Untukmu Yang Saat ini Sedang Menderita

“Ku mau tak seorang ‘kan merayu, tidak juga kau, tak perlu sedu sedan itu “. Penggalan puisi Chairil Anwar ini sejalan dengan ungkapan Frederich Nietzsche: Penderitaan membuat kita kuat. Tapi lebih simpel lagi mbah Marijan, cukup dua kata: “roso .. roso” hehe. Yuk, para dosen dan pengajar, tetap semangat, tetap kuat, hadapi saja.

Belakangan ini banyak sekali keluhan-keluhan dalam dunia pendidikan. Mahasiswa yang mengeluh terhadap dosennya, terhadap institusinya, bahkan ada yang ingin meminta laporan keuangan kampus segala. Dosen yang mengeluh karena beratnya syarat-syarat naik pangkat, menerima tunjangan (lektor kepala dan guru besar), mengeluh karena Scopus, Sinta dan juga untuk memperoleh beasiswa (masalah kuota). Kampus yang mengeluh karena syarat Dikti berat, bahkan akreditasi C siswanya tambah dipersulit mencari pekerjaan. Pemerintah sendiri, dalam hal ini Ristek-Dikti mengeluh karena kinerja dosen yang lemah dalam hal riset, tingkat pendidikan yang stagnan di master/magister, dan kasus-kasus yang menimpa kampus (bukan hanya swasta, melainkan juga kampus negeri). Salahkah keluhan tersebut? Tentu saja tidak, lalu bagaimana penyelesaiannya?

Posisi Negara kita Dalam Hal Pendidikan Tinggi

Sempat terbaca dalam share WA di handphone puisi dari seorang dosen yang merasa tidak nyaman dengan paksaan Ristek-Dikti terhadap Scopus yang dianggap kapitalisme dalam dunia pendidikan. Karena fokus ke riset, menurutnya, pengajaran ke mahasiswa jadi terbengkalai. Walau sepertinya agak cenderung ke “keguruan”, mungkin ada baiknya didengarkan. Keluhan-keluhan atau protes yang mempertanyakan sesuatu biasanya menggunakan logika yang masuk akal. Tetapi di dunia yang “fuzzy” ini, kata Zadeh: tidaklah ada sesuatu yang mutlak 100% tepat atau 100% tidak tepat. Bagi yang memprotes mungkin saja benar, tetapi tetap saja tidak 100% benar, kalaupun benar 100%, itu untuk variabel tertentu. Tidak tepat juga kita menurunkan level seseorang yang menginginkan sesuatu yang ideal. Misal pendapat: “seorang dosen harus memetenkan karya ilmiahnya”. Tentu saja kita tidak serta merta membantahnya, karena memang idealnya begitu, terutama dari jurusan teknik/rekayasa.

Akhirnya, sambil menunggu kabar siapa profesor external untuk menguji disertasi saya (biasanya dari Jepang), akhirnya saya menemukan beberapa buku di perpustakaan kampus. Salah satunya adalah “Revitalizing Higher Education” karangan Salmi. Buku ini cocok untuk kondisi negara berkembang seperti Indonesia.

Memang benar, karakteristik perguruan tinggi di negara berkembang harus dilihat dari sejarah dan kondisi perekonomian, juga politik. Ringkasnya, disimpulkan bahwa level perguruan tinggi di negara berkembang sebaiknya mengarah ke perekonomian dan industri untuk mengejar ketertinggalan dengan negara maju (dari sisi perekonomian utamanya). Fokus PT masih di level menciptakan tenaga-tenaga ahli untuk memenuhi kebutuhan bursa kerja. Agak berat juga jika dipaksa menciptakan paten-paten, walaupun banyak juga yang tercipta saat ini, misalnya telur bebas kolesterol dan produk-produk pangan dan obat lainnya. PT hanya bisa mengajarkan kewirausahaan tetapi tentu saja jiwa kewirausahaan tidak bisa dipaksakan. Yang jelas, bonus demografi di tahun 2020-an dimana angkatan kerja kita sangat tinggi harus diantisipasi. Tidak bisa hanya menganjurkan mereka berwirausaha, harus dipersiapkan skill khusus agar bisa bersaing (butuh sertifikasi internasional seperti perawat, las, CCNA, dan sejenisnya, bukan hanya skill berkendara utk jadi driver ojek online). Bahkan ahli-ahli las di dunia banyak dari negara kita (silahkan yang berminat, terutama las dalam laut). Jangan lupa ajarkan “Wisdom”, “Creativity”, dan lain-lain yang tidak bisa dikerjakan oleh mesin/Artificial Intelligent ke anak-anak kita. Orang bijaksana dan kreatif biasanya ada saja cara untuk survive. Siapkan saja bekal, dan seperti kata Jack Ma: “jangan terlalu khawatir, tuhan pasti memberi karunia generasi masa depan potensi untuk bisa mengatasi problem-problem mereka di masa depan”. Sepertinya ada benarnya juga, percuma memaksakan suatu “jurus”, lingkungan mereka nanti berbeda dengan kita saat ini.

Posisi Pendidikan Tinggi di Negara Maju

Banyak yang protes bahwa publikasi di jurnal-jurnal internasional (atau juga seminar) cenderung mendukung sisi kapitalis mengingat pengelola jurnal atau pengindeks internasional menarik untung dari pihak-pihak yang ingin membaca atau mempublikasi artikel ilmiah. Ketemu juga buku yang membahas khusus masalah yang terkait hal tersebut yaitu “University Inc – Corporate corruption of Higher Education” karangan Washburn.

Buku ini membahas universitas-universitas terkemuka terutama di Amerika Serikat (big 5 atau bahkan big 10 ranking kampus dunia ada di sana). Amerika memang negara liberal dan kapitalis. PT di sana sudah maju dan jadi andalan perusahaan-perusahaan dalam hal riset. Ternyata, walaupun sudah maju, konflik muncul di sana. Beberapa perusahaan mengadakan kontrak dengan profesor (juga dengan bimbingannya yang biasanya mahasiswa doktoral) untuk riset perusahaannya. Kontraknya adalah untuk merahasiakan temuannya. Di situlah masalah muncul yakni peran PT yang tidak lagi independen (di negara kita lebih parah lagi, masih ada pengaruh politik, agama, dan lain-lainnya seperti almamater tertentu).

Sebenarnya peneliti yang mempublikasikan karyanya dia sedang mendermakan ilmunya untuk dipergunakan orang lain. Dan harus ada lembaga yang diakui untuk mempublikasikan karya ilmiah, yaitu pengelola jurnal. Jadi pengelola jurnal harus membayar ke penulis? Kalau dijawab “ya”, artinya ideal, seperti saya sebutkan di awal, seseorang yang memegang standar tinggi jangan kita paksa turunkan, biar saja karena itu bagus. Kenapa tidak kampus terkenal di dunia membuat jurnal dan membabaskan orang mengunduh dan mempublish karyanya? Mengapa harus perusahaan swasta? Baru baca beberapa halaman sudah tampak.

Beberapa universitas-universitas level atas bukan hanya profesor yang kerjasama dengan perusahaan, bahkan kampusnya pun bekerja sama, dengan kontrak-kontrak tertentu masalah kerahasiaan mengingat perusahaan itu sudah menggelontorkan “fulus” yang besar dan jangan sampai kompetitor ikut menikmatinya. Dan repotnya universitas-universitas itu kebanyakan disubsidi oleh pemerintah yang uangnya dari pembayar pajak. Repotnya di AS pembayar pajak memiliki kekuatan di dewan karena mereka perlu tahu uang itu lari ke arah yang sesuai, misal dalam hal pendidikan yaitu ke arah kemaslahatan bersama bukan menguntungkan perusahaan tertentu.

Ada suatu jawaban “trivial” masalah publikasi jurnal, silahkan pilih: (1) peneliti di PT boleh tidak mempublikasikan temuan dan memberikan hak pengelolaan ke perusahaan/merek dagang tertentu sehingga rakyat terpaksa membeli produk dan menguntungkan perusahaan dan peneliti tersebut atau (2) peneliti mempublikasikan temuannya yang bebas dimanfaatkan orang lain (atau perusahaan manapun) dan menguntungkan rakyat banyak, tetapi efeknya menguntungkan pula pengelola jurnal (misal grup Scopus). Kasus pertama yang heboh adalah penemuan vaksin polio oleh ilmuwan yang nekat mempublikasikan temuannya, walaupun tidak menguntungkannya, dari pada dimonopoli oleh perusahaan tertentu (akibatnya rakyat/negara banyak harus mengeluarkan dana ke perusahaan tersebut). Pasti ada yang menjawab dengan pilihan (3) peneliti bebas mempublikasikan temuannya tanpa kena biaya dan jurnal yang mempublikasikan membebaskan orang membaca tanpa harus membeli tulisannya. Kembali lagi, artinya ideal, seperti saya sebutkan di awal, seseorang yang memegang standar tinggi jangan kita paksa turunkan, biar saja karena itu bagus. Silahkan pilih pilihan (3) tapi jangan berharap banyak, apalagi memaksa.

Membuat Indeks Publikasi Ilmiah Sendiri

Mungkin level PT kita belum menyamai the big 10 universitas-universitas di Amerika Serikat, atau bahkan di Asia, atau bahkan lagi di Asia Tenggara. Evaluasi diri penting juga sih. Saat ini Ristek-Dikti mulai membangun Sinta, indek kinerja penelitian (dosen, dan jurnal Indonesia). Semoga tidak ada yang tidak setuju untuk kemandirian ini. Bolehlah tidak setuju Scopus dimasukan dalam variabelnya (karena katanya kapitalis). Boleh juga tidak setuju dengan Google Scholar dimasukan dalam variabelnya karena dikatakan abal-abal. Unik juga, yang ketat dan akuntabel tapi seperti Scopus ditolak karena kapitalis (profit oriented), yang tanpa biaya ditolak karena abal-abal. Balik lagi ujung-ujungnya ingin yang ideal. Seperti disebutkan di awal boleh jadi pendapatnya 100% tepat, tetapi tepat terhadap variabel tertentu saja. Untuk yang ideal dan memegang standar tinggi, jangan dipaksa menurunkan standarnya, biar saja kan bagus. Walau kalau tidak nurut ya repot sendiri juga.

Presiden kampus saya sempat mengeshare email dari presiden Harvard university akan keberatan biaya yang mahal untuk langganan jurnal (bisa dibayangkan sekelas Harvard saja mengeluh). Pertanyannya mengapa sekelas Harvard (atau gabung dengan top university lainnya) tidak bisa mengelola jurnal yang tanpa bayar? Atau satu negara, misal Amerika Serikat, Jepang, atau China, mengapa tidak bisa menciptakan indexer sekelas Scopus yang rapih dan akuntabel? Jujur saja saya dan mungkin pembaca juga sulit menjawabnya. Indonesia harus bisa dong .. Ya, saya setuju saja sih (kembali lagi ke idealis). Tetapi, sebagai gambaran, lihat gambar berikut ini yang diambil dari link jepang.

Bandingkan dengan negara kita dkk (gambar bagian bawah), tertinggal 8 kali dan 10 kali dengan AS dan China. Mungkin bisa untuk evaluasi diri (sialnya kok kalahnya dengan Malaysia). Mungkin kita tidak setuju Kapitalis, tetapi tidak mau menjadi Sosialis apalagi Komunis. Ya sudah, buktikan saja dengan mengalahkan China dan Amerika Serikat (grafik di bawah). Semoga tidak mengeluh lagi, tetap nekat berjuang seperti kata Chairil Anwar: “Ku mau tak seorang ‘kan merayu, tidak juga kau, tak perlu sedu sedan itu”.

Iklan

Bertanya atau Mempertanyakan?

Membaca judul postingan ini semoga pembaca bertanya apa maksud judulnya, bukan mempertanyakannya. Bahasa Indonesia memang unik, jika bertanya berarti ingin mengetahui sesuatu yang kurang jelas atau belum diketahui, mempertanyakan terkadang ada unsur protes di dalamnya. “Mengapa saya dapat C?”, “mengapa saya tidak lulus?”, dll memang bentuk pertanyaan yang biasanya diutarakan oleh siswa. Silahkan jawab, jika sampai berkali-kali tanya jawab dan disertai argumentasi, berarti bukan bertanya, melainkan mempertanyakan. Jadi ingat rekan saya yang menjawab siswa yang bertanya mengapa dapat C: “harusnya kamu itu D, saya bantu saja jadi C”.

Maraknya media sosial membuat siapa saja boleh mempertanyakan. Surat terbuka, surat dukung-mendukung di change.org misalnya bisa dibuat oleh siapa saja. Ketika p Gufron, pejabat ristek-dikti bagian SDM datang ke kampus UNISMA Bekasi, seorang rekan saya yang sudah senior bertanya mengapa aturan beasiswa dikti 50 tahun? Kenapa tidak dilebihkan saja padahal usia pensiun dosen, apalagi profesor, kabarnya diperpanjang (bahkan di range WHO saya masuk kategori usia setengah baya katanya .. he he). Logis juga menurut saya dan karena ditanyakan langsung ke yang bersangkutan, menurut saya ini masuk kategori bertanya. Walaupun jawabannya formal, yaitu UU dari menpan, sepertinya ada alasan lain yang tidak dibahas.

Dua pertanyaan yang muncul belakangan ini terkait dunia pendidikan adalah kuota beasiswa dan indeks Sinta. Untuk beasiswa, khususnya dalam negeri yang kuota-nya sepertinya berkurang belum ada tanggapan, walaupun surat terbukanya (kalau tidak salah dari kopertis 12) sampai ditujukan ke panglima tinggi, alias presiden. Sebenarnya kuota luar negeri masih kurang, tetapi khusus dosen senior sepertinya agak sulit untuk kuliah ke luar negeri, apalagi yang usianya antara 45 sampai 50, yang mau tidak mau hanya mengandalkan beasiswa dalam negeri. Permintaannya yang menginginkan semua pelamar diterima agak sulit, mengingat kasus satu kampus negeri di Jakarta mencuat gara-gara ada beberapa dosen yang membimbing dan meluluskan mahasiswa S3 hingga ratusan dalam setahun. Dengan kata lain, profesor pun memiliki kuota kewajaran. Menambah jumlah profesor sepertinya satu-satunya langkah yang masuk akal (impor world class profesor), juga pembimbing misalnya tidak harus dari kampus tempat mahasiswa S3 itu kuliah (sepertinya tidak boleh ya?). Untuk world class profesor lagi-lagi disialkan kasus seorang asisten profesor muda dari kampus ternama Belanda yang ternyata ketahuan masih berstatus mahasiswa seperti saya. Saya yakin ristek-dikti memiliki pengalaman-pengalaman pahit yang kadang mempengaruhi kebijakan-kebijakannya. Terkadang kenakalan-kenakalan segelintir orang mempengaruhi orang bener yang lain, seperti kasus pencairan beasiswa di awal-awal saya kuliah. Ok, kita tunggu apa respon pemerintah.

Mempertanyakan berikutnya adalah masalah Sinta yang berawal dari penentuan index Google scholar yang dibilang ironi dalam komentar tentang ranking sinta itu (oiya, yg belum daftar jangan lupa daftar dulu). Tetapi sebelum bertanya atau mempertanyakan terlebih dahulu baca penjelasannya dari LPPM univ sultan agung ini atau bahkan dari menteri-nya langsung di sini. Menurut saya sih Scopus yang jadi andalan, tetapi mengingat index ini berbasis jurnal/buku/seminar internasional yang berbahasa Inggris, sulit sekali ditembus oleh dosen-dosen kita yang berbasis bahasa lokal, bisa ga ada score-nya nanti sebagian besar dosen, padahal target akhir Sinta di versi 6 adalah digunakan untuk kepangkatan. Bisa pada ga naik pangkat nanti. Bagaimana dengan yang lain misalnya portal garuda yang berupa jurnal-jurnal nasional. Repotnya banyak juga jurnal yang tidak terdata di portal garuda akibat pengelola jurnal tidak mengirimkan sample jurnalnya ke LIPI. Nah satu-satunya yang lebih aman adalah Google scholar, bisa meng-cover dosen yang menulis di jurnal lokal dan bahkan yang jurnalnya tidak ada di portal garuda asal terdeteksi di Scholar. Toh, bobot Google scholar jauh di bawah Scopus untuk perhitungan rangking Sinta (saya lupa Google scholar 1/6 atau 1/12- scopus). Serba salah juga sih, Scopus beberapa waktu yang lalu diprotes katanya Kapitalis, sementara pakai Google yang free dianggap abal-abal. Kalau saya sih tetap mendukung Sinta yang memang prosesnya sedang “on going”, kalau tidak suka silahkan pakai yang lain, hanuman, rahwana, atau apalah. Semoga tulisan iseng di hari libur ini menghibur.

Perubahan Paradigma Pendidikan di Dunia: Sarjana, Master, Doktor, Post-Doc

Pada postingan yang lalu sudah dibahas istilah “disruption” dari Prof. Rhenald Kasali. Apakah fenomena yang meruntuhkan pemain-pemain bisnis ternama itu mengancam juga dunia akademik seperti universitas, politeknik, maupun institute? Wow ternyata iya, mengerikan, Prof. Rhenald membahasnya pula di tulisan lanjutannya, “meluruskan pemahaman soal disruption”. Disruption tidak melulu hanya yang berbasis online (seperti taksi online, ojek online, dll) melainkan seluruh aspek bisnis karena disruption merombak total proses bisnis, dari teknologi hingga budaya suatu perusahaan. Sayang tulisannya masih berlanjut nanti, yaitu tentang bagaimana mengetahui ciri-ciri suatu perusahaan yang mulai terdisrupsi.

Tahun 2006 ada paper yang membahas masalah paradigma pendidikan di dunia yang sepertinya mulai berubah. Silahkan kunjungi link-ini untuk membacanya. Sangat panjang bahasannya yang melibatkan survey di belahan dunia. Untuk itu saya sederhanakan untuk kasus khusus saja yakni apa kira-kira yang diperlukan dalam pendidikan tinggi di semua tingkat.

Efek Globalisasi

Globalisasi berarti lintas negara dan batasan geografis lainnya. Pertukaran ilmu tidak selalu dengan cara mendatangkan atau mengirimkan periset ke suatu negara. Ternyata terjadi pergeseran pemain utama riset dari negara Eropa dan AS ke asia (Turki, India, Jepang, China, dan Taiwan) dan amerika latin (Brazil). Efek globalisasi juga dibarengi dengan pertumbuhan populasi di negara berkembang seperti negara kita, sementara negara-negara Eropa cenderung statis bahkan menurun. Terkadang untuk memenuhi kebutuhan mahasiswanya mereka mendatangkan dari negara-negara yang membutuhkan pendidikan, seperti negara kita. Saat ini bahkan lembaga-lembaga riset sudah lintas negara (non-national) akibat kolaborasi yang terjadi. Saat ini poros ilmu yang dimotori US sepertinya mulai diambil alih oleh pendatang-pendatang baru Asia yang cenderung kompak menghadapi dominasi AS, yang oleh paper itu diistilahkan “a common enemy unifies“.

Pendidikan Sarjana dan Pos-Doctoral

Unik juga mengapa paper itu menyetarakan sarjana dengan post doktoral. Padahal dari sisi jenjang sangat jauh berbeda. Satu hal yang membuat kedua jenjang itu sama adalah spesialisasi dan peningkatan kualitas individu. Jika para sarjana diajarkan untuk mengetahui disiplin ilmu itu sendiri, rumus, teori, terapannya, dan lain-lain, post doctoral juga melakukan hal yang sama. Terkadang kerja lab menjadi makanan sehari-hari sarjana dan post doctoral. Tetapi itu untuk kondisi khusus, yaitu post-doctoral untuk junior researchers yang usianya di bawah 30 tahun .. (ternyata saya sudah tua). Selain itu post doctoral yang dimaksud adalah yang benar-benar menjalankan fungsinya karena banyak kasus, mahasiswa posdoc diberi tugas yang diistilahkan “mission impossible” dari supervisornya.

Pendidikan Doktor

Ternyata justru yang bermasalah adalah jenjang doktoral. Perkembangan ilmu yang cepat dengan teknologi yang sangat memudahkan siswa untuk menggali ilmu membuat tuntutan berat bagi mahasiswa doktoral yang jika dilakukan sendiri sepertinya sulit. Jadi saat ini doktoral student cenderung melakukan riset secara multidisiplin dengan topik-topik yang meluas (wide). Sangat sulit menemukan metode-metode baru di dunia yang sudah established seperti saat ini. Selain itu ada tuntutan ganda dari seorang PhD (double function) yaitu: akademik dan non akademik. Akibatnya berikut adalah skill yang perlu dimiliki oleh seorang doktor:

  • Manajerial dan kepemimpinan
  • Komunikasi publik
  • Membuat relasi/network
  • Mengatur proyek
  • Mengerti dunia politik
  • Kemampuan negosiasi
  • Dan Pemahaman budaya

Oiya, bagaimana dengan master? Ada dua kemungkinan, master yang ikut gabung ke sarjana atau master yang langsung lanjut doktor. Sepertinya di dunia internasional master itu tanggung, harus lanjut ke doktoral jika ingin ke dunia akademik, kecuali yg berkarir di dunia profesional non akademik. Mungkin sekian dulu tulisan ini, masih banyak sepertinya yang bisa dibahas dari paper yang saya jadikan referensi tersebut. Mengenai masalah disruption, mungkin video penjelasan dari christensen ini bisa membantu.

Reference

Melin, G., & Janson, K. (2006). What skills and knowledge should a PhD have? Changing preconditions for PhD education and post doc work. Wenner Gren International Series, 105–118. Retrieved from http://www.portlandpress.com/pp/books/online/fyos/083/0105/0830105.pdf

Sedekah dengan Harta yang Berharga: Pengalaman

Ketika Prof. Dr. BJ Habibie ditanya oleh wartawan, lebih pintar mana, dalam hal industri kedirgantaraan, dirinya dengan putranya, Ilham. Waktu itu dia menjawab bahwa dirinya lebih berpengalaman dalam industri pesawat terbang. Pengalaman tidak dapat dipelajari, melainkan dilalui. Saya lupa kapan televisi menayangkan wawancara itu, yang jelas ketika diperkenalkannya pesawat bermesin jet N2130. Yup, setuju sekali walaupun terkadang kita bisa belajar dari pengalaman orang lain. Tentu saja merasakan sendiri pengalaman, artinya memperoleh dari tangan pertama lebih berkesan, baik kesan menyenangkan maupun menyakitkan, yang menambah kualitas kita.

Tiap Orang Berpengalaman

Kita kagum dengan tokoh-tokoh terkenal yang ada di sekitar kita. Tetapi terkadang hanya melihat dari sisi yang menyenangkan saja, yaitu kesuksesannya. Padahal, dalam mencapai suksesnya itu, terkadang ada air mata dan penderitaan yang menyertainya yang terkadang luput dari pantauan orang lain. Begitu juga kita, terkadang terlalu fokus dengan kegagalan, kesedihan, kekurangan, dan hal-hal tidak menyenangkan lainnya sehingga lupa bahwa ada kesuksesan-kesuksesan yang telah kita raih, sekecil apapun. Sepintar apapun pak Habibie, anda mungkin lebih hebat memasak, lebih pintar dribling, lebih merdu suaranya, dan keahlian-keahlian lainnya yang terbentuk dari pengalaman kita.

Pengalaman dari Masa Lalu

Berbagi pengalaman menurut saya merupakan karakter bangsa kita yaitu gotong-royong (baca tulisannya Prof. Rhenald Kasali ini tentang gotong-royong). Bayangkan 200-an juta penduduk jika saling berbagi pengalaman, pasti akan menghasilkan pendekar-pendekar baru di bidang tertentu. Kesuksesan-kesuksesan yang terjadi seperti era Majapahit dan Sriwijaya tidak mustahil terulang lagi. Saya ingat cerita silat tutur tinular, dimana pembuat pedang Naga puspa sampai dibajak kerajaan China. Walaupun cerita fiksi, kisah-kisah kesaktian para pendekar jaman dulu sepertinya tidak jauh berbeda, dari keris empu gandring, hingga diakalinya pasukan Tar-tar dari kerajaan Kubilai khan di era Singasari. Masuknya penjajah sepertinya memudarkan kegotong-royongan yang diakibatkan juga oleh politik pecah belah Belanda. Untungnya dengan pendidikan muncul anak-anak muda yang dipelopori oleh Budi Utomo segera men-share ke para “Jong” daerah lain di seluruh Hindia Belanda. Sejarah sendiri merupakan media ampuh untuk berbagi pengalaman dari para pendahulu kepada generasi muda. Seperti kata Soekarno, “jangan sekali-sekali melupakan sejarah”.

Senang juga melihat informasi dari kementerian ristek-dikti bahwa 109 orang terpilih menerima beasiswa saat ini (uniknya kebanyakan wanita). Mereka adalah anak-anak muda yang akan menuntut ilmu dan setelah itu membagikan ilmu dan pengalamannya ke tanah air. Hal lain yang menggembirakan adalah Ristek-dikti terus berbenah dan dari tahun ke tahun terus meningkat pelayanan terhadap pengembangan SDM, terutama dari sisi studi lanjut. Terbukti, lembaga ini belajar dari pengalaman-pengalaman yang lalu (termasuk rumitnya menangani generasi saya, hihi).

Pengalaman itu Menular

Ada sedikit pengalaman yang saya tangkap mengenai studi lanjut. Saya sendiri bingung waktu itu, ketika sadar tau-tau sudah berada di negara asing untuk belajar, kok bisa begini? Sementara di sisi lain, senior-senior yang lain belum juga tugas belajar dan tenang-tenang saja. Setelah difikir-fikir ternyata ada unsur sharing pengalaman dari pendahulu-pendahulu saya tentang pengembangan diri. Pernahkah Anda sadari, asisten-asisten dosen biasanya mengikuti seniornya untuk memperoleh pendidikan terakhir (doktor)? Walaupun saya bukanlah asisten dosen, tetapi setelah lulus master saya kerap diajak dosen pembimbing dulu untuk mengajar mahasiswanya, dan juga proyek-proyek lainnya seperti penelitian dan menulis buku. Hampir buku-buku yang saya tulis kebanyakan atas “paksaan” dia. Hanya buku terakhir yang saya buat sendiri karena beliau sudah dipanggil tuhan. Sangat sulit menyuruh orang studi lanjut ternyata, saya sendiri sebenarnya tidak ada niat, hanya karena melihat dosen saya yang doktor dan selalu bersama beberapa waktu, cukup membuat saya tertular virus akademiknya, yang tidak bisa dipelajari dari buku atau seminar, kecuali kalau dipaksa seperti kasus dosen harus S2 minimal. Bahkan doktoral bootcamp yang diadakan belakangan hanya sedikit membantu karena waktu yang singkat. Tetapi hanya dengan saya berangkat studi lanjut, tidak lama kemudian rekan-rekan saya yang lainnya ikut, termasuk para senior-senior yang tangguh, yang tak mengenal usia. Diskusi lewat media sosial sepertinya ampuh saat ini, rekan saya yang ber-toefl 300-an sepertinya jadi bersemangat dan dengan tekat yang kuat bisa menembus 550 sehingga bisa berangkat kuliah S3. Terakhir rekan saya yang selalu bertanya dan berdiskusi masalah proposal doktoral akhirnya lolos dan siap berangkat ke ITS.

Jangan berharap ada Jawaban jika tak ada Pertanyaan

Kita memiliki keunggulan dari jumlah penduduk, harusnya bisa dimanfaatkan. Sebenarnya banyak pengalaman-pengalaman yang bisa di-sharing, tetapi tanpa adanya yang bertanya, sepertinya akan sia-sia. Saya lupa berapa kali saya ikut pelatihan statistik (SPSS), dan setelah selesai seperti angin lalu saja, tidak ada yang masuk ke otak. Bukan karena materinya kurang bagus atau pengajarnya kurang pintar, tetapi karena saya ikut pelatihan itu di kampus. Walaupun gratis, karena tidak butuh dan tidak ada “pertanyaan” di kepala saya akhirnya sia-sia. Saya terkadang enggan melaksanakan pelatihan-pelatihan seperti itu kecuali memang beberapa orang butuh dan ingin berdiskusi bersama-sama, hasilnya lebih optimal. Saya kagum juga semangat para ibu-ibu dosen di daerah Karawang yang main ke kampus untuk belajar Matlab di Bekasi (percayalah, Bekasi deket lho). Dan ternyata tujuan utama adalah seluk beluk riset doktoral, sementara Matlab menurut saya salah satu sarana paling mudah untuk doktoral yang ingin mendalami simulasi berbagai disiplin illmu.

Terkadang ada hal-hal unik. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang teramat sulit bagi saya dari rekan-rekan, tetapi ternyata mudah sekali jawabannya. Gimana caranya? Saya lempar saja ke rekan saya yang lain. Saya adalah orang Information Management yang percaya tiap orang memilihi harta tak ternilai, yaitu informasi. Saya tidak tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang sulit itu, tetapi saya tahu orang-orang yang bisa menjawabnya, beres sudah, bungkus. Ketika ada yang bertanya layak atau tidaknya suatu proposal doktoral, saya baca dan pusing karena bukan bidang saya, langsung saya tanyakan saja dengan teman kuliah di bidang yang sama dengan rekan yang bertanya, beres sudah tugas saya, seperti Iniesta tinggal memilih mengarahkan bola ke Messi atau Neymar (waktu belum pindah). Tetapi kalau kita masih ribut karena beda agama, suku, dan pilihan politik, sulit sekali bisa sharing pengalaman. Mungkin tulisan di hari libur yang tidak terlalu serius ini bisa bermanfaat.

Mining the Web – Bidang Yang Kian Penting Saat ini

Menurut Prof. Rhenald Kasali, beberapa perusahaan ternama akhir-akhir ini jatuh secara tiba-tiba karena fenomena “disruption”. Fenomena ini merupakan bagian dari konsep “the invisible hand” dari Adam Smith kira-kira se-abad yang lalu. Tapi fenome disruptive muncul karena kejatuhannya yang tiba-tiba tanpa adanya gejala-gejala, ibarat serangan jantung, perusahaan-perusahaan raksasa tumbang mengenaskan. Laporan keuangan yang ok, tidak ada indikasi penetrasi atau serangan dari pesaing, tapi entah mengapa tiba-tiba ditinggalkan konsumen dan hancur. Di sisi lain, digrebeknya grup saracen yang berbasis online, dipenjaranya seorang gubernur karena rekamannya yg beredar online, tokoh aliran tertentu yang masih menunggu diperiksa, dan hal-hal lainnya mewarnai dunia digital di tanah air.

Dulu sempat mengajar e-commerce dan data mining tetapi tidak begitu membahas masalah dampaknya di masyarakat. Ternyata sangat besar. Konsumen mulai bergeser dari offline menjadi online (elektronik). Demo besar-besaran perusahaan taksi ternama di tanah air merupakan suatu sinyal akan adanya perubahaan perilaku konsumen dari offline transaction menjadi online. Dari sisi data mining, yang saya ajarkan (maupun buku yang diterbitkan) hanya berfokus ke database konvensional saja (bukan berbasis web). Oleh karena itu, upgrade ke versi web untuk mendukung terapannya dalam e-commerce sepertinya harus dimulai.

Ketika main ke perpustakaan, saya menjumpai buku lama terbitan 2001 yang membahas data mining pada web. Tahun-tahun itu merupakan tahun mulai berkembangnya riset-riset berbasis web yang hasilnya adalah aplikasi-aplikasi yang banyak dijumpai oleh orang-orang seperti sosial media, entertainment, dan sejenisnya. Berikut intro yang sari sarikan dari buku tersebut.

E-Commerce

Sesuai dengan namanya, e-commerce menjembatani antara produsen dengan konsumen lewat kanal/saluran baru yaitu transaksi elektronik, itu saja. Tetapi ternyata dengan pemanfaat media online dampaknya sangat besar walaupun tidak ada yang berubah dari sistem produksi, penentuan harga, laproan penjualan, dan sebagainya. Hal-hal yang membedakannya adalah kemampuan media online untuk menyediakan layanan yang cepat dalam menawarkan barang lewa “search engine”nya dalam bentuk rekomendasi, mampu mengingat history seorang pelanggan di waktu yang lampau, dan mampu secara cepat mengontrol persediaan barang mengikuti tren pemesanan barang oleh konsumen. Itu saja sudah cukup menghajar pemain-pemain lama yang tidak sadar akan bahayanya lengah terhadap media elektronik online.

E-Media

Selain perdagangan barang real, ternyata media terkena imbas dari media online. Mungkin mereka bisa bertahan karena karakter media yang tajam dalam melihat gejala-gejala adanya suatu fenomena, sehingga beberapa surat kabar bisa dengan “smooth” beralih dari media cetak ke online. Tetapi tentu saja media online memiliki keunggulan dibanding versi cetak karena media cetak tidak bisa mengetahui siapa saja yang telah membaca berita di dalamnya. Media online bisa mengetahui berita-berita yang menarik minat konsumen sehingga di masa yang akan bisa menulis berita-berita yang disukainya itu. Selain itu, media online memiliki karakteristik khusus yang “custom” dimana konsumen bisa memilih berita mana yang ingin diakses, khususnya yang berupa video. Inilah sepertinya yang dikhawatirkan oleh televisi-televisi lokal yang berbasis gelombang frekuensi yang dalam satu waktu tertentu hanya menyiarkan satu acara tertentu. Tinggal menunggu iklan yang lewat, jika tidak ada yang beriklan sepertinya siap-siap mengucapkan kata “selamat tinggal” (mungkin masih bisa bertahan untuk kampanye pemilu).

E-Markets

Saya, atau mungkin kita, pernah kecewa ketika telah membeli sesuatu ternyata ada tempat lain yang menjual dengan harga lebih murah, sakitnya tuh di sini. Dengan e-markets beberapa situs telah menyediakan fasilitas yang membandingkan harga-harga produk, seperti tike pesawat, hotel, dan lain sebagainya. Konsumen tinggal menilai sendiri, cari yang murah atau yang mahal tapi lebih nyaman. Selain itu, situs e-markets bisa menawarkan sesuatu selain yang dibeli, sehingga lebih banyak kemungkinan barang yang berhasil dijual. Sebenarnya ini menguntungkan konsumen juga karena tidak perlu jalan atau naik ekskalator mencari produk tertentu, kecuali memang ingin jalan-jalan.

Brands/Merk

Ini merupakan hal penting yang menunjukan kualitas suatu produk terhadap konsumen. Dari jaman dulu, konsep tentang “branding” tidak berubah. Konsumen cenderung membeli produk yang telah dikenalnya lama. Kematian suatu merk terkadang mengindikasikan kematian suatu perusahaan. Namun saat ini kualitas merk sangat-sangat tergantung dengan media online. Dua kali kecelakaan pada maskapai MAS sudah cukup menurunkan brand maskapai itu. Dan sialnya lagi, maraknya media sosial terkadang menyediakan hoax-hoax yang mengganggu brand suatu produk. Oleh karena itu tiap perusahaan sepertinya menyediakan tim yang memantau pergerakan brand di media online.

Sungguh pembahasan yang menarik. Masih banyak aspek-aspek lain yang bisa dipelajari dari aplikasi web, seperti periklanan, target marketing, customer value, real time considerations, understanding customers and business processes, experimental design for marketing, dll. Semoga tulisan ini bisa berlanjut.

Ref

Linoff, G. S., & Berry, M. J. A. (2001). Mining the Web. United States of America.

Bagi Dosen, Menulis Buku itu Mudah

Buku Teks/Ajar

Perlu diketahui bahwa ilmu itu dinamis dan terus berkembang. Jurnal yang terbit saat ini, setelah lewat mekanisme peer-review yang memakan waktu beberapa bulan hingga beberapa tahun, ditambah dengan proses publikasi yang terkadang antri, sesungguhnya sudah tertinggal beberapa tahun. Bagi mahasiswa S3 yang riset sebelum dijurnalkan berarti dua atau tiga tahun yang lalu. Jadi kemungkinan jurnal yang terbit saat ini adalah hasil riset lima tahun ke belakang (kira-kira). Jurnal itu sendiri masih belum pasti kebenarannya karena adanya perdebatan di antara satu penulis dengan penulis lainnya mengenai suatu problem tertentu. Sementara itu buku (buku teks dan buku ajar) adalah kumpulan ilmu yang diyakini sudah tidak diperdebatkan lagi ilmu-nya. Itulah sedikit perbedaannya walaupun sama-sama membahas ilmu pengetahun. Sebelum menjadi buku teks, biasanya kumpulan jurnal dengan tema tertentu dirangkum menjadi satu buku yang diisitilahkan dengan book section. Buku yang ditulis saat ini ada dua jenis yaitu buku terjemahan atau buku teks/ajar, yang biasanya berupa kompilasi dari beberapa buku rujukan lainnya.

Saya sendiri, mungkin pembaca juga, merasakan sulitnya membaca jurnal dibanding membaca buku teks. Begitu juga logikanya, lebih mudah membuat buku dibanding menulis jurnal hasil penelitian. Masalah terbesar bagi dosen adalah kurangnya waktu untuk menulis sebuah buku. Maklum dosen di Indonesia berbeda dengan dosen luar negeri dari sisi pendapatan. Mau tidak mau harus mengajar banyak jika ingin mencukupi kebutuhannya sehari-hari, terutama bagi dosen swasta seperti saya.

Mengajar Sambil Menulis Buku

Teman-teman kita sebenarnya adalah guru kita, sumber inspirasi kita, walaupun ada kelemahan dan kejelekannya menurut kita. Ketika belajar menjadi pengajar, saya melihat ada ibu-ibu dosen yang aktif menulis buku, saya tanya kenapa bisa? Maklum dia sendiri tidak memiliki laptop. Ternyata dia menjawab sederhana, setelah mengajar, biasanya ada waktu luang sekitar setengah jam, terutama untuk SKS yang besar. Waktu luang itu dia gunakan untuk mengetik buku di komputer kelas.

Kasus lain adalah rekan saya yang seorang instruktur lab. Karena seringnya mengajar suatu bahasa pemrograman, dia bisa mencicil menulis beberapa buku yang berhasil diterbitkan oleh penerbit terkenal. Satu hal keuntungan bagi pengajar yang menulis adalah bisa memahami langsung pembacanya, apakah mengerti atau harus ditambah lagi penjelasannya. Ibaratnya, umpan balik langsung diterima sebelum buku itu tercetak.

Satu Semester Satu Buku

Ketika mengajar data mining di satu kampus yang dimiliki oleh yayasan alumni jepang di daerah Jakarta timur, saya mencoba untuk mempraktekan apakah bisa membuat buku dalam waktu 6 bulan. Tidak ada salahnya mencoba. Saya siapkan peralatannya yaitu laptop dan bahasa pemrograman.

Kebetulan kuliah di dalam laboratorium sehingga siswa bisa langsung mempraktekan programnya. Tiap pertemuan langsung satu buat langkah-langkahnya. Awalnya saya membuat lengkap dengan kalimat penjelasan selain “capture” dari langkah-langkahnya. Tetapi ketika selesai kuliah, siswa langsung menyodorkan flashdisk. Ya ampun, di satu sisi saya ingin menulis buku, di satu sisi saya tidak tega menolak ketika diminta filenya. Oke lah, minggu besoknya saya hanya meng-“capture” tidak menulis penjelasan yang rencananya akan saya tulis nanti saja setelah kuliah selesai. Aneh juga, tidak ada yang minta filenya, mungkin mereka merasa percuma kalau hanya gambar. Ketika pertemuan ke-empat belas, ternyata lengkap jadi empat belas bab yang siap dicetak. Bagaimana dengan penerbit? Sebenarnya penerbit dan penulis itu saling membutuhkan, hanya saja terkadang sulit bertemu. Ada baiknya menjalin komunikasi dengan penerbit-penerbit.

Setelah proses editing, biasanya buku terbit kira-kira enam bulanan. Ternyata bisa juga satu tahun satu buku. Tetapi bila ingin bagus hasilnya (lebih detil, jelas, dan kompilasi dengan sumber buku lain), sebaiknya setelah pertemuan terakhir kuliah, diperbaiki lagi semester berikutnya dengan lebih detail sambil mengajar mahasiswa berikutnya. Sehingga cukuplah menghasilkan satu buku yang baik dalam waktu 2 tahun. Itu kalau satu mata kuliah, jika ada 3 mata kuliah maka ada kemungkinan menerbitkan 3 buku dalam kurun waktu tersebut. Oiya, salah satu keuntungan mengajar kampus swasta adalah kualitas siswanya yang kalau di kurva normal itu di “average” alias rata-rata. Jadi jika mereka jelas dan memahami materi buku yang kita tulis, sudah dipastikan akan dipahami juga oleh siswa lainnya.

Kewajiban Menulis Buku

Memang tidak ada kewajiban menulis buku bagi dosen muda. Tetapi untuk para profesor atau minimal lektor kepala, selain jurnal, buku juga bisa dijadikan syarat agar tunjangan (serdos/khormatan) diberikan. Jadi ternyata bermanfaat juga. Ketika saya mempublish jurnal, ada tawaran dari luar negeri untuk memasukan jurnal saya ke book chapter suatu buku. Tentu saja tidak langsung bisa dipublikasikan karena berbeda antara jurnal dengan buku. Buku harus bisa menjelaskan hal-hal kepada pembaca tanpa pembaca harus membuka referensi-referensi lainnya. Dengan kata lain, satu buku cukup untuk memahami satu topik tertentu, pembaca harus dijelaskan dengan perlahan-lahan dan detil karena tidak semua pembaca memiliki level pengetahuan yang setara dengan penulis.

Semoga kita sama-sama bisa menulis buku, baik ilmiah maupun buku populer. Oiya, masalah pajak, itu urusan pemerintah, kita ikuti saja karena manusia tidak luput dari dua hal: maut dan bayar pajak. Semoga sedikit bermanfaat.

Menjadi Pribadi yang Dinamis

Pemandangan asyik dipertontonkan oleh anak-anak timnas ketika berhadapan dengan Thailand di piala AFF U19 kemarin. Ditambah dengan komentator lucu bung Valen “Jebret” menambah riuh suasana pertandingan. Walaupun hasilnya sangat menyakitkan yaitu kalah 2-3 lewat adu pinalti, tetapi melihat dinamisnya serangan yang dibangun, ada sedikit harapan untuk masa depan timnas Indonesia. Gagal lewat serangan kelok 9, coba dengan lari tarutung sibolga, tapi tetap saja tidak bisa membuat prahara rumah tangga Thailand, olala. Oke, di sini dinamis menjadi kata kunci postingan saya ini.

DInamis dalam Kehidupan

Sesungguhnya sifat dinamis adalah sifat alamiah. Kumpulan dari serangkaian sifat statis. Manusia tidak luput dari sifat dinamis ini. Mulai dari bayi, anak-anak, dewasa, tua dan mati, membuktikan bahwa manusia adalah makhluk yang dinamis. Walaupun secara jasmaniah, kita dinamis, secara lahiriah tidak sedinamis lingkunan fisik. Terkadang mental lebih suka kenyamanan statis dibanding bertarung, berproses, dan karakteristik dinamis lainnya. Mulailah upgrade lahiriah kita, jangan sampai fisik dewasa tetapi cara fikir masih kanak-kanak. Tidak ada cara lain untuk mengupgrade mental, selain dengan terus belajar.

Membaca

Banyak cara belajar, lewat demonstrasi, diskusi, menonton, dan membaca. Satu hal yang membedakan dengan hewan adalah membaca. Apa bacaan yang dibaca? Tentu saja hal-hal yang ingin diketahui dan informasi penting. Bagaimana dengan sosial media? Bukankah itu membaca juga? Sebagai informasi negara kita masuk dalam kategori pengguna terbanyak sosial media (facebook, twitter, G+, whatsupp, dll) seperti dirilis oleh situs ini. Bolehlah kita menggunakannya untuk berinteraksi dengan teman, untuk diskusi, dan pertukaran informasi lainnya. Tetapi, sosmed yang biasanya ramai menjelang pemilihan umum itu, terkadang tidak berfungsi untuk mencari informasi melainkan untuk pembenaran apa yang telah kita pegang selama ini. Pengguna cenderung membaca sesuatu yang sudah menurutnya benar, tidak ada keseimbangan dengan membaca informasi dari lawannya, itu pun kalau dibaca. Kebanyakan bahkan hanya membaca judul yang terkadang dibuat dramatis dan jauh dengan isinya.

Membaca informasi lewat rujukan yang benar mutlak harus dilakukan oleh anak-anak kita. Mengapa anak-anak ditekankan? Karena mereka generasi yang menjadi sasaran era digital. Mereka memiliki sifat kritis yang harus kita arahkan dengan benar. Anak saya terkadang menanyakan hal-hal tertentu yang menurut fikirannya agak aneh. Orang tua pun harus memberi penjelasan yang masuk akal, bila perlu menunjukan rujukannya. Jangan sampai terjadi seperti yang diberitakan bahwa seorang anak dari Indonesia tewas ketika ikut membela ISIS. Selain itu, variasi bacaan juga sangat penting. Tidak ada satu buku yang sempurna, harus disertai juga dengan buku-buku lainnya. Bahkan kitab suci pun didukung oleh sumber-sumber lainnya untuk membantu memahami kitab induk/utama-nya. Untuk melahap bacaan yang tebal-tebal tidak ada salahnya mencoba membaca cepat tanpa melewatkan informasi berharga dari bacaan itu (lihat diskusi tentang membaca cepat di post yang lalu).

Ketika memegang buku setebal ratusan bahkan hampir seribu halaman (yang biasanya saya gunakan supaya bisa tidur nyenak). Terkadang dalam fikiran bertanya, mengapa penulis bisa menulis sebanyak itu. Ketika membuka dan membacanya saya kagum juga bagaimana bisa menyusun kalimat dan memberikan informasi dengan rinci dan detil kepada pembaca. Berikutnya adalah tidak hanya membaca, sebaiknya kita bisa menulis pula. Pasti ada infomasi yang bisa dibagikan kepada orang lain. Bahkan, tulisan kita di blog pun bisa menginspirasi orang lain dalam tulisan ilmiahnya karena Google scholar mengakui sitasi jurnal terhadap referensi online.

Dinamisnya Dunia Akademis

Ketika melihat jumlah publikasi ilmiah negara kita kalah dengan negara-negara tetangga, Ristek-Dikti sangat geram dan menerbitkan Permenristek Dikti no. 20 tahun 2017 tentang pemberian tunjangan profesi dosen dan tunjangan kehormatan guru besar. Jika tidak mampu menerbitkan tulisan ilmiah dalam kurun waktu tertentu, tunjangan akan dicabut. Memang agak mengherankan, dengan jumlah personil yang besar tetapi memiliki jumlah publikasi yang tidak sebanding. Mengapa demikian? Menurut saya penyebabnya adalah tidak dinamis.

Ketika sedang S3, ada syarat untuk lulus harus mempublikasikan ide disertasi kita dalam satu jurnal internasional bereputasi (minimal diakui oleh kampus tempat kuliah). Namun ketika selesai dan kembali beraktifitas di kampus atau departement dimana si mahasiswa itu berada, tidak ada lagi keinginan meneliti dan menulis hasil penelitiannya itu. Dengan kata lain, tidak lagi se-dinamis ketika mengambil S3. Mental yang cenderung statis, harus dilawan, terutama para mahasiswa S3 yang sudah lulus agar terus meneliti. Saya sendiri, mempublikasikan tulisan ilmiah ketika S3 karena terpaksa dan semoga tulisan ini bisa mengingatkan saya nanti ketika selesai kuliah tidak mengikuti mental yang lebih suka masuk ke wilayah zona nyaman dan statis, melainkan terus dinamis mengikuti perkembangan IPTEK yang sangat pesat. Semoga postingan ini bermanfaat.