Teka-Teki Based Education

Kita mengenal teka-teki silang (TTS), entah yang benar atau versi Cak Lontong yang menjengkelkan, tetap menarik. Berbeda dengan menonton film atau mendengarkan musik, bermain teka-teki melibatkan otak yang aktif. Hampir mustahil ketika menjawab teka-teki kita tertidur, bandingkan dengan kegiatan pasif lainnya. Bahkan ketika sedang di kelas tidak jarang mahasiswa/siswa yang tertidur.

Pertanyaan

Prinsip utama belajar adalah menjawab pertanyaan. Bapaknya para nabi pun, Ibrahim, mempertanyakan Tuhan. Sempat menganggap matahari dan bulan sebagai tuhan. Walau akhirnya ditunjukan, tetap saja prinsip berfikirlah yang dijadikan makna peristiwa tersebut.

Tidak hanya konsep, pertanyaan pun dalam segala bidang termasuk skill/keterampilan. Bagaimana menulis yang baik, memrogram komputer dengan cepat, dan lain-lain adalah pertanyaan yang harus dijawab oleh peserta didik.

Kita memang biasa diberi pertanyaan, namun terkadang tidak jarang kita dihadapi situasi harus bertanya. Ketika pertama kali belajar di negeri rantau, salah satu skill penting adalah bertanya. Anehnya, waktu itu saya sulit sekali meramu pertanyaan yang efisien, di mana letak grocery, library, dan lain-lain.

Luaran

Sebagai informasi, istilah ini adalah istilah hasil dari suatu riset yang didanai, misalnya oleh pemerintah. Uang yang dibelanjakan harus menghasilkan satu karya yang disebut luaran, bisa berupa prototipe, paten, atau artikel ilmiah. Berbeda dengan proyek yang pelaporan dananya sesuai dengan belanja, tentu saja riset berbeda. Bayangkan saja misalnya Einstein yang menemukan rumus E=MC2 jika misal didanai, agak sulit mempertanggungjawabkan lewat struk belanja. Paling-paling habis untuk beli kertas, tinta, atau obat encok. Jadi jika dulu peneliti kita menghabiskan waktu risetnya untuk berfikir bukti belanja, saat ini paradigmanya dirubah menjadi luaran yang dihasilkan.

Misalnya R. Oppenheimer, selain mengajar dia juga meneliti reaksi nuklir. Luarannya? Selain artikel ilmiah lurannya juga fenomenal: bom atom Hiroshima dan Nagasaki. Serem juga ya. (hmm .. Jangan sembarangan nanya luaran ke dosen teknik ya).

Jadi salah satu cara agar tidak tertidur ketika belajar, membaca, webinar, dan aktivitas pembelajaran lainnya ya carilah pertanyaan yang harus kita jawab, minimal dari acara yang sedang diikuti. Kalau tidak, dijamin webinar selesai, semua left, tinggal Anda sendiri karena ketiduran, upsss. Hahaha .. pengalaman pribadi.

Mengatasi Font Mendeley Terlalu Kecil

Mendeley merupakan andalan mahasiswa, khususnya yang sedang mengerjakan skripsi, tesis, maupun disertasi (lihat cara memasukan plugin). Banyak masalah yang kerap muncul, tetapi sebagian besar dapat diselesaikan. Nah, untuk masalah huruf yang terlalu kecil terkadang agak menjengkelkan, seperti tampak pada gambar di bawah ini.

Pusing juga bacanya. Tidak ada setting font di Mendeley desktop. Salah satu cara adalah sebagai berikut.

  • Pertama-tama tutup dahulu Mendeley Anda.
  • Lanjutkan dengan Klik Kanan pada Icon Mendeley.
  • Pilih Properties dan lanjutkan dengan menekan tab Compatibility.
  • Tekan Change high DPI Settings hingga muncul jendela baru.
  • Checklis Override High DPI scalling Behaviour dan pilih System.

Tutup dengan terlebih dahulu menekan Apply dan OK. Buka kembali Mendeley Anda dan pastikan tampilan font membesar seperti berikut ini.

Lumayan lebih besar dan untuk yang bermasalah di mata mudah-mudahan postingan ini sedikit membantu. Berikut rincian tata cara di Youtube-nya.

Computer Vision

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) saat ini sangat cepat baik dalam metode dasar maupun penerapan di lapangan. Banyak instansi yang membutuhkan AI, dari kedokteran, pertanian, hingga pertahanan dan keamanan. Salah satu penerapannya adalah dalam Computer Vision.

Image Processing

Terkadang banyak yang bingung apa perbedaan image processing dengan computer vision. Keduanya sama-sama mengelola gambar/citra, hanya saja computer vision lebih dalam lagi, dimana sebuah model dibuat untuk mampu mengenali sebuah gambar. Sementara itu, image processing memiliki tugas pokok hanya mengolah gambar. Biasanya bekerja sebagai pre-processing sebelum masuk ke modul computer vision, misalnya merubah citra berwarna menjadi hitam putih, merubah ukuran/dimensi gambar, merotasi dan hal-hal yang mengkonversi gambar agar bermanfaat.

Walaupun terlihat sederhana tetapi penerapannya sangat penting, misalnya konvolusi yang merubah gambar besar menjadi gambar yang berukuran lebih kecil tetapi tidak merubah “ciri” dari gambar aslinya. Metode ini digunakan dalam Convolution Neural Network (CNN) bersama dengan Pooling (memperkecil ukuran/dimensi gambar) yang ternyata meningkatkan performa Neural Networks.

Pengenalan Gambar

Sebenarnya untuk mengenali gambar merupakan kemampuan yang sudah dimiliki oleh manusia. Namun jika yang harus dikenali sangat banyak, atau harus selalu “on” 24 jam, tentu saja manusia tidak sanggup. Oleh karena itu riset yang mengembangkan model seperti manusia yang mampu mengenali gambar sangat bermanfaat. Akurasinya pun saat ini kian mendekati 100%.

Selain aspek kuantitatif dalam mengenali gambar, terkadang model pengenalan gambar harus mampu mengenali gambar jauh melebihi mata manusia, misalnya dalam mendeteksi foto rontgen, sel-sel mikroskopis, dan mineral di dalam bumi. Bahkan dalam mengenali tutupan lahan, model melebihi kemampuan mata manusia mengenali foto satelit, mengingat sensor satelit, misalnya Operational Land Imager (OLI) memiliki 9 band frekuensi, dimana mata manusia hanya mampu melihat beberapa band frekuensi saja.

Surveillance System

Selain gambar statis, computer vision juga berkembang untuk mendeteksi video. Biasanya diterapkan pada CCTV keamanan. Jika ada objek mencurigakan, sistem akan memberikan warning sehingga dapat bekerja 24 jam dan selalu waspada, hal yang tidak mungkin dilakukan oleh seorang staf keamanan. Sekian semoga tertarik riset di bidang ini.

Peer Review

Jika searching di internet, peer review masih memiliki problem yang harus diselesaikan. Terlepas dari polemik itu, ada jenis jawaban yang dikenal dengan istilah trivial, yaitu jawaban sementara yang ada dan lebih baik jika tanpa ada jawaban sama sekali. Saya teringat kuliah dosen matematika saya ketika menjelaskan jawaban trivial dengan ilustrasi perang dunia di mana Jerman akan menyerang Inggris dengan rudal-rudal dan pesawat tempurnya. Inggris berhasil menemukan alat seperti radar saat ini (waktu itu masih jadul) yang mampu mendeteksi objek bergerak yang menuju Inggris. Hal ini memudahkan pertahanan mereka dan alat tersebut bisa dikatakan ‘penyelesaian masalah’. Namun suatu waktu alat tersebut mendeteksi objek yang jumlahnya banyak sekali, walaupun hal tersebut dirahasiakan namun bocor juga. Rakyat Inggris sudah pasrah waktu itu, hanya bisa berdoa karena serangan dengan jumlah sebanyak itu sangat sulit dilawan. Namun ternyata, objek yang dideteksi itu hanya sekelompok burung yang bermigrasi. Jawaban dengan alat tersebut dikatakan jawaban trivial.

Dalam dunia akademis kita mengenal artikel ilmiah yang terindeks, misalnya Scopus. Dengan perorganisasian dan kontrol kualitas yang katanya ketat, Scopus banyak dijadikan patokan artikel yang berkualitas oleh universitas-universitas di seluruh dunia. Banyak yang dijadikan syarat kelulusan, khususnya mahasiswa doktoral yang memang tugas utamanya melakukan riset. Banyak komentar-komentar yang tidak menyukai Scopus, dari istilah kapitalis yang mengambil untung dari ‘penderitaan’ periset di seluruh dunia hingga kualitas artikel-artikelnya yang diragukan. Tetapi dengan banyaknya kelemahan dan problem-problem yang ada, jika tidak menggunakan indeksasi yang bagus (misalnya Google Scholar yang bisa dimodif oleh author)s, akibatnya kualitas riset jadi diragukan. Sebenarnya ada alat kontrol lain, misalnya paten, tetapi tentu saja sangat sulit karena hanya segelintir orang saja yang bisa. Jadi banyak kampus-kampus yang terpaksa mengandalkan Scopus, WoS, dan indeks berkualitas lainnya karena lebih praktis dalam kontrol kualitas walau membutuhkan biaya tambahan yang kebanyakan ujung-ujungnya ditarik dari mahasiswa.

Problem utama dari riset ilmiah ujung-ujungnya adalah peer review, yang menjadi andalan Scopus karena menentukan kualitas artikel yang dipublikasikan. Tanpa ada peer review jangan harap jurnalnya terindeks di Scopus. Dari Youtube atau media sosial lainnya mulai bermunculan postingan yang anti peer review. Salah satu poin utama dari penolakan peer review adalah adanya ketergantungan yang amat besar dengan peer review. Jika ada ilmu-ilmu baru yang belum pernah dijumpai oleh reviewer, dengan hak-haknya menilai terkadang di-reject. Misalnya Anda ahli matematika, ketika mereview artikel Albert Einstein mengenai E=mc^2 sangat sulit menerimanya, apalagi biasanya artikel dibatasi dengan panjang naskah, padahal butuh penjelasan yang tidak mudah. Banyak definisi-definisi yang harus dipresentasikan karena ilmu yang baru. Yang mereview terkadang tidak mengetahui siapa yang menulis (blind review), ada keraguan karena ilmu baru yang si reviewer pun butuh ‘kuliah’ oleh sang penemu.

Kondisi memang sedikit rumit. Namun tanpa menggunakan peer review kontrol kualitas hanya mengandalkan ‘orang dalam’. Kalau kampus sekelas Harvard, MIT, Stanford, dan sejenisnya yang banyak riset yang didanai oleh industri mungkin tidak masalah. Kampus-kampus biasa, apalagi di Indonesia yang saat tulisan ini ditulis peringkatnya sudah mulai tertinggal jauh dari kampus-kampus Malaysia, tentu saja dipertanyakan kualitasnya. Memang ada pilihan lain, yakni external examiner, namun walau ‘eksternal’, tetap saja dipilih oleh kampus yang ujung-ujungnya dicari yang ‘mempermudah’.

Untunglah saya bukan menteri yang harus mengambil keputusan yang sangat menentukan masa depan dunia riset dan pendidikan tinggi. Agak sedikit membingungkan ketika dimerger antara riset dengan pendidikan. Mudah-mudahan riset kian berkualitas dan bukan sebaliknya hanya pendidikan yang maju tetapi riset terbengkalai. Apalagi kondisi dunia yang sedang mengalami pandemi, serta beberapa bidang sedang mengalami disrupsi. Saya yakin pemerhati di seluruh dunia sedang memikirkan hal ini, tetapi di negara kita yang masih dibilang ‘belum maju’ mau tidak mau harus mengikuti standar yang ada. Solusi trivial mungkin lebih baik dari pada tidak ada solusi.

Review Artikel Ilmiah Yuk

Reviewer merupakan pekerjaan yang gampang-gampang susah. Disebut gampang karena mungkin sudah takdirnya manusia gampang sekali mencari kesalahan. Silahkan Anda tulis beberapa paragraf dan minta orang membaca, dijamin orang lain akan memberikan respon, dari kesalahan seperti grammar atau typo hingga komentar lainnya. Nah susahnya adalah harus berfikir kritis terhadap beberapa halaman naskah ilmiah yang berisi penelitian terkini. Postingan ini sedikit memberi gambaran bagaimana seorang reviewer bekerja dan bagaimana proses menjadi reviewer.

Direview

Langkah paling mudah adalah melihat hasil review artikel yang kita tulis. Terkadang memang menyakitkan, tetapi dari situ kita tahu bagaimana mereka bekerja dan menemukan titik lemah manuskrip kita. Oleh karena itu disarankan untuk mensubmit artikel ke jurnal yang berkualitas yang ada proses reviewnya. Tentu saja biasanya jurnal internasional karena jurnal nasional sebagian besar berdasarkan permintaan atau mungkin pertemanan. Jangan putus asa ketika ditolak berkali-kali. Mungkin langkah awal dengan mensubmit ke seminar internasional.

Publish di Jurnal Internasional Bereputasi

Jurnal bereputasi biasanya minimal kuartil dua (Q2) baik open access atau tidak. Proses review memang berat, apalagi yang gratis. Namun sekali Anda publish, dijamin nama Anda sudah siap menjadi reviewer, tentu saja sebagai penulis pertama. Dari pengalaman saya ketika ada naskah yang mirip temanya dengan tulisan yang sudah publish, entah dari mana informasinya tawaran review langsung datang. Nah, sebaiknya jangan Anda tolak, apalagi alasannya tidak ada bayarannya.

Sertifikat Pertama

Tawaran review pertama saya justru dari jurnal Q1, dengan topik yang tidak jauh berbeda sehingga dengan mudah saya mereviewnya. Memang ada tawaran dari beberapa jurnal predator, biasanya bercirikan menawarkan review yang bidangnya tidak sesuai dengan saya. Ketika selesai mereview dan artikel tersebut publish, Anda akan mendapat sertifikat reviewer, misalnya Elsevier. Nah, uniknya setelah beberapa kali mereview jurnal tersebut, dan hasilnya memuaskan, pesaing akan menawarkan Anda mereview, misalnya web of science (WoS) yang merupakan pesaing Scopus. Mereka sepertinya sangat mengandalkan reviewer-reviewer untuk menjaga kualitas jurnal yang dikelolanya. Pernah Elsevier meminta saya mengisi kuesioner yang ujung-ujungnya minta dibandingkan dengan jurnal saingannya.

Memahami Persyaratan dan Proses Review

Salah satu persyaratan reviewer adalah kemampuan membaca, terutama naskah berbahasa Inggris. Jika Anda malas membaca dipastikan tidak akan optimal dalam mereview. Bisa-bisa naskah yang bagus karena hanya melihat sekilas tetapi Anda tolak. Publisher terkenal tidak akan memakai kembali reviewer yang tidak membaca, yang terlihat dari hasil reviewernya yang ala kadarnya. Nah, bagaimana kita menilai baik-buruknya hasil reviewer kita? Caranya mudah saja. Biasanya setelah ada decision di suatu manuskrip, seluruh reviewer bisa melihat hasil review reviewer lainnya. Jika tidak jauh berbeda dengan mayoritas reviewer biasanya sudah ok. Bisa dibayangkan jika tiga reviewer accepted atau mayor/minor revision, tetapi Anda menolaknya. Ditambah lagi rincian reviewnya tidak rinci. Oiya, tipikal review adalah sebagai berikut:

  • Menulis kata pembuka, misalnya tulisa ini membahas blablabla. Dilanjutkan dengan hal-hal yang harus diperbaiki dengan rincian sbb:
  • Mayor Issues, berisi hal-hal utama yang harus diperbaiki, metode, data, dan hal-hal lain yang missing
  • Minor Issues, berisi hal-hal kecil yang perlu diperbaiki, misalnya istilah-istilah yang rancu, salah-salah ketik, dan hal-hal editing lainnya.

Alur di atas minimal mayor revision. Jika Accepted atau minor revision biasanya tidak perlu dirinci mayor atau minor issues. Tentu saja boleh saja tanpa membagi menjadi mayor atau minor issue, tetapi teknik di atas sangat baik yang saya lihat ketika reviewer pertama menulis review-nya. Biasanya reviewer pertama profesor yang pakar di bidangnya.

Terakhir dan yang terpenting adalah memutuskan, apakah diterima, ditolak mayor/minor revision. Di sini sangat berat, terutama ketika me-reject. Beberapa kali saya mereject karena naskah yang tidak sesuai dengan kondisi terkini atau kondisi jurnalnya. Misal jurnal geoinformatika, kebanyakan studi area minimal di level kota/kabupaten. Jika hanya lingkup kecil biasanya tidak diterima. Atau untuk ilmu komputer, metode yang diusulkan sudah banyak ditemukan, dan hanya mereplikasi saja tanpa adanya improvement.

Memahami Manfaat Mereview

Memang dari sisi finansial mereview hampir tidak ada. Mungkin beberapa conference membayar karena memang ada deadline dimana suatu seminar sudah fix waktu pelaksanannya. Untuk jurnal di bawah naungan Scopus, mereka menggratiskan selama sebulan untuk mengakses Scopus. Sebulan karena proses review memang max sebulan. Namun terlepas dari itu, manfaat utama mereview adalah kita bisa mengikut perkembangan ilmu terkini. Ibarat kita sudah nonton film yang filmnya baru akan dipublish tahun depan. Oleh karena itu di sinilah ada satu etika dari reviewer untuk tidak membocorkan naskah bahkan proses review kepada orang lain, sehingga tidak bisa saya tampilkan di postingan ini. Mungkin salah satu manfaat psikis dari mereview adalah kita ingin juga menghasilkan tulisan yang bagus, biasanya ketika dihadapkan dengan manuskrip yang oke.

Untuk dosen sepertinya tidak ada masalah untuk menjadi seorang reviewer karena memang kesehariannya sudah dihadapkan dengan bimbingan dan menguji tugas akhir/skripsi para mahasiswa. Sadari saja ketika menguji dengan seolah-oleh menjadi reviewer, bukan algojo atau kakak kelas yang mengopspek adik-adiknya. Sekian semoga tertarik menjadi reviewer.

Reviewer Juga Ada Sertifikat Kompetensinya

Tips and Tricks for Undergraduate and Graduate Research on Machine Learning

Machine learning merupakan topik yang menjadi perhatian peneliti-peneliti ilmu komputer saat ini, terutama karena perkembangan pesat Deep Learning beserta perangkat keras pendukungnya seperti CPU, GPU, dan memory. Dari diploma hingga doktoral riset machine learning sangat menarik perhatian industri maupun pengguna. Hal ini terjadi karena salah satu karakteristik dari industri 4.0 adalah artificial intelligence, dimana machine learning termasuk di dalamnya.

Tip dan Trik Untuk Diploma dan S1

Sesuai dengan tujuan dari program diploma dan S1 yang menerapkan teori yang diperoleh dari bangku kuliah, maka riset untuk mahasiswa S1 menuntut skill dalam membuat aplikasi sederhana. Selain menerapkan ilmu yang diperoleh, mahasiswa S1 diharuskan mengikuti tren terkini teknologi yang ada agar bisa bersaing di dunia kerja. Untungnya materi sudah tersedia di internet, tinggal mahasiswa menentukan ke mana arah minatnya. Mahasiswa S1 saat ini diwajibkan memiliki sertifikat kompetensi sebagai pendamping ijazah.

flyer

Tip dan Trik Untuk Master dan Doktor

Master dan doktor merupakan kelanjutan dari jenjang sebelumnya, sering disebut dengan istilah pascasarjana (graduate atau post-graduate). Nah, sedikit berbeda dengan mahasiswa S1, mahasiswa pascasarjana tidak fokus ke pembuatan aplikasi melainkan memperbaiki metode yang ada atau menemukan metode baru yang lebih baik. Biasanya kampus mensyaratkan luaran berupa jurnal atau seminar, jika master seminar internasional, doktor jurnal internasional yang terindeks.

Problem saat ini yang muncul adalah beberapa aplikasi menyediakan library atau tools yang dikhawatirkan tidak mendidik pengguna mengetahui algoritma di dalamnya. Namun fungsi-fungsi yang tersedia dapat dilihat, misalnya Matlab dengan m-file nya, sementara Python dengan fungsi-fungsi yang ada di kelas fungsi tersebut. Oleh karena itu diperlukan pemahaman mengenai bahasa pemrograman berorientasi objek. Tantu saja ada juga yang share kode Python untuk kode tertentu. Mengapa harus mengetahui struktur kode program? Karena untuk jenjang S3 terkadang perlu memodifikasi kode baik untuk meningkatkan performa maupun hybrid dengan metode lain.

Untuk deep learning, beberapa metode yang terkenal merupakan pemenang kontes machine learning, dengan akurasi yang amat tinggi hingga mendekati 100%. Sepertinya untuk menandinginya cukup sulit bagi mahasiswa-mahasiswa kita, walaupun tidak mustahil. Namun ada baiknya fokus ke sisi lain seperti kecepatan, ringan, dan mudah dilihat strukturnya (deep learning bercirikan “black box” yang tidak dimengerti struktur di dalamnya). Machine learning sendiri memiliki banyak metode di luar deep learning dan syaraf tiruan lainnya, beberapa teknik terkini berbasis computer vision seperti haar cascade terkadang lebih cepat dan efisien. Berikut rekaman seminar kemarin.

Research Question, Tujuan, dan Kerangka Pemikiran dalam Riset

Membahas masalah penelitian, banyak sekali gaya/style menurut institusi yang menaungi penelitian tersebut, baik institusi pendidikan seperti kampus, atau pemberi dana/donor/hibah. Beragamnya gaya tersebut tidak perlu menghalangi peneliti untuk melaksanakan penelitiannya. Yang jelas, peneliti harus mengikuti arahan atau outline yang diberikan sebagai panduan. Biasanya hal ini bermaksud mempermudah reviewer atau saat sidang/seminar hasil penelitian dalam proses penilaian.

Hibah Kemenristek-BRIN

Kemenristek-BRIN mempermudah proses pembuatan dengan menyediakan template dimana point-point tertentu harus tersedia dalam proposal seperti metode, roadmap, studi pustaka, dan abstrak. Selain itu semua proses dilaksanakan dalam bentuk online.

Bentuk template yang sederhana membuat proses review lebih mudah, bahkan dari judul pun sudah dapat ditebak research question-nya. Tidak ada patokan jumlah research question dan tujuan penelitian yang ingin dicapai. Untuk jenis skema yang multi-year saja tujuan penelitian jadi penentu berapa tahun penelitian tersebut layak didanai.

Institusi Pendidikan

Untuk institusi pendidikan, antara satu kampus dengan kampus lainnya memiliki perbedaan, terutama dari template/outline-nya. Ada yang memetakan one-to-one (relasi satu-satu) antara research question dengan tujuan penelitian. Jadi satu pertanyaan berkorelasi dengan tujuan tertentu. Namun sudah menjadi kesepakatan di seluruh dunia, kesimpulan harus menjawab pertanyaan penelitian.

Terkadang manfaat penelitian harus dirinci pada proposal. Ada yang membagi manfaat dari sisi keilmuwan dan dari sisi praktisnya. Selain itu kontribusi pun harus dijelaskan. Ada yang menyarankan kontribusi di sini adalah terhadap keilmuwan, bukan ke institusi/badan atau pihak tertentu.

Beberapa kampus membagi tujuan menjadi tujuan utama (main objective) dan tujuan khusus (spesific objectives) yang lebih dari satu. Hal ini bermaksud mempermudah pengerjaan dimana problem yang besar dipecah menjadi problem-problem kecil. Jika ada empat specific objectives maka keempat tujuan itu harus dikerjakan agar bisa lulus.

Idealnya, penelitian menghasilkan sebuah novelty (khusus disertasi) yang memperkaya keilmuwan bidang yang diteliti. Biasanya dimasukan dalam tujuan atau research question. Jika research question berisi “bagaimana menemukan motode baru untuk klasifikasi xyz?” maka tujuannya “membuat metode baru untuk klasifikasi xyz / “propose a novel method to classify xyz”.

Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran masih sering digunakan di Indonesia. Biasanya dalam bentuk bagan yang berisi apa yang dilakukan untuk memunculkan research question atau hipotesis. Diawali dengan masalah, langkah standar berikutnya adalah studi literatur atau SLR baik dengan buku literatur maupun hasil penelitian terkini. Studi literatur tersebut harus diklasifikasi/dikelompokan berdasarkan metode-metode yang dihasilkan oleh riset terdahulu. Maksudnya agar langkah berikutnya, kontribusi dan novelty, bisa dibuat. Kontribusi dan novelty tersebut menghasilkan research question yang akan diselesaikan dalam penelitian yang nanti dijalankan jika proposal disetujui. Mungkin agak sedikit berbeda untuk riset qualitatif atau sosial humaniora. Sekali lagi, peneliti harus mengikuti gaya selingkung/style dimana penelitian itu bernaung. Selamat mencoba membuat usul penelitian.

 

Jurnal

Beberapa hari yang lalu pemerintah mengumumkan hasil akreditasi jurnal ilmiah Indonesia. Beberapa jurnal nampaknya sudah mengalami kemajuan baik dari sisi manajemen maupun substansi/isi. Sayangnya beberapa jurnal yang re-akreditasi (mengajukan diri untuk direview ulang) tidak dilayani karena kurangnya tim review, sementara jurnal yang harus dicek ribuan.

Masalah jurnal sepertinya sejak lama memancing kontroversi, apalagi terkait dengan Scopus yang berbayar. Banyak juga yang mempertanyakan manfaat jurnal ilmiah, mengingat dampaknya tidak terasa bagi masyarakat. Bandingkan saja dengan temuan GeNose, misalnya. Masalah ini tidak dapat dijawab hanya dengan satu sudut pandang saja, perlu memperhatikan aspek-aspek lainnya. Jurnal saja tentu saja belum cukup jika tanpa didukung oleh semangat meneliti oleh seluruh dosen dan peneliti di Indonesia. Bagaimana jika tanpa artikel ilmiah/jurnal? Sebagai ilustrasi, Scimago mendata artikel-artikel/dokumen yang ada di dunia, misalnya gambar di bawah ini (jumlah artikel Q1 tiap negara).

Lima besar jumlah dokumen didominasi oleh negara-negara maju. Bagaimana dengan Indonesia, silahkan searching saja, posisinya ada di urutan 47, dibawah Thailand, Singapura, dan Malaysia. Pihak yang menganggap enteng artikel ilmiah sepertinya perlu meneliti lebih lanjut dan tidak berfikir instan. Proses menghasilkan produk tidak secepat membuat kue atau lagu misalnya. Dibutuhkan usaha tekun, kerja sama, dan berlangsung terus-menerus. GeNose ciptaan Prof. Kuwat pun tidak serta merta mendadak dibuat. Sang penemu memang sejak lama berkonsentrasi pada penelitian tentang e-nose, yaitu teknik mengenali bau lewat instrumen, yang ternyata dapat digunakan untuk mengendus COVID-19 yang jauh lebih tajam dibanding seekor anjing dalam mengklasifikasi bau/aroma. Hal ini karena menggunakan machine learning dengan Big Data.

Kita tidak membutuhkan segelintir orang besar, melainkan bagaimana penemu dan peneliti-peneliti baru terus tumbuh dengan cara meningkatkan iklim riset yang kondusif. Prof. BJ Habibie memang sangat membantu Indonesia dengan menjadikan dirinya sumber inspirasi, tetapi kita tetap membutuhkan bibit-bibit seperti Pa Habibie, untuk melanjutkan riset-risetnya. Jangan sampai iklim yang sudah agak kondusif dilemahkan dengan jargon-jargon kapitalis, antek asing, dan sejenisnya. Memang, menghancurkan lebih mudah dari pada membangun. Sebaiknya kita menggunakan prinsip, yang baik dipertahankan dan dikembangkan, yang kurang diperbaiki. Jangan sampai untuk memperbaiki kekurangan kita melepas dan mengabaikan yang sudah baik.

Metakognisi

Banyak sumber-sumber yang menginformasikan bahwa cara cepat untuk belajar adalah dengan mengajar. Cara ini cukup ampuh dan menjadi andalan saya dan rekan-rekan dosen lainnya dalam mempelajari suatu hal dengan cepat. Entah mengapa cara ini bisa berjalan dengan baik sampai saya memperoleh informasi dari rekan saya yang mengambil doktor informatika yang berkecimpung dalam e-learning bahwa ada istilah metakognisi/metacognition. Istilah ini merupakan istilah dalam bidang pendidikan yang merujuk taksonomi Bloom yang diusulkan oleh Benjamin Bloom. Taksonomi ini membagi aspek kognisi menjadi enam, antara lain: mengingat, memahami, menerapkan, menganalis mensintesis, dan mengevaluasi. David Krathwohl mengusulkan taksonomi yang terakhir mengganti mengevaluasi menjadi mencipta.

Mengingat

Ini merupakan skill belajar yang pertama kali dikuasai oleh manusia, sejak jaman nabi Adam. Kemampuan mengingat konon kabarnya dikagumi oleh malaikat dan makhluk-makhluk lainnya. Di Tiongkok, ‘mengingat’ menjadi skill andalan oleh pelajar-pelajar sastra jaman kerajaan dulu. Dalam agama Islam, beberapa tempat pendidikan menjadikan menghafal merupakan skill dasar yang wajib, terutama ketika menghafal Al-Quran dalam rangka menciptakan hafidz/penghafal Alquran.

Di era industri 4.0 dimana bigdata dan informasi banyak berseliweran, diperlukan bukan hanya kemampuan menghafal melainkan juga cara berfikir logis, kritis, dan aspek-aspek metode ilmiah lainnya. Negara-negara maju kebanyakan mengasah skill lainnya, walaupun tentu saja ‘mengingat’ tetap aspek penting yang memang dibutuhkan oleh semua bidang.

Memahami

Bayangkan sebuah rumus, misalnya E=MC^2. Untuk mengingatnya sangat mudah, namun untuk memahaminya perlu usaha ekstra, baik lewat membaca literatur pendukung, video di Youtube, atau minta teman yang memahami untuk menjelaskannya. Skill memahami sangat penting sebagai dasar untuk skill lainnya. Tentu saja kita bisa menghafal sesuatu tanpa perlu memahami maksud apa yang dihafal, mirip burung beo atau kakak tua.

Untuk memahami tidak serta merta dan otomatis muncul, apalagi bagi pelajar atau anak-anak. Seseorang yang tidak tertarik sudah dipastikan tidak akan muncul keinginan memahaminya. Jika mahasiswa mengikuti perkuliahan karena terpaksa, mereka tidak memiliki keinginan untuk memahami materi yang diajarkan. Mirip kasus webinar saat ini yang banyak beredar. Memang diawal-awal orang-orang antusias mengikuti webinar, tetapi lama kelamaan orang akan jenuh dan hanya mengikuti webinar yang mereka butuhkan saja (kecuali kalo memang ingin memperoleh e-sertifikat saja).

Bagi dosen, beruntunglah karena ada tuntutan mengajar, mau tidak mau harus memahami suatu topik. Di sinilah mengapa belajar yang efisien adalah dengan mengajar, maksudnya karena harus mengajar maka dituntut harus memehama yang kita pelajari, buku yang kita baca, dan lain-lain.

Menerapkan

Bisa memahami ternyata belum lengkap jika kurang mampu menerapkan. Hal ini mengingat dunia industri membutuhkan skill terapan dalam mendukung aspek bisnisnya. Di sinilah pentingnya praktek bagi mahasiswa terhadap hal-hal yang dipahaminya. Skill memahami memang sudah bisa untuk mengajar, bahkan dalam Islam diminta menyampaikan walau satu ayat. Namun jika hanya bisa memahami saja dikhawatirkan disebut hanya omong doang saja.

Nadiem, menteri pendidikan dan kebudayaan, memahami hal tersebut maka dimunculkanlah program merdeka belajar yang mengintegrasikan pendidikan di kampus dengan praktek kerja di industri. Harapannya siswa memiliki keterampilan kerja, dengan kata lain mampu menerapkan teori yang dipahaminya.

Menganalisis

Sampai dengan skill menerapkan mungkin bisa dikuasai oleh seseorang yang kurang kritis. Jangan heran banyak praktisi-praktisi terampil bisa juga tersandung hoaks karena kurangnya sikap kritis. Lihat saja korban-korbannya, kebanyakan para praktisi akibat tersandung UU ITE.

Skill menganalisis booming di jaman renaisance di Eropa dengan munculnya ilmuwan-ilmuwan tangguh seperti Isaac Newton, Descrates, Galileo, dan kawan-kawan. Menganalisis perlu usaha ekstra, tidak hanya memahami satu hal saja. Terkadang membutuhkan bidang-bidang lain, seperti statistik dan matematika sebagai “pisau bedah” terhadap topik yang akan dianalisa.

Mensitensis

Analisis dan Sintesis biasanya jalan beriringan mengingat ada tuntutan novelty terhadap satu topik tertentu. Novelti, atau kebaruan merupakan sintesa dari hasil analisa topik-topik beragam yang biasanya bermanfaat menyelesaikan problem tertentu. Kemampuan ini mutlak diperlukan oleh mahasiswa-mahasiswa doktoral dalam menyusun disertasi dan mempublikasikan artikelnya di jurnal internasional.

Baik analisis dan sintesis tidak hanya untuk dosen dan peneliti saja. Dalam dunia industri atau pekerjaan di manapun skill ini sangat diperlukan dalam rangka meningkatkan daya saing industri tersebut. Era disrupsi memaksa industri harus mampu berfikir cepat, efisien, dan fokus ke pelayanan. Pelayanan yang baik mutlak memerlukan analisa baik lewat survey maupun menerapkan metode-metode terkini untuk menggantikan metode lama yang usang dan kurang efisien.

Mengevaluasi/Mencipta

Skill ini merupakan skill yang sangat diperlukan oleh masyarakat. Inovator-inovator banyak bermunculan di negara-negara maju karena dengan temuannya mampu meningkatkan daya saing dengan negara lain yang hanya bisa menggunakan hasil temuannya. Singapura yang memiliki kemampuan dagang dan bisnis yang mumpuni pun tetap berusaha fokus ke penelitian dengan meningkatnya kualitas kampus-kampusnya.

Untuk menciptakan hal-hal besar selevel penghargaan nobel memang sulit. Namun bisa saja kita menciptakan hal-hal kecil yang bermanfaat. Di Indonesia misalnya ketika kondisi COVID-19 ITB menciptakan alat ventilator sendiri dengan kualitas yang baik dan siap diproduksi, sementara itu UGM menciptakan alat tes COVID-19 bernama Ge-Nose yang murah, mudah, dan akurat. Yuk, tingkatkan metakognisi kita.

Update Publon dan Garuda di Sinta

Selama ini Sinta mengandalkan Scopus dan Google Scholar untuk perhitungan kinerja dosen dan kampus. Pro kontra bermunculan karena kekhawatiran akan ketergantungan kepada Scopus, pengindeks terkenal yang memang berbiaya mahal untuk berlangganannya. Sementara itu, Google Scholar yang gratis masih menuai kritik akan verifikasinya yang hanya berbasis pemakai. Jadi bisa saja kinerja Google Scholar dimanipulasi oleh pengguna.

Nah, kini Sinta terus berbenah dan mulai memasukan Publon yang merupakan situs pengindek pesaing Scopus, yaitu Web of Science (WoS). Di sini WoS mulai menggratiskan pengguna khusus untuk pendaftaran dan manajemen akun saja. Publon juga mengindeks bukan hanya yang terindeks di WoS yang memang sulit tembusnya, namun juga bisa mengimpor publikasi kita yang ada di Scopus.

Walau terimpor ke publons, paper-paper yang terindeks Scopus tetap dibedakan oleh publons. Jadi di paper tersebut ada informasi apakah terindeks WoS atau Scopus saja. Biasanya yang terindeks WoS terindeks pula di Scopus (1), namun sebaliknya beberapa paper saya di Scopus tidak terindeks WoS (2). Oke, berikut langkah-langkah update Publon di Sinta.

Pertama Anda harus login terlebih dahulu ke Sinta dan masuk ke Update Profile. Silahkan baca post ini jika Anda belum terdaftar di Sinta.

Tampak Publon ID masih kosong, sementara Garuda ID sudah terisi (silahkan isi jika masih kosong dengan masuk ke situs garuda: http://garuda.ristekbrin.go.id/). Nah di sinilah Anda harus meletakan ID Publon Anda. Silahkan baca https://rahmadya.com/2019/06/02/indeks-web-of-science/ jika ingin lebih jauh mengetahui tentang Publons yang dahulu namanya ResearcherID. Secara langsung Publon tidak menginformasikan ID di situsnya karena memang ID mengambil dari Researcher ID, namun di alamat link dapat dilihat.

Copy dan Paste saja di kolom Publon ID Sinta Anda, cukup mudah. Langkah terakhir dan terpenting adalah sinkronisasi dengan publons agar data yang terindeks mereka (WoS) dapat terambil ke Sinta. Tekan WoS Document di bagian atas (1) lalu tekan Request Sync WoS untuk sinkronisasi. Jika sudah, tampak tulisan “WOS Syncronization in Queue” yang artinya sedang dalam proses (tidak langsung tersinkronisasi).

Proses Sinkronisasi tidak lama, kasus saya hanya sehari (atau mungkin lebih cepat lagi, karena saya mengeceknya sehari kemudian). Jika sudah tersinkronisasi maka muncul artikel-artikel kita yang terindeks Web of Science.

Demikian juga silahkan lakukan hal yang sama untuk Garuda Document yang jika disinkronisasi biasanya banyak artikel kita yang sudah terpublish di jurnal-jurnal nasional baik terakreditasi atau tidak, asalkan memiliki OJS. Untuk lebih jelasnya lihat video singkat berikut ini.

Mengetahui Kekuatan Kita

Mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sangat sulit karena menyangkut sesuatu yang sulit diukur. Namun demikian tetap harus diketahui karena terkait dengan tujuan jangka panjang. Bagi peneliti adalah roadmap penelitian, atau bagi mahasiswa berupa proposal penelitian yang akan disusun. Postingan kali ini sedikit berbagi apa saja yang harus diperhatikan dalam memahami kekuatan kita.

Meningkatkan Kekuatan vs Mengurangi Kelemahan

Namanya manusia pasti ada kelebihan dan kekurangan. Untuk pelajar yang masih fresh, baik meningkatkan kekuatan dan mengurangi kelemahan dua-duanya penting dan menjadi fokus utama, walau ketika beranjak dewasa terkadang di negara maju sudah mulai fokus meningkatkan bakat yang ada, apakah sepak bola, tenis, peneliti atau penyanyi, pelukis dan spesialis-spesialis lainnya. Nah, untuk dosen-dosen seusia saya jika fokus mengurangi kelemahan, dikhawatirkan tidak ada waktu tersisa untuk meningkatkan kekuatan yang dimiliki.

Dalam suatu organisasi, misalnya kampus terkadang pimpinan tidak mampu mengumpulkan pundi-pundi kekuatan dari SDM yang ada. Bahkan dalam perputaran organisasi, para staf cenderung melihat kelemahan yang memang mudah dilihat, sementara kelebihan-kelebihan kurang di-ekspos. Saling menjatuhkan, intrik-intrik politik dalam satu organisasi terkadang lupa bahwa seharusnyalah bersaing dengan organisasi lain yang terus berbenah, apalagi di era disrupsi dan pandemi COVID-19. Hal ini terkadang lumrah dijumpai, kita cenderung kurang menghargai prestasi bangsa sendiri, terlepas dari sukses atau gagal. Di Jepang, pesumo walaupun kalah tetap dihormati dan mendapat bayaran yang tinggi. Untuk yang dekat dengan Indonesia, misalnya Thailand dan Malaysia, mereka sangat menghormati atlit-atlit yang membela bangsanya. Tampak yel-yel “don’t be sad, its ok” bergemuruh dari suporternya ketika Malaysia kalah di final memanah dengan Indonesia. Atlit-atlit Thailand, misalnya, disambut di bandara oleh para penggemarnya menang atau kalah. Untungnya saat ini negara kita mulai menghargai atlit-atlitnya yang berprestasi.

Jebakan “Iklan”

Iklan di sini maksudnya hal-hal yang menarik perhatian saat ini. Misalnya, ketika tren “machine learning”, semua pada fokus ke machine learning, tidak perduli cocok atau tidak, perlu atau tidak. Bahkan ada anekdot yang ditujukan orang yang baru belajar machine learning yang nyinyir dengan rekannya yang belajar statistik atau matematika.

Saya teringat rekan saya yang jago di satu bidang, tetapi karena godaan bidang lain akhirnya meninggalkan bidang yang dikuasainya dan beralih ke bidang baru yang lebih diminati walau dari nol lagi. Hal ini terkadang wajar, dan mirip “jebakan batman”. Ibarat anak yang sudah jago satu hal, terkadang jika tidak ada lawan sebanding akan bosan juga. Merasa keahliannya yang sebenarnya sudah tinggi, dianggap olehnya biasa-biasa saja, sehingga bosan dan berusaha mencari bidang lain yang menurutnya lebih menarik. Bayangkan, misalnya Anda menguasai Java, jika orang lain sanggup menyelesaikan satu problem dalam satu minggu, Anda sanggup mengerjakannya beberapa jam saja, maka itulah kekuatan Anda yang sebenarnya. Tapi karena bosan Anda beralih misalnya ke Python, dan Anda mengerjakan satu problem selama satu minggu, padahal orang-orang bisa dalam beberapa jam saja. Anda tidak akan dilirik orang.

Terlalu Asyik Mengerjakan Rutinitas

Beberapa rekan saya, karena asyik menjalankan rutinitas jadi kurang meningkatkan kekuatannya. Dalam satu seminar internasional, saya kebetulan satu meja makan dengan mereka. Kebetulan mereka ibu-ibu yang saya faham banyak kegiatan rumah tangga yang menyita. Saya dengan jujur berkata bahwa kalian sadar atau tidak kalau kualitas di atas rekan-rekan lain yang baru. Mereka malah tersenyum, dan mengatakan kalau saya hanya memuji. Saya malah balas berkata bahwa apa untungnya bagi saya mengatakan demikian. Eh, tidak lama kemudian mereka terkejut ketika namanya disebutkan di forum sebagai salah satu “best paper”.

Nah, bagaimana dengan kelemahan? Tentu saja harus diatasi dan dikurangi, terutama yang mengganggu jalannya kinerja. Namun jika susah, ya fokus saja ke kelebihan/kekuatan. Tidak mungkin memaksa menjadi penulis buku jika lambat mengetik, atau menjadi motivator tetapi sulit pidato. Mungkin cocok di laboratorium, atau selalu menang hibah. Kolaborasi saat ini menjadi satu keharusan. Satu kelemahan bisa diisi oleh kelebihan rekan kita. Dalam pembukaan rakornas asosiasi perguruan tinggi infokom (APTIKOM), ketua aptikom menganjurkan kita fokus ke kekuatan yang ada di kita sekarang daripada menunggu yang tidak/belum ada. Yuk, kita mulai fokus ke kekuatan kita dan berkolaborasi.

Konversi MS Word ke PDF Mengikuti Format IEEE dengan PDF Express

Institute of Electrical and Electronic Engineering (IEEE) memiliki format/style tersendiri. Format ini sudah ada dalam aplikasi sitasi, misalnya Mendeley. IEEE juga menyediakan fasilitas konversi dari MS Word ke PDF standar IEEE lewat situs https://www.pdf-express.org/.

Login

Untuk mendaftar, klik “New Users – Click Here”. Jika sudah punya akun silahkan login ke converter pdf resmi IEEE tersebut.

Unggah Berkas

Masukan Conference ID, Email Address, dan Password yang sudah Anda daftarkan. Silahkan tekan Forgot your password? Ketika Anda lupa. Karena dipakai ketika seminar IEEE saja, biasanya pengguna lupa dengan passwordnya. Selanjutnya tekan Create New Title untuk memulai konversi naskah paper IEEE. Masukan Judul paper sebelum proses unggah berkas MS Word-nya.

Setelah muncul informasi file yang diupload lanjutkan dengan menekan Continue untuk melanjutkan proses konversi. Ada tiga status yang mungkin terjadi: 1) Manual Conversion, 2) Error, dan 3) Upload Incomplete.

 

Perbaiki jika ada Error dan tunggu beberapa saat sampai Anda menerima email hasil dari konversi. Biasanya error jika di dalam naskah ada format Font yang berbeda dengan format standar IEEE.

Menerima Hasil

PDF bekerja lewat mekanisme email. Jadi hasil konversi akan dikirim lewat email.

Selamat, Anda sudah berhasil mengkonversi MS Word ke PDF yang sesuai dengan format IEEE. Naskah tinggal diunduh. Sekian, semoga bermanfaat.

 

Instal Mendeley Desktop di Mac

Mendeley merupakan citation tool yang paling diminati oleh peneliti. Selain gratis, aplikasi ini mudah dan praktis digunakan. Kombinasi antara mendeley online (www.mendeley.com) dan desktop menyebabkan fleksibel digunakan, bahkan ketika menggunakan lebih dari satu device. Karena postingan yang lalu sudah dibahas instal Mendeley di Windows, kali ini akan dibahas bagaimana instal Mendeley di Mac.

Registrasi Mendeley

Mendeley mengharuskan pengguna memiliki akun. Siapkan akun email untuk login ke Mendeley. Tidak harus email resmi, email gratisan pun bisa digunakan. Lewati langkah ini jika Anda sudah punya akun Mendeley. Untuk registrasi, tekan saja menu “Create Account” di pojok kanan atas. Isi email disertai dengan nama dan password Mendeley.

Setelah itu buka email dan tekan Confirm yang terdapat pada isi email yang dikirim Mendeley. Tidak sampai satu menit Anda berhasil registrasi Mendeley.

Mengunduh Mendeley

Mendeley akan otomatis memberikan tombol unduh mengikuti sistem operasi Anda. Jika Anda pengguna Mac dengan IoS-nya, maka situs download Mendeley akan memberikan kode sumber berbasis Mac.

Tekan bar berwarna merah untuk mengunduhnya. Tunggu beberapa saat hingga proses pengunduhan selesai. Tekan Open di file yang sudah diunduh untuk melakukan proses instalasi.

Instal Mendeley

Drag simbol Mendeley ke arah Applications untuk mempersiapkan Mendeley. Selesai sudah proses instalasi, Anda tinggal menjalankan Mendeley yang baru saja diinstal.

Masukan akun yang baru saja Anda buat (register).

Login dan Instal Plug-In untuk MS Word

Jangan lupa untuk menginstal Plug-in Mendeley agar bisa terkoneksi dengan Microsoft Word.

Jika sudah, Anda bisa menggunakan Mendeley untuk mengorganisir sitasi di naskah Artikel Anda. Untuk memastikan Plugin berjalan dengan baik, buka MS Word dan pastikan di menu Reference ada fasilitas lengkap Mendeley. Selamat Mencoba.

Memantau Kinerja Dosen Lewat Asesor Serdos

Tak terasa sudah lebih dari setahun menjadi asesor sertifikasi dosen sejak pertama kali diajukan oleh universitas (lihat syarat-syarat menjadi asesor pada postingan yang lalu). Banyaknya asesor yang pensiun menuntut penambahan jumlah asesor serdos. Asesor serdos sangat diperlukan guna mengontrol validitas aliran tunjangan serdos. Praktiknya, antara satu LLDIKTI dengan LLDIKTI wilayah lainnya berbeda. Misalnya, LLDIKTI 4 sudah menggunakan konsep online, yang ternyata sangat cocok untuk kondisi pandemi seperti saat ini. LLDIKTI 3 baru memulai online, namun seperti halnya LLDIKTI 4 dahulu ketika memulai online, pasti banyak kendala-kendala yang dihadapi.

BKD Online LLDIKTI 4

LLDIKTI 4 sangat baik dalam menerapkan BKD dan LKD online (https://bkd.lldikti4.or.id/). Sangat baik di sini mampu menjabarkan alur sistem informasinya yang terdiri dari:

  • Dosen mengajukan kontrak BKD, validasi oleh kepala departemen
  • Dosen membuat laporan BKD, validasi oleh dua asesor serdos

Di sini terlibat tiga akun, yaitu akun dosen yang sudah serdos, akun asesor, dan akun kepala depertemen (ketua jurusan atau dekan). Selain itu kontrak BKD untuk semester yang akan dijalani, ketika semester berakhir secara otomatis menjadi laporan BKD dengan sedikit editing ketika ada perbedaan antara rencana (kontrak) dengan implementasinya.

BKD online tidak memerlukan tanda-tangan langsung oleh baik asesor maupun kepala departemen. Persetujuan tinggal meng-klik “approve” saja. Dan yang menurut saya cukup membantu adalah, asesor dapat melihat bukti kinerja yang diunggah oleh dosen yang mengajukan. Sangat efisien dan tidak terkendala dengan jarak dan waktu. Hanya saja di sini, LLDIKTI 4 menyarankan untuk asesor mengenal langsung dosen yang diasesori, dan menggunakan aplikasi tersebut untuk mempermudah saja.

BKD Online LLDIKTI 3

Karena berdekatan dengan LLDIKTI 3 maka beberapa dosen dari LLDIKTI 3 menunjuk asesor dari LLDIKTI 4. Nah, di sini ada sedikit perbedaan yang mencolok, terutama mengenai proses persetujuan. Di LLDIKTI 3 yang selama ini menggunakan aplikasi berbasis MS Access, kini diganti dengan online (https://bkd-lldikti3.kemdikbud.go.id/).

Beberapa kendala masih ada, seperti data yang diinput tidak tercetak. Mungkin di versi berikutnya akan diperbaiki seperti yang terjadi pada LLDIKTI 4 yang terus memperbaiki. LLDIKTI 3 prosesnya lebih sederhana:

  • Dosen mengisi laporan BKD dan memilih asesor yang ada di daftar
  • Dosen mencetak laporan BKD dan meminta tanda-tangan asesor yang dipilih
  • Dosen mengupload scan laporan BKD yang sudah dibubuhi tanda tangan

Seperti biasa, sebuah materai 6000 diperlukan pada kolom tanda tangan dosen yang mengajukan laporan BKD, berbeda dengan LLDIKTI 4 yang tidak memerlukan materai. Proses persetujuan tampak masih manual, dengan tanda tangan, sebelum diunggah. Namun ada satu keunggulan dibanding menggunakan MS Access yaitu karakteristiknya yang terintegrasi. Ketika ada asesor baru, bagian BKD online tinggal menambahkan asesor tersebut dalam list dan tidak perlu men-share MS Access yang berakibat ada kemungkinan ketidakseragaman karena dosen masih menggunakan versi yang lama.

Melihat Kinerja Dosen via BKD Online

Menjadi asesor mau tidak mau membaca berkas laporan kinerja. Dari situ bisa menilai kinerja-kinerja dosen yang ada, apakah serius atau hanya sekedar menjalankan kewajiban agar tunjangan serdos cair. Terkadang saya kagum dengan dosen yang dalam diam dan santainya ternyata memiliki output dan outcome yang di atas rata-rata. Nah, untuk dosen yang pasif ada baiknya kepala departemen mengecek kontrak BKD dosen di bawah departemennya apakah sudah baik atau sekedar “gugur tugas” saja. Terkadang kagum juga dengan mereka yang bisa mempublikasikan ke jurnal-jurnal yang berkualitas, terlihat dari laporan kinerja (LKD). Bahkan tidak jarang saya ikut membaca karena dapat dilihat dari berkas-berkas yang diunggah.

Jadi Pembicara Sekaligus Reuni

Beberapa minggu yang lalu, kampus tempat saya mengambil pascasarjana mengundang saya menjadi pembicara mengenai tips untuk studi lanjut agar lancar dan hari ini jam 09.00 – 12.00 WIB acara berlangsung. Acara tersebut cukup bermanfaat terutama bagi rekan-rekan yang sedang studi lanjut, khususnya pascasarjana. Hadir pula tamu khusus bapak Dr. Sunu Wibirama, M.Eng yang memang sering membahas bagaimana melakukan riset dan menulis jurnal yang baik. Satu lagi yang hadir adalah rekan kuliah saya yang dulu, Taqwa Hariguna, PhD yang membicarakan aspek non-kognitif yang dapat membantu kelancaran studi lanjut. Berikut ini kira-kira ringkasan yang dibahas oleh para narasumber.

Mas Sunu

Satu hal penting yang dibahas oleh mas Sunu adalah apa saja tips yang harus dilaksanakan agar studi lanjut berjalan dengan baik, dari penjadwalan hingga bagaimana mengatur ponsel kita agar tidak mengganggu aktivitas riset/penelitian. Sebelumnya dibahas pula tipe-tipe fokus pada riset dari improvement metode, penerapan untuk memecahkan masalah, dan aspek-aspek lainnya. Yang penting adalah ada hal-hal baru yang berkontribusi terhadap ilmu pengetahuan.

Rahmadya

Saya membahas aspek-aspek non-teknis, terutama bagaimana tetap fokus dan termotivasi selama kuliah, dari evaluasi diri dalam menentukan konsentrasi, menemukan sosok figur lewat asistensi, proyek, seminar, dan aktivitas keilmuan lain, juga dibahas apa saja yang dipersiapkan jika ingin lanjut ke studi doktoral.

Pa Taqwa

Rekan seangkatan saya di S2 ini banyak membahas bagaimana agar lolos ketika apply studi lanjut, termasuk memperoleh beasiswa yang tidak hanya uang kuliah dan uang hidup, yaitu bantuan disertasi dari LPDP. Dijelaskan juga bagaimana caranya agar lulus cepat (kurang dari 3 tahun).

Sesi tanya jawab tak kalah menarik, terutama pertanyaan-pertanyaan mengenai multi disiplin dan mahasiswa yang berasal dari non-komputer dalam risetnya. Link youtube berikut ini mungkin bisa dilihat jika ada waktu luang. Sekian, semoga bisa menginspirasi.