Jangan Terganggu dengan Banyaknya Alternatif

Siapapun pasti pernah memilih. Memilih teman, pasangan, jurusan kuliah, warna pakaian, hingga agama yang kita anut (walaupun jarang yang dari hasil memilih). Tentu saja pilihan pasti lebih dari satu, karena kalau hanya satu bukan pilihan namanya, walaupun sering diucapkan, “ga ada pilihan lain, apa boleh buat”.

Alternatif dalam Kehidupan

Pentingkah memilih? Tentu saja penting. Memilih itu sendiri merupakan suatu keterampilan yang harus dipelajari. Waktu pelajaran “engineering ethic”, yaitu kuliah terakhir sebelum wisuda dan wajib diikuti oleh para wisudawan fak teknik UGM, disinggung masalah “Skill” memilih ini. Disebutkan bahwa memilih harus diajarkan kepada seorang anak semenjak kecil. Walau nasehat itu terlambat, karena pendengarnya sudah pada gede, tetapi bisa diterapkan ke anak-anak kita. Dari memilih yang tidak terlalu penting, seperti warna, hobi, ekstra kulikuler, dan lain-lain, alangkah baiknya si anak diberi pilihan dan disuruh memilih. Kita hanya menjelaskan plus minus dan untung ruginya saja. Sehingga si anak nanti diharapkan ketika memilih hal-hal yang penting sudah terbiasa, termasuk menanggung resiko yang mungkin terjadi. Dan yang terpenting, jika sudah mahir memilih, si anak akan terhindar dari kondisi yang seperti saat ini terjadi, ketika pilihannya kalah (lurah, bupati, gubernur, atau presiden) berdampak ke emosinya, tak perduli dia sarjana, master, doktor atau bahkan profesor.

Alternatif dalam Science

Hampir lima tahun saya berkutat pada riset tentang optimasi, dengan algoritma-algoritma terkenal yang biasanya bersifat “heuristic” atau dikenal dengan istilah “evolutionary algorithms”. Algoritma yang bersifat mencari (searching) yang terbaik dari kandidat-kandidat yang mungkin. Di sini si algoritma harus bisa menyiapkan para kandidat-kandidat yang tidak lain adalah pilihan/alternatif. Bayangkan jika tidak ada pilihan, pasti algoritma ini tidak akan berjalan sebagaimana mestinya. Ngomong-ngomong tentang kandidat, kita sering mendengar istilah “kandidat doktor”. Sesuai dengan maknanya, maka seorang kandidat doktor adalah calon yang jika memenuhi semua syarat kuliah S3 maka berhak menjadi seorang doktor. Tentu saja jika tidak memenuhi maka tidak jadi doktor. Kampus memiliki pilihan-pilihan yang akan dijadikan alumni doktornya.

Perbanyak Alternatif

Banyak orang yang karena tidak terlatih memilih, lebih suka menjalani kehidupan yang lurus tanpa ada persimpangan jalan yang memaksa untuk memilih belok ke arah mana. Sesungguhnya banyaknya pilihan jauh lebih menguntungkan. Ketika hanya ada satu toko, kita terpaksa membeli di toko tersebut, dan selalu “nerimo” saja kualitas, harga, dan aspek-aspek ekonomi lainnya. Berbeda jika ada pilihan toko lain, maka kita bisa menentukan toko mana yang lebih menguntungkan dan lebih baik pelayanannya misalnya. Bagaimana jika hanya dua pilihan, yang kebetulan sama-sama tidak enaknya? Berdusta atau jujur tapi ada yang mati, misalnya. Mirip buah simalakama, dimakan mati ibu, tidak dimakan mati bapak. Hikayat berikut bisa menjadi contoh.

Di jaman dahulu kala, karena musim kemarau panjang, para petani tidak bisa menghasilkan panen. Salah satunya keluarga petani miskin yang tidak sanggup membayar hutang tuan tanah. Tuan tanah itu seorang duda tua. Petani itu memiliki seorang anak gadis yang masih muda dan cantik, yang sudah saatnya menikah. Karena bingung, akhirnya mereka bertiga mendatangi si tuan tanah. Ketika tiba di tempat si tuan tanah, mata duda tua itu takjub melihat si anak gadis petani, terlihat dari hidungnya yang kembang kempis (kayak ti pat kay, temennya sun go kong). Setelah si petani menjelaskan maksud kedatangannya yang belum bisa membayar hutangnya, si tuan tanah mengajak keluarga petani tersebut berkeliling rumahnya yang besar dan mewah. Hari menjelang sore waktu itu. “Tidak usah khawatir”, kata si tuan tanah, “semua masalah bisa diselesaikan”, lanjutnya. Tentu saja berbeda perlakuannya jika si petani miskin hanya datang berdua tanpa si gadis cantik itu. “Begini saja, kita main undian untuk hiburan. Saya akan ambil dua batu di taman yang berisi batu-batu hitam dan putih. Lalu anak kalian diminta mengambil batu itu”, jelasnya. “Jika anakmu mengambil batu berwarna putih, maka kalian pulang ke rumah dan saya anggap hutangnya lunas”, katanya. Si petani tampak bernafas lega. “Tetapi jika batu hitam yang diambil, maka anakmu harus menjadi istri saya tetapi jangan khawatir, hutangnya lunas, bagaimana?”. Si petani karena tidak punya uang terpaksa mengangguk menerima dua pilihan itu. Si tuan tanah dengan girang kemudian mengambil dua batu dan memasukkannya ke kantungnya. Banyak sekali batu berserakan di tempat tersebut. Si tuan tanah ternyata curang, dia memilih dua batu hitam. Si petani tidak sadar dibohongi, tetapi si anak gadis, karena matanya masih awas, melihat ketidakadilan itu. Namun dalam posisi yang lemah, dia tidak berani protes, dan hanya mengikuti saja permainan si tuan tanah. Ketika mengambil batu, gadis itu tersandung dan batu yang dia pegang dari dalam kantung terpental jauh, dan tidak kelihatan warnanya karena memang hari mulai gelap. “Maaf tuan, saya ceroboh dan tidak hati-hati”, katanya ketakutan. Si tuan tanah termenung berfikir. Sebelum si tuan tanah mengulangi lagi mengambil batu, si gadis berkata, “begini saja tuan tanah yang adil dan bijaksana, karena kita tidak sempat melihat warna batu yang saya ambil tadi, bagaimana jika kita lihat batu yang tersisa, karena pasti berlawanan warnanya dengan batu saya ambil barusan”. Si tuan tanah kecewa ketika memperlihatkan batu dalam kantung, yang tentu saja berwarna hitam. Artinya gadis itu mengambil batu berwarna putih. Itulah hasil kreativitas si anak petani yang berhasil menciptakan pilihan baru. Akhirnya mereka pulang dan hutangnya lunas.

Ciptakan Alternatif

Cerita di atas mengandung arti kita diminta untuk menciptakan alternatif-alternatif lain yang berpotensi bagus untuk dipilih. Ketika nabi diminta memilih antara berbohong atau seseorang akan dibunuh, dia menciptakan pilihan baru yaitu tidak berbohong dan sesorang tidak terbunuh. Hal itu dapat dilakukan dengan berbagai cara sesuai dengan kapasitas otak dan kreatifitas kita. Dalam riwayat disebutkan nabi ketika sedang duduk melihat orang yg akan dibunuh, dan ketika si pembunuh akan tiba, nabi berdiri. Ketika ditanya apakah melihat orang yang lewat, nabi menjawab selama dia berdiri di situ tidak melihat ada yang lewat (karena waktu itu beliau duduk).

Ketika semester satu, saya karena berbagai hal (tiba di negara tujuan terlambat, kurang adaptasi, dll) mendapat nilai yang buruk sekali. Ingin pulang tidak mungkin karena beasiswa sudah disetujui, jika lanjut terus maka kemungkinan besar drop out. Munculah alternatif ketiga, pindah jurusan ke yang lebih mudah, tapi tetap dalam rumpun yang sama (informatika). Pilihan tersebut ternyata tepat, kandidasi bisa lolos (IPK minimal dan proposal riset). Namun demikian, saya melihat nilai buruk yang saya peroleh di jurusan sebelumnya merupakan berkah tersendiri, karena lebih lancar dibandingkan jurusan “sangar” yang sampai saat ini barengan saya belum pada beres syarat beratnya, yaitu publikasi jurnal berimpak faktor di atas satu, sementara saya yang terhitung tertinggal satu semester sudah beres. Milioner China, Jack Ma, mengatakan di antara tantangan-tantangan, ada peluang yang bisa dipilih. Sekian semoga menginspirasi.

My Library

Ref: Abbidhamma

Iklan

Do It Yourself

Manusia adalah makhluk pembelajar. Bahkan kitab suci umat islam, Al-Quran, pertama kali menurunkan ayat tentang membaca (iqra). Sementara hadits-nya menyebutkan agar belajar dari lahir hingga liang kubur. Sangat sederhana pesannya: “jangan bodoh!”.

Ketika TK dan SD kita diajarkan untuk melakukan hal-hal yang orang dewasa lakukan seperti disiplin, memakai sepatu, baju, menulis, membaca, memasak, dan lain-lain. Ketika sekolah menengah, kita diajarkan dasar-dasar keahlian yang minimal untuk bekerja, seperti pekerjaan kantor, mereparasi piranti elektronik, dan sejenisnya. Dengan kata lain dari TK hingga proses wajib belajar, SMA, dilatih untuk melakukan hal-hal penting secara mandiri. Istilah yang saya lihat di page yang banyak dishare di facebook, “do it yourself”. Berikutnya saya singkat menjadi DIY.

Mengamati riwayat pendidikan saya dahulu dan pendidikan anak-anak saya kini, sepertinya ada pergeseran prinsip DIY. Era 80-an dan 90-an sepertinya era dimana anak-anak waktu itu dipaksa untuk melakukan segala hal secara mandiri. Berbeda dengan saat ini dimana information technology (IT) sudah berkembang dengan pesat, membuat siswa terlampau manja karena banyaknya fasilitas bantuan (help). Bahkan ketika kuliah terakhir saya, laptop dan handphone merupakan barang terlarang ketika ujian. Karena dengan google, seluruh pertanyaan dapat dijawab. Bukan hanya bantuan IT, terkadang orang tua pun ikut serta memanjakan anak. Bahkan ada anekdot dan meme, jika dulu siswa nilainya buruk, orang tua akan memarahi si anak, tetapi sekarang malah si guru yang dimarahi. Ada kejadian ketika anak saya mendapat nilai buruk di mata pelajaran komputer. Tentu saja ibunya sewot, bagaimana mungkin si anak tidak bisa komputer padahal orang tuanya dosen komputer. Akhirnya iseng saya tes, ternyata ya ampun. Saya ingat ketika ikut pengabdian masyarakat yaitu mengajar pemilik yayasan panti anak cacat, mereka yang manula kesulitan memegang mouse dan keyboard. Begitulah anak saya yang kagok ketika menggunakan mouse dan keyboard. Wajar saja mendapat nilai jelek. Kalo menggunakan tablet atau joystick sih jago banget.

Bagaimana dengan pendidikan pasca SMA? Untuk D3, S1, dan S2 sepertinya tidak ada masalah. Mengapa? Karena semua materi ada rujukannya (buku, jurnal, website, dll). Tinggal tingkat ke-“kepo”-an kita saja yang menentukan, “bagaimana membuat ini?”,”bagaimana membuat itu?”. Semua ada jawabannya. Jika malas baca, tinggal liat video tutorial di youtube. Untuk S2 agak sedikit ribet karena harus membandingkan antara satu metode dengan metode lainnya. Nah, untuk yang S3 agak sulit. Karena selain harus membandingkan, harus pula menekuni satu metode untuk menemukan hal baru yang menambah kemampuan metode itu (parameter, hibrid dengan metode lain, and much more). Atau menggunakan satu metode dengan skala yang lebih luas atau di wilayah/domain baru (syukur-syukur bisa menemukan metode baru). Rujukan pun tidak ada karena hal yang baru (mungkin di belahan dunia lain sedang dikerjakan juga pada saat yang sama oleh siswa S3/peneliti lain).

Nah, untuk yang saat ini sedang ingin lanjut ke S3, ingat pesan ini, “do it yourself”, alias bekerja/riset mandiri. Dosen pembimbing pun tidak memiliki jawaban, dia hanya bisa mengarahkan dan memperkenalkan senjata-senjata apa yang dibutuhkan untuk mengupas nanas agar menjadi rujak .. lho kok?

Sustainable Development – Part 2

Dalam bahasa Indonesia, sustainable development (SD) diartikan sebagai pembangunan berkelanjutan (post ini sebagai kelanjutan dari postingan terdahulu). Sesuai dengan namanya, yaitu pembangunan yang bukan hanya memenuhi kebutuhan generasi sekarang, melainkan juga generasi yang akan datang, istilah resmi yang dirumuskan oleh World Commission on Environment and Development (WCED) pada tahun 1987: “Development that meets the needs of the present without compromising the ability of future generations to meet their own needs”.

Banyak definisi-definisi lainnya antara lain oleh Turner (1988): ” In principle, such an optimal (sustainable growth) policy would seek to maintain an “acceptable” rate of growth in per-capita real incomes without depleting the national capital asset stock or the natural environmental asset stock”. Istilah yang cenderung ke arah ekonomi dan lebih menjelaskan istilah “needs” pada rumusan WCED. Sementara itu Conway (1987) menjelaskan sustainable development: “The net productivity of biomass (positive mass balance per unit area per unit time) maintained over decades to centuries”. Istilah ini cenderung ke arah carryng capacity, ukuran kecukupan kebutuhan berdasarkan jumlah populasi dengan suplai/produksi untuk kebutuhan populasi tersebut. Terakhir disertakan pada postingan ini yaitu istilah dari Sen (1999): “A sustainable society is one in wich peoples’ ability to do what they have good resason to value is continually enhanced” yang lebih mengarah ke aktualisasi sosial. Namun semua memiliki kesamaan yaitu melihat aspek keberlanjutan pada masa yang akan datang. Istilah-istilah di atas diambil dari buku “An introduction to sustainable development” karangan (Elliott, 2013).

Mengapa SD penting? Biasanya sesuatu yang penting itu jika diabaikan akan menimbulkan malapetaka. Begitu juga dengan SD, jika tidak diperhatikan, generasi yang akan datang akan menanggung akibatnya. Ada baiknya menilik sejarah. Rostow pada tahun 1960 memperkenalkan konsep perkembangan suatu negara yang dimulai dari tradisional, berlanjut ke agraris dan industri berbasis agraris, manufaktur, industri skala besar, dan terakhir berbasis layanan-layanan yang bersifat mendukung kemakmuran. Tentu saja idenya berasal dari perkembangan negara-negara eropa yang ternyata ketika beralih dari agraris ke industri cenderung merusak lingkungan.

Untuk itulah pada tahun 70-an sudah ada diskusi-diskusi yang membahas SD guna menanggulangi dampak lingkungan dari industrialisasi. Biasanya jika suatu negara mengabaikan aspek lingkungan, negara-negara lain akan mengucilkan negara tersebut. Tetapi perkembangan berikutnya ternyata bukan hanya satu negara yang merusak lingkungan, melainkan gabungan beberapa negara (nuklir, efek rumah kaca, dll). Akhirnya mau tidak mau perlu diadakan pertemuan khusus pada tahun 1987 oleh WCED dengan tema “Our common Future” yang dilenjutkan pada tahun 1992 di Rio, Brazil (Eart summit) dengan hasil berupa dokumen dengan nama Agenda 21.

Repotnya istilah SD sendiri berkembang mengikuti perkembangan jaman. Bahkan kebutuhan generasi yang akan datang pun tidak bisa kita paksakan sesuai dengan generasi saat ini. Krisis ekonomi 98 dan 2008 sendiri membuktikan kegagalan neo-liberal, dimana kebebasan berusaha bisa berbahaya jika negara tidak ikut campur. Beberapa perusahaan diambil alih negara, bahkan oleh negara pencetus liberal itu sendiri, Amerika Serikat. Bagaimana dengan Indonesia? Hmm sepertinya sebagai orang IT, sulit juga saya menjawab. Tetapi mengingat krisis-krisis kemarin, alangkah baiknya negara mulai memperhatikan bisnis dan perdagangan, jangan dibiarkan bebas (liberal), berbahaya. Pengusaha kalau rugi, paling kabur, nah kalau negara gimana? Kabur juga? Kabar terakhir beberapa BUMN, seperti Garuda Indonesia, Krakatau Steel, mengalami kerugian (tidak ada untung), dan tugas Ibu Sri Mulyani tambah berat sepertinya. Apalagi saham Freeport 51% akan segera dikuasai yang tentu saja harus untung (masak baru diambil alih dilepas lagi).

Kalo gitu kita ganti bacaan aja, pusing soalnya membahas bidang sosial. Baca buku-buku kuno optimasi dan fuzzy dulu ah, mumpung masih berstatus mahasiswa dan banyak buku-buku offline. Baca buku online (ebook), lama-lama mata perih.

Ref:

Elliott, J. A. (2013). An Introduction to Sustainable Development (4th ed.). London: Routledge.

 

Menulis Doctoral Thesis

Tesis (thesis) merupakan salah satu syarat kelulusan mahasiswa pascasarjana. Master thesis (tesis) untuk jenjang S2 (master) dan Doctoral thesis (disertasi) untuk jenjang S3 (doktoral). Berbeda dengan program master, program doktoral kebanyakan mengharuskan mahasiswa untuk mempublikasikan tulisan di jurnal internasional (minimal sudah diterima/accepted). Tambahan syarat publikasi pada jurnal internasional untuk program doktoral menambah rumitnya menulis disertasi.

Satu disertasi bisa lebih dari satu jurnal

Bersyukurlah bagi mahasiswa doktoral yang satu disertasi bisa dipecah menjadi jurnal-jurnal yang tidak saling tergantung satu dengan lainnya. Mengapa? Karena berarti sebelum disertasi selesai dibuat, mahasiswa tersebut sudah boleh mengirimkan ke jurnal internasional yang biasanya telah ditentukan syarat-syaratnya seperti impact factor dan reputasi jurnal. Publikasi di jurnal internasional selain memakan waktu lama, prosesnya pun tidak jelas berapa lama. Yang repot adalah jika jurnal harus dibuat setelah disertasi selesai. Mengapa repot? Sederhana, berarti mahasiswa tersebut harus menyediakan waktu tambahan setelah selesai disertasi untuk publikasi yang biasanya beberapa bulan, sialnya bisa beberapa tahun, padahal “argo” tetap berjalan. Ketika mengobrol empat mata dengan pak Onno Purbo setelah beliau mengisi seminar di kampus (waktu itu saya lagi ketiban sial jadi ketua jurusan). “Kuliah doktor itu gampang, buat aja lima jurnal internasional, nanti sidang akhir jadi cepat, tinggal tunjukan saja problem ini sudah dipublish di jurnal ini, problem itu di jurnal itu, dan seterusnya”. Saya cuma manggut-manggut karena waktu itu gak ngerti, ternyata satu jurnal aja saya menyelesaikan hampir dua tahun, bagaimana dia bisa bikin lima?

Banyak hal-hal detil yang harus ditulis

Sebagai saran ampuh sebelum terlambat, “tulislah apa yang dikerjakan ketika riset tanpa menunggu selesainya riset”. Kalau tidak, silahkan tanggung sendiri akibatnya. Saya sendiri agak sedikit keliru, karena yang saya tulis adalah jurnal, harusnya disertasi, ketika riset. Ketika harus menulis disertasi (setelah publikasi ilmiah) agak sedikit kewalahan mengumpulkan hal-hal detil ketika riset (tabel-tabel, running programe, uji coba dan sebagainya). Mirip pemulung ngobrak-abrik tempat sampah mencari barang yang bisa dijual. Kebetulan disertasi saya ber-objektive lepas sehingga boleh men-submit jurnal tanpa menunggu selesai riset. Rekan saya yang mengharuskan publikasi setelah riset selesai kebingungan karena ketika mulai menulis, laptopnya “digondol” maling. Data-data, running program¸ dan sejenisnya harus diulangi lagi. Butuh satu semester untuk mengerjakan itu.

Mem-paraphrase Tulisan Sendiri

Biasanya disertasi sebelum disetujui harus dicek terlebih dahulu lewat Turnitin, yaitu software pendeteksi plagiasi. Karena berbahaya jika suatu disertasi dianggap plagiasi naskah orang lain, seperti yang terjadi belakangan ini di kampus negeri di Jakarta. Mengapa harus memparafase tulisan sendiri? Karena ketika kita sudah mempublikasi jurnal, tulisan tersebut sudah terekam di database pengindeks-pengindeks dunia. Ketika kita hanya menyalin tulisan jurnal kita ke disertasi, maka Turnitin akan mendeteksinya. Repot juga.

Menggandakan Disertasi Sebelum Pulang

Khusus untuk yang kuliah di luar negeri, ijazah harus disetarakan di dalam negeri. Salah satu syaratnya adalah disertasi, oleh karena itu jangan lupa membawa salinan tapi asli buku disertasi yang kita buat untuk ditunjukan ke divisi Ristek-dikti yang bertugas menyetarakan ijazah. Repot juga kan kalau dicetak “pas” dan tidak membawa satu pun salinan disertasinya. Terus terang saya tidak memiliki salinan ijazah master, konyol juga. Untungnya ngambil di kampus dalam negeri jadi tidak diwajibkan untuk penyetaraan ijazah.

Disertasi bukanlah tulisan terbaik kita

Ketika membaca sub-judul di atas pasti anda mengernyitkan dahi, apa maksudnya? Oke lah, kita merasa itu adalah masterpiece kita. Tetapi kita dinilai dengan kemajuan kan ? (esok harus lebih baik dari sekarang kata nabi). Jika disertasi adalah tulisan terbaik, berarti tulisan kita berikutnya adalah tulisah abal-abal alias tidak ada kemajuan. Jadi, untuk yang sedang menulis disertasi bersama dengan saya saat ini, yuk selesaikan dengan sebaiknya tanpa perlu menuntut hasil yang sempurna. Kerjakan dengan cepat, lulus, pulang, dan lanjutkan menulis yang lebih baik dari disertasi kita di tanah air lewat buku, riset baru, dan lain-lain. Selamat membuat laporan riset.

Section and Multilevel List in Microsoft Word

Multilevel list in word is used to continue numbering from one heading to the next heading. It makes writers easy to type and manage the sequence of subchapter. For example, if we have written subchapter 2.1, and come to new subchapter, the Microsoft word will automatically write 2.2 and the writer just write the name of the subchapter, for example “basic theory”, “recommendation”, end so on.

What is heading? In word, heading means the header of a writing that use a style. The writer can use some styles in styles menu. There are many headings provided: heading 1, heading 2, and so on. Why we use that style and do not just type manually? The heading has a purpose. It used in navigation and for automatic table of contents as well.

We can also modify the heading regarding the font, tab, paragraph, etc. And what the section used for? In the writing, we always have many chapters. Every chapter has their own number for subchapter. With the section in Microsoft word, we can separate the multilevel list of a chapter with the other chapters.

How to separate the section? First, we have to know whether the two pages have the same section or not. It’s easy, just click your mouse on the header and footer location. Word will show you the number of section.

To separate the section, we just open the page-layout menu and chose break tool. Choose “next page” on section break option. This break only separate the multilevel list section but not the page number. Use page break if we want to separate numbering from previous pages, for example if do not want to continue alphabet-numbering style from acknowledgements, table of contents, and so on.

See the video below.

Cluster Data dari ArcGIS ke Matlab

Postingan kali ini bermaksud mencoba membuat video tutorial bagaimana mengkluster data dari arcgis dengan software matlab. Iseng-iseng dengan pengisi suara dari translate google, ternyata oke juga. Hasilnya pun lumayan jelas dibanding saya yang ngomong .. haha.

Ada dua kandidat software perekam yang digunakan yaitu ‘screen-o-matic’ dan ‘microsoft expression’ yang keduanya gratis untuk menggunakannya. Hanya saja microsoft expression kali ini unggul karena bisa merekam suara dari ‘translate google’ dan saya belum berhasil dengan ‘screen-o-matic’ yang unggul jika ingin ada cam-nya. Silahkan lihat videonya.

Ups .. ternyata terpotong karena lebih 10 menit. Hasilnya adalah berikut ini.

Latihan Modifikasi Table of Contents (Daftar Isi) di Microsoft Word

Membuat laporan penelitian terkadang menambah kerjaan utama seorang peneliti yaitu riset. Belum lagi masalah standar penulisan. Untungnya kampus menyediakan sebuah template yang siap pakai di link resminya (klik di sini untuk bahan latihan postingan ini). Jadi masalah margin, jenis font, cover dan sejenisnya tidak masalah lagi dan riset dapat dilaksanakan dengan cepat tanpa corat-coret terhadap hal-hal yang kurang penting oleh dosen pembimbing. Diharapkan sebelum membaca tulisan ini melihat dulu postingan sebelumnya bagaimana membuat daftar isi, gambar, dan tabel secara otomatis di Ms Word.

Tetapi template sendiri tidak menyertakan fasilitas-fasilitas yang dimiliki oleh MS Word, salah satunya adalah automatic table of contents, yaitu fasilitas membuat daftar isi secara otomatis tanpa diketik. Masalah muncul ketika akan memformat otomatis table of contents hasilnya berantakan (coba unduh dan edit link yang saya berikan di muka, dan set nomor halaman terlebih dahulu untuk mengikuti panduan di postingan ini).

Untuk menyelesaikan masalah itu, cukup lama mengutak-atik. Kadang ada masalah—masalah yang dijumpai ketika kita studi lanjut. Masalah yang memperlama lulus, he he. Mudah-mudahan postingan ini bermanfaat bagi yang menjumpai masalah serupa. Pertama-tama sorot TOC yang baru saja dibentuk (tekan di bagian pojok kiri atas). Pastikan TOC sudah berubah warna.

Kemudian pada bagian pembuatan TOC yaitu di menu referensi pada Word dipilih “Custom TOC”.

Setelah masuk ke jendela custom, untuk memperbaiki ke TOC normal cukup dengan memilih format “Classic”, dilanjutkan dengan memilih “…..” sebagai penghubung antara Sub-bab dengan halaman yang ditujunya.

Setelah menekan “OK” kita diminta konfirmasi apakah akan menimpa TOC sebelumnya? Tekan saja OK dan format TOC standar akan ditampilkan. Mudah saja ternyata.

Hanya saja ada masalah di halaman bernomor huruf (I, ii, iii, dst) yang seharusnya huruf kecil malah tercetak huruf besa

ri. Masuk ke “Modify” setelah muncul jendela Style masuk lagi ke “Modify” dan jangan centang “All Caps”.

Setelah ditekan “OK” maka pastikan halaman bernomor jenis “huruf” menjadi huruf kecil sesuai dengan nomor halaman yang memang kita set ke huruf kecil. Tapi sepertinya template-nya tidak menggunakan titik-titik untuk nomor halamannya, dan bab dengan angka 1, 2, dst.