Manfaat Publish di Jurnal Nasional yang Sedang Daftar ke SCOPUS

Setelah era Kampus Merdeka, kini kita memasuki era Kampus Berdampak, seiring dengan pergantian Menteri Pendidikan dari Nadiem Makarim kepada Prof. Brian Yuliarto, Ph.D., yang menjabat sebagai Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sejak 19 Februari 2025.  Salah satu tolok ukur dari dampak tersebut adalah keberadaan karya akademik yang dapat diakses publik, seperti jurnal ilmiah. Jurnal ini pun terbagi dalam berbagai kategori, mulai dari yang tidak terakreditasi namun memiliki ISSN, jurnal terakreditasi nasional (SINTA 1 hingga SINTA 6), jurnal terindeks internasional, hingga jurnal terindeks internasional bereputasi seperti yang terindeks di SCOPUS dan Web of Science.

Untuk jurnal lokal, syarat minimal bagi seorang doktor yang ingin naik jabatan menjadi lektor kepala (dalam istilah internasional disebut associate professor) adalah memiliki publikasi pada jurnal nasional terakreditasi minimal SINTA-2, dan karya tersebut tidak boleh merupakan bagian dari disertasi saat studi doktoral. Karena seluruh jurnal internasional saya merupakan bagian dari disertasi, akhirnya saya mencoba untuk submit ke jurnal nasional SINTA-2, yaitu RESTI (http://jurnal.iaii.or.id/index.php/RESTI), yang diterbitkan oleh Ikatan Ahli Informatika Indonesia (IAII).

Setelah melalui proses revisi yang cukup panjang—tiga hingga empat ronde revisi—dan hampir satu tahun menunggu sejak submission, akhirnya artikel saya berhasil diterbitkan: http://jurnal.iaii.or.id/index.php/RESTI/article/view/4446.


Menulis di jurnal umumnya terbagi menjadi dua jenis: berbayar dan tidak berbayar. Sangat jarang ada penulis yang dibayar; justru dalam banyak kasus, penulislah yang harus membayar—baik menggunakan dana pribadi, dari institusi, maupun melalui sponsor. Meskipun terdengar aneh, hal ini wajar karena publikasi jurnal memerlukan biaya, mulai dari proses editorial, peer review, hingga penyediaan penyimpanan digital jangka panjang, mengingat artikel ilmiah diharapkan tersedia selamanya (selama tidak terjadi perang nuklir, he he). Untuk jurnal nasional terakreditasi SINTA-2, biaya publikasi biasanya berkisar antara 2 juta hingga 2,5 juta rupiah. Namun, tidak jarang tarif ini meningkat karena penerbit tahu bahwa banyak dosen yang membutuhkan publikasi SINTA-2 sebagai syarat utama untuk usul kenaikan jabatan fungsional akademik.

Sempat dulu saya pernah submit ke jurnal nasional yang saat itu masih terindeks SCOPUS—sayangnya sekarang sudah tidak lagi, istilahnya discontinued from SCOPUS. Waktu itu gratis karena artikelnya merupakan best paper dari sebuah konferensi, sehingga mendapat “jatah” publikasi tanpa biaya. Nah, yang ini saya submit sebagai jurnal nasional biasa. Namun karena proses editorialnya sangat baik, dan jurnal ini dikelola oleh asosiasi profesi independen, yaitu Ikatan Ahli Informatika Indonesia (IAII), yang tidak berorientasi pada profit (non-profit organization), akhirnya jurnal tersebut berhasil terindeks SCOPUS. Alhamdulillah.


Ternyata, jika kita submit ke jurnal yang sedang dalam proses pengajuan ke SCOPUS—biasanya jurnal SINTA-2, karena jurnal SINTA-1 umumnya sudah terindeks SCOPUS—ada manfaat tambahan ketika jurnal tersebut akhirnya disetujui dan resmi masuk SCOPUS. Beberapa edisi sebelumnya, terutama yang digunakan sebagai bahan evaluasi dalam proses penilaian SCOPUS, biasanya ikut terindeks juga. Sekian cerita dari saya, semoga bisa menjadi inspirasi untuk ikut berkontribusi lewat publikasi di jurnal SINTA-2. Banyak manfaat yang bisa kita peroleh dari menulis di jurnal nasional, salah satunya adalah menjaga agar devisa tidak lari ke luar negeri, sekaligus ikut mendukung peningkatan kualitas riset dan publikasi ilmiah di dalam negeri.

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.