Bagimu Iseng-Iseng, Bagi Kami adalah Etika

Bagi editor mengelola jurnal merupakan pekerjaan yang melelahkan. Dimulai dari mencari naskah tulisan lewat promosi ke medsos, grup WA, email, hingga ke editing sesuai gaya selingkung jurnal. Jika kekurangan naskah, terpaksa tulisan yang ada diterima dengan konsekuensi kualitas jurnal akan jatuh dari sisi konten. Jika naskah berlebih, maka butuh waktu untuk mereviewnya, dan repot jika hampir semua naskah tersebut tidak layak terbit, ujung-ujungnya memaksa beberapa tulisan untuk diterbitkan.

Jurnal ber-ISSN yang dulu hanya untuk naik pangkat sekarang memiliki banyak manfaat lainnya, dari syarat laporan serdos, syarat hibah, syarat lulus kuliah hingga sekedar memperoleh insentif dari kampus tempat mengajar. Sehingga lama-kelamaan filosofi meneliti mulai bergeser. Dari pengalaman mengelola jurnal, mereview dan meneliti berikut ini mungkin harus dihindari.

1. Multiple Submission

Untuk mempublikasikan satu naskah membutuhkan waktu yang cukup lama, dari submit, review hingga publikasi. Terkadang satu tulisan perlu direvisi berkali-kali sebelum re-submit. Nah, banyak penulis yang mengirim tulisan yang sama ke berbagai jurnal dengan harapan siapa yang duluan accept itulah yang dipilih. Boleh saja kan? Bagi yang menjawab boleh perlu sedikit mengetahui hal-hal berikut.

Sebuah naskah paper hanya boleh publish di satu jurnal. Jika dipublikasikan lebih dari satu jurnal maka walaupun ditulis oleh penulis yang sama tetap dianggap plagiarisme. Di sini konflik muncul ketika dua atau lebih penerbit mempublikasikan tulisan yang sama tersebut. Silahkan menjawab dengan kalimat “bodo amat”, tetapi resiko Anda tanggung sendiri. Oiya, bukan hanya Anda tapi kampus tempat Anda bernaung juga ikut menanggung malu. Mengapa? Hal ini terjadi karena Ristek Dikti sudah membuat satu alat pengecekan naskah Anda di link ini: http://anjani.ristekdikti.go.id/pelaporan/retraksi.

Situs yang bernama Anjani itu membahas penyimpangan-penyimpanan yang terjadi. Bagi pengelola jurnal sih gampang saja, tinggal cabut saja tulisan bermasalah itu dan beres. Tetapi data “kenakalan” Anda akan terekam hingga anak cucu Anda.

2. Review Gratis

Terkadang review dibutuhkan untuk perbaikan naskah kita. Ketika disubmit, editor akan mengirim naskah itu ke reviewer untuk dinilai. Entah diterima atau tidak, hasil review sangat bermanfaat untuk kesempurnaan tulisan tersebut. Nah, masalah muncul jika penulis sengaja hanya ingin dicek saja, dan ketika naskah dinyatakan diterima (baik lewat mayor atau revisi minor) si penulis menarik (withdraw) tulisan tersebut. Pernah sekali jurnal saya mengalami hal yang sama. Silahkan jika Anda ingin seperti itu, tapi perasaan seorang editor yang sakit akan dibalas oleh Tuhan. Memang tidak ada hukuman real dari pengelola jurnal dan pemerintah, tetapi saat ini dimana medsos, komunikasi komunitas yang transparan, “blacklist” terkadang berlaku secara tidak langsung. Nama Anda akan masuk daftar penulis nakal yang perlu diwaspadai ketika submit tulisan di jurnal tetangga.

3. Tidak Mau Merevisi

Tentu saja jika tidak mau merevisi, tinggal reject saja. Ya, itu berlaku untuk jurnal yang sudah level mengengah ke atas. Tetapi untuk jurnal yang pas-pasan, hidup segan mati tak mau, sebuah tulisan sangat penting. Terkadang memang si penulis hanya untuk “gugur tugas saja”, seperti laporan BKD serdos, dan sejenisnya (kinerja pegawai). Dengan kekuasaannya terkadang “memaksa” editor untuk mempublikasikan tulisannya. Perlu disadari pekerjaan editor sangat melelahkan, dari menyiapkan OJS, merawat jurnal, mengedit tulisan, dan lain-lain. Jika berhasil, kualitas jurnal naik, dan si penulis pun terbantu ketika akreditasi jurnal tersebut baik. Terkadang editor meminta kualitas gambar yang jelas, seting layout yang harus mengikuti template jurnal dan lain-lain. Oiya, editor bukan menekan Anda untuk memperbaiki naskah tetapi justru memperbaiki kualitas karya Anda. Baik buruknya jurnal tergantung dari bukan saja pengelolaan jurnal, tetapi reviewer dan juga Anda sebagai penulis. Bantulah jurnal tempat Anda mempublikasikan karya Anda agar kualitasnya meningkat dengan memperbaiki kualitas tulisan Anda ketika diminta revisi.

4. Permainan Author dan Co-Author

Yang paling sering terjadi adalah seorang dosen yang mengambil karya mahasiswa tanpa menyertakan si mahasiswa. Editor juga seorang dosen, pasti tahu tulisan itu karya siswa atau tidak. Bahkan saking “kasar”nya, masih ada kata-kata skripsi dalam naskah yang dikirim ke editor dan tertulis hanya nama dosennya. Sungguh tidak etis dan pernah terjadi hal demikian hingga oleh si mahasiswa dibawa ke ranah hukum. Akibatnya si dosen menjadi malu.

Bagaimana dengan urutannya? Sebagian besar menempatkan si mahasiswa sebagai penulis utama dan dosen pembimbing sebagai co-author. Tetapi diperbolehkan ketika si dosen menggabungkan beberapa karya bimbingannya menjadi satu naskah atau menambahkan metode yang meng-improve atau meningkatkan akurasi hasil risetnya. Untuk rekan-rekan yang kuliah di Jepang sedikit berbeda, si profesor pembimbing memaksa dia menjadi penulis utama. Hal ini menurut saya sangat dimaklumi. Berbeda dengan di Indonesia dimana riset mahasiswa tidak terkait dengan industri dan proyek pembimbing. Di sana terkadang pihak industri memesan riset tertentu, seperti misalnya mencari kualitas komposisi bahan yang baik untuk rem. Si dosen membagi tugas-tugas proyek itu ke mahasiswa-mahasiswa. Ketika menguji, mencari data, si dosen terkadang sangat ketat memantau, memberi panduan, dan harus mengikuti standar yang ada. Si Dosen harus mempertanggungjawabkan hasil riset ke industri sehingga seolah-olah mahasiswa hanya kepanjangan tangan dari dosennya. Memang terkadang inovasi, ide, dan temuan bisa muncul dari mahasiswa. Tetapi karena ide penelitian berasal dari dosen maka mereka merasa si pembimbinglah yang layak menjadi penulis utama. Ristekdikti sepertinya melihat hal ini sehingga membolehkan Co-author memperoleh hak setara dengan Author (penulis satu), dengan syarat co-author tersebut sebagai corresponding author, yaitu yang mengurus submit, review, dan hal-hal administratif lainnya.

Mungkin banyak hal-hal rumit lainnya dalam perjurnalan yang bisa ditulis di kolom komentar untuk dibahas bersama, sekian semoga menginspirasi.

 

Menghitung Resiko (Risk)

mk.keamanan.jaringan.dan.sistem.informasi

Manajemen resiko dibutuhkan ketika suatu keputusan akan diambil dalam suatu organisasi. Dalam keamanan sistem informasi pun diperlukan analisa terhadap resiko yang mungkin terjadi ketika suatu sistem baru akan diterapkan. Resiko merupakan akumulasi perkalian antara seberapa besar konsekuensi terhadap seberapa seringnya terjadi.

Pada rumus di atas ada variabel m yang merupakan faktor-faktor resiko. Faktor-faktor ini harus dirumuskan oleh orang yang ingin menghitung skor resiko. Faktor resiko diperoleh lewat:

  • Sejarah
  • Analisa
  • Pengetahuan

Contoh Perhitungan

Misalnya ada kebijakan untuk merubah sistem akademik dari manual menjadi online. Bagaimana menghitung skor resikonya? Pertama-tama tentu merinci faktor-faktor resikonya. Tiap orang tentu saja berbeda-beda tergantung pengalamannya. Makin berpengalaman seseorang maka makin akurat perhitungan skor resikonya. Misalnya faktor resikonya antara lain:

  • Jadwal perkualiahan kacau di awal, sehingga mahasiswa banyak yang salah masuk kelas, bahkan bisa terjadi demonstrasi. Untuk faktor ini misalnya konsekuensi=4 dan frequency=4 dengan alasan sangat berdampak pada reputasi kampus. Sementara frekuensi besar mengingat kampus tersebut suka sekali demonstrasi.
  • Banyak dosen yang tidak bisa mengajar sesuai jadwal karena sistem bisa saja kesulitan mengaturnya. Konsekuensi=2 dan frekuensi=3. Dalam hal ini misalnya kampus dengan mudah mencari dosen pengganti dan tidak terlalu berdampak. Sementara frekuensi 3 karena kejadian tersebut jarang terjadi dan sudah biasa ditangani oleh pihak tata usaha.
  • Reputasi pembuat sistem dipertanyakan karena baru dua kali menangani sistem, itu pun tidak serumit yang akan diterapkan di kampus tersebut. Di sini konsekuensi=5 (maksimal) dan frekuensi juga 5 karena berdasarkan informasi kampus-kampus lain banyak yang harus disinkronkan antara sistem dengan pengembang, sehingga butuh pengembang yang berpengalaman.

Misalnya hanya tiga faktor saja yang dibahas, dengan skor dari 1 hingga maksimal 5. Maka total resikonya diperoleh dengan mengalikan konsekuensi dengan frekuensi di tiap-tiap faktor: 4×4 + 2×3 + 5×5 = 47 yang jika dirata-ratakan = 15,7. Perhatikan tabel di bawah ini, maka skor resiko masuk dalam kategori High Risk. Sekian, semoga bermanfaat.

Melihat Network Hasil Training dengan NNTOOL

Secanggih apapun alat bantu tetap saja kita butuh pengetahuan akan prinsip-prinsip kerjanya. Begitu pula Matlab yang dalam meramu Jaringan Syaraf Tiruan (JST) menawarkan toolbox NNTOOL. Selain dengan toolbox berbasis Graphic User Interface (GUI), Matlab di versi awal hanya menyediakan toolbox berbentuk fungsi, yaitu newff.

Pelatihan/Training

Sebagai contoh kasus, misalnya kita diminta meramu JST untuk merubah masukan menjadi keluaran berdasarkan logika XOR. Perlu diketahui, riset JST sempat terhenti karena tidak sanggup menyelesaikan kasus sederhana tersebut. Barulah setelah multilayer JST baru dapat diselesaikan masalah tersebut. Pertama-tama kita siapkan dulu data trainingnya:

  • >> data=[1 1 0 0; 1 0 1 0];
  • >> target=[0 1 1 0];
  • >> net=newff(data,target,[2]);
  • >> net=train(net,data,target);

Berikutnya akan muncul jendela progress pelatihan. Karena hanya sederhana, prosesnya cepat.

Untuk menguji hasil training tes saja dengan mensimulasikan JST dengan input data. Pastikan outputnya sesuai dengan target.

  • >> sim(net,data)
  • ans =
  • 0.9980 0.9845 0.9612 0.5277

Perhatikan jawaban di atas, cukup banyak error-nya, harusnya [0 1 1 0]. Ok, anggap saja sudah akurat. Setelah disimpan dengan mengetik “save xor” di command window network tersimpan dalam bentuk file xor.mat yang siap digunakan nanti. Jika tidak disimpan maka ketika Matlab dimatikan maka hasil pembelajaran (training) tentu saja akan hilang.

Melihat Bobot dan Bias

Nah, untuk melihat bobot dan bias banyak yang tidak mengetahui. Padahal inti dari teori JST adalah bagaimana menemukan bobot dan bias yang tepat. Jalankan NNTOOL dengan mengetik nntool pada command window.

>>nntool

Jendela Network/Data Manager akan muncul. Tekan Import untuk melihat network hasil pembelajaran.

 

Berikutnya klik ganda net pada sisi Networks untuk melihat isi dari JST yang pernah kita latih dulu. Lihat sisi Weight/Bias. Bobot dan bias tampak di tiap sisi, baik masukan, hidden layer dan keluaran. Selamat mencoba.

 

Pengindeks Bereputasi

Walaupun “doctor of philosophy” tidak berarti doktor filsafat, tidak ada salahnya saya menulis yang sedikit berbau filsafat. Sebagai cabang ilmu yang mempertanyakan segala sesuatu baik yang biasa hingga yang sensitif sudah tentu filsafat bisa digunakan untuk menjawab hal-hal yang saat ini menjadi polemik, salah satunya adalah Scopus, suatu pengindeks yang menjadi patokan utama penilaian kinerja peneliti-peneliti di tanah air.

Sebenarnya lama menanti pro-kontra masalah scopus yang ditulis oleh rekan-rekan yang memiliki background filsafat, tetapi hingga saat ini belum juga ada yang share. Paling banter dari ketidaksetujuan peneliti yang memiliki h-index Scopus tinggi terhadap Scopus itu sendiri, sehingga terkesan tidak memihak, berbeda dengan protes Scopus oleh yang tidak memiliki kinerja Scopus yang baik. Dan seperti dugaan saya, seperti berbalas pantun, tiap pantun dibalas pantun pula. Tiap penentuan Scopus oleh pemerintah dianggap salah, dibalas oleh pemerintah dengan menambah bobot faktor Scopus, baik di penilaian angka kredit, hingga ke dapur peneliti, yaitu syarat hibah. Makin banyak peneliti yang defisit Scopus tidak eligible mengajukan proposal skema tertentu, sehingga peneliti yang memiliki Scopus yang baik memiliki peluang besar untuk lolos proposalnya karena minim saingan (ups .. pengkritik yang ber-Scopus tinggi tersebut tambah berpeluang lolos dong).

Jawaban Trivial

Ketika belajar matematika waktu kuliah dulu, ketika membahas persamaan orde tinggi si dosen memperkenalkan istilah jawaban trivial. Masih berkesan bagi saya ketika beliau menjelaskan bahwa ketika melawan rudal Jerman, Inggris menggunakan jawaban trivial berupa radar. Tentu saja radar yang seadanya karena teknologi yang masih belum berkembang. Rudal yang ditembakan Jerman dapat diketahui arahnya, bahkan sebuah kolam dibuat untuk menampung rudal-rudal kiriman tersebut agar tidak meledak (kayak petasan yang melepes). Radar cukup efektif, tetapi pada suatu saat, si pembaca radar melihat begitu banyak rudal akan melintasi Inggris yang tentu saja tidak akan sanggup dihalau, apalagi hanya dengan kolam. Kabar tersebut membuat ciut, dan bahkan sudah banyak yang berdoa, semoga setelah mati bisa masuk surga. Ternyata, tuhan hanya iseng saja. Ratusan rudal yang tertangkap radar hanyalah sekawanan burung yang sedang migrasi, hehe. Nah, hubungannya dengan pemilihan Scopus menurut saya adalah jawaban trivial. Jika negara kita sudah memiliki indeksasi yang mendekati kualitas Scopus tentu saja tidak perlu membayar Scopus. Jika tidak menggunakan indek apapun, bagaimana mengukur kinerja penelitiannya? Lewat penilaian rekan sejawat yang setia bersama dalam suka dan duka? Atau lewat penilai PAK Dikti yang baik hatinya?

Publish atau Jadi Sampah?

Halley merupakan ahli astronomi ternama. Kemampuan mengamati langit lewat teropong ajaibnya di jamannya tidak ada tandingannya. Dia terkejut ketika ramalannya lewat alat eksperimennya ternyata tepat sama dengan perhitungan Isac Newton. (Kalau saya mas Halley mungkin dalam hati udah ngomong “kampret!!”). Datanglah dia bertemu Newton di Inggris. Setelah dialog dan diskusi dengan Newton, Halley terkejut dengan rumus-rumus Isac Newton yang belum diketahui saintis di kala itu. Lihat infonya.

“Mengapa tidak kau publish? Bukankah banyak pelajar dan peneliti yang membutuhkan teori-teori mu?”, kira-kira begitu kata Halley. “Bagaimana caranya? Tidak ada yg bersedia?”, Jawabnya. “Begini, saya punya modal, kamu punya ilmu. Bagaimana jika kerja sama? Saya yang bantu mempublikasikan, kamu yang menulis teori-teorinya?”, kata Halley. Bisa dibayangkan jika teori-teori Newton tidak ada yang menyebarkan, perkembangan ilmu akan lambat, padahal riset membutuhkan kerjasama antar peneliti baik sebidang maupun yang berbeda bidang ilmunya. Jika Halley kita ibaratkan penerbit/publisher, maka Newton adalah peneliti-peneliti di seluruh dunia. Scopus, WoS, dan sejenisnya adalah yang membantu mengelola tulisan-tulisan ilmiah. Memang, ada yang berbayar, gratis, dengan karakteristik lain yang khas. Memang “jer basuki mowo beo”, sesuatu butuh biaya. Membantu menyimpan/mengarsipkan dijital, mereview, dan pengecekan lainnya oleh editor jurnal membutuhkan biaya, berbeda dengan Youtube, Facebook, atau Instgram yang gratis menyimpan gambar atau file karena banyak iklan dan endorse-endorsan lainnya, sebagai sumber profit. Jurnal tentu saja minim pembaca/pengguna, paling pelajar, peneliti, dan industri. Kalau ada iklan malah mencurigakan. Yang open access menadapat profit dari yang “menitip” tulisan, yang non-open access mendapat profit dari perpustakaan yang berlangganan jurnalnya.

Sitasi, H-index ?

Memang dunia terus berkembang dan berusaha menjadi sempurna. Ketika belum ada mesin, kereta ditarik oleh kuda, bahkan di Cina oleh orang. Ketika kendaraan menimbulkan polusi, mesin listrik dibuat, atau dengan ganjil-genap kayak di Jakarta, hehe. Ketika orang mengusulkan sitasi sebagai penilai performa, yang lain menunjukan kelemahannya, begitu pula H-index. Tidak perlu lah kita mengikuti Karl Marx yang ingin menghapus negara karena dianggap brengsek mengingat banyak teori-teori lain yang bisa membenahi negara yang brengsek tersebut. Ambil contoh saja kita saat ini yang tidak ingin mengganti Go-jek yang diawal kontroversial dan banyak kelemahan tetapi karena mereka kita biarkan membenahi, akhirnya jadi lebih baik, muncul Go-send, Go-food, dan mungkin nanti Go-paper (upss.. sorry bercanda). Sekian mudah-mudahan terhibur.

Akreditasi Jurnal Nasional

Setelah beberapa waktu yang lalu banyak dosen, termasuk saya, diminta revisi laporan kinerja dosen karena tidak memasukan penelitian maka saat ini jurnal menjadi favorit di kalangan dosen. Cukup dengan satu naskah di jurnal ber-ISSN maka tunjangan dapat segera dicairkan. Tetapi untuk kepangkatan, bobot jurnal yang hanya ber-ISSN sangat kecil. Oleh karena itu jurnal yang terakreditasi saat ini banyak dicari karena bobotnya dua setengah kali jurnal yang hanya ber-ISSN.

Saat ini jurnal yang terakreditasi ada dua kategori, yang sudah ada sertifikatnya dan yang hanya terindeks SINTA. Jurnal yang sudah terindeks SINTA tidak serta merta memperoleh sertifikat akreditasi nasional. Harus mendaftarkan/mengajukan diri untuk akreditasi di situs resmi ARJUNA. Silahkan sign-up terlebih dahulu di link berikut ini.

Syarat-Syarat

Salah satu hal memberatkan yang menyulitkan jurnal yang terindeks SINTA untuk mengajukan akreditasi adalah Digital Object Identifier (DOI), yang merupakan indeks berbayar. DOI mirip Scopus yang mencatatkan makalah-makalah jurnal yang mengajukan untuk meminta nomor DOI untuk tiap naskah yang ada di dalamnya. Repotnya lagi, untuk mengajukan akreditasi, empat edisi harus sudah memiliki DOI di tiap-tiap naskahnya. Jika per edisi 5 tulisan (minimal syarat akreditasi) maka butuh 20 DOI untuk akreditasi.

Syarat-syarat lainnya adalah adanya informasi mengenai dewan redaksi, peer-review/reviewer/mitra bestari dan lain-lainnya. Oiya, sebagai perkenalan berikut ini adalah jurnal PIKSEL yang saya kelola. Silahkan berkunjung.

Tahapan Akreditasi

Jika syarat-syarat terpenuhi maka kita tinggal mengklik submit. Ada beberapa cheklist yang wajib ada (salah satunya DOI). Prosesnya terkadang cepat, terkadang seperti yang saya alami lumayan lama. Tahapan-tahapannya antara lain: evaluasi dokumen, proses penilaian, penetapan akreditasi, dan penerbitan SK akreditas.

Yuk, bantu-bantu jurnal nasional yang kebanyakan tak berbayar lewat artikel-artikel berkualitas dan juga bersedia menjadi reviewer. Proses masih dalam tahap evaluasi dokumen, jika sudah masuk tahap proses penilaian akan tampak seperti gambar berikut. Sekian semoga bermanfaat.

Memutar (Rotate) Teks Diagram Dari Visio Pada Word

Terkadang gambar yang dibuat di Visio dan sudah ditempel di Word harus diputar karena secara default miring. Hal ini sedikit mengganggu pembaca, termasuk reviewer yang me-review artikel tulisan kita. Postingan ini sedikit men-share tip singkat bagaimana memutarnya agar sama dengan tulisan. Perhatikan diagram di bawah yang memperlihatkan teks pada diagram yang miring.

Berikut adalah langkah-langkah sederhana yang bisa dilakukan di Word. Cara ini bisa dijalankan dengan syarat gambar yang ditempel bukan image (jpg/bmp/png) melainkan bawaan visio (select all dari visio dan di-paste di word).

1. Dobel Klik dan Masuk ke Visio Lewat Word

Dobel klik pada teks yang akan diputar, misalnya pada “Get API ..”. Setelah itu kita akan masuk ke menu editing Visio via Word.

2. Pilih Rotate Tools

Berikutnya ketika masuk ke Visio editing, pilih simbol rotasi. Dilanjutkan dengan memutarnya. Jangan lupa mengedit tulisan agar tidak keluar kotak diagram. Bisa dengan cara enter di suatu kata atau dengan melebarkan ukuran bagan. Hasilnya kira-kira sebagai berikut, selamat mencoba.

Instal Python 2.7.x untuk NLTK Pada Windows 10

Python versi 2 ternyata masih powerful untuk menangani pekerjaan semantik analisis dengan fasilitas tambahannya yang terkenal yaitu natural language toolkits (NLTK). Postingan ini sedikit mengulang bagaimana menginstal versi 2 tersebut. Untuk yang ingin menginstal versi 3 64 bit yang biasanya digunakan untuk menangani Keras dan TensorFlow silahkan lihat postingan terdahulu.

Situs Resmi Download Python 2.7.3

Python versi ini ternyata tidak bisa menjalankan PIP untuk instal NLTK, silahkan menuju bagian bawah postingan ini (install python 2.7.14). Ada baiknya mengunduh sendiri source python dan dari situs resminya agar terhindar dari masuknya virus atau malware. Silahkan akses ke situs berikut. Cari versi yang diinginkan lalu tekan Download.

Ada banyak pilihan, tetapi untuk NLTK yang dipilih ada versi 32 bit, bukan yang 64 bit. Setelah file “msi” diunduh, jalankan installer tersebut.

Tunggu beberapa saat hingga selesai, ditandai dengan menekan Finish. Yang terpenting kita harus mengetahui lokasi instalasi Python tersebut untuk dilanjutkan ke seting environment.

Seting Environment Python.

Tidak serta merta ketika python diinstal langsung bisa dimanfaatkan. Terlebih dahulu perlu dilakukan beberapa seting, salah satunya adalah seting environment. Untuk masuk ke seting environment jika dengan windows lebih mudah lewat searching dengan kata kunci “environment”.

Atau jika Windows 7 lewat buka Control Panel->System and Security->System dilanjutkan dengan Advanced system settings, Environment Variables.

 

Pada System Variables pilih Path. Lanjutkan dengan menekan Edit untuk menyisipkan C:\Python27. Namun ketika dijalankan ternyata untuk instalasi natural language toolkits (NLTK) ada masalah.

Masalah Instal NLTK di Python 2.7.3

Masalah ini sudah dibahas di milis stackoverflow. Jika dijalankan instalasi NLTK akan muncul pesan kesalahan berikut ini.

Solusinya termudah adalah mengunduh versi 2.7.14 seperti yang disarankan oleh situs tanya jawab tersebut. Jangan lupa pilih yang versi 32 bit dan install lagi dengan versi itu. Di sini python yang lama di-remove (mungkin bisa juga tanpa diremove).

Pilih saja seluruh instalasi termasuk Path pada python.exe nya. Tunggu beberapa saat hingga selesai. Jalankan: python -m pip install nltk untuk instal NLTK. Beberapa saat kemudian akan diminta upgrade ke pip versi 19.2.1. Ketik saja: python -m pip install –upgrade pip.

Mengunduh NLTK

Terakhir adalah mengunduh NLTK. Caranya adalah dengan masuk ke python dengan mengetik python di console dilanjutkan dengan mengaktifkan nltk lewat: import nltk di console python. Setelah itu proses pengunduhan dijalankan lewat: nltk.download(). Oiya, jangan lupa kurung buka dan kurung tutupnya. Kemudian muncul jendela NLTK berikut.

Silahkan unduh yang dibutuhkan (corpora atau paket). Atau unduh saja semua untuk amannya, tapi lumayan besar (beberapa giga). NOTE: Repotnya python per januari tahun depan (2020) tidak lagi mensuport NLTK. SIap-siap upgrade python-nya ya.