Ternyata tiap orang memiliki bakat dan karakteristik yang berbeda satu sama lain. Walaupun tentu ada kesamaan untuk tipe orang-orang tertentu. Walaupun satu bidang yang sama, misalnya medis, antara dokter yang cenderung mengikuti standar operasi tertentu (SOP) akan berbeda dengan penelitian kedokteran yang fokus ke eksperimen metode-metode baru. Tentu saja kalau pasien dijadikan eksperimen sangat berbahaya. Rekan saya memiliki anak yang kuliah di jurusan kedokteran. Ketika lulus ternyata si anak tidak ingin lanjut menjadi dokter. Akhirnya dia kuliah S3 dan S3 di bidang kedokteran yang fokus ke riset.
Saya sendiri sempat terdampar di bank, bekerja sebagai staf IT. Agak sedikit menderita ketika diminta mengerjakan rutinitas membosankan. Terkadang beberapa komputer saya jadikan eksperimen dan baru sadar ternyata itu berbahaya. Bayangkan Anda seorang koki yang memang harus mengikuti panduan resep tertentu, tetapi karena Anda berjiwa riset maka terkadang Anda melakukan modifikasi, uji coba dan hal-hal lain yang bermaksud menciptakan jenis masakan baru yang lebih menarik dari sebelumnya.
Bagaimana dengan dosen? Kalau Anda tipe yang menjalankan prosedur, maka dengan materi yang RPS lengkap, bahkan dengan power point yang tinggal menyampaikan sudah cukup membuat Anda bahagia. Tetapi untuk tipe riset, tentu saja akan berbeda. Siswa terkadang dipaksa untuk melakukan modifikasi dari yang ada. Menarik informasi dari Prof Stella yang memberikan informasi mengapa peneliti-peneliti berbakat di Indonesia malah meneliti di luar negeri. Salah satu alasan utama adalah dukungan (finansial dan alat) dari pemerintah yang kurang.
Nah, beberapa hari yang lalu secara mengejutkan saya mendapat surat dari LPPM bahwa informasi dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), saya di tahun 2014 telat 6 hari mengumpulkan laporan akhir. Bayangkan, saat ini 2025, jadi hampir 11 tahun yang lalu. Ini masih mending, rekan saya dilaporkan belum mengumpulkan laporan akhir.
Sementara itu, setelah pihak kampus bertanya ke LLDIKTI, hanya bisa pasrah karena diminta menunjukan bukti kalau tidak telat ataupun sudah mengumpulkan, padahal situs BIMA sudah tidak bisa diakses dan tidak ada satu pun kita, peneliti, men-screenshot kalau kita submit. Kampus sudah dua kali kebanjiran, berkas hilang, bahkan komputer LPPM pun terendam. Ibarat kata saya dituduh membunuh tetapi tidak bisa melihat rekaman cctv membunuh, saksi, bukti, dan jika tidak mengakui maka diwajibkan menunjukan bukti kalau saya tidak membunuh.
Beberapa rekan ya pasrah saja dan siap menghadapi ancaman untuk tidak diperbolehkan lagi menerima dana hibah. Sebenarnya secara sederhana kalau rekan saya tidak mengumpulkan laporan, tidak bisa dapat dana termin kedua 30% dan tidak dilanjutkan ke tahun kedua penelitiannya, tapi toh lolos ke tahun berikutnya. Biasanya kalau belum mengumpulkan pasti tidak perlu menunggu selama sepuluh tahun untuk diperingatkan.
Selain meneliti saya juga ada proyek, memang ada pinalti dalam proyek jika terlambat. Tapi jika penelitian disamakan dengan proyek ya sudah, kalau begitu kita pilih proyek saja, dari pada beresiko dan sulitnya membuat laporan pertanggungjawaban. Waktu itu di tahun 2014 peneliti tidak boleh ada insentif ke peneliti di laporannya, alias peneliti tidak di gaji. Ketika ditanya ke pihak DIKTI jawabannya sederhana, ‘kan dosen wajib meneliti, jadi harus siap tidak digaji dari penelitian’. Jadi inget lagu yang jadi soundtrack serial FROM di Catchplay yang jika diartikan –
“Fokus pada apa yang bisa dilakukan sekarang, dan terimalah hasilnya dengan lapang dada”:
Que será, será,
Whatever will be, will be,
The future’s not ours to see,
Que será, será.

Satu respons untuk “Suka Duka Peneliti”