Katanya Kita Semua Sakit Jiwa

Berbeda dengan sakit fisik/jasmani dimana kita langsung ke klinik, mumpung ada BPJS, sakit jiwa biasanya santai saja, karena kita tidak merasa sakit.

Beberapa waktu yang lalu saya membaca novel karangan Sydney Seldom berjudul ‘Naked Face’. Novel ini menceritakan seorang psikiater yang menangani beragam pasien sakit jiwa, dari yang kecil, sedang, hingga parah. Suatu waktu ada seorang pasien yang ternyata istri seorang bos Mafia Italia, yang bermaksud memerlukan bantuan psikiater tersebut untuk menyembuhkan masalah kejiwaan sang suami. Walaupun si wanita tersebut tidak menceritakan bahwa suaminya seorang mafia, tetapi mata-mata si mafia mengetahui bahwa istrinya mengunjungi psikiater.

Alhasil, khawatir rahasia sang bos mafia terbongkar akhirnya nyawa sang psikiater terancam. Walau berat, karena banyak polisi yang jadi antek mafia, alhasil ketika berhadapan dengan si bos mafia, dengan ilmu psikologisnya si psikiater mampu mempecundangi bos mafia sampai tewas. Di akhir cerita si psikiater menangis terus, ketika ditanya oleh sang detektif dengan sedih sang psikiater berkata, “ibarat seorang dokter, si penjahat itu adalah orang sakit yang seharusnya menjadi pasien saya, saya yang ditugasi menyembuhkan tidak seharusnya malah membunuh orang yang sakit”.

Sang psikiater juga mengatakan bahwa setiap orang ada penyakit jiwa yang seharusnya bisa disembuhkan, misalnya luka/trauma lama, dan sejenisnya, atau yang saat ini sedang trend adalah sakit jiwa akibat kalah pemilu.

Oke, sekian dulu tulisan singkat ini, semoga kita yang sama-sama, maaf sakit jiwa, bisa sembuh .. minimal jika belum sembuh tidak memperburuk keadaan bangsa yang sedang berusaha menjadi negara maju ini.

Ingin Begini, Ingin Begitu

Yang suka nonton film doraemon pasti mengenal judul di atas, yang sering muncul saat awal film. Dari bayi yang baru lahir, anak-anak, hingga orang dewasa pasti ingin sesuatu. Bukan hanya itu, organisasi pun ada yang diinginkan. Istilahnya objektif yang akan dicapai. Kalau istilah perusahaan, berbeda-beda, misalnya visi misi, atau istilah lain misalnya north-star metric ala GOJEK.

Google, sebagai perusahaan ternama yang menguasai dunia IT memanfaatkan istilah Objectives and Key Results (OKRs). Istilah ini diperkenalkan oleh seorang kapitalis ternama: John Doerr, dengan formula ternamanya [link]:

I will … as measured by …

Ketika formula tersebut diimplementasikan pada OKRs maka menjadi I will (Objective) as measured by (Key Result). Sangat sederhana, begitu juga waktu pengukurannya biasanya tiap bulan dan bukan tiap tahun. Jika anda ‘ingin’ tapi tidak tahu cara mengukurnya maka itu dikatakan bukan ‘goal/tujuan’. Jadi apapun keinginan Anda harus tahu ukuran ketercapaiannya.

Misal Anda seorang mahasiswa, ketika ingin lulus maka alat ukurnya adalah tentu saja harus bisa diukur tiap bulan jika menerapkan OKRs. Kalau ukurannya nilai mata kuliah, maka itu terlalu lama, so .. nilai tugas, latihan, absen dan lain-lain yang bisa diukur perbulan harus ada. Untuk dosen biasanya diukur tiap semester dalam bentuk beragam, yang jelas untuk yang sudah tersertifikasi bisa menggunakan BKD, untuk per bulan? silahkan cari sendiri.

Untuk yang sedang S3? Nah ini sedikit unik mengingat S3 adalah riset. Banyak rekan saya yang sanggup menjalankan OKR saat di fasa course, tapi kewalahan saat fasa riset. Biasanya mengukur lewat latihan-latihan soal, tugas, dan lain-lain terkait kuliah, kini saat riset harus mengukur progress tiap bulan. Alhasil, karena terlalu lamanya ukuran dari kampus (seminar progress) karena terlena akhirnya tidak sanggup mengejar deadline. Ada satu hal yang diwajibkan saat penelitian, yakni log book. Walaupun ini sekedar mencatat, bisa dimanfaatkan untuk melihat sejauh mana progres yang telah tercapai, sehingga bisa digunakan untuk mencapai objective-objektive kecil yang menjawab objective utama.

Ok, selamat menyelesaikan objektif-objektif Anda, semoga lancar. Jangan terpengaruh objektif-objektif orang lain yang bukan objektif kita ya, e.g., menjadi presiden, DPR, dan lainnya, … nanti dikhawatirkan objektif utama kita malah terlupakan, selain tentu saja membuat tekanan darah kita tidak normal.

Pendapat Anda

Manusia ketika lahir tidak memiliki skill seperti hewan, misalnya kerbau, sapi, kambing, dan lain-lain yang ketika lahir langsung bisa jalan. Manusia harus belajar, entah dari orang tua, lingkungan maupun bangku sekolah. Berbeda dengan seorang pawang/pelatih hewan melatih binatang peliharaan, melatih manusia jauh berbeda karena manusia memiliki kesadaran.

Di tahun 80an, di jaman guru sangat mendominasi, galak, penuh dengan hukuman, sebagian besar siswa cenderung takut mengeluarkan ide, pendapat, dan aspirasi lainnya. Jangankan protes bertanya pun takut, apalagi mengeluarkan pendapat. Berbeda dengan saat ini, guru harus berhati-hati, jangan sampai kebablasan dalam menghukum, bisa-bisa dilaporkan ke pihak yang berwajib. Hal ini ditunjang oleh banyak tools/alat bantu belajar seperti Google dan yang terkini adalah ChatGPT, serta alat bantu berbasis AI lainnya. Kehebatan guru tidak terlau dominan lagi.

Nah, untuk Anda yang mengalami luka lama seperti saya yang mengalami pendidikan di sisa-sisa jaman penjajahan dahulu, ada sedikit trik yang bisa digunakan, khususnya jika akan lanjut kuliah lagi (S3 khususnya). Jenjang S3 memang menuntut adanya Tesis yang berupa pendapat terhadap kasus tertentu yang akan diuji saat sidang, baik progress, tertutup, maupun terbuka.

Pendapat merupakan satu alat ukur mengenai hal-hal yang ada di kepala kita. Misalnya kita membaca sebuah buku, tanpa adanya ‘ujian’ berupa entah pertanyaan terkait buku atau resensi/kritik, kita tidak bisa mengatakan telah membaca buku itu. Pendapat juga merupakan satu alat bantu untuk mencari kebenaran. Berbeda dengan ilmu pasti, khususnya ilmu sosial sebagian besar tidak 100% benar atau 100% salah.

Kemarin, tanggal 14 Februari 2024, sebagian besar penduduk mengeluarkan pendapat lewat pemilu. Di sini rakyat yang beragam tingkat pendidikan, kepercayaan, kekayaan, dan lain-lain menyalurkan pendapat mengenai siapa pemimpin negara 5 tahun ke depan. Kedewasaan kita dalam menerima pendapat yang berbeda diuji, apakah kita marah dengan orang yang beda pendapat dengan kita, ataukah menerima karena tiap orang punya pandangan yang berbeda.

Itulah menariknya manusia, karena memiliki pendapat yang beragam. Suatu malam saat saya tinggal di kos-kosan di Yogya, rekan saya yang suka begadang, asyik mengobrol dengan temannya. Suaranya terdengar hingga kamar tidur saya. Tidak terlalu berisik sih, cuma omongannya membuat kepala saya aktif kembali dan jadi sulit tidur. “Eh, menurut kamu, bintang itu isinya apa ya?”, tanya rekanku di ruang tamu kos yang memang tidak ada atapnya sehingga langit terlihat jelas. “Apa ya?”, jawab teman satunya lagi, sepertinya berfikir keras. “Menurut pendapat saya, itu seperti batu, cuma nyala aja”, jawab si penanya. Upss .. praktis saya jadi ikut mikir di tempat tidur sendirian. Anda yang membaca tulisan ini kalo jadi ikutan tidak bisa tidur .. Sorry ye.

Problem Solving

Jika Anda membaca literatur kuno India, khususnya agama Budha, sesuatu itu muncul akibat ketidaktahuan. Terlepas percaya atau tidak, hal-hal yang dulu tidak ada dan sekarang ada akibat hal tersebut. Kita mungkin sudah lupa atau tidak sadar bagaimana ketika bayi kita tidak tahu bagaimana caranya mensuplai makanan ke tubuh kita. Jadi, ketidaktahuan akan sesuatu memantik problem yang harus diselesaikan. Ketidaktahuan memancing keingintahuan, dan memunculkan ilmu-ilmu baru. Ok, filsafat mungkin memusingkan, postingan ini kita membumi saja.

Problem Jangka Pendek

Dari kecil kita sudah mampu menyelesaikan problem-problem yang tidak perlu membutuhkan pemikiran mendalam. Dengan bertanya, searching di internet, dan kegiatan sederhana lainny bisa menyelesaikan problem sederhana. Repotnya kebanyakan soal-soal di bangku sekolah masuk kategori ini, sehingga ketika anak itu kuliah, ada kebingungan, khususnya ketika muncul problem yang perlu pemikiran mendalam.

Problem Jangka Panjang

Berbeda dengan problem jangka pendek yang sederhana, problem jangka panjang memerlukan pemikiran yang mendalam, terkadang berupa tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh seorang anak/pelajar. Terkadang berbeda dengan problem sebelumnya yang bisa dilakukan lewat kursus, pelatihan, dan sejenisnya, problem jangka panjang membutuhkan effort untuk menyelesaikannya. Usaha tersebut terkadang meminta ‘tumbal’. Banyak rekan-rekan saya yang tidak kuat, sakit, bahkan meninggal dunia. Seorang anak yang cerdas dan terlatih menyelesaikan problem-problem singkat berupa soal-soal ujian terkadang kewalahan ketika problem harus diselesaikan tidak dalam waktu beberapa menit saja, bisa satu hari, satu bulan bahkan satu tahun, yang jika tidak sabar akan mengganggu pikirannya.

Repotnya banyak problem-problem jangka panjang yang butuh pemikiran mendalam harus diselesaikan oleh seorang anak yang harus memutuskan masa depannya, misalnya melanjutkan jurusan/bidang apa, karir apa yang akan diambil, bekerja di mana dan sebagainya yang tidak bisa dilakukan dengan cepat karena harus memikirkan secara mendalam. Bagi yang pernah mengambil doktor, sudah pasti mengenal tipe problem ini.

Salah satu buku ternama ‘furute skills‘ membahas bahwa problem solving merupakan skill utama di atas critical thinking dan creativity ya karena memang problem-solving merupakan induk dari keberlangsungan hidup umat manusia. Jadi cara paling mudah dalam belajar adalah dengan ingin mencari tahu hal-hal yang tidak/belum diketahui. Ketika membaca, kuliah, atau aktivitas lain jika Anda berhasil memancing keingintahuan, dipastikan ada yang ‘berbekas’ dari aktivitas itu … minimal tidak tertidur.