Kemarin, seperti biasa, saya membeli lauk karena malas memasak. Namun ada yang berbeda, jalanan tampak sepi, dan pedagang langganan saya mengeluh bahwa beberapa hari terakhir dagangannya sepi, bahkan kadang tak ada uang untuk membeli bahan makanan. Beberapa hari sebelumnya, saya dan istri sempat berjalan ke mal karena ingin melihat langsung barang yang hendak dibeli—sebuah mesin cuci karena via online tidak cukup meyakinkan, maklum orang jadul perlu memegang dan melihat langsung. Tapi ternyata, mal pun sepi. Para pelayan tampak lelah dan putus asa, mungkin karena hanya sedikit pengunjung yang benar-benar membeli, kebanyakan hanya bertanya.
Kondisi ini barangkali tak lepas dari berbagai tekanan global. Nilai tukar dolar yang melesat naik, harga emas yang melonjak, dan laju inflasi seakan membuat mayoritas rakyat semakin terjepit. Di dunia internasional, ketegangan antarnegara pun meningkat, sebagian dipicu oleh kebijakan luar negeri Donald Trump yang agresif. Baru-baru ini, konflik panas terjadi antara India dan Pakistan, saling kirim rudal dan pesawat. Masyarakat pun semakin waspada. Media sosial dan berita daring penuh dengan narasi kehati-hatian, membuat banyak orang menahan diri untuk tidak gegabah menghabiskan uang.
Dalam catur, jika lawan tangguh atau kita sedang tidak dalam kondisi prima, pilihan terbaik adalah bertahan. Pertahanan Prancis, misalnya, menjadi strategi solid untuk menghemat energi sekaligus menanti peluang melakukan serangan balik. Begitu pula dalam hidup: bagi mereka yang sudah bekerja, mungkin saat ini adalah waktu untuk mempertahankan posisi aman sambil tetap menjaga idealisme. Yang sudah menyelesaikan pendidikan lanjut patut bersyukur, dan yang masih berjuang, setidaknya tetaplah bertahan, menjaga kesehatan fisik dan mental.
Presiden Tiongkok pernah berkata dalam pidatonya bahwa bangsanya telah berdiri ribuan tahun dan terbiasa menghadapi penderitaan. Musuh silih berganti, tapi semangat bertahan tetap terjaga. Ia bahkan tidak menganggap Amerika Serikat sebagai lawan mutlak, karena dalam hidup, seperti dalam turnamen catur, lawan bisa berganti di setiap ronde. Yang terpenting adalah kesiapan menghadapi mereka, dengan permainan yang cantik dan rapi.
Jumlah dosen bergelar doktor di Indonesia ternyata masih tergolong sedikit. Menurut data dari Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDIKTI) [http://pddikti.kemdikbud.go.id], jumlah tersebut masih jauh tertinggal dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia. Di wilayah Jawa Barat sendiri, pada saat tulisan ini dibuat, hanya terdapat satu perguruan tinggi swasta yang membuka program doktor. Sementara itu, banyak dosen di Indonesia yang sudah terlalu lama tidak melanjutkan studi, sehingga usia menjadi tantangan tersendiri untuk kembali kuliah, terlebih di luar negeri.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Universitas Nusa Putra, sebuah perguruan tinggi swasta di Sukabumi, mengajukan diri untuk membuka program doktor di bidang Ilmu Komputer. Langkah ini tidak hanya karena kebutuhan akan peningkatan jumlah doktor di Indonesia, tetapi juga karena program sarjana (S1) dan magister (S2) di kampus ini telah memiliki reputasi yang unggul, bahkan mendapatkan akreditasi internasional dari AQAS secara unconditional.
Sebagai program baru, setiap program doktor biasanya harus memiliki ciri khas tertentu. Universitas Nusa Putra mengajukan ciri khas programnya pada bidang kesehatan, keamanan, dan kebencanaan, dengan fokus khusus pada kecerdasan buatan (AI) dan keamanan siber. AI, sebagai bidang yang berkembang sangat pesat, kini merambah ke berbagai sektor dan aplikasi, dari sistem kesehatan hingga mitigasi bencana. Salah satu tren terkini dalam AI adalah munculnya model bahasa besar (Large Language Models atau LLM), yang populer sejak kehadiran ChatGPT dan DeepSeek yang fenomenal.
Untuk mendirikan program doktor, dibutuhkan minimal dua orang guru besar yang memiliki kepakaran di bidang yang sesuai, dalam hal ini Ilmu Komputer, serta didukung oleh beberapa dosen bergelar doktor dengan jabatan akademik minimal lektor kepala. Menariknya, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) memberikan kemudahan dalam proses awal pendirian program ini. Salah satunya adalah diperbolehkannya menggunakan dosen tidak tetap sebagai penguat struktur dosen—artinya, seorang dosen boleh menjadi dosen tetap di kampus asal (homebase), dan sekaligus menjadi dosen tidak tetap di kampus lain yang mengajukan program. Namun, untuk keperluan akreditasi dua tahun setelah program berjalan, persyaratan menjadi lebih ketat, yaitu harus tersedia minimal lima dosen tetap homebase, termasuk dua di antaranya adalah guru besar di bidang Ilmu Komputer.
Yang membuat rencana ini semakin menarik adalah bahwa jika Universitas Nusa Putra berhasil membuka program doktor, maka kampus ini akan menjadi satu-satunya perguruan tinggi di tingkat kabupaten yang menyelenggarakan program doktor. Hal ini sangat unik, mengingat sebagian besar program doktor di Indonesia umumnya terpusat di ibukota provinsi seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan sejenisnya. Lokasi kampus yang berada di Sukabumi juga menawarkan suasana belajar yang nyaman, sejuk, dan tenang, dengan latar pemandangan indah Gunung Gede Pangrango. Selain itu, Universitas Nusa Putra merupakan perguruan tinggi dengan jumlah mahasiswa asing terbanyak ketiga di Indonesia, setelah Universitas Indonesia (UI) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), didukung dengan fasilitas asrama yang memadai. Bahkan, direncanakan akses tol akan dibangun dan tembus langsung ke sisi kampus, yang tentu akan menambah kenyamanan dan kemudahan akses ke kampus ini.
Anak-anak generasi sekarang memiliki keunikan tersendiri yang membedakannya dari generasi sebelumnya. Mereka tumbuh di era digital yang penuh dengan kemudahan informasi dan akses teknologi, sehingga cara mereka berpikir, berperilaku, dan berinteraksi pun lebih dinamis serta sangat cepat berubah. Keunikan ini kadang membingungkan generasi sebelumnya, tetapi juga menunjukkan potensi luar biasa jika diarahkan dengan tepat.
Sering disebut sebagai generasi stroberi, banyak anak muda masa kini dikenal sensitif dan lebih mudah merasa terluka. Mereka cenderung ingin mendapatkan pengakuan dan pujian atas usaha mereka, dan ketika tidak mendapatkannya, bisa merasa tidak dihargai. Meskipun kesan ini kadang negatif, di sisi lain ini juga menunjukkan bahwa mereka peduli terhadap nilai diri dan ingin eksistensinya diakui.
Namun, tidak semua anak muda terjebak dalam stereotip tersebut. Contoh terkini adalah Megawati Hangestri, atlet voli Indonesia yang memilih pulang ke Tanah Air setelah 2 musim bermain di Korea Selatan untuk merawat ibunya yang sakit, meskipun ia mendapat tawaran bayaran tinggi untuk tetap bermain di luar negeri. Keputusannya menunjukkan bahwa nilai-nilai seperti kasih sayang dan tanggung jawab masih sangat hidup dalam diri generasi muda, tidak hanya melihat nominal uang dan kekayaan saja.
Menariknya, konsep stoisisme yang mengajarkan ketenangan batin dan keteguhan dalam menghadapi hidup juga mulai meresap ke kalangan milenial. Di tengah tuntutan hidup yang semakin kompleks, banyak anak muda yang mulai belajar menerima hal-hal di luar kendali mereka, fokus pada proses, dan menjaga ketenangan dalam tekanan. Ini menjadi penyeimbang di tengah dunia yang serba cepat dan penuh distraksi.
Manusia adalah makhluk yang unik karena memiliki dua anugerah besar: nalar dan emosi. Tidak seperti hewan yang begitu lahir sudah mampu berjalan, atau ikan yang langsung bisa berenang, manusia justru terlahir dalam keadaan paling lemah. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis dan mencari susu ibunya. Ketidakberdayaan ini justru menjadi titik awal dari proses belajar dan pertumbuhan yang panjang dan mendalam.
Seiring waktu, nalar manusia berkembang dan terlatih sejak kecil untuk memecahkan berbagai persoalan hidup. Namun dalam perkembangannya, manusia sering lupa bahwa tidak semua hal bisa diselesaikan hanya dengan nalar. Dalam sejarah, kita bisa melihat bagaimana bangsa Mongol yang hidup dalam keterbatasan dan kondisi alam yang keras, berusaha mengatasi masalahnya melalui ekspansi dan penjajahan. Begitu pula bangsa-bangsa Eropa setelah era Renaisans, ketika akal dan pengetahuan dijunjung tinggi, namun batas-batas kewenangan manusia dalam mengatur dunia mulai dilupakan.
Kebablasan dalam mengatasi masalah sering kali muncul akibat tidak dijalankannya peran agama, yang seharusnya menjadi penuntun untuk membedakan antara hal-hal yang bisa dan tidak bisa kita kuasai. Dari kegelisahan ini, lahirlah filsafat Stoisisme, yang menekankan pentingnya fokus pada hal-hal internal yang berada dalam kendali kita sebagai bentuk kemerdekaan sejati. Dunia eksternal, termasuk sikap orang lain terhadap kita, bukanlah ranah kebebasan kita. Bahkan Nabi Muhammad dan Yesus sekalipun tidak memiliki kuasa untuk memaksa orang agar menyukai atau mempercayai mereka.
Hal ini sangat relevan dalam dunia riset, terutama bagi mahasiswa yang sedang menempuh studi lanjut. Dalam proses akademik, banyak aspek eksternal yang tidak bisa dikendalikan. Mahasiswa hanya bisa fokus pada hal-hal internal, seperti membaca, menulis, dan menjalankan penelitian sebaik mungkin. Namun hasil akhir, seperti penilaian dari promotor, co-promotor, dan penguji, bahkan hingga diterimanya paper untuk publikasi, bukanlah sesuatu yang sepenuhnya berada dalam kendali mereka.
Oleh karena itu, bagi Anda yang sedang menempuh studi lanjut, cobalah untuk menganalisis secara jujur dan rinci: mana yang bisa Anda usahakan sendiri, dan mana yang tergantung pada pihak lain. Bahkan kesehatan kita pun, meski bisa dijaga melalui pola hidup baik, pada akhirnya tetap berada dalam kuasa Tuhan Yang Maha Esa. Kesadaran ini bukan untuk melemahkan semangat, tetapi untuk menempatkan usaha dan harapan secara bijak dan proporsional.
Bulan puasa berlalu, diakhiri dengan hari raya Iedul Fitri. Kondisi negara yang agak tidak baik-baik saja tidak mengurangi kegembiraan masyarakat Indonesia. Mereka dapat merasakan kesegaran dan kebahagiaan setelah menjalani bulan puasa yang panjang.
Puasa memiliki manfaat, yaitu menyehatkan badan dan jiwa. Perekonomian juga terbantu akibat perputaran ekonomi. Meskipun saat ini agak berkurang karena kondisi perekonomian global yang tidak stabil, namun berdampak positif bagi masyarakat Indonesia. Dengan menerapkan prinsip-prinsip Islam dalam berpuasa, mereka dapat meningkatkan kemampuan untuk menghadapi tantangan hidup.
Selain manfaat riil, puasa juga memiliki nilai lain dari sisi stoisisme. Filsafat stoik ini melihat sesuatu dari apa yang bisa kita ubah dengan apa yang tidak. Dalam konteks berpuasa, kita dapat melatih kemampuan untuk menderita dan bersabar dalam menghadapi kesulitan. Kita memiliki pilihan antara marah atau bersabar, dan stoik membantu kita memilih opsi yang lebih sehat.
Salah satu ajaran stoik yang praktis adalah melatih diri untuk kondisi terburuk. Berlatih ini dapat membantumu tidak hancur ketika menghadapi situasi kesulitan yang tidak terduga. Misalnya, jika kamu berlatih dalam kekurangan makanan dan air, kamu akan lebih siap ketika kamu menghadapi kondisi seperti di Gaza Palestina, di mana manusia menghadapi kesulitan serupa. Bahkan, negara Bhutan juga menunjukkan bahwa dengan setiap hari membayangkan kematian, mereka dapat meningkatkan kemampuan untuk menghadapi kesulitan hidup.
Saat ini, aplikasi Google Drive masih menjadi favorit banyak pengguna. Salah satu alasan utamanya adalah karena penyimpanan gratis yang ditawarkan. Namun, kendala utamanya adalah batas memori yang hanya 15 GB. Ini menjadi masalah ketika digunakan untuk mencadangkan data WhatsApp, yang bisa memakan hampir 10 GB sendiri. Jika file-file lama tidak dibersihkan, penyimpanan pun akan penuh dengan cepat.
Masalah lainnya adalah jika akun yang digunakan untuk backup merupakan email utama. Hal ini bisa menyulitkan ketika penyimpanan sudah tidak cukup, karena email tersebut juga digunakan untuk keperluan lain. Solusinya adalah membuat akun email baru khusus untuk keperluan backup. Cukup buat akun Google seperti biasa, lalu masuk ke Google Drive menggunakan akun tersebut.
Setelah masuk, periksa menu “Cadangan” atau “Backup” yang ada di kanan atas Google Drive. Jika masih kosong, maka akun siap digunakan untuk mencadangkan data baru. Selanjutnya, buka aplikasi WhatsApp, masuk ke “Setelan” → “Chat” → “Cadangan chat”, lalu ganti akun Google ke email baru yang tadi dibuat.
Jangan lupa untuk login dan memasukkan password saat menambahkan akun baru di WhatsApp. Ikuti semua instruksi sampai proses selesai. Jika ternyata ada file cadangan yang ukurannya besar, bisa dipindahkan ke komputer terlebih dahulu secara manual, agar tidak menghabiskan ruang penyimpanan di akun Google baru.
Lakukan proses backup ini di malam hari agar tidak mengganggu aktivitas lainnya. Pastikan juga bahwa proses backup benar-benar berhasil sebelum menghapus data dari akun lama. Selamat mencoba dan semoga berhasil mengatasi masalah penyimpanan penuh!
Kotak masuk email yang penuh sering kali menyulitkan kita dalam menghapus pesan yang tidak diperlukan. Oleh karena itu, penting untuk membuat filter agar email lebih rapi dan memudahkan proses penghapusan.
Salah satu cara yang efektif adalah dengan membuat folder khusus, misalnya folder “Jurnal”, yang secara otomatis menampung email dengan kategori tertentu. Dengan begitu, saat ingin menghapus email dalam jumlah banyak, kita cukup menghapusnya dari folder tersebut tanpa harus memilah satu per satu.
Selain itu, memori email sering penuh akibat backup WhatsApp. Solusi terbaik adalah membuat akun email baru yang khusus digunakan untuk menyimpan cadangan WhatsApp. Dengan demikian, email utama tetap bersih dan tidak cepat penuh.
Untuk membuat filter, masuk ke pengaturan email dan buat aturan berdasarkan kata kunci tertentu. Setelah itu, gunakan fitur pencarian untuk memastikan aturan bekerja dengan benar. Jika berhasil, selanjutnya kita bisa menentukan apakah email tersebut akan dipindahkan ke folder tertentu atau diberi label khusus.
Cara lain yang lebih cepat adalah dengan mencari email di Inbox, kemudian klik ikon titik tiga dan pilih opsi “Filter”. Setelah aturan dibuat, kita bisa langsung memindahkan email dari Inbox ke label atau folder yang telah ditentukan. Jangan lupa mencentang opsi penerapan otomatis agar filter langsung bekerja di masa mendatang.
Dengan menerapkan filter ini, email dengan ciri tertentu akan langsung masuk ke folder yang sesuai, sehingga lebih mudah dikelola dan dihapus jika diperlukan. Langkah terakhir adalah membersihkan file atau lampiran yang tidak diperlukan agar ruang penyimpanan tetap optimal.
Scopus dapat dimanfaatkan untuk studi literatur atau Systematic Literature Review (SLR) dengan fitur pencarian kata kunci dan filter waktu. Pengguna bisa mengunduh abstrak atau full paper jika kampus memiliki langganan jurnal, sementara paper open access dapat diakses gratis. Scopus membatasi unduhan hingga 50 paper per batch, sehingga proses harus dilakukan bertahap jika jumlahnya banyak.
Untuk mempercepat analisis, AI seperti ChatGPT dapat digunakan untuk meringkas paper, mengekstrak novelty, atau mencari informasi spesifik dalam dokumen PDF. Fitur upload PDF di ChatGPT kini tidak memiliki batasan jumlah halaman, hanya dibatasi ukuran maksimal 20 MB, sehingga mempermudah peneliti dalam meninjau referensi dengan lebih efisien.
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) semakin pesat, dan salah satu yang banyak digunakan saat ini adalah model bahasa besar (LLM). Salah satu model yang tengah mendapat perhatian adalah DeepSeek, yang dapat dijalankan secara lokal di perangkat pengguna. Sejumlah antarmuka grafis (GUI) telah tersedia untuk mempermudah penggunaannya, salah satunya adalah Ollama.
DeepSeek menawarkan beberapa varian model, termasuk versi yang telah disuling (distilled) agar lebih ringan. Model aslinya berukuran sekitar 400GB, sehingga kurang praktis untuk dijalankan di laptop pribadi. Sebagai alternatif, tersedia model yang lebih kecil dengan ukuran berkisar antara 4.7GB hingga 9GB, yang lebih ramah bagi perangkat dengan keterbatasan daya komputasi.
Untuk menjalankannya, pengguna dapat mengunduh dan menginstal perangkat lunak melalui terminal. Salah satu GUI yang banyak direkomendasikan adalah LM Studio, yang memiliki tampilan lebih intuitif dibandingkan dengan antarmuka berbasis chat lainnya. LM Studio memungkinkan pengguna memilih berbagai model AI, mulai dari Llama 3.2 yang berukuran 2GB hingga model yang lebih besar seperti 70B dengan ukuran sekitar 37GB.
Keunggulan utama AI lokal seperti DeepSeek adalah kemampuannya untuk beroperasi tanpa memerlukan koneksi internet. Hal ini berbeda dengan ChatGPT, yang membutuhkan akses ke server di luar negeri. Namun, ada tantangan tersendiri dalam penggunaannya, seperti beban pemrosesan yang lebih tinggi pada CPU dan GPU, yang dapat membuat perangkat lebih panas dan proses lebih lambat dibandingkan AI berbasis cloud.
Fitur unggulan lain yang ditawarkan adalah kemampuan membaca dokumen, termasuk file Word. Berbeda dengan ChatGPT yang membatasi fitur unggah dokumen pada versi berlangganan, AI lokal memungkinkan pengguna mengakses fitur ini secara gratis. Meski demikian, pemrosesan dokumen pada AI lokal membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan layanan berbasis cloud.
Dengan semakin banyaknya pilihan model AI lokal, pengguna kini memiliki alternatif untuk mengakses teknologi AI tanpa ketergantungan pada layanan berbayar. Meskipun prosesnya tidak secepat layanan berbasis cloud, kebebasan dan fleksibilitas yang ditawarkan menjadi nilai tambah tersendiri bagi pengguna yang mengutamakan privasi dan akses tanpa batasan kuota.
Udara pagi di desa membuat segar setelah semalaman tidur nyenyak karena lelah akibat perjalanan Bekasi ke Ciamis di malam hari. Menyusuri jalan beraspal sambil memandang sawah yang masih hijau membuat rileks hati. Sesekali kendaraan melalui jalan itu diselingi dengan bunyi jangkrik di pinggir kali.
Kebetulan di dekat rumah bibi ada gedung yang akan dijadikan dapur makan bergizi, proyek dari presiden Prabowo, sesuai dengan janji saat kampanye dulu. Postingan ini hanya selingan terkait dengan perang AI antara Amerika Serikat dengan China. Lalu apa hubungannya dengan proyek makan bergizi Prabowo?
Ketika tulisan ini dibuat, baru saja saya menginstal DeepSeek dari China yang diberikan mesin AI-nya secara cuma-cuma. Berbeda dengan ChatGPT dimana GPT tidak bisa kita pasang di laptop atau server kita, bahkan untuk memanfaatkan GPT untuk aplikasi yang dibuat perlu berlangganan. Itu pun hanya berupa Application Programming Interface (AI) dan mesin AI tidak berada di server kita.
China secara mengejutkan membuat mesin AI yang kabarnya lebih canggih dari ChatGPT, khususnya di bidang matematis. Sebelumnya Alibaba memang menampilkan QWEN yang memiliki ketangguhan mirip ChatGPT, dengan kekhususan di bidang bisnis. Tentu saja dengan DeepSeek, aplikasi-aplikasi berbasis LLM dan Generative AI yang tadinya berlangganan ChatGPT pasti berhenti berlangganan. Berikut video untuk menginstall DeepSeek versi mini (diberi istilah distilled atau hasil penyulingan) agar bisa dipasang di laptop atau server kecil. Ukuran bervariasi dari 1,5 gigabyte hingga 400-an Gb.
Jika dibandingkan ternyata untuk pertanyaan sederhana sepertinya ChatGPT masih lebih praktis dan cepat, apalagi di Macbook ada fasilitas menekan Option+Space untuk mengaktifkan ChatGPT instan. Ini merupakan keunggulan ChatGPT dimana versi onlinenya selalu ok, berbeda dnegan DeepSeek yang terkadang “busy”, karena tidak sanggup menjawab pertanyaa orang-orang seluruh dunia. Tapi tetap saja kita bisa memasang secara offline yang tidak perlu pulsa di komputer atau laptop kita.
Untuk interface, banyak aplikasi yang menyediakan selain Chatbox, salah satunya yang saya coba adalah LM Studio. Kemampuan DeepSeek dalam DeepThink bisa dilihat, dan tentu saja fasilitas upload PDF tersedia, walaupun di ChatGPT pun bisa upload PDF. Jadi jika kita malas membaca paper, tinggal upload file pdf paper/artikel ilmiah dan tanya saja atau minta resume.
Jadi dengan AI anak-anak kita dengan mudah belajar apapun. Tinggal bagaimana otak anak-anak kita bisa segera menyerap ilmu yang sekarang bebas diakses. Jadi sebesar apapun biaya untuk fasilitas pembelajaran, jika otak anak-anak kita ‘melempem’ sepertinya mubazir. Lebih baik investasi ke kecerdasarn generasi kita ke depan, karena kalau sudah cerdas, tinggal diasah mental (keimanan, cinta tanah air, dan lain-lain) dan belajar dari media apapun, terutama memanfaatkan Artificial Intelligence (AI).
Anda yang lulus di bangku kuliah di awal milenium baru, tahun 2000-an, pasti mengalami kesulitan karena sulitnya mencari kerja akibat krisis yang baru saja pulih. Banyak lulusan perguruan tinggi yang bukan saja kesulitan mencari kerja, beberapa malah ada yang terkena PHK. Generasi era itu merupakan generasi yang unik, karena saat ini banyak korban-korban PHK di jaman itu yang justru menjadi profesor, mengepalai beberapa perusahaan, pengusaha, dan lain-lain.
Salah satu yang menjadi fokus pada postingan ini adalah mental saat itu yang jika tidak kuat akibatnya bisa fatal. Tapi untungnya sebagian besar kuat dan justru jadi tangguh. Entah, mungkin karena banyak temannya. Kecewa ditolak lamarannya hingga persaingan di dunia kerja mewarnai era itu, maklum terkait dapur, kadang manusia lupa jati dirinya.
Bayangkan Anda hidup di era sebelum ada medsos dan dunia online. Informasi harus dicari dengan segala cara. Untungnya internet sudah mulai tumbuh, namun tidak se-masif sekarang, ditambah biaya pulsa yang tidak murah waktu itu. Warnet merupakan lokasi andalan, karena rumah tidak ekonomis untuk berlangganan internet.
Kondisi waktu itu diperparah karena harus keluar kerja karena suami istri dilarang kerja di tempat yang sama. Alhasil, kerja serabutan pun ditempuh, salah satunya sebagai karyawan outsourcing di bank swasta nasional. Berbeda dengan dunia kampus yang politiknya ‘halus’, perusahaan lebih kasar. Beberapa kali pegawai outsourcing menjadi sapi perah pegawai tetap. Pernah juga menjadi ‘tameng’ ketika ada kesalahan. Cukuplah tiga tahun tersiksa sebagai pegawai outsourcing yang digaji separuh dari uang yang diberikan perusahaan induk ke perusahaan outsourcing. Kekecewaan yang ada menghasilkan dua pilihan: 1) menjadi luka batin, atau 2) bahan baku peningkatan mental. Karena manusia berhak memilih, pilihan kedua menjadi pilihan yang terbaik. Jika Anda kecewa diperlakukan seperti itu, maka tidak seharusnya melakukan itu ke orang lain, yang pastinya akan membuat kecewa.
Di siang itu, setelah menunggu kabar lamaran saya ke sebuah kampus di dekat wilayah senen, Jakarta. Akhirnya ada informasi penolakan yakni bidang ilmu saya yang tidak cocok dengan kampus informatika itu. “kalau teknik elektro sih ok, masih dekat”, informasi yang saya peroleh mengenai alasan penolakannya. Kecewa? tentu saja, tapi di dalam benak saya waktu itu muncul energi yang seolah-olah mengatakan, “tunggu, suatu saat saya akan kuliah di jurusan informatika sampai mentok”. Walau setelah itu tersadar bahwa waktu itu jangankan pikiran S3, magister saja belum kepikiran.
Namun energi itu ternyata menarik ke arah cita-cita itu. Secara perlahan setiap hari tidak ada kata berhenti belajar, atau meningkatkan kualitas diri. Dan uniknya, peluang selalu bermunculan. Karena sudah siap, maka peluang yang ada dengan serta merta diambil tanpa susah payah. Jadi, keberuntungan itu adalah kombinasi dari peluang dan kesiapan. Ada peluang tapi Anda tidak siap, maka peluang itu berlalu sia-sia.
Ada kesempatan untuk S2 dengan biaya 50% langsung saja diambil, tanpa perlu pikir panjang. Alhasil lulus dan bergelar master. Tidak lama kemudian, kampus di Bekasi menerima untuk menjadi dosen tetap, setelah 1 tahun menjadi dosen honorer. Seperti biasa, persaingan ada di mana-mana. Rekan saya sempat memberitahu saya kalau pemimpin di tempat saya mengatakan kalau saya bodoh. Tahukah Anda, dibilang bodoh adalah stress terberat bagi orang Jawa. Kecewa? Marah? Tentu saja tidak, justru jadi saya jadikan bahan bakar mental, bahkan menguatkan cita-cita beberapa tahun yang lalu.
Tidak lama kemudian, ada pelatihan bahasa gratis oleh DIKTI ke Jogja selama 3 bulan. Langsung saja diambil walau berat. Toh, mudah karena dulu kuliah di sana enam tahun. Alhasil dengan IELTS score sebesar 6.0, dan bagian writing ber-skor 6.0 sudah cukup untuk studi ke luar negeri. Dan benar, ketika ada peluang beasiswa, saya yang sudah siap dengan IELTS dan proposal, diterima dengan biaya nol rupiah.
Seperti kata Denzel Washington, pemain film ternama yang juga motivator, bahwa saingan atau kompetitor Anda yang sesungguhnya adalah bukan rekan, atasan, atau orang lain, melainkan diri Anda yang kemarin. Asalkan Anda selalu berusaha lebih baik dari Anda yang kemarin, dipastikan Anda akan sukses, cepat atau lambat. Kalau Anda menganggap rekan sebagai kompetitor, maka cenderung lebih mudah ‘menjegal’ dari pada meningkatkan diri, apalagi kepada juniornya. Sulitnya memperoleh ijin dan hal-hal yang menghalangi rekannya yang mau studi lanjut dengan alasan yang mengada-ada, bisa jadi contoh menganggap kompetitor kepada orang lain. Tapi, untungnya yang seperti itu minoritas di kebanyakan institusi.
Walaupun rekan saya banyak yang lebih sukses, bahkan sekarang jadi Profesor, tetapi itu bukan menjadi kompetitor bagi saya, termasuk pembaca sekalian, kompetitor utama saya adalah saya yang kemarin. Sekian, semoga menginspirasi.
Beberapa hari yang lalu terdengar berita kisruh di kementerian diktisainstek, tidak tanggung-tanggung, antara menteri sendiri dengan bawahannya, yang kebetulan emak-emak. Entah kenapa kalau sudah berurusan dengan emak-emak, urusan jadi viral. Walau akhirnya damai, toh kondisi tidak bisa lagi seperti semula. Sepertinya masih ada bara yang siap menyala sewaktu-waktu.
Urusan kedosenan pun kalau sudah terkait dengan emak-emak, pasti urusan akan berlanjut dan viral. Pedagang, entah itu sayur, barang kelontong, dan lain-lain, ketika yang belanja itu emak-emak, dijamin tawar menawar akan seru, ibarat perjuangan sampai tetes darah terakhir. Nah, untuk kesejahteraan dosen, emak-emak pun memegang peranan penting. Lihat saja video buatan mahasiswa UPN terkait kesejahteraan dosen berikut.
Tentu saja kesejahteraan tidak selalu berkaitan dengan gender. Bapak-bapak pun juga tidak tinggal diam, walau terkadang agak sedikit diredam asal harga diri tidak terpicu. Dosen berbeda dengan pegawai biasa, profesi ini ternyata melibatkan berbagai pihak dari mahasiswa, yayasan, hingga pemerintah, bahkan terakhir BPK [Lihat post yang lalu]. Beberapa waktu yang lalu ada edaran bahwa lolos butuh diwajibkan lagi, menandakan kembali berkuasanya pihak yayasan ketika ada dosen yang akan pindah dalam rangka mencari penghidupan yang lebih layak. Tugas berat menanti kemendiktisaintek.
Di tahun 2015an, saya beli macbook air 11 inch yang kecil. Tetapi diinstal dual OS lewat bootcamp, karena ada aplikasi yang memang harus menggunakan Windows. Ternyata disertakan aplikasi Bootcamp di Mac agar bisa dual OS, satu IOS satunya lagi Windows.
Namun karena spek yang rendah, ram 4 giga dan SSD hanya 128 terpaksa kembali lagi ke Mac OS. Maklum, di Mac OS ram 4 giga byte ga masalah, tapi di windows sangat menderita. Akhirnya saya cabut dual OS bootcamp. Tapi ternyata masalah ada di bootcamp yang tidak bisa menghapusnya. Terpaksa dihapus manual. Nah, masalahnya adalah sisa partisi Windows yang dicabut tidak bisa digunakan di Mac. Alhasil, harddisk tinggal 70 Giga saja.
Tanya google dan Youtube, ternyata tidak ketemu. Biasanya di Youtube ok ok saja mereka mengelola partisi lewat Disk Utils. Ternyata di sini Chat GPT bisa membantu. Tentu saja kita harus bertanya mengenai resiko yang terjadi, yakni Mac OS rusak. Alangkah baiknya di backup dulu datanya. Berikut bagaimana melakukan merger partisi Mac yang hilang (bekasi dual OS dengan Windows) dengan yang saat ini jalan. Sekian, semoga bisa membantu.
Negara kita merupakan negara berkembang yang sejak awal dibentuknya melalui pertarungan menghadapi penjajah. Pertarungan selanjutnya adalah mengisi kemerdekaan. Ketertinggalan kita banyak yang menduga karena negara kita yang subur, makmur, dan seperti dalam lagu koes plus, ‘tongkat dan kayu jadi tanaman’. Akibatnya, kehilangan jiwa bertarung (fight) sehingga dengan mudahnya penjajah yang lebih maju masuk ke bumi pertiwi.
Saat ini kita mulai memiliki keunggulan dari sisi jumlah SDM muda, yang diistilahkan ‘bonus demografi’. Tinggal bagaimana orang tua menciptakan jiwa bertarung dari anak-anak kita, tidak perduli pria maupun wanita. Bertarung di sini bukan bertarung seperti binatang, atau anak-anak yang tawuran, melainkan berusaha mengungguli dari yang lain, syukur-syukur mengungguli negara lain.
Kabarnya generasi yang termuda, generasi alpha sering diistilahkan dengan generasi ‘strawberry’, alias generasi yang rapuh dan mudah ‘penyok’. Tugas besar guru dan dosen, apalagi orang tua adalah merubah generasi kaleng krupuk itu menjadi generasi baja, secepatnya sebelum terlambat.
Nah, salah satu cara mengajari yang efektif adalah memberi contoh. Generasi muda akan melihat bagaimana para orang tua, pemimpin, guru, dosen, dan senior-senior bertarung dalam mencapai cita-cita, target, sasaran, dan sejenisnya. Kemampuan meliuk-liuk di sela-sela undang-undang yang tarik ulur, misalnya terkait pendidikan, tidak boleh melemahkan jiwa bertarung para guru dan dosen. Yang sedang studi lanjut, atau yang sedang ingin naik pangkat, tetap fokus, jika mentok, cari jalan lain, asalkan halal. Ada tidaknya tunjangan kinerja (tukin) tidak perlu diambil pusing. Terus dalam kondisi ‘lapar’, seperti singa yang garang tak kenal takut. Semoga kita bisa kuat di hari-hari yang akan datang.
Dosen swasta merupakan profesi unik yang sejak dulu terbiasa dianaktirikan. Berbeda dengan buruh yang memiliki asosiasi yang melindungi rekan-rekan dari pihak kapitalis, dosen dan juga guru tidak memiliki asosiasi yang secara khusus membela dari sisi ekonomi seperti gaji, tunjangan dan lain-lain. Akibatnya nasibnya seperti itu, ditambah lagi sikap pemerintah yang lebih mendukung yayasan dibanding dosen-dosennya.
Beberapa waktu yang lalu ASN dosen menagih janji tunjangan kinerja (di luar tunjangan sertifikasi dosen) sesuai janji menteri sebelumnya. Bagi dosen swasta kelas menengah, tunjangan itu cukup besar.
Sementara itu tukin dosen swasta menurut informasi [Url] sebesar satu kali gaji golongan sebagai berikut.
Lumayan jauh bedanya. Lektor kepala 10 jutaan, swasta sekitar 3 jutaan. Tapi sebenarnya lumayan, dari pada tidak dapat apa-apa. Itu pun yang dikhawatirkan dibayarkan dalam mata uang Yen .. yen ono duwite, hehe.
Dosen swasta serba salah, terkadang yang kualifikasi kurang terancam dipecat dan tidak ada pihak yang melindungi, di sisi lain yang kualifikasi tinggi terancam dengan ikatan dinas yang tidak masuk akal, ditambah lagi lolos butuh yang harus diperoleh dari kampus asal yang terkadang dipersulit. Kondisi diperparah oleh PTN yang membuka kran mahasiswa baru sebanyak-banyaknya dan membiarkan PTS saling bunuh dan kanibal, seperti tulisan ini [Url].