Arsip Kategori: Geographic Information System

Validasi Hasil Land Use Prediction

Validasi sangat penting dilakukan untuk mengetahui kinerja model yang sedang kita buat. Jika model yang tidak/kurang valid maka tidak baik untuk digunakan meramalkan land use yang akan datang. IDRISI memiliki fungsi VALIDATE untuk menghitung validasi. Prinsip validasi sangat sederhana yaitu hasil peramalan dibandingkan dengan kenyataan. Misal image tahun 2000 dan 2010 digunakan untuk meramalkan tahun 2015, maka selain image tahun 2000 dan 2010, perlu juga disiapkan image tahun 2015.

Dengan mengisi file image hasil prediksi dan image kenyataan di tahun yang sama dengan tahun prediksi, nilai Kappa dapat diketahui. IDRISI mengikuti riset yang dilakukan oleh Pontius (2000) dengan beberapa nilai Kappa, antara lain: Kappa for no information (Kno), Kappa for location (Klocation), Kappa for quantity (Kquantity), Kappa standard (Kstandard). Selain itu juga nilai: value of perfect information of location (VPIL), dan value of perfect information of quantity (VPIQ).

Selain dengan Kappa, metode lain untuk mengetahui validasi adalah dengan Relative Operating Characteristic (ROC). Prinsipnya adalah dengan probabilitas kejadian dengan nilai boolean yang biasanya ketika prediksi dengan MARKOV. Validasi yang menggunakan ROC dikenal dengan istilah Area Under ROC (AUC).

 

Menampilkan Data Geospasial dengan Matlab

Untuk pertukaran data antara matlab dengan GIS tool bisa dilakukan dengan menggunakan fungsi shaperead dan shapewrite seperti sudah dijelaskan pada postingan yang lalu. Setelah itu data hasil olahan Matlab dapat dibuka dengan ArcGIS atau GIS tool lain yang gratis, misalnya Google Earth (tentu harus dikonversi terlebih dahulu menjadi KMZ, lihat postingan untuk konversi ke aplikasi ini). Sebenarnya Matlab sendiri memiliki fasilitas untuk menampilkan peta. Lihat link youtube berikut untuk merepresentasikannya.

Bagi yang memiliki Matlab tapi versi yang lama dan tidak memiliki fasilitas-fasilitas terbaru dalam menangani data geospasial, beberapa institusi yang sudah mengembangkan sendiri M-file untuk mengolah data spasial bersedia men-share. Salah satunya adalah situs M_Map: A Mapping Package for Matlab. Silahkan buka dan pelajari, isinya adalah menampilkan figure yang berisi koordinat geospasial, dengan tampilan proyeksi, grid dan skala yang sudah terstandar.

Bahkan bagi yang suka mengelola citra satelit, Matlab sudah mampu menampilkan citra satelit yang memiliki format Red, Green, Blue (RGB). Silahkan pelajari link Youtube berikut ini bagi yang tertarik dengan pengolahan citra RGB yang bisa juga diterapkan ke bidang lain selain remote sensing.

Demikian info singkat yang saya sendiri masih dalam tahap penjajagan. Selamat mencoba.

Mengimpor Driver LU Change dari ArcGIS

Bagi yang sudah berkecimpung dengan penelitian dengan topik perubahan penggunaan lahan (Land use – LU) sepertinya tidak asing dengan istilah driver. Driver adalah suatu peta tematik yang menggambarkan pengaruh suatu kondisi geografis (jarak dengan jalan, pusat kota, dan lain-lain) terhadap pertumbuhan LU. Ada bermacam-macam kategori: biofisika, infrastruktur, dan sosial-ekonomis, dan lainnya yang bisa dibaca di buku text tentang tata kota atau environment. Bisanya software yang digunakan adalah IDRISI yang memiliki modul Land Change Modeler (LCM). Akan tetapi untuk membuat driver, mau tidak mau mengandalkan ArcGIS yang sangat fleksible dan memang ditujukan untuk spatial analysis yang lebih lanjut.

Salah satu masalah yang dijumpai oleh para pengguna ArcGIS adalah ketika mengekspor driver tersebut ke IDRISI. Ketika dihubungkan dengan image lain driver tersebut tidak sinkron. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan mengandalkan fungsi PROJECT yang bertugas merubah/mengkonversi proyeksi dan juga menyamakan bidang kerja suatu image dengan lainnya.

Pertama-tama yang wajib diketahui oleh pengguna citra satelit yang diunduh dari USGS (lihat cara donwloadnya) adalah proyeksi yang digunakan oleh citra satelit tersebut. Setelah mengimpor TIFF menjadi RST buka PROJECT dan coba letakkan image yang diimpor tersebut, maka muncul proyeksinya.

Perhatikan referensi citra satelit yang saya miliki ternyata LATLONG. Biasanya untuk citra satelit, misalnya jabotabek, menggunakan UTM. Tapi ternyata untuk citra DEM dari SRTM (lihat post sebelumnya) ternyata proyeksinya LATLONG (saya juga kurang begitu paham dengan proyeksi ini, mungkin lintang dan bujur seperti biasa). Di sini proyeksi tersebut akan dikonversi menjadi standar UTM 48S yang saya gunakan. Oiya, walaupun di ArcGIS sudah diutak-atik menjadi UTM, ternyata tetap harus diset ke defaultnya (LATLONG), entah mengapa. Jangan lupa menekan Output Reference Information untuk menyamakan bidang kerja (dari existing file).

Jadi ciri-ciri driver yang sudah siap digunakan adalah selain bentuk visualnya yang sama dengan ketika diolah di ArcGIS, juga sinkron dengan image lainnya. Caranya buka display dua buah image, yaitu satu yang sudah terstandar dan satu lagi driver yang baru saja kita impor dari ArcGIS. Jika keduanya dapat dibuka, dalam satu Composer maka dapat dipastikan dua image itu sudah klop (lihat dengan cara men-checklist salah satu image).

Jika sudah dirasa klop, maka siap dimasukan ke dalam LCM bersama dengan driver-driver lainnya. Contoh di atas adalah Digital Elevation Model (DEM) sebagai salah satu driver perubahan lahan (LU).

Membuat Peta DEM dari Data SRTM

Selain foto permukaan bumi, USGS ternyata menyediakan foto tentang ketinggian (elevation) yang diambil lewat Shuttle Radar Topography Mission (SRTM). Lihat postingan terdahulu, untuk mengunduhnya. Salah satu manfaat dari foto SRTM ini adalah untuk membuat peta tematik Digital Elevation Model (DEM) atau juga peta kontur.

Hasil download dapat dibuka dengan aplikasi-aplikasi GIS, misalnya ArcGIS. Bahkan karena tipe file-nya TIFF maka tiap pembuka gambar biasanya dapat melihatnya. Ukuran file lumayan besar untuk satu gambar, sekitar 25 megabyte. Untuk wilayah sekitar jabotabek, sepertinya harus mengunduh dua gambar. Tampak kota Bekasi hanya menempati sebagian saja jika satu file download yang digunakan.

Oleh karena itu harus dua file yang di-download. Untungnya USGS menyediakan seluruh tile, istilah untuk satu segmen download, untuk wilayah republik Indonesia.

Dengan menggunakan fungsi raster clip (lihat postingan tentang clip) diperoleh SRTM untuk wilayah tertentu yang menjadi study area kita (misal kota Bekasi). Lumayan ribet juga kota Bekasi, karena pas transisi antara dua “tile” SRTM. Untuk menggabungkan dua data raster dapat menggunakan fungsi mosaic to new raster yang tersedia di Arc Toolbox. Untungnya link youtube ini bisa jadi rujukan untuk menggabungkan dua data raster SRTM tersebut. Dan untungnya lagi, video itu membahas penggabungan SRTM yang beda “Tile” juga.

Jangan sampai salah mengisi parameter pada mosaic to new raster. Jika data ketika digabung berubah, berarti ada yang salah mengisi isian fungsi itu. Klik kanan dan pilih properties pada SRTM asal untuk mengetahui parameter yang sesuai. Lihat isian untuk SRTM kota Bekasi berikut. Pixel type dan number of band dapat dilihat di properti pada peta SRTM.

Untuk yang ingin membuat peta kontur, silahkan mengikuti langkah-langkah yang sudah dijelaskan di youtube berikut ini.

Gambar di bawah ini menunjukan peta DEM (kiri) dan peta kontur (kanan). Semoga sedikit bermanfaat.

Ekspor Shapefile ke KMZ Google Earth

Terkadang untuk melihat suatu peta pada ArcGIS apakah sudah sesuai dengan kenyataan perlu dibandingkan dengan Google Earth Pro yang saat ini sudah gratis. Misalnya saya memiliki hasil klasifikasi peta dari citra satelit USGS kemudian akan saya bandingkan hasil klasifikasi, misalnya builtup area, dengan kondisi real. Walaupun bisa dengan metode “composit” tetapi karena resolusi yang rendah dari citra satelit, membandingkan dengan Google Earth yang sampai 30 meter sepertinya layak dicoba.

Gambar di bawah ini saya memiliki peta builtup dari ArcGIS yang akan diekspor ke Google Earth. Langkah pertama adalah mengkonversinya menjadi KMZ atau KML yang dikenali oleh software Google Earth (lihat postingan ini jika ingin tahu apa itu Google earth).

Seperti biasa, cara termudah mencari fungsi pada ArcGIS adalah dengan men-“searching”nya. Ketik “to KML” untuk menemukan fungsi tersebut di ArcGIS toolbox. Pilih Layer to KMZ dan isi form dengan layer yang sudah ada di ArcGIS sebelumnya. Oiya, baik data vektor maupun raster dapat dikonversi dan diekspor ke Google Earth.

Pastikan konversi berjalan dengan sempurna. Setelah itu buka file-nya dengan folder explorer seperti biasa. Untuk memindahkan file KMZ hasil konversi tersebut cara termudah adalah dengan mendrag dari folder explorer ke Google Earth. Otomatis nanti file KMZ yang merupakan peta Built-up area (raster) akan overlay dengan Google Earth. Oiya, jangan lupa proyeksi harus standar terlebih dahulu. Gambar di bawah ini menunjukan hasilnya (yang berwarna hijau tua atau biru ya?), kebetulan saya menggunakan “historical imagery”, yaitu servis dari google earth untuk melihat peta wilayah pada tahun-tahun yang lampau. Kebetulan Bekasi hanya tersedia sampai tahun 2003 sebagian besar wilayahnya.

Untuk sebaliknya, dari KMZ/KML ke shapefile, dapat lihat postingan yang lalu berikut ini. Selamat mencoba.

Mengunduh Digital Elevation Model (DEM) Gratis dari Shuttle Radar Topography Mission (SRTM)

Berawal dari ketidakpuasan dalam menggunakan peta ketinggian (Digital Elevation Model) yang diterbitkan BIG (dulu bernama Bakosurtanal), akhirnya diputuskan mencari sumber lain. Salah satu sumber yang baik adalah citra satelit Shuttle Radar Topography Mission (SRTM). Resolusi citra ini sangat baik dan bahkan sudah mencapai ketinggian 30 meter. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai SRTM dapat dilihat di situs ini.

Untuk mengunduhnya dapat mengakses situs resmi USGS ini. Terlebih dahulu sebaiknya Anda melakukan registrasi sebelum mengunduh, karena lumayan panjang prosesnya. Tetapi jangan khawatir, tidak perlu bayar. Link di Youtube berikut ini cukup baik menjelaskan bagaimana cara mengunduh peta ketinggian, dimulai dari registrasi, pencarian lokasi, hingga menyimpan citra hasil pengunduhan.

Format yang tersedia ada tiga yaitu BIL, DTED, dan GeoTIFF dengan ukuran puluhan megabyte. Selamat men-download.

How to Fill Variable Transformation Utility – IDRISI

After change analysis we need drivers for predicting land use in the future. But, every driver must be checked regarding its acceptability as a prediction variable. The driver comes from thematic maps e.g. distance from road, elevation, slope, etc. which have already been created by other GIS tools. “Variable transformation utility” panel is important for ensuring that driver format is compatible with LU change map in IDRISI.

In this example “to_builtup” sub-model will be inserted by a driver factors “elevation”. LULC0010 which is change map is used as land cover layer or as a base (you must create it first in change analysis panel before). Variable name is driver variable which has been created using ArcGIS and will be matched with IDRISI land cover layer. This variable, of course, must be imported using ArcRaster from ASCII file. After clicking “OK”, LCM will process and the variable “Elev” will ready as a driver factor.

The “Elev” driver can also be tested/evaluated through “test and selection of site and drive variables” panel by filling evaluate with “Elev”. After clicking “test exploratory power”, Cramer’s and P value will appear (Cramer’s value greather than and equal to 0.15 is significant). Click “Add to Model” for continue to the next step in LU prediction.

Syncronising Coordinate in IDRISI Selva

We usually use Landsat images in IDRISI. These images have projection, for example UTM 48N. The projection may be converted to other projection (e.g. UTM 48S) when manipulating them in other software, such as ArcGIS, ArcView, etc. After manipulation, the conversion tool from raster file in ArcGIS to ASCII is used before processing further in IDRISI, for example for land change modeller (LCM).

In LCM the change analysis was successfully done, but when I imported the drivers from ArcGIS, there is a problem in coordinates. To solve this problem the PROJECT tool can be used for converting projection. This tool can be called from REFORMAT menu.

The image from ArcGIS was already projected and the problem surprisingly was from existing IDRISI images. I forgot to convert UTM 48N into UTM 48S after WINDOW process (see how to use this tool in previous post). Fill the input and output file name with the projection.

One simple method to know whether both images are already in the same projection is to use COMPOSER. If composer only shows one image, they must be in different projection, otherwise the projection is already similar.

Inserting a Raster Map into another Map

Raster map is a map which contains raster data in pixels. Similar to vector map (polygon), raster map has also attributes. This attribute can be merged to other map by using Mosaic to new Raster function in Arc Toolbox. Of course you should classify your raster map first in order to see the attribute (right click and chose open attribute table to see the attribute).

If the map has not been classified yet, use reclassify function to classify the attribute. In this example, the third class will be merged with other raster map which contains only third class. This inserted class will change the raster data of the same class in previous raster class. But, the other classes also change because of the inserted class replace the previous class data. Table below shows the inserted raster which can be extract from other raster map using extract by mask function (see previous post).

The most important thing in using mosaic to new raster toolbox is the order first and second raster map. See the arrangement of input raster maps below. Since kind of mode of operator for this filling was “LAST”, the last raster map in the input raster will replace the previous raster data. If you do not properly place the order of input raster, the result will the same as previous (inserting process is fail).

The other important parameter is number of bands which is usually “1” because there is no band in the example raster map. Fill folder location and file output name (I don’t know why folder and name of file is placed in different filling location). Figure below shows that class “3” has change because of inserting from the other raster map. In addition, not only class “3” but the other classes also change.

Mengambil Sebagian Data Raster dengan Extract by Mask – ArcGIS

Data raster yang sudah terklasifikasi terkadang perlu untuk diambil bagian tertentu seperti pepohonan, lahan kosong, dan sebagainya. Jika data polygon yang akan diambil sebagian untuk dianalisa, fungsi clip mungkin bisa jadi andalan (lihat postingan yang lalu untuk fungsi clip). Sementara itu untuk raster, tidak dapat menggunakan clip khusus raster (raster clip) melainkan dengan extract by mask. Fungsi ini dapat diakses melalui folder spatial analysis tools – extraction – extract by mask pada ArcCatalog. Jadi misalnya kita memiliki peta raster yang sudah terklasifikasi. Ciri-ciri jika sudah terklasifikasi adalah bisa melihat atribut berupa tabel dari peta tersebut (dengan mengklik kanan dan pilih open atribute table).

Pada tabel di atas kelas “3” yang merupakan kelas built-up area akan kita ekstrak menjadi satu peta raster tersendiri. Oleh karena itu data pada baris di value ketiga harus disorot terlebih dahulu hingga berwarna kebiruan seperti di atas. Jika sudah, kembali ke extract by mask, isi seperti gambar di bawah ini.

Perhatikan baik input maupun output diisi dengan file yang sama. Sesungguhnya walaupun sama, karena kita sudah menyorot (select) pada bagian tertentu di tabel maka bagian yang disorot itulah yang akan diekstrak. Ok, semoga bermanfaat.

Crop Citra Satelit dengan IDRISI

Citra satelit yang kita unduh biasanya berupa ubin (tile) berukuran besar. Sebagai contoh untuk melihat citra satelit Jakarta, USGS menyediakan citra satelit yang melingkupi Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, dan Purwakarta. Sementara jika studi area yang akan kita analisa hanya satu kota saja, misalnya Bekasi, maka gambar satelit tersebut harus dipotong. Selain lebih fokus ke studi area, citra satelit yang sudah terpotong akan memudahkan pengolahan citra (image processing) karena hanya memproses region yang kecil.

Fungsi yang diperlukan dalam cropping dengan IDRISI adalah Window yang dapat dibuka dengan mengklik Reformat – WINDOW. Kita ambil contoh citra satelit yang diambil pada bulan Oktober 2000 dengan band 1. Gambar utuhnya dapat dilihat di bawah ini. Untuk mengunduhnya, silahkan masuk ke situs resmi USGS yang sudah dibahas pada postingan yang lalu.

Tampilan jendela fungsi Window adalah seperti di bawah ini. Yang diperlukan adalah: citra satelit yang akan dipotong, nama keluarannya, dan bidang pemotongan. Di sini cara yang termudah adalah menggunakan bidang pemotongan yang sudah dipersiapkan. Saya menggunakan peta yang diimpor dari arcgis, lihat teknik untuk konversi file arcgis – idrisi.

Centang An existing windowed image karena akan menggunakan suatu image untuk digunakan sebagai bidang pemotongan. Jangan lupa proyeksi yang digunakan disaat membuat bidang pemotongan di ArcGIS sama dengan citra satelit yang diunduh dari USGS (untuk jabotabek UTM 48N).

Setelah image untuk memotong sudah tersedia, pilih nama filenya di jendela WINDOW. Tekan OK dan tunggu beberapa saat hingga IDRISI menampilkan citra satelit yang sudah ter-cropping.

Lakukan hal yang sama untuk band lainnya sebelum pengolahan citra (biasanya klasifikasi).

Klasifikasi Lahan Menurut US Geological Survey (USGS)

Terkadang menjadi masalah jika tidak hanya diminta menjelaskan sesuatu tetapi juga dari mana sumber informasinya. Biasanya dijumpai dalam lingkungan ilmiah seperti skripsi, jurnal, dan sejenisnya. Dalam bidang sistem informasi geografis (SIG), untuk konsep-konsep tertentu, misalnya land cover, sepertinya USGS sudah menjadi patokan dan rujukan sebagian besar peneliti karena memang memiliki data yang lengkap dari satelit landsat.

Klasisfikasi lahan sendiri ternyata memiliki standar tertentu yang dapat diperoleh dari referensi yang diposting di situs resmi USGS dan bisa diunduh di sini. Silahkan baca sendiri jika membutuhkannya. Pertama-tama tulisan itu menjelaskan perbedaan antara land use dan land cover. Setelah itu perjalanan sejarah untuk menemukan standar klasifikasi dibahas rinci, yang dimulai sejak tahun 1970-an. Dan yang terpenting adalah klasifikasi land use yang sering digunakan perencana kota/wilayah, misalnya apa saja yang termasuk built-up, agriculture, forest, dan lain-lain. Semua dibahas di halaman 12:

The definition of Urban or Built-up Land, for example, includes those uses similarly classified (Wooten and Anderson, 1957) by the U.S. Department of Agriculture, plus the built-up portions of major recreational sites, public installations, and other similar facilities. Agricultural land has been defined to include Cropland and Pasture; Orchards, Groves, Vineyards, Nurseries, and Ornamental Horticultural Areas; and Confined Feeding Operations as the principal components. Certain land uses such as pasture, however, cannot be separated consistently and accurately by using the remote sensor data sources appropriate to the more generalized levels of the classification. The totality of the category thus closely parallels the U.S. Department of Agriculture definition of agricultural land.”

Untuk lebih enaknya langsung lihat saja di tabel 2 yang sudah dirangkumkan. Misalnya yang masuk kategori urban atau built-up antara lain: perumahan, daerah komersial/jasa, kawasan industri, sarana transportasi dan komunikasi, dan lain-lain.

Sedikit banyak, semoga bermanfaat.

Instalasi Tool Pembuat Grafik Dinamis di ArcGIS

Selain sebagai pembuat peta (map creation) ArcGIS juga dapat digunakan sebagai media presentasi. Salah satu pendukung presentasi adalah menampilkan fakta dan informasi dari peta yang sudah dibuat sebelumnya dengan cara yang menarik. Salah satunya adalah dengan menampilkan grafik atau diagram, misalnya pie chart, histogram, dan lain-lain.

Salah satu cara yang mudah adalah dengan menginstal Add-in untuk diterapkan di ArcGIS. Selain itu komponen pendukung seperti misalnya Microsoft .NET bawaan microsoft harus sudah terinstal terlebih dahulu, biasanya jika sudah ada Matlab di laptop, Microsoft .NET sudah terinstal juga. Silahkan terlebih dahulu unduh file untuk membuat grafik dinamis di sini. Ikuti langkah berikut untuk instalasinya.

1. Pertama-tama ekstrak terlebih dahulu file Rar yang baru saja diunduh (Oiya, pasword-nya: 1) dan dilanjutkan dengan dobel klik ESRI.PrototypeLab.Geodesign10.

Muncul jendela peringatan bahwa Add-in bisa saja berisi virus jika tidak berasal dari sumber yang dipercaya. Aktifkan anti virus untuk jaga-jaga. Tetapi karena selama menggunakan tidak ada masalah sepertinya tidak mengandung virus. Tekan Install Add-In untuk melanjutkan proses instalasi yang cukup singkat.

2. Setelah menekan tombol OK buka ArcGIS dan perhatikan apakah Add-in sudah muncul di menu ArcGIS. Jika belum muncul, jangan khawatir, masuk ke menu Customize – Toolbars, lalu ceklis Dynamic Charting.

Selanjutnya akan muncul icon dynamic charting berukuran kecil berupa simbol pie chart. Jika tidak ada coba lihat langkah pertama, atau mungkin Microsoft .NET belum terinstal di windows Anda. Biasanya windows akan mengarahkan kita ke situs download microsoft .net untuk menginstalnya.

Semoga tidak ada masalah ketika menginstal Add-in tersebut. Sampai jumpa pada postingan berikutnya untuk mengetahui penggunaan Add-in ini. Atau lihat blog berikut ini.

Land Change Modeler – Change Analysis

Langkah terpenting dalam pembuatan Land Change Modeler (LCM) adalah menganalisa perubahan yang ada antara dua peta di tahun yang berbeda. Langkah ini dikenal dengan nama Change Analysis (CA). CA sendiri dalam IDRISI menjadi satu dengan LCM. Sebelumnya siapkan peta yang akan dikelola dengan LCM. Lihat tata cara untuk menyamakan dua simbol dalam peta tersebut pada postingan sebelumnya.

Ketika tombol Continue ditekan maka IDRISI akan memproses dua peta tersebut dan memberitahu jika ada sesuatu yang harus diperbaiki agar bisa diteruskan untuk membuat model. Biasanya muncul pesan yang memberitahukan ada sesuatu yang harus diperbaiki terlebih dahulu.

Tampak dua pesan yaitu: 1) karakteristik spasila tidak cocok, dan 2) kedua peta land use (LU) memiliki symbol legend yang berbeda. Tekan Yes untuk melanjutkan memperbaiki yang kurang tersebut. IDRISI memiliki fasilitas yang dikenal dengan nama Harmonize untuk menyesuaikan secara otomatis hal-hal yang tidak sinkron antara dua peta yang akan dibandingkan selama tidak terlalu jauh menyimpangnya.

Ada dua pilihan pada Spatial Characteristic untuk mensinkronkan kedua peta LU, yaitu apakah peta LU pertama sebagai patokan ataukah peta LU kedua. Karena perkembangan LU dari peta pertama ke peta kedua, ada baiknya kita menjadikan peta LU pertama menjadi patokan peta. Isi legend dengan Id dan Nama yang secara otomatis sama. Jika dirasa sudah semua diisi maka lanjutkan dengan menekan tombol Run untuk mengeksekusi Harmonize. Jangan lupa, nama file output bisa juga dirubah sesuai dengan keinginan yang secara default ditambahkan _new di belakangnya.

Hasil CA dapat dilihat di tab berikutnya. Tampak ada Gain dan Loss antara tahun 2000 dan 2010. Hmm .. sepertinya harus di potong peta yang kebesaran itu dan fokus di satu kota saja misalnya Bekasi.

Konversi File ArcGIS – IDRISI

IDRISI memiliki kemampuan khusus dalam pemodelan Land Use (LU) sementara ArcGIS memiliki kemudahan dalam mengoperasikan proses-proses dasar Sistem Informasi Geografi (SIG) seperti Clip, Buffer, Intersect, Union, Dissolve dan lain-lain. Kita ingin mengelola peta dengan ArcGis tetapi untuk pengolahan citra, pemodelan, klasifikasi, dan fungsi lain dengan IDRISI. Masalahnya adalah bagaimana mengkompatibelkan dua vendor SIG tersebut? Postingan ini bermaksud sharing pengalaman ketika mengolah suatu peta LU dengan ArcGis lalu berganti diolah dengan IDRISI dan sebaliknya.

A. ArcGis ke IDRISI

Di antara tiga tipe data dalam SIG (vektor, raster, dan atribut) yang paling sering digunakan ArcGis dan IDRISI adalah tipe data raster yang biasanya berupa citra satelit (lihat postingan yang lalu untuk mengunduhnya). Sementara untuk tipe data vektor dapat dengan mudah dengan masuk ke jendela SHAPEIDR dengan menekan File – Import – Software-spesific Format – ESRI Format – SHAPEIDR. Lalu tinggal memilih pilihan Shapefile to Idrisi dilanjutkan dengan memilih file yang akan dikonversi dan nama file keluaran beserta lokasinya masalah sudah selesai. Untuk tipe data raster agak sedikit rumit karena jendela khusus impor data dari ArcGis ke IDRISI pada software IDRISI tidak mengenali data raster dari ArcGIS. IDRISI hanya mengenal data ASCII dengan extensi “.txt”. Oleh karena itu data raster yang akan dibuka di IDRISI harus dikonversi terlebih dahulu menjadi ASCII.

Untuk mempraktekannya, buka terlebih dahulu peta raster yang akan dikonversi ke format ASCII. Masuk ke menu “Searching” dan cari toolbox dengan kata kunci “raster to ascii”.

Jangan terbalik (ASCII to Raster). Pilih file yang akan dikonversi dan beri nama hasil output-nya. Tekan OK dan tunggu beberapa saat hingga ArcGis selesai mengkonversi menjadi file ascii berekstensi “.txt”.

Setelah selesai tugas berikutnya adalah mengimpor file ASCII itu lewat IDRISI. Caranya adalah sama seperti ketika menampilkan SHAPEIDR hanya saja dipilih ARCRASTER.

Terkadang anda diminta menekan “Output reference information” karena tombol OK tidak menyala. Ikuti saja dan setelah tombol “OK” dapat menyala, tekan dan tunggu beberapa saat. Jangan lupa mencentang “Convert output file from real to integer” agar nanti hasil konversi berbentuk klasifikasi. Jangan khawatir jika tampilan hasil konversi masih berformat kontinyu. Untuk mengatasi hal ini buka kembali jendela reclass.

Pilih “Equal-interval reclass” untuk menghilangkan interval dari peta LU. Tekan OK dan tunggu sesaat hingga muncul gambar hasil klasifikasinya. Jika masih berformat kontinyu, buka lagi saja dengan jendela Display Launcher. Pastikan peta LU sudah terklasifikasi seperti gambar berikut ini.

B. IDRISI ke ArcGis

Bagian ini membahas konversi data raster dari IDRISI ke ArcGis. Data raster yang dihasilkan IDRISI biasanya dari pengolahan citra, salah satunya adalah klasifikasi (unsupervised). Karena ArcGis sangat baik dalam hal presentasi (map creation) maka hasil pengolahan citra harus dibuka dengan ArcGis.

Jika data berekstensi “.rst” IDRISI dibuka langsung dengan ArcGis akan muncul permasalahan-permasalahan yaitu proyeksi dan struktur piramida. Bisa saja dilanjutkan dengan menekan “yes” ketika muncul pesan dari jendela Create pyramids dari ArcGis.

Saya seharian utak-atik proyeksi selalu gagal. File raster dari IDRISI sulit menyatu dengan gambar lain yang sudah terproyeksi walaupun berkali-kali saya setting proyeksinya. Jika hanya ingin membuat presentasi satu gambar itu saja sepertinya tidak masalah, tetapi tidak mungkin berjalan jika ada overlay dengan peta-peta lain yang sudah terproyeksi. Mungkin ada pembaca yang expert dalam mengutak-atik tipe data di ArcGis mau membantu memberikan solusi pada kolom komentar.

Life must go on dan kerjaan harus selesai. Langkah yang saya lakukan sementara ini adalah dengan fasilitas Raster Clip pada ArcGis. Cara ini cukup baik bekerja. Pertama-tama memasukan peta yang akan dijadikan acuan proyeksi, di sini diambil contoh shapefile wilayah kota Bekasi. Masuk ke kolom “Searching” dan cari dengan kata kunci “Raster Clip”. Setelah muncul daftar toolbox yang tersedia pilih Clip (Data Management).

Ambil file “.rst” yang berasal dari IDRISI, Output Extent diisi dengan shapefile yang sudah terproyeksi ceklis pada perintah “Use input Feature for Clipping Geometry (optional)”. Jangan ditekan “OK” terlebih dahulu, masuk ke “Environment“. Isi dengan langkah-langkah seperti yang sudah pernah saya posting (isi processing extent dan mask pada raster analysis). Hasilnya tampak seperti gambar berikut ini dan sudah terintegrasi dengan peta-peta lainnya.