Beberapa hari yang lalu terdengar berita kisruh di kementerian diktisainstek, tidak tanggung-tanggung, antara menteri sendiri dengan bawahannya, yang kebetulan emak-emak. Entah kenapa kalau sudah berurusan dengan emak-emak, urusan jadi viral. Walau akhirnya damai, toh kondisi tidak bisa lagi seperti semula. Sepertinya masih ada bara yang siap menyala sewaktu-waktu.
Urusan kedosenan pun kalau sudah terkait dengan emak-emak, pasti urusan akan berlanjut dan viral. Pedagang, entah itu sayur, barang kelontong, dan lain-lain, ketika yang belanja itu emak-emak, dijamin tawar menawar akan seru, ibarat perjuangan sampai tetes darah terakhir. Nah, untuk kesejahteraan dosen, emak-emak pun memegang peranan penting. Lihat saja video buatan mahasiswa UPN terkait kesejahteraan dosen berikut.
Tentu saja kesejahteraan tidak selalu berkaitan dengan gender. Bapak-bapak pun juga tidak tinggal diam, walau terkadang agak sedikit diredam asal harga diri tidak terpicu. Dosen berbeda dengan pegawai biasa, profesi ini ternyata melibatkan berbagai pihak dari mahasiswa, yayasan, hingga pemerintah, bahkan terakhir BPK [Lihat post yang lalu]. Beberapa waktu yang lalu ada edaran bahwa lolos butuh diwajibkan lagi, menandakan kembali berkuasanya pihak yayasan ketika ada dosen yang akan pindah dalam rangka mencari penghidupan yang lebih layak. Tugas berat menanti kemendiktisaintek.
Di tahun 2015an, saya beli macbook air 11 inch yang kecil. Tetapi diinstal dual OS lewat bootcamp, karena ada aplikasi yang memang harus menggunakan Windows. Ternyata disertakan aplikasi Bootcamp di Mac agar bisa dual OS, satu IOS satunya lagi Windows.
Namun karena spek yang rendah, ram 4 giga dan SSD hanya 128 terpaksa kembali lagi ke Mac OS. Maklum, di Mac OS ram 4 giga byte ga masalah, tapi di windows sangat menderita. Akhirnya saya cabut dual OS bootcamp. Tapi ternyata masalah ada di bootcamp yang tidak bisa menghapusnya. Terpaksa dihapus manual. Nah, masalahnya adalah sisa partisi Windows yang dicabut tidak bisa digunakan di Mac. Alhasil, harddisk tinggal 70 Giga saja.
Tanya google dan Youtube, ternyata tidak ketemu. Biasanya di Youtube ok ok saja mereka mengelola partisi lewat Disk Utils. Ternyata di sini Chat GPT bisa membantu. Tentu saja kita harus bertanya mengenai resiko yang terjadi, yakni Mac OS rusak. Alangkah baiknya di backup dulu datanya. Berikut bagaimana melakukan merger partisi Mac yang hilang (bekasi dual OS dengan Windows) dengan yang saat ini jalan. Sekian, semoga bisa membantu.
Negara kita merupakan negara berkembang yang sejak awal dibentuknya melalui pertarungan menghadapi penjajah. Pertarungan selanjutnya adalah mengisi kemerdekaan. Ketertinggalan kita banyak yang menduga karena negara kita yang subur, makmur, dan seperti dalam lagu koes plus, ‘tongkat dan kayu jadi tanaman’. Akibatnya, kehilangan jiwa bertarung (fight) sehingga dengan mudahnya penjajah yang lebih maju masuk ke bumi pertiwi.
Saat ini kita mulai memiliki keunggulan dari sisi jumlah SDM muda, yang diistilahkan ‘bonus demografi’. Tinggal bagaimana orang tua menciptakan jiwa bertarung dari anak-anak kita, tidak perduli pria maupun wanita. Bertarung di sini bukan bertarung seperti binatang, atau anak-anak yang tawuran, melainkan berusaha mengungguli dari yang lain, syukur-syukur mengungguli negara lain.
Kabarnya generasi yang termuda, generasi alpha sering diistilahkan dengan generasi ‘strawberry’, alias generasi yang rapuh dan mudah ‘penyok’. Tugas besar guru dan dosen, apalagi orang tua adalah merubah generasi kaleng krupuk itu menjadi generasi baja, secepatnya sebelum terlambat.
Nah, salah satu cara mengajari yang efektif adalah memberi contoh. Generasi muda akan melihat bagaimana para orang tua, pemimpin, guru, dosen, dan senior-senior bertarung dalam mencapai cita-cita, target, sasaran, dan sejenisnya. Kemampuan meliuk-liuk di sela-sela undang-undang yang tarik ulur, misalnya terkait pendidikan, tidak boleh melemahkan jiwa bertarung para guru dan dosen. Yang sedang studi lanjut, atau yang sedang ingin naik pangkat, tetap fokus, jika mentok, cari jalan lain, asalkan halal. Ada tidaknya tunjangan kinerja (tukin) tidak perlu diambil pusing. Terus dalam kondisi ‘lapar’, seperti singa yang garang tak kenal takut. Semoga kita bisa kuat di hari-hari yang akan datang.
Dosen swasta merupakan profesi unik yang sejak dulu terbiasa dianaktirikan. Berbeda dengan buruh yang memiliki asosiasi yang melindungi rekan-rekan dari pihak kapitalis, dosen dan juga guru tidak memiliki asosiasi yang secara khusus membela dari sisi ekonomi seperti gaji, tunjangan dan lain-lain. Akibatnya nasibnya seperti itu, ditambah lagi sikap pemerintah yang lebih mendukung yayasan dibanding dosen-dosennya.
Beberapa waktu yang lalu ASN dosen menagih janji tunjangan kinerja (di luar tunjangan sertifikasi dosen) sesuai janji menteri sebelumnya. Bagi dosen swasta kelas menengah, tunjangan itu cukup besar.
Sementara itu tukin dosen swasta menurut informasi [Url] sebesar satu kali gaji golongan sebagai berikut.
Lumayan jauh bedanya. Lektor kepala 10 jutaan, swasta sekitar 3 jutaan. Tapi sebenarnya lumayan, dari pada tidak dapat apa-apa. Itu pun yang dikhawatirkan dibayarkan dalam mata uang Yen .. yen ono duwite, hehe.
Dosen swasta serba salah, terkadang yang kualifikasi kurang terancam dipecat dan tidak ada pihak yang melindungi, di sisi lain yang kualifikasi tinggi terancam dengan ikatan dinas yang tidak masuk akal, ditambah lagi lolos butuh yang harus diperoleh dari kampus asal yang terkadang dipersulit. Kondisi diperparah oleh PTN yang membuka kran mahasiswa baru sebanyak-banyaknya dan membiarkan PTS saling bunuh dan kanibal, seperti tulisan ini [Url].
Yang membedakan perkuliahan doktoral dengan S2 atau S1 adalah filosofi doktoral yang berkontribusi keilmuan. Seandainya ada S3 jurusan gali sumur, maka tidak hanya bisa menggali (S3) atau memilih metode penggalian yang efektif (S2), melainkan harus bisa menemukan metode baru yang lebih baik. Lebih baik di sini sangat beragam, bisa saja lebih murah, lebih aman, lebih cepat, dan hal-hal lain sesuai kebutuhan.
Jadi mahasiswa doktoral harus mampu menggunakan metode + mengetahui karakteristik metode-metode baseline (existing) + melakukan improvement metode. Kembali ke S3 jurusan gali sumur tadi, okelah kita belum pernah gali sumur, tapi setidaknya tahu teori dan metode-metode untuk menggali sumur karena nanti pasti akan diminta mengukur performa antara metode yang ada dengan metode usulan.
Saat ini tools sudah sangat membantu, apalagi adanya AI seperti ChatGPT, Copilot, Gemini, dan lain-lain. Beberapa software seperti Matlab sangat memudahkan bukan hanya untuk mengaplikasikan satu metode melainkan juga untuk belajar memahami metode itu dengan situs resminya [Url]. Berikut jika Anda ingin melihat bagaimana perkuliahan doktoral itu. Siapa tahu Anda tertarik.
Terkadang kita mengalami kesulitan memahami sesuatu yang abstrak. Apalagi jika disajikan dalam bentuk kalimat. Beberapa terkadang kurang memahami notasi-notasi matematis ala jurnal ilmiah. Jika sudah memahami, terkadang perlu waktu lagi mengimplementasikannya dalam sebuah aplikasi dengan bahasa pemrograman tertentu.
Nah beberapa aplikasi, terutama yang berbayar berusaha membantu pengguna dalam memahami metode-metode yang ada, misalnya Matlab. Selain menyediakan panduan online di situs resminya [Url] juga menyediakan link youtube yang berisi simulasi menarik. Misalnya kasus LSTM berikut ini.
Atau teori konvolusi berikut ini yang jika dijabarkan dalam notasi matematis sangat membingungkan bagi yang tidak terbiasa.
Beberapa aplikasi free seperti Google Colab juga tidak kalah dalam menyajikan implementasi dalam format Jupyter Notebooknya yang berisi gambar dan teks penjelasan yang menarik. Selain membaca teori, bisa langsung di running, seperti Google Colab ini [Url]. Selamat mencoba.
Di Indonesia ada organisasi yang mengurusi pendidikan informatika dan komputer bernama APTIKOM. Kira-kira sepuluh tahun yang lalu informasi dari Association for Computing Machinery (ACM) bahwa jurusan infokom wajib bisa programming. Jadi entah jurusan sistem informasi, teknik komputer, apalagi informatika/ilmu komputer harus ada mata kuliah tentang pemrograman.
Waktu terus berjalan, sebelum COVID saat pertemuan APTIKOM, ketuanya mengatakan seluruh jurusan infokom wajib ada mata kuliah Artificial Intelligence (AI) di kurikulumnya, alias tiap jurusan entah itu berupa mata kuliah khusus atau kalau terlanjur dibuat kurikulumnya harus disisipkan di mata kuliah tertentu yang relevan.
Kemunculan aplikasi berbasis AI membuat perubahan peta infokom. Beberapa situs seperti Stack Overflow dan bahkan Googling mulai ditinggalkan oleh para programmer. Mereka lebih cepat bertanya ke ChatGPT, Copilot, Gemini, dan sejenisnya. Beberapa programmer menyadari hal itu dan cara bertahannya seperti pada [Url] ini. Beberapa hal kreatif yang tidak bisa digantikan dengan AI masih jadi andalan programmer seperti aspek seni, komunikasi yang baik dengan pemesan, dan bermain dengan AI. Tapi jika dipikir-pikir itu kan bukan bidangnya programmer, yakni UI/UX designer, Analis Sistem dan Data Sains atau Machine Learning dan Deep Learning.
Beberapa kampus untuk bidang informatika masih menerapkan konsentrasi ke pembuatan software yang fokus ke pemrograman saat akan mengarah ke skripsi/tugas akhir. Tentu saja konsentrasi ini menjadi sasaran mahasiswa karena mudah dan tinggal buat sendiri program lewat AI atau minta buatkan orang. Di satu sisi konsentrasi yang lain seperti data sains hanya menggunakan Google Colab, rapid miner dan sejenisnya tanpa menunjukan implementasinya dimana skill ini sangat dibutuhkan oleh pengembang perangkat lunak. Sebaiknya konsentrasi fokus ke AI, Data Sains, dan sejenisnya tanpa melupakan bahwa Strata 1 (S1) fokus ke penerapan ilmu, alias buat sesuatu. Namun karena dosen perlu dan wajib riset untuk Beban Kerja Dosen (BKD) per semester terkadang memaksa siswa bimbingan mengikuti level risetnya.
Kekhawatiran mahasiswa yang ambil AI misalnya sulit dalam mengimplementasikan dalam AI sepertinya berlebihan karena AI saat ini bisa membantu siswa mengimplementasikan model yang dibuatnya dalam suatu aplikasi sederhana. Misalnya video berikut mengimplementasikan AI yang dibuat lewat Teachable Machine [Url] menjadi aplikasi desktop dengan framework Kivy.
Ternyata tiap orang memiliki bakat dan karakteristik yang berbeda satu sama lain. Walaupun tentu ada kesamaan untuk tipe orang-orang tertentu. Walaupun satu bidang yang sama, misalnya medis, antara dokter yang cenderung mengikuti standar operasi tertentu (SOP) akan berbeda dengan penelitian kedokteran yang fokus ke eksperimen metode-metode baru. Tentu saja kalau pasien dijadikan eksperimen sangat berbahaya. Rekan saya memiliki anak yang kuliah di jurusan kedokteran. Ketika lulus ternyata si anak tidak ingin lanjut menjadi dokter. Akhirnya dia kuliah S3 dan S3 di bidang kedokteran yang fokus ke riset.
Saya sendiri sempat terdampar di bank, bekerja sebagai staf IT. Agak sedikit menderita ketika diminta mengerjakan rutinitas membosankan. Terkadang beberapa komputer saya jadikan eksperimen dan baru sadar ternyata itu berbahaya. Bayangkan Anda seorang koki yang memang harus mengikuti panduan resep tertentu, tetapi karena Anda berjiwa riset maka terkadang Anda melakukan modifikasi, uji coba dan hal-hal lain yang bermaksud menciptakan jenis masakan baru yang lebih menarik dari sebelumnya.
Bagaimana dengan dosen? Kalau Anda tipe yang menjalankan prosedur, maka dengan materi yang RPS lengkap, bahkan dengan power point yang tinggal menyampaikan sudah cukup membuat Anda bahagia. Tetapi untuk tipe riset, tentu saja akan berbeda. Siswa terkadang dipaksa untuk melakukan modifikasi dari yang ada. Menarik informasi dari Prof Stella yang memberikan informasi mengapa peneliti-peneliti berbakat di Indonesia malah meneliti di luar negeri. Salah satu alasan utama adalah dukungan (finansial dan alat) dari pemerintah yang kurang.
Nah, beberapa hari yang lalu secara mengejutkan saya mendapat surat dari LPPM bahwa informasi dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), saya di tahun 2014 telat 6 hari mengumpulkan laporan akhir. Bayangkan, saat ini 2025, jadi hampir 11 tahun yang lalu. Ini masih mending, rekan saya dilaporkan belum mengumpulkan laporan akhir.
Sementara itu, setelah pihak kampus bertanya ke LLDIKTI, hanya bisa pasrah karena diminta menunjukan bukti kalau tidak telat ataupun sudah mengumpulkan, padahal situs BIMA sudah tidak bisa diakses dan tidak ada satu pun kita, peneliti, men-screenshot kalau kita submit. Kampus sudah dua kali kebanjiran, berkas hilang, bahkan komputer LPPM pun terendam. Ibarat kata saya dituduh membunuh tetapi tidak bisa melihat rekaman cctv membunuh, saksi, bukti, dan jika tidak mengakui maka diwajibkan menunjukan bukti kalau saya tidak membunuh.
Beberapa rekan ya pasrah saja dan siap menghadapi ancaman untuk tidak diperbolehkan lagi menerima dana hibah. Sebenarnya secara sederhana kalau rekan saya tidak mengumpulkan laporan, tidak bisa dapat dana termin kedua 30% dan tidak dilanjutkan ke tahun kedua penelitiannya, tapi toh lolos ke tahun berikutnya. Biasanya kalau belum mengumpulkan pasti tidak perlu menunggu selama sepuluh tahun untuk diperingatkan.
Selain meneliti saya juga ada proyek, memang ada pinalti dalam proyek jika terlambat. Tapi jika penelitian disamakan dengan proyek ya sudah, kalau begitu kita pilih proyek saja, dari pada beresiko dan sulitnya membuat laporan pertanggungjawaban. Waktu itu di tahun 2014 peneliti tidak boleh ada insentif ke peneliti di laporannya, alias peneliti tidak di gaji. Ketika ditanya ke pihak DIKTI jawabannya sederhana, ‘kan dosen wajib meneliti, jadi harus siap tidak digaji dari penelitian’. Jadi inget lagu yang jadi soundtrack serial FROM di Catchplay yang jika diartikan – “Fokus pada apa yang bisa dilakukan sekarang, dan terimalah hasilnya dengan lapang dada”:
Salah satu rencana mendiktisaintek yang baru adalah mengurangi beban administratif bagi dosen. Beban ini sudah viral di media sosial. Sepertinya walau dikurangi tetap saja yang namanya dosen ingin terlibat dalam segala hal. Apakah ini karena gen budaya gotong royong kita?
Pikiran merupakan aset penting dosen. Dan sudah terbukti bahwa pikiran mempengaruhi jasmani. Banyak penyakit yang diakibatkan oleh pikiran. Setiap agama memiliki tujuan agar pikiran tetap terjaga, seperti menolak minuman yang memabukan, narkoba, dan sejenisnya yang melemahkan daya pikir manusia. Beberapa ritual ibadah biasanya fokus ke kenyamanan pikiran.
Salah satu metode terkenal adalah meditasi. Metode ini bermaksud membuat sedikitnya jumlah pikiran yang ada di kepala kita. Ibarat monyet, pikiran terkadang loncat sana dan loncat sini sehingga tidak bisa fokus dan berpikir yang dalam karena belum sempat berpikir dalam sudah loncat ke topik yang lain.
Saat ini banyak youtuber-youtuber yang dengan gaya gen-z memasyarakatkan meditasi. Salah satu teknik yang paling mudah dan menjadi terkenal adalah vipassana, yaitu memperhatikan napas masuk dan napas keluar. Jika ada pikiran lain, maka pikiran itu jadi objek kedua dan seterusnya. Ternyata ada efeknya di pikiran kita.
Jadi walau beban administratif dosen dikurangi tetap saja karakter dosen yang ingin selalu terlibat dalam masyarakat tetap saja banyak kerjaan, terutama di benaknya. Silahkan jika Anda memiliki teknik lain yuk berbagi.
Tahun 90-an merupakan tahun dimana kampus swasta berjaya. Kebetulan waktu itu masih kuliah di kota pelajar, Yogyakarta. Televisi dan radio masih menjadi media hiburan primadona. Koran pun masih dengan mudah dijumpai. Masih dalam ingatan ketika mengecek diterima atau tidak Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) lewat surat kabar. Teringat para mahasiswa membaca koran, selepas shalat Jumat, yang ditempel di mading masjid dekat tempat kos. Ternyata pada membaca berita munculnya versi baru sistem operasi Windows, yakni Windows 95, menggantikan Windows 3.11 yang kurang bagus jendelanya.
Waktu itu era dimana ketika tidak lulus ujian masuk PTN ada dua kemungkinan, ikut lagi tahun depan atau kuliah di PTS. Waktu berlalu, dan setelah melalui krisis moneter 1998, di tahun 2000 mulailah PTN berstatus menjadi PTNBH dengan otonomi dalam pengelolaan keuangan, dari penerimaan mahasiswa, kerja sama hingga pengelolaan aset.
Kelas-kelas khusus seperti D3 mulai bermunculan. Ternyata dengan penerimaan yang tak terkendali secara perlahan mengurangi jumlah mahasiswa PTS. D3 ini cukup laris karena PTN membuka kelas ekstensi, dimana dari D3 lanjut beberapa tahun menjadi S1. Jadi yang tidak lulus UMPTN bisa lulus S1 PTN dengan cara ambil D3 lalu ekstensi ke S1. Sialnya, di tahun 2011 D3 di UGM dilarang ekstensi ke S1, hebohlah mahasiswa pada demo, kebetulan waktu itu ada di Jogja, pelatihan bahasa untuk studi lanjut.
Pernah saya diminta menseleksi beasiswa full bright gratis dari masuk hingga lulus. Setelah lelah menyeleksi, profiling, dan seterusnya akhirnya diambil keputusan diterima 1 orang. Di luar dugaan, si calon penerima beasiswa menolak beasiswa itu dengan alasan diterima di program D3 Universitas Negeri Jakarta. Mungkin dia santai saja menolak, tapi secara etika dia juga secara tidak langsung menggagalkan mahasiswa lain yang kalah seleksi untuk dapat beasiswa karena ternyata setelah penolakan itu, saya tidak bisa menjadikan calon lain dapat beasiswa, repot dah. Semoga Allah SWT menegur.
Waktu terus bergulir, muncullah PTN-PTN baru hasil akuisisi PTS di daerah-daerah. Ini menjadi alternatif lain calon mahasiswa karena dianggap PTN baru itu lebih baik dari PTS. Pemerintah santai saja, padahal PTS-PTS mulai kelabakan. Seperti biasa, kebijakan di tanah air adalah parsial. Melihat PTS-PTS yang mulai kolaps, ada kebijakan merger yang kebanyakan bukan merger tapi saling memakan, alias dijual oleh PTS yang lebih kuat. Bukan hanya mahasiswa yang berlari ke PTN, dosen-dosen swasta pun banyak yang berlari ke PTN. Seperti biasa, pemerintah membuat kebijakan, misalnya beasiswa KIP yang persentasenya melihat level/peringkat kampus. Kampus yang levelnya bagus akan memperoleh banyak yang peringkatnya rendah, dapat sedikit. Jadilah yang kuat makin kuat, yang lemah makin hancur. Semoga pemerintah memperhatikan kondisi ini.
Perkembangan pesat media sosial menyebabkan media masa mainstream seperti TV, radio, koran dan sejenisnya terancam keberadaannya. Beberapa media cetak mengalami kebangkrutan [url] dan saat ini media tv pun mulai berguguran, setidaknya mengalami restrukturisasi, misalnya media milik Aburizal Bakrie [url].
Di tengah kondisi ini beragam strategi dilakukan oleh media online dari yang mengikuti standar hingga yang ekstrim, yang penting banyak dilihat dan viral. Akibatnya prinsip bad new is good news dijalankan. Salah satunya adalah kondisi politik, yang memang mudah sekali menarik perhatian pembaca. Misalnya berita dari OCCRP yang menjadikan Jokowi nominator tokoh pemimpin yang korup.
Berita seperti ini merupakan berita buruk (bad news) yang sangat diminati oleh pendukung yang kecewa dengan Jokowi. Dengan gambar yang ‘menarik’, dipastikan traffic akan tinggi, beberapa media terkadang tidak menjelaskan secara detil, itu nominasi berasal dari mana di sumbernya, yakni OCCRP? Post Truth biasanya dinarasikan, agar publik memercayai kalau berita itu benar dan bukan berita Hoax. Repotnya literasi yang rendah bangsa kita, tidak membaca lebih lanjut dan hanya membaca judul saja. Padahal dijelaskan bahwa nominasi itu berasal dari pembaca yang tentu saja sentimen di sini sangat berperan (subyektif).
OCCP mengklarifikasi berita itu tapi tetap mengatakan kalau media itu tetap memantau siapa saja pemimpin di dunia. Tentu saja, media tetap media, prinsip makin banyak pembaca makin baik, merupakan visi utama. Media yang tidak ada yang baca/lihat/dengar tentu saja tidak ada iklan yang datang, dan akhirnya akan tutup. Jangan harap media melakukan prinsip ‘praduga tak bersalah’ seperti penegak hukum, karena memang bukan tugasnya.
Kita masing-masing memiliki tugas masing-masing. Guru dan dosen tugasnya mendidik siswa, polisi, jaksa, hingga presiden memiliki tugas masing-masing. Namun, tentu saja jika ada hal-hal yang menyimpang, ada saluran masing-masing. Tapi jangan sampai apapun yang terjadi, entah itu pelemahan KPK seperti yang dikutip oleh OCCRP yang sejatinya karena DPR (legislatif) tetap saja presiden (eksekutif) yang disalahkan. Untuk siswa, dosen, atau ada pihak-pihak yang tidak puas dengan instansi tertentu bisa masuk ke lapor.go.id [url], dijamin kerahasiaannya.
Waktu itu tahun 95-an, guru bimbingan belajar SMA saya di daerah lempuyangan, Jogja, mengatakan terkait pekerjaan, perusahaan bukan mencari orang pandai melainkan orang yang mau kerja. Ternyata di awal tahun 2000-an walaupun mau kerja, tetap saja sulit memperoleh pekerjaan. Waktu itu walau sudah melewati krisis moneter, tapi masih ada sisa-sisa sulitnya mencari kerja. Jadi, keinginan bekerja tidak cukup, tetap saja kalau tempat bekerja yang kurang pasti akan ada pengangguran.
Nah, kabarnya saat ini mulai terjadi, apalagi lulusan perguruan tinggi mulai banyak yang belum memperoleh pekerjaan. Angkanya pun fantastis di angka 800an ribu. Info dari perbincangan di Metro TV karena negara kita kurang produktif, dimana impor lebih maju dari produksi. Akibatnya lahan pekerjaan terus berkurang dan tidak mampu memberikan pekerjaan ke lulusan perguruan tinggi. Salah satu cara cepat adalah mencari kerja di luar negeri, mengingat lulusan PT di Indonesia kabarnya diakui di 23 negara.
Yang penting jiwa merah putih harus tertanam, setelah mandiri dan memiliki pengalaman bisa kembali ke tanah air. Banyak hal-hal yang bisa dibagi di tanah air, baik lewat bekerja maupun membuka usaha di Indonesia, dengan bekal kemampuan bertaraf internasionalnya.
Otonomi kampus menjadi sasaran mendiktisaintek. Selama ini kampus kerap didikte oleh kementerian lewat aturan-aturan yang terkadang si dosen sendiri pun tidak sempat mempelajarinya. Nah, ke depan beberapa aturan akan dicabut, yang diistilahkan dengan de-regulasi.
Kekhawatiran adanya penyimpangan karena beberapa aturan yang dilanggar dapat diatasi dengan penyelesaian terhadap penyimpangan oleh oknum itu saja. Saya ingat ketika beasiswa dulu, Dikti biasanya ketika ada kasus oleh segelintir oknum yang nakal, akhirnya dibuat aturan baru yang menganggap seluruh orang akan berbuat serupa. Mirip di kampus saya, akibat ada segelintir dosen yang malas absen, akhirnya diperketat absen seperti buruh pabrik ke seluruh dosen dan karyawan. Dampaknya, sebagai kaprodi ketika saya WA masalah kampus di malam hari di grup, tidak ada yang merespon karena di luar jam kerja. Baru direspon keesokan harinya, repot juga.
Terkadang menulis di blog bisa menjadi latihan untuk menulis yang lebih jauh lagi, misalnya menulis buku teks. Biasanya saya tulis di blog keinginan tersebut seperti pos yang lalu ini, atau yang ini. Jadi, menulis blog sebenarnya murni untuk latihan, bukan hanya publish yang tentu saja bisa dengan bantuan (artificial intelligence) AI kalau tujuannya hanya itu.
Saat ini bikin buku bisa dibilang mudah, bisa juga dibilang susah. Mudah karena banyak penerbit yang sifatnya mirip open access, alias berbayar. Prosesnya pun cepat, tidak sampai berbulan-bulan kayak penerbit yang bukunya ada di gramedia dan toko buku terkenal lainnya. Bahkan ada yang membuatnya dengan bantuan ChatGPT. Dibilang susah karena menulis buku butuh kesabaran, tekun, dan rutin alias berkesinambungan.
Sebenarnya tulisan berfungsi untuk sharing pengalaman, pengetahuan, dan hal-hal yang unik dan khas dari penulis. Tidak ideal dan formalitas semata yang bisa dicari saat ini dengan AI. Ada hal-hal tertentu di luar aspek pengetahuan yang bisa dibagikan dalam sebuah tulisan, seperti pengalaman penulis, tip dan trik khusus, yang terkadang harus menyesuaikan dengan daya tangkap pembaca. Makin khas suatu tulisan, makin personal, maka biasanya buku itu tidak dibuat dengan bantuan AI.
AI kalau dijadikan alat bantu tidak masalah. Seperti tukang yang membutuhkan penggaris, kabel air untuk melihat level/ketinggian, dan sejenisnya. Tapi tidak serta merta seluruh pekerjaan dengan alat bantu. Kita memang tidak bisa lepas dari perkembangan teknologi, misalnya dulu mengetik dengan mesin ketik, kemudian beralih ke komputer, hingga saat ini yang mengandalkan AI. Tapi alat bantu tetaplah alat bantu, banyak aspek lain dari AI yang sulit digantikan walaupun AI saat ini sedang mencoba satu kuadran dari AI berdasarkan definisi Russel, yakni berpikir manusiawi (thinks humanly). Jadi, makin Anda memanusiakan diri, makin anda sulit tergantikan dengan AI.
Sekian, semoga saya mampu menyelesaikan tugas ini tanpa bantuan AI. Oiya, semoga postingan ini juga tidak hanya dibaca dan ditarik datanya oleh AI. Salam.
Sekarang, apapun profesi kita, ternyata harus adaptif. Perubahan yang terjadi sangat cepat, tidak seperti era 90-an atau 2000-an. Untuk bidang pendidikan, bukan saja menteri yang diganti tetapi terkadang departemen pun berubah, kadang melebar, kadang menyempit. Seperti saat ini Kemendikbudristek pecah menjadi Kemendikdasmen, Kemendikti, dan Kemendikbud. Sementara Kemristek memisahkan diri yang dulu bagian dari Kemendikbudristek. Apapun yang terjadi, memang membingungkan dan meresahkan tetapi dilihat dari sistem, kita ibaratkan sistem yang adaptif. Sistem yang mampu merespon keadaan saat ini. Atau bisa juga sistem kontrol, adanya error dapat segera direspon agar tetap di jalurnya.
Baru saja peraturan Kemendikbudristek No. 44 tahun 2024 ditunda pelaksanaannya [post yg lalu], kini UU no. 15 tahun 2024, ikut-ikutan ditunda juga. Undang-undang ini membahas tentang penjaminan mutu perguruan tinggi.
Entah bagian mana yang sepertinya perlu dievaluasi. Padahal di kampus saya baru dua minggu yang lalu diadakan sosialisasi peraturan itu, khususnya di bagian PEMUTU, alias akreditasi otomatis. Sepertinya pemerintah bimbang, ingin menghapus akreditasi takut perguruan tinggi tidak terkontrol kualitasnya, akhirnya dibuatlah PEMUTU [Url].
Tentu saja kita tidak bisa lepas dari pergaulan internasional. Lembaga akreditasi dunia dalam akreditasi entah itu AQAS, IABEE, dan lain-lain dalam mengakreditasi pasti akan meninjau langsung. Mungkin maksudnya menghemat biaya karena dianggap kampus yang telah terakreditasi tersebut tidak mengalami perubahan peringkat. Kalau mau hemat sekalian saja tidak diwajibkan akreditasi.
Beberapa Lembaga Akreditasi Mandiri (LAM) sudah terbentuk, seperti dapat dilihat dari website PEMUTU, mulai dari LAM PTKES hingga LAM SPAK. Instrumen sudah dibuat, beberapa sudah menyiapkan asesor-nya dengan saringan yang ketat. Manajemen sudah berjalan dengan baik. Dengan adanya akreditasi yang otomatis lewat pemantauan sistem, maka prodi akan memperoleh akreditasi tanpa adanya evaluasi langsung ke lapangan.
Selama ini memang evaluasi lapangan yang dikenal dengan istilah asesmen lapangan (AL) menjadi momok menakutkan bagi kampus-kampus. Tapi setelah lepas dari BANPT, AL bagi kampus sebenarnya bisa menjadi ajang meningkatkan kualitas karen asesor yang datang ke kampus-kampus di seluruh indonesia bisa menjadi narasumber untuk perbaikan kampus ke depan, tidak hanya memvonis. Selain, tentu saja menjaga tali silaturahmi, mengingat biasanya ada asesmen silang, yang dari sumatera, misalnya Aceh, akan dievaluasi oleh dosen dari Jawa, Kalimantan, dan wilayah lain.
Nah untuk sekolah menengah ternyata perlu sekali. Beberapa informasi menunjukan dengan dihapusnya ujian nasional, kampus-kampus di luar negeri seperti Belanda dan Jerman, ketika menyaring mahasiswa S1 dari SMA di Indonesia memiliki kesulitan, khususnya standar [Url]. Apalagi bidang-bidang dasar sangat kurang seperti matematika, fisik, kimia dan sejenisnya yang diperlukan sebagai bahan pertimbangan kampus-kampus luar. Beberapa kasus viral di mana SMA tidak mampu menjumlahkan angka.
Sepertinya perlu dipikirkan oleh pemerintah. Saya ingat ketika kuliah di luar, dosen dari Amerika bertanya ke mahasiswa, belajar variabel kompleks kapan. Thailand dan Vietnam menjawab di S1, dan sangat mengejutkan, mahasiswa dari Perancis menjawab sudah diajarkan di SMA. Jadi, harus segera dibenahi, khususnya ilmu-ilmu dasar harus dikuasai anak-anak kita.
Sudah mulai ujian akhir. Jadi, soal sudah harus segera dibuat. Ada beragam tipe soal, bisa pilihan ganda, ada juga yang essay. Masing-masing punya kelemahan dan kelebihannya. Pilihan ganda memang sulit membuatnya, tapi mudah mengoreksinya. Sementara itu, essay memiliki kelebihan karena bisa menggali informasi apakah siswa memahami apa yang dipelajarinya. Namun saat ini jika tidak diawasi dalam mengerjakannya, mereka bisa memanfaatkan AI, misalnya ChatGPT atau Copilot Microsoft.
Nah, ada yang menguji dalam bentuk lisan. Khususnya materi kuliah yang berupa pemahaman akan konsep-konsep. Namun membutuhkan waktu, apalagi jika siswa yang harus diwawancara lebih dari 50 orang. Oiya, kombinasi antara multiple choice dan essay terkadang menjadi andalan. Mirip ujian nasional jaman dulu yang sekarang sudah tidak ada lagi.
Saat ini dengan adanya Akal Imitasi (AI), pembuatan soal multiple choice yang membutuhkan waktu karena harus mencari jawaban selain jawaban yang benar dapat dilakukan dalam beberapa detik saja. Salah satunya adalah Magic School [link]. Berikut video yang mengilustrasikan bagaimana membuat soal multiple choice dengan cepat.