Sidang Terbuka – Perlukah?

Status sebagai mahasiswa merupakan satu aktivitas bekerja juga, mirip jabatan, tugas khusus, dan apapun yang memiliki tujuan yang jelas yakni memperoleh ilmu dan dibuktikan dengan kelulusan. Dosen pun ketika studi lanjut ke jenjang yang lebih tinggi berubah statusnya menjadi mahasiswa. Dualisme itu yang sedikit menyulitkan, khususnya dosen-dosen senior yang telat studi lanjut. Di mana sulitnya? Nah, itu dia, sulit juga menjelaskannya.

Waktu itu, thailand cukup panas, maklum mendekati hari raya Sonkran, hari raya yang terkenal dengan ‘mainan air’, semprot-semprotan, dan sejenisnya. Kalau di Indonesia ya hari raya idul fitri untuk yang muslim, natal untuk yang nasrani. Seperti biasa, siang itu di depan meja belajar, saya melamun. Di sini melamun berarti berfikir keras, mengingat tidak ada jawaban di internet, bahkan pembimbing pun tidak tahu jawabannya. Khas mahasiswa doktoral. Sambil menyeruput kopi Thailand (UFM bakery 50 baht) yang lebih murah dari kopi Vietnam (honkrum 100 baht), tiba-tiba ada telepon dari staf pengajar institut pertanian bogor (IPB).

“Halo apa kabar? Bagaimana keadaan di sana?”, sapa telepon itu. Seperti biasa, walau sedang pusing tapi cukup dijawab dengan dusta, “baik, bagaimana dengan Anda?”. Intinya ternyata hanya bertanya-tanya perihal kampus tempat saya kuliah. Tadinya saya fikir dari tim pewawancara waktu mendaftar beasiswa DIKTI ternyata hanya survey. “Apakah di sana ada sidang terbuka?”, saya jawab kalau seperti di Indonesia yang mengundang orang sekampung, disertai acara makan-makan, pembagian souvenir, dan sejenisnya ya tidak ada. Paling hanya informasi seperti berikut ini.

“Kalau wisuda? Bayar kah?”, tanyanya lagi. Saya jawab ada deposit ketika mendaftar kalau di rupiahkan setengah juta. Tapi setelah wisuda dan kita mengikuti wisuda, uang itu bisa diambil kembali. Mungkin maksudnya agar yang daftar serius, bukan nge-prank. Jadi, baik sidang terbuka maupun wisuda, praktis tidak ada yang bayar. Paling menyiapkan snack dan minuman saja ketika sidang terbuka, itu pun biasanya tidak dimakan oleh promotor dan penguji, malah peserta yang kebanyakan teman senegara, yang menjarah selepas acara. Bahkan kabarnya sudah ‘dipesan’ oleh teman-teman yang senasib sepenanggungan saat acara final defence berlangsung. Seperti ini suasana sidang terbuka [link].

Saya yakin teman-teman saya di negara lain pun sama, sepertinya hanya di Indonesia yang melakukan ritual sidang terbuka seperti hajatan. Beberapa kampus sudah mulai menghapus sidang terbuka, misalnya rekan saya yang kuliah di Brawijaya. Sepertinya jika ingin menjadi kampus internasional, agak merepotkan mahasiswa asing yang ingin sidang terbuka versi kampus Indonesia.

“Sir, how about final defence of mr Haoran Zhang?”, tanyaku ke promotor saya. Sambil geleng-geleng dia mengutarakan kekecewaannya. Katanya dia tidak lulus, alias sidang ulang. Wah, gawat juga. Pantes saya lihat kemarin dia sibuk mondar-mandir bawa alatnya dengan wajah pusing. Beda dengan Indonesia yang sudah pasti lulus, ternyata sidang terbuka bisa tidak lulus juga.

Ada info dari rekan istri saya yang S3, kabarnya ada juga mahasiswa doktoral yang tidak ikut wisuda. Kalaupun ikut, biasanya tidak terlalu wah. Salah satu sebabnya adalah sidang terbuka yang lebih ‘wah’ dari wisuda. Sidang terbuka ibarat wisudah khusus untuk si mahasiswa seorang. Nah, berbeda dengan di kampus saya, ketika ada mahasiswa Indonesia yang lulus doktoral, kampus mengundang duta besar dan atase kebudayaan, yang biasanya selalu hadir dan tidak diwakilkan [link].

Karena sidang terbuka yang ‘biasa saja’ (tapi sangar juga), wisuda jadi sangat hikmat. Bahkan dalam acara tersebut ada dua sebutan, Mr saat masuk gedung, dan Dr setelah pelantikan (pemasangan Hood, seperti sayap di belakang, kalau di Indonesia kuncir di topi wisuda yang digeser ke kiri atau ke kanan (saya lupa) oleh rektor/dekan [link]. Tapi bagi orang Indonesia yang S3 di Indonesia, sidang terbuka bisa jadi kenangan yang indah. Bisa juga jadi sarana jalan-jalan teman-teman si mahasiswa. Bayangkan teman saya yang mau lulus di Brawijaya, ketika ada kabar tidak ada sidang terbuka lagi (katanya kalau publish Q2), acara jalan-jalannya batal dah …

Tak Ada yang Kebetulan

Manusia memang beragam, baik fisik maupun pemikirannya. Ada yang percaya tuhan, ada yang tidak yakin, namun sepertinya kebanyakan meyakini keberadaan-Nya. Beberapa tradisi dan agama mengatakan bahwa keberadaan kita tidak kebetulan melainkan hasil ‘sesuatu’ sehingga banyak dari kita merasakan adanya De Javu, alias sepertinya pernah mengenal sesuatu yang kita jumpai dulu entah di mana.

Waktu sekolah menengah atas karena ikut dengan kakak yang kuliah komputer, terkadang ikut membaca meteri kuliah, bahkan menjadi langganan ‘penyusup’ ketika di sore hari ada praktikum, khususnya internet. Ternyata walau S1 mengambil jurusan mesin, ujung-ujungnya Kembali ke komputer. Waktu itu tema skripsinya kebetulan disain suspense dengan bantuan pemrograman komputer. Nah, Ketika lulus mengajar komputer, sempat bekerja di bank bagian IT. Terus merembet, hingga saat ini aktif mengikuti proyek-proyek yang meng ‘AI’-kan aplikasi-aplikasi di beberapa departemen. Kalau dibilang kebetulan ya konyol juga.

Ok dibilang kebetulan, tapi kalau kebetulan terus menerus ya kita jadi curiga. Sepertinya ada sesuatu yang mengatur. Bahkan lahirnya kita, misalnya saya lahir di Jogja, Indonesia, itu pun pasti bukan kebetulan.

Mengapa pemain bola kebanyakan dari negara dengan sistem pembibitan dan manajemen pelatihan yang baik untuk sepakbola? Sepertinya tuhan menempatkan si pemain itu di lingkungan yang cocok, misalnya Lionel Messi di Argentina, pemain bulu tangkis di Cina atau Indonesia, ilmuwan di Amerika dan Eropa, dan seterusnya. Walaupun untuk personel tertentu seperti Habibie dilahirkan di Indonesia, atau nabi saya, Muhammad SAW, lahir di kaum jahiliyah saat itu.

Ketika berangkat kerja, saya melihat sampah-sampah yang dibuang sembarang, bahkan di kali yang bikin repot petugas yang mengambilnya. Pasti tuhan ada maksudnya, setidaknya saya layak dilahirkan di tempat itu .. wah. Kondisi apapun, seperti kata Jack Ma bisa dijadikan peluang. Katanya, jika Anda tidak bisa jadi yang terbaik, jadilah yang pertama. Ya iyalah, pertama itu berarti inovator. Kadang yang pertama itu hambatannya paling besar, lihat saja di balapan, pasti yang pertama paling berat menahan angin, misalnya di balap sepeda. Paling banyak mendapat cibiran dan penolakan. Teorema de morgan, di masanya dianggap teori orang gila mengingat tidak terlihat kegunaannya, padahal saat ini merupakan bahan baku sistem digital pada komputer. Untungnya dulu belum ada netizen ….

Unifying Goal

Entah dalam bekerja maupun kuliah, terkadang ada tugas yang harus dikerjakan dalam bentuk kelompok. Sebagian besar kelompok yang kita ada di dalamnya biasanya berbeda-beda karakteristik personilnya. Apalagi jika Anda kuliah di luar negeri dengan orang-orang dari berbagai kebudayaan dan lingkungan. Nah, repotnya terkadang tiap personil memiliki goal atau tujuan masing-masing, sehingga goal kelompok harus sejelas mungkin jangan sampai terganggu oleh goal masing-masing.

Peran besar Sukarno pada bangsa Indonesia adalah menyatukan seluruh rakyat Indonesia agar memiliki satu tujuan bersama, alias unifying Goal. Bangsa yang beragam suku, agama, ras, dan adat harus memiliki satu tujuan bersama, tertuang dalam pembukaan UUD 1945 yang terkenal. Pertarungan dua kubu perang dingin Uni Sovyet yang komunis dengan Amerika Serikat yang liberal membuat tujuan bersama bangsa Indonesia ketika itu di tahun 60an kacau balau tak menentu. Efeknya adalah terulang kembali kekacauan di akhir Era Majapahit, alias perang saudara.

Jika tujuan personil mengalahkan tujuan kelompok sudah dipastikan pekerjaan berat bakal dihadapi. Saya pernah memiliki kelompok saat kuliah yang menggabungkan mahasiswa master dengan doktoral. Repotnya adalah mahasiswa magister tidak masalah mendapat B, sementara mahasiswa doktoral harus nilai A, nilai B pada dasarnya tidak lulus. Bayangkan jika mahasiswa magister yang kebanyakan mayoritas di kelompok memiliki tujuan cukup dapat B, dijamin mahasiswa doktoral akan bekerja keras, bahkan menjadi ‘single fighter’ agar minimal B+.

Dalam dunia kerja, misalnya kerjasama antara klien dan konsultan. Memang aslinya masing-masing memiliki tujuan di institusinya, misalnya konsultan memiliki banyak membimbing klien sementara klien mencapai tujuan perusahaannya. Tujuan utama mereka seharusnya menyelesaikan problem klien secepat dan sebaik mungkin, namun jika konsultan mengutamakan tujuan institusi kebanyakan menjaga agar klien tergantung terus dengan konsultan. Ada beberapa instansi pemerintah yang memiliki aplikasi dari konsultan tetapi source code tidak diberikan, kalau diberikan pun ternyata tidak bisa diakses. Sebagian lagi memasang server di tempat lain atau di tempatnya agar klien tergantung dan tidak bisa lepas dari konsultan itu.

Biasanya pemimpin yang baik akan melihat hal tersebut dimana tujuan bersama harus yang utama. Seperti pemimpin bangsa mungkin berasal dari partai tertentu, suku tertentu, agama tertentu, dan lain-lain yang sudah pasti memiliki tujuan individu dan kelompoknya. Namun untuk keberlangsungan bangsa, tujuan bersama harus di atas tujuan kelompok masing-masing, alias Unifying Goal harus tetap terjaga. Repotnya adalah terkadang tujuan kelompok menjadi yang utama sehingga setelah pemilu, ketidakpuasan merajalela, kritik tidak manusia kerap berseliweran di medsos dan media. Parahnya lagi jika pemimpin, misalnya menteri, masih memiliki tujuan kelompoknya menjadi tujuan utama.

Anak-anak muda kita merupakan pewaris bangsa yang di tahun 2045 kabarnya persentasenya tertinggi di dunia. Persentase tersebut tidak ada artinya jika masing-masing berjalan dengan tujuan sendiri dan melupakan bahkan tidak menganggap tujuan bersama. Jangankan tercapainya tujuan bersama, perpecahan bisa saja terjadi. Kalau bisnis mungkin kita bisa memilih bekeja sama dengan siapa, tetapi sebagai satu bangsa tentu saja tidak ada pilihan lain harus bisa bekerja sama dengan bangsa sendiri. Semoga kedepan bangsa kita menjadikan tujuan bersama lebih diutamakan dari tujuan individu dan kelompok.

The Power of One

Istilah Big Data muncul bersamaan dengan perkembangan hardware dan software, termasuk media sosial seperti facebook, twitter, tiktok, instagram, dan sebagainya. Secara sederhana, Big Data dengan konsep volume, velocity, veracity, dan variety, merupakan kumpulan data yang tidak mudah disimpan dalam penyimpanan konvensional [link]. Untuk mengolahnya butuh piranti yang kuat (super computer), dan beberapa software seperti Matlab memperkenalkan konsep pemrosesan Tall Array [link], dimana untuk uji coba digunakan data sederhana, setelah ok baru data yang besar agar ketika testing tidak memberatkan kinerja komputer.

Sebenarnya konsep big data adalah data yang buruk lebih baik dari pada tidak ada data. Namun, jika kurang pandai mengelola data dapat dipastikan hasil kurang relevan, tidak akurat atau tidak bermakna. Jadi Big Data memerlukan satu komponen lain yaitu Algoritma, dimana saat ini penerapannya disertai dengan Artificial Intelligence. Dengan algoritma yang tepat disertai pemrosesan paralel, pengolahan Big Data jadi lebih mudah dan cepat.

Bagaimana dengan “brainware”? Dalam hal ini adalah manusia. Berbeda dengan komputer yang bisa dijalankan secara paralel, kita sebagai manusia ternyata tidak sanggup paralel. Istilah multitasking sebenarnya bukan bersamaan secara paralel melainkan berganti-ganti secara cepat. Repotnya, tiap berganti memerlukan delay yang secara total mengurangi performa. Bahkan ada psikolog yang meneliti ketika mengerjakan suatu tugas psikis, jika sering diinterupsi, kerap terjadi error/kesalahan. Peneliti lain menghasilkan informasi adanya penambahan waktu sekitar 30% jika dua aktivitas dilakukan secara bersamaan dibanding secara serial satu kali finish dilanjutkan dengan aktivitas kedua hingga finish juga [link]. Namun untuk tugas tertentu seperti petugas McD yang menerima pesan sekalian melakukan pembayaran lebih menguntungkan dengan orang yang sama mengingat penambahan waktu 30% tapi menurunkan membayar petugas yang terpisah.

Untuk melatih the power of one sederhana, kerjakan satu aktivitas satu saja, hilangkan gangguan seperti notifikasi, berita yang tiba-tiba muncul di browser, youtube kesukaan, dan sejenisnya. Kemampuan untuk ‘bersikap bodo amat’ terkadang perlu [link], maksudnya adalah menyingkirkan yang tidak penting. Sehingga kemampuan ‘mengupas’ hal-hal yang tidak perlu hingga yang tinggal adalah hal yang perlu dikerjakan, dijamin tugas akan selesai. Prinsip the power of one ini merupakan awal dari prinsip ‘do less and obsess’ konsep yang mendorong seseorang untuk fokus pada hal-hal yang benar-benar penting dan mendalam daripada mencoba melakukan terlalu banyak hal dengan sekali waktu.

Orang pun senang dengan the ‘power of one’. Manakah yang lebih Anda sukai, berdialog dengan orang yang kerap membaca notif dari HP dengan orang yang fokus mendengarkan dan merespon pembicaraan dengan Anda. Sekian, semoga bermanfaat.

Jangan Lupa Evaluasi

Anda sakit? Anda baik-baik saja? Jika pertanyaan itu dialamatkan ke Anda, apa yang Anda jawab? Mungkin Anda menjawab baik-baik saja, hanya sedikit kolesterol dan kadang magh kambuh. Begitu juga terhadap institusi Anda, mungkin menjawab dengan hal yang sama, misal bisnis lancar, mahasiswa baru masih ada tiap tahun, masih untung, dan sejenisnya.

Dari kecil saya hidup di utara Jakarta, tepatnya tanjung priok. Kehidupan yang keras dimana sumpah serapah sudah biasa. Keponakan saya yang masih kecil waktu itu pun kalau sedikit tersinggung langsung keluar kata ‘anjing’. Uniknya ketika idul adha, melihat kambing lewat dia langsung teriak, ada .. anjing.. ada anjing.. nah lho. Ketika kondisi lagi error, wilayah tempat tinggal saya menjadi tempat pertarungan antar geng, karena lokasinya yang tak tersentuh aparat keamanan. Pernah saya dan teman kecil saya tebak-tebakan di mana tetesan darah yang berceceran di jalan berhenti.

Selang beberapa waktu, saya harus SMA ke Jogja, karena diajak kakak yang kuliah. Jaman itu merupakan jaman yang tidak bisa dilupakan karena masih bermain surat dan sekali saya menerima wesel. “Rahmadya, segera ke tata usaha”, pemberitahuan dari pengeras suara sekolah. Siang itu saya menghadap TU dan diberikan secarik wesel. Untungnya di depan sekolah ada kantor pos, langsung saja ke sana. Sesampainya di sana, petugas melihat wesel, entah apa yang dia lakukan, selanjutnya memberikan uang sesuai dengan jumlah yang tertera. Ya, uang bulanan ternyata dikirim via wesel, waktu itu tahun 1992. Setelah itu karena bank sudah menjamur, kiriman beralih lewat bank. Tapi jangan salah, tidak seperti sekarang yang ada ATM, waktu itu harus ke teller hanya sekedar cek apakah ada kiriman masuk. Agar tidak malu sama teller karena dateng Cuma ngecek isi rekening, biasanya saya dan kedua kakak saya bergiliran ke teller di hari yang berbeda, he he.

Saatnya liburan merupakan hal yang membahagiakan. Dengan naik kereta senja yogya gambir saya tiba dengan lelah, mengingat kereta jaman dulu yang banyak berhenti, tidak seperti sekarang. Baru saja sampai, saya terkaget menghirup udara Jakarta yang tidak senyaman Yogya. Keponakan saya langsung menyambut,”om bandit .. om bandit”. Dalam hati kenapa dia memanggil nama saya bandit, mungkin sulit lidahnya. Untuk menyegarkan badan, saya langsung mandi. Alangkah terkejutnya ketika air PAM dari ledeng menerpa tubuhku. Tidak seperti air di kampung yang menyegarkan, air PAM malah bikin berkeringat. Dalam hati saya berfikir kenapa saya betah tinggal di daerah ini ya bertahun-tahun.

Cerita di atas hanya mengilustrasikan bahwa kita terkadang merasa hal-hal aneh, kurang wajar, kurang sehat, dan lainnya adalah hal yang biasa karena sudah bertahun-tahun menikmati hal tersebut. Ibarat menderita sakit yang lama, jadi tubuh menganggap itu bukan penyakit. Para nabi, juru selamat, dan orang tercerahkan lainnya sejatinya hanya menyadarkan kita akan penyakit yang kita alami. Begitu juga di tempat kita bekerja, karir kita, dan sekitar kita. Terkadang baru sadar ketika terjadi hal-hal yang di luar dugaan seperti jumlah mahasiswa menurun, karyawan baik pindah ke pesaing, adanya kerugian, bahkan kebangkrutan hingga terpaksa dijual.

Petenis juara dunia pun masih membutuhkan pelatih yang membantu menyadarkan kalau servis masih ada kelemahan. Bahkan juara dunia catur pun membutuhkan pelatih yang kalau diadu, si pelatih itu tentu saja kalah. Jadi, mintalah bantuan orang untuk mengevaluasi diri, organisasi, tim, dan lain-lain. Sekian, semoga menginspirasi.

Passion & Purpose

Passion

Passion artinya mengerjakan sesuatu sesuai dengan minat kita, misalnya bermain musik, olah raga tertentu, mengajar, dan lain-lain. Biasanya aktivitas tersebut dilakukan dengan senang hati, tanpa paksaan. Waktu pun terasa berlalu tanpa disadari. Banyak yang menganjurkan kita bekerja mengikuti passion kita, bahkan oprah winfrey, salah satu acara di tv amerika menganjurkan itu. Namun benarkah?

Sesuai dengan artinya, passion menuntut adanya kepuasan batin yang diterima. Jadi arahnya dari luar menuju ke dalam diri. Apakah bermanfaat bagi orang lain? Tentu saja belum tentu. Terkadang seseorang yang hanya mau bekerja sesuai passion akan mengalami kondisi serba kekurangan, bahkan cenderung menjadi pengangguran.

Purpose

Kutub ekstrim lainnya adalah purpose, yang artinya bekerja dengan tujuan tertentu. Biasanya menghasilkan kontribusi ke pihak lain. Arahnya berlawanan dari passion, purpose dari dalam ke luar. Jika tanpa passion, purpose berarti bekerja sesuai dengan tuntutan, kebutuhan, guna memberikan kontribusi ke pihak/orang lain. Terkadang yang dikerjakan tidak sesuai dengan minatnya. Biasanya fokus ke hasil, kalau bekerja ya gaji. Jadi mana yang tepat? Kutub passion atau kutub purpose?

Keseimbangan Passion & Purpose

Jim Carry ternyata mempunyai ayah yang tidak berbeda dengannya, yakni suka melucu. Tetapi demi menghidupi keluarga ayahnya bekerja sebagai akuntan, dengan gaji kecil. Dan Jim Carrey pun tidak ingin seperti ayahnya. Passion melucu tetap dia implementasikan sesuai dengan purpose, yaitu lewat acting di film, stand up comedy, dan lain-lain yang tentu saja menghasilkan profit. Ternyata passion bisa diimplementasikan dalam bekerja, setidaknya dalam hal-hal tertentu. Seorang pembuat roti, bisa saja memberikan kemasan indah, asesoris, dan disain roti yang diimplementasikan karena pekerjanya memiliki passion di bidang seni.

Untuk dosen pun passion dan purpose ada. Terkadang ada yang passionnya mendidik/mengajar, memberikan motivasi, dan arahan-arahan di depan kelas/diskusi, sementara jika dipaksa menulis, sulitnya bukan main. Sebaliknya tidak jarang dosen yang passionnya meneliti, dan ketika mengajar, murid bukannya tambah paham malah sakit kepala. Di Jepang pembagian dosen sesuai passionnya sudah berlaku [link], apakah Indonesia akan mengikuti? Saat ini dosen dipaksa selain mengajar juga meneliti dan melakukan pengabdian kepada masyarakat agar ilmunya bermanfaat.

Bagaimana dengan mahasiswa? Mahasiswa pun banyak passionnya, ada yang memang ingin murni belajar, alias ‘kupu-kupu’ – kuliah pulang-kuliah pulang. Tapi ada juga yang passionnya berorganisasi, aktif di ukm, organisasi kemahasiswaan, atau main musik, ke mana-mana bawa gitar. Tapi jangan lupa purpose ya, mengingat SPP harus tetap dibayarkan, sayang kalau tidak lulus. Ketika lanjut di dunia kerja jangan lupakan keseimbangan passion dan purpose.

Belajar AI dengan AI

Ada dua kubu pengertian AI yang terkenal yakni Russel [link] dan Elaine Rich [link]. Russel mendefinisikan 4 kuadran AI yakni think rationally, act rationally, think humanly, dan act humanly. Sementara Elaine Rich bersikukuh bahwa AI adalah bagaimana membuat komputer cerdas tetapi saat ini masih kecerdasannya di bawah manusia. Maksudnya adalah ada batas dimana ketika manusia sudah dikalahkan maka sudah tidak disebut AI lagi. Misalnya catur, ketika Kasparov di tahun 94 dikalahkan oleh Deep Blue buatan IBM, maka catur menurutnya sudah bukan AI lagi. Sama dengan permainan GO yg manusia sudah tidak bisa menang lagi melawan komputer. Silahkan percaya yang mana, tetapi yang kedua sepertinya sudah mulai terasa saat ini, yakni kekhawatiran AI mengalahkan manusia. Untuk think dan act rationally, okelah, tetapi jika think dan act humanly sudah dikalahkan AI, wah bisa repot. Saat ini penolakan mulai menghantui aplikasi AI, misalnya ChatGPT [link]. PBB pun sudah mewanti-wanti [link].

Tentu saja ibarat pisau yang bisa dipakai untuk kejahatan maupun kebaikan, ada baiknya bijak menggunakan AI. Misalnya memanfaatkan AI untuk belajar AI, salah satunya adalah ChatGPT. Aplikasi ini sangat praktis dalam belajar memrogram AI, atau setidaknya tidak hanya teori melainkan mempraktikannya secara langsung. Kita bisa belajar bagaimana AI diterapkan pada aplikasi Web yang saat ini ada, misalnya menambah ChatBot, similarity check, sistem rekomendasi, dan lain-lain. Tentu saja kemampuan menyisipkan AI di server web, misalnya PHP, DotNet dan sejenisnya. Selain pada Web, aplikasi desktop dan mobile sangat perlu juga diketahui bagi yang ingin belajar AI dasar, langsung praktik dan tidak hanya teori saja. Lintas platform pun dengan mudah dapat dilihat dengan hasil yang dapat dilihat langsung.

Dengan kecepatan membuat AI saat ini, kita hanya fokus ke bagian utama dari disain AI yaitu value. Beberapa hal yang ‘menjengkelkan’, ‘membosankan’, dan membuat ‘gundah’ masyarakat merupakan salah satu sasaran dari dibuatkannya AI. Hal-hal tersebut dapat dicapai dengan efisiensi, efektivitas, kecepatan, akurasi, dan kemudahan-kemudahan lainnya. Analisis dan diagnosis kesehatan bisa cepat dan murah, manajemen jadi tepat, dan lain-lain.

Masalahnya adalah standard untuk AI, seperti ISO, dan sejenisnya saat ini masih dalam tahap istilah, terminologi, dan lain-lain. PBB pun masih hanya masih berupa pertemuan untuk inisiatif-inisitaif seperti “The United Nations AI for Good Global Summit.”. Untungnya tiap domain implementasi, seperti pada kedokteran, transportasi, edukasi, dan lain-lain sudah punya standar yang dapat dipakai untuk membatasi penggunaan AI yang berlebihan.

Sebelum adanya kesepakatan, ada baiknya kita tetap memanfaatkan AI untuk hal-hal baik, salah satunya untuk belajar AI denga bantuan AI. Sekian semoga bermanfaat.