Outcome Based

Presiden Jokowi di awal pemerintahan kerap melakukan gebrakan-gebrakan di luar kebiasaan. Dari menteri kelautan yang gemar meledakan para pencuri ikan, hingga menteri pendidikan yang bukan dari praktisi kampus, yakni pendiri Gojek, alias pengusaha. Sikapnya yang ‘gaul’ kerap dianggap kurang menghargai kesakralan institusi pendidikan di Indonesia, yang memang masih ada sisa-sisa pendidikan Belanda, khususnya di kampus-kampus tua.

Terlepas dari itu, apakah kinerjanya baik? Semua terserah pembaca sekalian. Terakhir, mendikbud yang lulusan Harvard ini dicecar oleh anggota dewan, yang mengkritisi nasib guru-guru di daerah 3T, dan mereka tidak menghiraukan penghargaan orang luar negeri yang melihat kinerjanya yang ok.

Di akhir-akhir masa jabatan presiden, uniknya adalah menteri yang bergelar magister itu justru mampu menambah profesor-profesor baru yang dulu terasa ‘seret’. Sistem 400 tim ‘shadow’ (kemudian diralat menjadi mirroring) di tiap dirjen sepertinya mempercepat dan memperlancar proses.

Mungkin salah satu hal yang cukup mengganggu rekan-rekan dosen yang tidak muda lagi adalah beasiswa yang sulit karena syarat umur sekarang masuk kategori remaja (di bawah 40 tahun). Kampus-kampus besar mungkin bisa memberikan beasiswa lokal, tetapi untuk kampus-kampus menengah ke bawah terpaksa menggunakan uang pribadi (dana mandiri). Saya termasuk rombongan beruntung yang memperoleh beasiswa, dan ternyata memang di luar negeri, dosen-dosen kita ke-tua-an. Kita selalu jadi ‘pa RT’, karena paling tua.

Benarkah kita tidak perlu melihat pandangan orang luar negeri terhadap kinerja kita? Saya ingat dulu ketika Habibie ditolak pertanggungjawabannya oleh DPR sehingga terpaksa diganti. Banyak kejadian, orang kita di luar negeri lebih dihargai dari pada di dalam negeri.

Bolehlah kita menghiraukan pandangan orang luar, tetapi kejadian-kejadian saat ini menunjukan hal sebaliknya. Misalnya masalah hukum di negara kita. Ketika 7 tahun yang lalu, dengan framingnya, media bisa membuat Jesica oleh pemirsa dianggap pasti bersalah, tetapi tatkalan orang luar menampilkan netflix berjudul ‘es kopi’, mulailah heboh karena ternyata ada yang tidak beres. Kadang kita memang butuh alat diluar diri kita untuk berkaca. Tidak hanya di kurikulum, outcome-based bisa juga diterapkan dalam sistem kita, hasil nyata sangat penting, seperti kata jenderal Antivirus di film Asterix yang diperankan oleh Zlatan Ibrahimovic, “Why talk when you can fly?”, ok, tunjukan saja karya kita, biar orang yang menilai.

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.