AI untuk Edukasi vs Produktivitas

Tugas ketiga dosen dalam Tridarma Perguruan Tinggi adalah pengabdian kepada masyarakat, yakni memberikan manfaat kepada lingkungan sekitar dalam bentuk karya atau kontribusi. Bentuknya beragam, mulai dari yang sederhana seperti pelatihan hingga produk yang diberikan kepada masyarakat. Salah satu bentuk yang relatif mudah dilakukan adalah webinar online.

Pada kesempatan ini, saya membahas topik digital aplikasi, di mana saya mendapatkan bagian tentang penggunaan AI untuk produktivitas dan pembelajaran. Ada dua sisi dari AI generatif yang saat ini berkembang, yaitu sisi yang menguntungkan dan sisi yang merugikan. Antara produktivitas dan pembelajaran sering kali terdapat perbedaan arah. Produktivitas menekankan pada kecepatan dan kuantitas hasil, sedangkan pembelajaran berfokus pada peningkatan kualitas pemahaman.

Bayangkan kita memiliki robot yang bisa diminta untuk berbelanja, sementara kita sendiri tidak bergerak. Jika hal ini terjadi terus-menerus, maka bisa berdampak pada kesehatan, seperti obesitas atau gangguan jantung. Hal yang sama juga berlaku pada AI. Jika terlalu bergantung pada AI, kemampuan berpikir manusia dapat berkurang karena tidak terlatih, mirip seperti otot yang melemah jika tidak digunakan. Hal ini terutama penting diperhatikan pada anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan.

Dari sisi Taksonomi Bloom, perlu strategi dalam memanfaatkan AI dalam pembelajaran. Pada level mengingat, hampir semua jawaban dapat dihasilkan oleh AI, namun sebaiknya tetap dilakukan secara manual seperti tulisan tangan, gambar, atau praktik langsung. Pada level memahami, perlu adanya wawancara atau diskusi untuk memastikan bahwa siswa benar-benar memahami materi, bukan sekadar menyalin jawaban dari AI.

Pada level menerapkan, diperlukan demonstrasi dan simulasi. Sementara pada level menganalisis, siswa perlu melakukan perbandingan dan praktik. Level evaluasi dan mencipta sebaiknya digabungkan melalui hasil yang dapat dipresentasikan atau didemonstrasikan. Khusus pada level mencipta, peran AI relatif terbatas sehingga lebih aman untuk penilaian.

Bahkan ada yang menyarankan untuk memberikan soal yang tidak dapat dijawab oleh AI, meskipun hal ini cukup sulit diterapkan terutama pada jenjang pendidikan menengah hingga S1/S2. Jadi cara praktis di atas bisa dicoba.

Dalam sesi webinar tersebut juga muncul pertanyaan tentang batasan AI. Terdapat sebuah cerita, ketika almarhum Prof. Iping pada pertemuan APTIKOM Jawa Barat menyampaikan bahwa pada saat India merdeka dari Inggris, Mahatma Gandhi mengumpulkan para pendidik untuk membahas konsep pendidikan ke depan. Terdapat empat hal yang perlu dilakukan:

  1. Mengajarkan materi sesuai dengan disiplin ilmunya. Artinya, matematika harus diajarkan sesuai standar global agar tidak tertinggal. Dalam konteks akreditasi, standar tertinggi adalah internasional, sehingga konten pembelajaran idealnya mengacu pada standar dunia. Namun dalam praktiknya di Indonesia masih terdapat tantangan, seperti keterbatasan dosen atau kesiapan mahasiswa. Gampangnya, ajari sesuai dengan materi yg memang seharusnya diajarkan. Jangan mengajar mata kuliah A, tapi isinya B, C atau D.
  2. Mengajarkan keterampilan untuk menghadapi masa depan yang belum diketahui. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan, sehingga perlu membekali mahasiswa dengan keterampilan seperti critical thinking, problem solving, dan kemampuan adaptasi.
  3. Mengajarkan keterampilan untuk kehidupan sehari-hari. Ilmu yang diajarkan harus relevan dan berguna, karena tidak semua mahasiswa akan bekerja sebagai karyawan; sebagian mungkin menjadi pengusaha atau berkarier di bidang lain.
  4. Mengajarkan keterampilan bermasyarakat. Di sini termasuk kemampuan empati, komunikasi, dan nilai-nilai kemanusiaan yang sangat penting dalam kehidupan sosial.

Untuk poin ke-2 hingga ke-4, AI memiliki keterbatasan dalam menggantikan peran manusia. Oleh karena itu, kita perlu memanfaatkan AI secara bijak agar tetap mendukung proses pembelajaran tanpa menghilangkan esensi pengembangan manusia.

Salam.

Tahan Banting

Informasi di media beberapa waktu ini hampir sama, memberitakan selat hormuz yang ditutup Iran. Kemudian kondisi negara-negara di dunia akibat tertutupnya selat itu dan berhentinya aliran minyak dan gas. Ada yang kelabakan, ada yang santai-santai saja, bahkan ada yang untung.

Beberapa waktu yang lalu, sebelum Amerika menginvasi Iran, Amerika juga sukses menginvasi Venezuella dan menangkap pemimpinnya. Namun ketika menyerang Iran, Amerika terkena batunya, karena menghadapi negara yang sangat resilien, alias tahan banting.

Sebulan berlalu tapi Amerika tidak berhasil menguasai, hanya bisa membunuh sang pemimpin tertinggi Iran. Negara adidaya tersebut malah merugi karena Iran dengan prinsip ekonominya menyerang dengan drone yang dipersenjatai rudal yang biayanya jauh lebih murah dari rudal pencegat Amerika Serikat.

Kita dihadapkan dua contoh, Venezuella yang kurang tahan banting, berbanding terbalik dengan Iran. Di sini bisa dikatakan Iran lebih tahan banting dibanding Amerika Serikat. Selain karena mampu menahan serangan, Iran juga mampu bertahan dari embargo ekonomi yang berlangsung hampir 40 tahun. Jadi ada variabel lain selain kecerdasan (IQ), teknologi, ipteks, dan sejenisnya, yakni ketangguhan atau resilien.

Ketika menghadapi krisis 98, negara kita bisa dibilang tidak tahan banting. Sementara ketika menghadapi krisis 2008, covid 19, kita bisa dibilang tangguh. Nah, krisis global saat ini apakah kita tahan banting juga? semoga.

Konsep ketahanan ini pasti bisa diterapkan di segala hal, misalnya pendidikan. Ada pesan yang agak aneh dari menteri kita agar jurusan yang tidak terserap industri agar dihapus atau ditutup. Nah, kalau memang tujuan pendidikan untuk jadi buruh, memang benar. Tapi hampir kebanyakan negara di dunia, perubahan tidak bisa diikuti dengan cepat, apalagi perubahan teknologi. Lalu bagaimana? caranya tidak ada yang lain selain belajar sepanjang hayat. Terlepas dari cocok atau tidaknya dengan kebutuhan industri, seorang anak yang lulus dari S1, S2, bahkan S3, sudah dipastikan telah menempuh perjalanan panjang yang menurutnya ‘berat’. Asalkan kampus atau sekolahnya benar, dipastikan si anak memiliki ketangguhan, setidaknya mengatasi hambatan dan mencapai tujuan. Jadi ujian atas akademiknya mungkin kalah penting dibanding ujian ketangguhan si anak dalam usahanya menyelesaikan pendidikan.

Yang pernah mengalami suka duka saat mengambil S3 pasti berbeda dengan yang belum atau tidak mengambil S3. Ada sesuatu yang sulit dinarasikan, apa perbadaan itu, selain tentu saja yang terlihat seperti gelar, naiknya tunjangan dan jabatan. Jadi ketika satu jurusan yang menurut si menteri tidak dibutuhkan dan diharapkan ditutup, ada lulusan-lulusannya yang tangguh akibat perjalanan panjang dalam menyelesaikannya, yang kemungkinan bukan menjadi buruh pabrik atau orang kantoran, mungkin menjadi pengusaha, petani sukses, guru spiritual, bahkan politikus besar.

Nah, bagaimana dengan ketidak adilan karena antara anak orang mampu dan tidak mampu yang kurang fasilitasnya? Sebenarnya secara alami, proses membentuk ketangguhan tidak ada hubungannya dengan itu. Seorang anak yang belajar di malam hari di lampu jalan yang berisik dan panas, jika tangguh, tidak ada bedanya dengan anak konglomerat yang fokus belajar di ruang ber AC dan nyaman.

Bagaimana dengan Gen Z saat ini? tentu saja tidak ada cara lain untuk berusaha meningkatkan ketangguhannya, walau ada kabar kalau IQ generasi ini adalah yang terburuk (katanya). Tapi tidak jadi soal karena yang menentukan kesuksesan si anak adalah ketangguhannya.