Empat Tahunan Studi Doktoral

“I confer upon you a degree of doctor of philosophy”. Ketika rektor mengucapkan kalimat tersebut, selesailah sudah kuliah saya di kampus tua itu. Kampus yang dibentuk ketika perang dingin USA dan Rusia berlangsung di tahun 1959. Selama lima tahun kurang 3 bulan saya lalui di kampus yang terkenal sulit dan lama lulusnya, terutama di jurusan keras Computer Science and Information Management (CSIM).

Kisruh Saat Kedatangan

Awal perkuliahan di awal Agustus menyulitkan proses administrasi dengan pemberi beasiswa (DIKTI) yang mewajibkan penerima beasiswa (karyasiswa) menghadiri pembekalan pra keberangkatan di bulan September. Sepertinya DIKTI menyamakan dengan kampus dalam negeri yang perkuliahan dimulai pada bulan September. Terpaksa harus balik lagi ke Indonesia untuk mengikuti acara tersebut.

Masalah lain yang rumit adalah pembayaran biaya kuliah. Masalah ini muncul karena seperti biasa, DIKTI agak telah beberapa bulan dalam pencairan. Walaupun Guarantee Letter (GL) DIKTI sangat ampuh, repotnya ketika berangkat GL belum jadi. Setelah bolak-balik ke bagian pendaftaran (registry), akhirnya masalah daftar ulang beres.

Course Work Problem

Setelah masalah daftar ulang beres, ternyata muncul masalah baru yaitu nilai MID perkuliahan (course work). Beda dengan Jepang yang menganut S3 dengan riset (by research), AIT menganut course work + research. Jadi perkuliahan diwajibkan sebelum riset. Repotnya karena harus balik lagi ke tanah air, nilai mid semester berantakan, dan efeknya merembet ke nilai akhir. Padahal syarat boleh riset, IPK (GPA) minimal 3.50.

Problem Kandidasi

Kandidasi adalah sidang yang harus diikuti oleh mahasiswa doktoral yang ingin melanjutkan ke tahap berikutnya setelah tahap course work yaitu, tahapan riset. Program doktoral di AIT adalah “the highest degree in AIT that shows academic and research achievement”, seperti dikatakan oleh wakil rektor ketika acara wisuda. Maka mahasiswa doktoral dituntut bagus dalam perkuliahan (akademik) dan riset.

Problem Syarat Publikasi

Walaupun tergolong pintar, beberapa mahasiswa doktoral di kampus sulit menembus jurnal internasional. Selain waktu yang tidak jelas, kriteria lolos atau tidaknya sangat ketat dan subyektif. Dosen pembimbing hanya bisa mengarahkan saja dan tidak bisa berbuat apa-apa ketika siswa bimbingannya ditolak terus oleh pengelola jurnal. Akibatnya banyak yang pulang dulu beberapa tahun menunggu naskah yang akan dipublikasi diterima salah satu editor jurnal.

Jika sudah, maka syarat terakhir adalah pengecekan disertasi oleh profesor external sebelum sidang terbuka. Syarat ini tidak begitu rumit karena waktu pembuatan yang bisa diprediksi oleh mahasiswa. Berbeda dengan jurnal yang lama prosesnya tidak jelas, dari beberapa bulan hingga kalau sial bisa beberapa tahun.

Dan yang dinanti-nanti oleh pelajar, yaitu wisuda, akhirnya bisa dilalui jika publikasi selesai. Toga ber-strip tiga pun berhak dipakai. Akhirnya tinggalah kenangan dari seorang alumni. Sekian, semoga bisa menginspirasi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s