Metodologi dalam Pembuatan Perangkat Lunak

Seperti halnya perancangan produk di industri, merancang produk perangkat lunak juga memerlukan metodologi agar produk yang dihasilkan berkualitas baik. Karena karakteristiknya yang unik (tidak bisa aus, cepat berkembang, dll) software memiliki metodologi beragam yang telah dilakukan oleh pengembang-pengembang perangkat lunak.

Dalam bukunya, Roger S presman membagi metodologi menjadi bermacam-macam (waterfall, incremen, spiral, prototype, dll). Namun, pendekatan yang disarankan oleh Martin Fowler dalam bukunya UML Distilled cukup menarik, yakni hanya membagi metodologi menjadi waterfall dan iterasi. Sedangkan yang lainnya seperti spiral, incremen, dimasukan dalam kategori iterasi. Berikut penjelasan singkatnya.

Metodologi waterfall, sesuai dengan namanya “air terjun” merupakan metode klasik yang telah digunakan oleh analis dan disain perangkat lunak. Metode ini membagi proses pembuatan perangkat lunak dalam fase-fase seperti analisa, disain, coding, testing dan implementasi dengan urutan yang jelas. Karena memiliki kelemahan yang cukup signifikan, metode Iterasi membagi proses pembuatan perangkat lunak menjadi tahapan-tahapan yang tiap tahapan terdiri dari fase-fase yang ada pada waterfall ( analisa, disain, coding, testing dan implementasi). Sehingga kemungkinan kegagalan dalam  proses pembuatan software dapat ditekan sekecil mungkin. Tahapan tersebut disusun mulai dari kebutuhan software terkecil hingga lengkap, namun tentu saja membagi menjadi tahap-tahap bukan merupakan pekerjaan yang mudah.

Sedangka dalam hal perancangan, Martin Fowler dalam buku yang sama juga menjelaskan bahwa ada dua jenis perancangan, yaitu prediktif dan adaptif. Perencanaan prediktif mengharuskan vendor pembuat perangkat lunak mampu memprediksi baik dari sisi kebutuhan software maupun hal-hal lain. Sedangkan perencanaan adaptif vendor pembuat tidak memiliki prediksi yang jelas, sehingga kebutuhan sofware selama proses pembuatan perangkat lunak bisa saja berubah (beradaptasi) mengikuti kebutuhan konsumen yang fleksibel. Oleh karena itu Martin Fowler menyarankan dalam merancang suatu sofware kita memanfaatkan tools system sebaiknya dari yang sederhana kemudian kita tambah sesuai kebutuhan dari pada memanfaatkan tools system yang kompleks dan kemudian satu persatu kita hilangkan mengikuti kebutuhan.

Namun kebanyakan kampus-kampus menggunakan metodologi yang ada di buku-buku teks klasik (Roger S Pressman dan Ian Sommerville) walaupun saat ini sudah mulai muncul metode-metode baru yang menyesuaikan dengan kebutuhan/karakter software yang dirancang seperti Agile dan Extreme Programming (XP). Menilik dari pengalaman-pengalaman yang lalu dalam membuat bahasa standar object programming UML yang banyak memakan waktu dan dana, ada baiknya para metodis (pakar di bidang metodologi) agar sedikit longgar dan mengikuti tren pasar. Bahkan sering disindir, “bedanya metodis dengan teroris hanya satu, yaitu kita bisa bernogosiasi dengan teroris”. 🙂

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s