Mengunduh Peta Wilayah Indonesia

Ketersediaan data spasial wilayah Indonesia saat ini tidak perlu dikhawatirkan lagi karena kita sudah memiliki website khusus wilayah Indonesia, dengan kebijakan satu peta. Berbeda dengan ketika saya riset saat kuliah, dulu agak kerepotan untuk mengunduh shapefile peta wilayah di Indonesia. Jika ada, terkadang berbayar, kecuali Anda mujur memperoleh unduhan gratis dari orang yang men-share peta-nya.

Geospasial Untuk Negeri

Situs ini merupakan situs resmi milik pemerintah untuk mengunduh informasi mengenai seluruh wilayah Indonesia. Untuk mengunduhnya Anda perlu mendaftar (register) terlebih dahulu. Prosesnya tidak terlalu lama, hanya sedikit mengetik informasi kita di form yang disediakan. Ada tiga langkah yang diperlukan, antara lain:

Buat “username” disertai dengan password. Sertakan email valid yang fungsinya untuk konfirmasi. Email yang diisikan tidak harus email resmi, boleh gmail, yahoo, dan email gratisan lainnya. Jika sudah, klik “lanjut” di pojok kanan bawah, untuk masuk ke “step 2”.

Langkah kedua berisi informasi mengenai pekerjaan kita. Isi saja apa adanya, dilanjutkan dengan menekan tombol “Lanjut” jika sudah selesai.

Jika telah mengisi form ini, di bagian kanan bawah akan muncul tombol “Selesai” yang artinya kita telah selesai mengisi seluruh form yang ada. Selanjutnya buka email Anda dan pastikan ada email dari application.support@big.go.id. Tekan tombol “Verifikasi Email”.

Selanjutnya Anda sudah bisa login ke situs geospasial Indonesia. Silahkan masuk ke wilayah yang ingin Anda unduh, misalnya kabupaten Bekasi.

Untuk mengunduh suatu wilayah, cukup arahkan mouse ke lokasi tersebut. Secara otomatis nanti wilayah tersebut akan menyala. Oiya, sebelumnya masuk terlebih dahulu ke nemu “Dowload” – “Peta per Wilayah”.

Setelah itu pastikan muncul peta Indonesia. Arahkan menggunakan mouse ke wilayah yang ingin diunduh. Untuk zoom in/out gunakan schrol pada mouse Anda. Silahkan login terlebih dahulu sebagai syarat untuk mengunduh.

Pilih 25k ketika ada form yang muncul di dekat wilayah tersebut. Jika sudah diklik maka Anda akan siap mengunduh file rar wilayah tersebut.

Tekan simbol unduh di dekat wilayah tersebut. Simpan di tempat yang Anda inginkan dan pastikan hasil download bisa diekstrak. Saya cukup tercengang karena bukan hanya peta wilayah yang tersedia, peta tematik lainnya seperti niaga, industri, danau, sungan, bahkan kabel listrik pun tersedia .. cek cek cek. Gambar di bawah setelah dibuka dengan ArcGIS disertai modifikasi pada label tertentu di peta. Kenapa tidak dari dulu dibuatnya ya, padahal waktu kuliah dulu nyari-nyari informasi tersebut.

 

Mengaktifkan Spatial Analysis untuk Mengatasi ERROR 010096: There is No Spatial Analysist License

Terkadang ketika memanipulasi data spasial, khususnya Euclidean Distance, muncul pesan kesalahan seperti di bawah ini.

Untuk mengatasinya mudah saja. Buka “Extension” pada jendela “Customize”.

Buka kembali salah satu toolbox “Spatial Analyst”, misalnya Euclidean Distance. Pastikan toolbox sudah bisa dijalankan. Sebenarnya maksud ArcGIS mendisable spatial analysis agar tidak terlalu memberatkan penggunaan ArcGIS jika tidak sedang menggunakan Spatial Analysis. Semoga bermanfaat.

Tip dan Trik Klasifikasi Lahan di IDRISI

IDRISI (diambil dari kata Al-Idrisi, ahli geografi timur tengah yang juga keturunan Nabi Muhammad SAW) merupakan aplikasi untuk pemodelan land use/cover. Citra satelit yang terdiri dari 7 band frekuensi harus diklasifikasi menjadi beberapa kategori lahan. Standar klasifikasi biasanya menggunakan referensi dari Anderson et al, (link).

Untuk Unsupervised Classification dapat dengan mudah menggunakan fungsi “ISOCLUST” pada IDRISI asalkan memiliki beberapa Band frekuensi citra satelit hasil unduhan dari USGS. Nah, satu tugas yang menjengkelkan adalah mengklasifikasi ulang citra hasil kluster menjadi klasifikasi yang kita inginkan, apakah pemukiman, jalan, cropland, vegetation, dan lain-lain. Yang merepotkan adalah IDRISI menggunakan format “range” untuk menentukan warna hasil unsupervised classification. Postingan ini sedikit sharing cara mudah untuk klasifikasi ulang (reclassify) bahkan untuk yang buta warna sekalipun.

Perhatikan hasil ISOCLUST (Iteratif Self-Orginizing cluster analysis) di atas. Bagaimana kita tahu warna yang menunjukan air, pemukiman, jalan, dan lain sebagainya? Cara terbaik masih menggunakan citra komposit yang menghasilkan citra yang cocok menunjukan air, pemukiman, jalan, dan seterusnya. Namun yang termudah adalah dengan menekan satu persatu kota warna dan melihat kira-kira warna itu menunjukan apa. Misalnya warna ke-empat dari atas diklik, maka menunjukan citra di bawah ini yang dapat dipastikan itu adalah pemukiman/bangunan.

Bagaimana cara membuat tabel konversi dari sepuluh warna di atas menjadi beberapa kelas penting saja? Caranya adalah dengan pertama-tama menyalin warna di atas. Berikutnya konversi urutan dari atas menjadi kelasnya.

Walaupun di bagian tabel: 4 2 3 dan 4 3 4 bisa digabung menjadi 4 2 4 tetapi dengan redundancy di atas dapat mengurangi error. Perhatikan kolom bagian tengah tabel tetap rapi tersusun angka 1 sampai 10 sesuai dengan hasil klasifikasi ISOCLUST. Hasilnya seperti di bawah ini, semoga bermanfaat.

 

 

Mengkonversi Polygon Peta Pada ArcGIS ke Matriks di Matlab

Terkadang untuk melakukan manipulasi dengan Matlab membutuhkan konversi dari data berupa peta menjadi matriks. Jika sudah dalam bentuk matriks maka beragam metode dapat diterapkan untuk memanipulasi matriks peta tersebut seperti pengklusteran, klasifikasi, dan lain-lain. Postingan ini bermaksud mengkonversi citra polygon menjadi matriks di Matlab.

Mempersiapkan Poligon

Terlebih dahulu persiapkan peta poligon, misalnya lokasi sekolah di bekasi selatan. Karena fungsi polygon to raster di ArcGIS tidak berlaku untuk titik maka diperlukan proses “buffering” agar dihasilkan region sebuah titik. Cari fungsi “buffering” tersebut di kolom “search” pada ArcGIS anda.

Di sini dibuat lingkaran dengan jarak 50 meter dari pusat titik di tiap-tiap lokasi. Secara default tipenya adalah lingkaran. Jika sudah tekan “OK” di bagian bawah. Pastikan peta baru yang berisi lingkaran dengan jari-jari 50 meter yang berada di sekitar titik lokasi.

Konversi ke Raster

Untuk menjadikan poligon menjadi matriks diperlukan proses konversi dari poligon ke raster dengan fungsi “Polygon to Raster”.

Tekan “OK” dan tunggu sesaat hingga ArcGIS membuat rasternya seperti gambar berikut ini. Perhatikan yang tadinya lingkaran (round) sedikit berubah menjadi kotak-kotak.

Membentuk Matriks di Matlab

Terakhir kita menarik data yang telah dibuat oleh ArcGIS ke Matlab. Pertama-tama data perlu di- “Export” terlebih dahulu. Bentuknya terdiri dari beberapa layer dengan komponen utamanya berekstensi TIF yang mirip dengan JPG atau PNG.

Pastikan di folder target terdapat salah satu citra yang akan dibaca matriksnya lewat Matlab. Arahkan “Current Directory” pada lokasi yang sesuai agar bisa dibaca Matlab. Jalankan perintah ini untuk melihat “image”nya.

  • imshow(‘sekolah_PolygonToRaster11.tif’)

Jika kita lihat ukurannya masih sangat besar.

  • I=imread(‘sekolah_PolygonToRaster11.tif’);
  • size(I)
  • ans =
  • 474 248

Ada baiknya resolusi sedikit diturunkan agar diperoleh matriks yang mudah dimanipulasi. Gunakan fungsi “imresize” dengan sebelumnya mengkonversi gray menjadi biner.

  • I2=imresize(I,0.25);
  • size(I2)
  • ans =
  • 119 62

Tampak resolusinya berkurang seperempatnya. Konversi menjadi biner agar dihasilkan image yang tidak pecah-pecah seperti di atas. Untuk membahas masalah tersebut perlu postingan lain tentang pengolahan citra. Semoga bisa menginspirasi.

Menambahkan Atribut Peta Berdasarkan Attribute Table

Banyak hal-hal sederhana terkadang karena tidak tahu jadi kelihatan rumit. Misalnya ketika ingin membuat layout tentang suatu area penelitian terdapat wilayah yang perlu diberi keterangan seperti peta karawang berikut ini.

Kita bisa menambahkan objek teks pada wilayah tersebut, tetapi kalau jumlahnya banyak maka tidak ada cara lain selain yang otomatis. Langkahnya adalah memilih Label Features setelah mengklik kanan objek peta di Table of Contents.

Cara ini digunakan jika data region tersedia pada attribute table karena jika tidak ada maka akan kosong ketika prosedur tersebut dijalankan dan tidak ada jalan lain selain memasukan secara manual lewat penambahan objek text di gambar.

Nah bagaimana menampilkan informasi coordinate system seperti gambar di atas? Caranya dengan memasukan dynamic text yang tersedia di menu insert dynamic text coordinate system. Sekian semoga bermanfaat.

Konversi Layer ke Shapefile Pada ArcGis

Ketika konversi dari KMZ (dibuat dari Google Earth Pro) ke ArcGis formatnya berupa layer dengan memanfaatkan fungsi KMZ to Layer. Perlu sedikit modifikasi agar file layer ke shapefile. Caranya adalah dengan mengekspor data layer tersebut. Layer berisi data spasial dalam format GDB.

Berikutnya ada pilihan apa saja yang akan dikonversi. Pilih saja “All Feature” dilanjutkan dengan menekan lokasi output. Pilih “shapefile” ketika akan menulis nama filenya.

Terakhir ArcGis akan menanyakan apakah hasil konversi langsung ditampilkan pada map yang saat ini aktif. Pilih saja “ok” agar bisa langsung digunakan sekarang. Perhatikan data yang sebelumnya berupa layer menjadi shapefile yang siap dimanipulasi. Selamat mencoba.

Mendata Penggunaan Lahan

Penggunaan lahan (Land Use) sangat sulit diklasifikasi secara otomatis lewat citra satelit karena Land Use menggambarkan pengunaan lahan oleh manusia untuk tujuan khusus yang tidak bisa digambarkan dari bentuk bangunan. Bisa saja sebuah gedung berfungsi sebagai sekolah yang sama bentuknya dengan rumah sakit, kantor, mall dan lain-lain. Oleh karena itu pendataan Land Use mau tidak mau dilaksanakan secara manual. Pos kali ini sekadar berbagai bagaimana mendatanya.

Instal Google Earth Pro

Google Earth menawarkan secara gratis aplikasi dekstop untuk melihat map seluruh negara di dunia (bahkan planet Mars pun didata). Silahkan unduh di link resminya. Untuk lebih jelas lokasi yang akan didata, buat shapefile-nya dengan GIS tool yang tersedia, misalnya ArcGis. Impor dari Google Earth pro agar batas lokasi tergambar dengan jelas di Google Earth.

Ketika mencari file jangan lupa memilih ekstensi yang sesuai (*.shp) karena secara default hanya *.txt. Cari shapefile yang diinginkan. Ketika tombol OK ditekan Google Earth langsung mengarahkan ke lokasi yang dituju, sesuai shapefile yang dipilih. Agar area Google Earth dalam study area tidak tertutup pilih hollow (tanpa warna).

Template Google Map Pada Google Earth Pro

Agak sulit memang melihat citra satelit. Ada baiknya kita menambahkan file KML yang ditempelkan ke Google Earth. Silahkan unduh file kml-nya, bisa disimpan atau langsung di-run dengan Google Earth Pro yang baru saja diinstal. Silahkan pilih yang sesuai saja karena akan berat kalau diaktifkan semua (diceklis). Berikut tampilan Google Earth setelah ditempel KML tersebut.

Sumber Data Lain

Banyak sumber data yang bisa dijadikan patokan Land Use, salah satu yang baik dan general adalah Street Directory. Misalnya untuk wilayah Bogor Barat dapat diakses di link berikut ini. Dikatakan general karena di dalamnya terdapat sekolah, daerah komersial, industri, rumah sakit dan sebagainya. Tentu saja jika ingin jelas silahkan buka sumber data yang spesifik (lihat pos yang lalu). Sekian semoga postingan singkat ini bermanfaat.

Merger Data Spasial – ArcGIS

Selain Clip, Merge merupakan fasilitas Geoprocessing pada ArcGIS yang tak kalah penting. Fungsinya adalah menggabungkan dua shape file menjadi satu. Misalnya kita memiliki dua data land-use, pemukiman padat dan tidak padat seperti gambar berikut. Kedua tipe land-use tersebut akan digabungkan menjadi satu.

Langkah-langkah merge pada ArcGIS adalah: i) membuka jendela merge, ii) memasukan shapefile yang akan digabung, dan iii) memberi nama shapefile baru hasil merging. Jendela merge dapat diakses lewat menu Geoprocessing.

Setelah tombol OK ditekan ArcGIS akan memproses penggabungan dua shapefile itu menjadi satu file baru. File baru tersebut merupakan penggabungan dari dua file sebelumnya. Tampak simbol berititik hitam merupakan hasil penggabungannya. Semoga bermanfaat.

INFO: Peta contoh di atas adalah kecamatan Bantargebang Bekasi.

Membuat BaseMap di ArcGIS

Basemap merupakan peta dasar yang menyertai shapefile. Dengan basemap tampilan peta menjadi lebih akurat mengingat basemap biasanya diambil dari citra satelit atau peta jalan (street map). Misalkan kita memiliki region tertentu, kecamatan Tanah Sareal, Bogor.

Sangat sulit melihat peta seperti itu tanpa indikator lokasi, walaupun dibuat dari proses clip kota Bogor berdasarkan kecamatan tertentu saja, dalam hal ini tanah sareal. Untuk membuat basemap tekan tombol Add Data dilanjutkan mengklik “basemap”.

Banyak pilihan yang ditawarkan untuk Basemap, antara lain imagery dan streetmap. Jika ingin mendata land-use yang ada sebaiknya pilih yang berakhiran “with labels” atau gunakan “openstreet map”.

Tampak basemap “openstreetmap” yang menyertai peta kecamatan tersebut. Jangan lupa karena bersifat online, komputer harus terkoneksi ke internet. Openstreetmap merupakan peta berbasis “crowd sourcing” dimana partisipasi pengguna bisa menambahkan informasi-informasi penting. Lihat hasil zooming di bawah ini. Semoga bermanfaat bagi yang ingin memetakan wilayah.

Mencari Lokasi Penggunaan Lahan Suatu Wilayah

Berbeda dengan tutupan lahan yang dapat diketahui dengan cepat lewat klasifikasi citra satelit, menentukan penggunaan lahan lebih rumit karena harus melihat langsung fungsi dari suatu bangunan apakah sekolah, rumah sakit, pabrik, pemukiman, dan lain-lain. Informasi dapat diperoleh lewat instansi-instansi terkait. Namun biasanya masih berupa data non-spasial, kalaupun ada terkadang tidak terawat dengan baik, misalnya lokasi tidak tepat, tidak ada lokasi, dan lain-lain.

LOKASI SEKOLAH

Data pokok kemdikbud memiliki informasi data spasial, misalnya untuk sekolah berikut ini. Di salah satu tab terdapat “Map” yang menunjukan lokasi sekolah yang bersangkutan. Sayangnya hanya berisi sebuah profil, untuk mencari sekolah-sekolah di daerah tertentu (kecamatan/kabupaten/kota) harus lewat sumber lain.

Situs penjaminan mutu pendidikan (PMP) juga memiliki data yang lengkap tentang sekolah-sekolah yang berada di daerah tertentu, misalnya data sekolah menengah pertama (SMP) di daerah kota Bogor berikut ini. Jika diklik salah satu sekolah yang ingin diketahui lebih lanjut akan muncul informasi yang lumayan lengkap seperti jumlah dan sebaran siswa, jumlah guru dan profil-nya, dan lain-lain. Sayangnya tidak ada informasi spasial (lokasi sekolah berupa peta).

Situs resmi lain yang menyediakan informasi spasial adalah berikut ini. Tampak lokasi sekolah di propinsi Bali. Cukup lengkap tapi basemap-nya kurang informatif. Alangkah baiknya jika menggunakan jenis streetmap ala waze atau google map.

Ada satu lagi informasi data spasial lewat arcgis online yang di-share oleh penggunanya. Salah satu keuntungannya adalah format shapefile yang sudah standar dapat diunduh dan dibuka online di komputer sendiri. Tentu saja jika di-share oleh pembuatnya, tetapi bisa juga dengan dibuka lewat mapviewer online, berikut link contohnya.

RUMAH SAKIT

Tipe penggunaan lahan lain yang tidak kalah penting adalah lokasi rumah sakit atau fasilitas kesehatan (klinik, apotik, dan sejenisnya). Satu yang cukup baik adalah situs ini, jika diklik salah satu item akan menampilkan informasi lengkap, misalnya RS Hasan Sadikin. Situs ini memanfaatkan info dari google map yang bersifat crowd sourcing.

Situs resmi dari departemen kesehatan merupakan rujukan yang pasti dari informasi mengenai rumah-rumah sakit di suatu wilayah. Tetapi tetap saja harus mencari sendiri lokasi di peta berdasarkan alamat rumah sakit tersebut.

Untuk jenis-jenis penggunaan lahan lainnya silahkan cari berdasarkan ke mana tipe lahan tersebut menginduk. Ada satu situs yang lumayan bagus dalam mendata beragam tipe lahan yaitu www.streetdirectory.com (lihat pos yang lalu) misalnya untuk wilayah kota bogor ini. Demikian, semoga bermanfaat bagi yang sedang mencari data spasial penggunaan lahan di daerah tertentu.

Mengunduh Shapefile di ArcGis.com

ArcGIS tidak hanya desktop melainkan juga online. Buka browser dan ketik www.arcgis.com. Tentu saja harus memiliki akun untuk login. Tetapi jika hanya ingin mengunduh tidak perlu login. Postingan ini mencoba mengunduh batas kecamatan wilayah kota Bogor.

Jika sudah masuk ke situs arcgis cari simbol kaca pembesar yang artinya searching. Ketik kata kuncinya, misalnya “kecamatan kota bogor”. Berikut tampilan ketika data tersebut ditemukan.

Jika Anda beruntung peta yang Anda cari tampil di halaman hasil pencarian. Terkadang terdapat lebih dari satu hasil pencarian. Kebetulan data spasial kecamatan di kota bogor ada yang sudah mengeshare, Alhamdulillah. Pilih peta hasil pencarian tersebut.

Klik “Download” untuk mengunduh peta kecamatan di kota Bogor dalam format shapefile yang di-rar. Buka dengan ArcGIS hasil ekstraknya. Tampak seperti gambar di bawah ini hasilnya.

Agak sulit melihat secara real peta tersebut. Jika Anda memiliki Google Earth Pro, silahkan impor peta tersebut agar dapat melihat secara detil akurasinya terhadap citra satelit berikut ini.

Terima kasih untuk rekan-rekan kartografer yang sudah sukarela membagikan peta-nya di arcgis.com. Oiya, terkadang shapefile tidak bisa diunduh melainkan dibuka langsung lewat ArcGIS. Sekian semoga bermanfaat.

Konversi UTM ke Latitude – Longitude (Terapan)

Ada tugas revisi buku, dan rencananya ada tambahan di bagian implementasi Matlab dengan sistem basis data (Access dan MySQL) yaitu data spasial dan pemrosesan teks. Cukup menarik ternyata Matlab memiliki banyak fasilitas, bahkan sistem informasi geografis (SIG) pun dilayani. Postingan singkat ini (lanjutan dari post yang lalu) menggambarkan bagaimana mengutak atik SIG dengan Matlab.

Salah satu komponen penting dari SIG adalah proyeksi. Salah satu proyeksi yang terkenal adalah Universal Transverse Mecartor (UTM) yang membagi bumi menjadi zona-zona. Untuk komputasi lebih mudah menggunakan jenis koordinat desimal ini, dibanding dengan jam, menit, detik atau lintang dan bujur. Repotnya ketika selesai melakukan kalkulasi dengan Matlab terkadang untuk menampilkan ke SIG berbasis web (Web SIG) perlu dikonversi ke latitude (lintang) dan longitude (bujur).

Setelah searching seharian dari situs yang remeh temeh hingga yang serius, ternyata situs Matlab sudah menyediakannya (lihat link ini). Karena tidak tersedia di instalasi Matlab, mau tidak mau harus membuat M-file yang dikopi dari situs tersebut. Untuk teori dasar silahkan lihat link ini (sebaiknya jangan deh, ntar pusing he he).

Jadi prinsipnya setelah matlab mengolah data spasial, kemudian hasilnya sebelum dikirim ke Web SIG dikonversi terlebih dahulu dari UTM ke lintang bujur karena Google Map API (lihat caranya) memerlukan data lintang bujur bukan UTM (kabarnya ada juga gmap4 yang bisa menggunakan UTM). Walau singkat semoga bermanfaat.

Sustainable Urban Form

Riset tata kota fokus ke bentuk urban yang mendukung pembangunan berkelanjutan, pembangunan yang bukan hanya memenuhi kebutuhan generasi sekarang, melainkan juga generasi yang akan datang (Steiner, 2008). Banyak sekali perdebatan mengenai bentuk urban yang cocok dengan konsep pembangunan berkelanjutan. Di sini saya ingin memperkenalkan bentuk-bentuk sustainable urban yang diusulkan oleh peneliti.

Penelitian oleh (Jabareen, 2006) menjelaskan beragam bentuk urban yang sustainable. Berikut contoh-contohnya.

1. Neotraditional Development

Jika kita perhatikan kota Jakarta, terjadi perubahan dari urbanisasi menjadi kebalikannya, dikenal dengan istilah “post-suburbanization” (Firman, 2004; Firman & Fahmi, 2017). Maka para pakar urban berusaha mengurangi dampaknya dengan konsep tersebut, yaitu bagaimana menjaga penurunan penduduk “inner city” dan membangun juga kota-kota penyangga.

2. Urban Containment

Munculnya daerah-daerah “Sprawl” baru (saat ini Meikarta contohnya) membuat khawatir pemerhati tata kota akan dampaknya. Di Amerika konsep urban containment dimaksudkan untuk menghindari proses “sprawl” yang tidak baik. Walaupun ada juga sprawl yang baik, misalnya daerah industri khusus yang jauh dari pemukiman.

3. Compact City

Kota kompak (compact city) disukai oleh penata kota dari Eropa dan Amerika karena dapat mengurangi dampak negatif dari transportasi. Kota yang kompak membuat jarak tempuh menjadi rendah dan penggunaan kendaraan berpolusi menjadi berkurang. Bahkan orang cenderung berjalan kaki karena jarak antara satu tempat dengan tempat penting lainya dekat.

Kota kompak mengharuskan diversifikasi, artinya harus ada variasi dalam satu lokasi. Misalnya harus ada sekolah, pasar, tempat ibadah, dll. Jadi orang cukup berjalan kaki sudah bisa sampai ke lokasi tujuan. Bentuk-bentuk segregasi, misalnya kompleks khusus agama tentu, dll sebaiknya dihindari.

4. Eco City

Bentuk kota ini berpatokan dengan konservasi alam, ekologi, dan juga aspek sosial. Biasanya diterapkan di negara maju yang kesadaran warga dan keseriusan pemerintahnya tinggi akan faktor lingkungan. Walaupun demikian sebaiknya negara-negara yang kurang maju, atau ga maju-maju (berkembang terus), tetap mencontoh jenis kota ini mengingat makin puaanas aja tempat tinggal kita, contohnya saya yang di Bekasi. Semoga bermanfaat.

Referensi

Firman, T. (2004). New town development in Jakarta Metropolitan Region : a perspective of spatial segregation, 28, 349–368. http://doi.org/10.1016/S0197-3975(03)00037-7

Firman, T., & Fahmi, F. Z. (2017). The Privatization of Metropolitan Jakarta’s (Jabodetabek) Urban Fringes: The Early Stages of “Post-Suburbanization” in Indonesia. Journal of the American Planning Association, 83(1), 68–79. http://doi.org/10.1080/01944363.2016.1249010

Jabareen, Y. R. (2006). Sustainable Urban Forms: Their Typologies, Models, and Concepts. Journal of Planning Education and Research, 26(1), 38–52. http://doi.org/10.1177/0739456X05285119

Steiner, F. (2008). The living landscape – An Ecological Approach to Landscape Planning – Second Edition. Washington DC: ISLAND PRESS.

 

Penerapan Spatial Metrics

Spatial metrics (lihat post yang lalu) merupakan alat bantu analisa lansekap (landscape) lewat bantuan statistik khusus data spasial. Penggunaannya untuk analisa kondisi suatu wilayah tentang sebaran Patch. Patch adalah homogenous region dari suatu lansekap tertentu seperti taman, perumahan, wilayah urban dan lain-lain. Misalnya dari citra satelit kita bisa melihat dengan mata kepala, ternyata patch-nya ga beraturan, jarang-jarang, terisolir dan sudutnya (edge) runcing, bergerombol dan sebagainya. Berikut contoh tulisan sederhana saya bagaimana menganalisa spatial metrics dengan software free FRAGSTATS.

Spatial metrics ada banyak, terkadang ada yang mirip satu sama lain. Jadi ketika menggunakan harus memperhatikan aspek redundansi, dan juga berakibat lamanya perhitungan metric pada FRAGSTATS. Berikut ini penjelasan satu persatu spatial metrics yang digunakan.

1. Patch Density (PD)

Sesuai dengan namanya, adalah kepadatan patch, misalnya patch di sini daerah urban. Satuannya adalah jumlah patch per 100 hektar.

Makin homogen nilai PD makin besar. Ketika suatu wilayah urban terpisah-pisah dan heterogen, nilai PD atau kerapatan patch nya rendah.

2. Landscape Shape Index (LSI)

LSI mengukur tingkat ireguleritas suatu lansekap. Rumusnya adalah sebagai berikut:

Makin tidak beraturan nilai LSI makin kecil. Maka ketika suatu wilayah urban berkembang dan mekin teratur, nilai LSI membesar. Variabel min e adalah panjang (keliling) terkecil, yang dari sisi geometri adalah lingkaran, yaitu bentuk yang reguler dan kompak.

3. Euclidean Nearest-Neighbor Distance (ENN)

Metric ini mengukur panjang antara satu patch dengan patch lainnya. Ketika antara satu patch dengan lainnya berjauhan maka nilai ENN akan besar, dan mengecil ketika di sela-selanya muncul patch baru.

4. Percentage of Like-Adjacency (PLADJ)

Metric ini sangat terkenal karena kemudahannya. Prinsipnya adalah ketika satu patch dikelilingi oleh patch lain yang berbeda, maka nilainya berkurang.

Seandainya suatu wilayah urban tidak memiliki bangunan (urban area), maka PLADJ maksimum karena pembilang dan penyebut sama. Ketika jumlah gik (like adjacency) yang berbeda jenis patch maka pembilang membesar maka PLADJ turun terus hingga jumlah patch I dan k sama, jika hanya ada dua patch. Jadi biasanya urban area bertambah, PLADJ turun, hingga jumlah urban dan non urban kira-kira sama. Selanjutnya PLADJ naik ketika wilayah non urban berubah jadi wilayah urban.

Kebanyakan riset tentang urban growth mengenal proses pertumbuhan urban dari didominasi oleh tipe outlying (terisolasi), kemudian bergeser ke edge expansion (bertambah di ujung patch) dan infilling (mengisi ruang kosong antara patach). Semoga bermanfaat.

Metode Menentukan Bobot pada Multi-Criteria Selain Pairwise Comparison (AHP)

Untuk mencari lokasi yang cocok untuk penggunaan lahan tertentu, optimasi rancangan, dan sejenisnya ada empat metode yang terkenal: ranking, rating, trade-off, dan pairwise. Cara penggunaannya dapat dilihat pada artikel berikut ini, dalam jurnal teknik sipil.

Di bagian kesimpulan, ketika faktor biaya, waktu dan kemudahan penggunaan menjadi perhatian maka metode ranking, rating, dan trade-off layak untuk digunakan. Tetapi ketika faktor akurasi dan fondasi teoritis yang menjadi perhatian maka metode pairwise yang biasanya dengan analytic hierarchy process (AHP) digunakan, dengan software yang terkenalnya “expert choice”.

Kelemahan multi-criteria dalam menentukan kesesuaian (suitability) terhadap suatu hal adalah sangat bergantung dengan penentuan bobot seperti diutarakan dalam presentasi oleh ESRI (vendor dari ArcGIS) berikut ini:

Semoga postingan ini bisa bermanfaat, terutama saya sendiri baru saja menjawab pertanyaan mengapa menggunakan metode pairwise tidak dengan metode yang lainnya.

Referensi:

http://www.iaeme.com/MasterAdmin/UploadFolder/IJCIET_06_11_012-2/IJCIET_06_11_012-2.pdf

https://maps.uky.edu/esri-uc/esri_uc_2k12/Files/130.pdf