Saat sebelum COVID, ada saran dari kemdikbud agar dosen punya waktu untuk merenung. Waktu itu sepertinya bermaksud agar dosen ada waktu untuk meneliti/riset, tidak hanya mengerjakan tugas administratif dan pengajaran. Namun sepertinya ada maksud lain, yaitu merenung di sini mengistirahatkan otak dari aktifitas berlebih.
Ada video di youtube berupa podcast peneliti otak bahwa kita perlu merenung, guna mengistirahatkan otak. Di sini merenung dalam arti yang sesungguhnya, bukan riset atau fokus meneliti dengan dahi berkerut. Saat ini dimana medos sangat menggoda, apalagi dengan algoritmanya seperti tiktok, maka jebakan untuk otak terus bekerja, tanpa istirahat, kian kuat. Tanpa mengetik dan menekan tombol tertentu, cukup dengan scroll HP, berita akan memaksa otak berfikir. Oiya, otak kita tidak seperti ikan yang saat tidur dia tetap melek, tapi menggunakan otak 1/2 dari kapasitasnya. Manusia tidak mungkin, pasti dalam dua keadaan, on atau off, tidak bisa 1/2 on atau 1/2 off.
Jika aktivitas otak tanpa ada jeda, maka ada kemungkinan kualitas otak akan berkurang. Saat di kereta atau bis, kita sering melihat orang-orang bermain HP. Bermain di sini tidak menggunakan HP karena ada pesan penting masuk, melainkan memang hanya melihat youtube atau tiktok, atau medsos lainnya. Nah, untuk mengatasi hal tersebut, ada baiknya dilatih ketika menunggu, kita mengistirahatkan otak. Banyak caranya, salah satunya ya itu, merenung.
Saya sendiri sering memerhatikan nafas masuk dan keluar saja, saat sambil berjalan atau membaca. Manfaatnya ternyata membuat kita fokus ke saat ini. Tidak berfikir masa depan atau mengenang masa lalu. Di awal memang susah, kadang buyar, tapi ketika sadar buyar dan kembali lagi ke saat ini, ya otak kembali ke mode istirahat lagi. Anehnya kekuatan jadi bertambah, misalnya mengerjakan tugas jadi tahan lama, membaca jadi sabar, tidak tergesa-gesa ingin menyelesaikannya.
Semoga tulisan ini bermanfaat, apalagi beberapa hari yang lalu bagi umat muslim banyak yang mengadakan i’tikaf, yakni duduk diam, tidak perlu menguras otak. Sekian minal aidin wal faidzin.