Mining the Web – Bidang Yang Kian Penting Saat ini

Menurut Prof. Rhenald Kasali, beberapa perusahaan ternama akhir-akhir ini jatuh secara tiba-tiba karena fenomena “disruptive”. Fenomena ini merupakan bagian dari konsep “the invisible hand” dari Adam Smith kira-kira se-abad yang lalu. Tapi fenome disruptive muncul karena kejatuhannya yang tiba-tiba tanpa adanya gejala-gejala, ibarat serangan jantung, perusahaan-perusahaan raksasa tumbang mengenaskan. Laporan keuangan yang ok, tidak ada indikasi penetrasi atau serangan dari pesaing, tapi entah mengapa tiba-tiba ditinggalkan konsumen dan hancur. Di sisi lain, digrebeknya grup saracen yang berbasis online, dipenjaranya seorang gubernur karena rekamannya yg beredar online, tokoh aliran tertentu yang masih menunggu diperiksa, dan hal-hal lainnya mewarnai dunia digital di tanah air.

Dulu sempat mengajar e-commerce dan data mining tetapi tidak begitu membahas masalah dampaknya di masyarakat. Ternyata sangat besar. Konsumen mulai bergeser dari offline menjadi online (elektronik). Demo besar-besaran perusahaan taksi ternama di tanah air merupakan suatu sinyal akan adanya perubahaan perilaku konsumen dari offline transaction menjadi online. Dari sisi data mining, yang saya ajarkan (maupun buku yang diterbitkan) hanya berfokus ke database konvensional saja (bukan berbasis web). Oleh karena itu, upgrade ke versi web untuk mendukung terapannya dalam e-commerce sepertinya harus dimulai.

Ketika main ke perpustakaan, saya menjumpai buku lama terbitan 2001 yang membahas data mining pada web. Tahun-tahun itu merupakan tahun mulai berkembangnya riset-riset berbasis web yang hasilnya adalah aplikasi-aplikasi yang banyak dijumpai oleh orang-orang seperti sosial media, entertainment, dan sejenisnya. Berikut intro yang sari sarikan dari buku tersebut.

E-Commerce

Sesuai dengan namanya, e-commerce menjembatani antara produsen dengan konsumen lewat kanal/saluran baru yaitu transaksi elektronik, itu saja. Tetapi ternyata dengan pemanfaat media online dampaknya sangat besar walaupun tidak ada yang berubah dari sistem produksi, penentuan harga, laproan penjualan, dan sebagainya. Hal-hal yang membedakannya adalah kemampuan media online untuk menyediakan layanan yang cepat dalam menawarkan barang lewa “search engine”nya dalam bentuk rekomendasi, mampu mengingat history seorang pelanggan di waktu yang lampau, dan mampu secara cepat mengontrol persediaan barang mengikuti tren pemesanan barang oleh konsumen. Itu saja sudah cukup menghajar pemain-pemain lama yang tidak sadar akan bahayanya lengah terhadap media elektronik online.

E-Media

Selain perdagangan barang real, ternyata media terkena imbas dari media online. Mungkin mereka bisa bertahan karena karakter media yang tajam dalam melihat gejala-gejala adanya suatu fenomena, sehingga beberapa surat kabar bisa dengan “smooth” beralih dari media cetak ke online. Tetapi tentu saja media online memiliki keunggulan dibanding versi cetak karena media cetak tidak bisa mengetahui siapa saja yang telah membaca berita di dalamnya. Media online bisa mengetahui berita-berita yang menarik minat konsumen sehingga di masa yang akan bisa menulis berita-berita yang disukainya itu. Selain itu, media online memiliki karakteristik khusus yang “custom” dimana konsumen bisa memilih berita mana yang ingin diakses, khususnya yang berupa video. Inilah sepertinya yang dikhawatirkan oleh televisi-televisi lokal yang berbasis gelombang frekuensi yang dalam satu waktu tertentu hanya menyiarkan satu acara tertentu. Tinggal menunggu iklan yang lewat, jika tidak ada yang beriklan sepertinya siap-siap mengucapkan kata “selamat tinggal” (mungkin masih bisa bertahan untuk kampanye pemilu).

E-Markets

Saya, atau mungkin kita, pernah kecewa ketika telah membeli sesuatu ternyata ada tempat lain yang menjual dengan harga lebih murah, sakitnya tuh di sini. Dengan e-markets beberapa situs telah menyediakan fasilitas yang membandingkan harga-harga produk, seperti tike pesawat, hotel, dan lain sebagainya. Konsumen tinggal menilai sendiri, cari yang murah atau yang mahal tapi lebih nyaman. Selain itu, situs e-markets bisa menawarkan sesuatu selain yang dibeli, sehingga lebih banyak kemungkinan barang yang berhasil dijual. Sebenarnya ini menguntungkan konsumen juga karena tidak perlu jalan atau naik ekskalator mencari produk tertentu, kecuali memang ingin jalan-jalan.

Brands/Merk

Ini merupakan hal penting yang menunjukan kualitas suatu produk terhadap konsumen. Dari jaman dulu, konsep tentang “branding” tidak berubah. Konsumen cenderung membeli produk yang telah dikenalnya lama. Kematian suatu merk terkadang mengindikasikan kematian suatu perusahaan. Namun saat ini kualitas merk sangat-sangat tergantung dengan media online. Dua kali kecelakaan pada maskapai MAS sudah cukup menurunkan brand maskapai itu. Dan sialnya lagi, maraknya media sosial terkadang menyediakan hoax-hoax yang mengganggu brand suatu produk. Oleh karena itu tiap perusahaan sepertinya menyediakan tim yang memantau pergerakan brand di media online.

Sungguh pembahasan yang menarik. Masih banyak aspek-aspek lain yang bisa dipelajari dari aplikasi web, seperti periklanan, target marketing, customer value, real time considerations, understanding customers and business processes, experimental design for marketing, dll. Semoga tulisan ini bisa berlanjut.

Ref

Linoff, G. S., & Berry, M. J. A. (2001). Mining the Web. United States of America.

 

Iklan

Melihat Data Network Hasil Training JST – Versi GUI

Pada postingan yang lalu telah dibahas cara mengetahui hasil training Jaringan Syaraf Tiruan (JST) dengan command window. Begitu juga bagaimana mengupdate salah satu parameternya, misalnya bias dan bias, sudah dibahas. Tetapi beberapa pembaca sepertinya agak kesulitan dengan instruksi-instruksi lewat command window. Oleh karena itu di sini akan dibahas cara yang jauh lebih mudah yaitu dengan “nntool”, salah satu GUI bawaan Matlab untuk merakit JST.

Sebenarnya masalah ini muncul ketika saya mencari kembali hasil training JST untuk peramalan (lihat post peramalan dengan JST di sini). Masalah yang sering dijumpai adalah “lupa”, karena banyaknya yang harus dikerjakan terkadang membuat seseorang lupa. Untungnya saya aktif menulis, tinggal masukan kata kunci di kolom “search” blog, catatan terdahulu yang dicari langsung ketemu. Jadi blog itu seperti catatan yang disimpan di “awan (cloud)” yang bisa diakses di mana saja dan kapan saja. Buka Matlab dan ketik nntool di command window.

Sebelumnya load terlebih dahulu Mat-file hasil training yang berisi variabel-variabel network. Di sini saya ada 7 variabel network yang saya sendiri lupa konfigurasinya. Setelah menekan “Import” di nntool maka muncul pilihan variabel yang akan dilihat. Ambil salah satu variabel hasil loading yang ada di workspace Matlab, dilanjutkan dengan kembali menekan Import setelah memilihnya.

Tekan Ok ketika ada informasi bahwa netwok telah berhasil diimpor. Tutup lagi sementara jendela Import to network/Data Manger. Perhatikan nntool kini telah muncul Network1 hasil impor. Untuk melihat isi dari variabel itu dobel klik saja di variabel tersebut.

Sebenarnya gambar di atas sudah cukup untuk mengetahui struktur JST yang telah dilatih dahulu. Misalnya input yang berjumlah 4 variabel dengan 1 keluaran. Hidden layer yang terletak di tengah tampak berjumlah sembilan. Gambar di atas khusus untuk Matlab versi 2013 ke atas, sementara Matlab versi yang terdahulu tidak memunculkan informasi tentang neuron-neuronnya. Silahkan tekan View/Edit Weights jika ingin melihat konfigurasi bobot-bobotnya. Kebetulan saya memiliki 4 variabel data yang akan dicoba prediksi dengan JST tersebut. Atau jika tidak ada, buat saja sendiri di command window. Tambahkan data input di nntool.

Tekan tombol Simulate pada network untuk memprediksi. Cara ini bisa juga dengan command window lewat instruksi sim.

Ada pesan untuk melihat nntool karena hasilnya dikirim ke sana. Jika sudah kembali ke nntool, tekan dua kali Output. Tampak hasilnya.

Sepertinya dengan nntool tidak banyak mengetik, alias tinggal klak-klik mouse saja. Jadi dengan empat masukan pada data akan menghasilkan satu keluaran (0.48). Di sini sebaiknya kita menggunakan normalisasi data, kalau bisa normal Euclidean, karena matrix yang dibuat dengan normal euclidean ortogonal yang disukai JST.

Perbedaan Penggunaan Lahan dan Penutupan Lahan

Penggunaan lahan dan penutupan lahan (land use and land cover) merupakan bidang riset yang saat ini gencar diteliti dari berbagai disiplin ilmu. Mulai dari geografi, lingkungan, kesehatan, bahkan saya sendiri dari informatika ikut juga berpartisipasi. Bidang riset ini bercirikan data spasial dan temporal. Untuk yang baru kenal ada baiknya bisa membedakan istilah-istilah itu, terutama padanannya dengan bahasa Indonesia yang baku.

Penggunaan Lahan (Land Use)

Penggunaan lahan sering diistilahkan dengan peruntukan lahan atau juga tata guna lahan (Baja, 2012). Artinya adalah bentuk penggunaan lahan oleh masyarakat. Apakah digunakan untuk pertanian, perkebunan, perumahan, atau dibiarkan saja (tidak digunakan). Bagi yang kurang begitu mengetahui perbedaan penggunaan dengan penutupan lahan, biasanya lebih aman menggunakan istilah penggunaan lahan, walaupun sebenarnya ada sedikit perbedaan dengan penutupan lahan.

Penutupan Lahan (Land Cover)

Berbeda dengan penggunaan lahan, penutupan lahan lebih memaknai lahan dari sisi bio-fisikanya, yaitu jenis bio-fisika yang ada di suatu lokasi tertentu, seperti tumbuhan, air, pertanian, bangunan, dan sebagainya. Berbeda dengan penggunaan lahan, penutupan lahan mudah dideteksi dengan penginderaan jarak jauh. Frekuensi tertentu dari sensor pada satelit dapat membedakan tanaman dengan bangunan, air, atau bahkan antara tumbuh-tumbuhan hutan dengan pertanian (agriculture). Penggunaan lahan tertentu seperti sekolah, rumah sakit, hotel, dan industri masuk dalam jenis ‘bangunan’ dari sisi penutupan lahan. Citra satelit sangat sulit mendeteksi perbedaan penggunaan lahan berjenis bangunan itu. Tetapi riset sedang berjalan untuk mengatasinya. Beberapa penggunaan lahan misalnya pertanian dan kehutanan (agriculture vs vegetation), dapat dibedakan dengan teknik pengolahan citra terkini. Konvensi standar pewarnaan pun sudah ada untuk tiap-tiap penggunaan dan penutupan lahan (Anderson, Hardy, & Roach, 1976).

Saat ini alih guna lahan (land use change) banyak diteliti, dan menjadi materi wajib mahasiswa jurusan remote sensing and Geographic Information System (RS-GIS). Software yang bisa digunakan pun beragam dari Dyna Clue hingga IDRISI Selva (Eastman, 2012). Silahkan dicoba.

Referensi:

Anderson, J. T., Hardy, E. E., & Roach, J. T. (1976). A Land use and Land Cover Classification System for Use with Remote Sensing Data. United States of America. Retrieved from https://pubs.usgs.gov/pp/0964/report.pdf

Baja, S. (2012). Perencanaan Tata Guna Lahan dalam Pengembangan Wilayah – Pendekatan Spasial & Aplikasinya. Yogyakarta: Andi Offset.

Eastman, J. (2012). IDRISI selva tutorial. Idrisi production. Clark Labs-Clark Universit. Retrieved May 1, 2017, from https://clarklabs.org/wp-content/uploads/2016/10/TerrSet-Tutorial.pdf

Memecah Kelas Hasil Klasifikasi di ArcGIS

Salah satu tugas penting penelitian mengenai land use adalah klasifikasi citra satelit. Biasanya hasil pengolahan citra yang utama adalah unsupervised classification yang harus dicek lagi akurasinya dengan data real yang lebih akurat (ground view), misalnya aerial view, study lapangan dengan GPS, ataupun cara lain (Google earth, bing aerial, dll). Hasil klasifikasi perlu dipilah misalnya builtup saja, vegetasi saja, dan kelas-kelas lainnya. Dengan ArcGIS untuk memilahnya tidak terlalu sukar, hanya dengan simbologi sudah cukup untuk memisahkan satu kelas dengan kelas lainnya. Misalnya gambar di bawah ini adalah kelas-kelas hasil unsupervised classification pada IDRISI yang diekspor ke ArcGIS.

Dobel klik saja pada peta klasifikasi yang sudah di-geret dari file-nya lewat Catalog. Selanjutnya misalnya yang berwarna merah mudah adalah air, dan akan kita pisahkan dengan yang lain. Tinggalkan saja air dan yang lainnya remove dari symbology.

Jangan lupa konversi dahulu menjadi Unique Values agar bisa dipilah kelasnya. Tekan OK dan peta hasilnya dapat dilihat di bawah ini. Setelah itu jika akan dikonversi ke Google Earth pro dalam format KMZ atau KML tinggal konversi saja seperti dibahas pada postingan yang lalu. Selamat mencoba.

Bagi Dosen, Menulis Buku itu Mudah

Buku Teks/Ajar

Perlu diketahui bahwa ilmu itu dinamis dan terus berkembang. Jurnal yang terbit saat ini, setelah lewat mekanisme peer-review yang memakan waktu beberapa bulan hingga beberapa tahun, ditambah dengan proses publikasi yang terkadang antri, sesungguhnya sudah tertinggal beberapa tahun. Bagi mahasiswa S3 yang riset sebelum dijurnalkan berarti dua atau tiga tahun yang lalu. Jadi kemungkinan jurnal yang terbit saat ini adalah hasil riset lima tahun ke belakang (kira-kira). Jurnal itu sendiri masih belum pasti kebenarannya karena adanya perdebatan di antara satu penulis dengan penulis lainnya mengenai suatu problem tertentu. Sementara itu buku (buku teks dan buku ajar) adalah kumpulan ilmu yang diyakini sudah tidak diperdebatkan lagi ilmu-nya. Itulah sedikit perbedaannya walaupun sama-sama membahas ilmu pengetahun. Sebelum menjadi buku teks, biasanya kumpulan jurnal dengan tema tertentu dirangkum menjadi satu buku yang diisitilahkan dengan book section. Buku yang ditulis saat ini ada dua jenis yaitu buku terjemahan atau buku teks/ajar, yang biasanya berupa kompilasi dari beberapa buku rujukan lainnya.

Saya sendiri, mungkin pembaca juga, merasakan sulitnya membaca jurnal dibanding membaca buku teks. Begitu juga logikanya, lebih mudah membuat buku dibanding menulis jurnal hasil penelitian. Masalah terbesar bagi dosen adalah kurangnya waktu untuk menulis sebuah buku. Maklum dosen di Indonesia berbeda dengan dosen luar negeri dari sisi pendapatan. Mau tidak mau harus mengajar banyak jika ingin mencukupi kebutuhannya sehari-hari, terutama bagi dosen swasta seperti saya.

Mengajar Sambil Menulis Buku

Teman-teman kita sebenarnya adalah guru kita, sumber inspirasi kita, walaupun ada kelemahan dan kejelekannya menurut kita. Ketika belajar menjadi pengajar, saya melihat ada ibu-ibu dosen yang aktif menulis buku, saya tanya kenapa bisa? Maklum dia sendiri tidak memiliki laptop. Ternyata dia menjawab sederhana, setelah mengajar, biasanya ada waktu luang sekitar setengah jam, terutama untuk SKS yang besar. Waktu luang itu dia gunakan untuk mengetik buku di komputer kelas.

Kasus lain adalah rekan saya yang seorang instruktur lab. Karena seringnya mengajar suatu bahasa pemrograman, dia bisa mencicil menulis beberapa buku yang berhasil diterbitkan oleh penerbit terkenal. Satu hal keuntungan bagi pengajar yang menulis adalah bisa memahami langsung pembacanya, apakah mengerti atau harus ditambah lagi penjelasannya. Ibaratnya, umpan balik langsung diterima sebelum buku itu tercetak.

Satu Semester Satu Buku

Ketika mengajar data mining di satu kampus yang dimiliki oleh yayasan alumni jepang di daerah Jakarta timur, saya mencoba untuk mempraktekan apakah bisa membuat buku dalam waktu 6 bulan. Tidak ada salahnya mencoba. Saya siapkan peralatannya yaitu laptop dan bahasa pemrograman.

Kebetulan kuliah di dalam laboratorium sehingga siswa bisa langsung mempraktekan programnya. Tiap pertemuan langsung satu buat langkah-langkahnya. Awalnya saya membuat lengkap dengan kalimat penjelasan selain “capture” dari langkah-langkahnya. Tetapi ketika selesai kuliah, siswa langsung menyodorkan flashdisk. Ya ampun, di satu sisi saya ingin menulis buku, di satu sisi saya tidak tega menolak ketika diminta filenya. Oke lah, minggu besoknya saya hanya meng-“capture” tidak menulis penjelasan yang rencananya akan saya tulis nanti saja setelah kuliah selesai. Aneh juga, tidak ada yang minta filenya, mungkin mereka merasa percuma kalau hanya gambar. Ketika pertemuan ke-empat belas, ternyata lengkap jadi empat belas bab yang siap dicetak. Bagaimana dengan penerbit? Sebenarnya penerbit dan penulis itu saling membutuhkan, hanya saja terkadang sulit bertemu. Ada baiknya menjalin komunikasi dengan penerbit-penerbit.

Setelah proses editing, biasanya buku terbit kira-kira enam bulanan. Ternyata bisa juga satu tahun satu buku. Tetapi bila ingin bagus hasilnya (lebih detil, jelas, dan kompilasi dengan sumber buku lain), sebaiknya setelah pertemuan terakhir kuliah, diperbaiki lagi semester berikutnya dengan lebih detail sambil mengajar mahasiswa berikutnya. Sehingga cukuplah menghasilkan satu buku yang baik dalam waktu 2 tahun. Itu kalau satu mata kuliah, jika ada 3 mata kuliah maka ada kemungkinan menerbitkan 3 buku dalam kurun waktu tersebut. Oiya, salah satu keuntungan mengajar kampus swasta adalah kualitas siswanya yang kalau di kurva normal itu di “average” alias rata-rata. Jadi jika mereka jelas dan memahami materi buku yang kita tulis, sudah dipastikan akan dipahami juga oleh siswa lainnya.

Kewajiban Menulis Buku

Memang tidak ada kewajiban menulis buku bagi dosen muda. Tetapi untuk para profesor atau minimal lektor kepala, selain jurnal, buku juga bisa dijadikan syarat agar tunjangan (serdos/khormatan) diberikan. Jadi ternyata bermanfaat juga. Ketika saya mempublish jurnal, ada tawaran dari luar negeri untuk memasukan jurnal saya ke book chapter suatu buku. Tentu saja tidak langsung bisa dipublikasikan karena berbeda antara jurnal dengan buku. Buku harus bisa menjelaskan hal-hal kepada pembaca tanpa pembaca harus membuka referensi-referensi lainnya. Dengan kata lain, satu buku cukup untuk memahami satu topik tertentu, pembaca harus dijelaskan dengan perlahan-lahan dan detil karena tidak semua pembaca memiliki level pengetahuan yang setara dengan penulis.

Semoga kita sama-sama bisa menulis buku, baik ilmiah maupun buku populer. Oiya, masalah pajak, itu urusan pemerintah, kita ikuti saja karena manusia tidak luput dari dua hal: maut dan bayar pajak. Semoga sedikit bermanfaat.

Menjadi Pribadi yang Dinamis

Pemandangan asyik dipertontonkan oleh anak-anak timnas ketika berhadapan dengan Thailand di piala AFF U19 kemarin. Ditambah dengan komentator lucu bung Valen “Jebret” menambah riuh suasana pertandingan. Walaupun hasilnya sangat menyakitkan yaitu kalah 2-3 lewat adu pinalti, tetapi melihat dinamisnya serangan yang dibangun, ada sedikit harapan untuk masa depan timnas Indonesia. Gagal lewat serangan kelok 9, coba dengan lari tarutung sibolga, tapi tetap saja tidak bisa membuat prahara rumah tangga Thailand, olala. Oke, di sini dinamis menjadi kata kunci postingan saya ini.

DInamis dalam Kehidupan

Sesungguhnya sifat dinamis adalah sifat alamiah. Kumpulan dari serangkaian sifat statis. Manusia tidak luput dari sifat dinamis ini. Mulai dari bayi, anak-anak, dewasa, tua dan mati, membuktikan bahwa manusia adalah makhluk yang dinamis. Walaupun secara jasmaniah, kita dinamis, secara lahiriah tidak sedinamis lingkunan fisik. Terkadang mental lebih suka kenyamanan statis dibanding bertarung, berproses, dan karakteristik dinamis lainnya. Mulailah upgrade lahiriah kita, jangan sampai fisik dewasa tetapi cara fikir masih kanak-kanak. Tidak ada cara lain untuk mengupgrade mental, selain dengan terus belajar.

Membaca

Banyak cara belajar, lewat demonstrasi, diskusi, menonton, dan membaca. Satu hal yang membedakan dengan hewan adalah membaca. Apa bacaan yang dibaca? Tentu saja hal-hal yang ingin diketahui dan informasi penting. Bagaimana dengan sosial media? Bukankah itu membaca juga? Sebagai informasi negara kita masuk dalam kategori pengguna terbanyak sosial media (facebook, twitter, G+, whatsupp, dll) seperti dirilis oleh situs ini. Bolehlah kita menggunakannya untuk berinteraksi dengan teman, untuk diskusi, dan pertukaran informasi lainnya. Tetapi, sosmed yang biasanya ramai menjelang pemilihan umum itu, terkadang tidak berfungsi untuk mencari informasi melainkan untuk pembenaran apa yang telah kita pegang selama ini. Pengguna cenderung membaca sesuatu yang sudah menurutnya benar, tidak ada keseimbangan dengan membaca informasi dari lawannya, itu pun kalau dibaca. Kebanyakan bahkan hanya membaca judul yang terkadang dibuat dramatis dan jauh dengan isinya.

Membaca informasi lewat rujukan yang benar mutlak harus dilakukan oleh anak-anak kita. Mengapa anak-anak ditekankan? Karena mereka generasi yang menjadi sasaran era digital. Mereka memiliki sifat kritis yang harus kita arahkan dengan benar. Anak saya terkadang menanyakan hal-hal tertentu yang menurut fikirannya agak aneh. Orang tua pun harus memberi penjelasan yang masuk akal, bila perlu menunjukan rujukannya. Jangan sampai terjadi seperti yang diberitakan bahwa seorang anak dari Indonesia tewas ketika ikut membela ISIS. Selain itu, variasi bacaan juga sangat penting. Tidak ada satu buku yang sempurna, harus disertai juga dengan buku-buku lainnya. Bahkan kitab suci pun didukung oleh sumber-sumber lainnya untuk membantu memahami kitab induk/utama-nya. Untuk melahap bacaan yang tebal-tebal tidak ada salahnya mencoba membaca cepat tanpa melewatkan informasi berharga dari bacaan itu (lihat diskusi tentang membaca cepat di post yang lalu).

Ketika memegang buku setebal ratusan bahkan hampir seribu halaman (yang biasanya saya gunakan supaya bisa tidur nyenak). Terkadang dalam fikiran bertanya, mengapa penulis bisa menulis sebanyak itu. Ketika membuka dan membacanya saya kagum juga bagaimana bisa menyusun kalimat dan memberikan informasi dengan rinci dan detil kepada pembaca. Berikutnya adalah tidak hanya membaca, sebaiknya kita bisa menulis pula. Pasti ada infomasi yang bisa dibagikan kepada orang lain. Bahkan, tulisan kita di blog pun bisa menginspirasi orang lain dalam tulisan ilmiahnya karena Google scholar mengakui sitasi jurnal terhadap referensi online.

Dinamisnya Dunia Akademis

Ketika melihat jumlah publikasi ilmiah negara kita kalah dengan negara-negara tetangga, Ristek-Dikti sangat geram dan menerbitkan Permenristek Dikti no. 20 tahun 2017 tentang pemberian tunjangan profesi dosen dan tunjangan kehormatan guru besar. Jika tidak mampu menerbitkan tulisan ilmiah dalam kurun waktu tertentu, tunjangan akan dicabut. Memang agak mengherankan, dengan jumlah personil yang besar tetapi memiliki jumlah publikasi yang tidak sebanding. Mengapa demikian? Menurut saya penyebabnya adalah tidak dinamis.

Ketika sedang S3, ada syarat untuk lulus harus mempublikasikan ide disertasi kita dalam satu jurnal internasional bereputasi (minimal diakui oleh kampus tempat kuliah). Namun ketika selesai dan kembali beraktifitas di kampus atau departement dimana si mahasiswa itu berada, tidak ada lagi keinginan meneliti dan menulis hasil penelitiannya itu. Dengan kata lain, tidak lagi se-dinamis ketika mengambil S3. Mental yang cenderung statis, harus dilawan, terutama para mahasiswa S3 yang sudah lulus agar terus meneliti. Saya sendiri, mempublikasikan tulisan ilmiah ketika S3 karena terpaksa dan semoga tulisan ini bisa mengingatkan saya nanti ketika selesai kuliah tidak mengikuti mental yang lebih suka masuk ke wilayah zona nyaman dan statis, melainkan terus dinamis mengikuti perkembangan IPTEK yang sangat pesat. Semoga postingan ini bermanfaat.

Membangun Lingkungan yang Mendukung IPTEK di Tanah Air

Peraturan Ristek-Dikti agar lektor kepala dan profesor menghasilkan publikasi pada jurnal internasional sedikit banyak membuat para dosen berfikir keras. Salut juga dengan para sesepuh yang masih bersemangat untuk berkarya lewat tulisan ilmiah. Walaupun di grup-grup WA yang saya ikuti banyak juga virus-virus negatif yang mengendorkan semangat, yang entah apa niatnya saya sendiri tidak tahu. Mulai dari mempertanyakan apa sumbangsih tulisan yang dibuat terhadap kemaslahatan masyarakat? Hingga tudingan kapitalisasme penelitian. Tidak perlu dijawab, ibarat pemain bola kita ikuti saja arahan manajer tim, toh tidak melanggar susila, larangan Allah, sang hyang widhi, jalan mulia berunsur delapan, dan lain-lain sesuai keyakinan kita.

Tulisan Ilmiah Sebagai Media Komunikasi Antar Peneliti untuk Perkembangan IPTEK

Bagi saya, tulisan ilmiah tidak lain dan tidak bukan adalah wujud keikutsertaan kita pada komunias keilmuan di dunia, apapun bidangnya. Bagi yang memprotes atau mempertanyakan manfaatnya, silahkan menyendiri dan tidak ikut komunitas dunia, tidak ikut mengembangkan ilmu. Sungguh tidak dapat dibayangkan jika ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia tidak berkembang. Jika tidak berkembang mungkin di masa yang akan datang ketika SMP seorang anak akan selesai sekolahnya karena ilmu sudah dikuasai semua, tidak ada hal-hal baru. Karena perkembangannya, suatu ilmu mungkin dulu level S3 sekarang turun jadi level S2, mungkin turun lagi ke level S1 atau bahkan SMA dan seterusnya. Jadi kalau ilmu tidak berkembang bisa jadi SMP sudah khatam. Beberapa postingan di facebook, atau di group (tidak semua postingan di grup abal-abal/hoax lho) menyebutkan peneliti-peneliti yang usianya makin muda, bahkan ada yang baru belasan tahun sudah jadi peneliti tingkat dunia akibat semakin mudahnya memperoleh akses IPTEK.

Menciptakan Lingkungan yang Baik untuk Perkembangan IPTEK

Negara kita harusnya terus melangkah, jangan perduli dengan omongan negatif rakyatnya yang tidak ingin maju. Memang penghasilan seorang dosen atau peneliti belum begitu menjanjikan jika dibanding profesi-profesi lainnya. Tapi satu hal yang terpenting adalah dinamikanya yang luar biasa. Ada kepuasan batin yang melebihi harta. Walaupun ada juga mereka yang statis, ditunjang dengan sikap sinis terhadap profesinya sendiri. Di sini saya sedikit mengeluarkan pendapat yang mungkin pembaca baru mendengarnya, dan mungkin juga tidak setuju.

Kita tahu bahwa negara kita adalah negara berkembang, dan sadar tertinggal dengan negara-negara maju lainnya. Dalam hal ini kita ambil satu sisi saja yaitu iptek dan dunia akademik. Pernahkah kita sadar bahwa banyak juga ilmuwan yang berasal dari negara kita? Muncul baru kemudian tenggelam, muncul lagi yang baru, dan seterusnya. Tetapi mengapa perkembangan IPTEK kita seperti jalan di tempat? Sangat sulit menjawab mengapa kita sedikit tertinggal (kalau malu mengatakan jauh tertinggal). Tapi harus tetap yakin pasti akan maju dan ilmuwan-ilmuwan baru akan bermunculan mengingat anak-anak muda yang saat ini mulai bersemangat terhadap IPTEK.

Kebetulan saya dapat kuliah gratis di Thailand, jadi sedikit bisa melihat perbedaan dengan negara kita. Di sana raja sangat memperhatikan pendidikan. Sarana dan prasarana sangat didukung, rakyatnya pun ikut mendukung, kecuali yang ingin di-cyduk karena protes melulu dan mengganggu. Walaupun dari segi otak, menurut saya masih kalah dengan rakyat kita tetapi mereka bisa menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan IPTEK. Apalagi jika dibandingkan dengan Inggris, Jepang, Jerma, Amerika Serikat, dan negara-negara maju lainnya yang dari pemerintah, LSM, industri, swasta, dan donor-donor lainnya sangat mendukung IPTEK dan juga dunia akademik. Dari sisi probabilitas, peluang munculnya ilmuwan di lingkungan yang cocok dengan IPTEK dan akademik jauh lebih besar dibanding lingkungan yang tidak mendukung. Dari sisi ‘gaib’, maaf bingung memberi istilahnya, jika tuhan ingin menghadirkan seorang ilmuwan, penemu besar, atau apa sebutannya, di manakah Dia akan menurunkannya? Tentu saja di negara yang mendukung IPTEK. Kalaupun ada yang “nyasar”, biasanya akan diarahkan ke negara yang mendukung baik bekerja di sana, pindah kewarganegaraan, dan sejenisnya.

Tidak ada cara lain, ciptakan saja wadah yang mendukung IPTEK dan akademik di negara kita. Cari orang-orang yang setia untuk mengembangkan lingkungan akademik yang baik, suatu saat jika sudah tumbuh maka Allah akan melahirkan para ilmuwan dan penemu-penemu besar tidak perlu jauh-jauh ke negara maju, cukup di Indonesia saja karena “perangkatnya” sudah ada (kampus yang baik, didukung oleh industri/swasta dan pemerintah). Jangan sampai kejadian yg belakangan muncul di facebook, seorang anak yang diterima di UGM, tidak jadi masuk karena ayahnya menyuruh si anak bantu kerja orang tua saja di rumah. Sebenarnya kita sudah pernah merasakah manfaat “mencipatakan suatu lingkungan” lho. Mengapa kita sampai saat ini selalu memunculkan bibit-bibit bulu tangkis? Selalu ada wakilnya juara di All England. Menurut saya karena kita sudah memiliki lingkungan dan perangkat untuk menciptakan atlet bulu tangkis kelas dunia, dimana tuhan akan menurunkan bibit pemain bulu tangkis di negara kita akibat sudah tersedia “perangkat” untuk menunjangnya. Seperti halnya sepak bola di eropa dan amerika latin, atau catur di Eropa timur. Jika pun satu waktu tertentu kalah oleh negara lain, tidak lama kemudian pasti muncul bibit baru lagi.

Semoga tulisan iseng ini sedikit bermanfaat dan memperkuat langkah di jalan terjal yang harus ditempuh oleh peneliti tanah air. Kita ciptakan lingkungan yang membuat tuhan menurunkan bibit-bibit ilmuwan di negara kita. (Bukan menciptakan lingkungan korup yang membuat tuhan menurunkan para koruptor di negara ini). Semoga pula Indonesia – “insulinde, putri cantik yang tidur sudah terbangun”, kata Van Deventer – tidak bobo lagi.