Sidang Terbuka – Perlukah?

Status sebagai mahasiswa merupakan satu aktivitas bekerja juga, mirip jabatan, tugas khusus, dan apapun yang memiliki tujuan yang jelas yakni memperoleh ilmu dan dibuktikan dengan kelulusan. Dosen pun ketika studi lanjut ke jenjang yang lebih tinggi berubah statusnya menjadi mahasiswa. Dualisme itu yang sedikit menyulitkan, khususnya dosen-dosen senior yang telat studi lanjut. Di mana sulitnya? Nah, itu dia, sulit juga menjelaskannya.

Waktu itu, thailand cukup panas, maklum mendekati hari raya Sonkran, hari raya yang terkenal dengan ‘mainan air’, semprot-semprotan, dan sejenisnya. Kalau di Indonesia ya hari raya idul fitri untuk yang muslim, natal untuk yang nasrani. Seperti biasa, siang itu di depan meja belajar, saya melamun. Di sini melamun berarti berfikir keras, mengingat tidak ada jawaban di internet, bahkan pembimbing pun tidak tahu jawabannya. Khas mahasiswa doktoral. Sambil menyeruput kopi Thailand (UFM bakery 50 baht) yang lebih murah dari kopi Vietnam (honkrum 100 baht), tiba-tiba ada telepon dari staf pengajar institut pertanian bogor (IPB).

“Halo apa kabar? Bagaimana keadaan di sana?”, sapa telepon itu. Seperti biasa, walau sedang pusing tapi cukup dijawab dengan dusta, “baik, bagaimana dengan Anda?”. Intinya ternyata hanya bertanya-tanya perihal kampus tempat saya kuliah. Tadinya saya fikir dari tim pewawancara waktu mendaftar beasiswa DIKTI ternyata hanya survey. “Apakah di sana ada sidang terbuka?”, saya jawab kalau seperti di Indonesia yang mengundang orang sekampung, disertai acara makan-makan, pembagian souvenir, dan sejenisnya ya tidak ada. Paling hanya informasi seperti berikut ini.

“Kalau wisuda? Bayar kah?”, tanyanya lagi. Saya jawab ada deposit ketika mendaftar kalau di rupiahkan setengah juta. Tapi setelah wisuda dan kita mengikuti wisuda, uang itu bisa diambil kembali. Mungkin maksudnya agar yang daftar serius, bukan nge-prank. Jadi, baik sidang terbuka maupun wisuda, praktis tidak ada yang bayar. Paling menyiapkan snack dan minuman saja ketika sidang terbuka, itu pun biasanya tidak dimakan oleh promotor dan penguji, malah peserta yang kebanyakan teman senegara, yang menjarah selepas acara. Bahkan kabarnya sudah ‘dipesan’ oleh teman-teman yang senasib sepenanggungan saat acara final defence berlangsung. Seperti ini suasana sidang terbuka [link].

Saya yakin teman-teman saya di negara lain pun sama, sepertinya hanya di Indonesia yang melakukan ritual sidang terbuka seperti hajatan. Beberapa kampus sudah mulai menghapus sidang terbuka, misalnya rekan saya yang kuliah di Brawijaya. Sepertinya jika ingin menjadi kampus internasional, agak merepotkan mahasiswa asing yang ingin sidang terbuka versi kampus Indonesia.

“Sir, how about final defence of mr Haoran Zhang?”, tanyaku ke promotor saya. Sambil geleng-geleng dia mengutarakan kekecewaannya. Katanya dia tidak lulus, alias sidang ulang. Wah, gawat juga. Pantes saya lihat kemarin dia sibuk mondar-mandir bawa alatnya dengan wajah pusing. Beda dengan Indonesia yang sudah pasti lulus, ternyata sidang terbuka bisa tidak lulus juga.

Ada info dari rekan istri saya yang S3, kabarnya ada juga mahasiswa doktoral yang tidak ikut wisuda. Kalaupun ikut, biasanya tidak terlalu wah. Salah satu sebabnya adalah sidang terbuka yang lebih ‘wah’ dari wisuda. Sidang terbuka ibarat wisudah khusus untuk si mahasiswa seorang. Nah, berbeda dengan di kampus saya, ketika ada mahasiswa Indonesia yang lulus doktoral, kampus mengundang duta besar dan atase kebudayaan, yang biasanya selalu hadir dan tidak diwakilkan [link].

Karena sidang terbuka yang ‘biasa saja’ (tapi sangar juga), wisuda jadi sangat hikmat. Bahkan dalam acara tersebut ada dua sebutan, Mr saat masuk gedung, dan Dr setelah pelantikan (pemasangan Hood, seperti sayap di belakang, kalau di Indonesia kuncir di topi wisuda yang digeser ke kiri atau ke kanan (saya lupa) oleh rektor/dekan [link]. Tapi bagi orang Indonesia yang S3 di Indonesia, sidang terbuka bisa jadi kenangan yang indah. Bisa juga jadi sarana jalan-jalan teman-teman si mahasiswa. Bayangkan teman saya yang mau lulus di Brawijaya, ketika ada kabar tidak ada sidang terbuka lagi (katanya kalau publish Q2), acara jalan-jalannya batal dah …

Tak Ada yang Kebetulan

Manusia memang beragam, baik fisik maupun pemikirannya. Ada yang percaya tuhan, ada yang tidak yakin, namun sepertinya kebanyakan meyakini keberadaan-Nya. Beberapa tradisi dan agama mengatakan bahwa keberadaan kita tidak kebetulan melainkan hasil ‘sesuatu’ sehingga banyak dari kita merasakan adanya De Javu, alias sepertinya pernah mengenal sesuatu yang kita jumpai dulu entah di mana.

Waktu sekolah menengah atas karena ikut dengan kakak yang kuliah komputer, terkadang ikut membaca meteri kuliah, bahkan menjadi langganan ‘penyusup’ ketika di sore hari ada praktikum, khususnya internet. Ternyata walau S1 mengambil jurusan mesin, ujung-ujungnya Kembali ke komputer. Waktu itu tema skripsinya kebetulan disain suspense dengan bantuan pemrograman komputer. Nah, Ketika lulus mengajar komputer, sempat bekerja di bank bagian IT. Terus merembet, hingga saat ini aktif mengikuti proyek-proyek yang meng ‘AI’-kan aplikasi-aplikasi di beberapa departemen. Kalau dibilang kebetulan ya konyol juga.

Ok dibilang kebetulan, tapi kalau kebetulan terus menerus ya kita jadi curiga. Sepertinya ada sesuatu yang mengatur. Bahkan lahirnya kita, misalnya saya lahir di Jogja, Indonesia, itu pun pasti bukan kebetulan.

Mengapa pemain bola kebanyakan dari negara dengan sistem pembibitan dan manajemen pelatihan yang baik untuk sepakbola? Sepertinya tuhan menempatkan si pemain itu di lingkungan yang cocok, misalnya Lionel Messi di Argentina, pemain bulu tangkis di Cina atau Indonesia, ilmuwan di Amerika dan Eropa, dan seterusnya. Walaupun untuk personel tertentu seperti Habibie dilahirkan di Indonesia, atau nabi saya, Muhammad SAW, lahir di kaum jahiliyah saat itu.

Ketika berangkat kerja, saya melihat sampah-sampah yang dibuang sembarang, bahkan di kali yang bikin repot petugas yang mengambilnya. Pasti tuhan ada maksudnya, setidaknya saya layak dilahirkan di tempat itu .. wah. Kondisi apapun, seperti kata Jack Ma bisa dijadikan peluang. Katanya, jika Anda tidak bisa jadi yang terbaik, jadilah yang pertama. Ya iyalah, pertama itu berarti inovator. Kadang yang pertama itu hambatannya paling besar, lihat saja di balapan, pasti yang pertama paling berat menahan angin, misalnya di balap sepeda. Paling banyak mendapat cibiran dan penolakan. Teorema de morgan, di masanya dianggap teori orang gila mengingat tidak terlihat kegunaannya, padahal saat ini merupakan bahan baku sistem digital pada komputer. Untungnya dulu belum ada netizen ….

Unifying Goal

Entah dalam bekerja maupun kuliah, terkadang ada tugas yang harus dikerjakan dalam bentuk kelompok. Sebagian besar kelompok yang kita ada di dalamnya biasanya berbeda-beda karakteristik personilnya. Apalagi jika Anda kuliah di luar negeri dengan orang-orang dari berbagai kebudayaan dan lingkungan. Nah, repotnya terkadang tiap personil memiliki goal atau tujuan masing-masing, sehingga goal kelompok harus sejelas mungkin jangan sampai terganggu oleh goal masing-masing.

Peran besar Sukarno pada bangsa Indonesia adalah menyatukan seluruh rakyat Indonesia agar memiliki satu tujuan bersama, alias unifying Goal. Bangsa yang beragam suku, agama, ras, dan adat harus memiliki satu tujuan bersama, tertuang dalam pembukaan UUD 1945 yang terkenal. Pertarungan dua kubu perang dingin Uni Sovyet yang komunis dengan Amerika Serikat yang liberal membuat tujuan bersama bangsa Indonesia ketika itu di tahun 60an kacau balau tak menentu. Efeknya adalah terulang kembali kekacauan di akhir Era Majapahit, alias perang saudara.

Jika tujuan personil mengalahkan tujuan kelompok sudah dipastikan pekerjaan berat bakal dihadapi. Saya pernah memiliki kelompok saat kuliah yang menggabungkan mahasiswa master dengan doktoral. Repotnya adalah mahasiswa magister tidak masalah mendapat B, sementara mahasiswa doktoral harus nilai A, nilai B pada dasarnya tidak lulus. Bayangkan jika mahasiswa magister yang kebanyakan mayoritas di kelompok memiliki tujuan cukup dapat B, dijamin mahasiswa doktoral akan bekerja keras, bahkan menjadi ‘single fighter’ agar minimal B+.

Dalam dunia kerja, misalnya kerjasama antara klien dan konsultan. Memang aslinya masing-masing memiliki tujuan di institusinya, misalnya konsultan memiliki banyak membimbing klien sementara klien mencapai tujuan perusahaannya. Tujuan utama mereka seharusnya menyelesaikan problem klien secepat dan sebaik mungkin, namun jika konsultan mengutamakan tujuan institusi kebanyakan menjaga agar klien tergantung terus dengan konsultan. Ada beberapa instansi pemerintah yang memiliki aplikasi dari konsultan tetapi source code tidak diberikan, kalau diberikan pun ternyata tidak bisa diakses. Sebagian lagi memasang server di tempat lain atau di tempatnya agar klien tergantung dan tidak bisa lepas dari konsultan itu.

Biasanya pemimpin yang baik akan melihat hal tersebut dimana tujuan bersama harus yang utama. Seperti pemimpin bangsa mungkin berasal dari partai tertentu, suku tertentu, agama tertentu, dan lain-lain yang sudah pasti memiliki tujuan individu dan kelompoknya. Namun untuk keberlangsungan bangsa, tujuan bersama harus di atas tujuan kelompok masing-masing, alias Unifying Goal harus tetap terjaga. Repotnya adalah terkadang tujuan kelompok menjadi yang utama sehingga setelah pemilu, ketidakpuasan merajalela, kritik tidak manusia kerap berseliweran di medsos dan media. Parahnya lagi jika pemimpin, misalnya menteri, masih memiliki tujuan kelompoknya menjadi tujuan utama.

Anak-anak muda kita merupakan pewaris bangsa yang di tahun 2045 kabarnya persentasenya tertinggi di dunia. Persentase tersebut tidak ada artinya jika masing-masing berjalan dengan tujuan sendiri dan melupakan bahkan tidak menganggap tujuan bersama. Jangankan tercapainya tujuan bersama, perpecahan bisa saja terjadi. Kalau bisnis mungkin kita bisa memilih bekeja sama dengan siapa, tetapi sebagai satu bangsa tentu saja tidak ada pilihan lain harus bisa bekerja sama dengan bangsa sendiri. Semoga kedepan bangsa kita menjadikan tujuan bersama lebih diutamakan dari tujuan individu dan kelompok.

The Power of One

Istilah Big Data muncul bersamaan dengan perkembangan hardware dan software, termasuk media sosial seperti facebook, twitter, tiktok, instagram, dan sebagainya. Secara sederhana, Big Data dengan konsep volume, velocity, veracity, dan variety, merupakan kumpulan data yang tidak mudah disimpan dalam penyimpanan konvensional [link]. Untuk mengolahnya butuh piranti yang kuat (super computer), dan beberapa software seperti Matlab memperkenalkan konsep pemrosesan Tall Array [link], dimana untuk uji coba digunakan data sederhana, setelah ok baru data yang besar agar ketika testing tidak memberatkan kinerja komputer.

Sebenarnya konsep big data adalah data yang buruk lebih baik dari pada tidak ada data. Namun, jika kurang pandai mengelola data dapat dipastikan hasil kurang relevan, tidak akurat atau tidak bermakna. Jadi Big Data memerlukan satu komponen lain yaitu Algoritma, dimana saat ini penerapannya disertai dengan Artificial Intelligence. Dengan algoritma yang tepat disertai pemrosesan paralel, pengolahan Big Data jadi lebih mudah dan cepat.

Bagaimana dengan “brainware”? Dalam hal ini adalah manusia. Berbeda dengan komputer yang bisa dijalankan secara paralel, kita sebagai manusia ternyata tidak sanggup paralel. Istilah multitasking sebenarnya bukan bersamaan secara paralel melainkan berganti-ganti secara cepat. Repotnya, tiap berganti memerlukan delay yang secara total mengurangi performa. Bahkan ada psikolog yang meneliti ketika mengerjakan suatu tugas psikis, jika sering diinterupsi, kerap terjadi error/kesalahan. Peneliti lain menghasilkan informasi adanya penambahan waktu sekitar 30% jika dua aktivitas dilakukan secara bersamaan dibanding secara serial satu kali finish dilanjutkan dengan aktivitas kedua hingga finish juga [link]. Namun untuk tugas tertentu seperti petugas McD yang menerima pesan sekalian melakukan pembayaran lebih menguntungkan dengan orang yang sama mengingat penambahan waktu 30% tapi menurunkan membayar petugas yang terpisah.

Untuk melatih the power of one sederhana, kerjakan satu aktivitas satu saja, hilangkan gangguan seperti notifikasi, berita yang tiba-tiba muncul di browser, youtube kesukaan, dan sejenisnya. Kemampuan untuk ‘bersikap bodo amat’ terkadang perlu [link], maksudnya adalah menyingkirkan yang tidak penting. Sehingga kemampuan ‘mengupas’ hal-hal yang tidak perlu hingga yang tinggal adalah hal yang perlu dikerjakan, dijamin tugas akan selesai. Prinsip the power of one ini merupakan awal dari prinsip ‘do less and obsess’ konsep yang mendorong seseorang untuk fokus pada hal-hal yang benar-benar penting dan mendalam daripada mencoba melakukan terlalu banyak hal dengan sekali waktu.

Orang pun senang dengan the ‘power of one’. Manakah yang lebih Anda sukai, berdialog dengan orang yang kerap membaca notif dari HP dengan orang yang fokus mendengarkan dan merespon pembicaraan dengan Anda. Sekian, semoga bermanfaat.

Jangan Lupa Evaluasi

Anda sakit? Anda baik-baik saja? Jika pertanyaan itu dialamatkan ke Anda, apa yang Anda jawab? Mungkin Anda menjawab baik-baik saja, hanya sedikit kolesterol dan kadang magh kambuh. Begitu juga terhadap institusi Anda, mungkin menjawab dengan hal yang sama, misal bisnis lancar, mahasiswa baru masih ada tiap tahun, masih untung, dan sejenisnya.

Dari kecil saya hidup di utara Jakarta, tepatnya tanjung priok. Kehidupan yang keras dimana sumpah serapah sudah biasa. Keponakan saya yang masih kecil waktu itu pun kalau sedikit tersinggung langsung keluar kata ‘anjing’. Uniknya ketika idul adha, melihat kambing lewat dia langsung teriak, ada .. anjing.. ada anjing.. nah lho. Ketika kondisi lagi error, wilayah tempat tinggal saya menjadi tempat pertarungan antar geng, karena lokasinya yang tak tersentuh aparat keamanan. Pernah saya dan teman kecil saya tebak-tebakan di mana tetesan darah yang berceceran di jalan berhenti.

Selang beberapa waktu, saya harus SMA ke Jogja, karena diajak kakak yang kuliah. Jaman itu merupakan jaman yang tidak bisa dilupakan karena masih bermain surat dan sekali saya menerima wesel. “Rahmadya, segera ke tata usaha”, pemberitahuan dari pengeras suara sekolah. Siang itu saya menghadap TU dan diberikan secarik wesel. Untungnya di depan sekolah ada kantor pos, langsung saja ke sana. Sesampainya di sana, petugas melihat wesel, entah apa yang dia lakukan, selanjutnya memberikan uang sesuai dengan jumlah yang tertera. Ya, uang bulanan ternyata dikirim via wesel, waktu itu tahun 1992. Setelah itu karena bank sudah menjamur, kiriman beralih lewat bank. Tapi jangan salah, tidak seperti sekarang yang ada ATM, waktu itu harus ke teller hanya sekedar cek apakah ada kiriman masuk. Agar tidak malu sama teller karena dateng Cuma ngecek isi rekening, biasanya saya dan kedua kakak saya bergiliran ke teller di hari yang berbeda, he he.

Saatnya liburan merupakan hal yang membahagiakan. Dengan naik kereta senja yogya gambir saya tiba dengan lelah, mengingat kereta jaman dulu yang banyak berhenti, tidak seperti sekarang. Baru saja sampai, saya terkaget menghirup udara Jakarta yang tidak senyaman Yogya. Keponakan saya langsung menyambut,”om bandit .. om bandit”. Dalam hati kenapa dia memanggil nama saya bandit, mungkin sulit lidahnya. Untuk menyegarkan badan, saya langsung mandi. Alangkah terkejutnya ketika air PAM dari ledeng menerpa tubuhku. Tidak seperti air di kampung yang menyegarkan, air PAM malah bikin berkeringat. Dalam hati saya berfikir kenapa saya betah tinggal di daerah ini ya bertahun-tahun.

Cerita di atas hanya mengilustrasikan bahwa kita terkadang merasa hal-hal aneh, kurang wajar, kurang sehat, dan lainnya adalah hal yang biasa karena sudah bertahun-tahun menikmati hal tersebut. Ibarat menderita sakit yang lama, jadi tubuh menganggap itu bukan penyakit. Para nabi, juru selamat, dan orang tercerahkan lainnya sejatinya hanya menyadarkan kita akan penyakit yang kita alami. Begitu juga di tempat kita bekerja, karir kita, dan sekitar kita. Terkadang baru sadar ketika terjadi hal-hal yang di luar dugaan seperti jumlah mahasiswa menurun, karyawan baik pindah ke pesaing, adanya kerugian, bahkan kebangkrutan hingga terpaksa dijual.

Petenis juara dunia pun masih membutuhkan pelatih yang membantu menyadarkan kalau servis masih ada kelemahan. Bahkan juara dunia catur pun membutuhkan pelatih yang kalau diadu, si pelatih itu tentu saja kalah. Jadi, mintalah bantuan orang untuk mengevaluasi diri, organisasi, tim, dan lain-lain. Sekian, semoga menginspirasi.

Passion & Purpose

Passion

Passion artinya mengerjakan sesuatu sesuai dengan minat kita, misalnya bermain musik, olah raga tertentu, mengajar, dan lain-lain. Biasanya aktivitas tersebut dilakukan dengan senang hati, tanpa paksaan. Waktu pun terasa berlalu tanpa disadari. Banyak yang menganjurkan kita bekerja mengikuti passion kita, bahkan oprah winfrey, salah satu acara di tv amerika menganjurkan itu. Namun benarkah?

Sesuai dengan artinya, passion menuntut adanya kepuasan batin yang diterima. Jadi arahnya dari luar menuju ke dalam diri. Apakah bermanfaat bagi orang lain? Tentu saja belum tentu. Terkadang seseorang yang hanya mau bekerja sesuai passion akan mengalami kondisi serba kekurangan, bahkan cenderung menjadi pengangguran.

Purpose

Kutub ekstrim lainnya adalah purpose, yang artinya bekerja dengan tujuan tertentu. Biasanya menghasilkan kontribusi ke pihak lain. Arahnya berlawanan dari passion, purpose dari dalam ke luar. Jika tanpa passion, purpose berarti bekerja sesuai dengan tuntutan, kebutuhan, guna memberikan kontribusi ke pihak/orang lain. Terkadang yang dikerjakan tidak sesuai dengan minatnya. Biasanya fokus ke hasil, kalau bekerja ya gaji. Jadi mana yang tepat? Kutub passion atau kutub purpose?

Keseimbangan Passion & Purpose

Jim Carry ternyata mempunyai ayah yang tidak berbeda dengannya, yakni suka melucu. Tetapi demi menghidupi keluarga ayahnya bekerja sebagai akuntan, dengan gaji kecil. Dan Jim Carrey pun tidak ingin seperti ayahnya. Passion melucu tetap dia implementasikan sesuai dengan purpose, yaitu lewat acting di film, stand up comedy, dan lain-lain yang tentu saja menghasilkan profit. Ternyata passion bisa diimplementasikan dalam bekerja, setidaknya dalam hal-hal tertentu. Seorang pembuat roti, bisa saja memberikan kemasan indah, asesoris, dan disain roti yang diimplementasikan karena pekerjanya memiliki passion di bidang seni.

Untuk dosen pun passion dan purpose ada. Terkadang ada yang passionnya mendidik/mengajar, memberikan motivasi, dan arahan-arahan di depan kelas/diskusi, sementara jika dipaksa menulis, sulitnya bukan main. Sebaliknya tidak jarang dosen yang passionnya meneliti, dan ketika mengajar, murid bukannya tambah paham malah sakit kepala. Di Jepang pembagian dosen sesuai passionnya sudah berlaku [link], apakah Indonesia akan mengikuti? Saat ini dosen dipaksa selain mengajar juga meneliti dan melakukan pengabdian kepada masyarakat agar ilmunya bermanfaat.

Bagaimana dengan mahasiswa? Mahasiswa pun banyak passionnya, ada yang memang ingin murni belajar, alias ‘kupu-kupu’ – kuliah pulang-kuliah pulang. Tapi ada juga yang passionnya berorganisasi, aktif di ukm, organisasi kemahasiswaan, atau main musik, ke mana-mana bawa gitar. Tapi jangan lupa purpose ya, mengingat SPP harus tetap dibayarkan, sayang kalau tidak lulus. Ketika lanjut di dunia kerja jangan lupakan keseimbangan passion dan purpose.

Belajar AI dengan AI

Ada dua kubu pengertian AI yang terkenal yakni Russel [link] dan Elaine Rich [link]. Russel mendefinisikan 4 kuadran AI yakni think rationally, act rationally, think humanly, dan act humanly. Sementara Elaine Rich bersikukuh bahwa AI adalah bagaimana membuat komputer cerdas tetapi saat ini masih kecerdasannya di bawah manusia. Maksudnya adalah ada batas dimana ketika manusia sudah dikalahkan maka sudah tidak disebut AI lagi. Misalnya catur, ketika Kasparov di tahun 94 dikalahkan oleh Deep Blue buatan IBM, maka catur menurutnya sudah bukan AI lagi. Sama dengan permainan GO yg manusia sudah tidak bisa menang lagi melawan komputer. Silahkan percaya yang mana, tetapi yang kedua sepertinya sudah mulai terasa saat ini, yakni kekhawatiran AI mengalahkan manusia. Untuk think dan act rationally, okelah, tetapi jika think dan act humanly sudah dikalahkan AI, wah bisa repot. Saat ini penolakan mulai menghantui aplikasi AI, misalnya ChatGPT [link]. PBB pun sudah mewanti-wanti [link].

Tentu saja ibarat pisau yang bisa dipakai untuk kejahatan maupun kebaikan, ada baiknya bijak menggunakan AI. Misalnya memanfaatkan AI untuk belajar AI, salah satunya adalah ChatGPT. Aplikasi ini sangat praktis dalam belajar memrogram AI, atau setidaknya tidak hanya teori melainkan mempraktikannya secara langsung. Kita bisa belajar bagaimana AI diterapkan pada aplikasi Web yang saat ini ada, misalnya menambah ChatBot, similarity check, sistem rekomendasi, dan lain-lain. Tentu saja kemampuan menyisipkan AI di server web, misalnya PHP, DotNet dan sejenisnya. Selain pada Web, aplikasi desktop dan mobile sangat perlu juga diketahui bagi yang ingin belajar AI dasar, langsung praktik dan tidak hanya teori saja. Lintas platform pun dengan mudah dapat dilihat dengan hasil yang dapat dilihat langsung.

Dengan kecepatan membuat AI saat ini, kita hanya fokus ke bagian utama dari disain AI yaitu value. Beberapa hal yang ‘menjengkelkan’, ‘membosankan’, dan membuat ‘gundah’ masyarakat merupakan salah satu sasaran dari dibuatkannya AI. Hal-hal tersebut dapat dicapai dengan efisiensi, efektivitas, kecepatan, akurasi, dan kemudahan-kemudahan lainnya. Analisis dan diagnosis kesehatan bisa cepat dan murah, manajemen jadi tepat, dan lain-lain.

Masalahnya adalah standard untuk AI, seperti ISO, dan sejenisnya saat ini masih dalam tahap istilah, terminologi, dan lain-lain. PBB pun masih hanya masih berupa pertemuan untuk inisiatif-inisitaif seperti “The United Nations AI for Good Global Summit.”. Untungnya tiap domain implementasi, seperti pada kedokteran, transportasi, edukasi, dan lain-lain sudah punya standar yang dapat dipakai untuk membatasi penggunaan AI yang berlebihan.

Sebelum adanya kesepakatan, ada baiknya kita tetap memanfaatkan AI untuk hal-hal baik, salah satunya untuk belajar AI denga bantuan AI. Sekian semoga bermanfaat.

Sesederhana Mungkin

Banyak di antara kita yang ingin terlihat wah sehingga terkadang membuat kompleks sesuatu yang pada prinsipnya sederhana. Padahal Einstein sendiri pun mengatakan bahwa persamaan yang lengkap alias komplit itu jika sudah paling sederhana. Persamaan E=MC^2 itu pun sebelum dihasilkan persaman itu panjang pada awalnya. Namun demikian sederhana disini bukan menyederhanakan sesuatu, melainkan ya memang sederhana. Ada satu buku yang cukup baik untuk membahas bagaimana cara kerja yang efektif, judulnya ‘great at work’ [link].

Ada istilah multitasking, yaitu bekerja secara serempak/paralel terhadap beberapa pekerjaan sekaligus, mirip prosesor jamak (multiprosesor) terkini. Namun ternyata otak manusia tidak bekerja secara paralel, melainkan serial tetapi karena berpindah secara cepat, kesannya jadi dikerjakan secara bersamaan.

Buku tersebut unik karena berdasarkan riset lima tahun, dengan basis statistik. Tidak hanya menanyakan prinsip dari saran orang-orang sukses, melainkan survey terhadap kira-kira ribuan responden. Ternyata berpindah topik membutuhkan waktu adaptasi, jadi dua kegiatan dikerjakan sekaligus bisa memperlambat kerja hingga 20 persen.

Jadi yang baik ternyata adalah mengerjakan secara serial/sekuensial beberapa kegiatan. Bagaimana jika overload? Tentu saja tugas kita adalah ‘menyingkirkan’ hal-hal yang memang tidak penting atau tidak perlu dikerjakan. Dalam buku lainnya dikatakan ‘persetan’ dengan hal-hal ga penting itu [link].

Seperti prinsip Einstein di atas, list pekerjaan yang lengkap itu ternyata bukan ‘tidak ada lagi yang bisa ditambah’ melainkan ‘tidak ada lagi yang bisa dibuang’. Unik juga, ketika kita sudah membuang hal-hal tidak penting, maka ketika mengerjakan hal utama dan penting itu lah akan dihasilkan outcome terbaik.

Banyak hal-hal menarik lain yang bisa dipetik, seperti bagaimana kita menolak pekerjaan yang tidak penting yang oleh bos diminta untuk dikerjakan dengan memberikan alasan yang tepat. Karena kalau semua diterima dan kita kerjakan bersamaan, hasilnya tidak akan optimal. Jadi pilih satu kerjaan yang ingin anda kerjakan, buang semua gangguan seperti notifikasi HP, dan hindari gangguan lain, semoga bermanfaat.

Umur Panjang

Ketika ulang tahun, biasanya ada ucapan semoga panjang umur, atau setidaknya dari lagu yang biasa dinyanyikan, “panjang umurnya 2x .. dst”. Walaupun usia ada batasnya, ternyata panjang umur masih menjadi keinginan tiap umat manusia.

Ada sebuah buku berjudul “blue zone” yang membahas wilayah-wilayah di dunia yang memiliki penduduk dengan usia hidup mendekati 100 tahun, salah satunya adalah daerah okinawa di jepang [link]. Ada beberapa penelitian terhadap daerah itu baik dari sisi makanan yang diasup maupun gaya hidup yang dilakukan mayoritas warganya.

Ubi Manis

Berbeda dengan kentang yang biasa kita makan saat mampir ke restoran cepat saji, ternyata jenis kentang manis, alias ubi (sweet potatoe) ternyata merupakan komponen utama makanan di Okinawa, selain tentu ikan dan sayur mayur. Ternyata makanan yang mudah tumbuh di negara kita itu memiliki manfaat luar biasa, pengganti nasi yang cenderung negatif karena kandungan gulanya.

Ikigai

Nah, berikutnya adalah penelitian terhadap gaya hidup warganya, yaitu prinsip ‘ikigai’. Prinsip ini adalah prinsip setiap warganya ketika bangun di pagi hari, selalu ada hal-hal yang harus dikerjakan, diselesaikan, atau kewajiban lain. Salah satu penduduk yang diwawancara sudah pensiun sejak 80-an dan masih aktif hingga saat ini. Biasanya mereka berkebun, atau melakukan aktivitas lain, setidaknya berkunjung ke tetangga berapapun jarak tempuhnya.

Beberapa pensiunan di Indonesia banyak yang memiliki masalah ini, yaitu kaget ketika dipaksa berhenti bekerja dan bingung ‘mau ngapain lagi’. Dampaknya fisik terpengaruh, baik karena merasa tidak berguna, kesepian dan sebagainya. Terkadang walau belum pensiun pun banyak yang merasa tidak ada yang dilakukan, alias pekerjaan rutin saja setiap hari. Efeknya prinsip ikigai tidak ada dalam kehidupannya. Untuk Anda yg beragama Islam ada surat Al-Insyirah yang mengatakan jika telah mengerjakan sesuatu pekerjaan, lakukan pekerjaan lainnya. Ternyata ini juga masuk kategori ikigai.

Ada peneliti lain yang mengatakan karena posisi duduk di lantai warga okinawa sehingga memaksa mereka melatih kaki untuk bangun dari duduk di lantai. Sementara itu di eropa karena sebagian menggunakan kursi mengakibatkan para manula memiliki masalah di kaki yang kurang terlatih. Bahkan banyak kecelakaan yang menyebabkan meninggal karena jatuh dari posisi berdiri. Banyak juga yang menyarankan untuk yg jarang duduk di lantai (biasanya non muslim yang beribadah di kursi) agar sebelum mandi minum dahulu untuk menghindari jatuh di kamar mandi yang berakibat fatal karena sebagian besar benda di kamar mandi keras (marmer, beton, serta licin).

Emosi Negatif

Amarah ternyata berefek negatif jika disalurkan dengan saluran yang negatif juga. Karena bersifat menghancurkan objek yang menyebabkan marah. Tentu selain marah ada banyak emosi negatif yang merusak selain jiwa juga raga.

Dulu ketika saya melamar di satu kampus swasta di Jakarta ternyata saya ditolak karena ijasah S1 saya bukan ilmu komputer sehingga dianggap tidak mampu mengajar mahasiswa komputer. Jujur saja saya marah karena ijasah teknik mesin saya, walaupun dari kampus UGM, ditolak mentah-mentah. Amarah itu tidak disalurkan untuk balas dendam, melainkant tekat untuk membuktikan saya bisa menguasai bidang itu hingga ‘mentok’, alias doktoral [link].

Sebagai langkah awal saya melamar menjadi staf IT di bank Danamon, ternyata sanggup juga, walaupun ada kejadian server rusak akibat backup yang gagal di cabang pulogadung, cabang kaya yang karena itu dampaknya kehilangan 60 juta, waktu itu merupakan bilangan yang besar, mungkin kalau sekarang 180an juta. Uniknya, saya yang direkomendasikan dipecat oleh atasan, tetapi tetap dipertahankan oleh manajemen. Entah, mungkin karena sayang jarang ada pegawai yg berpengalaman merugikan 60 juta, hehe. Dan benar, saya berhasil merawat server-server di 30an cabang karena kapok kejadian itu terulang kembali.

Nah, ternyata energi marah yang disalurkan ke arah positif merupakan energi dahsyat yang menambah kekuatan mental. Sempat hampir DO karena nilai yang rendah, akhirnya bisa juga lulus duluan saat S3 di thailand. Banyak sekali kemarahan-kemarahan yg terjadi, misalnya rekan saya melaporkan, “Pa, tahu ga, kata pak ‘x’ bapak katanya bodoh”. Terlepas dari benar atau ngibul info teman saya, tetap saja saya arahkan ke hal yang positif, salah satunya prinsip Jack Ma, “jika Anda tidak bisa jadi yang terhebat, jadilah yang pertama”. Dan benar, saya selalu yang pertama, pertama kali serdos, s3, hingga beberap waktu lalu menjadi asesor LAM [link].

Jadi untuk Anda yang merasa banyak gagal, jangan takut, buat hari-hari Anda selalu aktif. Cari saja apa yang bisa dilakukan hari ini, besok, lusa, hingga 100 tahun ke depan. Konon ada seorang tua yang menanam kelapa ditanya, “pak untuk apa menanam, umur bapak kan belum tentu cukup untuk menikmati kelapa itu”, si kakek hanya tersenyum. Jangan-jangan anak muda yang nanya meninggal duluan karena si kakek menerapkan prinsip ikigai alias di Islam: ‘faidza farogtaa fansof’. Oiya, termasuk menulis tulisan di blog seperti ini bisa dijadikan aktivitas lho, sekian, semoga bermanfaat.

Perkembangan Tool Programming

Ketika pertama mengenal komputer di awal 90-an, kita mengenal bahasa yang berbasis teks. Di sini kemampuan programmer, khususnya dari logika dan ketelitian mutlak diperlukan. Salah sedikit saja, harus ulang lagi, dimana kompilasi bisa memakan waktu, bahkan mahasiswa waktu itu ditinggal pergi jalan-jalan dulu saat menunggu selesai.

Setelah itu beberapa pengembang bahasa pemrograman mulai membuat pemrograman dengan menggunakan toolbox, dimana untuk membuat interface GUI tinggal drag and drop saja menggunakan mouse. Waktu itu visual basic menjadi idola bagi para mahasiswa untuk tugas akhir, selain memang industri juga banyak permintaan dengan bahasa itu. Selanjutnya Netbeans, Eclips, Delphi, dan lain-lain mengikuti langkah microsoft.

Perkembangan terus berlanjut, khususnya aplikasi berbasis Web, yang dipelopori oleh PHP yang open source dan dotnet untuk microsoft. Muncul pula beberapa bahasa seperti Ruby and Rails dan Python yang masuk ke web-based. Tentu saja agak sulit membuat satu Integrated Development Environment (IDE) yang bisa menyatukan platform yang ada, apalagi terkadang memanfaatkan library yang terpencar-pencar. Perkembangan smartphone memaksa lagi developer memanfaatkan peluang itu dengan tools canggihnya, misalnya Android Studio.

Artificial Intelligence (AI) muncul di beberapa tahun terakhir mengubah peta. Beberapa aplikasi seperti ChatGPT mampu mengubah paradigma dimana penggunaan IDE bisa digantikan lewat tanya jawab dengan AI. Error yang terjadi dapat langsung terselesaikan, berbeda dengan cara mencari, bertanya, atau cara-cara lama lainnya. Video berikut menunjukan dengan mudahnya training deep learning dengan Tensor Flow dengan mudah dikonversi ke pesaingnya Pytorch untuk sample IRIS dataset.

E-Reader: Kindle vs Android-Reader

Membaca merupakan aktivitas yang paling dibutuhkan kita semua, terutama pelajar dan mahasiswa. Saat ini sebagian besar bacaan kita dalam bentuk elektronik seperti medsos, email, WA, dan notifikasi lain di smartphone. Walaupun membaca, tentu saja jika membaca di smartphone atau laptop terkadang bisa juga dibilang bukan membaca, dalam artian membaca mendalam seperti membaca buku teks, novel, dan sejenisnya yang ratusan bahkan ribuan halaman, baik di perpustakaan maupun beli buku di toko buku.

Saat ini sudah marak beredar Portable Document Format (PDF) yang merekam buku dalam format elektronik. Selain itu tersedia pula e-reader untuk membacanya, baik berbasis e-ink maupun Liquid Crystal Display (LCD).

Dari laptop, smartphone, hingga table memberikan sensasi yang baik untuk membaca. Namun ada satu permasalahan penting yaitu karakteristik LCD yang memancarkan sinar ke arah mata, walaupun sudah tipe terkini, misalnya AMOLED. Anda seperti memandang sebuah lampu, tentu saja akan melelahkan walaupun saat ini ada fasilitas untuk menghilangkan sinar biru yang berbahaya.

Terus terang, hampir jarang saya membaca satu full buku lewat laptop maupun tablet. Kalau untuk satu atau dua paper jurnal mungkin bisa, dengan diselingi dengan break untuk beberapa menit. Ternyata mata memiliki screen time. Silahkan baca gangguan-gangguannya di [link].

E-Reader

Sekarang kita masuk ke E-Reader yang menggunakan teknologi e-ink. Teknologi ini bermaksud meniru cetakan kertas dengan tinta elektronik berupa elektron yang menempel di dinding screen. Ketika menempel, setelah daya dihilangkan, elektron tetap menempel seperti tinta pada kertas. Jadi, tanpa daya dan sinar dari alat kita dapat membaca print elektronik tersebut. Tentu saja seperti buku kita perlu sinar juga dari lampu, matahari, dan sejenisnya yang tidak mengarah langsung ke mata (hanya memantulkan). Ada juga fasilitas lampu ketika baca di kegelapan, tetapi lampu yang ada pada e-reader hanya menerangi cetakan elektronik saja. Berikut review saya di awal-awal penggunaan e-reader [link].

Kindle

Merk kindle terkenal karena bekerja sama dengan induknya yaitu Amazon yang menyediakan beragam buku elektronik. Aplikasi ini memiliki format sendiri yaitu MOBI, AZW, AZW3. Selain itu dapat juga membaca format lain seperti PDF dan EPUB (disediakan fasilitas untuk konversi).

Versinya cukup banyak, dari yang murah (biasanya tanpa pena) hingga yang mahal (disertai pena). Saya sendiri menggunakan versi menengah tanpa pena tetapi anti air dan sinar layar otomatis. Berikut ini ringkasan kesan selama beberapa bulan menggunakannya.

Plus: ringan, cepat, baterai tahan hampir satu bulan, handal (jarang crash). Minus: tidak ada text reflow untuk baca pdf, tidak ada suara, tidak bisa baca e-perpusnas, e-gramedia, novel (fizzo, dll).

Android-Based E-Reader

Jenis lain adalah versi e-reader dengan sistem operasi android. Tentu saja tidak semua aplikasi seperti game berat nyaman digunakan di alat ini. Namun untuk yang tidak perlu grafis tinggi dapat dijalankan seperti browser, email, dan sejenisnya. Sepertinya alat ini perlahan namun pasti menyalip pendahulunya, kindle. Saya sendiri memiliki alat ini merk meebook yang merupakan versi yang lebih murah dari merk terkenal onyx. Namun dengan harga yang hampir setengahnya memiliki fasilitas seperti pena stylus, sd card tambahan, casing, anti gores dan lain-lain. Berikut ringkasan setelah beberapa bulan penggunaan.

Plus: bisa beragam aplikasi, bisa email, wa, dan aplikasi lain di playstore, , ada suara (stel musik), dan ada piliha speed prosesornya. Minus: baterai yang cepat habis, agak berat, layar perlu diset kecerahannya. Harga lebih mahal dari kindle utk kemampuan yg sama.

Kesimpulan

Nah, untuk Anda yang ingin membeli e-reader, berikut rekomendasi saya. Jika Anda mengatakan e-reader itu ga berguna, ga kayak HP, tablet, dan sejenisnya. Atau tidak bisa main PubG, Mobile Legend, dan sejenisnya, tentu saja tidak sesuai dengan pembahasan kita semula.

Tadinya saya agak kecewa dengan kindle yang hanya bisa membaca buku dengan teks saja seperti novel dan buku lain yang dibeli di Amazon. Kalaupun baca PDF agak sulit karena harus di zoom mengingat device yang kecil. Tetapi setelah lihat di forum, ada aplikasi seperti k2pdfopt yang dipakai untuk merubah PDF standar menjadi format yang disesuaikan dengan ukuran e-reader disertai dengan aplikasi lain yang membuat table of content atau bookmark ternyata ok juga dipakai. Oiya, tentu saja bukan pdf hasil scanner. Dan yang saya surprise adalah saya hampir lupa kapan terakhir ‘ngecas’. Tiap lihat berapa % baterainya hampir selalu di atas 70%. Kindle saya yang walaupun disertai charger tanpa kabel nyaris tidak dipakai fasilitas itu, alias pake charger usb-c biasa saja. Saran saya jika Anda hanya ingin punya satu device saja, belilah kindle dengan pena stylus untuk kepraktisan pengganti buku catatan di rapat, kuliah, dan lain-lain. Jika hanya baca novel, kindle pilihan utama. Bahkan kindle saya yang 6.8 inch ternyata kegedean, harusnya beli yang 6 inch saja, bisa dimasukan ke celana (untuk cowok).

Untuk Anda yang tidak hanya baca buku teks, disarankan menggunakan e-reader berbasis Android. Karena di sini disertai dengan text reflow yang secara langsung mengkonversi pdf asli menjadi bentuk ukuran font yang sesuai dengan e-reader, tanpa mengkonversi dahulu lewat k2pdfopt. Walaupun kindle memiliki tools untuk konversi pdf ke MOBI sesuai ukuran e-reader ternyata untuk persamaan matematis, tabel, dan sejenisnya masih berantakan. Lihat teknik konversi EPUB ke MOBI [link]. Apalagi jika Anda ingin membaca novel online atau buku-buku dari perpustakaan (e-pusnas), google book, dan lain-lain. Tentu saja disarankan membeli dengan pena stylus. Agar praktis mencatat meeting atau kuliah. Ukuran pun sebaiknya di atas 7 inch agar mudah menulisnya. Anda jangan jengkel kalau seperti HP, e-reader ini perlu dicas. Tapi sebaiknya matikan saja wifi, bluetooth, dan atur sinar agar hemat baterai.

Tapi kalau Anda ingin punya keduanya, lebih baik lagi, seperti saya, Android untuk meeting dan Kindle untuk bacaan saat bepergian (mobile). Sekian, semoga bermanfaat.

Waktu Bagaikan Pedang

“Kamu tahu beasiswa yang di atas 40 tahun?”, kata rekan saat santai ngobrol sambil menikmati kopi. Karena lama tidak baca berita tentang beasiswa, tentu saja saya kaget, ternyata Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) mensyaratkan max 40 tahun. Dulu, di tahun 2013 ketika masih ditangani oleh Beasiswa Pendidikan Pascasarjana Luar Negeri (BPPLN) maksimal berusia 47 tahun, yang beberapa bulan sebelumnya 50 tahun. Sementara yang dalam negeri (BPPDN) maksimal 50 tahun. Dari undang-undang MENPAN sih 42 tahun. Tapi yang jelas di atas 40 tahun masih boleh.

Beberapa rekan saya yang dari awal memang ‘super’ karena lulusan perguruan tinggi ternama di Indonesia (masuk 10 besar), bahkan ada yang dari luar negeri, entah mengapa sepertinya terlena untuk melaksanakan studi lanjut ke S3. Keasyikan menjabat merupakan faktor utama, disamping keasyikan lainnya. Padahal waktu itu mereka belum menikah, alias belum ada hambatan untuk belajar lagi.

Dihapusnya BPPLN memang merupakan bencana terbesar bagi mereka yang menunda studi lanjut, karena penggantinya, LPDP mengharuskan penerima beasiswa anak-anak muda. Memang kalau dilihat di kondisi real, kebijakan tersebut ada benarnya. Ketika saya berangkat, beberapa rekan ‘penghalang’ sebagian besar dosen-dosen senior yang lebih tua usianya. Namun ketika sampai di kampus tujuan dan mulai kuliah, saya seperti Pak RT .. alias paling tua. Untungnya perawakan Indonesia terlihat lebih muda dari usia sesungguhnya, dibanding rekan-rekan asia timur yang wajahnya ‘boros’ .. alias lebih muda dari wajah yang terlihat.

Apa boleh buat, sebagian lanjut dengan mengandalkan biaya sendiri yang kian tahun biayanya bertambah. Dalam waktu 5 tahun saja, biaya S3 di kampus swasta ternama di Jakarta, biayanya hampir naik dua kali lipat. Memang ada stok untuk beasiswa tapi ya itu tadi, maks 40 tahun. Termasuk rekan-rekan saya saya mulai kesulitan karena kampus hanya memberi beasiswa per fakultas satu/dua orang saja. Ditambah ketidakpercayaan akibat 1 orang DO dan satunya lagi meninggal karena COVID. Tentu saja pelajaran berharga bagi kita agar tidak menghalangi rekan kita yang diberi kesempatan untuk maju.

Studi lanjut dengan tanpa mempertimbangkan secara matang pun bisa berbahaya, salah satunya adalah linearitas. Ada satu prinsip dasar yang dijelaskan oleh rekan yang juga kakak kelas saya yang profesor. Beliau menggunakan prinsip susu kopi. Misalnya jika S2 komputer dan risetnya komputer, kita anggap komputer sebagai kopi. Maka untuk menjadi guru besar dia harus menjadikan kopi sebagai bahan utama, misalnya kopi panas, kopi lathe, atau kopi susu. Jika dia lanjut di bidang non-komputer, misalnya pendidikan, maka dengan S2 komputer dan S3 pendidikan, maka tidak bisa dikatakan kopi sebagai bahan utama, karena yang dilihat S3 maka masuk kategori susu kopi. Jika ingin jadi profesor, maka seluruh riset harus berbasis susu, bukan kopi. Padahal riset-riset sebelumnya adalah kopi (komputer). Yang jelas di akreditasi, jika prodi yang akan diakreditasi adalah jurusan kopi, maka yang dapat nilai hanya kopi murni atau kopi susu, sementara susu kopi tidak ada nilai di akreditasi. Tapi jika Anda hobi belajar dan tujuannya menuntut ilmu, itu tidak bisa disalahkan.

Sekali lagi, untuk dosen-dosen muda, mengingat ketertinggalan kita dengan negara lain yang jumlah doktoralnya lebih banyak, sebaiknya segera berangkat. Di sini kata berangkat berarti studi lanjut di luar negeri, karena ada hal-hal tertentu di luar pendidikan/ilmu yang dapat dibawa pulang untuk kemajuan bangsa. Atau kalau mau di dalam negeri pun ok. Sekian, semoga menginspirasi.

Bersama Pa John, pewawancara DIKTI, saat acara reuni penerima beasiswa DIKTI (sekarang DIKBUD)

Pendidikan Tinggi Kita

Bulan Juli-Agustus merupakan bulan sibuk bagi orang tua yang anaknya akan melanjutkan ke bangku kuliah. Dimulai dari UTBK hingga ujian mandiri ditempuh calon mahasiswa agar mendapatkan pendidikan yang baik sebelum terjun ke masyarakat. Menteri pendidikan dan kebudayaan pun terus mengupayakan bagaimana cara meningkatkan kualitas pendidikan di tanah air. Deddy Corbuzier pun turut mengkritiknya.

Jikalau fokus pendidikan hanya menyediakan tenaga kerja, ada benarnya video tersebut. Tapi jika mengikuti saran tokoh pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, ada banyak aspek pendidikan selain mensuplai tenaga kerja. Ada banyak prinsipnya, misalnya kemandirian, kebangsaan, inklusivitas, dan lain-lain yang bisa Anda googling sendiri.

Inklusivitas

Ketika mengajar AI, ada bab tentang etika AI, salah satunya adalah AI untuk semua. Konsepnya mengadopsi bidang lain karena AI merupakan bidang baru. Di sini baik AI maupun pendidikan tidak jauh berbeda dari sisi inklusivitas. Memang semua terkait, tidak hanya dilihat dari satu sisi. Misalnya sebuah perusahaan ketika merekrut pekerja hanya mengandalkan kepandaian, kecerdasan, keterampilan dan sejenisnya dapat dipastikan akan menerima pegawai dari kampus-kampus tertentu yang terkadang dari orang-orang yang mampu secara finansial. Misalnya Google atau industri IT membuka kampus yang kemungkinan tidak semua masyarakat bisa memasukinya berarti hanya mengambil orang-orang tertentu yang mampu saja.

Jadi kalau dari ujung (pengguna lulusan) sudah seperti itu, yang mungkin karena mereka butuh bersaing, sudah dipastikan ke bawah ujung-ujungnya anak-anak yang mampu saja dengan akses pendidikan yang baik. Lain cerita ketika perusahaan mencari pegawai untuk bersama-sama makmur, dengan keyakinan setiap orang punya hak yang sama memperoleh kehidupan layak, perlu diusahakan mendidik secara ‘gratis’ pegawainya di organisasinya.

Repotnya, saat ini dengan kampus negeri yang kian dituntut sebagai badan hukum, usaha mendapatkan dana perlu ditempuh. Kembali lagi keluarga yang mampu sudah pasti memiliki akses yang lebih baik, kecuali memang anak orang tak mampu yang sangat super, yang kadang terjadi ketika diterima tidak mampu bayar uang registrasi. Kapasitas kursi pun kian menyusut, berbeda dengan jaman saya dulu (era 90-an) yang murah meriah.

Indonesia Emas 2045

Salah satu visi jangka panjang adalah di tahun 2045 pendidikan kita unggul. Jika dihitung dari saat tulisan ini dibuat berarti butuh 22 tahun. Jika pemimpin di masa itu yang ideal adalah usian 45-50 tahun, maka generasi yang berusia 20 sampai 30 akan memimpin besok. Jadi, bukan SD, SMP, dan SMA, yang mendesak adalah mahasiswa. Tentu saja tidak mengecilkan arti pendidikan dasar dan menengah, tapi yang urgen adalah memang usia mahasiswa, karena jumlahnya di tahun itu adalah yang terbanyak (dibanding manula dan balita/remaja). Tanpa adanya usaha, mereka yang harusnya jadi tenaga pendorong, bisa jadi beban.

Jika Anda percaya 100% video di atas, maka Anda menyerahkan pimpinan ke generasi yang belajar otodidak, lewat apapun, tanpa perlu kuliah. Kalau pun itu berhasil, ibarat judi/gambling, karena tanpa adanya usaha/treatment resiko sangat besar. Manusia yang beragam seolah dikerucutkan jadi sejenis, misalnya extrovert saja, yang jago ngomong, buat podcast, stand up comedy, dan hiburan lainnya. Ada sepertiga hingga setengah dari total manusia adalah introvert (menurut buku Quite karya Susan) yang lebih tekun, detil, dan tidak menyukai keramaian.

Jangankan level dunia, di Asia Tenggara saja, misalnya dosen IT di Indonesia yang doktor IT hanya 4%, jauh dibandingkan Malaysia yang 90-an%. Kampus swasta, apalagi level menengah, saat ini kebanyakan mengalami kesulitan. Memang ‘menutup’ jurusan/prodi lebih mudah dari ‘membuka’-nya dengan ijin yang ketat. Jika memang dianggap salah kampus itu sendiri, jangan salahkan juga jika dosen-dosen yang berkualitas mengajar/bekerja di luar negeri. Semoga tulisan menjelang peringatan hari kemerdekaan ini bisa menginspirasi.

Membuat ChatGPT Sendiri

Tidak dapat dipungkiri bahwa ChatGPT membuat warna baru dalam persaingan Artificial Intelligence App di dunia. Dalam hitungan hari penggunanya sudah menyaingi beberapa situs-situs ternama. Hal ini karena fleksibilitasnya yang cukup memanjakan pengguna dibanding hanya sekedar search engine saja seperti Google, Bing, dan kawan-kawan.

Namun salah satu keterbatasannya adalah informasi terkait kondisi terkini atau kondisi spesifik tertentu, misalnya menanyakan informasi khusus seperti nama Anda sendiri. Biasanya jawabannya seperti ini:


Ok, jangan tersinggung, memang aplikasi ini tidak ditujukan sebagai search engine. Generative Pre-trained Transformer (GPT) sendiri merupakan model transformer yang cukup ampuh dalam mengelola Natural Language Processing (NLP). Ternyata Google mencoba mengembangkan Bidirectional Encoder Representations from Transformers (BERT) yang tidak kalah hebat.

Beberapa situs di internet banyak yang mengajarkan bagaimana membuat ChatBOT ala ChatGPT. Salah satunya adalah Github ini. Untuk mempraktikannya cukup dengan Google Colab. Misalnya saya menggunakan data Nilai Mata Kuliah Artificial Intelligence berupa tabel CSV.

Dengan memanfaatkan pretrained model dari HuggingFace yang lumayan juga ukurannya, hampir setengah Gigabyte.

Di sini kita akan membuat sistem Chat yang dapat menginfokan data.csv yang telah digunakan untuk transfer learning. Oiya, transfer learning adalah melatih model dengan data baru dari model yang sudah terlatih sebelumnya. Beberapa bobot dibekukan (freeze) agar info yang dahulu dapat dipakai lagi, sementara data baru menggunakan bobot yang biasanya diujung untuk belajar hal baru.

Tampak paramater yang dapat dilatih contoh di atas adalah 500an Mb sementara yang dibekukan 60-an juta parameter. Bagaimana penggunaannya? Sederhana saja, mirip ChatGPT. Jika kita ingin mencari informasi nilai dari tabel tersebut kita tinggal bertanya saja.

Yang tadinya model tidak bisa menjawab informasi tersebut (silahkan tanya ChatGPT, pasti jawabannya seperti gambar sebelumnya), sekarang bisa menjawab. Hal terpenting adalah model transformers dapat mengetahui susunan kata yang berbeda. Tinggal model tersebut diimplementasikan pada Web maupun mobile app.

Jadi jika kita akan membuat sistem ChatBOT yang menjawab masalah jadwal perkuliahan, prosedur pendaftaran dan lain-lain, alangkah baiknya menggunakan aplikasi ini. Saya pernah ditegur oleh bagian pusat layanan informasi/pusat informasi karena dianggap tidak men-share informasi dari rektorat ke jurusan yang saya pimpin (padahal sih udah), akibat mahasiswa yang kerap chat ke layanan informasi dan mengganggu waktu istirahatnya, karena sebagai manusia biasa butuh istirahat. Waktu pandemi COVID-19 memang mahasiswa butuh informasi tertentu terkait kuliahnya. Alangkah baiknya hal-hal yang kadang pertanyaannya ‘itu-itu saja’ bisa diganti dengan AI. Sekian, semoga bisa menginspirasi.

ArcGIS problem: suddenly disappears when clicked to open

Windows is an operating system that is constantly updated. Various features are continuously being renewed. However, sometimes this causes existing applications/software to no longer work, including the well-known GIS software: ArcMap.

It’s very frustrating when it was working just fine yesterday, but now it doesn’t work anymore, especially when there’s an ongoing project. The trouble is, even after reinstalling, the problem still persists.

ESRI’s website provides a solution by adjusting the Firewall settings. This is likely because when Windows updates, security is enhanced, especially on the Firewall side. As a result, server-based applications, such as the License Manager, may no longer function due to being blocked.

Simply open Firewall on Windows by typing ‘Firewall’ in the search bar. Choose the icon with a wall symbol. Next, just select ‘advanced’ setting.

Simply open Firewalls on Windows by typing ‘Firewall’ in the search bar. Choose the icon with a wall symbol. Next, just select ‘advanced’ settings.

Just click ‘Next’ to continue the setup, select the programs that require permission to access, for ArcGIS/ArcMap, it would be ArcMap.exe, lmgrd.exe, and LSadmin.exe. Name the firewall rule the same as the program names. Once done, your problem should be resolved.

If you look at the inbound rules, make sure that all three required applications for ArcGIS have their status set to ‘Enable’ and ‘Allow’. That’s it, I hope this helps to resolve this frustrating issue.