Cara Berfikir Problem Solving, Ternyata tak Cukup

Waktu itu saya datang ke tukang servis tablet karena tidak bisa charging. Setelah hampir satu jam diutak-atik akhirnya selesai juga masalahnya. Tablet yang selama ini nganggur tidak terpakai (padahal tipe note yang ada pena stylus nya) akhirnya bisa digunakan lagi (buat main game oleh anak saya).

Menyelesaikan suatu problem terkadang mengasyikan, mirip dengan main video game. Namun apakah “menyelesaikan problem” merupakan teknik terbaik dalam manajemen? Ternyata beberapa literatur menyatakan tidak. Untuk menjawabnya perlu mengenal kuadran yang menggambarkan antara urgent dengan important.

Kuadran I: Penting dan Mendesak

Kuadran ini perlu ditangani sesegera mungkin, jika tidak maka akan mengalami beberapa masalah. Tentu saja perlu kebijaksanaan dalam menentukan apakah suatu hal itu penting dan mendesak. Jika tidak, maka masuk ke kuadran II. Di kuadran I ini “problem solving” bermain.

Kuadran II: Penting dan Tidak Mendesak

Jika di kuadran I, keahlian dalam menyelesaikan problem sangat dituntut, pada kuadran II ini yang dituntut adalah kemampuan seseorang menganalisa suatu hal penting sedari awal, sebelum hal penting tersebut menjadi urgent. Beberapa ahli manajemen (lihat 7 habit effective people post2 yg lalu) menganjurkan fokus ke kuadran II ini.

Dicontohkan seorang manajer penjualan yang cenderung fokus ke masalah urgent dan penting terus. Sehingga lupa melihat aspek-aspek lain sebelum terjadi kondisi urgent. Beberapa perusahaan besar hancur karena fokus ke persaingan dengan kompetitor (penting dan mendesak), padahal musuh besarnya adalah bisnis baru dengan model baru (online application). Beberapa perusahaan ada yang berhasil karena sudah mengantisipasinya sebelum berubah menjadi urgent, misalnya TELKOM di negara kita.

Seorang mahasiswa yang bertipe kuadran II tidak akan fokus hanya ke ujian, atau tugas akhir saja. Sebelum ujian atau bimbingan, mereka terkadang melihat aspek-aspek penting yang tidak urgen seperti berkomunikasi dengan dosen pembimbing, menyiapkan paper-paper rujukan, mencari literatur-literatur terkini dan hal-hal lainnya sebelum waktunya.

Kuadran III: Tidak Penting & Tidak Mendesak

Dalam keseharian kita kerap menjumpai kuadran ini. Perlu diingat prinsip pareto, 80% hasil berasal dari 20% kerja. Jadi kerja/proses yang sebesar 80% (dari 20%) lainnya adalah hal yang sia-sia yang biasanya di kuadran ini.

Kuadran IV: Tidak Penting tapi Mendesak

Pada kuadran ini sebagian hal mendesak tidak penting bagi kita. Tetapi mungkin penting bagi orang lain. Sebaiknya kita bisa berkata “NO” agar kita bisa berfokus ke kuadran I kita.

Kembali ke judul di atas, sebaiknya kita tidak terlalu fokus ke problem solving, walaupun kesannya OK ternyata ada hal lain yang lebih penting, yaitu menjaga agar tidak terjadi problem. Di sinilah pentingnya sifat Proaktif. Tentu saja perlu kemampuan menyeleksi dan mengkategorikan hal-hal yang kita jumpai, pentingkah, urgen-kah, dan sejenisnya. Juga perlu disiplin karena terkadang hal-hal yang penting karena tidak urgen tidak kita jalankan karena sifat “besok aja”, “nanti juga bisa”, dll. Teringat saya eks BOS saya dulu mengatakan “Do Something!!” ketika menjaga 40 cabang bank di wilayah utara Jakarta agar selalu online dan transaksi berjalan dengan baik. Sekian, semoga bermanfaat.

Makan2 setelah selesai instal server wilayah Jabotabek dulu

Iklan

Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) di Jaman Now

Belakangan ramai diperbincangkan di grup WA tentang prinsip-prinsip dasar Ki Hajar Dewantara (nama aslinya RM Suwardi Suryaningrat). Walaupun terkadang melenceng ke esensi asalnya, yaitu membahas keluarnya beliau dari lingkungan keraton paku alaman, “Tut Wuri Handayani” tetap menjadi andalan KEMDIKBUD.

Arti dari “Tut Wuri Handayani” adalah dari belakang memberi dorongan. Uniknya adalah prinsip yang dicetuskan akhir abad 19 ternyata cocok dengan generasi milenial saat ini. Generasi yang gemar mengeksplorasi sendiri hal-hal yang diminati. Cocok dengan era disrupsi. Mungkin pembaca postingan ini ada yang masuk generasi – z, generasi yang dari kecil sudah mengenal dunia online, semoga bermanfaat. Ada hal-hal yang perlu diasah:

Nilai Dengar yang Tinggi

Banyak keluhan dari para pengguna lulusan generasi milenial yaitu tinggi tingkat perputaran pegawai, alias sering keluar masuk pekerjaan. Tidak cocok, mudah sekali mereka pindah. Biasanya ada gap antara generasi tua dengan yang muda di suatu institusi. Karena yang tua memiliki kuasa dan yang muda memiliki kreativitas tinggi tidak memiliki titik temu, akhirnya yang muda biasanya keluar mencari tempat lain yang bisa mengembangkan diri-nya.

Beberapa pemerhati karir menyarankan generasi milenial untuk meningkatkan nilai dengarnya. Maksudnya adalah meningkatkan hal-hal yang membuat ucapan/ide mereka selalu didengar oleh generasi tua yang biasanya atasan mereka. Karena tiap orang punya hasrat, kesukaan, dan selera sendiri, maka generasi milenial selayaknya mampu membaca hal tersebut dari generasi tua. Misal, mereka selalu bicara keuntungan/omset, pelanggan baru, dan sejenisnya, maka jika kita punya beberapa ide yang bisa menambah omset/pelanggan baru tentu akan melotot matanya dan serius mendengarkan, walaupun gaya bahasanya santai dan tidak serius. Tapi jika kita paksakan bicara teknologi, hi-tech, dan sejenisnya, walaupun berbusa-busa terkadang tidak didengarkan. Ada prinsip banyak mendengarkan terlebih dahulu dari pada langsung berbicara. Dan disarankan berbicara bukan karena kita harus berbicara, tetapi memang perlu berbicara.

Banyak Pemimpin Baik, Tetapi “Best Leader” selalu Loyal

Beberapa pionir seperti Zukenberg, Bill Gates, Steve Jobs, dan lain-lain memiliki karakter yang tidak jauh berbeda yaitu sangat loyal dengan perusahaannya. Entah itu perusahaan sendiri atau tidak .. tidak jadi masalah. Generasi milenial harus melihat hal tersebut. Pendiri-pendiri aplikasi online seperti GOJEK, ALIBABA dan lain-lain, memiliki hal serupa.

Terkadang ada kepuasan tersendiri ketika membangun suatu institusi dari kecil hingga besar dibanding pindah-pindah mencari institusi yang besar. Walaupun saat ini ada gap antar generasi di kebanyakan institusi tetapi jika memiliki “nilai dengar” yang tinggi, tidak jadi masalah. Toh beberapa pakar organisasi tidak mendefinisikan leadership hanya dengan jabatan tertentu. Seorang pegawai biasa pun bisa memiliki leadership yang baik asalkan memiliki tingkat inovasi yang tinggi. Oiya, leadership itu beda dengan managerial. Jika managerial melakukan sesuatu dengan benar, leadership melakukan sesuatu yang benar. Merakit piranti sesuai dengan SOP itu managerial tetapi menemukan piranti yang cocok dengan kondisi saat ini itu membutuhkan jiwa leadership.

Tipe Machine Learning

Walaupun kecerdasan buatan (Artificial Intelligent), Machine Learning, dan Deep Learning berbeda tetapi satu sama lain berhubungan. Deep Learning, yang dimotori oleh Jaringan Syaraf Tiruan lapis banyak, adalah salah satu jenis Machine Learning. Machine Learning itu sendiri adalah salah satu jenis dari kecerdasan buatan.

Machine Learning yang merupakan proses induksi ada tiga jenis. Penerapannya beragam, dari pengenalan gambar, pengenalan suara, pengenalan bahasa, dan lain-lain. Berikut ini jenis-jenisnya:

1. Suppervised Learning

Kebanyakan Machine Learning diterapkan pada jenis ini. Alur prosesnya antara lain: 1) memilih basis pengetahuan untuk menyelesaikan problem. Bandingkan jawaban dengan hasil sesungguhnya, 2) jika jawaban salah, modifikasi basis pengetahuan. Langkah 1) dan 2) diulangi terus hingga jawaban mirip dengan hasil sesungguhnya. Basis pengetahuan itu sendiri diistilahkan dengan Model. Jika disimpulkan suppervised learning memiliki pola:

{ input, correct output }

Dua tipa aplikasi terkenal dari machine learning jenis ini adalah klasifikasi dan regresi. Jika klasifikasi membagi dalam kelas-kelas yang diskrit, regresi bukan dalam kelas melainkan harga tertentu. Masalah yang sering dijumpai adalah Overfitting, yaitu adanya anomali dimana akurasi training yang bagus ketika diaplikasikan dalam kondisi real jatuh. Hal ini terjadi karena proses training tidak mampu menghasilkan generalisasi dari data dalam artian terlalu kaku mengikuti data training.

Namun terkadang klasifikasi dan regresi bekerja sama membentuk sistem seperti support vector regressin, juga neural network regression. Biasanya mengklasifikasi dulu baru meregresi hasil pastinya.

2. Unsuppervised Learning

Berbeda dengan suppervised learning, pada unsuppervised learning tidak diperlukan hasil sesungguhnya (correct output). Pada mulanya hal ini sulit dimengerti, tetapi dapat diterapkan untuk kasus yang memang tidak ada hasil sesungguhnya. Polanya adalah sebagai berikut:

{ input }

Salah satu representasi dari aplikasi unsuppervised learning adalah pengklusteran (clustering) dimana data training diinvestigasi karakteristiknya sebelum dikategorisasi.

3. Reinforcement Learning

Machine learning ini memasukan aspek optimasi dalam pembelajarannya. Jadi selain input, beberapa output dengan grade/kualitasnya digunakan untuk training. Biasanya diterapkan dalam bidang kontrol dan game plays.

{ input, some output, grade for this output }

Clustering dan Classification

Dua aplikasi tersebut serupa tapi tak sama. Untuk jelasnya kita ambil kasus pembagian kelas siswa menjadi IPA dan IPS. Jika kita memiliki data dengan label (output) IPA jika nilai IPA lebih besar dari IPS dan begitu pula sebaliknya kelas IPS jika nilai IPS lebih besar dari IPA, maka karena proses learningnya memiliki target/label/output, maka masuk kategori suppervised learning dan otomatis masuk domain klasifikasi. Namun jika kebanyakan guru IPA-nya “killer”, maka dikhawatirkan seluruh siswa masuk kelas IPS. Disinilah peran pengklusteran. Di awal kita tidak memiliki output tertentu, biarlah data yang membagi menjadi dua, baru diselidiki mana kelompok kelas IPA mana IPS. Tetapi waspadalah, jangan sampai kita membagi dua kategori (cluster) yang salah, bukannya IPA dan IPS malah kelas IPA dan IPS yang bagus dan kelas IPA dan IPS yang jelek, alias membagi siswa menjadi dua kategori siswa pintar dan siswa yang perlu lebih giat belajar (kata Kho Ping Hoo tidak ada orang pintar dan bodoh, tetapi tahu dan tidak tahu). Semoga bermanfaat.

Blank Password Problem di Mac OS

Maklum namanya baru menggunakan macbook, masih adaptasi. Setelah membuat dual OS di Macbook (dengan Windows), iseng-iseng mencoba setting password “blank” di Mac OS, malah bingung sendiri. Maksud “blank” di sini adalah dibuat tanpa password. Lumayan jadi buka tutup laptop tanpa password. Tetapi setelah di restart, bingung sendiri ketika mau login di-enter tidak bisa (padahal tanpa setting password).

Ditekan enter tidak bisa, tekan bola dan nama “Herlawati” tidak bisa juga. Ternyata iseng-iseng tekan alt+enter muncul isian baru dimana user name tidak muncul dan harus mengetik ulang.

Lanjutkan dengan menekan panah kiri di samping “Enter password”. Pastikan muncul logo dan nama saja.

Tinggal ditekan gambar bola-nya, akhirnya berhasil login. Repot juga. Langsung saya isi password saja lah, karena lebih repot kalau tanpa password. Lagi pula untuk instalasi baru, misalnya Microsoft Office, untuk install diperlukan password. Oiya, HINT itu ternyata alat bantu untuk mengingat password, misalnya “tanggal lahir”, “nama suami”, dll jika paswordnya itu (muncul ketika salah tiga kali). Tentu saja jangan sampai bisa ketebak orang lain yang tidak berhak. Demikian sharing sederhana saya.

Tujuh Kebiasaan Orang Efektif – Visualisasi

Lanjutan dari post yang lalu. Salah satu kelebihan manusia dibanding makhluk lainnya adalah visualisasi selain dari kesadaran diri. Einstein sendiri menyebutkan “Imagination Is More Important Than Knowledge”. Sebenarnya apa itu visualisasi? Dan bagaimana bisa mempengaruhi prestasi/kinerja seseorang?

einstein-imagination

Komponen Visualisasi

Visualisasi secara fisik terletak di bagian kanan otak. Selain visualisasi, komponen lainnya adalah imajinasi, afirmasi, kemampuan bahasa dan relaksasi, serta dialog terhadap diri sendiri. Banyak pakar yang sudah meneliti, salah satunya disebutkan dalam buku karangan Covey, yaitu Dr. Charles Garfield, yang meneliti performa para astronot di NASA. Dia melihat bagaimana para astronot latihan/gladi resik terus menerus sebelum ke ruang akngkasa. Sehingga pengalaman latihan itu masuk ke bawah sadar seolah-olah telah melaksanakan sesungguhnya. Begitu juga atlit-atlit ternama pun melakukan visualisasi sebelum tanding sesungguhnya, dan hasilnya kebanyakan memenangi pertandingan tersebut.

Jadi jika ingin sukses melakukan suatu kegiatan tertentu, maka dengan memvisualisasikan secara real di fikiran akan menciptakan “internal comfort zone” yang membuat diri seolan-olah telah terbiasa dan telah mencapai target/tujuannya. Akibatnya ketika menghadapi situasi sesungguhnya, tubuh dan fikiran sudah terbiasa. Bahkan beberapa literatur, seperti “the secret“, menganjurkan cara ini agar alam semesta membantu mencapai tujuan yang divisualisasikan dengan jelas. Kalau diistilahkan oleh Prof. Yohanes Surya, “mestakung: semesta mendukung“.

Kesadaran dan Imaginasi

Kesadaran sering dijumpai dalam literatur-literatur keagamaan, misalnya dalam agama Budha pada meditasi. Agama lain pun sama, misalnya retreat-retreat tertentu. Di sini perang hati bahkan lebih penting dari fikiran, dan memunculkan aspek-aspek lainnya seperti empati, khusyuk/fokus, sepenuh hati/ikhlas, dan bentuk-bentuk lainnya.

Namun bisa saja visualisasi digunakan untuk mencapai hal-hal yang negatif di segala bidang. Kita sebaiknya memvisualisasikan kondisi negara yang baik dan dengan demikian visualisasi para elit-elit yang negatif dapat kita kalahkan karena toh, jumlah orang baik di republik ini saya yakin jauh lebih banyak, tinggal visualisasi positif saja yang kita butuhkan. Abaikan berita hoax dan sejenisnya.

Beberapa rekan yang selalu memikirkan studi lanjut ke LN, misalnya Jepang, Eropa, Aussie, dll, kebanyakan akhirnya berangkat dan lulus juga. Oiya, ketika memvisualisasikan, pastikan tidak ada keraguan dalam hati, karena jika tidak, keraguan itulah yang terealisir. Selamat mencoba.

Ambil Kuliah Doktoral, Sulitkah?

Dulu di awal 2000-an, ketika bekerja di IT suatu bank, saya iseng mengajar honorer di satu kampus dekat tempat kerja. Ketika itu yang bergelar master masih jarang. Kalau ada, kesannya wah. Waktu itu masih didominasi MM dan MMSI untuk yang dari komputer. MM di sini magister management yang khusus untuk manajemen IT. Sementara itu, MT sepertinya sudah mulai banyak bermunculan, termasuk MIT yang diterbitkan oleh jurusan teknik elektro.

Aturan Magister untuk Dosen

Tidak perlu waktu lama untuk S2 bermunculan di sana-sini. Bahkan terkesan mudah sekali untuk mendapatkan gelar magister. Hal ini sebenarnya untuk memenuhi kebutuhan dosen yang harus bergelar master (S2). Banyak institusi pendidikan membuka program pasca sarjana magister. Beberapa rekan “dipaksa” untuk kuliah lagi, bahkan ada yang “hilang” nomor induk dosennya (NIDN) karena masih bergelar sarjana (S1).

Setelah mengambil S2, dulu sempat berfikir jangan-jangan kasusnya sama untuk yang S3. Dosen harus bergelar Doktor. Dan nanti banyak dibuka program S3 yang lulusnya mudah. Namun ternyata tidak berlaku untuk doktoral. Untunglah segera berangkat kuliah lagi tak perduli sulit atau tidaknya ikut program doktor.

Pemilihan Jurusan

Ketika mengurus surat ijin kuliah ke kopertis 4 (sebentar lagi akan diganti namanya), baru sampai meja pertama langsung ditanya ijazah magister-nya. Ternyata harus sama. Jika tidak sama (atau serumpun) tidak akan diijinkan. Kebetulan waktu itu sama, S2 Ilmu Komputer dengan kampus tujuan Computer Science. Ternyata ada faedahnya juga. Hati-hati, jangan asal ambil doktor. Dosen saya dulu pernah curhat, ketika sudah jenuh di kampusnya sekarang, ingin mendaftar ke kampus lain yang lebih baik (menurutnya) ternyata ditolak karena gelak doktornya tidak sama dengan homebase kampus tujuan. Kejadian itu mirip dengan yang terjadi di kampus ketika akreditasi. Satu dosen bergelar doktor tidak terhitung menaikan nilai akreditasi karena jurusannya beda (harusnya komputer tetapi ambil teknologi pertanian).

Sulitkah?

Dosen saya pernah “nyindir”, katanya mahasiswa doctoral jaman dulu menciptakan Bahasa pemrograman baru. Wah, repot juga kalo diterapkan standar seperti itu. Walaupun dipermudah, ternyata tetap sulit karena berbeda antara S2 dan S3. S3 harus benar-benar memoles dengan hal-hal yang baru. Repotnya lagi hal-hal baru terus bermunculan, sehingga satu temuan segera menjadi usang. Itu mungkin yang membuat S3 tak kunjung lebih mudah dari sebelumnya.

Perang Doktor?

Beberapa kampus di tanah air sudah tidak menulis lagi gelar. Mirip dengan luar negeri, karena memang sudah kebanyakan doktor. Setidaknya hanya memanggil Dr. X. Mungkin jika masih sedikit, banyak yang manggil pak doktor, tetapi kalau semuanya doktor tentu saja agak rancu. Semuanya bakal nengok. Kalau panggilan prof, mungkin masih bisa karena memang masih sedikit.

Nah, jika sudah banyak yang doktor, apa yang terjadi. Tentu saja akan ada persaingan. Tentu saja bersaing dalam hal riset (kuantitas dan kualitas). Doktor yang tidak sama homebase dengan jurusan kedoktorannya, tadi sudah dijelaskan akan kalah duluan. Jadi sebelum bertarung di riset, ada baiknya para calon mahasiswa doktoral perlu memilih jurusan yang tepat. Salah pilih, rugi dua kali, energi yang dikeluarkan untuk kuliah tetapi hasilnya tidak begitu sebanding. Beberapa program “Doctoral Bootcamp” sepertinya bagus untuk langkah awal agar tidak salah pilih. Tentu saja cukup satu atau dua kali. Kalau berkali-kali ikut tapi tidak berangkat-berangkat, pasti ada yang tidak beres (studi literatur, toefl/ielts, dan hal-hal lainnya).

Mungkin itu saja dasar-dasarnya. Untuk yang lebih “advance” silahkan baca kasus-kasus yang terjadi, misalnya pada kasus di situs ini. Di situ dibahas keluh kesah mahasiswa doktoral yang salah pilih hingga salah asuhan. Sekian semoga sedikit banyak bermanfaat.

Tujuh Kebiasaan Orang Efektif – Proaktif vs Reaktif

Ada satu buku karangan Covey “The 7 Habits of Highly Effective People” yang cukup menarik. Sebelum masuk ke apa saja kebiasaan-kebiasaan tersebut, dibahas sikap yang baik, proaktif atau reaktif.

Reaktif

Mungkin ini sikap alamiah kita yang merupakan bawaan dari unsur hewan. Reaktif di sini adalah respon terhadap kondisi yang menimpa. Misalnya diturunkan dari jabatan, maka reaksi di dalam hati misalnya: “pimpinan tidak mempercayai saya”, atau “ada orang yang memfitnah saya”, dan sebagainya.

Satu saran yang menurut saya sangat baik dalam bab itu adalah kita adalah makhluk yang bebas. Bebas di sini adalah bebas dalam menentukan sikap kita terhadap suatu keadaan. Apapaun yang terjadi, kita bebas memilih apakah bahagia atau kecewa. Memang kita tidak bisa bebas dari “circle of influence” diri kita. Kita mau tidak mau ikut aturan kerja kalau tidak tentu saja bisa dipecat. Tetapi kita juga bebas bersikap, berkarya, berinisiatif, dan karakter-karakter lain yang termasuk dalam lawan dari reaktif, yaitu proaktif.

Proaktif

Dalam buku tersebut dikisahkan sebuah kantor yang memiliki bos yang kurang bisa menciptakan suasana yang baik sehingga para bawahan cenderung bersikap reaktif. Pimpinan tersebut cenderung hanya menjalankan intruksi ke bawahan, harus begini, harus begitu, dan sejenisnya. Terkadang menyalahkan bawahan jika kurang baik hasilnya. Tapi ada satu bawahan yang bersikap proaktif. Dari pada berkata dalam hati, “bos kurang menghargai saya”, dia cenderung berkata, “Aku haru bisa menyelesaikan tugas secepatnya”, atau “aku harus bisa mengajak rekan-rekan menjadi tim yang kuat”, dan sejenisnya. Hasilnya ternyata bisa membuat kantor itu bertahan. Kalau dalam bahasa jaman now, mungkin orang proaktif tidak “baper-an”, aliash bawa-bawa perasaan. Sikap proaktif biasanya timbul karena istilah berikut.

End Mind

Sebenarnya ini istilah lain dari tujuan (goal). Orang yang sibuk belum tentu efektif. Terutama jika tidak mengetahui tujuan dari yang dikerjakannya. Jika mengetahui tujuan, seseorang akan tangguh, tidak begitu terpengaruh “circle of influence”, seperti misalnya kantor dengan seorang bos pada contoh kasus di atas. Jika tujuan suatu tim sepakbola adalah memenangkan turnamen, tidak ada yang mengeluh atau baper ketika dicadangkan oleh pelatih. Jika tujuannya ingin menjadi negara jadi maju, tidak akan mengeluh tidak terpilih jadi caleg, cabup, cagub, cawalkot, atau capres, termasuk simpatisannya juga. Perang kata-kata di medsos, cacian, hinaan dan sejenisnya, bagi orang yang proaktif tidak masalah selama tujuan utama selalu diingat, toh pilihan sikap ada di tangan kita dan kita bebas memilih apa sikap yang kita ambil, membalas dengan cacian juga, menumpahkan emosi, atau bersabar, tetap bersahabat, dan tetap bekerja sama membangun bangsa.

Referensi