Anak-anak yang besar di era 80an dan 90an atau sebelumnya pasti sudah terbiasa hidup tanpa bantuan perangkat, baik yang sederhana, misalnya sepeda, motor, dan peralatan lain maupun yang canggih seperti kalkulator, komputer, handphone, dan lain-lain. Kalkulator untuk menghitung pun masih berupa alat seperti bulatan yang tersusun di dalam sebuah batang, waktu itu kita menyebutnya ‘kecrekan’. Dengan alat bantu, pekerjaan menjadi cepat dan akurat, sehingga kita bisa fokus ke hal-hal strategis lainnya.
Seperti alat bantu lainnya, tentu saja kita tidak boleh tergantung karena berbahaya, ketika alat bantu tidak ada, aktivitas akan terhenti. Dulu ketika tidak ada Google Map, kita menggunakan peta manual, atau tanpa peta sama sekali. Perjalanan pun biasa saja. Tapi saat ini ketika smartphone hampir dimiliki setiap manusia, terkadang akibat ketergantungan, tanpa Google Map, kita melupakan kemampuan otak dalam mengetahui lokasi spasial suatu objek.
Saat ini alat bantu yang dianggap sangat powerful adalah Akal Imitasi (AI), baik berupa chat sederhana, generatif AI, hingga Agentic AI. Seorang mahasiswa dengan bermodal prompt bisa membuat aplikasi rumit. Hanya saja masalah akan muncul, bagaimana jika alat bantu itu tidak ada, misalnya adanya gangguan dari sumber daya listrik, seperti kejadian perang Iran dan Israel. Jika biasa memanfaatkan fasilitas translate dari AI, ketika tidak ada AI, seorang penulis akan kesulitan mengerjakan tugas yang harus diselesaikan dalam bahasa lain.
Bagaimana dengan dunia informatika dan komputer? Sebenarnya sejak awal kemunculannya, ilmu komputer tidak membahas aplikasi atau program. Beberapa ilmu dasar seperti algoritma, teknik komputasi dan sejenisnya terkadang bisa diajarkan tanpa menggunakan piranti komputer. Ketika saat ini bermunculan teknologi, maka pengetahuan tentang teknologi tersebut serasa wajib. Repotnya teknologi yang dipelajari saat kuliah, ketika lulus sudah tidak bisa digunakan lagi. Dengan AI hal tersebut dapat diatasi, ketika muncul teknologi baru, AI akan segera bisa dijadikan partner dalam menggunakan teknologi baru.
Lalu, bagaimana nasib orang yang berkecimpung di ilmu komputer? Sebenarnya adanya AI, ilmu komputer kembali ke tujuan awal berdirinya bidang ilmu ini. Ilmu komputer sebenarnya bertujuan memanfaatkan komputasi, biasanya dalam bentuk algoritma, untuk menyelesaikan masalah. Selain itu cara membuat menjadi efisien, cepat dan akurat menjadi fokus utama tanpa terlalu mendalami penerapannya, yang bisa diserahkan saja ke AI.
Kemampuan generatif dari AI sebenarnya berasal dari modifikasi dari pengetahuan model dalam menghasilkan varian baru. Tanpa info sebelumnya, AI tidak memiliki kemampuan dalam mencipta. Beberapa vendor game atau animasi, menolak AI seperti ChatGPT, deepseek, gemini, dan lain-lain untuk melatih mesinnya dengan tokoh/karakter game dan animasi tersebut. Jadi, tanpa masukan baru dari manusia, jika umat manusia hanya mengandalkan sifat generatif dari AI maka variasi yang dihasilkan akan mentok. Nah, variasi dari human itu sendiri kebanyakan adalah pengalaman. Pengalaman manusia yang berbeda antara satu dengan lainnya merupakan bahan baku berharga dari AI. Dengan kata lain, pengalaman kita yang merupakan campuran dari akal, rasa, imajinasi, seni, dan lain-lain merupakan kekayaan yang tidak bisa hanya dari AI. Mungkin bisa mencipta jutaan generatif seperti tulisan, gambar, musik, dan lain-lain, tapi tanpa bahan baku pengalaman manusia, yang dihasilkan akan kering dan membosankan.
Saran saya sebaiknya anak-anak kita dilatih untuk melakukan sesuatu, ‘do something’, kerjakan dengan tangan sendiri agar bisa memunculkan pengalaman. Jika dari kecil sudah ‘melakukan sesuatu’, maka di usia mudah sudah bisa dibilang berpengalaman. Kalau hanya mengandalkan AI, harta berharga berupa pengalaman tidak akan dimiliki anak-anak muda kita di masa depan. Mungkin AI bisa membagikan pengalaman dari sumber-sumber sebelumnya yang berupa pengalaman manusia, tapi jika manusia saat ini tidak mencoba membangun pengalaman, akibatnya AI akan kehilangan bahan baku untuk ‘training’ dataset mereka, dan efek berbahaya jika manusia yang tidak mencoba mencari pengalaman, ketika alat berharganya yang berupa AI hilang, dikhawatirkan tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak memiliki cukup pengalaman yang diperlukan dalam menyelesaikan problem, baik sendiri maupun bersama-sama. Yuk explore, cari pengalaman, karena pengalaman tidak bisa dipelajari, melainkan dilalui.














