Membuat Mask (Bingkai) Pada Citra & Manfaatnya

Postingan ini bermaksud menginformasikan problem ketika pencocokan pola citra kurang berhasil akibat pola yang tidak memiliki bingkai. Ketika dengan Autoassociative Memory diminta memprediksi angka satu berikut (lihat yang berwarna putih).

Prediksi di sebelah kanan memang tepat angka satu, tetapi terpotong di bagian atas dan bawahnya. Kita coba untuk menambahkan bingkai pada citra yang akan dilatih dan diterka.

Menambahkan Nol di Sekitar Matriks

Misal angka nol di bawah akan dibuatkan bingkainya. Langkah pertama adalah mengetahui ukuran matriks angka nol tersebut.

Gunakan fungsi size di Matlab. Setelah itu dengan fungsi “zeros” buat matriks berukuran dua digit lebih banyak dari ukuran sebelumnya. Misalnya matriks di atas memiliki ukuran baris x kolom sebesar 5 x 3 maka buatlah matriks nol dengan ukuran 7 x 5.

  • imshow(nol,’InitialMagnification’,’fit’)
  • nolmask=zeros(7,5);
  • nolmask(2:6,2:4)=nol;
  • imshow(nolmask,’InitialMagnification’,’fit’)

Perhatikan angka nol (yang berwarna putih) telah memiliki bingkai (warna hitam di sekelilingnya). Berikutnya kita coba melatih jaringan syaraf tiruan (JST) yang sebelumnya tanpa bingkai. Diuji dengan angka satu udah ok: hasil: “satu” (sebelah kiri) dan yang sebelah kanan nol dengan sedikit error berhasil mendeteksi (hasil deteksi: “nol”).

Mengkonversi Polygon Peta Pada ArcGIS ke Matriks di Matlab

Terkadang untuk melakukan manipulasi dengan Matlab membutuhkan konversi dari data berupa peta menjadi matriks. Jika sudah dalam bentuk matriks maka beragam metode dapat diterapkan untuk memanipulasi matriks peta tersebut seperti pengklusteran, klasifikasi, dan lain-lain. Postingan ini bermaksud mengkonversi citra polygon menjadi matriks di Matlab.

Mempersiapkan Poligon

Terlebih dahulu persiapkan peta poligon, misalnya lokasi sekolah di bekasi selatan. Karena fungsi polygon to raster di ArcGIS tidak berlaku untuk titik maka diperlukan proses “buffering” agar dihasilkan region sebuah titik. Cari fungsi “buffering” tersebut di kolom “search” pada ArcGIS anda.

Di sini dibuat lingkaran dengan jarak 50 meter dari pusat titik di tiap-tiap lokasi. Secara default tipenya adalah lingkaran. Jika sudah tekan “OK” di bagian bawah. Pastikan peta baru yang berisi lingkaran dengan jari-jari 50 meter yang berada di sekitar titik lokasi.

Konversi ke Raster

Untuk menjadikan poligon menjadi matriks diperlukan proses konversi dari poligon ke raster dengan fungsi “Polygon to Raster”.

Tekan “OK” dan tunggu sesaat hingga ArcGIS membuat rasternya seperti gambar berikut ini. Perhatikan yang tadinya lingkaran (round) sedikit berubah menjadi kotak-kotak.

Membentuk Matriks di Matlab

Terakhir kita menarik data yang telah dibuat oleh ArcGIS ke Matlab. Pertama-tama data perlu di- “Export” terlebih dahulu. Bentuknya terdiri dari beberapa layer dengan komponen utamanya berekstensi TIF yang mirip dengan JPG atau PNG.

Pastikan di folder target terdapat salah satu citra yang akan dibaca matriksnya lewat Matlab. Arahkan “Current Directory” pada lokasi yang sesuai agar bisa dibaca Matlab. Jalankan perintah ini untuk melihat “image”nya.

  • imshow(‘sekolah_PolygonToRaster11.tif’)

Jika kita lihat ukurannya masih sangat besar.

  • I=imread(‘sekolah_PolygonToRaster11.tif’);
  • size(I)
  • ans =
  • 474 248

Ada baiknya resolusi sedikit diturunkan agar diperoleh matriks yang mudah dimanipulasi. Gunakan fungsi “imresize” dengan sebelumnya mengkonversi gray menjadi biner.

  • I2=imresize(I,0.25);
  • size(I2)
  • ans =
  • 119 62

Tampak resolusinya berkurang seperempatnya. Konversi menjadi biner agar dihasilkan image yang tidak pecah-pecah seperti di atas. Untuk membahas masalah tersebut perlu postingan lain tentang pengolahan citra. Semoga bisa menginspirasi.

Red, Green, dan Blue (RGB) Pada Matlab

Representasi warna yang dikenal antara lain: i) Red, Green, Blue (RGB), ii) Cyan, Magenta, Yellow, Black (CMYK), iii) Hue, Saturation, Brightness (HSB), dan iv) CIE-XYZ. Di sini yang paling mudah dan terkenal adalah RGB. Postingan ini bermaksud menjelaskan secara mudah model warna RGB ini.

Sejarah

Kita mengenal TV berwarna yang mengkombinasikan tiap piksel dengan gabungan komposisi warna Red, Green, dan Blue. Jika seluruh warna R, G, dan B nol atau padam, maka dihasilkan warna hitam. Sebaliknya jika seluruhnya menyala maksimal, diperoleh warna putih.

Membuat Warna

Perhatikan warna Turqoise di bawah ini. Warna ini merupakan kombinasi warna Red, Green, dan Blue berturut-turut 64, 224, dan 208. Bagaimana merepresentasikannya dalam Matlab?

Baik, kita mulai saja dengan membuka Matlab versi 2008 ke atas (mungkin sebelumnya bisa, asalkan ada fungsi “imshow” dan “cat” pada matriks).

Format RGB pada Matlab

Matlab menggunakan format matriks tiga dimensi, berbeda dengan gray atau biner yang menggunakan satu matriks saja. Oke, misalnya kita buat piksel yang membentuk huruf ‘c’.

  • c=[1 1 1;1 0 0;1 1 1];
  • imshow(c,’InitialMagnification’,’fit’)

Disini “InitialMagnification” artinya memperbesar huruf c tersebut agar bisa dilihat jelas. Coba saja tanpa fungsi itu, pasti hanya berupa titik kecil saja.

Nah, di sini kita diminta merubah huruf c format biner tersebut menjadi warna turquoise pada gambar di atas sebelumnya. Caranya adalah dengan merubah satu matriks ‘c’ tersebut menjadi komposisi tiga matriks R, G, dan B berupa perbandingan dari 0 hingga 255.

Warna Red, Green, Blue

Di sini warna merah adalah 64 dari 255. Tuliskan di command window instruksi berikut.

  • r=c*64/255
  • r =
  • 0.2510 0.2510 0.2510
  • 0.2510 0 0
  • 0.2510 0.2510 0.2510

Dengan cara yang sama buat juga Green dan Blue.

  • g=c*224/255;
  • b=c*224/208;

Jika komposisi R, G, dan B sudah dibuat, berikutnya adalah meng-concatenate tiga matriks tersebut (r, g, dan b) menjadi satu.

  • image=cat(3,r,g,b);
  • imshow(image,’InitialMagnification’,’fit’)

Pastikan diperoleh huruf ‘c’ dengan warna turquoise seperti di bawah. Jika Anda bisa memanipulasi satu piksel maka Anda pasti bisa memanipulasi beragam citra menjadi warna-warna tertentu. Sekian, semoga bermanfaat.

Imresize Citra dengan Matlab

Imresize merupakan fungsi dalam Matlab untuk memperkecil ukuran citra. Misal sebuah citra berukuran 100 x 100 dapat diperkecil menjadi 10 x 10. Gunanya adalah menurunkan resolusi agar dapat lebih cepat diproses. Perhatikan citra berikut (nama file “Huruf A.png”):

Citra bertipe JPG atau PNG harus dibaca di konsol Matlab. Gunakan fungsi imread untuk mengkonversi JPG menjadi matriks gambar.

  • x=imread(‘Huruf A.png’);
  • x2=rgb2gray(x);

Fungsi rgb2gray bermaksud merubah citra berwarna (red, green, dan blue) menjadi hitam putih. Berikutnya kita coba mereduksi matriksnya dengan fungsi imresize berikut ini:

  • x3=imresize(x2,.05)

Perhatikan x3 merudiksi x2 sebesar 5 persen. Jika dilihat gambarnya dengan fungsi imshow akan muncul citra yang sudah tereduksi ukurannya.

  • Imshow(x3,’InitialMagnification’,’fit’)

Citra hasil imresize dari sulit dimanipulasi. Misal dibagi dgn 255 tiap elemennya menjadi 1.

Tampak citra yang masih berbentuk gray. Untuk diolah dengan jaringan syaraf tiruan perlu dikonversi menjadi biner 1 dan 0 atau +1 dan -1. Untuk gambar yg normal bisa dengan im2bw, tetapi hasilnya akan 1 semua. Cari paling sederhana adalah membuat kode untuk merubah 255 menjadi -1 dan yang bukan 255 menjadi 1.

  • [row kol]=size(x3)
  • for i=1:row
  • for j=1:row
  • if x3(i,j)==max(max(x))
  • x3(i,j)=-1;
  • else
  • x3(i,j)=1;
  • end
  • end
  • end

Hasilnya matrix nol dan 1 yang harus dikalikan dengan 255 terlebih dahulu sebelum dimanipulasi dengan fungsi im2bw.

  • x4=x3*255;
  • x5=im2bw(x4);
  • x6=x5*2-1;
  • imshow(x6,’InitialMagnification’,’fit’)

Hasilnya adalah tampak pada gambar di bawah, berupa matriks hasil reduksi dari yang sebelah kanan. Dari ukuran matriks 190×193 menjadi matriks 10×10 yang lebih mudah dimanipulasi.

 

 

 

 

Merubah Foto Menjadi Citra Negatif dan Sebaliknya

Untuk yang pernah hidup di era 80-an, pasti mengenal foto yang dicetak dari negatif foto atau dikenal dengan nama klise. Nah, jika foto sudah jamuran atau rusak, bisa mereproduksi foto tersebut jika masih memiliki klise-nya. Gunakan scanner untuk memindai klise tersebut.

Fungsi untuk merubah citra menjadi negatif dan sebaliknya pada Matlab adalah imcomplement atau dengan persamaan 255-1-i, dengan “i” adalah imread dari citra berformat jpg, jpeg, atau png. Misal gambar berikut ini (silahkan unduh di sini).

Gunakan kode sederhana pada command window. Misal citra yang diunduh diberi nama “sample.jpg”.

  • a=imread(‘sample.jpg’);
  • b=255-1-a;
  • imshow(b)

Tampak hasil foto real dari negatif fotonya. Jika ingin menyimpan citra menjadi file gambar gunakan fungsi imwrite.

  • Imwrite(b,’hasil.jpg’)

Maka muncul satu file bernama “hasil.jpg” yang merupakan hasil pemrosesan citra file “sample.jpg” yang lalu.

Silahkan buat GUI supaya lebih mudah digunakan.

Cukup dengan kode berikut di tombol “Ambil File”, gambar yang siap cetak diberinama “konversi.jpg”:

  • x=uigetfile(‘*.jpg’);
  • a=imread(x);
  • b=imcomplement(a);
  • axes(handles.axes1);
  • imshow(a)
  • axes(handles.axes2);
  • imshow(b)
  • imwrite(b,’konversi.jpg’);

Menyamakan Ukuran Citra

[peng.citra|t.komputer|lab.hardware|pert.10]

Untuk membandingkan dua citra baik dengan JST atau metode yang lain, hal mutlak yang harus dilakukan adalah menyamakan ukuran dari citra. Menyamakan ukuran berarti menyamakan dimensi matriks antara satu gambar dengan gambar yang akan diuji kemiripannya. Gambar GUI di bawah ini adalah contoh ilustrasi proses pembandingan.

Perhatikan gambar di atas dimana gambar 1 yang merupakan master akan diuji dengan gambar 2 yang memiliki ukuran berbeda (kolom atau tinggi segiempatnya) dimana angka tiga 371, sementara angka 2 742. Proses callback “Resize Gbr 2” berisi kode berikut:

  • image=handles.image;
  • b=handles.b;
  • c=handles.c;
  • % ukuran gbr2
  • [b2,c2]=size(image)
  • save testing
  • image=imresize(image,[b c])
  • axes(handles.axes2)
  • imshow(image)
  • set(handles.edit5,’String’,b)
  • set(handles.edit6,’String’,c)

Perhatikan gambar di atas. Ukuran baru gambar dua sudah sama dengan tiga (kolom = 371). Dengan samanya ukuran gambar 1 dan gambar 2 maka proses selanjutnya (Uji Kecocokan) dapat dilakukan. Ada hal-hal tertentu yang didapat pada praktik hari ini:

  • Tidak boleh memberi nama GUI dengan nama yang dimiliki suatu fungsi pada Matlab, misalnya dengan nama “imresize”, karana ketika ada instruksi “imshow” akan menampilkan GUI tersebut bukannya gambar/citra.
  • Ketika GUI dengan Matlab 2013 dijalankan di 2008 ada pesan error dan tidak dapat dijalankan. Tetapi jika GUI dengan Matlab 2008 dapat dijalankan dengan 2013 ke atas. Semoga bermanfaat.

Menyiapkan Data Citra Untuk Pelatihan JST

[peng.citra|t.komputer|lab.hardware|pert.9]

Berikut ini contoh menyiapkan data training dan target sebagai masukan proses pelatihan pada Jaringan Syaraf Tiruan (JST). Kasusnya mirip dengan postingan yang lalu, hanya saja di sini kita coba dengan gambar/citra sesungguhnya. Bagaimana membuat data training dengan GUI agar lebih mudah menyiapkan datanya? Selain itu tentu saja terhindar dari kesalahan manusiawi (human error) ketika meramu data-nya.

Membuat GUI Pemrosesan Citra

Secara sederhana dan praktis data dibuat dengan paint bawaan Windows. Misalnya sistem yang dibuat mampu menebak angka 0, 1, hingga 5 saja. Tiap angka digambar sebanyak lima kali, beri nama misalnya 1a, 1b, .. dan seterusnya.

JST memisahkan data dengan target. Jadi data latih dari 0 hingga 5 dengan masing-masing angka lima gambar harus disediakan. Totalnya adalah 6×5 atau 30 data latih, begitu juga targetnya. Misal kita buat GUI sebagai berikut.

Algoritma

Prinsip kerja sederhana dari data yang akan dilatih adalah dengan membuat hubungan satu-satu antara data latih dengan targetnya. Jadi satu record citra yang sudah diolah dikonversi menjadi vektor baris (satu baris terdiri dari beberapa kolom) dibuatkan targetnya dengan indeks baris yang sama.

Pem-Vektor-an

Input: Citra

Output: Vector Citra

  • Ambil citra
  • Jadikan hitam putih
  • Jadikan biner
  • Perkecil, misal 20%
  • Jadikan vektor

Kode di bawah ini salah satu contoh menyimpan hasil pemvektoran data citra.

  • [img,file]=uigetfile(‘*.jpg’)
  • image=imread(img)
  • % pemrosesan citra
  • % jadi hitam putih
  • image=rgb2gray(image)
  • % jadi biner
  • image=im2bw(image)
  • % perkecil 20%
  • [baris,kolom]=size(image) %cari ukuran
  • image=imresize(image,[round(baris*0.2) round(kolom*0.2)]);
  • imshow(image)
  • % cek ukuran yg baru
  • [baris,kolom]=size(image)
  • % jadi vektor
  • image=reshape(image,1,(baris*kolom),[])
  • handles.image=image;
  • guidata(hObject,handles)
  • [baris,kolom]=size(image)
  • simpan=img(1:2)
  • save(simpan,’image’)

Simpan Vektor Hasil Pemrosesan

Salah satu hal sepele tetapi merepotkan adalah menyimpan vektor hasilnya. Di sini fungsi simpan=img(1:2) akan menyimpan vektor dengan nama yang sama dengan gambar yang diambil, tetapi hanya depannya saja (satu sampai dua karakter) karena ekstensinya beda (*.mat).

Setelah citra diambil dan diolah menjadi vektor, selain ditampilkan hasil prosesnya (biner dan diperkecil 20%) pastikan di folder tersimpan file matlab dengan nama yang sama dengan nama citra awalnya (hanya ekstensinya yang berbeda). Tinggal nanti seluruh file hasil pemvektoran digabung menjadi satu data latih beserta satu buah data label/targetnya. Sekian, semoga bermanfaat.

Deteksi Warna Komposit dengan Matlab

[peng.citra|t.kom|lab.hardware|pert.7]

Warna dasar RGB adalah Red, Green, dan Blue yang masing-masing menyatakan nilai maksimal komposisinya yaitu 255. Misalnya warna merah, maka matriks-nya sebesar [255 0 0], begitu juga untuk warna hijau dan biru, masing-masing [0 255 0] dan [0 0 255]. Bagaimana cara mendeteksi warna-warna komposit yang bukan merupakan warna dasar seperti kuning, jingga, dan lain-lain? Postingan kali ini sedikit menjelaskan cara mendeteksinya dengan menggunakan jarak Euclidean.

Standar Warna RGB

Standar warna RGB banyak diterapkan pada image processing. Standar ini menggunakan warna merah, hijau dan biru sebagai patokan warna-warna lainnya. Warna lainnya dapat dibuat dengan menggabungkan proporsi warna merah, hijau, dan biru tersebut. Berikut standar warna selain merah, hijau, dan biru.

Tabel di atas juga menyertakan paduan standar Cyan, Magenta, Yelow, dan Black (CMYK) dan HSV. Sebagai kelanjutan Pert 6 yang lalu, di sini kita menerapkan deteksi warna dengan jarak Euclidean.

Praktek dengan GUI

Tambahkan kode tambahan di tombol deteksi warna (Euclidean) karena bukan hanya R, G, dan B, melainkan beberapa warna lain misalnya kuning, oranye, dan hitam.

Tambahkan tiga jarak baru yaitu dY, dO, dan dK untuk jarak terhadap kuning, oranye dan hitam. Untuk memudahkan penentuan jarak terdekat gunakan fungsi min disertai dengan indeksnya. Indeks dapat diketahui dengan membuat sebuah vektor berisi warna-warna dari merah hingga hitam. Sehingga ketika nilai minimum diketahui, diketahui pula indeksnya. Warna dapat diketahui berdasarkan indeks-nya dari vektor warna.


  • dR=norm(warna-[255 0 0])
  • dH=norm(warna-[0 255 0])
  • dB=norm(warna-[0 0 255])
  • dY=norm(warna-[255 255 0])
  • dO=norm(warna-[255 127 0])
  • dK=norm(warna-[0 0 0])
  • hasil=[dR dH dB dY dO dK]
  • % mencari jarak terkecil
  • strwarna={‘merah’
    ‘hijau’
    ‘biru’
    ‘kuning’
    ‘jingga’
    ‘hitam’}

  • [minimum,indeks]=min(hasil)
  • outwarna=strwarna(indeks)
  • set(handles.edit4,‘String’,outwarna)

Coba uji dengan memasukan data sesuai warnanya, misalnya kuning, oranye dan hitam. Coba uji pula dengan warna yang tidak terlalu hitam (abu-abu), atau tidak terlalu kuning. Sistem akan mencoba mendekati dengan warna-warna standar yang ada (R,G,B, plus kuning, orange dan hitam). Semoga bermanfaat.

Deteksi Warna dengan Jarak Euclidean

[peng.citra|t.kom|lab.hardware|pert.6]

Sistem cerdas membutuhkan teknik agar peralatan dapat membedakan satu warna dengan warna lainnya. Teknik termurah dan termudah adalah dengan jarak Euclidean. Perhitungannya menggunakan rumus jarak dua titik koordinat (dua, tiga, dan dimensi-n) yang mirip garis miring Phytagoras. Sebagai kelanjutan dari pertemuan 5 yang lalu, tambahkan tombol pushbutton disertai edit text untuk melihat komposisi RGB sebuah citra.

Agar ukuran dan format sama dengan tombol-tombol yang lain, kita boleh meng-copy paste tombol dan isian lainnya. Jika sudah simpan dan tambahkan tiga buah warna yang akan diuji. Buat saja dengan menggunakan paint pada Windows. Simpan dalam format JPG agar lebih mudah karena kebanyakan citra dibuat dalam format ini.

Mencari Nilai Terbesar RGB

Salah satu teknik termudah menebah warna sebuah citra adalah dengan mencari nilai terbesar. Cara ini tentu banyak kelemahannya, khususnya untuk warna komposit (gabungan) seperti kuning, ungu, orange, dan lain-lain. Namun, teknik ini tetap digunakan ketika menggunakan jarak Euclidean, tetapi menggunakan fungsi mencari nilai terkecil (kebalikannya). Kode berikut diletakan di Callback deteksi warna.

  • fR=handles.y(:,:,1);
  • fG=handles.y(:,:,2);
  • fB=handles.y(:,:,3);
  • fr=mean(mean(fR));
  • fg=mean(mean(fG));
  • fb=mean(mean(fB));
  • % mencari terbesar
  • warna=[fr fg fb]
  • strwarna={‘merah’ ‘hijau’ ‘biru’}
  • [maks,indeks]=max(warna)
  • outwarna=strwarna(indeks)
  • set(handles.edit4,’String’,outwarna)
  • set(handles.edit5,’String’,fr)
  • set(handles.edit6,’String’,fg)
  • set(handles.edit7,’String’,fb)

fR, fG dan fB adalah berturut-turut matriks citra merah, hijau dan biru. Sementara fr, fg, dan fb nilai rata-rata ekstrak warna dari citra. Perhatikan bagian % mencari nilai terbesar b di atas. Di sini digunakan fungsi max. Fungsi set di akhir fungsi mengirim jawaban yang merupakan warna yang ditebak oleh sistem ke edit text4 dalam contoh ini.

Menggunakan Jarak Euclidean

Jarak Euclidean lebih “ampuh” karena mampu mendeteksi warna komposit dengan menghitung jaraknya dari warna-warna yang jadi patokan/kelas. Sebagai latihan, patokannya misal dianggap sama yaitu merah, hijau dan biru. Pada prakteknya bisa saja merah, kuning dan hijau seperti lampu lalu-lintas.

Tambahkan satu tombol pushbutton “Deteksi Warna (Euclidean)” untuk membedakan dengan tombol sebelumnya yang hanya menggunakan nilai maksimal RGB.

Sebagai ilustrasi, nilai X tentu saja dengan nilai terbesar akan ditebak masuk kategori R. Tetapi di sini kita menghitung terlebih dahulu jaraknya terhadap R, G, dan B lalu dibandingkan mana jarak terkecilnya. Rumus Euclidean adalah mirip sisi miring Phytagoras:

Silahkan menggunakan rumus di atas, atau bisa menggunakan fasilitas fungsi norm pada Matlab yang artinya “normal Euclidean”. Berbeda dengan fungsi max untuk mencari nilai maksimum, untuk mencari nilai minimum dapat menggunakan fungsi min. Ok, masukan kode ini pada tombol “Deteksi Warna (Euclidean)”.

  • warna=[fr fg fb]
  • dR=norm(warna-[255 0 0])
  • dH=norm(warna-[0 255 0])
  • dB=norm(warna-[0 0 255])
  • hasil=[dR dH dB]
  • % mencari jarak terkecil
  • strwarna={‘merah’ ‘hijau’ ‘biru’}
  • [minimum,indeks]=min(hasil)
  • outwarna=strwarna(indeks)
  • set(handles.edit4,’String’,outwarna)
  • set(handles.edit5,’String’,fr)
  • set(handles.edit6,’String’,fg)
  • set(handles.edit7,’String’,fb)

Uji dengan me-run GUI yang baru saja diisi kode-nya. Pastikan sistem bisa menebak warna. Selamat Ber-praktikum.

Deteksi Tepi dengan Matlab

[peng.citra|t.kom|lab.hardware|pert.5]

Di antara deteksi lainnya, seperti titik dan garis, deteksi tepi sangat bermanfaat untuk mengetahui suatu objek secara pasti dan terpisah dari objek lainnya, misalnya background. Pertemuan kali ini sedikit membahas metode-metode deteksi tepi yang terkenal antara lain: sobel, prewitt, dan robert. Untuk itu lanjutkan proyek sederhana pertemuan yang lalu dengan menambahkan satu panel berisi tiga pushbutton: sobel, prewitt, dan robert.

Konversi ke Gray

Deteksi tepi bermain dengan intensitas brightness. Ketika langsung mengakses gambar berwarna RGB ada pesan kesalahan. Perlu merubah terlebih dahulu citra yang diambil dari pushbutton “Ambil Citra” menjadi gray. Copas saja kode pada tombol “Konversi ke Gray” dan masukan ke “Sobel”.

  • z=rgb2gray(handles.y);
  • [g,t]=edge(z,’sobel’)
  • axes(handles.axes2)
  • imshow(g)

Silahkan lihat tatacara penggunaan fungsi edge dengan mengetik “help edge” pada command window. Untuk metode Prewitt dan Robert, caranya sama hanya saja menggunakan parameter berturut-turut ‘prewitt’ dan ‘robert’.

Perhatikan ada noise yang tertangkap. Biasanya sebelum deteksi tepi beberapa manipulasi terhadap citra original-nya diperlukan, misalnya filter dengan fungsi imfilter. Selamat mencoba, semoga bermanfaat.

Melakukan Cropping Pada Citra

[peng.citra|t.komputer|lab.hardware|pert.4]

Terkadang untuk menangkap secara detil suatu permukaan diperlukan proses pemotongan/cropping. Sebagai contoh, lanjutan dari pertemuan 3 yang lalu, tambahkan satu tombol Crop Gambar.

Jika tombol “Crop Gambar” ditekan maka gambar hasil cropping akan ditampilkan pada axes2 di sebelah kanan. Dan jika tombol “Ekstrak Citra R-G-B” ditekan akan menghasilkan harga-harga R,G, dan B yang sudah ternormalisasi di tiga edit text di atasnya.

Cropping Image Pada Matlab

Pada Matlab, fungsi cropping dengan menggunakan fasilitas fungsi imcrop. Silahkan tekan “help imcrop” di command window untuk mengetahui format penulisan fungsi tersebut di kode yang akan dibuat.

  • x=uigetfile(‘*.jpg’);
  • data=imread(x);
  • size(data)
  • ans =
  • 423 644 3

Perhatikan ukuran data citra yang dibaca (lewat imread). Jika kita bayangkan dengan koordinat kartesians, maka panjangnya adalah 644 dan lebarnya adalah 423. Untuk panjang tidak masalah karena arahnya dari kiri ke kanan, hanya saja untuk lebar sedikit berbeda dengan koordinat kartesian. Di sini positif ke arah bawah. Jadi titik tengah gambar tersebut adalah panjang 322 dan lebar 211. Jika ingin mengambil lebar 50 dan panjang juga 50 maka region tersebut dari titik (297, 186) dan offset sebesar masing-masing 50 piksel. Masukan fungsi imcrop untuk memotong gambar.

  • >> data2=imcrop(data,[297 186 50 50]);
  • >> imshow(data2)

Perhatikan format penulisan cropping dimana dua angka terakhir merupakan offset dari titik dimana posisi awal crop dimulai. Untuk mengekstrak citra RGB silahkan gunakan kode di pertemuan 3 yang lalu. Selamat mencoba, semoga bermanfaat.

Menghitung Nilai RGB Sebuah Citra

[peng.citra.digital|tek.komputer|lab.software|pert.4]

Nilai RGB merupakan format pewarnaan yang paling banyak digunakan. Format ini menangkap warna merah (red), hijau (green) dan biru (blue) suatu citra. Dengan komposisi tiga warna tersebut dapat dibuat beragam spektrum warna lainnya. Postingan kali ini akan dibahas bagaimana mengekstrak nilai R, G, dan B suatu citra.

Format RGB

Letakan current directory pada folder di mana citra berada. Kemudian lanjutkan dengan menarik suatu gambar bertipe jpg, png, bmp dan lain-lain. Format RGB suatu citra dapat diketahui dengan fungsi size dan menghasilkan format:

(baris) (kolom) (rgb)

Untuk contoh penerapan dapat menggunakan instruksi berikut ini:

  • [1] x=uigetfile(‘*.jpg*’);
  • [2] data=imread(x);

Misalnya dengan mengetik instruksi size(data) diperoleh hasil:

1150         1427          3

Kolom ke-3 mengindikasikan tiga komposisi warna (merah, hijau, dan biru).

Mengekstrak R, G, dan B

Untuk mengetahui komposisi warna (RGB) dapat dengan cara mengakses data yang dibaca lewat fungsi imread mengikuti indeks kolom 3 apakah 1 (untuk red), 2 (untuk green) dan 3 (untuk blue).

  • [3] fR=data(:,:,1);
  • [4] fG=data(:,:,2);
  • [5] fB=data(:,:,3);

 

Tingkat R, G, dan B

Untuk mengetahui tingkat merah, hijau, dan biru secara total dapat mencari nilai rata-rata lewat fungsi mean. Line [6] – [8] bermaksud menghitung rata-rata masing-masing kelas warna. Dua buah fungsi mean dibutuhkan untuk menghitung total baris dan kolom. Line [9] – [11] bermaksud menormalkan tingkat warna dengan jangkauan 0 hingga 1.

  • [6] fr=mean(mean(fR));
  • [7] fb=mean(mean(fG));
  • [8] fc=mean(mean(fB));
  • [9] frr=fr/255;
  • [10]fbb=fb/255;
  • [11]fcc=fc/255;

Contoh GUI Menghitung Tingkat RGB

Untuk memudahkan, terkadang perlu dibuat GUI agar lebih mudah mencari nilai RGB suatu citra. Contohnya adalah rancangan berikut. Gunakan fungsi tambahan set untuk mengirim hasil perhitungan rgb (nilai RGB yang sudah dinormalkan).


  • [12] set(handles.edit1,‘String’,frr)
  • [13] set(handles.edit2,‘String’,fbb)
  • [14] set(handles.edit3,‘String’,fcc)

Jalankan dan lihat hasilnya seperti di bawah (nilai dari atas ke bawah menunjukkan masing-masing R, G, dan B). Padukan dengan fungsi lain seperti imcrop untuk memotong citra agar tidak masuk di dalamnya background, dibahas pada pertemuan yang lain. Semoga bermanfaat.

 

Kompilasi Matlab Menjadi Executable

[peng.citra.digital|tek.komputer|lab.hardware|pert.3]

Matlab biasanya berfungsi sebagai interpreter, yaitu mengeksekusi program mengikuti listing yang ada pada M-file satu persatu. Agar kode pada M-file dapat dijalankan tanpa membuka Matlab maka perlu kompilasi menjadi executable program. Misalnya program berikut ini:

GUI di atas dapat dijalankan hanya jika Matlab dibuka. Untuk menjalankan program di atas tanpa menggunakan Matlab, lakukan langkah kompilasi berikut ini:

Membuat Deployment Project

Masuk ke menu – File New Deployment Project. Pilih Windows Standalone Program karena kita akan membuat program berbasis Windows (bukan console). Walaupun bisa juga dipilih Standalone Application.

Setelah itu kita diminta memasukan file-file kode sumber. Pilih *.m file yang diperlukan untuk mengeksekusi program pada Main File. Karena berbasis GUI maka diperlukan file lain yaitu file GUI (*.fig).

Build The Project

Langkah berikutnya setelah memasukan kode sumber dan file tambahan lain adalah melakukan build. Tekan simbol di bagian atas. Setelah itu masuk ke command window untuk memasukan beberapa parameter yang dibutuhkan Matlab untuk membangun/build program. Tekan mbuild_setup di bawah command window.

Ketika muncul ‘Would you like mbuild to locate installed compilers [y]/n? >>’ tekan enter atau y. Dilanjutkan dengan memilih Compiler. Pilih no.1 karena tampak lokasinya di folder MATLAB:

  • Select a compiler:
  • [1] Lcc-win32 C 2.4.1 in C:\PROGRA~2\MATLAB\R2008b\sys\lcc
  • [0] None
  • Compiler: >>

Pastikan letak ada di program matlab, bukan di program lainnya. Tekan “y” jika sudah benar. Jika sudah maka Matlab sudah disetel Compiler-nya, hingga muncul “Done . . .”.

Tekan simbol dan pastikan muncul instruksi di bawah:

Tekan link berwarna hijau tersebut untuk melanjutkan proses kompilasi. Tunggu hingga selesai (pastikan muncul Compilation Completed di bagian bawah):

Membuat Paket Program

Untuk menguji program executable hasil kompilasi, buka di folder project-nya lanjutkan ke folder src. Jalankan folder *.exe yang merupakan program hasil kompilasi. File ini dapat dijalankan tanpa menggunakan Matlab.

Hanya saja tidak berjalan jika komputer target tidak terinstal Matlab. Maka perlu dibuat Paket yang berisi DLL yang secara gratis disediakan Matlab. Gunakan fasilitas Package dari Deployment project di Matlab. Tekan simbol “kardus”:

Tunggu proses Packaging hingga selesai (packaging completed). Hasilnya adalah file exe ditambah dengan satu fole installer (ratusan megabyte). Untuk dijalankan di komputer yang tidak terinstall Matlab, harus diinstall/menjalankan program exe paket tersebut.

Untuk uji coba, tutup program Matlab dan hanya jalankan program exe hasil kompilasi di atas. Berikut tampilan running program-nya, selamat mencoba.

Praktek Membuat GUI untuk Pengolah Citra

[24.9.18/pengolahan.citra/lab.hardware/pert.2]

Matlab memiliki fasilitas untuk pengolahan citra dengan fungsi-fungsi yang tersedia. Dengan command window pengguna bisa mengambil data gambar, mengolah data, dan menampilkan hasil olahnya. Fungsi sederhana yang akan diselesaikan pada postingan ini adalah fungsi:

  • imshow
  • uigetfile

Mengeset Current Directory

Current directory pada matlab pertama-tama harus disetel terlebih dahulu. Cara paling mudah adalah menyamakan dengan direktori dimana gambar/citra diletakan. Cara lain adalah mengeset path atau dengan menggunakan basis data dari luar (MS Access atau MySQL). Untuk yang ingin belajar menggunakan basis data dari luar silahkan pelajari lebih lanjut dari sumber lain.

Membuat GUI

Graphical User Interface (GUI) merupakan fasilitas yang memudahkan pengguna program yang dibuat. Bentuknya seperti form yang interaktif dan mudah. Dalam contoh ini ada tombol yang berfungsi mengambil file gambar dan penampil gambar di form. Rancang GUI seperti di bawah ini.

Selahkan ikuti langkah-langkah dalam video tutorial berikut ini. Hasil akhirnya ketika di running maka GUI siap diisi kode program.

Mengisi Kode Program

Sebelum mengisi kode program ada baiknya mengecek fungsi-fungsi yang dimasukan apakah sudah benar. Atau setidaknya tersedia di versi Matlab yang dipakai. Gunakan fungsi uigetfile dan fungsi imshow yang berturut-turut untuk mengambil file gambar dan menampilkannya.

  • x=uigetfile(‘*.jpg’)
  • imshow(x)

Jika sudah berjalan di command window maka pindahkan di fungsi-fungsi di atas pada tombol “Ambil Citra” pada GUI. Caranya dengan klik kanan pada “Ambil Citra” – view Callback Callback. Selamat mencoba.