Kemarin, seperti biasa, saya membeli lauk karena malas memasak. Namun ada yang berbeda, jalanan tampak sepi, dan pedagang langganan saya mengeluh bahwa beberapa hari terakhir dagangannya sepi, bahkan kadang tak ada uang untuk membeli bahan makanan. Beberapa hari sebelumnya, saya dan istri sempat berjalan ke mal karena ingin melihat langsung barang yang hendak dibeli—sebuah mesin cuci karena via online tidak cukup meyakinkan, maklum orang jadul perlu memegang dan melihat langsung. Tapi ternyata, mal pun sepi. Para pelayan tampak lelah dan putus asa, mungkin karena hanya sedikit pengunjung yang benar-benar membeli, kebanyakan hanya bertanya.
Kondisi ini barangkali tak lepas dari berbagai tekanan global. Nilai tukar dolar yang melesat naik, harga emas yang melonjak, dan laju inflasi seakan membuat mayoritas rakyat semakin terjepit. Di dunia internasional, ketegangan antarnegara pun meningkat, sebagian dipicu oleh kebijakan luar negeri Donald Trump yang agresif. Baru-baru ini, konflik panas terjadi antara India dan Pakistan, saling kirim rudal dan pesawat. Masyarakat pun semakin waspada. Media sosial dan berita daring penuh dengan narasi kehati-hatian, membuat banyak orang menahan diri untuk tidak gegabah menghabiskan uang.
Dalam catur, jika lawan tangguh atau kita sedang tidak dalam kondisi prima, pilihan terbaik adalah bertahan. Pertahanan Prancis, misalnya, menjadi strategi solid untuk menghemat energi sekaligus menanti peluang melakukan serangan balik. Begitu pula dalam hidup: bagi mereka yang sudah bekerja, mungkin saat ini adalah waktu untuk mempertahankan posisi aman sambil tetap menjaga idealisme. Yang sudah menyelesaikan pendidikan lanjut patut bersyukur, dan yang masih berjuang, setidaknya tetaplah bertahan, menjaga kesehatan fisik dan mental.
Presiden Tiongkok pernah berkata dalam pidatonya bahwa bangsanya telah berdiri ribuan tahun dan terbiasa menghadapi penderitaan. Musuh silih berganti, tapi semangat bertahan tetap terjaga. Ia bahkan tidak menganggap Amerika Serikat sebagai lawan mutlak, karena dalam hidup, seperti dalam turnamen catur, lawan bisa berganti di setiap ronde. Yang terpenting adalah kesiapan menghadapi mereka, dengan permainan yang cantik dan rapi.
