Fokus Mengasah Kuku dan Taring, Bukan Hanya Mengisi Perut

Tidak dapat dipungkiri, pekerjaan mengajar di Indonesia masih berfokus pada jumlah jam mengajar. Teringat ketika di awal-awal saya menjadi tenaga pengajar honorer. Prinsipnya adalah mengajar sebanyak-banyaknya. Alhasil, berangkat pagi pulang malam hari. Rekan saya berkelakar, “dari terbit fajar hingga terbenam mata satpam”.

Namun di sela-sela melakukan aktivitas “kejar paket SKS” itu saya melihat beberapa rekan pergi ke luar kampus. “Ke mana mas?”, tanya saya dengan dugaan dia menjawab mengajar di kampus lain. Ternyata tidak, “kuliah”, jawabnya. Ternyata mengambil magister. Saya tertegun dan mulai berfikir ulang mengenai konsep mengajar sebanyak mungkin.

Ternyata benar, tidak beberapa lama kemudian aturan baru muncul, dosen harus S2. Ibarat macan, para dosen yang S1 seperti kurang tajam kuku dan taringnya, bahkan dipaksa S2. Sementara perut yang sudah kebanyakan diisi perlu beradaptasi untuk mengasah kuku dan taring di perkuliahan pascasarjana.

Bagaimana dengan bidang lain selain dosen? Ada sedikit pengalaman dari rekan saya yang suaminya bekerja di Industri, bagian SDM. Waktu itu saya lihat rumahnya masih sederhana dengan kendaraan mobil tua yang murah dan boros BBM. Istrinya bercerita suaminya sangat gemar “mengumpulkan” sertifikat-sertifikat keahlian. Selang beberapa tahun (tidak lebih dari 4 tahun), suaminya selalu pindah kerja ke kantor lain dengan salary yang lebih besar. Namun tetap dia masih gemar “mengumpulkan” sertifikat-sertifikat. Tentu saja mengumpulkan di sini artinya mengikuti ujian-ujian dan kursus-kursus keahlian, sesuai bidangnya yaitu SDM. Kini kehidupannya sangat baik dibandingkan dahulu.

Keahlian beragam, tidak harus sertifikat ataupun gelar/ijasah. Saya teringat ketika bekerja di bank. Saya sering memperhatikan para manajer-manajer dengan grade/level tinggi, karena memang kerjaan saya waktu itu memastikan infrastruktur IT divisi-nya berjalan normal. Kebanyakan mereka memiliki keahlian khusus yang tidak didapat dari perkuliahan, melainkan dari pengalaman dan pelatihan-pelatihan yang diikuti. Misalnya di bagian, kolektor, entah teknik apa yang digunakan, ketika dia memasuki bagian tersebut, kinerja penagihan berjalan dengan baik dibanding sebelumnya.

Ibarat sang macan. Memang mengisi perut itu penting, tetapi dengan cakar dan taring yang kuat dan tajam, dengan mudah makanan diperoleh. Kecuali memang ingin bekerja rutin tanpa tantangan dengan gaji yang mengalir rutin seadanya, pensiun dan menerima tunjangan yang cukup, itu pilihan. Tapi kalau dilihat dari sisi bangsa dan negara, tentu saja khawatirnya akan jadi mangsa macan-macan dari negara-negara lain. Macan-macan bertaring yang dulu gagah pun, satu persatu rontok seperti blackberry, nokia, fuji film, dan lain-lain. Apalagi munculnya fenomena disrupsi, bukan tidak mungkin fenomena ini merambah ke bidang-bidang nyaman lainnya seperti sekolah, kampus, dan sejenisnya. Sudah kan Anda mengasah kuku dan taring Anda hari ini?

Iklan

Generasi Y dan Z yang Manja

Manusia tidak lepas dari aspek spatial (lokasi) dan temporal (waktu). Selain beda lokasi, maka tidak heran jika beda generasi beda pula karakternya. Sebagai informasi, dikenal lima generasi yaitu: i) baby boomer (lahir sekitar 60-an), ii) generasi X (lahir 1961-1980), iii) generasi Y/milenial (lahir 1981-2000), dan iv) Generasi Z (lahir 2000-2010), dan Alpha (lahir 2010 – sekarang).

Kelima generasi tersebut berbeda dikarenakan situasi dan kondisi yang dihadapi selama hidupnya, salah satunya adalah aspek teknologi, terutama informasi dan komputer (infokom) yang dimotori oleh dunia maya (internet). Postingan ini sedikit memberi gambaran kondisi dua generasi (Y dan Z) berdasarkan pengalaman pribadi.

Karakteristik Mahasiswa Generasi X

Karakter ketika saya kuliah (generasi X) sangat berbeda dengan generasi Y (mahasiswa sekarang). Dulu andalannya telepon dan SMS. Akses informasi hanya lewat buku, radio dan televisi. Waktu itu mahasiswa penyendiri seperti saya sudah pasti terbengkalai karena informasi harus saya peroleh sendiri. Mahasiswa yang supel akan dengan mudah memperoleh informasi penting yang mendukung perkuliahan. Jadilah saya kuliah S1 enam tahun. Tapi puas juga, karena itu hasil murni fikiran saya sendiri. Skripsi saya pun unik di antara mahasiswa-mahasiswa yang lain yang menurut saya jika tulisan mereka di-turnitin atau cek plagiarisme pasti akan mirip dengan mahasiswa lain. Tentu saja waktu itu tidak ada tools seperti itu, juga skripsi masih hardcopy.

Generasi ini di Indonesia kebanyakan hidup di jaman p Harto. Inget slogan “Piye, penak jaman ku tho?”. Ya, zaman ini merupakan zaman yang tenang, nyaman, walaupun hidup seadanya. Hanya ada konflik di sebagian kecil wilayah tanah air (misal Aceh). Jadi rekan-rekan yang seumuran dengan saya pasti banyak kenangan-kenangan manis ketika kecil dan sekolah dulu. Alhasil dalam bekerja dan hidup berkeluarga cenderung seimbang (lihat: link ini). Generasi ini juga cenderung hidup linear, maksudnya sekolah, kuliah, kerja, berkeluarga, dan seterusnya. Kalau ditanya pun cenderung jadi dokter, insinyur, pilot, dan karir lainnya. Repotnya generasi ini cenderung kurang mandiri, hanya beberapa mungkin yang karena didikan orang tuanya yang pengusaha, tertarik dengan ber-wirausaha. Oiya, generasi ini termasuk setia, tetap bekerja asalkan digaji cukup, walaupun tidak sesuai dengan minatnya. Mungkin pembaca pernah mendengar di Jepang rata-rata perusahaan menganut “bekerja seumur hidup”, maksudnya jarang pegawai yang berganti-ganti perusahaan tempat dia bekerja. Namun generasi berikutnya, tidak tertarik konsep tersebut lagi.

Karakteristik Mahasiswa Generasi Y

Generasi Y lahir ketika IT sudah berkembang pesat, terutama internet. Perkembangan tersebut memicu kemudahan dalam memperoleh informasi. Tinggal “google” saja, semua informasi tersedia. Mereka memiliki ide-ide yang inovatif dan pandangannya pun visioner, jauh ke depan. Mungkin hanya jaman generasi X ke bawah saja yang senang dengan istilah reuni, acara-acara mengenang masa lalu, club eightees, golden memory, dan sejenisnya. Mereka suka dikritik. Ingat acara-acara idol yang disertai kritik langsung selepas pentas? Bayangkan jika generasi X yang pentas dan selesai pentas dikritik, pasti mukanya langsung merah kayak kepiting rebus, he he. Selfi bagi mereka hal biasa, jika ada yang mengkritik masalah selfi ini, justru si pengkritik yang dibilang aneh.

Generasi yang Kreatif, Inovatif, tapi Manja

Tidak semua manja itu buruk. Bahkan jika semua orang adalah orang manja, maka tidak ada lagi kata manja. Untuk yang saat ini mengajar mahasiswa generasi Y ini, tidak ada cara lain selain memahami kemanjaan mereka.

Ketika mereka bertanya dan kita menjawab dengan menyuruhnya membaca, sudah pasti mereka kecewa. Walaupun kita beri lusinan ebook gratis, tidak akan memuaskan mereka. Karena mereka sudah pasti dengan mudah memperoleh ebook tersebut. Jawab saja sebisanya, kalau tidak bisa jawab saja tidak bisa, beres. Generasi manja ini sangat jago “berdagang” dan memasarkan diri. Mereka juga mampu memahami rekan-rekan mereka yang sama-sama manja. Ada beberapa postingan saya yang tidak cocok dengan generasi manja ini dan astaga, komentarnya pedas sekali (tidak menjumpai info yg diinginkan, padahal infonya pada postingan berikutnya).

Beberapa waktu yang lalu beredar kalau ujian nasional, dan juga ujian masuk PTN yang katanya sulit. Padahal dari dulu yang begitu menurut saya, cuma generasi ini saja yang mengucapkan kata sulit. Belum tentu yang mengatakan sulit itu nilainya buruk. Jangan-jangan kalau dia yakin benar semua barulah dikatakan mudah.

Beberapa buku sudah saya tulis. Penerbit sepertinya sudah pandai dan menyadari kebanyakan konsumen adalah pelajar-pelajar manja. Ada pakar yang nyinyir terhadap buku-buku yang menurutnya instan dan tidak layak terbit dibanding buku-buku terkenal karangan profesor-profesor luar negeri. Ya, begitulah generasi manja. Sudah syukur mereka baca buku-buku instan yang memanjakan mereka, jika tidak akan kalah oleh informasi-informasi lain yang lebih memanjakan mereka di internet. Buatlah potongan-potongan informasi penting yang menarik perhatian mereka ketimbang timbunan informasi-informasi berharga tetapi tidak menarik bagi mereka. Oiya, mereka sangat setia terhadap sesuatu yang sesuai dengan minatnya dan terkadang tidak memperdulikan besar kecilnya gaji. Jika merasa tidak dihargai, mereka cenderung pindah kerja ke tempat lain yang menghargai mereka. Jadi … hargailah mereka, dan juga pihak-pihak yang berusaha merhargai mereka ya.

Polemik Jurusan Sistem Informasi

Di bidang informasi dan komputer (INFOKOM) dikenal dua jurusan yang biasanya ada bersamaan di kampus-kampus yaitu: Teknologi Informasi dan Sistem Informasi, selain tiga lainnya (ilmu komputer, teknik komputer, dan rekayasa perangkat lunak). Di antara kelima bidang infokom tersebut (terkadang diistilahkan dengan “computing”) yang paling membingungkan adalah sistem informasi (information system). Bukan hanya membingungkan bagi para mahasiswa, bahkan dosen/pengajarnya pun memiliki pendapat-pendapat yang berbeda. Bahkan tanggal 2 Juli 2018 nanti akan diadakan pertemuan para kaprodi SI untuk merumuskan kurikulum SI ke depan dan membedakannya dengan jurusan-jurusan lainnya, terutama tetangga terdekatnya yaitu teknologi informasi.

Banyak referensi-referensi yang mendefinisikan secara rinci apa itu sistem informasi. Salah satunya dari [1] yang secara sederhana merinci komponen sistem informasi harus mencakup komponen-komponen berikut:

  • Perangkat Keras
  • Perangkat Lunak
  • Data
  • Orang
  • Proses

Karena cakupannya tersebut, SI menjadi rancu karena terkadang hanya beberapa bagian saja yang dibahas, padahal akan tumpang tindih dengan dengan jurusan lain, misalnya jika hanya membahas perangkat keras, lunak dan data maka akan berimpitan dengan jurusan teknologi informasi. Mungkin video promosi ini sedikit memperkenalkan apa yang dipelajari di jurusan SI.

Karena konten yang ada aspek sosialnya (manusia), maka SI terkadang membutuhkan ilmu-ilmu sosial dan cenderung “lebih mudah” karena tidak terlalu matematis. Hasilnya beberapa kampus yang membuka dua jurusan SI dan TI banyak yang lebih suka memilih TI ketimbang SI. Mungkin salah satunya adalah gengsi. Hal-hal berikut mungkin perlu dilakukan para praktisi atau dosen yang memilih SI sebagai kompetensi, termasuk saya.

Bangga Terhadap Bidang Sistem Informasi

Riset TI memang menantang, menarik, dan perkembangannya sangat cepat. Sebenarnya karena TI bagian dari SI (hardware, software, dan data) maka perkembangan SI pun otomatis cepat pula. Bahkan dulu Apple menciptakan Ipad terlebih dahulu dibanding Iphone. Setelah Ipad siap diluncurkan, divisi SI melakukan riset dan ternyata banyak yang meminta perangkat kecil. Alhasil divisi TI menswitch ke pembuatan Iphone lebih dahulu, dan ternyata sukses. Bayangkan tanpa ada peran SI waktu itu. Selalu, aspek finansial menjadi fokus. Barang canggih seperti apapun jika tidak ada yang suka dan membelinya, akan di-grounded juga.

Masalah lainnya biasanya karena TI dan SI dalam satu fakultas/divisi yang sama, cenderung kurikulum tidak jauh berubah. Banyak kejadian mahasiswa yang pindah jurusan dari SI ke TI karena merasa bobotnya sama tetapi kesan kuliah TI lebih “OK” dibanding SI. Ada dua kemungkinan, TI yang agak melenceng ke SI atau SI yang tidak bisa menemukan core utama jurusan SI. Namun tentu saja ada pembobotan/proporsi antara teori dan aplikasi di jurusan SI [2], [3]. Perhatikan sistem dan struktur lebih fokus ke sisi aplikasi (terapan).

Cukup Sistem Informasi saja, Jangan Dipecah Lagi

Saya termasuk yang baru masuk ke jurusan SI (karena kuliah di field of study: information management). Karena sifatnya yang general, ternyata muncul jurusan-jurusan baru yang keluar dari SI karena aspek penamaan yang lebih menjual, seperti IT bisnis, bisnis digital, e-learning, dan lain-lain. Sebenarnya sistem informasi geografis (SIG) itu bagian dari SI, termasuk IT bisnis dan sejenisnya. Karena sudah terbentuk ya menurut saya tidak jadi masalah, tapi untuk yang mau membentuk sebaiknya ditahan dulu. Memang presiden Jokowi mengeluarkan ide jurusan kopi, jurusan toko online, dan sejenisnya. Seperti yang diucapkan Prof. Ucok, sebenarnya ilmu dasarnya kan sama saja, tinggal diberi saja mata kuliah atau konsentrasi itu. Termasuk sistem informasi kopi .. kalau mau, he he. Mengapa ini penting, sebab tidak tertutup kemungkinan jurusan SI akan musnah karena masih-masing mencetuskan jurusan-jurusan uniknya.

Yuk .. Gabung ke Sistem Informasi

Memang jurusan SI merupakan jurusan unik yang multidisiplin. Banyak melibatkan ilmu-ilmu lain. Dan saya yakin banyak dosen-dosen yang sebenarnya SI tetapi memilih TI sebagai core riset yang diminatinya. Bagi yang lebih suka ngajar yang berbau analis, manajemen-manajemen, dan risetnya di decision support system (DSS), Structural Equation Modelling (SEM), dan sejenisnya, perlu berifikir lagi apakah terus di TI atau SI. Sekian, semoga bisa jadi referensi.

Referensi

[1]    D. T. Bourgeous, “What Is an Information System?,” Inf. Syst. Bus. Beyond, pp. 5–64, 2014.

[2]    T. D. Susanto, Sebuah Kajian Akademik Berdasarkan Dokumen Computing Curricula 2005 Computing sebagai sebuah Rumpun Ilmu. 2005.

[3]    H. Topi, J. s. Valacich, R. T. Wright, and K. M. Kaiser, “Is 2010,” 2010.

Untuk Rekan-rakan Dosen di JABOTABEK dan sekitarnya

Seperti udara yang kita hirup setiap hari, manfaatnya akan terasa ketika sesak nafas atau polusi di mana-mana. Ketika biasa saja, terkadang tidak dijumpai rasa bersyukur. Begitu pula untuk rekan-rekan dosen yang tinggal dekat pusat ibukota, Jakarta. Cerita ini mungkin bisa menginspirasi.

Dekat dengan RISTEK-DIKTI

Seperti postulat dalam geografi, banyak hal berpengaruh tetapi jarak sangat mempengaruhi, begitu juga dengan para dosen. DIKTI yang merupakan departemen yang mengurusi dosen dan periset menjadi andalan dosen-dosen di seluruh Indonesia. Walaupun ada kopertis di tiap-tiap wilayah, tetapi tetap saja mengurus hal-hal tertentu harus ke DIKTI.

Teringat dulu ketika gagal wawancara beasiswa luar negeri (LN) dan ternyata ada wawancara ulang beberapa bulan kemudian. Repotnya info dikirim dan harus datang ke Jakarta dalam waktu 3 hari. Tadinya saya fikir itu untuk calon karyasiswa (sebutan untuk penerima beasiswa) di sekitar Jabotabek saja. Ternyata ya ampun, seluruh Indonesia dari timur hingga barat. Ketika berkumpul menunggu wawancara banyak yang sibuk mencari tiket balik, padahal belum tentu keterima (beberapa terkendala masalah umur dimana usia max 45 untuk beasiswa LN). Repotnya lagi, info itu harus lihat sendiri di web beasiswa, kalau tidak melihat ya bisa saja tidak ada yang mengingatkan. Untungnya saya yang tinggal di Bekasi langsung meluncur, walau masih nyasar juga sih.

Bagi yang pernah kuliah ke luar negeri, pasti merasakan ketika berangkat harus lewat Jakarta (naik pesawat Garuda). Jadi dari daerah seluruh Indonesia, harus transit dulu ke Jakarta sebelum lanjut ke negara tujuan. Memang sih biasanya jarang ada yang langsung ke luar negeri dari daerah selain Jakarta. Bagi saya, yang memang harus ke Jakarta untuk ke berangkat. Salut juga ketika berangkat berjumpa dengan rekan dari Papua yang harus transit dulu ke Jakarta sebelum lanjut ke luar. Adanya wawancara di luar Jawa sepertinya sangat membantu rekan-rekan dari wilayah lain (terutama timur). Pembekalan pra keberangkatan pun di sana.


Source: http://setkab.go.id/wp-content/uploads/2015/08/Ceramah-LPDP.jpg

Tempat Kedutaan-Kedutaan Besar

Ketika mau berangkat belajar ke luar negeri tentu saja membutuhkan visa khusus, yaitu visa pelajar. Nah, mengurusnya tentu saja ke dubes yang dituju. Letaknya tentu saja di ibukota, jadi mau tidak mau harus ke Jakarta. Repot juga kan yang tinggal di daerah, tetap harus ke Jakarta dan tidak boleh diwakilkan.

Thai Embassy in Jakarta

Selain itu, banyak informasi-informasi lain yang hanya didapat di dekat ibukota, terutama gosip-gosip tertentu, yang walaupun kadang hoax, tetapi tetap saja tahu lebih dahulu jika memang tidak hoax. Sekian dulu, dan besok siap-siap berangkat ke kantor pusat DIKTI untuk mengambil berkas penyetaraan ijazah .. lagi-lagi harus ke Jakarta walaupun proses penyetaraannya sudah online. Tapi jangan khwatir, bisa diwakilkan untuk mengambilnya. Jadi rekan-rekan di kopertis III dan IV (Jabotabek), yuk lebih semangat lagi.

Penyetaraan Ijazah Luar Negeri

Berbeda dengan rekan-rekan yang studi lanjut di dalam negeri, untuk yang kuliah di luar negeri setelah selesai dan ijazah diperoleh, harus melakukan proses terkahir, yaitu penyetaraan ijazah luar negeri. Sejak 1 Maret 2018, untuk melaksanakan penyetaraan ijazah dapat dilakukan secara online di situs resminya: http://ijazahln.ristekdikti.go.id/ijazahln/.

Sesuai dengan namanya, yaitu “penyetaraan”, maka proses tersebut tidak bermaksud mengakui atau tidak mengetahui ijazah yang diterbitkan dari luar negeri, “Penyetaraan Ijazah Luar Negeri Bukan dimaksudkan untuk menentukan diakui atau tidaknya ijazah dan gelar yang diperoleh seseorang dalam menempuh pendidikannya diluar negeri, akan tetapi lebih kepada menentukan gelar yang diperoleh tersebut setara dengan ijazah jenjang pendidikan yang berlaku di Indonesia”.

Mempersiapkan Berkas-Berkas

Berkas yang utama tentu saja scan ijazah dan transkrip. Karena dibatasi beberapa mega saja, perlu diturunkan resolusinya. Ada dua pilihan dalam mengajukan yaitu apakah yang mengajukan seorang dosen atau tidak. Terus terang saya belum mengetahui yang bukan dosen, kalau yang untuk dosen banyak berkas-berkas yang harus disiapkan. Ijin belajar perlu juga dipersiapkan. Tentu saja dosen pasti memilikinya. Surat Keterangan Pendamping Ijaza (SKPI) yang menyertai ijazah. Banyak pertanyaan surat tersebut di grup studi lanjut yang saya ikuti. Untungnya di kampus tempat saya kuliah menyediakan surat keterangan mengenai ijazah yang saya peroleh, misalnya mengatakan bahwa bahasa pengantarnya adalah bahasa Inggris dan lain-lain. Jadi sebelum balik, ada baiknya meminta surat itu, yang kebanyakan tidak diberikan jika tidak meminta (opsional). Repot kan kalau sudah balik tetapi lupa menyiapkan surat tersebut. Nah, berkas menjengkelkan lain yang perlu disiapkan adalah syllabus perkuliahan yang biasanya diperoleh oleh mahasiswa baru dalam bentuk buku panduan akademik. So, jangan sampai lupa. Harus discan terpisah karena situs penyetaraan ijazah meminta tiga berkas yaitu: silabus, jurusan, dan gelar akademik.

Tahapan Proses

Langkah pertama adalah registrasi lewat email. Setelah itu pendaftaran dapat dilakukan, dilanjutkan dengan upload berkas-berkas hingga statusnya menjadi draft. Ada sedikit kendala ketika upload yang kerap gagal. Mungkin harus diverifikasi dahulu sebelum boleh upload. Hasil verifikasi dapat diketahui lewat email, jadi jangan segan-segan lihat email karena setiap tahapan akan dikabari via email. Setelah uplad berhasil, maka status menjadi diajukan. Selang beberapa hari, proses akan berubah menjadi diterima yang artinya ijazah luar negeri kita sudah disetarakan.

Pengambilan Berkas

Sayangnya berkas harus diambil langsung (atau dengan surat kuasa) ke gedung DIKTI di Jakarta. Repot kan jika tinggal di Papua atau yang bekerja di luar negeri. Kalau ada fasilitas kirim online mungkin sip deh. Oiya, diterima belum bisa diambil karena menunggu peroses pencetakan dan pengesahan. Diambil di jam kerja senin – jumat. Parkir di gedung sebelahnya ya kalau ga kebagian karena selalu penuh. Status juga dapat dilihat dari link berikut, tanpa login terlebih dahulu (bahaya juga ya).

Menulis Artikel Ilmiah atau Menulis Buku?

Kalau kita perhatikan dunia pendidikan tinggi di lingkungan kampus kita masing-masing, akan tampak dosen yang pakar dengan bidang tertentu seperti mengelola jaringan, membuat web, atau aplikasi lainnya. Tetapi mereka minim sekali mempublikasikan artikel ilmiah (yang bukan buku). Mengapa bisa terjadi? Postingan ringan kali ini hanya analisa singkat mengenai fenomena ini.

Buku & Kepakaran

Dari taman kanak-kanak kita sudah mengenal buku. Dari yang berisi informasi hingga panduan mengerjakan sesuatu. Buku biasanya berisi ilmu-ilmu yang sudah established atau sudah fix, hampir tidak ada perdebatan besar mengenai kontennya. Pengarang dalam menulis buku mengandalkan kepakaran dan pengalamannya. Namun tentu saja tanpa sesuatu hal baru, penulis buku tidak bisa menulis suatu artikel ilmiah di jurnal atau seminar-seminar. Coba saja menulis artikel yang isinya pembahasan materi dari buku, sudah dipastikan akan ditolak oleh pengelola jurnal. Kecuali kalau memang jurnal itu kekurangan tulisan, tentu saja dengan modifikasi di sana sini.

Jurnal ilmiah

Jika buku biasanya ilmu-ilmu yang sudah baku berasal dari puluhan tahun lalu, jurnal berisi temuan-temuan baru kurang dari sepuluhan tahun. Bahkan artikel yang baru terbitpun sesungguhnya diteliti sekitar satu hingga tiga tahun, tergantung berapa lama proses revisinya. Bahkan ada naskah yang proses revisi hingga sembilan tahun.

Aktif Menulis Buku & Artikel Ilmiah

Jadi apakah penulis buku yang kebanyakan pakar berpengalaman tidak bisa menulis artikel ilmiah di jurnal dan sebaliknya penulis aktif di jurnal kesulitan menulis buku? Menurut saya baik menulis buku maupun jurnal bisa oleh penulis yang sama. Sedikit penjelasannya adalah berikut ini.

Ambilah contoh seorang pakar menggali sumur pantek di perumahan. Dia memiliki segudang pengalaman dalam membuat sumur itu. Tentu saja dia bisa membuat buku mengenai tatacara menggali dan menemukan lokasi sumurnya. Tetapi untuk menghasilkan suatu artikel ilmiah dia harus menemukan hal-hal baru ketika melakukan aktivitas menggalinya. Ditambah dia harus aktif mengikuti perkembangan terbaru masalah gali menggali. Jika dia hanya fokus ke menggali sumur, beres, menerima bayaran, dia tidak akan bisa menemukan hal-hal baru dan menulisnya dalam suatu artikel ilmiah. Begitu juga dengan seorang dosen, misalnya mengajar jaringan komputer. Jika dia hanya berfokus mengajar “crimping”, setting IP, dan sejenisnya saja, atau sekedar menjalankan tugas me-maintain jaringan di institusinya, tentu saja tidak bisa dihasilkan suatu artikel ilmiah tanpa hal-hal baru dan mengikut perkembangan jaringan komputer terkini lewat jurnal-jurnal.

Terus terang ketika studi, saya mendapati rekan-rekan yang jago di mata kuliah tertentu, tetapi ketika riset mengalami kesulitan dan terhambat lulusnya, apalagi doktoral mengharuskan adanya publikasi di jurnal internasional. Sebenarnya perlu adanya sikap ingin tahu yang lebih, disertai ketidakpuasan mengenai metode-metode yang saat ini ada, agar diperoleh “gap” antara ilmu terkini dengan masalah yang dijumpai. Research Question yang ditemukan merupakan obor yang memicu seorang untuk meneliti. Oiya, untuk yang sedang riset disertasi, jangan harap bisa menemukan jawaban langsung dari internet, buku, atau bahkan bertanya ke supervisor karena memang masalah tersebut belum terselesaikan dengan tuntas, bahkan belum ada jawabannya. Selamat menemukan hal-hal baru.

Empat Tahunan Studi Doktoral

“I confer upon you a degree of doctor of philosophy”. Ketika rektor mengucapkan kalimat tersebut, selesailah sudah kuliah saya di kampus tua itu. Kampus yang dibentuk ketika perang dingin USA dan Rusia berlangsung di tahun 1959. Selama lima tahun kurang 3 bulan saya lalui di kampus yang terkenal sulit dan lama lulusnya, terutama di jurusan keras Computer Science and Information Management (CSIM).

Kisruh Saat Kedatangan

Awal perkuliahan di awal Agustus menyulitkan proses administrasi dengan pemberi beasiswa (DIKTI) yang mewajibkan penerima beasiswa (karyasiswa) menghadiri pembekalan pra keberangkatan di bulan September. Sepertinya DIKTI menyamakan dengan kampus dalam negeri yang perkuliahan dimulai pada bulan September. Terpaksa harus balik lagi ke Indonesia untuk mengikuti acara tersebut.

Masalah lain yang rumit adalah pembayaran biaya kuliah. Masalah ini muncul karena seperti biasa, DIKTI agak telah beberapa bulan dalam pencairan. Walaupun Guarantee Letter (GL) DIKTI sangat ampuh, repotnya ketika berangkat GL belum jadi. Setelah bolak-balik ke bagian pendaftaran (registry), akhirnya masalah daftar ulang beres.

Course Work Problem

Setelah masalah daftar ulang beres, ternyata muncul masalah baru yaitu nilai MID perkuliahan (course work). Beda dengan Jepang yang menganut S3 dengan riset (by research), AIT menganut course work + research. Jadi perkuliahan diwajibkan sebelum riset. Repotnya karena harus balik lagi ke tanah air, nilai mid semester berantakan, dan efeknya merembet ke nilai akhir. Padahal syarat boleh riset, IPK (GPA) minimal 3.50.

Problem Kandidasi

Kandidasi adalah sidang yang harus diikuti oleh mahasiswa doktoral yang ingin melanjutkan ke tahap berikutnya setelah tahap course work yaitu, tahapan riset. Program doktoral di AIT adalah “the highest degree in AIT that shows academic and research achievement”, seperti dikatakan oleh wakil rektor ketika acara wisuda. Maka mahasiswa doktoral dituntut bagus dalam perkuliahan (akademik) dan riset.

Problem Syarat Publikasi

Walaupun tergolong pintar, beberapa mahasiswa doktoral di kampus sulit menembus jurnal internasional. Selain waktu yang tidak jelas, kriteria lolos atau tidaknya sangat ketat dan subyektif. Dosen pembimbing hanya bisa mengarahkan saja dan tidak bisa berbuat apa-apa ketika siswa bimbingannya ditolak terus oleh pengelola jurnal. Akibatnya banyak yang pulang dulu beberapa tahun menunggu naskah yang akan dipublikasi diterima salah satu editor jurnal.

Jika sudah, maka syarat terakhir adalah pengecekan disertasi oleh profesor external sebelum sidang terbuka. Syarat ini tidak begitu rumit karena waktu pembuatan yang bisa diprediksi oleh mahasiswa. Berbeda dengan jurnal yang lama prosesnya tidak jelas, dari beberapa bulan hingga kalau sial bisa beberapa tahun.

Dan yang dinanti-nanti oleh pelajar, yaitu wisuda, akhirnya bisa dilalui jika publikasi selesai. Toga ber-strip tiga pun berhak dipakai. Akhirnya tinggalah kenangan dari seorang alumni. Sekian, semoga bisa menginspirasi.