Saat ini ketika kita melihat suatu produk di internet, untuk menghindari penipuan kita membaca review yang biasanya terlihat di kolom review, entah itu google review atau memang di toko online tersebut yang menyediakan fasilitas tersebut. Apapun produknya seharusnya ada kolom review. Jika tidak ada, biasanya konsumen akan ragu untuk memakai produknya. Begitu pun produk yang berupa jasa, seperti pendidikan, baik pendidikan dasar, menengah, maupun pendidikan tinggi.
Kampus swasta, berbeda dengan negeri, memiliki perbedaan dari sisi review yang memang sangat dinamis, kadang bagus kadang buruk, tergantung kondisi. Hal ini karena dari sisi masukan, jangkauannya sangat besar. Agak sulit menyaring calon mahasiswa yang berkualitas. Sudah ada yang mendaftarpun sudah bersyukur sekali. Apalagi kampus negeri menyedot banyak sekali calon mahasiswa, baik lewat jalur prestasi untuk menggaet yang pinter, atau jalur mandiri, untuk menggaet yang berpendapatan tinggi. Sementara kampus swasta, tinggal sisa-sisanya, mungkin karena dekat rumah karena sambil membantu orang tua mengelola usaha, atau orang tua yang tidak percaya anaknya kuliah jauh, walaupun di kampus negeri.
Untuk membantu masyarakat mengetahui kualitas kampus, pemerintah meminta asosiasi perguruan tinggi bidang tertentu, misalnya aptikom untuk bidang informatika dan komputer, menilai kinerja atau kualitas sebuah kampus. Saat ini peringkatnya mulai dari terakreditasi, unggul, dan terakreditasi internasional. Terjadi beberapa kali revisi karena kebijakan pemerintah, mau tidak mau, harus diikuti. Ketika sebelumnya era Nadiem, dengan merdeka belajar, lanjut ke kampus berdampak, era mendiktisaintek, Prof Bryan, setelah memisahkan diri dari pendidikan dasar dan menengah. Poin pertanyaan yang berjumlah di atas seratus, kini di bawah seratus.

Akreditasi biasanya jadi momok menakutkan bagi kampus swasta, karena sangat berdampak ke nama baik di mata masyarakat. Ketika menyusun laporan yang dikenal dengan nama evaluasi diri, terkadang kerja keras, terkadang sampai begadang dan lembur. Banyak ketua program studi yang sampai sakit akibat lelah.

Sebenarnya akreditasi lebih mudah dari soal UTS dan UAS mahasiswa karena pertanyaan sudah ada terlebih dahulu, berbeda dengan soal ujian yang ‘rahasia’. Tiap pertanyaan, misalnya di lembaga akreditasi mandiri (LAM) infokom sebanyak 74 butir, harus menjadi pertanyaa-pertanyaan turunan yang ditanyakan oleh divisi penjaminan mutu tiap kampus. Pertanyaan turunan itulah yang menjadi indikator kinerja. Pertanyaan-pertanyaan itu wajib diketahui oleh ketua program studi (kaprodi) yang harus disampaikan ke penjaminan mutu karena antara satu prodi dengan lainnya agak berbeda, walaupun sebagian besar sama, misalnya sarana prasarana, penjaringan calon mahasiswa, dan lain-lain.

Ketika butir pertanyaan sudah diketahui oleh lembaga penjaminan mutu maka proses selanjutnya jadi mudah. siklus PPEPP, yang dimulai dari penetapan, evaluasi, pengendalian dan penetapan jadi lancar karena antara yang ditetapkan (disahkan), dievaluasi, dan seterusnya mengalir dengan wajar. Terkadang karena prodi tidak memberikan indikator yaang nanti dievaluasi ke penjaminan mutu, proses evaluasi dan seterusnya tidak nyambung, beberapa butir akreditasi tidak ditanyakan, atau yang tidak terkait akreditasi malah ditanyakan.Tidak perduli seberapa tinggi kualitas personil suatu prodi jika siklus PPEPP berjalan dengan baik biasanya perlahan tapi pasti kualitas prodi tersebut akan membaik ke depannya. Hal ini karena indikator yang baik akan memaksa peningkatan kualitas kampus, misalnya jika indikator dosen yang S2 cukup, di bagian P terakhir, yakni peningkatan, akan beriupa dosen harus S3, jika sudah cukup juga, ada indikator misalnya jumlah profesor/guru besar.

Sebenarnya manfaat akreditasi adalah adanya silaturahmi antara aptikom, yang diwakili oleh asesor, dengan kampus yang tersebar di seluruh daerah di Indonesia. Terkadang tiap kampus memiliki keunikan tersendiri. Berbeda dengan tim audit, asesor hanya menggali dan membantu kampus mengetahui sisi baik, sisi kurang baik, dan sisi temuan baru/keunikan dari proses pembelajaran di kampus. Semoga kampus-kampus di Indonesia, khususnya yang swasta, bisa terus meningkat dan memilikidampak di masyarakat.