Beberapa hari yang lalu terdengar berita kisruh di kementerian diktisainstek, tidak tanggung-tanggung, antara menteri sendiri dengan bawahannya, yang kebetulan emak-emak. Entah kenapa kalau sudah berurusan dengan emak-emak, urusan jadi viral. Walau akhirnya damai, toh kondisi tidak bisa lagi seperti semula. Sepertinya masih ada bara yang siap menyala sewaktu-waktu.
Urusan kedosenan pun kalau sudah terkait dengan emak-emak, pasti urusan akan berlanjut dan viral. Pedagang, entah itu sayur, barang kelontong, dan lain-lain, ketika yang belanja itu emak-emak, dijamin tawar menawar akan seru, ibarat perjuangan sampai tetes darah terakhir. Nah, untuk kesejahteraan dosen, emak-emak pun memegang peranan penting. Lihat saja video buatan mahasiswa UPN terkait kesejahteraan dosen berikut.
Tentu saja kesejahteraan tidak selalu berkaitan dengan gender. Bapak-bapak pun juga tidak tinggal diam, walau terkadang agak sedikit diredam asal harga diri tidak terpicu. Dosen berbeda dengan pegawai biasa, profesi ini ternyata melibatkan berbagai pihak dari mahasiswa, yayasan, hingga pemerintah, bahkan terakhir BPK [Lihat post yang lalu]. Beberapa waktu yang lalu ada edaran bahwa lolos butuh diwajibkan lagi, menandakan kembali berkuasanya pihak yayasan ketika ada dosen yang akan pindah dalam rangka mencari penghidupan yang lebih layak. Tugas berat menanti kemendiktisaintek.