Santai, Tapi Pertahankan Minat & Fokus

Berbeda dengan S2 yang tingkat kelulusannya di dalam negeri hampir 100%, S3 ternyata tidak semudah itu. Banyak rekan-rekan saya yang berguguran (bahkan dalam makna sebenarnya). Postingan ini sedikit memberi gambaran bagi Anda yang ingin melanjutkan ke jenjang terakhir keakademikan.

Melihat rekan-rekan banyak menjumpai hambatan ketika S3, seorang rekan saya bertanya. Pertanyaannya sederhana tapi ‘to the point’, yaitu ‘sanggupkah saya melanjutkan s3?’. Jawaban yang sulit.

Banyak webinar-webinar dan doctoral bootcamp yang membahas kiat-kiat studi lanjut. Berbeda dengan S2 yang hanya berkutat dengan adanya dana baik beasiswa maupun biaya sendiri, jenjang S3 mengharuskan calon mahasiswa memahami benar alur perjalanan seorang mahasiswa doktoral. Namun karena panjangnya alur tersebut, pada postingan ini akan berfokus pada mental.

Karena bukan psikolog, tulisan ini sekedar pengalaman pribadi. Benar atau tidaknya tergantung kondisi, bisa jadi sedikit berbeda dengan kondisi pembaca sekalian.

Biasa Saja

Pertama-tama yang perlu diperhatikan adalah ketika mengambil suatu pelatihan, pendidikan, upgrading, atau apapun sebutannya adalah adanya kebanggaan. Boleh saja, tetapi jangan terlalu lama, kembalilah berpijak ke bumi.

Ibarat dunia selfi yang cenderung foto makanan dulu sebelum dimakan, mulailah dengan langsung saja makan. Membaca atau mengetik, langsung saja lakukan. Dulu, guru Biologi saya pernah menyindir siswanya yang tidak paham2 dengan menyuruhnya ‘langsung membaca’ dan jangan menganggap membaca atau mengerjakan tugas dengan ritual yang perlu persiapan panjang seperti yasinan, atau malah membakar kemenyan, mandi kembang, dan sejenisnya.

Jangan Baper

Di sini baper artinya ‘bawa perasaan’ yang bukan hanya dari sisi negatif (sakit hati, emosi, tersinggung, dan lain-lain) melainkan juga yang positif (tertarik, semangat, dan berapi-api). Maklum, namanya ‘mainan’ baru cenderung melupakan yang lain yang bahkan lebih penting. Banyak teman-teman yang punya karakter ‘hangat-hangat tahi ayam’, alias semangat di awal saja. Melihat metode baru, software terkini, dan hal-hal wah lainnya terkadang latah. Skill yang kita miliki bertahun-tahun jangan sampai dilupakan, ingat ada prinsip 10000 jam untuk menjadi ahli. Bisa jadi kita melihat kita kurang ahli, padahal sesungguhnya menurut pandangan orang kita ahli. Mungkin ada kebosanan dan ingin hal-hal baru, padahal banyak hal-hal yang bisa kita kembangkan dari keahlian yang sudah dimiliki, dari pada mencari hal-hal baru dan mulai dari nol lagi, hanya karena Anda sangat bersemangat.

Steady State

Dalam dunia fisika ada istilah steady state atau kondisi tunak. Biasanya dialami oleh mahasiswa S3 ketika sudah proposal dan masa kondisi transient terlewati. Waktu yang lama dengan progress yang sepertinya tidak secepat kondisi transient (kuliah + membuat proposal) terkadang membuat kita lupa, tahu-tahu waktu sudah mendekati limit. Saya ingat rekan saya berkata disertasinya tidak ada manfaat dan kontribusi bagi lingkungan. Ya, namanya novelty terkadang terasa tidak ada manfaatnya, seperti De Morgan yang menemukan teori-teori logikanya tetapi oleh rekan-rekan jamannya dianggap ilmu yang tak berguna, bahkan dikira orang ‘sinting’. Ternyata ketika komputer ada, baru sadar logika-nya dapat diterapkan.

Oiya, banyak kerjaan-kerjaan mahasiswa S3 yang harus dikerjakan, bahkan tanpa kita yakin berhasil atau tidak. Namanya saja mencari kembali (research), kalau dalam pencarian tidak ketemu ya sabar saja. Ada juga kerjaan remeh temeh yang terpaksa dikerjakan walau tidak menarik. Nah, ini dia yang penting, ketika Anda santai mengerjakan sesuatu yang ‘garing’, ‘membosankan’, ‘ga keren’, atau istilah lain yang menggambarkan hal-hal yang membuat enggan melakoni, artinya Anda sudah siap menjadi mahasiswa doktoral. Banyak yang gagal karena enggan melepas kaki yang masih di dermaga (jabatan, tunjangan, proyek, dll) sementara kaki lain sudah di perahu (studi lanjut). Yuk .. lanjuuuut.