Permasalahan atau Mempermasalahkan?

Jangankan kondisi Indonesia, kondisi dunia pun saat ini sedang tidak baik-baik saja. Presiden Prabowo terus mengimbau agar bangsa ini tetap kompak dan tidak terpecah belah. Kita perlu fokus pada pembangunan dan mengatasi berbagai krisis yang ada.

Namun demikian, kita masih sering kesulitan melihat persoalan secara proporsional. Terkadang kita justru membesar-besarkan masalah kecil dan mengecilkan masalah yang besar. Contohnya, kasus ijazah mantan Presiden Jokowi yang belakangan ramai diperbincangkan. Mudah-mudahan pemberitaan ini tidak terlalu tersebar luas ke luar negeri, bisa bikin malu bangsa kita.

Bagi mahasiswa yang telah lulus, ijazah merupakan hasil jerih payah yang penuh perjuangan—terlebih bagi mereka yang kuliah di era 1980-an, saat kelulusan jauh lebih sulit. Saat kuliah, saya pernah mengambil mata kuliah mandiri di perpustakaan. Tugas saya waktu itu adalah membuat abstrak dari skripsi-skripsi lama, yang pada masanya belum memiliki abstrak, apalagi yang dalam bahasa Inggris. Tugas ini cukup berat, mengingat banyaknya jumlah naskah dengan beragam format dan gaya bahasa. Belum lagi, ruangannya dirancang dingin dan kering, menambah tantangan tersendiri.

Saat membaca skripsi-skripsi lama, saya menemukan hal-hal unik. Ada mahasiswa yang menggunakan tripleks sebagai bahan hardcover, karena di masa itu, selain mesin ketik, percetakan tampaknya belum menyediakan hardcover. Yang mengejutkan, ternyata ada beberapa mahasiswa yang membuat lebih dari satu skripsi. Setelah saya cari tahu, rupanya mahasiswa teknik mesin kala itu memang diwajibkan membuat tiga skripsi. Berat juga perjuangan mahasiswa zaman dulu. Bahkan, ada cerita menarik: sebelum wisuda, ada mahasiswa yang mendapat telepon undangan wisuda karena aturan baru menyatakan bahwa skripsi cukup satu saja. Mahasiswa yang sebelumnya belum bisa lulus pun akhirnya bisa wisuda dengan bahagia bersama keluarganya.

Setiap departemen memiliki kekhasannya masing-masing. Di teknik kimia, misalnya, saat saya kuliah, ada seorang profesor yang tidak mengizinkan skripsi diketik. Semuanya harus ditulis tangan.

Mengecek keaslian ijazah seharusnya bukan hal yang sulit bagi kepolisian, apalagi institusinya masih ada, yaitu kampus besar seperti UGM. Saat ini, sebagian besar kampus telah menyediakan tautan digital untuk mempermudah pengecekan ijazah oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Silakan lihat contoh tautan ijazah saya di sini: [link]. Termasuk disertasi [link].

Jika masalah-masalah kecil sudah selesai, mari kita beralih ke isu-isu yang lebih penting. Sebagai informasi, India dan Pakistan saat ini mulai terlibat konflik. Mengingat kedua negara tersebut memiliki hulu ledak nuklir, semoga saja tidak terjadi baku hantam nuklir. Semoga saja.

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.