Perang tidak bisa lepas dari peradaban, baik perang klasik maupun perang modern. Kebetulan tulisan ini hanya dari sudut pandang orang awam, khususnya dosen biasa. Mungkin tulisan ini lebih cocok untuk gen milenial atau gen z, yang sayangnya tidak suka informasi lewat tulisan, lebih tertarik ke video, entah itu tiktok, youtube, dan sejenisnya.
Istilah baby boomer, gen x, milenial, gen z dan alfa, muncul pasca perang dunia kedua, entah mengapa. Tidak ada di era sebelumnya, entah itu romawi, yunani, atau majapahit dan sriwijaya di Indonesia. Kalau perang dunia kedua, itu tidak lama setelah Jerman kalah di perang dunia pertama, kemudian Hitler muncul ke permukaan setelah kecewa dengan pemenang perang. Lanjut ke perang dunia kedua, Jerman kalah lagi dan perlakuan berbeda, pemenang perang ‘mengayomi’ yang kalah perang. Walau ujung-ujungnya saat ini kelihatan belangnya, bukan mengayomi tapi menjaga agar tidak melawan lagi.
Kembali ke istilah-istilah generation, sepertinya pemimpin-pemimpin kita, entah negara luar maupun negara kita, generasi yang memimpin sepertinya tidak jauh dari generasi yang merasakan peperangan. Usianya pun sangat lanjut, misalnya Trump yang 70an, atau almarhum Khamenei yang 80-an. Generasi di bawahnya yang cepat berubah, dimana antara baby boomer dan gen x itu cukup jauh, tapi gen x, milenial dan gen z sangat cepat. Generasi ini belum diberi tanggung jawab memimpin level negara, tapi sudah harus mengikuti langkah generasi lama, yang mungkin secara psikologis masih ada memory berperang. Bahkan deprtemen pertahanan diganti jadi departemen of war yang diusulkan Trump.
Teknologi berkembang dengan cepat, beberapa bisa mengikuti, tapi generasi lama masih berpikir dengan cara lama. Lihat saja perang yang terjadi saat ini, Amerika dengan kapal induk, beserta pesawat canggih dan mahal, tampak dengan gagah muncul di TV (yang kemungkinan tidak lagi ditonton gen z) atau Youtube, mirip dengan perang di film Pearl Harbour atau Admiral Yamamoto. Sementara itu, Iran dengan cara yang berbeda meladeni dengan Drone, ala anak-anak gen z waktu bikin konten Youtube. Sejauh ini, biaya besar harus dikeluarkan oleh Amerika dan Israel, sementara Iran coba bertahan, yang kalau bisa bertahan dalam waktu lama, akan merepotkan Amerika Serikat. Negara adi daya ini selalu menggunakan jurus yang sama: menyusup ke dalam buat kisruh pemerintahnya agar diganti, lalu dicarikan pemimpin boneka, jika tidak, diserang dengan serangan udara, serangan darat, dan seterusnya. Bertarung dengan jurus yang itu itu saja, pasti beresiko, karena lawan sudah mempersiapkan diri.
Nah, kita lihat perkembangan selanjutnya, apakah Iran bisa segera ditaklukan, atau Amerika kehabisan tenaga dan ekonomi, belum lagi tekanan dari publiknya sendiri, yang saya yakin Gen z lebih suka perang di Mobile Legend atau PubG dari pada perang langsung.














