“Bapak sudah beritahu ke mahasiswa belom info itu?”, tanya rekan saya yang staf dan mendapat tugas sebagai call center yang menjawab WA saat COVID yang lalu. “Sudah .. kenapa Mbak?”, tanyaku heran. “Ini anak kok pada nanya semua ke call center!”. Terus terang saya cuma bisa melongo mendengar protesnya. Aneh juga, tugasnya call center yang menjelaskan ke orang yang nanya. Apalagi yang nanya mahasiswa yang notabene adalah konsumen yang menghidupi roda kampus.
Mungkin karena membludaknya mahasiswa yang bertanya akibatnya kewalahan menjawab, mungkin jempolnya sampai bentol klak-klik hp nya. Ketika kondisi seperti ini maka masuklah Artificial Intelligence (AI) yang secara perlahan menggantikan fungsi manusia yang bisa capek/lelah, bosan, dan sejenisnya. Khususnya untuk fungsi-fungsi rutinitas, administratif, dan lainnya yang bikin BT.
Dalam bukunya, Artificial Intelligence – a Modern Approach, Russel menyinggung bagaimana di awal perkembangan AI, Alan Turing mencetuskan Turing Test yang menguji sebuah mesin dengan cara Chatting. Seseorang akan diminta menebak lawan chattingnya apakah manusia atau mesin. Waktu itu mungkin masih bisa ditebak, walau butuh waktu beberapa menit, tapi saat ini sangat sulit, apalagi perkembangan Large Language Model (LLM) seperti ChatGPT, dan sejenisnya.
Salah satu vendor penyedia model siap pakai adalah Hugging Face yang dapat kita akses, dan kita coba untuk gunakan pada postingan ini. Model ini mirip ChatGPT yang sudah berisi model terlatih sebelumnya. Nah jika ingin dimanfaatkan untuk memberi informasi ke pihak-pihak yang bertanya dapat kita latih ulang dengan data khusus organisasi atau produk/jasa yang dipasarkan. Jadi tidak perlu orang yang menjawab chat yang ditanya, cukup mesin saja. Video berikut contoh dengan Google Colab dengan kode dapat diakses di link berikut [Url]. Jika sudah silahkan aplikasikan ke Web yang berupa aplikasi Chat untuk tanya jawab terhadap konsumen.