Informasi di media beberapa waktu ini hampir beragam, memberitakan selat hormuz yang ditutup Iran. Kemudian kondisi negara-negara di dunia akibat tertutupnya selat itu dan berhentinya aliran minyak dan gas. Ada yang kelabakan, ada yang santai-santai saja, bahkan ada yang untung.
Beberapa waktu yang lalu, sebelum Amerika menginvasi Iran, Amerika juga sukses menginvasi Venezuella dan menangkap pemimpinnya. Namun ketika menyerang Iran, Amerika terkena batunya, karena menghadapi negara yang sangat resilien, alias tahan banting.
Sebulan berlalu tapi Amerika tidak berhasil menguasai, hanya bisa membunuh sang pemimpin tertinggi Iran. Negara adidaya tersebut malah merugi karena Iran dengan prinsip ekonominya menyerang dengan drone yang dipersenjatai rudal yang biayanya jauh lebih murah dari rudal pencegat Amerika Serikat.
Kita dihadapkan dua contoh, Venezuella yang kurang tahan banting, berbanding terbalik dengan Iran. Di sini bisa dikatakan Iran lebih tahan banting dibanding Amerika Serikat. Selain karena mampu menahan serangan, Iran juga mampu bertahan dari embargo ekonomi yang berlangsung hampir 40 tahun. Jadi ada variabel lain selain kecerdasan (IQ), teknologi, ipteks, dan sejenisnya, yakni ketangguhan atau resilien.
Ketika menghadapi krisis 98, negara kita bisa dibilang tidak tahan banting. Sementara ketika menghadapi krisis 2008, covid 19, kita bisa dibilang tangguh. Nah, krisis global saat ini apakah kita tahan banting juga? semoga.
Konsep ketahanan ini pasti bisa diterapkan di segala hal, misalnya pendidikan. Ada pesan yang agak aneh dari menteri kita agar jurusan yang tidak terserap industri agar dihapus atau ditutup. Nah, kalau memang tujuan pendidikan untuk jadi buruh, memang benar. Tapi hampir kebanyakan negara di dunia, perubahan tidak bisa diikuti dengan cepat, apalagi perubahan teknologi. Lalu bagaimana? caranya tidak ada yang lain selain belajar sepanjang hayat. Terlepas dari cocok atau tidaknya dengan kebutuhan industri, seorang anak yang lulus dari S1, S2, bahkan S3, sudah dipastikan telah menempuh perjalanan panjang yang menurutnya ‘berat’. Asalkan kampus atau sekolahnya benar, dipastikan si anak memiliki ketangguhan, setidaknya mengatasi hambatan dan mencapai tujuan. Jadi ujian atas akademiknya mungkin kalah penting dibanding ujian ketangguhan si anak dalam usahanya menyelesaikan pendidikan.
Yang pernah mengalami suka duka saat mengambil S3 pasti berbeda dengan yang belum atau tidak mengambil S3. Ada sesuatu yang sulit dinarasikan, apa perbadaan itu, selain tentu saja yang terlihat seperti gelar, naiknya tunjangan dan jabatan. Jadi ketika satu jurusan yang menurut si menteri tidak dibutuhkan dan diharapkan ditutup, ada lulusan-lulusannya yang tangguh akibat perjalanan panjang dalam menyelesaikannya, yang kemungkinan bukan menjadi buruh pabrik atau orang kantoran, mungkin menjadi pengusaha, petani sukses, guru spiritual, bahkan politikus besar.
Nah, bagaimana dengan ketidak adilan karena antara anak orang mampu dan tidak mampu yang kurang fasilitasnya? Sebenarnya secara alami, proses membentuk ketangguhan tidak ada hubungannya dengan itu. Seorang anak yang belajar di malam hari di lampu jalan yang berisik dan panas, jika tangguh, tidak ada bedanya dengan anak konglomerat yang fokus belajar di ruang ber AC dan nyaman.
Bagaimana dengan Gen Z saat ini? tentu saja tidak ada cara lain untuk berusaha meningkatkan ketangguhannya, walau ada kabar kalau IQ generasi ini adalah yang terburuk (katanya). Tapi tidak jadi soal karena yang menentukan kesuksesan si anak adalah ketangguhannya.