Pilih Ibu Atau Istri ?

Siang itu saya sedang mengetik silabus dan RPP dalam rangka persiapan kuliah semester ganjil ini sebelum tiba-tiba dihentikan oleh messenger dari istri di HP saya. “Mas .. ada seminar bagus nih, tentang design hidup” – kata pesan itu. Terus terang saya baru dengar, “ada-ada aja?” – balasku via messenger. “Gimana sih ?” – balas isteriku. Biasa, emang begitu wataknya, mudah tersinggung. Mau nggak mau saya harus mengirim pesan, ya, pesan perdamaian. Sebab pertempuran bisa berlanjut di rumah. “Kayak the secret?” – tanyaku dengan nada ingin tahu. The secret adalah buku terkenal karya R. Byrne, yang berisi tentang kekuatan dari keinginan. “Ya, mirip, pembicaranya orang mesin lho,” – lanjutnya. Wah, tambah heran lagi saya. Tapi emang banyak orang mesin yang aneh-aneh kok, seperti saya ini, yang hobinya bukannya bongkar mesin, malah “Ngoding program” (walaupun mesin-mesin jaman sekarang, isinya coding semua).

Sampai di rumah pembicaraan berlanjut lagi, masih dengan topik yang sama. “Ya ampun”, – kataku dalam hati. “Mas waktu seminar, ada yang tanya ke pembicara seminar, seandainya ibu kita dan istri kita mau jatuh ke jurang, mana yang harus ditolong terlebih dahulu?”, – tanyanya. Tanpa pikir panjang, saya langsung jawab, “Ibu !”. Ya ampun, itu ternyata jawaban yang keliru menurut istri saya. “Salah mas, kata pembicaranya, ya, tolongin dua-duanya”,- katanya menjelaskan,”kan kayak the secret, kalo kita ingin, hal-hal yang mustahil bisa saja terjadi, seperti mukjizat, gitu lho”. Terus terang terjadi debat kusir, walaupun saya berikan dalil hadist nabi yang berisi bahwa ibu disebut tiga kali sebelum bapak, dalam hal penghormatan kita, selain ada pepatah/hadist bahwa surga di bawah telapak kaki ibu. Benar kata Iwan Fals, wanita itu, setan logika kalo berdebat. “Gimana sih !”, – katanya dengan nada jengkel, “Brak!!”, – suara pintu kamar mandi agak dibanting, saat ia ke kamar mandi.

Entah dapat ide dari mana, anak saya yang masih bayi berusia mau empat bulan, sengaja saya ajak ngomong, dengan nada yang agak keras agar terdengar oleh istri saya yang masih berada di kamar mandi. “Adik Dimas, besok kalo udah gede, jangan ngelawan ama orang tua ya”, -kataku. Anakku tentu saja tidak ngerti, malah senyum-senyum aja. “Apalagi sama Mama, udah ngandung sembilan bulan, udah gitu dibelek lagi waktu ngelahirin (cesar)”, – kataku, “Nanti kalo udah gede, misalnya mama ama istri mau masuk ke jurang, tolongin mama dulu ya”, -pintaku. Tiba-tiba istriku yang baru keluar dari kamar mandi nyerocos, “Tolongin dua-duanya dong”. Kali ini baru kena batunya dia, he he .. lain di mulut lain di hati. “Mama udah ngurus dede dari bayi sampe gede kok, istri, paling baru kenal beberapa tahun, masak sih sejajar?”,-kataku kepada si bayi. Kayaknya si dede setuju, terbukti saat itu juga “ee”, rasain. “Waduh .. kebagian ee-nya doang nih”, -kata istriku sambil menghampiri si dede lalu melepas pempersnya.


My Ngayojokarto Hadiningrat

Bas bis bus pisang rebus .. duit seratus gunung meletus .. Begitulah lagu anak yang pernah saya dengar waktu kecil dulu. Atau ketika disuruh Bu Guru menggambar, saya selalu menggambar gunung dan entah mengapa gunungnya dua buah (?). Saat pelajaran IPA juga disinggung bahwa gunung berapi mengeluarkan abu yang baik untuk kesuburan sedangkan Indonesia termasuk deretan gunung api Mediterania. Sempat juga terheran-heran saat tahun 80-an rumah berdebu akibat letusan gunung galunggung.

Kini sudah puluhan tahun berlalu dan di tempat kelahiran saya, Slemen Yogyakarta, satu-satunya gunung paling aktif di Indonesia menunjukkan tanda-tanda akan meletus. Yang paling ditakutkan dari gunung merapi adalah erupsinya berupa awan panas yang bergerak dengan kecepatan 100 km/jam dengan arah semaunya mengikuti arah angin. Uap panas itu dikenal dengan nama “Wedus Gembel” yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia “Kambing Pengemis”. Entah siapa yang pertama kali memberi nama itu.

Tahun 2006 yang lalu gunung merapi sempat menunjukkan aktivitasnya, tetapi sungguh aneh justru bencana gempa yang muncul. Kira-kira tiga hari saya berkunjung ke sana, menengok rumah peninggalan almarhum Kakek saya yang nyaris rubuh. Walaupun tidak terlihat adanya abu gunung merapi, tetapi terasa perih di mata saat kita mengendarai motor tanpa penutup mata.

Dari kurun waktu 1992 hingga 2001 saya tinggal di Yogyakarta dalam rangka sekolah dan kuliah. Tidak dijumpai adanya bencana baik gempa, banjir ataupun gunung meletus. Bahkan maling motor pun mulai muncul menjelang saya lulus. Selama sembilan tahun saya tinggal di Yogya, saya hanya sekali mengalami ban kempes, itu pun bukan karena paku, tetapi ban saya yang “botak”. Yang namanya paku di jalan itu dulu dianggap “aneh”. Mungkin orang yang beli paku di toko material terjatuh atau .. apalah. Tidak ada tukang tambal ban yang jahil atau iseng pengen tahu apa karmanya kalau menyebar paku di jalan. Penduduknya pun, kalau orang sekarang menggunakan mesin waktu pergi ke waktu tersebut, pasti dikatakan bodoh. Bodoh dalam arti kurang menghargai “uang”. Berbeda dengan sekarang .. jangan berharap bisa bertahan hidup tanpa uang di sana. “Ya iya .. lah”, mungkin itu kata yang kita ucapkan sekarang, tetapi dulu .. tanpa uang, di Yogya kita bisa hidup, mungkin Anda tidak percaya. Tentu saja hidup seadanya, bukan hidup untuk shoping di Malioboro yang waktu itu sudah mulai dibangun Mall, nonton di bioskop yang ada angka 21-nya atau yang ingin mengasah naluri pejantan tangguhnya, alias .. pacar di mana-mana. Teman saya yang bahasa Inggrisnya masih belepotan, tetap saja waktu itu nekat menjadi guide turis, atau yang punya motor, walaupun butut .. ngojek di Stasiun Tugu (kalo sekarang mungkin bisa digebuki tukang ojek aslinya). Yang otaknya rada-rada encer .. bisa “bantu” adik-adik kelasnya ngerjain tugas bahkan skripsi dengan “hadiah” seikhlasnya.

Itulah sekelumit pengetahuan saya tentang Yogyakarta, yang mungkin jika ditulis lengkap bisa berlembar-lembar halaman, dari kegemaran makan tongseng di Adisucipto, lucunya mendengarkan omelan Mbah Guno di radio (entah station radio apa saya lupa), hingga acara ketoprak humor di purna budaya UGM. Semoga bencana tidak terjadi lagi … damai … bahagia … berhati nyaman, dan Sleman-ku menjadi Sleman Sembada, seperti waktu itu.

AISHITERU


Menunggu sesuatu yang sangat menyebalkan bagiku
saat ku harus bersabar dan trus bersabar
menantikan kehadiran dirimu
entah sampai kapan aku harus menunggu
sesuatu yang sangat sulit tuk kujalani
hidup dalam kesendirian sepi tanpamu
kadang kuberpikir cari penggantimu
saat kau jauh disana
ooo…

*)
Gelisah sesaat saja tiada kabarmu kucuriga
entah penantianku takkan sia-sia
dan berikan satu jawaban pasti
entah sampai kapan aku harus bertahan
saat kau jauh disana rasa cemburu
merasuk kedalam pikiranku melayang
tak tentu arah tentang dirimu
apakah sama yang kau rasakan

reff:
walau raga kita terpisah jauh
namun hati kita selalu dekat
bila kau rindu pejamkan matamu
dan rasakan a a a aku
kekuatan cinta kita takkan pernah rapuh
terhapus ruang dan waktu
percayakan kesetiaan ini
akan tulus a a ai aishiteru

Bridge:
hapus sendiri pikiran melayang terbang
perasaan resah gelisah
jalani kenyataan hidup tanpa gairah
o…uo..
banyak segala misi dan ambisimu
akhiri semuanya cukup sampai disini
dan buktikan pengorbanan cintamu untukku
kumohon kau kembali

kembali ke *)

Gelisah

Wahai Pangeran . . .

Yang tinggal beralaskan rumput dan beratapkan langit

Izinkan aku singgah di istana kasih-Mu

Agar aku dapat menikmati bunga-bunga yang mekar di pagi hari

Dan Indahnya rembulan di malam hari

Wahai pemilik hati yang tenang . . .

Bujuklah hatiku yang bergejolak ini untuk ikut dengan-Mu

Agar tak terpengaruh oleh hiruk-pikuk kehidupan

Oleh berita-berita di media masa negaraku

Yang beraromakan kotoran ternak

Juga aroma piala dunia …

dari Messi, Ronaldo hingga goyang Shakira .. saat melantunkan

Tsamina mina e e ..Wa ka wa ka .. e e

……………………………

Sadarkan hamba saat hanyut

Arus Samsara yg tak berujung


Naga Yang Terluka

Seekor naga, ditakdirkan menaungi
Namun di saat ia belum matang
Tak ada yang harus dilakukan selain menunggu
Menunggunya membenahi diri

Seekor naga , lebih nyaman berada di langit
Jangan memaksa kakinya menginjak bumi
Bumi yang terasa aneh
Oleh tuntutan-tuntutannya yang melelahkan

Seekor naga yang telat, mungkin itulah sebutanku
Gerakan yang lambat, bagimu terasa dungu
Hidupnya yang kurang variasi, membosankanmu
Kadang tak peduli, cuek, dan sekehendak hatinya

Cibiran, cacian dan hinaan
Tak mempengaruhi “Aku”, tetapi “aku” sang naga tetap terluka
Ya, seekor naga yang terluka tetaplah naga
Duniamu pasti membutuhkan

dragon_and_sword