di mata orang awam “error”. Konon, pembunuh salah satu khalifaturrasyiddin, Ali bin Abi Thalib, adalah Ibnu Muljam yang cerdas, berilmu, hafal Alquran dan Alhadits, yang sepertinya tidak mungkin terjadi pembunuhan itu jika ego dalam fikiran membuat seseorang menjadi budaknya.

Bahayanya Merasa Benar

Ketika lulus S1 dan menjadi dosen, saya menguji tugas akhir siswa tentang jaringan. Siswa mengatakan bahwa pewarnaan dalam kabel jaringan mempengaruhi nyambung atau putusnya koneksi, selain urutan kabelnya. Sementara saya ngotot, tidak, asalkan ujung ke ujungnya sesuai pin, urutan warna tidak pengaruh. Selang beberapa semester, saya bekerja sebagai staf IT pada bank nasional dan mengalami kondisi yang membuat saya merasa bersalah. Ceritanya sebuah vendor kabel disewa untuk memasang kabel jaringan di cabang dekat asam reges, Jakarta. Warnanya acak, walaupun ujung ke ujung (pin) tepat “lurus/straight“. Sempat jaringan berfungsi normal ketika menggunakan IBM pentium III, tetapi kebetulan ada pergantian PC ke HP Pentium IV, satu pun tidak ada PC baru yang berjalan jaringannya. Dimintalah saya datang ke sana, ternyata saya cek urutan kabelnya tidak standar (bukan: putih-orange, orang, putih-hijau, biru, putih-biru, hijau, putih-coklat, coklat). Akhirnya saya berfikir jangan-jangan siswa saya benar, urutan warna harus standar, akhirnya saya coba satu titik, ternyata benar. Dipanggilah vendor yang memasang kabel kemarin, mirip sidang tugas akhir saya dulu saling ngotot (walaupun untungnya, siswa tersebut saya luluskan). Vendor tersebut membuktikan dengan tester jaringan yang menunjukan “OK”. Akhirnya, saya putuskan menunjukan ke mereka pada satu titik koneksi dengan memasang ulang dengan warna standar, dan terbukti “OK” dengan PC yang baru. Karena takut kasus saya follow-up ke atas, mereka setuju memasang ulang seluruh kabel jaringan. Mudah-mudahan siswa yang saya uji hampir 17 tahun yang lalu itu membaca postingan ini, dan menerima permintaan maaf saya, minal aidin walfaizin, mohon maaf lahir dan batin.

Cukup Hanya Tuhanmu Sajalah Yang Tahu Tujuanmu

Ada sebuah artikel dari link berikut tentang bagaimana mencapai tujuan (goal) kita. Disebutkan bahwa yang ingin kita capai tidak seharusnya di-share. Agak unik, memang pengetahuan dalam mencapai tujuan selalu menjadi tema yang menarik. Banyaknya pengguna media sosial saat ini menjadi alasan agar seseorang berhati-hati dalam mengekspresikan tujuannya secara online. Sebelum ke dunia millenial ada baiknya sedikit mereview sejarah seperti yang ditulis dalam link tersebut.

Kisah Penemuan Pesawat

Di abad 19 banyak ilmuwan dan teknisi berusaha membuat kendaraan yang bisa terbang seperti layaknya burung. Di AS ada salah satu ilmuwan, fisikawan, astronom, bernama Langley, tertarik membuat proyek tersebut dengan dana yang besar, bahkan sebuah departemen mendanai hingga $50.000. Saat itu tidak ada medsos, yang ada hanyalah blowup oleh para wartawan yang gemar men-share berita-berita menarik. Di pihak lain, ada dua bersaudara, dikenal dengan panggilan Wright Brother, yang memiliki bengkel motor, mobil, bahkan sekedar sepeda dengan antengnya merancang pesawat, tanpa gembar-gembor. Publik dikejutkan dengan keberhasilannya menerbangkan hasil karyanya beberapa mil. Sementara itu Langley dengan dana yang besar gagal, bahkan uji cobanya hancur.

Riset Ilmiah

Mungkin pembaca agak ragu dengan statemen agar tidak terlalu men-share keinginan. Memang masih berupa hipotesa jika belum diteliti. Tetapi riset di jurnal psikologi berikut memperkuat statemen tersebut. Riset dilakukan terhadap beberapa responden dan hasilnya adalah grup pertama yang targetnya banyak diketahui orang akan cenderung sedikit berusaha dibanding grup kedua yang targetnya tidak diketahui orang, sedikit diabaikan, dan lain-lain sebagai kebalikan dari grup pertama. Bila seseorang telah mengidentifikasikan dirinya dengan tujuan yang telah tercapai dan men-share nya, biasanya cenderung gagal dalam mencapai tujuan tersebut.

Fear Setting dahulu Share Seperlunya

Selain men-share tujuan ada baiknya melakukan aktivitas lain yang membantu mencapai tujuan dan cita-cita, yaitu fear-setting, mengeset rasa takut. Maksudnya adalah mendeteksi hal-hal rasa takut yang menghalangi kita mencapai tujuan. Misalnya ketika ingin studi lanjut, silahkan rinci dan tulis ketakutan-ketakutan yang ada, misalnya jauh dari keluarga, butuh uang yang banyak, kehilangan jabatan karena tugas belajar, kurang bisa bahasa Inggris, dan lain-lain. Silahkan atasi satu persatu rasa takut yang menghalangi Anda untuk studi lanjut, dengan cara bebas sesuai kreatifitas Anda dan share niat Anda secukupnya saja.

Efek Rasa Syukur

Bersyukur terkadang mudah diucapkan tetapi sulit diterapkan. Terkadang pula mulut kita mengucapkan syukur (ketika beribadah) tetapi hati belum tentu menerima kondisi yang ada. Mungkin pembaca pernah membaca buku “the secret” atau “quantum ikhlas” yang membahas kekuatan dari hati dan fikiran dalam lancar dan suksesnya kehidupan. Di sana disebutkan juga manfaat hati yang “lega/nyaman” ketika melaksanakan/mengerjakan aktivitas sehari-hari. Hasil akan terasa jika dilakukan dengan hati yang ikhlas.

Pertahanan Terbaik

Tidak semua hal berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Terkadang plan A tidak berjalan dan memaksa kita untuk mengeksekusi plan B. Tanpa hati yang ikhlas dan legowo, ketika plan A tidak berjalan akan kesulitan menjalankan plan B, diakibatkan terlalu lama berkeluh-kesah dan kecewa dengan plan A yang gagal.

Sedikit berbagi pengalaman ketika kuliah dulu mengenai manfaat rasa syukur. Syarat untuk menjadi kandidat doktor di tempat kuliah dulu adalah IPK di atas 3,50. Nilai segitu termasuk cukup tinggi, walaupun relatif, terkadang mudah terkadang susah. Sangat jarang mahasiswa yang lancar dalam satu tahun memperoleh skor IPK sebanyak itu. Rata-rata ada yang mengulang karena satu saja mata kuliah jatuh akan menjatuhkan total skor IPK. Bayangkan jika diperoleh IPK semester awal 2,4. Satu kata yang terucap ke pembimbing waktu itu adalah “apakah saya masih bisa lanjut?”, dan jawabannya “bisa”. Satu jawaban itu dengan satu rasa syukur sudah cukup menjadikan pertahanan terbaik saya. Ditambah rincian-rincian syukur lain yang saya kumpulkan untuk menumpuk kekuatan. Lalu apa yg terjadi? Dalam 2 tahun akhirnya IPK tepat berada di posisi 3,50 pas. Angka yang pas menunjukan berapapun nilai yg dosen berikan sangat berharga, kurang lebihnya.

Bekerja dengan Nyaman

Ketika plan A gagal, tidak serta merta plan B dieksekusi. Ternyata butuh syarat penting lain sebelum menjalankannya walaupun sudah ada schedule-nya, yaitu “hati yang nyaman”. Kecuali memang urgen dan mendesak, harus dilaksanakan realtime. Jika ada jeda waktu cukup, ada baiknya membuat hati nyaman terlebih dahulu. Banyak caranya, bisa meditasi, berdoa, maupun cara yang gampang, yaitu bersyukur. Syukuri saja apa yang ada saat ini walaupun sederhana, misalnya kita masih diberi nafas (ups .. sepertinya itu bukan sederhana, melainkan sapu jagad).

Ada satu mekanisme yang dinamakan “daya tarik” dengan prinsip sesuatu akan cenderung berada sesuai dengan yang mirip dengan sesuatu itu. Jika kita marah, biasanya kondisi akan mudah membuat kita marah. Nah, jika kita nyaman dulu, maka kondisi akan cenderung mengikuti kenyamanan. Ada energi-energi lain yang membantu, orang-orang/tim yang kompak, pihak lawan yang tidak terlalu menyerang, dan lain-lain. Sudahkah anda “nyaman” hari ini? Ngopi dulu lah.

Menerapkan Revolusi Industri 4.0 dalam Keseharian

Seperti biasa ketika masuk kerja jam 8 –an, sepi, hanya staf tata usaha dan beberapa dosen yang ada jadwal mengajar. Postingan ini terinspirasi dari siaran radio dalam perjalanan ke kampus yang membahas bagaimana bisnis di era revolusi industri 4.0.

Kembali ke kisah sunyi-sepi-sendiri tadi. Memang ada mesin absen, tetapi fungsinya sebatas setor biometrik (wajah atau sidik jari). Nyaman juga sih, bisa luntang-lantung selepas absen, begitu juga ketika jam pulang. Jika patokannya Tri Darma, sepertinya rata-rata tidak bagus-bagus juga, jika sebagai pembandingnya adalah kampus seusia. Berarti ada sesuatu yang tidak beres kampus dalam mengelola. Mungkin salah satunya adalah ketertinggalan teknologi kampus dengan teknologi yang digunakan karyawannya.

Revolusi Industri 4.0

Komponen penting versi industri 4.0 adalah cyber phisical system, internet of things (IoT), dan bio-technology. Karena kampus juga termasuk institusi bisnis, khususnya jasa, maka mau tidak mau harus mengikuti era-nya jika tidak ingin tertinggal. Salah satu aspek khas “internet of things” perlu diterapkan dengan beberapa metode artificial intelegent-nya (AI). Jika dirasa fingerprint sekali masuk dan sekali keluar tidak memenuhi rasa keadilan, ganti saja dengan berbasis AI, entah bagaimana caranya. Saya teringat kakak saya yang banyak bisnisnya, salah satunya cuci mobil. Dia menggunakan prinsip bagi hasil terhadap tim pencuci. Saya mempertanyakan, apakah tidak khawatir dibohongi? Dia menjawab, “kan ada CCTV, kita bisa melihat berapa mobil yang dicuci, lihat live atau rekamannya”. Jadi kehadiran fisik seperti inspeksi mendadak dan sejenisnya sudah bukan era-nya lagi, biar sistem yang berbicara. Rapat-rapat yang menuntuk kehadiran fisik pun sepertinya tidak masuk kategori industri 4.0.

Kapten Stark

Penggemar film marvel pasti tahu Mr. Stark, sang Iron Man. Lihat bagaimana dia menerapkan IoT dengan cyber physical systemnya dimana mesin dan mesin berkomunikasi, bukan hanya orang dengan mesin. Bahkan Dr. Banner (Hulk) yang berprofesi dokter pun tampak lihai menggunakan IT di markas avengers, teknologi yang memang makin menjadi pegangan sehari-hari kita saat ini bukan hanya orang IT. Bahkan dalam satu episodenya, kapten Stark belajar astrofisika hanya dalam semalam. Maaf, jadi ngomongin film. Tapi gambaran di film tersebut cukup baik menggambarkan revolusi industri 4.0, terlepas dari keanehan-keanehan yang memang wajar dalam sebuah film.

Jiwa Kewirausahaan (Enterpreneurship)

Sehabis lulus studi terakhir, saya diundang ke kampus internasional berkat undangan dari teman yang mengenal orang-orang di kampus itu, dan karena memang banyak waktu luang jadi sering kesana-kemari, datanglah iseng-iseng ke kampus tersebut. Saya tercengang ketika salah satu ketua prodi menanyakan bisnis atau usaha apa yang saat ini dilakukan selain mengajar, di sesi wawancara. Sebuah pertanyaan “out of the box” yang jarang ditanya dalam sebuah wawancara menjadi seorang dosen. Dan kebetulan pula kampus existing diambil alih dan dapat pesangon, akhirnya kembali lagi di cerita bisnis kakak saya, uang tersebut dibuat usaha dengan penghasilan perbulannya yang hampir menyamai gaji pokok golongan III/a. Dengan memanfaatkan IoT, aspek geografis dapat teratasi dan masih bisa mengajar walau sambil berwirausaha.

Kembali ke dunia nyata dan terbangun dari lamunan, terlihat banyak tumpukan kardus yang sepertinya paket di ruang dosen. Ternyata banyak juga yang bisnis online. Tadinya saya fikir dosen bakal terdisrupsi, ternyata dosen malah mendisrupsi bidang-bidang lain, tentu saja jangan ke politik seperti dosen di sebuah univ di Bandung yang jadi tersangka karena ujaran kebencian di medsos.

Natural Science vs Artificial/Design Science

Berbeda dengan jurnal yang memang sudah teratur terbitnya, seminar membutuhkan usaha ekstra terutama menyangkut deadline yang harus ditepati karena berkaitan dengan pembicara, lokasi seminar, dan hal-hal lainnya. Salah satu deadline utama adalah jadwal review yang biasanya agar lebih cepat beberapa pe-review berkumpul menyelesaikan sisa-sisa artikel yang harus direview. Masalah muncul dalam review karena seminar agak sedikit longgar dalam tema risetnya, berbeda dengan jurnal yang sudah spesifik. Postingan ini sedikit berbicara masalah perbedaan bidang ilmu yang kerap bersitegang antara satu bidang dengan bidang lainnya.

Komunitas Ilmu

Terlepas dari jenis bidang ilmu, ada komunitas ilmu yang terbentuk baik secara sengaja maupun terbentuk sendiri. Komunitas ini memiliki kode etik, konsep, dan hal-hal spesifik mengenai ilmu yang dikajinya. Komunitas ilmu lain mungkin memiliki pandangan yang berbeda, tetapi tidak bisa memaksakan suatu pandangan ke komunitas lainnya. Hanya sedikit masalah muncul karena antara satu bidang ilmu memiliki singgungan-singgungan dengan bidang lainnya. Gambar di bawah adalah kuadran ilmu yang ada saat ini. Tidak ada bidang ilmu yang 100% murni analitis, sintetis, simbolis atau real.

knowledge domain

Natural Science

Ini merupakan bidang yang sudah dikenalkan sejak kita SD dengan “metode ilmiah”-nya. Diawali dengan problem dilanjutkan dengan hipotesa yang kemudian diuji dengan eksperimen untuk menghasilkan kesimpulan yang berupa ilmu baru. Aktivitas tersebut dikenal dengan istilah riset yang kadang diartikan sebagai aktivitas dalam mengamati sebuah fenomena yang menjadi pusat perhatian. Ketika studi lanjut, pengelolaan jurnal diambil alih rekan saya yang alumni ilmu komputer IPB dan ternyata ketika saya amati format gaya selingkung (istilah karakter tulisan sebuah jurnal) mirip IPB yang natural science, misalnya ada bab tentang “material dan bahan” yang membingungkan para peneliti ilmu komputer apa yang harus diisi di bab tersebut. Jika dilihat dari kuadran di atas, bidang ini agak ke kiri ke arah analitis.

Artificial Science/Design Science

Semua orang mengenal Facebook, Twitter, dan sejenisnya untuk bidang komputer. Apakah ini termasuk ilmu? Jika dibilang natural science tentu saja bukan. Begitu pula untuk disain produk, metode produksi, dan kawan-kawan. Sebenarnya jika dirunut sama dengan natural science yang memang sudah ada di alam dan tinggal diamati untuk kebaikan manusia hasil pengamatannya, pada artificial science yang di amati tidak muncul sendiri di alam melainkan buatan manusia. Keberadaannya sama untuk kebaikan manusia, baik untuk kesehatan, keuntungan, dan lain-lain, walaupun terkadang bisa membahayakan umat manusia itu sendiri. Pada kuadran ilmu di atas letaknya sintetis dan real.

Ketika me-review terkadang dihadapkan dengan kondisi seperti itu. Ketika mendapati sebuah artikel yang membahas perancangan alat atau sebuah sistem terkadang karena tidak bisa menunjukan kebaruan/novelty akan di-reject oleh penganut natural science murni. Alkisah dalam suatu ruangan review intensif yang diistilahkan “sapu jagat” hehe, profesor dari rombongan yang direject terlihat kecewa melihat anak buahnya yang merancang alat tersebut direject dan mencari tahu siapa yang mereject dan ketika tahu namanya, dia sadar kalau dia juga banyak me-reject riset dari rombongan yg mereject tersebut karena dianggap riset sistem informasi yang berulang tanpa ada temuan baru. Ya begitulah, riset satu komunitas ilmu jika direview oleh komunitas ilmu lainnya pasti ada konflik yang berakhir saling me-reject. Ada karakter khas dari design science misalnya tidak adanya hipotesa di awal. Hipotesa sendiri terjawab sepanjang perjalanan tahapan perancangan dan tidak dimunculkan secara eksplisit. Novelty pun akan diketahui oleh reviewer yang banyak mereview artikel perancangan/disain tanpa si penulis menyodorkan bukti ke-novelty-annya. Untuk jurnal tidak ada masalah karena yang mereview adalah komunitasnya, berbeda dengan seminar yang kadang “gado-gado” bidang ilmunya. Beberapa jurnal internasional bereputasi, misalnya “mechatronics” reviewer harus disodorkan video alat tersebut ketika beroperasi, tidak hanya dengan tulisan saja, atau harus mengirim data beserta alat pengujinya. Begitulah dunia riset. Silahkan baca link ini untuk Design Science bidang sistem informasi.