Tidak sadar, libur lebaran sudah mau selesai dan besok harus kembali bekerja. Entah mengapa kali ini terasa berbeda dari lebaran-lebaran sebelumnya. Dapat dipastikan karena status pegawai baru saya di kampus Universitas Nusa Putra, khususnya di program pasca sarjana School of Computer Science.
Rasa syukur karena pengunduran diri di november lalu, disetujui per 1 Februri, tapi baru diberi tahu pertengahan bulan, sekitar tanggal 12, nah lho. Dalam keadaan masih aktif bekerja, tiba-tiba ditengah jalan harus berpisah, tentu saja tanpa gaji. Untungnya, surat segera diberikan ke kampus baru dan segera aktif bekerja di tanggal 13 Februari, sungguh proses kilat yang kalau tidak karena kenal dengan pemilik kampus tidak akan bisa. Bayangkan saja, menghadapi lebaran tanpa gaji dan tanpa THR. Uniknya, mulai kerja di pertengahan bulan, dengan take home pay yang sama dengan take home pay sebulan kampus lama.
Begitulah, jalan hidup yang terkadang seperti tidak ada pilihan, tahu-tahu sudah berganti kostum kampus lain. Biasanya orang resign setelah lebaran, ini sebelum lebaran. Kalau dibilang nekat ya nekat, dibilang tidak nekat ya memang sudah dipikirkan matang-matang, dan yang penting jujur, tanpa ada trik atau akal-akalan. Mengapa hal ini terjadi?
Beberapa hari yang lalu, anak saya beli buku berjudul the Let Them Theory karya Mel Robbins. Intinya buku itu bercerita bahwa dalam kehidupan ada hal-hal yang bisa kita kontrol, ada hal-hal yang tidak bisa kita kontrol. Yang bisa kita kontrol adalah hal-hal yang kita merdeka dalam melaksanakannya, respon kita terhadap sesuatu, dan sejenisnya. Sementara yang tidak bisa kita kontrol, disebut ‘let them’, sesuai judul buku, biarkan saja mereka bertindak.
Kembali ke kondisi kerja sebelumnya, saya tidak bisa memaksa kampus menjadikan pimpinan, misalnya dekan, wakil rektor atau rektor, karena memang dipilih oleh yayasan, atau dipilih oleh voting setelah proses presentasi di senat. Jadi itu masuk kategori ‘biarkan saja’. Nah, seperti mata uang koin, dua sisi, ada ‘biarkan mereka’ – ‘let them’, ada ‘biarkan aku’ – ‘let me’. Jika biarkan saja kita tidak bisa mengontrol, biarkan aku itu lah yang bisa kita kontrol.
Dengan ‘biarkan aku’ saya bisa menentukan, misalnya upgrade skill, ambil S2 dan S3, urus kepangkatan hingga serdos menjadi orang pertama di fakultas. Ketika kondisi sudah mentok, sebagai kaprodi, dan kondisi terakhir lulus sebagai asesor, baik asesor BKD serdos, maupun asesor akreditasi LAM Infokom, tentu saja karena tidak bisa mengontrol posisi ‘biarkan mereka’, mulailah fokus ke ‘biarkan saya’ – ‘let me’ bertindak.
Diawali dengan meluaskan jejaring/network, kenal dengan kampus-kampus lain, skill dan ‘cakar’ sudah cukup dikenal, dan sudah ‘mentok’ di kampus lama, akhirnya mulailah mengajukan resign. Seperti biasa, resign dari kampus tidak seperti perusahaan, harus sampai selesai 1 periode semester. Akhirnya dengan sisi lain dari ‘biarkan mereka’ yakni ‘biarkan aku’ bertindak, hal-hal yang tidak bisa saya kontrol/kendalikan, saya alihkan ke hal-hal yang bisa saya kontrol/kendalikan. Begitulah jalannya.
Perpisahan tidak bisa dihindari, untungnya berpisah dengan baik-baik dan kondisi yang tepat juga dimana kampus diambil alih oleh organisasi terbesar di Indonesia, dan keluar tidak ada yang tersakiti. Uang pesangon yang diterima dari kampus lama karena syarat alih kelola bisa dimanfaatkan untuk ambil rumah baru, dan ada kenang-kenangan vespa hitam yang tidak akan dijual, karena ketika melihatnya akan teringat kenangan di kampus lama, kampus yang sudah berjasa, mulai dari sebagai satu-satunya organisasi yang mengangkat jadi karyawan tetap (setelah beberapa tahun menjadi tenaga honorer serabutan) hingga studi lanjut hingga S3. Tadinya saya pikir, akan pensiun di kampus tersebut karena jasanya, tetapi pensiun lebih awal karena alih kelola. Perpisahan dengan Yayasan lama pun sudah terjadi.
Demikianlah jalan kehidupan yang tidak bisa ditebak. Yang penting tetap berkarya dan berguna bagi nusa dan bangsa. Sekian semoga anda tertarik membaca buku ‘The Let Them Theory’ tersebut. Wasalam.















