AI dan Cybersecurity: Dua Kunci Karier Masa Depan

Menurut informasi dari World Economic Forum, pada tahun 2030 pekerjaan yang paling dibutuhkan adalah di bidang Artificial Intelligence (AI) & Big Data dan Network & Cybersecurity. Informasi resmi ini dapat dilihat melalui tautan resmi WEF yang menunjukkan dominasi bidang-bidang tersebut. Mau tidak mau, para praktisi di bidang ilmu komputer harus mulai memahami dan mendalami dua ranah penting ini.

Untuk bidang AI, hal ini umumnya tidak menjadi masalah karena sebagian besar cabang ilmu komputer memang sudah mencakup aspek kecerdasan buatan. Namun, untuk cybersecurity, cakupannya sering kali belum terlalu dalam, meskipun beberapa mata kuliah membahasnya. Sebagian besar materi masih berfokus pada jaringan komputer dasar, dan belum menyentuh aspek penting seperti analisis malware, penetration testing, dan teknik pertahanan sistem lainnya.

Untuk pembelajaran jaringan, Cisco Packet Tracer masih menjadi pilihan utama. Sementara itu, dalam dunia cybersecurity, praktisi perlu mendalami Kali Linux, sistem operasi yang dirancang khusus untuk pengujian keamanan dan ethical hacking. Situs resmi Kali Linux dapat diakses di https://www.kali.org, dan tutorial-tutorialnya tersedia banyak secara daring, seperti Panduan resmi Kali Linux Documentation.

Berikut adalah video sederhana yang membahas penggunaan Kali Linux untuk melakukan serangan simulasi terhadap sistem operasi Windows XP, sebagai bahan pembelajaran awal

Untuk keamanan bisa memanfaatkan VMWare yang terinstal di virtual, misalnya dengan salah satu aplikasi Firewall bernama pfSense berikut ini.

Kampus, Krisis, dan Harapan Baru

Kondisi dunia yang penuh ketidakpastian turut berdampak pada perekonomian global, tak terkecuali Indonesia. Menteri Keuangan Sri Mulyani pun tampak memutar otak, meski dalam setiap komentarnya ia tetap berusaha menjaga suasana agar tidak semakin keruh. Situasi ini juga menyentuh dunia pendidikan tinggi, terutama kampus-kampus yang mayoritas mahasiswanya berasal dari kalangan menengah ke bawah—golongan yang bila dihadapkan pada pilihan sulit, akan lebih mengutamakan kebutuhan dasar seperti makan daripada kuliah.

Kampus tempat saya bekerja pun tidak luput dari imbasnya. Setelah melalui berbagai tantangan dan kompleksitas permasalahan, akhirnya pengelolaan kampus dialihkan dari yayasan lama ke Muhammadiyah, tentu saja dengan prosedur sesuai aturan seperti pesangon, kadeudeuh, dan lain-lain, agar proses perkuliahan dan pelaksanaan tri darma tetap berjalan.

Meski demikian, semangat optimisme harus terus dipupuk. Hari ini, misalnya, baru saja digelar webinar tentang quantum computing di salah satu kampus saya yang lain, meskipun rumus-rumus matematisnya cukup membuat kepala pening.

Promosi dan penguatan citra kampus tetap perlu dilakukan melalui kegiatan yang bermanfaat, baik lewat webinar maupun pengabdian kepada masyarakat. Biarlah dinamika dunia terus bergulir, kita hadapi dengan menjalankan peran masing-masing sebaik mungkin. Sikap wait and see tetap perlu dijaga agar kita tidak gegabah, khususnya dalam hal penggunaan anggaran.