Beasiswa & Nasionalisme

Saya merupakan penerima beasiswa BPPLN akhir-akhir sebelum ditutup. Beasiswa untuk kuliah di luar negeri ini diperuntukan bagi dosen-dosen, karena ada syarat NIDN, serta ijin dari kampus, dan ijin dari LLDIKTI khusus yang swasta.

Di grup alumni BPPLN sendiri, sangat disayangkan dihapus karena beasiswa ini tidak terlalu berat syaratnya, dan bisa diberikan untuk daerah timur yang memang kalau dibandingkan dari sisi manapun kalah dibanding wilayah barat (waktu itu di tahun 2013 ke bawah, tapi sekarang sudah mulai setara).

Memang beasiswa ini kerap terlambat memberikan kiriman uang karena memang kebijakan yang gaya lama. Untungnya ada surat garansi dari pemerintah, sehingga kampus tujuan memaklumi dan yang terpenting ada yang mendukung, yaitu kampus tempat homebase si penerima beasiswa. Sudah biasa kampus menalangi dosennya yang studi lanjut, waktu itu.

Lalu, munculah LPDP, dipelopori oleh departemen terkaya di Indonesia, departemen keuangan. Dengan gagahnya, mengusulkan untuk mengambil alih BPPLN yang dirasa kurang profesional. Tanpa daya akhirnya pengelolaan yang tadinya oleh DIKTI, menjadi departemen keuangan, walau masih menjadi mitra.

Sayangnya, evaluasi terhadap BPPLN sepertinya tidak mengambil praktik baik yang terjadi. Salah satunya adalah nasionalisme alumni BPPLN. Ketika saya mendaftar dahulu, DIKTI sempat dipanggil DPR karena hanya 30% serapan, artinya tidak berhasil menyerap dana. Waktu itu, dosen-dosen akan berfikir berkali kali jika mau mengambil beasiswa ini, karena berita dari alumni2nya yang katanya telat, kurang, dan sejenisnya. Artinya, yang ingin mengambil beasiswa ini sudah pasti siap menderita.

Di tahun 2014-an kondisi parah terjadi ketika penerima beasiswa, sering disebut diktiers, yang di Australia ada yang meninggal karena kelelahan bekerja akibat kiriman telat. Lalu bermunculan Youtuber2 yang juga penerima beasiswa mengkritik keras, hingga terjadi mediasi. Saya sendiri tidak tega dengan kritik kerasnya, mungkin beda generasi beda karakter. Channelnya laris dan sempat memamerkan logo youtube earningnya, namun sayang beliau wafat ketika covid melanda di tahun 2020-an. Saya sendiri tetap teguh tidak akan pernah ‘menggigit’ tangan yang memberi saya makan.

Yang jelas, walaupun ada kelemahan, BPPLN menurut saya dari sisi nasionalisme, tidak diragukan lagi. Hampir tidak mungkin yang mengambil beasiswa ini untuk tujuan mencari untung. Teman saya yang memenangkan 2 beasiswa: bppln dan kampus tujuan, memilih kampus tujuan. Anak-anak artis, anak pejabat, hampir tidak mau mengambil jenis beasiswa ini dan yang pasti, penerima beasiswa ini pasti pulang, tidak mungkin kabur, apalagi sampai memposting video melecehkan kewarganegaraan Indonesia. Ini seperti kelanjutan dari seorang penerima beasiswa ke Australia, menikah dengan warga sana, tapi dalam postingannya mendukung papua merdeka. Hingga saat ini tidak ada kejelasan, termasuk pengembalian biaya yang diperoleh selama studi lanjut. Entah mengapa, orang-orang ini lupa kalau dana tersebut berasal dari pajak yang dibayarkan oleh rakyat, dan juga hutang negara.

Menurut saya LPDP bagus tapi ada baiknya mengevaluasi kembali, pengalaman BPPLN yang baik, kesetiaan, ketabahan, dan sopan santun tetap diterapkan di LPDP, walau BPPLN waktu itu kurang dianggap profesional atau kurang ‘mantap’ menarik minat calon penerima beasiswa yang top. Tentu saja yang diharapkan adalah penerima beasiswa yang potensial namun memiliki nasionalisme yang tinggi. Mengenai harus kembali atau bekerja dulu di luar (dibatasi beberapa tahun) perlu dibahas kembali.

Sekian, semoga menginspirasi, dan bagi yang ingin studi lanjut tetap mau mencoba mengambil beasiswa ini walau sedang viral dan banyak alumninya yang bermasalah.

Server RIG dengan GPU

Pagi ini tiba server dengan spesifikasi HPE ProLiant DL380 Gen10 dengan BIOS/ROM U30 v2.90 (07/20/2023), RAM 64 GB, prosesor 2 × Intel Xeon Gold 5218, serta storage 1 × 2.2 TB. Namun tipenya adalah rig, yaitu komputer rakitan khusus dengan frame terbuka yang dirancang untuk komputasi intensif dan memudahkan pemasangan banyak GPU, dengan 4 buah GPU tipe RTX.

Di dalamnya sudah terpasang Ubuntu Server 22.04 yang dapat menyala, tetapi password tidak dipegang sehingga belum bisa dilakukan pengujian lebih lanjut. Agak unik, tipe rig dengan GPU seperti ini biasanya digunakan untuk komputasi paralel berintensitas tinggi seperti mining cryptocurrency, rendering grafis, simulasi, atau pelatihan model AI/deep learning karena membutuhkan banyak unit pemrosesan secara bersamaan.

Namun di SOCS Universitas Nusa Putra perangkat ini digunakan untuk keperluan Deep Learning, bukan untuk mining crypto. Agak bingung pada awalnya, dimulai dari pemasangan UPS yang cukup berat. Terdapat dua Power Supply Unit (PSU), di sisi kanan dan kiri. Hal yang unik adalah mencari tombol start yang berbentuk seperti kabel kecil memanjang dengan ujung berupa tombol yang ditekan untuk proses booting. Selain itu, masih perlu belajar lagi dalam melakukan pengaturan jaringan (network) pada server melalui terminal.

Menjadikan kenangan lebih manis dengan AI

Perkembangan AI saat ini di luar dugaan kita semua, dalam hitungan bulan sudah bermunculan aplikasi-aplikasi bersifat generatif dimana AI bisa menciptakan sesuatu. Beberapa ilmuwan yang menciptakan bahkan khawatir akan sifat generatif-nya, khususnya ketika yang dihasilkan membahayakan manusia.

Namun banyak juga yang bermanfaat bagi manusia, khususnya yang sifatnya entertainment, misalnya merubah gambar jadi video, seperti http://clipfly.ai/. Beberapa youtuber banyak menghasilkan uang dengan membuat generatif video hasil imajinasi atau pendekatan sejarah.

Banyak bidang-bidang lain saat ini yang tertarik dengan AI, bukan hanya dari ilmu komputer. Bahkan pelajar-pelajar dunia saat ini lebih tertarik dengan AI dan Sains Data dibanding induknya, Informatika. Video ini merupakan hasil generatif dari AI yang berasal dari gambar. Salah satunya adalah foto wisuda yang terselamatkan karena satu rol kamera salah pasang dan terbakar (waktu itu, 2001, kamera masih analog dengan film). Untungnya orang tua ngotot ingin foto di tukang foto yang pasang stand di lokasi Wisuda, Balairung UGM.

Samurai Tak Bertuan

Setelah hampir 20 tahun, akhirnya tiba saatnya tak bertuan lagi. Agak berat rasanya, tapi seperti biasa, hidup tanpa pilihan itu praktis juga. Putus di tengah bulan, memang agak membingungkan, apalagi tidak sempat mengenyam THR terakhir. Mungkin itu hukuman, tapi bagi samurai yang tak terlalu membutuhkan dan menggantungkan ke hal tertentu, santai saja, ‘tak diundang, tak datang, tak disapa ga perlu bicara, tak diperhatikan tak perlu cari perhatian, tak diajak tak perlu ikut’, beres. Untungnya, saat dilepas, segera dapat tuan yang baru, ronin itu kembali menjadi samurai. Per 13 Februrai 2026, jadi hari pertama.

Bekerja di tempat yang memiliki visi ke depan, ibarat membangun sesuatu. Ada keasyikan tersendiri, kerja tidak sekedar rutinitas yang itu itu saja. Tempat yang kutinggal, tidak pernah membuat saya khawatir, karena sudah berkembang, apalagi saat ini di tangan pengelola yang tepat. Hanya saja, untuk aktivitas ke Jakarta, jadi momok tersendiri, namun salah satu andalannya adalah transportasi publik, yang untungnya saat ini sudah jauh lebih baik dari belasan tahun silam.

LRT tetap jadi andalan, terutama jadi sarana olah raga juga. Jauh lebih sehat dari mengendarai kendaraan pribadi yang penuh dengan kemacetan. Banyak proses yang harus diselesaikan, mulai dari pindah homebase, sister dan BKD yang perlu diselesaikan, dan lain-lain yang tidak jauh dari aspek administrasi. Belum lagi problem seperti kampus-kampus swasta di Indonesia yang pasarnya direbut oleh kampus PTNBH dan PTN lain yang secara masif menerima mahasiswa baru seperti tanpa batas.

Dulu pernah berkantor di daerah kebon sirih, dan sekarang di jalan Budi Kemuliaan, tidak jauh dari monas, pusat Indonesia. Untuk program pasca sarjana, selain dari jumlah mahasiswa, sumber dana harus diperoleh dari hibah riset dan kerjasama dengan industri, tidak ada cara lain.

Semoga bisa melanjutkan aktivitas dulu yang sempat tertunda, fokus ke riset, menulis buku dan menciptakan produk-produk. Semoga lancar.

Saatnya Berpisah

Salah satu konsep meditasi adalah ketidak kekalan. Segala sesuatu pasti ada akhirnya. Begitu juga dengan jabatan, pekerjaan, dan lain-lain di dunia ini. Ini yang terjadi hari ini, di cuaca mendung dengan hujan lebat di kota Bekasi. Melepas jabatan dan pindah kerja, sepertinya sudah biasa, berganti rekan-rekan baru dan suasana baru.

Pindah tanpa konflik merupakan anugerah tersendiri. Mungkin sudah takdir, selalu saja yang terjadi datang begitu saja. Dari dulu memang tidak ada pilihan, selalu saja mengalir. Ketika di awal bekerja tidak pernah ada pikiran pindah kerja untuk mencari yang lebih baik. Entah karena terpaksa pindah akibat menikah dengan rekan satu kantor, pindah karena beban kerja yang membuat sakit tipes dan beralih jadi dosen walau dengan konsekuensi turun separuh gajinya.

Dulu di awal tahun 2000an, tepatnya di tahun 2002 selepas kuliah. semua perusahaan yang saya lamar menolak. Hanya ada satu kampus, itu pun pegawai honorer, dengan 2 kelas mengajar. Setelah itu pindah menjadi pegawai outsourcing di perbankan swasta nasional dengan gaji dipotong separuh lebih dari uang yang dibayarkan Bank itu ke perusahaan outsourcing. Hingga akhirnya berlabuh di kampus tua di Bekasi. Nyaris hampir 10 tahun tidak ada pekerjaan tetap, hingga akhirnya satu kampus menghargai dan menerima sebagai karyawan tetap, dengan status dosen tetap yayasan.

Waktu berjalan, karena beberapa kampus telah saya masuki, ternyata istilah kita adalah rata-rata teman ada benarnya juga. Beberapa rekan yang mengambil studi lanjut, yang mengurus pangkat, dan lain-lain bisa memengaruhi kita. Tidak ada salahnya bergaul dengan orang yang levelnya di bawah kita, tapi ada baiknya juga yang di atas. Maksudnya di atas dan di bawah ini adalah level pengalaman, tidak harus lebih jago atau mahir. Pengalaman tidak bisa dipelajari, sehingga harus kita lalui. Mentor mau tidak mau kita perlukan, baik yang langsung mengajari, maupun yang jadi alat belajar kita, misalnya pembimbing utama, atasan, dan sejenisnya.

Kesetiaan merupakan nilai penting. Ada pepatah, ‘banyak pemimpin hebat, tapi pemimpin besar adalah yang setia’. Tadinya saya ingin terus bertahan dan pensiun di kampus itu, tapi ternyata kondisi zaman memaksa manajemen mengalihkelolakan kampus legen itu ke yayasan lain. Di situlah persimpangan jalan terjadi. Setelah beberapa tahun tidak jelas jadi atau tidak alih kelola, dan bahkan keinginan saya pensiun itu sedikit terkabul dengan dua kali dapat pesangon (uang kerahiman), terpaksa saya lepas karena terlanjur janji dengan rekan di kampus lain untuk membangun bersama institusinya. Karena lisan saya ‘bermaterai’, terpaksa ketika ada program ‘melamar kembali’ untuk tetap bergabung dengan kampus yang dialihkelola, terpaksa tidak ikut melamar dan hasilnya, hari ini berpisah.

Banyak PR yang belum selesai seperti beberapa mahasiswa tersisa yang harus diluluskan karena akan tutup dan D3 (saat ini hampir tidak ada peminat), khususnya kampus swasta, hingga akreditasi prodi informatika yang baru setahun setengah berjalan. Namun karena keyakinan saya institusi yang mengambil alih adalah institusi yang ‘tidak main-main’, institusi besar dengan dana yang kuat, pasti akan mampu meningkatkan performa prodi yang telah sama-sama dibuka dengan susah payah.

Perjanjian Kerja dengan waktu tertentu (PKWT) memang menjadi momok bagi pekerja (satu paket omnibus law), sehingga sama sekali tidak ada uang kompensasi karena resign atas kemauan sendiri. Tidak apa, memang dari dulu ketika pindah pun, tidak ada sama sekali pergantian. Semoga kondisi negara kita bisa normal kembali, perekonomian berjalan lancar, masyarakat bisa menempuh pendidikan tinggi, lulus dan bisa bekerja dengan mudah. Sekali lagi mungkin pembaca punya pandangan yang berbeda, tapi yang saya alami adalah sebagian besar yang terjadi di saya adalah tanpa pilihan, untungnya selama ini tepat, dan semoga kali ini pun tepat, yang penting tidak ada yang disakiti dan berdosa dengan orang lain. Semoga tulisan singkat ini bermanfaat.

The Importance of Networking Education in Modern Computer Science

Computer science today is largely dominated by artificial intelligence, software development, and related fields. However, many other areas are equally important and in high demand, one of which is computer networking.

Networking is a field that is typically taught at vocational high schools (SMK). Nevertheless, it is also essential for computer science students, especially those whose previous educational background was not vocational.

Currently, network simulators are extremely useful for learning networking. Although they cannot fully replace hands-on practice, they significantly facilitate learning, particularly for postgraduate students who wish to quickly acquire cybersecurity skills. It is impossible to study cybersecurity without a solid foundation in networking.

Cisco is a major global company that has long focused on networking, particularly on routers. Routers are fundamental components of computer networks, enabling communication and data transfer between one network and another, especially across the internet.

The following video demonstrates how to configure RIP routing using Cisco Packet Tracer, a free network simulation application developed by Cisco.

For installation instructions, please refer to the following video, especially for macOS users.