Research Question, Tujuan, dan Kerangka Pemikiran dalam Riset

Membahas masalah penelitian, banyak sekali gaya/style menurut institusi yang menaungi penelitian tersebut, baik institusi pendidikan seperti kampus, atau pemberi dana/donor/hibah. Beragamnya gaya tersebut tidak perlu menghalangi peneliti untuk melaksanakan penelitiannya. Yang jelas, peneliti harus mengikuti arahan atau outline yang diberikan sebagai panduan. Biasanya hal ini bermaksud mempermudah reviewer atau saat sidang/seminar hasil penelitian dalam proses penilaian.

Hibah Kemenristek-BRIN

Kemenristek-BRIN mempermudah proses pembuatan dengan menyediakan template dimana point-point tertentu harus tersedia dalam proposal seperti metode, roadmap, studi pustaka, dan abstrak. Selain itu semua proses dilaksanakan dalam bentuk online.

Bentuk template yang sederhana membuat proses review lebih mudah, bahkan dari judul pun sudah dapat ditebak research question-nya. Tidak ada patokan jumlah research question dan tujuan penelitian yang ingin dicapai. Untuk jenis skema yang multi-year saja tujuan penelitian jadi penentu berapa tahun penelitian tersebut layak didanai.

Institusi Pendidikan

Untuk institusi pendidikan, antara satu kampus dengan kampus lainnya memiliki perbedaan, terutama dari template/outline-nya. Ada yang memetakan one-to-one (relasi satu-satu) antara research question dengan tujuan penelitian. Jadi satu pertanyaan berkorelasi dengan tujuan tertentu. Namun sudah menjadi kesepakatan di seluruh dunia, kesimpulan harus menjawab pertanyaan penelitian.

Terkadang manfaat penelitian harus dirinci pada proposal. Ada yang membagi manfaat dari sisi keilmuwan dan dari sisi praktisnya. Selain itu kontribusi pun harus dijelaskan. Ada yang menyarankan kontribusi di sini adalah terhadap keilmuwan, bukan ke institusi/badan atau pihak tertentu.

Beberapa kampus membagi tujuan menjadi tujuan utama (main objective) dan tujuan khusus (spesific objectives) yang lebih dari satu. Hal ini bermaksud mempermudah pengerjaan dimana problem yang besar dipecah menjadi problem-problem kecil. Jika ada empat specific objectives maka keempat tujuan itu harus dikerjakan agar bisa lulus.

Idealnya, penelitian menghasilkan sebuah novelty (khusus disertasi) yang memperkaya keilmuwan bidang yang diteliti. Biasanya dimasukan dalam tujuan atau research question. Jika research question berisi “bagaimana menemukan motode baru untuk klasifikasi xyz?” maka tujuannya “membuat metode baru untuk klasifikasi xyz / “propose a novel method to classify xyz”.

Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran masih sering digunakan di Indonesia. Biasanya dalam bentuk bagan yang berisi apa yang dilakukan untuk memunculkan research question atau hipotesis. Diawali dengan masalah, langkah standar berikutnya adalah studi literatur atau SLR baik dengan buku literatur maupun hasil penelitian terkini. Studi literatur tersebut harus diklasifikasi/dikelompokan berdasarkan metode-metode yang dihasilkan oleh riset terdahulu. Maksudnya agar langkah berikutnya, kontribusi dan novelty, bisa dibuat. Kontribusi dan novelty tersebut menghasilkan research question yang akan diselesaikan dalam penelitian yang nanti dijalankan jika proposal disetujui. Mungkin agak sedikit berbeda untuk riset qualitatif atau sosial humaniora. Sekali lagi, peneliti harus mengikuti gaya selingkung/style dimana penelitian itu bernaung. Selamat mencoba membuat usul penelitian.

 

Jurnal

Beberapa hari yang lalu pemerintah mengumumkan hasil akreditasi jurnal ilmiah Indonesia. Beberapa jurnal nampaknya sudah mengalami kemajuan baik dari sisi manajemen maupun substansi/isi. Sayangnya beberapa jurnal yang re-akreditasi (mengajukan diri untuk direview ulang) tidak dilayani karena kurangnya tim review, sementara jurnal yang harus dicek ribuan.

Masalah jurnal sepertinya sejak lama memancing kontroversi, apalagi terkait dengan Scopus yang berbayar. Banyak juga yang mempertanyakan manfaat jurnal ilmiah, mengingat dampaknya tidak terasa bagi masyarakat. Bandingkan saja dengan temuan GeNose, misalnya. Masalah ini tidak dapat dijawab hanya dengan satu sudut pandang saja, perlu memperhatikan aspek-aspek lainnya. Jurnal saja tentu saja belum cukup jika tanpa didukung oleh semangat meneliti oleh seluruh dosen dan peneliti di Indonesia. Bagaimana jika tanpa artikel ilmiah/jurnal? Sebagai ilustrasi, Scimago mendata artikel-artikel/dokumen yang ada di dunia, misalnya gambar di bawah ini (jumlah artikel Q1 tiap negara).

Lima besar jumlah dokumen didominasi oleh negara-negara maju. Bagaimana dengan Indonesia, silahkan searching saja, posisinya ada di urutan 47, dibawah Thailand, Singapura, dan Malaysia. Pihak yang menganggap enteng artikel ilmiah sepertinya perlu meneliti lebih lanjut dan tidak berfikir instan. Proses menghasilkan produk tidak secepat membuat kue atau lagu misalnya. Dibutuhkan usaha tekun, kerja sama, dan berlangsung terus-menerus. GeNose ciptaan Prof. Kuwat pun tidak serta merta mendadak dibuat. Sang penemu memang sejak lama berkonsentrasi pada penelitian tentang e-nose, yaitu teknik mengenali bau lewat instrumen, yang ternyata dapat digunakan untuk mengendus COVID-19 yang jauh lebih tajam dibanding seekor anjing dalam mengklasifikasi bau/aroma. Hal ini karena menggunakan machine learning dengan Big Data.

Kita tidak membutuhkan segelintir orang besar, melainkan bagaimana penemu dan peneliti-peneliti baru terus tumbuh dengan cara meningkatkan iklim riset yang kondusif. Prof. BJ Habibie memang sangat membantu Indonesia dengan menjadikan dirinya sumber inspirasi, tetapi kita tetap membutuhkan bibit-bibit seperti Pa Habibie, untuk melanjutkan riset-risetnya. Jangan sampai iklim yang sudah agak kondusif dilemahkan dengan jargon-jargon kapitalis, antek asing, dan sejenisnya. Memang, menghancurkan lebih mudah dari pada membangun. Sebaiknya kita menggunakan prinsip, yang baik dipertahankan dan dikembangkan, yang kurang diperbaiki. Jangan sampai untuk memperbaiki kekurangan kita melepas dan mengabaikan yang sudah baik.

Metakognisi

Banyak sumber-sumber yang menginformasikan bahwa cara cepat untuk belajar adalah dengan mengajar. Cara ini cukup ampuh dan menjadi andalan saya dan rekan-rekan dosen lainnya dalam mempelajari suatu hal dengan cepat. Entah mengapa cara ini bisa berjalan dengan baik sampai saya memperoleh informasi dari rekan saya yang mengambil doktor informatika yang berkecimpung dalam e-learning bahwa ada istilah metakognisi/metacognition. Istilah ini merupakan istilah dalam bidang pendidikan yang merujuk taksonomi Bloom yang diusulkan oleh Benjamin Bloom. Taksonomi ini membagi aspek kognisi menjadi enam, antara lain: mengingat, memahami, menerapkan, menganalis mensintesis, dan mengevaluasi. David Krathwohl mengusulkan taksonomi yang terakhir mengganti mengevaluasi menjadi mencipta.

Mengingat

Ini merupakan skill belajar yang pertama kali dikuasai oleh manusia, sejak jaman nabi Adam. Kemampuan mengingat konon kabarnya dikagumi oleh malaikat dan makhluk-makhluk lainnya. Di Tiongkok, ‘mengingat’ menjadi skill andalan oleh pelajar-pelajar sastra jaman kerajaan dulu. Dalam agama Islam, beberapa tempat pendidikan menjadikan menghafal merupakan skill dasar yang wajib, terutama ketika menghafal Al-Quran dalam rangka menciptakan hafidz/penghafal Alquran.

Di era industri 4.0 dimana bigdata dan informasi banyak berseliweran, diperlukan bukan hanya kemampuan menghafal melainkan juga cara berfikir logis, kritis, dan aspek-aspek metode ilmiah lainnya. Negara-negara maju kebanyakan mengasah skill lainnya, walaupun tentu saja ‘mengingat’ tetap aspek penting yang memang dibutuhkan oleh semua bidang.

Memahami

Bayangkan sebuah rumus, misalnya E=MC^2. Untuk mengingatnya sangat mudah, namun untuk memahaminya perlu usaha ekstra, baik lewat membaca literatur pendukung, video di Youtube, atau minta teman yang memahami untuk menjelaskannya. Skill memahami sangat penting sebagai dasar untuk skill lainnya. Tentu saja kita bisa menghafal sesuatu tanpa perlu memahami maksud apa yang dihafal, mirip burung beo atau kakak tua.

Untuk memahami tidak serta merta dan otomatis muncul, apalagi bagi pelajar atau anak-anak. Seseorang yang tidak tertarik sudah dipastikan tidak akan muncul keinginan memahaminya. Jika mahasiswa mengikuti perkuliahan karena terpaksa, mereka tidak memiliki keinginan untuk memahami materi yang diajarkan. Mirip kasus webinar saat ini yang banyak beredar. Memang diawal-awal orang-orang antusias mengikuti webinar, tetapi lama kelamaan orang akan jenuh dan hanya mengikuti webinar yang mereka butuhkan saja (kecuali kalo memang ingin memperoleh e-sertifikat saja).

Bagi dosen, beruntunglah karena ada tuntutan mengajar, mau tidak mau harus memahami suatu topik. Di sinilah mengapa belajar yang efisien adalah dengan mengajar, maksudnya karena harus mengajar maka dituntut harus memehama yang kita pelajari, buku yang kita baca, dan lain-lain.

Menerapkan

Bisa memahami ternyata belum lengkap jika kurang mampu menerapkan. Hal ini mengingat dunia industri membutuhkan skill terapan dalam mendukung aspek bisnisnya. Di sinilah pentingnya praktek bagi mahasiswa terhadap hal-hal yang dipahaminya. Skill memahami memang sudah bisa untuk mengajar, bahkan dalam Islam diminta menyampaikan walau satu ayat. Namun jika hanya bisa memahami saja dikhawatirkan disebut hanya omong doang saja.

Nadiem, menteri pendidikan dan kebudayaan, memahami hal tersebut maka dimunculkanlah program merdeka belajar yang mengintegrasikan pendidikan di kampus dengan praktek kerja di industri. Harapannya siswa memiliki keterampilan kerja, dengan kata lain mampu menerapkan teori yang dipahaminya.

Menganalisis

Sampai dengan skill menerapkan mungkin bisa dikuasai oleh seseorang yang kurang kritis. Jangan heran banyak praktisi-praktisi terampil bisa juga tersandung hoaks karena kurangnya sikap kritis. Lihat saja korban-korbannya, kebanyakan para praktisi akibat tersandung UU ITE.

Skill menganalisis booming di jaman renaisance di Eropa dengan munculnya ilmuwan-ilmuwan tangguh seperti Isaac Newton, Descrates, Galileo, dan kawan-kawan. Menganalisis perlu usaha ekstra, tidak hanya memahami satu hal saja. Terkadang membutuhkan bidang-bidang lain, seperti statistik dan matematika sebagai “pisau bedah” terhadap topik yang akan dianalisa.

Mensitensis

Analisis dan Sintesis biasanya jalan beriringan mengingat ada tuntutan novelty terhadap satu topik tertentu. Novelti, atau kebaruan merupakan sintesa dari hasil analisa topik-topik beragam yang biasanya bermanfaat menyelesaikan problem tertentu. Kemampuan ini mutlak diperlukan oleh mahasiswa-mahasiswa doktoral dalam menyusun disertasi dan mempublikasikan artikelnya di jurnal internasional.

Baik analisis dan sintesis tidak hanya untuk dosen dan peneliti saja. Dalam dunia industri atau pekerjaan di manapun skill ini sangat diperlukan dalam rangka meningkatkan daya saing industri tersebut. Era disrupsi memaksa industri harus mampu berfikir cepat, efisien, dan fokus ke pelayanan. Pelayanan yang baik mutlak memerlukan analisa baik lewat survey maupun menerapkan metode-metode terkini untuk menggantikan metode lama yang usang dan kurang efisien.

Mengevaluasi/Mencipta

Skill ini merupakan skill yang sangat diperlukan oleh masyarakat. Inovator-inovator banyak bermunculan di negara-negara maju karena dengan temuannya mampu meningkatkan daya saing dengan negara lain yang hanya bisa menggunakan hasil temuannya. Singapura yang memiliki kemampuan dagang dan bisnis yang mumpuni pun tetap berusaha fokus ke penelitian dengan meningkatnya kualitas kampus-kampusnya.

Untuk menciptakan hal-hal besar selevel penghargaan nobel memang sulit. Namun bisa saja kita menciptakan hal-hal kecil yang bermanfaat. Di Indonesia misalnya ketika kondisi COVID-19 ITB menciptakan alat ventilator sendiri dengan kualitas yang baik dan siap diproduksi, sementara itu UGM menciptakan alat tes COVID-19 bernama Ge-Nose yang murah, mudah, dan akurat. Yuk, tingkatkan metakognisi kita.

Update Publon dan Garuda di Sinta

Selama ini Sinta mengandalkan Scopus dan Google Scholar untuk perhitungan kinerja dosen dan kampus. Pro kontra bermunculan karena kekhawatiran akan ketergantungan kepada Scopus, pengindeks terkenal yang memang berbiaya mahal untuk berlangganannya. Sementara itu, Google Scholar yang gratis masih menuai kritik akan verifikasinya yang hanya berbasis pemakai. Jadi bisa saja kinerja Google Scholar dimanipulasi oleh pengguna.

Nah, kini Sinta terus berbenah dan mulai memasukan Publon yang merupakan situs pengindek pesaing Scopus, yaitu Web of Science (WoS). Di sini WoS mulai menggratiskan pengguna khusus untuk pendaftaran dan manajemen akun saja. Publon juga mengindeks bukan hanya yang terindeks di WoS yang memang sulit tembusnya, namun juga bisa mengimpor publikasi kita yang ada di Scopus.

Walau terimpor ke publons, paper-paper yang terindeks Scopus tetap dibedakan oleh publons. Jadi di paper tersebut ada informasi apakah terindeks WoS atau Scopus saja. Biasanya yang terindeks WoS terindeks pula di Scopus (1), namun sebaliknya beberapa paper saya di Scopus tidak terindeks WoS (2). Oke, berikut langkah-langkah update Publon di Sinta.

Pertama Anda harus login terlebih dahulu ke Sinta dan masuk ke Update Profile. Silahkan baca post ini jika Anda belum terdaftar di Sinta.

Tampak Publon ID masih kosong, sementara Garuda ID sudah terisi (silahkan isi jika masih kosong dengan masuk ke situs garuda: http://garuda.ristekbrin.go.id/). Nah di sinilah Anda harus meletakan ID Publon Anda. Silahkan baca https://rahmadya.com/2019/06/02/indeks-web-of-science/ jika ingin lebih jauh mengetahui tentang Publons yang dahulu namanya ResearcherID. Secara langsung Publon tidak menginformasikan ID di situsnya karena memang ID mengambil dari Researcher ID, namun di alamat link dapat dilihat.

Copy dan Paste saja di kolom Publon ID Sinta Anda, cukup mudah. Langkah terakhir dan terpenting adalah sinkronisasi dengan publons agar data yang terindeks mereka (WoS) dapat terambil ke Sinta. Tekan WoS Document di bagian atas (1) lalu tekan Request Sync WoS untuk sinkronisasi. Jika sudah, tampak tulisan “WOS Syncronization in Queue” yang artinya sedang dalam proses (tidak langsung tersinkronisasi).

Proses Sinkronisasi tidak lama, kasus saya hanya sehari (atau mungkin lebih cepat lagi, karena saya mengeceknya sehari kemudian). Jika sudah tersinkronisasi maka muncul artikel-artikel kita yang terindeks Web of Science.

Demikian juga silahkan lakukan hal yang sama untuk Garuda Document yang jika disinkronisasi biasanya banyak artikel kita yang sudah terpublish di jurnal-jurnal nasional baik terakreditasi atau tidak, asalkan memiliki OJS. Untuk lebih jelasnya lihat video singkat berikut ini.

Mengetahui Kekuatan Kita

Mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sangat sulit karena menyangkut sesuatu yang sulit diukur. Namun demikian tetap harus diketahui karena terkait dengan tujuan jangka panjang. Bagi peneliti adalah roadmap penelitian, atau bagi mahasiswa berupa proposal penelitian yang akan disusun. Postingan kali ini sedikit berbagi apa saja yang harus diperhatikan dalam memahami kekuatan kita.

Meningkatkan Kekuatan vs Mengurangi Kelemahan

Namanya manusia pasti ada kelebihan dan kekurangan. Untuk pelajar yang masih fresh, baik meningkatkan kekuatan dan mengurangi kelemahan dua-duanya penting dan menjadi fokus utama, walau ketika beranjak dewasa terkadang di negara maju sudah mulai fokus meningkatkan bakat yang ada, apakah sepak bola, tenis, peneliti atau penyanyi, pelukis dan spesialis-spesialis lainnya. Nah, untuk dosen-dosen seusia saya jika fokus mengurangi kelemahan, dikhawatirkan tidak ada waktu tersisa untuk meningkatkan kekuatan yang dimiliki.

Dalam suatu organisasi, misalnya kampus terkadang pimpinan tidak mampu mengumpulkan pundi-pundi kekuatan dari SDM yang ada. Bahkan dalam perputaran organisasi, para staf cenderung melihat kelemahan yang memang mudah dilihat, sementara kelebihan-kelebihan kurang di-ekspos. Saling menjatuhkan, intrik-intrik politik dalam satu organisasi terkadang lupa bahwa seharusnyalah bersaing dengan organisasi lain yang terus berbenah, apalagi di era disrupsi dan pandemi COVID-19. Hal ini terkadang lumrah dijumpai, kita cenderung kurang menghargai prestasi bangsa sendiri, terlepas dari sukses atau gagal. Di Jepang, pesumo walaupun kalah tetap dihormati dan mendapat bayaran yang tinggi. Untuk yang dekat dengan Indonesia, misalnya Thailand dan Malaysia, mereka sangat menghormati atlit-atlit yang membela bangsanya. Tampak yel-yel “don’t be sad, its ok” bergemuruh dari suporternya ketika Malaysia kalah di final memanah dengan Indonesia. Atlit-atlit Thailand, misalnya, disambut di bandara oleh para penggemarnya menang atau kalah. Untungnya saat ini negara kita mulai menghargai atlit-atlitnya yang berprestasi.

Jebakan “Iklan”

Iklan di sini maksudnya hal-hal yang menarik perhatian saat ini. Misalnya, ketika tren “machine learning”, semua pada fokus ke machine learning, tidak perduli cocok atau tidak, perlu atau tidak. Bahkan ada anekdot yang ditujukan orang yang baru belajar machine learning yang nyinyir dengan rekannya yang belajar statistik atau matematika.

Saya teringat rekan saya yang jago di satu bidang, tetapi karena godaan bidang lain akhirnya meninggalkan bidang yang dikuasainya dan beralih ke bidang baru yang lebih diminati walau dari nol lagi. Hal ini terkadang wajar, dan mirip “jebakan batman”. Ibarat anak yang sudah jago satu hal, terkadang jika tidak ada lawan sebanding akan bosan juga. Merasa keahliannya yang sebenarnya sudah tinggi, dianggap olehnya biasa-biasa saja, sehingga bosan dan berusaha mencari bidang lain yang menurutnya lebih menarik. Bayangkan, misalnya Anda menguasai Java, jika orang lain sanggup menyelesaikan satu problem dalam satu minggu, Anda sanggup mengerjakannya beberapa jam saja, maka itulah kekuatan Anda yang sebenarnya. Tapi karena bosan Anda beralih misalnya ke Python, dan Anda mengerjakan satu problem selama satu minggu, padahal orang-orang bisa dalam beberapa jam saja. Anda tidak akan dilirik orang.

Terlalu Asyik Mengerjakan Rutinitas

Beberapa rekan saya, karena asyik menjalankan rutinitas jadi kurang meningkatkan kekuatannya. Dalam satu seminar internasional, saya kebetulan satu meja makan dengan mereka. Kebetulan mereka ibu-ibu yang saya faham banyak kegiatan rumah tangga yang menyita. Saya dengan jujur berkata bahwa kalian sadar atau tidak kalau kualitas di atas rekan-rekan lain yang baru. Mereka malah tersenyum, dan mengatakan kalau saya hanya memuji. Saya malah balas berkata bahwa apa untungnya bagi saya mengatakan demikian. Eh, tidak lama kemudian mereka terkejut ketika namanya disebutkan di forum sebagai salah satu “best paper”.

Nah, bagaimana dengan kelemahan? Tentu saja harus diatasi dan dikurangi, terutama yang mengganggu jalannya kinerja. Namun jika susah, ya fokus saja ke kelebihan/kekuatan. Tidak mungkin memaksa menjadi penulis buku jika lambat mengetik, atau menjadi motivator tetapi sulit pidato. Mungkin cocok di laboratorium, atau selalu menang hibah. Kolaborasi saat ini menjadi satu keharusan. Satu kelemahan bisa diisi oleh kelebihan rekan kita. Dalam pembukaan rakornas asosiasi perguruan tinggi infokom (APTIKOM), ketua aptikom menganjurkan kita fokus ke kekuatan yang ada di kita sekarang daripada menunggu yang tidak/belum ada. Yuk, kita mulai fokus ke kekuatan kita dan berkolaborasi.

Konversi MS Word ke PDF Mengikuti Format IEEE dengan PDF Express

Institute of Electrical and Electronic Engineering (IEEE) memiliki format/style tersendiri. Format ini sudah ada dalam aplikasi sitasi, misalnya Mendeley. IEEE juga menyediakan fasilitas konversi dari MS Word ke PDF standar IEEE lewat situs https://www.pdf-express.org/.

Login

Untuk mendaftar, klik “New Users – Click Here”. Jika sudah punya akun silahkan login ke converter pdf resmi IEEE tersebut.

Unggah Berkas

Masukan Conference ID, Email Address, dan Password yang sudah Anda daftarkan. Silahkan tekan Forgot your password? Ketika Anda lupa. Karena dipakai ketika seminar IEEE saja, biasanya pengguna lupa dengan passwordnya. Selanjutnya tekan Create New Title untuk memulai konversi naskah paper IEEE. Masukan Judul paper sebelum proses unggah berkas MS Word-nya.

Setelah muncul informasi file yang diupload lanjutkan dengan menekan Continue untuk melanjutkan proses konversi. Ada tiga status yang mungkin terjadi: 1) Manual Conversion, 2) Error, dan 3) Upload Incomplete.

 

Perbaiki jika ada Error dan tunggu beberapa saat sampai Anda menerima email hasil dari konversi. Biasanya error jika di dalam naskah ada format Font yang berbeda dengan format standar IEEE.

Menerima Hasil

PDF bekerja lewat mekanisme email. Jadi hasil konversi akan dikirim lewat email.

Selamat, Anda sudah berhasil mengkonversi MS Word ke PDF yang sesuai dengan format IEEE. Naskah tinggal diunduh. Sekian, semoga bermanfaat.

 

Instal Mendeley Desktop di Mac

Mendeley merupakan citation tool yang paling diminati oleh peneliti. Selain gratis, aplikasi ini mudah dan praktis digunakan. Kombinasi antara mendeley online (www.mendeley.com) dan desktop menyebabkan fleksibel digunakan, bahkan ketika menggunakan lebih dari satu device. Karena postingan yang lalu sudah dibahas instal Mendeley di Windows, kali ini akan dibahas bagaimana instal Mendeley di Mac.

Registrasi Mendeley

Mendeley mengharuskan pengguna memiliki akun. Siapkan akun email untuk login ke Mendeley. Tidak harus email resmi, email gratisan pun bisa digunakan. Lewati langkah ini jika Anda sudah punya akun Mendeley. Untuk registrasi, tekan saja menu “Create Account” di pojok kanan atas. Isi email disertai dengan nama dan password Mendeley.

Setelah itu buka email dan tekan Confirm yang terdapat pada isi email yang dikirim Mendeley. Tidak sampai satu menit Anda berhasil registrasi Mendeley.

Mengunduh Mendeley

Mendeley akan otomatis memberikan tombol unduh mengikuti sistem operasi Anda. Jika Anda pengguna Mac dengan IoS-nya, maka situs download Mendeley akan memberikan kode sumber berbasis Mac.

Tekan bar berwarna merah untuk mengunduhnya. Tunggu beberapa saat hingga proses pengunduhan selesai. Tekan Open di file yang sudah diunduh untuk melakukan proses instalasi.

Instal Mendeley

Drag simbol Mendeley ke arah Applications untuk mempersiapkan Mendeley. Selesai sudah proses instalasi, Anda tinggal menjalankan Mendeley yang baru saja diinstal.

Masukan akun yang baru saja Anda buat (register).

Login dan Instal Plug-In untuk MS Word

Jangan lupa untuk menginstal Plug-in Mendeley agar bisa terkoneksi dengan Microsoft Word.

Jika sudah, Anda bisa menggunakan Mendeley untuk mengorganisir sitasi di naskah Artikel Anda. Untuk memastikan Plugin berjalan dengan baik, buka MS Word dan pastikan di menu Reference ada fasilitas lengkap Mendeley. Selamat Mencoba.

Memantau Kinerja Dosen Lewat Asesor Serdos

Tak terasa sudah lebih dari setahun menjadi asesor sertifikasi dosen sejak pertama kali diajukan oleh universitas (lihat syarat-syarat menjadi asesor pada postingan yang lalu). Banyaknya asesor yang pensiun menuntut penambahan jumlah asesor serdos. Asesor serdos sangat diperlukan guna mengontrol validitas aliran tunjangan serdos. Praktiknya, antara satu LLDIKTI dengan LLDIKTI wilayah lainnya berbeda. Misalnya, LLDIKTI 4 sudah menggunakan konsep online, yang ternyata sangat cocok untuk kondisi pandemi seperti saat ini. LLDIKTI 3 baru memulai online, namun seperti halnya LLDIKTI 4 dahulu ketika memulai online, pasti banyak kendala-kendala yang dihadapi.

BKD Online LLDIKTI 4

LLDIKTI 4 sangat baik dalam menerapkan BKD dan LKD online (https://bkd.lldikti4.or.id/). Sangat baik di sini mampu menjabarkan alur sistem informasinya yang terdiri dari:

  • Dosen mengajukan kontrak BKD, validasi oleh kepala departemen
  • Dosen membuat laporan BKD, validasi oleh dua asesor serdos

Di sini terlibat tiga akun, yaitu akun dosen yang sudah serdos, akun asesor, dan akun kepala depertemen (ketua jurusan atau dekan). Selain itu kontrak BKD untuk semester yang akan dijalani, ketika semester berakhir secara otomatis menjadi laporan BKD dengan sedikit editing ketika ada perbedaan antara rencana (kontrak) dengan implementasinya.

BKD online tidak memerlukan tanda-tangan langsung oleh baik asesor maupun kepala departemen. Persetujuan tinggal meng-klik “approve” saja. Dan yang menurut saya cukup membantu adalah, asesor dapat melihat bukti kinerja yang diunggah oleh dosen yang mengajukan. Sangat efisien dan tidak terkendala dengan jarak dan waktu. Hanya saja di sini, LLDIKTI 4 menyarankan untuk asesor mengenal langsung dosen yang diasesori, dan menggunakan aplikasi tersebut untuk mempermudah saja.

BKD Online LLDIKTI 3

Karena berdekatan dengan LLDIKTI 3 maka beberapa dosen dari LLDIKTI 3 menunjuk asesor dari LLDIKTI 4. Nah, di sini ada sedikit perbedaan yang mencolok, terutama mengenai proses persetujuan. Di LLDIKTI 3 yang selama ini menggunakan aplikasi berbasis MS Access, kini diganti dengan online (https://bkd-lldikti3.kemdikbud.go.id/).

Beberapa kendala masih ada, seperti data yang diinput tidak tercetak. Mungkin di versi berikutnya akan diperbaiki seperti yang terjadi pada LLDIKTI 4 yang terus memperbaiki. LLDIKTI 3 prosesnya lebih sederhana:

  • Dosen mengisi laporan BKD dan memilih asesor yang ada di daftar
  • Dosen mencetak laporan BKD dan meminta tanda-tangan asesor yang dipilih
  • Dosen mengupload scan laporan BKD yang sudah dibubuhi tanda tangan

Seperti biasa, sebuah materai 6000 diperlukan pada kolom tanda tangan dosen yang mengajukan laporan BKD, berbeda dengan LLDIKTI 4 yang tidak memerlukan materai. Proses persetujuan tampak masih manual, dengan tanda tangan, sebelum diunggah. Namun ada satu keunggulan dibanding menggunakan MS Access yaitu karakteristiknya yang terintegrasi. Ketika ada asesor baru, bagian BKD online tinggal menambahkan asesor tersebut dalam list dan tidak perlu men-share MS Access yang berakibat ada kemungkinan ketidakseragaman karena dosen masih menggunakan versi yang lama.

Melihat Kinerja Dosen via BKD Online

Menjadi asesor mau tidak mau membaca berkas laporan kinerja. Dari situ bisa menilai kinerja-kinerja dosen yang ada, apakah serius atau hanya sekedar menjalankan kewajiban agar tunjangan serdos cair. Terkadang saya kagum dengan dosen yang dalam diam dan santainya ternyata memiliki output dan outcome yang di atas rata-rata. Nah, untuk dosen yang pasif ada baiknya kepala departemen mengecek kontrak BKD dosen di bawah departemennya apakah sudah baik atau sekedar “gugur tugas” saja. Terkadang kagum juga dengan mereka yang bisa mempublikasikan ke jurnal-jurnal yang berkualitas, terlihat dari laporan kinerja (LKD). Bahkan tidak jarang saya ikut membaca karena dapat dilihat dari berkas-berkas yang diunggah.

Jadi Pembicara Sekaligus Reuni

Beberapa minggu yang lalu, kampus tempat saya mengambil pascasarjana mengundang saya menjadi pembicara mengenai tips untuk studi lanjut agar lancar dan hari ini jam 09.00 – 12.00 WIB acara berlangsung. Acara tersebut cukup bermanfaat terutama bagi rekan-rekan yang sedang studi lanjut, khususnya pascasarjana. Hadir pula tamu khusus bapak Dr. Sunu Wibirama, M.Eng yang memang sering membahas bagaimana melakukan riset dan menulis jurnal yang baik. Satu lagi yang hadir adalah rekan kuliah saya yang dulu, Taqwa Hariguna, PhD yang membicarakan aspek non-kognitif yang dapat membantu kelancaran studi lanjut. Berikut ini kira-kira ringkasan yang dibahas oleh para narasumber.

Mas Sunu

Satu hal penting yang dibahas oleh mas Sunu adalah apa saja tips yang harus dilaksanakan agar studi lanjut berjalan dengan baik, dari penjadwalan hingga bagaimana mengatur ponsel kita agar tidak mengganggu aktivitas riset/penelitian. Sebelumnya dibahas pula tipe-tipe fokus pada riset dari improvement metode, penerapan untuk memecahkan masalah, dan aspek-aspek lainnya. Yang penting adalah ada hal-hal baru yang berkontribusi terhadap ilmu pengetahuan.

Rahmadya

Saya membahas aspek-aspek non-teknis, terutama bagaimana tetap fokus dan termotivasi selama kuliah, dari evaluasi diri dalam menentukan konsentrasi, menemukan sosok figur lewat asistensi, proyek, seminar, dan aktivitas keilmuan lain, juga dibahas apa saja yang dipersiapkan jika ingin lanjut ke studi doktoral.

Pa Taqwa

Rekan seangkatan saya di S2 ini banyak membahas bagaimana agar lolos ketika apply studi lanjut, termasuk memperoleh beasiswa yang tidak hanya uang kuliah dan uang hidup, yaitu bantuan disertasi dari LPDP. Dijelaskan juga bagaimana caranya agar lulus cepat (kurang dari 3 tahun).

Sesi tanya jawab tak kalah menarik, terutama pertanyaan-pertanyaan mengenai multi disiplin dan mahasiswa yang berasal dari non-komputer dalam risetnya. Link youtube berikut ini mungkin bisa dilihat jika ada waktu luang. Sekian, semoga bisa menginspirasi.

Systematic Literature Review (SLR) Pada SCOPUS dengan Advanced Search

SCOPUS saat ini menjadi patokan utama kualitas publikasi baik di dunia maupun di Indonesia. Sinta menggunakan bobot yang besar untuk SCOPUS seperti terlihat pada bagia FAQ perhitungan skor-nya, misalnya untuk Sinta saya di link berikut ini. Tampak bobot Q1 di scopus adalah 40 mengalahkan lokal yang misalnya S1 yaitu 25. Oleh karena itu ada baiknya kita merujuk paper-paper dari Scopus.

Login Scopus

Salah satu kelemahan SCOPUS (bagi peneliti-peneliti kita di Indonesia) adalah berbayar, kecuali jika ingin melihat kinerja kita saja (author preview). Tapi biasanya kampus-kampus memiliki SCOPUS walau terkadang harus datang ke kampus dan login WIFI di sana. Silahkan daftar gratisan dengan akses terbatas, caranya lihat pos saya yang terdahulu (Lihat di bagian “signup”).

Serching Naskah

Beberapa hari yang lalu ada hasil peer review yang harus diperbaiki berkaitan dengan studi literatur dimana reviewer meminta menambahkan riset-riset terkait.

Kita coba mencari dokumen 5 tahun terakhir dengan kata kunci “student attendance system”, “biometeric” mengikuti saran dari reviewer 4. Langsung buka bagian “search document”. Langsung saja kita masuk ke “Advanced Search”.

Tekan “Search” dan tunggu beberapa saat. SCOPUS tampak berhasil menemukan sekitar 105 dokumen seperti tampak pada gambar berikut ini. Maksud dari query di atas adalah cari seluruh naskah yang ada kata “student attendance system” dan “biometric” dan setelah tahun 2015 (hingga 2020, terkadang tahun 2021 pun ada juga yang sudah ready).

Tugas berikut Anda dalam sistematic literature review (SLR) adalah mensortir menjadi puluhan dengan cara membaca judul. Selanjutnya Abstrak dan terakhir sekitar belasan harus Anda baca full naskahnya. Silahkan lihat pos saya terdahulu mengenai SLR. Sekian saja info singkat hari ini, semoga bermanfaat.

 

Webinar Systematic Literature Review (SLR) Untuk Skripsi dan Tugas Akhir

Setelah hampir lima tahun kuliah dan kembali lagi mengajar ternyata tidak ada perubahan yang signifikan dari kemampuan mahasiswa menulis tugas akhirnya. Gaya copy-paste masih kerap dilakukan, terutama pada bab studi/kajian pustaka. Referensi hanya berupa buku saja, tidak ada jurnal terkini. Memang mahasiswa D3/S1 hanya menerapkan ilmu yang didapat, belum sampai tahap membandingkan apalagi menemukan hal-hal baru (novelty). Untuk mengatasi hal tersebut, fakultas teknik Universitas Islam “45” Bekasi mengadakan pelatihan kepada para mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir. Kebetulan saya mendapat tugas sesi-1 tentang Systematic Literature Review (SLR) sebelum sesi-2 tentang kiat-kita merampungkan tugas akhir/skripsi.

Memang tujuan utama SLR adalah untuk memperoleh rujukan-rujukan yang tepat dalam menjawab permasalahan tugas akhir/skripsi. Namun di sisi mahasiswa D3/S1 kebanyakan untuk menghindari plagiasi, terutama mencontek isi naskah skripsi/TA kakak-kakak seniornya. Dengan SLR ditambah keunikan-keunikan judul-judul baru yang ditujukan untuk tugas akhir mahasiswa, diharapkan mampu menghilangkan perilaku negatif mencontek mahasiswa-mahasiswa kita.

Ristek-Brin menganjurkan kampus untuk membuat roadmap penelitian yang kemudian dijalankan oleh dosen-dosennya. Jadi bagi mahasiswa sekarang, mencari permasalahan penelitian tidak serumit mahasiswa era 90-an, karena dosen sudah memiliki roadmap-nya. Tinggal bertanya maka si dosen pembimbing akan memberi judul atau permasalahan skripsi/tugas akhir yang harus diselesaikan dengan cepat. Berikut link youtubenya, semoga bermanfaat.

Artikel Riset vs Laporan Proyek

Ketika submit artikel waktu kuliah dulu, hasil review menolak tulisan saya karena artikel hanya sekedar laporan proyek, bukan masuk kategori artikel jurnal.

Jika ditolaknya saat ini sepertinya tidak ada masalah. Repotnya naskah itu ditolak ketika membutuhkan publikasi sebagai syarat lulus S3. Sulit diungkapkan dengan kata-kata bagaimana kecewanya. Tapi ya bagaimana lagi, harus mencoba lagi kalau mau merampungkan kuliah. Bagi mahasiswa S3, meleset satu atau dua tahun itu sudah biasa.

Laporan Proyek

Ok kita mulai terlebih dahulu mengenai laporan proyek karena ini merupakan jenis pekerjaan yang paling banyak kita jumpai di kampus. Banyak yang menyamakan dengan riset, padahal sangat berbeda.

Perhatikan pekerjaan kita sehari-hari, misalnya seorang dosen. Ketika mengajar satu mata kuliah, maka dia memiliki langkah-langkah rinci yang jelas dan sudah rutin dilakukan. Langkah-langkah tersebut jelas dari A sampai Z, dari menyiapkan materi, membagi menjadi beberapa pertemuan, menguji dan memberi nilai. Biasanya jika dari awal hingga ujung sudah kelihatan dengan jelas, maka sudah dipastikan bahwa itu masuk kategori proyek. Biasanya mahasiswa S1 atau diploma/vokasi diwajibkan menyelesaikan tugas akhir dan/atau skripsi yang tentu saja masuk kategori proyek. Ketika membuat alat, merancang sistem, dan sejenisnya dosen pembimbing bisa melihat langkah-langkah dari awal hingga selesai dengan jelas. Jika disubmit ke jurnal internasional tanpa ada suatu hal yang baru (novelty, originality, dan kontribusi) pasti ditolak, kecuali memang jurnal kampus yang khusus mewadahi skripsi mahasiswanya.

Artikel Riset

Artikel jenis ini harus didekati secara filosofis. Di luar negeri, lulusan s3 biasanya diberi gelar “doctor of philosophy” (PhD) karena memang diharuskan menggunakan aspek tersebut dalam risetnya. Terutama ketika menilai sebuah karya apakah memiliki unsur originality, novelty, dan kontribusi terhadap ilmu pengetahuan. Seseorang yang belum doktor seharusnya riset bersama dengan seorang/beberapa orang mentor yang biasanya sudah doktor. Tidak serta merta hanya dengan studi literatur dapat menemukan originality, novelty dan kontribusi. Terkadang diperlukan seorang pakar (expert). Biasanya pakar yang mereview sebuah artikel dalam peer review. Walaupun kita sudah membuktikan dengan studi literatur yang banyak tetapi terkadang seorang pakar menolak tulisan kita memiliki novelty, originality, dan kontribusi. Novelty, originality dan kontribusi sulit dievaluasi, hanya peer review- lah yang bisa menjawabnya. Jadi tidak perlu studi literatur? Ya harus lah, sudah melakukan systemmatic literature study pun terkadang masih saja “mis” apalagi tidak sama sekali.

Kebaruan (Newness) & Kontribusi

Yang termasuk kebaruan adalah novelty, originality dan creativity. Jika novelty mengharuskan sesuatu ide/konsep belum pernah diutarakan atau dilaksanakan oleh orang lain, originality menggabungkan/sintesa ide/konsep orang lain (lihat info link ini). Beberapa peneliti mengusulkan teknik-teknik dalam mengukur sebuah novelty (lihat link springer ini).

Gambar di atas memperlihatkan sebuah paper X yang mensitasi artikel sebelumnya (1,2,..N) dan disitasi oleh artikel berikutnya. Ini merupakan teknik pengukuran berdasarkan sitasi. Dikatakan Novelty jika artikel-artikel lain (1,2,..M) mensitasi paper X dan sedikit mensitasi (1,2, …N). Jika tidak, maka paper X tersebut hanya mediasi saja (membantu menyebarkan ide 1,2, ..N). Seorang reviewer akan mengetahui apakah paper X nanti akan banyak disitasi langsung walaupun belum dipublikasi.

Kontribusi terkadang secara refleks ada karena tentu saja aneh jika penelitian menghasilkan novelty dan originality tetapi tidak ada sumbangsihnya bagi knowledge. Oiya, kontribusi tentu harus bisa diukur, misalnya meningkatkan kepuasan pelanggan, meningkatkan akurasi/performa/efisiensi, dan bukan terhadap masyarakat/lingkungan yg masuk kategori manfaat penelitian dan bukan kontribusi, apalagi dengan argumen kontribusinya membantu orang tua karena dengan selesainya tulisan, cepet lulus, dan tidak perlu bayar kuliah lagi .. hehe.

Konversi Laporan Proyek ke Artikel Ilmiah

Untuk merubah artikel dari report menjadi artikel ilmiah perlu dicari novelty, originality, dan kontribusinya. Untuk bidang informatika ada sedikit perbedaan antara ilmu komputer/teknik informatika (metode) dengan sistem informasi (domain penelitian). Jadi, jika tidak ditemukan novelty di sisi ilmu komputer, cari saja di sisi domain penelitian (kedokteran, bisnis, akuntansi, dan lain-lain).

Contohnya adalah multi-criteria optimization dan teknik GIS yang saya gunakan untuk kasus optimalisasi penggunaan lahan urban. Jadi, hasil dan pembahasan harus mengarah ke domain penelitian, bukan ke metode (lihat pembahasan pada pos sebelumnya). Ketika mahasiswa doktoral sudah menerima kabar naskah publikasi sebagai syarat lulus accepted dengan revisi minor, biasanya bayangan wisuda sudah di depan mata. Penulisan laporan disertasi ratusan halaman tidak jadi masalah karena sudah jelas alur dari A sampai Z nya, beda ketika baru proposal, tahu awal tapi tidak jelas bagaimana mencapai ujungnya. Sekian semoga bermanfaat.

Mengecek Apakah Artikel Kita Terindeks Web of Science dari Publons

Ada dua pengindeks terkenal di dunia saat ini yaitu Scopus dan Web of Science (WoS). Kedua-duanya merupakan pengindeks yang masuk perhitungan skor Sinta Ristekdikti/BRIN. Untuk Scopus (lihat link ini) sudah banyak yang mengetahui. Untuk WoS akan kita bahas di postingan ini.

A. PUBLONS

Pertanyaan pertama seperti biasa apakah situsnya berbayar atau tidak. Jawabannya ada dua, mirip Scopus, ada yang gratis ada yang bayar. Jika ingin membuat ID WoS cukup daftar saja ke situs berikut ini untuk memperoleh ID WoS. Lihat post terdahulu tentang WoS. Sedikit berbeda dengan Scopus yang harus punya tulisan terlebih dahulu tetapi untuk publons tidak perlu punya tulisan yang terindeks WoS. Hal ini sangat meringankan karena untuk terindeks WoS cukup sulit.

B. MENAMBAH DAFTAR ARTIKEL KE PUBLONS

Biasanya ketika tulisan kita terindeks di WoS maka secara otomatis akan terambil di akun publons kita. Namun bisa saja kita menambahkan secara manual artikel-artikel kita. Bukan saja artikel yang terindeks WoS, tetapi artikel-artikel lain yang diindeks oleh Scopus bisa ditambahkan. Jadi ketika seseorang mengklaim ada tulisannya di WoS lewat publons tentu saja belum tentu terindeks Web of Science.

C. MENGECEK TULISAN TERINDEKS WEB OF SCIENCE

Sebenarnya cara mudah untuk mengetahui apakah tulisan terindeks WoS adalah dengan masuk ke link Web of Science langsung di sini. Hanya saja harus punya akun, dan tentu saja bayar.

Bagaimana jika tidak punya akun WoS? Caranya bisa dengan melihat artikel-artikel yang ada di publons kita. Biasanya artikel yang tidak dimasukan secara manual merupakan artikel yang terindeks di WoS. Ciri-ciri jika terindeks WoS tampak di artikel tersebut (di bagian kanan). Jika ada tulisan “WOS” maka berarti terindeks di WoS. Jika mouse diarahkan di tulisan WOS muncul tulisan “Indexed in Web of Science Core Collection“. Perhatikan di bawah ini, satu tulisan terindeks di Web of Science tetapi yang lainnya tidak.

Cara lain adalah lewat akun Sinta kita. Jika dicek daftar publikasi ada di list WoS maka akan muncul grafiknya. Jika ingin melihat, tekan “WoS document” di sebelah kiri “research. Berbeda dengan Scopus yang bisa direfresh oleh verifikator Sinta di masing-masing kampus, WoS sangat mengandalkan admin Sinta di pusat. Sekian semoga bisa membantu.

Mengedit Profil di Scopus

Scopus menjadi salah satu andalah pengindeks di Indonesia karena merupakan salah satu pengindeks yang konsisten dan ketat dalam menyeleksi naskah-naskah di seluruh dunia. Banyak naskah-naskah di tanah air baik dari jurnal maupun seminar sudah terindeks, tetapi beberapa penulis masih kebingungan cara mengetahui ID scopusnya (lihat link terdahulu cara mengetahui ID Scopus). Terkadang ketika sudah ada di Scopus, banyak penulisan nama dan afiliasi yang tidak sesuai. Hal ini terjadi biasanya karena salah pengisian data oleh pengelola jurnal/seminar. Postingan ini bermaksud sharing bagaimana merubah nama dan afiliasi. Dulu pernah posting seperti ini (klik di sini) tapi menggunakan ID Scopus berbayar, tetapi portingan kali ini akan kita gunakan ID Scopus yang gratis.

1. Sign Up

Langkah pertama adalah “Sign Up” ke Scopus. Apakah bayar? Ternyata Scopus telah membolehkan pengguna untuk daftar ke Scopus tanpa bayar. Tentu saja hanya untuk mencari afiliasi dan merubah/edit nama-nama di Scopus. Yang dapat dirubah hanya penulis yang tulisannya sudah terindeks Scopus. Jadi jika Anda belum memiliki tulisan yang terindeks di Scopus, tentu saja tidak bisa membuat ID Scopus sendiri.

Scopus menyebutnya fasilitas ini “Scopus Preview”. Hanya bisa mengutak-atik Author tetapi tidak bisa mencari dokumen yang terindeks scopus.

2. Pencarian Author

Di bagian atas ada menu “Author Search”. Coba klik dengan mouse Anda untuk masuk “Author Profile”. Pilih “Author Feedback Wizard” untuk mereview apakah ID Scopus kita berisi profil yang benar.

3. Mengedit Scopus Profile

Berikutnya mulai masuk ke menu editing. Di sini yang dapat diutak-atik adalah: 1) Preffered Name, 2) Merge Profiles, 3) Add and Remove Documents, dan 4) Update Affiliation.

Masukan nama Anda dan pastikan muncul di kolom pencarian. Gunakan minimal “Author last name” di isi, lebih lengkap dengan “first name” lebih baik.

Perhatikan ada 13 dokumen padahal saya sudah 14 dokumen. Kemudian afiliasinya “Islam 45 University” padahal di dokumen terakhir sudah saya tulis Universitas Islam 45 Bekasi, dan saya ingin namanya “Universitas Islam 45”, misalnya. Ikuti langkah-langkah yang diminta dimulai dari “Select Profile(s)”, “Review Documents”, “Review Affiliation”, hingga “Confirm and Submit”. Oiya, cheklist dahulu dengan mouse kotak di sebelah kiri nama Anda sebelum menekan “Review Documents” di bawah kanan. Pastikan nama sudah benar.

4. Review Dokumen

Masuk ke dokumen Anda yang di Scopus dan tambahkan dokumen lain yang tidak terdeteksi dengan menekan “Search Missing Documents”.

Banyak caranya baik dengan menekan Author, Title, dan DOI. Untuk mudahnya gunakan saja DOI jika sudah tahu. Perhatikan dokumen di bawah, tampak DOI yang tinggal dicopas ke “Search Dokuments” di atas.

Masukan ke isian “Search Documents”, jangan lupa di bagian kanan pilih “DOI”. Lanjutkan dengan menekan “Search”.

Pastikan dokumen ditemukan. Ceklis lingkaran di sebelah kiri dokumen dan tekan “Confirm Author” untuk melanjutkan nama Author yang akan diedit.

 

Pilih Author yang akan diedit. Perhatikan di sini seharusnya “Handayanto, Rahmadya Trias” tetapi dimasukan “Trias Handayanto, Rahmadya” oleh paper terakhir, oleh karena itu akan kita revisi. Tekan “Add Documents”.

Pastikan muncul satu dokumen baru tersebut dan lanjutkan dengan menekan “Review Affiliation”.

5. Review Afiliasi

Review afiliasi jika ada dokumen baru dengan afiliasi baru dan kita ingin mengikuti afiliasi tersebut. Terkadang afiliasi yang sama tetapi tulisannya ingin yang terbaru, misalnya “Islam 45 University” ingin saya ganti dengan standar terbaru “Universitas Islam 45” mengingat kampus bukan kata tetapi simbol seperti Merk yang tidak perlu diterjemahkan ke bahasa Inggris.

Perhatikan kolom universitas bisa Anda piliah yang sesuai dengan menekan scroll panah bawah. Tentu saja Anda tidak bisa sembarangan mengisi nama di situ. Hanya dokumen yang sudah terindeks saja yang muncul.

6. Confirm & Submit

Terakhir adalah “Confirm & Submit”. Di sini kita meminta Scopus untuk merevisi Profile kita. Tentu saja bentuknya berupa proposal yang bisa saja ditolak oleh Scopus. Tetapi selama ini biasanya disetujui. Buka email yang digunakan untuk Login Scopus dan pastikan ada pemberitahuan mengenai proposal perubahan. Perlu diketahui bahwa langkah 1 sampai 6 di atas gratis (tidak berbayar). Tapi jika Anda punya akun Scopus berbayar bisa juga, bahkan sepertinya lebih baik.

Tunggu beberapa hari menunggu kabar dari Scopus mengenai perubahan yang diajukan. Sekian, semoga bisa sedikit membantu.

 

 

 

Pentingnya Kampus Memiliki Jurnal

Ada postingan di grup bahwa lebih baik fokus dosen-dosen menulis di jurnal-jurnal dibandingkan mengelola jurnal sendiri. Alasannya kinerja kampus dipengaruhi oleh dosen-dosennya yang aktif memublikasi artikel ilmiahnya. Apalagi jika publish di jurnal internasional bereputasi. Postingan ini sedikit menjawab apakah benar statement tersebut?

Perhitungan Sinta

Apa itu Sinta? Silahkan baca post terdahulu mengenai pengindeks Indonesia tersebut. Sinta saat ini menjadi rujukan kinerja penelitian kampus. Bahkan pemeringkatan kampus di tanah air dapat dilihat di situs tersebut, hingga tulisan ini dibuat, tiga besar masih dipegang UI, ITB dan UGM.

Saya mencoba menghitung secara manual skor kampus saya, Universitas Islam 45 Bekasi yang dapat diakses di laman Sinta per 6 Maret 2020 akan dihitung secara manual.

Rinciannya adalah sebagai berikut, jurnal Q2 berbobot 40 ada 3 buah, Q3 berbobot 35 3 buah, Q4/non-Q yang berbobot 30 ada satu. Prosiding yang berbobot 15 ada 12 buah.

Selain dari sisi jumlah, sitasi pun dihitung. Ada 45 sitasi scopus yang berbobot 4. Untuk Google Scholar, Restek/BRIN membatasi maksimal sitasi 1000, sementara di UNISMA lebih dari 1000, dengan bobot 0,5. Terlihat jumlah sitasi di Scopus sebanyak 19 dengan bobot 4 sementara jumlah terindeks Google Scholar 3040 buah dengan bobot 0,5. Lengkapnya gambar di bawah ini. Jurnal yang terindeks Sinta ada 6 dengan bobot 15.

 

Untuk menghitungnya silahkan lihat di panduan yang ada di link Sinta berikut. Untuk versi 2.0 Sinta sudah memasukan faktor jurnal dalam perhitungan skor institusi.

Formula Sinta Score: Wa x A + Wb x B + Wc x C + Wd x D + We x E

Dengan A, B, C, D dan E berturut-turut adalah jumlah jurnal di Scopus, Non-jurnal di Scopus, Sitasi Scopus, Sitasi Google Scholar, jumlah artikel di jurnal terindeks Sinta, dan Jumlah jurnal terakreditasi sinta. Bobot dapat dilihat berikut, mengikuti Sinta.

Jika dimasukan dengan formula Sinta diperoleh hasil sebagai berikut:

SKOR = [40×3+35×3+30×1] + [15×12] + [63×4] + [1000×0,5] + [25×4+15×20+20×15] + [6×15] = 1977

Ada sedikit perbedaan sebesar 11 persen dibanding perhitungan Sinta yang sebesear 2237. Mungkin ada sedikit salah hitung dari saya.

Peran Jurnal Terakreditasi

Kembali ke topik semula, apakah ada manfaatnya kampus memiliki jurnal terakreditasi? Silahkan lihat perhitungan di atas. Walaupun sedikit bobotnya tetapi jurnal kampus menjadi andalan para dosen-dosennya, terutama yang membimbing skripsi/tugas akhir untuk mempublikasikan hasil penelitiannya. Oiya, jurnal kampus merupakan satu-satunya skor yang “abadi”, dibanding dengan dosen yang bisa pindah, pensiun, atau meninggal dunia. Silahkan kalau Anda sanggup mengikat dosen-dosen untuk tidak kabur ke kampus lain.

Sebagai ilustrasi, berikut contoh hitung2an jika tiap prodi di kampus saya (27 prodi) memiliki jurnal terakreditasi Sinta (misalnya S3 ke bawah). Akan ada tambahan 27×15 = 405 point. Otomatis peringkat naik, walau sedikit. Tentu saja bukan cuma dari skor jurnal, ada dampak tidak langsung dari dosen-dosen di 27 jurnal tersebut, karena biasanya lebih mengutamakan dosen-dosen internal yang menulis. Jika satu jurnal mempublish 5 tulisan dosen-dosennya, maka ada sekitar 27x5x15 = 2025 tambahan skor tiap edisinya. Jika per tahun dua kali publish maka ada tambahan 4050 !!! Silahkan kalau berani kampus Anda tidak memiliki jurnal ilmiah terakreditasi. Dapat dipastikan akan tergantung dengan kampus lain yang memiliki jurnal. Memang dalam prakteknya ada “barter” penulis jurnal antar kampus tapi tentu saja kampus A akan mikir-mikir jika kampus B mengirim paper ke A jauh lebih banyak dari kampus A ke kampus B. Jika kita lihat peringkat kampus, tampak tipis sekali bedanya, 405 point jurnal ditambah dosen-dosen yang menulis sudah cukup menggenjot peringkat kampus Anda.

Sebenarnya sasaran pemerintah adalah jangan sampai bergantung dengan Scopus. Tentu saja syarat yang harus dipenuhi adalah kualitas dan kuantitas jurnal yang ada di Indonesia harus diperkuat. Tanpa hal itu, beresiko jika mengatakan untuk tidak perlu menggunakan standar internasional (Scopus atau Web of Science) mengingat kampus merupakan organisasi yang berbasis kepercayaan publik. Oiya, yang penting untuk diperhatikan, tidak semua orang memiliki kemampuan sebagai editor yang harus sabar dan tekun mengikuti tren penelitian di dunia. Semoga tulisan ini bisa menginspirasi dan tetap membangkitkan semangat kampus untuk meningkatkan kualitas jurnal-jurnalnya yang jujur saja kita kalah dengan negara-negara tetangga. Oiya, pemilik (owner) kampus tidak ada salahnya menyimak tulisan ini lho.