Mensitasi Secara Otomatis

Berbeda dengan dahulu, saat ini mensitasi jauh lebih mudah karena banyak aplikasi yang membantu pengarang dalam membuat sitasi, misalnya Mendeley. Alih-alih mengetik secara manual, aplikasi tersebut tinggal mengklik dokumen dalam Mendeley desktop dan langsung secara otomatis masuk ke dalam naskah tulisan. Selain itu ketika di tengah-tengah ada sitasi baru maka secara otomatis daftar pustakan akan bergeser menyesuaikan dengan urutan sitasi (biasanya style IEEE). Nah postingan ini sedikit membahas bagaimana cara memasukan sitasi ke Mendeley.

A. Memasukan File PDF

Cara ini merupakan cara mudah jika kita sudah memiliki artikel yang akan disitasi dalam bentuk PDF. Dengan men-drag file tersebut ke Mendeley maka jika format tulisan tersebut standar (biasanya springer, taylor francis, atau paper-paper dari OJS) secara otomatis Mendeley akan memilah-milah pengarang, judul, tahun, penerbit, dan lain-lain. Bagaimana jika tidak memiliki file PDF-nya?

B. Mengimpor BibTex

Cara lain jika kita hanya memiliki naskah onlinenya, atau hanya abstrak-nya saja di Scopus adalah dengan meng-ekspor ke format BibTex. Misalnya ada naskah di Scopus di bawah ini. Untuk mengunduh file BiBTextnya adalah dengan menekan tombol Export yang terletak di kiri atas.

Selanjutnya adalah mengklik BibTex dilanjutkan dengan menceklis Citation Information. Otomatis seluruh ceklis di bawahnya akan aktif. Tekan tombol Export di bagian bawah untuk memulai ekspor.

File berekstensi *.bib akan tersimpan. Selanjutnya bagaimana memasukan BibTex tersebut ke Mendeley? Caranya mudah saja, seperti memasukan file pdf sebelumnya maka dengan men-drag file BibTex ke jendela Mendeley maka naskah tersebut akan terekam dalam Mendeley kita. Tentu saja hanya berisi sitasi karena tidak menyertakan file naskahnya.

Biasanya jurnal-jurnal terkenal memiliki tombol untuk mensitasi tulisannya. Dengan tombol tersebut maka penulis terbantu untuk mensitasi naskah jurnal dan dapat menaikan h-index jurnal yang bersangkutan. Bagaimana jika tidak memiliki BibTex atau file PDF atau PDF-nya gagal meng-create sitasi secara otomatis? Tidak ada cara lain selain mengetik manual naskahnya.

NOTE: Untuk yang Scopus harus memiliki akun Scopus terlebih dahulu, atau menggunakan jaringan kampus yang sudah berlangganan Scopus.

Menambahkan Atribut Peta Berdasarkan Attribute Table

Banyak hal-hal sederhana terkadang karena tidak tahu jadi kelihatan rumit. Misalnya ketika ingin membuat layout tentang suatu area penelitian terdapat wilayah yang perlu diberi keterangan seperti peta karawang berikut ini.

Kita bisa menambahkan objek teks pada wilayah tersebut, tetapi kalau jumlahnya banyak maka tidak ada cara lain selain yang otomatis. Langkahnya adalah memilih Label Features setelah mengklik kanan objek peta di Table of Contents.

Cara ini digunakan jika data region tersedia pada attribute table karena jika tidak ada maka akan kosong ketika prosedur tersebut dijalankan dan tidak ada jalan lain selain memasukan secara manual lewat penambahan objek text di gambar.

Nah bagaimana menampilkan informasi coordinate system seperti gambar di atas? Caranya dengan memasukan dynamic text yang tersedia di menu insert dynamic text coordinate system. Sekian semoga bermanfaat.

Biarkan Saja

Ada satu buku unik berjudul “The Subtle Art of Not Giving a F*ck”. Walaupun judulnya agak kasar tetapi ada juga manfaat yang bisa dipetik dari buku karangan Mark Manson tersebut, khususnya di era milenial, era keterbukaan informasi.

Kita pasti pernah melihat rekan-rekan kita yang posting hal-hal yang “wah” di sosmed. Jika kita merasa panas, kecewa, iri, dan lain-lain, maka disarankan untuk membaca buku “slebor” tersebut. Mungkin penceramah yang mengharamkan posting perlu juga membaca, hehe.

Singkat saja, buku itu membahas sifat dasar manusia yang serakah menurut saya. Pernahkah melihat anak kecil yang nangis karena dibelikan topi indah berwarna biru, padahal yang diinginkan merah? Memang sudah sifat alami manusia yang memiliki segudang keinginan dan kecewa jika keinginannya tidak tercapai. Cuma masalahnya adalah tidak bisa menentukan apakah keinginan itu memang penting?

Banyak bacaan yang isinya bagaimana mencapai ini, itu, tetapi jarang yang membahas jika sesuatu tidak tercapai, tidak apa-apa dan biarkan saja. Untuk rekan-rekan yang masih muda yang belum memiliki sesuatu yang menggambarkan Anda, sepertinya hal-hal remeh temeh terkadang menjadi fokus utama. Perhatikan saja yang gantung diri karena putus cinta sudah dipastikan anak muda. Namun seiring perjalanan waktu, usia bertambah, biasanya kita sudah tahu kapasitas kita. Hal-hal remeh temeh jika tidak tercapai, kita akan maklum sendiri dan tidak kecewa.

Jadi jika ada teman yang posting sesuatu yang “wah”, bayangkan saja Anda melihat sebuah lukisan indah yang menghibur, sebuah informasi baru yang mungkin berharga, produk baru yang bermanfaat, dan hal lain. Jika Anda merasa sedih karena Anda tidak bisa, iri, hati tidak tenang, menurut buku tersebut Anda terlalu “nge-f*ck” ke hal-hal tidak penting dan buku tersebut cocok dibaca, siapa tahu bisa mem-“biarkan saja” terhadap hal-hal yang tidak penting dan tidak harus dikejar-kejar. Jadi inget alm. Gus Dur, “gitu aja kok repot”.

Waktumu Terbatas

Salah satu anak saya sangat menyukai permainan di sebuah mall di bekasi. Isi permainan yang diperuntukan balita dan awal SD berisi jalan, kendaraan, peraga profesi seperti dokter, polisi, tentara, dan lain-lain. Walaupun orang tua boleh masuk untuk mengawasi, tetapi karena bayar maka lebih baik menunggu saja di luar.

Ada hal menarik yang dapat dipetik dari arena permainan itu. Tiap anak diberi waktu sekali bayar satu atau dua jam. Setelah memasuki arena saya lihat anak-anak bermain dengan gembira. Ada yang memilih mobil-mobilan, ada yang memilih berkejar-kejaran dengan temannya, ada yang juga asyik menggambar. Semuanya bergembira, hingga tidak lama kemudian suara speaker berbunyi yang isinya berita panggilan kepada anak tertentu, “anak xxx waktu bermain sudah habis”. Ada anak yang dengan santai keluar, ada pula yang masih lari-larian sehingga harus dijemput oleh petugas. Ada juga yang nangis tidak ingin pulang.

Begitu pula kehidupan dunia. Ada yang didaftarkan berusia 50, 60, bahkan 100 tahun untuk bermain di permainan dunia ini. Ada juga yang masih muda sudah ingin selesai. Ketika selesai, seperti permainan anak-anak, petugas berwenang akan mendatangi dan mengajaknya keluar arena permainan dunia ini. Walaupun permainan tetap saja Anda diminta untuk bermain dengan cantik. Terlihat petugas yang gemas dengan anak-anak yang bermain nakal, mengganggu anak-anak lainnya, saya hanya tersenyum, jangan-jangan saya juga seperti itu. Yuk, bermain dengan cantik.

Yuk, Ikut Sertifikasi Reviewer SNI ISO/IEC 17024:2012

Baru saja liburan lebaran tiba-tiba ada tawaran sertifikasi reviewer standar SNI ISO/IEC 17024:2012. Sertifikat tersebut menjadi syarat menjadi reviewer SIMLITABMAS Ristek-Dikti. Sertifikasi dilaksanakan di hotol Bogor Icon setelah selama 5 hari pelatihan terlebih dahulu. Instruktur dipilih dari Ristek-Dikti, terdiri dari pakar-pakar di bidangnya, dan tentu saja sudah tersertifikasi. Sebagai pihak LSP, oleh Ristekdikti ditunjuk LSP Quantum yang merupakan satu-satunya LSP yang mensertifikasi reviewer di tanah air. Sertifikat juga berstandar internasional (ISO) sehingga bisa digunakan di negara lain yang kabarnya masih sebatas ASEAN.

Bersama Dirjen Risbang

Materi yang diberikan cukup padat dari jam 8 pagi hingga jam 9 malam. Nyaris hotel hanya digunakan untuk tidur. Diawali dengan pre-test, pelatihan diakhiri dengan post test dan ujian sertifikasi. Berkas-berkas untuk porto-folio dikumpulkan sebelum post test, test kompetensi, psikologi, dan wawasan kebangsaan. Lumayan capek karena banyaknya soal dengan waktu yang terbatas. Silahkan masukan berkas-berkas (ijasah s1, s2, s3, sertifikat, ktp, foto, dan form-form isian). Ada baiknya melampirkan sertifikat yang sangat mendukung, misalnya pernah mereview.

Hasil sertifikasi dapat diberikan dua minggu dari pelaksanaan. Untuk yang tidak lulus diberikan kesempatan mengikuti “remedy” yang dijadwalkan di Jakarta. Jika lulus, maka dosen yang tersertifikasi dimasukan sebagai reviewer proposal hibah penelitian Ristek-Dikti. Syarat mengikuti acara ini adalah doktor yang berpengalaman memperoleh hibah (min 2 kali), memiliki dua tulisan terindeks scopus (boleh prosiding) dan terpilih karena tempat terbatas tiap batch-nya. Pelatihan berikutnya rencananya di Bandung dan Jogja, silahkan mendaftar jika ingin menjadi reviewer.

Agak unik memang banyak yang berminat menjadi reviewer, padahal sangat melelahkan ditambah beban tanggung jawab yang besar. Tetapi mengingat dampaknya yang besar terhadap kualitas penelitian di tanah air, ada baiknya rekan-rekan peneliti ikut berkontribusi.

Membuat CRUDE Matrix

CRUDE singkatan dari Create, Read, Update, dan Execute. CRUD tanpa E biasa digunakan oleh pemrograman terstruktur, sementara Execute ditambahkan untuk Objek oriented yang artinya proses selain CRUD, misalnya membuat tampilan tertentu, perhitungan-perhitungan, validasi, dan lain-lain. CRUDE matrix biasanya dibuat dari Use Case diagram di tahapan analisa.

Berikut ini contoh pembuatan CRUDE matrix. Perhatikan aktor yang terlibat bisa juga berupa kelas, biasanya diberi simbol <<class>>, kadang tidak muncul pada Use Case diagram.

Kandidat aktor: Doctor, Management, New Patient, Old Patient. Aktor “Patient” menwakili New dan Old Patient.

Kandidat kelas:

Baik management dan Doctor mengelola jadwal (Manage Schedule). Ada kelas Jadwal (Schedule). Kelas New Patient butuh kelas Patient. Baik kelas New dan Old Patient mengajukan jadwal (appointment). Kelas Doctor perlu dibuat untuk penjadwalan.

CRUDE Matrix

Berikut CRUD Matrix sementara yang bisa berubah pada fase/tahap berikutnya.

Kelas-kalas: Management, Doctor, Patient, Appointment, Schedule

 

Management

Doctor

Patient

Appointment

Schedule

Management

 

C,R,U,D

C,R,U,D

R,E

C,R,U,D

Doctor

       

C,R,U,D

Patient

     

C,U

 

Appointment

         

Schedule

         

 

Konversi Layer ke Shapefile Pada ArcGis

Ketika konversi dari KMZ (dibuat dari Google Earth Pro) ke ArcGis formatnya berupa layer dengan memanfaatkan fungsi KMZ to Layer. Perlu sedikit modifikasi agar file layer ke shapefile. Caranya adalah dengan mengekspor data layer tersebut. Layer berisi data spasial dalam format GDB.

Berikutnya ada pilihan apa saja yang akan dikonversi. Pilih saja “All Feature” dilanjutkan dengan menekan lokasi output. Pilih “shapefile” ketika akan menulis nama filenya.

Terakhir ArcGis akan menanyakan apakah hasil konversi langsung ditampilkan pada map yang saat ini aktif. Pilih saja “ok” agar bisa langsung digunakan sekarang. Perhatikan data yang sebelumnya berupa layer menjadi shapefile yang siap dimanipulasi. Selamat mencoba.