Beragam sumber data spasial banyak dijumpai, khususnya di internet. Untuk data raster (yang berbentuk gambar) dapat dijumpai pada situs satelit, misalnya USGS. Untuk data vektor biasanya berupa Shapefile. Nah, untuk informasi data mengenai wilayah Indonesia, ada situs terkenal yang digunakan untuk mengaksesnya [url].
Situs ini muncul mengikuti keinginan presiden Jokowi yang menganjurkan adanya satu data, dimana informasi yang dahulu tersebar di tiap departemen sekarang terintegrasi. Untuk data spasial ada kebijakan satu peta [url]. Dulu terkadang kita diminta membayar sejumlah uang untuk memperoleh data publik yang memang seharusnya gratis karena mereka dibiayai oleh pajak, sehingga dirasa memberatkan masyarakat umum. Postingan kali ini menunjukan bagaimana memanfaatkan situs gratis dari Tanah Air yang kemudian diolah dengan aplikasi gratis QGIS [url]. Untuk jelasnya silahkan lihat video youtube berikut ini.
Entah mengapa Indonesia selalu memunculkan istilah-istilah di tiap era-nya. Untuk yang kurang update tentu saja hal itu sedikit menjengkelkan. Salah satunya adalah istilah-istilah dalam pendidikan, misalnya yang dulunya Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) menjadi Uang Kuliah Tunggal (UKT). Belum lagi aspek-aspek turunannya seperti yang dulunya SIPENMARU, jadi UMPTN, jadi SNMPTN, SBPMTN, UTBK, dan lain-lainnya.
Uniknya UKT ini bervariasi, dari yang murah banget sampai yang mahal banget. Akhirnya karena kondisi ini, beberapa kampus menaikan UKT tersebut yang menyebabkan masyarakat yang diwakili oleh mahasiswa berontak. Dari demo di Univ Jenderal Sudirman, hingga UGM yang kemah di depan Balairung membuat Nadim menstop kenaikan UKT.
Terlepas dari itu semua, ternyata statistik mengatakan hal unik lainnya. Ternyata jika dirata-rata, rakyat kita adalah tamatan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ini lagi ada istilah SLTP, dan SMK yang dulu namanya STM untuk teknik dan SMEA untuk ekonomi. Mungkin hanya SLB yang tidak berubah. Ada sedikit fokus ganda, ke arah pendidikan (agar tingkat pendidikan rata-rata meningkat, setidaknya SMA) atau ke daya saing SDM di level dunia (pendidikan tinggi). Kalau hanya fokus ke pendidikan dasar dan menengah, maka kampus menjadi ‘barang mewah’ yang wajar untuk mahal, tapi khawatirnya SDM kita kalah bersaing dengan negara lain (lihat saja Malaysia yg dosen sudah hampir 100% doktor [url]). Dan khawatirnya IQ kita tidak beranjak yang saat ini rata-rata kabarnya setara dengan gorila [url].
Prabowo yang sebentar lagi menjadi presiden pun mulai gamang dengan kenaikan UKT ini, mengingat PTN sejatinya dibiayai oleh rakyat. Sudah sewajarnya tidak menaikan harga UKT yang tinggi. Tapi jika dijalankan dengan benar maka perlu seleksi yang ketat jika ingin masuk PTN seperti ketika saya ikut UMPTN di era 90-an. Tidak semua orang walaupun punya uang bisa masuk kampus negeri. Resikonya kapasitas daya tampung PTN jadi sedikit dan sedikit melegakan nafas kampus-kampus swasta yang kini ‘khawatir’ dengan jumlah daya tampung kampus negeri. Jika di era 90-an kampus PTN murah, sekarang justru kebalikannya kampus negeri mahal dan kampus swasta rata-rata menurunkan uang semester dan uang gedung.
Kadang utak-atik istilah sedikit membantu menghaluskan, misalnya tidak ada polisi, jaksa, dan hakim yang jahat, yang ada oknum polisi, oknum jaksa, dan oknum hakim. Jadi sekarang tidak ada PTN yang SPP nya mahal, soalnya yang mahal UKT-nya.
Kecelakaan yang merenggut nyawa siswa SMK beberapa waktu yang lalu membuat munculnya penolakan terhadap adanya study tour siswa sekolah menengah, khususnya saat kelulusan atau saat liburan. Banyak penyebab adanya musibah itu dari kelalaian, hingga memang sudah ajal yang bisa kapan saja dan dengan cara apa saja. Sebagai orang tua mungkin kita was-was jika ada kegiatan di luar sekolah, apalagi ke daerah yang sulit seperti puncak misalnya.
Sebagai ketua program studi sering kali saya menerima pesan WA dari orang tua yang menanyakan kabar anaknya, terutama jika tidak pulang ke rumah, misalnya acara mahasiswa pencinta alam (MAPALA) yang memang kerap kumpul di luar. Kembali ke kondisi pembelajaran saat ini akibat pandemi COVID 19 terkadang menjadikan kontroversi antara kuliah online dengan offline, dengan bantuan AI atau tidak. Prof Renald Kasali dalam video youtube-nya menyarankan mendidik anak-anak/siswa agar menjadi Driver bukan Passenger. Terkadang diberi tugas ke luar negeri sendiri agar merasakan problem-problem yang terjadi di lapangan dan menyelesaikannya dengan cara dan usaha sendiri.
Ada hal-hal tertentu yang tidak bisa diganti dengan perkuliahan online. Terkadang siswa tidak sekedar menerima transfer ilmu dari pengajar. Siswa bisa mendapat inspirasi dari pengajar bagaimana berinteraksi, bagaimana pengajar, guru, dosen atau pelatih menghadapi permasalahan. Inspirasi yang merupakan gabungan dari softskill dan hardskill inilah yang tidak bisa diperoleh dari pembelajaran online. Banyak kegiatan-kegiatan yang tidak bisa digantikan oleh dunia online, misalnya kunjungan langsung, magang, hinggak Kuliah Kerja Nyata (KKN).
KKN di Kec Bayan Purworejo Tahun 2000 dengan Dosen DPL
AI sendiri jika dikombinasikan dengan cara pembelajaran yang tepat sangat membantu, mengingat pengajar bisa fokus ke hal-hal lain yang berkaitan dengan kreativitas, perencanaan, hingga pendekatan antar individu terhadap siswa. Hubungan dengan guru pun tidak putus walaupun anak didik telah lulus. Semoga kita tetap kuat menyongsong masa depan yang kian kompleks. Di akhir tulisan di salah satu artikel di majalah TIME ada satu komen yang menarik di akhir ulasan mengenai apakah AI bisa menggantikan pengajar: “I’ve been to former students’ weddings and baby showers and funerals of their parents,” says Millard, the high school English teacher in Michigan. “I’ve hugged my students. I’ve high-fived my students. I’ve cried with my students. A computer will never do that. Ever, ever.”—Updated excerpt from TIME, Aug. 8, 2023.
Majalah TIME membahas Artificial Intelligence (AI) yang merambah ke segala bidang. Banyak peran manusia yang tergantikan, misalnya bagian informasi yang menjawab pertanyaan dari customer. Tadinya berupa chat dengan manusia, sekarang digantikan oleh mesin. Banyak kekhawatiran dari pekerja yang terancam digantikan tugas-tugasnya. Namun efisiensi sangat penting dalam tiap organisasi dan manusia seharusnya fokus ke bidang-bidang tertentu seperti kreativitas dan hal-hal yang tidak bisa dijalankan oleh mesin.
Saat ini Pre-Trained Model banyak tersedia dalam hub-hub di internet. Dengan data yang besar dengan mesin super komputer, aplikasi dishare oleh hub-hub tersebut. Untuk meng-kustomisasi aplikasi sesuai dengan problem yang ada mekanisme Transfer Learning sangat membantu karena tidak perlu Big Data dengan super computer untuk training.
Mula-mula model dibuat dengan Google Colab, sebelum diunduh modelnya agar bisa digunakan untuk aplikasi Web. Gunakan ChatGPT untuk merakit aplikasi Web, misalnya dengan Framework FLASK. Banyak yang mengatakan AI tidak mengalahkan manusia, tapi manusia dikalahkan oleh orang yang menggunakan AI. Jadi pekerja yang paham AI diyakini bisa menyingkirkan pekerja yang tidak paham AI. Di majalah TIME juga disebutkan bagaimana memanfaatkan AI yang ada untuk mempermudah pekerjaan. Berikut video bagaimana mengimplementasikan model yang diuji coba di Google Colab dalam aplikasi web dengan framework FLASK. Semoga informasi ini membantu.
Bahasa pemrograman merupakan bahasa juga karena ketika dibuat memanfaatkan kombinasi antara bahasa manusia dan bahasa mesin. Ada satu mata kuliah di ilmu komputer, namanya teknik kompilasi. Sempat mengajar mata kuliah ini dengan memanfaatkan software lex and yacc. Aplikasi ini bisa membuat syntax bahasa baru, misalnya mengganti if – else menjadi jika – maka dengan memanfaatkan reguler expression di bahasa c++.
Di manakah keunikannya? Tentu saja mahasiswa bisa melihat bahwa bahasa pemrograman yang kita lihat sehari-hari merupakan buatan manusia yang tidak perlu diagung-agungkan. Dahsyat memang bisa membuat bahasa sendiri, atau minimal untuk lingkungan sendiri yang bikin hacker ‘bingung’ karena syntax-nya lain dari yang lain.
Kembali ke bahasa Prolog, bahasa ini mirip CLIPS yang dipakai untuk belajar Sistem Pakar (expert system) yang biasa juga digunakan untuk belajar Artificial Intelligence (AI). Untuk belajar cepat, saat ini cukup dengan bertanya ke ChatGPT maka dengan cepat kita bisa mencoba bahasa pemrograman legendaris ini. Silahkan gunakan aplikasi online yang tidak memerlukan instalasi di laptop kita [Url]. Istilah-istilah entailed di buku AI, misalnya karangan Russel bisa diimplementasikan di sini. Selamat mencoba.
“Bapak sudah beritahu ke mahasiswa belom info itu?”, tanya rekan saya yang staf dan mendapat tugas sebagai call center yang menjawab WA saat COVID yang lalu. “Sudah .. kenapa Mbak?”, tanyaku heran. “Ini anak kok pada nanya semua ke call center!”. Terus terang saya cuma bisa melongo mendengar protesnya. Aneh juga, tugasnya call center yang menjelaskan ke orang yang nanya. Apalagi yang nanya mahasiswa yang notabene adalah konsumen yang menghidupi roda kampus.
Mungkin karena membludaknya mahasiswa yang bertanya akibatnya kewalahan menjawab, mungkin jempolnya sampai bentol klak-klik hp nya. Ketika kondisi seperti ini maka masuklah Artificial Intelligence (AI) yang secara perlahan menggantikan fungsi manusia yang bisa capek/lelah, bosan, dan sejenisnya. Khususnya untuk fungsi-fungsi rutinitas, administratif, dan lainnya yang bikin BT.
Dalam bukunya, Artificial Intelligence – a Modern Approach, Russel menyinggung bagaimana di awal perkembangan AI, Alan Turing mencetuskan Turing Test yang menguji sebuah mesin dengan cara Chatting. Seseorang akan diminta menebak lawan chattingnya apakah manusia atau mesin. Waktu itu mungkin masih bisa ditebak, walau butuh waktu beberapa menit, tapi saat ini sangat sulit, apalagi perkembangan Large Language Model (LLM) seperti ChatGPT, dan sejenisnya.
Salah satu vendor penyedia model siap pakai adalah Hugging Face yang dapat kita akses, dan kita coba untuk gunakan pada postingan ini. Model ini mirip ChatGPT yang sudah berisi model terlatih sebelumnya. Nah jika ingin dimanfaatkan untuk memberi informasi ke pihak-pihak yang bertanya dapat kita latih ulang dengan data khusus organisasi atau produk/jasa yang dipasarkan. Jadi tidak perlu orang yang menjawab chat yang ditanya, cukup mesin saja. Video berikut contoh dengan Google Colab dengan kode dapat diakses di link berikut [Url]. Jika sudah silahkan aplikasikan ke Web yang berupa aplikasi Chat untuk tanya jawab terhadap konsumen.
Data spasial adalah data yang terdiri dari koordinat dan atribut. Atribut di sini menjelaskan atau memberi informasi pada suatu titik, garis, atau poligon. Jadi data spasial sangat unik, berbeda dengan jenis data lainnya.
Atribut pada ArcGis maupun QGIS dapat dibuka dengan cara yang sama. Formatnya pun tidak jauh berbeda, mirip tabel pada Excel. Untuk menambahkan satu Field yang berisi informasi baru dapat dilakukan dengan mengklik add field di tabel. Masukan struktur datanya, apakah string, text, atau jenis lainnya. Karena di sini kita akan menambahkan area maka pilih tipe decimal karena luas tentu saja ada koma-nya.
Jika sudah maka pilih $area di jendela calculator agar QGIS secara otomatis menghitung area sesuai dengan poligon yang dalam hal ini merepresentasikan kecamatan di Kota Bekasi. Selanjutnya masuk ke simbology dengan cara double click layer yang ingin dilihat. Pilih categorized untuk memberikan warna berbeda antara satu kecamatan yang luas dengan yang kecil. Ada juga pilihan lain untuk memberikan kelas berdasarkan range luas tertentu. Selain luas biasanya berisi data jumlah penduduk di tiap kecamatan. Jadi ketika diaplikasikan akan muncul peta dengan warna yang merepresentasikan kepadatan penduduk untuk kasus ini. Untuk melihat ilustrasi bagaimana menambahkan atribut baru silahkan simak video berikut.
Kondisi saat ini membaca dengan buku sudah mulai ditinggalkan walaupun masih banyak yang bilang sensasi membaca buku kertas tidak bisa digantikan. Ada juga yang berpendapat membaca dengan gadget melelahkan mata karena radiasi sinar dari alat baca tersebut. Namun saat ini perkembangan e-ink, salah satu teknologi untuk e-reader sudah sangat maju.
Oiya, banyak yang belum tahu e-ink, silahkan lihat video penjelasannya di Youtube.
Berbeda dengan tablet atau smartphone, e-ink mirip dengan tinta yang dicetak di layar dalam bentuk elektron. Dalam kondisi mati pun elektron itu tetap menempel dan kita bisa melihatnya. Ya mirip tinta yang ditulis dikertas, tapi di sini menggunakan elektron.
Salah satu merk terkenal adalah Kindle, buatan Amazon yang memang diperuntukan membaca ebook yang dijual toko online tersebut. Saat ini beragam merk bermunculan, yang paling laris adalah versi Android. Tapi ternyata setelah saya gunakan, Kindle memiliki keunggulan dari sisi hemat baterainya. Mengapa hemat? Menurut saya karena Kindle tidak membutuhkan proses yang berat karena memang diperuntukan hanya untuk membaca, berbeda dengan versi Android yang bisa apa aja selain baca. Akibatnya harus sering ngecas, berbeda dengan Kindle yang bisa sebulan di casnya, bahkan saya suka lupa kapan terakhir mengecas, akibat kuatnya baterai. Hanya saja kelemahannya ketika membaca buku dengan gambar atau persamaan-persamaan perlu terlebih dahulu dikonversi menjadi PDF yang cocok dengan kindle, dan diproses dulu di laptop. Sungguh merepotkan, tapi ketika selesai dikonversi, silahkan baca tanpa khawatir kehabisan baterai, cocok untuk dibaca dalam perjalanan. Untuk versi Mac OS, video berikut memperlihatkan bagaimana proses mengkonversinya.
Saat ini aplikasi Sains banyak beredar, bahkan sudah gratis, misalnya Google Colab. Namun yang versi seperti kalkulator sepertinya belum banyak. Salah satu aplikasi yang sejak dulu ada adalah Matlab. Sayangnya aplikasi ini berbayar, bahkan puluhan juta rupiah untuk yang versi saat ini. Namun untuk yang versi mobile ternyata ada versi yang gratis. Tentu saja terbatas untuk fungsi-fungsi tertentu, misalnya untuk pengolahan matriks dan matematika.
Tentu saja kita harus mengetahui fungsi-fungsi dasar penggunaannya, yang saat ini lebih mudah karena kita bisa tanya ChatGPT. Sebenarnya ChatGPT juga bisa menjawab dengan input yang teknik nulisnya sama dengan Matlab, tapi untuk kasus tertentu seperti menghitung Invers ternyata ada salah rumusnya di ChatGPT.
Untuk yang ingin mengetahui bagaimana proses instalasinya, silahkan lihat video berikut ini. Oiya untuk yang versi Iphone, nanti saya informasikan lagi, atau kalau ada yang sudah, silahkan ketik di kolom komentar.
Teknologi informasi berkembang sangat cepat. Beragam metode dan teknik terkini muncul setiap hari. Teknologi beberapa tahun yang lalu muncul dan baru saja dipelajari di kampus, kini sudah usang. Mau tidak mau baik dosen maupun mahasiswa harus update teknik terkini kalau tidak mau dibilang ‘kudet’ alias kurang update.
Saya ingat beberapa tahun yang lalu menginstall server virtual di cabang-cabang bank swasta nasional dengan VMWARE. Kaget juga pertama kali tahu kalau aplikasi virtual itu bisa dipakai untuk transaksi real, walaupun pada dasarnya ‘kepepet’ karena hardware server berganti tetapi sistem masih yang lama, alhasil digunakanlah VMWARE sistem yang lama berjalan di hardware yang baru yang belum jadi sistem untuk transaksinya. Jadi, walau virtual ternyata bisa beroperasi layaknya server real, yang ternyata aplikasi cloud computing dasarnya adalah aplikasi-aplikasi jenis ini.
Nah, sekarang muncul jenis virtualisasi baru yang dikenal dengan nama docker. Jenis ini berbeda dengan VMWARE yang membuat virtual satu mesin full lengkap dengan sistem operasi, pada docker hanya membuat virtualisasi di sisi aplikasi. Sistem operasi masih menggunakan sistem induknya, hanya saja perlu menginstal aplikasi docker. Alasan utamanya adalah untuk memperingan akses mengingat tanpa membangkitkan sistem operasi, cukup aplikasinya saja.
Video berikut memperlihatkan sebuah Docker yang dicoba di Play-With-Docker untuk memasang aplikasi Web dengan server NGINX. Server tidak perlu diinstall NGINX karena di image Docker telah terinstall server itu. Manfaat lainnya, server tidak ‘tercemarai’ dengan aplikasi-aplikasi yang perlu diinstall, dari Library, Database, dan lain-lain yang beresiko server Crash.
Yang membedakan anak milenial dan era sebelum dewa online menyerang adalah bacaan. Generasi akhir 90-an dan awal 2000-an pasti tahu lokasi toko buku baik buku bekas maupun buku baru. Suka tidak suka dipaksa untuk banyak membaca, tidak ada tutorial-tutorial ala Youtube dan Tiktok, begitu pula alat bantu seperti ChatGPT dan kawan-kawan.
Saat kuliah dulu, dosen saya bercerita hobi mahasiswa generasinya adalah cerita silat (cersil) Ko Ping Ho yang kalau dihitung halamannya bisa ratusan bahkan mendekati ribuan kalau ditotal-total. Penulis-penulis jaman itu sangat terkenal dan pandai menyusun kata, berbeda dengan saat ini yang mengandalkan ChatGPT. Bahkan webinar tata cara cepat membuat tulisan dengan alat AI tersebut masif. Akibatnya profeseor yang menghasilkan tulisan dengan jumlah tidak masuk akal pun viral.
Semua kembali ke selera masing-masing. Jika Anda masih menyukai tulisan asli bukan hasil bangkitan dari AI, atau misalnya suatu saat ada film bioskop yang dibuat oleh AI dan Anda masih menyukai yang buatan manusia, berarti ada aspek tertentu yang tidak bisa digantikan oleh AI.
Salah satu novel kegemaran saya adalah karya penulis bernama Sydney Seldom yang ketika dia menulis tentang hal tertentu sepertinya dia telah dengan detil mempelajarai topik tersebut, seolah-olah pakarnya. Misalnya dalam novelnya yang berjudul ‘naked face’ yang menceriterakan seorang psikiater yang menangani orang-orang setengah gila, seolah-olah dia sendiri adalah seorang psikiater. Oiya, katanya kita semua aslinya sakit jiwa, hanya levelnya saja yang ringan atau berat, tapi untungnya bisa disembuhkan.
Yang unik adalah ketika karyanya yang berjudul ‘stranger in the mirror’, dia mengisahkan seorang komedian di akhir perang dunia kedua, yang kalau saat ini namanya komika atau stand up comedy. Sudah pasti dia harus bisa menyisipkan beberapa materi stand up comedy, misalnya berikut ini.
Dalam satu ceritanya dia mengisahkan ada sepasang muda mudi yang sedang antri ke bioskop untuk menonton film. Di depannya ada seorang pemuda yang sepertinya berdebat dengan petugas yang memeriksa karcis. Ternyata dia ditolak masuk karena membawa seekor bebek. Akhirnya pemuda itu mengalah dan menyingkir entah ke mana. Pasangan muda-mudi itu hanya menggelengkan kepala melihat tingkah aneh pemuda di depannya itu. Saat film dimulai, ternyata si pemuda tadi duduk di samping si cewek pasangan muda-mudi itu.
“Mas .. cowok di samping tititnya keliatan”, bisik si cewek. Si cowok berkata, “tapi kamu nggak terganggu kan?”. “enggak sih”, kata si cewek. “Ya udah, tontong aja filmnya. Akhirnya mereka kembali asyik nonton film. Tiba-tiba si cewek agak kaget, “mas .. titit cowok itu”. Si cowok jadi jengkel karena si cewek bukannya nonton film malah ngeliatin samping. “tititnya makanin popcorn aku”. Oalah, ternyata si cowok itu menyembunyikan bebeknya yg tidak boleh dibawa masuk di dalam celana, kepalanya keluar makanin popcorn si cewek.
Berbeda dengan era dulu yang bacaannya panjang karena memang membaca kertas bukan di layar, saat ini cenderung membaca cepat dan tidak panjang karena lelah jika membaca layar. Untungnya saat ini ada e-reader yang memanfaatkan teknologi e-ink yang berupa printing di layar.
Ada yang versi Android, ada juga yang versi Kindle atau jenis lain seperti Kobo dan kawan-kawannya. Yuk, banyak membaca untuk meningkatkan kemampuan imajinasi kita.
Artificial Intelligence (AI) sangat luas, baik dari implementasi maupun definisi. AI terbagi jadi empat kuadran yakni Think Humanly, Think Rationally, Act Humanly, dan Act Rationally. Namun demikian definisi yang memuaskan sulit didapat, misalnya Alan Turing cenderung mendefinisikan AI sebagai Think Humanly, dengan Turing Test-nya dimana seseorang diminta menebak dia chatting dengan manusia atau mesin. Sementara itu tokoh lain seperti Elaine Rich menyatakan bahwa AI merupakan rancangan komputer yang melakukan sesuatu dimana saat ini manusia menunjukan hasil yang lebih baik. Misalnya aplikasi catur, ketika Grandmaster Gary Kasparov kalah oleh aplikasi catur Deep Blue, maka catur bisa dikatakan bukan wilayah AI lagi. Kalau bukan AI apa namanya? Alhasil, pertandingan catur harus mencegah pemain memanfaatkan AI. Misal ada robot yang mengendalikan motor dan mengalahkan Valentino Rossi, berarti robot pembalap itu sudah di luar AI.
Inilah yang dikhawatirkan oleh beberapa ilmuwan AI dimana produk dari AI yang mengalahkan manusia. Ketika ChatGPT muncul, ujian atau tugas mahasiswa sudah harus dipastikan tanpa memanfaatkan ChatGPT mengingat kemampuan aplikasi ini dalam men-generate tulisan atau menjawab soal-soal. Repotnya ketika AI yang telah dibuat belum ada cara mengantisipasi dampaknya.
Beragam produk AI dihasilkan setiap hari. Yang unik kebanyakan diakses tanpa perlu membayar, mirip Google yang gratis digunakan untuk searching, atau ChatGPT untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan. Mengapa? Hal ini karena pengguna hanya diberi akses tanpa memiliki Engine AI itu sendiri. Ketika pengembang AI menciptakan engine, biasanya mereka tidak memberikan engine itu ke orang lain, melainkan hanya memberikan akses saja, misalnya dengan API. Video berikut memperlihatkan bagaiman mengimplementasikan AI lewat akses API dengan salah satu situs online untuk praktik DevOps, yakni Play-with-Docker.