Menghindari Software Lain yang Ikut Terinstal Saat Update

Persaingan vendor perangkat lunak kian sengit saja. Beberapa software yang butuh update, misalnya adobe flash player, ketika update minta disertakan untuk diinstall juga. Repotnya yang diinstal software berat seperti anti virus. Beberapa update lainnya merubah default dari setingan browser, misalnya yahoo untuk searching defaultnya.

Walaupun bisa diuninstall, tapi merepotkan dan membuat sampah-sampah di registry. Flash player sendiri sempat menjadi standard di web tetapi karena banyak masalah dalam keamanan web, di HTML 5 tidak lagi menjadi standar, bahkan adobe sendiri melepas “flash player”-nya (lihat link ini). Tapi sepertinya masih disupport adobe hingga saat tulisan ini dibuat, terbukti masih tersedia di link ini.

Jangan Lupa Pilih yang Akan Diinstal

Software-software lain terinstall karena ketika ada pilihan install, checklist instal software tersebut tidak dihilangkan (secara default ikut terinstal). Repot juga, apalagi yang tidak sempat membacanya dan asal “next” saja.

Untunglah walaupun terlanjur, tetapi karena download McAfee lebih lama, ketika adobe flash selesai langsung saja di”silang”, dan McAfee pun ter-“cancel”.

 

Kesimpulannya

Ketika update, pastikan download dari situs resminya, dan sebelum lanjut perhatikan apakah ada software-software lain yang “nebeng” dan ikut terinstal. Syukur-syukur dibaca dulu “term & condition”nya.

Iklan

Pemrosesan Citra Digital – Kabar baik dan buruknya untuk orang IT

Ketika semester dua kuliah, saya melihat daftar mata kuliah yang ditawarkan. Selain materi wajib untuk jurusan ilmu komputer dan sistem informasi, ditawarkan pula materi pilihan. Belum selesai terkejut karena Artificial Intelligent (AI) and Neuro-Fuzzy yang diampu oleh jurusan Mekatronika, ternyata Digital Image Processing (DIP) diampu oleh jurusan Remote Sensing & Geographic Information System (RS-GIS).

Sebagai orang IT (walau dulunya bukan), tentu sedikit tersinggung, mengapa bukan jurusan informatika yang mengajarkannya. Kebetulan riset saya mengenai data spasial, jadi agak berbenturan dengan beberapa mata kuliah mereka, salah satunya subyek DIP. Ternyata memang mereka yang serius meneliti masalah itu.

Kabar Buruk

Sebenarnya bukan kabar buruk, tetapi sedikit kejenuhan. Di awal-awal memang orang informatika yang tekun meneliti DIP, dari suatu citra bisa diolah sesuai kebutuhan: pencocokan dan identifikasi pola, klasifikasi pola, penentuan kematangan buah, dan terapan-terapan lainnya. Namun ada batas berkaitan dengan sensor yang digunakan, yang kebanyakan dengan frekuensi nyata. Untuk meneruskan riset agar diperoleh akurasi yang lebih baik diperlukan ilmu-ilmu lainnya, salah satunya adalah sensor. Sensor di sini dikembangkan oleh peneliti masalah satelit, misalnya Landsat yang telah menggunakan lebih dari 7 band ketika pemotretan muka bumi.

Sepertinya orang IT membutuhkan alat-alat yang dibuat oleh telkom dan RS-GIS. Rekan saya yang riset di bidang RS sempat membeli kamera yang mampu memotret beberapa band untuk mendeteksi suatu wilayah. Biasanya yang dibutuhkan adalah infra-red, agar mampu mendeteksi tanaman tertentu yang memang chlorophyl menyerap warna merah (sehingga tanaman tampak berwarna hijau). Rekan saya dikampus yang mendeteksi kematangan buah memiliki problem akurasi, walaupun model jaringan syaraf tiruannya (JST) diutak-atik berkali-kali. Tentu saja foto yang diambil dengan kamera biasa kurang mampu membedakan sinyal pantulan dari selisih warna tertentu, belum masalah pencahayaan. Harga kamera untuk infra-red cukup mahal, rekan saya dapat murah karena beli online di pasar gelap. Bahaya juga sih, terutama yg frekuensi tertentu yang bisa menembus pakaian orang .. waw.

Kabar Baik

Seperti biasa, orang IT datang ketika dibutuhkan. Sifatnya yang seperti “server” alias “melayani” merupakan ciri khas. Kita tunggu saja telkom dan RSGIS menemukan piranti-pirantinya, toh beberapa komputasi membutuhkan orang-orang ilmu komputer. Bahkan, GIS pun saat ini sudah membutuhkan “interdisiplin” ketika riset, dan jurnal internasional cenderung menolak riset-riset yang kata orang jawa “ngono-ngono thok”, alias tidak ada kebaruan.

Bahkan permintaan terhadap riset computer vision cukup besar, apalagi entertainment yang banyak diminati (3D). Bukan hanya deteksi warna, dan pola, dituntut pula karakteristik dinamis suatu citra (gerakan) yang realtime. Software yang diprogram pada drone mampu mendeteksi object. Bahkan ke depan, virtual reality, terutama yang mendeteksi gerakan mata sangat diperlukan agar sistem tampak lebih real. Tentu saja riset AI jangan sampai ke hal-hal yang berbahaya seperti video ini:

Main Android di Laptop

Salah satu kelemahan android adalah terinstal di handphone atau tablet yang berukuran layar kecil. Hal ini sangat berbahaya untuk mata. Selain itu tengkuk pun terasa sakit karena kerap menunduk. Sepupu saya yang semenjak kecil main tablet menderita efeknya yaitu mata minus. Anak saya yang walaupun dilarang tapi kadang main diam-diam terpaksa butuh cara untuk mengurangi dampak radiasinya, salah satunya adalah instal di laptop dan tayangkan ke televisi ukuran besar.

Banyak beredar cara bagaimana memainkan android di laptop. Paling banyak adalah menggunakan “emulator” dari bermacam-macam vendor. Berikut salah satu contohnya yaitu “nox player”. Setelah menginstal tampak di layar komputer seperti tablet/handphone. Tinggal instal aplikasi saja ke emulator tersebut.

Tampak game yang saat ini sedang “in”, Mobile Legend, bisa dimainkan di laptop. Emulator selain untuk android terkadang tersedia juga untuk menjalankan game-game jaman dulu yang tidak bisa dijalankan di piranti saat ini. Siapa tahu ada yang ingin bernostalgia ketika kecil/remaja dulu.

Menyelesaikan masalah “Architecture Mismatch Driver & Application” ketika mengakses Database di Matlab

Melanjutkan postingan yang lalu tentang problematika explore database di Matlab yang melibatkan versi 64 atau 32 bit. Masalah incompatible ini sepertinya tidak direspon dengan baik. Baik oleh Windows maupun Matlab. Sepertinya ada sedikit “paksaan” bagi pengguna versi 32 bit untuk beralih ke versi 64 bit. Padahal banyak yang masih menerapkan versi 32 bit di sistem yang sedang berjalan.

Install Microsoft Access Versi 64 Bit

Pengguna Matlab 64 bit sepertinya sudah harus beralih ke versi 64 bit untuk semua hal yang terlibat dengan Matlab (environment), seperti OS dan sistem basis data-nya. Jika tidak maka akan muncul peringatan adanya ketidaksesuaian dari sisi arsitektur antara driver ODBC dan aplikasi. Perbedaan arsitektur merupakan perbedaan yang tidak sepele dalam suatu sistem perangkat lunak.

Repotnya untuk Microsoft Access, tidak bisa langsung memasang yang 64 bit tanpa meng-uninstall versi yang sebelumnya. Perlu diperhatikan jika ada visio versi 32 bit, windows meminta uninstall juga. Jadi kalau sayang dengan visio yang 32 bit atau tidak punya installer visio yang 64 bit, sebaiknya difikirkan terlebih dahulu, atau siapkan dulu visio versi 64 bitnya.

Tadinya saya masih ragu, jangan-jangan ketika uninstall yang 32 bit dan install yang 64 bit tetap saja database tidak bisa diakses Matlab 64 bit, tetapi ternyata Alhamdulillah bisa. Mungkin ini bisa menjawab pertanyaan dari pembeli buku saya tentang database di Matlab yang tidak bisa terkoneksi dengan access karena beda versi “bit”nya. Oiya, jangan khawatir, semua settingan di office 32 bit yang lalu tetap otomatis terbawa di versi 64 bit yang baru.

Mengecek Koneksi Database di Matlab

Ketika sudah menginstall versi 64 bit, pastikan di ODBC yang 64 bit terisi driver dan platform-nya yang baru (64 bit). Selalu gunakan driver untuk kedua versi access (*.mdb dan *.accdb). Pastikan ketika mengklik Configure… tida ada pesan “architecture mismatch ..” lagi.

Tambahkan satu User DSN baru dan coba buka dengan Matlab 64 bit. Setelah mengetik dexplore di command window Matlab, cari ODBC yang baru saja dibuat. Pastikan database yang dibuat dengan Access dapat dilihat isinya.

Sekian dulu info singkat ini, semoga bermanfaat dan semoga pula naskah tentang data spasial dan bigdata dengan Matlab dapat rampung secepatnya.

Problematika Explore Database pada Matlab

Matlab terkini sudah memiliki fasilitas untuk mengeksplore suatu database. Hampir semua database dapat diakses dengan Matlab, khususnya yang berbasis Windows. Hanya saja ada sedikit permasalahan dengan kompatibilitas antara 64 bit dengan yang 32 bit. Berikut beberapa kemungkinan yang terjadi antara Windows, Matlab, dan Sistem database yang digunakan.

Baik Windows, Matlab dan Database 32 Bit atau 64 Bit

Untuk kasus ini tidak ada masalah yang berarti. Banyak tutorial yang membahas bagaimana mengkoneksikan database dengan Matlab dengan versi bit yang sama. Kebanyakan database dapat digunakan dengan menggunakan fasilitas Open Database Connectivity (ODBC) bawaan Windows. Link youtube ini cukup baik menjelaskan bagaimana mengkoneksikan database ke Matlab 64 bit.

Windows 64 Bit, tetapi Matlab dan Database 32 Bit

Untuk kasus ini ada sedikit masalah ketika mengeset ODBC karena driver yang tidak muncul. Untungnya Windows 64 bit masih memberikan fasilitas untuk mengelola ODBC versi sebelumnya (ODBC 32 bit). Cara mudahnya adalah dengan mengetik: odbcad32 di menu RUN. Letak file ‘odbcad32.exe’ ada di: C:\Windows\SysWOW64\odbcad32.exe.

Windows dan Matlab 64 Bit, tetapi database 32 Bit

Masalah ini banyak ditanyakan oleh pengguna di internet. Hampir semua jawaban tidak memuaskan, bahkan ketika ditanyakan ke pihak Microsoft. Kebanyakan kasusnya adalah user menginstall microsoft access 32 bit sebagai database tetapi memiliki Matlab versi 64 bit, misalnya Matlab 2013b.

Dikatakan bahwa DSN pada ODBC yang dibuat tidak matching antara arsitektur dengan driver aplikasi. Saran yang paling ampuh adalah menginstall ulang Microsoft Access dengan versi yang sama dengan Matlab tersebut (versi 64 bit). Matlab sendiri menganjurkan menggunakan 64 bit karena memiliki keunggulan tersendiri dalam penggunaan RAM maksimalnya (melebihi 3 Gb).

Menggunakan Database non Microsoft

Sebenarnya saya mencari driver yang bisa menambahkan driver access di kolom isian driver 64 bit. Ternyata selalu saja ada instruksi error bahwa access yang diinstall tidak 64 bit. Jika enggan menguninstall office 32 bit, ada alternatif database lain yang bisa digunakan yaitu MySQL. Ketika menginstall ODBC untuk MySQL maka di driver pada ODBC 64 bit muncul driver baru seperti di bawah ini.

Tampak MySQL ODBC 5.3 pada driver. MySQL sendiri dapat menggunakan aplikasi XAMM yang ringan karena Apache tidak selalu “ON” ketika tidak digunakan. Untuk menjalankannya tinggal men-doble klick XAMM start di explore.

Untuk mengujinya silahkan menggunakan fasilitas dexplore pada Matlab dengan mengetikannya di command window. Tekan “connect” yang terletak di kiri atas Matlab (atau otomatis akan meminta koneksi ke ODBC yang diinginkan). Pilih ODBC yang sudah dibentuk sebelumnya dengan pilihan driver MySQL.

Kemudian pastikan tampak fields yang ada di tabelnya. Silahkan yang suka “ngetik coding” di command window mengecek apakah koneksi sudah berjalan seperti berikut ini.

Pastikan isconnection bernilai “1” yang menandakan bahwa database telah berhasil terkoneksi ke Matlab anda. Selamat mencoba dan semoga bermanfaat.

NB: Silahkan beli buku yang disertai source code untuk melakukan komputasi dengan Matlab yang terintegrasi dengan database (access dan mysql), online maupun di toko buku Gramedia (semoga stok masih ada): https://www.gramedia.com/pemrograman-basis-data-di-matlab-cd.html.

Riset Tentang Web Mining

Lanjutan dari postingan yang lalu. Semua orang pasti memiliki jawaban yang sama tentang pentingnya aplikasi web, yaitu sangat penting. Mulai dari facebook, google, baca berita, dan mencari informasi lainnya selalu menggunakan aplikasi berbasis web. Walaupun saat ini aplikasi android sudah menjamur, tetapi tetap saja web menjadi hub yang menghubungkan client dengan server aplikasi dan server data. Perkembangannya yang sangat cepat membuat riset di bidang ini harus secepat mungkin karena satu teknologi akan segera usang seiring berjalannya waktu.

Banyak Anak Muda yang Tertarik

Web mining merupakan ilmu yang baru. Anak-anak muda karena sudah mengenal web sejak sekolah menengah tidak akan merasa kesulitan untuk mempelajarinya. Terkadang mereka lebih mahir dari pada guru-guru bahkan dosennya. Ketika saya mengikuti wawancara untuk mendapatkan beasiswa S3, saya iseng meminjam proposal milik peserta yang kebanyakan masih muda. Kebanyakan mereka ingin riset yang ada hubungannya dengan web, misalnya semantik web.

Bukan hanya untuk riset, banyak orang menggunakan web untuk mencari uang (affiliate marketing) dengan teknologi-teknologi yang dikembangkan seperti web crawler ataupun robot-robot yang diistilahkan dengan nama bot.

Bidang-bidang Riset Web Mining

Sesuai dengan unsur katanya, web mining berarti menggali informasi yang ada di web. Berbeda dengan data mining yang menggali informasi dari data terstruktur, web mining menggali informasi dari data semi-structure bahkan unstructured. Web mining lebih sulit karena jenis datanya yang tidak terstruktur dan terkadang banyak data “sampah” yang mengganggu proses penggalian data.

Untuk melakukan riset, langkah pertama yang harus ditempuh adalah mempelajari prinsip-prinsip dasar yang sudah baku di buku teks. Jangan sampai kita melakukan riset terhadap sesuatu yang sudah “established”. Teori-teori di buku biasanya sudah fix dan diakui kebenarannya oleh hampir peneliti-peneliti di dunia. Biasanya mahasiswa S3 terkadang mengambil mata kuliah bidang yang akan diriset sebelum masuk ke kandidasi (syarat untuk diperbolehkan meneliti). Langkah berikutnya adalah men-searching jurnal-jurnal terkini tentang web mining.

Untuk buku silahkan baca buku-buku yang beredar, terutama yang bahasa Inggris, misalnya “Mining the web” dan buku-buku semantic web lainnya (Linoff & Berry, 2001; Yu, 2011). Di sini disebutkan ada tiga aktivitas Web mining yang penting:

  • Mining structure
  • Mining usage
  • Mining content

Structure Mining

Silahkan masuk ke salah satu bidang web mining di atas. Yang pertama adalah Mining structure. Penggalian ini bermaksud mencari struktur dari web, biasanya link-link yang ada dalam suatu halaman. Halaman mana saja yang kerap menjadi target dari halaman yang lain? Halaman mana yang menunjuk ke halaman-halaman lain? dan seterusnya. Grafik yang sering dibuat adalah graf berarah yang menunjukan hubungan satu halaman dengan halaman lainnya. Penerapan yang sering dibuat adalah menghitung sitasi terhadap suatu halaman. Istilah yang sering muncul adalah hub, authorities, dan populer site. Tidak hanya melibatkan halaman yang berbeda, struktur lokal pun masuk dalam domain structure mining asalkan melibatkan hubungan-hubungan link.

Mining Usage Pattern

Di sini ada tambahan kata “pattern” karena biasanya yang digali adalah pola penggunaan suatu page. Dua bidang utamanya adalah clickstream analysis dan web logs. Masalah-masalah yang muncul adalah bersih atau tidaknya page yang dikoleksi. Oleh karena itu diperlukan langkah-langkah sebagai berikut:

  • Filtering
  • Despidering (anti spider)
  • User identification
  • Sessionalization, dan
  • Path completian.

Mining Content

Menggali isi web-web yang berserakan di dunia maya membutuhkan keahlian dalam menangani text/string karena sebagian besar web tidak terstruktur. Baca dan pelajari information retrieval dari buku-buku yang tersedia, misalnya buku yang gratis didonlot dari penerbitnya ini. Konsep-konsep stemming, dan sejenisnya (recall, precission, dll) banyak di bahas di buku tersebut. Oiya, sebagian saya tulis di post tentang information retrieval. Silahkan riset jika tertarik, saya sendiri masih meraba-raba, jika tidak sanggup ya back to basic: spatial data optimization.

Ref:

  • Linoff, G. S., & Berry, M. J. A. (2001). Mining the Web. United States of America: Wiley.
  • Yu, L. (2011). A Developer’s Guide to the Semantic Web. New York: Springer.

 

Mining the Web – Bidang Yang Kian Penting Saat ini

Menurut Prof. Rhenald Kasali, beberapa perusahaan ternama akhir-akhir ini jatuh secara tiba-tiba karena fenomena “disruption”. Fenomena ini merupakan bagian dari konsep “the invisible hand” dari Adam Smith kira-kira se-abad yang lalu. Tapi fenome disruptive muncul karena kejatuhannya yang tiba-tiba tanpa adanya gejala-gejala, ibarat serangan jantung, perusahaan-perusahaan raksasa tumbang mengenaskan. Laporan keuangan yang ok, tidak ada indikasi penetrasi atau serangan dari pesaing, tapi entah mengapa tiba-tiba ditinggalkan konsumen dan hancur. Di sisi lain, digrebeknya grup saracen yang berbasis online, dipenjaranya seorang gubernur karena rekamannya yg beredar online, tokoh aliran tertentu yang masih menunggu diperiksa, dan hal-hal lainnya mewarnai dunia digital di tanah air.

Dulu sempat mengajar e-commerce dan data mining tetapi tidak begitu membahas masalah dampaknya di masyarakat. Ternyata sangat besar. Konsumen mulai bergeser dari offline menjadi online (elektronik). Demo besar-besaran perusahaan taksi ternama di tanah air merupakan suatu sinyal akan adanya perubahaan perilaku konsumen dari offline transaction menjadi online. Dari sisi data mining, yang saya ajarkan (maupun buku yang diterbitkan) hanya berfokus ke database konvensional saja (bukan berbasis web). Oleh karena itu, upgrade ke versi web untuk mendukung terapannya dalam e-commerce sepertinya harus dimulai.

Ketika main ke perpustakaan, saya menjumpai buku lama terbitan 2001 yang membahas data mining pada web. Tahun-tahun itu merupakan tahun mulai berkembangnya riset-riset berbasis web yang hasilnya adalah aplikasi-aplikasi yang banyak dijumpai oleh orang-orang seperti sosial media, entertainment, dan sejenisnya. Berikut intro yang sari sarikan dari buku tersebut.

E-Commerce

Sesuai dengan namanya, e-commerce menjembatani antara produsen dengan konsumen lewat kanal/saluran baru yaitu transaksi elektronik, itu saja. Tetapi ternyata dengan pemanfaat media online dampaknya sangat besar walaupun tidak ada yang berubah dari sistem produksi, penentuan harga, laproan penjualan, dan sebagainya. Hal-hal yang membedakannya adalah kemampuan media online untuk menyediakan layanan yang cepat dalam menawarkan barang lewa “search engine”nya dalam bentuk rekomendasi, mampu mengingat history seorang pelanggan di waktu yang lampau, dan mampu secara cepat mengontrol persediaan barang mengikuti tren pemesanan barang oleh konsumen. Itu saja sudah cukup menghajar pemain-pemain lama yang tidak sadar akan bahayanya lengah terhadap media elektronik online.

E-Media

Selain perdagangan barang real, ternyata media terkena imbas dari media online. Mungkin mereka bisa bertahan karena karakter media yang tajam dalam melihat gejala-gejala adanya suatu fenomena, sehingga beberapa surat kabar bisa dengan “smooth” beralih dari media cetak ke online. Tetapi tentu saja media online memiliki keunggulan dibanding versi cetak karena media cetak tidak bisa mengetahui siapa saja yang telah membaca berita di dalamnya. Media online bisa mengetahui berita-berita yang menarik minat konsumen sehingga di masa yang akan bisa menulis berita-berita yang disukainya itu. Selain itu, media online memiliki karakteristik khusus yang “custom” dimana konsumen bisa memilih berita mana yang ingin diakses, khususnya yang berupa video. Inilah sepertinya yang dikhawatirkan oleh televisi-televisi lokal yang berbasis gelombang frekuensi yang dalam satu waktu tertentu hanya menyiarkan satu acara tertentu. Tinggal menunggu iklan yang lewat, jika tidak ada yang beriklan sepertinya siap-siap mengucapkan kata “selamat tinggal” (mungkin masih bisa bertahan untuk kampanye pemilu).

E-Markets

Saya, atau mungkin kita, pernah kecewa ketika telah membeli sesuatu ternyata ada tempat lain yang menjual dengan harga lebih murah, sakitnya tuh di sini. Dengan e-markets beberapa situs telah menyediakan fasilitas yang membandingkan harga-harga produk, seperti tike pesawat, hotel, dan lain sebagainya. Konsumen tinggal menilai sendiri, cari yang murah atau yang mahal tapi lebih nyaman. Selain itu, situs e-markets bisa menawarkan sesuatu selain yang dibeli, sehingga lebih banyak kemungkinan barang yang berhasil dijual. Sebenarnya ini menguntungkan konsumen juga karena tidak perlu jalan atau naik ekskalator mencari produk tertentu, kecuali memang ingin jalan-jalan.

Brands/Merk

Ini merupakan hal penting yang menunjukan kualitas suatu produk terhadap konsumen. Dari jaman dulu, konsep tentang “branding” tidak berubah. Konsumen cenderung membeli produk yang telah dikenalnya lama. Kematian suatu merk terkadang mengindikasikan kematian suatu perusahaan. Namun saat ini kualitas merk sangat-sangat tergantung dengan media online. Dua kali kecelakaan pada maskapai MAS sudah cukup menurunkan brand maskapai itu. Dan sialnya lagi, maraknya media sosial terkadang menyediakan hoax-hoax yang mengganggu brand suatu produk. Oleh karena itu tiap perusahaan sepertinya menyediakan tim yang memantau pergerakan brand di media online.

Sungguh pembahasan yang menarik. Masih banyak aspek-aspek lain yang bisa dipelajari dari aplikasi web, seperti periklanan, target marketing, customer value, real time considerations, understanding customers and business processes, experimental design for marketing, dll. Semoga tulisan ini bisa berlanjut.

Ref

Linoff, G. S., & Berry, M. J. A. (2001). Mining the Web. United States of America.