Manusia adalah makhluk yang unik karena memiliki dua anugerah besar: nalar dan emosi. Tidak seperti hewan yang begitu lahir sudah mampu berjalan, atau ikan yang langsung bisa berenang, manusia justru terlahir dalam keadaan paling lemah. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis dan mencari susu ibunya. Ketidakberdayaan ini justru menjadi titik awal dari proses belajar dan pertumbuhan yang panjang dan mendalam.
Seiring waktu, nalar manusia berkembang dan terlatih sejak kecil untuk memecahkan berbagai persoalan hidup. Namun dalam perkembangannya, manusia sering lupa bahwa tidak semua hal bisa diselesaikan hanya dengan nalar. Dalam sejarah, kita bisa melihat bagaimana bangsa Mongol yang hidup dalam keterbatasan dan kondisi alam yang keras, berusaha mengatasi masalahnya melalui ekspansi dan penjajahan. Begitu pula bangsa-bangsa Eropa setelah era Renaisans, ketika akal dan pengetahuan dijunjung tinggi, namun batas-batas kewenangan manusia dalam mengatur dunia mulai dilupakan.
Kebablasan dalam mengatasi masalah sering kali muncul akibat tidak dijalankannya peran agama, yang seharusnya menjadi penuntun untuk membedakan antara hal-hal yang bisa dan tidak bisa kita kuasai. Dari kegelisahan ini, lahirlah filsafat Stoisisme, yang menekankan pentingnya fokus pada hal-hal internal yang berada dalam kendali kita sebagai bentuk kemerdekaan sejati. Dunia eksternal, termasuk sikap orang lain terhadap kita, bukanlah ranah kebebasan kita. Bahkan Nabi Muhammad dan Yesus sekalipun tidak memiliki kuasa untuk memaksa orang agar menyukai atau mempercayai mereka.
Hal ini sangat relevan dalam dunia riset, terutama bagi mahasiswa yang sedang menempuh studi lanjut. Dalam proses akademik, banyak aspek eksternal yang tidak bisa dikendalikan. Mahasiswa hanya bisa fokus pada hal-hal internal, seperti membaca, menulis, dan menjalankan penelitian sebaik mungkin. Namun hasil akhir, seperti penilaian dari promotor, co-promotor, dan penguji, bahkan hingga diterimanya paper untuk publikasi, bukanlah sesuatu yang sepenuhnya berada dalam kendali mereka.
Oleh karena itu, bagi Anda yang sedang menempuh studi lanjut, cobalah untuk menganalisis secara jujur dan rinci: mana yang bisa Anda usahakan sendiri, dan mana yang tergantung pada pihak lain. Bahkan kesehatan kita pun, meski bisa dijaga melalui pola hidup baik, pada akhirnya tetap berada dalam kuasa Tuhan Yang Maha Esa. Kesadaran ini bukan untuk melemahkan semangat, tetapi untuk menempatkan usaha dan harapan secara bijak dan proporsional.