Mengganti Afiliasi pada Scopus

Biasanya mahasiswa yang sedang kuliah memiliki akun Scopus sementara sampai yang bersangkutan lulus. Saya sendiri masih diberi kesempatan beberapa bulan ke depan untuk bisa login, dan mumpung masih punya login ada baiknya mengubah afiliasi yang tadinya kampus tempat kuliah menjadi kampus tempat kerja saat ini. Pemicunya adalah pesan dari Scopus setelah login bahwa ada fasilitas baru Scopus untuk mengganti afiliasi dan juga detil nama author, langsung saja saya menjalankan fasilitas tersebut.

Untuk mengganti afiliasi, cara termudah adalah menyamakan dengan daftar nama yang sudah ada di artikel kita sebelumnya. Sebelumnya masuk ke Help (Support Center) untuk mencari informasi pergantian afiliasi. Ada isian tentang alasan pergantian afiliasi, nama afiliasi yang baru dan lain-lain.

Kebetulan saya pernah publish di jurnal internasional dengan nama afiliasi “Islam 45 University”, jadi jika kita meminta untuk mengganti afiliasi yang lama dengan afiliasi tersebut, prosesnya lebih mudah.

Prosesnya cukup lama ternyata, dua mingguan. Sebelum berubah Scopus memberitahukan bahwa permintaan disetujui.

Jika sudah disetujui tampak afiliasi yang sudah beralih ke afiliasi yang baru. Akhirnya saya sudah bisa mengucapkan selamat tinggal dengan afiliasi sebelumnya, tempat saya 5 tahun kuliah.

Mungkin informasi ini bermanfaat bagi rekan-rekan yang sedang kuliah dan memiliki kendala afiliasi yang masih “nebeng” kampus tempat kuliah. Sekaligus juga menambah skor publikasi negara kita.

Iklan

Mencoba Open Journal System (OJS) Versi 3.1.0.0

Oleh: Herlawati

Ketika memberi pelatihan OJS 3 di kampus UNISMA Bekasi, ada beberapa hal baru yang dapat dibagikan di sini. Pertama-tama ternyata OJS saat ini masuk versi 3.1.0.0 dengan tampilan yang lebih “smooth” dibanding versi 3.0. Berikut beberapa hal spesifik yang menjadi kendala saat itu:

Role “jurnal manager”

Jurnal menager memiliki hak akses untuk melakukan beberapa aksi seperti mempublish artikel baru. Tetapi beberapa role harus diset di level di atasnya (admin) dan tidak mengikuti default-nya. Sebab jika mengikuti aturan default dari bawaan OJS3 memiliki banyak keterbatasan, terutama bagi pengelola jurnal baru yang harus mengupload edisi-edisi cetak lawas yang harus dionline-kan. Tentu saja jangan disamakan level jurnal manager dengan admin karena khawatir pengelola jurnal merusak e-journal (berisi beberapa jurnal di suatu institusi). Uniknya akun yang sudah dibuat default tidak bisa diedit, dan harus dibuatkan akun baru dengan hak akses yang tidak default. Terpaksa membuat akun-akun baru jurnal manager dengan hak akses yang tidak default (dengan fasilitas khusus).

Menu tambahan

Beberapa peserta berhasil menambahkan menu tambahan, tetapi ada satu jurnal yang tidak bisa ditambahkan menu tertentu seperti “Editorial Team” yang berisi nama-nama pengelola suatu jurnal. Kasus ini agak rumit karena hanya satu jurnal yang bermasalah sementara jurnal-jurnal lainnya oke.

Upload Gambar

Ketika menambahkan teks statis di bar vertikal kanan, dan akan memasukan logo/gambar ternyata tidak bisa upload gambar. Tetapi dengan menggunakan gambar/logo dari link sumber lain ternyata bisa. Sepertinya masih harus diteliti masalah upload gambar di OJS 3.1.0.0 ini.

Masih banyak hal-hal teknis yang perlu dibenahi. OJS buatan PKP ini pun terus membenahi diri dengan mempermudah penggunaannya. Maklum tidak semua pengguna memiliki background komputer. Oiya, silahkan berkunjung ke jurnal yang diutak-atik barusan di link berikut ini. Sekian semoga bermanfaat.

Pelatihan OJS3

Update: 24 Februari 2018

Info dari pertemuan antar pengelola jurnal di LIPI bahwa migrasi dari OJS 2 ke OJS 3 harus hati-hati mengingat tiap artikel yang dipublikasi memiliki Digital Object Identifier (DOI) yang unik dan ketika migrasi harus dipastikan tidak berubah. Sementara info dari PKP, perancang OJS, menyebutkan versi 3 memiliki keunggulan lebih dinamis, mudah dikustomisasi, dan theme yang lebih menarik. Silahkan lihat di link resminya.

Open Journal System (OJS) Versi 3

Oleh: Herlawati, S.Si., M.M., M.Kom. (STMIK Bina Insani)

Open Journal System (OJS) adalah aplikasi gratis untuk mengelola jurnal. Aplikasi ini dibuat oleh Public Knowledge Project (PKP), silahkan kunjungi situsnya. Saat ini OJS sudah versi 3 dengan tambahan utama misalnya ORCID ID terlihat, serta tahapan proses publikasi lebih singkat dibanding OJS versi sebelumnya (versi 2). Selain itu tampilan lebih halus, bentuk sitasi yang kustom, dan lain-lain.

Untuk info lebih lanjut, silahkan hubungi tim Relawan Jurnal Indonesia (RJI). Beberapa waktu yang lalu, sebagai contoh perguruan tinggi Bina Insani mengadakan pelatihan OJS tersebut. Postingan tentang pelatihan kustomisasi OJS 3 dan MOU dengan pihak Relawan Jurnal Indonesia (RJI) korda Jakarta dapat dilihat link berikut ini.

Salah satu kustomisasi adalah mengaktifkan plugin. Plugin ini berfungsi untuk menseting komponen-komponen tertentu di OJS, seperti menambah focus and scope, peer review, template, alamat redaksi, stats counter, dan lain-lain. Silahkan video tutorialnya berikut.

Setelah diaktivasi, untuk menambah salah satu komponen, misalnya stats counter, akan dilanjutkan pada postingan lainnya.

Buku Teks vs Buku Elektronik dan Online

Media cetak dikabarkan mulai terdisrupsi dengan media elektronik dan online. Surat kabar-surat kabar mulai ditinggalkan dan pengguna cenderung lebih suka membuka website ketika ingin melihat berita. Media online lebih disukai karena sifatnya yang hampir realtime, dibanding misalnya surat kabar yang harus menunggu esok hari untuk melihat berita hari ini. Tetapi bagaimana dengan buku teks pelajaran?

Beberapa buku sudah saya coba terbitkan (terakhir database pada Matlab). Selain dari sisi materi (royalti), ada hal-hal lain yang dapat saya pelajari dari sudut pandang penerbit. Salah satunya adalah bagaiman mereka bisa eksis hingga saat ini, yang katanya masuk dalam era “disrupsi”. Mungkin beberapa aspek luput dari pantauan saya, tetapi beberapa point berikut mungkin bisa jadi bahan referensi.

Tuntutan Referensi

Selama masih ada orang yang kuliah, menulis tugas akhir/skripsi/disertasi, dan kegiatan akademik lainnya, tuntutan buku referensi pasti ada. Bahkan beberapa buku yang sudah saya publikasikan, habis dan harus dicetak ulang. Walaupun blog, youtube, dan instagram sedang “trend”, tetap saja tidak bisa dijadikan bahan rujukan resmi.

Perkembangan Teknologi yang Pesat

Beberapa ilmu, misalnya teknologi informasi, perkembangannya sangat pesat. Satu buku yang membahas suatu metode terkini, beberapa tahun kemudian akan jadi usang. Maka tuntutan buku panduan yang baru terus ada. Jika dulu buku referensi biasanya kampus mensyaratkan lima tahun terakhir, ternyata buku yang saya tulis 2015 sudah habis di tangan penerbit. Bagaimana jika dicetak lagi? Sepertinya masuk akal, tetapi penerbit lebih suka melakukan revisi (edisi kedua, tiga, dst) dibanding sekedar mencetak ulang. Hal ini karena pasti ada perkembangan baru selama buku tersebut beredar di pasaran yang harus di-update. Juga masalah pembajakan membuat penerbit terpaksa mencetak hal-hal baru.

Kewajiban Menulis bagi Pengajar

Ini merupakan pemicu tetapi hanya untuk pengajar yang produktif saja. Walau dipaksa jika pengajar tersebut enggan menulis tetap saja tidak tercipta satu karya. Namun dengan aturan, biasanya akan jalan juga, mirip kasus dosen harus S2. Rekan-rekan saya yang malas studi lanjut terpaksa kuliah lagi, atau menyelesaikan kuliah S2-nya yang terbengkalai bertahun-tahun.

Lebih Nyaman Membaca Buku Tercetak

Tidak disangkal buku dalam format PDF banyak dijumpai di internet. Terkadang jumlahnya sangat banyak, hingga bingung dan satu pun tidak ada yang dibaca. Ingat era “big data”, bahwa mencari informasi berharga sama beratnya dengan membuang informasi yang tidak berharga. Bill gates sendiri menyarankan kita membaca buku teks dibanding online. Memang beberapa pemerhati lingkungan mengatakan buku menghabiskan kayu di hutan, tetapi membaca online membutuhkan listrik yang diambil dari sumber yang belum tentu “green”, misalnya solar, bahkan nuklir. Server Google sendiri (ditambah server-server online lainnya) membutuhkan air berkubik-kubik untuk media pendingin padahal beberapa daerah di belahan dunia kekurangan air.

Harga Buku Bersaing

Ketika melihat buku karangan sendiri di toko buku, tampak kertas yang kualitasnya rendah. Tapi harganya yang murah membuat orang lebih baik membeli asli dibanding memfoto kopi sendiri karena selisihnya yang tidak terlalu signifikan. Pembajakan pun akhirnya sedikit banyak dapat diatasi. Tapi jumlah penduduk negara kita yang banyak, jumlah kampus dan perpustakaan yang kabarnya lebih banyak dibanding negara RRC membuat permintaan buku tetap ada, tinggal memasyarakatkan budaya membaca saja. Maklum budaya membaca negara kita sangat lemah (maksudnya membaca tulisa utuh, bukan status di medsos, atau baca judul informasi yang dishare orang saja).

Banyak Toko Online

Mungkin orang malas ke toko buku, tetapi dengan adanya toko online mereka dengan mudah memesan buku yang harganya jauh lebih murah dari beli ke toko buku. Sudah biasa saat ini, penulis ikut juga menjual bukunya, dengan harga jauh lebih murah. Rekan saya yang diwajibkan “stor buku” saat wisuda pun sempat kewalahan karena “jatah buku” yang harus disetor tidak ada di pasaran (sudah habis). Namun ternyata dengan memesan langsung ke penulis akhirnya dapat juga.

Sepertinya masih banyak faktor-faktor pendukung lainnya. Aspek online yang tadinya tantangan bagi buku ofline terkadang bisa membantu juga, seperti sistem searching yang memudahkan penulis mencari informasi baru, sistem anti plagiasi yang mudah bekerja karena segalanya tersedia online dan lainnya. Jadi memang mudah mencontek, tetapi mudah pula mengecek seseorang plagiasi atau tidak. Hal ini memaksa pengajar menulis tulisan original sendiri. Malu kalau ketahuan copas sana sini. Sekian … semoga menginspirasi.

 

Perbedaan Artikel Riset dan Artikel Review

Ternyata artikel (paper) dalam jurnal ada dua jenis, yaitu artikel riset yang merupakan laporan hasil penelitian dan artikel review yang berisi pembahasan terhadap trend perkembangan riset penulis-penulis lainnya. Walaupun artikel review hanya membahas/me-review artikel-artikel riset peneliti lain, tetapi sangat dibutuhkan oleh orang-orang yang ingin memulai penelitian, biasanya para mahasiswa, terutama program master atau doktoral. Artikel review juga memiliki keunggulan dari sisi jumlah sitasi yang biasanya banyak. Berikut perbedaan-perbedaan antara dua jenis artikel tersebut.

Tujuan Artikel

Artikel riset membahas laporan riset yang menjawab pertanyaan riset penulis. Keoriginalitasan dan keunikan menjadi penentu kualitas tulisan. Sementara artikel review mengkritisi tulisan orang lain (kelemahan dan kelebihan). Artikel review membutuhkan artikel yang banyak untuk dikritisi. Pengalaman penulis terkadang menentukan kualitas artikel review.

Basis Tulisan

Artikel riset berasal dari hasil penelitian yang original seorang penulis. Oleh karena itu sering disebut sumber tulisan primer. Sementara itu artikel review berasal dari tulisan orang lain (bukan original). Walaupun demikian tetap saja tulisan jenis ini dibutuhkan karena memberikan informasi-informasi penting terkait dengan trend terkini suatu penelitian.

Cara Penulisan

Artikel riset menulis berdasarkan pertanyaan penelitian yang kemudian dilanjutkan dengan pengumpulan data dan tahapan-tahapan riset lainnya (dari analisis hingga kesimpulan). Berbeda dengan artikel riset yang berdasarkan pertanyaan penelitian, artikel review berdasarkan pemilihan penulis terhadap topik khusus yang akan dibahas dilanjutkan dengan menampilkan overview dari artikel-artikel yang diteliti.

Apa yang Dilaporkan

Artikel riset menulis abstrak, hipotesa, background study, metodologi, hasil dan interpretasi temuan hingga hasil, temuan, dan riset yang akan datang. Sementara itu pada artikel review penulis mendeteksi variasi-variasi antara satu artikel dengan artikel lainnya. Terkadang terjadi konflik antara satu artikel dengan artikel lainnya. Penulis kemudian mendeteksi mengapa terjadi kontradiksi pada tulisan-tulisan tersebut berdasarkan riset yang dilaporkan tulisan tersebut.

Panjang Tulisan

Artikel riset (3000-6000 halaman, bahkan ada yang 12000) umumnya lebih panjang dibanding artikel review (3000-5000). Artikel riset memiliki tujuan lainnya yaitu agar riset dapat diduplikasi/diulang oleh peneliti lain, sehingga butuh informasi lengkap mengenai data dan metodenya.

Artikel review memiliki tiga bentuk yaitu naratif, sistematik dan meta-analysis. Bentuk naratif berisi penjelasan suatu artikel yang dipublikasikan. Sementara itu, sistematik lebih mendalam dari sisi pertanyaan-pertanyaan yang dijawab dalam suatu riset. Meta-analysis membandingkan dan mengkombinasikan temuan-temuan artikel-artikel riset. Agar artikel review bisa “accepted” di journal internasional perlu terlebih dahulu memperhatikan kelayakan tulisan kita untuk dipublikasikan. Beberapa kampus yang membuka program doktoral yang mensyaratkan publikasi jurnal tidak mengakui artikel review sebagai syarat lulus. Oleh karena itu tidak disarankan bagi mahasiswa doktoral menulis jenis artikel review ini. Sekian semoga bermanfaat.

Referensi:

Metode Increment dan Iterasi dalam Penulisan

Tiap orang memiliki gaya masing-masing dalam membuat tulisan (proposal, tesis, disertasi, dan sebagainya). Selain dalam menulis, ketika me-manage pun berbeda-beda. Salah satu gaya yang saya sukai adalah tipe increment dan iterasi, mirip perancangan perangkat lunak. Untungnya pembimbing juga memiliki tipe yang sama, jadi bisa klop dan proses penulisan jadi cepat.

Bagaimana bisa tahu pembimbing bertipe increment atau tidak? Saya peroleh informasi senior yang mengajukan bab 1, bab 2, dan seterusnya, ternyata tidak terlalu direspon. Repot juga kalau begitu, bisa nggak selesai-selesai kalo tipenya waterfall begitu. Akhirnya saya coba nekat dikit, karena waktu yang mepet, saya coba waktu itu proposal hanya 5 lembar. Terlihat “gila”, tetapi isinya lengkap bab I sampai bab IV hingga daftar reference. Dengan dijilid steples pula .. hehe.

Proposal 5 lembar ini sebaiknya jangan ditiru karena kerjaan orang nekat dan kepepet deadline. Hal ini terjadi karena datang ke kampus telat dari Indonesia, masalah administrasi yang ribet, ditambah advisor pertama yang menolak membimbing karena tidak begitu menguasai data spasial, dan masalah-masalah lainnya. Ketika melihat dia merespon, memperbaiki judul dan mengusulkan anggota pembimbing, dapat disimpulkan dia juga tipe yang sama. Tentu saja saya diminta revisi proposal tersebut (25 – 30 halaman).

Dalam waktu beberapa hari yang terbatas, tulisan bisa dikembangkan menjadi 25 halaman. Seperti biasa, corat-coret dan minta ditambahkan hingga 35 – 40 halaman. Dan dalam waktu beberapa hari jadi juga 31 halaman, walaupun kurang dari yang diminta (35-40 halaman).

Akhirnya jadi juga proposal sekitar 35 halaman yang kemudian diuji dalam sesi yang dikenal dengan istilah ujian Candidacy (perubahan status dari “calon kandidat doktor” menjadi “kandidat doktor”). Lumayan berat karena sifat riset yang multidisiplin dengan para pembimbing yang berasal dari bidang computer science, urban environment, dan remote sensing – GIS, serta saya sendiri dari information management. Advisor pun ternyata mempelajari gaya saya yang jika diberi instruksi berupa range, misal 25 sampai 30 halaman, saya cenderung membuat “tarif bawah”, lama-lama dia menginstruksikan angka pasti, misal “buat 50 slide”, yang mau tidak mau saya memilih 50 slide. Postingan ini hanya pengalaman pribadi yang tentu saja terkadang tidak cocok dan tergantung dari style masing-masing dan juga dosen pembimbing. Semoga bermanfaat.

Biaya Studi Doktoral

Iseng-iseng buka Sistem Informasi Akademik (SIS) kampus tempat kuliah, mumpung masih bisa buka. Terutama di bagian tagihan (SPP, listrik, dan kos). Ternyata lumayan juga, dari tahun 2013 hingga Januari 2018 ternyata menghabiskan dana hampir 700 juta (kalau hanya uang kuliah sebesar Rp. 600 juta). Lumayan juga.

Ketika saya ngobrol sambil ngopi dengan teman yang juga kuliah di sana, dari Dep. Pertanian, ternyata saya lupa, itu belum biaya hidup yang sebulanya dari pemerintah sekitar $600 (Rp. 8,4 juta utk kurs $1= Rp. 14.000). Jika dihitung selama 4 tahun (48 bulan) maka menghabiskan sekitar Rp. 400 juta. Jadi total pemerintah menganggarkan untuk satu mahasiswa doktoral sebesar Rp. 1 Milyar. Angka yang cukup besar. Itu Thailand, bagaimana dengan negara lain? Mungkin rekan-rekan yang studi di Eropa, Jepang, dan Australia bisa memberi gambaran. Sebagai informasi, waktu pelatihan bahasa di UGM sebelum berangkat (tahun 2011) diberitahu kalau pemerintah menganggarkan Rp. 2 Milayar untuk mahasiswa doktoral di Australia, hampir 2 kali lipat Thailand ternyata.

Karena hanya dibiayai 4 tahun, maka harus self support satu semester karena molor (4,5 tahun) dan harus ditanggung sendiri (belasan juta rupiah). Untungnya biaya hidup murah meriah di sana dan kampus masih membiayai lewat gaji bulanan. Info dari teman kuliah yang dibayarin kampus kalau molor kabarnya tiap semester kampus mengirimkan bantuan hampir Rp. 1 Milyar mahasiswanya yang tersebar di seluruh dunia karena melewati batas beasiswa. Jadi wajar jika ikatan dinas sebesar 2n+1 untuk mahasiswa luar negeri, dibanding dalam negeri yang hanya n+1 (dengan n adalah masa studi). Oiya, uang itu dari pajak (uang rakyat), maka harus bermanfaat untuk negara.