The Unified Process

Bagi mahasiswa komputer yang sudah atau sedang mengerjakan skripsi/tugas akhir pasti mengenal istilah SDLC, singkatan dari System Development Life Cycle, standar pembuatan perangkat lunak. Kemunculan metode ini diperuntukan untuk standar pembuatan perangkat lunak tanpa iterasi. Tentu saja memiliki kelemahan, tetapi cukup baik untuk standar, apalagi standar kelulusan mahasiswa. Mahasiswa mengajukan proposal, bimbingan, pembuatan kode program, sidang dan lulus dah.

SDLC biasanya digunakan untuk pembuatan software konvensional yang terstruktur dan belum berbasis objek. Sementara untuk perancangan software berbasis objek, salah satu standar yang terkenal adalah Unified Process (UP) yang menggunakan visualisasi diagram Unified Modeling Language (UML) dan saat ini menjadi momok menjengkelkan mahasiswa TI/SI karena diagramnya yang cukup banyak untuk diingat: use case, class, dan teman-temannya.

Mempelajari UML sendiri sangat sulit tanpa mempraktekan langsung lewat proses pembuatan perangkat lunak, sering diistilahkan dengan Software Development Process (SDP) atau Software Engineering Process (SEP), walaupun kebanyakan praktisi IT enggan disebut engineer dan lebih suka dibilang developer .. he he yakni kaum yang kerjanya mengkonversi kebutuhan (requirement) menjadi (software).

Di awal UP sering disebut Unified Software Development Process (USDP) tetapi karena mungkin kepanjangan oleh salah satu pencetus UML, Ivar Jacobson, cukup disebut UP. Implementasi pertamanya adalah dilakukan oleh Ericsson (dikenal dengan ericsson approach) di IBM atau dengan istilah terkenalnya Rational Unified Process (RUP).

Ok, cukup panjang membahas hal ini. Butuh satu buku khusus yang sedang saya kerjakan untuk coba diterbitkan, melanjutkan buku terdahulu. Jika ingin mempelajari lebih detil, baca buku khusus UML yang banyak bertebaran baik di toko buku maupun internet, terutama dengan bahasa pengantar bahasa Inggris. Jadi kalau kalian sulit memahami pembahasan UML dengan bahasa Indonesia bisa mendownload yang berbahasa Inggris yang lebih mudah (eh .. kebalik ya).

Iklan

Using Open ModelSphere for Business Process Modeling

Hari/Tgl/M.Kul/Dosen: Sabtu/30-10-2010/Rahmadya Trias

Software berjenis Computer Aided Software Engineering (CASE) yang beredar di pasaran dimaksudkan untuk mempermudah pengguna dalam membuat suatu perangkat lunak. Beberapa di antaranya harus membeli lisensi (silverrun, powersim, rational rose dan sebagainya) sedangkan beberapa berlisensi open source yang gratis. Salah satunya adalah Open ModelSphare yang akan kita bahas berikut ini. Kita telah mengetahui bahwa jenis CASE ada yang high dan ada yang low. High hanya dimaksudkan untuk modeling sedangkan low bisa membantu programmer membuat coding, walaupun ada beberapa CASE yang sanggup mengkonversi dari modeling menjadi coding.

Setelah didonlot dari situsnya, cobalah untuk menginstalnya. Mari kita bareng-bareng menginstall software Open ModelSphare. Dobel klik pada installer software tersebut. Klik bahasa Inggris, lalu tekan OK hingga menampilkan “Welcome to Open ModelSphere Setup Wizard”. Klik dan sebaiknya baca GNU General Public License versi 3 berikut ini.


Klik “I accept the agreement” lalu tekan next beberapa kali. Setelah memilih letak lokasi instalasi maka akan terjadi proses penginstalan. Setelah FINIS akan muncul program yang telah kita instal berikut ini.


Kita akan diminta CASE jenis apa yang akan kita gunakan. Ada tiga pilihan antara lain Data Model, Business Process Model (BPM) dan UML.


Di sini akan kita coba Busines Process Model dengan model yang sudah lama dikenal antara lain Data Flow Diagram (DFD). Pilih jenis yang sesuai dengan kampus dimana Anda menyelesaikan skripsi. Untuk BSI/Nusa Mandiri biasanya menggunakan Ward-Mellor Notation.


In the link below I try to show you how to use Open ModelSphere in Modeling Business Process. I only show how to add context diagram, nol diagram and detail diagram in brief manner with Gane – Sarson Notation.