Dosen di Indonesia: “They think everything”


Kondisi geopolitik global yang belum mereda memberikan tekanan signifikan terhadap stabilitas keuangan berbagai negara, termasuk Indonesia. Sejumlah negara telah mengambil langkah penyesuaian dengan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Namun demikian, Indonesia memilih untuk tidak menaikkan harga BBM, baik yang bersubsidi maupun non-subsidi. Bahkan, pemerintah secara terbuka menyatakan komitmennya untuk tidak melakukan penyesuaian harga hingga akhir tahun.

Kebijakan tersebut menimbulkan sejumlah pertanyaan mendasar. Apakah kondisi ini dapat dipertahankan dalam jangka menengah? Apakah stabilitas keuangan negara tetap terjaga di tengah tekanan eksternal? Dalam konteks ini, peran Menteri Keuangan menjadi sangat strategis dalam menjaga kinerja perekonomian nasional. Hingga saat ini, perputaran ekonomi relatif stabil, meskipun terdapat kenaikan harga pada beberapa komoditas sebagai dampak dari fluktuasi harga minyak dunia, seperti produk plastik dan turunannya.

Di sisi lain, dinamika juga terjadi di lingkungan akademik. Pengumuman penerima hibah riset pemerintah memunculkan beragam respons di kalangan dosen. Sebagian merasa bersyukur, namun tidak sedikit yang kecewa karena tidak lolos pendanaan. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa realisasi anggaran hibah hanya sekitar Rp1,7 triliun, jauh di bawah ekspektasi yang sebelumnya mencapai kisaran Rp12 triliun. Kondisi ini memaksa para dosen—yang memiliki peran strategis dalam pengembangan ilmu pengetahuan—untuk mencari alternatif pembiayaan, bahkan tidak jarang harus menggunakan dana pribadi guna menjalankan tridarma perguruan tinggi, khususnya kegiatan penelitian.

Perubahan prioritas anggaran diduga menjadi salah satu faktor penyebab terbatasnya pendanaan riset. Dalam situasi ekonomi yang penuh tekanan—ditandai oleh potensi inflasi, pelemahan nilai tukar rupiah, serta ketidakpastian global—pemerintah cenderung mengalokasikan sumber daya untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sosial. Risiko gejolak sosial, seperti demonstrasi yang meluas, juga menjadi pertimbangan penting dalam pengambilan kebijakan.

Meskipun demikian, keberadaan kalangan akademisi sebagai kelompok intelektual tetap perlu mendapat perhatian. Peran mereka tidak hanya terbatas pada pendidikan dan penelitian, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem sosial yang memiliki pengaruh luas melalui jejaring akademik, mahasiswa, maupun media. Oleh karena itu, menjaga keterlibatan dan kesejahteraan mereka menjadi aspek yang tidak dapat diabaikan dalam perumusan kebijakan publik.

Kondisi ini semakin kompleks bagi perguruan tinggi swasta yang mengalami penurunan jumlah mahasiswa. Penurunan tersebut berdampak langsung pada kondisi keuangan institusi, yang pada akhirnya turut memengaruhi kesejahteraan dosen. Apabila akses penerimaan mahasiswa di perguruan tinggi negeri sebanyak-banyaknya tidak diimbangi dengan kebijakan yang proporsional, maka potensi ketimpangan akan semakin besar. Dalam situasi demikian, diperlukan langkah antisipatif agar para dosen di perguruan tinggi swasta tetap memiliki ruang produktivitas yang memadai dan tidak terdorong untuk mencari alternatif pemenuhan kebutuhan di luar jalur profesional yang semestinya. Semoga tulisan ini bisa menghibur, yang tidak lolos hibah .. tetap semangat.

Delapan Belas Tahun yang Terasa Singkat

Beberapa kali saya menghadiri acara perpisahan rekan kerja, baik karena pindah maupun karena purna tugas (pensiun). Ternyata kali ini saya sendiri yang jadi ‘pengantin’-nya. Delapan belas tahun bagi gen-x seperti saya sepertinya singkat namun banyak kejadian dan pengalaman dilalui.

Beberapa timeline krisis terlampaui, seperti krisis pasca 1998 yang memengaruhi susahnya mencari kerja bagi lulusan baru (fresh graduate), krisis global 2008, krisis pelemahan rupiah 2013, COVID-19 hingga krisis karena selat Hormuz ditutup.

Kalau saat ini jamannya medsos, dari facebook hingga youtube, dari instagram hingga tiktok, generasi lampau lebih suka mengalami langsung. Terkadang menikmati obyek wisata, orang seangkatan saya kadang lebih suka menikmati suasana langsung, menyentuh, menghirup suasana di puncak misalnya, atau panas teriknya pantai, dan lain-lain yang biasanya lupa mengabadikan lewat foto atau video.

Tiap masa ada plus minusnya, yang saling melengkapi. Banyak momen-momen yang tidak bisa disharing orang jaman dulu yang mungkin jauh lebih seru dari kejadian-kejadian di youtube atau tiktok genarasi sekarang.

Di awal-awal kerja, masih pada muda-muda. Terkadang konflik terjadi akibat darah yang mudah panas. Namun waktu beranjak, usia rekan-rekan mulai bertambah. Ternyata kejadian-kejadian dulu, konflik yang terjadi, hanya lelucon saja yang seharusnya tidak perlu terjadi. Seperti melihat kelakuan anak-anak yang bertengkar, karena tersinggung, karena rebutan mainan, karena tidak diajak main, dan lain-lain.

Tiap orang punya fase-fase kehidupan masing-masing. Kadang ada yang di masa muda menderita tetapi saat senja bisa sukses, entah karena bisnis atau karena anak-anaknya yang sukses dan berbakti. Walau bukan pensiun, tetap saja terasa pensiun (apalagi sempat 2x pesangon karena alih kelola). Mungkin tidak bisa lagi menemukan institusi seperti yang saya tinggal barusan, tapi banyak di luar sana yang mungkin membutuhkan tenaga dan pikiran kita. Oke, mungkin pembaca memiliki pengalaman yang sama.