Pertemuan V: Desin untuk Perakitan dan Pembongkaran (Design for Assembly and Disassembly)

Merakit suatu produk merupakan fungsi dari parameter disain baik intensive (material properties) maupun extensive (physical atribute). Permasalahan dalam merakit muncul pertama kali saat dimulainya era revolusi industri di Inggris. Kemampuan dalam menciptakan komponen-komponen yang mudah dirakit mempengaruhi kinerja dari sistem manufaktur.

Dalam konteks engineering, dissasembly adalah proses terorganisir dalam memecah produk menjadi komponen-komponen agar lebih mudah dalam perawatan, perbaikan, pengelolaan dan sebagainya. Dissasembly bukan kebalikan dari assembly karena terkadang suatu produk harus dirancang dissambly agar mudah dalam proses produksinya.

1. Design For Assembly (DFA)

DFA dimaksudkan agar diperoleh produk dengan biaya perakita semurah mungkin tanpa meninggalkan aspek kelayakan. DFA selalu melihat dua aspek yaitu functionality dan assemblability. Tiap industri sudah melakukan DFA bertahun-tahun lamanya. Sebagai contoh General Electric mempublikasikan DFA pertama kali pada tahun 60-an sebagai guideline internal para engineer-nya.

Metoda-metoda perakitan yang saat ini digunakan antara lain:

–          Manual Assembly: Metode yang fleksibel, adaptive dan murah tetapi memiliki keterbatasan dari sisi kuantitas.

–          Automatic Assembly: Metode yang fixed, dengan bertambahnya volume, biaya produksi akan berkurang.

–          Fixed and Hard Automation: Hanya memproduksi satu jenis produk saja. Jika produksi meningkat maka biaya manufaktur-nya akan turun.

–          Robotic Assembly: Cocok untuk produksi yang volumenya di antara manual dan automatic.

2. Design Guideline

Berikut ini panduan untuk perakitan manual:

–          Kurangi pengambilan keputusan dari pekerja

–          Yakinkan bahwa produk baik dan bukan hanya terlihat baik

–          Sebisa mungkin mengurangi jumlah komponen individual

–          Hilangkan komponen berlebih, sebisa mungkin gabung dua komponen menjadi satu

–          Hindari proses membolak-balik komponen, aspek gravitasi perlu dipertimbangkan.

Sedangkan untuk perakitan automatic, berikut ini dapat dijadikan panduan:

–          Gunakan metode dalam self-aligning dan self-locating sebaik mungkin

–          Posisikan yang berat di bawah, makin ke atas makin kecil

–          Hindari segala hal yang menciptakan ‘delay’

–          Hindari komponen yang mudah pecah, patah dan rusak

–          Hindari sebisa mungkin merubah posisi komponen yang dapat menambah alat bantu

–          Rancang sebisa mungkin komponen simetris

–          Rancang sebisa mungkin memiliki center gravity di bawah

Berikut ini guideline untuk perakitan robotic:

–          Seimbangkan jumlah dengan tipe komponen, kebanyakan robot lemah dalam ‘repeatability’

–          Gunakan pemegang (grip) sebisa mungkin tidak sering berganti

–          Yakinkan bahwa komponen terpegang dengan sempurna

–          Merakit vertikal harus dimulai langsung dari atas (memanfaatkan gravitasi)

–          Perancang sebisa mungkin mengurangi memutar komponen sebelum dipegang robot.

Pertemuan III: Struktur Proses Disain Produk

Struktur Proses Disain Produk

Disain adalah suatu kegiatan merepresentasikan ide menjadi bentuk lain yang dapat di-indera. Bentuk lain itu belum berupa barang jadi. Menurut Caldecote, (1989), disain adalah proses mengkonversi suatu ide menjadi informasi yang menjadikan suatu produk tercipta.

Disain berbeda dengan engineer. Dalam disain, tidak hanya aspek teknik yang diperhatikan, aspek-aspek lain seperti estetika perlu juga diperhatikan. Disain berada di tengah-tengah antara kubu industri dan mekanik.

 pert III 

Perkembangan teknologi kini memotong jalur disain, sehingga dari Computer Aided Design (CAD) bisa langsung diproduksi dengan Computer Aided Manufacturing (CAM) dengan software CAD/CAM – nya.

Perubahan paradigma dalam proses disain mengharuskan disainer tidak hanya menggambar untuk kepentingan satu pihak tapi untuk kepentingan seluruh corporate. Perubahan paradigma terjadi, menurut petrosky, (1994):

–          Memenuhi kebutuhan pemodelan

–          Memenuhi kebutuhan pengamanan

–          Mengantisipasi efek skala

–          Menghindari mulai munculnya masalah di tengah jalan

–          Menghindari hipotesis awal yang keliru

–          Terhindar dari “wind tunnel” efect.

Langkah-langkah yang ditempuh dalam rangka mendisain proses antara lain:

–          Problem Definition: mempelajari kebutuhan dan lingkungan

–          Value System Design: mulai mencari tujuan dan kriteria-kriterianya

–          Systems Syntesis: menganalisa alternatif-alternatif

–          Selecting the best system: mengevaluasi alternatif-alternatifnya

–          Planning for action: menspesifikasikan alternatif yang dipilih

 

Dalam menentukan tujuan hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain:

–          Performa

–          Lingkungan

–          Life in Service

–          Pemeliharaan

–          Target biaya produksi

–          Transportasi

–          Packaging

–          Jumlah

–          Fasilitas manufacturing

–          Ukuran dan berat

–          Estetika, tampilah dan bentuk akhir

–          Bahan-bahan

–          Product life span: waktu yg dibutuhkan suatu produk untuk siap dijual

–          Standard

–          Ergonomic

–          Kualitas dan kelayakan

–          Penyimpanan

–          Testing

–          Keamanan

–          Kebijakan produk: fasilitas yang perlu ditambah utk menambah daya saing

–          Implikasi sosial dan politik

–          Tanggung jawab produk

–          Instalasi dan operasi

–          Daur Ulang

Tugas II: Perhatikan gambar di bawah ini ! apa maksud gambar bagian bawah?

pert III, soal

PERTEMUAN II: PERANCANGAN PRODUK

MENGEMBANGKAN PRODUK YANG SUKSES

 

Produk dikatakan sukses jika disukai pasar. Pasar menyukai suatu produk berdasarkan kualitas dan harga. Menciptakan produk yang disukai tidak dapat dilakukan begitu saja, diperlukan konsep pengembangan yang baik.  Langkah-langkah yang perlu dilakukan suatu perusahaan yang akan melakukan aktivitas produksi, antara lain:

–          Menentukan yang dibutuhkan pasar

–          Kebijakan Perusahaan

–          Strategi Bisnis

–          Pencarian Ide

–          Mensintesis Ide – Ide

–          Membuat perencanaan yang detil

–          Memproduksi

–          Memasarkan.

Atribut – atribut dari suatu produk yang sukses dikembangkan:

–          Biaya, baik biaya memproduksi maupun biaya total

–          Kualitas

–          Waktu yang diperlukan untuk memproduksi

–          Mengembangkan teknik produksi masal (repeat production)

Faktor-faktor kunci mengembangkan produk baru:

–          Unik

–          Fokus ke pelanggan dan berorientasi pasar

–          Melakukan pekerjaan rumah yang penting, seperti studi pemasaran, predevelopment dan sejenisnya.

–          Ketajaman dalam mendefinisikan produk yang akan dikembangkan

–          Kesinambungan pelaksanaan, tidak boleh ada fase yang terputus atau didahulukan

–          Struktur Organisasi dan iklim perusahaan

–          Keputusan yang tepat dalam memilih suatu proyek

–          Memasarkan dengan baik produk yang kita buat

–          Keputusan-keputusan yang tepat dari top management

–          Meningkatkan kecepatan produksi tanpa mengorbankan kualitas

–          Mampu mengikuti proses-proses terbaru dengan sistematis

–          Mampu menarik perhatian pasar

–          Berpengalaman dan memiliki kemampuan dasar yang baik

–          Faktor-faktor lain yang mungkin berpengaruh terhadap produk yang dihasilkan

Strategi untuk Mengembangkan produk baru:

–          Menentukan berapa pertumbuhan yang diharapkan dari produk baru tersebut

–          Menggali informasi perihal kapabilitas, pasar dan pelanggan

–          Mencari peluang-peluang yang ada

–          Mengembangkan daftar pilihan produk-produk yang saat ini ada

–          Mengeset kriteria-kriteria apa saja yang diperlukan oleh produk yang akan dibuat

–          Menentukan portfolio produk, apakah baru, modifikasi atau tidak

–          Me-manage portfolio untuk meningkatkan keuntungan

 Tugas: Perhatikan gambar di bawah ini:

  1. Mesin apa?
  2. Digunakan untuk apa?
  3. Apa jenis terbaru dari mesin tersebut? Apa kecanggihannya?

Pertemuan I: Perancangan Produk

Hari/tgl : 09-09-09

Pengertian Manufaktur

Walaupun manufacture telah ada sejak 5000 – 4000 SM, kata manufacture baru muncul pada tahun 1567, sedangkan manufacturing digunakan 100 tahun kemudian yakni tahun 1683 (Kalpakjian, 1995). Manufacture berasal dari kata yunani “manus” yang artinya tangan dan “facere” yang berarti membuat. Jika digabung menjadi manufactus yang artinya membuat dengan tangan (hand-made). Dengan kata lain seperti diutarakan oleh DeGarmo, et al., (1988), berarti: The conversion of stuff into things (mengubah bahan dasar menjadi benda).

Dalam konteks yang lebih modern diartikan: “Membuat produk dari bahan mentah dengan menggunakan berbagai proses, peralatan, operasi dan sumber daya manusia mengikuti rencana terinci di awal.

Pengertian Sistem Manufaktur

Sistem manufaktur didefinisikan oleh Lucas, (1992), sebagai kombinasi yang terintegrasi dari proses, sistem pemesinan, manusia, struktur organisasi, aliran informasi, sistem kontrol dan komputer, yang dimaksudkan untuk memperoleh suatu produk yang ekonomis serta memiliki keunggulan kompetitif secara internasional.

Input dan Output Sistem Manufaktur

Input dari Sales, material, energ, SDM, modal dan perencanaan, sementara outputnya produk, profit dan reputasi.

Kategori Sistem Manufaktur

Sistem manufaktur dibagi menjadi dua kategori besar yaitu:

–          Discrete Part Manufacturing

–          Continuous Part Manufacturing

Discrete Part Manufacturing melibatkan proses manufaktur barang individual yang dibagi menjadi kategori:

–          Project Manufacture : Memproduksi dengan peralatan yang fixed

–          Jobbing Shop Manufacture: Untuk produksi yang jumlahnya sedikit, pekerja terlatih

–          Batch Manufacture: Mirip job shop, tetapi tiap komponen dilewati dr operator satu ke yang lain. Ukuran produksinya sedang.

–          Mass/Flow Manufacture: Produksi skala besar, dengan material handling dan proses yang baik.

Sebagai tambahan, terdapat cellular manufacturing, dimana proses dikumpulkan dalam satu grup dalam menghasilkan produk.

Processing Strategies

Empat strategi yang dilakukan dalam manufaktur antara lain:

–          Make to Stock (MTS) : Memproduksi tanpa menunggu permintaan

–          Assembler to Order (ATO): Merakit setelah ada permintaan

–          Make to Order (MTO): Membuat berdasarkan spesifikasi pelanggan

–          Engineer to Order (ETO): Seperti MTO tetapi peran pelanggan sangat tinggi.

Teknik Manufaktur dan Teknik Industri

Ada dua jurusan yang bertanggung jawab dalam suatu manufaktur yaitu teknik industri dan teknik manufaktur. Teknik industri bertanggung jawab dalam mensuport teknik manufaktur dalam pengorganisasian dan penghitungan biaya dan overhead seperti diungkapkan Tanner, (1996). Teknik industri terlibat dalam:

–          Metode Analisa : Mencari cara meningkatkan produktivitas

–          Pengukuran kerja: Menghitung lama kerja serta standar waktu tiap tugas.

–          Plan Layout: Menentukan tata letak dan hubungannya dengan produktivitas.

–          Material Handling: Mencari teknik yang tepat dalam aliran materialnya.

–          Plant Maintenance: Merencanakan perawatan yang tepat.

Teknik manufaktur,  di sisi lain bertanggung jawab terhadap suluruh fase dalam product manufacture, kecuali disain. Empat area khusus dibawah tanggung jawabnya:

–          Pengembangan Sistem Manufaktur: Bekerja sama dengan teknik industri (metode analisa) dalam rangka peningkatan produktivitas.

–          Pengembangan Proses: Menganalisa dan mengevaluasi proses serta hubungannya dengan perkembangan teknologi terkini.

–          Evaluasi Proses: Mengevaluasi kemampuan tiap perangkat produksi, bekerja sama dengan bagian quality engineering.

–          Perencanaan Proses: Berbekal tentang ilmu permesinan, perkakas, material dan ilmu lain yang mendukung dimanfaatkan menghasilkan proses yang terbaik.

PERTEMUAN I: PERENCANAAN PRODUK

Hari / Tanggal  : 2 September 2009

Berikut ini resume dari pertemuan pertama. Perkuliahan yang direncanakan 14 pertemuan (minimal 12 pertemuan) berisi materi antara lain:

Bab I: Pentingnya Manufaktur

Bab II: Mengembangkan Produk yang Sukses

Bab III: Struktur Proses Perencanaan Produk

Bab IV: Review terhadap Disain: Merencanakan dalam rangka menjamin kualitas

Bab V: Pertimbangan dan Pemilihan Bahan

Bab VI: Pemilihan Bahan dan Proses

Bab VII: Merencanakan Perakitan dan Perombakan

Bab VIII: Merencana untuk Perawatan

Bab IX: Merencanakan fungsi

Bab X: Merencana untuk kegunaan produk

Bab XI : Menciptakan Harga Jual Produk

Bab XII: Menelusuri permintaan pasar terhadap suatu produk

Bab XIII: Merencanakan Fasilitas Manufaktur

Bab XIV: Isu – Isu Lingkungan

 Referensi:

Mital, Anil, Anoop Desai, Anand Subramanian, Aashi Mital, (200?), Product Development – A Structured approach to Consumer Product Development, Design and Manufacture, India: BH.

Scallan, Peter, 2002, Process Planning: The design/manufacture Interface, UK: Elsevier Science & Technology Books.

Kalpakjian, Serope, 1985, Manufacturing Processes for Engineering Materials, London: Addison-Wesley Publishing Co.

cover_1

NOTE: Download Buku Di Sini !!!