Berbeda dengan smartphone yang bisa jadi ganti tiap 1 atau 2 tahun, laptop berganti cukup lama. Ganti kalau rusak atau kalau harus diwariskan ke anak yang mulai dewasa, apalagi yang sudah kuliah.
Untuk pekerjaan sehari-hari, dulu saya biasanya menggunakan laptop Windows, tapi saat ini karena prosesor intel yang mulai tertinggal oleh tipe mobile yang dikenal dengan nama ARM, laptop macbook menjadi andalan untuk pekerjaan sehari-hari seperti browsing, mengetik, dan beberapa program sederhana seperti python, android studio, serta mengelola video singkat.
Linux walaupun saat ini mulai user friendly tetap saja menyulitkan pengguna yang bukan orang komputer. Akhirnya beli juga laptop buatan Apple, yakni yang versi murah, macbook air. Setahun berjalan, ternyata kinerja Macbook Air M1 sangat memuaskan. Biasanya dengan laptop Windows menggunakan mouse, ternyata dengan Macbook, sekarang jadi terbiasa tanpa menggunakan mouse.
Salah satu hal yang membuat tertarik dengan Macbook adalah responnya yang cepat. Selain tentu saja aman dari virus dan malware. Dulu pernah beli Macbook air yang 11 inchi, dan sampai sekarang masih dipakai anak yang kuliah. Ternyata sudah tidak support lagi dengan aplikasi terkini, misalnya virtual background di zoom yang tidak bisa karena inter i5 generasi itu tidak support dengan virtual background. RAM macbook memang terkenal tidak bisa diupgrade, termasuk juga SSD nya yang kecil (hanya 128 Gb). Itulah yang dikeluhkan si sulung yang sedang kuliah, sehingga minta laptop baru yang support dengan aplikasi-aplikasi terkini.
Akhirnya ke Ibox, beli lagi Macbook Air M1. Namun ketika di etalase toko itu dijejerkan M1 dengan yang M3, maka tentu saja iseng-iseng membandingkan responnya. Diluar dugaan ternyata respon prosesor M3 sangat cepat dibandingkan yang M1. Akhirnya walaupun 9 juta lebih mahal, beli juga yang M3. Ditambah lagi M1 yang sudah ketinggalan 4 tahun dikhawatirkan beberapa tahun kedepan sudah sulit diupgrade jika ada OS baru dari Apple. Dulu waktu masih suka ngoprek, memang Windows jadi andalan, tetapi ketika sekarang sudah bekerja teratur, tidak ada waktu lagi untuk ngoprek jika ada trouble di laptop. Aneh, padahal dulu pernah bekerja di IT bank, tapi sekarang lebih suka bayar orang untuk utak-atik laptop jika ada masalah. Software pun lebih suka bayar, dibanding yang open source, karena praktis saja.
Tentu saja karena tuntutan pekerjaan yang membutuhkan aplikasi/software yang berjalan di Windows terpaksa laptop Windows masih dibawa-bawa kalau ada ngajar aplikasi yang tidak ada di Mac. Jadi, laptop bagi dosen merupakan alat untuk menyelesaikan tugas-tugas dan menambah income baik dari tulisan, mengajar, maupun proyek-proyek.