Tujuh Kebiasaan Orang Efektif – Proaktif vs Reaktif

Ada satu buku karangan Covey “The 7 Habits of Highly Effective People” yang cukup menarik. Sebelum masuk ke apa saja kebiasaan-kebiasaan tersebut, dibahas sikap yang baik, proaktif atau reaktif.

Reaktif

Mungkin ini sikap alamiah kita yang merupakan bawaan dari unsur hewan. Reaktif di sini adalah respon terhadap kondisi yang menimpa. Misalnya diturunkan dari jabatan, maka reaksi di dalam hati misalnya: “pimpinan tidak mempercayai saya”, atau “ada orang yang memfitnah saya”, dan sebagainya.

Satu saran yang menurut saya sangat baik dalam bab itu adalah kita adalah makhluk yang bebas. Bebas di sini adalah bebas dalam menentukan sikap kita terhadap suatu keadaan. Apapaun yang terjadi, kita bebas memilih apakah bahagia atau kecewa. Memang kita tidak bisa bebas dari “circle of influence” diri kita. Kita mau tidak mau ikut aturan kerja kalau tidak tentu saja bisa dipecat. Tetapi kita juga bebas bersikap, berkarya, berinisiatif, dan karakter-karakter lain yang termasuk dalam lawan dari reaktif, yaitu proaktif.

Proaktif

Dalam buku tersebut dikisahkan sebuah kantor yang memiliki bos yang kurang bisa menciptakan suasana yang baik sehingga para bawahan cenderung bersikap reaktif. Pimpinan tersebut cenderung hanya menjalankan intruksi ke bawahan, harus begini, harus begitu, dan sejenisnya. Terkadang menyalahkan bawahan jika kurang baik hasilnya. Tapi ada satu bawahan yang bersikap proaktif. Dari pada berkata dalam hati, “bos kurang menghargai saya”, dia cenderung berkata, “Aku haru bisa menyelesaikan tugas secepatnya”, atau “aku harus bisa mengajak rekan-rekan menjadi tim yang kuat”, dan sejenisnya. Hasilnya ternyata bisa membuat kantor itu bertahan. Kalau dalam bahasa jaman now, mungkin orang proaktif tidak “baper-an”, aliash bawa-bawa perasaan. Sikap proaktif biasanya timbul karena istilah berikut.

End Mind

Sebenarnya ini istilah lain dari tujuan (goal). Orang yang sibuk belum tentu efektif. Terutama jika tidak mengetahui tujuan dari yang dikerjakannya. Jika mengetahui tujuan, seseorang akan tangguh, tidak begitu terpengaruh “circle of influence”, seperti misalnya kantor dengan seorang bos pada contoh kasus di atas. Jika tujuan suatu tim sepakbola adalah memenangkan turnamen, tidak ada yang mengeluh atau baper ketika dicadangkan oleh pelatih. Jika tujuannya ingin menjadi negara jadi maju, tidak akan mengeluh tidak terpilih jadi caleg, cabup, cagub, cawalkot, atau capres, termasuk simpatisannya juga. Perang kata-kata di medsos, cacian, hinaan dan sejenisnya, bagi orang yang proaktif tidak masalah selama tujuan utama selalu diingat, toh pilihan sikap ada di tangan kita dan kita bebas memilih apa sikap yang kita ambil, membalas dengan cacian juga, menumpahkan emosi, atau bersabar, tetap bersahabat, dan tetap bekerja sama membangun bangsa.

Referensi

Iklan

Kemajuan Teknologi Informasi India

Indonesia dan India sama-sama pernah dijajah. Jika Indonesia dijajah Belanda, India oleh Inggris. Namun tidak dapat dipungkiri kemajuan teknologi India mengungguli negara kita yang masih asyik bertengkar sendiri. Dari sisi waktu merdeka-nya, Indonesia sebenarnya lebih dahulu merdeka. Tapi mengapa hal ini bisa terjadi.

Tanggal 14 April 2018 yang lalu di acara pelantikan pengurus APTIKOM JABAR, Prof Iping sedikit membicarakan topik tersebut. Profesor penggagas berdirinya asosiasi perguruan tinggi informatika dan komputer (INFOKOM) sedikit bercerita.

Peran Mahatma Gandhi

Bapak bangsa India tersebut mengatakan di hadapan rakyatnya. Dia bertanya apakah bangsanya ingin seperti saat dijajah, ataukah ingin setara dengan sang mantan penjajahnya (Inggris)? Atau bahkan bisa menjajah balik, bukan dalam arti sesungguhnya, melainkan lewat ekonomi.

Untuk itu diperlukan empat tingkatan yang harus ditempuh India agar bisa setara dan mengimbangi negara penjajahnya dalam hal pendidikan dan pengajaran. Tanpa melalui empat tingkatan tersebut, India tidak akan bisa bersaing dengan Inggris.

Tingkat pertama adalah ketika mengajarkan apakah yang diajarkan sudah sesuai dengan semestinya. Misalnya ketika mengajarkan “algoritma” benar-benar sudah mengajarkan hal-hal yang perlu diajarkan. Di sini pentingnya konten. Berkembang pesatnya ilmu tentu saja menuntut pengajar untuk terus belajar dan mengembangkan materi pembelajarannya.

Berikutnya adalah tingkatan kedua dimana seorang pengajar harus mengetahui cara bagaimana membuat peserta didiknya mampu menyerap apa yang diajarkan. Harus dipastikan siswa memahami konsep yang benar. Metode belajar banyak dikembangkan saat ini, seperti Flipped Learning, Student Center Learning (SCL), pendidikan jarak jauh (PJJ), dan sejenisnya.

Tingkat ketiga jujur saja saya sedikit blank karena mengantuk. Apa yang diajarkan ke siswa semestinya berguna dan bermanfaat. Ajarkanlah apa-apa yang sekiranya berguna dan bermanfaat. Di jepang misalnya, mahasiswa IT tahun pertama (untuk tingkat sarjana) ada mata pelajarn keterampilan mengetik. Jadi harapannya para mahasiswa akan cepat dalam mengetik. Sehingga mempermudahkan mereka mengetik coding, membuat laporan dan sejenisnya. Tingkat keempat, seperti diutarakan oleh pembicara berikutnya, Prof Ucok, adalah level “ma’rifat”. Maksudnya adalah siswa diharapkan memiliki visi ke depan yang mampu beradaptasi dengan kondisi yang akan datang yang sulit diprediksikan saat ini. Bekal yang cukup diharapkan mampu digunakan oleh mahasiswa untuk menghadapi era yang belum diketahui saat ini.

Ketika merdeka, India segera mengelola institusi-institusi pendidikan dengan baik. Negara ini walaupun sudah mengarah menjadi negara maju masih banyak menghadapi masalah-masalah, seperti kemiskinan, kesenjangan dan sejenisnya. Jumlah SKS S1 di sana yang berjumlah 190 sks jauh melebihi negara kita yang di kisaran 150-an SKS (saya sendiri 160-an ketika di UGM dulu). Bahkan isi mata kuliahnya tidak seperti negara kita yang ada kewarganegaraan, agama, dan sejenisnya, mereka langsung ke Science. Memang ilmu sosial mereka kurang mendapat fokus dibanding ilmu pasti/alam.

Walau demikian, negara kita diprediksi ikut rombongan INDIA dan CHINA yang akan pesat perkembangannya di tahun-tahun yang akan datang, asalkan bonus demografi (lonjakan usia produktif) dapat tersalurkan dengan baik, yang lagi-lagi membutuhkan peran pendidikan untuk mempersiapkannya. Semoga tugas berat Ristek-Dikti dan Diknas dapat berjalan sesuai harapan.

Obrolan Santai Tentang Linearitas Dosen

Postingan ini dipicu oleh guyonan teman yang mengatakan jika dosen melanjutkan studi berbeda jurusan maka bisa dikatakan sebagai “penghianat”. Haruskah marah? Tentu saja tidak karena dunia luar tidak otomatis mempengaruhi dunia dalam diri kita, menurut prinsip meditasi. Jika berpendapat begitu, ya mungkin dia mendasarkan dengan sesuatu yang menurut dia benar. Oke, santai saja, jika mengeluarkan pendapat entah itu ilmiah atau tidak biasanya ada dasar-dasarnya.

Aspek Legalitas

Silahkan Anda berpendapat berjalan harus di sebelah kiri, sementara yang lain berpendapat di sebelah kanan. Jika masing-masing menyebutkan dasarnya, ya tentu saja benar karena tiap negara berbeda-beda dalam masalah ini. Untuk linearitas silahkan lihat aturan DIKTI tahun 2014 ini.

Untuk mudahnya, lihat penjelasan dari bagan di bawah ini. Sepertinya RISTEK-DIKTI kian mempermudah. Bahkasn S2 dan S3 tidak harus sama jurusannya (disebutkan dengan istilah “bidang ilmu sebelum S3”) dimana di no 5 bisa diusulkan menjadi guru besar (profesor) walaupun harus menambah angka kredit karena beberapa penelitian kemungkinan besar tidak diakui.

Aspek Sejarah

Lho kok aspek sejarah? Ya boleh saja kan. Kebetulan rekan saya yang mengatakan “penghianat” dari jurusan teknik komputer. Jika ditilik dari sejarah, ternyata jurusan teknik komputer itu terbentuk dari penggabungan teknik elektronika dan ilmu komputer. Sementara ilmu komputer itu sendiri terbentuk dari jurusan teknik elektronika dengan matematika, menurut ACM lho (lihat post sebelumnya). Jika ada profesor pengelola teknik komputer yang dulunya berasal dari teknik elektronika, matematika atau ilmu komputer, tentu saja “konyol” jika mengatakan si pendiri, yang bisa dibilang “bapak-nya” itu penghianat.

Aspek Politik

Nah kalo ini iseng-iseng aja. Saya pernah dicalonkan sesuatu dan oleh lawan diserang karena tidak linear yang menurut mereka karena beda jurusan S1 dan S2. Ya boleh saja, namanya juga politik. Bisa aja melarang pencalonan seseorang menjadi cagub atau cawalkot karena doktornya tidak linear, he he, namanya juga politik, terserah deh.

Aspek Filsafat

Apalagi ini? Ya boleh aja kan? Dari sisi filosofis apalah arti selembar kertas ijazah? Mengajar dan mengembangkan ilmu tidak terbatas dengan itu. Kalo ini maqomnya beda nih, kelas doktor filsafat. He he.

Oiya, Kopertis 12 sepertinya banyak mengulas masalah ini. Dengan teknik Ticketing seperti helpdesk tampak profesional. Semoga info iseng ini bermanfaat.

Masih Tinggikah Derajat Orang Berilmu Saat Ini?

Ada buku berjudul “The Death of Expertise” yang artinya matinya para pakar. Mati di sini artinya peran kepakarannya tidak dianggap oleh masyarakat. Silahkan baca resensinya di link New York Times ini. Pakar adalah orang yang memiliki ilmu tertentu, yang pada jaman dahulu (mudah-mudahan saat ini juga) sangat dihargai.

Beberapa agama, salah satunya Islam memiliki riwayat bahwa nabi Adam a.s. ketika diciptakan, Allah langsung mengajari nama-nama benda, dan Adam mampu mengikuti. Beberapa ciptaan sujud, termasuk malaikat, kecuali setan yang merasa iri karena asal usul (dari api) dan senioritas. Jadi kalau saat ini ada orang yang tidak menghargai maka mungkin itulah alasannya (iri, asal usul, dan senioritas).

Gerakan Anti-Rasionalisme

Saya sendiri belum membaca buku “the death of expertise” karangan Tom Nichols. Dari resensi di majalah online tersebut disinggung maraknya gerakan anti-rasionalisme. Maksudnya adalah tidak memandang temuan-temuan ilmiah, seperti pemanasan global, vaksinasi, dan sejenisnya. Jangankan di negara kita, di amerika serikat pun masyarakatnya juga mulai anti-rasio. Tentu saja maksud anti-rasionalime tidak sepenuhnya menolak temuan-temuan ilmiah. Bisa jadi sikap yang tidak mengindahkan (ignorance) masuk kategori anti-rasionalisme. Buku tersebut muncul dipicu oleh menangnya presiden amerika serikat, Donald J. Trumph. Bahkan ada indikasi kemerdekaan untuk tidak mempercayai ilmuwan atau rasionalitas (declaration of independent). Jadi, tak ada gunanya lagi debat terbuka calon pemimpin.

Wabah Hoaks

Seperti di negara kita, di amerika pun wabah hoaks (fake news and propaganda) muncul, terutama menjelang pemilihan umum. Munculnya internet dan banyaknya orang yang merasa “self educated genius” karena dengan mudahnya mencari informasi di dunia maya. Repotnya adalah banyak orang yang hanya mengandalkan sumber dari seseorang yang dipercaya saja. Bahkan ada istilah confirmation bias, hanya membaca sumber yang mendukung pendapatnya saja. Orang-orang seperti itulah sasaran utama hoaks yang seandainya tiap orang check and recheck dan tidak hanya mengandalkan satu sumber, maka hoaks tidak akan laku.

Merendahkan Institusi Pendidikan

Publik amerika (mungkin juga Indonesia) menuntut para ilmuwan untuk segera menjawab permasalahan nasional yang rumit dan multidisiplin, terkait satu sama lain. Repotnya, mereka mendukung orang-orang yang mewakili kemarahan mereka. Mereka ingin cepat diberi informasi dan cenderung memilih wakilnya yang berkarakter mudah marah dan protes seperti mereka. Para expert dipaksa segera menyimpulkan segala hal menurut sudut pandang bidang mereka yang memang biasanya spesifik dan kegaduhan pun muncul. Buku yang menarik untuk dibaca dan diterapkan untuk meminimalisir dampak negatif sikap-sikap anti-rasionalisme di tanah air.

Jadi bagaimana? Apakah derajat orang berilmu masih tinggi seperti surat 58 ayat 11? Walaupun saat ini kelihatannya materialisme merasuk ke sagala aspek kehidupan, dimana orang berharta lebih dihargai, tetapi perkataan tuhan pencipta alam semesta tentu saja masih harus lebih dipercaya dari pada berita hoaks. Semoga postingan singkat ini bermanfaat.

Referensi

  • Nichols, Tom. The death of expertise. New York Times. Link.
  • Surat Mujadilah (58) ayat 11,
  • يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَـٰتٍ۬‌ۚ
  • “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

 

Mengatasi Masalah Ponsel Booting Terus (Looping)

Gara-gara HP dipakai anak main game terus, akibatnya tidak berhasil restart. Sebelumnya memang saya lihat kapasitas system sudah penuh. Namun terlambat, HP rusak duluan. Biasanya saya menggunakan cara lama yaitu hard reset factory tapi ternyata gagal. Repotnya saya jadi tidak bisa lihat dan update WA, terutama WA perkuliahan.

Banyak panduan di youtube yang menyarankan, salah satunya adalah tidak ada cara lain selain mengisi ROM dengan cara flash, yaitu mengisi dari aplikasi pengisian flash ke handphone. Aplikasi yang terkenal dan banyak digunakan saat ini adalah ODIN.

Mengunduh File Firmware

Untuk mengisi flash, perlu mencari file firmware yang cocok dengan versi HP kita. Repot juga, karena saya lupa versi HP (bukan nama pasaran). Akhirnya ketemu juga, SM-N750. Cari di internet fasilitas untuk mengunduhnya yang gratis, karena kebanyakan berbayar. Ada tiga file yang dibutuhkan selain firmware:

  • Driver HP, dalam kasus saya Samsung Driver
  • Aplikasi pengisi (flashing), saya pilih ODIN
  • Firmware
  • Instal Driver Samsung.

Sebelumnya saya salah mengunduh firmware yang harusnya N750 tapi N900, ketika diflash ODIN memberi informasi Fail. Jika sudah masuk langkah berikutnya.

Masuk ke Mode Download Firmware

Firmware adalah software yang berasal dari pabrik perangkat keras yang tersimpan di ROM (sejenis flashdisk dalam HP). Langkah yang dilakukan untuk HP Samsung adalah (untuk HP lain mungkin berbeda):

  • Tekan Volume Down + Power Button + Home Button. Nanti akan muncul Warning, yang memang benar-benar warning. Relakan data Anda jika hilang, kalau takut hilang backup saja, atau pergi ke tukang servis HP. Jika hilang tidak masalah, lanjut berikutnya.
  • Tekan Volume Up. Nanti akan muncul robot starwar (maksudnya Android). Colok ke laptop dengan kabel ori (bukan kabel abal-abal) karena akan digunakan untuk high speed transfer.

Masuk ke Aplikasi ODIN

Jalankan ODIN dengan mengklik file exe nya. Tidak perlu install karena akan langsung terbuka. Pastikan ketika kabel USB dari HP ditancap ke Laptop, ada informasi ADD di ODIN, jika tidak berarti ada masalah dengan driver, atau tunggu sampai proses instal driver (plug-n-play) selesai.

Secara default Auto Reboot dan F. Reset Time tercentang. Biarkan saja. Kita tinggal mengklik AP di File (Download). Di sini kita membrowsing ke lokasi file MD5, atau dikenal dengan nama PDA. Oiya, pastikan rar diekstrak. Lanjutkan dengan menekan Start, setelah menunggu lumayan lama (beberapa menit) aplikasi ODIN memverifikasi file MD5 tersebut. Jika Fail, berarti firmware tidak cocok, jika cocok maka akan berlanjut hingga Pass, yang artinya selesai. HP akan booting dan masuk ke menu inisiasi seperti layaknya HP baru.

Akhirnya selesai juga masalah, dan tidak perlu keluar uang untuk servis HP. Oiya, jurusan teknik komputer itu berkaitan antara hardware dan software, seperti kasus ini. Lihat tampilan video singkat di bawah ini. Semoga bermanfaat.

Referensi

zon3-android.net/flashing/samsung/cara-flashing-samsung-galaxy-note-3-neo-sm-n750.html

Problem pada Edit Menu dan Sidebar Menu di OJS 3.1

Ada sedikit masalah ketika menambahkan satu menu baru di bawah about misalnya “editorial team”. Beberapa user bisa tetapi ada satu user yang tidak berhasil menambahkan menu tersebut. Kuncinya ternyata di menu terdiri dari dua jenis:

  • User Menu, dan
  • Primary Menu

Video berikut memperlihatkan tampilannya. Perhatikan jika tidak muncul, tinggal drag saja unassigned menu ke kiri agar tampak. Gunakan primary menu agar tampil di menu khusus jurnal yang dilihat (jila lebih dari satu jurnal dalam situs OJS).

Side Bar Menu

Ada lagi masalah dalam OJS 3.1 yaitu tidak bisa mengupload suatu gambar. Misalnya di sidebar (menu yang ada di sisi kanan OJS) akan ditayangkan “indexed by” dengan tampilan logo Google Scholar dan Sinta, ternyata tidak bisa upload gambar. Solusi sementara sebelum menemukan jawaban pastinya adalah dengan mengarahkan gambar ke sumber lain. Lihat video berikut. Sekian semoga sedikit banyak bermanfaat.

Strategi Pembelajaran Daring (Online)

Dalam menghadapi era revolusi 4.0 dan university 5.0 pemerintah mencetuskan GEN-RI 4.0 yang salah satunya adalah dengan menarapkan Sistem Pembelajaran Daring (SPADA). Kendala tentu saja akan dihadapi ketika menerapkan sistem pembelajaran daring tersebut. Beberapa literatur di internet banyak mengupas hal tersebut, salah satunya dari situs ini.

Daring vs Tatap Muka

Pembelajaran tatap muka sudah dilaksanakan sejak taman kanak-kanak. Guru atau dosen datang, melaksanakan rutinitas seperti biasa, memperkenalkan diri, mengecek absensi, mengeluarkan lelucon tertentu yang membuat siswa tertarik, dan sebagainya. Peserta didik pun melakukan hal yang sama, berusaha memahami tujuan pembelajaran, mempersiapkan materi, berusaha datang tepat waktu, dan dapat mengikuti pelajaran yang diajarkan. Bagaimana dengan perkuliahan daring?

Perkuliahan daring menimbulkan masalah bukan hanya siswa tetapi pengajar (tutor) pun mengalami hal yang sama. Fokus utama tentu saja kepada peserta didik yang menjadi sasaran pembelajaran. Ibarat mengajari berenang, siswa dipaksa terjun ke kolam tanpa terlebih dahulu diberi teknik/teori dasarnya. Hal ini terkadang membuat siswa frustasi. Banyak siswa mengalami ketidakjelasan terhadap materi yang diajarkan. Materi datang dan pergi begitu saja tanpa ada bekas di benak peserta didik.

Tiga Strategi Pembelajaran Daring

Strategi di sini hanya berupa hal-hal yang perlu disadari oleh pengajar online (tutor) ketika memulai perkuliahan daringnya. Hal-hal tersebut adalah aspek-aspek yang membedakan kuliah daring dengan tatap muka, baik dari sisi kelemahan maupun kelebihannya.

  • Pembelajaran daring bukan hanya berkutat dengan internet, melainkan aspek penting yaitu “lebih aman (safer)”. Kita mengenal Learning Management Systems (LMS) sebagai komponen penting e-learning. Akhir-akhir ini aksi “bulying” kerap terjadi ketika proses pembelajaran. Dengan LMS, peserta didik dengan nyaman berinteraksi dengan tutor-nya tanpa khawatir dicemooh oleh peserta lainnya. Di sinilah letak “safe” tersebut. Intinya, peserta didik bebas mengekspresikan ide-idenya.
  • Pembelajaran daring memperluas komunitas pembelajaran. Memperluas di sini karena antara satu siswa dengan siswa lainnya memiliki akses komunikasi yang lebih baik dibanding diskusi tatap muka yang terbatas oleh ruang dan waktu. Bahkan diskusi tatap muka yang sudah baik pun masih memiliki kendala dimana ada kecenderungan siswa kurang peduli terhadap apa yang dikatakan oleh rekannya. Mungkin karena akibat dia sendiri sedang berjuang memahami konsep-konsep di benaknya. Selain itu, kebanyakan perkuliahan tatap muka hanya menjadi ajang kontes kecanggihan profesor pengajar saja, padahal harusnya berfokus ke perkembangan intelektual peserta didik.
  • Menemukan ritme. Hal terakhir ini salah satu kendala utama pembelajaran daring. Ketika kita terbiasa dengan jadwal yang pasti, urutan proses perkuliahan yang runtun, pada perkuliahan online peserta didik harus mengatur sendiri jadwal yang optimal kapan dia belajar dan harus keluar dari zona nyamannya yang biasa mereka lakukan dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi (tatap muka yang teratur). Jika tidak diantisipasi, dapat dipastikan siswa akan lalai dalam mengatur waktunya. Tetapi jika siswa mampu mengetahui kapan waktu-waktu optimalnya akibat kebebasan dalam belajar daring, banyak keutamaan-keutamaan yang diperoleh dari perkuliahan online.

Itulah tiga hal yang harus disadari oleh tutor online. Ada baiknya tutor memastikan peserta didik cepat mencapai zona nyamannya dalam kuliah daring. Tentu saja tiap siswa berbeda, namun demikian pada umumnya perbedaan-perbedaan yang ada memiliki keunggulan tersendiri. Postingan ini disarikan dari tulisan pada referensi berikut. Sekian semoga bermanfaat.

Referensi: