Bhinneka Tunggal Ika … Kita Tentu Tidak Lupa

Ketika saya masih di sekolah dasar, di depan kelas selalu tergantung sebuah gambar burung dengan gagahnya melebarkan sayapnya. Waktu itu saya diperkenalkan dengan lambang nagara saya burung garuda pancasila. Dengan simbol sila-sila dalam perisai yang tergantung di lehernya, dan bulu-bulu yang melambangkan hari kemerdekaan, lambang itu terasa gagah menurutku. Yang unik adalah cakar di kaki yang menggenggam semboyan terkenal “Bhinneka Tunggal Ika”, yang merupakan selogan Mpu Tantular. Artinya adalah berbeda-beda tetapi tetap satu.

Tidak ada satupun siswa yang melecehkan, meledek, ataupun tidak setuju terhadap lambang negara Indonesia itu. Antara satu anak dengan anak yang lain tidak ada sama sekali perbedaan. Waktu itu saya tinggal di Jakarta Utara. Wilayah yang menurut saya cukup heterogen. Saya ingat salah seorang teman saya keturunan India, dengan agamanya yang Hindu. Saya kagum dengan kemampuannya bermain basket yang lincah, serta saya selalu kalah ketika pelajaran prakarya membuat patung dari tanah liat. Wilayah saya masuk kecamatan Tanjung Priok, wilayah dengan basis Islam yang fanatik. Mungkin pembaca pernah mendengar kasus tragedi priok tahun 80-an yang hingga tulisan ini dibuat masih menjadi misteri. Yang anehnya walaupun di basis Islam yang keras, toleransi tetap berjalan dengan baik. Anehnya, di wilayah saya yang hanya memiliki umat kristiani waktu itu yang kurang dari 10 orang, tetapi penduduknya mengijinkan dibuatnya gereja HKBP. Bayangkan jika saat ini proses pembangunannya, penduduk tidak bakal mengijinkan. Ternyata beda jaman, beda juga pemahamannya. Entah lebih baik atau lebih buruk, keputusan ada di tangan kita.

Sesekali saya bermain dengan rekan saya, namanya Johan Manto. Hemm .. sungguh di luar dugaan, saya masih mengingat namanya, ada di mana dia sekarang. Keluarganya adalah penganuh katolik yang taat. Sempat saya mampir ke rumahnya dan di ajak makan oleh ibunya yang baik hati. Sebelum makan mereka mengepalkan kedua tangannya, kemudia membaca doa sebelum makan ala nasrani. Tidak ada paksaan atau ajakan untuk beralih ke agama mereka, demikian pula saya tidak pernah mengajaknya ataupun mengatakan agama buruk, dan agama saya lebih baik. Walaupun tentu saja tiap pemeluk kepercayaan pasti beranggapan agama dan kepercayaannya lebih baik.

Saya ingat waktu itu wilayah kami merupakan wilayah konflik akibat banyaknya premanisme. Mungkin yang seumuran saya pernah mendengar adanya lagu berjudul preman yang dibawakan oleh Ikang Fawzi. Lagu yang cukup populer waktu itu memang menggambarkan kondisi sesungguhnya waktu itu. Namun dengan sikap keras era Suharto dengan kebijakan PETRUS-nya, banyak preman-preman yang jera dan alih profesi. Setelah preman tidak ada, saya merasakan udara sejuk yang tidak dapat saya jumpai hingga saat ini. Udara sejuk itu adalah rasa saling menghargai sesama manusia. Antara satu suku, agama, adat, dan lain sebagainya bisa langsung berbaur dan bergaul dengan baik. Yang saya bingung mengapa akhir-akhir ini sikap seperti itu seperti punah?

Masuk ke jenjang yang lebih tinggi, masih saya rasakan udara sejuk itu. Sepertinya di tempat lain sekitar kami juga demikian. Bulan puasa, dan hari raya idul fitri merupakan perayaan yang sungguh besar, benar-benar hari raya. Tidak ada kebahagian yang melebihi hari raya idul fitri dan bulan puasa ketika saya kecil. Beda dengan saat ini, dimana bulan puasa dan hari raya seperti sambil lalu saja. Entah mengapa, saya sendiri masih bingung. Islam yang kami anut waktu itu sangat berbeda dengan saat ini, mungkin waktu itu tidak ada internet, atau pun siaran tv langsung dari Mekkah. Tidak ada nuansa arab dalam pelajaran yang saya peroleh, semuanya murni dari alquran dan beberapa hadits, yang saya tidak tahu diriwayatkan oleh siapa. Walaupun beberapa kiyai tiap tahun pergi haji, tetap saja ketika kembali dan mengajar ngaji tidak 100% menggunakan atribut-atribut arab. Tetap saja mereka sama dengan penduduk yang lain, dengan sarung dan peci, cukup. Celana panjang biasa saja, tidak menggantung hingga 1/3 kaki, walaupun bagi saya tidak menjadi masalah. Jenggot pun tumbuh sekedarnya, tidak ada usaha untuk memanjangkannya dengan minyak penumbuh rambut atau sejenisnya. Sesekali pernah sebelum saya pindah ke Yogyakarta, ketika sedang bermain tenis, dua orang dengan jenggot panjang dan celana menggantung menghampiri saya dan teman saya, saya ingat namanya Laode Syainsyah. Untungnya ada facebook, saya jadi masih bisa berkomunikasi. “Anda beragama Islam?”, salah seorang bertanya ke kami, “Ya, bang”, jawab saya. Ayo ikut ke masjid, ambil sarung. Terus terang dengan wajah tegasnya saya ketakutan. Seorang mengikuti teman saya dan satu lagi mengikut saya ke rumah. Sampailah kami di masjid tempat saya mengaji. Ternyata mereka merupakan tamu yang akan menginap beberapa hari untuk dakwah. Tampak pula teman-teman saya yang lain yang ketangkep dan dipaksa ke masjid. Seperti biasa saya diberi tausyiah yang sedikit aneh. Dia mengatakan bahwa membunuh itu dosa kecil, sedangkan tidak shalat itu dosa besar. Saya yang berumur 12 tahun waktu itu secara logika menolak, tapi saya diam saja, dari pada benjol. Kemudian dia menerangkan sebuah surat pendek Aroaitallazi .. dst, yang tentu saja saya hafal. Tetapi anehnya dua ayat terakhir sepertinya dia lupa. Saya dan teman saya saling berpandangan dan ingin membenarkannya takut, akhirnya kami manggut-manggut saja seolah baru pertama kali mendengarnya. “Mau ke mana? Kata salah seorang yang jadi pemimpin rombongan itu kepada rekan saya yang mau keluar, “Mau ke toilet pa”, katanya dengan ketakutan, “ya, jangan lama-lama”. Lama saya perhatikan, dia tidak balik-balik. Kurang ajar, dalam hatiku, ternyata dia kabur. Si penceramah melihat saya yang sesekali melihat jam dinding, dan menegur saya, agar fokus. Tentu saja saya khawatir karena sebentar lagi saya harus masuk sekolah karena saya masuk siang ( smp kelas 1). Ketika shalat dzuhur dimulai, mohon maaf, saya harus kaburrrrrr.

Waktu terus berjalan dan saya SMA dan kuliah di Yogyakarta, tempat saya dilahirkan. Saya tinggal menumpang di rumah kakek nenek saya sebelum pindah kos karena letaknya yang jauh dari kampus. Sejak saat itulah mulai terasa perbedaan-perbedaan yang secara perlahan mengusik Bhinneka Tunggal Ika negara kita. Di kota gudeg, ternyata keberagaman lebih banyak lagi. Saya melihat sendiri rombongan anak muda dengan pakaian yang unik ala Bali yang akan bersembahyang. Bahkan di tempat kos saya ada satu area dengan tulisan Kundalini Yoga, yang mengajarkan meditasi ala Budha. Bahkan kakek tiri saya sendiri menganut ajaran apa saya tidak mengerti, katanya sih warisan dari majapahit. Tapi anehnya mereka tetap bisa berjalan seirama. Tetapi saya merasakan adanya suatu gerakan entah apa namanya yang secara perlahan-lahan ingin menyeragamkan segala sesuatu. Saya tidak berani menyebutkan itu aliran apa. Sungguh sesuatu yang menurut saya sangat berbahaya, karena sudah merasuki anak-anak muda terpelajar, bahkan yang kuliah di tempat saya, Universitas Gadjah Mada. Sempat selesai dari KKN, kami dan rekan sesama KKN ingin mengadakan pertemuan, seperti reuni kecil-kecilan. Ketika Maghrib, saya dan rekan saya, namanya Six Fatmanto, seorang yang taat beragama, saya lihat dari laporan KKN yang detil dan tidak berbohong seperti saya (walaupun menurut saya sih nyusahin diri sendiri aja), ketika akan pulang dihalangi oleh seorang mahasiswa muda, yang menurut saya ingin berdakwah. Tentu saja bagi saya baik, hanya saja caranya yang terkesan menggurui itu yang saya kurang suka. Bagaimana mungkin mahasiswa yang sebentar lagi wisuda diceramahi oleh mahasiswa baru, mengkritik saya yang menggunakan celana Jean, dan seterusnya. Ketika dia mengucapkan satu kalimat, “Terus terang saya tidak yakin apakah saya bisa masuk surga, semua itu kehendak Allah”, itulah saat yang tepat bagi saya, he he. “Baik ya dik, karena kita sama-sama tidak yakin bakal masuk surga, saya pamit dulu ya”. Kalimat saya di luar dugaannya, dia hanya terpaku ketika saya tinggalkan.

Saya tidak merasa cerdas, pintar, atau apapun sebutannya. Entah berapapun kapasitas otak kita, tidak seharusnya kita melupakan pesan Rasulullah, agar membaca. Bahkan malaikat jibril saja gemas dengan kekasih Allah ketika mengatakan tidak bisa membaca. Apalagi terhadap kita, bisa-bisa nanti kita jadi bulan-bulanan malaikan di alam nanti. Bacaanpun tidak pilih-pilih, baca saja semua, kita kan punya otak dan logika. Jangan sampai kita hanya boleh membaca aliran tertentu saja karena jika membaca aliran yang lain takut akan terpengaruh. Kalo kita baca A dan B dan menurut kita B lebih baik, ya tentu saja A harus instrospeksi dong. Jangan sampai kita memaksakan A dan melarang orang membaca B. Ada karikatur lucu:

Negeri Tetangga .. Thailand yang Unik

Berita kerusuhan di Thailand sudah tersebar hingga ke Indonesia. Tentu saja membuat cemas para orang tua yang anaknya sedang kuliah di sana, bekerja, dan sebagainya. Begitu juga keluarga dan sobat karib saya yang berada di Indonesia selalu menanyakan kondisi di sini, apakah seperti yang diberitakan di televisi?

(bbc.co.uk)

Sesungguhnya saya tidak begitu mengerti, tetapi karena banyak teman-teman kuliah saya yang orang Thailand, dan terkadang pengajar yang bukan orang asli sini kerap bertanya kepada mereka mengenai kondisi Thailand saat perkuliahan, saya sedikit banyak mengerti. Kondisi raja yang sudah berumur dan tidak begitu mencampuri lagi urusan pemerintahan, dan masalah-masalah lain yang berhubungan dengan sikap politik yang bagi partai oposisi menyimpang, menyulut pertentangan antara kubu kaos merah dengan kubu kaos kuning. Saya sendiri heran kenapa ada istilah warna seperti itu.

Ketika perdana menteri Thaksin jatuh dan melarikan diri, ternyata saat ini dikuasi pemerintahan dikuasai oleh Yingluck yang merupakan kerabatnya. Pemilu dimenangkan oleh Yingluck karena memang kebijakan Thaksin yang sejak dulu sangat mendukung pertanian. Mungkin sangat mirip dengan jaman Suharto dulu. Ketika Yingluck mengusulkan adanya undang-undang untuk pengampunan (mungkin ditujukan agar Thaksin dapat kembali ke Thailand dengan damai) muncullah protes keras dari kubu yang menjatuhkan Thaksin dulu. Saat ini terjadi dua demonstrasi antara kubu Yingluck (dari petani luar Bangkok) dan dari kubu oposisi (dari dalam kota Bangkok) yang jika sampai bertemu, sudah dapat dipastikan terjadi pertumpahan darah. Itu yang saya tangkap dari informasi sana sini. Saat tulisan ini dibuat, kerusuhan mereda karena Raja Bhumibol sedang ulang tahun yang ke-86.

(sindikasiberita.com)

Kondisi Geografis dan Budaya

Berbeda dengan Indonesia, Thailand sedikit unik. Seluruh sarana dan fasilitas terkonsentrasi ke ibu kota Bangkok. Tidak ada kota-kota besar seperti Bandung, Jogjakarta, Medan, dan kota besar lainnya selain Jakarta seperti di indonesia. Kebetulan saya sekolah di kampus yang terletak di pinggiran Bangkok. Dan memang saya merasakan ada kesenjangan antara kota dengan desa. Akan tetapi menurut saya bagus juga dari sisi budaya. Orang yang di luar Bangkok masih memiliki jiwa yang belum tercemar. Ketika menuju suatu Mall saya naik van (seperti angkot tetapi mewah, dengan AC dan kebersihan yang terjaga) dan yang membuat saya heran adalah ketika akan membayar, kita hanya meletakkan uang yang sudah tertentu harganya, kemudian nampan itu beredar di antara penumpang. Tidak ada kondektur, hanya seorang supir. Ketika semua selesai meletakkan uang untuk ongkos perjalanan ke nampan, sang supir pun sepertinya tidak menghitung lagi uang tersebut kurang atau tidak. Bayangkan jika ini diterapkan di Jakarta, uang yang beredar dijamin hilang.

Peran Raja

Saya pernah belajar geografi di sekolah, dan ketika mempelajari negara-negara ASEAN, saya sempat membaca negara Thailand, diman dipimpin oleh seorang raja dengan perdana menteri. Disebutkan juga Thailand merupakan satu-satunya negara yang tidak pernah dijajah. Di sini istilah dijajah berarti ditindas dan sumber daya alamnya dikuras habis oleh penjajah, sementara Jepang tidak bisa dibilang menjajah karena hanya menduduki untuk dijadikan basis pertempuran dengan sekutu, walaupun terkadang lebih kejam dari penjajah akibat kepepet dan harus menang dalam perang.

(Chiangmai-mail.com)

Salah satu hal yang ternyata menurut saya salah ketika mendapat pelajaran sejarah Thailand di sekolah adalah bahwa Thailand tidak dijajah karena memang kebetulan letaknya berbatasan antara jajahan Inggris di selatan dengan jajahan Perancis di utara. Masuk akal memang, tetapi ketika saya menelusuri situs-situs sejarah Thailand ternyata peran raja Chulalongkorn sangat penting ketika itu. Raja Chula merupakan raja yang disayangi oleh rakyatnya. Raja ini terkenal sebagai raja yang suka belajar dan berpetualang ke negara-negara lain. Dengan taktiknya silaturahmi ke negara-negara lain yang biasanya negara monarki juga, ketika Perancis dan Inggris akan menguasai Thailand, banyak bantuan dari sahabat-sahabat raja. Sesekali pernah Tsar rusia yang siap membantu jika diperlukan bantuan untuk menghadapi Perancis yang saat itu sudah menguasai Laos dan akan masuk ke Thailand. Jadi menurut saya alasan kenapa Thailand tidak dijajah karena letaknya yang berbatasan kurang tepat. Penjajah itu pintar, mengapa tidak dibagi dua saja Thailand? Biar sama-sama untung. Kalaupun memang sebagai negara pemisah, itu bisa saja taktik raja Chula yang cerdik. Toh, tetangganya, Kamboja, yang terletak di tengah-tengah juga jatuh ke tangan penjajah.

Pelajaran dari Negeri Gajah

Banyak hal-hal positif yang bisa diambil dari negeri ini dan diterapkan di tanah air. Thailand merupakan negara dengan mayoritas memeluk Budha dan menerapkan ajaran Darma setiap hari. Walaupun di kota masih kerap dijumpai pencurian, dan kejahatan lainnya, tetapi di desa-desa mereka masih mempercayai adanya hukum karma. Kadang saya malu dengan negara saya yang mengagung-agungkan Islam sebagai rahmatan lil alamin tetapi perilakunya jauh dari kemulian agama yang dia anut. Memang saya sendiri pun masih jauh dari sempurna. Tetapi jika menganggap diri kita lebih baik dari orang lain, bisa saja mendatangkan setan untuk menyelinap masuk lewat ajaran yang kita anut. Dengan memutar dalil-dalil bisa saja setan menyusup. Menghalalkan yang haram dengan alasan tertentu yang terkesan lebih urgen. Dengan adanya amalan-amalan tertentu yang menghapus dosa-dosa yang telah dibuat, menurut saya juga sangat memungkinkan syetan untuk menyelinap masuk. Masuk ke dalam relung-relung fikiran kita secara halus tanpa kita sadar. Dengan dalil-dalil tertentu, bisa saja saling membunuh karena merasa suatu ajaran menyimpang. Di sini, membunuh semut pun mereka enggan. Burung perkutut dan tekukur yang sering terdengar di sekitar kos tempat saya menginap bebas berkeliaran dan tidak ada yang berupaya untuk menangkapnya. Beda dengan kondisi di tanah air. Apapun yang bisa dijadikan uang, diambil tanpa pandang bulu, hutan yang kian gundul, pembakaran hutan untuk membuka lahan, pengeboran yang merusak lingkungan seperti di Lapindo, membuat malu jika didengar oleh anak cucu kita nanti, semoga. Ya, semoga anak cucu kita tidak memiliki pemikiran miring seperti pendahulunya.

(Perkutut liar)

Menurut saya, jakarta harus banyak belajar dari kota Bangkok. Kebersihan, jalur transportasi yang beragam, tata kota dan kedisiplinan warganya patut diacungi jempol. Budaya antri yang tinggi dengan kesabaran berkendara dapat dijumpai di mana-mana. Tidak seperti Jakarta yang penuh dengan klakson ketika macet, di Thailand walaupun macet, hampir tidak terdengar adanya suara klakson. Penyeberang jalan sangat dihormati. Ketika ada sebuah mobil akan keluar dan menuju jalan raya dan ada orang yang melintas, mereka cenderung menunggu pejalan kaki lewat. Jika dijumpai pejalan kaki yang berhenti karena melihat ada mobil yang akan keluar, dipastikan itu orang Indonesia (waktu itu saya J). Karena sudah kebiasaan sebagai orang Jakarta harus waspada, meleng sedikit ditabrak.

Keberhasilan dalam menanggulangi AIDS sungguh prestasi yang membanggakan. Bandingkan dengan negara kita yang saat ini secara mengejutkan katanya kita gagal mengatasi HIV/AIDS yang sudah berlangsung selama 7 tahun. Ketika pekan kondom yang kontroversial di tanah air berlangsung, justru Chiang Mai University Thailand melakukan riset dan mengatakan kondom tidak aman terhadap AIDS. Pori-pori kondom 400 kali lebih besar dibanding virus HIV itu sendiri. Kalaupun alasannya untuk penyakit kelamin jenis lain seperti sipilis yang berasal dari bakteri, toh penyakit itu sudah ada obatnya, beda dengan HIV/AIDS. (https://www.academia.edu/566646/RELIGIOUS_APPROACHES_TO_HIV_AIDS_PREVENTION_IN_THAILAND). Mungkin satu-satunya peran kondom adalah menghindari penderita HIV/AIDS melahirkan bayi yang HIV/AIDS juga karena kondom berfungsi sebagai alat KB. Jika saya perhatikan dengan iklan kondom untuk KB ketika saya sekolah tahun 90-an dulu (dengan selogan terkenal ya ya ya ..) justru lebih cerdas dan memahami benar fungsi kondom, dibanding saat ini yang memfungsikan kondom sebagai alat melawan HIV/AIDS dan justru membuat rasa aman bagi pelaku sex baik yang sudah mengetahui terjangkit HIV/AIDS maupun yang belum.

Untuk para pemimpin negeri ku, di tanganmu lah segala kebijakan bermula dan segala akibat (baik/buruk) akan kami tanggung bersama. Saya pun merasakan betapa berat bebanmu. Tapi jika engkau bergaul dan berdiskusi dengan orang yang tepat tanpa mementingkan kepentingan pribadi atau golongan, saya yakin Allah berada di sisi Anda.

Membuat Aplikasi Sederhana User Profile dengan Ruby on Rails

Tak terasa hampir tiga bulan saya kuliah Web Application and Engineering, dan kini saatnya penghakimannya, final exam. Soalnya lumayan sederhana, tetapi pertanyaan membutuhkan wawasan yang luas terhadap dunia web.

Soal: Anda diminta membuat sebuah welcome page sederhana yang harus login terlebih dahulu untuk masuk ke page tersebut dengan autentikasi devise (lihat tulisan sebelumnya). Setelah login Anda dapat melihat profil Anda dan bisa melakukan editing pada profile tersebut. Ada beberapa pertanyaan yang menurut saya levelnya masuk kategori expert, seperti melakukan checking dengan java baik dari sisi client maupun server, hingga integration test dan pengembangan ke arah RESTful. Oke, kita jawab dulu pertanyaan yang mudahnya. Kira-kira tampilan sederhananya seperti ini:

Jawab: Pertama-tama siapkan folder beserta databasenya (saya menggunakan database postgresql saat ujian dengan sistem operasi UBUNTU, tetapi untuk lebih sederhana, kita gunakan saja bawaan dari RoR yaitu SQLite3).

rails new final

Masuk ke folder final, untuk membuat aplikasi welcome page. Kita akan membuat tiga scaffold yaitu user, utama, dan tabel. Utama adalah page sederhana bertuliskan “Welcome” yang berisi link untuk melakukan setting profile.

Buat model user dengan atribut nama dan alamat.

rails g scaffold user nama panggilan

Kode di atas menghasilkan model user dengan atribut nama dan alamat, dan operasi diberikan oleh Scaffold (New, Show, Update, dan Delete). Bisa juga ditulis rails g scaffold user nama:string panggilan:string. Tetapi secara default, RoR akan memberikan struktur data string. Di sini sengaja tidak ditambahkan alamat karena di soal, alamat (address) disisipkan lewat mekanisme migrasi database.

Migrasikan menjadi tabel:

rake db:migrate

Arahkan folder ke project. Jalankan server.

rails server

Buka http://localhost:3000/users dan masukan satu data baru.

Buka kembali program Devise yang telah kita buat sebelumnya. Kita akan mengarahkan user ke menu utama ketika selesai login. Buat kontroller dengan nama utama.

rails g controller utama index

Di sini index merupakan method yang akan mengarahkan ke profil user tersebut, nama, email, alamat dan lain sebagainya. Tambahkan pada \app\config\routes.rb.

resources :tabel

tabel di sini maksudnya page profil yang bersangkutan. Buat juga lengkap dengan controller dan view

rails g controller tabel index

lakukan Migrasi

rake db:migrate

Berikutnya buka file \app\views\utama\index.html.erb dan isi dengan kode berikut (pahami maksudnya):

<h1>Welcome</h1>

<%= link_to ‘Lihat Profile-ku’, tabel_index_path %>

Sisipkan satu field baru (alamat) ke tabel users.

rails g migration add_alamat_to_users alamat:string

Migrasikan ke database:

rake db:migrate

Berikutnya pada file \app\views\tabel\index.html.erb tambahkan juga kode berikut:

<h1>USER PROFILE</h1>

<p>

<strong>Nama:</strong>

<%= current_user.nama %>

</p>

<p>

<strong>Email:</strong>

<%= current_user.email %>

</p>

<p>

<strong>Panggilan:</strong>

<%= current_user.panggilan %>

</p>

<p>

<strong>Alamat:</strong>

<%= current_user.alamat %>

</p>

<td><%= link_to ‘Edit’, edit_user_path(current_user) %></td>

Arahkan routes ke utama#index

root :to => ‘utama#index’

Sedikit ada yang diutak-atik pada \app\views\users\_form.html.erb karena kita menambahkan satu field baru yaitu alamat. Tambahkan satu field terakhir sebelum <action>:

<div class=”field”>

<%= f.label :alamat %><br>

<%= f.text_field :alamat %>

</div>

Agar field alamat yang baru dapat diakses, pada users_controller.erb tambahkan ‘:alamat’:

def user_params

params.require(:user).permit(:nama, :panggilan, :alamat)

end

Terakhir, setelah edit profile link ke lihat profile pada \app\views\users\show.html.erb:

<%= link_to ‘Kembali ke Profile’, tabel_index_path %>

Berikutnya adalah membuat sistem autentikasi terhadap user dengan devise. Pertama-tama sisipkan pada Gemfile

gem ‘devise’

Lakukan instalasi

bundle install

Install devise yang baru ditambahkan pada Gemfile

rails generate devise:install

Setelah terinstall anda bebas membuat devise terhadap model Anda. Misalnya, user:

rails generate devise User

Perhatikan routes.rb dan user.rb jika Anda ingin menelusuri sistem devise bawaan Gem ‘devise’. Migrasikan:

rake db:migrate

Sedikit kelemahan dari devise adalah, kita tidak bisa sign out. Oleh karena itu, sisipkan kode di bawah ini pada body di \app\views\layout\application.html.erb. Note: sisipkan, jangan di replace semua !

<p class=”notice”><%= notice %></p>

<p class=”alert”><%= alert %></p>

<% if flash[:error] %>

<div id=”error”>

<%= flash[:error] %>

</div>

<% end %>

<div id=”container”>

<div id=”user_status”>

<% if user_signed_in? %>

Welcome <%= current_user.email %>! Not you?

<%= link_to “Sign out”, destroy_user_session_path, :method => :delete %>

<% else %>

<%= link_to “Sign up”, new_user_registration_path %> or

<%= link_to “Sign in”, new_user_session_path %>.

<% end %>

</div>

Terakhir, tambahkan pada app\controllers\utama_controller.erb di bagian atas (juga pada users_controller agar terjaga dari aksi hacking):

before_filter :authenticate_user!

Agar ketika user akan melihat profil dirinya, harus login terlebih dahulu. Arahkan route ke menu utama:

Menambahkan View tanpa Scaffold pada Ruby on Rails

Sejauh ini kita masih mengandalkan alat bantu scaffold pada rails yang langsung menyediakan 7 method (CRUD) tanpa kita bersusah payah. Tetapi untuk pembelajaran ada kalanya kita harus memahami konsep dasar antara Model – View dan Controller.

Terkadang kita tidak bisa membuat scaffold, misalnya user yang telah disetting dengan cara devise untuk login ke suatu situs. Jika kita buat rails g scaffold, akan terjadi bentrok. Oleh karena itu untuk melihat user-user yang aktif kita harus membuat view secara manual. Buka kembali project membuat autentikasi dengan devise.

Masuk ke folder project, buat satu controller baru dengan satu metode yaitu index, untuk melihat user-user yang terdaftar di sistem. Sebelumnya daftarkan beberapa user ke sistem anda. Bagi yang baru membaca tulisan ini ada baiknya mencoba tulisan saya sebelumnya tentang autentikasi dengan devise.

rails g controller list index

Tampak Anda telah berhasil membuat suatu view dengan index.html.erb yang siap dibuat kode programnya. Serta satu kontroler dengan nama list_controller.rb. Pertama-tama buka file list_controller.rb. Tambahkan secara sederhana pada metode index

@user = User.all

Dan pada \app\views\list\index.html.erb sisipkan kode ini:

<% @user %>

<% for user in @user %>

<%=user.id%> . <%= user.email %></br>

<% end %>

Coba akses ke http://localhost:3000/list. Anda harus menampilkan user-user yang terdaftar di situs yang baru saja Anda buat. Selamat mencoba.

Tambahan, jika ada error, tambahkan pada routes.rb dengan:

resources :list