Jangan Lupa Evaluasi

Anda sakit? Anda baik-baik saja? Jika pertanyaan itu dialamatkan ke Anda, apa yang Anda jawab? Mungkin Anda menjawab baik-baik saja, hanya sedikit kolesterol dan kadang magh kambuh. Begitu juga terhadap institusi Anda, mungkin menjawab dengan hal yang sama, misal bisnis lancar, mahasiswa baru masih ada tiap tahun, masih untung, dan sejenisnya.

Dari kecil saya hidup di utara Jakarta, tepatnya tanjung priok. Kehidupan yang keras dimana sumpah serapah sudah biasa. Keponakan saya yang masih kecil waktu itu pun kalau sedikit tersinggung langsung keluar kata ‘anjing’. Uniknya ketika idul adha, melihat kambing lewat dia langsung teriak, ada .. anjing.. ada anjing.. nah lho. Ketika kondisi lagi error, wilayah tempat tinggal saya menjadi tempat pertarungan antar geng, karena lokasinya yang tak tersentuh aparat keamanan. Pernah saya dan teman kecil saya tebak-tebakan di mana tetesan darah yang berceceran di jalan berhenti.

Selang beberapa waktu, saya harus SMA ke Jogja, karena diajak kakak yang kuliah. Jaman itu merupakan jaman yang tidak bisa dilupakan karena masih bermain surat dan sekali saya menerima wesel. “Rahmadya, segera ke tata usaha”, pemberitahuan dari pengeras suara sekolah. Siang itu saya menghadap TU dan diberikan secarik wesel. Untungnya di depan sekolah ada kantor pos, langsung saja ke sana. Sesampainya di sana, petugas melihat wesel, entah apa yang dia lakukan, selanjutnya memberikan uang sesuai dengan jumlah yang tertera. Ya, uang bulanan ternyata dikirim via wesel, waktu itu tahun 1992. Setelah itu karena bank sudah menjamur, kiriman beralih lewat bank. Tapi jangan salah, tidak seperti sekarang yang ada ATM, waktu itu harus ke teller hanya sekedar cek apakah ada kiriman masuk. Agar tidak malu sama teller karena dateng Cuma ngecek isi rekening, biasanya saya dan kedua kakak saya bergiliran ke teller di hari yang berbeda, he he.

Saatnya liburan merupakan hal yang membahagiakan. Dengan naik kereta senja yogya gambir saya tiba dengan lelah, mengingat kereta jaman dulu yang banyak berhenti, tidak seperti sekarang. Baru saja sampai, saya terkaget menghirup udara Jakarta yang tidak senyaman Yogya. Keponakan saya langsung menyambut,”om bandit .. om bandit”. Dalam hati kenapa dia memanggil nama saya bandit, mungkin sulit lidahnya. Untuk menyegarkan badan, saya langsung mandi. Alangkah terkejutnya ketika air PAM dari ledeng menerpa tubuhku. Tidak seperti air di kampung yang menyegarkan, air PAM malah bikin berkeringat. Dalam hati saya berfikir kenapa saya betah tinggal di daerah ini ya bertahun-tahun.

Cerita di atas hanya mengilustrasikan bahwa kita terkadang merasa hal-hal aneh, kurang wajar, kurang sehat, dan lainnya adalah hal yang biasa karena sudah bertahun-tahun menikmati hal tersebut. Ibarat menderita sakit yang lama, jadi tubuh menganggap itu bukan penyakit. Para nabi, juru selamat, dan orang tercerahkan lainnya sejatinya hanya menyadarkan kita akan penyakit yang kita alami. Begitu juga di tempat kita bekerja, karir kita, dan sekitar kita. Terkadang baru sadar ketika terjadi hal-hal yang di luar dugaan seperti jumlah mahasiswa menurun, karyawan baik pindah ke pesaing, adanya kerugian, bahkan kebangkrutan hingga terpaksa dijual.

Petenis juara dunia pun masih membutuhkan pelatih yang membantu menyadarkan kalau servis masih ada kelemahan. Bahkan juara dunia catur pun membutuhkan pelatih yang kalau diadu, si pelatih itu tentu saja kalah. Jadi, mintalah bantuan orang untuk mengevaluasi diri, organisasi, tim, dan lain-lain. Sekian, semoga menginspirasi.

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.