Siap Berubah .. Terpaksa atau Tidak

Dalam catur ada istilah “inisiatif” yaitu kondisi sebelum sampai ke tahap menyerang. Kondisi ini mirip dengan keseharian kita dimana inisiatif cenderung bermakna aktif dan dinamis. Selain itu ada keinginan untuk berubah dari kondisi saat ini ke kondisi yang lebih baik. Prof. Max Ewe, mantan juara dunia catur dari Belanda, mengatakan untuk menjadi inisiatif harus mampu membaca “ciri” yang ada dalam suatu bangunan. Mengetahui ciri tersebut membutuhkan kemampuan membaca, bukan hanya membaca tulisan tetapi membaca lewat media lainnya seperti melihat, mengamati, menganalisa dan sejenisnya.

Prof. Edi, rektor UDINUS Semarang, dalam rakornas APTIKOM 2017 di Papua berbagi pengalamannya. Salah satunya adalah bagaimana proses terbentuknya televisi kampus. Waktu itu ada dosen baru lulusan luar negeri jurusan telkom tetapi ditunjuk menjadi dekan sastra. Mirip yang terjadi di kampus saya (hanya bukan luar negeri). Unik juga mengapa dia tidak ditempatkan di jurusan yang sesuai: yaitu karena tidak ingin menyingkirkan yang lama. Tapi ternyata dosen baru itu bisa berkreasi sesuai dengan pengamatan dia ketika kuliah di luar negeri. Mengapa alumni luar negeri memiliki ke-khas-an tersebut? Mungkin analisa Prof. Rhenald Kasali dalam bukunya, disruption, bisa menjelaskan.

Kontras & Konfrontasi

Untuk berubah diperlukan kontras dan konfrontasi. Kontras maksudnya adalah perbedaan antara kondisi existing dengan kondisi lain yang lebih baik. Tentu saja tidak bisa dengan hanya menjelaskan, perlu diajak melihat langsung kondisi lain. Video saja tidak cukup. Mengapa piknik/traveling tetap laris walaupun video di youtube sudah banyak yang merekam obyek-obyek wisata. Terkadang kenyamanan yang ada membuat kita merasa nyaman dan tidak ingin berubah karena merasa kita adalah yang terbaik. Hingga tersadar ternyata daerah lain sudah memakai baju dan celana, sementara kita masih menggunakan kolor akibat terisolir.

Terkadang hanya beberapa orang yang memahami perlunya perubahan. Oleh karena itu diperlukan kontras agar orang lain bisa melihat perbedaan yang ada. Jika orang tidak melihat adanya manfaat atau keuntungan dari perubahan, maka tidak akan terjadi perubahan yang diinginkan. Selain itu, kontras belum tentu bermanfaat jika hanya dilihat sekilas saja. Konfrontasi diperlukan untuk memperbanyak frekuensi dari kontras. Orang butuh berkali-kali melihat kontras sebelum mau berubah. Prinsip-nya mirip iklan di televisi/radio. Di kampus yang dosennya enggan studi lanjut, ketika ada seorang dosen mudah yang berangkat kuliah, mungkin menciptakan kontras. Tetapi jika hanya seorang saja yang berangkat, konfrontasi tidak terjadi, mungkin saja mereka menganggap hanya anomali saja. Tetapi jika banyak yang berangkat, maka kontras akan menjadi bermakna sehingga kesadaran untuk “upgrade” terjadi dengan dilanjutkan dengan “bergerak”. Perubahan memerlukan tahapan: kesadaran, bergerak, dan finish. Tanpa ketiganya, masih dikatakan belum berubah.

Apa yg dilakukan dan Bagaimana melakukannya

Satu lagi konsep yang diperlukan dalam membuat perubahan adalah apakah sudah tepat “apa yg dilakukan” dan “bagaimana melakukannya”. Hanya fokus ke salah satunya saja tidak akan membuat kemajuan yang berarti. Kabarnya banyak perusahaan yang excelent dalam “bagaimana melakukannya” tetapi tidak memperhatikan “apa yg seharunya dilakukan” saat ini hancur. Mungkin tidak ada yang salah dalam “bagaimana melakukannya” pada taksi konvensional, tetapi karena tidak bisa mengantisipasi “apa yang harus dilakukan” berakibat fatal juga ternyata, diserang taksi online. Sebaliknya, telkom bagus baik dalam “bagaimana melakukan” maupun dalam “apa yg harus dilakukan” sehingga mampu mengantisipasi trend perkembangan komunikasi yang tanpa kabel dengan fasilitas digitalnya. Mungkin kita sudah baik dalam mengelola suatu institusi, misalnya kampus, tetapi belum tentu baik dalam mengerjakan “apa yang seharusnya”. Dalam menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi saat ini, dibutuhkan pula orang-orang bertipe “driver”, agen perubahan (bukan hanya penumpang, apalagi penumpang gelap). Terkadang perlu “piknik” keluar, baik studi banding, atau mengundang pihak luar datang, untuk menggali “kontras”. Sehingga tidak terjebak dalam rutinitas “business as usual” yang kata orang jawa “ngono-ngono tok” (itu-itu aja) serta terbuai dengan kenyamanan yang ada. Kata para profesor lho …

Iklan

Waterfall, Iteration, atau Metode Extreem/Agile dalam Menulis dan Revisi

Bagi rekan-rekan yang berkecimpung dalam dunia IT pasti mengenal metode waterfall, iteration atau Extreem/Agile. Metode-metode tersebut diterapkan dalam perancangan perangkat lunak dan analisa & disain. Namun demikian, saya kerap menerapkannya dalam menulis, baik buku, paper imiah, maupun sekedar postingan di blog. Di antara metode-metode tersebut, manakah yang cocok dengan Anda? Mungkin postingan ini bisa sedikit membantu.

Waterfall

Waterfall artinya air terjun. Jadi metode ini menggunakan prinsip air terjun yang jatuh dari atas ke bawah. Menulis dengan metode waterfall berarti menulis secara cepat, tanpa memperhatikan tata bahasa, mengikuti ide yang ada di kepala. Ketika selesai 100% barulah proses editing dimulai. Kesalahan-kesalahan kecil, salah ketik (typo), maupun salah komposisi (letak kalimat dan paragraf) diperbaiki setelah semua ide dituangkan dalam tulisan. Banyak tips dan trik menulis yang saya terima menganjurkan metode ini, sangat cocok sebagai pemula yang terkadang “bengong” ketika di depan laptop. Fokus menuangkan ide menjadi dasar utama, apalagi bagi pemula yang jarang menulis. Re-writing menjadi wajib bagi yang menerapkan metode ini.

Kelebihan waterfall yang mengalirkan tulisan dengan lincah terkadang menyulitkan penulis buku yang tebal. Tidak mungkin lagi mengecek tulisan dari awal. Bayangkan saja berapa waktu yang dibutuhkan untuk mengecek lagi. Skimming mungkin bisa, tetapi jika mengecek dengan teliti hingga di level tata bahasa, sangat memberatkan, kecuali memang ada bagian yang mengoreksinya. Presiden RI pertama, Ir. Soekarno, pun dalam kata pengantar buku “di bawah bendera revolusi” disebutkan bahwa ketika beliau menulis buku tersebut (kumpulan tulisan) mengatakan tidak sempat lagi membaca ulang kembali apa yang ditulisnya. Kemungkinan besar beliau menggunakan metode iterasi, yang merupakan perbaikan dari metode waterfall dalam perancangan sistem.

Iteration

Metode iterasi menerapkan perulangan (iterasi) dalam proses pembuatannya. Ide-nya adalah merubah sesuatu ketika masih sederhana lebih mudah dibanding jika sudah kompleks. Termasuk juga mengoreksinya dan mengujinya. Tentu saja mengecek perbab lebih enak dibanding per-buku. Ketika menulis disertasi, yang paling melelahkan adalah ketika mengoreksi seluruh isi disertasi. Metode iterasi ini digunakan dengan cara ketika selesai satu bab, langsung koreksi bab yang baru saja ditulis. Terkadang bukan hanya satu bab, satu paragraf pun langsung dikoreksi ketika selesai dibuat. Terkadang kesalahan logika bisa ditemukan sebelum terlanjur, misalnya ternyata paragraf yang baru ditulis salah tempat atau kurang cocok di bab/sub-bab yang sedang digarap.

Jika seluruh tulisan selesai dibuat, mengoreksi tulisan yang dibuat dengan metode iterasi ini lebih cepat dan mudah dibanding mengoreksi tulisan yang dibuat dengan waterfall yang masih banyak salah di sana sini. Bahkan bisa hanya dengan “skimming”. Tentu saja konsep re-writing tetap diterapkan walau menulis menggunakan metode iterasi.

Extreem/Agile

Pernah dalam satu semester saya mengikuti kuliah web development dengan ruby and rails. Metode yang digunakan adalah dengan extreem/agile. Metode ini berfokus menghasilkan satu aplikasi dengan cepat. Berbeda dengan iterasi yang hanya perulangan beberapa milestoon/tahap dalam waterfall, extreem/agile menggabungkan beberapa tahap dalam proses pengembangannya. Ketika proses pembuatan proyek, ada fasilitas bantu yang berupa testing. Jadi testing dapat dilakukan sebelum software selesai dibuat. Metode ini bisa cepat karena dibuat “keroyokan” dengan alat bantu versioning. Rollback ketika new version gagal dengan mudah dan aman dilakukan.

Dalam hal menulis, banyak alat bantu yang bisa digunakan. Misalnya spelling and grammar check yang tersedia di wordprocessing yang digunakan. Aplikasi seperti grammarly terkadang bisa mendeteksi bukan hanya salah ketik, melainkan juga tata bahasa (singular, plural, atau completion). Satu tool yang saat ini mutlak diperlukan dalam publikasi ilmiah adalah cek plagiarisme. Beberapa software bisa digunakan untuk itu, seperti turnitin, plagscan, smallseotools, dll (lihat post sebelumnya). Untuk menulis “keroyokan”, penerapan cloud seperti google drive/one drive bisa juga diterapkan, termasuk menu review di mirosoft word.

Mungkin ide dalam postingan ini aneh bagi Anda, tetapi di jaman “disruption” yang melibatkan multi/interdisiplin dalam berbagai bidang, penerapan satu metode di luar domain ilmu sudah biasa dilakukan. Yang background-nya IT, tidak ada salahnya menerapkan metode-metode orang IT untuk hal-hal tertentu. Siapa yang “rigid”/kaku/radikal siap-siap akan ditinggalkan.

Sampai Jumpa SAPTO, Selamat Datang SALAM Infokom

Ada tiga klinik di acara rakornas APTIKOM tanggal 2-4 November yang lalu: Akreditasi, SKKNI, dan Tips n Trik Publikasi Ilmiah. Klinik di sini maksudnya adalah seperti workshop, penjelasan dan praktek (kalau ada). Di antara ketiga-nya saya memilih akreditasi karena ini merupakan yang tidak saya mengerti. Pembicaranya ada dua orang: Prof. Sri Hartati dari ILKOM UGM dan Dr. Prihandoko dari Gunadarma.

Akreditasi yang saat ini dilakukan oleh badan akreditasi nasional (BAN) perguruan tinggi (PT), atau disingkat BAN-PT bermaksud mengecek apakah suatu PT dan prodi-nya mengikuti standar yang ada. Pemerintah bermaksud memberi rasa aman dan nyaman) kepada masyarakat. Selain status antara terakreditas atau tidak terakreditasi, status terakreditasi terbagi lagi menjadi A, B, dan C yang nanti akan diubah menjadi Unggul, Baik sekali, dan Baik. Hanya penamaan saja agar terlihat sopan dan tidak terkesan memberi nilai. Jadi ingat ketika akreditasi di tempat saya bekerja yang asesornya dulu dosen saya ketika S1 di UGM. Selalu saja saya mendapat nilai C dari nya, dan ketika akreditasi pun dapat C .. alamak. Dengan kriteria yang baru sepertinya lebih manusiawi dan tidak merendahkan. Oiya, kabarnya prodi yang dapat B dan C masih dominan (sekitar 80%).

Pentingnya Akreditasi

Akreditasi merupakan aspek penting dalam penyelenggaraan perkuliahan di PT. Penting karena menurut UU No. 12/2012 terutama pasal 28 ayat 1, perguruan tinggi yang tidak terakreditasi tidak boleh meluluskan mahasiswanya. Maksudnya, ketika meluluskan mahasiswa, SK akreditasi harus masih berlaku. Oleh karena itu diharapkan enam bulan (untuk amannya satu tahun) sebelum habisnya SK, kampus segera melakukan re-akreditasi. Tantangan yang dihadapi BAN-PT dalam akreditasi adalah jumlah PT dan prodi yang banyak dan secara geografis tersebar luas.

SAPTO

Untuk menghadapi tantangan jumlah prodi dan PT yang banyak, Ristek-Dikti mengajukan sistem akreditasi PT online atau yang dikenal dengan nama SAPTO. Sistem ini untuk mengatasi masalah-masalah yang ada dalam sistem manual. Salah satu masalah yang diatasi dengan SAPTO adalah integritas data. Tidak ada entry data ulang dalam SAPTO sehingga terhindar dari human error. Bahkan sistem akan memberitahu jika ada inputan data yang kurang (dari file excel yang disubmit). Selain itu SAPTO terintegrasi dengan pangkalan data DIKTI (informasi tentang dosen dan mahasiswa). Hanya saja SAPTO membatasi ukuran file maksimal 25 Mb. Oleh karena itu sebaiknya jangan terlalu banyak gambar (yang penting-penting saja). Silahkan yang ingin latihan, SAPTO menyediakan latihan onlinenya: https://sapto-dev.banpt.or.id/sapto/public/.

SAPTO akan dijalankan Januari 2018, namun masih diberi toleransi 6 bulan hingga Juni 2018. Selain sistem yang online, SAPTO berbeda dengan sistem akreditasi sebelumnya. Jika paradigma akreditasi sebelumnya berdasarkan input, proses, dan output, SAPTO menerapkan prinsip proses, output, dan outcome. Tidak lagi dituntut berapa jumlah buku di perpustakaan, ruangan dosen, dan sejenisnya, melainkan berapa jumlah buku yang dipublikasikan oleh dosen, dan kinerja (output) lainnya. Outcome berbeda dengan output. Analoginya adalah, jika makan outputnya kenyang, maka outcome-nya adalah sehat.

SALAM Infokom

Sepertinya sistem akreditasi BAN-PT terus berbenah. Selain berbenah, ternyata Ristek-Dikti menawarkan untuk akreditasi lewat jalur mandiri yang dikenal dengan istilah lembaga akreditasi mandiri (LAM). Yang saat ini sudah berjalan adalah LAM PTKes untuk kampus-kampus bidang kesehatan. Walaupun ada keluhan jumlah uang yang harus dibayarkan untuk akreditasi cukup besar (sekitar 80 juta-an), tetapi bidang-bidang lainnya seperti teknik, dan informatika & komputer (infokom) siap diluncurkan. Salah satunya adalah LAM Infokom untuk bidang infokom, yang kabarnya akan diberi nama SALAM Infokom. Selain terpisah dengan BAN PT, SALAM Infokom juga memiliki sistem informasi tersendiri. Sistem yang dirancang akan obyektif, bahkan antara PT yang diakreditasi dengan asesor tidak bisa dijadwalkan karena sistem yang akan menentukan (asesor maupun anchor asesor-nya). Harapannya dapat subsidi dari pemerintah sehingga biaya akreditasi (ditanggung kampus yang akan diakreditasi) bisa ditekan atau bahkan gratis.

Peran APTIKOM

Saat ini LAM Infokom masih digodok, kabarnya sudah 95% selesai. Kata pembicara, diibaratkan wanita yang hamil tua. Yang merumuskan adalah dosen-dosen yang tergabung dalam asosiasi PT infokom (APTIKOM). Karena APTIKOM terlibat dalam LAM sebaiknya PT yang memiliki bidang infokom di dalamnya aktif dan menjadi anggota APTIKOM. Berbeda dengan akreditasi yang hanya menilai, LAM berfungsi juga sebagai pendamping dan pembimbing. Pendampingan berada di posisi ketika PT mensubmit data-data akreditasi secara online, jika ada yang kurang akan “dipaksa” melengkapi agar tidak gagal nantinya. Jika berkas yang disubmit OK, maka ada proses pembimbingan setelah asesmen lapangan (AL)/visitasi. Misal jika ada nilai lemah di bidang tertentu seperti kurikulum, performa publikasi, dan lain-lain, maka ada proses pembimbingan dari LAM. Jadi jangan main-main sama APTIKOM (yang baru saja melaksanakan rakornas di Papua).

Komponen Penilaian

Komponen penilaian yang berisi butir-butir beserta bobotnya masih terus disempurnakan. Sebagai bocoran, ada sekitar 9 kriteria umum beserta bobotnya. Selain itu ada satu kriteria berisi evaluasi diri, sehingga total ada 10 kriteria. Masing-masing kriteria diberi nilai dari A, B, C, hingga D. Peringkat atau hasil evaluasi ada tiga: unggul, baik sekali, dan baik. Mirip dengan terakreditasi A, B, dan C yang dikenal selama ini.

Peringkat “unggul” dicapai ketika jumlah nilai A (tidak ada D), nA = 8. Untuk peringkat “baik sekali” dicapai jika nilai A dan B (nA+nB) tidak kurang dari 6, sementara jika kurang dari 6 peringkatnya menjadi “baik”. Mungkin sampai sini dulu, karena SALAM Infokom masih dalam proses penggodokan. Semoga bermanfaat.

RAKORNAS APTIKOM 2017

Baru kali ini saya mengikuti acara rapat kerja nasional (rakornas) asosiasi perguruan tinggi informatika dan komputer (APTIKOM) tahun 2017. Keikutsertaan saya karena mewakili pejabat (ketua jurusan) teknik komputer di kampus saya yang tidak bisa hadir dan juga karena saya sekalian presentasi seminar internasional ICIC 2017 yang menyertai acara tahunan itu. Alhamdulillah, paper yang saya buat diajukan untuk dipublish di jurnal internasional terindeks scopus. Postingan ini tidak bercerita hal-hal teknis dan akademis melainkan suasana di rapat kerja tahunan asosiasi tersebut.

Seminar ICIC 2017

Judulnya sih biasa-biasa saja, tetapi di lapangan sungguh luar biasa. Bayangkan, peserta yang hadir banyak yang doktor dan profesor, sementara saya masih menanti disertasi yang rencananya dikoreksi profesor dari nagoya univ. Berikut yang terasa dari acara yang baru pertama kali saya ikut.

Antara “pe-de” dan minder

Jangan terlalu percaya diri dan jangan pula terlalu minder, biasa saja. Itulah nasihat yang bisa dicoba saat ini. Mengapa? Untuk menjawabnya bisa mundur jauh beberapa tahun ke belakang. Di era 90-an dan awal 2000-an pakar-pakar IT masih sedikit dan cenderung didominasi oleh pakar tertentu dan kampus tertentu saja. Saat ini ketika perkembangan IT yang merambah ke mana-mana dan membuat heboh dan tumbangnya raksasa-raksasa bisnis, tidak ada satu pakar pun yang menguasai seluruh ilmu informatika dan komputer (infokom). Tiap orang yang menggeluti IT memiliki kelebihan khusus yang tidak dimiliki oleh orang IT yang lain. Bukan maksudnya menghibur diri, tetapi memang demikian.

Minder karena masih master atau bahkan sarjana? Sepertinya tidak. Jika memiliki kualifikasi keahlian level 9, seorang Susi Pudjiastuti yang hanya tamatan SMP setara dengan gelar doktor. Sarjana dan master “jaman now” sebaiknya memperhatikan hal itu, kecuali tentu saja yang memang berniat kuliah lagi ke jenjang doktoral.

Semoga bisa ketularan

Minder karena homebase di kampus-kampus level bawah? He he .. nyindir diri sendiri. Tetapi saat ini orang melihat kepakarannya bukan homebase-nya. Kalo tidak percaya searching saja di “forlap” Dikti homebase pakar2 IT, pasti banyak yang dari kampus biasa saja. Tapi kebanyakan sih dari kampus ternama, tapi setidaknya orang melihat kepakarannya bukan kampus tempat dia bekerja, apalagi status kepegawaiannya.

Terlalu percaya diri karena jago bahasa pemrograman tertentu atau bidang tertentu? Nanti dulu. IT itu bidang yang dinamis dan cepat sekali usang. Tadinya cloud computing, ternyata saat ini diambil alih oleh internet of things. Banyak anak-anak ABG yang bergelar doktor baru dan memiliki keahlian-keahlian tertentu yang bikin mulut saya mangap, he he.

Antara temuan dan terapan

Seperti disebutkan dalam buku disrupsi karangan Rhenald Kasali, bahwa perkembangan IT ada dua jenis yaitu dari nol ke satu dan dari satu ke-n. Beberapa ahli IT bermain di nol ke satu, dalam artian menemukan hal-hal baru. Bukan hanya ahli dalam artian individual, bisa juga korporasi seperti facebook, google, amazon, dan raksasa-raksasa IT menemukan “mainan” baru (nol ke satu). Beberapa orang IT bermain di sisi satu ke-n, dalam hal ini menyebarkan temuan-temuan dari orang yang bermain nol ke satu. Grab, gojek, bukalapak, dan sejenisnya memainkan perang dari satu ke-n. Termasuk yang mengembangkan ilmu-ilmu non infokom dengan bantuan infokom, seperti e-learning, sistem informasi geografis, kedokteran, dan lain-lain. Riset terkini bermain antara temuan dan terapan. Oiya, tidak ada pertanyaan “bodoh” dalam bidang terapan. Justru para peneliti menggandeng pertanyaan-pertanyaan yang bisa dikategorikan “Aset” itu. Aset karena bisa dijadikan sumber inspirasi yang terkadang tidak mungkin menjadi mungkin. Facebook, twitter, instagram, hingga grab dan gojek, mungkin berasal dari pertanyaan2 aneh pengguna.

Dengan Prof Tedi Mantoro, masih jago bahasa Thai-nya

Menurunnya persaingan antar lembaga

Berbeda di era 90-an dimana antar kampus saling bersaing, dan terkadang sikut-sikutan, saat ini sepertinya mereka berangkulan. Perpindahan dosen dari satu kampus ke kampus lainnya pun biasa terjadi dan tidak ada benci dan dendam, biasa saja. Mungkin kesadaran akan ketertinggalan dalam hal riset dengan negara tetangga merupakan satu pemicu. Memang sudah jadi tuntutan antara peneliti dari Indonesia saling dukung mendukung (riset lanjutan), ditandai dengan saling sitasi antara sesama peneliti tanah air. Dulu mungkin gengsi atau menganggap saingan/kompetitor jika mensitasi rekan sendiri, saat ini tidak lagi, karena negara lain sudah tidak menganggap rekan sesama peneliti sebagai saingan. Heran juga saya melihat h-index jurnal di kampus yang masih nol dan bahkan tanpa ada yang mensitasi, padahal ketika saya lihat isinya ga jauh berbeda satu sama lain. Harusnya riset terdahulu terus dikembangkan, apalagi jurnal-jurnal lokal yang berisi hasil penelitian mahasiswa dimana junior cenderung melihat hasil seniornya.

Lembaga akreditasi mandiri

Selama ini kampus diakreditasi oleh badan akreditasi nasional (BAN) PT. Satu bidang, misalnya kampus kesehatan, sudah tidak diakreditasi lagi oleh BAN PT, melainkan oleh lembaga akreditasi mandiri (LAM) Kesehatan. Dan untuk bidang infokom, sudah 95% LAM infokom siap dijalankan yang artinya siap mengucapkan selamat tinggal ke BAN PT dengan aplikasi online-nya (SAPTO).

Jadi ketika yang mengakreditasi berasal dari asosiasinya sendiri, sepertinya akan mengakomodir kebutuhan bidangnya masing-masing. Tidak ada gunanya sikut-sikutan, rugi sendiri seperti kejadian beberapa tahun lalu ketika dinilai jelek akan membalas memberi nilai jelek, akibatnya jadi tidak obyektif. Sepertinya jika sistemnya rapi, jelas, dan lengkap, hasilnya akan obyektif dan borang tidak lagi “bohong dan ngarang”.

Mungkin itu sedikit gambaran yang ada di rakornas, selain seremonial dan laporan dari aptikom tiap wilayah serta seminar (internasional dan nasional). APTIKOM bisa dijadikan alat mediasi dengan pemerintah, apalagi kepala BAN PT saat ini adalah orang APTIKOM juga (Prof Chan). Masalah aturan-aturan pemerintah (Ristek-Dikti) yang terkesan memberatkan, ada baiknya mengikuti saran Prof R. Eko Indrajit, anggap saja seperti “game” yang versi berikutnya lebih menantang dari sebelumnya dan membuat game lebih menarik, bukannya memberatkan. Terhadap asosiasi-asosiasi, misalnya dalam hal okupasi dan profesi, pemerintah mulai mendengarkan, dan tidak ada lagi kejadia seperti lirik lagu yang saat ini sering saya dengar “.. sayang, apa kowe krungu, jerit e atiku ..”. Sekian laporan pandangan mata rakornas kali ini, semoga bisa ikut lagi di Palembang tahun depan.

Lha .. pulangnya bareng personel srimulat yang tersisa (Tesi, Nurbuat, Polo)

Curve Fitting dengan Matlab

Curve fitting artinya membuat sebuah kurva dari rentetan titik. Kurva yang dihasilkan berupa persamaan linear ataupun non linear (matlab menyediakan quadratic hingga polinomial pangkat sembilan). Silahkan lihat post sebelumnya untuk membedakannya dengan interpolasi. Biasanya dijumpai ketika praktikum yang menguji satu variabel dengan perbedaan perlakuan tertentu. Saya sendiri menjumpai pertama kali kasus ini ketika praktikum fisika dasar di tingkat pertama kuliah. Hasilnya pun hanya dengan menarik garik lurus (linear) terhadap serangkaian titik hasil uji coba tersebut.

Matlab menyediakan toolbox dengan nama “cftool” yang dapat diakses dengan mengetik fungsi tersebut di command window. Misalnya kita memiliki serangkaian data sebagai berikut:

  • data =
  • 19.8960
  • 16.9290
  • 15.6660
  • 19.8870
  • 17.9100
  • 18.4260
  • 18.9570
  • 18.7710
  • 15.4860
  • 17.1510
  • 15.3210
  • 18.2580
  • 17.8860
  • 13.7100
  • 17.6040
  • 16.7610
  • 15.8880
  • 16.6200

Langkah pertama adalah memasukan data tersebut ke dalam cftool. Tekan tombol “data” untuk memunculkan jendela data.

 

Karena data hanya satu seri, isi dengan data x atau data y. Saya coba keduanya ternyata hasilnya sama karena memang datanya hanya satu seri. Setelah menekan “create data set” maka toolbox akan terisi data tersebut. Kembali ke jendela “cftool” tekan “Fitting” untuk memulai proses curve fitting. Muncul jendala baru untuk mengisi parameter-parameter yang sesuai (linear / non linear).

Setelah memasukan jenis polinomialnya, lanjutkan dengan menekan “Apply“. Hasil polinomialnya tampak dalam kolom “Result” dan grafiknya dapat dilihat di jendela “Cftool“.

 

Hasil di kolom result dapat dilihat. Parameter yang dihasilkan adalah konstanta persamaan linear beserta parameter-parameter lainnya seperti Goodness of fit, SSE, R-square, dan lain-lain yang dapat dilihat dari pelajaran statistik. Silahkan coba untuk korelasi dua variabel.

  • Linear model Poly1:
  • f(x) = p1*x + p2
  • Coefficients (with 95% confidence bounds):
  • p1 = -0.1403 (-0.2877, 0.007083)
  • p2 = 18.62 (17.02, 20.21)
  • Goodness of fit:
  • SSE: 37.47
  • R-square: 0.2029
  • Adjusted R-square: 0.1531
  • RMSE: 1.53

Surat Ijin Kampus yang Tercabut

Unik juga, berita pencabutan ijin kampus tidak seheboh berita pencabutan ijin ormas tertentu di grup WA. Sepertinya rekan-rekan sesama pengajar lebih tertarik (terkadang merasa ahli) dengan perpolitikan dibanding pendidikan. Info dari link ini menyebutkan bahwa pencabutan ijin khusus perguruan tinggi yang tidak sesuai dengan Permenristekdikti 100/2016: yakni untuk satu universitas minimal memiliki 10 prodi (6 eksakta dan 4 sosial). Untungnya ada opsi untuk merger agar tetap beroperasi. Apakah penutupan beberapa kampus nanti merupakan efek dari disruption? Judul dari buku yang saat ini sedang saya nikmati.

Jika pengelola taksi mengalami penurunan dan terancam bangkrut karena taksi online, sepertinya tidak untuk kampus. Kampus online pun belum bisa menyaingi, mungkin online-online lainnya yang mempengaruhi penurunan suatu kampus. Misalnya kemudahan seorang calon siswa mengakses kinerja suatu kampus lewat internet (akreditasi, dosen-dosen, alumni, dan sejenisnya). Tidak serta merta dengan plang yang indah, gedung yang mentereng, akan diminati oleh calon siswa jika akreditasi yang rendah, info tentang kasus tertentu dan kinerja buruk lainnya dapat dengan mudah dilihat secara online.

Sharing

Sharing ini sebenarnya inti dari bisnis-bisnis online yang banyak beredar. Sharing di sini bukan menggratiskan sesuatu, tetapi menggunakan suatu sumber daya dari orang lain sesuai kebutuhan dari pada tidak terpakai/menganggur. Misal konsumen butuh transport ke lokasi tertentu, seseorang memiliki kendaraan yang tidak selalu terpakai, dan aplikasi online menghubungkan keduanya (Grab/Uber/Gojek). Kasus lain, seorang ingin berwisata dan memerlukan tempat penginapan, orang lain memiliki kamar kosong di suatu lokasi pariwisata, dan aplikasi online menghubungkannya (AirBnB).

Kampus yang kritis karena kekurangan siswa dan akan dipaksa ditutup pada januari tahun depan memiliki beberapa aset yaitu gedung, dan sumber daya manusia (dosen, laboran, dan staf tata usaha). Sepertinya Ristek-dikti melihat “nganggur”-nya aset-aset tersebut. Kampus yang berlebihan siswa, butuh dosen, sementara ada kampus lain yang kelebihan pengajar dan gedung karena sepi mahasiswa. Di sini Ristek-dikti menerapkan prinsip ini (hanya dugaan sih) yakni mengakomodir dengan mengajurkan merger kedua institusi tersebut. Selain indeks publikasi penelitian negara kita yang terus naik (kini mengalahkan Thailand), sepertinya Ristek-dikti mengejar indeks kinerja kampus karena dua kampus yang merger diharapkan meningkatkan rangking gabungan kampus-kampus tersebut. Bandingkan negara kita (atau Jakarta saja) dengan Singapura yang hanya memiliki dua kampus negeri tetapi ranking dunianya tinggi (NUS dan Nanyang).

Kampus: Even Organizer Pendidikan

Ada calon siswa butuh pendidikan, ada pengajar yang bisa membagi ilmunya, lalu ada kampus yang mempertemukannya. Prof Rhenald Kasali membandingkan alur proses itu dengan even organizer. Even organizer yang baik bisa mempertemukan misalnya, seorang artis dengan penonton setianya. Ristek-dikti sepertinya menerapkan ini (hanya dugaan lagi sih) dengan rencana mengimpor profesor world class ke Indonesia. Perlu diketahui, beberapa negara maju saat ini kelebihan profesor sementara kebutuhan siswa malah terbanyak dari negara-negara berkembang seperti Indonesia yang memang karena memiliki pertumbuhan penduduk yang tinggi. Bahkan kabarnya di Taiwan, jumlah siswa yang lanjut kuliah terus menurun dan butuh siswa dari negara lain, kata pemateri ketika saya ikut pelatihan bahasa sebelum berangkat studi.

Bagaimana dengan tri-darma lainnya: penelitian dan pengabdian masyarakat? Ristek-dikti di sini lagi-lagi melihat aspek online dari penelitian: Open Journal System (OJS). Bahkan OJS ini wajib dimiliki oleh kampus dengan E-ISSN nya. OJS menghubungkan peneliti dengan pembaca jurnal yang dapat diakses online. Mungkin suatu saat OJS bukan hanya hasil penelitian, melainkan juga penghubung peneliti dengan yang membutuhkan penelitian. Sementara itu, untuk pengabdian sudah mulai digagas informasi yang menghubungkan UMKM-UMKM di tanah air dengan para dosen yang siap membantu memberikan training tertentu.

Kalau kita amati sepertinya perkuliahan cukup melibatkan tata usaha, dosen dan siswa. Ketua jurusan, kaprodi, dan dekan hanya berfungsi sebagai legalitas saja (tanda tangan, wisuda, dan sejenisnya). Mirip dengan kampus-kampus di luar negeri. Hanya saja di sini aspek non-teknis sangat berperan (like or dislike), terutama saat penjadwalan. Kalau kita lihat aplikasi online yang mempertemukan driver dengan konsumen akan melihat jarak terdekat di antara mereka. Jika penentuan dosen berdasarkan like/dislike akan mengganggu perkualiahan seperti beban dosen yg berat, dan terkadang hingga sebulan siswa belum memiliki dosen, padahal dosen tertentu “nganggur” akibat tidak disukai si penentu dosen. Kalau di aplikasi online, siswa bakal memberi bintang tiga ke kampus itu. Atau jangan-jangan tata usaha dan para pejabat penentu dosen akan ter-disrupsi?

Terdisrupsi-kah Dosen?

Pertanyaan yang mengerikan. Untungnya yang terdisrupsi adalah penghubung konvensional antara konsumen dengan barang dan jasa. Pengelola taksi yang kalah dalam menghubungkan konsumen dengan driver, pengelola mall yang kalah dalam menghubungkan barang dengan pembeli dan sejenisnya oleh aplikasi online. Terkadang seolah-olah daya beli konsumen menurun padahal hanya berpaling dari konvensional ke online. Bahkan kebutuhan barang dan jasa transportasi meningkat ketika adanya aplikasi online. Sepertinya begitu pula dengan kebutuhan dosen yang terus meningkat. Sampai-sampai univ kependidikan terkenal oleh kepala evaluasi kinerja akademik (EKA) diduga ‘beternak doktor’.

Jika konsumen butuh barang, tentu saja yang terdisrupsi bukan barangnya melainkan institusi jadul yang menghubungkan barang ke konsumen. Jika siswa butuh dosen, tentu saja yang terdisrupsi institusi yang menghubungkannya, jika jadul dan tidak baik mengelolanya. Hanya saja jika sudah transparan dan online, siswa bukan hanya butuh dosen saja, melainkan dosen yang sesuai dengan “menu”-nya. Menu di sini adalah kepakaran, yang biasanya doktor atau memiliki lisensi-lisensi tertentu. Repotnya, pengelola kampus yang seperti pengelola bisnis lainnya memiliki kekhawatiran yang sama terhadap penurunan penghasilan apalagi sampai bangkrut sehingga membuat aturan-aturan mengikat terhadap para dosen supaya tidak kabur-kaburan (tapi malah kabur beneran).

Pertanyaan yang harus dijawab: bagaimana jika peran dosen digantikan dengan modul online atau self learning lainnya, e.g. computer based training (CBT), video tutorial, dll? Sepertinya sebagian, sementara mentoring masih perlu (praktek bedah, pilot, riset, dan sejenisnya).

Perhatikan SIM: Surat Ijin Mengemudi Mengajar

Teringat waktu krisis moneter akhir 90-an, sulit sekali mencari kerja. Terpaksa memanfaatkan ilmu yang ada dengan mengajar, ya hanya mengajar, selain itu, “there is nothing I can do”. Ketika selesai menguji tugas akhir siswa, rekan dosen berkata ke saya untuk mengambil secarik kertas surat tugas ngajar dan menguji. Bingung juga, untuk apa kertas itu? Dia menjelaskan untuk mengajukan kepangkatan, yang dia istilahkan dengan SIM tapi “M”-nya: mengajar. Akhirnya saya ikutin nasihat teman saya itu (tidak perlu disebutkan soalnya kalau dia baca bakalan Ge Er, hehe) untuk memperoleh pangkat pertama saya.

Ternyata kepusingan itu berlanjut, yaitu harus master untuk tetap jadi dosen. Doktor untuk lektor kepala (walaupun diturunkan syaratnya cukup jurnal internasional) dan guru besar. Dan yang heboh publikasi internasional untuk lektor kepala dan guru besar per tiga tahun. Ya, begitulah. Sebenarnya pentingkah itu semua? Bukannya siswa hanya butuh ilmunya? Ojek online aja butuh SIM C dan SIM A (untuk taksi online). Ibarat aplikasi online, semoga bisa menjadi dosen dan kampus bintang lima, bukan bintang tiga ke bawah yang terancam suspen.

Epoch, Iteration, dan Stop Condition

Perkembangan Soft-computing menciptakan istilah-istilah baru yang sebelumnya belum pernah ada. Hal ini terjadi karena soft computing mengadopsi istilah-istilah lain. Sebagai contoh dalam algoritma genetika, istilah-istilah mutasi, kromosom, dan istilah-istilah yang berasal dari teori genetik dan evolusi menjadi istilah dalam ilmu komputer. Bahkan algoritma yang sudah sejak lama digunakan sudah bergeser ke arah metode. Metode lebih general dibanding algoritma yang lebih spesifik dan penerapan khusus. Jika Anda perhatikan algoritma genetika, beberapa tulisan menulisnya dalam bahasa Inggris dengan Genetic Algorithms dengan tambahan “s” di belakang algoritma. Hal ini karena algoritma genetika melibatkan beberapa algoritma seperti roulette wheel, encoding ke bits string dan sebaliknya (decoding), dan lain-lain. Namun beberapa buku tidak menambahkan “s” di belakang algoritma (Genetic Algorithm) dengan anggapan bahwa algoritma genetika adalah satu metode.

Beberapa rekan menanyakan istilah terkenal dalam machine learning yaitu “Epoch”. Banyak yang mengartikannya dengan iterasi. Tetapi mengapa tidak mengambil istilah iterasi saja? Jawabannya berasal dari training artificial neural network. Salah satu metode training, yaitu propagasi balik (backpropagation), menggunakan istilah epoch karena ketika melakukan satu kali iterasi dilakukan dengan rambatan balik. Untuk gampangnya, misalnya satu iterasi melibatkan proses a-b-c-d, maka epoch dalam satu “iterasi”-nya (dengan istilah satu kali epoch) melibatkan a-b-c-d-c-b-a. Dua iterasi: a-b-c-d-a-b-c-d, sementara dua epoch: a-b-c-d-c-b-a-b-c-d-c-b-a. Atau gampangnya iterasi itu epoch tanpa rambatan balik (hanya maju saja).

Beberapa rekan juga menanyakan metode yang cocok untuk stop condition. Untuk iterasi, sejak dulu kita sudah mengenal dengan error atau delta error. Jika error antara satu iterasi dengan iterasi berikutnya cukup kecil maka proses perhitungan berhenti. Error yang saat ini sering digunakan adalah Mean Square Error. Silahkan gunakan metode lain, misalnya Gradient Descent dengan prinsip kemiringan. Kemiringan diambil dari posisi saat ini dibanding epoch maupun iterasi sebelumnya. Jika masih besar selisihnya berarti masih miring. Ibaratnya kendaraan beroda jika masih miring masih bergerak turun, sementara jika sudah tidak begitu miring jalanan-nya, kendaraan itu bergerak perlahan, dan walaupun belum berhenti, dalam komputasi sudah dihentikan demi efisiensi. Untuk prakteknya perhatikan grafik hasil pelatihan jaringan syaraf tiruan di akhir prosesnya. Teringat saya ketika presentasi hasil penelitian di kampus. Karena reviewer adalah doktor dari FAI mempertanyakan mengapa perlu “pelatihan” karena buang-buang waktu dan biaya (dikiranya pelatihan JST itu: pelatihan/kursus/workshop).