Makanan Bergizi

Udara pagi di desa membuat segar setelah semalaman tidur nyenyak karena lelah akibat perjalanan Bekasi ke Ciamis di malam hari. Menyusuri jalan beraspal sambil memandang sawah yang masih hijau membuat rileks hati. Sesekali kendaraan melalui jalan itu diselingi dengan bunyi jangkrik di pinggir kali.

Kebetulan di dekat rumah bibi ada gedung yang akan dijadikan dapur makan bergizi, proyek dari presiden Prabowo, sesuai dengan janji saat kampanye dulu. Postingan ini hanya selingan terkait dengan perang AI antara Amerika Serikat dengan China. Lalu apa hubungannya dengan proyek makan bergizi Prabowo?

Ketika tulisan ini dibuat, baru saja saya menginstal DeepSeek dari China yang diberikan mesin AI-nya secara cuma-cuma. Berbeda dengan ChatGPT dimana GPT tidak bisa kita pasang di laptop atau server kita, bahkan untuk memanfaatkan GPT untuk aplikasi yang dibuat perlu berlangganan. Itu pun hanya berupa Application Programming Interface (AI) dan mesin AI tidak berada di server kita.

China secara mengejutkan membuat mesin AI yang kabarnya lebih canggih dari ChatGPT, khususnya di bidang matematis. Sebelumnya Alibaba memang menampilkan QWEN yang memiliki ketangguhan mirip ChatGPT, dengan kekhususan di bidang bisnis. Tentu saja dengan DeepSeek, aplikasi-aplikasi berbasis LLM dan Generative AI yang tadinya berlangganan ChatGPT pasti berhenti berlangganan. Berikut video untuk menginstall DeepSeek versi mini (diberi istilah distilled atau hasil penyulingan) agar bisa dipasang di laptop atau server kecil. Ukuran bervariasi dari 1,5 gigabyte hingga 400-an Gb.

Jika dibandingkan ternyata untuk pertanyaan sederhana sepertinya ChatGPT masih lebih praktis dan cepat, apalagi di Macbook ada fasilitas menekan Option+Space untuk mengaktifkan ChatGPT instan. Ini merupakan keunggulan ChatGPT dimana versi onlinenya selalu ok, berbeda dnegan DeepSeek yang terkadang “busy”, karena tidak sanggup menjawab pertanyaa orang-orang seluruh dunia. Tapi tetap saja kita bisa memasang secara offline yang tidak perlu pulsa di komputer atau laptop kita.

Untuk interface, banyak aplikasi yang menyediakan selain Chatbox, salah satunya yang saya coba adalah LM Studio. Kemampuan DeepSeek dalam DeepThink bisa dilihat, dan tentu saja fasilitas upload PDF tersedia, walaupun di ChatGPT pun bisa upload PDF. Jadi jika kita malas membaca paper, tinggal upload file pdf paper/artikel ilmiah dan tanya saja atau minta resume.

Jadi dengan AI anak-anak kita dengan mudah belajar apapun. Tinggal bagaimana otak anak-anak kita bisa segera menyerap ilmu yang sekarang bebas diakses. Jadi sebesar apapun biaya untuk fasilitas pembelajaran, jika otak anak-anak kita ‘melempem’ sepertinya mubazir. Lebih baik investasi ke kecerdasarn generasi kita ke depan, karena kalau sudah cerdas, tinggal diasah mental (keimanan, cinta tanah air, dan lain-lain) dan belajar dari media apapun, terutama memanfaatkan Artificial Intelligence (AI).

Peralatan Data Sains

Saat ini bidang-bidang ilmu memerlukan instrumen dalam analisis data yang ada. Instrumen tersebut biasanya terkait dengan informatika atau ilmu komputer. Tentu saja bidang-bidang ilmu seperti kedokteran, ekonomi, psikologi, dan lain-lain akan memerlukan waktu jika diharuskan belajar ilmu komputer. Oleh karena itulah pakar-pakar ilmu komputer berusaha menyediakan sarana berupa aplikasi agar bidang lain selain informatika dapat memanfaatkan metode atau teknik yang dikembangkan oleh pakar ilmu komputer untuk menyelesaikan problem masing-masing bidang/disiplin ilmu.

Tahun 2008 merupakan tahun yang mengesankan karena di tahun itu perkuliahan pasca sarjana bidang ilmu komputer saya mulai. Bidang ilmu komputer merupakan bidang baru karena sarjana saya yang cukup berbeda, yaknik teknik mesin. Tiap jumat malam dan sabtu, dengan mengendarai motor suzuki thunder, perjalanan bekasi ke jakart terasa ringan, walau kalau dipikir-pikir saat ini, kaget juga, mengapa saya kuat berkendara roda dua sejauh itu. Salah satu dosen kebetulan bukan doktor bidang ilmu komputer, namun memiliki kemampuan dan juga kebijaksanaan dalam mengajari para mahasiswa terkait ilmu komputer. Salah satunya adalah data mining, dimana Dr. Prabowo Pudjo Widodo, kerap membagikan software-software untuk mengelola data mining, salah satunya adalah RapidMiner.

Walaupun software itu sejatinya untuk peneliti non komputer, tetapi cocok juga untuk praktik dasar-dasar data mining (dalam bahasa Indonesia diberi istilah penambangan data). Nah, saat ini RapidMiner sudah ada versi 2025 yang dikenal dengan sebutan Altair AI Studio. Seperti penamaan standar, nama depan berarti vendornya, yakni Altair. Seperti Microsoft Word, berarti Microsoft itu vendornya. Visualisasi, analisa statistik, pengolahan data, dan pekerjaan-pekerjaan sains data lainnya dapat dimanfaatkan oleh software free tersebut (asalkan data <= 10.000 record). Memang software lain, seperti tableau, atau power BI lebih powerful, tapi berbayar.

Salah satu paket menarik dari RapidMiner adalah AutoModel. Di sini kita jika punya satu set data, khususnya dalam format CSV, ketika diunggah ke RapidMiner maka secara otomatis akan diberikan rekomendasi apa saja yang bisa dilakukan, seperti Clustering, Prediction/Inference, Regression, Association Rule, dan lain-lain. Silahkan lihat postingan berikut mengenai fungsi-fungsi dalam Data Mining.

Predictive Analysis – DTree

Clustering – KMeans

Market Basket Analysis

Association Rule

Era Open Source Mulai

Kira-kira satu atau dua tahun yang lalu, beberapa proyek meminta untuk implementasi AI di aplikasi berbasis web. Kebetulan karena jamannya pilpres dan pilkada, teknik scrapping berita di media online kemudian mengecek sentimen dan emosi dari postingan banyak yang minta. Alhasil mengingat keterbatasan yang ada, Naive Bayes, SVM dan metode klasik lainnya jadi andalan. Dengan data terbatas bisa dilatih model yang mampu mengetahui sentimen dari berita online, dengan akurasi yang tidak jauh dari 80%.

Waktu itu ChatGPT mulai muncul dan tentu saja mengalahkan model-model klasik lainnya. Salah satu keterbatasannya adalah jika ingin memanfaatkan fasilitas model GPT itu, harus berlangganan, dan karena berbasis Application Programming Interface (API), mesin AI tidak berada di sisi kita, melainkan hanya ‘menyewa’. Biayanya pun tidak tanggung-tanggung, hitungan per kata.

Untuk menghitung sentimen, dengan metode klasik pun bisa, tapi jika diminta membuat ringkasan (summary), meringkas, melaporkan (reporting), tentu saja mengandalkan model LLM gratis, waktu itu masih kurang akurat. Namun toh, aplikasi bisa berjalan dengan tetap pengguna mengecek ulang keakuratannya dan tidak serta-merta percaya.

Waktu terus berjalan, Donald Trump tampil dan mengumumkan perang dagang dengan China. Nah, di sinilah muncul DeepSeek, AI buatan China yang mengungguli ChatGPT dari sisi kalkulasi matematis. Bukan hanya itu, mesin AI-nya pun dibagikan secara cuma-cuma dalam skema Opensource. Sehingga pengguna tidak perlu berlangganan jika ingin memanfaatkan Generative AI tersebut. Bayangkan, bagaimana hebohnya pengguna yang sudah terlanjur berlangganan ChatGPT, dipastikan akan beralih ke yang gratis. Walaupun tentu saja masih banyak yang ragu, tapi toh, model yang dibagikan itu karena open source, bisa terlihat struktur dalamnya. Ada beberapa bias, khususnya informasi terkait Taiwan, yang menurut DeepSeek masih bagian dari China. Sebelumnya, model QWEN dari Alibaba juga mulai menyaingi ChatGPT, yang cocok untuk bisnis, tapi dari sisi matematis masih kalah dengan DeepSeek.

Kelebihan DeepSeek ternyata tidak didukung oleh situs onlinenya yang terkadang ‘sibuk’ ketika ditanya, terutama ketika memanfaatkan fasilitas ‘deepthink’ dan ‘web’. Namun, toh bisa kita install di laptop kita dan dapat berjalan walau tanpa terkoneksi ke jaringan, sangat cocok untuk yang tidak punya pulsa. Berikut video bagaimana menginstallnya di Mac, dengan bantuan situs Ollama [Link] dan interface Chatbox [Link].

Bikin Presentasi Terus

Bagi dosen, membuat presentasi merupakan pekerjaan sehari-hari. Memang banyak bertebaran slide-slide yang bisa dipakai. Tetapi alangkah baiknya bisa membuat presentasi sendiri. Membuat presentasi sendiri membuat kita lebih PD dan lancar dalam presentasi karena mengerti apa yang ada di slide itu baik yang tertulis maupun yang tersirat.

Saat ini AI bisa membantu membuatkan slide, tapi tentu saja disain dan tampilan perlu dibuat sendiri. Saat ini Canva merupakan andalan anak-anak membuat presentasi karena template yang beragam dan tersedia online tanpa terlebih dahulu instal aplikasi seperti Microsoft Power Point dan sejenisnya.

Anda pasti bisa menjalankan Microsoft Office, seperti Word, Power Point, hingga Excel. Jadi untuk presentasi, orang-orang jadul pasti memilih Microsoft Power Point. Nah, untuk template ternyata Microsoft Power Point tersedia di internet. Bahkan yang versi gratis pun banyak diperoleh dengan disain-disain yang tak kalah dengan Canva. Saya pernah mencoba Canva tapi mungkin karena terbiasa dengan power point, Canva terasa lebih lambat, apalagi aplikasi ini harus terkoneksi ke internet. Power point bisa dipakai offline, saat di pesawat, atau tempat dimana tidak ada akses internet, aplikasi ini bisa menjadi andalan. Silahkan bagaimana menjadikan template power point jadi Themes di Microsoft Power Point kita.

Bahan Bakar Mental

Anda yang lulus di bangku kuliah di awal milenium baru, tahun 2000-an, pasti mengalami kesulitan karena sulitnya mencari kerja akibat krisis yang baru saja pulih. Banyak lulusan perguruan tinggi yang bukan saja kesulitan mencari kerja, beberapa malah ada yang terkena PHK. Generasi era itu merupakan generasi yang unik, karena saat ini banyak korban-korban PHK di jaman itu yang justru menjadi profesor, mengepalai beberapa perusahaan, pengusaha, dan lain-lain.

Salah satu yang menjadi fokus pada postingan ini adalah mental saat itu yang jika tidak kuat akibatnya bisa fatal. Tapi untungnya sebagian besar kuat dan justru jadi tangguh. Entah, mungkin karena banyak temannya. Kecewa ditolak lamarannya hingga persaingan di dunia kerja mewarnai era itu, maklum terkait dapur, kadang manusia lupa jati dirinya.

Bayangkan Anda hidup di era sebelum ada medsos dan dunia online. Informasi harus dicari dengan segala cara. Untungnya internet sudah mulai tumbuh, namun tidak se-masif sekarang, ditambah biaya pulsa yang tidak murah waktu itu. Warnet merupakan lokasi andalan, karena rumah tidak ekonomis untuk berlangganan internet.

Kondisi waktu itu diperparah karena harus keluar kerja karena suami istri dilarang kerja di tempat yang sama. Alhasil, kerja serabutan pun ditempuh, salah satunya sebagai karyawan outsourcing di bank swasta nasional. Berbeda dengan dunia kampus yang politiknya ‘halus’, perusahaan lebih kasar. Beberapa kali pegawai outsourcing menjadi sapi perah pegawai tetap. Pernah juga menjadi ‘tameng’ ketika ada kesalahan. Cukuplah tiga tahun tersiksa sebagai pegawai outsourcing yang digaji separuh dari uang yang diberikan perusahaan induk ke perusahaan outsourcing. Kekecewaan yang ada menghasilkan dua pilihan: 1) menjadi luka batin, atau 2) bahan baku peningkatan mental. Karena manusia berhak memilih, pilihan kedua menjadi pilihan yang terbaik. Jika Anda kecewa diperlakukan seperti itu, maka tidak seharusnya melakukan itu ke orang lain, yang pastinya akan membuat kecewa.

Di siang itu, setelah menunggu kabar lamaran saya ke sebuah kampus di dekat wilayah senen, Jakarta. Akhirnya ada informasi penolakan yakni bidang ilmu saya yang tidak cocok dengan kampus informatika itu. “kalau teknik elektro sih ok, masih dekat”, informasi yang saya peroleh mengenai alasan penolakannya. Kecewa? tentu saja, tapi di dalam benak saya waktu itu muncul energi yang seolah-olah mengatakan, “tunggu, suatu saat saya akan kuliah di jurusan informatika sampai mentok”. Walau setelah itu tersadar bahwa waktu itu jangankan pikiran S3, magister saja belum kepikiran.

Namun energi itu ternyata menarik ke arah cita-cita itu. Secara perlahan setiap hari tidak ada kata berhenti belajar, atau meningkatkan kualitas diri. Dan uniknya, peluang selalu bermunculan. Karena sudah siap, maka peluang yang ada dengan serta merta diambil tanpa susah payah. Jadi, keberuntungan itu adalah kombinasi dari peluang dan kesiapan. Ada peluang tapi Anda tidak siap, maka peluang itu berlalu sia-sia.

Ada kesempatan untuk S2 dengan biaya 50% langsung saja diambil, tanpa perlu pikir panjang. Alhasil lulus dan bergelar master. Tidak lama kemudian, kampus di Bekasi menerima untuk menjadi dosen tetap, setelah 1 tahun menjadi dosen honorer. Seperti biasa, persaingan ada di mana-mana. Rekan saya sempat memberitahu saya kalau pemimpin di tempat saya mengatakan kalau saya bodoh. Tahukah Anda, dibilang bodoh adalah stress terberat bagi orang Jawa. Kecewa? Marah? Tentu saja tidak, justru jadi saya jadikan bahan bakar mental, bahkan menguatkan cita-cita beberapa tahun yang lalu.

Tidak lama kemudian, ada pelatihan bahasa gratis oleh DIKTI ke Jogja selama 3 bulan. Langsung saja diambil walau berat. Toh, mudah karena dulu kuliah di sana enam tahun. Alhasil dengan IELTS score sebesar 6.0, dan bagian writing ber-skor 6.0 sudah cukup untuk studi ke luar negeri. Dan benar, ketika ada peluang beasiswa, saya yang sudah siap dengan IELTS dan proposal, diterima dengan biaya nol rupiah.

Seperti kata Denzel Washington, pemain film ternama yang juga motivator, bahwa saingan atau kompetitor Anda yang sesungguhnya adalah bukan rekan, atasan, atau orang lain, melainkan diri Anda yang kemarin. Asalkan Anda selalu berusaha lebih baik dari Anda yang kemarin, dipastikan Anda akan sukses, cepat atau lambat. Kalau Anda menganggap rekan sebagai kompetitor, maka cenderung lebih mudah ‘menjegal’ dari pada meningkatkan diri, apalagi kepada juniornya. Sulitnya memperoleh ijin dan hal-hal yang menghalangi rekannya yang mau studi lanjut dengan alasan yang mengada-ada, bisa jadi contoh menganggap kompetitor kepada orang lain. Tapi, untungnya yang seperti itu minoritas di kebanyakan institusi.

Walaupun rekan saya banyak yang lebih sukses, bahkan sekarang jadi Profesor, tetapi itu bukan menjadi kompetitor bagi saya, termasuk pembaca sekalian, kompetitor utama saya adalah saya yang kemarin. Sekian, semoga menginspirasi.

Mau Jadi Dosen?

Beberapa hari yang lalu terdengar berita kisruh di kementerian diktisainstek, tidak tanggung-tanggung, antara menteri sendiri dengan bawahannya, yang kebetulan emak-emak. Entah kenapa kalau sudah berurusan dengan emak-emak, urusan jadi viral. Walau akhirnya damai, toh kondisi tidak bisa lagi seperti semula. Sepertinya masih ada bara yang siap menyala sewaktu-waktu.

Urusan kedosenan pun kalau sudah terkait dengan emak-emak, pasti urusan akan berlanjut dan viral. Pedagang, entah itu sayur, barang kelontong, dan lain-lain, ketika yang belanja itu emak-emak, dijamin tawar menawar akan seru, ibarat perjuangan sampai tetes darah terakhir. Nah, untuk kesejahteraan dosen, emak-emak pun memegang peranan penting. Lihat saja video buatan mahasiswa UPN terkait kesejahteraan dosen berikut.

Tentu saja kesejahteraan tidak selalu berkaitan dengan gender. Bapak-bapak pun juga tidak tinggal diam, walau terkadang agak sedikit diredam asal harga diri tidak terpicu. Dosen berbeda dengan pegawai biasa, profesi ini ternyata melibatkan berbagai pihak dari mahasiswa, yayasan, hingga pemerintah, bahkan terakhir BPK [Lihat post yang lalu]. Beberapa waktu yang lalu ada edaran bahwa lolos butuh diwajibkan lagi, menandakan kembali berkuasanya pihak yayasan ketika ada dosen yang akan pindah dalam rangka mencari penghidupan yang lebih layak. Tugas berat menanti kemendiktisaintek.

Mengatasi Partisi Hilang di Mac OS akibat Dual OS Bootcamp

Di tahun 2015an, saya beli macbook air 11 inch yang kecil. Tetapi diinstal dual OS lewat bootcamp, karena ada aplikasi yang memang harus menggunakan Windows. Ternyata disertakan aplikasi Bootcamp di Mac agar bisa dual OS, satu IOS satunya lagi Windows.

Namun karena spek yang rendah, ram 4 giga dan SSD hanya 128 terpaksa kembali lagi ke Mac OS. Maklum, di Mac OS ram 4 giga byte ga masalah, tapi di windows sangat menderita. Akhirnya saya cabut dual OS bootcamp. Tapi ternyata masalah ada di bootcamp yang tidak bisa menghapusnya. Terpaksa dihapus manual. Nah, masalahnya adalah sisa partisi Windows yang dicabut tidak bisa digunakan di Mac. Alhasil, harddisk tinggal 70 Giga saja.

Tanya google dan Youtube, ternyata tidak ketemu. Biasanya di Youtube ok ok saja mereka mengelola partisi lewat Disk Utils. Ternyata di sini Chat GPT bisa membantu. Tentu saja kita harus bertanya mengenai resiko yang terjadi, yakni Mac OS rusak. Alangkah baiknya di backup dulu datanya. Berikut bagaimana melakukan merger partisi Mac yang hilang (bekasi dual OS dengan Windows) dengan yang saat ini jalan. Sekian, semoga bisa membantu.

Instal Rapidminer 2025

Penambangan Data (Data Mining) merupakan bidang yang bermanfaat karena menghasilkan informasi penting dari sekumpulan data. Bidang-bidang seperti bisnis, kesehatan, dan ilmu-ilmu sosial bisa memanfaatkan bidang ini. Ibarat perusahaan tambang, data mentah dapat menghasilkan data berharga yang menguntungkan.

Banyak aplikasi yang tersedia, khususnya bagi Anda yang bukan murni dari ilmu komputer/informatika, salah satunya adalah Rapidminer. Pengguna tidak perlu dipusingkan dengan kode program, cukup menyediakan data serta pemahaman general dari proses yang dibutuhkan untuk penambangan, misalnya klasterisasi, prediksi, dan sejenisnya.

Sebagai langkah awal kita bisa menginstal aplikasi ini lewat situs resminya [Url]. Jangan khawatir, aplikasi ini gratis asalkan data yang diolah di bawah 10 ribu record. Jika lebih bisa membeli lisensinya. Lihat video cara instalasi berikut. Selamat mencoba.

Fight

Negara kita merupakan negara berkembang yang sejak awal dibentuknya melalui pertarungan menghadapi penjajah. Pertarungan selanjutnya adalah mengisi kemerdekaan. Ketertinggalan kita banyak yang menduga karena negara kita yang subur, makmur, dan seperti dalam lagu koes plus, ‘tongkat dan kayu jadi tanaman’. Akibatnya, kehilangan jiwa bertarung (fight) sehingga dengan mudahnya penjajah yang lebih maju masuk ke bumi pertiwi.

Saat ini kita mulai memiliki keunggulan dari sisi jumlah SDM muda, yang diistilahkan ‘bonus demografi’. Tinggal bagaimana orang tua menciptakan jiwa bertarung dari anak-anak kita, tidak perduli pria maupun wanita. Bertarung di sini bukan bertarung seperti binatang, atau anak-anak yang tawuran, melainkan berusaha mengungguli dari yang lain, syukur-syukur mengungguli negara lain.

Kabarnya generasi yang termuda, generasi alpha sering diistilahkan dengan generasi ‘strawberry’, alias generasi yang rapuh dan mudah ‘penyok’. Tugas besar guru dan dosen, apalagi orang tua adalah merubah generasi kaleng krupuk itu menjadi generasi baja, secepatnya sebelum terlambat.

Nah, salah satu cara mengajari yang efektif adalah memberi contoh. Generasi muda akan melihat bagaimana para orang tua, pemimpin, guru, dosen, dan senior-senior bertarung dalam mencapai cita-cita, target, sasaran, dan sejenisnya. Kemampuan meliuk-liuk di sela-sela undang-undang yang tarik ulur, misalnya terkait pendidikan, tidak boleh melemahkan jiwa bertarung para guru dan dosen. Yang sedang studi lanjut, atau yang sedang ingin naik pangkat, tetap fokus, jika mentok, cari jalan lain, asalkan halal. Ada tidaknya tunjangan kinerja (tukin) tidak perlu diambil pusing. Terus dalam kondisi ‘lapar’, seperti singa yang garang tak kenal takut. Semoga kita bisa kuat di hari-hari yang akan datang.

Tukin Dosen Swasta

Dosen swasta merupakan profesi unik yang sejak dulu terbiasa dianaktirikan. Berbeda dengan buruh yang memiliki asosiasi yang melindungi rekan-rekan dari pihak kapitalis, dosen dan juga guru tidak memiliki asosiasi yang secara khusus membela dari sisi ekonomi seperti gaji, tunjangan dan lain-lain. Akibatnya nasibnya seperti itu, ditambah lagi sikap pemerintah yang lebih mendukung yayasan dibanding dosen-dosennya.

Beberapa waktu yang lalu ASN dosen menagih janji tunjangan kinerja (di luar tunjangan sertifikasi dosen) sesuai janji menteri sebelumnya. Bagi dosen swasta kelas menengah, tunjangan itu cukup besar.

Sementara itu tukin dosen swasta menurut informasi [Url] sebesar satu kali gaji golongan sebagai berikut.

Lumayan jauh bedanya. Lektor kepala 10 jutaan, swasta sekitar 3 jutaan. Tapi sebenarnya lumayan, dari pada tidak dapat apa-apa. Itu pun yang dikhawatirkan dibayarkan dalam mata uang Yen .. yen ono duwite, hehe.

Dosen swasta serba salah, terkadang yang kualifikasi kurang terancam dipecat dan tidak ada pihak yang melindungi, di sisi lain yang kualifikasi tinggi terancam dengan ikatan dinas yang tidak masuk akal, ditambah lagi lolos butuh yang harus diperoleh dari kampus asal yang terkadang dipersulit. Kondisi diperparah oleh PTN yang membuka kran mahasiswa baru sebanyak-banyaknya dan membiarkan PTS saling bunuh dan kanibal, seperti tulisan ini [Url].

Node.Js yang Efisien

Hypertext Preprocessor (PHP) merupakan bahasa pemrograman yang masih banyak digunakan di Indonesia. Namun untuk proyek-proyek sudah mulai tergantingan dengan aplikasi berbasis Microservices. Ada satu bahasa pemrograman web yang sudah lama ada, yakni Javascript. Namun kode ini berjalan di sisi client, alias di browser pengguna. Kode tentu saja dapat dilihat dan digunakan oleh pengguna.

Node.Js di sisi lain mengimplementasikan kode Javascript tapi berjalan di sisi server. Silahkan cari informasi bahasa ini yang kabarnya lebih cepat dibanding PHP, terutama ketika banyak user yang mengakses aplikasi web. Kalau ingin belajar instal Node.Js di server yang ada Dockernya, bisa latihan dengan Play with Docker, seperti pada video ini.

Doktoral, menggali metode baru

Yang membedakan perkuliahan doktoral dengan S2 atau S1 adalah filosofi doktoral yang berkontribusi keilmuan. Seandainya ada S3 jurusan gali sumur, maka tidak hanya bisa menggali (S3) atau memilih metode penggalian yang efektif (S2), melainkan harus bisa menemukan metode baru yang lebih baik. Lebih baik di sini sangat beragam, bisa saja lebih murah, lebih aman, lebih cepat, dan hal-hal lain sesuai kebutuhan.

Jadi mahasiswa doktoral harus mampu menggunakan metode + mengetahui karakteristik metode-metode baseline (existing) + melakukan improvement metode. Kembali ke S3 jurusan gali sumur tadi, okelah kita belum pernah gali sumur, tapi setidaknya tahu teori dan metode-metode untuk menggali sumur karena nanti pasti akan diminta mengukur performa antara metode yang ada dengan metode usulan.

Saat ini tools sudah sangat membantu, apalagi adanya AI seperti ChatGPT, Copilot, Gemini, dan lain-lain. Beberapa software seperti Matlab sangat memudahkan bukan hanya untuk mengaplikasikan satu metode melainkan juga untuk belajar memahami metode itu dengan situs resminya [Url]. Berikut jika Anda ingin melihat bagaimana perkuliahan doktoral itu. Siapa tahu Anda tertarik.

Python di Play-With-Docker (PWD)

Python merupakan bahasa yang paling banyak digunakan untuk pemodelan AI saat ini. Bahkan Google pun menggunakan bahasa ini dalam layanan cloud untuk pemrogramannya yakni Google Colab. Sayangnya untuk keperluan training yang membutuhkan GPU, harus berbayar.

Google colab untuk training memang recommended, khususnya untuk mahasiswa tingkat S2 dan S3 dimana perlu mengutak-atik model. Sementara itu untuk mahasiswa S1 yang diminta implementasi, jika hanya mengandalkan Google Colab dirasa kurang mengingat industri-industri saat ini permintaannya membuat aplikasi atau layanan dari model tertentu. Jadi perlu tools lain, yang tentu saja murah, alias gratis. Idealnya sih menyewa atau membeli server untuk testing.

Nah, play with docker (PWD) menawarkan server murah untuk belajar, tapi dibatasi hanya 4 jam saja. Walaupun hanya sebentar, tapi 4 jam sudah cukup untuk mahasiswa berlatih implementasi model yang dibuat dalam satu aplikasi berbasis web, misalnya dengan Flask, Django, atau bahkan PHP yang saat ini di Indonesia masih banyak dipakai.

Python perlu bisa dijalankan di PWD. Video berikut ini mengilustrasikan bagaimana penggunaan Python di PWD. Salah satunya adalah penanganan Virtual Environment (ENV). Oiya, ternyata Python versi 3.12 yang baru belum support Tensor Flow, jadi harus turun ke versi 3.11.

Belajar Lewat Aplikasi

Terkadang kita mengalami kesulitan memahami sesuatu yang abstrak. Apalagi jika disajikan dalam bentuk kalimat. Beberapa terkadang kurang memahami notasi-notasi matematis ala jurnal ilmiah. Jika sudah memahami, terkadang perlu waktu lagi mengimplementasikannya dalam sebuah aplikasi dengan bahasa pemrograman tertentu.

Nah beberapa aplikasi, terutama yang berbayar berusaha membantu pengguna dalam memahami metode-metode yang ada, misalnya Matlab. Selain menyediakan panduan online di situs resminya [Url] juga menyediakan link youtube yang berisi simulasi menarik. Misalnya kasus LSTM berikut ini.

Atau teori konvolusi berikut ini yang jika dijabarkan dalam notasi matematis sangat membingungkan bagi yang tidak terbiasa.

Beberapa aplikasi free seperti Google Colab juga tidak kalah dalam menyajikan implementasi dalam format Jupyter Notebooknya yang berisi gambar dan teks penjelasan yang menarik. Selain membaca teori, bisa langsung di running, seperti Google Colab ini [Url]. Selamat mencoba.

Pergeseran Fokus Informatika dari Pemrograman ke AI

Di Indonesia ada organisasi yang mengurusi pendidikan informatika dan komputer bernama APTIKOM. Kira-kira sepuluh tahun yang lalu informasi dari Association for Computing Machinery (ACM) bahwa jurusan infokom wajib bisa programming. Jadi entah jurusan sistem informasi, teknik komputer, apalagi informatika/ilmu komputer harus ada mata kuliah tentang pemrograman.

Waktu terus berjalan, sebelum COVID saat pertemuan APTIKOM, ketuanya mengatakan seluruh jurusan infokom wajib ada mata kuliah Artificial Intelligence (AI) di kurikulumnya, alias tiap jurusan entah itu berupa mata kuliah khusus atau kalau terlanjur dibuat kurikulumnya harus disisipkan di mata kuliah tertentu yang relevan.

Kemunculan aplikasi berbasis AI membuat perubahan peta infokom. Beberapa situs seperti Stack Overflow dan bahkan Googling mulai ditinggalkan oleh para programmer. Mereka lebih cepat bertanya ke ChatGPT, Copilot, Gemini, dan sejenisnya. Beberapa programmer menyadari hal itu dan cara bertahannya seperti pada [Url] ini. Beberapa hal kreatif yang tidak bisa digantikan dengan AI masih jadi andalan programmer seperti aspek seni, komunikasi yang baik dengan pemesan, dan bermain dengan AI. Tapi jika dipikir-pikir itu kan bukan bidangnya programmer, yakni UI/UX designer, Analis Sistem dan Data Sains atau Machine Learning dan Deep Learning.

Beberapa kampus untuk bidang informatika masih menerapkan konsentrasi ke pembuatan software yang fokus ke pemrograman saat akan mengarah ke skripsi/tugas akhir. Tentu saja konsentrasi ini menjadi sasaran mahasiswa karena mudah dan tinggal buat sendiri program lewat AI atau minta buatkan orang. Di satu sisi konsentrasi yang lain seperti data sains hanya menggunakan Google Colab, rapid miner dan sejenisnya tanpa menunjukan implementasinya dimana skill ini sangat dibutuhkan oleh pengembang perangkat lunak. Sebaiknya konsentrasi fokus ke AI, Data Sains, dan sejenisnya tanpa melupakan bahwa Strata 1 (S1) fokus ke penerapan ilmu, alias buat sesuatu. Namun karena dosen perlu dan wajib riset untuk Beban Kerja Dosen (BKD) per semester terkadang memaksa siswa bimbingan mengikuti level risetnya.

Kekhawatiran mahasiswa yang ambil AI misalnya sulit dalam mengimplementasikan dalam AI sepertinya berlebihan karena AI saat ini bisa membantu siswa mengimplementasikan model yang dibuatnya dalam suatu aplikasi sederhana. Misalnya video berikut mengimplementasikan AI yang dibuat lewat Teachable Machine [Url] menjadi aplikasi desktop dengan framework Kivy.