Download Peta Satelit Landsat

Mungkin banyak yang belum tahu bahwa satelit landsat buatan US (saat ini sudah generasi ke-8) yang berharga ratusan juta dollar ternyata gratis untuk memperoleh hasil foto-nya. Bukan hanya data terkini, situs resmi untuk mengunduhnya pun menyediakan data masa lampau. Berikut ini saya mencoba mengunduh citra satelit kota bekasi bulan oktober 2000, tepatnya tanggal 8 yang tersedia. Buka situs USGS: http://glovis.usgs.gov/

Sebelumnya Java harus terinstall terlebih dahulu di komputer Anda agar peta terlihat setelah mengisi tanggal pembambilan citra satelit yang diinginkan. Berikutnya adalah proses pengunduhan yang diarahkan ke situs “earth explorer“. Anda terlebih dahulu harus register ke situs ini dengan mencantumkan alamat email untuk login. Prosesnya mudah, tinggal mengisi data-data isian dan diakhiri dengan aktivasi via email. Registrasi ke situs ini juga gratis. Jika Anda sudah teregister, isian untuk download akan tampak seperti gambar berikut ini.

Tekan tombol “download” yang berada di kanan dengan simbol panah ke bawah (di samping tanda silang merah). Empat file download akan muncul yaitu: natural color image, thermal image, image with geo reference, dan level 1 product (berukuran ratusan Mb). Berikutnya data siap diolah, biasanya digunakan untuk memprediksi perkembangan suatu wilayah.

Instalasi Idrisi Selva versi 17

Software idrisi merupakan software untuk mengelola sistem informasi geografis (SIG) terutama dalam menangani peta yang berasal dari satelit. Beberapa tulisan di jurnal internasional memanfaatkan software ini untuk memprediksi perkembangan daerah urban atau peri-uban seiring berjalannya waktu. Akurasinya pun sudah teruji dan yang terpenting vendor aplikasi ini menyediakan versi trial agar pengguna bisa mengenal lebih lanjut sebelum membeli software seharga puluhan juta rupiah ini.

Berikutnya kita diminta membaca license Agreement dilanjutkan dengan mencentang tombol persetujuan. Pesan dalam bentuk readme juga muncul yang memberitahukan bahwa versi trial hanya berlaku selama 30 hari dari saat instalasi.

Berikutnya idrisi meminta informasi untuk registrasi nanti. Isikan sesuai dengan kebutuhan.

Pilih Complete Setup ketika muncul jendela tipe instalasi idrisi.

Lokasi letak program perlu dirubah jika Anda ingin meletakan program di direktori khusus. Secara default akan berada di program file (windows versi 32bit).

Berikutnya nama untuk Start Menu dapat dirubah, atau biarkan saja secara default (IDRISI Selva).

Kemudian konfirmasi terakhir sebelum proses instalasi muncul dilanjutkan dengan proses instalasi yang memakan waktu beberapa menit saja.

IDIRISI selva versi trial siap digunakan. Anda bisa langsung menjalankan dengan mengklik Run IDRISI Selva now sebelum menekan Finish.

Bagi yang sudah pernah menggunakan ArcGIS sepertinya tidak memiliki masalah dengan IDRISI. Hanya saja IDRISI memiliki keunggulan dari sisi pemodelan berbasis waktu (Time Series). Selain itu, pengolahan citra (image processing) yang tersedia pada IDRISI untuk mengelola data foto satelit sangat mumpuni dan telah banyak digunakan hingga saat ini.

Bagi yang belum pernah melihat IDRISI Selva, bentuk tampilan awalnya adalah sebagai berikut. Semoga tertarik.

Referensi:

http://parallax-survey.blog.ir/tag/Download%20IDRISI%20Selva%2017%20free

Membuat Garis Lintang dan Bujur di Layout ArcGIS

Selain menunjukan peta dengan atribut-atributnya seperti nama kota, kecamatan, dan atribut lainnya terkadang untuk mempermudah pembaca mengetahui lokasi koordinat lintang dan bujur perlu ditambahkan koordinat itu di layout yang kita buat. Setelah masuk ke mode “layout” buka “data frame properties” lewat menu “view”.

Tambahkan “new Grid” jika Anda belum memiliki, hingga muncul menu di bawah ini. Di bagian tab “label” centang pada vertical labels kiri dan kanan jika lintang dan bujur yang vertikal sejajar dengan garis.

Walaupun sederhana tetapi ini sangat penting untuk artikel ilmiah yang akan kita submit terutama di bab “study area”. Perhatikan letak lintang dan bujur kota Bekasi di bawah ini.

Struktur Penulisan Artikel

Menulis terkadang membuat kita bingung dari mana kita memulai dan apa yang akan kita tulis. Menulis yang dimaksud di sini dapat berupa tulisan ilmiah maupun artikel umum (novel, berita, dan sebagainya). Walaupun tiap jenis tulisan berbeda maksud dan tujuannya tetapi memiliki kesamaan yaitu adanya alur cerita (story). Alur cerita harus dimiliki walaupun dalam artikel ilmiah karena dengan alur cerita yang baik pembaca mampu memahami dengan mudah tulisan tersebut. Mudahnya pembaca memahami tulisan yang dibaca merupakan ciri khas dari tulisan yang baik.

Secara umum tulisan yang baik memiliki ciri-ciri yang dikenal dengan istilah SUCCESS yang merupakan singkatan dari: Simple (sederhana), Unexpected (kejutan), Concrete (nyata), Emotional (emosi), dan Stories (alur cerita). Apabila suatu tulisan memiliki kriteria di atas dapat dipastikan pembaca akan terus membaca tulisan tersebut. Kesederhanaan tulisan sangat disukai oleh pembaca yang memang rata-rata memiliki keterbatasan waktu untuk membaca. Sementara itu adanya aspek kejutan dan emosi mampu menahan pembaca untuk tetap setia membaca tulisan yang dibacanya. Kemampuan penulis memberi gambaran nyata dan alur cerita yang runtun memudahkan pembaca memahami tulisan dengan cepat.

Untuk membuat tulisan dengan alur cerita yang baik, ada beragam jenis pola yang dapat dijadikan rujukan. Ada empat pola yang dapat dijadikan rujukan berdasarkan sabar atau tidaknya target pembaca antara lain: struktur OCAR, struktur ABDCE, struktur LD, dan struktur LDR.

Pola struktur pertama yang memiliki karakter cocok untuk pembaca yang sabar untuk tetap membaca adalah OCAR, singkatan dari Opening (pembukaan), Challenge (tantangan), Action (aksi), dan Resolution (penyelesaian). Jenis pola ini biasa diterapkan pada tulisan fiksi (novel, roman, dan sejenisnya) maupun artikel ilmiah. Dalam artikel ilmiah, tantangan ditulis setelah bagian pembukaan selesai dibuat. Secara perlahan namun pasti penulis membangun tulisan dan pembaca harus dengan sabar mengikuti tulisan tersebut.

Jika pembaca kurang sabar dalam membaca, misalnya pada proposal, maka pola yang tepat adalah ABDCE yang merupakan singkatan dari Action (Aksi), Background (latar belakang), Development (pengembangan), Climax (klimaks), dan Ending (akhir). Ketika tulisan dibuat, penulis langsung menerapkan aksi di awal tulisan (dalam OCAR, O dan C digabung) dengan harapan pembaca tetap setia menelusuri tulisannya.

Struktur ketiga adalah LDR yang lebih cocok untuk pembaca yang lebih tidak sabar dibanding ABDCE. LD sendiri singkatan dari Lead/Development & Resolution (LDR). Struktur ini biasa diterapkan oleh para wartawan (majalah) dimana kalimat utama selalu diletakan di awal tulisan, dilanjutkan dengan pengembangan kalimat utama tersebut dan diakhiri dengan penyelesaian.

Sementara itu untuk pembaca yang sangat sibuk, maka struktur Lead/Development (LD) biasanya diterapkan oleh wartawan surat kabar dimana kalimat berita utama harus diletakan di awal pada halaman pertama yang memiliki keterbatasan ruang. Terkadang penulis mengorbankan penyelesaian yang biasanya diletakan oleh editor di halaman lain dan kebanyakan tidak dibaca oleh pembaca yang memang hanya membutuhkan kabar penting saja.

Keempat pola yang disebutkan di atas secara eksplisit jarang ditemukan dalam suatu artikel ilmiah. Salah satu pola yang sering ditemukan adalah struktur OCAR yang dalam suatu artikel biasanya berpola IMRaD, singkatan dari Introduction (pendahuluan), Materials and Mathods (bahan dan metode), Results (hasil), dan Discussion (pembahasan). Pola ini menggabungkan pembukaan dan tantangan (biasanya ditambahkan pula latar belakang) pada OCAR. Sementara itu aksi pada OCAR dipecah menjadi bahan & metode dan hasil pada IMRaD. Jika bahan dan metode adalah aksi yang berisi apa yang dilakukan, maka hasil merupakan aksi lanjutan yang berisi apa yang ditemukan dalam suatu penelitian. Bagian hasil pada IMRaD sama dengan penyelesaian pada OCAR yang terkadang ditambahkan pula bagian kesimpulan (conclusion).

Pola-pola tersebut dapat diterapkan pada tulisan yang akan kita buat dengan konsekuensi-konsekuensinya. Langkah berikutnya adalah memahami struktur internal dari tulisan yang akan disusun yang biasanya harus mengikuti kaidah kohesi (cohesion) dan koheren (coheren) dimana kohesi bermaksud agar suatu paragraf memiliki kalimat yang saling mendukung satu topik tertentu sementara koheren menjamin keterkaitan antara satu paragraf dengan paragraf lainnya dalam membangun alur cerita suatu artikel.

Referensi: Schimel, Joshua. 2012. Writing Science – How to Write Papers that Get Cited and Proposals that Get Funded. New York: Oxford University Press.

Creating a Layout Map

Although just for presentation, layout is as important as other ArcGIS usage, especially when writing a research report. We can capture the map using “print screen” button, but if we need more formal presentation, the layout facilities from ArcGIS such as legend, north arrow, coordinates, etc., must be provided. Use the “layout view” for creating the layout which is located below the working area.

Layout provides the paper with the frame. We can add more than one frame in it, by clicking insert – data frame and then drag the shapefile into the active frame. If the frame is not active, activate it by right-clicking the frame and chose “activate”.

Insert with legend, north arrow, etc. The difficult one is the coordinate. Sort the active frame in the layout and right click. Choose properties. The data frame properties will appear.

Click “new grid” to add the coordinates in the frame that show the location in longitude and latitude style. I prefer to choose “graticule” style with median and parallel to my map. Subsequently, I decide not to use grid in my map and chose 200 intervals of latitude and longitude. After layout creation you may print it out or just export map into image (by clicking in menu: File – Export).

Auto-Clustering dengan Evolutionary Algorithms

Jika pada postingan yang lalu dibahas clustering dengan jumlah kluster yang sudah ditetapkan dari awal, kali ini kita akan membahas clustering dengan jumlah kluster yang optimal. Optimal di sini masih menjadi perdebatan, terutama dalam menentukan kedekatan (similarity) antar anggota kluster. Makin tinggi nilai similarity antar elemen dalam kluster yang sama dan makin rendah dengan kluster yang berbeda, makin optimal proses clustering yang dilakukan. Banyak metode yang dapat digunakan untuk proses klusterisasi antara lain: k-means, FCM, DBSCAN, OPTICS, CLARANS, dan lain-lain. Tetapi untuk auto-clustering diperlukan iterasi untuk mencari titik pusat dan jumlah kluster terbaik. Salah satu situs yang cukup baik untuk menjadi rujukan klusterisasi adalah dari yarzip.com dengan metode evolutionarinya (genetic algorithms, particle swarm optimisation, dan differential evolution).

Dengan menggunakan data dari landuse optimisation, algoritma dari situs di atas dapat diterapkan. Misalnya saya akan mengkluster penggunaan lahan pemukiman. Dengan menggunakan Matlab 2013 hasil runningnya dapat dilihat berikut ini.

Konversi Mat-File ke Shapefile

Kalau di postingan sebelumnya shapefile yang berisi data spasial dari GIS tools (ArcGIS, ArcView, dll) sudah berhasil diolah clustering-nya, kemudian kita akan membuat pusat cluster di GIS, mau tidak mau kita membutuhkan sarana konversi dari Matlab ke GIS tool, di sini akan dicontohkan menggunakan ArcGIS. Buka lagi Matlab yang lalu. Fungsi Matlab yang diperlukan untuk menyimpan mat menjadi shapefile adalah “shapewrite”. Di sini agak sulit dibanding “shaperead” karena kita diminta menyiapkan wadah sebagai format untuk data spasialnya, termasuk proyeksi-proyeksi yang diperlukan agar bisa terbuka dengan baik di ArcGIS. Cara termudah membuat wadah adalah lewat ArcGIS.

Di sini kita siapkan shapefile untuk tempat mat yang akan diekspor. Jangan lupa gunakan proyeksi koordinat, lihat postingan sebelumnya tentang problematikan projection. Jika sudah kita kembali ke Command Window Matlab dan bersiap melakukan konversi dari Matlab ke ArcGIS. Sebelumnya panggil dulu center yang akan dipindahkan ke ArcGIS.

Perhatikan dua koordinat center yang berasal dari file “comm_center.dat” hasil clustering. Kemudian kita siapkan variabel wadah dari ArcGIS yang baru saja kita buat shapefilenya. Saya memberinya nama “center_commercial.shp”.

Di sini shaperead memanggil wadah tempat menyimpan yang bernama “center_commercial.shp”. Dilanjutkan dengan men-transpose agar berformat baris. Jumlah titik bermaksud untuk persiapan looping memasukan data dari mat ke tiap-tiap koordinat.

Pastikan tidak ada pesan kesalahan yang terjadi. Fungsi shapewrite membutuhkan wadah, dalam hal ini variabel bernama “data” yang sudah terisi data baru, serta nama shapefile yang sama dengan wadahnya. Kembali kita ke ArcGIS untuk melihat center yang sudah dalam format shapefile bernama “center_commercial.shp” itu.

Perhatikan dua titik center itu sudah muncul di peta bekasi, dan karena proyeksi mengikuti wadahnya, maka tepat berada di lokasi yang di tuju di dalam wilayah bekasi. Kalo pengen membuat jangakauannya, bisa dengan teknik euclidean distance seperti postingan sebelumnya. Keren ya, Matlab bisa ke mana aja penggunaannya.

 

Kluster Data Spasial dari ArcGIS/ArcView dengan Fuzzy C-Means (FCM)

Data spasial adalah data yang berupa koordinat geografis suatu elemen dalam peta. Data itu bisa berupa titik maupun polygon. Di sini kita akan mencoba data spasial berupa titik-titik lokasi berasal dari ArcGIS atau GIS tool lainnya sesuai dengan proyeksi yang digunakan. Apa itu proyeksi? Panjang ceritanya, sebaiknya baca buku tentang geographic information system (GIS). Untuk praktek dapat kita buat spasial data yang sudah ada dalam format shapefile (berekstensi *.shp). Untuk memudahkan proses operasi, siapkan direktori kerja di lokasi dimana shapefile itu berada.

Anda harus memiliki fungsi “shaperead” di Matlab, biasanya sudah include di dalamnya untuk versi-versi terbaru. Cara mengeceknya dengan mengetik “help shaperead” di command window, kalau tidak ada, Matlab akan memberi pesan bahwa fungsi shaperead tidak ada. Berikutnya kita akan mengkonversi data ini ke dalam data berekstensi “dat”.

Ok, pastikan file “commercial.dat” yang merupakan konversi workspace ke file “dat” berhasil tersimpan. Mengapa langkah ini diperlukan? Karena toolbox FCM yang kita gunakan berikut ini menggunakan data berekstensi dat ini. Sebenarnya jika menggunakan fungsi fcm dari command window tidak perlu mengkonversi ke dat file, bisa langsung dari workspace, tapi untuk pemula, lebih mudah menggunakan toolbox. Ketik “findcluster” di command window sehingga muncul jendela berikut ini.

Kebetulan toolbox tersedia dalam dua dimensi, sehingga cocok dengan data spasial. Untuk yang tiga dimensi sepertinya agak ribet dan harus mengatur sumbu x,y, z. Atau untuk dimensi >2 sebaiknya menggunakan fungsi dari command window. Ketik “load data” untuk memanggil data, pilih “commercial.dat” yang telah dibuat sebelumnya.

Perhatikan tiga titik hitam yang merupakan titik pusat tiga kluster yang akan kita bentuk. Anda bisa mengganti jumlah kluster, misalnya hanya dua saja dan tekan “start” kembali untuk mencari pusat kluster yang baru. Untuk menyimpan pusat kluster, dapat Anda lakukan dengan menekan “Save Center” lalu simpan dalam bentuk “dat”. Berikutnya tiga center ini akan coba kita buka dengan di ArcGIS di postingan yang akan datang, selamat mencoba. Lanjut baca : Konversi Mat-File ke Shapefile

Google Street View masuk ke dalam Kampus

Selama ini kita mengenal google street view sebagai GIS tool yang merekam gambar di sekitar jalan yang biasanya jalan raya. Ternyata google tidak hanya jalan raya yang direkam,  lorong-lorong jalan di kampusku, yg motor tidak boleh lewat, pun direkam pula. Google meng-capture dengan kamera yang dibawa oleh seseorang dengan alat foto berupa rangsel yang dilengkapi dengan kamera “mata ikan” yang berupa bola. Ingin lihat lebih jauh bisa masuk ke link ini.

Hehe .. tampak sepeda merah kesayangan saya yang diparkir sembarangan (link google street AIT). Kalau tahu ada google lewat saya pasti keluar, selfie, walau pasti nanti wajahnya di “blur”. Tinggal naik tangga pas di depannya kamar kesayanganku, tempat berkutat dengan coding Matlab dan analisa ArcGIS. Lumayan, bisa jadi kenangan abadi, ha ha.

Keyboard USB untuk Microsoft Surface

Seharian saya dan teman-teman keliling pusat elektronik dekat kampus, Zeer, tetapi tidak berhasil menemukan penjual keyboard tablet microsoft surface atau yang dikenal dengan nama type cover. Seandainya ada pun itu untuk surface versi baru yang ukurannya tidak pas (kegedean) ditambah lagi harganya yang sama dengan handphone korea. Karena seringnya dipergunakan dengan cara memutar type cover 360 derajat akhirnya lembaran konektor antara keyboard dengan tablet terputus, hasilnya saya mencoba mengetik di surface dengan keyboard virtual dengan problematika yang ada.

Karena sudah terbiasa dengan mengetik buta yang mengandalkan rabaan di rumah jari maka teknik ini tidak mungkin bisa diterapkan pada keyboard virtual yang mengandalkan visual. Untuk darurat sih oke juga tetapi untuk menulis skripsi atau tesis tentu saja ribet karena lambat.

Sebenarnya ketika di dormitory (kos-kosan) saya lebih suka mengetik dengan laptop, tetapi ketika menulis di Indonesia dengan rutinitas keseharian yang padat, sepertinya tidak sempat mengetik dengan laptop yang harus menyiapkan meja, kabel, dan sejenisnya. Berbeda dengan tablet yang dengan cepat membuka aplikasi layaknya handphone. Mau beli online ragu, ditambah lagi tablet surface saya yang sudah berusia tiga tahun (mending beli baru sekalian). Tapi saya takjub dengan daya tahan baterai surface yang bisa dua hari untuk pemakaian normal, padahal sudah tiga tahun.

 

Akhirnya saya pakai jalan pintas, membeli keyboad berukuran kecil tapi bisa mengetik cepat di toko samping kampus (book store). Lumayan bisa mengetik cepat di kasur atau dipermukaan yang tidak rata, termasuk di pangkuan kita. Tapi ya begitulah, banyak aksara Thailand yang membuat keyboard jadi “ramai”. Memang agak ribet karena terpisah, tetapi kalau untuk mobile ya pakai keyboard virtual saja, toh paling mengetik singkat saja (keyboard ditinggal di rumah).

Perencanaan Wilayah Kota Bekasi 2010-2030

Setelah mengutak-atik optimasi dengan dasar sustainable development, tugas penelitian saya berikutnya adalah penerapan algoritma tersebut terhadap kebijakan wilayah kota Bekasi yang telah disetujui baik oleh walikota (waktu itu bapak Mochtar Muhammad) dan DPRD Kota Bekasi. Perencanaannya adalah pembuatan zona-zona wilayah: Komersil, Industri, Jasa, Tambang, Pemerintahan, Pemukiman Padat, Pemukiman Sedang, Pemukiman Rendah, dan ruang terbuka hijau (RTH). Rancangannya kira-kira sebagai berikut, diambil dari rencana tata kota Bekasi halaman 10.

Warna kuning muda, kuning, dan merah bata berturut-turut adalah perumahan kepadatan rendah, sedang, dan tinggi. Perumahan kepadatan tinggi memang dirancang untuk jenis perumahan vertikal. Sementara itu yang berwarna abu-abu adalah untuk industri, disusul berikutnya warna pink dan ungu yaitu untuk komersial dan jasa. Ada warna coklat di selatan kiri yaitu untuk tambang (berbentuk dua lingkaran), entah tambang apa, saya sepertinya harus mencari tahu.

Yang saya sedikit bingung adalah wilayah ruang terbuka hijau yang ditandai dengan warna hijau tua dan hijau muda, mengapa hanya sebesar itu? Memang di penjelasannya ruang terbuka ketika rancangan itu dibuat sebesar lebih dari 30%, tetapi luas sebesar itu diperbolehkan untuk dibangun menjadi rumah tinggal yang ujung-ujungnya akan mengurangi prosentasi tersebut. Memang sulit juga melarang penduduk untuk membuat rumah tinggal mengingat tanah itu memang tanah pribadi. Sebenarnya jika ingin OK, dapat meniru Singapura yang memaksa ruang terbuka 30% lebih dan penduduknya tinggal dalam rumah susun, seperti dapat kita lihat di situs street directory.

Lihat wilayah berwana hijau tua yang menandakan ruang terbuka hijau. Tapi memang sih, Singapura terpaksa membuat itu karena sekelilingnya negara lain, sementara Bekasi mengandalkan Bekasi kabupaten di sekelilingnya untuk ruang terbuka hijau, tetapi jika sekelilingnya tidak memperhatikan RTH, dan membangun seluruh lahan menjadi rumah (ekspansi orang kota Bekasi ke kabupaten), jadi sumpek juga dan suhu bisa tinggi seperti yang disindir oleh meme-meme bahwa Kota Bekas deket dengan matahari.

Sampailah saya tugas berikutnya, digitalisasi peta manual rencana tata ruang menjadi peta digital di atas agar bisa masuk ke algoritma yang sudah dirancang sebelumnya untuk optimalisasi. Gambar di atas adalah lokasi industri dan komersial. Untuk yang pengen tahu cara digitalisasi bisa lihat postingan saya sebelumnya.

Membuat Fungsi Alih Motor Listrik

Perkenalan saya dengan Matlab pertama kali adalah lewat bidang sistem kontrol/kendali. Waktu itu saya diminta dosen pembimbing untuk mensimulasikan sistem suspensi ketika ada beberapa respon masukan (impulse, step, dan sinusoidal) mengenainya. Kembali saya membuka buku catatan mata kuliah getaran dan teknik pengaturan. Untuk mensimulasikan sesuatu kita harus mampu membuat model matematis dari sistem yang akan kita simulasikan. Model matematis itu kemudian disimulasikan di Matlab untuk melihat respon dan kinerja dari model tersebut. Asalkan sudah dalam bentuk model matematis, Matlab mampu mensimulasikan tanpa memandang domain ilmu dari model tersebut, apakah kimia, elektro, ekonomi, biologi, dan lain-lain. Misalnya kasus motor listrik (atau bisa juga generator).

Gambar di atas adalah motor DC yang saya ambil dari situs kampus UPI ini semoga masih ada. Fungsi alih sendiri (dalam istilah Inggris transfer function) dari arti katanya fungsi yang mengalihkan dari satu masukan ke keluaran tertentu. Jika masukannya tegangan dan keluarannya tegangan yang lebih besar, bisasanya disebut penguat, tetapi ada juga masukannya putaran, misal potensiometer, keluarannya arus/tegangan dan sering diistilahkan dengan transducer. Ada juga istilah lainnya yakni sensor, yang merubah masukan tertentu seperti suhu, level ketinggian air, dan lain-lain menjadi tegangan atau arus yang masuk ke dalam perangkat elektronika.

Untuk kasus motor DC di atas jika dilihat, masukannya adalah tegangan dari baterai arus searah dan keluaranya adalah puntiran di motor em. Variabel s adalah variabel Laplace. Apa itu? Yah .. mau nggak mau belajar dulu dasar-dasar sistem kontrol. Karena nanti setelah ada variabel laplace ada lagi variabel z kalau sudah masuk ke sistem digital yang melibatkan metode cuplik/sampling. Untuk orang elektro tidak ada masalah dengan besaran-besaran di atas beserta satuannya yang pasti. Situs dari malang ini lebih lengkap dengan besaran dan satuan juga teknik simulasinya.

Jika J= 10, D=5, km=2, dan Rα=0.5 maka diperoleh fungsi alih sebesar, pembilang=2/(0.5*5)=0.8 dan penyebut=s(s*(10/5)+1)=s(2s+1). Buka Matlab dan masuk ke command window. Masukan instruksi ini:

Lalu muncul plot setelah instruksi masukan impulse diterima fungsi alih, demikian pula setelah masukan tangga (step) diberikan.

Ntah bener atau salah, mohon koreksinya. Tapi setahu saya, motor DC itu harus diberi beban karena tanpa beban dia akan bertambah kencang bahkan bisa merusak motor itu sendiri.

Submit Paper Lagi

Paper atau yang juga dikenal dengan nama artikel jurnal merupakan idaman bagi mahasiswa doktoral, terutama artikel jurnal internasional. Saking berharganya, pemerintah bahkan menurunkan syarat untuk naik dari lektor ke lektor kepala (associate professor) yang tadinya harus bergelar doktor menjadi boleh dengan gelar magister/master asalkan sudah mempublikasikan tulisan di jurnal internasional. Memang mempublikasikan tulisan di jurnal internasional saat ini berat karena harus memiliki kontribusi terhadap ilmu pengetahuan di bidang tertentu.

Saya sendiri jika disuruh memilih tentu saja memilih jurnal internasional yang paling gampang atau dengan kata lain syarat minimal saja yang terpenuhi. Tapi tetap saja sulit ditembus karena persaingan yang ketat dimana kita harus bisa meyakinkan reviewer bahwa sesuatu yang kita sampaikan di artikel kita memiliki nilai kebaruan (state-of-the-art). Berbeda dengan dosen biasa yang tidak sedang tugas belajar dimana jika naskah tidak diterima tidak begitu berpengaruh terhadap kesehariannya, dosen yang sedang tugas belajar sangat kurang nyaman karena statusnya sebagai pelajar dikejar-kejar oleh waktu. Apalagi yang kuliah di luar negeri dan tidak membawa serta keluarga. Dijamin halal .. eh galau.

Bersyukurlah rekan-rekan yang sudah publish jurnal, atau setidaknya naskahnya sudah diterima (accepted), artinya gelar doktor sudah di depan mata, tinggal menjaga hubungan baik saja dengan supervisor/advisor. Mujur saya menganut paham disertasi dengan beberapa objektif yang tiap objektif dapat dijadikan satu paper, jadi ketika sedang meneliti, satu persatu paper dapat dicoba untuk dipublikasikan. Sial memang jika kasus yang kita buat tidak bisa dijadikan jurnal kecuali 100% penelitian kita selesai, padahal ketika men-submit, butuh waktu berbulan-bulan. Jadi mahasiswa doktoral yang lewat dari rentang waktu normal, sepertinya sudah biasa.

So, untuk para calon mahasiswa doktoral yang sedang mencari kampus untuk studi lanjut, perhatikan aturan yang ada di kampus yang dituju tersebut. Perhatikan jenisnya: langsung riset, kuliah sambil riset, atau kuliah dulu baru riset. Jika Anda diterima di kampus yang langsung riset, maka berbahagialah, karena biasanya lulus lebih cepat dibanding jenis yang lain, apalagi yang terakhir seperti di kampus saya, kuliah dulu hingga IPK (g.p.a) di atas 3.50 baru siap-siap ujian kandidasi (kelayakan menjadi kandidat doktor) disertai dengan proposal penelitian. Proposal sangat menentukan, apakah Anda bisa segera menyicil publikasi jurnal atau menunggu restu dari pembimbing setelah riset selesai. Lihat tulisan sebelumnya. Jika membuat artikel yang dipublikasikan menunggu riset selesai (biasanya tiga tahun), wallahualam .. biasanya lulus lewat dari 3 tahun .. setidaknya 4 tahun alias four years .. (bukan for years lho).

Konversi Endnote (*.ens) ke Mendeley (*.csl)

Bagi yang masih berkutat dengan perkuliahan, berkecimpung di dunia perjurnalan, atau berprofesi sebagai peneliti dan dosen, sering kali mengalami kesusahan ketika dihadapkan dengan masalah sitasi (citation) dalam suatu makalah/paper. Jika kita mensubmit ke suatu jurnal, kita diharuskan mengikuti aturan sitasi dari jurnal yang akan kita submit kalau ingin jurnal kita diterima di penerbit tersebut. Repotnya antara satu jurnal dengan jurnal lainnya memiliki tata cara yang berbeda yang bisa memberikan ekstra bonus “pusing” di luar konten tulisan kita. Untungnya saat ini teknologi sistem informasi sudah berkembang dengan pesat dimana otomatisasi sudah biasa dijumpai. Kita tidak ingin diribetkan dengan prosedur-prosedur administrasi yang sebenarnya bisa digantikan oleh mesin.

Salah satu jurnal yang akan saya submit menggunakan format sendiri di luar format yang sudah ada. Jadi ketika saya buka microsoft word, saya tidak menjumpai style yang cocok dengan jurnal tersebut. Jika harus mengedit manual, rasanya menyita waktu.

Endnote

Software buatan thomson reuter yang membantu penulis untuk mendokumentasikan referensi ini sangat terkenal. Sayangnya aplikasi ini berbayar sehingga memberatkan para peneliti khususnya yang berdomisili di Bekasi, eh Indonesia. Sayangnya kebanyakan jurnal memberikan format style dalam bentuk endnote dengan extention *.ens.

Mendeley

Kabar baik muncul ketika pengembang opensource membuatkan software mirip endnote yang gratis. Software ini dapat diunduh di https://www.mendeley.com/ dengan terlebih dahulu sign up dengan user id email. Manfaat dari sign up adalah aplikasi yang kita install dapat disinkronkan dengan yang ada di web sehingga data pustaka kita dapat diakses dari mana saja.

Ketika file hasil download style akan digunakan di Mendeley, kesulitan muncul karena mendeley hanya mau menerima file berekstensi *.csl. Seharian searching di internet saya tidak bisa menemukan jawaban, bahkan di forum para pengguna mendeley sedikit memaksa dan momohon agar Mendeley membuatkan konversinya. Ternyata sudah ada agreement antara Mendeley dengan Endnote agar tidak saling kompatible sehingga pengguna Endnote tetap terjaga. Agak pelit juga sih.

Zotero

Muncullah pemain baru, dengan nama zotero. Sepertinya antara Mendeley dengan Zotero masih kerabat karena ketika saya klik about Mendeley, ada unsur zoteronya (koreksi kalau saya keliru). Aplikasi ini dapat diunduh gratis di situs resminya: https://www.zotero.org/download/

Ternyata ada keributan antara Zotero dengan Endnote karena Endnote menuduh Zotero melanggar kesepakatan untuk tidak kompatibel. Zotero memberikan sebagian besar format/Style dari jurnal-jurnal ternama di dunia dengan memasukan nama publisher di kolom pencarian.

Tinggal klik kanan dan unduh style-nya dalam format *.csl yang dikenal oleh Mendeley dan Zotero. Sungguh praktis, saya tidak perlu membuat citation secara manual lagi. Berikutnya tinggal mengimport dari Mendeley yang kita install. Jadi untuk mengkonversi dari Endnote ke Mendeley, kita perlu memiliki Zotero. Mengapa tidak menggunakan Zotero langsung? Alasannya karena Mendeley lebih lengkap fasilitasnya, menurut saya sih. Juga Mendeley bisa menempel di Word walaupun zotero juga bisa (tetapi saya gagal di office 2010).

Mengimpor Style Baru

Berikutnya adalah cara mengimpor style baru dari Zotero ke Mendeley. Buka Mendeley Desktop yang telah kita install masuk ke view – Citation Style – More Style.

Anda tinggal mengklik “get more style”. Arahkan download ke link download yang dari Zotero hingga style yang diinginkan muncul di list Mendeley. Selamat mencoba.

Basis Data di Matlab

Tahun 2000 merupakan tahun perkenalan saya dengan Matlab. Dosen pengajar pengenalan pengaturan (dulu namanya mekanisme servo dan kontrol) rencananya akan memberikan seminar khusus di kampus. Sayangnya ternyata acara itu karena satu lain hal di-cancel. Rencananya saya akan menggunakan software itu untuk tugas akhir saya dalam mensimulasikan sistem suspensi. Apa boleh buat, terpaksa belajar sendiri.

Setelah membuka-buka Matlab ternyata banyak fasilitas-fasilitas menarik yang bisa diexplore, apalagi waktu itu Matlab 6 sudah muncul. Versi ini jauh lebih menarik dibanding Matlab 5, versi sebelumnya. Dari kedokteran, sains, bahkan ekonomi pun bisa memanfaatkan Matlab, walaupun orang informatika waktu itu kurang menyukai karena “terlalu mudah” atau “hanya mengandalkan toolbox” dibanding dengan bahasa c++, visual basic, pascal (sekarang Delphi) yang lebih laris dipasaran dan banyak dipakai pengembang. Efeknya, buku-buku terbitan Matlab waktu itu masih amat langka, ditambah lagi waktu itu internet masih barang mahal dibanding sekarang. Tapi bagi pengembang metode (bukan terapan) Matlab sangat menarik karena dengan cepat bisa mengeksekusi metode-metode rumit buatannya, karena kelamaan jika terlalu berfokus ke coding. Salah satu kelemahan Matlab sehingga dijauhi pengembang waktu itu adalah sulit diterapkan ke sistem basis data (DBMS). Sempat membuka sampel penggunaan basis data ternyata basis data yang digunakan tersimpan dalam format “mat” khusus Matlab, tidak dengan Access, MySql, dan sejenisnya. Untuk menghubungkannya harus mengkonversi dari DBMS tersebut ke Excel atau “dat” file agar bisa dimanipulasi Matlab.

Dengan Matlab saya banyak menerima dana hibah penelitian dari DIKTI untuk mengutak-atik Soft Computing dengan metode-metode terbarunya baik penerapan atau memodifikasi metode tersebut. Dari Jaringan Syaraf Tiruan hingga Algoritma genetika sudah saya gunakan, hingga akhirnya saya dipaksa melibatkan DBMS karena data yang besar (big data) dengan ukuran dua giga byte ke atas. Apalagi jika data yang akan dimanipulasi real time yang harus berubah-ubah terus. Untungnya Matlab 7 sudah memberikan fasilitas menghubungkan Matlab dengan basis data, waktu itu saya menggunakan ruby on rail sebagai interface yang menampilkan hasil manipulasi genetic algorithms ke web lewat PostgreSQL.

https://www.youtube.com/watch?v=SoirG9o8wTI

Karena banyak yang menanyakan cara menghubungkan Matlab dengan DBMS, plus pemrograman visualnya (GUI) akhirnya saya tulis ke dalam buku yang baru terbit Februari 2016 kemarin.

Entah sudah tersedia di toko-toko buku terdekat atau belum saat ini. Kebanyakan pembeli menggunakan situs online dari penerbit informatika, link-nya berikut ini. Ada beberapa contoh kasus seperti enkripsi sederhana terhadap database, pengolahan citra digital (digital image processing) dan clustering dengan Fuzzy C-Mean. Kali ini saya menambahkan dengan CD. DBMS yang saya gunakan adalah Microsoft Access sebagai perwakilan aplikasi desktop dan MySQL sebagai perwakilan aplikasi berbasis Web dengan ODBC sebagai jembatan penghubung dari Matlab ke DBMS lewat windows.

Untuk membuat buku yang sempurna mungkin membutuhkan waktu yang cukup panjang, sementara para mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir/skripsi/tesis dikejar waktu, ada baiknya buku yang ringkas dan sesuai kebutuhan tersedia di pasaran. Semoga bermanfaat, Amiin.