Waktumu Terbatas

Salah satu anak saya sangat menyukai permainan di sebuah mall di bekasi. Isi permainan yang diperuntukan balita dan awal SD berisi jalan, kendaraan, peraga profesi seperti dokter, polisi, tentara, dan lain-lain. Walaupun orang tua boleh masuk untuk mengawasi, tetapi karena bayar maka lebih baik menunggu saja di luar.

Ada hal menarik yang dapat dipetik dari arena permainan itu. Tiap anak diberi waktu sekali bayar satu atau dua jam. Setelah memasuki arena saya lihat anak-anak bermain dengan gembira. Ada yang memilih mobil-mobilan, ada yang memilih berkejar-kejaran dengan temannya, ada yang juga asyik menggambar. Semuanya bergembira, hingga tidak lama kemudian suara speaker berbunyi yang isinya berita panggilan kepada anak tertentu, “anak xxx waktu bermain sudah habis”. Ada anak yang dengan santai keluar, ada pula yang masih lari-larian sehingga harus dijemput oleh petugas. Ada juga yang nangis tidak ingin pulang.

Begitu pula kehidupan dunia. Ada yang didaftarkan berusia 50, 60, bahkan 100 tahun untuk bermain di permainan dunia ini. Ada juga yang masih muda sudah ingin selesai. Ketika selesai, seperti permainan anak-anak, petugas berwenang akan mendatangi dan mengajaknya keluar arena permainan dunia ini. Walaupun permainan tetap saja Anda diminta untuk bermain dengan cantik. Terlihat petugas yang gemas dengan anak-anak yang bermain nakal, mengganggu anak-anak lainnya, saya hanya tersenyum, jangan-jangan saya juga seperti itu. Yuk, bermain dengan cantik.

Fikiran .. Pedang Bermata Dua

Untuk Anda yang mengagung-agungkan fikiran, waspadalah karena fikiran sepertinya membantu Anda dalam keseharian tetapi bisa juga seperti pedang bermata dua yang melukai si pemilik. Hal ini terjadi karena yang seharusnya fikiran berfungsi sebagai alat tetapi beralih fungsi menjadi si majikan. Bagi tradisi kuno Hindu dan Budha fikiran sangat berbahaya karena bisa membuat seseorang hanyut dalam fikirannya. Fikiran yang tak terkendali, diibaratkan sebagai “monyet” yang bergerak loncat ke sana ke mari.

Kisah Imam Malik dan Imam Syafii

Tradisi Islam dahulu kala sering terjadi silang pendapat, karena fikiran. Imam Malik, sang guru, pernah berbeda pendapat dengan Imam Syafii, imam yang paling banyak pengikutnya di Indonesia. Imam Syafii tidak sependapat dengan Imam Malik yang mengatakan cukup dengan tawakal, rejeki akan tiba. Imam syafii berpendapat tidak mungkin tanpa usaha, rejeki akan tiba, seperti burung yang tidak keluar sarang mencari makan tidak akan memperoleh makanan. Begitulah sifat fikiran yang masih mengenal dualitas (atas bawah kiri kanan, suka duka, beanar salah, dan lain-lain). Perbedaan pendapat sejatinya tidak melepas/memutus ikatan pertemanan, apalagi murid dan guru, apalagi hanya dalam hal tetek bengek yang tidak penting, misalnya pileg, pilgub, pilpres, dan pil-pil lainnya.

Pulang dari berguru, Imam Syafii melihat orang-orang yang ramai memanen anggur. Terbesit ide untuk membantu memanen, dan benar dugaannya, selesai memanen Imam Syafii mendapat upah anggur yang banyak. Setelah memperoleh upah, beliau mendatangi lagi gurunya guna membuktikan kebenaran pendapatnya. Sang guru membenarkan pendapatnya, tetapi dengan santai ia mengambil anggur pemberian Imam Syafii, sambil mengatakan beberapa waktu yang lalu, dia kepingin sekali makan buah anggur, dan dengan doa dan tawakal, anggur yang banyak tiba di hadapannya. Mereka akhirnya tertawa.

Mindfulness/Kesadaran

Kesadaran yang berarti menyadari apa yang terjadi dalam fikiran dan perasaan merupakan inti dari meditasi, yang dalam istilah bahasa pali-nya, “sati”. Silahkan coba, tapi tidak berhenti sampai sati saja, melainkan mempelajari. Jika sudah terlatih sadar, seseorang akan memahami mengapa sebuah fikiran muncul, dari mana asalnya dan merembet ke mana. Akibatnya akan muncul kebijaksanaan dengan ciri khas, ego yang tidak mendominasi. Ego yang berada di fikiran akan membuat fikiran menjadi raja sementara diri kita budaknya. Akibatnya banyak orang-orang terpelajar yang di mata orang awam “error”. Konon, pembunuh salah satu khalifaturrasyiddin, Ali bin Abi Thalib, adalah Ibnu Muljam yang cerdas, berilmu, hafal Alquran dan Alhadits, yang sepertinya tidak mungkin terjadi pembunuhan itu jika ego dalam fikiran membuat seseorang menjadi budaknya.

Bahayanya Merasa Benar

Ketika lulus S1 dan menjadi dosen, saya menguji tugas akhir siswa tentang jaringan. Siswa mengatakan bahwa pewarnaan dalam kabel jaringan mempengaruhi nyambung atau putusnya koneksi, selain urutan kabelnya. Sementara saya ngotot, tidak, asalkan ujung ke ujungnya sesuai pin, urutan warna tidak pengaruh. Selang beberapa semester, saya bekerja sebagai staf IT pada bank nasional dan mengalami kondisi yang membuat saya merasa bersalah. Ceritanya sebuah vendor kabel disewa untuk memasang kabel jaringan di cabang dekat asam reges, Jakarta. Warnanya acak, walaupun ujung ke ujung (pin) tepat “lurus/straight“. Sempat jaringan berfungsi normal ketika menggunakan IBM pentium III, tetapi kebetulan ada pergantian PC ke HP Pentium IV, satu pun tidak ada PC baru yang berjalan jaringannya. Dimintalah saya datang ke sana, ternyata saya cek urutan kabelnya tidak standar (bukan: putih-orange, orang, putih-hijau, biru, putih-biru, hijau, putih-coklat, coklat). Akhirnya saya berfikir jangan-jangan siswa saya benar, urutan warna harus standar, akhirnya saya coba satu titik, ternyata benar. Dipanggilah vendor yang memasang kabel kemarin, mirip sidang tugas akhir saya dulu saling ngotot (walaupun untungnya, siswa tersebut saya luluskan). Vendor tersebut membuktikan dengan tester jaringan yang menunjukan “OK”. Akhirnya, saya putuskan menunjukan ke mereka pada satu titik koneksi dengan memasang ulang dengan warna standar, dan terbukti “OK” dengan PC yang baru. Karena takut kasus saya follow-up ke atas, mereka setuju memasang ulang seluruh kabel jaringan. Mudah-mudahan siswa yang saya uji hampir 17 tahun yang lalu itu membaca postingan ini, dan menerima permintaan maaf saya, minal aidin walfaizin, mohon maaf lahir dan batin.

Cukup Hanya Tuhanmu Sajalah Yang Tahu Tujuanmu

Ada sebuah artikel dari link berikut tentang bagaimana mencapai tujuan (goal) kita. Disebutkan bahwa yang ingin kita capai tidak seharusnya di-share. Agak unik, memang pengetahuan dalam mencapai tujuan selalu menjadi tema yang menarik. Banyaknya pengguna media sosial saat ini menjadi alasan agar seseorang berhati-hati dalam mengekspresikan tujuannya secara online. Sebelum ke dunia millenial ada baiknya sedikit mereview sejarah seperti yang ditulis dalam link tersebut.

Kisah Penemuan Pesawat

Di abad 19 banyak ilmuwan dan teknisi berusaha membuat kendaraan yang bisa terbang seperti layaknya burung. Di AS ada salah satu ilmuwan, fisikawan, astronom, bernama Langley, tertarik membuat proyek tersebut dengan dana yang besar, bahkan sebuah departemen mendanai hingga $50.000. Saat itu tidak ada medsos, yang ada hanyalah blowup oleh para wartawan yang gemar men-share berita-berita menarik. Di pihak lain, ada dua bersaudara, dikenal dengan panggilan Wright Brother, yang memiliki bengkel motor, mobil, bahkan sekedar sepeda dengan antengnya merancang pesawat, tanpa gembar-gembor. Publik dikejutkan dengan keberhasilannya menerbangkan hasil karyanya beberapa mil. Sementara itu Langley dengan dana yang besar gagal, bahkan uji cobanya hancur.

Riset Ilmiah

Mungkin pembaca agak ragu dengan statemen agar tidak terlalu men-share keinginan. Memang masih berupa hipotesa jika belum diteliti. Tetapi riset di jurnal psikologi berikut memperkuat statemen tersebut. Riset dilakukan terhadap beberapa responden dan hasilnya adalah grup pertama yang targetnya banyak diketahui orang akan cenderung sedikit berusaha dibanding grup kedua yang targetnya tidak diketahui orang, sedikit diabaikan, dan lain-lain sebagai kebalikan dari grup pertama. Bila seseorang telah mengidentifikasikan dirinya dengan tujuan yang telah tercapai dan men-share nya, biasanya cenderung gagal dalam mencapai tujuan tersebut.

Fear Setting dahulu Share Seperlunya

Selain men-share tujuan ada baiknya melakukan aktivitas lain yang membantu mencapai tujuan dan cita-cita, yaitu fear-setting, mengeset rasa takut. Maksudnya adalah mendeteksi hal-hal rasa takut yang menghalangi kita mencapai tujuan. Misalnya ketika ingin studi lanjut, silahkan rinci dan tulis ketakutan-ketakutan yang ada, misalnya jauh dari keluarga, butuh uang yang banyak, kehilangan jabatan karena tugas belajar, kurang bisa bahasa Inggris, dan lain-lain. Silahkan atasi satu persatu rasa takut yang menghalangi Anda untuk studi lanjut, dengan cara bebas sesuai kreatifitas Anda dan share niat Anda secukupnya saja.

Efek Rasa Syukur

Bersyukur terkadang mudah diucapkan tetapi sulit diterapkan. Terkadang pula mulut kita mengucapkan syukur (ketika beribadah) tetapi hati belum tentu menerima kondisi yang ada. Mungkin pembaca pernah membaca buku “the secret” atau “quantum ikhlas” yang membahas kekuatan dari hati dan fikiran dalam lancar dan suksesnya kehidupan. Di sana disebutkan juga manfaat hati yang “lega/nyaman” ketika melaksanakan/mengerjakan aktivitas sehari-hari. Hasil akan terasa jika dilakukan dengan hati yang ikhlas.

Pertahanan Terbaik

Tidak semua hal berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Terkadang plan A tidak berjalan dan memaksa kita untuk mengeksekusi plan B. Tanpa hati yang ikhlas dan legowo, ketika plan A tidak berjalan akan kesulitan menjalankan plan B, diakibatkan terlalu lama berkeluh-kesah dan kecewa dengan plan A yang gagal.

Sedikit berbagi pengalaman ketika kuliah dulu mengenai manfaat rasa syukur. Syarat untuk menjadi kandidat doktor di tempat kuliah dulu adalah IPK di atas 3,50. Nilai segitu termasuk cukup tinggi, walaupun relatif, terkadang mudah terkadang susah. Sangat jarang mahasiswa yang lancar dalam satu tahun memperoleh skor IPK sebanyak itu. Rata-rata ada yang mengulang karena satu saja mata kuliah jatuh akan menjatuhkan total skor IPK. Bayangkan jika diperoleh IPK semester awal 2,4. Satu kata yang terucap ke pembimbing waktu itu adalah “apakah saya masih bisa lanjut?”, dan jawabannya “bisa”. Satu jawaban itu dengan satu rasa syukur sudah cukup menjadikan pertahanan terbaik saya. Ditambah rincian-rincian syukur lain yang saya kumpulkan untuk menumpuk kekuatan. Lalu apa yg terjadi? Dalam 2 tahun akhirnya IPK tepat berada di posisi 3,50 pas. Angka yang pas menunjukan berapapun nilai yg dosen berikan sangat berharga, kurang lebihnya.

Bekerja dengan Nyaman

Ketika plan A gagal, tidak serta merta plan B dieksekusi. Ternyata butuh syarat penting lain sebelum menjalankannya walaupun sudah ada schedule-nya, yaitu “hati yang nyaman”. Kecuali memang urgen dan mendesak, harus dilaksanakan realtime. Jika ada jeda waktu cukup, ada baiknya membuat hati nyaman terlebih dahulu. Banyak caranya, bisa meditasi, berdoa, maupun cara yang gampang, yaitu bersyukur. Syukuri saja apa yang ada saat ini walaupun sederhana, misalnya kita masih diberi nafas (ups .. sepertinya itu bukan sederhana, melainkan sapu jagad).

Ada satu mekanisme yang dinamakan “daya tarik” dengan prinsip sesuatu akan cenderung berada sesuai dengan yang mirip dengan sesuatu itu. Jika kita marah, biasanya kondisi akan mudah membuat kita marah. Nah, jika kita nyaman dulu, maka kondisi akan cenderung mengikuti kenyamanan. Ada energi-energi lain yang membantu, orang-orang/tim yang kompak, pihak lawan yang tidak terlalu menyerang, dan lain-lain. Sudahkah anda “nyaman” hari ini? Ngopi dulu lah.

Menerapkan Revolusi Industri 4.0 dalam Keseharian

Seperti biasa ketika masuk kerja jam 8 –an, sepi, hanya staf tata usaha dan beberapa dosen yang ada jadwal mengajar. Postingan ini terinspirasi dari siaran radio dalam perjalanan ke kampus yang membahas bagaimana bisnis di era revolusi industri 4.0.

Kembali ke kisah sunyi-sepi-sendiri tadi. Memang ada mesin absen, tetapi fungsinya sebatas setor biometrik (wajah atau sidik jari). Nyaman juga sih, bisa luntang-lantung selepas absen, begitu juga ketika jam pulang. Jika patokannya Tri Darma, sepertinya rata-rata tidak bagus-bagus juga, jika sebagai pembandingnya adalah kampus seusia. Berarti ada sesuatu yang tidak beres kampus dalam mengelola. Mungkin salah satunya adalah ketertinggalan teknologi kampus dengan teknologi yang digunakan karyawannya.

Revolusi Industri 4.0

Komponen penting versi industri 4.0 adalah cyber phisical system, internet of things (IoT), dan bio-technology. Karena kampus juga termasuk institusi bisnis, khususnya jasa, maka mau tidak mau harus mengikuti era-nya jika tidak ingin tertinggal. Salah satu aspek khas “internet of things” perlu diterapkan dengan beberapa metode artificial intelegent-nya (AI). Jika dirasa fingerprint sekali masuk dan sekali keluar tidak memenuhi rasa keadilan, ganti saja dengan berbasis AI, entah bagaimana caranya. Saya teringat kakak saya yang banyak bisnisnya, salah satunya cuci mobil. Dia menggunakan prinsip bagi hasil terhadap tim pencuci. Saya mempertanyakan, apakah tidak khawatir dibohongi? Dia menjawab, “kan ada CCTV, kita bisa melihat berapa mobil yang dicuci, lihat live atau rekamannya”. Jadi kehadiran fisik seperti inspeksi mendadak dan sejenisnya sudah bukan era-nya lagi, biar sistem yang berbicara. Rapat-rapat yang menuntuk kehadiran fisik pun sepertinya tidak masuk kategori industri 4.0.

Kapten Stark

Penggemar film marvel pasti tahu Mr. Stark, sang Iron Man. Lihat bagaimana dia menerapkan IoT dengan cyber physical systemnya dimana mesin dan mesin berkomunikasi, bukan hanya orang dengan mesin. Bahkan Dr. Banner (Hulk) yang berprofesi dokter pun tampak lihai menggunakan IT di markas avengers, teknologi yang memang makin menjadi pegangan sehari-hari kita saat ini bukan hanya orang IT. Bahkan dalam satu episodenya, kapten Stark belajar astrofisika hanya dalam semalam. Maaf, jadi ngomongin film. Tapi gambaran di film tersebut cukup baik menggambarkan revolusi industri 4.0, terlepas dari keanehan-keanehan yang memang wajar dalam sebuah film.

Jiwa Kewirausahaan (Enterpreneurship)

Sehabis lulus studi terakhir, saya diundang ke kampus internasional berkat undangan dari teman yang mengenal orang-orang di kampus itu, dan karena memang banyak waktu luang jadi sering kesana-kemari, datanglah iseng-iseng ke kampus tersebut. Saya tercengang ketika salah satu ketua prodi menanyakan bisnis atau usaha apa yang saat ini dilakukan selain mengajar, di sesi wawancara. Sebuah pertanyaan “out of the box” yang jarang ditanya dalam sebuah wawancara menjadi seorang dosen. Dan kebetulan pula kampus existing diambil alih dan dapat pesangon, akhirnya kembali lagi di cerita bisnis kakak saya, uang tersebut dibuat usaha dengan penghasilan perbulannya yang hampir menyamai gaji pokok golongan III/a. Dengan memanfaatkan IoT, aspek geografis dapat teratasi dan masih bisa mengajar walau sambil berwirausaha.

Kembali ke dunia nyata dan terbangun dari lamunan, terlihat banyak tumpukan kardus yang sepertinya paket di ruang dosen. Ternyata banyak juga yang bisnis online. Tadinya saya fikir dosen bakal terdisrupsi, ternyata dosen malah mendisrupsi bidang-bidang lain, tentu saja jangan ke politik seperti dosen di sebuah univ di Bandung yang jadi tersangka karena ujaran kebencian di medsos.

Natural Science vs Artificial/Design Science

Berbeda dengan jurnal yang memang sudah teratur terbitnya, seminar membutuhkan usaha ekstra terutama menyangkut deadline yang harus ditepati karena berkaitan dengan pembicara, lokasi seminar, dan hal-hal lainnya. Salah satu deadline utama adalah jadwal review yang biasanya agar lebih cepat beberapa pe-review berkumpul menyelesaikan sisa-sisa artikel yang harus direview. Masalah muncul dalam review karena seminar agak sedikit longgar dalam tema risetnya, berbeda dengan jurnal yang sudah spesifik. Postingan ini sedikit berbicara masalah perbedaan bidang ilmu yang kerap bersitegang antara satu bidang dengan bidang lainnya.

Komunitas Ilmu

Terlepas dari jenis bidang ilmu, ada komunitas ilmu yang terbentuk baik secara sengaja maupun terbentuk sendiri. Komunitas ini memiliki kode etik, konsep, dan hal-hal spesifik mengenai ilmu yang dikajinya. Komunitas ilmu lain mungkin memiliki pandangan yang berbeda, tetapi tidak bisa memaksakan suatu pandangan ke komunitas lainnya. Hanya sedikit masalah muncul karena antara satu bidang ilmu memiliki singgungan-singgungan dengan bidang lainnya. Gambar di bawah adalah kuadran ilmu yang ada saat ini. Tidak ada bidang ilmu yang 100% murni analitis, sintetis, simbolis atau real.

knowledge domain

Natural Science

Ini merupakan bidang yang sudah dikenalkan sejak kita SD dengan “metode ilmiah”-nya. Diawali dengan problem dilanjutkan dengan hipotesa yang kemudian diuji dengan eksperimen untuk menghasilkan kesimpulan yang berupa ilmu baru. Aktivitas tersebut dikenal dengan istilah riset yang kadang diartikan sebagai aktivitas dalam mengamati sebuah fenomena yang menjadi pusat perhatian. Ketika studi lanjut, pengelolaan jurnal diambil alih rekan saya yang alumni ilmu komputer IPB dan ternyata ketika saya amati format gaya selingkung (istilah karakter tulisan sebuah jurnal) mirip IPB yang natural science, misalnya ada bab tentang “material dan bahan” yang membingungkan para peneliti ilmu komputer apa yang harus diisi di bab tersebut. Jika dilihat dari kuadran di atas, bidang ini agak ke kiri ke arah analitis.

Artificial Science/Design Science

Semua orang mengenal Facebook, Twitter, dan sejenisnya untuk bidang komputer. Apakah ini termasuk ilmu? Jika dibilang natural science tentu saja bukan. Begitu pula untuk disain produk, metode produksi, dan kawan-kawan. Sebenarnya jika dirunut sama dengan natural science yang memang sudah ada di alam dan tinggal diamati untuk kebaikan manusia hasil pengamatannya, pada artificial science yang di amati tidak muncul sendiri di alam melainkan buatan manusia. Keberadaannya sama untuk kebaikan manusia, baik untuk kesehatan, keuntungan, dan lain-lain, walaupun terkadang bisa membahayakan umat manusia itu sendiri. Pada kuadran ilmu di atas letaknya sintetis dan real.

Ketika me-review terkadang dihadapkan dengan kondisi seperti itu. Ketika mendapati sebuah artikel yang membahas perancangan alat atau sebuah sistem terkadang karena tidak bisa menunjukan kebaruan/novelty akan di-reject oleh penganut natural science murni. Alkisah dalam suatu ruangan review intensif yang diistilahkan “sapu jagat” hehe, profesor dari rombongan yang direject terlihat kecewa melihat anak buahnya yang merancang alat tersebut direject dan mencari tahu siapa yang mereject dan ketika tahu namanya, dia sadar kalau dia juga banyak me-reject riset dari rombongan yg mereject tersebut karena dianggap riset sistem informasi yang berulang tanpa ada temuan baru. Ya begitulah, riset satu komunitas ilmu jika direview oleh komunitas ilmu lainnya pasti ada konflik yang berakhir saling me-reject. Ada karakter khas dari design science misalnya tidak adanya hipotesa di awal. Hipotesa sendiri terjawab sepanjang perjalanan tahapan perancangan dan tidak dimunculkan secara eksplisit. Novelty pun akan diketahui oleh reviewer yang banyak mereview artikel perancangan/disain tanpa si penulis menyodorkan bukti ke-novelty-annya. Untuk jurnal tidak ada masalah karena yang mereview adalah komunitasnya, berbeda dengan seminar yang kadang “gado-gado” bidang ilmunya. Beberapa jurnal internasional bereputasi, misalnya “mechatronics” reviewer harus disodorkan video alat tersebut ketika beroperasi, tidak hanya dengan tulisan saja, atau harus mengirim data beserta alat pengujinya. Begitulah dunia riset. Silahkan baca link ini untuk Design Science bidang sistem informasi.

Oleh-oleh dari Seminar Internasional di Jogja

Kebetulan saya ikut menghadiri seminar internasional Asian Intelligent Information and Database Systems (ACIIDS) 2019. Seminar yang disponsori oleh salah satu penerbit terkenal ini (Springer) sudah yang kesebelas. Sebagus-bagusnya seminar internasional ternyata tetap kalah dengan jurnal internasional dari sisi isi. Tapi dari sisi ide sepertinya tidak kalah, mungkin karena aslinya prosiding itu adalah pengantar riset seorang peneliti yang biasanya bermuara ke jurnal internasional. Dan yang terpenting sebenarnya dari seminar internasional adalah pertemuan dan bertukar fikiran dengan para profesor dari seluruh dunia disamping tentu saja acara jalan-jalannya (tour).

Tema Riset Teknologi Informasi

Kebetulan saya saat ini mengampu mata kuliah Riset Teknologi Informasi, jadi bisa menambah referensi riset-riset yang berkaitan dengan teknologi informasi di dunia saat ini. Computer vision, machine learning, dan sejenisnya masih merupakan riset yang banyak dilakukan saat ini. Ada juga yang melakukan tes dan uji coba menangani data warehouse dengan konsep cubic-nya berupa tabel fakta (fact table) dan dimension.

Begitu masuk ke riset tentang mesin turing (turing machine), di situlah mulai “pusing pala barbie”. Maklum, itu materi yang paling saya benci, walaupun ketika masuk ke teknik kompilasi sebenarnya bidang ini sangat menarik karena kita diajarkan membuat bahasa pemrograman custom sendiri.

Doctoral Proposal

Ada juga sesi yang dihadiri oleh mahasiswa doktoral yang menyajikan proposal risetnya. Di sini mereka akan ditanya oleh profesor-profesor yang mengikuti seminar. Banyak masukan yang diperoleh yang membuat risetnya berskala internasional. Berbeda dengan mahasiswa doktoral yang proposal risetnya hanya dihadiri oleh dosen-dosen lokal, walaupun dosen-dosen tersebut alumni kampus luar negeri. Mungkin ini sedikit komentar yang diberikan oleh profesor-profesor luar yang mengikuti acara khusus mahasiswa doktoral ini yang jika diikuti sarannya bisa meningkatkan kualitas penelitiannya.

Kurang Berskala Internasional

Biasanya jika tema yang diangkat terlalu lokal, misalnya ada yang bertema deteksi rekaman otak yang dikonversikan ke bahasa. Di sini dikritik karena bahasa yang digunakan bahasa Indonesia. Walaupun respondenya orang Indonesia ada baiknya mencoba orang Indonesia yang bisa berbahasa internasional, misalnya bahasa Inggris.

Obyektivitas dalam Tes Performa

Beberapa riset membutuhkan pengujian. Kebanyakan riset yang diusulkan agak sulit mengujinya secara obyektif, biasanya yang bertema-tema “agak sosial” seperti bidang e-learning. Memang bidang ini agak sulit mengecek benar salah dari sistem yang diusulkan, misalnya sistem rekomendasi tertentu di e-learning, apa dasar benar atau salahnya suatu rekomendasi.

Tentang Metode

Metode merupakan topik utama teknologi informasi. Topik ini selalu bermunculan di jurnal-jurnal internasional, jadi saran seorang profesor, mutlak harus membaca studi literatur terkini sebanyak mungkin. Juga hati-hati dengan pengujian performa metode yang diusulkan. Oiya, ada satu proposal yang dikritik karena hanya membandingkan metode-metode yang ada dan repotnya metode yang dikuasai oleh si profesor yang mereview tidak dicantumkan, misalnya Support Vector Machine (SVM).

Format Presentasi Kurang Dipahami

Memang beda presentasi di hadapan dosen-dosen pembimbing dan promotor dengan di hadapan khalayak ramai. Misalnya seorang peserta menyampaikan tema “long term memory ..” tetapi di slide yang dipresentasikan tidak mencantumkan penjelasan mengenai “long term memory” sehingga pendengar agak kesulitan mengikuti alur penjelasan slide kemudian.

Research Question, Hipotesa, dan sejenisnya, wajib kah?

Ini yang saat ini agak berbeda dengan riset-riset dahulu. Sepertinya saat ini pertanyaan penelitian tidak vulgar seperti riset-riset di era 90-an yang mengharuskan hal tersebut dinyatakan secara eksplisit. Begitu juga kesimpulan yang harus menjawab pertanyaan penelitian sepertinya agak berubah saat ini. Kesimpulan sendiri dari buku-buku tentang artikel ilmiah mengatakan bahwa kesimpulan merupakan “pemberi kesan” dari suatu artikel. Jika suatu artikel bisa memberi kesan yang membekas bagi pembacanya, bahkan menyampaikan ke orang lain tentang yang ia baca, maka artikel tersebut dapat dikatakan berhasil. Dan bukan hanya formalitas menjawab pertanyaan riset belaka. Begitu pula dengan hipotesa yang biasanya diajarkan dalam riset-riset yang berbau statistik. Oiya, ada bedanya lho riset yang berupa natural science dengan design science. Inilah yang bikin “ribut” antara satu dosen bidang tertentu (misalnya dosen-dosen pertanian, biologi, dan sejenisnya) dengan dosen bidang lainnya (arsitek, sastra, perancang, dan lain-lain). Sepertinya perlu postingan khusus tentang hal ini, sekian semoga bermanfaat.