Muncul istilah baby boomer, kemudian generasi X, milenial, hingga gen Z, dan kini gen alpha baru terasa di saat munculnya revolusi industri 4.0 dengan AI dan Big Data. Berbeda dengan generasi lama yang memang terbiasa ‘mandiri’ tanpa alat bantu, generasi sekarang full penuh bantuan. Generasi lama mungkin hanya kalkulator, atau komputer pun sekedar menggantikan mesin ketik yang kalau salah harus di-tip-x khusus mesin ketik manual. Sementara generasi alpha sudah terpapar AI sejak dini, menjadikan mereka lebih adaptif terhadap teknologi namun juga berpotensi kehilangan keterampilan dasar yang dulu dilatih secara manual.
Bangun pagi otomatis tanpa jam beker (yang kadang lupa distel), mencuci baju sendiri karena laundry jarang ditemui, menjahit pakaian robek karena tukang jahit jauh, dan memperbaiki genteng bocor karena tukang bangunan mahal, memaksa orang jaman dulu belajar hal-hal lain di luar core utamanya. Seorang profesor terkadang bisa berperan sebagai supir gojek atau gocar bagi anak dan istrinya, jadi tukang servis kulkas, dan sebagainya. Bahkan rekan saya banyak yang jadi motivator dan ustad. Dengan kata lain tidak bisa hidup kalau tidak belajar bidang-bidang lain seperti keuangan, psikologi, kedokteran, pertanian, agama, dan lain-lain. Munculah era di mana anak generasi baru tidak perlu belajar hal di luar bidangnya, ditambah lagi orang tua yang memanjakan anaknya, hingga muncul kalimat heboh, “biar ibu saja yang WNI, anakku jangan”, yang bikin netizen ngamuk. Akibatnya, muncul kekhawatiran akan hilangnya kemampuan bertahan hidup (survival skills) dan empati pada generasi penerus.
Senakal-nakalnya mahasiswa teknik jaman dulu, pasti bisa nyuci baju, nyuci piring, nyapu, ngitung anggaran bulanan dan lain-lain (pengalaman pribadi), jangankan dibanding anak-anak teknik saat ini, beberapa tahun di bawah saya pun mulai menunjukkan gelagat kurangnya keingintahuan belajar hal-hal lain di luar bidangnya. Podcast Gita Wiryawan di episode tertentu membahas hal itu, belajar fokus 1 bidang dengan prinsip 10000 jam, atau fokus belajar hal-hal beragam (multidisiplin), mana yang paling tepat? Pertanyaan ini menjadi dilema di era spesialisasi versus generalisasi, di mana kedalaman keahlian di satu bidang berbenturan dengan kebutuhan adaptasi dan inovasi yang seringkali muncul dari persilangan disiplin ilmu.
Beralih ke kondisi saat ini, era Sri Mulyani yang murni ekonom, berganti ke era Purbaya yang multidisiplin. Pendekatan ekonomi dikombinasi dengan aspek-aspek lain, mulai dari geopolitik, moneter, psikologi pasar, statistik, sistem dinamis, dan ilmu-ilmu lain sedikit banyak mampu menjaga kondisi tidak sampai rakyat kembali menjarah rumah-rumah pejabat baik DPR maupun pemerintah. Menjaga suasana psikologi rakyat yang trauma dengan pajak, tidak ada cara lain selain pendekatan multidisiplin. Bahkan mahasiswa doktoral yang dulu fokus ke novelty kecil, mulai diarahkan ke kontribusi besar yang berdampak. Semoga tulisan ini bisa sedikit banyak menjadi tinjauan terhadap fenomena dunia sekitar kita saat ini, sebuah refleksi tentang pentingnya keseimbangan antara spesialisasi dan generalisasi dalam menghadapi kompleksitas zaman.