Perbedaan Penggunaan Lahan dan Penutupan Lahan

Penggunaan lahan dan penutupan lahan (land use and land cover) merupakan bidang riset yang saat ini gencar diteliti dari berbagai disiplin ilmu. Mulai dari geografi, lingkungan, kesehatan, bahkan saya sendiri dari informatika ikut juga berpartisipasi. Bidang riset ini bercirikan data spasial dan temporal. Untuk yang baru kenal ada baiknya bisa membedakan istilah-istilah itu, terutama padanannya dengan bahasa Indonesia yang baku.

Penggunaan Lahan (Land Use)

Penggunaan lahan sering diistilahkan dengan peruntukan lahan atau juga tata guna lahan (Baja, 2012). Artinya adalah bentuk penggunaan lahan oleh masyarakat. Apakah digunakan untuk pertanian, perkebunan, perumahan, atau dibiarkan saja (tidak digunakan). Bagi yang kurang begitu mengetahui perbedaan penggunaan dengan penutupan lahan, biasanya lebih aman menggunakan istilah penggunaan lahan, walaupun sebenarnya ada sedikit perbedaan dengan penutupan lahan.

Penutupan Lahan (Land Cover)

Berbeda dengan penggunaan lahan, penutupan lahan lebih memaknai lahan dari sisi bio-fisikanya, yaitu jenis bio-fisika yang ada di suatu lokasi tertentu, seperti tumbuhan, air, pertanian, bangunan, dan sebagainya. Berbeda dengan penggunaan lahan, penutupan lahan mudah dideteksi dengan penginderaan jarak jauh. Frekuensi tertentu dari sensor pada satelit dapat membedakan tanaman dengan bangunan, air, atau bahkan antara tumbuh-tumbuhan hutan dengan pertanian (agriculture). Penggunaan lahan tertentu seperti sekolah, rumah sakit, hotel, dan industri masuk dalam jenis ‘bangunan’ dari sisi penutupan lahan. Citra satelit sangat sulit mendeteksi perbedaan penggunaan lahan berjenis bangunan itu. Tetapi riset sedang berjalan untuk mengatasinya. Beberapa penggunaan lahan misalnya pertanian dan kehutanan (agriculture vs vegetation), dapat dibedakan dengan teknik pengolahan citra terkini. Konvensi standar pewarnaan pun sudah ada untuk tiap-tiap penggunaan dan penutupan lahan (Anderson, Hardy, & Roach, 1976).

Saat ini alih guna lahan (land use change) banyak diteliti, dan menjadi materi wajib mahasiswa jurusan remote sensing and Geographic Information System (RS-GIS). Software yang bisa digunakan pun beragam dari Dyna Clue hingga IDRISI Selva (Eastman, 2012). Silahkan dicoba.

Referensi:

Anderson, J. T., Hardy, E. E., & Roach, J. T. (1976). A Land use and Land Cover Classification System for Use with Remote Sensing Data. United States of America. Retrieved from https://pubs.usgs.gov/pp/0964/report.pdf

Baja, S. (2012). Perencanaan Tata Guna Lahan dalam Pengembangan Wilayah – Pendekatan Spasial & Aplikasinya. Yogyakarta: Andi Offset.

Eastman, J. (2012). IDRISI selva tutorial. Idrisi production. Clark Labs-Clark Universit. Retrieved May 1, 2017, from https://clarklabs.org/wp-content/uploads/2016/10/TerrSet-Tutorial.pdf

Iklan

Memecah Kelas Hasil Klasifikasi di ArcGIS

Salah satu tugas penting penelitian mengenai land use adalah klasifikasi citra satelit. Biasanya hasil pengolahan citra yang utama adalah unsupervised classification yang harus dicek lagi akurasinya dengan data real yang lebih akurat (ground view), misalnya aerial view, study lapangan dengan GPS, ataupun cara lain (Google earth, bing aerial, dll). Hasil klasifikasi perlu dipilah misalnya builtup saja, vegetasi saja, dan kelas-kelas lainnya. Dengan ArcGIS untuk memilahnya tidak terlalu sukar, hanya dengan simbologi sudah cukup untuk memisahkan satu kelas dengan kelas lainnya. Misalnya gambar di bawah ini adalah kelas-kelas hasil unsupervised classification pada IDRISI yang diekspor ke ArcGIS.

Dobel klik saja pada peta klasifikasi yang sudah di-geret dari file-nya lewat Catalog. Selanjutnya misalnya yang berwarna merah mudah adalah air, dan akan kita pisahkan dengan yang lain. Tinggalkan saja air dan yang lainnya remove dari symbology.

Jangan lupa konversi dahulu menjadi Unique Values agar bisa dipilah kelasnya. Tekan OK dan peta hasilnya dapat dilihat di bawah ini. Setelah itu jika akan dikonversi ke Google Earth pro dalam format KMZ atau KML tinggal konversi saja seperti dibahas pada postingan yang lalu. Selamat mencoba.

Cluster Data dari ArcGIS ke Matlab

Postingan kali ini bermaksud mencoba membuat video tutorial bagaimana mengkluster data dari arcgis dengan software matlab. Iseng-iseng dengan pengisi suara dari translate google, ternyata oke juga. Hasilnya pun lumayan jelas dibanding saya yang ngomong .. haha.

Ada dua kandidat software perekam yang digunakan yaitu ‘screen-o-matic’ dan ‘microsoft expression’ yang keduanya gratis untuk menggunakannya. Hanya saja microsoft expression kali ini unggul karena bisa merekam suara dari ‘translate google’ dan saya belum berhasil dengan ‘screen-o-matic’ yang unggul jika ingin ada cam-nya. Silahkan lihat videonya.

Ups .. ternyata terpotong karena lebih 10 menit. Hasilnya adalah berikut ini.

Grafik Perbandingan Menggunakan Legend pada ArcGIS

Postingan yang lalu telah dibahas cara membuat grafik perbandingan dengan doughnut. Jika tidak jelas hasilnya maka fungsi dari perbandingan jadi hilang. Oleh karena itu dicari cara bagaimana membuat perbandingan yang jelas bagi pembaca. Kejelasan bagi pembaca merupakan salah satu aspek penting dari suatu publikasi. Tampilan akan kita coba menjadi bentuk di bawah ini dengan kotak berwarna menggambarkan jenis lahan (kelas tertentu dari land use).

Perhatikan gambar di atas. Pembaca akan dengan mudah melihat perbandingan kelas-kelas minoritas (prosentasi yang satu digit). Bagaimana caranya? Mudah saja, gunakan saja “legend”. Tidak perlu menggunakan insert grafik seperti postingan yang lalu.

Pertama-tama gunakan legend dengan format kotak dan di sebelah kanan prosentase lahan. Kemudian untuk yang sebelah kiri, mudah saja, pilih dengan men-checklist pembacaan dari kanan ke kiri (right to left) pada editing “legend”.

Oiya, sebelumnya karena membaca dari kanan ke kiri, tulisan 0.175 % harus diset menjadi % 0.175 supaya tidak ikut terbalik. Hasilnya sebagai berikut.

Langkah terakhir adalah menyatukan dua legend tersebut (kotak kelas-nya). Di sini kejelian mata dibutuhkan agar benar-benar nempel. Cara ini agak selebor. Seperti kata Gus Dur .. “Gitu aja kok repot”, yang penting jadi, he he.

Membuat Peta dengan ArcGIS dari Image IDRISI

Untuk membuat peta, ArcGIS memiliki keunggulan dibanding dengan IDRISI yang biasa digunakan untuk pemodelan dan pemrosesan citra satelit. Akan tetapi banyak dijumpai masalah-masalah ketika mengekspor gambar Idrisi ke ArcGIS. Berikut trik sederhana untuk menggambar image dari Idrisi dengan ArcGIS.

Langkah pertama adalah membuat folder kerja ArcGIS dan mengetahui letak image Idrisi yang akan dibuat peta-nya. Drag file teresebut dari ‘Catalog’ ke lembar kerja.

Salah satu hal yang membuat Idrisi sedikit ribet adalah adanya ‘background’ berwarna merah. Untungnya tanpa memanggil ArcToolbox ‘Spatial Analysis’ dapat dihilangkan, yaitu dengan Simbology yang ada di properties.

Atau dobel klik saja layernya, kemudian masuk ke tab ‘Simbology’ untuk menghilangkan ‘Background’ nya yang tidak ingin kita gambar di Layout ArcGIS (lihat post sebelumnya tentang layout) nantinya. Atur juga warna indikator di peta yang akan digunakan untuk ‘Legend’ nantinya.

Masuk ke menu “layout view” untuk membuat peta. Tambahkan “legend” dan pendukung peta lainnya hingga dihasilkan peta yang siap dicetak/digunakan. Semoga bermanfaat.

Membuat Chart pada Layout ArcGIS

Postingan yang lalu telah dibahas bagaimana membuat chart dinamis. Tetapi sepertinya kurang saya minati karena harus mengunduh plug-in tambahan. Kali ini kita bahas bagaimana menyisipkan grafik tentang peta yang kita buat dengan Insert Object pada ArcGIS. Buka ArcGIS dan siapkan peta, misalnya peta tentang klasifikasi lahan. Buka jendela Layout View yang terletak di bagian bawah IDE ArcGIS.

Insert Object dapat diakses lewat menu Insert Object. Setelah itu tinggal pilih tipe object yang akan digunakan, di sini kita ambil contoh Microsoft Graph Chart.

Secara default, akan dipersiapkan tabel batang. Untuk bentuk yang lain dapat dipilih, misalnya grafik donut.

Cara menggunakannya mudah karena disediakan template data yang bisa ditambah atau dikurangi dan diisi sesuai dengan kebutuhan.

Perhatikan bagian East yang terletak bagian dalam chart. Ketika diisi 50 seluruhnya (warna biru, hijau, coklat, dan krem) tampak proporsinya masing-masing 25%. Tidak perlu menekan tombol apapun, cukup tutup jendela editing, Chart tersebut sudah ter-insert di Layout View kita. Selamat mencoba.

Update: 26/07/17

Selain memilih Microsoft Graph Chart, dapat juga dengan memilih Microsoft Excel Chart. Hanya saja tidak bias menggunakan pilihan optimal krn compatibility mode. Sebaiknya gunakan Microsoft Excel dulu lalu chart diimpor ke ArcGIS dengan insert object.

compatibility problems chart.jpg

Coba Instal ArcGIS Versi 10 yuk ..

ArcGIS yang merupakan produk ESRI adalah aplikasi untuk mengelola Geographic Information System (GIS) yang terkenal dan banyak digunakan karena mudah. Postingan ini hanya sharing saja mengingat banyak mahasiswa yang menggunakan aplikasi ini untuk skripsi/tugas akhir. GIS tool lainnya yang tidak kalah hebat dan terutama open source saat ini sudah banyak juga tersedia dan menjadi alternatif utama ketika tidak bernaung lagi di institusi yang memiliki lisensi ArcGIS, seperti tempat saya kuliah saat ini misalnya.

Banyak sekali aplikasi yang tersedia di ArcGIS. Namun demikian ArcGIS desktop wajib diinstall, tekan Setup untuk menginstallnya di menu ESRI setup. Selain itu tentu saja diperlukan juga ArcGIS license Manager atau ArcObjects SDKs.

Berikutnya sangat mudah, seperti menginstall software-software pada umumnya. Tekan Next setelah “I Accept the license agreement”.

Ketika muncul pilihan instalasi, pilih yang complete saja, kecuali jika Anda sudah mahir dan ingin memilih Custom tertentu saja yang ingin diinstal. Berikutnya setelah adanya informasi bahwa ESRI akan menginstal juga python language, ESRI akan melakukan instalasi (diisitlahkan dengan nama Update) beberapa saat lamanya, tunggu saja, tapi jangan ditinggal di tempat umum, nanti hilang (sorry bercanda).

Lisensi ArcGIS lumayan mahal, biasanya hanya dimiliki oleh institusi (kampus, departemen, dll). Instal aplikasi Pre-release license manager juga untuk mengelola lisensi yang dibeli. Saya memiliki cara mudah, yaitu dengan menyimpan service.txt pada ArcGIS terdahulu. Jadi jika PC rusak atau pindah komputer, tinggal instal ulang saja dan me-replace service.txt itu ke mesin yang baru.

Selesai juga instalasi yang cukup memakan waktu ini. Mengenai file service.txt terkadang Windows menolak untuk me-replace file service.txt dengan yang baru walaupun sudah “as administrator”. Cara sederhana yang sering saya gunakan adalah me-rename yang lama (misal xservice.txt) setelah itu baru meng-copy paste service.txt yang baru ke lokasi lisensi. Sebelumnya instal terlebih dahulu license manager.

Secara default terlihat tidak ada fitur yang disediakan ketika ArcGIS diinstal.

Seperti telah disebutkan di muka, file service.txt saya rename (misal xservice.txt) dan dilanjutkan dengan meng-copas service.txt lama (yang sudah pernah digunakan) ke folder bin pada license ArcGIS.

Terakhir adalah yang tersulit karena harus mengisi port dan nama yang ada di service tersebut. Buka saja file service.txt dan lihat nama PC dan portnya, ganti sesuai dengan PC saat ini. Buka ArcGIS administrator untuk mengisi nama PC beserta port-nya.

Gunakan perintah ipconfig/all di command window untuk mengetahui nama PC yang akan diinstall ArcGIS (bisa juga cara lain lewat menu seting, tetapi saya lebih cepat dengan command window). Gampangnya, langkah terakhir harus ada 3 yang diutak-atik: 1) ArcGIS administrator, 2) License Manager, dan 3) file service.txt. Terakhir lakukan “re-read” di license manager dan pastikan juga Availability sudah terisi fitur-fitur yang diperlukan.

Perhatikan, Availability yang sebelumnya kosong kini terisi dan ArcGIS siap dijalankan (bandingkan dengan gambar sebelumnya pada postingan ini). Tutup semuanya dan jalankan ArcMap, jika bisa berjalan berarti instalasi OK. Mungkin cara darurat ini sedikit bermanfaat dan tentu saja sebaiknya gunakan lisensi resmi dari yang dimiliki institusi kita (kampus, departemen, dan lain-lain). Oiya, kalau ikut seminar di luar negeri, terutama beberapa negara Eropa, sebaiknya bawa laptop dengan lisensi ArcGIS yang resmi, atau tidak usah bawa saja lebih aman (Informasi dari dosen pembimbing, katanya sempat diperiksa oleh otoritas setempat perihal lisensi).