Pemrosesan Citra Digital – Kabar baik dan buruknya untuk orang IT

Ketika semester dua kuliah, saya melihat daftar mata kuliah yang ditawarkan. Selain materi wajib untuk jurusan ilmu komputer dan sistem informasi, ditawarkan pula materi pilihan. Belum selesai terkejut karena Artificial Intelligent (AI) and Neuro-Fuzzy yang diampu oleh jurusan Mekatronika, ternyata Digital Image Processing (DIP) diampu oleh jurusan Remote Sensing & Geographic Information System (RS-GIS).

Sebagai orang IT (walau dulunya bukan), tentu sedikit tersinggung, mengapa bukan jurusan informatika yang mengajarkannya. Kebetulan riset saya mengenai data spasial, jadi agak berbenturan dengan beberapa mata kuliah mereka, salah satunya subyek DIP. Ternyata memang mereka yang serius meneliti masalah itu.

Kabar Buruk

Sebenarnya bukan kabar buruk, tetapi sedikit kejenuhan. Di awal-awal memang orang informatika yang tekun meneliti DIP, dari suatu citra bisa diolah sesuai kebutuhan: pencocokan dan identifikasi pola, klasifikasi pola, penentuan kematangan buah, dan terapan-terapan lainnya. Namun ada batas berkaitan dengan sensor yang digunakan, yang kebanyakan dengan frekuensi nyata. Untuk meneruskan riset agar diperoleh akurasi yang lebih baik diperlukan ilmu-ilmu lainnya, salah satunya adalah sensor. Sensor di sini dikembangkan oleh peneliti masalah satelit, misalnya Landsat yang telah menggunakan lebih dari 7 band ketika pemotretan muka bumi.

Sepertinya orang IT membutuhkan alat-alat yang dibuat oleh telkom dan RS-GIS. Rekan saya yang riset di bidang RS sempat membeli kamera yang mampu memotret beberapa band untuk mendeteksi suatu wilayah. Biasanya yang dibutuhkan adalah infra-red, agar mampu mendeteksi tanaman tertentu yang memang chlorophyl menyerap warna merah (sehingga tanaman tampak berwarna hijau). Rekan saya dikampus yang mendeteksi kematangan buah memiliki problem akurasi, walaupun model jaringan syaraf tiruannya (JST) diutak-atik berkali-kali. Tentu saja foto yang diambil dengan kamera biasa kurang mampu membedakan sinyal pantulan dari selisih warna tertentu, belum masalah pencahayaan. Harga kamera untuk infra-red cukup mahal, rekan saya dapat murah karena beli online di pasar gelap. Bahaya juga sih, terutama yg frekuensi tertentu yang bisa menembus pakaian orang .. waw.

Kabar Baik

Seperti biasa, orang IT datang ketika dibutuhkan. Sifatnya yang seperti “server” alias “melayani” merupakan ciri khas. Kita tunggu saja telkom dan RSGIS menemukan piranti-pirantinya, toh beberapa komputasi membutuhkan orang-orang ilmu komputer. Bahkan, GIS pun saat ini sudah membutuhkan “interdisiplin” ketika riset, dan jurnal internasional cenderung menolak riset-riset yang kata orang jawa “ngono-ngono thok”, alias tidak ada kebaruan.

Bahkan permintaan terhadap riset computer vision cukup besar, apalagi entertainment yang banyak diminati (3D). Bukan hanya deteksi warna, dan pola, dituntut pula karakteristik dinamis suatu citra (gerakan) yang realtime. Software yang diprogram pada drone mampu mendeteksi object. Bahkan ke depan, virtual reality, terutama yang mendeteksi gerakan mata sangat diperlukan agar sistem tampak lebih real. Tentu saja riset AI jangan sampai ke hal-hal yang berbahaya seperti video ini:

Iklan

Kian Maraknya Publikasi Ilmiah

Gembira juga baca grup WA kampus yang bersi kegiatan rekan-rekan yang presentasi paper di seminar internasional. Syukurlah minat untuk publikasi sudah kian tinggi. Rekan-rekan lainnya yang agak “nyantai” sepertinya terprovokasi.

Publikasi Adalah Buah

Buah di sini adalah sesuatu yang dihasilkan. Kalau dalam istilah DIKTI, disebut “luaran”. Entah dari mana asalnya, sampai keluar-keluar begitu. Ibarat sesuatu yang dihasilkan tentu saja perlu proses dan bahan baku untuk menghasilkan buah tersebut. Bahan bakunya tidak lain dan tidak bukan adalah RISET. Makanya dua departement, yaitu kementerian riset dan teknologi dan dirjen pendidikan tinggi, digabung menjadi satu, yaitu kementerian riset, teknologi, dan pendidikan tinggi (Kemenristek-Dikti). Menurut saya cukup tepat.

Untuk menghasilkan buah berupa publikasi tentu saja perlu riset karena tulisan ilmiah bukanlah mengarang bebas seperti menulis novel atau buku harian atau update status (yang bukan share). Makin bagus riset seharusnya makin bagus publikasi yang dihasilkan, asalkan ditulis dengan baik dan pesan dari hasil penelitian tersampaikan dengan jelas. Jadi jangan gede kemauan tapi ga ada tenaga, alias jika ingin ikut seminar atau publikasi ke jurnal, ya mau tidak mau harus perbanyak risetnya. Jangan sampai terjadi “self plagiarism” akibat minim riset dan banyak mempublikasikan tulisan hasil riset yang sama di berbagai tempat.

Bukan Hanya Publish tetapi juga Disitasi

Saat ini kita memang sedang mengejar ketertinggalan jumlah publikasi dengan negara tetangga ASEAN kita (Malaysia, Singapura, dan Thailand). Tetapi jangan lupa, esensi publikasi adalah banyaknya yang membaca karya kita, ditunjukan dalam jumlah sitasinya. Jangan sampai yang membaca tuisan kita hanya, reviewer, editor dan kita sendiri. Gampang saja, jika ingin banyak disitasi, publikasikan ke jurnal yang berimpak faktor tinggi. Tentu saja sulit bagi pemula, tetapi ada baiknya mencoba. Minimal dengan impak faktor di sekitar satu.

Bagi pemula seperti saya, tentu saja fokus ke publikasi terlebih dahulu. Jangan lupa pantau situs PAK Ristek-Dikti untuk mengetahui jurnal-jurnal dan seminar-seminar terlarang. Sepertinya DIKTI kian ketat dan standarnya makin tinggi. Selain publikasi, jangan lupa plagiarisme harus dicek juga. Terkadang kita tidak sengaja melakukan plagiasi terhadap tulisan orang. Lihat post terdahulu tentang tools untuk pengecekan plagirarisme (gratis maupun berbayar).

Didanai atau Tidak, Riset Jalan Terus

Riset kadang butuh dana yang tidak bisa diprediksi. Terkadang kurang terkadang juga lebih, maklum beda dengan proyek, misalnya bikin jembatan, buat software, dan lain-lain. Terkadang ribet juga kalau diminta laporan keuangan. Bayangkan Einstein yang menemukan rumus E=m.c^2 dan diminta struk dana hibah. Paling isi laporan keuangannya buat beli pulpen, kertas, sama obat encok, hehe.

Saat ini persyaratan riset dinaikan dan tidak ada harapan bagi para dosen kecuali yang sudah doktor atau lektor kepala. Yang bisa hanya hibah-hibah pengabdian dan penelitian dosen pemula (untuk dosen muda atau dosen tua yang jadi muda lagi). Sekian, semoga menginspirasi.

Hati-hati dengan Hati – Yang tak Berlogika

Kita mengenal logika yang berisi postulat-postulat tentang penarikan kesimpulan, seperti jika x maka y, dan sejenisnya. Bagaimana dengan hati manusia? Apakah ada logikanya, seperti kecintaan seseorang terhadap orang lain, atau sebaliknya kebencian? Mungkin cerita di bawah ini bisa menginspirasi.

Luka Hati yang Sulit Terobati

Di sini ceritanya dalam dunia akademis, cerita dari teman sekelas saya di information management. Seorang profesor yang terkenal ramah dan baik terhadap para mahasiswanya bercerita bahwa dia dulu tidak seperti yang tampak seperti saat ini. Sebagai seorang “super cerdas” banyak makan korban, baik dalam nilai maupun sidang skripsi. Suatu ketika dia menyidang seorang mahasiswi. Logikanya yang canggih membuat si mahasiswi mati kutu, namun ada satu statemen-nya yang “mengena” ke diri mahasiswi tersebut. Sidang berjalan lancar dan si mahasiswi dinyatakan lulus.

Beberapa waktu kemudian ada kabar bahwa si mahasiswi tersebut tidak mendaftar wisuda. Dan lebih mengejutkannya lagi, ijazah tidak diambilnya. Berita tersebut sampai ke profesor itu, dan meminta pihak kampus menyerahkan langsung ijazah. Namun, bahkan si profesornya sendiri yang memberikan, si mahasiswi tersebut tidak mau menerimanya. Aneh bukan? Di satu sisi banyak yang “beli ijazah” tapi di sini ketika hati yang terluka, tidak ada harganya sama sekali suatu ijazah sarjana. Sejak saat itu dia tidak akan lagi melukai hati mahasiswanya.

Yang Sulit Dimengerti

Saya menerima warisan buku “gratis” dari senior yang menghilang dari kampus. Buku yang sangat bermanfaat tentang sistem informasi geografis yang membantu saya menyelesaikan naskah disertasi. Kabarnya pihak kampus tidak bisa menghubungi lagi karena memang mahasiswi, yang lagi-lagi wanita itu tidak ingin lanjut. Padahal tinggal sedikit lagi menyelesaikan tesis yang sudah dibantu oleh pembimbingnya, cerita dari teman dekatnya, dan segera memperoleh master (M.Sc). Namun logika tidak sanggup menjawabnya.

Yang lebih mengejutkan adalah kabar meninggalnya senior saya, seorang mahasiswi doktoral, yang tinggal sedikit lagi menyelesaikan kuliahnya karena tugas terberatnya, publikasi di jurnal internasional, sudah selesai. Waktu berganti, bahkan saya sendiri yang sudah 4.5 tahun tidak mengenal langsung wajahnya karena dia tidak ada kabar semenjak saya datang. Biasanya, jika syarat publikasi terpenuhi, disertasi dapat diselesaikan paling lama setahun, atau bahkan ada yang sudah disertasinya dan tinggal nunggu publikasi. Rekan-rekan saya tidak ada yang sanggup memahaminya, yang melepas begitu saja gelar doktoral (Ph.D) bahkan hingga akhir hidupnya. Saya dan mungkin pembaca pernah ada luka di hati ketika kuliah/belajar, misalnya ketika sidang master dulu saya sempat “terluka” dengan kata-kata hinaan dosen penguji, yang padahal tadinya tokoh panutan saya.

Ada beberapa kejadian baru-baru ini yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang tokoh, terutama terhadap seorang wanita. Memang saat ini tidak ada lagi masalah gender yang berarti, tapi tetap saja seorang wanita memiliki hati yang berbeda, yang sebaiknya tidak sampai terluka, apalagi hinaan yang mengarah ke fisik dan kecantikannya, seperti kata-kata pesek, jelek, dan sejenisnya.

Problematika Keabsahan Jurnal Internasional

Baik di WA maupun Facebook, belakangan beredar berita berantai mengenai di-blacklist-nya jurnal Inderscience oleh tim Penilaian Angka Kredit (PAK) dosen (lihat link berikut) yang diupload tanggal 23 November 2017. Kehebohan ditambah dengan waktunya yang bertepatan batas akhir penilaian kinerja lektor kepala dan profesor, yaitu tanggal 27 November tahun ini (2017). Jika sampai tanggal tersebut belum sampai ke tim PAK, tunjangan terancam tidak tersalurkan (lihat info dari kopertis 8 berikut ini). Trus bagaimana, waktu 4 hari tersisa? Jangan khawatir, berdasarkan surat edaran di bawah ini, untuk saat ini tidak ada hubungannya dengan tunjangan dulu, hanya pemetaan saja (paragraph pertama). Syukurlah, tidak seperti bos saya waktu kerja jadi IT suatu bank, kalau ada divisi lain yang ingin minta keringanan dan hal yang aneh-aneh, jawab saja “Itu urusan loe sama keluarga loe “, hehe.

Beberapa aktivis pemerhati riset, mulai mempertanyakan dasar-dasar opini tim PAK dalam melarang dan tidak mengakui suatu jurnal internasional, seperti link facebook Dr. Sunu ini. Ada yang mempermasalahkan ada yang biasa-biasa saja. Hal ini karena ada beberapa motif orang mempublikasikan karya ilmiahnya dalam suatu jurnal.

Ingin Berbagi Ilmu

Ketika mempublikasikan suatu temuan, peneliti pasti sadar bahwa ilmunya dapat dipergunakan oleh siapapun. Salah satu etika yang wajib adalah ketika mensitasi harus menyebutkan sumber referensinya. Biasanya penulis yang ingin berbagi ilmu tulisannya banyak disitasi oleh peneliti lain. Temuannya dijadikan rujukan peneliti-peneliti lainnya. Hal inilah yang menyebabkan ilmu terus berkembang. Bayangkan jika tiap peneliti merahasiakan temuannya, maka ilmu akan sulit berkembang. Tentu saja, terindeks di pengindeks internasional menjadi syarat wajib jika tulisannya ingin dibaca dan disitasi oleh sebanyak mungkin peneliti lain di dunia. Istilah “not only published, but also get cited” menjadi moto dari peneliti yang bermotif ingin membagikan ilmu ke seluruh dunia. Entah itu diakui PAK Dikti atau tidak, tidak masalah.

Untuk Kenaikan Pangkat

Motif ini paling banyak dijumpai di tanah air. Percuma mempublikasikan tulisan dan disitasi oleh banyak orang tetapi tidak diakui oleh tim PAK dosen Dikti, atau diakui tetapi bobotnya kecil. Untuk itu perlu memantau terus jurnal-jurnal atau seminar internasional yang diakui Dikti di situs resminya. Tidak ada masalah sih dengan motif ini, tapi sebaiknya tidak 100% hanya fokus ke tujuan kenaikan pangkat.

Untuk Luaran Penelitian

Beberapa hibah penelitian mengharuskan publikasi di jurnal internasional, atau setidaknya seminar internasional. Karena waktu yang mepet, biasanya peneliti memilih jurnal internasional yang secepat mungkin proses publikasinya. Atau dengan international conference yang memang waktunya sudah fixed. Tetapi tidak ada salahnya dosen yang memperoleh hibah, untuk memenuhi luaran memperhatikan juga jurnal-jurnal yang diakui tim PAK Dikti.

Untuk Lulus Studi Doktoral

Beberapa kampus mengharuskan mahasiswa doktoralnya untuk mempublikasikan tulisan di jurnal internasional yang diakui oleh kampus tersebut. Tiap kampus berbeda-beda dalam menentukan jurnal mana yang diakui atau tidak (dilarang). Tentu saja mahasiswa yang seorang Dosen tugas belajar, tetap memperhatikan jurnal targetnya diakui atau tidak di PAK Dikti. Mungkin langkah-langkah yang diambil kampus dalam menentukan jurnal yang diperbolehkan maupun yang dilarang bisa ditiru, yakni:

  • Kampus menerbitkan daftar jurnal-jurnal yang dilarang (discourage) untuk syarat publikasi selama periode tertentu misalnya dua atau tiga tahun.
  • Jika jurnal yang jadi target publikasi tidak ada dalam list, tersedia FORM untuk dirapatkan di level senat akademik yang berisi profesor-profesor pilihan (sebulan sekali). Jika disetujui, barulah si mahasiswa boleh mengirimkan berkas ke jurnal tersebut.

Mungkin teknik tersebut dapat diadopsi oleh tim PAK Dikti. Bisa saja assessment sendiri, tapi sebaiknya dilakukan tapi tiap periode tertentu dengan mengeluarkan daftar blacklist yang harus dipatuhi oleh dosen-dosen yang ingin mempublikasikan penelitiannya. Jika ada dosen yang ingin mempublikasi ke jurnal yang tidak ada di daftar, bisa minta dicek bagian PAK boleh atau tidak dengan borang tertentu yang resmi. Jadi ketika tulisan dosen tersebut diterima dan dipublikasi, sudah memiliki kekuatan hukum bahwa tulisannya diakui tim PAK Dikti. Jadi, tidak hanya dengan melihat jurnal apa yang dipublikasikan oleh seorang dosen ketika proses kenaikan pangkat dan setelah dicek baru ditentukan jurnalnya diterima atau tidak (ibarat masuk ke meja hakim dan harus menunggu keputusan). Hmm .. sekian, semoga bisa jadi inspirasi.

Update: 27 November 2017

Di grup WA kian ramai saja. Beberapa pemerhati dan pengelola jurnal ikut nimbrung dan memberi saran, seperti tulisan dari Dr. Tole ini:

Update: 28 November 2017

Tim PAK mulai merespon dengan menjawab di situs resminya (lihat link berikut). Cara mendeteksi dengan melihat proses dari submit hingga accepted dan published, terutama korespondensi dengan reviewer sepertinya cukup baik. Semoga pihak yg berkepentingan dengan kasus ini membaca info tersebut, terutama di bagian ini:

“mengirimkan bukti termasuk surat keberatan atas informasi tentang inderscience yang dipublish sejak tanggal 23 November 2017 yang ditujukan kepada Dirjen SDID dengan alamat email:admin.pja@ristekdikti.go.id

Diterima paling lambat hari rabu  tanggal  29 November 2017 pukul 18.00 WIB”

Mencari Inspirasi

Untuk maju terkadang dibutuhkan suatu “role model“, yaitu obyek yang akan kita tiru. Meniru itu mudah, bahkan ketika kita masih kanak-kanak, cara belajar yang cocok adalah meniru. Namun ketika kita beranjak dewasa, banyak faktor-faktor yang membuat keterampilan meniru ini hilang, atau setidaknya jarang digunakan.

Menghargai Prestasi Orang Lain

Menginjak dewasa, banyak ilmu yang diterima, tetapi banyak juga “kondisi” yang masuk ke dalam otak seorang anak. Seorang ekonom yang juga motivator, Rhenald Kasali, menganjurkan juga mencari role model untuk kemajuan kita. Tidak perlu orang-orang hebat dan orang besar, siapa pun bisa kita jadikan role model. Lihat sekeliling kita, rekan kita, atau siapapun itu, lihat apa prestasi yang diperoleh dan jadikan pelajaran. Repotnya terkadang kita bukannya mengikuti langkah-langkah mereka yang berhasil tetapi malah sibuk mengkritisi, mencari kesalahan-kesalahan, dan kejelekannya.

Kesuksesan atau keberhasilan yang terlihat, besar atau kecil, ada proses di dalamnya yang tidak tampak dari luar. Ibarat puncak gunung es yang tampak kecil di permukaan, tetapi besar di bawah. Dekati dan buat dia mau menge-share tips dan trik yang bisa kita jadikan pelajaran. Tentu saja hal ini tidak bisa dilakukan jika memang diawal sudah anti pati terhadapnya, gengsi karena merasa lebih senior, dan sebagainya.

fenomena-gunung-es

Siapa pun Bisa Dijadikan Inspirasi

Lupakan sejenak kejadian-kejadian di negara, terutama masalah politik praktis yang jika tidak hati-hati akan mengganggu kemajuan kita. Mungkin saja guru, teman, dan sumber-sumber lain memiliki pandangan yang berbeda dalam hal tertentu. Jangan sampai sumber-sumber itu lepas akibat ulah kita sendiri, terutama saat ini adalah lewat media sosial. Kita semua terhubung, siswa dengan dosen, staf, pemerintah dan lain-lain. Jaga terus hubungan itu.

Tiap orang itu “Custom”, tidak ada yang sama/seragam. Jadi jika kita mengkotak-kotakan mereka, yang rugi adalah kita sendiri. Logika “karena kita benci A dan orang yang suka A harus kita benci juga” harus segera dihapus. Waktu kita SMP pun diajarkan diagram Venn, dimana satu himpunan bisa saja beririsan dengan himpunan lainnya.

Banyak Bertanya

Mengapa bertanya harus banyak? Karena memang masalah kita biasanya banyak. Selain itu tidak semua bisa menjawab masalah kita. Seperti sudah dibahas sebelumnya, masalah custom. Beberapa hari yang lalu rekan mahasiswa doktoral baru bertanya masalah studinya. Saran saya adalah bertanya sebanyak-banyaknya dengan senior yang lain, karena tidak ada satu mahasiswa pun yang sama persis kasusnya. Ada yang kasus nilai yang kurang, proposal yang belum juga disetujui, jurnal yang lama tidak ada kabar, dan lain-lain. Bahkan dua orang siswa dengan dosen pembimbing yang sama pun memiliki nasib dan perlakuan yang berbeda.

Selain bertanya mencari sumber-sumber inspirasi dari internet juga bagus. Tetapi jangan hanya dari orang-orang yang “super” saja. Saya banyak membaca blog-blog dari yang memang “wah” prestasinya hingga dari mahasiswa/I alay yang sedang studi lanjut. Banyak hal-hal yang di luar fikiran kita ada di tulisannya, dan bisa bermanfaat. Di samping itu, jaman cepat sekali berubah, mungkin sumber dari orang yang “wah” cocok hanya untuk saat dia menggapainya, tetapi tidak cocok lagi dengan kondisi saat ini.

Learning by Teaching

Metode ini saat ini sedang diteliti dalam riset mengenai e-learning. Lihat potongan webinar (seminar online) tentang learning by teacing (LbT).

Memang ilmu itu beda dengan benda fisik. Jika kita mengajarkan, kita tidak kehilangan malah bertambah. Selain ilmu yang bertambah, pengalaman juga bertambah akibat seluruh fungsi otak yang ikut bekerja, kiri kanan atas bawah, limbik, dan istilah-istilah lain yang tidak saya mengerti, katanya. Sekian, semoga tulisan menjelang mudik ke tanah air bisa bermanfaat.

Seminar Wireless 5G di Kampus

Sambil mengurus berkas-berkas sebelum pulang menunggu proses external disertasi, iseng-iseng ikut seminar di jurusan ICT (telkom) jurusan sebelah. Pengisinya adalah dosen dari Jepang (Masayuki Ariyosi) tentang penerapan wireless 5G di kedokteran dan disaster management. Sering juga mendengar bahwa teknologi 4G sebentar lagi akan digantikan oleh 5G. Teknologi terbaru itu kini sedang dikembangkan, banyak masalah-masalah yang dijumpai. Tetapi untuk yang machine to machine communication sepertinya sudah established.

LCX Multi Input Multi Output

Terus terang saya mendengarkan sambil pusing memikirkan maksud dari pembicara yang kental logat Jepangnya. Tetapi lama kelamaan “ngeh” juga ketika dia membahas mengenai LCX. LCX itu adalah metode baru pengganti access point (terminal WIFI) yang memiliki kelemahan karena terdistribusi hanya dalam satu titik sementara LCX kontinyu dan panjang.

Silahkan searching LCX yang berisi kabel coaxial dengan tambahan lilitan (horizontal atau vertical) yang berfungsi sebagai antena. Jadi prinsip kerjanya adalah LCX ini seperti access point yang kontinyu sehingga pengguna yang tersebar memeliki quality of service yang seragam, berbeda dengan access point dimana pengguna yang jauh dari access point akan lambat alias “lemot”.

LCX terus berkembang dari yang tadinya tipe 2×2 berlanjut ke 4×4 MIMO dimana dua kabel LCX digabung menjadi satu. Saya juga masih berfikir apakah tidak saling mengganggu mengingat masalah yang 2×2 saja harus diatur peletakannya agar satu sama lain tidak saling mengganggu.

Riset di Wireless

Sepertinya profesor pembicara itu membutuhkan tim untuk riset dan menawarkan untuk membimbing mahasiswa di kampus saya untuk lanjut ke Jepang atau sekedar kuliah tambahan. Sepertinya banyak rekan saya di Indonesia yang spesialis dalam jaringan piconet ini. Seperti dalam supply dan demand, terkadang perlu dihubungkan antara pensuplai (supervisor) dan yang membutuhkan (mahasiswa bimbingan).

Masalah utama calon-calon mahasiswa doktoral di tanah air adalah kendala bahasa. Pemberi beasiswa dan kampus tujuan biasanya mematok skor IELTS dan TOEFL yang tinggi, sementara jika mengandalkan kampus dalam negeri tentu ada batasnya (anggaran dan kuota dosen pembimbing/supervisor). Sekian semoga bermanfaat bagi rekan yang serius di telkom.

Life-long Education

Istilah ini sering muncul dan dikontraskan dengan “long life education”. Jika “life long education” berarti belajar sepanjang hidup, “long life education” berarti hidup hanya untuk belajar. Jadi yang benar adalah belajar untuk hidup. Banyak referensi-referensi mengenai hal yang masuk dalam bidang ilmu pendidikan ini, misalnya di paper seminar ini, yang membahas seluk beluk “life long education” yang sedikit membedakan dengan “life long learning” (lihat link ini). Jika learning hanya berfokus kepada belajar, “education” lebih luas dari pada “learning”.

Empat Pilar Pendidikan

Dibahas empat pilar dalam pendidikan, antara lain: “learning to know”, “learning to do”, “learning to live together and work with others”, dan “learning to be”. Pilar itu sudah sesuai dengan urutannya, yang diutarakan pertama kali oleh Delors (1996) dan ditujukan untuk pendidikan di masa depan. Dimulai dari sekedar tahu (know), dilanjutkan dengan bisa mengerjakan (do) dan bekerja sama (live together) dan diakhiri dengan perannya di masyarakat (to be). Jika seluruh rakyat Indonesia sampai tahap “to be”, pasti sejuk dah. Jika “learning to do” tetapi tidak “live together”, biasanya bentrok dan persaingan muncul di sana-sini. Jadi ingat, baru saja sore tadi timnas U23 kita dikalahkan 2-3 oleh timnas Syria. Bayangkan, kita dikalahkan oleh negara yang porak-poranda karena perang sodara. Semoga kita tidak seperti mereka yang kurang skill dalam “live together”-nya. Kalau “learning to do” sepertinya kita sudah banyak yang “ok”, buktinya kita masih bisa bekerja dengan baik, bahkan keahlian mengelas kita mengungguli negara lain. Tetapi kalau kebanyakan baru sampai “learning to know” sepertinya hanya ramai debat saja tanpa aksi, alias wacana thok. Repotnya, apabila keempat pilar tidak ada yang jalan, maka pasti kerjaannya ribut saja di media sosial, gampang kemakan hoax dan gemar cari lawan.

Kwadran Pendidikan

Negara dengan mayoritas muslim sebaiknya mendengar hadits nabinya yang mengatakan agar belajar dimulai dari buaian (bayi) hingga liang kubur (meninggal), alias “life-long education”. Dalam kondisi seperti saat ini dimana perkembangan IPTEK sangat cepat, tidak ada cara lain untuk “sustainable”/bertahan selain belajar terus. Di Swedia, life-long education dikombinasikan dengan “life-wide learning”. Jadi kalau digambarkan, “life-long” itu berdasarkan usia, sementara “life-wide” itu dibedakan menjadi formal dan non-formal, sehingga terbentuk 4 kwadran.

Idealnya negara memfasilitasi secara merata keempat kuadran tersebut. Misalnya untuk generasi muda, selain formal (sekolah), perlu juga memperhatikan pendidikan non-formal (di masyarakat). Selain distribusi yang merata, integrasi juga harus ada. Selama ini pendidikan non formal dan formal sepertinya jalan masing-masing di beberapa negara, padahal sebaiknya antara formal dan non-formal saling terkait. Selain horizaontal (formal dan non-formal), integrasi juga vertikal (tua atau muda).

Tujuan Utama “Life-long Education”

Dari empat pilar pendidikan, “learning to be” merupakan tujuan akhir dari pendidikan. Istilah lain dari “learning to be” adalah “learning society”, yaitu rakyat yang produktif, mampu bertidak dan merespon dengan baik dalam bermasyarakat serta memiliki kesadaran dalam bertindak. Aspek spiritual tidak boleh dilupakan (tidak materialistis). Akan tetapi butuh persyaratan-persyaratan tertentu untuk sampai ke arah sana.

Persyaratan Awal

Dari dulu ada dua syarat untuk menerima pendidikan: kesempatan dan kemauan. Tanpa keduanya, pendidikan tidak berjalan. Untuk memberikan kesempatan belajar, peran pemerintah sangat penting. Jangan sampai pendidikan hanya untuk orang yang mampu (the have). Masalah kesempatan merupakan masalah yang sering dijumpai di negara berkembang seperti di Indonesia dibanding di negara maju. Selain itu pihak yang mampu jangan mengabaikan yang tidak mampu, sehingga tidak hanya mengandalkan pemerintah dalam hal pemberian kesempatan belajar ke rakyat yang tidak mampu. Sementara itu kemauan perlu dipupuk sejak kanak-kanak dan peran orang tua juga menentukan. Terakhir adalah “educability”, alias bisa dididik. Sepertinya tidak masalah di negara kita, karena tiap orang bisa dididik, kecuali kalua kena narkoba atau dicuci otaknya oleh paham radikal (teroris).

Demikian sedikit gambaran masalah pendidikan yang saya sendiri kurang begitu mendalami. Mungkin rekan-rekan yang mengajar di kampus jurusan pendidikan bisa lebih memberikan penjelasan yang lengkap dan “jujur”. Semoga bermanfaat.

Referensi

Silahkan lihat link di paragraf awal