Instal Rapidminer 2025

Penambangan Data (Data Mining) merupakan bidang yang bermanfaat karena menghasilkan informasi penting dari sekumpulan data. Bidang-bidang seperti bisnis, kesehatan, dan ilmu-ilmu sosial bisa memanfaatkan bidang ini. Ibarat perusahaan tambang, data mentah dapat menghasilkan data berharga yang menguntungkan.

Banyak aplikasi yang tersedia, khususnya bagi Anda yang bukan murni dari ilmu komputer/informatika, salah satunya adalah Rapidminer. Pengguna tidak perlu dipusingkan dengan kode program, cukup menyediakan data serta pemahaman general dari proses yang dibutuhkan untuk penambangan, misalnya klasterisasi, prediksi, dan sejenisnya.

Sebagai langkah awal kita bisa menginstal aplikasi ini lewat situs resminya [Url]. Jangan khawatir, aplikasi ini gratis asalkan data yang diolah di bawah 10 ribu record. Jika lebih bisa membeli lisensinya. Lihat video cara instalasi berikut. Selamat mencoba.

Fight

Negara kita merupakan negara berkembang yang sejak awal dibentuknya melalui pertarungan menghadapi penjajah. Pertarungan selanjutnya adalah mengisi kemerdekaan. Ketertinggalan kita banyak yang menduga karena negara kita yang subur, makmur, dan seperti dalam lagu koes plus, ‘tongkat dan kayu jadi tanaman’. Akibatnya, kehilangan jiwa bertarung (fight) sehingga dengan mudahnya penjajah yang lebih maju masuk ke bumi pertiwi.

Saat ini kita mulai memiliki keunggulan dari sisi jumlah SDM muda, yang diistilahkan ‘bonus demografi’. Tinggal bagaimana orang tua menciptakan jiwa bertarung dari anak-anak kita, tidak perduli pria maupun wanita. Bertarung di sini bukan bertarung seperti binatang, atau anak-anak yang tawuran, melainkan berusaha mengungguli dari yang lain, syukur-syukur mengungguli negara lain.

Kabarnya generasi yang termuda, generasi alpha sering diistilahkan dengan generasi ‘strawberry’, alias generasi yang rapuh dan mudah ‘penyok’. Tugas besar guru dan dosen, apalagi orang tua adalah merubah generasi kaleng krupuk itu menjadi generasi baja, secepatnya sebelum terlambat.

Nah, salah satu cara mengajari yang efektif adalah memberi contoh. Generasi muda akan melihat bagaimana para orang tua, pemimpin, guru, dosen, dan senior-senior bertarung dalam mencapai cita-cita, target, sasaran, dan sejenisnya. Kemampuan meliuk-liuk di sela-sela undang-undang yang tarik ulur, misalnya terkait pendidikan, tidak boleh melemahkan jiwa bertarung para guru dan dosen. Yang sedang studi lanjut, atau yang sedang ingin naik pangkat, tetap fokus, jika mentok, cari jalan lain, asalkan halal. Ada tidaknya tunjangan kinerja (tukin) tidak perlu diambil pusing. Terus dalam kondisi ‘lapar’, seperti singa yang garang tak kenal takut. Semoga kita bisa kuat di hari-hari yang akan datang.

Tukin Dosen Swasta

Dosen swasta merupakan profesi unik yang sejak dulu terbiasa dianaktirikan. Berbeda dengan buruh yang memiliki asosiasi yang melindungi rekan-rekan dari pihak kapitalis, dosen dan juga guru tidak memiliki asosiasi yang secara khusus membela dari sisi ekonomi seperti gaji, tunjangan dan lain-lain. Akibatnya nasibnya seperti itu, ditambah lagi sikap pemerintah yang lebih mendukung yayasan dibanding dosen-dosennya.

Beberapa waktu yang lalu ASN dosen menagih janji tunjangan kinerja (di luar tunjangan sertifikasi dosen) sesuai janji menteri sebelumnya. Bagi dosen swasta kelas menengah, tunjangan itu cukup besar.

Sementara itu tukin dosen swasta menurut informasi [Url] sebesar satu kali gaji golongan sebagai berikut.

Lumayan jauh bedanya. Lektor kepala 10 jutaan, swasta sekitar 3 jutaan. Tapi sebenarnya lumayan, dari pada tidak dapat apa-apa. Itu pun yang dikhawatirkan dibayarkan dalam mata uang Yen .. yen ono duwite, hehe.

Dosen swasta serba salah, terkadang yang kualifikasi kurang terancam dipecat dan tidak ada pihak yang melindungi, di sisi lain yang kualifikasi tinggi terancam dengan ikatan dinas yang tidak masuk akal, ditambah lagi lolos butuh yang harus diperoleh dari kampus asal yang terkadang dipersulit. Kondisi diperparah oleh PTN yang membuka kran mahasiswa baru sebanyak-banyaknya dan membiarkan PTS saling bunuh dan kanibal, seperti tulisan ini [Url].

Node.Js yang Efisien

Hypertext Preprocessor (PHP) merupakan bahasa pemrograman yang masih banyak digunakan di Indonesia. Namun untuk proyek-proyek sudah mulai tergantingan dengan aplikasi berbasis Microservices. Ada satu bahasa pemrograman web yang sudah lama ada, yakni Javascript. Namun kode ini berjalan di sisi client, alias di browser pengguna. Kode tentu saja dapat dilihat dan digunakan oleh pengguna.

Node.Js di sisi lain mengimplementasikan kode Javascript tapi berjalan di sisi server. Silahkan cari informasi bahasa ini yang kabarnya lebih cepat dibanding PHP, terutama ketika banyak user yang mengakses aplikasi web. Kalau ingin belajar instal Node.Js di server yang ada Dockernya, bisa latihan dengan Play with Docker, seperti pada video ini.

Doktoral, menggali metode baru

Yang membedakan perkuliahan doktoral dengan S2 atau S1 adalah filosofi doktoral yang berkontribusi keilmuan. Seandainya ada S3 jurusan gali sumur, maka tidak hanya bisa menggali (S3) atau memilih metode penggalian yang efektif (S2), melainkan harus bisa menemukan metode baru yang lebih baik. Lebih baik di sini sangat beragam, bisa saja lebih murah, lebih aman, lebih cepat, dan hal-hal lain sesuai kebutuhan.

Jadi mahasiswa doktoral harus mampu menggunakan metode + mengetahui karakteristik metode-metode baseline (existing) + melakukan improvement metode. Kembali ke S3 jurusan gali sumur tadi, okelah kita belum pernah gali sumur, tapi setidaknya tahu teori dan metode-metode untuk menggali sumur karena nanti pasti akan diminta mengukur performa antara metode yang ada dengan metode usulan.

Saat ini tools sudah sangat membantu, apalagi adanya AI seperti ChatGPT, Copilot, Gemini, dan lain-lain. Beberapa software seperti Matlab sangat memudahkan bukan hanya untuk mengaplikasikan satu metode melainkan juga untuk belajar memahami metode itu dengan situs resminya [Url]. Berikut jika Anda ingin melihat bagaimana perkuliahan doktoral itu. Siapa tahu Anda tertarik.

Python di Play-With-Docker (PWD)

Python merupakan bahasa yang paling banyak digunakan untuk pemodelan AI saat ini. Bahkan Google pun menggunakan bahasa ini dalam layanan cloud untuk pemrogramannya yakni Google Colab. Sayangnya untuk keperluan training yang membutuhkan GPU, harus berbayar.

Google colab untuk training memang recommended, khususnya untuk mahasiswa tingkat S2 dan S3 dimana perlu mengutak-atik model. Sementara itu untuk mahasiswa S1 yang diminta implementasi, jika hanya mengandalkan Google Colab dirasa kurang mengingat industri-industri saat ini permintaannya membuat aplikasi atau layanan dari model tertentu. Jadi perlu tools lain, yang tentu saja murah, alias gratis. Idealnya sih menyewa atau membeli server untuk testing.

Nah, play with docker (PWD) menawarkan server murah untuk belajar, tapi dibatasi hanya 4 jam saja. Walaupun hanya sebentar, tapi 4 jam sudah cukup untuk mahasiswa berlatih implementasi model yang dibuat dalam satu aplikasi berbasis web, misalnya dengan Flask, Django, atau bahkan PHP yang saat ini di Indonesia masih banyak dipakai.

Python perlu bisa dijalankan di PWD. Video berikut ini mengilustrasikan bagaimana penggunaan Python di PWD. Salah satunya adalah penanganan Virtual Environment (ENV). Oiya, ternyata Python versi 3.12 yang baru belum support Tensor Flow, jadi harus turun ke versi 3.11.

Belajar Lewat Aplikasi

Terkadang kita mengalami kesulitan memahami sesuatu yang abstrak. Apalagi jika disajikan dalam bentuk kalimat. Beberapa terkadang kurang memahami notasi-notasi matematis ala jurnal ilmiah. Jika sudah memahami, terkadang perlu waktu lagi mengimplementasikannya dalam sebuah aplikasi dengan bahasa pemrograman tertentu.

Nah beberapa aplikasi, terutama yang berbayar berusaha membantu pengguna dalam memahami metode-metode yang ada, misalnya Matlab. Selain menyediakan panduan online di situs resminya [Url] juga menyediakan link youtube yang berisi simulasi menarik. Misalnya kasus LSTM berikut ini.

Atau teori konvolusi berikut ini yang jika dijabarkan dalam notasi matematis sangat membingungkan bagi yang tidak terbiasa.

Beberapa aplikasi free seperti Google Colab juga tidak kalah dalam menyajikan implementasi dalam format Jupyter Notebooknya yang berisi gambar dan teks penjelasan yang menarik. Selain membaca teori, bisa langsung di running, seperti Google Colab ini [Url]. Selamat mencoba.

Pergeseran Fokus Informatika dari Pemrograman ke AI

Di Indonesia ada organisasi yang mengurusi pendidikan informatika dan komputer bernama APTIKOM. Kira-kira sepuluh tahun yang lalu informasi dari Association for Computing Machinery (ACM) bahwa jurusan infokom wajib bisa programming. Jadi entah jurusan sistem informasi, teknik komputer, apalagi informatika/ilmu komputer harus ada mata kuliah tentang pemrograman.

Waktu terus berjalan, sebelum COVID saat pertemuan APTIKOM, ketuanya mengatakan seluruh jurusan infokom wajib ada mata kuliah Artificial Intelligence (AI) di kurikulumnya, alias tiap jurusan entah itu berupa mata kuliah khusus atau kalau terlanjur dibuat kurikulumnya harus disisipkan di mata kuliah tertentu yang relevan.

Kemunculan aplikasi berbasis AI membuat perubahan peta infokom. Beberapa situs seperti Stack Overflow dan bahkan Googling mulai ditinggalkan oleh para programmer. Mereka lebih cepat bertanya ke ChatGPT, Copilot, Gemini, dan sejenisnya. Beberapa programmer menyadari hal itu dan cara bertahannya seperti pada [Url] ini. Beberapa hal kreatif yang tidak bisa digantikan dengan AI masih jadi andalan programmer seperti aspek seni, komunikasi yang baik dengan pemesan, dan bermain dengan AI. Tapi jika dipikir-pikir itu kan bukan bidangnya programmer, yakni UI/UX designer, Analis Sistem dan Data Sains atau Machine Learning dan Deep Learning.

Beberapa kampus untuk bidang informatika masih menerapkan konsentrasi ke pembuatan software yang fokus ke pemrograman saat akan mengarah ke skripsi/tugas akhir. Tentu saja konsentrasi ini menjadi sasaran mahasiswa karena mudah dan tinggal buat sendiri program lewat AI atau minta buatkan orang. Di satu sisi konsentrasi yang lain seperti data sains hanya menggunakan Google Colab, rapid miner dan sejenisnya tanpa menunjukan implementasinya dimana skill ini sangat dibutuhkan oleh pengembang perangkat lunak. Sebaiknya konsentrasi fokus ke AI, Data Sains, dan sejenisnya tanpa melupakan bahwa Strata 1 (S1) fokus ke penerapan ilmu, alias buat sesuatu. Namun karena dosen perlu dan wajib riset untuk Beban Kerja Dosen (BKD) per semester terkadang memaksa siswa bimbingan mengikuti level risetnya.

Kekhawatiran mahasiswa yang ambil AI misalnya sulit dalam mengimplementasikan dalam AI sepertinya berlebihan karena AI saat ini bisa membantu siswa mengimplementasikan model yang dibuatnya dalam suatu aplikasi sederhana. Misalnya video berikut mengimplementasikan AI yang dibuat lewat Teachable Machine [Url] menjadi aplikasi desktop dengan framework Kivy.

Suka Duka Peneliti

Ternyata tiap orang memiliki bakat dan karakteristik yang berbeda satu sama lain. Walaupun tentu ada kesamaan untuk tipe orang-orang tertentu. Walaupun satu bidang yang sama, misalnya medis, antara dokter yang cenderung mengikuti standar operasi tertentu (SOP) akan berbeda dengan penelitian kedokteran yang fokus ke eksperimen metode-metode baru. Tentu saja kalau pasien dijadikan eksperimen sangat berbahaya. Rekan saya memiliki anak yang kuliah di jurusan kedokteran. Ketika lulus ternyata si anak tidak ingin lanjut menjadi dokter. Akhirnya dia kuliah S3 dan S3 di bidang kedokteran yang fokus ke riset.

Saya sendiri sempat terdampar di bank, bekerja sebagai staf IT. Agak sedikit menderita ketika diminta mengerjakan rutinitas membosankan. Terkadang beberapa komputer saya jadikan eksperimen dan baru sadar ternyata itu berbahaya. Bayangkan Anda seorang koki yang memang harus mengikuti panduan resep tertentu, tetapi karena Anda berjiwa riset maka terkadang Anda melakukan modifikasi, uji coba dan hal-hal lain yang bermaksud menciptakan jenis masakan baru yang lebih menarik dari sebelumnya.

Bagaimana dengan dosen? Kalau Anda tipe yang menjalankan prosedur, maka dengan materi yang RPS lengkap, bahkan dengan power point yang tinggal menyampaikan sudah cukup membuat Anda bahagia. Tetapi untuk tipe riset, tentu saja akan berbeda. Siswa terkadang dipaksa untuk melakukan modifikasi dari yang ada. Menarik informasi dari Prof Stella yang memberikan informasi mengapa peneliti-peneliti berbakat di Indonesia malah meneliti di luar negeri. Salah satu alasan utama adalah dukungan (finansial dan alat) dari pemerintah yang kurang.

Nah, beberapa hari yang lalu secara mengejutkan saya mendapat surat dari LPPM bahwa informasi dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), saya di tahun 2014 telat 6 hari mengumpulkan laporan akhir. Bayangkan, saat ini 2025, jadi hampir 11 tahun yang lalu. Ini masih mending, rekan saya dilaporkan belum mengumpulkan laporan akhir.

Sementara itu, setelah pihak kampus bertanya ke LLDIKTI, hanya bisa pasrah karena diminta menunjukan bukti kalau tidak telat ataupun sudah mengumpulkan, padahal situs BIMA sudah tidak bisa diakses dan tidak ada satu pun kita, peneliti, men-screenshot kalau kita submit. Kampus sudah dua kali kebanjiran, berkas hilang, bahkan komputer LPPM pun terendam. Ibarat kata saya dituduh membunuh tetapi tidak bisa melihat rekaman cctv membunuh, saksi, bukti, dan jika tidak mengakui maka diwajibkan menunjukan bukti kalau saya tidak membunuh.

Beberapa rekan ya pasrah saja dan siap menghadapi ancaman untuk tidak diperbolehkan lagi menerima dana hibah. Sebenarnya secara sederhana kalau rekan saya tidak mengumpulkan laporan, tidak bisa dapat dana termin kedua 30% dan tidak dilanjutkan ke tahun kedua penelitiannya, tapi toh lolos ke tahun berikutnya. Biasanya kalau belum mengumpulkan pasti tidak perlu menunggu selama sepuluh tahun untuk diperingatkan.

Selain meneliti saya juga ada proyek, memang ada pinalti dalam proyek jika terlambat. Tapi jika penelitian disamakan dengan proyek ya sudah, kalau begitu kita pilih proyek saja, dari pada beresiko dan sulitnya membuat laporan pertanggungjawaban. Waktu itu di tahun 2014 peneliti tidak boleh ada insentif ke peneliti di laporannya, alias peneliti tidak di gaji. Ketika ditanya ke pihak DIKTI jawabannya sederhana, ‘kan dosen wajib meneliti, jadi harus siap tidak digaji dari penelitian’. Jadi inget lagu yang jadi soundtrack serial FROM di Catchplay yang jika diartikan –
“Fokus pada apa yang bisa dilakukan sekarang, dan terimalah hasilnya dengan lapang dada”:

Que será, será,

Whatever will be, will be,

The future’s not ours to see,

Que será, será.

Dosen & Meditasi

Salah satu rencana mendiktisaintek yang baru adalah mengurangi beban administratif bagi dosen. Beban ini sudah viral di media sosial. Sepertinya walau dikurangi tetap saja yang namanya dosen ingin terlibat dalam segala hal. Apakah ini karena gen budaya gotong royong kita?

Pikiran merupakan aset penting dosen. Dan sudah terbukti bahwa pikiran mempengaruhi jasmani. Banyak penyakit yang diakibatkan oleh pikiran. Setiap agama memiliki tujuan agar pikiran tetap terjaga, seperti menolak minuman yang memabukan, narkoba, dan sejenisnya yang melemahkan daya pikir manusia. Beberapa ritual ibadah biasanya fokus ke kenyamanan pikiran.

Salah satu metode terkenal adalah meditasi. Metode ini bermaksud membuat sedikitnya jumlah pikiran yang ada di kepala kita. Ibarat monyet, pikiran terkadang loncat sana dan loncat sini sehingga tidak bisa fokus dan berpikir yang dalam karena belum sempat berpikir dalam sudah loncat ke topik yang lain.

Saat ini banyak youtuber-youtuber yang dengan gaya gen-z memasyarakatkan meditasi. Salah satu teknik yang paling mudah dan menjadi terkenal adalah vipassana, yaitu memperhatikan napas masuk dan napas keluar. Jika ada pikiran lain, maka pikiran itu jadi objek kedua dan seterusnya. Ternyata ada efeknya di pikiran kita.

Jadi walau beban administratif dosen dikurangi tetap saja karakter dosen yang ingin selalu terlibat dalam masyarakat tetap saja banyak kerjaan, terutama di benaknya. Silahkan jika Anda memiliki teknik lain yuk berbagi.

Editing User Interface file PHP

Dulu banyak situs yang menyediakan hosting file gratis, namun saat ini sangat jarang. Hosting itu biasanya menyediakan server dengan bahasa pemrograman php dan database mysql. Postingan yang lalu dengan Infinityfree [url] saat ini jadi andalan setelah 000webhost.com sudah berbayar. Namun ketika digunakan di lab dimana IP bersama, langsung disuspen oleh Infinityfree.

Sementara itu untuk disain, w3schools secara free menyediakan tools untuk hosting gratis dengan HTML, hanya saja tidak bisa menyediakan server database. Sehingga untuk mengedit user interface file PHP yang akan dijalankan diserver php perlu instal XAMPP dan sejenisnya. Bagaimana jika lab tidak menyediakan? Caranya tentu saja dengan online. Salah satu aplikasi yang bisa jadi alat praktik edit style php adalah w3schools tapi dengan trik hanya mengambil bagian HTML nya saja.

Bagaimana untuk hosting? tentu saja selain Infinityfree bisa memanfaatkan Play with Docker. Video berikut mengilustrasikan bagaimana menambahkan css pada file php yang telah ter-deploy, tentu dengan seting permission dan penanganan container yang sedikit rumit. Tentu saja Play with Docker sepertinya hanya untuk testing karena hanya diberikan waktu 4 jam saja.

PTS

Tahun 90-an merupakan tahun dimana kampus swasta berjaya. Kebetulan waktu itu masih kuliah di kota pelajar, Yogyakarta. Televisi dan radio masih menjadi media hiburan primadona. Koran pun masih dengan mudah dijumpai. Masih dalam ingatan ketika mengecek diterima atau tidak Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) lewat surat kabar. Teringat para mahasiswa membaca koran, selepas shalat Jumat, yang ditempel di mading masjid dekat tempat kos. Ternyata pada membaca berita munculnya versi baru sistem operasi Windows, yakni Windows 95, menggantikan Windows 3.11 yang kurang bagus jendelanya.

Waktu itu era dimana ketika tidak lulus ujian masuk PTN ada dua kemungkinan, ikut lagi tahun depan atau kuliah di PTS. Waktu berlalu, dan setelah melalui krisis moneter 1998, di tahun 2000 mulailah PTN berstatus menjadi PTNBH dengan otonomi dalam pengelolaan keuangan, dari penerimaan mahasiswa, kerja sama hingga pengelolaan aset.

Kelas-kelas khusus seperti D3 mulai bermunculan. Ternyata dengan penerimaan yang tak terkendali secara perlahan mengurangi jumlah mahasiswa PTS. D3 ini cukup laris karena PTN membuka kelas ekstensi, dimana dari D3 lanjut beberapa tahun menjadi S1. Jadi yang tidak lulus UMPTN bisa lulus S1 PTN dengan cara ambil D3 lalu ekstensi ke S1. Sialnya, di tahun 2011 D3 di UGM dilarang ekstensi ke S1, hebohlah mahasiswa pada demo, kebetulan waktu itu ada di Jogja, pelatihan bahasa untuk studi lanjut.

Pernah saya diminta menseleksi beasiswa full bright gratis dari masuk hingga lulus. Setelah lelah menyeleksi, profiling, dan seterusnya akhirnya diambil keputusan diterima 1 orang. Di luar dugaan, si calon penerima beasiswa menolak beasiswa itu dengan alasan diterima di program D3 Universitas Negeri Jakarta. Mungkin dia santai saja menolak, tapi secara etika dia juga secara tidak langsung menggagalkan mahasiswa lain yang kalah seleksi untuk dapat beasiswa karena ternyata setelah penolakan itu, saya tidak bisa menjadikan calon lain dapat beasiswa, repot dah. Semoga Allah SWT menegur.

Waktu terus bergulir, muncullah PTN-PTN baru hasil akuisisi PTS di daerah-daerah. Ini menjadi alternatif lain calon mahasiswa karena dianggap PTN baru itu lebih baik dari PTS. Pemerintah santai saja, padahal PTS-PTS mulai kelabakan. Seperti biasa, kebijakan di tanah air adalah parsial. Melihat PTS-PTS yang mulai kolaps, ada kebijakan merger yang kebanyakan bukan merger tapi saling memakan, alias dijual oleh PTS yang lebih kuat. Bukan hanya mahasiswa yang berlari ke PTN, dosen-dosen swasta pun banyak yang berlari ke PTN. Seperti biasa, pemerintah membuat kebijakan, misalnya beasiswa KIP yang persentasenya melihat level/peringkat kampus. Kampus yang levelnya bagus akan memperoleh banyak yang peringkatnya rendah, dapat sedikit. Jadilah yang kuat makin kuat, yang lemah makin hancur. Semoga pemerintah memperhatikan kondisi ini.

Bad News is Good News

Perkembangan pesat media sosial menyebabkan media masa mainstream seperti TV, radio, koran dan sejenisnya terancam keberadaannya. Beberapa media cetak mengalami kebangkrutan [url] dan saat ini media tv pun mulai berguguran, setidaknya mengalami restrukturisasi, misalnya media milik Aburizal Bakrie [url].

Di tengah kondisi ini beragam strategi dilakukan oleh media online dari yang mengikuti standar hingga yang ekstrim, yang penting banyak dilihat dan viral. Akibatnya prinsip bad new is good news dijalankan. Salah satunya adalah kondisi politik, yang memang mudah sekali menarik perhatian pembaca. Misalnya berita dari OCCRP yang menjadikan Jokowi nominator tokoh pemimpin yang korup.

Berita seperti ini merupakan berita buruk (bad news) yang sangat diminati oleh pendukung yang kecewa dengan Jokowi. Dengan gambar yang ‘menarik’, dipastikan traffic akan tinggi, beberapa media terkadang tidak menjelaskan secara detil, itu nominasi berasal dari mana di sumbernya, yakni OCCRP? Post Truth biasanya dinarasikan, agar publik memercayai kalau berita itu benar dan bukan berita Hoax. Repotnya literasi yang rendah bangsa kita, tidak membaca lebih lanjut dan hanya membaca judul saja. Padahal dijelaskan bahwa nominasi itu berasal dari pembaca yang tentu saja sentimen di sini sangat berperan (subyektif).

OCCP mengklarifikasi berita itu tapi tetap mengatakan kalau media itu tetap memantau siapa saja pemimpin di dunia. Tentu saja, media tetap media, prinsip makin banyak pembaca makin baik, merupakan visi utama. Media yang tidak ada yang baca/lihat/dengar tentu saja tidak ada iklan yang datang, dan akhirnya akan tutup. Jangan harap media melakukan prinsip ‘praduga tak bersalah’ seperti penegak hukum, karena memang bukan tugasnya.

Kita masing-masing memiliki tugas masing-masing. Guru dan dosen tugasnya mendidik siswa, polisi, jaksa, hingga presiden memiliki tugas masing-masing. Namun, tentu saja jika ada hal-hal yang menyimpang, ada saluran masing-masing. Tapi jangan sampai apapun yang terjadi, entah itu pelemahan KPK seperti yang dikutip oleh OCCRP yang sejatinya karena DPR (legislatif) tetap saja presiden (eksekutif) yang disalahkan. Untuk siswa, dosen, atau ada pihak-pihak yang tidak puas dengan instansi tertentu bisa masuk ke lapor.go.id [url], dijamin kerahasiaannya.

Masa Depan Pendidikan di Indonesia

Waktu itu tahun 95-an, guru bimbingan belajar SMA saya di daerah lempuyangan, Jogja, mengatakan terkait pekerjaan, perusahaan bukan mencari orang pandai melainkan orang yang mau kerja. Ternyata di awal tahun 2000-an walaupun mau kerja, tetap saja sulit memperoleh pekerjaan. Waktu itu walau sudah melewati krisis moneter, tapi masih ada sisa-sisa sulitnya mencari kerja. Jadi, keinginan bekerja tidak cukup, tetap saja kalau tempat bekerja yang kurang pasti akan ada pengangguran.

Nah, kabarnya saat ini mulai terjadi, apalagi lulusan perguruan tinggi mulai banyak yang belum memperoleh pekerjaan. Angkanya pun fantastis di angka 800an ribu. Info dari perbincangan di Metro TV karena negara kita kurang produktif, dimana impor lebih maju dari produksi. Akibatnya lahan pekerjaan terus berkurang dan tidak mampu memberikan pekerjaan ke lulusan perguruan tinggi. Salah satu cara cepat adalah mencari kerja di luar negeri, mengingat lulusan PT di Indonesia kabarnya diakui di 23 negara.

Yang penting jiwa merah putih harus tertanam, setelah mandiri dan memiliki pengalaman bisa kembali ke tanah air. Banyak hal-hal yang bisa dibagi di tanah air, baik lewat bekerja maupun membuka usaha di Indonesia, dengan bekal kemampuan bertaraf internasionalnya.

Otonomi kampus menjadi sasaran mendiktisaintek. Selama ini kampus kerap didikte oleh kementerian lewat aturan-aturan yang terkadang si dosen sendiri pun tidak sempat mempelajarinya. Nah, ke depan beberapa aturan akan dicabut, yang diistilahkan dengan de-regulasi.

Kekhawatiran adanya penyimpangan karena beberapa aturan yang dilanggar dapat diatasi dengan penyelesaian terhadap penyimpangan oleh oknum itu saja. Saya ingat ketika beasiswa dulu, Dikti biasanya ketika ada kasus oleh segelintir oknum yang nakal, akhirnya dibuat aturan baru yang menganggap seluruh orang akan berbuat serupa. Mirip di kampus saya, akibat ada segelintir dosen yang malas absen, akhirnya diperketat absen seperti buruh pabrik ke seluruh dosen dan karyawan. Dampaknya, sebagai kaprodi ketika saya WA masalah kampus di malam hari di grup, tidak ada yang merespon karena di luar jam kerja. Baru direspon keesokan harinya, repot juga.

Tahun baru, coba bikin buku lagi

Terkadang menulis di blog bisa menjadi latihan untuk menulis yang lebih jauh lagi, misalnya menulis buku teks. Biasanya saya tulis di blog keinginan tersebut seperti pos yang lalu ini, atau yang ini. Jadi, menulis blog sebenarnya murni untuk latihan, bukan hanya publish yang tentu saja bisa dengan bantuan (artificial intelligence) AI kalau tujuannya hanya itu.

Saat ini bikin buku bisa dibilang mudah, bisa juga dibilang susah. Mudah karena banyak penerbit yang sifatnya mirip open access, alias berbayar. Prosesnya pun cepat, tidak sampai berbulan-bulan kayak penerbit yang bukunya ada di gramedia dan toko buku terkenal lainnya. Bahkan ada yang membuatnya dengan bantuan ChatGPT. Dibilang susah karena menulis buku butuh kesabaran, tekun, dan rutin alias berkesinambungan.

Sebenarnya tulisan berfungsi untuk sharing pengalaman, pengetahuan, dan hal-hal yang unik dan khas dari penulis. Tidak ideal dan formalitas semata yang bisa dicari saat ini dengan AI. Ada hal-hal tertentu di luar aspek pengetahuan yang bisa dibagikan dalam sebuah tulisan, seperti pengalaman penulis, tip dan trik khusus, yang terkadang harus menyesuaikan dengan daya tangkap pembaca. Makin khas suatu tulisan, makin personal, maka biasanya buku itu tidak dibuat dengan bantuan AI.

AI kalau dijadikan alat bantu tidak masalah. Seperti tukang yang membutuhkan penggaris, kabel air untuk melihat level/ketinggian, dan sejenisnya. Tapi tidak serta merta seluruh pekerjaan dengan alat bantu. Kita memang tidak bisa lepas dari perkembangan teknologi, misalnya dulu mengetik dengan mesin ketik, kemudian beralih ke komputer, hingga saat ini yang mengandalkan AI. Tapi alat bantu tetaplah alat bantu, banyak aspek lain dari AI yang sulit digantikan walaupun AI saat ini sedang mencoba satu kuadran dari AI berdasarkan definisi Russel, yakni berpikir manusiawi (thinks humanly). Jadi, makin Anda memanusiakan diri, makin anda sulit tergantikan dengan AI.

Sekian, semoga saya mampu menyelesaikan tugas ini tanpa bantuan AI. Oiya, semoga postingan ini juga tidak hanya dibaca dan ditarik datanya oleh AI. Salam.