Heboh Linearitas Dosen

Berawal dari informasi di grup WA tentang berita di situs berita nasional, munculah pro dan kontra kemudahan pemerintah dalam linearitas dosen. Di berita tersebut prinsip linearitas yang dulu inline pendidikan S1, S2, dan S3-nya, sekarang dosen linear jika S3, riset dan homebase/mengajarnya inline. Postingan yang lalu sebenarnya sudah membahas masalah tersebut, tetapi saat ini heboh lagi, jadi ada baiknya diulas lagi.

Sulitnya Kuliah S3

Sedikit berbeda dengan S2 yang rata-rata baik dalam prosentase kelulusannya, banyak yang tidak bisa menyelesaikan S3, dan kalaupun bisa lulus, menderita dahulu, lama lulus dan kesulitan-kesulitan lainnya seperti keuangan, keluarga, dan lain-lain. Tidak jarang yang meninggal karena sakit ketika studi lanjut.

Beberapa rekan karena sulitnya mencari S3 sesuai bidangnya mengambil bidang lain yang lebih mudah. Namun ternyata banyak masalah yang terjadi. Ketika akreditasi, bahkan S3 salah satu rekan tidak diakui karena harusnya informatika/ilmu komputer tetapi mengambil teknologi pertanian. Salah satu dosen saya ketika ambil pascasarjana dulu, curhat ketika melamar ke kampus lain yang lebih menjanjikan ternyata S3-nya (yang menjadi persyaratan) tidak diterima krena bukan informatika/ilmu komputer melainkan teknologi pendidikan. Ternyata keilmuwan melekat dengan gelar terakhir.

Linearitas S3 – Riset – Mengajar

Memang dosen berbeda dengan peneliti karena dua tri darma lainnya yaitu pengajaran dan pengabdian kepada masyarakat. Jadi jika antara riset dengan mengajarnya tidak linear maka dianggap dosen tersebut melanggar linearitas. Lantas bagaimana jika risetnya menggunakan gelar pascasarjananya (S2)? Bisa juga kan?

Sebelumnya ada baiknya merujuk ke peraturan LIPI tentang peneliti yang terdiri dari (lihat di sini):

  • Peneliti Pertama
  • Peneliti Muda
  • Peneliti Madya
  • Peneliti Utama

Di sana disebutkan S1 pun boleh meneliti. Namun informasi dari rekan saya di Litbang Pertanian, jika peneliti bukan Doktor maka wajib memiliki mentor. Mentor di sini adalah doktor yang fungsinya mirip pembimbing tesis/disertasi. Kecuali di daerah-daerah terpencil, biasanya di wilayah timur Indonesia, boleh tanpa mentor jika terkendala lokasi dengan mentornya.

Pada pasal 31 ayat (1) Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan pengajar S2 dan s3 diwajibkan bergelar doktor/profesor. Jika alasan utamanya adalah fokus s2 dan s3 adalah penelitian, maka jika bukan doktor maka ketika meneliti, perlu memiliki mentor. Bahkan saat ini, doktor pun ketika meneliti jarang sendirian. Tim peneliti terdiri dari beberapa orang dengan tugas-tugas spesifik (survey, olah data, penulisan, dan lain-laian), namun biasanya ada satu orang doktor/profesor di dalamnya. Jadi jika doktor yang bukan bidang risetnya (yg inline dengan S2) tentu saja dari sisi prinsip setara S2 walau bergelar doktor. Kembali ke tri darma, patokannya adalah selain penelitian, pada sisi pengajaran juga mengikuti aturan yang ada.

Respon LLDIKTI (Kopertis)

Kembali ke masalah berita di WA, kopertis mengharapkan untuk mencermati lebih dalam info-infor yang beredar di dunia maya. Tujuan aturan baru linearitas sebenarnya untuk mengakomodasi perkembangan IPTEK saat ini yang multidisiplin, bukan bermaksud memberi kemudahan. Berikut petikannya:

perlu saya sampaikan bahwa……..rekan rekan di PTS trtama tenaga pendidik harus baca scra lengkap dan jangan judulnya saja.

apabila dibca dgn seksama pa menteri bicara “akan segera” dgn pertimbangan yg berkaitan dgn IPTEK.

sbtlnya linearitas sdh dijelaskan sejak oktober 2014 sesuai surat edaran no. 887/mi/2014 dan pedoman operasional kenaikan pangkat/jabatan akademik dosen DIKTI 2014 yg sd dgn saat ini blm ada edaran or peraturan penggantinya….

dan yg disebut linearitas adalah kesesuaian bidang ilmu antara pendidikan terakhir dgn mata kuliah yg diampu, publikasi yg dihasilkan dan homebase/program studi tmpt dosen mengajar…..

linearitas yg ideal itu mmng s1 s2 s3 matkul, homebase dan publikasi aaaaaaa semua. maka dr itu sjk 2014 diberikan keringanan bahwa cukup sesuai dgn pendidikan terakhirnya saja..

S1 A S2 B S3 C….MK C PUBLIKASI C HB C bisa jadi guru besar ? bisa …..

Contoh lain : S1 A S2 B S3 A MATKUL A. HB A. PUBLIKASI A. bisa jadi GB ? bisa

S1 A S2 B S3 B. bisa? bisa…..

dan apabila linearitas dihapus kita profesional mau di bidang ilmu apa. tak terbayang kalau sy A B C tp ngajar di B. publikasi di A HB di C.

buat apa kita cape” kuliah S2 or S3 tp ngajar masih di S1…..

oleh krn itu kalau tenaga pendidik sudah tidak inline scra background pendidikannya kita arahkan dr awal atau arahkan lagi agar S1 s.d. S3 nya dan pelaksanaan tridharmanya inline…..

krn pasti akan terkendala dalam pengembagan karir tendik terhadap usulan JAD, Sertifikasi maupun Studi Lanjut..

kalau tidak inline apa lagi resikonya? ke akreditasi prodi dan institusi dmana satu prodi 6 dosen trsbt harus inline pendidikannya dengan homebasenya….

skrang mah kita berfikir positif saja dgn informasi tersebut dan dijadikan motivasi kita agar lebih baik menjadi tenaga pendidik dan tentunya profesional di bidang ilmunya…..janga meminta yg lebih ringan kalau kita mampu melaksanakannya

tanya ke diri sendiri saya PROFESIONAL mau di bid. apa…..????

hatur nuhun

Dunia Terus Berubah

Tidak ada yang tidak berubah, termasuk peraturan pemerintah. Tetapi biasanya peraturan mengikuti tuntutan jaman. Ketika kuliah dulu, saya melihat banyak profesor yang hanya bergelar S1, alias Prof. Ir. Bagaimana dengan aturan ke depan apakah bisa atau tambah rumit? Di era disrupsi dan revolusi industri dan pendidikan 4.0 sepertinya akan terjadi gejolak yang unik. Oiya, sekedar saran, sebelum memilih jurusan S3, ada baiknya konsultasi dulu agar tidak salah jurusan, sayang kan, soalnya S3 cukup menguras tenaga dan waktu .. “four years” atau malah bisa “for years..s..s..s..”

Bersama pembimbing dan rekan-rekan wisuda doktoral

Iklan

Latihan Mengetik Cepat Online

Salah satu faktor penting dalam penyelesaian proyek baik menulis, riset, hingga pembuatan program aplikasi adalah mengetik cepat. Dengan mengetik cepat maka proses pengerjaan dapat terselesaikan jauh di bawah waktu deadline.

Program Untuk Latihan

Dulu ada program untuk melatih mengetik namanya Typing Master. Namun saat ini lebih baik menggunakan yang berbasis web karena dapat terhubung dengan pengetik-pengetik lainnya dari seluruh dunia. Beberap pengguna menyarankan menggunakan 10fastfinger yang juga disertai game yang menarik karena berkompetisi dengan negara-negara lain.

Lumayan masuk 10 besar ketika uji coba langsung dengan kecepatan 89 wpm (kata/menit). Untuk kecepatan di atas 100 wpm berarti mengetiknya seperti berbicara mengalirnya kata. Sepertinya harus latihan lagi.

Mengetik 10 jari dan Buta

Dua teknik tersebut wajib dikuasai oleh rekan-rekan yang ingin mengetik cepat. Biasanya jika sudah 10 jari secara otomatis akan mengetik buta. Buta di sini artinya tidak melihat tuts keyboard yang ditekan. Teknik yang digunakan adalah:

  • Letakan jari pada rumahnya (asdf – jkl;) khusus untuk qwerty
  • Tekan huruf sesuai dengan wilayah jari (kelingking, manis, tengah, telunjuk dan jempol).

Namun ternyata ketika melihat juara satu-nya 141 wpm, keyboard yang digunakan adalah jenis maltron. Hmm .. bagaimana lagi, sudah terlanjur qwerty jika dipindah akan belajar dari nol lagi.

Jenis-Jenis Format Keyboard

Ternyata jenis-jenis keyboard beragam. Memang saya merasa qwerty sangat tidak reliable karena kebanyakan huruf yang diketik, misalnya a malah berada di jari yang terlemah yaitu kelingking kiri. Jenis-jenis keyboard yang tersedia antara lain (sumber: indoworx.com/jenis-jenis-keyboard/):

1. QWERTY

Ini adalah formasi keyboard pertama di dunia. Kelemahannya adalah beban tangan kiri lebih besar dari tangan kanan. Sangat tidak cocok dengan tangan Indoneisa yang lebih kuat di kanan (bukan kidal). Namun apa boleh buat, karena sudah terlanjur banyak yang makai terpaksa tetap dipertahankan, karena jika format baru akan belajar lagi.

2. DVORAK

Dibentuk pada tahun 1932. Kabarnya DVORAK lebih evisien 10 – 15% dibanding qwerty.

3. KLOCKENBERG

Merupakan kombinasi qwerty dengan dvorak. Bentuknya terpisah antara kiri dan kanan. Fungsinya untuk mengurangi beban pada otot tangan dan bahu. Namun memiliki masalah dalam hal tata ruang dan sangat tidak mobile.

3. MALTRON

Keyboard ini mengatasi masalah jari yang harus menyesuaikan dengan keyboard pada qwerty. Dengan bentuk ini, jari tidak terlalu menyesuaikan dengan keyboard. Repititive injury yang kerap dialami orang yang banyak mengetik dapat dihindari. Lihat gambar di bawah (sumber: assistiveit.co.uk)

 

4. PALANTYPE

Keyboard ini membagi konsonan dengan huruf hidup (bagian tengah). Konsonan di kiri dan kanan yang posisinya mirip awal dan akhir kata. Sayangnya hanya mensuport bahasa Inggris.

5. STENOTYPE

Cocok untuk wartawan dalam merekam/mencatat wawancara. Hasilnya masih berupa singkatan-singkatan sehingga harus diedit lagi jika ingin dipublish. Tapi dengan singkatan saja, si wartawan masih bisa membaca apa yang diketik ketika wawancara. Hmm .. di jaman yang sudah mudah merekam sepertinya tidak diperlukan.

6. ALPHABETIC    

Keyboard ini sederhana karena memformat keyboard secara alfabet. Mudah dalam memasang karena urutannya alfabet .. he he. Biasanya hanya untuk mainan anak-anak.

7. ALPHANUMERIC

Biasa digunakan oleh para kasir / teller bank. Sangat cocok untuk mengetik angka. Keyboard qwerty biasanya menyertakan keyboard alphanumeric yang terpisah di bagian kanan. Tapi untuk laptop sepertinya sudah tidak ada untuk menghemat space.

Demikian tulisan ringan mengenai seluk beluk mengetik. Selamat mengetik.

Yuk .. Jadi Asesor BKD dan LKD

Beban Kerja Dosen dan Laporan Kinerja Dosen merupakan berkas wajib seorang dosen profesional. Jika BKD dan LKD sudah dibuat, maka dosen tersertifikasi berhak menerima tunjangan sertifikasi dosen (Serdos) sesuai dengan golongannya.

Persetujuan Asesor

BKD dan LKD yang dibuat harus mendapat persetujuan dari dua orang asesor. Untuk kopertis 4 (sekarang namanya LLDIKTI wilayah 4) sudah online. Di sini asesor 1 dan 2 memberikan persetujuan lewat aplikasi web BKD. Untuk LLDIKTI wilayah lainnya masih berupa berkas untuk ditanda tangani.

Penentuan Asesor

Asesor di awal serdos muncul dipilih di tiap kampus, agar merata. Tidak semua dosen dijadikan asesor BKD dan LKD oleh Dikti. Saat ini syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh calon asesor adalah:

  • Doktor dengan minimum pangkat Lektor
  • Magister dengan pangkat minimal Lektor Kepala
  • Ijin rektor/pimpinan tempat calon berada
  • Mengikuti Penyamaan Persepsi

Penyamaan Persepsi

Ketika lulus S3 secara kebetulan diadakan penyamaan persepsi calon asesor di LLDIKTI 4. Cukup banyak yang hadir dan membludak. Saya sendiri duduk di belakang, maklum jarak Bekasi – Bandung lumayan jauh dan lama karena macet di daerah Cikarang.

Pemberian Nomor Induk Registrasi Asesor (NIRA)

Lumayan lama sejak penyamaan persepsi yang dilaksanakan di akhir januari, selanjutnya LLDIKTI mengumumkan calor asesor yang siap diberi NIRA dengan terlebih dahulu rektor tempat calon asesor berada memberikan persetujuan. Lihat format pernyataannya. Rencananya calon asesor ini sudah dapat bekerja semester depan jika sudah memiliki NIRA.

Untuk yang tidak mengikuti penyamaan persepsi di wilayah LLDIKTI masing-masing, sepertinya tidak diperbolehkan menjadi asesor walaupun memenuhi syarat pangkat dan gelar. Saat ini memang kebutuhan asesor baru sangat tinggi mengingat banyak dosen-dosen penerima serdos yang baru lulus. Kelayakan Asesor adalah mengasesori 10 dosen, dan kabarnya saat ini tiap asesor sudah berlebih. Repotnya belum tentu tiap tahun dibuka pengajuan asesor baru. Yuk, jadi asesor BKD dan LKD walaupun imbalannya pahala saja. Hitung-hitung membantu sesama rekan-rekan senasib (dosen).

Akhirnya Cetakan Kedua Terbit …

Ternyata untuk mencetak lagi, penerbit tidak asal mencetak. Biasanya dilakukan jika buku yang beredar memang benar-benar habis dan jika dicetak lagi diprediksi akan laris seperti sebelumnya. Biasanya penerbit jujur dalam masalah royalti (kecuali dibeli putus). Pihak penerbit yang datang dan presentasi di kampus sangat konsen masalah tersebut. Bahkan jika diam-diam penerbit mencetak tanpa melaporkan royalti ke penerbit, diistilahkan oleh mereka “membajak diri sendiri”. Mungkin postingan ini bisa menginspirasi pembaca untuk membuat buku juga, khususnya membuat cetakan kedua buku yang pernah publish.

Proses Penerbitan Edisi Kedua

Tadinya saya menginginkan istilah “edisi kedua” dalam buku yang dicetak ulang. Tapi penerbit lebih sreg dengan edisi revisi, mungkin itu sinyal tidak ada edisi ketiga dan seterusnya. Tidak apa, toh lebih baik buat buku baru lagi dari pada sekedar revisi.

Namanya revisi ternyata tidak cepat, mirip proses pembuatan baru lamanya. Beberapa bagian ada penambahan dan beberapa bagian diperbaiki jika ada kekeliruan. Setelah proses layout dilanjutkan dengan proses lain yang saya sendiri tidak tahu, lumayan lama juga. Mungkin ada cek-cek lain seperti plagiasi, komunikasi ke penerbit lain (menghindari diterbitkan oleh beberapa penerbit), dan lain-lain.

Royalti atau Beli Putus

Biasanya penerbit menggunakan prinsip royalti, yaitu dari satu buku yang dijual penerbit mendapatkan prosentase (rata-rata di Indonesia sebesar 10% dari harga eceran). Royalti mengedepankan prinsip laris untung sama-sama, rugi pun penulis bisa ga dapet apa-apa. Berbeda dengan penerbit yang membeli putus naskah tersebut. Resikonya pun ada, jika tidak laku penerbit rugi tetapi jika laku keras, penulis yang gigit jari. Biasanya royalti mencantumkan hak cipta pada penulis, sementara pembelian lepas hak cipta pada penerbit. Tapi toh untuk akreditasi suatu kampus dapat diakali dengan cara mendaftarkan ciptaan ke dirjen HKI (lihat post untuk daftar HKI). Toh di jaman pembajakan yang marak saat ini, berimbas ke nasib buku-buku laris, pada akhirnya penerbit memiliki kemampuan memprediksi harga suatu buku dan pembelian putus pun sudah biasa.

Tetap Berkarya

Sebenarnya penerbit butuh penulis, tetapi sangat jarang kita menulis, terutama dosen-dosen di tanah air yang super sibuk, baik urusan kampus, kejar setoran ngajar dan lain-lain. Sementara buku perlu kesabaran baik dari sisi produk maupun prosesnya. Selamat menulis. Oiya, numpang promosi ya …

Ikut Tes Kepribadian STIFIn

Ngomong-ngomong masalah psikologi, jujur saja saya tertarik. Bahkan ketika Ujian Masuk Perguruan Tinggi negeri di tahun 1995 dulu, saya memilih pilihan ketiga psikologi setelah teknik mesin dan teknologi hasil ternak, yang tentu saja membuat orang-orang psikologi geram karena diletakan di bawah peternakan, he he. Padahal psikologi merupakan sepuluh besar jurusan tersulit untuk dimasuki, khususnya bidang IPS. Untungnya saya diterima di mesin.

Tes STIFIn (singkatan dari sensing, thinking, intuiting, dan insting) bermaksud mengetahui otak dominan yang digunakan oleh manusia (kiri, kanan, tengah). Ketika sore-sore istri mengajak ikut tes STIFIN, saya sih setuju saja, toh tidak diambil darahnya, hanya sidik jari seluruh tangan dan informasi golongan darah saja. Hasilnya ternyata saya bertipe otak tengah, yaitu insting, disingkat In.

 

Otak tengah merupakan otak yang cepat dalam merespon, adaptif, dan menyukai kedamaian. Sedapat mungkin menghindari konflik. Sedikit banyak sepertinya ada benarnya, walaupun STIFIN hanya menebak 20% yang ada dalam diri kita dan sisanya 80% adalah lingkungan. Kemampuan adaptif insting karena mampu berperan sebagai tipe-tipe lainnya (sensing, thinking, intuiting, dan feeling) walaupun tidak bisa lama-lama dan hanya 50% katanya. Silahkan baca untuk tipe-tipe lainnya.

Katanya sih hubungan antar tipe “mesin kecerdasan” adalah tampak seperti gambar di atas. Ada yang mendukung, ada yang menaklukan. Bagi orang insting sepertinya tidak masalah karena toh ketika akan ditaklukan sensing, dia bisa berubah jadi intuiting karena sifatnya yang adaptif, ha ha. Bisa aja orang-orang psikologi ya.

Tetap Menulis

Saat ini jaman sudah berubah, semua serba online. Tidak terkecuali buku yang saat ini sudah nyaris tergantikan dengan alat-alat digital berupa ebook. Sudah jarang mahasiswa yang membawa buku-buku tebal dan berat seperti jaman saya kuliah dulu. Tinggal membuka tablet, bacaan apapun tersedia. Kapasitasnya pun bisa menyamai jumlah tulisan di perpustakaan konvensional seperti di tempat saya bekerja. Apakah peran buku sudah terdisrupsi oleh media-media lain yang lebih canggih?

Orang-orang Besar Tetap Membaca Buku

Tidak hanya Bill Gates yang selalu melahap buku teks (bukan online) dalam setahun, mantan presiden Amerika Serikat, Obama, pun tetap membaca buku teks. Alasannya sederhana, ketika sumber informasi datang seperti tsunami, membaca buku dapat berfungsi sebagai “benteng” untuk berhenti sejenak menerima gempuran informasi dari luar (yang kebanyakan hoax atau cenderung menggugah emosi). Obama sendiri mengatakan membaca berfungsi melihat sudut pandang orang (si penulis) dalam melihat dunia, ibarat “mencoba memakai sepatu orang lain”.

Saat ini Buku Yang Mencari Orang

Dahulu mungkin buku dianggap sebagai masterpiece, seperti lukisan yang dicari-cari oleh para kolektor. Namun saat ini keberadaannya berbeda, buku harus berevolusi seperti sarana-sarana lainnya yang mau tidak mau mensuplai dan menservis kebutuhan konsumen. Ketika tadi malam saya bersama anak ke toko buku ternama, yang dia tuju adalah novel-novel yang saat ini laris di kalangan remaja. Saya sendiri tidak mengenalnya. Tapi entah bagaimana si penulis mengapa bisa memahami keinginan dan apa yang diminati oleh generasi remaja saat ini. Di situlah saya baru sadar, peran buku saat ini agak mirip dengan obat, yakni menyesuaikan dengan orang yang memerlukannya.

Tentu saja penulis-penulis ternama banyak yang menantikan karya-karyanya. Tapi itu untuk topik-topik populer, sementara jarang saya melihat buku-buku ilmiah yang digandrungi banyak orang seperti buku Harry potter. Malah kebanyakan para mahasiswa “memfoto kopi” buku untuk keperluan kuliah, sebaliknya membeli buku asli untuk novel atau bacaan non-pendidikan. Tidak ada cara lain bagi penulis buku-buku ilmiah untuk menerapkan teknik buku-buku non-ilmiah, yaitu meneliti keinginan para penggunanya/konsumen.

Penerbit Tetap Eksis

Satu hal yang membuat saya bingung adalah ternyata penerbit masih tetap eksis. Buku-buku tetap terbit dan perusahaannya masih meneguk keuntungan. Padahal saat ini pembajakan sudah biasa dan minat pembaca buku, khususnya buku ilmiah sepertinya rendah di Indonesia. Namun perlu diingat seberapa kecil pun prosentasi pembaca di tanah air, tetap saja jauh lebih besar dibanding negara-negara tetangga, karena memang jumlah penduduk Indonesia yang dua ratusan juta jiwa.

Pernah saya membantu menulis buku yang di awal judulnya “Analisa dan Disain Sistem Berorientasi Objek dengan UML”. Setelah sampai di tangan penerbit, mereka menyarankan mengganti judulnya menjadi “menggunakan uml”. Unik juga, penerbit ternyata memiliki naluri dan insting tentang apapun yang membuat buku “eye catching“. Jika saya perhatikan ternyata judul saran penerbit sangat disukai pasar dan “to the point“, tidak terasa berat dan bikin jidat berkenyit karena pusing dan bikin muntah, hehe.

Sesama Penulis Saling Menghargai

Satu hal yang sangat mendukung dunia per-bukuan adalah saling mendukung sesame penulis. Cara gampangnya adalah bedakan antara media sosial dengan penulisan. Jika di media sosial memerlukan “pertengkaran” untuk bisa eksis (walaupun efek sialnya bisa masuk penjara), dalam perbukuan hampir tidak dijumpai hal itu. Jika ada yang menghina, sudah dipastikan dia belum pernah membuat buku. Bahkan ada pakar IT yang menghina tulisan-tulisan buku dari bangsanya sendiri yang mengatakan “buku instan”, “tidak berguna”, dan membandingkan buku-buku fenomenal karya bangsa lain. Mungkin pendapatnya benar, tetapi toh tak ada gunanya jika dia sendiri tidak menciptakan karya fenomenal seperti karya bangsa lain. Kita sadar minat baca bangsa kita tidak sehebat bangsa lain (semoga sekarang tidak), para penulis telah bersusah payah bagaimana menyetarakan tingkat daya tangkap pelajar-pelajar kita dengan sulitnya materi, dan ketika sudah cocok, masih dikritik pedas pula. Tapi prinsip saat ini sangat berbeda dengan jaman dulu, siapa yang bisa memberikan layanan yang lebih baik akan dipakai dan secanggih apapun jika tidak ada yang menggunakan, pasti akan bangkrut dan hancur, seperti Blackberry, Nokia, dkk. Buktinya sudah banyak, semoga Anda sendiri tidak berminat menjadi bukti baru.

Wah .. BKD Online di Kopertis 4

LLDIKTI wilayah 4, sebelumnya bernama Kopertis 4, merupakan satu-satunya LLDIKTI yang menjalankan pelaporan Beban Kerja Dosen (BKD) secara online. Sebelumnya BKD dilakukan secara offline lewat program singkat via Microsoft Access. Postingan ini sedikit menginfo-kan kepada rekan-rekan dari LLDIKTI wilayah lainnya mengenai apa itu BKD Online.

Situs Resmi

Situs resmi BKD online dengan mudah diakses di link berikut ini. Tampilannya sangat sederhana, mirip mbah Google yang tanpa embel-embel iklan, pengumuman-pengumuman, dan sejenisnya. Setelah Login dengan menggunakan ID NIDN dosen, maka laporan BKD maupun Kontrak BKD siap dijalankan.

Kira-kira tampilannya seperti itu. Bagian kanan sebelumnya tidak ada. Supaya ada tinggal mengklik tombo Tambah dilanjutkan dengan mengisi informasi dari semester dan tahun akademik hingga asesor 1 dan asesor 2.

Approve Oleh Asesor dan Pimpinan

Mirip dengan BKD yang lalu, laporan harus disetujui oleh dua orang asesor dan kontrak ditandatangani oleh ketua program studi atau dekan. Bedanya di sini asesor tidak perlu menandatangani melainkan hanya mengklik persetujuannya, begitu juga dengan persetujuan oleh pimpinan. Di situlah letak perbedaannya. Jika dulu kita harus mencari asesor dan minta tanda tangan, sekarang hanya meminta persetujuan lewat aplikasi. Jika asesor ada di tempat lain, asalkan ada internet, bisa menyetujuinya.

Perhatikan, jika sudah disetujui maka tulisan Approved muncul di login asesor, sementara yang belum masih berwarna merah. Nah, di sinilah masalah muncul, karena jumlah dosen yang diasesori terlihat dengan gamblang, sepuluh, duapuluh, dan sebagainya. Rencananya nanti akan dibatasi hingga 10 saja. Repot juga jika yang “tidak kebagian gerbong”. Waktu jaman offline, walau bisa diketahui jumlah yang diasesori tetapi akan ribet dan repot menghitungnya.

Pemberkasan

Salah satu kelebihan dari online adalah berkas dengan mudah dibaca oleh asesor karena dalam bentuk file scan. Dengan menekan tombol Download Bukti Dokumen maka asesor langsung bisa melihat keabsahan kinerja dosen yang diasesori. Selain itu, jika dicetak pun, hasilnya mirip dengan format yang dicetak lewat aplikasi MS Access sebelumnya.

Integrasi dengan SISTER

Sister (Sumber Informas Sumber Daya Terintegrasi) merupakan sistem terintegrasi informasi seorang dosen (tridarma, kinerja, kepangkatan, biodata, dll). Aplikasi ini sebentar lagi akan diterapkan yang dampaknya sangat luar biasa. Tidak ada lagi dosen-dosenan karena akan ketahuan jika suatu universitas memiliki dosen yang hanya nama saja. Yah, tapi namanya manusia kan kalau kepepet muncul kreativitasnya untuk mengakali. Tetapi Ristekdikti sepertinya terus berusaha memaksa kampus mengikuti “jalan lurus” institusi pendidikan. Sayangnya, aplikasi buatan LLDIKTI wilayah 4 ini akan segera digantikan oleh SISTER kabarnya, tapi tidak apa, toh para dosen di wilayahnya sudah terlatih dengan BKD online. Sekian, semoga nasib dosen yang serius melaksanakan tri-darma lebih dihargai lagi, dan selamat ber-serdos ria.