Jumlah dosen bergelar doktor di Indonesia ternyata masih tergolong sedikit. Menurut data dari Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDIKTI) [http://pddikti.kemdikbud.go.id], jumlah tersebut masih jauh tertinggal dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia. Di wilayah Jawa Barat sendiri, pada saat tulisan ini dibuat, hanya terdapat satu perguruan tinggi swasta yang membuka program doktor. Sementara itu, banyak dosen di Indonesia yang sudah terlalu lama tidak melanjutkan studi, sehingga usia menjadi tantangan tersendiri untuk kembali kuliah, terlebih di luar negeri.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Universitas Nusa Putra, sebuah perguruan tinggi swasta di Sukabumi, mengajukan diri untuk membuka program doktor di bidang Ilmu Komputer. Langkah ini tidak hanya karena kebutuhan akan peningkatan jumlah doktor di Indonesia, tetapi juga karena program sarjana (S1) dan magister (S2) di kampus ini telah memiliki reputasi yang unggul, bahkan mendapatkan akreditasi internasional dari AQAS secara unconditional.

Sebagai program baru, setiap program doktor biasanya harus memiliki ciri khas tertentu. Universitas Nusa Putra mengajukan ciri khas programnya pada bidang kesehatan, keamanan, dan kebencanaan, dengan fokus khusus pada kecerdasan buatan (AI) dan keamanan siber. AI, sebagai bidang yang berkembang sangat pesat, kini merambah ke berbagai sektor dan aplikasi, dari sistem kesehatan hingga mitigasi bencana. Salah satu tren terkini dalam AI adalah munculnya model bahasa besar (Large Language Models atau LLM), yang populer sejak kehadiran ChatGPT dan DeepSeek yang fenomenal.

Untuk mendirikan program doktor, dibutuhkan minimal dua orang guru besar yang memiliki kepakaran di bidang yang sesuai, dalam hal ini Ilmu Komputer, serta didukung oleh beberapa dosen bergelar doktor dengan jabatan akademik minimal lektor kepala. Menariknya, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) memberikan kemudahan dalam proses awal pendirian program ini. Salah satunya adalah diperbolehkannya menggunakan dosen tidak tetap sebagai penguat struktur dosen—artinya, seorang dosen boleh menjadi dosen tetap di kampus asal (homebase), dan sekaligus menjadi dosen tidak tetap di kampus lain yang mengajukan program. Namun, untuk keperluan akreditasi dua tahun setelah program berjalan, persyaratan menjadi lebih ketat, yaitu harus tersedia minimal lima dosen tetap homebase, termasuk dua di antaranya adalah guru besar di bidang Ilmu Komputer.

Yang membuat rencana ini semakin menarik adalah bahwa jika Universitas Nusa Putra berhasil membuka program doktor, maka kampus ini akan menjadi satu-satunya perguruan tinggi di tingkat kabupaten yang menyelenggarakan program doktor. Hal ini sangat unik, mengingat sebagian besar program doktor di Indonesia umumnya terpusat di ibukota provinsi seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan sejenisnya. Lokasi kampus yang berada di Sukabumi juga menawarkan suasana belajar yang nyaman, sejuk, dan tenang, dengan latar pemandangan indah Gunung Gede Pangrango. Selain itu, Universitas Nusa Putra merupakan perguruan tinggi dengan jumlah mahasiswa asing terbanyak ketiga di Indonesia, setelah Universitas Indonesia (UI) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), didukung dengan fasilitas asrama yang memadai. Bahkan, direncanakan akses tol akan dibangun dan tembus langsung ke sisi kampus, yang tentu akan menambah kenyamanan dan kemudahan akses ke kampus ini.
