Yang membedakan anak milenial dan era sebelum dewa online menyerang adalah bacaan. Generasi akhir 90-an dan awal 2000-an pasti tahu lokasi toko buku baik buku bekas maupun buku baru. Suka tidak suka dipaksa untuk banyak membaca, tidak ada tutorial-tutorial ala Youtube dan Tiktok, begitu pula alat bantu seperti ChatGPT dan kawan-kawan.
Saat kuliah dulu, dosen saya bercerita hobi mahasiswa generasinya adalah cerita silat (cersil) Ko Ping Ho yang kalau dihitung halamannya bisa ratusan bahkan mendekati ribuan kalau ditotal-total. Penulis-penulis jaman itu sangat terkenal dan pandai menyusun kata, berbeda dengan saat ini yang mengandalkan ChatGPT. Bahkan webinar tata cara cepat membuat tulisan dengan alat AI tersebut masif. Akibatnya profeseor yang menghasilkan tulisan dengan jumlah tidak masuk akal pun viral.
Semua kembali ke selera masing-masing. Jika Anda masih menyukai tulisan asli bukan hasil bangkitan dari AI, atau misalnya suatu saat ada film bioskop yang dibuat oleh AI dan Anda masih menyukai yang buatan manusia, berarti ada aspek tertentu yang tidak bisa digantikan oleh AI.
Salah satu novel kegemaran saya adalah karya penulis bernama Sydney Seldom yang ketika dia menulis tentang hal tertentu sepertinya dia telah dengan detil mempelajarai topik tersebut, seolah-olah pakarnya. Misalnya dalam novelnya yang berjudul ‘naked face’ yang menceriterakan seorang psikiater yang menangani orang-orang setengah gila, seolah-olah dia sendiri adalah seorang psikiater. Oiya, katanya kita semua aslinya sakit jiwa, hanya levelnya saja yang ringan atau berat, tapi untungnya bisa disembuhkan.
Yang unik adalah ketika karyanya yang berjudul ‘stranger in the mirror’, dia mengisahkan seorang komedian di akhir perang dunia kedua, yang kalau saat ini namanya komika atau stand up comedy. Sudah pasti dia harus bisa menyisipkan beberapa materi stand up comedy, misalnya berikut ini.
Dalam satu ceritanya dia mengisahkan ada sepasang muda mudi yang sedang antri ke bioskop untuk menonton film. Di depannya ada seorang pemuda yang sepertinya berdebat dengan petugas yang memeriksa karcis. Ternyata dia ditolak masuk karena membawa seekor bebek. Akhirnya pemuda itu mengalah dan menyingkir entah ke mana. Pasangan muda-mudi itu hanya menggelengkan kepala melihat tingkah aneh pemuda di depannya itu. Saat film dimulai, ternyata si pemuda tadi duduk di samping si cewek pasangan muda-mudi itu.
“Mas .. cowok di samping tititnya keliatan”, bisik si cewek. Si cowok berkata, “tapi kamu nggak terganggu kan?”. “enggak sih”, kata si cewek. “Ya udah, tontong aja filmnya. Akhirnya mereka kembali asyik nonton film. Tiba-tiba si cewek agak kaget, “mas .. titit cowok itu”. Si cowok jadi jengkel karena si cewek bukannya nonton film malah ngeliatin samping. “tititnya makanin popcorn aku”. Oalah, ternyata si cowok itu menyembunyikan bebeknya yg tidak boleh dibawa masuk di dalam celana, kepalanya keluar makanin popcorn si cewek.
Berbeda dengan era dulu yang bacaannya panjang karena memang membaca kertas bukan di layar, saat ini cenderung membaca cepat dan tidak panjang karena lelah jika membaca layar. Untungnya saat ini ada e-reader yang memanfaatkan teknologi e-ink yang berupa printing di layar.
Ada yang versi Android, ada juga yang versi Kindle atau jenis lain seperti Kobo dan kawan-kawannya. Yuk, banyak membaca untuk meningkatkan kemampuan imajinasi kita.


