Lokasi Menentukan .. Geography Matters

Problem yang terjadi di dunia saat ini ternyata tertutupnya selat Hormuz di Iran, karena memengaruhi harga migas dunia. Beberapa negara sudah mulai panik, misalnya Filipina yang menerapkan liberalisasi BBM, sehingga terpengaruhi harga migas dunia. Indonesia sendiri masih aman, kita lihat saja nanti.

Kedekatan kita antara dua kubu, AS dan Rusia dan China, sedikit banyak mengamankan suplay. Menteri Purbaya pun menyatakan bahwa kita darurat energi patokannya kalau suplay tertutup. Selama masih ada, walau sulit tetap ada dan perekonomian masih berjalan normal.

Mengenai APBN, tentu saja berubah dan harus dinamis. Kalau statis bisa ga klop. Kalau harga minyak naik, karena harus beli dari dollar, pasti akan terpengaruh. Tapi kan ekspor kita seperti LNG, sawit dan batubara kalau mau fair yang dihitung juga, karena saling terpengaruh. Apalagi Rusia yang jika kita beli dari mereka tentu saja tidak bisa pakai dollar, biasanya dengan tukar, misalnya dengan sawit. Nah, untuk PLN, untungnya kita masih ada yang menggunakan batu bara, sehingga masih aman, beda kalau pakai solar. Beberapa bahkan sudah mulai dengan tenaga surya.

Terkadang kita lupa posisi geografi kita, yaitu pertemuan antara dua samudera yang menjadi jalur suplay migas dunia dari timur tengah ke asia timur. Walaupun kita tidak mungkin seperti Iran nekat menutup selat malaka, tapi secara bargaining power tetap saja ada. Ibarat kita ga punya makanan, tapi dilewati oleh kapal-kapal bawa makanan, ya sedikit banyak dikasih lah. Kalau ada apa-apa di selat malaka, selat sunda dan selat ‘premium’ Lombok masih tersedia.

Jadi silaturahmi antar negara sedikit banyak memiliki manfaat, sesuai kitab suci. Dalam Al-Qur’an, silaturahmi memiliki kedudukan yang sangat penting. Pada QS. An-Nisa ayat 1, Allah memerintahkan manusia untuk bertakwa dan menjaga hubungan kekeluargaan (rahim). Kemudian dalam QS. Muhammad ayat 22–23, dijelaskan bahwa orang yang memutus silaturahmi akan mendapatkan laknat dari Allah. Selain itu, dalam QS. Ar-Ra’d ayat 21 disebutkan bahwa ciri orang beriman adalah mereka yang menyambung apa yang Allah perintahkan untuk disambung, termasuk hubungan silaturahmi. Tentu saja hati-hati jangan sampai bersahabat dengan pembuat onar.

Hai Gen-Z

Sulit sekali memrediksi masa depan, kalau ada yang bisa pasti sudah kaya raya. Karena tidak bisa maka kita hanya bisa membaca gejala-gejalanya. Saat ini gejala yang terjadi adalah perubahan geopolitik dunia, dimana kita tidak merdeka lagi jual beli antar negara. Tarif resiprokal antar negara yang dipelopori oleh USA memaksa kita membeli produk dari negara yang telah ‘berjasa’ membeli barang dari kita. Jika kita misalnya banyak menjual barang ke India, mau tidak mau kita terpaksa membeli barang dari mereka, walaupun berupa mobil ‘made in india’.

Pakar geopolitik Prof Jian mulai menyoroti masalah ini, khususnya posisi negara di masa depan. Perdagangan tidak se global saat awal milenium baru, malah akan berupa pasar-pasar kecil, misalnya Rusia-Jerman, Asean, dan lain-lain yang bisa menjamin kelangsungan hidup suatu negara dalam waktu lama. Pondasi saat ini yang hanya mengandalkan minyak ternyata tidak menjamin sustainability suatu negara, ditambah lagi generasi sekarang, gen-z yang agak sulit menerima estapet. Negara yang gen-z nya siap menerima tongkat estapet dipastikan akan menjadi negara yang kuat, tentu saja kalau ada generasinya, repotnya jika jumlahnya menyusut. Lihat saja pimpinan negara-negara yang saat ini berpengaruh, masih dipimpin oleh orang-orang tua, setidaknya mendekati 80an tahun usianya. Tokoh-tokoh politik masih dimiliki oleh orang tua yang itu-itu saja, kalau pun ada yang ‘terlalu muda’ malah banyak yang tidak setuju.

Nah ke depan, anak-anak kita harus dididik siap tanpa AI atau aspek digital yang hanya mengandalkan jaringan internet, yang jika down tidak bisa berbuat apa-apa. Kembali ke aktivitas fisik yang real, misalnya bertani atau lainnya yang tanpa tergantung dengan AI sepertinya harus dibiasakan dari awal. Repot kan kalau mau melakukan sesuatu harus dengan listrik dan internet. Beda dengan jaman kita dulu, hanya dengan petromax atau lampu tempel masih bisa melakukan segala hal. Yuk, gen-z, lakukan hal-hal yang tidak itu-itu saja.

Tidak apa membanding-bandingkan

Ada video eksperimen di youtube ketika dua monyet diperlakukan berbeda, setelah melakukan sesuatu, satu monyek diberi mentimun, satunya lagi anggur. Pertama-tama tidak ada masalah, tetapi setelah beberapa kali, monyet yang selalu diberi mentimun akhirnya marah, melempar mentimun yang diberikan dan minta diberi anggur juga.

Itu bisa menggambarkan juga manusia. Ketika seorang pekerja diberi upah yang berbeda dengan bobot kerjaan yang sama, pasti yang lain akan membandingkan lalu kecewa dengan perlakuan bosnya. Memang sudah biasa dan lumrah? Yang penting ketika membandingkan, perlu mengambil sisi positifnya.

Waktu kecil kadang iri juga melihat teman yang pintar, rajin, apalagi setelah lulus sukses. Ada dua cara memandang, ketika melihat dia yang biasa-biasa saja bisa sukses, langsung ‘down’, atau dalam istilah anak muda ‘kena mental’. Tapi bisa juga kita melihat dia yang biasa-biasa saja bisa sukses, jadi bahan introspeksi, bisa jadi dia sukses karena konsisten, tekun, dan kerja keras, sementara kita yang mungkin fasilitas lebih dari dia, tapi tidak konsisten, kurang tekun dan tidak suka kerja keras.

Masalah ‘gerah’, emosi, dan sejenisnya, itu lumrah dan bisa jadi bahan-bakar untuk berubah ke arah yang lebih baik. Kembali, respon kita terhadap kondisi itu lah yang menentukan, dan respon kita itu tergantung kita, bisa memilih, mental yang jatuh atau mental yang tambah semangat. Apalagi jika rekan yang sukses itu agak ‘memanas-manasi’, jika tidak kuat, malah negatif jatuhnya, yang diisitilahkan princess Syahrini dengan istilah julit.

Kita sering mendengar istilah ‘studi banding’. Istilah ini sebenarnya juga membanding-bandingkan, tapi ketika membandingkan, kita pilih respon yang positif, dengan harapan bisa mengikuti jejak yang kita bandingkan. Bagaimana jika masih juga ‘down’?

Sebenarnya ada dua melihat orang lain, yang di atas dan yang di bawah. Terkadang kita suka fokus ke yang atas, baik dari sisi finansial, karir, kepopuleran dan lain-lain. Lihatlah kondisi terkini, perang iran-israel. Ketika Iran membom fasilitas desalinasi, alat yang merubah air laut jadi air tawar siap minum, kita sadar, negara kita yang memiliki air berlimpah, bahkan terlalu berlimpah sampai banjir, lebih baik dari timur tengah yang sulit cari air minum.

Negara seperti Singapura yang tidak ada sumber daya alam, tapi jadi negara maju, tidak serta merta membuat kita ‘down’, justru menjadi pemicu agar terus bangkit, bergerak maju, kerja keras, tekun, dan konsisten. Jadi kalau ada rekan kita yang lebih hebat, jadikan itu sebagai sarana kita agar ikut naik kelas juga. Semoga kita naik kelas selalu.

Resign

Tidak sadar, libur lebaran sudah mau selesai dan besok harus kembali bekerja. Entah mengapa kali ini terasa berbeda dari lebaran-lebaran sebelumnya. Dapat dipastikan karena status pegawai baru saya di kampus Universitas Nusa Putra, khususnya di program pasca sarjana School of Computer Science.

Rasa syukur karena pengunduran diri di november lalu, disetujui per 1 Februri, tapi baru diberi tahu pertengahan bulan, sekitar tanggal 12, nah lho. Dalam keadaan masih aktif bekerja, tiba-tiba ditengah jalan harus berpisah, tentu saja tanpa gaji. Untungnya, surat segera diberikan ke kampus baru dan segera aktif bekerja di tanggal 13 Februari, sungguh proses kilat yang kalau tidak karena kenal dengan pemilik kampus tidak akan bisa. Bayangkan saja, menghadapi lebaran tanpa gaji dan tanpa THR. Uniknya, mulai kerja di pertengahan bulan, dengan take home pay yang sama dengan take home pay sebulan kampus lama.

Begitulah, jalan hidup yang terkadang seperti tidak ada pilihan, tahu-tahu sudah berganti kostum kampus lain. Biasanya orang resign setelah lebaran, ini sebelum lebaran. Kalau dibilang nekat ya nekat, dibilang tidak nekat ya memang sudah dipikirkan matang-matang, dan yang penting jujur, tanpa ada trik atau akal-akalan. Mengapa hal ini terjadi?

Beberapa hari yang lalu, anak saya beli buku berjudul the Let Them Theory karya Mel Robbins. Intinya buku itu bercerita bahwa dalam kehidupan ada hal-hal yang bisa kita kontrol, ada hal-hal yang tidak bisa kita kontrol. Yang bisa kita kontrol adalah hal-hal yang kita merdeka dalam melaksanakannya, respon kita terhadap sesuatu, dan sejenisnya. Sementara yang tidak bisa kita kontrol, disebut ‘let them’, sesuai judul buku, biarkan saja mereka bertindak.

Kembali ke kondisi kerja sebelumnya, saya tidak bisa memaksa kampus menjadikan pimpinan, misalnya dekan, wakil rektor atau rektor, karena memang dipilih oleh yayasan, atau dipilih oleh voting setelah proses presentasi di senat. Jadi itu masuk kategori ‘biarkan saja’. Nah, seperti mata uang koin, dua sisi, ada ‘biarkan mereka’ – ‘let them’, ada ‘biarkan aku’ – ‘let me’. Jika biarkan saja kita tidak bisa mengontrol, biarkan aku itu lah yang bisa kita kontrol.

Dengan ‘biarkan aku’ saya bisa menentukan, misalnya upgrade skill, ambil S2 dan S3, urus kepangkatan hingga serdos menjadi orang pertama di fakultas. Ketika kondisi sudah mentok, sebagai kaprodi, dan kondisi terakhir lulus sebagai asesor, baik asesor BKD serdos, maupun asesor akreditasi LAM Infokom, tentu saja karena tidak bisa mengontrol posisi ‘biarkan mereka’, mulailah fokus ke ‘biarkan saya’ – ‘let me’ bertindak.

Diawali dengan meluaskan jejaring/network, kenal dengan kampus-kampus lain, skill dan ‘cakar’ sudah cukup dikenal, dan sudah ‘mentok’ di kampus lama, akhirnya mulailah mengajukan resign. Seperti biasa, resign dari kampus tidak seperti perusahaan, harus sampai selesai 1 periode semester. Akhirnya dengan sisi lain dari ‘biarkan mereka’ yakni ‘biarkan aku’ bertindak, hal-hal yang tidak bisa saya kontrol/kendalikan, saya alihkan ke hal-hal yang bisa saya kontrol/kendalikan. Begitulah jalannya.

Perpisahan tidak bisa dihindari, untungnya berpisah dengan baik-baik dan kondisi yang tepat juga dimana kampus diambil alih oleh organisasi terbesar di Indonesia, dan keluar tidak ada yang tersakiti. Uang pesangon yang diterima dari kampus lama karena syarat alih kelola bisa dimanfaatkan untuk ambil rumah baru, dan ada kenang-kenangan vespa hitam yang tidak akan dijual, karena ketika melihatnya akan teringat kenangan di kampus lama, kampus yang sudah berjasa, mulai dari sebagai satu-satunya organisasi yang mengangkat jadi karyawan tetap (setelah beberapa tahun menjadi tenaga honorer serabutan) hingga studi lanjut hingga S3. Tadinya saya pikir, akan pensiun di kampus tersebut karena jasanya, tetapi pensiun lebih awal karena alih kelola. Perpisahan dengan Yayasan lama pun sudah terjadi.

Demikianlah jalan kehidupan yang tidak bisa ditebak. Yang penting tetap berkarya dan berguna bagi nusa dan bangsa. Sekian semoga anda tertarik membaca buku ‘The Let Them Theory’ tersebut. Wasalam.

Time Boxing

Saat jalan-jalan ke gramedia, anak saya minta dibelikan buku ‘time boxing’. Buku ini membahas bagaimana keseharian kita teratur dan menjalankan aktivitas berdasarkan jadwal yang sudah ditentukan. Puluhan tahun yang lalu sebenarnya sudah dipraktikan, tapi selalu gagal karena walaupun jadwal sudah dibuat tetapi hasilnya kurang sesuai harapan. Kapan jam mandi, makan, belajar, dan lain-lain. Semua sudah dilaksanakan tetapi hasilnya tidak optimal, bahkan kalah oleh yang tidak membuat jadwal sama sekali.

Sebenarnya penjadwalan yang telah dibuat dulu, ketika saya masih sekolah, hanya sekedar menjalankan tugas saja, tanpa tujuan yang jelas. Yang memang ketika kita beraktivitas sehari-hari sudah ada jadwalnya, penyusunan jadwal kurang signifikan, kecuali memahami esensi dasar bagaimana menjadwalkan aktivitas sehari-hari. Khususnya aspek-aspek tertentu yang dibahas di buku tersebut.

Hal mendasar yang perlu diperhatikan saat kita membuat jadwal adalah bahwa otak kita tidak bisa bekerja multi-tasking. Kalau pun ada yang mengatakan ada tugas yang multi-tasking, sebenarnya itu adalah beralih antara 1 aktivitas ke aktivitas lain dengan cepat. Misal, ketika kita memesan makanan di restoran cepat saji, terkadang bagian penerima pesanan dalam waktu bersamaan menerima pembayaran, itu artinya si pelayan tersebut dengan cepat beralih dari menerima pesanan dan melayani pembayaran di dua pelanggan secara bersamaan. Jadi jadwal yang baik itu kita hanya fokus ke satu kegiatan saja.

Berikutnya adalah konsep pomodoro, yakni otak kita perlu beristirahat, dan menurut konsep ini perlu break tiap 20an menit dengan jeda 5 menitan. Nah, setelah jeda, pikiran biasanya akan fresh kembali. Jangan dibuat jadwal yang full 3 jam tanpa jeda, karena biasanya fokus akan lemah dan cenderung memikirkan hal-hal yang lain.

Pengaturan waktu juga menjadi poin penting dalam penyusunan time boxing. Nah, kita pernah menjalani perkuliahan, rapat, atau kegiatan tertentu yang tidak sesuai time boxingnya. Misalnya rapat sederhana yang dijadwalkan terlalu lama. Harusnya cukup 30 menit, tetapi dijadwalkan 2 jam, misalnya. Dapat dipastikan, rapat akan melebar ke mana-mana. Sebaliknya rapat berat tapi dijadwalkan terlalu singkat juga tidak akan menjawab tujuan dari rapat itu sendiri.

Jadi makin anda banyak waktu bebas, makin perlu membuat time boxing yang tepat. Ketika menjalankan satu aktivitas sesuai jadwalnya, pastikan tidak ada gangguan, baik berupa telpon, sms, whatsapp, dan sejenisnya. Buat break yang sesuai dengan konsep pomodoro. Ketika Anda lulus sekolah menengah yang memang jadwalnya sudah ditentukan sekolah, beberapa mahasiswa baru mengalami kesulitan ketika beralih dari level yang sudah terjadwal menjadi level yang harus menyusun jadwal sendiri, menyusun mata kuliah yang perlu diambil, menyusun kapan saatnya fokus belajar, bermain, dan aktivitas organisasi lainnya. Untungnya banyak aplikasi-aplikasi yang bisa membantu membuat jadwal, khususnya dengan AI saat ini.

Oke, semoga kita bisa menyusun jadwal yang baik, sesuai dengan target dan tujuan kita sehari-hari. Jika bekerja dengan jadwal yang sudah tertentu, ada baiknya kita membuat jadwal juga, jadwal pribadi agar seimbang antara aktivitas pekerjaan dengan kehidupan pribadi kita.

Merenung

Saat sebelum COVID, ada saran dari kemdikbud agar dosen punya waktu untuk merenung. Waktu itu sepertinya bermaksud agar dosen ada waktu untuk meneliti/riset, tidak hanya mengerjakan tugas administratif dan pengajaran. Namun sepertinya ada maksud lain, yaitu merenung di sini mengistirahatkan otak dari aktifitas berlebih.

Ada video di youtube berupa podcast peneliti otak bahwa kita perlu merenung, guna mengistirahatkan otak. Di sini merenung dalam arti yang sesungguhnya, bukan riset atau fokus meneliti dengan dahi berkerut. Saat ini dimana medos sangat menggoda, apalagi dengan algoritmanya seperti tiktok, maka jebakan untuk otak terus bekerja, tanpa istirahat, kian kuat. Tanpa mengetik dan menekan tombol tertentu, cukup dengan scroll HP, berita akan memaksa otak berfikir. Oiya, otak kita tidak seperti ikan yang saat tidur dia tetap melek, tapi menggunakan otak 1/2 dari kapasitasnya. Manusia tidak mungkin, pasti dalam dua keadaan, on atau off, tidak bisa 1/2 on atau 1/2 off.

Jika aktivitas otak tanpa ada jeda, maka ada kemungkinan kualitas otak akan berkurang. Saat di kereta atau bis, kita sering melihat orang-orang bermain HP. Bermain di sini tidak menggunakan HP karena ada pesan penting masuk, melainkan memang hanya melihat youtube atau tiktok, atau medsos lainnya. Nah, untuk mengatasi hal tersebut, ada baiknya dilatih ketika menunggu, kita mengistirahatkan otak. Banyak caranya, salah satunya ya itu, merenung.

Saya sendiri sering memerhatikan nafas masuk dan keluar saja, saat sambil berjalan atau membaca. Manfaatnya ternyata membuat kita fokus ke saat ini. Tidak berfikir masa depan atau mengenang masa lalu. Di awal memang susah, kadang buyar, tapi ketika sadar buyar dan kembali lagi ke saat ini, ya otak kembali ke mode istirahat lagi. Anehnya kekuatan jadi bertambah, misalnya mengerjakan tugas jadi tahan lama, membaca jadi sabar, tidak tergesa-gesa ingin menyelesaikannya.

Semoga tulisan ini bermanfaat, apalagi beberapa hari yang lalu bagi umat muslim banyak yang mengadakan i’tikaf, yakni duduk diam, tidak perlu menguras otak. Sekian minal aidin wal faidzin.

Kualitas Kampus

Saat ini ketika kita melihat suatu produk di internet, untuk menghindari penipuan kita membaca review yang biasanya terlihat di kolom review, entah itu google review atau memang di toko online tersebut yang menyediakan fasilitas tersebut. Apapun produknya seharusnya ada kolom review. Jika tidak ada, biasanya konsumen akan ragu untuk memakai produknya. Begitu pun produk yang berupa jasa, seperti pendidikan, baik pendidikan dasar, menengah, maupun pendidikan tinggi.

Kampus swasta, berbeda dengan negeri, memiliki perbedaan dari sisi review yang memang sangat dinamis, kadang bagus kadang buruk, tergantung kondisi. Hal ini karena dari sisi masukan, jangkauannya sangat besar. Agak sulit menyaring calon mahasiswa yang berkualitas. Sudah ada yang mendaftarpun sudah bersyukur sekali. Apalagi kampus negeri menyedot banyak sekali calon mahasiswa, baik lewat jalur prestasi untuk menggaet yang pinter, atau jalur mandiri, untuk menggaet yang berpendapatan tinggi. Sementara kampus swasta, tinggal sisa-sisanya, mungkin karena dekat rumah karena sambil membantu orang tua mengelola usaha, atau orang tua yang tidak percaya anaknya kuliah jauh, walaupun di kampus negeri.

Untuk membantu masyarakat mengetahui kualitas kampus, pemerintah meminta asosiasi perguruan tinggi bidang tertentu, misalnya aptikom untuk bidang informatika dan komputer, menilai kinerja atau kualitas sebuah kampus. Saat ini peringkatnya mulai dari terakreditasi, unggul, dan terakreditasi internasional. Terjadi beberapa kali revisi karena kebijakan pemerintah, mau tidak mau, harus diikuti. Ketika sebelumnya era Nadiem, dengan merdeka belajar, lanjut ke kampus berdampak, era mendiktisaintek, Prof Bryan, setelah memisahkan diri dari pendidikan dasar dan menengah. Poin pertanyaan yang berjumlah di atas seratus, kini di bawah seratus.

Akreditasi biasanya jadi momok menakutkan bagi kampus swasta, karena sangat berdampak ke nama baik di mata masyarakat. Ketika menyusun laporan yang dikenal dengan nama evaluasi diri, terkadang kerja keras, terkadang sampai begadang dan lembur. Banyak ketua program studi yang sampai sakit akibat lelah.

Sebenarnya akreditasi lebih mudah dari soal UTS dan UAS mahasiswa karena pertanyaan sudah ada terlebih dahulu, berbeda dengan soal ujian yang ‘rahasia’. Tiap pertanyaan, misalnya di lembaga akreditasi mandiri (LAM) infokom sebanyak 74 butir, harus menjadi pertanyaa-pertanyaan turunan yang ditanyakan oleh divisi penjaminan mutu tiap kampus. Pertanyaan turunan itulah yang menjadi indikator kinerja. Pertanyaan-pertanyaan itu wajib diketahui oleh ketua program studi (kaprodi) yang harus disampaikan ke penjaminan mutu karena antara satu prodi dengan lainnya agak berbeda, walaupun sebagian besar sama, misalnya sarana prasarana, penjaringan calon mahasiswa, dan lain-lain.

Ketika butir pertanyaan sudah diketahui oleh lembaga penjaminan mutu maka proses selanjutnya jadi mudah. siklus PPEPP, yang dimulai dari penetapan, evaluasi, pengendalian dan penetapan jadi lancar karena antara yang ditetapkan (disahkan), dievaluasi, dan seterusnya mengalir dengan wajar. Terkadang karena prodi tidak memberikan indikator yaang nanti dievaluasi ke penjaminan mutu, proses evaluasi dan seterusnya tidak nyambung, beberapa butir akreditasi tidak ditanyakan, atau yang tidak terkait akreditasi malah ditanyakan.Tidak perduli seberapa tinggi kualitas personil suatu prodi jika siklus PPEPP berjalan dengan baik biasanya perlahan tapi pasti kualitas prodi tersebut akan membaik ke depannya. Hal ini karena indikator yang baik akan memaksa peningkatan kualitas kampus, misalnya jika indikator dosen yang S2 cukup, di bagian P terakhir, yakni peningkatan, akan beriupa dosen harus S3, jika sudah cukup juga, ada indikator misalnya jumlah profesor/guru besar.

Sebenarnya manfaat akreditasi adalah adanya silaturahmi antara aptikom, yang diwakili oleh asesor, dengan kampus yang tersebar di seluruh daerah di Indonesia. Terkadang tiap kampus memiliki keunikan tersendiri. Berbeda dengan tim audit, asesor hanya menggali dan membantu kampus mengetahui sisi baik, sisi kurang baik, dan sisi temuan baru/keunikan dari proses pembelajaran di kampus. Semoga kampus-kampus di Indonesia, khususnya yang swasta, bisa terus meningkat dan memilikidampak di masyarakat.

Gunakan AI Seperlunya, Cari Pengalaman Sebanyak-banyaknya

Anak-anak yang besar di era 80an dan 90an atau sebelumnya pasti sudah terbiasa hidup tanpa bantuan perangkat, baik yang sederhana, misalnya sepeda, motor, dan peralatan lain maupun yang canggih seperti kalkulator, komputer, handphone, dan lain-lain. Kalkulator untuk menghitung pun masih berupa alat seperti bulatan yang tersusun di dalam sebuah batang, waktu itu kita menyebutnya ‘kecrekan’. Dengan alat bantu, pekerjaan menjadi cepat dan akurat, sehingga kita bisa fokus ke hal-hal strategis lainnya.

Seperti alat bantu lainnya, tentu saja kita tidak boleh tergantung karena berbahaya, ketika alat bantu tidak ada, aktivitas akan terhenti. Dulu ketika tidak ada Google Map, kita menggunakan peta manual, atau tanpa peta sama sekali. Perjalanan pun biasa saja. Tapi saat ini ketika smartphone hampir dimiliki setiap manusia, terkadang akibat ketergantungan, tanpa Google Map, kita melupakan kemampuan otak dalam mengetahui lokasi spasial suatu objek.

Saat ini alat bantu yang dianggap sangat powerful adalah Akal Imitasi (AI), baik berupa chat sederhana, generatif AI, hingga Agentic AI. Seorang mahasiswa dengan bermodal prompt bisa membuat aplikasi rumit. Hanya saja masalah akan muncul, bagaimana jika alat bantu itu tidak ada, misalnya adanya gangguan dari sumber daya listrik, seperti kejadian perang Iran dan Israel. Jika biasa memanfaatkan fasilitas translate dari AI, ketika tidak ada AI, seorang penulis akan kesulitan mengerjakan tugas yang harus diselesaikan dalam bahasa lain.

Bagaimana dengan dunia informatika dan komputer? Sebenarnya sejak awal kemunculannya, ilmu komputer tidak membahas aplikasi atau program. Beberapa ilmu dasar seperti algoritma, teknik komputasi dan sejenisnya terkadang bisa diajarkan tanpa menggunakan piranti komputer. Ketika saat ini bermunculan teknologi, maka pengetahuan tentang teknologi tersebut serasa wajib. Repotnya teknologi yang dipelajari saat kuliah, ketika lulus sudah tidak bisa digunakan lagi. Dengan AI hal tersebut dapat diatasi, ketika muncul teknologi baru, AI akan segera bisa dijadikan partner dalam menggunakan teknologi baru.

Lalu, bagaimana nasib orang yang berkecimpung di ilmu komputer? Sebenarnya adanya AI, ilmu komputer kembali ke tujuan awal berdirinya bidang ilmu ini. Ilmu komputer sebenarnya bertujuan memanfaatkan komputasi, biasanya dalam bentuk algoritma, untuk menyelesaikan masalah. Selain itu cara membuat menjadi efisien, cepat dan akurat menjadi fokus utama tanpa terlalu mendalami penerapannya, yang bisa diserahkan saja ke AI.

Kemampuan generatif dari AI sebenarnya berasal dari modifikasi dari pengetahuan model dalam menghasilkan varian baru. Tanpa info sebelumnya, AI tidak memiliki kemampuan dalam mencipta. Beberapa vendor game atau animasi, menolak AI seperti ChatGPT, deepseek, gemini, dan lain-lain untuk melatih mesinnya dengan tokoh/karakter game dan animasi tersebut. Jadi, tanpa masukan baru dari manusia, jika umat manusia hanya mengandalkan sifat generatif dari AI maka variasi yang dihasilkan akan mentok. Nah, variasi dari human itu sendiri kebanyakan adalah pengalaman. Pengalaman manusia yang berbeda antara satu dengan lainnya merupakan bahan baku berharga dari AI. Dengan kata lain, pengalaman kita yang merupakan campuran dari akal, rasa, imajinasi, seni, dan lain-lain merupakan kekayaan yang tidak bisa hanya dari AI. Mungkin bisa mencipta jutaan generatif seperti tulisan, gambar, musik, dan lain-lain, tapi tanpa bahan baku pengalaman manusia, yang dihasilkan akan kering dan membosankan.

Saran saya sebaiknya anak-anak kita dilatih untuk melakukan sesuatu, ‘do something’, kerjakan dengan tangan sendiri agar bisa memunculkan pengalaman. Jika dari kecil sudah ‘melakukan sesuatu’, maka di usia mudah sudah bisa dibilang berpengalaman. Kalau hanya mengandalkan AI, harta berharga berupa pengalaman tidak akan dimiliki anak-anak muda kita di masa depan. Mungkin AI bisa membagikan pengalaman dari sumber-sumber sebelumnya yang berupa pengalaman manusia, tapi jika manusia saat ini tidak mencoba membangun pengalaman, akibatnya AI akan kehilangan bahan baku untuk ‘training’ dataset mereka, dan efek berbahaya jika manusia yang tidak mencoba mencari pengalaman, ketika alat berharganya yang berupa AI hilang, dikhawatirkan tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak memiliki cukup pengalaman yang diperlukan dalam menyelesaikan problem, baik sendiri maupun bersama-sama. Yuk explore, cari pengalaman, karena pengalaman tidak bisa dipelajari, melainkan dilalui.

Perang

Perang tidak bisa lepas dari peradaban, baik perang klasik maupun perang modern. Kebetulan tulisan ini hanya dari sudut pandang orang awam, khususnya dosen biasa. Mungkin tulisan ini lebih cocok untuk gen milenial atau gen z, yang sayangnya tidak suka informasi lewat tulisan, lebih tertarik ke video, entah itu tiktok, youtube, dan sejenisnya.

Istilah baby boomer, gen x, milenial, gen z dan alfa, muncul pasca perang dunia kedua, entah mengapa. Tidak ada di era sebelumnya, entah itu romawi, yunani, atau majapahit dan sriwijaya di Indonesia. Kalau perang dunia kedua, itu tidak lama setelah Jerman kalah di perang dunia pertama, kemudian Hitler muncul ke permukaan setelah kecewa dengan pemenang perang. Lanjut ke perang dunia kedua, Jerman kalah lagi dan perlakuan berbeda, pemenang perang ‘mengayomi’ yang kalah perang. Walau ujung-ujungnya saat ini kelihatan belangnya, bukan mengayomi tapi menjaga agar tidak melawan lagi.

Kembali ke istilah-istilah generation, sepertinya pemimpin-pemimpin kita, entah negara luar maupun negara kita, generasi yang memimpin sepertinya tidak jauh dari generasi yang merasakan peperangan. Usianya pun sangat lanjut, misalnya Trump yang 70an, atau almarhum Khamenei yang 80-an. Generasi di bawahnya yang cepat berubah, dimana antara baby boomer dan gen x itu cukup jauh, tapi gen x, milenial dan gen z sangat cepat. Generasi ini belum diberi tanggung jawab memimpin level negara, tapi sudah harus mengikuti langkah generasi lama, yang mungkin secara psikologis masih ada memory berperang. Bahkan deprtemen pertahanan diganti jadi departemen of war yang diusulkan Trump.

Teknologi berkembang dengan cepat, beberapa bisa mengikuti, tapi generasi lama masih berpikir dengan cara lama. Lihat saja perang yang terjadi saat ini, Amerika dengan kapal induk, beserta pesawat canggih dan mahal, tampak dengan gagah muncul di TV (yang kemungkinan tidak lagi ditonton gen z) atau Youtube, mirip dengan perang di film Pearl Harbour atau Admiral Yamamoto. Sementara itu, Iran dengan cara yang berbeda meladeni dengan Drone, ala anak-anak gen z waktu bikin konten Youtube. Sejauh ini, biaya besar harus dikeluarkan oleh Amerika dan Israel, sementara Iran coba bertahan, yang kalau bisa bertahan dalam waktu lama, akan merepotkan Amerika Serikat. Negara adi daya ini selalu menggunakan jurus yang sama: menyusup ke dalam buat kisruh pemerintahnya agar diganti, lalu dicarikan pemimpin boneka, jika tidak, diserang dengan serangan udara, serangan darat, dan seterusnya. Bertarung dengan jurus yang itu itu saja, pasti beresiko, karena lawan sudah mempersiapkan diri.

Nah, kita lihat perkembangan selanjutnya, apakah Iran bisa segera ditaklukan, atau Amerika kehabisan tenaga dan ekonomi, belum lagi tekanan dari publiknya sendiri, yang saya yakin Gen z lebih suka perang di Mobile Legend atau PubG dari pada perang langsung.