Skill dasar yg kadang terlewati

Kita mengenal istilah hard skill dan soft skill yang artinya kemampuan teknis/kompetensi/skill dan kemampuan pendukung/komunikasi/sosialisasi/attitude. Terkadang kita melupakan soft skill dan menyerahkan pembelajaran ke orang yang bersangkutan. Nah, saat ini kemampuan tersebut mulai diperhatikan akibat dari banyaknya lulusan yang tidak siap kerja dan juga keluahan dari perusahaan-perusahaan terhadap karakter lulusan-lulusan yang baru bekerja tersebut. Postingan singkat ini sekedar menceritakan yang pernah saya alami.

A. Kemampuan Bertanya

Dari sekolah dasar hingga bangku kuliah kita selalu diajarkan menjawab pertanyaan. Ternyata membuat pertanyaan membutuhkan keahlian khusus. Satu atau dua minggu ketika baru tiba di negara lain dalam rangka studi lanjut, kebanyakan berisi pertanyaan-pertanyaan yang harus saya berikan ke orang lain, dari menanyakan tempat/lokasi, prosedur, dan lain-lain.

Konon, A. Einstein ketika pulang dari sekolah orang tuanya selalu bertanya apa saja yang telah ditanyakan anaknya ke sang guru ketika belajar. Ternyata dari taksonomi bloom (remember, understand, apply, analyse, evaluate dan create) ketika kita bertanya level pembelajaran di atas level understand/memahami. Jadi kalau kita punya anak, berbahagialah jika dia selalu bertanya, walau kadang pertanyaannya membingungkan.

B. Berani Berinteraksi dengan Top Management

Ini mungkin sedikit aneh, tapi informasi ini banyak diinformasikan oleh pakar-pakar motivasi di Youtube, misalnya Renald Kasali. Hal-hal seperti ini terkadang memperlancar pekerjaan. Ini bukan berarti kita belajar kolusi, tetapi memang kondisi dunia saat ini yang memerlukan akses langsung top manajemen ke low level management. Gojek/Grab misalnya, pimpinan mereka harus segera mengetahui segala hal dari segala lini baik mitra yakni supir gojek/grab maupun konsumen. Jadi, saat ini top management wajib berinteraksi, tidak hanya melalui kertas laporan.

Ketika ijin belajar saya terhalang, saya langsung menghampiri rektor karena saya lihat di rencana strategis kampus salah satunya 9 doktor lulus per tahun, jadi tidak ada alasan pimpinan di bawahnya menghalangi. Begitu juga ketika ada masalah dengan jurusan waktu studi lanjut, saya langsung menghadapi vice president bidang akademik untuk mendiskusikan masalah. Sulit memang, tapi di sinilah seni dan kreativitas kita diuji.

Sehari yang lalu, seorang siswa saya lupa isi KRS dan saat ini sudah tutup. Selesai dia mengabari saya langsung kontak ke direktur layanan akademik, dan dia meminta si mahasiswa menghadap. Saya langsu kabari ke siswa tersebut bahwa maksimal hari ini menghubungi yang bersangkutan. Tapi di sore hari dia mengabarkan kalau KRS sudah tutup dan harus cuti. Ketika saya tanya apakah dia sudah menemui direktur layanan akademik yang sudah menunggu hari ini, dia menjawab tidak, dan hanya bertanya ke staf di loket, yang tentu saja jawabannya mengikuti prosedur (SOP).

Ini juga bisa jadi bahan masukan ke senat mahasiswa yang lebih suka mendidik adik-adiknya dengan karakter bergerombol yang padahal perlu skill individu agar berani single fighter dengan tetap menjaga sopan-santun, aturan, dan hal-hal lain ketika berhadapan dengan orang lain apalagi top management. Silahkan pembaca menambahkan hal-hal lainnya, semoga bermanfaat.

Dokumentasi dengan MkDocs

Dalam mata kuliah Interaksi Manusia dan Komputer (Human Computer Interraction) ada satu bab tentang dokumentasi help. Salah satu dokumentasi penting adalah dokumentasi online yang menjelaskan suatu aplikasi yang dibuat. Kalau jaman dulu mungkin berupa berkas readme atau file pdf tata cara penggunaan. Namun saat dunia online seperti saat ini, mau tidak mau kemampuan mendokumentasi online mutlak diperlukan. Sayang kan kalau harus bayar ke orang untuk publish onlinenya. Server online pun banyak yang gratis kalo hanya untuk dokumen, misalnya yang terkenal Github.io (lihat post yg lalu).

Banyak aplikasi untuk membuat dokumentasi online misalnya document360, nuclino, Github, MarkdownPad, ProProfs, Read the Docs, Doxygen, dan lain-lain. Nah, postingan ini akan membahas MkDocs, sebuah alat membuat dokumentasi online berbasis Python.

MkDocs memiliki keunggulan, yakni cepat dan gratis. Salah satu problem utama adalah untuk yang belum pernah menggunakan Python, karena harus belajar sedikit. Kalau sudah pernah dengan mudah dapat menjalankannya. Alur untuk pembuatan dokumentasi online dengan MkDocs adalah:

  • Instal MkDocs
  • Mengunduh Template
  • Mengedit mkdocs.yml dengan editor
  • Mengedit index.md dengan editor
  • Menjalankan server lokal MkDocs
  • Mendeploy hasil edit
  • Mempublish online

Lumayan panjang, tapi tidak membutuhkan sumber daya yang besar. Semua dapat dibuka dengan cepat. Sedikit butuh kreativitas ketika mengedit mkdocs.yml dan index.md. Karena ketika kita menjalankan server MkDocs kita langsung melihat perubahannya, jadi mirip mengkustomasi wordpress misalnya.

Ada sedikit rancu bagi pengguna awal, di sini mkdocs server (dengan mengetik mkdocs serve) hanya berfungsi melihat hasil editan saja, kalau ingin publish misal di XAMPP perlu mendeploy lewat fungsi mkdocs gh-deploy yang akan menghasilkan folder yang siap diupload di folder docs.

Untuk jelasnya lihat video berikut ini. Sekian, semoga bermanfaat.

Memilih Ekosistem yang Baik

Mungkin Anda pernah mendengar istilah ekosistem dalam biologi. Ternyata dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal juga ekosistem dalam arti lingkungan tertentu di sekitar kita. Ketika belajar di kampus kita memiliki ekosistem perkuliahan yang terdiri dari teman, dosen, tata usaha dan lain-lain. Namun jika dilihat walaupun kuliah di kampus yang sama, dua orang mahasiswa akan memiliki ekosistem yang berbeda. Ada yang suka belajar kelompok, ada yang suka demo, pacaran, luntang-lantung dan segala ekosistem yang dipilih oleh seorang mahasiswa.

Ada pepatah, jika Anda berteman dengan pedagang parfum, Anda akan terimbas wanginya. Silahkan pilih, dan saat ini tidak ada paksaan untuk masuk ke ekosistem tertentu. Tentu saja di awal, terkadang ketika sudah masuk, sulit untuk keluar. Nah, untuk para calon mahasiswa ada baiknya berhati-hati memilih ekosistem di kampus. Sesuaikan dengan minat dan niat yang baik karena terkadang ekosistem yang baik pun di dalamnya ada oknum-oknum yang menyesatkan.

Dalam dunia kerja ekosistem agak sedikit berbeda dengan ketika kuliah, karena persaingan sangat ketat. Memilih teman yang salah bisa berakibat fatal. Oleh karena itu kemampuan memilih rekan yang baik sangat penting. Beberapa pakar menyarankan menghindari ‘eneg’ alias energi negatif yaitu seseorang yang dapat melemahkan kinerja tim nya di suatu organisasi, misalnya selalu mengeluh, tidak puas, banyak tuntutan, memaksakan kehendak dan hal-hal lain yang seharusnya bisa Anda rasakan.

Bagaimana jika salah masuk? Di sini keberanian untuk hijrah sangat diperlukan. Menolak terkadang pekerjaan yang sulit tapi bisa jadi penyelamat Anda. Ekstrimnya, Anda harus berani keluar dari pekerjaan yang tidak cocok. Pernah beberapa tahun bekerja di bank, berangkat pagi pulang sore, menyelesaikan problem yang tidak ada habisnya. Mungkin cocok di awal, tetapi lama-kelamaan ketika tidak ada yang dilakukan lagi, mau tidak mau banting stir ke karir sebelumnya sebagai pengajar, walaupun tipe introvert seperti saya tidak cocok. Toh, keinginan untuk berbagi pengalaman dapat memperlancar proses transfer iptek dan pengalaman.

Bidang-bidang lain pun tidak jauh berbeda. Slash, gitaris Gun and Roses pun di akhir grup sebelum bubar merasakan kehampaan karena merasi ‘nothing I can do’. Atau gitaris deep purple yang bosan memainkan lagu jadul yang itu-itu saja. Puncaknya meninggalkan grupnya bahkan ketika sedang manggung.

Di era online saat ini, mencari ekosistem berupa komunitas mudah sekali dengan bantuan media sosial. Tetapi manusia ternyata memerlukan sumber inspirasi. Terkadang tuntutan kapitalis memaksa pendidikan menyediakan manusia instan yang hanya diajari satu aspek pekerjaan tertentu. Bahkan saat ini Google bisa melatih seseorang beberapa bulan setara dengan sarjana yang empat tahun. Mungkin saja, tetapi banyak hal-hal tertentu yang ‘dipotong’. Bisa jadi yang dipotong tersebut sangat dibutuhkan oleh peserta didik secara tidak langsung.

Ada satu cerita di amerika, seseorang wanita berkirim surat ke seorang aktor film star trek terkenal, James Doohan. Dia mengatakan berniat untuk bunuh diri. Si aktor memintanya ke tempat tertentu karena diundang di situ. Setelah pertemuan itu, si wanita tidak lagi berkomunikasi. Delapan tahun kemudian di luar dugaan si wanita itu berkirim kabar. Dia mengucapkan terima kasih karena telah menyelamatkan hidupnya lewat pertemuan dulu, sekaligus mengabarkan kalau dia baru saja memperoleh master di bidang elektronika. Oiya, james doohan di star trek berperan sebagai ‘scooty’ sang kepala insinyur yang mungkin diidolakan oleh si wanita yang mau bunuh diri itu, yang ternyata mahasiswa elektro. Nah, ternyata selain belajar bidang tertentu, mahasiswa terkadang memerlukan sesosok figur yang bisa secara langsung berkomunikasi, bekerja sama, dan melihat langsung sepak terjang orang yang diidolakan, yang tidak dapat diperoleh lewat online atau program instan lainnya. Sekian, untuk para mahasiswa baru, selamat berjumpa dengan ekosistem yang baru.

The Simple Feynman

Seperti anak-anak yang lain, saya sempat khawatir dengan ujian akhir SMA (dulu namanya EBTANAS) dan saringan masuk PTN (dulu namanya UMPTN). Wajar, pengetahuan dari SD – SMA harus dikuasai sebanyak mungkin agar bisa menjawab soal-soal yang ditanyakan. Nah, momok terberat adalah fisika yang memang lingkup pertanyaan sangat liar. Dengan sedikit modifikasi narasi, terkadang siswa yg jago menghafal rumus pun kewalahan. Lalu bagaimana dong?

Di akhir orde lama, ada seorang fisikawan yang menerima hadiah nobel, bernama Richard Feynman. Dengan memperkenalkan sebuah fenomena fisik yang tadinya rumit menjadi serderhana lewat diagram Feynman. Ternyata selain konten dari temuannya, malah metode belajarnya yang banyak diikuti oleh para ilmuwan hingga saat ini.

Ternyata prinsip dasarnya adalah sederhana, yaitu menjelaskan dengan tepat. Ini merupakan skill dasar bagi seorang pengajar, entah itu guru maupun dosen. Contohnya, kita pernah membaca ayat suci, biasanya sulit dimengerti walaupun sudah baca artinya. Kalau pun mengerti, tidak lama lupa lagi. Bandingkan dengan kalau mendengar dari KH Zainuddin MZ, dengan penjelasan dan ilustrasi-ilustrasi yang kadang ‘mengocok perut’, sampai sekarang masih terngiang-ngiang. Yang paling ekstrem adalah Gus Dur dengan istilah-istilah simple-nya.

Saya pernah heran mengapa ketika kuliah tidak faham-faham satu bagian tertentu pelajaran, tetapi ketika lulus dan mengajar barulah mengerti. Hal ini karena ketika belajar saya harus bisa mengajarkan kembali. Di situlah peran ilmunya Feynman, bagaimana menjelaskan ke orang lain. Ketika kuliah dulu, memang sering saya jumpai dosen yang senang lihat siswanya pusing. Nah, karena pernah merasakan pusingnya masa kuliah, saya merasakan pentingnya memberikan penjelasan ke siswa dengan mudah.

Walau di era multimedia penjelasan dengan animasi, video dan suara dapat mempermudah pemahaman, tetapi tetap saja bahasa merupakan hal utama dalam menjelaskan satu konsep. Cara paling mudah belajar menjelaskan adalah menggunakan kalimat sendiri terhadap satu konsep tanpa menghapal buta. Mirip ketika menulis artikel ilmiah yang harus mem-parafase kalimat agar tidak terkena plagiarisme karena mirip dengan sumber lain.

Silahkan buat sesederhana mungkin, tetapi seperti kata Einstein, jangan menjadi terpotong yang hasilnya jadi tidak lengkap. So, fokus ke penjelasan se jelas-jelasnya yang bahkan ketika Anda jelaskan satu konsep, anak SD pun faham.

Kecerdasan Emosional Sang Penyelamat

Memang enak memiliki IQ yang tinggi seperti Prof. Habibie atau A. Einstein. Ada problem, dalam waktu sekejap dapat diselesaikan. Apalagi bagi pelajar dan mahasiswa. Tugas yang berat tidak terasa, hanya dalam sekejap selesai sudah, dan bisa lanjut nonton, jalan-jalan, atau mainan HP.

Itu yang saya rasakan ketika SMA dulu, terkadang iri dengan mereka yang ‘di atas rata-rata’, tanpa susah payah dalam memahami sesuatu. Nah, bagaimana menyikapi kecerdasaan yang rata-rata seperti saya contohnya?

Di atas langit ada langit. Itulah pepatah kuno yang kadang bisa membuat kita ‘pede’ ketika menghadapi orang ‘super’ di sekolah. Kalau saya kalah oleh yang lain, pasti ada saja saya yang menang dari yang lain. Tiap manusia ada kelemahan dan juga kelebihan. Beruntunglah jika diberi kesabaran, ketabahan, dan aspek kecerdasan emosi lainnya.

Mengapa tipe kecerdasan emosional tersebut penting? Sebagai contoh, jika mereka mampu memecahkan problem 1 jam, dan anda 3 jam atau bahkan seharian, tidak apa-apa, toh selesai juga. Nah, jika ada problem yang oleh orang-orang ‘super’ itu bisa dikerjakan dalam 3 jam tapi ketika jam ke-dua mereka menyerah, toh tidak ada gunanya kecerdasan yang padahal 1 jam lagi beres. Bahkan kalah oleh orang yang rata-rata yang beres dikerjakan dalam satu atau dua hari misalnya.

Bahkan ketika kelas 1 SMA karena pusingnya dengan mata pelajaran kimia, saya sempat utak-atik sampai pagi, padahal harus ke sekolah esoknya. Benar saja, si ibu guru menegur saya “ikut ronda ya?”. Toh, ujung-ujungnya hasilnya di atas mereka yang kecerdasannya di atas rata-rata.

Masa SMA yg singkat tapi paling berkesan

Bagaimana dengan studi doktoral? Nah, di sini kecerdasan emosional menentukan mengingat hampir semua problem mahasiswa doktoral itu tidak ada/belum ada yang menyelesaikan. Pembimbing pun kebanyakan tidak/belum menyelesaikan. Mereka hanya bisa memberi saran saja. Sangat penting untuk menjaga ‘ritme’ agar tetap fokus, menjalin komunikasi yang baik dengan promotor, termasuk juga hubungan dengan keluarga. Banyak mahasiswa yang bermasalah keluarganya ketika kuliah karena kurang menjaga hubungan dengan suami/istri, anak, dan kerabat lainnya.

Jangan bermimpi ketika mengambil doktoral anda melihat jawaban jelas di ujung. Ganti judul, tema, ganti metode, sudah hal yang lumrah ketika penelitian berjalan. Jika tidak tahan dan kurang sabar, pasti akan stress. Banyak rekan saya yang meninggal ketika pandemi karena kemungkinan besar sistem imun di tubuhnya menurun karena tuntutan riset doktoral. Sabar, mampu menunda kesenangan, dan tidak takut keluar dari zona nyaman mutlak diperlukan. Jika tidak mau berubah mana mungkin bisa berubah dari master menjadi doktor.

Kondisi ekstrem lain adalah walau otak kita tidak mampu terkadang, pihak-pihak, rekan sejawat, dan teman ngobrol/ngopi terkadang bisa membantu. Banyak mahasiswa doktoral yang lulus dengan bantuan orang lain, tentu saja sebagian, entah itu membantu mengolah data, penarikan sample, pembuatan program, model dan lain-lain. Hal itu lumrah dilakukan, yang penting konsep utama si mahasiswa mengerti. Nah, di sini saya sering melihat rekan-rekan yang awalnya biasa-biasa saja ternyata lulus dengan cepat, sementara yang ‘melejit’ di awal ternyata terbengkalai di akhir karena kurang ‘tahan’ atau tidak sabar.

Kadang ide berasal dari rekan di tempat ngobrol

Tentu saja tiap orang banyak kelemahan yang harus di atasi, seperti saya misalnya. Ada dua rekan saya dari negara lain yang mengatakan saya malas, lambat, dan sejenisnya. Tapi memang rata-rata orang Indonesia santai, mungkin sudah bawaan budaya kita, apalagi saya yang orang Jogja. Ketika sadar hal itu, maka saya mengambil sikap untuk lambat tapi terus menerus, hingga kagetnya ternyata lulus duluan (bersamaan dengan satu rekan saya yang lain). So, jangan berkecil hati.

Ucapan selamat dari pak atase kebudayaan Indonesia saat wisuda

Thanks to My Student

Every scientist should do a research. This activity is part of three main tasks of lecturer in Indonesia, called ‘Tri Darma’ beside other activities, i.e., the teaching and social service activity. There is a requirement in Indonesia that every research should be published in a journal or conference. This outcome is called ‘luaran’. Of course, there are many levels of publisher based on the quality of the journal/conference. In journal we have quartile in Scopus (Q1 to Q4) as well as impact factor in web of science (WoS). The minimum requirement is the publication in a national journal.

To do the research, a scientist need a lot of collaboration to another scientist that usually a lecturer or student. The ethic should be considered, for example, a student thesis in publication should be arranged where the student as first author. The lecturer if he/she want as the first author, he should do his/her own research or writing a review paper about his/her student research. If the lecturer find the improvement by compiling the results from previous student’s work he/she can publish a paper where he/she become a first author.

Publishing a paper is a hard work that need a lot of resources. Therefore, everyone should appreciate to another scientist result. And I respect to all my students that has successfully published our research. Thank you very much.

Kekalahan

Satu kata yang menjadi judul postingan ini sangat dihindari oleh kita. Namun sesungguhnya tanpa ada kata tersebut tidak ada lawan kata lainnya, yaitu kemenangan. Postingan ini sedikit membahas kondisi timnas Indonesia yang di leg 1 kalah 4 – 0 dari Thailand, setelah di awal-awal menunjukan kinerja yang menjanjikan, yaitu mengalahkan Malaysia dan imbang dengan Vietnam.

Thailand bagi saya tidak asing karena hampir 5 tahun tugas belajar di negeri gajah putih itu. Negeri kerajaan itu sangat berbeda dengan negara-negara asia tenggara lainnya. Perpaduan antara modernisasi dengan adat istiadat ternyata bisa melahirkan budaya kuat bagi rakyatnya.

Negara penganut Budha tersebut sangat menghormati biksu dan rajanya. Percaya dengan karma dimana perbuatan akan dibalas setimpal menyebabkan rakyatnya berfikir dua kali untuk berbuat jahat. Bahkan ketika kita menepuk nyamuk dengan amarah di depan mereka, tatapan mereka langsung terlihat kecewa, terutama di daerah pinggiran kota. Ketika berburu durian di pasar Thailand malam hari, tampak para pedagang lebih suka tidur dengan kelambu dari pada membakar obat nyamuk atau menyemprot pembasmi serangga.

Di bandara sering berjumpa dengan rombongan remaja Thailand yang menyambut para pemain yang mewakili negaranya, entah pertandingan apa. Tampak wajah sumringah para pemain ketika disambut. Saya yakin di dunia maya pun perlakuannya akan seperti itu. Para pemain yang mewakili negaranya, juga mewakili raja akan berjuang mati-matian. Ketika pulang pun akan disambut tidak perduli menang atau kalah.

Di berbagai bidang negara tersebut sebenarnya memiliki bibit yang tidak beda dengan negara kita. Namun keseriusanlah yang membedakan. Bayangkan saja, negara yang memiliki riwayat tanah yang kurang subur memiliki hasil bumi yang terkenal hasil utak-atiknya. Sampai-sampai istilah ‘bangkok’ menggambarkan buah yang super besar seperti jambu bangkok, pepaya bangkok, ayam bangkok dan lain-lain.

Untuk memulainya ada baiknya kita serius dalam segala hal. Bahkan sebagai suporter pun harus serius. Jangan sampai hanya mengagumi dikala menang saja. Saat terpuruk pun suporter harus sesuai dengan maknanya yaitu ‘pendukung’, bukan sebaliknya ‘pembully’.

Riset yang dilakukan Microsof mungkin ada benarnya, nitizen kita kerap kebablasan dalam memberikan komentar. Sanjungan setinggi langit bisa berbalik menjadi caci maki sejadi-jadinya. Bahkan media masa pun latah dan melihat peluang karakter pembully nitizen sehingga membuat konten ibarat menyiram api dengan minyak.

Tidak ada ruginya menghormati seseorang, apalagi bangsa sendiri. Semoga bangsa kita berjaya seperti era keemasan dulu. Yuk, kita dukung timnas sepakbola dan cabang olah raga lainnya. Udahan dulu ya, mau nonton final leg2 piala AFF . Semoga menginspirasi dan selamat tahun baru 2022.

Santai, Tapi Pertahankan Minat & Fokus

Berbeda dengan S2 yang tingkat kelulusannya di dalam negeri hampir 100%, S3 ternyata tidak semudah itu. Banyak rekan-rekan saya yang berguguran (bahkan dalam makna sebenarnya). Postingan ini sedikit memberi gambaran bagi Anda yang ingin melanjutkan ke jenjang terakhir keakademikan.

Melihat rekan-rekan banyak menjumpai hambatan ketika S3, seorang rekan saya bertanya. Pertanyaannya sederhana tapi ‘to the point’, yaitu ‘sanggupkah saya melanjutkan s3?’. Jawaban yang sulit.

Banyak webinar-webinar dan doctoral bootcamp yang membahas kiat-kiat studi lanjut. Berbeda dengan S2 yang hanya berkutat dengan adanya dana baik beasiswa maupun biaya sendiri, jenjang S3 mengharuskan calon mahasiswa memahami benar alur perjalanan seorang mahasiswa doktoral. Namun karena panjangnya alur tersebut, pada postingan ini akan berfokus pada mental.

Karena bukan psikolog, tulisan ini sekedar pengalaman pribadi. Benar atau tidaknya tergantung kondisi, bisa jadi sedikit berbeda dengan kondisi pembaca sekalian.

Biasa Saja

Pertama-tama yang perlu diperhatikan adalah ketika mengambil suatu pelatihan, pendidikan, upgrading, atau apapun sebutannya adalah adanya kebanggaan. Boleh saja, tetapi jangan terlalu lama, kembalilah berpijak ke bumi.

Ibarat dunia selfi yang cenderung foto makanan dulu sebelum dimakan, mulailah dengan langsung saja makan. Membaca atau mengetik, langsung saja lakukan. Dulu, guru Biologi saya pernah menyindir siswanya yang tidak paham2 dengan menyuruhnya ‘langsung membaca’ dan jangan menganggap membaca atau mengerjakan tugas dengan ritual yang perlu persiapan panjang seperti yasinan, atau malah membakar kemenyan, mandi kembang, dan sejenisnya.

Jangan Baper

Di sini baper artinya ‘bawa perasaan’ yang bukan hanya dari sisi negatif (sakit hati, emosi, tersinggung, dan lain-lain) melainkan juga yang positif (tertarik, semangat, dan berapi-api). Maklum, namanya ‘mainan’ baru cenderung melupakan yang lain yang bahkan lebih penting. Banyak teman-teman yang punya karakter ‘hangat-hangat tahi ayam’, alias semangat di awal saja. Melihat metode baru, software terkini, dan hal-hal wah lainnya terkadang latah. Skill yang kita miliki bertahun-tahun jangan sampai dilupakan, ingat ada prinsip 10000 jam untuk menjadi ahli. Bisa jadi kita melihat kita kurang ahli, padahal sesungguhnya menurut pandangan orang kita ahli. Mungkin ada kebosanan dan ingin hal-hal baru, padahal banyak hal-hal yang bisa kita kembangkan dari keahlian yang sudah dimiliki, dari pada mencari hal-hal baru dan mulai dari nol lagi, hanya karena Anda sangat bersemangat.

Steady State

Dalam dunia fisika ada istilah steady state atau kondisi tunak. Biasanya dialami oleh mahasiswa S3 ketika sudah proposal dan masa kondisi transient terlewati. Waktu yang lama dengan progress yang sepertinya tidak secepat kondisi transient (kuliah + membuat proposal) terkadang membuat kita lupa, tahu-tahu waktu sudah mendekati limit. Saya ingat rekan saya berkata disertasinya tidak ada manfaat dan kontribusi bagi lingkungan. Ya, namanya novelty terkadang terasa tidak ada manfaatnya, seperti De Morgan yang menemukan teori-teori logikanya tetapi oleh rekan-rekan jamannya dianggap ilmu yang tak berguna, bahkan dikira orang ‘sinting’. Ternyata ketika komputer ada, baru sadar logika-nya dapat diterapkan.

Oiya, banyak kerjaan-kerjaan mahasiswa S3 yang harus dikerjakan, bahkan tanpa kita yakin berhasil atau tidak. Namanya saja mencari kembali (research), kalau dalam pencarian tidak ketemu ya sabar saja. Ada juga kerjaan remeh temeh yang terpaksa dikerjakan walau tidak menarik. Nah, ini dia yang penting, ketika Anda santai mengerjakan sesuatu yang ‘garing’, ‘membosankan’, ‘ga keren’, atau istilah lain yang menggambarkan hal-hal yang membuat enggan melakoni, artinya Anda sudah siap menjadi mahasiswa doktoral. Banyak yang gagal karena enggan melepas kaki yang masih di dermaga (jabatan, tunjangan, proyek, dll) sementara kaki lain sudah di perahu (studi lanjut). Yuk .. lanjuuuut.

Tulisan Terbaik Yang Sekaligus Terburuk

Menilai lebih mudah dari membuat. Coba baca satu artikel pada jurnal bereputasi, misalnya satu paragraf saja. Tampak mudah dibaca dan mengalir lancar. Terlihat sederhana dan mudah dipahami, namun ketika kita mencoba membuat seperti itu, menit berlalu, bahkan sudah berjam-jam, belum juga bisa membuat tulisan seperti itu.

Teringat ketika membuat skripsi waktu S1. Selesai menulis dan sidang akhir, saya merasa banyak salah tulis, baik dari tata bahasa maupun kesalahan-kesalahan lainnya. Anehnya waktu itu lulus tanpa revisi, yang menjadi misteri bagi saya bertahun-tahun.

Ketika mulai bekerja sebagai pengajar di salah satu kampus di Jakarta dan membimbing tugas akhir. Banyak siswa yang ternyata memiliki masalah yang sama dengan saya ketika menjadi mahasiswa dahulu, yaitu menulis. Mengingat kejadian waktu saya kuliah dahulu, jarang sekali saya memberikan revisi yang banyak ke siswa, dan menolerir kesalahan-kesalahan yang tidak penting.

Waktu kuliah S2 saya mengalami kejadian mirip S1, yaitu tanpa revisi. Tetapi hal ini terjadi karena saya sidang ulang akibat ada masalah administratif dengan sidang pertama. Alhasil sidang ulang hanya seperti diskusi saja. Nah, yang agak unik ketika disertasi.

Jenjang S3 membutuhkan waktu yang lebih lama dibanding level lainnya, baik dari sisi eksperimen maupun penulisan laporannya. Ditambah lagi syarat publikasi di jurnal internasional bereputasi membuat mahasiswa harus mampu menulis. Namun jangan khawatir, karena tulisan hanya melaporkan saja apa yang telah dilakukan, akhirnya pasti akan selesai juga.

Tiap kampus berbeda-beda dalam tata cara sidang. Kebetulan di kampus saya sebelum disidangkan, naskah harus dicek oleh dosen luar kampus. Revisi dari luar pun hanya istilah-istilah tertentu yang harus diganti, mengikuti standar yang ‘lebih umum’, dan menghindari bentuk-bentuk jargon tertentu. Tidak ada revisi besar.

Nah, uniknya walau saat sidang terjadi kontroversi mengenai kesimpulan, akhirnya salah satu penguji menyetujui format kesimpulan yang ada di tiap bab pembahasan, mengingat bidang saya multidisiplin maka ketika pembahasan pada bidang ilmu komputer di akhir bab dimasukan pula kesimpulan bidang ilmu komputer. Bab yang membahas perencanaan tata ruang, di bagian akhir bab diisi pula kesimpulan bidang tersebut, dan seterusnya hingga ada kesimpulan umum di akhir tulisan.

Saat itu saya berencana merevisi sesuai argumen salah satu penguji karena menurut saya benar. Ketika menghadap dosen pembimbing dan mengutarakan maksud saya ternyata di luar dugaan dia tidak setuju. Kalau pun mau merivisi sedikit saja, sambil menjentikan jari ke saya memberi kode berarti ‘sedikit sekali’. “Disertasi adalah tulisan terburukmu”, lalu malah menanyakan tulisan paper-paper berikutnya yang perlu di-publish. Dengan kata lain berarti tulisan saya berikutnya harus lebih baik dari disertasi saya tersebut. Ternyata itu jawaban tidak pernah revisi selama ini. Artinya tulisan terakhir kita, walaupun kita anggap tulisan terbaik, sekaligus menjadi tulisan terburuk, karena tulisan kita berikutnya harus lebih baik lagi.

Kalau pun revisi, itu pun dianggap edisi tersendiri dalam sebuah terbitan seperti gambar di bawah. Sekian semoga bisa menginspirasi.

To New Students .. Teach Your Self

Tahun ajaran baru akan memunculkan wajah-wajah baru di tiap jenjang pendidikan. Untuk sekolah sepertinya tidak ada masalah berarti, kecuali kondisi yang masih setengah online. Namun untuk kampus atau sekolah tinggi, masalah klasik adalah berbedanya metode pembelajaran dibanding ketika sekolah dahulu.

Dari pengalaman, kerap terjadi seorang siswa yang hebat di sekolah, ketika masuk dunia kampus kesulitan dalam mengikuti perkuliahan. Tidak jarang yang drop out atau pindah ke jurusan lain. Mungkin alasan utamanya tidak cocok atau salah jurusan. Mungkin benar, tetapi ketika pindah tetap saja ‘bermasalah’, berarti ada faktor lain. Postingan ini sedikit mengurai masalah tersebut, semoga mahasiswa baru dapat mengatasi hambatan tersebut sebelum terlambat.

Saya termasuk mahasiswa yang kesulitan mengikuti perkuliahan di awal-awal semester. Walaupun sadar bahwa ada perbedaan pendidikan di sekolah dengan perkuliahan di kampus, ternyata ada faktor-faktor lain yang berpengaruh.

2021

Zona

Berbeda dengan sekolah yang mempelajari ilmu secara garis besar, pendidikan tinggi lebih spesifik, baik dari sisi kurikulum maupun target lulusannya. Ketika sekolah, saya ikut dengan kakak yang ambil jurusan informatika. Terkadang ikut masuk ke lab sebagai ‘penunggang gelap’ karena memang kampus tidak terlalu ketat (tanpa seragam, tanpa id card, dan sejenisnya, yang penting ada kenalan).

Terbiasa dengan situasi tersebut akhirnya terbawa hingga kuliah di jurusan yang bukan IT. Sesuai dengan judul di atas ada perbedaan zona antara mahasiswa IT dengan mahasiswa lain, dimana seorang mahasiswa IT yang saat ini diwajibkan coding/programming harus tahan duduk berjam-jam di depan komputer terpaksa harus ke lab atau ke lapangan pindah sana pindah sini.

Begitu pula jika Anda mahasiswa psikologi, komunikasi, dan sejenisnya, silahkan sesuaikan dengan karakteristiknya, jangan sampai salah. Nah, repotnya terkadang tiap jenjang berbeda, misalnya D3, D4, S1, S2 dan S3 sangat berbeda. Saya sempat diajar oleh dosen yang baru “sembuh” karena sebagai mahasiswa terbaik di angkatannya, ketika ambil S3 di Jerman gagal (drop out).

Teach your self ..

Namun dari semua itu, ada obat yang ampuh, yaitu belajar mandiri. Berbeda dengan siswa di sekolah yang di-cekoki dan benar-benar dibimbing harus belajar sendiri ketika kuliah. Hal ini terjadi karena perkembangan ilmu yang sudah ‘established’ di sekolah berbeda dengan kampus yang terus berkembang.

Sebagai contoh, perkembangan hardware, software, dan metode saat ini sangat cepat. Mungkin jurusan lain juga sama, misalnya otomotif yang sudah terkomputerisasi atau mesin yang akan digantikan dengan motor listrik. Sementara mungkin dosen masih dengan ilmu yang lama. Jadi, mahasiswa harus PD kalau ilmunya tidak jauh berbeda dengan dosen. Tentu saja jika cepat belajar sendiri lewat media yang saat ini berkembang pesat, yaitu internet.

Awas Jebakan Batman

Saat ini berbeda dengan dahulu dimana tingkat pendidikan tidak berkolerasi dengan pendapatan. Banyak yang bilang orang sukses malah ketika kuliah drop out, atau tidak menonjol. Atau bahkan kalah oleh Youtuber.

Google pun heboh dengan membuat lowongan kerja tanpa membutuhkan gelar/pendidikan akademis. Ditambah lagi iklan lowongan sebagai ‘janitor’ alias OB yang puluhan ribu dolar. Tidak serta merta Anda langsung tidak kuliah atau menganggap enteng kuliah.

Orang IT memang berbeda dengan dokter atau pengacara. Dokter/lawyer berusia 50 tahun tentu lebih berpengalaman dibanding dokter/lawyer 40 atau 30 tahun. Sementara untuk bidang tertentu, misalnya software engineer, yang berusia 50 tahun belum tentu lebih hebat dari yang 40 tahun. Silahkan lihat atau baca pengalaman pekerja-pekerja di perusahaan seperti Google, FB, dan sejenisnya. Sederhananya jika Anda memiliki 2 asisten rumah tangga, sama-sama berkualitas, tetapi yang satu memiliki sertifikat menjahit level expert misalnya. Anda tentu akan cemas dengan yang kedua kan?

Mungkin Anda bisa beralih menjadi konsultan, dosen, kontraktor, dan sejenisnya, kombinasi pengalaman dan gelar dan sertifikat-sertifikat lain, jika sudah bosan bekerja di industri. Banyak mahasiswa yang berhenti kuliah dan lebih fokus menjadi Youtuber. Memang itu pilihan, seperti pilihan Duta Sella on 7 yang berhenti kuliah di UGM karena ingin fokus menyanyi. Namun ada baiknya anda lihat nasehat Youtuber ini.

Di kampus Anda belajar matematika, aljabar, algoritma, struktur data, teknik kompilasi, network dan sejenisnya. Terkadang tidak dibutuhkan secara langsung di lapangan. Tetapi usaha sedikit, sebenarnya, lewat baca buku, bertanya, nonton video tutorial, dan lain-lain bisa juga Anda lalui, walau dengan susah payah. Salah satu hasil yang jelas Anda memiliki level di atas rekan-rekan yg tidak kuliah atau yang dropout.

Dalam dunia yang uncertaint tidak ada salahnya tetap memastikan dan memantaskan diri. Jika Akhirnya semua terserah Anda, jika yakin dengan algoritma Youtube, no problem. Tetap jaga-jaga tidak ada salahnya. Oiya, kabarnya ketika tulisan ini dibuat, akun Youtube Onno W. Purbo ditutup Youtube, karena kerja algoritmanya, padahal sangat bermanfaat konten2nya. Semoga postingan ini bermanfaat.

Mitra

Saat ini terjadi pergeseran dalam bisnis, khususnya sejak menjamurnya aplikasi-aplikasi online. Aplikasi ini bercirikan sharing sumber daya, misalnya pemilik kendaraan, pemilik vila/penginapan, kepada vendor aplikasi. Penyedia aplikasi, misalnya aplikasi ojek/taksi online, tidak perlu memiliki kendaraan/armada, cukup bermintra dengan pemilik kendaraan. Nah, di sini kata mitra memiliki makna khusus dimana ketika dahulu ada istilah pegawai dan pemilik, kini semuanya mitra, saling membutuhkan.

Misalnya dalam aplikasi pesan makanan online, maka mitra yang terlibat antara lain pembeli, pedagang makanan/minuman, dan driver/kurir. Posisi setara menyebabkan mereka berperan sebagai mitra, tidak ada satu posisi yang melibihi posisi lain. Tentu saja, masing-masing memiliki alat ukur untuk kinerja dan sesuai dengan visi misi pembuat aplikasi, biasanya ada aspek lain yang perlu diperhatikan misalnya kepuasan konsumen terhadap layanan yang dipesan (makanan, transportasi, dan jasa lain).

Masih belum jelas apakah kondisi tersebut masuk ke bidang lain, seperti pendidikan, kesehatan, dan lain-lain. Jika masuk maka profesional akan memiliki ikatan berupa mitra dengan pemilik organisasi, misalnya dosen dengan yayasan.

Sebenarnya gejala-gejala mulai nampak, yang dipercepat dengan pandemi covid yang mengharuskan bekerja secara online. Beberapa mahasiswa mulai menjalankan kebijakan mendikbud MBKM. Terjadi sharing sumber daya antar kampus. Mulai terjadi seorang mahasiswa satu kampus mengikuti kuliah di kampus-kampus lainnya, bahkan hingga kampus luar negeri (program IISMA).

Kerap terjadi konfilik di suatu institusi pendidikan ketika pemilik/owner masih memiliki paradigma yang lama: bos dan pegawai. Untungnya pemerintah sanggup menengahi kasus-kasus yang terjadi ketika ada konflik antara pemilik dengan pekerja. Jika dahulu depnaker fokus ke buruh, saat ini mulai masuk ke bidang lain, salah satunya pendidikan. Terutama semenjak BPJS baik kesehatan dan ketenagakerjaan wajib diterapkan di tiap-tiap organsisasi/perusahaan.

Bagaimana antara dosen/guru dengan mahasiswa/siswa? Ada kemungkinan terjadi perubahaan paradigma menjadi mitra. Tetapi ada aspek lain yang tidak dapat berubah yakni psikologis maupun adat istiadat. Hormat siswa terhadap guru tentu saja tidak bisa sama dengan terhadap mitra, walaupun dari sisi bisnis berlaku prinsip tersebut. Untuk kursus atau pelatihan mungkin bisa diterapkan, namun untuk guru dan murid atau dengan ustad di lembaga pendidikan agama, ada aspek lain yang tidak mungkin hilang.

Bagaimana kalau dipaksakan? Memang sesuatu yang dipaksakan dapat saja berjalan. Namun, ada prinsip dalam pendidikan yang tidak dapat dilupakan yaitu kesediaan ‘mengajari’ atau ‘berbagi ilmu’ dengan orang lain.

Membayar untuk membeli makanan, misalnya, mungkin selesai setelah makanan habis dimakan atau kendaraan yang dibeli telah dipakai sehari-hari. Tetapi membayar untuk memperoleh ilmu di suatu institusi akan berbeda karena mahasiswa akan memiliki ikatan dengan institusi tersebut walaupun sudah lulus. Dari pengalaman sebagai ketua program studi, banyak orang tua yang datang untuk menitipkan anaknya dididik dengan alasan si orang tua tersebut (ayah atau engkongnya) pernah kuliah di kampus yang sama. Termasuk ketika memohon agar anaknya tidak di drop out (karena masa studi yang habis), yang untungnya berhasil lulus dengan susah payah. Saya hampir menitikan air mata ketika mem-paraf ijazah dan transkrip nilainya krn ingat kedua orang tuanya yang datang menghadap. Agak sulit dibayangkan kondisi ini jika menganggap pendidikan selayaknya jual beli biasa.

Tidak ada yang abadi

Terus terang saya salut dengan seorang profesor yang selalu menyapa dan berinteraksi dengan siapapun, entah itu mahasiswa atau pun rekan sejawat di level apapun. Tidak ada pilih kasih dan tidak memandang gelar, jabatan, dan kekayaan dalam berhubungan. Usut punya usut ternyata prinsipnya adalah tidak ada yang abadi. Ya, sangat sederhana. Ketika melihat seorang siswa yang biasa saja, kita tidak bisa yakin bahwa nanti dia jadi orang biasa saja. Bisa saja dia menjadi pemimpin, pemilik perusahaan, bahkan seorang presiden. Bawahann kita, serendah apapun, mungkin itu saat ini, bisa saja nanti menjadi orang sukses. Terdengar, ada satu kampus yang dalam setahun berantakan, padahal kampus papan atas. Atau seorang pemimpin, orang kaya, terpandang, bisa saja dalam sekejap menjadi orang yang biasa-biasa saja.

Ada satu prinsip yang dapat menenangkan jiwa, yaitu tidak ada yang abadi, apapun itu, kecuali yang maha abadi. Diibaratkan sebagai rintik air hujan yang mengenai air, bergelombang redup dan lenyap, datang lagi rintik air hujan mengenai air, bergelombang kemudian hilang. Kita pasti pernah merasa disakiti oleh seseorang, jika kita menggap orang yang menyakiti tersebut ‘abadi’, dalam artian pasti selalu menyakiti kita maka kebencian tidak akan hilang dalam diri kita. Sebaliknya jika kita menganggap tidak ada yang abadi, ketika dulu disakiti belum tentu sekarang dia menyakiti.

Kondisi pandemi dimana siswa belajar online terkadang membuat orang tua panik dan terkadang emosi karena kaget selama ini hanya menitipkan anak ke sekolah dan sekarang harus berperan sebagai guru. Terkadang ada frustasi akan masa depan anak, nanti jadi apa kalau kelakuannya seperti ini. Kembali ke cerita di atas, jangankan terhadap orang lain, terhadap anak sendiri pun tentu saja harus sama, bisa saja anak yang saat ini ‘alay’, malas, main game melulu, nonton kpop terus, dan lain-lain, suatu saat nanti bisa menjadi pengusaha, dokter, profesor, dan lain-lain. Termasuk kondisi pandemi pun kalau kita menganggap ‘abadi’ repot juga, bisa stres. Tapi kalo suatu saat pasti berhenti atau setidaknya bisa diatasi, pasti akan berlalu dengan baik-baik saja.

Banyak hal-hal terjadi dengan cepat saat ini. Rekan-rekan yang kemarin masih bersama, banyak yang sudah tiada. Kadang di atas, kadang di bawah itu adalah keniscayaan. Imam Ali r.a. memiliki prinsip jalani saja perannya, entah jadi pemimpin atau bawahan, miskin atau kaya, tidak mempengaruhi kondisi batin. Yup, ketika merasakan ketidakabadian, apapun dilalui dengan santai. Banyak yang bilang Butan merupakan negara yang rakyatnya bahagia, hal ini karena rakyatnya setiap hari selalu mengingat kematian dan menjaga kelestarian alam. jadi selalu ‘easy going’.

Orang akan selalu senang dengan orang yang tidak sombong dan selalu berterima kasih. Naik turun jabatan itu biasa, namun jika memaksakan diri dengan intrik-intrik yang ada kedzaliman di dalamnya, siap-siap akan menuai balasan yang terkadang Tuhan tunjukan ke orang yang dizalimi itu. Respect to all of you.

Teka-Teki Based Education

Kita mengenal teka-teki silang (TTS), entah yang benar atau versi Cak Lontong yang menjengkelkan, tetap menarik. Berbeda dengan menonton film atau mendengarkan musik, bermain teka-teki melibatkan otak yang aktif. Hampir mustahil ketika menjawab teka-teki kita tertidur, bandingkan dengan kegiatan pasif lainnya. Bahkan ketika sedang di kelas tidak jarang mahasiswa/siswa yang tertidur.

Pertanyaan

Prinsip utama belajar adalah menjawab pertanyaan. Bapaknya para nabi pun, Ibrahim, mempertanyakan Tuhan. Sempat menganggap matahari dan bulan sebagai tuhan. Walau akhirnya ditunjukan, tetap saja prinsip berfikirlah yang dijadikan makna peristiwa tersebut.

Tidak hanya konsep, pertanyaan pun dalam segala bidang termasuk skill/keterampilan. Bagaimana menulis yang baik, memrogram komputer dengan cepat, dan lain-lain adalah pertanyaan yang harus dijawab oleh peserta didik.

Kita memang biasa diberi pertanyaan, namun terkadang tidak jarang kita dihadapi situasi harus bertanya. Ketika pertama kali belajar di negeri rantau, salah satu skill penting adalah bertanya. Anehnya, waktu itu saya sulit sekali meramu pertanyaan yang efisien, di mana letak grocery, library, dan lain-lain.

Luaran

Sebagai informasi, istilah ini adalah istilah hasil dari suatu riset yang didanai, misalnya oleh pemerintah. Uang yang dibelanjakan harus menghasilkan satu karya yang disebut luaran, bisa berupa prototipe, paten, atau artikel ilmiah. Berbeda dengan proyek yang pelaporan dananya sesuai dengan belanja, tentu saja riset berbeda. Bayangkan saja misalnya Einstein yang menemukan rumus E=MC2 jika misal didanai, agak sulit mempertanggungjawabkan lewat struk belanja. Paling-paling habis untuk beli kertas, tinta, atau obat encok. Jadi jika dulu peneliti kita menghabiskan waktu risetnya untuk berfikir bukti belanja, saat ini paradigmanya dirubah menjadi luaran yang dihasilkan.

Misalnya R. Oppenheimer, selain mengajar dia juga meneliti reaksi nuklir. Luarannya? Selain artikel ilmiah lurannya juga fenomenal: bom atom Hiroshima dan Nagasaki. Serem juga ya. (hmm .. Jangan sembarangan nanya luaran ke dosen teknik ya).

Jadi salah satu cara agar tidak tertidur ketika belajar, membaca, webinar, dan aktivitas pembelajaran lainnya ya carilah pertanyaan yang harus kita jawab, minimal dari acara yang sedang diikuti. Kalau tidak, dijamin webinar selesai, semua left, tinggal Anda sendiri karena ketiduran, upsss. Hahaha .. pengalaman pribadi.

Teknik Membagi Waktu: POMODORO

Ada sebuah alat yang mendeteksi gelombang EEG otak untuk mengukur tingkat konsentrasi seorang anak ketika belajar. Alat tersebut dikembangkan di Massachusetts (lihat ref ini). Alat yang sudah diterapkan di Malaysia ini juga dapat mengetahui karakteristik siswa, kapan waktu optimal seorang siswa dalam belajar. Ternyata tiap orang memiliki karakteristik bekerja yang berbeda, apakah pada pagi, siang, sore, atau malam.

Bekerja Optimal

Mungkin kita pernah duduk bekerja atau belajar berjam-jam tetapi ternyata hasil yang diperoleh tidak signifikan. Alat deteksi biasanya mengetahui adanya penurunan fokus dan segera alat tersebut memberikan musik untuk menyegarkan otak dan bisa fokus kembali. Ternyata otak butuh istirahat untuk kembali fokus. Masalahnya adalah, kapan waktu yang tepat untuk istirahat?

Pomodoro Technique

Dalam manajemen dikenal Pomodoro teknik, yaitu teknik membagi waktu kerja menjadi 25 menit dengan diselingi 5 sampai 10 menit istirahat (break). Ketika sampai empat kali, ada istirahat panjang sekitar 30 menit. Saat mencoba sepertinya ada rasa tanggung ketika 25 menit harus break, tapi ternyata manfaat istirahat 5 menit sangat efektif karena ketika kembali bekerja otak seperti fresh lagi.

Teknik ini sangat bermanfaat juga untuk yang bekerja di depan layar komputer karena mata juga butuh istirahat, bukan hanya otak saja. Disebutkan tiap empat kali “pomodoro” harus istirahat panjang, nah terkadang agak ribet juga untuk mengetahui saat ini sudah yang kedua, ketiga, atau keempat. Oleh karena itu kita butuh alat bantu, selain timer.

Alat Bantu

Alat bantu dapat diperolah baik dari website maupun aplikasi yang tersedia: play store, apple store maupun microsoft store. Jika malas menginstal bisa menggunakan situs ini sebagai timer. Selain memberi alarm tiap 25 menit dan break 5 menit, aplikasi ini dapat juga mengetahui kapan long break 30 menit harus dilakukan. Selamat mencoba.

Bekerja dengan Nyaman

Mungkin pembaca pernah merasakan bekerja di tempat di mana ketika Anda menyelesaikan dengan cepat sebuah pekerjaan, kemudian ditambak lagi pekerjaan baru yang seolah tidak ada habisnya. Atau dalam suasana kerja di mana seluruh pegawai harus terlihat sibuk mengerjakan sesuatu, walau tidak penting, karena kalau santai sedikit dianggap “kurang kerjaan”.

Valentino Rossi dalam buku biografinya menyebutkan alasan pindah dari honda selain karena ingin menunjukan bahwa pembalap tidak kalah penting dibanding motor balap adalah suasana kerja yang tidak nyaman. Tidak ada senyum, canda, atau obrolan lain selain balapan dan yang paling menjengkelkan adalah ketika kemenangan dianggap “biasa saja”.

Walau dengan partner sudah nyaman, ada chemistry, tetapi jika dengan top manajemen tidak nyaman, kita pasti tidak betah, apalagi jika kondisi partner yang juga tidak klop lagi, ada unsur intrik politik, dan sebagainya. Kontrak atau gaji tidak lagi prioritas utama. Dalam kasus Valentino Rossi katanya sampai pihak honda terbengong sesaat ketika kontrak yang dikembalikan tanpa tanda tangannya.

Ketika partner kerja nyaman, begitu juga pimpinan mendukung dan menghargai, prestasi tinggal menunggu waktu karena fokus tertuju ke target/sasaran. Tidak ada lagi kekhawatiran dijegal oleh rekan kerja atau konflik internal yang merugikan, karena harusnya bertarung dengan pesaing luar malah sibuk berkelahi di dalam. Terbukti, sang legenda motogp itu sanggup mendominasi dengan motor barunya.

Kondisi saat ini yang mengharuskan segala hal dilakukan online memperparah kondisi jika partner tidak klop. Salah komunikasi terkadang lebih banyak terjadi. Salah satu yang kurang menyenangkan adalah ketika koordinasi internal di grup WA tiba-tiba “dicapture/screenshoot” dan dibocorkan ke pihak lain. Terkadang hanya potongan yang tidak utuh yang mengakibatkan salah pengertian pihak yang menerima potongan info tersebut. Kondisi tersebut membuat “sepi” nya grup, padahal mungkin banyak ide-ide yang muncul di situ. Repotnya jika ada anggota grup yang kreatif jadi melakukan aksi diam, yang berbahaya karena tim jadi mandek akibat tidak ada inovasi.

Kabar baiknya adalah saat ini perkembangan sangat cepat. Yang saat ini mungkin sedang terpuruk dan merasa di bawah, untuk kembali ke atas terkadang tidak butuh waktu lama. Namun sebaliknya waspadalah, ada institusi yang hancur dalam waktu singkat, bahkan kurang setahun. Memang tidak sepatutnya manusia sombong, lihat saja, dunia porak-poranda karena makhluk kecil, virus COVID-19, yang pindah dari satu orang ke orang lain sambil mengganggu kesehatan bahkan banyak yang kehilangan nyawa.

Tradisi Hindu kabarnya menyebut saat ini tahun Syiwa, yakni tahun di mana banyak godaan berbuat dzalim tapi waspadalah, balasannya tiga masa kehidupan. Toh, agama manapun melarang berbuat dzalim, namun jika dibandingkan dengan kondisi normal, ejeken, hinaan, penindasan saat kondisi sekarang yang dirasakan jauh lebih menyakitkan dibanding kondisi normal sebelum pandemi. Namun, sebaliknya bantuan kecil, atau bahkan senyuman saja, sudah membuat orang senang melebihi saat kondisi normal. Yuk, saling menghargai.