The Power of One

Istilah Big Data muncul bersamaan dengan perkembangan hardware dan software, termasuk media sosial seperti facebook, twitter, tiktok, instagram, dan sebagainya. Secara sederhana, Big Data dengan konsep volume, velocity, veracity, dan variety, merupakan kumpulan data yang tidak mudah disimpan dalam penyimpanan konvensional [link]. Untuk mengolahnya butuh piranti yang kuat (super computer), dan beberapa software seperti Matlab memperkenalkan konsep pemrosesan Tall Array [link], dimana untuk uji coba digunakan data sederhana, setelah ok baru data yang besar agar ketika testing tidak memberatkan kinerja komputer.

Sebenarnya konsep big data adalah data yang buruk lebih baik dari pada tidak ada data. Namun, jika kurang pandai mengelola data dapat dipastikan hasil kurang relevan, tidak akurat atau tidak bermakna. Jadi Big Data memerlukan satu komponen lain yaitu Algoritma, dimana saat ini penerapannya disertai dengan Artificial Intelligence. Dengan algoritma yang tepat disertai pemrosesan paralel, pengolahan Big Data jadi lebih mudah dan cepat.

Bagaimana dengan “brainware”? Dalam hal ini adalah manusia. Berbeda dengan komputer yang bisa dijalankan secara paralel, kita sebagai manusia ternyata tidak sanggup paralel. Istilah multitasking sebenarnya bukan bersamaan secara paralel melainkan berganti-ganti secara cepat. Repotnya, tiap berganti memerlukan delay yang secara total mengurangi performa. Bahkan ada psikolog yang meneliti ketika mengerjakan suatu tugas psikis, jika sering diinterupsi, kerap terjadi error/kesalahan. Peneliti lain menghasilkan informasi adanya penambahan waktu sekitar 30% jika dua aktivitas dilakukan secara bersamaan dibanding secara serial satu kali finish dilanjutkan dengan aktivitas kedua hingga finish juga [link]. Namun untuk tugas tertentu seperti petugas McD yang menerima pesan sekalian melakukan pembayaran lebih menguntungkan dengan orang yang sama mengingat penambahan waktu 30% tapi menurunkan membayar petugas yang terpisah.

Untuk melatih the power of one sederhana, kerjakan satu aktivitas satu saja, hilangkan gangguan seperti notifikasi, berita yang tiba-tiba muncul di browser, youtube kesukaan, dan sejenisnya. Kemampuan untuk ‘bersikap bodo amat’ terkadang perlu [link], maksudnya adalah menyingkirkan yang tidak penting. Sehingga kemampuan ‘mengupas’ hal-hal yang tidak perlu hingga yang tinggal adalah hal yang perlu dikerjakan, dijamin tugas akan selesai. Prinsip the power of one ini merupakan awal dari prinsip ‘do less and obsess’ konsep yang mendorong seseorang untuk fokus pada hal-hal yang benar-benar penting dan mendalam daripada mencoba melakukan terlalu banyak hal dengan sekali waktu.

Orang pun senang dengan the ‘power of one’. Manakah yang lebih Anda sukai, berdialog dengan orang yang kerap membaca notif dari HP dengan orang yang fokus mendengarkan dan merespon pembicaraan dengan Anda. Sekian, semoga bermanfaat.

Jangan Lupa Evaluasi

Anda sakit? Anda baik-baik saja? Jika pertanyaan itu dialamatkan ke Anda, apa yang Anda jawab? Mungkin Anda menjawab baik-baik saja, hanya sedikit kolesterol dan kadang magh kambuh. Begitu juga terhadap institusi Anda, mungkin menjawab dengan hal yang sama, misal bisnis lancar, mahasiswa baru masih ada tiap tahun, masih untung, dan sejenisnya.

Dari kecil saya hidup di utara Jakarta, tepatnya tanjung priok. Kehidupan yang keras dimana sumpah serapah sudah biasa. Keponakan saya yang masih kecil waktu itu pun kalau sedikit tersinggung langsung keluar kata ‘anjing’. Uniknya ketika idul adha, melihat kambing lewat dia langsung teriak, ada .. anjing.. ada anjing.. nah lho. Ketika kondisi lagi error, wilayah tempat tinggal saya menjadi tempat pertarungan antar geng, karena lokasinya yang tak tersentuh aparat keamanan. Pernah saya dan teman kecil saya tebak-tebakan di mana tetesan darah yang berceceran di jalan berhenti.

Selang beberapa waktu, saya harus SMA ke Jogja, karena diajak kakak yang kuliah. Jaman itu merupakan jaman yang tidak bisa dilupakan karena masih bermain surat dan sekali saya menerima wesel. “Rahmadya, segera ke tata usaha”, pemberitahuan dari pengeras suara sekolah. Siang itu saya menghadap TU dan diberikan secarik wesel. Untungnya di depan sekolah ada kantor pos, langsung saja ke sana. Sesampainya di sana, petugas melihat wesel, entah apa yang dia lakukan, selanjutnya memberikan uang sesuai dengan jumlah yang tertera. Ya, uang bulanan ternyata dikirim via wesel, waktu itu tahun 1992. Setelah itu karena bank sudah menjamur, kiriman beralih lewat bank. Tapi jangan salah, tidak seperti sekarang yang ada ATM, waktu itu harus ke teller hanya sekedar cek apakah ada kiriman masuk. Agar tidak malu sama teller karena dateng Cuma ngecek isi rekening, biasanya saya dan kedua kakak saya bergiliran ke teller di hari yang berbeda, he he.

Saatnya liburan merupakan hal yang membahagiakan. Dengan naik kereta senja yogya gambir saya tiba dengan lelah, mengingat kereta jaman dulu yang banyak berhenti, tidak seperti sekarang. Baru saja sampai, saya terkaget menghirup udara Jakarta yang tidak senyaman Yogya. Keponakan saya langsung menyambut,”om bandit .. om bandit”. Dalam hati kenapa dia memanggil nama saya bandit, mungkin sulit lidahnya. Untuk menyegarkan badan, saya langsung mandi. Alangkah terkejutnya ketika air PAM dari ledeng menerpa tubuhku. Tidak seperti air di kampung yang menyegarkan, air PAM malah bikin berkeringat. Dalam hati saya berfikir kenapa saya betah tinggal di daerah ini ya bertahun-tahun.

Cerita di atas hanya mengilustrasikan bahwa kita terkadang merasa hal-hal aneh, kurang wajar, kurang sehat, dan lainnya adalah hal yang biasa karena sudah bertahun-tahun menikmati hal tersebut. Ibarat menderita sakit yang lama, jadi tubuh menganggap itu bukan penyakit. Para nabi, juru selamat, dan orang tercerahkan lainnya sejatinya hanya menyadarkan kita akan penyakit yang kita alami. Begitu juga di tempat kita bekerja, karir kita, dan sekitar kita. Terkadang baru sadar ketika terjadi hal-hal yang di luar dugaan seperti jumlah mahasiswa menurun, karyawan baik pindah ke pesaing, adanya kerugian, bahkan kebangkrutan hingga terpaksa dijual.

Petenis juara dunia pun masih membutuhkan pelatih yang membantu menyadarkan kalau servis masih ada kelemahan. Bahkan juara dunia catur pun membutuhkan pelatih yang kalau diadu, si pelatih itu tentu saja kalah. Jadi, mintalah bantuan orang untuk mengevaluasi diri, organisasi, tim, dan lain-lain. Sekian, semoga menginspirasi.

Passion & Purpose

Passion

Passion artinya mengerjakan sesuatu sesuai dengan minat kita, misalnya bermain musik, olah raga tertentu, mengajar, dan lain-lain. Biasanya aktivitas tersebut dilakukan dengan senang hati, tanpa paksaan. Waktu pun terasa berlalu tanpa disadari. Banyak yang menganjurkan kita bekerja mengikuti passion kita, bahkan oprah winfrey, salah satu acara di tv amerika menganjurkan itu. Namun benarkah?

Sesuai dengan artinya, passion menuntut adanya kepuasan batin yang diterima. Jadi arahnya dari luar menuju ke dalam diri. Apakah bermanfaat bagi orang lain? Tentu saja belum tentu. Terkadang seseorang yang hanya mau bekerja sesuai passion akan mengalami kondisi serba kekurangan, bahkan cenderung menjadi pengangguran.

Purpose

Kutub ekstrim lainnya adalah purpose, yang artinya bekerja dengan tujuan tertentu. Biasanya menghasilkan kontribusi ke pihak lain. Arahnya berlawanan dari passion, purpose dari dalam ke luar. Jika tanpa passion, purpose berarti bekerja sesuai dengan tuntutan, kebutuhan, guna memberikan kontribusi ke pihak/orang lain. Terkadang yang dikerjakan tidak sesuai dengan minatnya. Biasanya fokus ke hasil, kalau bekerja ya gaji. Jadi mana yang tepat? Kutub passion atau kutub purpose?

Keseimbangan Passion & Purpose

Jim Carry ternyata mempunyai ayah yang tidak berbeda dengannya, yakni suka melucu. Tetapi demi menghidupi keluarga ayahnya bekerja sebagai akuntan, dengan gaji kecil. Dan Jim Carrey pun tidak ingin seperti ayahnya. Passion melucu tetap dia implementasikan sesuai dengan purpose, yaitu lewat acting di film, stand up comedy, dan lain-lain yang tentu saja menghasilkan profit. Ternyata passion bisa diimplementasikan dalam bekerja, setidaknya dalam hal-hal tertentu. Seorang pembuat roti, bisa saja memberikan kemasan indah, asesoris, dan disain roti yang diimplementasikan karena pekerjanya memiliki passion di bidang seni.

Untuk dosen pun passion dan purpose ada. Terkadang ada yang passionnya mendidik/mengajar, memberikan motivasi, dan arahan-arahan di depan kelas/diskusi, sementara jika dipaksa menulis, sulitnya bukan main. Sebaliknya tidak jarang dosen yang passionnya meneliti, dan ketika mengajar, murid bukannya tambah paham malah sakit kepala. Di Jepang pembagian dosen sesuai passionnya sudah berlaku [link], apakah Indonesia akan mengikuti? Saat ini dosen dipaksa selain mengajar juga meneliti dan melakukan pengabdian kepada masyarakat agar ilmunya bermanfaat.

Bagaimana dengan mahasiswa? Mahasiswa pun banyak passionnya, ada yang memang ingin murni belajar, alias ‘kupu-kupu’ – kuliah pulang-kuliah pulang. Tapi ada juga yang passionnya berorganisasi, aktif di ukm, organisasi kemahasiswaan, atau main musik, ke mana-mana bawa gitar. Tapi jangan lupa purpose ya, mengingat SPP harus tetap dibayarkan, sayang kalau tidak lulus. Ketika lanjut di dunia kerja jangan lupakan keseimbangan passion dan purpose.

Belajar AI dengan AI

Ada dua kubu pengertian AI yang terkenal yakni Russel [link] dan Elaine Rich [link]. Russel mendefinisikan 4 kuadran AI yakni think rationally, act rationally, think humanly, dan act humanly. Sementara Elaine Rich bersikukuh bahwa AI adalah bagaimana membuat komputer cerdas tetapi saat ini masih kecerdasannya di bawah manusia. Maksudnya adalah ada batas dimana ketika manusia sudah dikalahkan maka sudah tidak disebut AI lagi. Misalnya catur, ketika Kasparov di tahun 94 dikalahkan oleh Deep Blue buatan IBM, maka catur menurutnya sudah bukan AI lagi. Sama dengan permainan GO yg manusia sudah tidak bisa menang lagi melawan komputer. Silahkan percaya yang mana, tetapi yang kedua sepertinya sudah mulai terasa saat ini, yakni kekhawatiran AI mengalahkan manusia. Untuk think dan act rationally, okelah, tetapi jika think dan act humanly sudah dikalahkan AI, wah bisa repot. Saat ini penolakan mulai menghantui aplikasi AI, misalnya ChatGPT [link]. PBB pun sudah mewanti-wanti [link].

Tentu saja ibarat pisau yang bisa dipakai untuk kejahatan maupun kebaikan, ada baiknya bijak menggunakan AI. Misalnya memanfaatkan AI untuk belajar AI, salah satunya adalah ChatGPT. Aplikasi ini sangat praktis dalam belajar memrogram AI, atau setidaknya tidak hanya teori melainkan mempraktikannya secara langsung. Kita bisa belajar bagaimana AI diterapkan pada aplikasi Web yang saat ini ada, misalnya menambah ChatBot, similarity check, sistem rekomendasi, dan lain-lain. Tentu saja kemampuan menyisipkan AI di server web, misalnya PHP, DotNet dan sejenisnya. Selain pada Web, aplikasi desktop dan mobile sangat perlu juga diketahui bagi yang ingin belajar AI dasar, langsung praktik dan tidak hanya teori saja. Lintas platform pun dengan mudah dapat dilihat dengan hasil yang dapat dilihat langsung.

Dengan kecepatan membuat AI saat ini, kita hanya fokus ke bagian utama dari disain AI yaitu value. Beberapa hal yang ‘menjengkelkan’, ‘membosankan’, dan membuat ‘gundah’ masyarakat merupakan salah satu sasaran dari dibuatkannya AI. Hal-hal tersebut dapat dicapai dengan efisiensi, efektivitas, kecepatan, akurasi, dan kemudahan-kemudahan lainnya. Analisis dan diagnosis kesehatan bisa cepat dan murah, manajemen jadi tepat, dan lain-lain.

Masalahnya adalah standard untuk AI, seperti ISO, dan sejenisnya saat ini masih dalam tahap istilah, terminologi, dan lain-lain. PBB pun masih hanya masih berupa pertemuan untuk inisiatif-inisitaif seperti “The United Nations AI for Good Global Summit.”. Untungnya tiap domain implementasi, seperti pada kedokteran, transportasi, edukasi, dan lain-lain sudah punya standar yang dapat dipakai untuk membatasi penggunaan AI yang berlebihan.

Sebelum adanya kesepakatan, ada baiknya kita tetap memanfaatkan AI untuk hal-hal baik, salah satunya untuk belajar AI denga bantuan AI. Sekian semoga bermanfaat.

Sesederhana Mungkin

Banyak di antara kita yang ingin terlihat wah sehingga terkadang membuat kompleks sesuatu yang pada prinsipnya sederhana. Padahal Einstein sendiri pun mengatakan bahwa persamaan yang lengkap alias komplit itu jika sudah paling sederhana. Persamaan E=MC^2 itu pun sebelum dihasilkan persaman itu panjang pada awalnya. Namun demikian sederhana disini bukan menyederhanakan sesuatu, melainkan ya memang sederhana. Ada satu buku yang cukup baik untuk membahas bagaimana cara kerja yang efektif, judulnya ‘great at work’ [link].

Ada istilah multitasking, yaitu bekerja secara serempak/paralel terhadap beberapa pekerjaan sekaligus, mirip prosesor jamak (multiprosesor) terkini. Namun ternyata otak manusia tidak bekerja secara paralel, melainkan serial tetapi karena berpindah secara cepat, kesannya jadi dikerjakan secara bersamaan.

Buku tersebut unik karena berdasarkan riset lima tahun, dengan basis statistik. Tidak hanya menanyakan prinsip dari saran orang-orang sukses, melainkan survey terhadap kira-kira ribuan responden. Ternyata berpindah topik membutuhkan waktu adaptasi, jadi dua kegiatan dikerjakan sekaligus bisa memperlambat kerja hingga 20 persen.

Jadi yang baik ternyata adalah mengerjakan secara serial/sekuensial beberapa kegiatan. Bagaimana jika overload? Tentu saja tugas kita adalah ‘menyingkirkan’ hal-hal yang memang tidak penting atau tidak perlu dikerjakan. Dalam buku lainnya dikatakan ‘persetan’ dengan hal-hal ga penting itu [link].

Seperti prinsip Einstein di atas, list pekerjaan yang lengkap itu ternyata bukan ‘tidak ada lagi yang bisa ditambah’ melainkan ‘tidak ada lagi yang bisa dibuang’. Unik juga, ketika kita sudah membuang hal-hal tidak penting, maka ketika mengerjakan hal utama dan penting itu lah akan dihasilkan outcome terbaik.

Banyak hal-hal menarik lain yang bisa dipetik, seperti bagaimana kita menolak pekerjaan yang tidak penting yang oleh bos diminta untuk dikerjakan dengan memberikan alasan yang tepat. Karena kalau semua diterima dan kita kerjakan bersamaan, hasilnya tidak akan optimal. Jadi pilih satu kerjaan yang ingin anda kerjakan, buang semua gangguan seperti notifikasi HP, dan hindari gangguan lain, semoga bermanfaat.

Umur Panjang

Ketika ulang tahun, biasanya ada ucapan semoga panjang umur, atau setidaknya dari lagu yang biasa dinyanyikan, “panjang umurnya 2x .. dst”. Walaupun usia ada batasnya, ternyata panjang umur masih menjadi keinginan tiap umat manusia.

Ada sebuah buku berjudul “blue zone” yang membahas wilayah-wilayah di dunia yang memiliki penduduk dengan usia hidup mendekati 100 tahun, salah satunya adalah daerah okinawa di jepang [link]. Ada beberapa penelitian terhadap daerah itu baik dari sisi makanan yang diasup maupun gaya hidup yang dilakukan mayoritas warganya.

Ubi Manis

Berbeda dengan kentang yang biasa kita makan saat mampir ke restoran cepat saji, ternyata jenis kentang manis, alias ubi (sweet potatoe) ternyata merupakan komponen utama makanan di Okinawa, selain tentu ikan dan sayur mayur. Ternyata makanan yang mudah tumbuh di negara kita itu memiliki manfaat luar biasa, pengganti nasi yang cenderung negatif karena kandungan gulanya.

Ikigai

Nah, berikutnya adalah penelitian terhadap gaya hidup warganya, yaitu prinsip ‘ikigai’. Prinsip ini adalah prinsip setiap warganya ketika bangun di pagi hari, selalu ada hal-hal yang harus dikerjakan, diselesaikan, atau kewajiban lain. Salah satu penduduk yang diwawancara sudah pensiun sejak 80-an dan masih aktif hingga saat ini. Biasanya mereka berkebun, atau melakukan aktivitas lain, setidaknya berkunjung ke tetangga berapapun jarak tempuhnya.

Beberapa pensiunan di Indonesia banyak yang memiliki masalah ini, yaitu kaget ketika dipaksa berhenti bekerja dan bingung ‘mau ngapain lagi’. Dampaknya fisik terpengaruh, baik karena merasa tidak berguna, kesepian dan sebagainya. Terkadang walau belum pensiun pun banyak yang merasa tidak ada yang dilakukan, alias pekerjaan rutin saja setiap hari. Efeknya prinsip ikigai tidak ada dalam kehidupannya. Untuk Anda yg beragama Islam ada surat Al-Insyirah yang mengatakan jika telah mengerjakan sesuatu pekerjaan, lakukan pekerjaan lainnya. Ternyata ini juga masuk kategori ikigai.

Ada peneliti lain yang mengatakan karena posisi duduk di lantai warga okinawa sehingga memaksa mereka melatih kaki untuk bangun dari duduk di lantai. Sementara itu di eropa karena sebagian menggunakan kursi mengakibatkan para manula memiliki masalah di kaki yang kurang terlatih. Bahkan banyak kecelakaan yang menyebabkan meninggal karena jatuh dari posisi berdiri. Banyak juga yang menyarankan untuk yg jarang duduk di lantai (biasanya non muslim yang beribadah di kursi) agar sebelum mandi minum dahulu untuk menghindari jatuh di kamar mandi yang berakibat fatal karena sebagian besar benda di kamar mandi keras (marmer, beton, serta licin).

Emosi Negatif

Amarah ternyata berefek negatif jika disalurkan dengan saluran yang negatif juga. Karena bersifat menghancurkan objek yang menyebabkan marah. Tentu selain marah ada banyak emosi negatif yang merusak selain jiwa juga raga.

Dulu ketika saya melamar di satu kampus swasta di Jakarta ternyata saya ditolak karena ijasah S1 saya bukan ilmu komputer sehingga dianggap tidak mampu mengajar mahasiswa komputer. Jujur saja saya marah karena ijasah teknik mesin saya, walaupun dari kampus UGM, ditolak mentah-mentah. Amarah itu tidak disalurkan untuk balas dendam, melainkant tekat untuk membuktikan saya bisa menguasai bidang itu hingga ‘mentok’, alias doktoral [link].

Sebagai langkah awal saya melamar menjadi staf IT di bank Danamon, ternyata sanggup juga, walaupun ada kejadian server rusak akibat backup yang gagal di cabang pulogadung, cabang kaya yang karena itu dampaknya kehilangan 60 juta, waktu itu merupakan bilangan yang besar, mungkin kalau sekarang 180an juta. Uniknya, saya yang direkomendasikan dipecat oleh atasan, tetapi tetap dipertahankan oleh manajemen. Entah, mungkin karena sayang jarang ada pegawai yg berpengalaman merugikan 60 juta, hehe. Dan benar, saya berhasil merawat server-server di 30an cabang karena kapok kejadian itu terulang kembali.

Nah, ternyata energi marah yang disalurkan ke arah positif merupakan energi dahsyat yang menambah kekuatan mental. Sempat hampir DO karena nilai yang rendah, akhirnya bisa juga lulus duluan saat S3 di thailand. Banyak sekali kemarahan-kemarahan yg terjadi, misalnya rekan saya melaporkan, “Pa, tahu ga, kata pak ‘x’ bapak katanya bodoh”. Terlepas dari benar atau ngibul info teman saya, tetap saja saya arahkan ke hal yang positif, salah satunya prinsip Jack Ma, “jika Anda tidak bisa jadi yang terhebat, jadilah yang pertama”. Dan benar, saya selalu yang pertama, pertama kali serdos, s3, hingga beberap waktu lalu menjadi asesor LAM [link].

Jadi untuk Anda yang merasa banyak gagal, jangan takut, buat hari-hari Anda selalu aktif. Cari saja apa yang bisa dilakukan hari ini, besok, lusa, hingga 100 tahun ke depan. Konon ada seorang tua yang menanam kelapa ditanya, “pak untuk apa menanam, umur bapak kan belum tentu cukup untuk menikmati kelapa itu”, si kakek hanya tersenyum. Jangan-jangan anak muda yang nanya meninggal duluan karena si kakek menerapkan prinsip ikigai alias di Islam: ‘faidza farogtaa fansof’. Oiya, termasuk menulis tulisan di blog seperti ini bisa dijadikan aktivitas lho, sekian, semoga bermanfaat.

E-Reader: Kindle vs Android-Reader

Membaca merupakan aktivitas yang paling dibutuhkan kita semua, terutama pelajar dan mahasiswa. Saat ini sebagian besar bacaan kita dalam bentuk elektronik seperti medsos, email, WA, dan notifikasi lain di smartphone. Walaupun membaca, tentu saja jika membaca di smartphone atau laptop terkadang bisa juga dibilang bukan membaca, dalam artian membaca mendalam seperti membaca buku teks, novel, dan sejenisnya yang ratusan bahkan ribuan halaman, baik di perpustakaan maupun beli buku di toko buku.

Saat ini sudah marak beredar Portable Document Format (PDF) yang merekam buku dalam format elektronik. Selain itu tersedia pula e-reader untuk membacanya, baik berbasis e-ink maupun Liquid Crystal Display (LCD).

Dari laptop, smartphone, hingga table memberikan sensasi yang baik untuk membaca. Namun ada satu permasalahan penting yaitu karakteristik LCD yang memancarkan sinar ke arah mata, walaupun sudah tipe terkini, misalnya AMOLED. Anda seperti memandang sebuah lampu, tentu saja akan melelahkan walaupun saat ini ada fasilitas untuk menghilangkan sinar biru yang berbahaya.

Terus terang, hampir jarang saya membaca satu full buku lewat laptop maupun tablet. Kalau untuk satu atau dua paper jurnal mungkin bisa, dengan diselingi dengan break untuk beberapa menit. Ternyata mata memiliki screen time. Silahkan baca gangguan-gangguannya di [link].

E-Reader

Sekarang kita masuk ke E-Reader yang menggunakan teknologi e-ink. Teknologi ini bermaksud meniru cetakan kertas dengan tinta elektronik berupa elektron yang menempel di dinding screen. Ketika menempel, setelah daya dihilangkan, elektron tetap menempel seperti tinta pada kertas. Jadi, tanpa daya dan sinar dari alat kita dapat membaca print elektronik tersebut. Tentu saja seperti buku kita perlu sinar juga dari lampu, matahari, dan sejenisnya yang tidak mengarah langsung ke mata (hanya memantulkan). Ada juga fasilitas lampu ketika baca di kegelapan, tetapi lampu yang ada pada e-reader hanya menerangi cetakan elektronik saja. Berikut review saya di awal-awal penggunaan e-reader [link].

Kindle

Merk kindle terkenal karena bekerja sama dengan induknya yaitu Amazon yang menyediakan beragam buku elektronik. Aplikasi ini memiliki format sendiri yaitu MOBI, AZW, AZW3. Selain itu dapat juga membaca format lain seperti PDF dan EPUB (disediakan fasilitas untuk konversi).

Versinya cukup banyak, dari yang murah (biasanya tanpa pena) hingga yang mahal (disertai pena). Saya sendiri menggunakan versi menengah tanpa pena tetapi anti air dan sinar layar otomatis. Berikut ini ringkasan kesan selama beberapa bulan menggunakannya.

Plus: ringan, cepat, baterai tahan hampir satu bulan, handal (jarang crash). Minus: tidak ada text reflow untuk baca pdf, tidak ada suara, tidak bisa baca e-perpusnas, e-gramedia, novel (fizzo, dll).

Android-Based E-Reader

Jenis lain adalah versi e-reader dengan sistem operasi android. Tentu saja tidak semua aplikasi seperti game berat nyaman digunakan di alat ini. Namun untuk yang tidak perlu grafis tinggi dapat dijalankan seperti browser, email, dan sejenisnya. Sepertinya alat ini perlahan namun pasti menyalip pendahulunya, kindle. Saya sendiri memiliki alat ini merk meebook yang merupakan versi yang lebih murah dari merk terkenal onyx. Namun dengan harga yang hampir setengahnya memiliki fasilitas seperti pena stylus, sd card tambahan, casing, anti gores dan lain-lain. Berikut ringkasan setelah beberapa bulan penggunaan.

Plus: bisa beragam aplikasi, bisa email, wa, dan aplikasi lain di playstore, , ada suara (stel musik), dan ada piliha speed prosesornya. Minus: baterai yang cepat habis, agak berat, layar perlu diset kecerahannya. Harga lebih mahal dari kindle utk kemampuan yg sama.

Kesimpulan

Nah, untuk Anda yang ingin membeli e-reader, berikut rekomendasi saya. Jika Anda mengatakan e-reader itu ga berguna, ga kayak HP, tablet, dan sejenisnya. Atau tidak bisa main PubG, Mobile Legend, dan sejenisnya, tentu saja tidak sesuai dengan pembahasan kita semula.

Tadinya saya agak kecewa dengan kindle yang hanya bisa membaca buku dengan teks saja seperti novel dan buku lain yang dibeli di Amazon. Kalaupun baca PDF agak sulit karena harus di zoom mengingat device yang kecil. Tetapi setelah lihat di forum, ada aplikasi seperti k2pdfopt yang dipakai untuk merubah PDF standar menjadi format yang disesuaikan dengan ukuran e-reader disertai dengan aplikasi lain yang membuat table of content atau bookmark ternyata ok juga dipakai. Oiya, tentu saja bukan pdf hasil scanner. Dan yang saya surprise adalah saya hampir lupa kapan terakhir ‘ngecas’. Tiap lihat berapa % baterainya hampir selalu di atas 70%. Kindle saya yang walaupun disertai charger tanpa kabel nyaris tidak dipakai fasilitas itu, alias pake charger usb-c biasa saja. Saran saya jika Anda hanya ingin punya satu device saja, belilah kindle dengan pena stylus untuk kepraktisan pengganti buku catatan di rapat, kuliah, dan lain-lain. Jika hanya baca novel, kindle pilihan utama. Bahkan kindle saya yang 6.8 inch ternyata kegedean, harusnya beli yang 6 inch saja, bisa dimasukan ke celana (untuk cowok).

Untuk Anda yang tidak hanya baca buku teks, disarankan menggunakan e-reader berbasis Android. Karena di sini disertai dengan text reflow yang secara langsung mengkonversi pdf asli menjadi bentuk ukuran font yang sesuai dengan e-reader, tanpa mengkonversi dahulu lewat k2pdfopt. Walaupun kindle memiliki tools untuk konversi pdf ke MOBI sesuai ukuran e-reader ternyata untuk persamaan matematis, tabel, dan sejenisnya masih berantakan. Lihat teknik konversi EPUB ke MOBI [link]. Apalagi jika Anda ingin membaca novel online atau buku-buku dari perpustakaan (e-pusnas), google book, dan lain-lain. Tentu saja disarankan membeli dengan pena stylus. Agar praktis mencatat meeting atau kuliah. Ukuran pun sebaiknya di atas 7 inch agar mudah menulisnya. Anda jangan jengkel kalau seperti HP, e-reader ini perlu dicas. Tapi sebaiknya matikan saja wifi, bluetooth, dan atur sinar agar hemat baterai.

Tapi kalau Anda ingin punya keduanya, lebih baik lagi, seperti saya, Android untuk meeting dan Kindle untuk bacaan saat bepergian (mobile). Sekian, semoga bermanfaat.

Waktu Bagaikan Pedang

“Kamu tahu beasiswa yang di atas 40 tahun?”, kata rekan saat santai ngobrol sambil menikmati kopi. Karena lama tidak baca berita tentang beasiswa, tentu saja saya kaget, ternyata Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) mensyaratkan max 40 tahun. Dulu, di tahun 2013 ketika masih ditangani oleh Beasiswa Pendidikan Pascasarjana Luar Negeri (BPPLN) maksimal berusia 47 tahun, yang beberapa bulan sebelumnya 50 tahun. Sementara yang dalam negeri (BPPDN) maksimal 50 tahun. Dari undang-undang MENPAN sih 42 tahun. Tapi yang jelas di atas 40 tahun masih boleh.

Beberapa rekan saya yang dari awal memang ‘super’ karena lulusan perguruan tinggi ternama di Indonesia (masuk 10 besar), bahkan ada yang dari luar negeri, entah mengapa sepertinya terlena untuk melaksanakan studi lanjut ke S3. Keasyikan menjabat merupakan faktor utama, disamping keasyikan lainnya. Padahal waktu itu mereka belum menikah, alias belum ada hambatan untuk belajar lagi.

Dihapusnya BPPLN memang merupakan bencana terbesar bagi mereka yang menunda studi lanjut, karena penggantinya, LPDP mengharuskan penerima beasiswa anak-anak muda. Memang kalau dilihat di kondisi real, kebijakan tersebut ada benarnya. Ketika saya berangkat, beberapa rekan ‘penghalang’ sebagian besar dosen-dosen senior yang lebih tua usianya. Namun ketika sampai di kampus tujuan dan mulai kuliah, saya seperti Pak RT .. alias paling tua. Untungnya perawakan Indonesia terlihat lebih muda dari usia sesungguhnya, dibanding rekan-rekan asia timur yang wajahnya ‘boros’ .. alias lebih muda dari wajah yang terlihat.

Apa boleh buat, sebagian lanjut dengan mengandalkan biaya sendiri yang kian tahun biayanya bertambah. Dalam waktu 5 tahun saja, biaya S3 di kampus swasta ternama di Jakarta, biayanya hampir naik dua kali lipat. Memang ada stok untuk beasiswa tapi ya itu tadi, maks 40 tahun. Termasuk rekan-rekan saya saya mulai kesulitan karena kampus hanya memberi beasiswa per fakultas satu/dua orang saja. Ditambah ketidakpercayaan akibat 1 orang DO dan satunya lagi meninggal karena COVID. Tentu saja pelajaran berharga bagi kita agar tidak menghalangi rekan kita yang diberi kesempatan untuk maju.

Studi lanjut dengan tanpa mempertimbangkan secara matang pun bisa berbahaya, salah satunya adalah linearitas. Ada satu prinsip dasar yang dijelaskan oleh rekan yang juga kakak kelas saya yang profesor. Beliau menggunakan prinsip susu kopi. Misalnya jika S2 komputer dan risetnya komputer, kita anggap komputer sebagai kopi. Maka untuk menjadi guru besar dia harus menjadikan kopi sebagai bahan utama, misalnya kopi panas, kopi lathe, atau kopi susu. Jika dia lanjut di bidang non-komputer, misalnya pendidikan, maka dengan S2 komputer dan S3 pendidikan, maka tidak bisa dikatakan kopi sebagai bahan utama, karena yang dilihat S3 maka masuk kategori susu kopi. Jika ingin jadi profesor, maka seluruh riset harus berbasis susu, bukan kopi. Padahal riset-riset sebelumnya adalah kopi (komputer). Yang jelas di akreditasi, jika prodi yang akan diakreditasi adalah jurusan kopi, maka yang dapat nilai hanya kopi murni atau kopi susu, sementara susu kopi tidak ada nilai di akreditasi. Tapi jika Anda hobi belajar dan tujuannya menuntut ilmu, itu tidak bisa disalahkan.

Sekali lagi, untuk dosen-dosen muda, mengingat ketertinggalan kita dengan negara lain yang jumlah doktoralnya lebih banyak, sebaiknya segera berangkat. Di sini kata berangkat berarti studi lanjut di luar negeri, karena ada hal-hal tertentu di luar pendidikan/ilmu yang dapat dibawa pulang untuk kemajuan bangsa. Atau kalau mau di dalam negeri pun ok. Sekian, semoga menginspirasi.

Bersama Pa John, pewawancara DIKTI, saat acara reuni penerima beasiswa DIKTI (sekarang DIKBUD)

Pendidikan Tinggi Kita

Bulan Juli-Agustus merupakan bulan sibuk bagi orang tua yang anaknya akan melanjutkan ke bangku kuliah. Dimulai dari UTBK hingga ujian mandiri ditempuh calon mahasiswa agar mendapatkan pendidikan yang baik sebelum terjun ke masyarakat. Menteri pendidikan dan kebudayaan pun terus mengupayakan bagaimana cara meningkatkan kualitas pendidikan di tanah air. Deddy Corbuzier pun turut mengkritiknya.

Jikalau fokus pendidikan hanya menyediakan tenaga kerja, ada benarnya video tersebut. Tapi jika mengikuti saran tokoh pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, ada banyak aspek pendidikan selain mensuplai tenaga kerja. Ada banyak prinsipnya, misalnya kemandirian, kebangsaan, inklusivitas, dan lain-lain yang bisa Anda googling sendiri.

Inklusivitas

Ketika mengajar AI, ada bab tentang etika AI, salah satunya adalah AI untuk semua. Konsepnya mengadopsi bidang lain karena AI merupakan bidang baru. Di sini baik AI maupun pendidikan tidak jauh berbeda dari sisi inklusivitas. Memang semua terkait, tidak hanya dilihat dari satu sisi. Misalnya sebuah perusahaan ketika merekrut pekerja hanya mengandalkan kepandaian, kecerdasan, keterampilan dan sejenisnya dapat dipastikan akan menerima pegawai dari kampus-kampus tertentu yang terkadang dari orang-orang yang mampu secara finansial. Misalnya Google atau industri IT membuka kampus yang kemungkinan tidak semua masyarakat bisa memasukinya berarti hanya mengambil orang-orang tertentu yang mampu saja.

Jadi kalau dari ujung (pengguna lulusan) sudah seperti itu, yang mungkin karena mereka butuh bersaing, sudah dipastikan ke bawah ujung-ujungnya anak-anak yang mampu saja dengan akses pendidikan yang baik. Lain cerita ketika perusahaan mencari pegawai untuk bersama-sama makmur, dengan keyakinan setiap orang punya hak yang sama memperoleh kehidupan layak, perlu diusahakan mendidik secara ‘gratis’ pegawainya di organisasinya.

Repotnya, saat ini dengan kampus negeri yang kian dituntut sebagai badan hukum, usaha mendapatkan dana perlu ditempuh. Kembali lagi keluarga yang mampu sudah pasti memiliki akses yang lebih baik, kecuali memang anak orang tak mampu yang sangat super, yang kadang terjadi ketika diterima tidak mampu bayar uang registrasi. Kapasitas kursi pun kian menyusut, berbeda dengan jaman saya dulu (era 90-an) yang murah meriah.

Indonesia Emas 2045

Salah satu visi jangka panjang adalah di tahun 2045 pendidikan kita unggul. Jika dihitung dari saat tulisan ini dibuat berarti butuh 22 tahun. Jika pemimpin di masa itu yang ideal adalah usian 45-50 tahun, maka generasi yang berusia 20 sampai 30 akan memimpin besok. Jadi, bukan SD, SMP, dan SMA, yang mendesak adalah mahasiswa. Tentu saja tidak mengecilkan arti pendidikan dasar dan menengah, tapi yang urgen adalah memang usia mahasiswa, karena jumlahnya di tahun itu adalah yang terbanyak (dibanding manula dan balita/remaja). Tanpa adanya usaha, mereka yang harusnya jadi tenaga pendorong, bisa jadi beban.

Jika Anda percaya 100% video di atas, maka Anda menyerahkan pimpinan ke generasi yang belajar otodidak, lewat apapun, tanpa perlu kuliah. Kalau pun itu berhasil, ibarat judi/gambling, karena tanpa adanya usaha/treatment resiko sangat besar. Manusia yang beragam seolah dikerucutkan jadi sejenis, misalnya extrovert saja, yang jago ngomong, buat podcast, stand up comedy, dan hiburan lainnya. Ada sepertiga hingga setengah dari total manusia adalah introvert (menurut buku Quite karya Susan) yang lebih tekun, detil, dan tidak menyukai keramaian.

Jangankan level dunia, di Asia Tenggara saja, misalnya dosen IT di Indonesia yang doktor IT hanya 4%, jauh dibandingkan Malaysia yang 90-an%. Kampus swasta, apalagi level menengah, saat ini kebanyakan mengalami kesulitan. Memang ‘menutup’ jurusan/prodi lebih mudah dari ‘membuka’-nya dengan ijin yang ketat. Jika memang dianggap salah kampus itu sendiri, jangan salahkan juga jika dosen-dosen yang berkualitas mengajar/bekerja di luar negeri. Semoga tulisan menjelang peringatan hari kemerdekaan ini bisa menginspirasi.

Membuat File EPub

Selama ini kita mengenal Pdf, Docx, dan file yang digunakan untuk mengelola dokumen atau dikenal dengan nama word processing, berbeda dengan Excel yang spreedsheet. Jika Anda penggemar Ebook, baik yang beli dari Kindle Amazon atau download dari internet, terkadang menemukan file ebook ber-ekstensi Epub, singkatan dari Elecronic Publication.

Ada banyak software free untuk membuat atau mengelola file EPub, antara lain Calibre, Kindle Create, dan lain-lain. Mungkin Anda masih suka membaca file Pdf, tidak ada salahnya mencoba membaca lewat e-reader dengan format EPub yang dengan Kindle secara otomatis dikonversi menjadi MOBI atau AZW.

1. Calibre

Aplikasi ini merupakan konverter dari docx atau pdf menjadi file EPub atau MOBI. Selain itu aplikasi ini bisa menyimpan langsung ke piranti kindle dengan cara menghubungkan via kabel USB to USB C laptop/komputer.

Dengan Calibre, aplikasi yang kita tambahkan Cover akan muncul secara cantik di pustaka Kindle cover tersebut (bukan hanya nama pustaka). Hanya saja aplikasi ini hanya converter, jadi jika ada format tertentu yang sedikit ‘mleset’ kita tidak dapat merubahnya.

Setelah disave, file EPub bisa juga kita upload lewat aplikasi send to kindle. Secara otomatis, akan dikonversi menjadi file Kindle (MOBI/EZW).

2. Kindle Create

Berbeda dengan Calibre yang hanya mengkonversi Pdf atau Docx ke EPub, Kindle Create bisa menjadi alat seperti MSWord, yakni mengetik buku elektronik selain hanya alat untuk konverter. Software ini pun free untuk didownload.

Mungkin salah satu kelemahannya adalah file yang akan dikonversi harus doc atau docx. Tentu saja hal ini karena fungsinya adalah untuk mengetik tulisan baru. Silahkan explore sendiri fasilitas-fasilitas yang ada, termasuk melihat tampilannya di Kindle.

Oiya, kenapa perlu e-reader? Silahkan lihat post yang lalu, cocok untuk yang gila membaca dan sayang dengan mata Anda.

Agustus .. Bulan Kemerdekaan

Satu hal yang pasti ada di bulan Agustus adalah umbul-umbul yang didominasi warna warni dan bendera merah putih, pertanda mulai dimeriahkannya tujuh belasan. Acara yang menjadi ritual di Indonesia, dari perlombaan, makan-makan, konser rakyat, hingga pembagian hadiah, khususnya panjat pinang.

Terlepas dari itu semua, ada baiknya kita membaca buku tentang perjuangan kemerdekaan bangsa kita, khususnya dari tokoh-tokoh pendiri bangsa. Karena orde baru yang sangat anti orde lama yang kebetulan bung Karno saat itu pemimpinnya, mau tidak mau peran bung Karno agak diredam. Buku-buku nya sangat jarang beredar. Membacanya pun sedikit hati-hati dan diam-diam.

Namun di Era Gus Dur dan Megawati, mulailah bacaan-bacaan karya bung Karno bebas beredar. Ternyata tulisan-tulisannya membuat kita bisa merasakan suasana era ketika beliau menulis itu. Biasanya berupa tulisan singkat, famplet yang diedarkan, berita di surat kabar, surat ke rekan sesama pejuang, hingga memang tulisan khusus tertentu yang akan dibuat menjadi buku. Selain di era sebelum merdeka yang kebanyakan di jilid 1 buku dibawah bendera revolusi (waktu itu memang dibawah ditulis ‘di’ menyambung dengan ‘bawah’), jilid 2 didominasi ketika Sukarno menjadi presiden dan dalam perang kemerdekaan. Saya memiliki buku asli jilid 1 warisan dari bapak saya yang ‘marhaen’, dan sudah saya baca hingga tuntas. Jilid 2 baru saya baca dan lebih ‘mengerikan’ lagi sikap Belanda. Maklum, negara pimpinan ratu Wilhelmina itu sedang ‘lapar-laparnya’ akibat penderitaan perang dunia 2, ditambah statusnya yang sebagai pemenang perang, membuat sedikit arogan.

Jika pada jilid 1 sebagian besar berisi pujian kepada pejuang-pejuang yang sama-sama bahu membahu seperti bung Hatta, Rasuna Said (yang ternyata seorang perempuan), dan lain-lain, pada jilid 2, bung Karno harus melawan serangan dari bangsa sendiri selain Belanda yang mencoba menjajah kembali, yang beliau sebut pemakan bangkai saudara, penjual bangsa, dan sebagainya. Maklum, kondisi sedikit berbeda dengan era sebelum perang dunia 2, penjajahan Jepang sangat membuat rakyat tidak berkutik, apalagi embargo Belanda yang bahkan sempat mem-bom kapal bantuan ke Indonesia, yang disebutnya ‘tidak sengaja’. Bahkan saking marahnya beliau mewanti-wanti jangan jadi bangsa kambing yang hanya mengembik saja.

Beberapa perjanjian yang pernah kita pelajari di buku sejarah ternyata hanya kulitnya saja, misalnya bagaimana perjanjian Linggar Jati ternyata ketika ditanda-tangani oleh kita, ternyata hanya ‘diparaf’ oleh wakil Belanda sehingga perlu tanda tangan resmi lagi di negeri kincir angin tersebut, setelah rapat di dewan sana. Uniknya, Indonesia sempat mengirim bantuan pangan ke India yang di tahun ’46 mengalami kelaparan.

Dulu saya pernah berfikir, bangsa kita adalah bangsa yang pemaaf. Dijajah portugis, spanyol, inggris dan belanda tapi tetap bersahabat baik saat ini seolah-olah tidak pernah ada pertikaian sebelumnya. Tapi sepertinya karena kita mungkin melupakan pesan bung Karno: “jangan sekali-kali melupakan sejarah”. Ya, sejarah yang ditutup-tutupi plus mungkin budaya membaca dan critical thinking kita yang perlu diasah menjadi penyebab hal itu. Oke, jika kita memaafkan mereka, tetapi dengan membaca sejarah, kita jadi lebih menghargai generasi lampau yang dengan susah payah, luka dan bisa, hingga nyawa taruhannya, kepada pahlawan bangsa. Semoga di tujuh belas agustus ini, ditambah menjelang tahun politik, kian merapatkan persaudaraan dan persatuan Bangsa kita.

e-book Reader

Ketika berangkat kuliah saya pernah beli tablet Android yang lumayan keren, disertai pena stylus. Saat kuliah pun praktis tidak perlu membawa buku catatan yang berat. Selain mencatat bisa juga memotret tulisan di papan tulis. Salah satu yang tidak nyaman adalah dari sisi kesehatan mata, yang tidak bisa berlama-lama karena radiasi, terutama sinar biru, sehingga mata butuh limit untuk recovery, alias screen time. Bayangkan bagaimana perihnya mata ketika membaca ratusan halaman. Kalau cuma satu atau beberapa paper/artikel ilmiah sih tidak masalah tapi untuk yang buku, terasa juga di mata. Buku kertas saja sudah bikin mata ‘pegal’ apalagi buku elektronik/ebook.

Seperti biasa selepas ujian akhir saya pulang ke Indonesia. Di pesawat saya lihat bule cowok dengan kaos oblong antri masuk pesawat langganan, Air Asia. Sambil menunggu masuk terlihat dia membaca di alat mirip tablet yang berukuran lebih kecil dari tablet tetapi lebih besar dari handphone. Sepertinya beratnya tidak lebih berat dari smartphone. Yang uniknya, ketika dilihat ternyata seperti kertas buku. Waktu itu saya fikir mungkin itu hanya teknologi display yang menyerupak kertas dan tetap saja radiasinya berbahaya bagi mata.

E-Ink

Setelah lulus baru sadar ada teknologi yang saat ini sudah bebas Paten, yaitu E-Ink. Disebut bebas paten karena setelah paten sekitar tahun 95an berarti sekarang perusahaan bebas memakai paten yang sudah free tersebut. Berbagai vendor sudah berusaha memproduksi dengan teknik-teknik dan fasilitas baru yang memanjakan konsumen. Salah satunya adalah e-reader Android. Dahulu e-reader memang alat bantu Amazon untuk membaca e-book dengan produknya bernama Kindle. Namun, kelemahannya adalah tidak bisa membaca selain Amazon, seperti Gramedia Digital, i-pusnas, dan lain-lain.

Tadinya saya fikir ini merupakan versi sehat dari tablet dengan sinar yang ramah dengan mata. Tapi ternyata istilah e-ink adalah tinta yang berupa elektron statis di layar. Silahkan lihat video youtube ini jika ingin tahu prinsip kerjanya. Dalam kondisi tanpa daya pun tetap terlihat karena memang seperti tinta.

Selain bebas dari gangguan seperti notifikasi WA, email, dan godaan main game, membaca dengan e-reader mirip dengan membaca buku kertas. Bahkan seperti membawa perpustakaan di tangan. Karena prinsipnya seperti printing, tentu saja ada delay ketika refresh. Jangan harap bisa dipakai untuk main game, nonton film, dan sejenisnya.

Battery Life

Alat ini dibuat semirip mungkin dengan buku kertas, yaitu tidak terlalu membutuhkan daya/charge. Kindle yang saya miliki bisa seminggu baru dicharge jika dibaca terus. Kalau dibaca hanya untuk waktu luang tertentu saja bisa sampai sebulan. Kalau tablet karena ada OS yang memang bukan hanya untuk baca saja perlu membawa charger. Sangat merepotkan untuk orang yang suka bepergian. Saat ini untuk versi yang berwarna masih lumayan mahal, kira-kira dua kali lipat lebih mahal.

Untuk plus minus antara Kindle dan e-Reader Android (seperti gambar di atas) perlu pembahasan lebih lanjut. Tapi yang jelas, jika Anda tidak terlalu sering membaca maka membeli e-reader tentu saja mubazir, seperti banyak youtuber yang mengecam alat ini, yang membandingkan dengan tablet karena tidak bisa untuk ‘macem-macem’. Tapi untuk yang gila baca, silahkan dicoba ..

Krisis Doktor

Terkejut juga ketika mendengar rekan seperjuangan saya S3 di Thailand dikabarkan meninggal dunia. Masih muda, ketua program studi, usia tiga tahun di bawah saya. Yang sedang S3 pun tidak kalah beritanya, banyak juga yang telah pergi mendahului. Berita yang kian membuat para dosen-dosen baik junior maupun senior berfikir beberapa kali untuk lanjut kuliah ke jenjang tertinggi. Sebagai informasi, dari situs resmi pemerintah menunjukan dosen berpendidikan S3 masih seperempat dari dosen berpendidikan tertinggi S2.

Untuk berbicara di level dunia memang sangat sulit, bahkan di asia tenggara pun kita kalah dengan tetangga dekat (Lihat). Dibanding AS yang memiliki 9.850 per 1 juta orang, kita hanya 143 orang doktor/1 juta orang. Ok, lupakan semua itu, yang penting adalah bagaimana membuat semangat dosen-dosen muda kita kan.

1. Anggap saja Doktoral Main-Main

Sambil mendengarkan suara burung perkutut, sore itu seperti biasa saya nongkrong di warung kopi langganan para mahasiswa di tempat saya kuliah. Waktu ujian memang kurang menyenangkan karena wajah-wajah para mahasiswa tidak seperti biasanya. Wajah yang tegang, cemas, pasrah, dan sebagainya membuat kita ikut juga tertular. Termasuk rekan-rekan mahasiswa dari Indonesia. Namun beberapa ada juga yang santai, tidak terpengaruh hal tersebut.

Acara minum kopi merupakan sarana kumpul dan berbincang dengan teman seperjuangan. Terkadang solusi ditemukan saat itu, bukan saat duduk serius di meja belajar kamar. Bahkan solusi yang ‘strategis’ dan ‘illogical’ bisa muncul, yang bisa men-cut atau mem-bypass jalan menuju lulus. Nah, rekan saya merupakan mahasiswa jurusan mekatronika yang menurut saya cukup sulit, mengingat eksperimen membutuhkan alat-alat yang harus dibeli. Tidak seperti saya, eksperimen hanya menggunakan laptop subsidi kampus. Iseng saya bertanya, ‘sebenarnya yang dicari mahasiswa doktoral apa ya?’. Di luar dugaan, dia hanya menjawab riset S3 itu hanya main-main. Di sini main-main maksudnya adalah tidak serius. Jadi, jangan berfikir luaran S3 adalah paten, atau bahkan nobel prize. Walaupun kalau bisa ya hebat banget. Mirip pesan DIKTI ketika melepas para mahasiswa bahwa dana bagi negara kita sangat penting, jadi fokus saja lulus secepat mungkin. Bahkan beberapa referensi mengatakan bahwa disertasi kita seharusnya merupakan ‘tulisan terburuk’ kita. So, tulisan kita setelah lulus harus lebih baik lagi. Dan alasan berikut ini juga mendukung ‘main-main’ itu.

2. Paper Tidak bisa untuk naik Pangkat

Ini sedikit di luar nalar. Salah satu syarat lektor kepala ternyata paper yang bukan bagian dari disertasi. Banyak lulusan S3 yang sudah ‘kelelahan’ mengerjakan laporan dengan hasil paper ilmiah, ketika mau naik pangkat ditolak syarat khususnya karena bagian dari disertasi. Repot juga. Jadi info ini sangat mendukung point 1 di atas, alias ngapain serius banget kalau ujung-ujungnya harus riset yang 75% berbeda dari disertasi atau riset saat kuliah S3 dulu. Tapi, untungnya paper yang jadi syarat naik pangkat (syarat khusus) boleh jurnal nasional Sinta 2, tidak harus terindeks Scopus atau bereputasi, tentu saja khusus dosen yang sudah doktoral.

Kita sudah berbeda jaman dengan pendahulu-pendahulu kita, seperti di film Oppenheimer di jamannya mahasiswa doktoral adalah ‘ultimate’ ilmuwan yang bisa mendobrak jaman. Lanjut ke generasi berikutnya, jika Anda mengenal bahasa Rubi and Rails, itu merupakan karya disertasi mahasiswa S3, termasuk juga database no-sql ‘mongo-db’.

3. Santai

Berbeda dengan jaman dulu, justru saat ini mahasiswa tidak bisa santai padahal hiburan makin banyak, baik para ekstrovert, maupun introvert seperti saya tersedia juga hiburan. Orang jaman dulu mungkin hanya mengandalkan merokok sambil ngopi. Bahkan kabarnya mahasiswa di era 90-an yang kuliah di Thailand nonton McGyver di TV sambil mendengarkan radio karena di TV di dubbing bahasa Thailand, sementara bahasa Inggrisnya dari radio .. hehe. Ya, memang resikonya saya sudah beberapa teman kuliah dari negara lain mengatakan saya malas, tapi ya tetap santai, toh saya lulus duluan ujung-ujungnya.

Tanda Peringatan Dini Dari Artificial Intelligence

Tidak dipungkiri, Artificial Intelligence (AI) merupakan pendukung Industri 4.0. Manfaatnya sudah banyak terasa karena mempermudah pekerjaan manusia. Tapi berita berikut menunjukan hal yang lain, yaitu ‘warns of danger‘ dari AI.

Munculnya ChatGPT membuat Google khawatir, dan berusaha memasukan AI ke mesin pencarinya tersebut. Sebelumnya, kehadiran AI membuat dunia pendidikan sedikit kerepotan karena siswa terlihat cerdas secara instan, padahal meminta bantuan dari AI. Untuk plagiasi, saat ini sudah bisa dideteksi namun muncul kekhawatiran dari sisi penggunaan internet.

Mirip Alfred Nobel yang menemukan mesiu dan kecewa melihat dampak dari temuannya, ahli AI juga merasakan hal yang sama. Namun tidak dapat dicegah, “Jika saya tidak melakukannya, orang lain akan melakukannya,” kata Hinton, pionir kecerdasan buatan. Kekhawatiran merayapi banyak insider industri adalah bahwa mereka sedang melepaskan sesuatu yang berbahaya ke dunia. Kecerdasan buatan generatif saat ini bisa menjadi alat untuk penyebaran informasi yang salah. “It is hard to see how you can prevent the bad actors from using it for bad things,”, katanya lagi.

Ketika ChatGPT release, sekitar 1000 peneliti membuat moratorium agar perusahaan itu melakukan freeze terhadap pengembangan lebih lanjut. Gimana, Anda ikut pihak yang mana?

How to Fix ‘Zoom Failed to Save’ Issue

Ketika mengadakan acara via zoom terkadang ketika save ke local PC mengalami kegagalan. Salah satunya adalah ketika save zoom sebelumnya belum selesai sudah menyimpan yang baru. Namun jangan khawatir, postingan berikut ini mencoba share pengalaman yang terjadi menimpa saya yang sudah zoom 40-an menit (dibatasi karena gratisan).

When hosting an event via Zoom, sometimes there are failures when saving to the local PC. One of them is when trying to save a new Zoom session before the previous one has finished saving. However, don’t worry, the following post tries to share the experience that happened to me when I had been on Zoom for around 40 minutes (limited due to the free version).

Ok, buka lokasi zoom default, biasanya di /documents/zoom dan pastikan tanggal hari ini. Ternyata ada sekitar 500-an Mb yang minta dilakukan ‘double_click’ untuk mengkonversi menjadi file video/audio.

Ok, open the default Zoom location, usually in /documents/zoom, and make sure it’s the current date. Apparently, there are around 500 MB that need to be ‘double-clicked’ to convert them into video/audio files.

Setelah dobel klik, pastikan zoom mengkonversi menjadi file recording yang siap anda nikmati. Tunggu beberapa saat hingga selesai.

After double-clicking, make sure Zoom converts it into a recording file that you can enjoy. Wait for a few moments until it’s finished.

Akhirnya video bisa terekam dengan baik. Semoga postingan ini bermanfaat.

Finally, the video has been successfully recorded. May this post be useful.