Menambahkan Tulisan terindeks Scopus ke Orcid

Dulu pernah menarik data dari Scopus ke Orcid. Ternyata ketika ada tambahan di Scopus ternyata Orcid tidak otomatis menarik data yang baru tersebut. Terpaksa harus masuk ke Scopus dan kirim data ke Orcid. Fasilitas tersebut disediakan di Scopus. Buka Sopus dan tekan “+Add to ORCID”.

Berikutnya diminta untuk otorisasi apakah Orcid yang akan diekspor memang benar-benar milik kita. Tekan saja tombol Authorize untuk masuk ke Orcid.

Berikutnya balik lagi ke Scopus yang sudah terkoneksi dengan Orcid. Ada sekitar enam langkah yang harus diikuti dimulai dari Select Profiles sampai Send Publications.

Tekan tombol Start dan ikuti seluruh tahapannya hingga selesai. Ok, langsung saja ke langkah 3 karena langkah 2 hanya memilih nama kita (yang memang cuma satu jika tidak ada masalah).

Pastikan seluruh paper milik kita. Jika sudah yakin tekan Next untuk lanjut. Langkah 4 bisa langsung next jika tidak ada kesalahan dalam publikasi yg akan dikirim ke Orcid. Isi email institusi beserta Confirm E-mail nya.

Setelah itu langkah terakhir tinggal menekan send publications list. Jika berhasil, Scopus akan menampilkan notifikasi di bawah ini. Sekian semoga bermanfaat.

Iklan

Memasukan Berkas HKI ke SIMLITABMAS Ristek-Dikti

Untuk bisa mengajukan proposal hibah penelitian Ristek-Dikti, seorang peneliti harus elibigle. Terkadang ada syarat-syarat eligible yang mengharuskan peneliti memiliki Hak Atas Kekayaan Intelektual (HKI). Postingan berikut ini bermaksud membantu rekan-rekan yang ingin memasukan HKI ke situs SIMLITABMAS.

Login terlebih dahulu ke SIMLITABMAS. Oiya, pilih login yang kiri, karena login yang kanan hanya untuk laporan pelaksanaan penelitian tahun 2018. Setelah itu, masuk ke menu profile dengan menekan nama kita di pojok kanan atas dan pilih Profile. Cari isian HKI, jika sudah ditemukan tekan tambah untuk menambah HKI yang baru tercatat.

Judul HKI sesuaikan dengan judul pada sertifikat. URL adalah link dimana lokasi resmi HKI. Sebenarnya ada QR code di sertifikat HKI yang berisi alamat URL HKI kita. Untuk membacanya silahkan foto dengan aplikasi pembaca QR, atau masuk ke website pembaca www.webqr.com.

Dengan memasukan gambar QR code dari sertifikat (dengan cara copas di-crop) maka di bagian bawah akan muncul alamat URL.

Perhatikan URL di bawah jika ditekan akan mengarah ke link HKI kita sesuai sertifikatnya. Link ini bebas diakses oleh siapapun (tidak perlu login ke DGIP).

Selesaikan isian dari pengisian nomor pendaftaran, status (isi dengan granted), hingga upload pdf sertifikat HKI. Setelah itu tombol Simpan di kiri bawah ditekan. Perhatikan, nanti akan muncul daftar HKI kita di profil SIMLITABMAS. Sekian semoga bermanfaat.

 

Metode Delphi dalam Penelitian Kuantitatif

Ketika riset tentang optimasi penempatan lahan, salah satu sumber referensi menggunakan satu metode untuk mengetahui kompatibilitas dan ketergantungan antara satu lahan dengan lahan lainnya. Metode tersebut dikenal dengan istilah Delphi. Entah mengapa diberi nama Delphi, yang saya tahu Delphi adalah nama bahasa pemrograman (dulu dikenal dengan istilah Pascal).

Prinsip Kerja

Metode Delphi sebenarnya mirip riset biasa yang menggunakan kuesioner dalam mengumpulkan data. Dengan skala Likert, responden diminta mengisi pertanyaan-pertanyaan. Untuk pertanyaan-pertanyaan yang umum ditanyakan dan sudah ada yang meriset sebelumnya, metode biasa berhasil digunakan. Tetapi untuk kasus-kasus yang unik, belum ada sebelumnya, melibatkan pakar-pakar, dan hal-hal lain yang bersifat sangat subyektif, di sinilah peran metode Delphi.

Ciri khas metode Delphi adalah memiliki iterasi dalam setiap tahapannya. Iterasi tersebut dikenal dengan istilah ronde. Mendengar istilah “ronde” jadi teringat saat tulisan syarat lulus (di jurnal internasional) direview hingga tiga ronde, sampai babak belur, hehe. Bagan di bawah diambil dari riset (Skulmoski & Hartman 2007).

Ronde pertama responden diminta mengisi kuesioner berdasarkan pemahaman dan kepakarannya. Biasanya dihasilkan jawaban-jawaban yang sangat beragam karena memang kasusnya unik, jarang ada, dan subyektif. Dimungkinkan juga responden sulit memahami istilah-istilah yang bisa saja karena bidang yang berbeda karena memang kasusnya multidisiplin.

Setelah dirangkum, hasil survey diberitahukan ke seluruh responden. Dengan demikian mereka dapat melihat apakah jawabannya sama dengan rata-rata jawaban orang lain. Diskusi diadakan baik wawancara langsung ke responden yang memiliki jawaban “aneh”, atau bisa dalam bentuk panel (pertemuan untuk diskusi). Setelah itu ronde kedua dijalankan, yaitu mengirim kuesioner yang sama untuk responden yang sama juga. Biasanya ronde kedua dihasilkan jawaban-jawaban yang tidak terlalu kontradiktif. Ronde berikutnya bisa dilaksanakan untuk kasus-kasus yang sulit menemukan konsensus antar respondennya.

Jumlah Responden

Responden untuk metode Delphi tidak sebanyak responden untuk riset biasa. Di sini diperlukan pakar yang memahami di bidangnya, dan juga berpengalaman langsung. Puluhan responden biasa digunakan dengan maksimal sekitar seratus orang. Jumlah responden sangat menentukan ronde dari metode Delphi, karena akan makin sulit menemukan konsensus dari jawaban-jawaban survey.

Silahkan baca riset-riset ini yang banyak tersebar di internet (Su & Canavari 2018; Rosowsky et al. 2018; Li et al. 2019).

Referensi

  • Li, Y. et al., 2019. Establishment of Indexes System for Bookcases Ergonomic Evaluation Based on Delphi Method. In F. Rebelo & M. M. Soares, eds. Advances in Ergonomics in Design. Cham: Springer International Publishing, pp. 303–311.
  • Rosowsky, E. et al., 2018. A cross-validation Delphi method approach to the diagnosis and treatment of personality disorders in older adults. Aging & Mental Health, 22(3), pp.371–378. Available at: https://doi.org/10.1080/13607863.2016.1261796.
  • Skulmoski, G.J. & Hartman, F.T., 2007. The Delphi Method for Graduate Research. Journal of Information Technology Education, 6.
  • Su, J.Y. & Canavari, M., 2018. Delphi study on country-of-origin labelling for processed foods. Agricultural and Food Economics, 6(1).

     

Benarkah “IT doesn’t Matter?”

Salah satu mata kuliah pasca yang rumit adalah mata kuliah “IT Strategic” karena melibatkan faktor-faktor sosial yang memang sulit diukur. Dalam salah satu buku wajibnya adalah buku yang berjudul “Corporate IT Strategic” karya Lynda M. Applegate. Dalam kolom khususnya, disinggung suatu tulisan yang cukup heboh seperti judul di atas, “IT Doesn’t Matter”. Singkatnya tulisan tersebut membahas IT yang saat ini tidak menjadi faktor penentu keberhasilan suatu organisasi. Beberapa survey dilakukan ke perusahaan-perusahaan dan hasilnya ternyata IT di organisasinya tidak memiliki dampak signifikan dibanding biaya yang dikeluarkannya. Sebabnya karena IT sudah menjadi barang umum yang hampir semua organisasi memiliki atau memanfaatkannya. Seandainya suatu perusahaan menerapkan IT sebagai strategi bisnis, toh perusahaan lain dengan mudahnya ikut menerapkan lewat membeli dari vendor-vendor IT yang banyak bermunculan.

Tulisan yang dipublikasi di majalah Harvard Business Review (HBR) oleh Carr edisi Mei 2003 tersebut membuat heboh bidang sistem/teknologi informasi. Maklum majalah terkenal itu merupakan bacaan wajib para pemerhati bisnis. Protes pun bermunculan.

Surat dari Petinggi Xerox

Terus terang buku itu tebal dan berat sekali bagi yang baru belajar membaca teks bahasa Inggris, termasuk saya waktu kuliah pasca dulu. Tapi sebenarnya sangat berbobot dan memiliki dampak yang signifikan terhadap perkembangan bisnis saat ini. Beragam surat balasan bermunculan, salah satunya dari Brown, seorang petinggi dari Xerox.

Brown menyindir Carr yang dalam menganalogikan IT dengan mesin, listrik, dan komponen-komponen industri lainnya. Sebaliknya IT sesungguhnya memiliki dampak yang tidak langsung dalam memberi keuntungan suatu perusahaan. Strategi yang dimunculkan oleh suatu perusahaan yang menerapkan IT dalam proses bisnisnya terletak pada inovasi-inovasi yang bermunculan dengan adanya perkembangan teknologi IT seperti internet yang kian cepat dan terjangkau, aplikasi-aplikasi yang kian mudah dibuat, dan sebagainya.

Disrupsi

Memang buku karya Applegate muncul sebelum era disrupsi yang mengahantam perusahaan-perusahaan besar hingga runtuh. Tetapi ternyata tidak membutuhkan waktu lama ketika era disrupsi yang dimotori oleh startup-startup seperti grab, gojek, fintech, airbnb, dan kawan-kawan menghancurkan perusahaan-perusahaan yang lalai bahwa perkembangan IT memungkinkan inovasi-inovasi bisnis yang bahkan muncul bukan dari pesaing tetapi dari pendatang baru yang tidak pernah dideteksi sebelumnya lewat metode konvensional, seperti Strengths, Weaknesses, Opportunity, and Threats (SWOT).

Bagaimana respon dari petinggi-petinggi organisasi lainnya selain dari Xerox, silahkan baca rujukan aslinya yang sangat seru (termasuk co-author buku tersebut, McFarlan), mirip baca novel-novel, tapi seputar dunia bisnis, dan sistem/teknologi informasi.

Referensi

Lynda M. Applegate, R.D. Austin, and F. W. McFarlan. “Corporate Information Strategy and Management – 7th Ed, Text and Cases”. New york, McGraw-Hill.

Mereview Paper

Sejak sekolah dasar kita sudah diajari membaca dan menulis. Ya, belajar membaca dulu baru menulis karena tanpa bisa membaca tidak mungkin bisa menulis, kecuali Cak Lontong dalam lawakannya mengatakan bahwa dia akan berencana menulis satu buku. Ketika diingatkan oleh rekannya bahwa dia sejak dahulu tidak bisa membaca, dengan santainya dia bilang “aku yang menulis, kan orang lain yang membaca”.

Membaca, Menulis dan Mereview

Me-review itu sendiri adalah proses membaca. Bedanya di sini kita harus bisa menemukan “sesuatu” dalam tulisan yang kita baca. “Sesuatu” di sini bukan sekedar informasi yang terkandung dalam suatu tulisan melainkan hal-hal lain yang luput dari sekedar membaca, antara lain: keunikan, orisinalitas, kekuatan dan kelemahan, temuan, dan hal-hal lain yang biasanya diminta ketika kita mereview suatu tulisan, khususnya artikel ilmiah. Biasanya yang perlu diperhatikan adalah novelty, metode, bahasa, research question, dan yang tak kalah penting adalah apakah artikel tersebut layak diterima pada jurnal/prosiding.

Suasana ketika mereview (sumber Fb Prof Teddy – Sampoerna Univ.)

Sebaiknya seorang reviewer paper adalah seorang yang sudah banyak menulis paper. Jika pernah menulis maka akan memahami kesullitan-kesulitan apa saja yang dihadapi ketika menulis. Hasil review nya pun akan sangat membantu si penulis tersebut, walaupun menyakitkan karena ditolak. Berbeda ketika yang mereview kurang banyak menulis atau bahkan tidak memiliki tulisan. Reviewer ini sulit menghargai sebuah tulisan yang memang dibuat terkadang sampai “berkeringat darah”.

Membaca Cepat

Membaca cepat bukan suatu keharusan, melainkan suatu kebutuhan. Bayangkan dalam setengah hari, terkadang dibutuhkan review sebanyak hampir 30 judul artikel, terutama jika ditunjuk menjadi Technical Program Committee (TPC) yang bertugas memutuskan suatu artikel secara keilmuwan layak publish atau tidak. Tentu saja cepat di sini bukan asal cepat secepat-cepatnya, melainkan bijaksana. Ketika membaca hal-hal yang kurang penting mungkin sekelebat, tetapi ketika melihat hipotesa, metode, dan hasil mungkin perlu di-rem sedikit.

Tahan Membaca

Ini tidak kalah penting. Percuma membaca cepat sekali tetapi baru setengah jam sudah KO, gagal fokus, dan menguap terus. Salah seorang pengacara kondang (sayangnya sekarang mendekam di penjara) memiliki kemampuan membaca berkas perkara setebal kitab suci hanya dalam waktu 30 menit. Saya yakin kemampuan itu karena seringnya dia membaca, dan yang pasti senang dengan apa yang dia baca. Naskah doctoral tesis saya dibaca oleh external examiner dari Jepang hanya dalam waktu beberapa hari. Atau mungkin dalam beberapa jam pelaksanaannya. Bukan Cuma skimming atau sekilas, tetapi serius dibaca kata perkata. Memang diakui, negara lain memiliki kemampuan membaca di atas kemampuan membaca negara kita.

Mungkin itu saja sharing informasi ketika sibuk mereview naskah untuk konferensi, siapa tahu bermanfaat. Perlu diketahui, dengan membaca naskah-naskah jurnal, banyak ide-ide yang dapat kita ambil sebagai pelajaran, walau sekecil apapun. Jangan lupa membaca. Jika Anda sampai membaca kalimat terakhir ini, maka berarti sudah dianggap gemar membaca, he he, dibanding kawan-kawan kita yang jadi korban hoax karena hanya baca judul-nya saja dari berita yang dishare lewat medsos.

Mengenal Istilah-Istilah dalam Audit Sistem Informasi

Audit SI merupakan subyek sistem informasi yang kian penting bahkan untuk bidang lainnya seperti accounting. Hal ini terjadi karena peran IT pada suatu organisasi yang kian penting dan melekat dengan sistem yang ada. Untuk bisa mengikuti perkembangan audit SI ada baiknya mengenal terlebih dahulu istilah-istilah yang kerap digunakan dalam literatur Audit SI.

  • GEIT: Governance of Enterprise IT. Atau sering diistilahkan dengan IT governance.
  • COBIT: Control Objective for Information and Related Technology. Saat tulisan ini dibuat masuk COBIT versi 5.
  • ITIL: Information Technology Infrastructure Library.
  • TOGAF: The Open Group Architecture Framework.
  • ISO: International Organization for Standardization. Untuk audit: ISO27001 dan ISO/IEC 38500:2008.
  • ISACA: Information Systems Audit & Control Association. Merupakan badan pencetus COBIT.
  • GRC: Governance, Risk, and Compliance
  • ISCA: Information Systems Control and Audit. Istilah lain dari Audit SI yang sering digunakan di kampus lain di luar negeri.
  • CEO: Chief Executive Officers, CFO: Chief Financial Officer, dan CIO: Chief Information Officers. Merupakan jabatan-jabatan level atas dalam manajemen.
  • ERM: Enterprise Risk Management
  • FAS: Financial Accounting Standards
  • IAS: International Accounting Standards

Mungkin istilah-istilah di atas merupakan istilah yang sering dijumpai berualang kali di buku Audit SI. Ada baiknya selalu diingat agar membacanya jadi lancar. Juga istilah-istilah asing seperti compliance, conformance, governance, dan lain-lain ketika membaca rujukan asing. Berikutnya istilah-istilah dalam proses audit, antra lain:

  • Exposure. Yaitu seberapa besar kehilangan yang diakibatkan dari resiko yang terjadi.
  • Threat. Suatu entitas, lingkungan, kejadian, atau hal-hal lain yang berpotensi membahayakan sistem perangkat lunak atau komponen-komponennya lewat akses yang tidak diperbolehkan/diijinkan, perusakan, modifikasi ilegal, denial of service, dan sejenisnya.
  • Likelihood. Seberapa besar kemungkinan threat menyerang sistem yang ada. Oleh karena pengamanan harus diberikan menyesuaikan likelihood suatu threat yang dianalisa.
  • Attack. Merupakan aksi nyata dari threat yang mengakses sistem secara ilegal. Biasanya attack ini berasal dari luar yang mengeksploitasi ketersediaan sistem yang ada agar berhenti/tidak bekerja.
  • CIA: Confidentiality, Integrity or Availability. Tiga komponen kemananan yang menjaga sistem yang ada dan selalu dijadikan target sasaran attack.
  • Risk. Potensi yang mungkin terjadi ketika ada eksploitasi dari attack yang merusak availability/ketersediaan, sehingga merusak aset yang ada. Risk analysis diperlukan untuk menganalisa seberapa besar potensi suatu resiko berpengaruh terhadap organisasi.

Mungkin istilah-istilah di atas dapat membantu untuk membaca literatur tentang Audit Sistem Informasi. Mudah-mudahan bermanfaat, salah satunya bagi saya yang sering lupa, selamat belajar Audit SI.

Fokus Mengasah Kuku dan Taring, Bukan Hanya Mengisi Perut

Tidak dapat dipungkiri, pekerjaan mengajar di Indonesia masih berfokus pada jumlah jam mengajar. Teringat ketika di awal-awal saya menjadi tenaga pengajar honorer. Prinsipnya adalah mengajar sebanyak-banyaknya. Alhasil, berangkat pagi pulang malam hari. Rekan saya berkelakar, “dari terbit fajar hingga terbenam mata satpam”.

Namun di sela-sela melakukan aktivitas “kejar paket SKS” itu saya melihat beberapa rekan pergi ke luar kampus. “Ke mana mas?”, tanya saya dengan dugaan dia menjawab mengajar di kampus lain. Ternyata tidak, “kuliah”, jawabnya. Ternyata mengambil magister. Saya tertegun dan mulai berfikir ulang mengenai konsep mengajar sebanyak mungkin.

Ternyata benar, tidak beberapa lama kemudian aturan baru muncul, dosen harus S2. Ibarat macan, para dosen yang S1 seperti kurang tajam kuku dan taringnya, bahkan dipaksa S2. Sementara perut yang sudah kebanyakan diisi perlu beradaptasi untuk mengasah kuku dan taring di perkuliahan pascasarjana.

Bagaimana dengan bidang lain selain dosen? Ada sedikit pengalaman dari rekan saya yang suaminya bekerja di Industri, bagian SDM. Waktu itu saya lihat rumahnya masih sederhana dengan kendaraan mobil tua yang murah dan boros BBM. Istrinya bercerita suaminya sangat gemar “mengumpulkan” sertifikat-sertifikat keahlian. Selang beberapa tahun (tidak lebih dari 4 tahun), suaminya selalu pindah kerja ke kantor lain dengan salary yang lebih besar. Namun tetap dia masih gemar “mengumpulkan” sertifikat-sertifikat. Tentu saja mengumpulkan di sini artinya mengikuti ujian-ujian dan kursus-kursus keahlian, sesuai bidangnya yaitu SDM. Kini kehidupannya sangat baik dibandingkan dahulu.

Keahlian beragam, tidak harus sertifikat ataupun gelar/ijasah. Saya teringat ketika bekerja di bank. Saya sering memperhatikan para manajer-manajer dengan grade/level tinggi, karena memang kerjaan saya waktu itu memastikan infrastruktur IT divisi-nya berjalan normal. Kebanyakan mereka memiliki keahlian khusus yang tidak didapat dari perkuliahan, melainkan dari pengalaman dan pelatihan-pelatihan yang diikuti. Misalnya di bagian, kolektor, entah teknik apa yang digunakan, ketika dia memasuki bagian tersebut, kinerja penagihan berjalan dengan baik dibanding sebelumnya.

Ibarat sang macan. Memang mengisi perut itu penting, tetapi dengan cakar dan taring yang kuat dan tajam, dengan mudah makanan diperoleh. Kecuali memang ingin bekerja rutin tanpa tantangan dengan gaji yang mengalir rutin seadanya, pensiun dan menerima tunjangan yang cukup, itu pilihan. Tapi kalau dilihat dari sisi bangsa dan negara, tentu saja khawatirnya akan jadi mangsa macan-macan dari negara-negara lain. Macan-macan bertaring yang dulu gagah pun, satu persatu rontok seperti blackberry, nokia, fuji film, dan lain-lain. Apalagi munculnya fenomena disrupsi, bukan tidak mungkin fenomena ini merambah ke bidang-bidang nyaman lainnya seperti sekolah, kampus, dan sejenisnya. Sudah kan Anda mengasah kuku dan taring Anda hari ini?