Running JApplet Pada Browser

JApplet merupakan fasilitas java yang dapat berjalan pada web lewat browser (chrome, mozilla, safari, dll). Berbeda dengan PHP yang terletak di sisi server (server side), applet berjalan di sisi klien (client side). Versi terbaru dari Applet adalah JApplet yang mempermudah programmer merakit GUI pada Netbeans.

Karena sifatnya yang berjalan di sisi klien, beberapa browser menganggap Applet berbahaya dan tidak lagi disarankan, seperti flash yang lebih dulu dihentikan operasinya. Apalagi dengan bahasa Java yang powerful, jika Applet itu dibuat oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, akan merugikan pengguna karena sifatnya yang ‘mengunduh’ dan ‘eksekusi’ di komputer klien. Namun, Chrome masih melihat manfaat Applet sehingga memasukan ekstensinya agar bisa menjalankan browser: https://chrome.google.com/webstore/detail/cheerpj-applet-runner/bbmolahhldcbngedljfadjlognfaaein/related.

Namun Applet tidak bisa dijalankan tanpa menggunakan server, oleh karena itu terlebih dahulu harus menginstall server, misalnya Apache pada XAMPP.

Build Applet pada Netbeans setelah selesai dirakit dan dites. Sisipkan dengan kode berikut di bagian body.

<applet code=TicTacToe.class

archive=”TicTacToe.jar”

width=120 height=120>

</applet>

Misalnya kelas yang akan diakses ‘TicTacToe.class’ dengan JAR hasil build ‘TicTacToe.jar’. Ekstensi ‘class’ merupakan hasil build (atau clean and build). Jalankan aplikasi via browser dengan mengakses alamat web, dan jalankan extension chrome utk applet. Tunggu beberapa saat dan pastikan aplikasi berjalan dengan baik.

Silahkan lihat video youtube ini untuk lebih jelasnya, selamat mencoba.

Menginstal Matlab Mobile yang Gratis

Matlab merupakan aplikasi yang banyak dimanfaatkan oleh peneliti. Salah satu bidang yang dapat memanfaatkan aplikasi tersebut adalah matematika. Matlab yang kepanjangannya MATrix LABoratory merupakan software berbayar. Namun untuk aplikasi mobile, ternyata untuk matematika tidak berbayar, tinggal menginstall lewat Playstore android di HP kita.

Jalankan aplikasi yang sudah diinstal. Persiapkan email, karena nanti jika tidak punya akun Anda harus register/create account.

Kalau di web, situs resmi Matlab adalah www.mathworks.com yang berisi informasi mengenai produk Matlab.

 

Silahkan tekan Create one! Jika belum punya account. Selanjutnya jika sudah membuat account baru, Anda bisa login dan memanfaatkan fasilitas Matlab mobile.

 

Jangan khawatir jika Anda diminta Upgrade, tekan saja Continue untuk menggunakan versi mobile. Biasanya untuk fungsi-fungsi dasar matematika tidak memerlukan upgrade. Berikut contoh perhitungan integral.

Simbol @ merupakan simbol fungsi. Contoh di atas jika ingin melihat hasil eksekusi integral dari nol hingga satu. Nah, jika Anda diminta mengintegralkan sebuah persamaan bagaimana?

Contoh di atas kita ingin mengintegralkan sebuah fungsi y = exp(5*x). Oiya, untuk perkalian jangan lupa bintang (*) ya. Pertama-tama Anda harus mendefinisikan x sebagai variabel dengan fungsi syms. Dengan fungsi int diperoleh integral exp(5*x)/5 sementara dengan fungsi diff diperoleh turunannya yakni 5*exp(*5*x). Selamat mencoba.

The Simple Feynman

Seperti anak-anak yang lain, saya sempat khawatir dengan ujian akhir SMA (dulu namanya EBTANAS) dan saringan masuk PTN (dulu namanya UMPTN). Wajar, pengetahuan dari SD – SMA harus dikuasai sebanyak mungkin agar bisa menjawab soal-soal yang ditanyakan. Nah, momok terberat adalah fisika yang memang lingkup pertanyaan sangat liar. Dengan sedikit modifikasi narasi, terkadang siswa yg jago menghafal rumus pun kewalahan. Lalu bagaimana dong?

Di akhir orde lama, ada seorang fisikawan yang menerima hadiah nobel, bernama Richard Feynman. Dengan memperkenalkan sebuah fenomena fisik yang tadinya rumit menjadi serderhana lewat diagram Feynman. Ternyata selain konten dari temuannya, malah metode belajarnya yang banyak diikuti oleh para ilmuwan hingga saat ini.

Ternyata prinsip dasarnya adalah sederhana, yaitu menjelaskan dengan tepat. Ini merupakan skill dasar bagi seorang pengajar, entah itu guru maupun dosen. Contohnya, kita pernah membaca ayat suci, biasanya sulit dimengerti walaupun sudah baca artinya. Kalau pun mengerti, tidak lama lupa lagi. Bandingkan dengan kalau mendengar dari KH Zainuddin MZ, dengan penjelasan dan ilustrasi-ilustrasi yang kadang ‘mengocok perut’, sampai sekarang masih terngiang-ngiang. Yang paling ekstrem adalah Gus Dur dengan istilah-istilah simple-nya.

Saya pernah heran mengapa ketika kuliah tidak faham-faham satu bagian tertentu pelajaran, tetapi ketika lulus dan mengajar barulah mengerti. Hal ini karena ketika belajar saya harus bisa mengajarkan kembali. Di situlah peran ilmunya Feynman, bagaimana menjelaskan ke orang lain. Ketika kuliah dulu, memang sering saya jumpai dosen yang senang lihat siswanya pusing. Nah, karena pernah merasakan pusingnya masa kuliah, saya merasakan pentingnya memberikan penjelasan ke siswa dengan mudah.

Walau di era multimedia penjelasan dengan animasi, video dan suara dapat mempermudah pemahaman, tetapi tetap saja bahasa merupakan hal utama dalam menjelaskan satu konsep. Cara paling mudah belajar menjelaskan adalah menggunakan kalimat sendiri terhadap satu konsep tanpa menghapal buta. Mirip ketika menulis artikel ilmiah yang harus mem-parafase kalimat agar tidak terkena plagiarisme karena mirip dengan sumber lain.

Silahkan buat sesederhana mungkin, tetapi seperti kata Einstein, jangan menjadi terpotong yang hasilnya jadi tidak lengkap. So, fokus ke penjelasan se jelas-jelasnya yang bahkan ketika Anda jelaskan satu konsep, anak SD pun faham.

Kecerdasan Emosional Sang Penyelamat

Memang enak memiliki IQ yang tinggi seperti Prof. Habibie atau A. Einstein. Ada problem, dalam waktu sekejap dapat diselesaikan. Apalagi bagi pelajar dan mahasiswa. Tugas yang berat tidak terasa, hanya dalam sekejap selesai sudah, dan bisa lanjut nonton, jalan-jalan, atau mainan HP.

Itu yang saya rasakan ketika SMA dulu, terkadang iri dengan mereka yang ‘di atas rata-rata’, tanpa susah payah dalam memahami sesuatu. Nah, bagaimana menyikapi kecerdasaan yang rata-rata seperti saya contohnya?

Di atas langit ada langit. Itulah pepatah kuno yang kadang bisa membuat kita ‘pede’ ketika menghadapi orang ‘super’ di sekolah. Kalau saya kalah oleh yang lain, pasti ada saja saya yang menang dari yang lain. Tiap manusia ada kelemahan dan juga kelebihan. Beruntunglah jika diberi kesabaran, ketabahan, dan aspek kecerdasan emosi lainnya.

Mengapa tipe kecerdasan emosional tersebut penting? Sebagai contoh, jika mereka mampu memecahkan problem 1 jam, dan anda 3 jam atau bahkan seharian, tidak apa-apa, toh selesai juga. Nah, jika ada problem yang oleh orang-orang ‘super’ itu bisa dikerjakan dalam 3 jam tapi ketika jam ke-dua mereka menyerah, toh tidak ada gunanya kecerdasan yang padahal 1 jam lagi beres. Bahkan kalah oleh orang yang rata-rata yang beres dikerjakan dalam satu atau dua hari misalnya.

Bahkan ketika kelas 1 SMA karena pusingnya dengan mata pelajaran kimia, saya sempat utak-atik sampai pagi, padahal harus ke sekolah esoknya. Benar saja, si ibu guru menegur saya “ikut ronda ya?”. Toh, ujung-ujungnya hasilnya di atas mereka yang kecerdasannya di atas rata-rata.

Masa SMA yg singkat tapi paling berkesan

Bagaimana dengan studi doktoral? Nah, di sini kecerdasan emosional menentukan mengingat hampir semua problem mahasiswa doktoral itu tidak ada/belum ada yang menyelesaikan. Pembimbing pun kebanyakan tidak/belum menyelesaikan. Mereka hanya bisa memberi saran saja. Sangat penting untuk menjaga ‘ritme’ agar tetap fokus, menjalin komunikasi yang baik dengan promotor, termasuk juga hubungan dengan keluarga. Banyak mahasiswa yang bermasalah keluarganya ketika kuliah karena kurang menjaga hubungan dengan suami/istri, anak, dan kerabat lainnya.

Jangan bermimpi ketika mengambil doktoral anda melihat jawaban jelas di ujung. Ganti judul, tema, ganti metode, sudah hal yang lumrah ketika penelitian berjalan. Jika tidak tahan dan kurang sabar, pasti akan stress. Banyak rekan saya yang meninggal ketika pandemi karena kemungkinan besar sistem imun di tubuhnya menurun karena tuntutan riset doktoral. Sabar, mampu menunda kesenangan, dan tidak takut keluar dari zona nyaman mutlak diperlukan. Jika tidak mau berubah mana mungkin bisa berubah dari master menjadi doktor.

Kondisi ekstrem lain adalah walau otak kita tidak mampu terkadang, pihak-pihak, rekan sejawat, dan teman ngobrol/ngopi terkadang bisa membantu. Banyak mahasiswa doktoral yang lulus dengan bantuan orang lain, tentu saja sebagian, entah itu membantu mengolah data, penarikan sample, pembuatan program, model dan lain-lain. Hal itu lumrah dilakukan, yang penting konsep utama si mahasiswa mengerti. Nah, di sini saya sering melihat rekan-rekan yang awalnya biasa-biasa saja ternyata lulus dengan cepat, sementara yang ‘melejit’ di awal ternyata terbengkalai di akhir karena kurang ‘tahan’ atau tidak sabar.

Kadang ide berasal dari rekan di tempat ngobrol

Tentu saja tiap orang banyak kelemahan yang harus di atasi, seperti saya misalnya. Ada dua rekan saya dari negara lain yang mengatakan saya malas, lambat, dan sejenisnya. Tapi memang rata-rata orang Indonesia santai, mungkin sudah bawaan budaya kita, apalagi saya yang orang Jogja. Ketika sadar hal itu, maka saya mengambil sikap untuk lambat tapi terus menerus, hingga kagetnya ternyata lulus duluan (bersamaan dengan satu rekan saya yang lain). So, jangan berkecil hati.

Ucapan selamat dari pak atase kebudayaan Indonesia saat wisuda

JavaScript Untuk Matematika

JavaScript merupakan Bahasa pemrograman yang sangat terkenal karena banyak digunakan dalam aplikasi web. Nah, ternyata bahasa ini dapat digunakans sebagai sarana belajar matematika, khusunya anak-anak ilmu komputer.

Tahun 1962, Kenneth Iverson mempublikasi tulisan ‘A Programming language’ dengan bahasa APL waktu itu. Menurut beliau, belajar pemrograman tidak hanya bisa memrogram, melainkan memahami juga analisa matematika di dalamnya.

It is the central thesis of this book that the descriptive and analytic power of an adequate programming language amply repays the considerable effort required for its mastery

Tahun 1977, Ian Stewart dan David Tall dalam bukunya ‘The Foundation of Mathematics’ mewarning agar pembelajaran tidak terlampau formal karena siswa pemula akan kesulitan memahami realitas yang ada.

A purely formal approach, even with a smattering of informality, is psychologically inappropriate for the beginner, because it fails to take account of the realities of the learning process.

Buka Mozilla dan masuk ke mode developer dengan menekan Ctrl-Shift-K. Setelah muncul jendela baru di bagian bawah Mozilla, coba copy-paste contoh kode JavaScript. Ketika pertama kali dilakukan, akan ada warning untuk mengingatkan pengguna bahwa karena berupa kode, ada kemungkinan dapat mengganggu sistem karena virus, spyware, dan sejenisnya.

Kalau di baca warning di atas, kita diminta mengetik ‘allow pasting’ di bawah agar bisa copy-paste. Setelah ini coba masukan kode berikut (lihat ebook hal 55):

function BankAccount(n, b)
{
this.number = n;
this.balance = b;
}
// end of BankAccount definition
// make a bank account
var b1 = new BankAccount(38, 20.12);
// display its number
console.log(b1.number); // 38
// make another
var b2 = new BankAccount(39, 132.51);
console.log(b2.balance); // 132.51

Ini contoh sebuah fungsi bernama ‘BankAccount’ dengan parameter masukan ‘n’ nomor rekening dan ‘b’ saldo.

Maka akan dihasilkan berturut-turut 38 dan 132.5. Selamat mencoba.

Thanks to My Student

Every scientist should do a research. This activity is part of three main tasks of lecturer in Indonesia, called ‘Tri Darma’ beside other activities, i.e., the teaching and social service activity. There is a requirement in Indonesia that every research should be published in a journal or conference. This outcome is called ‘luaran’. Of course, there are many levels of publisher based on the quality of the journal/conference. In journal we have quartile in Scopus (Q1 to Q4) as well as impact factor in web of science (WoS). The minimum requirement is the publication in a national journal.

To do the research, a scientist need a lot of collaboration to another scientist that usually a lecturer or student. The ethic should be considered, for example, a student thesis in publication should be arranged where the student as first author. The lecturer if he/she want as the first author, he should do his/her own research or writing a review paper about his/her student research. If the lecturer find the improvement by compiling the results from previous student’s work he/she can publish a paper where he/she become a first author.

Publishing a paper is a hard work that need a lot of resources. Therefore, everyone should appreciate to another scientist result. And I respect to all my students that has successfully published our research. Thank you very much.

Kekalahan

Satu kata yang menjadi judul postingan ini sangat dihindari oleh kita. Namun sesungguhnya tanpa ada kata tersebut tidak ada lawan kata lainnya, yaitu kemenangan. Postingan ini sedikit membahas kondisi timnas Indonesia yang di leg 1 kalah 4 – 0 dari Thailand, setelah di awal-awal menunjukan kinerja yang menjanjikan, yaitu mengalahkan Malaysia dan imbang dengan Vietnam.

Thailand bagi saya tidak asing karena hampir 5 tahun tugas belajar di negeri gajah putih itu. Negeri kerajaan itu sangat berbeda dengan negara-negara asia tenggara lainnya. Perpaduan antara modernisasi dengan adat istiadat ternyata bisa melahirkan budaya kuat bagi rakyatnya.

Negara penganut Budha tersebut sangat menghormati biksu dan rajanya. Percaya dengan karma dimana perbuatan akan dibalas setimpal menyebabkan rakyatnya berfikir dua kali untuk berbuat jahat. Bahkan ketika kita menepuk nyamuk dengan amarah di depan mereka, tatapan mereka langsung terlihat kecewa, terutama di daerah pinggiran kota. Ketika berburu durian di pasar Thailand malam hari, tampak para pedagang lebih suka tidur dengan kelambu dari pada membakar obat nyamuk atau menyemprot pembasmi serangga.

Di bandara sering berjumpa dengan rombongan remaja Thailand yang menyambut para pemain yang mewakili negaranya, entah pertandingan apa. Tampak wajah sumringah para pemain ketika disambut. Saya yakin di dunia maya pun perlakuannya akan seperti itu. Para pemain yang mewakili negaranya, juga mewakili raja akan berjuang mati-matian. Ketika pulang pun akan disambut tidak perduli menang atau kalah.

Di berbagai bidang negara tersebut sebenarnya memiliki bibit yang tidak beda dengan negara kita. Namun keseriusanlah yang membedakan. Bayangkan saja, negara yang memiliki riwayat tanah yang kurang subur memiliki hasil bumi yang terkenal hasil utak-atiknya. Sampai-sampai istilah ‘bangkok’ menggambarkan buah yang super besar seperti jambu bangkok, pepaya bangkok, ayam bangkok dan lain-lain.

Untuk memulainya ada baiknya kita serius dalam segala hal. Bahkan sebagai suporter pun harus serius. Jangan sampai hanya mengagumi dikala menang saja. Saat terpuruk pun suporter harus sesuai dengan maknanya yaitu ‘pendukung’, bukan sebaliknya ‘pembully’.

Riset yang dilakukan Microsof mungkin ada benarnya, nitizen kita kerap kebablasan dalam memberikan komentar. Sanjungan setinggi langit bisa berbalik menjadi caci maki sejadi-jadinya. Bahkan media masa pun latah dan melihat peluang karakter pembully nitizen sehingga membuat konten ibarat menyiram api dengan minyak.

Tidak ada ruginya menghormati seseorang, apalagi bangsa sendiri. Semoga bangsa kita berjaya seperti era keemasan dulu. Yuk, kita dukung timnas sepakbola dan cabang olah raga lainnya. Udahan dulu ya, mau nonton final leg2 piala AFF . Semoga menginspirasi dan selamat tahun baru 2022.

Santai, Tapi Pertahankan Minat & Fokus

Berbeda dengan S2 yang tingkat kelulusannya di dalam negeri hampir 100%, S3 ternyata tidak semudah itu. Banyak rekan-rekan saya yang berguguran (bahkan dalam makna sebenarnya). Postingan ini sedikit memberi gambaran bagi Anda yang ingin melanjutkan ke jenjang terakhir keakademikan.

Melihat rekan-rekan banyak menjumpai hambatan ketika S3, seorang rekan saya bertanya. Pertanyaannya sederhana tapi ‘to the point’, yaitu ‘sanggupkah saya melanjutkan s3?’. Jawaban yang sulit.

Banyak webinar-webinar dan doctoral bootcamp yang membahas kiat-kiat studi lanjut. Berbeda dengan S2 yang hanya berkutat dengan adanya dana baik beasiswa maupun biaya sendiri, jenjang S3 mengharuskan calon mahasiswa memahami benar alur perjalanan seorang mahasiswa doktoral. Namun karena panjangnya alur tersebut, pada postingan ini akan berfokus pada mental.

Karena bukan psikolog, tulisan ini sekedar pengalaman pribadi. Benar atau tidaknya tergantung kondisi, bisa jadi sedikit berbeda dengan kondisi pembaca sekalian.

Biasa Saja

Pertama-tama yang perlu diperhatikan adalah ketika mengambil suatu pelatihan, pendidikan, upgrading, atau apapun sebutannya adalah adanya kebanggaan. Boleh saja, tetapi jangan terlalu lama, kembalilah berpijak ke bumi.

Ibarat dunia selfi yang cenderung foto makanan dulu sebelum dimakan, mulailah dengan langsung saja makan. Membaca atau mengetik, langsung saja lakukan. Dulu, guru Biologi saya pernah menyindir siswanya yang tidak paham2 dengan menyuruhnya ‘langsung membaca’ dan jangan menganggap membaca atau mengerjakan tugas dengan ritual yang perlu persiapan panjang seperti yasinan, atau malah membakar kemenyan, mandi kembang, dan sejenisnya.

Jangan Baper

Di sini baper artinya ‘bawa perasaan’ yang bukan hanya dari sisi negatif (sakit hati, emosi, tersinggung, dan lain-lain) melainkan juga yang positif (tertarik, semangat, dan berapi-api). Maklum, namanya ‘mainan’ baru cenderung melupakan yang lain yang bahkan lebih penting. Banyak teman-teman yang punya karakter ‘hangat-hangat tahi ayam’, alias semangat di awal saja. Melihat metode baru, software terkini, dan hal-hal wah lainnya terkadang latah. Skill yang kita miliki bertahun-tahun jangan sampai dilupakan, ingat ada prinsip 10000 jam untuk menjadi ahli. Bisa jadi kita melihat kita kurang ahli, padahal sesungguhnya menurut pandangan orang kita ahli. Mungkin ada kebosanan dan ingin hal-hal baru, padahal banyak hal-hal yang bisa kita kembangkan dari keahlian yang sudah dimiliki, dari pada mencari hal-hal baru dan mulai dari nol lagi, hanya karena Anda sangat bersemangat.

Steady State

Dalam dunia fisika ada istilah steady state atau kondisi tunak. Biasanya dialami oleh mahasiswa S3 ketika sudah proposal dan masa kondisi transient terlewati. Waktu yang lama dengan progress yang sepertinya tidak secepat kondisi transient (kuliah + membuat proposal) terkadang membuat kita lupa, tahu-tahu waktu sudah mendekati limit. Saya ingat rekan saya berkata disertasinya tidak ada manfaat dan kontribusi bagi lingkungan. Ya, namanya novelty terkadang terasa tidak ada manfaatnya, seperti De Morgan yang menemukan teori-teori logikanya tetapi oleh rekan-rekan jamannya dianggap ilmu yang tak berguna, bahkan dikira orang ‘sinting’. Ternyata ketika komputer ada, baru sadar logika-nya dapat diterapkan.

Oiya, banyak kerjaan-kerjaan mahasiswa S3 yang harus dikerjakan, bahkan tanpa kita yakin berhasil atau tidak. Namanya saja mencari kembali (research), kalau dalam pencarian tidak ketemu ya sabar saja. Ada juga kerjaan remeh temeh yang terpaksa dikerjakan walau tidak menarik. Nah, ini dia yang penting, ketika Anda santai mengerjakan sesuatu yang ‘garing’, ‘membosankan’, ‘ga keren’, atau istilah lain yang menggambarkan hal-hal yang membuat enggan melakoni, artinya Anda sudah siap menjadi mahasiswa doktoral. Banyak yang gagal karena enggan melepas kaki yang masih di dermaga (jabatan, tunjangan, proyek, dll) sementara kaki lain sudah di perahu (studi lanjut). Yuk .. lanjuuuut.

Membuka File MS Word yg Lupa Disimpan

Terkadang ketika menutup word kita lupa menyimpan, padahal berisi naskah penting. Biasanya terjadi ketika banyak membuka file draft yang sementara. Ketika meng-close terkadang sengaja kita tidak menyimpan, padahal mungkin ada satu file penting yang ikut tidak disimpan karena terburu-buru menutup aplikasi.

Microsoft Word menyediakan fasilitas tersebut, langkahnya adalah sebagai berikut. Masuk ke Menu File. Lalu pilih Manage Document di bagian bawah.

Tekan Icon Manage Document lalu pilih Recover Unsave Document. Di sana tampak file-file Anda yang tidak disimpan.

Biasanya kalau baru masih tersimpan di sana dengan ekstensi *.asd, entah mengapa nama ekstensi-nya ASD mungkin singkatan dari ASal Ditutup .. hehe. Klik saja dan Anda akan berhasil menyelamatkan ketikan penting yang lupa ditutup (padahal itu absen kelas ngajar online). Sekian, semoga bermanfaat.

Big Data dengan Matlab

Tahun 2014 saya masih menjadi mahasiswa doktoral Information Management. Ada satu mata kuliah: Decision Support Technologies yang berisi bagaimana sistem informasi membantu pengambil keputusan, salah satunya dengan pemanfaatan Big Data.

Waktu itu saya satu grup dengan mhs dari Thailand dan Uzbekistan. Tugasnya cukup menarik, yaitu menggunakan data dari Kagel yang berisi jutaan record penulis artikel ilmiah yang masih kasar (raw). Targetnya adalah mengumpulkan penulis yang berserakan menjadi rapih, dimana tidak ada redundansi penulis. Terkadang ada nama penulis yang terbalik susunannya, tanpa nama tengah, dan lain-lain. Selain itu perlu deteksi untuk afiliasi dan bidang ilmunya. Yang tersulit adalah terkadang nama belakang perempuan yang mengikuti nama suami.

Kendala utamanya adalah data yang berukuran besar baik dari sisi kapasitas maupun jumlah record. Ketika dibuka dengan Excel, tidak seluruhnya terambil karena ada batas record Microsoft Excel yakni sebanyak 1,048,576 record dan 16,384 kolom. Terpaksa menggunakan sistem basis data, yang termudah adalah Microsoft Access. Waktu itu fasilitas Big Data pada Matlab masih minim, terpaksa ketika menjalankan pemrosesan paralel, secara bersamaan dibuka 3 Matlab sekaligus (lihat postingan saya tahun 2014 yang lalu).

Tipe Data Tall

Sekitar tahun 2016-an Matlab memperkenalkan tipe data Tall dalam menangani data berukuran besar. Prinsipnya adalah proses upload ke memory yang tidak langsung. Sebab kalau ketika impor data dengan cara langsung maka akibatnya memory akan habis, biasanya muncul pesan ‘out of memory‘. Oleh karena itu Matlab membolehkan mengupload dengan cara ‘mencicil’. Tentu saja untuk memperoleh hasil proses yang lengkap dengan bantuan fungsi gather.

Seperti biasa, cara mudah mempelajari Matlab adalah lewat fasilitas help-nya yang lengkap, maklum software ‘berbayar’. Lisensinya saat ini sekitar 34 jutaan, kalau hanya setahun sekitar 13 juta dan kurang dari 1 juta untuk pelajar. Pertama-tama ketik saja di Command Window: help tall. Pastikan muncul, jika tidak muncul, berarti Matlab Anda belum support fungsi Big Data tersebut. Walau mahal, tetapi Anda bisa mencoba sebulan secara gratis. Ok, jalankan saja help yang muncul.

Dengan fungsi datastore, pertama-tama sampel Big Data disiapkan. Di sini masih menggunakan Comma Separated Value (CSV). Perhatikan hasil proses fungsi tall yang berupa matriks berukuran Mx4. Nah, disini istilah M muncul yang berarti ‘beberapa’, karena yang ditarik belum seluruhnya.

Tampak paralel pool sudah terbentuk, dengan 4 worker. Di sini dibatasi 30 menit, jika idle/tidak digunakan akan di-shutdown. Terakhir, fungsi gather dibutuhkan untuk merekapitulasi hasil olah.

Tampak informasi pooling yang merupakan ciri khas pemrosesan paralel telah selesai dilakukan. Sekian, semoga informasi ini bermanfaat.

KMeans Clustering dengan Python

Pada postingan yang lalu telah dibahas klasterisasi dengan KMeans menggunakan bahasa Matlab. Kali ini kita coba menggunakan bahasa Python dengan GUI Jupyter notebook pada Google (Google Colab).

Sebelumnya kita siapkan terlebih dahulu file data sebagai berikut. Kemudian buka Google Colab untuk mengklasterisasi file tersebut. Sebagai referensi, silahkan kunjungi situs ini. Saat ini kita dengan mudah memperoleh contoh kode program dengan metode tertentu lewat google dengan kata kunci: colab <metode>.

Mengimpor Library

Library utama adalah Sklearn dengan alat bantu Pandas untuk pengelolaan ekspor dan impor file serta matplotlib untuk pembuatan grafik.

  • from sklearn.cluster import KMeans
  • import pandas as pd
  • from sklearn.preprocessing import MinMaxScaler
  • from matplotlib import pyplot as plt

Perhatikan di sini KMeans harus ditulis dengan K dan M berhuruf besar, begitu pula kelas-kelas yang lain seperti MinMaxScaler

Menarik Data

Perhatikan data harus diletakan di bagian file agar bisa ditarik lewat instruksi di bawah ini. Jika tidak maka akan muncul pesan error dimana data ‘beasiswa.csv’ tidak ada.

Selain itu tambahkan instruksi untuk mengeplot data. Tentu saja ini khusus data yang kurang dari 3 dimensi. Jika lebih maka cukup instruksi di atas saj.

  • plt.scatter(df[‘IPK’],df[‘Tingkat Kemiskinan (TM)’])
  • plt.xlabel(‘IPK’)
  • plt.ylabel(‘Tingkat Miskin’)

Prediksi

Ini merupakan langkah utama yang memanfaatkan pustaka ‘KMeans’ dari Sklearn.

  • km=KMeans(n_clusters=2)
  • y_predicted=km.fit_predict(df[[‘IPK’,‘Tingkat Kemiskinan (TM)’]])
  • y_predicted

Nah, hal terpenting adalah tidak hanya menghitung y_predicted saja melainkan melabel kembali datanya. Percuma saja jika kita tidak mampu memetakan kembali siapa saja yang masuk kategori klaster ‘0’ dan ‘1’.

  • df[‘klaster’]=y_predicted
  • print(df)

Finishing

Di sini langkah terpenting lainnya adalah kembali memvisualisasikan dalam bentuk grafik dan menyimpan hasilnya dalam format CSV.

  • df1=df[df.klaster==0]
  • df2=df[df.klaster==1]
  • plt.scatter(df1[‘IPK’],df1[‘Tingkat Kemiskinan (TM)’],color=‘red’)
  • plt.scatter(df2[‘IPK’],df2[‘Tingkat Kemiskinan (TM)’],color=‘black’)
  • plt.scatter(km.cluster_centers_[:,0],km.cluster_centers_[:,1],color=‘purple’,marker=‘*’,label=‘center’)
  • plt.xlabel=‘IPK’
  • plt.ylabel=‘Tingkat Miskin’
  • plt.legend()

Hasilnya adalah grafik dengan pola warna yang berbeda tiap klaster-nya.

Salah satu kelebihan Pandas adalah dalam ekspor dan impor data. Dalam hal ini kita akan menyimpan hasil klasterisasi dengan nama ‘klasterisasi.csv’. Lihat panduan lengkapnya di sini.

  • df.to_csv(‘klasterisasi.csv’)

Silahkan file hasil sempan diunduh karena Google Colab hanya menyimpan file tersebut sementara, kecuali kalau Anda menggunakan Google Drive (lihat caranya). Untuk mengujinya kita buat satu sel baru dan coba panggil kembali file ‘klasterisasi.csv’ yang baru terbentuk itu. df=pd.read_csv(‘klasterisasi.csv’)

  • df.head()

 

Note: ada field yang belum dinamai (Unnamed), bantu ya di kolom komentar caranya. Oiya, MinMaxScaler digunakan untuk jika data ‘jomplang’ misalnya satu dimensi, IPK dari 0 sampai 4 sementara misalnya penghasilan jutaan, tentu saja KMeans ‘pusing’. Oleh karena itu perlu dilakukan proses preprocessing. Sekian, semoga bermanfaat.

Aplikasi Berbasis Layanan

Era Industri 4.0 ditandai dengan perkembangan IT, salah satunya adalah Big Data. Dengan konsep serba “V” seperti “velocity”, “volume”, dan “v” lainnya membuat siapa yang bisa memanfaatkannya akan menang dalam persaingan. Bentuk Big Data yang “Variety” membuat rumitnya pengaksesan dan pengolahan, khususnya data yang tidak terstruktur dimana tidak berlaku standar QUERY lagi.

Beragamnya jenis data mengakibatkan para perancang aplikasi saat ini tidak lagi berpatongan dengan “single database” yang dikenal dengan istilah monolitik. Tentu saja akan sulit menyimpan beragam tipe data dalam satu sistem basis data, misalnya sistem yang terdiri data Geospasial harus bekerja sama dengan Non-Spasial.

Microservices

Untuk mengatasi beragamnya jenis basis data, saat ini banyak yang menerapkan metode microservices yang membagi aplikasi menjadi service-service kecil. Selain bermanfaat ketika dihadapkan dengan jenis tipe data yang beragam, microsoervices juga dapat mengatasi “bottleneck” ketika satu transaksi akan diakses oleh banyak pengguna, misalnya ketika deadline atau hari terakhir submit.

Aplikasi-aplikasi E-Commerce seperti Gojek, Grab, Traveloka, dan lain-lain sudah pasti menggunakan prinsip tersebut. Perpaduan antara data spasial yang dibutuhkan mitra, gudang data yang menggunakan NoSQL, misalnya mongodb, akan menyulitkan jika server hanya satu. Traveloka pun menggunakan prinsip mengakses service dari situs lain, seperti Lion, AirAsia, Garuda, dan maskapai lainnya, selain tentu saja hotel dan akomodasi pendukungnya. Servis ini dikenal dengan istilah Application Programming Interface (API). API ini ibarat tombol yang dapat diakses oleh siapapun tanpa harus menggunakan bahasa pemrograman atau platform yang digunakan oleh penyedia. Ibarat tombol listrik, tidak peduli arus searah atau bolak-balik, yang penting pengguna dapat menekan tombol on-off.

Data Semistructure

Dalam pertukaran data, aplikasi berbasis web tidak menerapkan format data terstruktur dengan baris dan kolom. Jenis data yang digunakan adalah tipe yang ramah dengan HTML, yakni XML dan Jason. Nah, ketika transaksi berjalan, dengan pertukaran message/pesan lewat metode REST ataupun SOAP, aplikasi lain dengan aman mengakses data dari service lain yang diijinkan.

Untuk mempraktikannya, misalnya kita buat sebuah database dengan aplikasi berbasis PHP-MySQL berisi data siswa. Ketika dibuat sebuah service, misalnya “data.php”, maka dapat digunakan untuk mengirim data lewat fungsi GET yang akan dimanfaatkan oleh fungsi lain. Banyak server-server testing yang gratis yang dapat dimanfaatkan. Tentu saja, yang berbayar lebih baik seperti Amazon Web Service (AWS) dan sejenisnya.

Aplikasi di atas menunjukan bagaimana service diakses langsung dari PHP server. Ketika mengakses data di atas, sistem tidak secara langsung mengakses basis data lewat SQL melainkan lewat format GET yang disiapkan oleh satu file bernama “data.php” lewat “form_get.php” untuk mempersiapkan data berformat Jason.

Sebagai bukti servis dapat dimanfaatkan oleh aplikasi lain, lewat browser kita dapat langsung mengakses “data.php” yang berisi data siswa. Tentu saja perlu menambahkan API key agar menjaga akses dari pihak-pihak yang tidak diijinkan, terutama untuk service POST dan PUT yang menginput dan mengedit data. Untuk jelasnya silahkan lihat video berikut, semoga bermanfaat.

Tulisan Terbaik Yang Sekaligus Terburuk

Menilai lebih mudah dari membuat. Coba baca satu artikel pada jurnal bereputasi, misalnya satu paragraf saja. Tampak mudah dibaca dan mengalir lancar. Terlihat sederhana dan mudah dipahami, namun ketika kita mencoba membuat seperti itu, menit berlalu, bahkan sudah berjam-jam, belum juga bisa membuat tulisan seperti itu.

Teringat ketika membuat skripsi waktu S1. Selesai menulis dan sidang akhir, saya merasa banyak salah tulis, baik dari tata bahasa maupun kesalahan-kesalahan lainnya. Anehnya waktu itu lulus tanpa revisi, yang menjadi misteri bagi saya bertahun-tahun.

Ketika mulai bekerja sebagai pengajar di salah satu kampus di Jakarta dan membimbing tugas akhir. Banyak siswa yang ternyata memiliki masalah yang sama dengan saya ketika menjadi mahasiswa dahulu, yaitu menulis. Mengingat kejadian waktu saya kuliah dahulu, jarang sekali saya memberikan revisi yang banyak ke siswa, dan menolerir kesalahan-kesalahan yang tidak penting.

Waktu kuliah S2 saya mengalami kejadian mirip S1, yaitu tanpa revisi. Tetapi hal ini terjadi karena saya sidang ulang akibat ada masalah administratif dengan sidang pertama. Alhasil sidang ulang hanya seperti diskusi saja. Nah, yang agak unik ketika disertasi.

Jenjang S3 membutuhkan waktu yang lebih lama dibanding level lainnya, baik dari sisi eksperimen maupun penulisan laporannya. Ditambah lagi syarat publikasi di jurnal internasional bereputasi membuat mahasiswa harus mampu menulis. Namun jangan khawatir, karena tulisan hanya melaporkan saja apa yang telah dilakukan, akhirnya pasti akan selesai juga.

Tiap kampus berbeda-beda dalam tata cara sidang. Kebetulan di kampus saya sebelum disidangkan, naskah harus dicek oleh dosen luar kampus. Revisi dari luar pun hanya istilah-istilah tertentu yang harus diganti, mengikuti standar yang ‘lebih umum’, dan menghindari bentuk-bentuk jargon tertentu. Tidak ada revisi besar.

Nah, uniknya walau saat sidang terjadi kontroversi mengenai kesimpulan, akhirnya salah satu penguji menyetujui format kesimpulan yang ada di tiap bab pembahasan, mengingat bidang saya multidisiplin maka ketika pembahasan pada bidang ilmu komputer di akhir bab dimasukan pula kesimpulan bidang ilmu komputer. Bab yang membahas perencanaan tata ruang, di bagian akhir bab diisi pula kesimpulan bidang tersebut, dan seterusnya hingga ada kesimpulan umum di akhir tulisan.

Saat itu saya berencana merevisi sesuai argumen salah satu penguji karena menurut saya benar. Ketika menghadap dosen pembimbing dan mengutarakan maksud saya ternyata di luar dugaan dia tidak setuju. Kalau pun mau merivisi sedikit saja, sambil menjentikan jari ke saya memberi kode berarti ‘sedikit sekali’. “Disertasi adalah tulisan terburukmu”, lalu malah menanyakan tulisan paper-paper berikutnya yang perlu di-publish. Dengan kata lain berarti tulisan saya berikutnya harus lebih baik dari disertasi saya tersebut. Ternyata itu jawaban tidak pernah revisi selama ini. Artinya tulisan terakhir kita, walaupun kita anggap tulisan terbaik, sekaligus menjadi tulisan terburuk, karena tulisan kita berikutnya harus lebih baik lagi.

Kalau pun revisi, itu pun dianggap edisi tersendiri dalam sebuah terbitan seperti gambar di bawah. Sekian semoga bisa menginspirasi.

Mudah Membuat Aplikasi Web dengan Bootstrap

Saat ini membuat aplikasi web jadi lebih mudah dengan banyaknya alat bantu disain, salah satunya adalah bootstrap. Aplikasi ini memanfaatkan teknologi HTML, CSS dan JavaScript. Bootstrap sejatinya adalah template untuk mempercepat pembuatan program. Rekan-rekan dosen pasti kenal template, misalnya template jurnal tertentu ketika akan submit. Template harus diikuti dan penulis mengisi template dengan naskah jurnalnya. Begitu juga template dalam perancangan web yang digunakan untuk mengisi konten. File template ketika akan digunakan perlu dilakukan kustomisasi sesuai dengan proses bisnis baik frontend maupun backend. Kata bootstrap pertama kali saya dengar ketika kuliah web technology dimana seorang siswa asal Perancis mempresentasikan tugasnya dengan teknik praktis ini.

Salah satu situs penyedia template bootstrap terkenal adalah: https://startbootstrap.com/. Silahkan kunjungi situs tersebut dan masuk ke menu templateadmin & dashbord untuk melihat template yangt ersedia.

Silahkan pilih, misalnya SB Admin dengan status “Free” dan diunduh jutaan kali. Selanjutnya klik template yang dituju untuk masuk ke menu download. Lanjutkan dengan menekan Free Download.

Setelah mengunduh, coba cek jalankan dengan terlebih dahulu mengekstrak file rar hasil unduhan. Jalankan file index.html untuk melihat template tersebut. Berikutnya silahkan mengkustomisasi file index.html tersebut, misal menghapus bagian-bagian tertentu, atau bisa mengganti nama misalnya index.php jika menggunakan bahasa PHP.

Oiya, untuk testing, misalnya dengan Github, karena jumlah file yang sedikit, memudahkan Anda upload ke Github online (non-desktop) karena per folder kurang dari 100 file.Sekian info singkat ini, semoga bermanfaat.

Diagram Voronoi

Banyak ilmu yang dikembangkan oleh orang Eropa yang di awal ditemukannya bukan berasal dari problem melainkan hanya sekedar ide saja, sebagai contoh adalah voronoi diagram. Terkadang satu metode berasal dari turunan matematika yang agak sulit jika ditanya gunanya untuk apa, terutama ketika belum terlihat manfaatnya. Mirip teorema De Morgan dan Boyle yang ketika komputer belum dibuat bagi orang biasa dianggap hanya ide gila saja.

Namun seiring perjalanan waktu barulah disadari manfaatnya, baik positif maupun negatif (misalnya ditemukannya mesiu oleh Nobel). Voronoi diagram merupakan bentuk lain dari delaunay tessellation. Yaitu region yang menggambarkan wilayah yang terdekat dengan titik tertentu. Metode ini terasa manfaatnya ketika ada wabah di Inggris yang misterius. Ketika voronoi digunakan, akhirnya diketahui lokasi pusat penyakit yang ternyata pompa air yang tercemari bakteri.

Beberapa software GIS memiliki kemampuan untuk secara otomatis membentuk diagram Voronoi. Misalnya kita memiliki region hasil dari segmentasi dan ingin membuat voronoi diagram berdasarkan segmen-segmen tersebut.

Voronoi dibentuk berdasarkan titik, oleh karena itu perlu dibuat titik pusat tiap region dengan fungsi feature to point yang dapat di-searching lewat fasilitas search. Hasilnya akan tampak seperti gambar di bawah ini.

Berdasarkan titik-titik centroid itulah dibentuk diagram voronoi atau delaunay tessellation dengan fungsi Thiessen Polygons yang ada di ArcGis.

Pilih saja polygon yang akan dibuat voronoi diagram-nya. Perhatikan gambar berikut dimana tiap region memiliki satu titik terdekat. Pemilihan BTS di handphone memiliki prinsip yang sama dengan Voronoi. Selain itu, diagram ini dapat digunakan untuk perencana wilayah dan tata ruang dalam menentukan lokasi fasilitas tertentu yang tepat terhadap pemukiman. Sekian, siapa tahu bermanfaat.